JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN PEMBANGUNAN I. Volume 10 No.

1 April 2009

SISTEM INFORMASI DI PEMERINTAHAN KABUPATEN ACEH TENGAH Oleh : Ali Murtadha M Arifin1 ABSTRAKSI Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan sistem penyampaian informasi di Pemerintahan Kabupaten Aceh Tengah setelah diberlakukannya otonomi daerah di Kabupaten tersebut karena penyampaian informasi sebelumnya dilakukan oleh juru penerangan dibawah Pemerintahan Departemen Penerangan disamping itu juga tujuan penelitian ini adalah sebagai penambah wawasan tentang perubahan sistem informasi tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu melakukan wawancara mendalam dengan Kasub Bagian Humas, Kepala Informasi dan Komunikasi serta karyawan yang mempunyai tugas dan fungsi sebagai penyiar informasi di Kabupaten Aceh Tengah. Adapun hasil penelitian dapat digambarkan bahwa otonomi daerah dapat merubah sistem informasi di Daerah Kabupaten Aceh Tengah, sistem informasi juga mempengaruhi kelanjutan pertumbuhan pembangunan, maka membangun informasi juga perlu, sehingga sistem informasi pesan pemerintah di kemas dan disiarkan dengan melalui media cetak maupun elektronik sehingga dapat diperoleh / dinikmati oleh publik dan sistem informasi pada masa Orde Baru berbeda dengan sistem informasi di era Orde Baru. Pada masa Orde Baru sistem informasi ditentukan oleh Pemerintah Pusat sedangkan pada otonomi daerah sistem informasi ditentukan oleh Pemerintah setempat (Daerah). Kata Kunci : Sistem informasi, Pemerintahan Kab. Aceh Tengah
1

Penulis adalah Peneliti di BBPPKI Wilayah I Medan.

A. Latar Belakang Masalah Di era otonomi daerah saat ini, sistem Pemerintahan Daerah sudah berbeda dibandingkan dengan sistem pemerintah diera orde baru. Kalau diera orde baru, organisasi Pemerintah dan sistem informasinya ditentukan oleh pemerintah pusat, di era otonomi daerah ini pembentukan instansi pemerintah daerah termasuk sistem informasinya ditentukan oleh pemerintah daerah setempat. Oleh karena itu sistem informasi pada setiap daerah bisa berbeda sesuai dengan perkembangan yang terjadi / kebutuhan di daerah masing-masing. Pada awal otonomi daerah, Pemerintah di daerah bisa membentuk dinas, Badan dan Lembaga tehnis sesuai dengan kebutuhan daerah setempat. Adanya ketentuan ini membuat berbagai daerah membentuk dinas secara berlebihan untuk menampung sebanyak mungkin pejabat struktural. Ketentuan mengenai pembentukan dinas dan lembaga tehnis tersebut kemudian disusul Peraturan Baru yang memberikan batasan jumlah dinas yang boleh dibentuk di Pemerintah Daerah. Daerah yang sudah terlanjur membentuk dinas dan lembaga teknis daerah melebihi ketentuan akan segera menyesuaikan dengan ketentuan baru dalam pembentukan Dinas dan lembaga teknis. Adanya kebebasan Pemerintah daerah untuk membentuk dinas dan lembaga tehnis di daerah maka bisa terjadi adanya perbedaan nama lembaga/dinas yang menangani informasi. Bahkan penanganan informasi di suatu daerah cukup hanya dimasukkan dalam suatu seksi/bagian dari dinas dan setiap daeah menggunakan istilah yang berbeda seperti : Hubungan Masyarakat (Humas) Informasi Komunikasi (Infokom), BadanInformasi Komunikasi Telematika (BIKT). Dengan berbedanya dinas yang berkaitan dengan informasi, maka dimungkinkan terjadinya perbedaan sistem informasi pemerintahan antara satu daerah dengan daerahdaeah lain. Saat ini sistem inforasi di pemerintahan masih berkembang dan mencari model yang tepat untuk kelancaran pelaksanaan pembangunan yang sedang dilaksanakan. Adanya dua organisasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah yang secara khusus menangani informasi yaitu Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah dan Sub Bagian Hubungan Masyrakat. Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah merupakan lembaga hasil peleburan Kantor Departemen Penerangan semasa orde baru sebelum otonomi daerah. Hampir seluruh karyawan Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah adalah mantan pegawai Kantor Departemen Penerangan Kabupaten Aceh Tengah Perkantoran yang dipergunakan, sebelumnya juga pernah dipergunakan sebagai Kantor Departemen Penerangan Kabupaten Aceh Tengah Kepala Kantor Informasi dan Komunikasi berada pada eselon III. Sub Bagian Humas juga sudah ada sebelum era otonomi daerah. Struktur organisasinya berada di bagian Sekretariat Daerah. Sub Bagian Humas ini berada dibawah Bagian Humas, Pengolah Data Elektronik (PDE) dan Santel, yang berada dibawah Asisten Umum. Sebagai sub bagian di Sekretariat Daerah, Sub Bagian Humas hanya menempati satu ruangan di Kantor Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah Kepala Sub Bagian Humas berada pada eselon IV. Adanya dua lembaga yang menangani informasi ini merupakan salah satu unsur sistim informasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah. Kedua lembaga itu bisa secara bersama-sama menjalankan tugasnya dalam diseminasi informasi pada masyarakat. Sistem informasi pemerintah ini mempunyai peran yang penting untuk mensukseskan pembangunan di suatu daerah. Sistem informasi yang baik, bisa menciptakan kesatuan gerak dan langkah antar lembaga/dinas untuk mencapai tujuan. Jika sistem informasi antar lembaga/dinas tidak berjalan baik maka dimungkinkan terjadinya tumpang tindih kegiatan, bahkan bisa terjadi kegiatan yang saling

bertentangan. Sistem informasi yang baik memungkinkan program-program dan kegiatan yang dilakukan pemerintah bisa direspon oleh masyrakat sehingga bisa meningkatkan partisipasi masyarakat. B. Permasalahan Berdasarkan latar belakang diatas, dirumuskan permasalahan penelitian yaitu bagaimana pelaksanaan sistem informasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah.

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah. Dengan diketahuinya pelaksanaan sistem informasi di daerah tersebut dapat menambah pengetahuan mengenai sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah. Hasil penelitian ini juga bisa dimanfaatkan sebagai pembanding sistem informasi di berbagai daerah yang memiliki sistem informasi yang berbeda. D. Landasan Teori 1. Pengertian Sistem Informasi Berbagai pengertian tentang sistem informasi dikemukakan dalam berbagai buku untuk menggambarkan pengertian mengenai sistem informasi diantaranya ditulis oleh Alter (1992) bahwa Sistem informasi adalah kombinasi antara prosedur kerja, informasi, orang dan tehnologi informasi yang diorganisasikan untuk mencapai tujuan dalam sebuah organisasi. Bodnar dan Hopwood (1993)mendifinisikan sistem informasi adalah kumpulan perangkat keras dan peangkat lunak yang dirancang untuk mentransformasikan data ke dalam bentuk informasi yang berguna. Gelinas, Oram dan Wiggins (1990) mendifinisikan sistem informasi adalah suatu sistem buatan manusia yang secara umum terdiri atas sekumpulan komponen berbasis komputer dan manual yang dibuat untuk menghimpun, menyimpan dan mengelola data serta menyediakan informasi keluaran kepada pemakai. Hall (2001) mendifinisikan sistem informasi sebagai sebuah rangkaian prosedur formal dimana data dikelompokkan, diproses menjadi informasi dan didistribusikan kepada pemakai. Dari berbagai difinisi tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem informasi mencakup sejumlah komponen (manusia, tehnologi informasi dan prosedur kerja) berupa masukan (input), ada proses (data menjadi informasi) dan dimaksudkan untuk mencapai suatu sasaran atau tujuan (output).

2. Otonomi Daerah Untuk melaksanakan kebijakan desentralisasi dibentuk daerah otonom. Menurut UU No. 22 Tahun 1999, daerah otonomi merupakan ”kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasar aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indoneia”. Kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasar aspirasi masyarakat sering disebut otonomi daerah. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa daerah otonom adalah daerah yang memiliki otonomi daerah. Kaho (1987) memaparkan ciri-ciri Daerah Otonom sebagai berikut :

1. Adanya urusan-urusan tertentu yang diserahkan oleh pemerintah pusat atau daerah tingkat atas kepada daerah untuk diatur dan diurusnya dalam batas-batas wilayahnya. 2. Pengaturan dan pengurusan urusan-urusan tersebut dilakukan atas inisiatif sendiri dan didasarkan pada kebijaksanaan sendiri pula. 3. Adanya alat-alat perlengkapan atau organ-organ atau apatur sendiri. 4. Pengaturan urusan-urusan tersebut masyarakat daerah perlu memiliki sumber-sumber pendapatan/keuangan sendiri. 3. Teori Sistem Setiap sistem merupakan tempat memproses, mengolah, mengubah, atau menstransformasikan bahan-bahan yang disebut masukan (input) menjadi suatu hasil karya yang bisa disebut keluaran (output) (Shrode dan Voich, 1974 : 128). Proses transformasi sistem ini sering dilukiskan orang dengan mempergunakan model masukankeluaran (input-output model). Model masukan keluaran ini biasa disebut juga dengan model kotak hitam (black-box model). Model adalah gambaran mengenai sesuatu realitas untuk menggambarkan bagaimana suatu itu tampaknya atau bagaimana bekerjanya guna memudahkan memahami dan atau mengkajinya. Istilah kotak hitam disini dipergunakan untuk memudahkan memahami dan atau mengkajinya. Istilah kotak hitam disini dipergunakan untuk menunjukkan bahwa isiyang terkandung di dalam satuan (unit) pemroses (transformasi) atau jelasnya sistem itu tidak diketahui, jadi seperti kotak hitam (Tatang M. Arifin, 2002 : 38). Model kotak hitam itu digambarkan atau dilukiskan orangorang bermacam-macam. Konsep dasarnya : Masukan Proses Keluaran

Untuk menilai pelaksanaan sistem informasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah, maka pendekatan sistem merupakan cara yang tepat sebagai pemandu. 1. Input Dari sisi masukan (input), yang bisa dijadikan indikator untuk mengetahui masukan pelaksanaan sistem informasi di humas dan Kantor infokom adalah : a. Memiliki tugas dan sasaran yang jelas. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kebijakan, tugas dan sasaran yang akan dicapai Humas dan kantor infokom. b. Sumberdaya yang tersedia dan siap. Sumberdaya sangat strategis bagi keberhasilan pelaksanaan tugas humas dan infokom, sejauh mana kesiapan sumberdaya baik sumberdaya manusia (yang mencakup jumlah dan kualitas) maupun sumbrdaya selebihnya seperti keuangan, peralatan perlengkapan dan sebagainya. c. Staf yang kompeten dan komitmen tinggi. Staf yang kompeten merupakan pra sarat mutlak dalam pelaksanaan tugas humas dan infokom. Kompetensi ini dapat ditunjukkan dengan kesesuaian tingkat dan latar belakang pendidikan, kemampuan melaksanakan tugas, dan kedisiplinan dalam melaksanakan tugas. 2. Proses Dari sisi proses di Humas dan Kantor infokom yang bisa dijadikan indikator terjadinya proses pelaksanaan sistem informasi adalah : a. Pelaksanaan proses tugas penyampaian informasi ditandai oleh : Kepemimpinan lembaga yang kuat, dalam arti kepemimpinan yang kuat dalam mengkoordinasikan, menggerakkan sumber daya manusia dilingkungan humas dan infokom serta menyerasikan semua sumberdaya yang ada pada satu tujuan yang sama.

b. Kerja sama yang kompak dan cerdas serta dinamis, yang ditandai komunikasi yang baik dan harmonis antara humas, infokom dan satuan unit kerja di pemerintahan, kerja sama yang didasari oleh saling pengertian dan kesediaan menerima perbedaan pendapat. c. Partisipasi yang tinggi dari unit kerja di pemerintah daerah. Dalam hal ini dapat diamati dari : keikutsertaan unit kerja di Pemda dalam berbgai aktifitas pelaksanaan tugas Humas dan Infokom. 3. Output Setiap proses pelaksanaan sistem informasi selalu diharapkan adanya keluaran atau hasil berupa kinerja pelaksanaan sistem informasi. Indikator terjadinya kinerja pelaksanaan informasi tersebut. - Informasi yang disampaikan oleh humas dan infokom dapat diterima. E. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. 2. Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di Sub Bagian Humas dan Kantor Infokom Kabupaten Aceh Tengah sebagai lembaga yang secara khusus menangani informasi. 3. Informan penelitian Adapun yang dijadikan informan sebagai sumber/ menghimpun data dalam penelitian ini adalah Kasub Bagian Hubungan Masyarakat, Sub Bagian Dokumentasi dan Informasi, Kasub Bagian Informasi dan Informatika, karyawan Humas dan Infokoma yang bertugas sebagai ujung tombak dalam penyiaran / penyampaian informasi publik di daerah Kabupaten Aceh Tengah. 4. Tehnik pengumpulan data Untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian ini dipergunakan dua macam tehnik yaitu : a. Studi dokumentasi. Dengan tehnik ini peneliti berusaha memperoleh data atau informasi dengan cara menggali dan mempelajari dokumen-dokumen, arsip dan catatan yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas humas dan Kantor Infokom. b. Wawancara mendalam. Dengan tehnik wawancara tidak berstruktur atau mendalam (Indepth/unstructured interviewing) peneliti melakukan tanya jawab dan tukar pikiran tanpa daftar wawancara; peneliti hanya dibantu dengan sejumlah topik umum tentang proses pelaksanaan sistim informasi di Kabupaten Aceh Tengah yang masih harus dikembangkan oleh pewawancara berdasar jawaban informan. Dalam pelaksanaannya, dimanfaatkan instrument berupa panduan wawancara dan daftar topik. 5. Tehnik Analisa Data Metode yang dipergunakan untuk menganalisis dalam penelitian ini metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan model interaktif yaitu semacam siklus terkait antara kegiatan pengumpulan data, penyederhanaan data pemaparan data, dan penarikan kesimpulan. Jadi analisa data dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data. Waktu penelitian ini dijadwalkan sebagai berikut penyusunan/ persiapan rancangan penelitian bulan Februari 2009, pengumpulan data bulan April dan pengolahan data/laporan bulan Mei 2009.

Dana : dana penelitian ini dibebankan kepada anggaran rutin BBPPKI Medan. F. Hasil Penelitian Dalam penelitian ini, kualitas masukan, proses dan keluaran diperlukan sebagai cerminan realitas model dan implementasi pelaksanaan sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah. Dengan kata lain profil kualitas pelaksanaan sistem informasi di Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah merupakan keutuhan kualitas masukan, proses dan keluaran sistim informasi. Ketiga hal itu diuraikan berikut ini : 1. Kualitas Masukan Sistem Informasi Sudah disinggung di atas, bahwa masukan sistim informasi diambil tiga indicator yaitu adanya tugas, dan sasaran yang jelas, Sumberdaya yang tersedia dan kompetensi sumberdaya. Tugas dan sasaran Humas dan Kantor infokom diatur dalam peraturan daerah. Tugas dan fungsi Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah telah diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas-Dinas Daerah. Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 8 Tahun 2002 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kantor-Kantor Daerah, Kantor Informasi dan Komunikasi Daerah mempunyai tugas pokok membantu Bupati dalam melaksanakan sebagian urusan rumah tangga daerah di bidang informasi dan komunikasi yang meliputi pemberdayaan informasi, media informasi dan publikasi. Urusan bidang informasi dan komunikasi tersebut meliputi informasi yang bersifat umum yang tidak berkaitan dengan informasi didalam pemerintah Kabupaten Aceh Tengah. Informasi yang bersifat umum itu bisa berasal dari pemerintah pusat maupun Provinsi seperti peraturan perundangan. Dalam melaksanakan tugas itu tiga seksi yang dimiliki Badan Infokom yaitu Seksi Pemberdayaan Informasi mempunyai tugas melaksanakan upaya pemberdayaan partisipasi masyarakat, kelompok komunikasi sosial, pemberdayaan potensi informasi lembaga swadaya masyarakat dan lembaga informasi desa. Seksi Media Informasi dan Komunikasi mempunyai tugas melaksanakan, memantau penyelenggaraan kegiatan penyebaran informasi melalui media interaktif, radio, televisi, film dan Seksi Publikasi mempunyai tugas melaksanakan kegiatan penyampaian informasi langsung. Sementara itu Sub Bagian Humas, sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 5 Tahun 2002 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah, Sub Bagian Hubungan Masyarakat mempunyai tugas : 1. Melakukan hubungan timbal balik antar pemerintah daerah dengan masyarakat umum dan organisasi kemasyarakatan untuk memperjelas kebijakan dan kegiatan pemerintah daerah. 2. Melakukan hubungan intern dengan satuan dan unit kerja di lingkungan Pemerintah Daerah. 3. Melaksanakan usaha untuk peningkatan peliputan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun masyarakat. 4. Melaksanakan koordinasi/kerja sama dengan organisasi kewartawanan. 5. Melaksanakan tugas sebagai juru bicara pemerintah daerah sesuai dengan petunjuk Bupati. 6. Menyiapkan bahan evaluasi dan pelaporan kegiatan di bidang kehumasan.

2. Kualitas Masukan SDM Non Manusia Sumberdaya bukan manusia atau sekarang sering diistilahkan modal fiskal dan modal finansial (Thomas dkk, 2000) mendukung dan menunjang atau malah

mempengaruhi kiprah kinerja sumber daya manusia. Seluruh staf yang bergerak di Humas dan Kantor Infokom dapat bertindak, bebruat dan melakukan sesuatu secara lebih maksimal dalam melaksanakan tugas berkat tersedianya secara memadai sejumlah sumberdaya bukan manusia. Bangunan dan ruang, prasarana (infrastruktur), perlengkapan kantor (furniture, mesin, computer dll) dan dana merupakan sejumlah sumberdaya bukan manusia yang perlu disediakan karena secara signifikan dapat mempengaruhi kinerja sumberdaya manusia. Secara kuantitatif bangunan dan ruang yang dipergunakan Kantor Infokom sangat representatif untuk melakukan kegiatan karena gedung yang dipergunakan adalah bekas Kantor Departemen Penerangan. Prasarana (infrastruktur), perlengkapan kantor dan alat bantu kegiatan yang dimiliki Kantor Infokom kelihatan kurang memadai untuk melaksanakan tugas karena peralatan yang dimiliki sebagian merupakan bekas peralatan lama yang pernah dipergunakan semasa masih ada Departemen Penerangan. Sementara itu di lingkungan Humas, terjadi hal yang sebaliknya. Bangunan atau ruangan yang dimiliki sangat terbatas karena terbatasnya ruangan yang ada di sekretariat daerah. Humas yang memiliki staf sebanyak 13 orang hanya menempati satu ruangan. Namun demikian infratruktur yang dimilikinya sangat memadai dengan tersedianya perlengkapan yang dibutuhkan dalam setiap operasional kegiatannya. 3. Kualitas Masukan Perangkat Lunak Dalam penyelenggaraan pengelolaan informasi seperti halnya masukan sumberdaya manusia dan sumber daya bukan manusia, masukan perangkat lunak menunjang dan menentukan beroperasi tidaknya dan berjalan tidaknya secara efektif dan maksimal proses penyampaian informasi di masyarakat. Tidak jarang perangkat lunak diyakini lebih penting dari pada sumberdaya bukan manusia meski tidak sepenting sumber daya manusia (Suryadi dan Budimansah, 2004 : 243-245) Implikasinya perangkat lunak harus ada dan tersedia di bagian pengelolaan informasi secara memadai supaya implementasi penyebaran informasi kepada masyarakat dengan baik, efektif, mencapai maksud dan tujuannya. Sebagai pengelola informasi resmi milik pemerintah, Humas dan Infokom memiliki peraturan perundangan, diskripsi tugas pokok dan fungsi, rencana dan program kegiatan. Diskripsi tugas pokok dan fungsi ini menjadi dasar atas rencana dan program kegiatan Humas dan Infokom. Perangkat lunak yang terdapat di Humas jauh lebih mapan dibandingkan dengan perangkat lunak yang ada di Kantor Infokom karena eksistensi humas yang sudah berlangsung lama sementara eksistensi Kantor Infokom msih berjalan beberapa tahun setelah pelaksanaan otonomi daerah. 4. Kualitas Masukan Harapan Humas dan Infokom Implementasi penyebarluasan informasi selalu dikaitkan dengan harapan terjadinya peningkatan kualitas pelayanan informasi. Oleh sebab itu menjadi kewajiban setiap pengelola informasi untuk menerapkan harapan dan dorongan yang jelas, pasti, tinggi dan unggul dibidang kualitas pelayanan informasi dengan dilandasi oleh semangat ingin menjadi lebih baik. Demikian juga Humas dan Infokom Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah yang mengimplementasikan sistim pengelolaan informasi harus memiliki harapan yang jelas, mantap dan tinggi serta terfokus untuk meraih kualita pelayanan informasi. Harapan itu tergambar dalam rencana dan strategi (renstra) khususnya visi, misi dan tujuan serta sasaran masing-masing pengelola informasi. Berdasar pengamatan, harapan yang tertuang dalam bentuk visi, misi, rencana jangka panjang, rencana pengembangan, rencana pelayanan dan lain-lain sudah ada dan telah ditetapkan di Humas dan Infokom. Hampir semua karyawan juga mengetahui

Dalam kontek pelaksanaan sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah. sikap dan perilaku mereka sebagai pemimpin dan pelaksana yang mempunyai komitmen. menjadi pusat informasi dan komunikasi bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah sekaligus berperan menjadi pusat pembelajaran dan pengetahuan. proses sistem informasi sudah cukup memadai bila dilihat secara makro. Hal ini dikarenakan proses penyebaran iformasi secara langsung menentukan kualitas keluaran informasi secara kognitif afektif dan behavior. semangat dan etos kerja yang cukup kuat untuk melaksanakan proses penyebaran informasi. 5. Untuk itu unit kerja yang lain siap memberi bantuan Humas dengan memberikan informasi yang diperlukan. Artinya tinggi rendahnya kualitas keluaran sistim informasi ditentukan oleh proses penyebarannya. LSM dan masyarakat untuk menjawab tantangan masa kini maupun masa depan. proses penyebaran mendapat perhatian utama sehingga harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Berdasar hasil wawancara dengan Kasub Bagian Hubungan Masyarakat Kabupaten Aceh Tengah diketahui bahwa hampir semua pegawai pemerintah mendukung manajemen proses sistem informasi dengan menjadikan humas sebagai satu-satunya sumber informasi. Kualitas Keluaran Sistim Informasi Setiap proses penyebaran informasi selalu meniscayakan keluaran bahkan juga hasil dan dampak sistim pengelolaan informasi walaupun keduanya tidak dapat diketahui . kerjsama dan sinergi antara program. bukan terpusat pada beberapa orang atau kepala dinas/kepala bagian tidak boleh mendominasi pekerjaan dan tanggungjawab melainkan harus mengkoordinasi dan mensinergikan berbagai pihak yang disertai pekerjaan dan tanggungjawab yang mengelola informasi. menunjukkan bahwa baik Kepala Humas dan Kantor Infokom memiliki kesadaran akan kedudukan proses penyebaran informasi sebagai inti proses sistem pengelolaan informasi guna mencapai kompetensi koqnitif. bukan mekanis dan artificial. Kondisi Proses Penyebaran Informasi Dalam implementasi sistim informasi. Bersinergi dengan seluruh Dinas/Badan/Kantor.adanya visi dan misi tersebut karena seringkali ditempelkan di dinding dalam ruangan kerja. Kondisi Proses Pengelolaan Sistem Informasi Proses pengelolaan program penyebran informasi perlu dilakukan secara bersamasama oleh tim kerja yang kompak cerdas dan dinamis. 6. Hasil pengamatan dan wawancara dengan kepala Kantor Infokom dan Kepala Sub Bagian Humas. B. dalam penyelenggaraan proses sistem informasi. Proses sistem informasi ini bersangkutan dengan bekerja tidaknya fungsi-fungsi manajemen di Humas dan Badan Infokom. Seiring dengan itu partisipasi semua pihak menjadi penting selain kolaborasi. tidak harus secara mikro. Pekerjaan dan tanggungjawab pengelolaan program harus dibagi pada semua pihak dalam mengelola informasi. ormas. A. Kualitas Proses Sistem Informasi Dalam pelaksanaan sistem informasi di Kabupaten Aceh Tengah proses sistem informasi menempati kedudukan dan arti penting dan strategis. Secara mikro proses sistem informasi yang mencerminkan terlaksana tidaknya atau berfungsi tidaknya pelaksanaan sistem informasi secara organis. Orpol. afektif dan behavior yang ditentukan dalam juknis dan juklak. Selain itu dari diri. agar dapat dikembangkan menjadi pengetahuan yang bermanfaat guna peningkatan kualitas kehidupan dan pembangunan. Dalam proses pengelolaan informasi ini Humas dan Infokom mengelola informasi secara sistematis.

Dibentuknya Humas diantaranya sebagai juru bicara pemerintah. Disamping itu dengan kewenangan lebih besar diharapkan daerah mampu menemukan masalah yang mencatat di daerahnya dan sekaligus mampu mencari solusi terbaik sesuai dengan kondisi dan karakteristik daerah. Kemandirian daerah ini diharapkan dapat mencapai apa yang diharapkan dapat mencapai apa yang menjadi tujuan kebijakan otonomi daerah. bahkan buletin yang telah ada sejak Departemen Penerangan masih eksis. melaksanakan usaha untuk peningkatan peliputan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun masyarakat dan melaksanakan koordinasi/kerja sama dengan organisasi kewartawanan. dapat ditarik satu model teoritis pelaksanaan sistem informasi. perhatian di fokuskan pada keluaran pelayanan informasi. lancar dalam berkoordinasi dengan satuan atau unit kerja di pemerintah Kabupaten. Di Kabupaten Sistem informasinya dilaksanakan oleh Humas dan Kantor Infokom. Kewenangan yang lebih besar ini diharapkan membuat daerah mandiri dalam mengurus kepentingan masyarakat berdasarkan aspirasi masyarakat setempat. efisiensi. Disamping keterbatasan dana SDM yang mengelola buletin tersebut pindah ke Humas untuk menangani tabloid Humas. Model teoritis yang dimaksud digambarkan sebagai berikut : Kebijakan otonomi daerah memberi kewenangan lebih besar kepada daerah. melakukan hubungan timbal balik antar pemerintah daerah dengan masyarakat umum dan organisasi kemasyarakatan untuk memperjelas kebijakan dan kegiatan pemerintah daerah. Kinerja atau pencapaian tujuan ini erat kaitannya dengan masukan yang ada sebelumnya diantaranya sumber dana yang tersedia untuk menghasilkan keluaran berupa produktifitas kerja. G. Sebagai lembaga yang memiliki sumber dana yang cukup besar. inovasi dan moralitas atau etos kerja. Prestasi pelayanan informasi dapat berupa produktifitas. Keluaran yang terjadi di Infokom cukup memadai meski sumberdana yang tersedia terbatas. bahkan bila mungkin diperhatikan pula hasil dan dampak pelayanan informasi. saat ini berhenti terbit. Kebijakan otonomi daerah melahirkan sistem informasi di daerah sesuai dengan apa yang diputuskan bersama antara Pemerintah Kabupaten dan DPRD menjadi Peraturan daerah (Perda). humas bisa lebih produktif menghasilkan keluaran dalam melaksanakan tugas yang diembannya.atau diukur seketika. Keluaran humas yang cukup menonjol adalah terlayaninya kebutuhan wartawan untuk memperoleh informasi melalui humas. Sistem Informasi di Pemerintah Kabupaten . Pembahasan Berdasar uraian diatas. karena karakteristik masing-masing. Sementara tugas Kantor Infokom adalah melaksanakan sebagian urusan rumah tangga daerah di bidang informasi dan komunikasi yang meliputi informasi. Dalam pelayanan informasi Prestasi pelayanan informasi dilihat secara komprehensif dari pencapaian tujuan kegiatan program. Karena itu dalam kontek pengelolaan sistim informasi. efektifitas. media informasi dan publikasi. Keluaran pelayanan informasi berkaitan dengan kinerja atau prestasi lembaga pengelola informasi secara komprehensif. Tujuan adanya dua lembaga yang menangani informasi ini adalah untuk meningkatkan pelayanan informasi kepada masyarakat. Kegiatan yang memerlukan sumber dana yang besar sangat terbatas pelaksanaannya. Humas juga menghasilkan tabloid yang peredarannya cukup besar meski masih di lingkungan pegawai pemerintah. Diantaranya melakukan kegiatan-kegiatan yang menggunakan sumber dana kecil atau tanpa sumber dana seperti pengkoordinasian penyampaian informasi secara terjadwal oleh dinas-dinas yang ada di Kabupaten Aceh Tengah radio yang dikelola Infokom. yang salah satunya peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. melakukan hubungan intern dengan satuan dan unit kerja di lingkungan Pemerintah Daerah.

Malaysia. Pokok-Pokok Teori Sistem. Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 8 Tahun 2002 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 26 Tahun 2000 tentang Susunan Organisasi Tata Kerja Kantor Kepala Daerah. produktifitasnya cukup besar. Sekretariat Daerah. Shrode. Basic System Conceps. New York. prasarana. Hubungan Pemerintah Pusat dan Daerah di Indonesia. Kegiatan Humas yang banyak berhubungan dengan unit kerja di Pemda yang memiliki tingkat eselon yang lebih tinggi bisa menjadi hambatan bagi humas meski gengsi posisi humas cukup tinggi.KEBIJAKAN OTONOMI DAERAH H. 3.. 1990. Tatang M. sementara di Humas karena sarana. Pengembangan SDM Peneliti Kominfo Menuju Masyarakat Informasi Sumatera Utara. anggaran operasional yang dimiliki bisa untuk membiayai kegiatan yang dilakukan. PT Raja Grafika Persada. Yosep. William A and Dan Voich. TELEPON SELULER DAN EFEKTIVITAS KOMUNIKASI MASYARAKAT PEDESAAN 2 (Studi Di Desa Pertumbukan. Bogor dalam acara Temu Ilmiah Peneliti X Badan Penelitian Dan Pengembangan SDM Depkominfo RI ** Penulis adalah Peneliti Pertama bidang Komunikasi Sosial pada BBPPKI Medan KEBIJAKAN . Jakarta.Kabupaten Langkat) Oleh Budiman ** 2 SISTEM PELAKSANAAN INFORMASI Telah diseminarkan pada tanggal 10 Juli 2008 di Pematangsiantar dalam acara Seminar Peningkatan. Information System Theory and Practice. Kesimpulan 1. co. Kanisius. Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 52 Tahun 2002 tentang Perubahan Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah Nomor 22 Tahun 2000 tentang Susunan Organisasi Tataruang. Jr. 2. DAFTAR PUSTAKA Gelinas. Perlunya kerjasama antar Humas dan Kantor Infokom dengan semua pihak utamanya Dinas/Badan/Kantor di Pemerintah Kabupaten untuk memberikan pelayanan informasi pada yang membutuhkan pelayanan. Amiran. Organisasi and Management. or win Book. Yogyakarta. Oranda Wiggins. prasarana dan sumber dana yang terbatas di Kantor Infokom membuat hasil akhir atau keluaran berupa hasil dan produktifitas kerja cukup terbatas. Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. Sarana. Kecamatan Wampu. Rineka Cipta. dan diseminarkan pada tanggal 30 Oktober – 1 November 2008 di Cisarua.Jakarta.2001. 1974. 1987. Suryadi dan Budimansah. Riwu Kaho.

Perkembangan pesat dalam dunia sistem komunikasi kita tentunya akan mengubah pola komunikasi yang terjadi di masyarakat selama ini. sebagai berikut: Data Perkembangan Pengguna Telepon seluler Di Indonesia . Kata Kunci : Telepon Seluler. Perkembangan jenis telepon seluler semakin hari semakin meningkat. Indonesia diramaikan dengan pola komunikasi melalui telepon seluler atau biasa disebut dengan HandPhone (HP). keadaan. Sebelumnya nyaris sistem komunikasi yang berkembang di Indonesia masih memakai peralatan sederhana (media tradisional maupun tatap muka). Tidak ada khalayak yang secara tegas menolak hadirnya teknologi yang banyak diminati oleh berbagai kalangan tersebut. Satu diantaranya adalah telepon seluler (telepon seluler. menyebutnya dengan komunikasi seluler. Hasil temuan penelitian berdasarkan kebutuhan informasi. disamping tren teknologi ini terus berkembang. Bagi orang komunikasi. juga dari aspek pemanfaatannya telah merambah hingga ke pedesaan. Secara tidak langsung memang teknologi komunikasi membawa berbagai keuntungan bagi mereka penggunanya. identitas personal dinyatakan bahwa telepon seluler sarana media untuk berkomunikasi yang dibutuhkan dan telah membantu masyaraka pedesaan. Penelitian ini bersifat deskriptif yakni hanya memaparkan situasi dan peristiwa apa adanya dengan memberikan gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu. atau kelompok pada masyarakat Desa Pertumbukan bagaimana dalam memanfaatkan telepon seluler. Mulai dari fasilitas yang disediakan sampai bentuknya. Akan tetapi delapan tahun terakhir.dan Masyarakat Pedesaan.Abstrak Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hampir setiap orang menjadikan telepon seluler ini sebagai kelengkapan sehari-hari sebagai media komunikasi. Latar Belakang Masalah Kemajuan dan rambahan teknologi komunikasi berupa telepon seluler (telepon seluler) yang semakin pesat dan maju tidak dapat kita hindari. gejala. Pemanfaatan telepon seluler ini berdasarkan aspek-aspek kebutuhan yang diadopsi dari asumsi-asumsi Teori Uses and Gratifications yang sudah lazim digunakan untuk meneliti media komunikasi modern yang berkonvergensi.Efektivitas Komunikasi. diversi. Melihat data perkembangan pengguna telepon seluler di Indonesia terus berkembang pesat dari tahun ke tahun.

Permasalahan Dari fenomena yang terjadi pada masyarakat di atas maka untuk mencari informasi tersebut di rangkum dalam pertanyaan sebagai berikut : Bagaimanakah penggunaan dan sikap masyarakat Desa Pertumbukan terhadap telepon seluler ? Tujuan Untuk mengetahui bagaimana penggunaan telepon seluler dan sikap masyarakat Desa Pertumbukan.un. hasil penelitian ini walau dalam cakupan wilayah penelitian yang kecil diharapkan dapat dijadikan masukan bagi pemerintah melalui Depkominfo untuk mengkaji stategi perkembangan TIK khususnya telepon seluler dalam hal tren penggunaannya. hal ini masyarakat menjadi konsumtif . Secara nyata jelas terlihat bahwa teknologi komunikasi memberikan keuntungan yang sangat besar bagi penggunanya terutama dalam hal berkomunikasi (komunikasi tidak lagi rumit seperti dulu). Bagaimana tentang pola penggunaan telepon seluler dan sikap masyarakat desa. Kecamatan Wampu.org/ diakases tgl 12/5/08 Dan hingga sampai tahun 2007 telah terdapat 85 juta pelanggan telepon seluler dan sementara hanya 10 juta pelanggan telepon tetap (fixed) di Indonesia (http://www.Sumber : http://data.pintunet. sebagai hiburan dan lain sebagainya. Manfaat Secara praktis. Dari pra-riset yang dilakukan peneliti (19-22 Februari 2008) di Desa Pertumbukan. Namun kalau diperhatikan secara seksama pola penggunaan telepon seluler berdasarkan motif jelas berbeda dari aspek sosiodemografis masyarakat. silaturahmi dengan keluarga atau teman.php?pg= 2007/10/27102007/65568 .diakses tgl 11/4/08). Teknologi telekomunikasi membuat dunia semakin dekat dan menyatu karena waktu dan jarak semakin pendek. Dan secara teoretis. Ada yang menggunakan untuk kelancaran usaha/niaga hasil-hasil bumi atau pertanian. pergerakan informasi berjalan dengan cepat dan menyebar sesuai dengan tujuan tergantung siapa yang membutuhkan. dimana dalam penelitian ini berusaha untuk menggambarkan motif kebutuhan dalam penggunaan telepon seluler bagi masyarakat . Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran pada studi Ilmu Komunikasi dan untuk mengetahui perkembangan serta penerapan teori uses and gratification. Kepintaran.com/lihat_opini. kecanggihan dan fasilitas yang dimiliki oleh teknologi komunikasi menjadi tolok ukur seberapa besar fungsi dan kebutuhan dari teknologi komunikasi itu bagi penggunanya tanpa memikirkan dampak yang akan timbul dari pemakaian teknologi tersebut. Namun dengan memiliki telepon seluler juga telah menambah biaya pengeluaran bagi setiap keluarga terutama untuk pembelian pulsa. Kabupaten Langkat diperoleh gambaran tentang pola penggunaan telepon seluler oleh masyarakat desa tersebut yakni. Belum lagi berkembangnya model telepon seluler dari berbagai merek dagang yang semakin canggih dan terus bergulir yang menggoda konsumen melalui iklan dengan mengkaitkan terhadap gaya hidup tertentu. penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian. secara umum memberikan kontribusi yang baik dalam kecepatan mendapatkan informasi.

com /divakar_ goswami.Need perhaps mostly unitended ones. terutama telepon seluler. Sejak dicetuskan pertama kali pendekatan ini terus mengalami penyempurnaan oleh para ahli komunikasi melalui berbagai jenis penelitian. Walaupun mereka . Menurut pencetus teori ini. (Pendekatan Uses and Gratification berhubungan dengan kebutuhan sosial dan psikologis yang membentuk harapan pada media massa atau sumber lain yang mengakibatkan pola terpaan media yang berlainan yang menghasilkan kepuasan dan konsekuensi – konsekuensi lain yang tidak diinginkan) (Katz.5 miliar. para operator melakukan ekspansi jaringan.pedesaan. konsep dasar komunikasi massa mengalami perubahan. alternatif rujukan juga sebagai khasanah referensi dalam penelitian-penelitian tentang khalayak di masa mendatang terhadap pemanfaatan industri teknologi komunikasi dan informasi. Khalayak berperan aktif dalam mengambil bagian dalam proses komunikasi dan diorientasikan pada tujuan penggunaan media. mereka bertanggung-jawab dalam pemilihan media yang akan mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan dan individu ini tahu kebutuhan mereka dan bagaimana memenuhinya. Di sini. Gurevitch. tetapi yang lain mungkin memerlukan modifikasi untuk menyesuaikan dengan lingkungan baru ini (Severin dan Tankard. Bidang komunikasi sekarang ini sedang mengalami perubahan besar.uky. Teori ini mengusulkan bahwa khalayak (pengguna) memainkan peran dalam pemilihan dan penggunaan media. Goswami dalam tulisannya “Sustainability Proyek Harus Dipikirkan”. Teori-teori yang sudah ada mungkin masih bisa dipakai. Needs which generate. Blumer.majalahindonesia. 2005) Terkait dengan pola penggunaan telepon seluler.htm ).156 sehingga terdapat pertumbuhan sebesar 57% (http://www.741 menjadi 12.The mass media or other sources which lead to. Salah satu contoh gambaran lengkapnya sebagai berikut: sejak tahun 2005.Diffferential pattern of media exposure (or engagement in other activities)resulting in. teori Uses and Gratification dianggap tepat sebagai acuan untuk memahaminya. mencontohkan jumlah produksi telepon seluler mencapai 6. Manusia sebagai individu aktif dan memiliki tujuan. Uses and Gratifications mengangkat bahwa pengguna memiliki pilihan-pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhan mereka (http://www. Tentang hal ini Katz dan Blumer mengatakan sebagai berikut : The social and psychological origins of. Karena media teknologi baru yang memberi banyak kemudahan bagi pengguna.edu/~drlane/capstone/contexts. Perilaku ini biasanya dipengaruhi oleh predisposisi sosial dan psikologinya.6 juta. Telepon seluler telah berkembang secara fenomenal. Pada tahun 2006 nilai investasi infrastruktur telepon seluler yang dilakukan operator lebih dari US$ 2.Expectation. 1994). baik dari model/merk maupun dari jumlah pengguna. Teori komunikasi massa butuh penyesuaian dan beradaptasi dengan perubahan-perubahan itu. dan investasi di bidang infrastruktur telepon seluler sangat agresif dilakukan oleh berbagai operator. Telkomsel menambah BTS-nya dari 7. KAJIAN TEORETIS Kajian Pustaka Inovasi besar di bidang teknologi informasi dan komunikasi dalam empat dekade terakhir ini adalah ditemukannya telepon seluler atau handphone (HP). Dari penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan studi komunikasi serta mampu memperkaya varian. Teori ini berpandangan bahwa manusia menggunakan media karena dianggap memiliki manfaat baginya. Blumler dan Katz (1974) mengutarakan bahwa seorang pengguna media mencari sumber media yang terbaik guna memenuhi kebutuhan mereka. Media dianggap hanya menjadi salah satu cara pemenuhan kebutuhan dan individu bisa jadi menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan mereka.htm ).

the affirmation and reinforcement of which is facilitated by the consumption media material ( Situasi sosial memberikan dukungan dan penguatan pada nilai – nilai tertentu melalui konsumsi media yang selaras ) (Katz. audien memiliki motivasi–motivasi tertentu yaitu mencari pemuasaan atas dasar kebutuhannya terhadap media massa tersebut. Leung dan Wei tertarik tentang mengapa orang menggunakan telepon seluler dan apakah alasan mereka yang berbeda dari mengapa mereka menggunakan telepon kabel dan jaringan. Mengenai fungsi media massa terhadap pemenuhan kebutuhan audien tersebut. namun secara global dapat dikatakan bahwa pendekatan Uses and Gratification memiliki asumsi bahwa audien dipandang aktif. dapat menjelaskan penggunaan telepon seluler. Informasi itu dapat dicari lewat media ). dan secara sadar audien memilih saluran komunikasi dan pesan–pesan paling memenuhi kebutuhanya (Elihu Katz. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Louis Leung dan Ran Wei (2000) mempelajari Kegunaan dan Kepuasan pada telepon seluler. 1974) . Kemampuan Leung dan Wei untuk menerapkan teori Kegunaan dan Kepuasan pada teknologi baru dijelaskan oleh pengamatan Shanahan dan Morgan (1999) bahwa terdapat "konsistensi lingkungan dari isi pesan yang kita konsumsi dan pada sifat dasar dari lingkungan simbolik di mana kita hidup" meski jika terjadi perubahan distribusi teknologi. kesempatan . tersedianya berbagai alternatif komunikasi. Manfaat kepuasan langsung juga dapat dirasakan oleh penggunanya. Social situation gives to rise certain values. Selanjutnya.1999). korelasi (Correlation). kekinian. melainkan memiliki harapan-harapan dan kebutuhan–kebutuhan. Orang berusaha melepaskan dirinya dari hal itu dengan mengkonsumsi media massa ). dkk. Namun demikian pemikiran tersebut jelas bahwa pendekatan Uses and Gratification merupakan kritik dari sudut pandang teori-teori yang terdahulu. dan transmisi budaya atau sosialisasi (Cultur Transmission and Socialisation). yaitu : Social situation produces tensions and conflict. Perkembangan lebih lanjut penggunaan teori Uses and Gratifications banyak diterapkan pada penelitian penggunaan media baru seperti internet ( computer mediated communication) bahkan pada telepon seluler. Pada pendekatan ini audien tidak lagi dipandang sebagai pasif. Harold D Laswell pernah mengajukan 3 fungsi media yaitu yaitu pengawasan (Surveyllance). bahwa "telepon seluler baru menggambarkan suatu konvergensi teknologi hibrid ketika ia mengaburkan batasan antara industri telekomunikasi dan penyiaran. 2000). Difusi Inovasi (Difusion of Innovations). khususnya ketika dikombinasikan dengan teori lainnva. Di sini media dianggap memberikan hiburan. Juga dalam penggunaan media. 2008) Dari studi Louis Leung dan Ran Wei (2000) yang menggunakan teori ini juga menyatakan bahwa mobilitas. Leung dan Wei mengamati. information about which may be sought in the media. Gurevitch. memiliki kebutuhan kebutuhan tertentu. Katz dan Blumer selanjutnya mengemukakan ada beberapa faktor sosial yang menyebabkan timbulnya kebutuhan seseorang yang berhubungan dengan media. Simpulan studi yang dilakukan Leung dan Wei mengindikasikan bahwa teori Kegunaan dan Kepuasan. Tiga fungsi ini kemudian ditambah oleh Charles Wright yaitu fungsi hiburan (Entertaiment). leading to resure for their easement via mass media consumption (Situasi sosial menimbulkan ketegangan dan pertentangan. Social Situation creates an awareness of problem that demand attention. (Situasi sosial menciptakan kesadaran akan adanya masalah-masalah yang membutuhkan perhatian dan informasi. serupa dengan pemyataan Gilder. Blumer.menggunakan sudut pandang metodologi yang berbeda-beda. Siranahan dan Morgan menambahkan bahwa teknologi baru selalu dikembangkan dengan mengadopsi isi pesan dari teknologi dominan sebelumnya. dimana dan kapan saja (Leung dan Wei.(West dan Turner. dan intrumentalitas yang terdapat pada telepon seluler merupakan intrumen motivasi yang kuat yang diikuti dengan rasa ikatan kekeluargan atau sosial.

media massa memenuhi kebutuhan akan hiburan dan informasi . Motif kognitif menekankan kebutuhan manusia akan informasi dan kebutuhan untuk mencapai tingkat ideasional tertentu. 1981. correlation (hubungan sosial). informasi dan lain sebagainya. Kebutuhan kognitif menekankan pada kebutuhan akan informasi dan pencapaian tingkat ideasional tertentu. dan Dimmick. eksplorasi realitas. Para peneliti media massa kemudian mencoba mengumpulkan seluas dan sebanyak mungkin daftar–daftar kebutuhan sosial dan psikologis yang dianggap audien sebagai terpenuhi dengan memanfaatkan media massa.melarikan diri dari kesibukan sehari-hari. yaitu melepaskan diri dari rutinitas dan masalah. Personal relationships. Perkembangan ini diawali oleh penelitian Palmgreen dan Rayburn pada tahun 1979. yang membedakan antara Gratification Sought (GS) dan Gratification Obtained (GO). sarana pelepasan emosi. Dan setelah mengamati hasil–hasil yang diperoleh dilapangan. fungsi–fungsi ini belum cukup untuk menggambarkan seluruh fungsi yang ada. Tetapi seperti yang di jelaskan Blumer (1994). 1984) . dan pemahaman mengenai lingkungan. yaitu memuaskan hasrat bermain atau melarikan diri dari kenyataan. mereka menemukan empat tipologi motivasi khalayak yang terangkum dalam skema media – persons interactions sebagai berikut : Diversion. Menurut Stephenson media massa hanya memenuhi satu jenis kebutuhan saja. kebutuhan atau motif yang menuntun seorang individu untuk menggunakan suatu media dipandang sebagai Gratification Sought atau kepuasan yang dicari atau diharapkan (Dimmick. Yang lain lagi menyebutkan tiga fungsi media massa dalam memenuhi kebutuhan. Sejumlah ahli media akhirnya mulai beralih dari sekedar mengumpulkan jenis jenis kebutuhan audien kepada suatu model penelitian baru karena dari hasil–hasil studi mereka menunjukkan jenis–jenis kebutuhan yang sama. Dengan demikian kecenderungan penelitian tentang Uses and Gratification mulai bergeser dan bertambah maju. surveillance (pengawasan lingkungan). http://komunikasimassa-umy. “Entertaiment” (hiburan). “ Knowledge” (pengetahuan).blogspot. Dari berbagai jenis kebutuhan tersebut. Motif afektif menekankan aspek perasaan dan kebutuhan mencapai tingkat emosional tertentu (Rahmat. Kebutuhan ini didasarkan pada hasrat untuk memahami dan menguasai lingkungan. Surveillance (bentuk-bentuk pencarian informasi) (dalam Junaedi. Secara umum kebutuhan yang sering disebut dan digunakan oleh para peneliti media adalah. pengetahuan. Mengenai kebutuhan kognitif dan afektif Nurudin menjelaskan. ternyata terdapat jenis–jenis kebutuhan yang setiap kali muncul walaupun sampelnya berbeda-beda. “Relaxation” (relaksasi). Ahli komunikasi lainnya menyebutkan dua fungsi. yaitu persahabatan. yaitu apa yang diharapkan audien dari media massa dengan apa yang diperolehnya dari media tersebut. Sedangkan menurut Wilbur Scramm. yaitu kebutuhan yang bersifat afektif (yang berkaitan dengan perasaan) dan kebutuhan kognitif (yang berkaitan dengan pengetahuan). sedangkan kebutuhan afektif ditandai oleh kondisi perasaan atau dinamika yang menggerakan manusia mencapai tingkat perasaan tertentu. com). William J Mc Guire (dalam Muchati 1972) kemudian mengelompokan jenis-jenis kebutuhan tersebut menjadi 2 dimensi. Dalam teori Uses and Gratification yang dikembangkan oleh Palmgreen dan Rayburn. juga memuaskan rasa penasaran . Personal identity. 2000 ). penguatan nilai. 1984). media massa memenuhi kebutuhan akan fantasi dan informasi – menurut Weiss. Jenisjenis kebutuhan ini kemudian oleh para ahli dikelompokan menjadi beberapa kelompok. yaitu referensi diri. kegunaan sosial. dan “Interpersonal Utility” (kegunaan pribadi) (Palmgreen. “Diversion” (pelepasan). atau hiburan dan informasi – menurut Wilbur Schramm. Kemudian riset lebih lanjut yang dilakukan oleh Dennis McQuail dan kawankawan. 2005. kebutuhan kognitif adalah kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan informasi. “ Surveyllance” (pengawasan). dan hiburan dan transmisi kultural – seperti yang dirumuskan oleh Harold dan Charles Wright.

Teori ini digambarkan sebagai “a dramatic break with effects traditions of the past”. Efek ini berkaitan dengan transmisi pengetahuan. hiburan. meliputi polapola tindakan. dapat dioperasionalkan menjadi jumlah waktu yang digunakan dalam berbagai jenis media. Efek ini ada hubungannya dengan emosi. Efek diartikan sebagai semua jenis perubahan yang terjadi didalam diri seseorang setelah menerima sesuatu pesan komunikasi dari suatu sumber. Tentu saja. keterampilan. sikap. ketenangan. Ada berbagai kebutuhan yang dipuaskan oleh media massa. antara lain: • Efek Kognitif: terjadi bila ada perubahan pada apa yang diketahui. dan perubahan prilaku (dengan istilah lain. Pada teori Uses and Gratifications. Dalam konsep ini hidup dipandang suatu medan yang penuh tantangan . karena mengacu pada kegiatan menggunakan media (Kriyantono. 2000). (Nurudin. dan prilaku nyata. isi media yang dikonsumsi. pengetahuan dan keterampilan. 2006). media massa memberikan kesempatan untuk melarikan diri dari kenyataan. Sedangkan menurut Sari (dalam Kriyantono 2006) dapat dioperasionalkan menjadi jenis media yang digunakan.dan dorongan untuk penyelidikan kita. Kita mengalami goncangan batin. dan emosional. dan persahabatan dapat juga diperoleh dari sumbersumber lain seperti kawan. kepercayaan atau informasi. Pada saat yang sama. atau tempat ibadat (Rahmat. frekuensi penggunaan. Kita kesepian. • Efek Afektif : timbul bila ada perubahan pada apa yang dirasakan. manusia yang berperan dalam menentukan efek media. • Efek Behavioral : merujuk pada perilaku nyata yang dapat diamati. suatu loncatan dramatis dari model Jarum Hipodermik. afektif dan behavioral). dan media massa berfungsi sebagai sahabat. media massa dapat memberikan hiburan. 2000). sikap atau nilai. perubahan kognitif. Menurut Steven M. hobi. Komunikasi massa dapat memberikan informasi. 2007) Kemudian dari teori Utilitarian memandang individu sebagai orang yang memperlakukan setiap situasi sebagai peluang untuk memperoleh informasi yang berguna atau keterampilan baru yang diperlukan dalam menghadapi tantangan hidup. seperti penerimaan informasi. dan berbagai hubungan antara individu konsumen media dengan isi media yang dikonsumsi atau dengan media keseluruhan (Rahmat. Elemen “pola terpaan media yang berlainan” pada Teori Uses and Gratifications berkaitan dengan media exposure atau terpaan media. Kita ingin mencari kesenangan. Ada 3 macam efek komunikasi massa. AM Townsend (2000) menyatakan. menyenangkan. (Wiryanto. di negara-negara berkembang telepon seluler telah mengurangi kesenjangan berkomunikasi di masyarakat. 2004). disenangi atau dibenci khalayak. Penelitian yang dilakukan International Telecommunication Union (2001) menemukan bahwa jumlah penggunaan telepon seluler . Selanjutnya terpaan media menurut Rosengreen (1974). perubahan perasaan atau sikap. maupun durasi penggunaan . dipahami atau dipersepsi khalayak. 2004) efek media massa akan menyebabkan perubahan yang terjadi pada diri khalayak. tetapi yang juga dapat diatasi dengan media massa. Chaffe (dalam Rahmat. kebutuhan ini dapat dipuaskan oleh sumber-sumber lain selain media massa. 2001). Perubahan yang dimaksud dapat meliputi perubahan pengetahuan. Berbagai keuntungan relatif yang dirasakan dari telepon seluler yang mengungguli telepon tetap karena mobilitas dan efisiensinya yang lebih besar. kegiatan dan kebiasaan berperilaku (Rakhmat. Kebutuhan afektif adalah kebutuhan yang berkaitan yang berkaitan dengan peneguhan pengalaman-pengalaman yang estetis.

yang paling pokok adalah dapat membantu menyebarluaskan informasi tentang pembangunan. telepon seluler juga mengarahkan masyarakat untuk hidup konsumtif. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa. Kemudian sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah menggunakan lambang sebagai media pertama. 2005).2000). 9 persen antara 201-300 ribu dan 8 persen lebih dari 300 ribu perbulan. Kalaupun digunakan untuk hal-hal yang sifatnya menghibur. SMS dalam hal ini lebih berfungsi sebagai hiburan saja. Dalam hal ini komunikasi melalui telepon seluler seperti pengiriman SMS ternyata berdampak buruk untuk menurunkan minat baca masyarakat. (Nurudin. Ini bisa dikatakan pula bahwa budaya baca yang sudah terancam dengan budaya dengar dan lihat diancam lagi oleh budaya mengirim SMS.com/kompas-cetak/0405/05/telkom/1002910htm ). Bahkan. warna dan lain sebagainya yang secara langsung mampu “menerjemahkan” pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan. Menurut data majalah Komputer Aktif (no. Bogor. 35 persen 2-10 kali dan 14 persen lebih dari 20 kali sehari. biasanya dilakukan pada waktu senggang.di 100 negara-negara miskin melampaui telepon tetap dan komputer. dan Semarang menunjukkan bahwa 51 persen mereka mengirim SMS 11-20 kali. isyarat.kompas. Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (simbol) sebagai media. Ini artinya bahwa di samping menurunkan minat baca. ( Fritz E Simandjuntak dalam http://www. dan banyak lagi adalah media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi. telepon seluler lebih banyak digunakan untuk hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan. telepon (telepon seluler). Menurut Shannon dan Weaver (1949) komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama lainnya. Bagi pelaku bisnis. Pemanfaatan telepon seluler berbeda pada setiap kelompok masyarakat. Seorang komunikator menggunakan media kedua (sekunder) dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. Wilbur Schramm melalui hasil penelitiannya di negara-negara berkembang membuat laporannya pada tahun 1964 yang berjudul Mass media and National Development : The role of information in developing countries. gambar. Konseptual Dalam proses komunikasi dibagi menjadi dua bagian yakni secara primer dan sekunder. karena harga telepon seluler terjangkau. 50/26 Maret 2003) berdasarkan survei Siemens Mobile Lifestyle III menyebutkan bahwa 60 persen remaja usia 15-19 tahun dan pasca-remaja lebih senang mengirim dan membaca SMS (Short Messege Service) daripada membaca buku. Bahkan menurut data dari penelitian “Survei Siemens Mobile Phone” 58 persen orang Indonesia lebih memilih mengirim SMS daripada membaca buku. sebesar 73 persen mereka mengeluarkan biaya untuk membeli voucher perbulannya sekitar 100-200 ribu. majalah atau koran. sengaja atau tidak. yang isinya menyatakan media massa dapat berpengaruh dalam beberapa hal. Bahkan menurut data Kompas (4 April 2003) yang melakukan street polling yang dilakukan pada 100 remaja SMU di Jakarta. Ini adalah dampak dari segi sosial budaya masyarakat atas penggunaan Hand Phone/ telepon seluler. Data yang merupakan fenomena ini jelas menjadi salah satu potret dampak komunikasi melalui telepon seluler. Bandung. dapat mengajarkan melek huruf serta keterampilan lainnya yang memang dibutuhkan untuk pembangunan masyarakat dan . Sementara Hafied Cangara (1998) mengatakan bahwa komunikasi adalah sebuah proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya . Surat. yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam. kial. tv. (Onong. teleks. radio film.

1964). orang bisa mengubah fungsi ponsel tersebut menjadi mini komputer. yang membutuhkan waktu yang lama dan tempat yang terbatas. Pengembangan teknologi telekomunikasi terutama jenis telepon seluler ini membuka lebar penyampaian informasi dan komunikasi secara lebih mudah dan efisien. sehingga dapat memfasilitasi masyarakat dalam berkomunikasi dan membantu memperoleh informasi dengan cepat dan tak terbatas. fitur ini sangat membantu bagi para pebisnis untuk melakukan semua pekerjaan di satu tempat dan membuat pekerjaan tersebut diselesaikan dalam waktu yang singkat (http://id. kamera digital. dan kebutuhan manusia adalah berkomunikasi. instruktif. industrial. dan information. perkembangan ponsel akan lebih mengefisienkan waktu dan sistem kerja dibandingkan dengan komunikasi/ informasi secara manual. eksistensi manusia. Berdasarkan fungsi-fungsi ini dapat disimpulkan bahwa media massa sebagai media pembangunan atau proses perubahan ke arah kondisi kehidupan yang lebih baik. Pentingnya peranan media (media sekunder) dalam proses komunikasi disebabkan oleh efisiensinya mencapai komunikan dimana. edukatif. Menurut Alvin Toffler dalam bukunya The Third Wave (1990) membagi tiga tahap perkembangan peradapan manusia yakni Agricultural. maupun untuk televisi online di telepon genggam mereka. komunikasi bermedia mengalami kemajuan pula dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Selain fitur-fitur tersebut. Sekarang. Mencermati beberapa fungsi media massa yang ditulis Alamsjah Ratu Perwiranegara dalam Rafiq (1989) meliputi fungsi informatif. game. telepon genggam menjadi gadget yang multifungsi. ponsel menjadi salah . Sejalan dengan berkembangnya masyarakat beserta peradaban dan kebudayaannya. Dengan demikian. integratif. Dengan memiliki keunggulan dalam efesiensinya ini. pembawaan. dan kapan saja. GPRS. persuasif. Selain berfungsi untuk melakukan dan menerima panggilan telepon. perangkat lunak pemutar audio (mp3) dan video. Mengikuti perkembangan teknologi digital. ponsel sekarang sudah ditanamkan fitur komputer. Di dunia bisnis. 3G). dan layanan internet (WAP. namun dapat dibawa ke mana-mana (portabel. Pendapat ini dapat disimpulkan bahwa komunikasi memiliki andil dan sumbangan yang sangat besar dalam pembangunan. manusia menyatakan dan mengembangkan perikehidupan yang bermasyarakat. SMS). wireless). Seperti dalam menyatakan diri. Saat ini Indonesia mempunyai dua jenis jaringan telepon nirkabel yaitu sistem GSM (Global System For Mobile Telecommunications) dan sistem CDMA (Code Division Multiple Access). menerima dan mengirim pesan . seperti yang diungkapkan oleh McLuhan (1964) yakni kehadirannya umumnya adalah sebagai the extention of man . Kehadiran media tidak selalu menarik perhatian masyarakat. Ada pula penyedia jasa telepon genggam (provider) di beberapa negara yang menyediakan layanan generasi ketiga (3G) dengan menambahkan jasa videophone. ponsel umumnya juga mempunyai fungsi pengiriman dan penerimaan pesan singkat (short message service. seperti bisa menangkap siaran radio dan televisi. kini ponsel juga dilengkapi dengan berbagai pilihan fitur. Jadi di ponsel tersebut. memahami apa yang dilihat dan didengar. ketika berada dalam suatu lingkungan dan bercengkerama dengan lingkungan serta dengan proses tersebut.org/wiki/Telepon _genggam). sebagai alat pembayaran. dan rekreatif. mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel (nirkabel. Artinya . berbicara. kodrat. Telepon genggam seringnya disebut handphone (disingkat HP) atau disebut pula sebagai telepon selular (disingkat ponsel) adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon fixed line konvensional.menjadi penyalur suara masyarakat agar mereka turut ambil bagian dalam pengambilan keputusan di negaranya (Schramm.wikipedia.

atau kelompok tertentu. Kecamatan Wampu. maka diperoleh sampel sebesar 263 x 20% = 54 orang. Kecamatan Wampu. gejala. . teman. Definisi Operasional Telepon seluler dalam penelitian ini adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon fixed line konvensional. integratif pesan. integratif sosial dan kebutuhan akan pelarian. diperoleh melalui buku-buku. Populasi Dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang bertempat tinggal di Desa Pertumbukan. hasil-hasil penelitian terdahulu.satu fenomena komunikasi bermedia yang terus berkembang serta semakin dibutuhkan oleh masyarakat. tidak menguji hipotesa atau membuat prediksi. Kabupaten Langkat. namun dapat dibawa ke mana-mana (portabel. karena populasi dianggap homogen. Dan pengambilan sampel mengacu pendapat Winarno Surakhmad (1998) yakni sebesar 20% . Kebutuhan ini dapat terpenuhi dan dipuaskan melalui media massa dan sumber lain. suratkabar. Data pra-riset (19-22 Februari 2008) di Desa Pertumbukan terdata 263 orang yang telah memiliki telepon seluler. METODOLOGI Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Pertumbukan. afektif. tanpa mencari dan menjelaskan hubungan. dengan acak sederhana. mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel (nirkabel. Selanjutnya pengambilan sampel dilakukan secara probability. Masyarakat memiliki kebutuhan dan motif beraneka ragam berdasarkan karakteristiknya sosialnya Blumler. yakni kebutuhan ini terpenuhi dengan hubungan keluarga. yang memiliki dan menggunakan telepon seluler sebagai salah satu sarana media komunikasi. Data Sekunder. dalam hal ini merupakan sebagai populasi. Sedangkan yang dimaksud dengan masyarakat desa adalah masyarakat yang merupakan penduduk Desa Pertumbukan . Efektifitas komunikasi dalam penelitian ini dimaksudkan penyampaian/penerimaan informasi dan komunikasi secara lebih mudah dan efisien. diperoleh melalui kuisioner yang diberikan kepada sampel terpilih. Katz dan Gurevitch membuat tipologi kebutuhan manusia yang berhubungan dengan penggunaan media yakni : kebutuhan kognitif. dan pencarian informasi melalui internet. Melalui sumber lain. Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif yakni hanya memaparkan situasi dan peristiwa apa adanya. makalah. dalam memfasilitasi masyarakat dalam berkomunikasi dan membantu memperoleh informasi dengan cepat dan tak terbatas. wireless). Kabupaten Langkat. Metode Pengumpulan Data Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yakni : Data Primer. komunikasi interpersonal. maupun mengisi waktu luang dengan berbagai cara. Dengan kata lain dalam penelitian ini hanya memberikan gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu. Disamping itu juga dilakukan wawancara terstruktur kepada beberapa sampel untuk memperkuat data yang terkumpul melalui kuisioner. keadaan.

kemudian kelompok umur 22-26 tahun dan 37-41 tahun masing-masing 16. Tapanuli Utara. Besilam. Bukit Melintang.pdf ) Kemudian sekitar tahun 2006 dibentuk Desa Pertumbukan yang wilayahnya sebagian mengambil daerah Desa Bukit Melintang dan Desa Stabat Lama. usia dapat dilihat bahwa responden yang terbanyak terwakili dari kelompok umur 17-21 tahun sebanyak 31. Kecamatan Wampu merupakan pemekaran dari sebagian wilayah Kecamatan Stabat. Usia Tabel 02.bpkp. dan Sumber Mulyo ( http://www. Gohor Lama. Toba Samosir. Labuhan Batu. Stabat Lama. dan Langkat. Tingkat Pendidikan.5%. Tingkat Pendidikan Tabel 04. Berikut datanya yang ditampilkan dalam bentuk tabel. Jenis Kelamin. Tabel 03. Stabat Lama/ Baru.5%. Dan tabel 02.7% dan selanjutnya diikuti oleh kelompok umur 22-26 tahun dan 32-36 tahun masing-masing 13%. Analisis data dilakukan dalam beberapa tahap : Membuat tabel distribusi frekuensi (f) dan prosentasi (%) serta interpretasi untuk keseluruhan data penelitian selanjutnya mengadakan diskusi dan pembahasan hasil temuan data penelitian Hasil Penelitian Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kecamatan Wampu merupakan daerah pemekaran yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 1999 Tentang Pembentukan 13 (tiga belas) Kecamatan di wilayah kabupaten daerah tingkat II Tapanuli Selatan. Penghasilan . Karakteristik Responden Responden yang berjumlah 54 orang dalam penelitian ini dilihat dari aspek sosiodemografis-nya mencakup : Usia. jenis kelamin Responden dalam penelitian ini diperoleh laki-laki sebanyak 68. Penghasilan. dalam wilayah Propinsi Sumatera Utara. Gergas. Jenis Kelamin Dari tabel 01. dan Pekerjaan.go.5% dan perempuan sebanyak 31.Metode Analisis Data Data yang terkumpul seluruhnya akan ditabulasikan ke dalam tabel tunggal dan juga membuat beberapa tabulasi silang berdasarkan tujuan penelitian.id/unit/hukum/pp/1999/043-99. Tabel 01. Kebun Balok. Pada awal pembentukan kecamatan ini meliputi : Desa Bingai.

kemudian diikuti tamatan SD dan SMP pada urutan kedua masing-masing 24.1%. dan dapat dilihat sebagai berikut : Tabel. pelajar) sebesar 14. Informasi Sosial Dari tabel 06.7%. – Rp. Mengetahui Kondisi Daerah lain .8%.. kemudian sebanyak 38.000.9% menyatakan sangat setuju serta diikuti sikap ragu-ragu dan kurang setuju masing-masing sebesar 7.4%. 1. Dan tabel 07.4%. Pekerjaan Tabel 05. Tingkat pendidikan responden yang terjaring menjadi responden terbanyak dalam penelitian ini adalah tamatan SMA yakni sebesar 40.8%. serta dinyatakan kurang setuju oleh sekitar 3. 1.000. – Rp. serta tingkat sarjana (S1) sebesar 7. Kebutuhan Informasi Kebutuhan akan informasi dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui sikap responden dalam pencaharian informasi melalui penggunaan telepon seluler yang tersaji dalam tabel. Sebanyak 44. kemudian antara Rp. kemudian pada kategori lain-lain (petani. mengenai Pendapatan responden yang terbanyak yakni diantara Rp. 1. Pekerjaan responden terbesar adalah sebagai wiraswasta/ berdagang yakni sebesar 57. serta diikuti tingkat penghasilan Rp.500. kemudian yang menyatakan setuju sebesar 44.7%.Harapan dan Kebutuhan Tabel 09.1%.4%. sebesar 24.000. sebesar 14. Sikap Responden dalam mencari informasi melalui telepon seluler dinyatakan sangat setuju oleh sebesar 50% .000. 2.4% . Tabel 05.1%.Dari tabel 03. 500. Kemudian tabel 04.000.000.000. – Rp. 06 Mencari Informasi Tabel 07.000.500. 1.4% responden menyatakan setuju untuk membutuhkan informasi sosial melalui telepon seluler.000. serta pegawai swasta sebesar 13%. Tabel 08. yakni sebesar 48.

Selanjutnya sebanyak 40. Telepon seluler Sarana bermain Tabel 12. Pertanyaan ini terbanyak dijawab responden sangat setuju yakni sebesar 48. Kemudian diikuti pernyataan setuju sebesar 35.4%.12 Meringankan Beban Hidup Tabel 13.1%. Penggunaan telepon seluler untuk melarikan diri dari persoalan kehidupan (meringankan bebab hidup) ternyata responden menjawab tidak setuju yakni sebesar 35. Termotivasi Pelajari daerah lain Tabel 11.7% menyatakan setuju. Dari tabel 09.9 % menjawab setuju dan diikuti sebesar 7. serta hanya 5. telepon seluler sebagai sarana bermain. Kemudian yang menjawab setuju dan tidak setuju masing-masing sebanyak 24.7%. masing-masing sebanyak 44. untuk ini responden terbanyak menyatakan sangat setuju yakni sebesar 46. ternyata responden menjawab kurang setuju yakni sebesar 25. baik dari sekitar atau luar lingkungan.7% untuk jawaban sangat setuju.7%.9% dan diikuti menjawab setuju 16.1% responden sangat setuju dengan penggunaan telepon seluler akan lebih mengetahui keadaan kehidupan diluar daerah.3%.15 Meningkatkan Hubungan Silaturahmi . Penambahan Pengetahuan Dan dari tabel 10. Selanjutnya diikuti sebesar 16. Tabel 14.6% menyatakan tidak setuju.1%. Kemudian sebanyak 5.2% serta pernyataan tidak setuju sebesar 7.4% menjawab sangat setuju dan setuju.6% menjawab ragu-ragu serta menjawab kurang setuju sebesar 3. Sebanyak 48. Menimbulkan kesenangan Tabel. Kebutuhan Diversi Pernyataan-pernyataan kebutuhan diversi dalam penelitian ini yang tersaji dalam bentuk tabel berikut : Tabel. Kemudian menjawab kurang setuju sebesar 25. Dengan adanya telepon seluler responden lebih terdorong untuk mempelajari sesuatu tentang lingkungan sekitar dan luar.2%.Tabel 08.4% menjawab ragu-ragu. Mengenai penilaian responden tentang kesesuaian harapan dan kebutuhan. Tabel 11 Telepon seluler sebagai dorongan sarana untuk menambah pengetahuan sesuai dengan kepetingan. Dan dari tabel 13.9%. Tabel 10. Kemudian sebesar 38.

4%. kemudian yang menyatakan sangat setuju sebesar 22.5% responden menyatakan ragu-ragu. namun komunikasi bermedia melalui telepon seluler juga dapat membantu memecahkan masalah kehidupan sosial (lingkungan keluarga. Untuk mencari persahabatan baik dilingkungan sekitar ataupun di luar. 17 Mencari Persahabatan Tabel 16. untuk itu sebesar 66. Dan tabel 19. Kemudian jawaban sangat setuju sebesar 27.7%. untuk itu responden sebanyak 37% menyatakan setuju. Selanjutnya yang menyatakan ragu-ragu sebesar 20. Tabel 20.7%.2% serta diikuti sikap ragu-ragu sebesar 7. karir/pekerjaan. Untuk mengisi waktu luang ataupun di saat santai telepon seluler digunakan responden bersama keluarga semisal menghubungi atau kirim sms kepada keluarga yang jauh dan teman. Melepaskan ketegangan (stress) Tabel 21. kesejahteraan) hal ini dijawab setuju oleh responden yakni sebesar 48. Telepon seluler menimbulkan kesenangan untuk pertanyaan ini responden terbanyak menjawab setuju yakni sebesar 40.8% serta diikuti jawaban kurang setuju sebesar 16. Penggunakan telepon seluler bagian gaya hidup . Tabel 18.7%. 16 Mengisi waktu luang Tabel. Namun terdapat juga responden yang menyatakan ragu-ragu dan tidak setuju yakni masing-masing sebesar 3.2% menyatakan sangat setuju. masyarakat. Namun juga terdapat pernyataan responden yang ragu-ragu yakni sebesar 18. dan yang setuju dinyatakan oleh responden sebesar 22.Dari tabel 14. Kemudian dari tabel 15.1% dan yang sangat setuju sebesar 18.7%. Atasi Sulitnya Perekonomian Tabel 19. Kemudian tabel 17.5%. Walau komunikasi tatap langsung lebih memberi makna dan pengaruh yang lebih besar. Walau secara tidak langsung telepon seluler telah membantu responden untuk memecahkan permasalahan ekonomi keluarga dan untuk ini sebesar 31.4%. Untuk meningkatkan hubungan silaturahmi dengan keluarga dan teman.7% responden menyatakan sangat setuju. telepon seluler salah bentuk komunikasi bermedia ternyata sangat membantu. responden menyatakan sangat setuju yakni sebesar 50% dan yang menyatakan setuju sebesar 40.5% menyatakan setuju dan diikuti sebesar 22. Namun sebesar 18.2%. Tabel. Atasi masalah kehidupan sosial Dari tabel 18.5%.

5% yang menyatakan sangat setuju. Keberadaan telepon seluler sudah membantu menjalin kerja sama usaha dengan pihak lain.7% dan diikuti sebesar 31. Penggunakan telepon seluler sudah menjadi kebiasaan sehari-hari dan telepon seluler selalu mendampingi aktivitas responden (gaya hidup) . Untuk ini responden yang menyatakan setuju sebesar 40. Kebutuhan Identitas Personal Dalam memenuhi kebutuhan indentitas personal dalam penggunaan telepon seluler dalam hasil temuan penelitian ini yang disajikan dalam bentuk tabel dapat dilihat sebagai berikut : Tabel 22.4% menyatakan setuju dan diikuti sangat setuju oleh sebesar 27. Namun terdapat sebesar 11. tentu saja dengan adanya teknologi ini sangat memungkinkan seseorang dapat mengubungi orang lain di tempat yang jauh dan ini sangat efektif jika kalau harus menjumpainya secara langsung.8%.2%. Dalam melepaskan persoalan sehari-hari yang dapat menimbulkan ketegangan (stress) melalui telepon seluler responden dapat menghubungi seseorang yang dianggap dapat memberikan jalan keluar jikalau untuk menjumpai seseorang secara langsung tidak memungkinkan.Relasional dengan pihak lain Tabel 25. serta yang ragu-ragu dan kurang setuju masingmasing sebesar 7. telepon seluler juga dapat membantu. Tabel 21.Informasi aktifitas . Mencari ide/ pemikiran untuk berkreasi/berwirausaha. Hal ini diakui oleh responden sebesar 57. Membantu berkreasi Tabel 23. Tabel 23.1% responden yang merasa ragu-ragu. untuk peryataan ini sebesar 53.4%. Selanjutnya terdapat responden yang menyatakan ragu-ragu yakni sebesar 13%. Kerjasama dengan pihak lain Tabel 22.1% dan diikuti sikap setuju yakni 38. Kemudian sikap ragu-ragu diakui responden yakni sebesar 7.Tabel 20. pernyataan ini disikapi oleh responden dengan menjawab sangat setuju yakni sebesar 48. Tabel 24.6% menyatakan setuju.7% responden menyatakan sangat setuju dan 29.9%.

Tabel 24. Dalam membantu masyarakat melancarkan/meningkatkan kerja sama usaha dengan pihak lain. . Untuk mendapatkan informasi tentang dunia usaha/kegiatan dengan pihak lain.2% serta responden yang merasa ragu-ragu sebesar 13%. Tabel 27. biaya pembelian pulsa dan sebagainya.3 %. Untuk itu responden yang menyatakan setuju sebesar 46.3% dan sangat setuju sebesar 35. Meningkatkan kerjasama usaha Tabel 27.5% menyatakan kurang setuju.3% responden menyatakan sangat setuju dan yang setuju sebesar 35.Informasi dunia usaha Tabel 28. serta terdapat juga responden yang merasa ragu-ragu untuk pernyataan ini yakni sebesar 14.2%. Tabel 28.8%. serta diikuti sebesar 9. Dalam pengembangan jaringan tentu akan membawa dampak-dampak positif yang diharapkan si pengguna.2% menyatakan setuju dan sebesar 24. Alasan pernyataan ini karena adanya telepon seluler akan membuka isolasi informasi sehingga dapat membuka cakrawala ide atau untuk berkreasi dari potensi yang ada. diakui responden dengan menyatakan setuju yakni sebesar 48. telepon seluler bagi masyarakat desa telah sangat membantu. Untuk lebih lanjut dapat disimak dibawah ini yang tersaji dalam bentuk tabel. Penilaian responden terhadap keberadaan telepon seluler telah membantu meningkatkan perekonomian masyarakat adalah sebagai berikut. Hampir sama dengan tabel sebelumnya. Untuk ha ini responden yang menyatakan setuju sebesar 48. untuk ini sebesar 46. sebesar 35. Namun sebesar 18.1% dan untuk sangat setuju sebesar 35.1% dan sangat setuju sebesar 33. Tabel 26. Dan tabel 25.2% .3% responden yang merasa ragu-ragu. hal ini lebih pada tingkat awal adanya penggunaan telepon seluler bagi masyarakat Desa Pertumbukan.Tingkatkan ekonomi masyarakat Tabel 26. Terjalinnya hubungan dengan orang lain akan membantu untuk melancarkan/meningkatkan kerjasama usaha/kegiatan dengan pihak lain (relasional). Penggunaan Telepon seluler Penggunaan telepon seluler bagi responden dalam penelitian ini akan meliputi diantaranya pengalaman responden dalam pengalaman dan penggunaan telepon seluler.1% menyatakan sangat setuju.

2%.Untuk mengetahui faktor-faktor yang mendorong responden untuk menggunakan telepon seluler adalah alasan mencari informasi merupakan faktor yang terbesar dipilih responden yakni sebesar 72.7% yang menggunakan jenis CDMA. Total lamanya melakukan percakapan melalui telepon seluler dalam sehari responden yang terbanyak melakukannya adalah antara 15-30 menit yakni sebesar 38. kemudian untuk menambah pengetahuan diakui responden sebesar 13% seta diikuti alasan untuk mengawasi lingkungan/ pengawasan sosial yakni sebesar 5.5% sudah 4 tahun serta untuk sudah 2 atau 3 masing-masing sebesar 16. Melihat pengalaman responden tentang menggunakan atau memiliki telepon seluler dapat dilihat pada tabel diatas yakni sebesar 33. Tabel 33. terutama harga bekas.Penggunaan SMS Dalam sehari Tabel 34.9%. kuatnya penerimaan sinyal ataupun varian telepon seluler untuk jenis ini lebih banyak dan lebih murah. Hampir mayoritas penggunaan jenis GSM disebabkan ketersediaan sarana dan prasarana di lokasi penelitian lebih memadai. Penggunaan jenis telepon seluler bagi responden hampir mayoritas menggunakan jenis GSM yakni sebesar 96. Penggunaan telepon seluler Tabel 30.3% telah memiliki atau menggunakan telepon seluler kurang dari 1 tahun. kemudian terdapat sebesar 18.6%.7%. Percakapan melalui Ponsel perhari Tabel 31.Tabel 29. Tabel 31. Tabel 32. kemudian dibawah 15 menit yakni sebesar 37% serta diikuti lebih dari 60 menit yakni sebesar 13%. Sistem Ponsel yang Digunakan Tabel 29.3% dan hanya 3. Tabel 30. Kualitas suara . Alasan menggunakan Ponsel Tabel 32.

3%. Biaya percakapan melalui Ponsel Tabel 36.000. Penilaian mengenai biaya penggunaan sms. serta diikuti pembelian lebih dari Rp. diakui responden sangat murah yakni sebesar 66.7%. fitur ini digunakan untuk mengirim pesan-pesan singkat. 100..7%.Tabel 33. Biaya SMS Tabel 35.8%). kemudian terdapat sebesar 14.1% merasa ragu-ragu untuk memberikan pernyataan. Responden menggunakan fitur ini sebanyak kurang dari 5 kali yakni sebesar 40. kemudian kurang dari Rp.(25. Faktor penyebab ketidakseimbangan Tabel 40. serta diikuti yang menggunakan sebanyak 10-15 kali dalam sehari yakni sebesar 11.3%. namun peryataan yang bertolak belakang diakui responden yang menyatakan biaya percakapan melalui telepon seluler dianggap murah yakni sebesar 35. 50. 200. Tabel 39.s/d Rp. Dan yang terakhir diakui sangat mahal oleh responden yakni sebesar 18.. kemudian dirasakan sangat jelas yakni sebesar 33.9%. Tabel 36. Pendapat responden mengenai perbandingan biaya percakapan dengan waktu percakapan dinyatakan sebagian besar oleh responden tidak sebanding yakni sebesar 51.8% yang menyatakan mahal. 50.000..(35. serta diikuti sebesar 5.6% untuk peryataan ragu-ragu. kemudian 5-10 kali sebanyak 38.5%. Penilaian responden tentang kualitas suara yang didengar percakapan melalui telepon seluler dinilai jelas yakni sebesar 59. 34.000.000.9% dan yang menyatakan sebanding sebesar 48. kemudian sebesar 11.1%. Mengenai biaya percakapan melalui telepon seluler diakui responden sebesar 37% adalah mahal. Biaya pembelian pulsa perbulan Tabel 38. Tabel 35. Salah satu fasilitas fitur yang dimiliki telepon seluler dalam berkomunikasi secara tulisan adalah sms. Tabel 37.2% hal ini diakui responden bila menimbang jarak dan waktu yang harus dihabiskan bila akan menemui seseorang di suatu tempat yang jauh. Tabel.9%).2%).1%. Biaya pembelian pulsa yang dikeluarkan oleh responden rata-rata selama sebulan yang terbanyak adalah sekitar Rp. Kesesuaian Biaya dengan Percakapan Tabel 37. Tabel 38.(14. Perkembangan Pengguna Ponsel di desa .

diantaranya adalah responden merasa khawatir kehabisan pulsa. kemudian dianggap sangat maju (44. kemudian Peningkatan ekonomi/kesejahteraan masyarakat sebesar 9. Tabel 42. pendidikan dan SDM Masyarakat yakni sebesar 35.4%). hal ini diakui responden yakni sebesar 57. Kemudian faktor penyebab lainnya sebesar 18.9%. Tabel 40.2% .4%.3% dan diikuti Peningkatan Potensi SDA (pertanian.2% oleh responden.4% dan yang menolak pernyataan tersebut sebesar 42.9%). Pengalaman Peningkatan Yang Dialami Tabel 42 Peningkatan kesejahteraan yang dirasakan menurut responden adalah Peningkatan kualitas pengetahuan. peternakan) yakni sebesar 7. . Sikap Terhadap Kehadiran Telepon seluler Sikap ataupun pendapat responden dalam penelitian ini adalah meliputi beberapa kriteria tentang seputar kehadiran teknologi komunikasi dan informasi khususnya telepon seluler yang akan disajikan dalam bentuk tabel dapat diperhatikan dibawah ini.Tabel 39. Membantu kesejahteraan masyarakat desa Tabel 41. namun terdapat penilaian responden yang ragu-ragu dan kurang maju terhadap perkembangan pengguna telepon seluler di desanya yakni masing-masing sebesar 1.4%.6%. Kehadiran telepon seluler walau secara tidak langsung telah memberikan bantuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.5%. Melihat perkembangan pengguna telepon seluler diakui responden untuk di daerahnya tergolong maju (51. kemudian tingkat ekonomi masyarakat masih rendah diasumsikan 22. Tabel 41. Faktor penyebab ketidakseimbangan diasumsikan responden karena biaya percakapan terlalu tinggi (biaya talk time dianggap mahal) yakni dirasakan oleh responden sebesar 44.

1%). merupakan upaya melepaskan diri dari rutinitas dan masalah. Mengenai dampak yang dirasakan responden dengan hadirnya telepon seluler menyebabkan pengeluaran semakin bertambah yakni diakui sebesar 33. dirasakan responden yakni sebesar 61. hal ini dirasakan oleh responden yakni sebesar 18.3%. sarana pelepasan emosi. bagi masyarakat desa sangat membantu terutama menimbulkan perasaan senang terkait dengan meningkatkan silaturahmi dengan keluarga dan teman. mengisi waktu luang serta mencari . teman dan pekerjaan tanpa terkendala jarak. Pendapat masyarakat Desa adanya Telepon seluler Untuk tabel 44. Dampak Negatif Telepon seluler Dari Tabel 43. Tabel 44.5%. Penggunaan telepon seluler dalam memenuhi kebutuhan diversi .Tabel 43. kemudian Telepon seluler hanya menjadi gaya hidup hal ini diakui responden sebesar 7. Pembahasan Masyarakat desa dalam memenuhi kebutuhan informasi termasuk informasi sosial sangat memerlukan hal ini terkait dengan sistem jaringan sosial yang terdapat di sekitar atau diluar lingkungannya yang pada gilirannya dapat memberikan pengetahuan atau menambah pengalaman. Masyarakat desa merasa dengan penggunaan telepon seluler ini sesuai dengan harapan dan kebutuhan.1 % menyatakan Sangat membantu hubungan komunikasi dgn keluarga. Kemudian dampak lainnya yakni mayarakat menjadi konsumtif yakni sebesar 1.4%.9% dirasakan responden. Dari pertanyaan terbuka yang dijaring oleh peneliti mengenai pendapat masyarakat tentang kehadiran Telepon seluler di Desa Pertumbukan. Kemudian memudahkan untuk mencari informasi dan menambah pengetahuan/pendidikan. serta dapat mengetahui atau menambah wawasan tentang keadaan/kehidupan di tempat lain (11.

hingga saat ini jumlah pengguna telepon seluler di desa ini mencapai kirakira 80% (wawancara dengan Majidul Fahmi. . Penggunaan telepon seluler di Desa Pertumbukan mengalami kemajuan yang sangat pesat. dan menambah wawasan. Namun tidak untuk melarikan atau melepaskan diri dari persoalan kehidupan dan kesulitan hidup. yaitu referensi diri. menjalin serta meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak baik didalam lingkungan sekitar maupun di luar. tgl 20/2/08). Pola penggunaan telepon seluler bagi masyarakat yakni cenderung menggunakan SMS karena biayanya relatif murah bila dibanding jika melakukan percakapan melalui telepon seluler. dan hal ini menunjang efektivitas dalam komunikasi bermedia. kuatnya penerimaan sinyal ataupun varian telepon seluler untuk jenis ini lebih banyak dan lebih murah. Keberadaan telepon seluler telah membantu masyarakat Desa Pertumbukan untuk mencari ide/pemikiran untuk berkreasi. tentu saja hal ini tidak baik untuk anak-anak remaja. mengisi waktu luang serta mencari persahabatan yang lebih luas. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Masyarakat Desa Pertumbukan memerlukan telepon seluler (media komunkasi) untuk memenuhi kebutuhan informasi termasuk informasi sosial bagi hal ini terkait dengan sistem jaringan sosial yang terdapat disekitar atau diluar lingkungannya yang pada gilirannya dapat memberikan pengetahuan atau menambah pengalaman. Poin-poin ini secara tidak langsung diakui akan membantu responden dan masyarakat dapat meningkatkan perekonomiannya. dan ini sesuai dengan harapan dan kebutuhan mereka. Pola penggunaan telepon seluler bagi masyarakat yakni cenderung menggunakan SMS karena biayanya relatif murah bila dibanding jika melakukan percakapan melalui telepon seluler. Sikap masyarakat terhadap hadirnya telepon seluler dewasa ini dirasakan telah memberikan kemudahan berkomunikasi.persahabatan yang lebih luas. Kemudian faktor utama yang mendasari penggunaan telepon seluler diakui oleh responden adalah untuk mencari informasi. dan menambah wawasan. Dalam kegiatan sehari-hari telepon seluler sudah menjadi pelengkap terutama untuk kemudahan untuk berkomunikasi. Keberadaan telepon seluler dapat dijadikan salah satu upaya melepaskan diri dari rutinitas dan masalah. dan hal ini menunjang efektivitas dalam komunikasi bermedia. mencari informasi. dan bagi masyarakat Desa Pertumbukan karena menimbulkan perasaan senang terkait dengan meningkatnya hubungan silaturahmi dengan keluarga dan teman. terutama harga yang bekas. Kehadiran telepon seluler telah memberikan kemudahan berkomunikasi. Namun terdapat hal-hal yang perlu diantisipasi terhadap dampak negatifnya. Hasil temuan ini menggambarkan bahwa keberadaan telepon seluler telah membantu masyarakat desa untuk mencari ide/pemikiran untuk berkreasi. Kebutuhan identitas personal (Personal identity). penguatan nilai. Dalam kegiatan sehari-hari telepon seluler sudah menjadi pelengkap terutama untuk kemudahan untuk berkomunikasi. Namun terdapat hal-hal yang perlu diantisipasi terhadap dampak negatifnya. misalnya telepon seluler dijadikan sarana untuk menyimpan photo/video porno. mencari informasi. eksplorasi realitas. Jenis telepon seluler yang familiar dengan responden adalah sistem GSM hal ini disebabkan ketersediaan sarana dan prasarana di lokasi penelitian lebih memadai. menjalin serta meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak baik didalam lingkungan sekitar maupun di luar dan secara tidak langsung diakui dapat membantu masyarakat untuk meningkatkan perekonomiannya. sarana pelepasan emosi.

Bandung. London. Jakarta. Bandung. Singarimbun. Dan Terapan di Dalam Media Massa. 2000. 2000. Nurudin. London . Jr. Wiryanto.Saran Telepon seluler salah satu media komunikasi yang sangat pesat perkembangannya dan populer telah memberikan kemudahan dalam berkomunikasi. Dinamika Komunikasi. Thousand Oaks. Teori Komunikasi Massa. 2004. 1993. ___________. Ilmu Komunikasi Teori Dan Praktek.J. Masri. California . sebaiknya pemerintah dan pihak operator seluler memberikan kemudahan dengan membuat regulasi untuk menurunkan biaya operasionalnya. Mediamorfosis: Understanding New Media. ___________. Kriyantono. 1991. 2000. Remaja Rosdakarya. Tarsito. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung. The Uses of Mass Communications Current Perspectives on Gratification Research. Jay G. PT. 1972. 2005. More than just talk on the move: Uses and gratifications of the cellular phone. 2000. Jalaluddin. Karl. Bandung.G. Palmgreen. 2008. Sage Publications. Fidler.Onong Uchjana. Metode Riset Komunikasi Organisasi. Grasindo. Remaja Rosdakarya. PT. 1997. 2007. 2002. Palmgreen. Bandung . 1994. 1998. The Role of Theory in Uses and Gratification Studies. Jakarta. PT. Rachmat. PT. Sage Publication. Salemba Humanika. dan menambah wawasan bagi masyarakat serta dapat membantu peningkatan perekonomian masyarakat. Louis dan Ran Wei. 2006. London. Dasar Metoda Teknik. Winarno.. Leung. Journalism and Mass Communication Quarterly. Remaja Rosda Karya. Summer. Bagi masyarakat dihimbau untuk menggunakan media telepon seluler secara bijaksana dan memberikan manfaat yang positif. Ilmu. Metode. Jay. Teori Dan Filsafat Ilmu. 2001. PT. Gramedia Pustaka Utama. Tankard. Remaja Rosda Karya. III. PT. Pine Forge Perss. PT. Pengantar Komunikasi Massa. Surakhmad.. Jakarta. LP3ES Printing. James W. Metode Penelitian Komunikasi. London. Severin. Wenner. W. Jakarta. & Elihu Katz. Lain-Lain . Bandung. Rakhmat. mencari informasi. Jakarta. Edisi Revisi. Jakarta. Teori Komunikasi : Sejarah. Roger. Pengantar Penelitian Ilmiah. 1998. Metode Penelitian Survey. West. Sistem Komunikasi Indonesia. Turner. Media Massa dan Penerimaan Khalayak. Husein. Blumler. Bandung. ____________. DAFTAR PUSTAKA Blumler.. Jakarta.Citra Aditya Bakti. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. PT. Sage Publication. Prenada Media. Media Gratification Research. Richard dan Lynn H. RajaGrafindo Persada. Jakarta. 1991. 2003. RajaGrafindo Persada. Edisi Kelima. vol. Remaja RosdaKarya. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Efenddy. ____________. Rosengren. Erik. ABI/INFORM Global Muchati. Umar. Kencana. Philip. The Models of Uses and Gratifications. Sage Publication. PT.

dan beberapa contoh Aplikasi Teori Komunikasi Massa Kontekstual.com/lihat_opini. http://www.Hilda .wikipedia.htm .com/kompas-cetak/0405/05/telkom/1002910.diakses tgl 8/02/08.pikiranrakyat.html.uky. diakses tgl 31/3/08 Saprudin. Komunikasi. Teori Komunikasi Massa Terhadap Individu.Damayanti. Junaedi.un.htm. 2005.org/wiki/Telepon _genggam.majalahindonesia.blogspot.diakses tgl 2/02/08 .org/ diakases tgl 12/5/08 http://www. net.diakses tgl 2/02/08.diakses tgl 2/03/08. diakses tgl 26/8/07 http://www. 2007.com/cetak/2005 /0105/20/cakrawala/ lainnya01.centrin.com/ divakar_goswami. Dampak Penggunaan Telepon Seluler (Handphone).com . http://data.kompas.edu/~drlane/capstone/ contexts. Yusup.. Media. diakses tgl 18/1/08.com/2005/11/teori-komunikasi-massaterhadap. http://www.htm. 2001. Communication Contexts. 2005. hildadamayanti@yahoo.htm .php? pg=2007/10/27102007/65568 .com/hild4. http://komunikasimassa-umy. http://bdg. Sumber-Sumber Informasi.Wawan.pintunet.id/~pawitmy/ -diakses tgl 26/3/08 ____________.2003. http://www. http://id. Pawit M.wordpress.diakses tgl 11/4/08 . Fajar.

Dalam proses demokratisasi inilah peran media massa sangat diperlukan untuk memotivasi. development. fund and readiness of researcher to check all community merchant of Market of Horas Pematang Siantar. Pasca Reformasi juga menimbulkan iklim yang kondusif lahirnya proses demokratisasi . yang selama era orde baru proses ini belum berlangsung optimal. serta 56 lembaga penyiaran TV Swasta lokal yang tersebar di berbagai daerah. Perubahan yang terjadi seiring dengan perubahan kebijakan politik yang terjadi Pasca Reformasi ( setelah tahun 1998 ). Proses demokratisasi yang sedang berlangsung didukung oleh semangat otonomi daerah. As for result of from this research is seen from cognate motivation aspect very agree with existence of community radio of Epiginosko. hence taken some of pupulation become research sample with amount 10% from totalizing population become 54 responders. To facilitate and more directional in executing of this research. Latar Belakang Masalah Perkembangan media massa di Indonesia mengalami kemajuan pesat sejak terjadinya perubahan kebijakan tentang Sistem Penyiaran di Indonesia. hence as research method which was used in this research was research survey by approach descriptive. Motivation version with existence of radio of community get easiness in life of them. Pada era Pasca Reformasi. Demikian juga halnya dengan hadirnya TV. Saat ini tercatat ada 1 lembaga penyiaran publik dengan jangkauan nasional yaitu TVRI. As for problems to this research is how potencial Radio of Epiginosko to develop society merchant of Pasar Horas in Pematang Siantar City. Desire of the merchant community develop. Demikian juga dengan radio swasta yang tergabung dalam PRSSNI ada sekitar 84 radio swasta siaran berdiri di Provsu (PRSSNI 2006). Keadaan ini berdampak munculnya media massa baik cetak maupun elektronik. build that community radio is expected will be able to give respective information contribution with community dynamics merchant Lease of Horas. . society of Pasar Horas A. Key words: Community radio. This Research require to be conducted because pursuant to perception of writer of existence of this radio is in the reality woke up by community merchant of Lease of Horas Pematang Siantar. Radio Swasta Nasional.Potensi Radio Komunitas Epiginosko Terhadap Pembangunan Masyarakat Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar Sumatera Utara Oleh : Parulian Sitompul3 Abstract The topic of research in this article is ”Potency Community Radio of Epiginosko to Development Society Merchant of Pasar Horas in Pematang Siantar City”. yang memberi peluang bagi daerah untuk menciptakan sumber pendapatan 3 Penulis adalah Peneliti Muda bidang Komunikasi Sosial pada BBPPKI Medan. Identity motivation of personal with existence of community radio and also push community to get opportunities of hero/ commerce in Pasar Horas Pematang Siantar. regulasi tentang pendirian media massa mengalami kemudahan. menyadarkan bahkan menggerakkan masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidupnya. 10 lembaga penyiaran TV Swasta dengan jangkauan nasional. As for becoming population of this research are 540 community Mrchant of Market in Pematang Siantar. But because limitation of time.

serta lembaga penyiaran komunitas ( TV / Radio Komunitas ) memberi kesempatan bagi pengelola media massa untuk berperan secara optimal membangun daerahnya. 3. dan industri kecil perlu dioptimalkan melalui kemasan program siaran yang mengedepankan upaya-upaya agar masyarakat bersedia berpartisipasi meningkatkan potensi daerahnya. maka peneliti dapat merumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut. bagaimakah Potensi Radio Komunitas Epiginosko Terhadap Pembangunan Masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar. Kapankah Waktu dan bagaimanakah frekuensi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko? 4. Potensi-potensi dalam bidang pariwisata peternakan. sehingga dapat berdampak kepada peningkatan pemasukan pendapatan daerah tersebut. terutama sebagai sarana untuk mensosialisasikan kebijakan Pemerintah Daerah di tingkat Lokal dan sebagai sarana mempromosikan potensi daerah. perdagangan dan industri kecil perlu dilakukan promosi melalui Radio Komunitas agar dapat menarik minat investor lokal maupun luar negeri untuk menanamkan investasinya di Kota Pematang Siantar. Potensi daerah di Kota Pematang Siantar di sektor pariwisata. optimalisasi fungsi lembaga penyiaran Radio Komunitas dapat mewujudkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebih tinggi dari kondisi sekarang. Dengan potensi daerah yang dimiliki. Pembatasan Masalah Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah : . Dasar pertimbangan yang lebih spesifik dapat dikemukakan sebagai berikut : 1. Bagaimanakah motivasi Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko untuk mendapatkan informasi daerah? 2.sendiri. serta Undang-undang Penyiaran No. Kehadiran lembaga penyiaran komunitas (TV dan Radio Komunitas) dapat memberi kontribusi yang sangat berarti bagi suatu daerah. perdagangan dan peternakan merupakan potensi yang dapat dioptimalkan agar dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD ). Kehadiran Radio Komunitas dapat memberi kemudahan bagi masyarakat di Kota Pematang Siantar untuk mendapatkan informasi perdangan dengan biaya yang terjangkau dan kualitas siaran yang baik . Sektor pariwisata. perdagangan. Adapun permasalahan khusus dalam penelitian ini adalah : 1. Kota Pematang Siantar merupakan wilayah yang sangat potensial di Propinsi Sumatera Utara. 2. Apakah jenis informasi daerah yang didengar masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar dari Radio Komunitas Epiginosko ? 3. peternakan. Dimanakah lokasi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar biasanya mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko ? C. 32/2002 yang memberi peluang bagi tumbuhnya stasiun televisi swasta berbasis daerah. Berdasarkan permasalahan inilah. penulis menganggap perlu dilakukannya suatu penelitian untuk mengetahui bagaimana sebenarnya bagaimakah Potensi Radio Komunitas Epiginosko Terhadap Pembangunan Masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar B. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang penelitian di atas. lembaga penyiaran publik lokal ( TV/Radio Publik Lokal ).

2. masing-masing . yakni satu institusi atau organisasi. Artinya komunikan atau khalayak merupakan masyarakat yang heterogen. 5. Keberadaannya terpencar. Karena komunikator pada komunikasi massa bertindak atas nama lembaga. Ia tidak mempunyai kebebasan sebagai individu. Responden penelitian ini adalah masyarakat Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar D. Komunikator pada komunikasi massa merupakan lembaga. Media komunikasi massa menimbulkan keserempakan. 2. 3. 2. Daerah penelitian ini adalah di Kota Pematang Siantar 3. Mengetahui waktu mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko masyarakat Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar . 3. bukan kepada perseorangan atau kelompok tertentu. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah Kota P. Siaran Radio Komunitas baik yang berbentuk berita maupun informasi umum tentang potensi daerah Kota Pematang Siantar. Dibanding dengan jenis-jenis komunikasi lainnya. Komunikasi massa berlangsung satu arah. Mengadopsi kepada karakteristik media massa maka keberadaan Radio Komunitas dapat dijelaskan fungsi dan peranannya dalam kerangka teoritis mengenai komunikasi massa. 2. Dalam hal ini tidak terdapat arus balik dari komunikan kepada komunmikator. Artinya khalayak menerima secara serempak (simultan ) pesan yang disampaikan melalui media massa. Sebagai bahan masukan bagi pengelola managemen radio komunitas epiginosko dalam upaya peningkatan dan pengembangannya. maka ia bertinndak sesuai dengan kebijaksanaan ( policy) media yang memilikinya. E. Epiginosko 3. 4. Seperti yang dikemukakan Melezke (1963) yang dikutip oleh Rakhmat. Dengan kata lain. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah pusat Departemen Komunikasi dan Informatika dalam pembuatan kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan radio komunikator. Tujuan dan Manfaat Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Uraian Teoritis Penelitian ini membahas tentang bagaimana masyarakat mendapatkan informasi daerah melalui Radio Komunitas.1. satu sama lain tidak saling mengenal dan tidak melakukan kontak pribadi. Siantar agar dapat mendorong dalam pengembangan radio komunikator di P. komunikator tidak mengetahui tanggapan khalayak (komunikan) terhadap pesan yang disampaikan. 1981 mengartikan komunikasi massa sebagai setiap bentuk komunikasi yang menyampaikan pernyataan secara terbuka melalui media penyebaran teknis secara tidak langsung dan satu arah pada publik yang tersebar. Mengetahui Jenis informasi daerah yang didengar masyarakat Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar dari Radio Komunitas. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Pesan pada komunikasi massa bersifat umum. 4. Mengetahui Lokasi masyarakat Pedagang Pasar Horas biasanya mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko di Kota Pematang Siantar. komunikasi massa mempunyai ciri-ciri (dikutip dari Effendi (1993:22-26) adalah : 1. Siantar. Komunikan pada komunikasi massa bersifat heterogen. Mengetahui motivasi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko untuk mendapatkan informasi daerah . Maksudnya pesan ditujukan kepada umum.

Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Mass Media Uses and Gratifications . Kebutuhan Integratif Sosial 5.Waktu .Kepuasan . Masyarakat dalam model penelitian ini memiliki kebutuhan dan motif beraneka ragam berdasarkan karakteristik sosialnya.Ketergantungan . Dalam penelitian ini tidak semua komponen yang ada dalam model Mass Media Uses and Gratifications diteliti. 1974 : 19 – 32). agama. kebutuhan dapat terpenuhi melalui hubungan dengan . Komunikasi massa menyiarkan informasi. Blumler. Kebutuhan Afektif 3. Gurevitch. Penelitian ini akan mendeskripsikan tentang: 1.Jenis Isi Variabel Lingkungan Sumber : Jalaluddin Rahmat. Gurevitch membuat tipologi kebutuhan manusia yang berhubungan dengan penggunaan media yang meliputi : 1. 1985 Model ini dimulai dengan Variabel Anteseden yang terdiri dari Variabel Individual yaitu antara lain usia. pengalaman dan sebagainya. Kebutuhan akan pelarian Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dan dipuaskan melalui media massa dan sumber lain .Kognitif . Melalui sumber lain . gagasan dan sikap kepada komunikan yang beragam dalam jumlah yang banyak menggunakan media. Kebutuhan Integratif Pesan 4. jenis kelamin. tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan. Kapankah Waktu masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko ? 4. Model Mass Media Uses and Gratifications menurut para pendirinya menyatakan bahwa awal kebutuhan secara psikologis dan sosial individu menimbulkan harapan tertentu kepada media massa atau sumber lain. Apakah Jenis informasi daerah yang didengar masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar dari Radio Komunitas Epiginosko ? 3. ( Katz. Dimana Lokasi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar biasanya mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko ? Anteseden Media Variabel Individual Identitas Motif Penggunaan Efek . kebudayaan. pendidikan. Variabel Lingkungan juga masih merupakan bagian dari Variabel Anteseden yang biasanya terdiri dari lingkungan sosial. organisasi dan lain sebagainya.Diversi .Frekuensi .berbeda latar belakang sosialnya seperti usia. pekerjaan.Pengetahuan Personal . Katz. Blumler.Isi . afiliasi kelompok. Kebutuhan Kognitif 2. Bagaimanakah motivasi masyarakat Pedagang Pasar Horas di Kota Pematang Siantar mendengarkan Radio Komunitas Epiginosko untuk mendapatkan informasi daerah ? 2.

mempertahankan dan pengaktualisasian diri. dan pertumbuhan pribadi (Rakhmat. kebutuhan. Mar’at (1981:124). Kedua. dalam pertumbuhannya manusia memerlukan orang lain. surat kabar. nilai . dan sikap. Konsep manusia yang dibahas dalam penelitian ini adalah konsepsi Psikologi Humanistik yang melihat manusia sebagai manusia seutuhnya. teman. model Mass Media Uses and Gratifications diadaptasi untuk meneliti hubungan antara motif masyarakat dengan penggunaan radio. media massa di sini dimaknai sebagai Radio Komunitas Epiginosko. menjelaskan efek prososial dari media massa itu sendiri. 1988 : 153). William Mc. dan televisi. meninjau satuan observasi yang dikenai efek media massa. dorongan bagi seseorang untuk berbuat atau ide pokok yang selalu berpengaruh terhadap tingkah laku manusia ( Kartono. maupun mengisi waktu luang dengan berbagai cara. menurut Gonzales (1978. Kerangka teoritis yang digunakan dalam penelitian ini memang memodifikasi efek media massa terhadap sikap individu. motivasi merupakan proses psikologis yang mencerminkan interaksi antara sikap. radio. kepribadian. sistem kognitif. Kebutuhan melalui media massa dapat dipenuhi dengan membaca surat kabar dan majalah. Dan ketiga. pikiran dasar. instink. yaitu : (1) efek kognitif yang meliputi peningkatan kesadaran. Kedua pandangan yang tadi disebutkan tidak menghormati manusia sebagai manusia. perubahan perasaan atau sikap dan perubahan perilaku (perubahan kognisi. 2001 : 30 ). Manusia memiliki faktor-faktor personal (internal) antara lain sikap. Seperti penerimaan informasi. mengungkapkan bahwa komponen kognitif dan afektif banyak dipengaruhi oleh media komunikasi seperti film. dalam Jahi. peneliti perlu mengawali dengan meletakkan konsepsi manusia karena yang diteliti adalah motif manusia.keluarga. Teori belajar sosial dari Bandura (1977). afeksi. 1984:178 ) . Menurut Carl Rogers dalam konsepsi Humanistik ini. mengemukakan tiga pendekatan untuk melihat efek media massa. persepsi dan keputusan pada seseorang yang timbul karena adanya faktor intrinsik dan ekstrinsik (Wahyusumidjo . (2) efek afektif yang berhubungan dengan emosi. Manusia adalah pencari makna. Pendekatan tersebut. dan motif ( Rakhmat. hidup manusia lebih bermakna ketika manusia itu melibatkan nilai-nilai dan pilihan yang membangun . Secara Etimologis. mendengarkan radio serta menonton televisi. pendekatan yang berkaitan dengan pesan media massa. komunikasi interpersonal. Sedangkan menurut Wahyusumidjo. Berkaitan dengan prilaku manusia. Dalam pembahasan dan kerangka teoritis. 1988:17). disebut tiga dimensi efek komunikasi massa. Dengan kata lain. manusia mempunyai prilaku meningkatkan. Chaffe (1980) dalam Rakhmat (1985:215-217). belajar dan tambahan pengetahuan. makna. Ketika membicarakan motif. pendekatan dengan melihat jenis perubahan yang terjadi pada khalayak. Tidak seperti pandangan Psikoanalisis yang cenderung menganggap manusia hanya dipengaruhi oleh naluri hewaninya dan Behaviorisme yang melihat manusia sebagai robot tanpa jiwa dan nilai. Keduanya tidak mampu menjelaskan aspek eksistensi manusia yang positif dan membangun seperti cinta. dan behavioral). Pertama. motivasi berasal dari bahasa Latin yaitu ”motivas” yang berarti alasan dasar . Dalam penelitian ini. perasaan. 2001:33).Dougall mengemukakan faktorfaktor personal yang menentukan prilaku manusia. kreativitas. sedang (3) efek konatif erat hubungannya dengan niat dan kecenderungan berperilaku menurut cara tertentu.

Demikian juga halnya motif menggunakan telepon pedesaan sabagai salah satu sarana berkomunikasi . menurut Rakhmat (1989:62). harapan. perbendaharaan kata). Dalam kata lain Efektifitas sebuah proses komunikasi ditentukan oleh tiga faktor. mudah dimengerti. Perceived Security adalah kemampuan komunikator untuk memperhatikan/menyelidiki apakah komunikan itu tunduk kepada pesan. ketiga faktor itu adalah sebagai berikut : 1. dijelaskan lebih lanjut bahwa faktor intrinsik dalam diri manusia dapat timbul berdasarkan kepribadian. Motif merupakan daya yang timbul dari dalam diri yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Faktor Pesan Pesan terdiri dari struktur pesan. sikap. Perceived Control adalah kemampuan komunikator untuk melakukan pengawasan apakah komunikan itu tunduk kepada pesan atau tidak. fear appeals ). pola urutan argumentasi dan pola objektifitas. Perceived Concern adalah kemampuan komunikator untuk melakukan penelitian/mersa peduli apakah komunikan tunduk kepada pesan. Sedangkan kejujuran dioperasionalkan dengan persepsi komunikan tentang sejauhmana komunikan tidak memihak dalam penyampaian pesan. familiaritas dan kesukaan. imbauan pesan. reward appeals. gaya pesan menunjukkan variasi linguistik dalam penyampaian pesan (perulangan. Faktor Komunikator Komunikator dalam model ini harus memiliki kredibilitas. Kredibilitas terdiri dari dua unsur yaitu keahlian dan kujujuran. Jadi dapat dikatakan motif mempengaruhi seseorang dalam memilih sesuatu termasuk juga dalam memilih media massa dan mengkonsumsi isinya. Menurut tafsiran sosiologis Max Webber . keanggotaan kelompok dan proses selektif atau biasa juga disebut faktor personal. penjelasan atau dasar kebenaran tingkah laku yang telah dilakukan (Turner. 2001: 198) pengaruh Komunikasi Massa ditentukan oleh faktor-faktor predisposisi personal. Menurut Cultip dan Center dalam Susanto (1982:138) mengatakan bahwa pesan yang efektif adalah pesan yang memiliki 7 C yaitu : 1. Kekuasaan dioperasionalkan dengan tanggapan komunikan tentang kemampuan komunikator untuk memberikan ganjaran. Daya tarik ukur dari kesamaan. daya tarik dan kekuasaan. Appeals (imbauan) pesan mengacu pada motif-motif psikologis yang dikandung pesan (rasional. Di dalam faktor personal inilah terdapat motif yang memberikan asumsi tertentu bagi orang dalam menanggapi sesuatu. Contents yaitu faktor makna dan arti yang tersimpulkan dalam pesan terutama memperhatikan apakah pesan dipahami oleh komunikan. 3. emosional. 2. 2. Ketiga. dan kebutuhannya (need). 1984). kemampuan untuk meneliti apakah komunikan mengikuti pesan yang disampaikan atau tidak.Dari pendapat di atas. 3. Motif merupakan salah satu faktor pembentuk prilaku seseorang dalam menanggapi sesuatu. 2. struktur pesan ditunjukkan dengan pola penyimpulan. . Context yaitu faktor yang menghubungkan isi pesan dengan keadaan lingkungan yang ada. Menurut Yoseph Klapper (Rakhmat. Pertama. Kebutuhan inilah yang menimbulkan motif. gaya pesan. Prinsip-prinsip yang harus dianalisis adalah sebagai berikut : 1. Credibility yaitu nilai kepercayaan khalayak atau publik kepada komunikator. Kedua. motif merupakan deskripsi verbal yang memberikan gambaran. Keahlian diukur dengan sejauhmana komunikan menganggap komunikator mengetahui jawaban yang benar.

Jumlah sampel dalam penelitian sebanyak 54 orang terdiri dari para pedagang di Pasar Horas Kota Pematang Siantar. Metode ini digunakan berdasarkan penjelasan suharsimi arikunto. Sementara sampel dalam penelitian ini adalah pendengar Radio Komunitas Epiginosko yaitu Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar. F. Clarity adalah faktor kesederhanaan dan jelas tidaknya perumusan yang digunakan dalam pesan 5. b. Pengkajian Kepustakaan. Kerangka Konsep dan Operasionalisasi Variabel Kerangka konsep adalah sebagai hasil pemikiran rasional yang bersifat kritis dalam memperkirakan kemungkinan hasil yang akan dicapai dalam penelitian ( Nawawi. 2001 : 40 ). Capability adalah faktor yang terakhir dalam penelitian pesan untuk disebarkan kepada komunikan. 15% hingga 20 %. 3.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Survey. menyebutkan jika jumlah populasi dari 100 orang maka dapat diambil samnpel antara 10 %. F. yang dilakukan dengan cara mempelajari dan mengumpulkan data dari literatur dan bahan bacaan yang ada hubungannya dengan masalah dalam penelitian ini.2 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini adalah dilakukan di Kota Pasar Horas Pematang Siantar . METODOLOGI PENELITIAN F. Pengambilan sampel tersebut diambil 10 % jumlah populasi.3 Populasi dan Sampel Adapun populasi dalam penelitian ini adalah komunitas Pedagang Pasar Horas Kota Pematang Siantar. F. Penyebaran Kuesioner F. 7. Dari data tersebut dianalisa melalui tabel tunggal sebagaimana lazimnya dalam metode deskriptif. Continuity adalah pesan yang bersifat kesinambungan 6. F. Consistency adalah ada tidaknya pertentangan / pebedaan dalam bagian-bagian ataukah terdapat suatu pengulangan dengan variasi di dalamnya.4.5 Metode Analisis Data Analisa data dilakukan secara deskriptif. Metode ini digunakan karena penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan menyebarkan kuesioner kepada responden terhadap sampel yang telah ditentukan. karena penelitian ini adalah penelitian survey dengan menyebarkan kuesioner kepada responden yang telah ditentukan. G. Faktor media Media yang diteliti adalah Radio Komunitas dengan asumsi semakin lengkap sarana dan prasarana yang disediakan untuk proses komunikasi maka hasil yang akan diperoleh akan semakin tampak lebih sempurna walaupun kadangkala banyak kendala yang harus dijumpai. Kerangka konsep terdiri dari variabel-variabel ( konsep-konsep ) dan .4 Metode Pengumpulan Data a.

263 ) . Mayoritas responden berpenghasilan tiap bulannya dari dari hasil dagangan merekan antara 1. Mayoritas tingkat pendidikan pedagang yang menjadi responden dari penelitian ini adalah yang ditawar Oma (79%).hubungan-hubungan yang membentuk konteks kausal dari penyelidikannya. Kebutuhan Hiburan ) c. Frekuensi penggunaan Isi ( Bahan Pembicaraan) Jenis Isi ( Klasifikasi : ekonomi. karena itu harus memerlukan desain riset ( Mayer dan Wood. Usia Jenis Kelamin Tingkat Pendidikan Tingkat Penghasilan Keikutsertaan Organisasi Pekerjaan G. c.4 Variabel Efek ( Penggunaan Radio ) a. Pengawasan Lingkungan Sosial. c. d. HASIL PENELITIAN Usia Responden Usia Responden pada penelitian ini adalah mayoritas berkisar diatas 42 x 4 (32%) sementara umur 27 -31 tahun hanya 4 % Jenis kelamin laki-laki ternyata lebidominan (66%) dibandingkan perempuan (35%). 1984 . d. Merujuk dari kerangka teori di atas yang menghasilkan kerangka konsep kemudian diimplementasikan dalam Operasionalisasi Variabel penelitian ini adalah sebagai berikut : G. sosial. Pengetahuan b. Jenis Kelamin Tingkat Pendidikan Tingkat Penghasilan Mencari Informasi . Kepuasan c. Identitas Personal (Memperkuat/menonjolkan sesuatu yang penting dalam kehidupan ) G. b.9 juta sebesar (48%) dan diatas 2 juta (34%). f.2 Variabel Motif (Penggunaan Radio) a.4 juta – 1. walaupun ada yang mengajukan untuk mencari informasi pekerjaan mereka sebesar (2. b.3 Variabel Penggunaan Media ( Penggunaan Radio ) a. Durasi yang digunakan. politik .4%). pendidikan ) G. Pada umumnya pedagang pajak horas sangat setuju mencari informasi tentang berkaitan dengan pekerjaan sebesar (65%).1 Variabel Anteseden a. Orientasi Kognitif ( Kebutuhan Informasi. Diversi ( Kebutuhan Pelepasan Dari Tekanan. Eksplorasi Realitas ) b. Ketergantungan H. e.

Pada umumnya pedagang Pasar Horas P. 2. 3. kemudian motivasiidentitas personal yaitu dengan mendengarkan radio mendorong dalam pemenuhan syarat untuk berwirausaha. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan 1. Motivasi diversi responden mengakui dengan mendengarkan radio komunitas yaitu untuk kebutuhan pelepasan demi tekanan. Kurang Setuju (2. sangat dan setuju (81%). 4. Yang menyatakan sangat setuju dan setuju (78%) dan ragu-ragu (22%). kebutuhan mendapatkan hiburan. Pada umumnya perdagangan Pasar Horas sangat setuju mencari informasi yang berkaitan dengan pekerjaan responden. 2.4%). mendapatkan wawaan.Radio Epiginosko sebagai sumber Informasi Keberadaan Radio Epiginosko sesuai dengan yang diharapkan dan kebutuhan Radio Epiginosko mendorong menam bah pengetahuan dunia usaha Radio Epiginosko memberikan kesenangan Radio Epiginosko mendorong berwira usaha Menyatakan sangat setuju (45%). Setuju (46%). Ragu-ragu (9%). Daftar Pustaka . Setuju (48%). Siantar mendengarkan radio pada pagi hari dan sampai sore hari masing-masing sebesar 28% dan ada juga pedagang sebesar 26%. I. Menyatakan sangat setuju (41%). -ragu (11%). Ragu-ragu (39%). Pada umumnya pedagang Pasar Horas mendengarkan radio ketika berada di Pasar Horas dan sebagian lagi menyatakan ada yang dirumah. Siantar. Pemerintah Pusat dalam hal ini Departemen Komunikasi dan Informatika dapat memberikan pembinaan langsung maupun tidak langsung tentang manajemen pengelolaan radio komunitas secara modren. Ragu-ragu (24%). mempelajati sesuatu. mendapatkan kesenangan. Motivasi mendengarkan radio komunitas berdasarkan motivasi kognitif adalah untuk memperoleh informasi mendapatkan pengetahuan.Ragu Yang menyatakan sangat setuju (37%). 1. Siantar diharapkan dapat mendorong lebih banyak lagi berdiri dikota P. Pemerintah Daerah dalam hal pemko P. Rekomendasi Pengelola/managemen radio efiginosko meningkatkan kualitas materi saran yang diberkaitan dengan aktivitas pedagang pasar horas yang berkaitan dengan nilai nilai keagamaan.

James W. Grid Publishing Inc. Infante A Dominac. 1998. dan Sofian Effendy (ed). Foundation of Behaviour Research. 1985. Sosiologi Komunikasi Massa. Jakarta. Crutchfield. Remadja Karya.Arikunto. Severin Werner J. . Richard S. Mass Communication Theories and Research. Bina Aksara. Krech. Diterjemahkan Trimo. Sejarah. Aubrey B. Theories of Mass Communication. 2005. Pengantar Studi Penelitian Terhadap Pembaca. Remadja Karya. Jr. Masri. DeFleur.Womack. Tankard. Erlangga. Nazir Mohd. Ltd. Penyunting: Jalaluddin Rakhmat. Tokyo: McGraw-Hill International Book Company. Psikologi Komunikasi. Model . 1980. 1985. Alih Bahasa : Agus Dharma dan Aminuddin Ram. Penyunting : Jalaluddin Rakhmat. Fred N. Wright. International Student Edition. Peranan Komunikasi Massa Dalam Pembangunan. Columbus. Jakarta. Jalaluddin. Building Communication Theory. Soedjono. Bandung: Remadja Karya. Jakarta ---------------. Deanna F. Eduard dan Collin Mac Andrew. Waveland Press. Metode Penelitian. Suharsimi. LP3ES. Metode Penelitian Survai. Sari. Alexis. --------------------.Model Komunikasi. S. S. 1982. Andrew. 1989. Suatu Pendekatan Praktik. Individual In Society. Charles R. Denis. 1987. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung. 1986. Jakarta. Kerlinger. Ohio. 1988. Teori Komunikasi Massa. Depari.Rancer. Prenada Media Singarimbun. (1991). Uni Primas. Bandung. (1989). and Ballachey Egerton. Pendit. 1993. Secon Edition. A Texbook of Social Psychology. Melvin and Ball-Rokeach. Remaja Rosdakarya. Rakhmat. New York University McQuail. 1993. Teori-Teori Komunikasi. Endang. Fisher. Teori Komunikasi . Bandung. Metode dan Terapan di Dalam Media Massa. New York & London. 1982. Ghalia Indonesia. Bandung. 1990. Prosedur Penelitian. 1962. Audience Research. Tan. Kogakhusa. Pendengar. Alih Bahasa : Putu Laxmant S. Gajah Mada University Press.dan Pemirsa. Yogyakarta. David. Remadja Karya.

Kata–kata Kunci : Opini Publik. khususnya di Sumatera Utara adalah masalah pembangunan. Oleh karena itu kebebasan pers yang sehat ( healthy press freedom ) menjadi prasyarat yang mutlak menuju pembangunan yang sehat pula. Dengan kata lain.OPINI PUBLIK MENGENAI PERAN MEDIA CETAK LOKAL DALAM PEMBANGUNAN BIDANG PERTANIAN HORTIKULTURA (Survei di Desa Ndokum Siroga dan Desa Surbakti Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo)* Oleh : IDAWATI PANDIA** Abstrak Penelitian Opini Publik Mengenai Peran Media Cetak Lokal Dalam Pembangunan Pertanian Hortikultura ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Hortikultura. Pematang Siantar. Dan sudah barang tentu untuk mensukseskan pembangunan ini diperlukan peranan pers atau peranan media massa dalam menyampaikannya ditengah – tengah masyarakat. Kalau hal ini sampai terjadi. Hal ini perlu diperhatikan dengan baik agar pembangunan ini tidak berjalan dengan semaunya saja ataupun sampai kebablasan. Kemudian perlu diingat bahwa media yang sehat tentu saja menjadi mutlak kehadirannya untuk mendorong agar pelaksanaan pembangunan itu juga menjadi sehat. apalagi masyarakat petani masih merasakan kurangnya informasi tentang pangsa pasar produk pertanian dan informasi tentang agrobisnis dan budidaya pertanian hortikultura. media dan pembangunan tidak dapat dipisahkan dari perkembangannya.Populasi dari penelitian ini adalah masyarakat di dua desa di Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo yang membaca media cetak lokal. Keberadaan media massa cetak lokal masih dapat dan sangat diharapkan oleh masyarakat dalam mendorong suksesnya pembangunan pertanian hortikultura. Hasil temuan menunjukkan bahwa masyarakat di dua desa yang menjadi lokasi penelitian. 10 Juli 2008 Penulis adalah Peneliti Pertama Bidang Media Massa Pada BBPPKI Medan . Sebaliknya pembangunan yang sehat sudah jelas sangat membutuhkan kebebasan pers yang sehat pula. Peran inilah yang sangat diharapkan masyarakat yang dapat ditangkap dan diisi oleh media massa cetak lokal. Tgl. seharusnyalah media yang tangkas dan wartawan yang profesional sudah pasti sangat diperlukan karena memainkan fungsi. kuat dan bermartabat. sehingga pelaksanaan pembangunan itu dapat berjalan dengan baik. Latar Belakang Masalah Salah satu masalah yang banyak dibicarakan dan masih aktual serta menarik perhatian di Indonesia. Namun ini masih terkendala karena terbatasnya sirkulasi dan keterlambatan media lokal sampai ke masyarakat terutama masyarakat pedesaan.Media Lokal Pertanian. * ** Telah diseminarkan di Siantar Hotel. peran dan kewajiban yang amat menentukan. A. sudah tentu pembangunan ini akan menimbulkan dampak yang negatif bagi masyarakat. Jadi keduanya. ternyata masih memanfaatkan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan pertanian hortikultura. layak dan mempunyai wibawa.

C. Tabloid Karo Membangun. sub sektor hortikultura. Bagaimanakah opini publik mengenai peran media massa cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura. Tanpa keikutsertaan masyarakat. Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dipaparkan diatas dan mengingat bahwa salah satu fungsi pers yaitu sebagai fungsi kontrol. Misi ini tidak akan terwujud secara efektif tanpa fungsi dan peranan pers. Dinas Infokom. institusi pers. Bagaimana pemanfaatan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura ? 2. Jumlah rumahtangga yang berusaha disektor ini berkisar antar 70 persen sampai dengan 74 persen ( BPS. Pilar utama yang kedua ini juga mempunyai peranan yang sangat menentukan didalam pembangunan daerah. masyarakat. pers tidak akan berkembang. Akibatnya pembangunan daerah pun akan mandeg. B. institusi pemerintah daerah.Pelaksanaan pembangunan daerah yang demokratis digerakkan oleh tiga pilar utam yang saling berkaitan. Salah satu kabupaten yang sangat intens memperhatikan keberlangsungan pembangunan di Sumut adalah Kabupaten Karo. Kabupaten Karo adalah kabupaten yang sangat didominasi oleh sektor pertanian yaitu sub sektor pertanian tanaman pangan dan palawija. Dengan melihat hal tersebut. 2006. 10 ). Tujuan Penelitian . khususnya di Kabupaten Karo antara lain . lalu pemerintah daerah akan sulit menentukan arah dan kebijaksanaan pembangunan. sudah sepantasnya Kabupaten Karo memiliki corong yang kuat untuk mensosialisasikan kepada masyarakat melalui media massa. Adapun jenis media cetak lokal yang turut mewarnai dan memberikan informasi bagi masyarakat.maka penulis tertarik dan merasa penting untuk melakukan penelitian bagaimana opini publik mengenai peran media cetak lokal dalam pembangunan bidang pertanian hortikultura ini. 2006. perkebunan. Pilar utama yang pertama ini mempunyai peranan yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan pembangunan. instutusi pers seperti suratkabar dan televisi turut menentukan berhasil tidaknya pembangunan daerah tersebut. Rumusan Masalah Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah : 1. pariwisata. Ketiga. peternakan dan sebagian kecil perikanan darat ( air tawar ). Kontribusi pertanian yang diberikan Kabupaten Karo pada Propinsi Sumatera Utara persentasenya cukup besar. khususnya yang tersebar pada masyarakat Kabupaten Karo. Pemerintah Kabupaten Karo menetapkan salah satu misi pembangunannya yang berbunyi ” Mengembangkan secara optimal pertanian.sehingga opini publik menjadi sangat penting bagi pemerintah didalam melakukan perencanaan pembangunan. Ketiga pilar utama dalam gerakan pelaksanaan pembangunan itu adalah sebagai berikut : pertama. Pilar utama yang ketiga ini ikut pula menentukan keberhasilan pembangunan. 3. 10 ). Humas Pemkab Karo. Melalui media massa yang ada. Kedua. Apakah kendala yang dihadapi masyarakat tentang media massa cetak lokal dalam mensukseskan pembangunan bidang pertanian hortikultura. Sora Mido. Majalah Sibayak Pos terbitan Brastagi. potensi wisata dan pertanian yang lebih luas dalam merencanakan dan mengelola sumber daya yang dimiliki dan untuk memberikan fasilitas dan dorongan yang lebih terarah pada perkembangan pembangunan kerakyatan. Info Karo. dan Sirulo ( sumber : Dinas Infokom Karo ). Sudah tentu semua kebijakan yang menyangkut pelaksanaan pembangunan daerah berada di institusi pemerintah daerah terutama Bupati dan Walikota. industri dan perdagangan berbasis agrobisnis yang berdaya saing dan berwawasan lingkungan dan rehabilitasi lahan yang kritis ( BPS.

Manfaat Dan Sasaran penelitian Manfaat Penelitian 1.Unsur yang relatif baru dalam teori media pembangunan adalah penekanan pada “hak untuk berkomunikasi.”yang didasarkan atas Pasal 17 Deklarasi Universal Hak-Hak Manusia: Setiap orang memiliki hak mengeluarkan pendapat:hak ini mencakup kebebasan menganut pendapat tanpa ganguan dan kebebasan untuk mencari.dan sering kali “pembangunan bangsa” (nationbuilding)yang bersangkutan.dan menyampaikan informasi dan gagasan melalui media manapun tanpa mempersoalkan batas negara. Secara tidak langsung masyarakat ikut berperan serta dalam mensukseskan pembangunan bidang pertanian hortikultura.model Teori Normatif. 2. 3.sebagaimana yang diharapkan oleh publik media itu sendiri dan organisasi. E. Untuk mengetahui bagaimanakah pemanfaatan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura.yaitu Teori Media Pembangunan diadaptasi untuk meneliti bagaimana Opini Publik Mengenai Peran Media Lokal Dalam Pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura. dalam hal ini Departemen Komunikasi dan Informatika RI untuk membuat kebijakan dalam bidang komunikasi massa mendatang.Jenis teori ini penting karena ia memang berperan dalam membentuk institusi media dan berpengaruh besar dalam menentukan sumbangsih media. Sebagai bahan masukan berupa data dan informasi bagi pemerintah.kebebasan tertentu dari media dan para wartawan tunduk pada tanggung jawab mereka untuk membantu pencapaiannya. Dalam penelitian ini. Tabloid dan majalah lokal. Teori media pembangunan adalah penerimaan pembangunan ekonomi itu sendiri (yang karenanya perubahan sosial). Untuk mengetahui kendala yang dihadapi masyarakat tentang media massa cetak lokal dalam mensukseskan pembangunan bidang pertanian hortikultura. 2.serta para pelaksana organisasi sosial itu(McQuail. Adanya kebebasan pers yang sehat menjadi prasyarat yang mutlak menuju pembangunan bidang pertanian yang sehat pula.sebagai tujuan utama. Terwujudnya pelaksanaan pembangunan yang berjalan dengan baik. D. Teori Normatif (cabang filsafat sosial) yang lebih berkenan dengan masalah bagaimana seharusnya media berperan bilamana serangkaian nilai sosial ingin diterapkan dan dicapai dengan sifat dasar nilai-nilai sosial tersebut.1994:4).”Meskipun sukar menemukan kasus-kasus individu yang jelas menunjukkan teori media pembangunan. menerima. Untuk mengetahui bagaimana opini publik mengenai peran media massa cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura. 3.prinsip utama teori ini dapat diungkapkan sebagai berikut: . layak dan berwibawa.Untuk mencapai tujuan tersebut.yang ditekankan adalah tujuan kolektif dan bukan kebebasan individu. ikut memberhasilkan pembangunan daerah yang terrencana dan terarah. Kerangka Teori Kebutuhan melalui media massa dapat dipenuhi dengan membaca suratkabar. Sebagai referensi bagi BBPPKI Medan dan instansi – instansi yang terkait untuk bahan kajian lanjutan. 2.Pada saat yang sama. Sasaran Adapun sasaran dengan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut : 1.Sebagai tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1.

dengan alam sekitar. Dari kerangka pemikiran inilah.Jr. Kebutuhan akan pelarian : hasrat melarikan diri dari kenyataan. 5.dan pengendalian langsung dapat dibenarkan.” ( Kriyantono. Kebebasan media seyogyanya dibatasi sesuai dengan (1) prioritas ekonomi dan (2) kebutuhan pembangunan masyarakat.atau pengalaman keindahan. b.yang semuanya berasal dari fungsi sosial dan psikologi dari media.dan pengertian tentang lingkungan sekitar.Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dapat dicapai dengan dua cara. e. Sedangkan Kerlinger. 2. Jadi konsep merupakan sejumlah ciri atau standar umum suatu objek.hiburan dan intraksi sosial.1. Media hendaknya memperioritaskan berita dan informasinya pada negara sedang berkembang lainnya yang erat kaitannya secara geografis.” Mengartikan konsep sebagai generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu yang dapat dipakai untuk menggambarkan berbagai fenomena yang sama.atau politik. f. Opini merupakan ” expressed statement ” yang bisa diucapkan dengan kata – kata.pengetahuan. kebutuhan akan hiburan. menyebutkan konsep sebagai abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasikan hal – hal khusus. Kebutuhan interaksi sosial : memperkuat hubungan dengan keluarga. Sementara pengguna media itu sendiri adalah orang-orang yang berpikiran rasionalyang secara aktif memilih media mana yang mereka anggap dapat memuaskan kebutuhan yang mereka ingin dapatkan. c. d. Kebutuhan integrative personal : memperkuat kredibilitas.Ada beberapa katagori kebutuhan individu.kesetian. Para wartawan dan karyawan media lainnya memiliki tanggung jawab serta kebebasan dalam tugas mengumpulkan informasi dan penyebarluasannya.atau membatasi. F. Kebutuhan afektif : kebutuhan untuk memperkuat pengalaman akan emosi.2000) yakni: a. Bungin. 3. adapun konsep – konsep dalam penelitian ini sebagai berikut Opini adalah suatu pernyataan mengenai sesuatu yang sifatnya bertentangan. Media perlu memprioritaskan isinya pada kebudayaan dan bahasa nasional. kepercayaan diri. 4. 1980. 6. kebutuhan akan informasi.kesenangan. yaitu: (1) Pemenuhan kebutuhan yang didapatkan dengan cara mengakses/menggunakan media yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan (2) Pemenuhan kebutuhan didapatkan dengan cara mempelajari isi informasi dalam media yang kemudian diterapkan dalam praktek. Sejalan dengan hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa pengguna media secara umum adalah untuk memenuhi kebutuhan informasi. Media seyogyanya menerima dan melaksanakan tugas pembangunan positif sejalan dengan kebijaksanaan yang ditetapkan secara nasional. . isyarat atau cara lain yang mengandung arti dan dapat dipahami maksudnya ( Meinanda. 2006 : 17 ).subsidi. Bagi kepentingan tujuan pembangunan. Berdasarkan kerangka teroritis diatas. peneliti akan menguraikan permasalahan bagaimana opini publik mengenai peran media lokal dalam pembangunan bidang pertanian hortikultura di Kabupaten Karo. Kerangka Konsep Kerangka konsep adalah istilah yang mengekspresikan sebuah ide abstark yang dibentuk dengan menggeneralisasikan objek atau hubungan fakta – fakta yang diperoleh dari pengamatan. dan status pribadi.negara memiliki hak untuk campur tangan dalam. melepaskan ketegangan. Kebutuhan kognitif.kebudayaan.kategori ini antara lain menurut Katz Hass dan Gurevitch (Marshall.teman.pengoperasian media serta sarana penyensoran.

2005. pers berada dalam keterikatan organisasi bernama negara. berbicara tentang fungsi media massa. Karena opini mempunyai ciri – ciri antara lain : 1. pakar komunikasi dan profesor hukum di Yale University mencatat ada 3 fungsi media massa. sebab sesuatu yang belum dinyatakan belum bisa disebut opini karena belum mengalami proses dalam diri manusia. Walter. Wright menambahkan fungsi keempat yakni hiburan ( Severin. Mempunyai pendukung dalam jumlah besar. Harold Lasswell dan Charles Wright merupakan sebagian dari pakar yang benar – benar serius mempertimbangkan fungsi dan peran media massa dalam masyarakat. dengan demikian pengertian opini atau pendapat mempunyai dua unsur yakni : 1. Ini berarti opini harus dinyatakan. 235 ). Pada umumnya kalau kita berbicara mengenai pers sebagai media massa tercetak. Jadi yang dimaksud dengan opini publik adalah pendapat atau sikap masyarakat terhadap suatu masalah atau organisasi. 1985. maka kita harus terlebih dahulu memahami bahwa pers adalah lembaga kemasyarakatan ( social institution ) dan merupakan sub sistem dari kemasyarakatan dimana ia berada. ia berada sama – sama mempunyai fungsi universal yakni : 1. Opini publik merupakan pendapat yang ditimbulkan oleh adanya unsur – unsur sebagai berikut : 1. Sementara. Adanya kesempatan bertukar pikiran atau berdebat mengenai masalah yang kontroversial tersebut 3. Memberikan Informasi ( to inform ) Menyiarkan informasi adalah tugas suratkabar yang pertama dan utama. sebab bagaimanapun yang berhubungan dengan fakta dilapangan adalah masyarakat – masyarakat yang mempunyai opini dan emosi “ ( Lipmann. sifat dasar pengalaman komunikasi. sehingga masih merupakan sikap. Selain ketiga fungsi ini. 386 ) Media massa yang dimaksud disini adalah media massa cetak ( printed mass media ). Adanya masalah atau situasi yang bersifat kontroversial yang menimbulkan pro dan kontra. Sehingga opini ini bisa ditemukan dari berbagai kalangan. Bersama – sama dengan lembaga kemasyarakatan lainnya. melainkan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lembaga – lembaga kemasyarakatan lainnya. Wright ( 1959 ) membagi media komunikasi berdasarkan sifat dasar pemirsa. korelasi bagian – bagian dalam masyarakat untuk merespon lingkungan dan penyampaian warisan masyarakat dari satu generasi ke generasi selanjutnya.29 ). 3. dimana pembentukan opini publik melalui berbagai hal. Lasswell ( 1984. 1960 ). 87 ). 92 ). Mengenai masalah yang bertentangan Disamping itu juga. pelayanan terhadap publik. Merupakan sinthesa atau kesatuan dari banyak pendapat. bersama – sama dalam sub sistem lainnya. Ada pernyataan 2. Pers di negara mana dan dimasyarakat mana. Khalayak pembaca berlangganan atau membeli suratkabar karena memerlukan informasi . dan sifat dasar pemberi informasi. 2006. pengamatan lingkungan. 2. opinion leader dan kegiatan komunikasi ( Hardiman. radio maupun suratkabar atau majalah. Selalu diketahui dari pernyataan – pernyataan. Selanjutnya suatu pendapat harus dinyatakan terlebih dahulu agar dapat dinilai sebagai pendapat atau opini publik. Irish dan Protho ( Susanto. 1998. Karenanya eksistensi pers dipengaruhi. “Opini dan perasaan rakyat dapat disalurkan kedalam program – program pemerintah. Adanya publik yang terikat kepada masalah tersebut dan berusaha memberikan pendapatnya. bahkan ditentukan oleh falsafah negara dan sistem politik negara dimana pers itu hidup. 2. Dengan demikian maka pers tidak hidup secara sendiri. opini dapat dinyatakan melalui media massa seperti televisi.

Dalam suatu situasi. Menurut Totok Mardikanto:Pembangunan didefinisikan sebagai upaya sadar dan terencana untuk melaksanakan perubahan – perubahan yang mengarah pada pertumbuhan ekonomi dan perbaikan mutu hidup atau kesejahteraan seluruh warga masyarakat.ekonomi. 3. suratkabar bisa dihadapkan kepada dua alternatif.dan moral sebagai panglima (Mastur Yahya). Sektor Pertanian Hortikultura Mengingat bahwa perekonomian masyarakat Karo sangat didominasi oleh sektor pertanian.terutama untuk jangka panjang.baik masalah yang dihadapi oleh setiap aparat dalam setiap jenjang birokrasi pemerintah. Fungsi mendidik ini bisa secara implisit dalam bentuk berita. Definisi pertama lebih menekankan pada masyarakat selaku penerima manfaat (beneficiaries) pembangunan.melainkan diperuntukkan pula bagi segenap Stake holder.yang masing –masing menekankan pendekatan berbeda.yaitu penekanan politik. atau hidup tidak terhormat disebabkan tidak mempunyai kepribadian ( Effendi. karena pemerintah. Secara implisit terdapat pada berita.dengan menggunakan teknologi yang terpilih.Sedangkan Lionberger dan Gwin mendefinisikan pembangunan sebagai proses pemecahan masalah. akan banyak tantangan yang harus dijawab dengan sikap yang berani dan bijaksana.maupun masalah-masalah yang dihadapi oleh warga masyarakat(Mastur Yahya). mengenai berbagai hal di bumi ini mengenai peristiwa yang terjadi. Mendidik ( to educate ) Sebagai sarana pendidikan massa ( mass education ). pers dan masyarakat adalah satu kesatuan yang saling membutuhkan satu sama lain.dikalangan peneliti dan penyuluh. Mempengaruhi ( to influence ) Fungsi mempengaruhi.Upaya ini dilaksanakan oleh pemerintah yang didukung oleh partisipasi masyarakatnya. menyebabkan suratkabar memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. 94 ) Pengertian Pembangunan Sukses tidaknya perencanaan pembangunan daerah itu sudah barang tentu tidak bisa terlepas dari media massa didalamnya. 1981.Benang merah dari definisi pembangunan ialah bahwa pembangunan bertujuan merubah”keadaan” masyarakat kearah yang lebih baik dengan cara pemecahan masalah yang dihadapi. Onong.Sedangkan definisi kedua menyiratkan bahwa pembangunan tidak hanya untuk masyarakat. sehingga khalayak pembaca bertambah pengetahuannya. Kenapa seperti itu. sedangkan secara eksplisit terdapat pada tajuk rencana dan artikel Pengawasan ( social control ) Jika suratkabar benar melaksanakan tugas sosial kontrolnya.maka dalam hal ini masyarakat penting untuk dilibatkan. gagasan atau pikiran orang lain.2. 4. dapat juga secara eksplisit dalam bentuk artikel atau tajuk rencana Fungsi Menghibur ( to entertaint ) Hal yang bersifat hiburan sering dimuat suratkabar untuk mengimbangi berita – berita berat ( hard news ) dan artikel – artikel yang berbobot. Maksud pemuatan isi yang mengandung hiburan itu semata – mata untuk melemaskan ketegangan pikiran setelah para pembaca dihidangi berita dan artikel yang berat – berat. dimana sampai saat ini sektor pertanian memberikan kontribusi lebih dari 60 . suratkabar memuat tulisan – tulisan yang mengandung pengetahuan. apa yang dikatakan orang lain dan lain sebagainya. Secara garis besar bisa diidentifikasikan tiga pola pemikiran dan praktek pembangunan yang berkembang di Indonesia. apa yang dilakukan orang lain. mati terhormat karena memang prinsip. 5.

daun kangkung. Sedangkan dalam GBHN 1993 – 1998. Pemeliharaan tanaman – tanaman dalam taman. sayuran dan tanaman hias. Hortikultura berasal dari kata ” hortus ” ( garden atau kebun ) dan ” colore ” ( = to cultirate atau budidaya ). tetapi dalam arti hortikultura tergolong kedalam sayur – sayuran. tempat tinggal dan tanam tanaman umum. batang. sedangkan orang yang mengusahakan disebut floricultureti. 3. 2007 mengatakan bahwa hortikultura terdiri dari : A. Tanaman Sayur – Sayuran Ilmu yang mempelajari tentang tanaman sayur – sayuran disebut olericulture dan orang yang mengusahakannya disebut olericulturist. Hal – hal lain yang termasuk kedalam hortikultura : 1. 4. tetapi di negara yang sudah maju digolongkan kedalam sayur – sayuran. sehingga hortikultura merupakan suatu cabang dari ilmu pertanian yang mempelajari tentang budidaya buah – buahan. tidaklah semata – mata berarti suatu bidang tanaman bunga – bungaan. Umpamanya mentimun dalam arti botani adalah buah. selain buah – buahan. Tanaman Bunga Ilmu yang mempelajari bunga – bungaan disebut floricultura. sedangkan orang – orang yang mengusahakannya disebut pomologist. sehingga perlu adanya pengalengan oleh industri – industri. bahkan sering tidak berhasil sama sekali. Ini dikarenakan ada juga sayur – sayuran yang dipetik dari tanaman tahunan seperti melinjo dan daun jambu mete. Meliputi seluruh tanaman dalam bidang hortikultura. Begitu juga dengan buah labu dalam hortikultura dan buah tomat di Indonesia termasuk dalam golongan buah. Pengertian bahwa sayur – sayuran hanyalah hasil yang dipanen dari tanaman tahunan ( annual crops ) atau tanaman muda/semusim baik yang menghasilkan buah. 2. C. juga letak bangunan – bangunannya. pangan. Kebanyakan tanaman sayuran baru mau berbuah ( menghasilkan biji ) didaerah – daerah dingin. Pengertian buah pada hortikultura agak berbeda dengan pengertian buah pada ilmu botani. Secara harfiah istilah hortikultura diartikan sebagai usaha membudidayakan tanaman buah – buahan. untuk menghasilkan benih sayur – sayuran dan bunga – bungaan daerah tropis bukanlah suatu hal yang mudah. Dengan demikian yang digolongkan kedalam buah dinegara ini adalah buah yang dihasilkan oleh tanaman tahunan ( perennial crops ) B. Tanaman Buah – Buahan Ilmu yang mempelajari tentang tanaman buah – buahan disebut pomologi. Seed Production. sayuran dan tanaman hias (Edmon et al. 1975). taman untuk rekreasi dan lain – lain. . Pengolahan dan penyimpanan hasil ( processing and storage ). kebun ( nursery production ). tetapi juga tanaman yang tidak berbunga yang biasanya dipergunakan untuk menghiasi baik berupa semak – semak maupun rumput – rumputan. Su’ud Hassan. Ini merupakan bagian penting pada hortikultura. Adapun sub sektor yang dominan bagi sektor pertanian yang disoroti disini adalah sub sektor hortikultura. sebangsa pakis dan lain – lain.persen setiap tahun bagi pembentukan produk domestik regional bruto ( PDRB ) Kabupaten Karo. karena hampir semua hasil hortikultura bersifat tidak tahan lama. merupakan bagian penting terutama untuk benih–benih sayur– sayuran dan bungan–bungaan. sayuran dan tanaman hias yang termasuk dalam kelompok hortikultura adalah tanaman obat – obatan. Land scaping : meliputi planning dan pengaturan daripada pekerjaan. umbi dan lain – lain tidaklah tepat. sehingga untuk Indonesia benih – benih terpaksa diimpor. ataupu ekonomi. jalan.

G. Memperbaiki gizi masyarakat. Kabupaten Karo terdapat 13 kecamatan yaitu : Mardinding. jeruk. kol. Payung. Lokasi Penelitian Adapun lokasi penelitian ini hanya di fokuskan pada 2 desa . wortel. Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subyek/obyek penelitian seseorang. buncis. gejala atau kelompok tertentu 2. maka diperlukan pengetahuan yang lebih mendalam terhadap permasalahan hortikultura tersebut.63 ). Kutabuluh. Cakupan sub sektor hortikultura yang dominan diusahakan oleh masyarakat Karo adalah tanaman sayuran dan buah – buahan yang meliputi tomat. Oleh karena itu kita harus berani untuk memulai mengembangkannya pada saat ini. Belanda dengan bunga tulipnya. arcis. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif.html ) Dengan mengetahui manfaat serta sifat – sifatnya yang khas. bawang prei. sedangkan jenis komoditas hortikultura yang diusahakan masih terbatas.pertanian. masyarakat dan lain lain pada saat sekarang berdasarkan fakta – fakta yang nampak atau sebagaimana adanya ( Nawawi. Simpangempat. Merek.id /~agronomi /dashor. Nikaragua dengan pisangnya. 1983. serta memenuhi kebutuhan rohani karena dapat memberikan rasa tentram.Ditinjau dari fungsinya tanaman hortikultura dapat memenuhi kebutuhan jasmani sebagai sumber utama. Sedangkan peranan hortikultura adalah : 1. Perlu tempat yang lapang ( voluminous ) 3. Juhar. 2. Brastagi. Peningkatan pendapatan petani dan. Hortikultura adalah komoditas yang akan memiliki prospek yang sangat cerah menilik dari keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimilikinya dalam pemulihan perekonomian Indonesia dimasa mendatang. markisah dan pisang. Melimpah ruah pada suatu musim dan langka pada musim lainnya 5. Tiga Binanga. Barusjahe. Fluktuasi harganya tajam ( www. Seperti halnya negara – negara lain yang mengandalkan devisanya dari hasil hortikultura antara lain Thailand dengan berbagai komoditas hortikultura yang serba Bangkok.uns. Sementara pengembangan hortikultura di Indonesia pada umumnya masih dalam skala perkebunan rakyat yang tumbuh dan dipelihara secara alami dan tradisional. keadaan. yaitu Desa Ndokum Siroga dan Desa Surbakti. ketenangan hidup dan estetika ( dari tanaman hias/bunga ). Munthe. lembaga. di kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo. jeruk. Memperluas kesempatan kerja 4. bahkan Israel dari gurun pasirnya. Tiga panah. . anggur dan lain sebagainya. cabe. kini telah mengekspor apel.ac. Metodologi Penelitian 1. Memperbesar devisa negara 3. petsai/sawi. Pemenuhan kebutuhan keindahan dan kelestarian lingkungan Namun ketika kita membahas masalah hortikultura perlu diperhatikan pula mengenai sifat khas dari hortikultura yaitu : 1. Tidak dapat disimpan lama 2. Mudah rusak ( perishable ) dalam pengangkutan 4. 5. mineral dan protein ( dari buah dan sayur ). kentang. Kabanjahe. Laubaleng. dalam pengembangan hortikultura agar dapat berhasil dengan baik. Tegasnya penelitian deskriptif hanya memberi gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu.

Desa Ndokum Siroga yang dianggap pertaniannya paling maju sebanyak 45 responden b.Dipilihnya hanya satu kecamatan mengingat kecamatan tersebut : a.Dari 13 Kecamatan diatas. sehingga rawan terjadi gempa vulkanik. Disamping itu untuk memperkaya data. Wilayah Kabupaten Karo berada pada ketinggian 120 – 1. c. 2006. 5. hasil – hasil penelitian dan laman website yang berhubungan dengan materi penelitian ini. Kabupaten Karo terletak pada jajaran Bukit Barisan dan sebagian bersar wilayahnya merupakan dataran tinggi. Transportasi dari pusat ibukota propinsi ( Medan ke Kabupaten Karo ) bisa ditempuh dalam beberapa menit.25 Km 2 .400 meter diatas permukaan laut. desa ini paling banyak masyarakatnya bergerak dalam bidang pertanian hortikultura . Desa Surbakti yang pertaniannya kurang maju sebanyak 45 responden 4.dengan besar sampel 10% dari Populasi yaitu sebanyak 90 orang. Teknik purposive adalah suatu teknik yang mencakup orang – orang yang diseleksi atas dasar kriteria tertentu yang dibuat peneliti berdasarkan tujuan penelitian ( Kriyantono. Teknik Analisis Data Sesuai dengan sifat dan tujuan dari penelitian ini. juga dilakukan metode library research ( riset kepustakaan ) yaitu pencarian referensi/bahan – bahan dari buku – buku jurnal.127.maka kriteria yang ditentukan adalah masyarakat yang betul-betul petani holtikultura. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Letak geografis Kabupaten Karo berada diantara 2 0 50 0 –3 0 19 0 Lintang Utara dan 97 0 55 0 – 98 0 38 0 Bujur Timur dengan luas wilayah 2. 3. Adapun batas – batas wilayah Kabupaten Karo adalah sebagai berikut : a. H. Dua gunung berapi aktif terletak di wilayah ini. dimana dari 40 desa yang ada di Kecamatan Simpang Empat ditentukan 2 ( dua ) desa yaitu : a. Berdasrkan data yang ada dikecamatan. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Dairi dan Kabupaten Toba Samosir . 154 ). Sampel Sampel dalam penelitian ini diambil melalui Teknik Pemilihan Sampel secara purposive ( purposive sampel technique ) . Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dilakukan melalui angket yang dipandu oleh enumerator ( pengumpul data ) dimana penulisan angket dilakukan melalui pertanyaan terbuka dan tertutup. Populasi dan Sampel Populasi Populasi dari penelitian ini adalah seluruh masyarakat petani holtikultura di desa Ndokum Siroga dan desa Surbakti . saya mempurposive Kecamatan Simpang Empat sebagai lokasi penelitian. Masyarakatnya betul–betul masyarakat petani yang bergerak dibidang pertanian hortikultura b.dan akhirnya data lapangan yang telah diperoleh dikoding dan ditabulasi untuk memperoleh tendensi dengan persentase.maka analisis penelitian dilakukan dengan metode pendekatan deskriptif kuantitatif didukung dengan data kualitatif yang diperoleh melalui wawancara mendalam. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Langkat dan Kabupaten Deliserdang b.yaitu sebanyak 900 orang.

Desa Ndokum Siroga Nama Kepala Desa : Supratman Surbakti. Sembiring. dalam arti bahwa suku bangsa Indonesia lainnya dapat diterima menjadi suku bangsa Karo dengan beberapa persyaratan adat. Tarigan dan Perangin . Desa Surbakti Nama Kepala Desa : Jasa Surbakti. Sementara tingkat pendidikan di Desa Surbakti adalah 112 jiwa tidak bersekolah. terdiri dari 2 ( dua ) dusun. Kecamatan Simpang Empat Luas wilayah Kecamatan Simpang Empat adalah seluas 225. adat suku bangsa Karo terbuka. Suku ini terdiri dari 5 ( lima ) marga. jumlah penduduk 1. 85 orang SLTA sederajat dan 43 orang pernah ditingkat perguruan tinggi. Adapun mata pencaharian penduduknya terdiri dari 684 KK atau 94% adalah bertani dan sebanyak 41 KK atau 6 %nya bergerak disektor non pertanian. Pusat pemerintahan Kabupaten Karo terletak di Kecamatan Kabanjahe yang berjarang sekitar 67 kilometer dari Medan Penduduk asli yang mendiami wilayah Kabupaten Karo disebut suku bangsa Karo.834 rumahtangga ( RT ).969 jiwa yang terdiri dari 522 KK. buah – buahan. 3. Asumsi ini terlihat seperti yang tertera dalam tabel penulisan laporan ini.47Km 2 yang terdiri dari 40 desa. I. luas daerah Desa Surbakti adalah 9. 160 jiwa SLTA sederajat dan 52 jiwa tingkat perguruan tinggi. hortikultura. Media cetak juga dianggap sebagai salah satu faktor dalam mempercepat proses tranfusi informasi pembangunan khususnya bidang pertanian . tanaman perkebunan dan peternakan 1. Luas Desa Ndokum Siroga adalah 2.070 jiwa laki – laki. khususnya di lokasi yang dijadikan sebagai responden dalam penelitian ini masih menggunakan media massa cetak khusus media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura. terdiri dari 5 ( lima ) dusun. palawija. Desa Ndokum Siroga adalah ibukota dari Kecamatan Simpang Empat. 160 orang SLTP sederajat. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Simalungun d. Dari hasil penelitian tentang Opini Publik Mengenai Peran Media Lokal Dalam Pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura terlihat bahwa masyarakat Karo. Sekitar 70 persen dari jumlah rumah tangga di Kabupaten ini berusaha disektor pertanian terutama bercocok tanam sayur – sayuran.966 jiwa dan 10.003 jiwa laki – laki dan 1. Perekonomian Kabupaten Karo sebagian besar adalah sektor pertanian. Jumlah penduduk 39. Hasil Penelitian. Jarak dari kabupaten 7 kilometer. Ginting. padi.angin. tutur siwaluh dan rakut sitelu. Sebelah Barat berbatasan dengan Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam ( NAD ) Kabupaten Karo terdiri dari 13 kecamatan yang dibagi menjadi 248 desa dan 10 kelurahan.c. Suku bangsa Karo ini mempunyai adat istiadat yang sampai saat ini masih terpelihara dengan baik dan sangat mengikat bagi suku bangsa Karo sendiri. Saat ini wilayah Kabupaten Karo sudah didiami oleh beragam suku bangsa.97 Km 2 . 170 jiwa tamat SLTP sederajat. Adapun mata pencaharian penduduk terdiri dari 491 KK ( 94% ) bertani dan sebanyak 31KK ( 6% ) adalah non tani.57 Km 2 dengan jumlah penduduk 2. Sejak Januari 2007. 90 jiwa tamat SD sederajat. dengan perbandingan jenis kelamin 890 jiwa perempuan dan 2. Sementara tingkat pendidikan di Desa Ndokum Siroga adalah : 45 orang tidak bersekolah.167 jiwa dimana perbandingannya 1. Kecamatan Simpang Empat telah dimekarkan menjadi 3 ( tiga ) kecamatan 2.164 jiwa perempuan yang terdiri dari 689 KK. 60 orang SD sederajat. Dalam pekembangannya. Merga Silima itu yakni : Karo – Karo.

Salah satu diantaranya adalah upaya untuk terus memelihara pasar regional dengan mengundang pengusaha – pengusaha dari Singapore dan Malaysia yang tergabung dalam Agri-Food And Veterinery Autority Of Singapore ( AVA ). dimana pada tabel dibawah ini terlihat bahwa media cetak lokal tersebut dianggap sangat penting bagi masyarakat dan tidak dapat dipisahkan dari masyarakat petani dalam memperoleh upaya informasi. Jepang. Australia dan Indonesia. Malaysia. serta langkah – langkah strategis lain yang pada intinya adalah bagaimana melaksanakan kegiatan pertanian yang efektif. Begitu dominannya sektor pertanian yang dikelola daerah ini sehingga sampai saat ini kontribusi yang diberikan atas pembentukan produk domestik regional bruto ( PDRB ) hingga mencapai 60 persen. Penggunaan teknologi tinggi didalam meningkatkan produksi pertanian juga perlu diketahui. Kedatangan para pengusaha Singapore ini ke Sumatera Utara bertujuan untuk melihat secara langsung proses produksi sayur – sayuran langsung ke tempat produksi sekaligus sebagai upaya penjajakan atas peningkatan kerjasama yang telah ada selama ini terkait dengan pemenuhan kebutuhan sayur – sayuran di negeri Singapur tersebut. utamanya media massa lokal. J. dan jenis organik seperti ini sangat digemari oleh konsumen di negara – negara Singapore dan Malaysia. Dan tentu saja kondisi tersebut merupakan peluang yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Produk – produk andalan pertanian Kabupaten Karo ini adalah bermacam sayuran. China. namun hingga kini sektor pariwisata belum juga mampu menggantikan peran sektor pertanian yang telah begitu dominan.hortikultura. buah – buah dan juga bunga – bungaan. 95 persen pasokan sayur dan buah berasal dari negara negara seperti Thailand. Informasi seperti inilah yang sangat diperlukan oleh masyarakat petani. Pembahasan Hasil Penelitian Kabupaten Karo adalah salah satu kabupaten yang ada di Propinsi Sumatera Utara yang mengandalkan pendapatan masyarakatnya dari sektor pertanian. . Sebagaimana kita ketahui Negara Singapore sangat mengandalkan pasokan sayur dan buah untuk dikonsumsi dari negara – negara tetangganya. Pemerintah Kabupaten Karo harus tetap konsisten didalam pengembangan kegiatan agrobisnis tersebut. Solusi cerdas yang dipilih masyarakat petani dalam mencari informasi terbaru adalah melalui media massa yang ada di daerah. Jenis tanaman yang akhir – akhir ini sangat populer karena produk organik ini terhindar dari bahan – bahan kimia yang tidak bagus buat kesehatan. Namun upaya untuk mencari sendiri informasi tambahan yang paling terbaru juga perlu dilakukan. Pemerintah Kabupaten Karo sendiri melalui Dinas Pertanian setempat selalu mengirimkan petugas – petugas penyuluh pertanian untuk membimbing para petani didalam melakukan aktivitas pertanian. termasuk didalamnya peluang bisnis pemasaran serta proses pasca panennya. cerdas dan mempunyai output yang besar. Dengan kata lain mayoritas Pendapatan Asli Daerah ( PAD ) yang dihasilkan dari sektor pertanian yang menghasilkan produk – produk pertanian berbasis agrobisnis. Keberadaan sumber daya manusia dalam hal ini petani juga harus selalu mengup-grade pengetahuannya didalam hal pengolahan pertanian untuk meningkatkan produksi. yang pada akhirnya berimbas kepada peningkatan kesejahteraan petani tersebut. Berbagai upaya terus dilakukan untuk tetap mempertahankan dan sekaligus meningkatkan pendapatan dari sektor pertanian ini. karena inovasi – inovasi yang terus berkembang terkadang tidak didapatkan dari sumber informasi seperti penyuluh pertanian. Memang ada sektor pariwisata yang juga menjadi andalan bagi Pemerintah Kabupaten Karo. Salah satu kesempatan yang harus dimanfaatkan para petani di Kabupaten Karo dewasa ini adalah didalam membudidayakan tanaman – tanam bersifat organik. Berbagai upaya dilakukan para petani didalam meningkatkan pengetahuannya dalam mengolah pertanian.

4 12 26.0 60.2 18 40.0 11 24.0 4 31.1 28 62.2 100 .1 68.0 100 Pada tingkat kepentingan responden terhadap media cetak lokal dalam membantu usaha pertanian. Tabel 2 Tingkat Kepentingan Media Cetak Dalam Membantu Usaha Pertanian Tingkat Kepentingan Media Sangat Tidak Desa Penting Total penting penting F 20 25 45 Ndokum Siroga % 44. Tidak ada responden yang menjawab tidak penting untuk materi pertanyaan ini.6 Jarang 9 20.8 Jarang 19 42.2 21 46.Media Sibayak Pos Sora Mido Sora Sirulo Info Karo Karo Memba ngun Tabel 1 Frekuensi Membaca Media Cetak Lokal Desa Ndokum Siroga Desa Surbakti Sering F % F % F % F % F % 16 35.2 Total 45 100 45 100 45 100 45 100 Media cetak juga dianggap sebagai salah satu faktor dalam mempercepat proses tranfusi informasi pembangunan khususnya bidang pertanian hortikultura.1 23 51.2 10 22.4% menganggap media cetak lokal sangat penting dalam membantu usaha pertanian mereka karena selain kurangnya keberagaman pilihan media yang ada.2 Sibayak Pos Sora Mido Sora Sirulo Info Karo Karo Memba ngun Tidak Pernah 20 44. media lokallah yang paling tahu kebutuhan para petani .0 12 26.9 100 F 17 28 45 Surbakti % 37.4 23 51.1 7 15.7 7 15.6 11 24. Tabel 3 Pengaruh Membaca Media Cetak Terhadap Responden Pengaruh Membaca Media Cetak Tidak Sangat Desa Berpengaruh Berpengaru Total Berpengaruh h F 14 31 45 Ndokum Siroga % 31.9 26 57.3 9 20. terlihat bahwa responden di Desa Ndokum Siroga dengan persentase sebesar 44.6% didesa Ndokum Siroga dan 27% di Desa Surbakti. sedangkan untuk pertanyaan yang sama di Desa Surbakti persentasenya sebesar 40%.4 10 22.6 100 F 18 27 45 Surbakti % 40. responden lainnya menjawab penting sebesar 55.7 17 37.8 62.7 22 48.6 9 20 Tdk Pernah 10 22.2 Total 5 100 45 100 45 100 45 100 45 100 Media Sering F % F % F % F % F % 16 35. dimana pada tabel dibawah ini terlihat bahwa media cetak lokal tersebut dianggap sangat penting bagi masyarakat dan tidak dapat dipisahkan dari masyarakat petani dalam memperoleh upaya informasi.8 19 42.6 6 13.4 55.

2% responden pada masing – masing desa menjawab bahwa pengaruh media cetak terhadap perubahan yang nyata menjawab sangat positif Ndokum Siroga Tabel 5 Dampak Media Cetak Terhadap Peningkatan Hasil Pertanian Dampak Terhadap Peningkatan Hasil Desa Sering Kadang-kadang Tidak ada Total Ndokum Siroga Surbakti F % F % 13 28.7 36 80.6 30 66. sedangkan di Desa Ndokum Siroga 31. bahkan ada 4. sedangkan didesa Ndokum Siroga sebesar 66.8 29 64.8%.6% di Desa Surbakti. namun 68. Tabel 4 Pengaruh Media Cetak Terhadap Perubahan Nyata Pengaruh Terhadap Perubahan Nyata Desa Sangat positif Positif Kurang positif Total F 10 35 45 % 22. sedangkan di Desa Surbakti yang memberi jawaban berpengaruh adalah sebesar 62.4 8 17. dan 16. juga tentang pemasaran hasil pertanian.8% responden didesa Surbakti menjawab media tersebut sangat berpengaruh terhadap responden karena dari medialah petani mengetahui informasi pertanian sehingga hasil pertanian mereka meningkat .0 2 4.8 100 Untuk materi pertanyaan tentang pengaruh media cetak terhadap perubahan nyata responden didua desa tersebut. terlihat bahwa media cetak tidak selalu memberikan peningkatan terhadap hasil pertanian.1 % responden yang menjawab sangat berpengaruh.Anggapan bahwa media cetak berpengaruh terhadap responden terlihat seperti tabel diatas.2 77.7%. dimana 28. 80% responden di Desa Surbakti menjawab bahwa media cetak hanya kadang – kadang memberi peningkatan terhadap hasil pertanian. bahkan 22.8 45 100 45 100 .2 77.8 8 17.4 11 24.4% responden di masing – masing desa menjawab tidak ada dampak media cetak terhadap peningkatan hasil pertanian Tabel 6 Media Massa Dimaksud Adalah Media Cetak Lokal Desa Media tersebut adalah media cetak lokal Setuju Kurang setuju Tidak setuju Total Ndokum Siroga Surbakti F % F % 26 57. terlihat sesuatu yang unik.9 7 16.8 100 F 10 35 45 Surbakti % 22. Namun responden yang menjawab bahwa informasi media cetak tersebut sering memberi peningkatan hasil pertanian juga ada.8 8 17. dimana 37. dimana masing masing responden di dua desa tersebut menjawab bahwa media cetak memberikan perubahan yang positif bagi responden karena dengan persentase 77.4 45 100 45 100 Dari tabel diatas.2 %.9% responden di desa Ndokum Siroga menjawab berpengaruh.4 2 4.9% responden di Desa Ndokum Siroga.

64. bahkan masing – masing responden didua desa tersebut ada yang tidak setuju dengan pernyataan tersebut dengan nilai 17. terutama didesa Surbakti antusias masyarakat tentang media lokal masih tinggi. Pemerintah Daerah harus berupaya dengan segala cara dan lebih maksimal untuk mengontrol keberadaan dan harga pupuk dan obat–obatan yang dibutuhkan masyarakat dalam kegiatan pertaniannya. apalagi mengingat bahwa Sumatera Utara termasuk daerah potensial bagi pengembangan tanaman hortikultura. Apalagi petani juga masih belum merasa cukup tentang informasi pertanian dari penyuluh pertanian yang belum rutin dan intens didesa Surbakti 3. Saran a. apalagi masyarakat petani masih merasakan kurangnya informasi tentang pasar produk pertanian dan informasi tentang budidaya pertanian hortikultura. 57. karena media lokal umumnya terbit per satu bulan sekali.4% responden di desa Surbakti menjawab bahwa media dimaksud adalah media cetak lokal. Pemerintah Daerah diharapkan untuk mengembalikan ikon Tanah Karo dengan kembali membudidayakan jeruk yang selama ini dikenal sebagai primadona daerah ini.4% responden di desa Ndokum Siroga tidak setuju dengan jawaban tersebut dan 17. Kecamatan Simpang Empat. juga masih belum mencukupinya isi berita tentang peluang pasar domestik maupun luar negeri. tepatnya didesa Ndokum Siroga dan desa Surbakti adalah sebagai berikut : 1.Dari mayoritas media massa sebagai sumber informasi pembangunan .8% KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Beberapa point penting yang didapat dari penelitian Opini Publik Mengenai Peran Media Lokal Dalam Pembangunan Bidang Pertanian Hortikultura yang dilakukan oleh Tim BPPI Wilayah I Medan di Kabupaten Karo.8% responden di desa Ndokum Siroga memberi jawaban senada. Namun antusiasme ini terkendala oleh media cetak lokal yang masih sulit didapat didesa – desa terutama desa yang masuk kepedalaman.8% responden di desa Surbakti memberi jawaban senada. disamping itu dari sisi pangsa pasar wilayah ini berdekatan dengan Singapura dan Malaysia yang membutuhkan hasil pertanian dari Sumatera Utara 1. Ini mungkin disebabkan masih kurang beragamnya pilihan media yang ada di desa tersebut. dimana 24. Masyarakat Kabupaten Karo ternyata masih memanfaatkan media cetak lokal sebagai sumber informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura. Disamping itu sirkulasi atau keterlambatan terbit media lokal juga menjadi kendala informasi pembangunan bidang pertanian hortikultura melalui media massa. Pemerintah agar lebih memperhatikan nasib petani hortikultura di Kabupaten Karo. Ternyata keberadaan media massa cetak masih sangat diharapkan oleh masyarakat dapat mendorong suksesnya pembangunan bidang pertanian hortikultura. dibandingkan dengan desa Ndokum Siroga yang ada di pusat kecamatan. 2. Kendala yang dihadapi masyarakat tentang pembangunan bidang pertanian hortikultura melalui media massa adalah kurangnya informasi pertanian hortikultura. namun ada juga yang kurang setuju dengan hal tersebut. serta mengawasi/menghilangkan peredaran pupuk dan obat – obatan palsu yang belakangan ini beredar dikalangan masyarakat petani 2. Dan peran inilah yang diharapkan masyarakat dapat ditangkap dan diisi oleh media massa lokal. dan telah menembus pangsa pasar dunia .

Ima. BPS. 2004. Daftar Pustaka Effendy.uns. Walter. 2006. Rachmat.id/~agronomi/dashor. Jakarta McQuail. Dinas Pertanian. 400 Istilah PR Media & Periklanan. 1994. 2008. Jalaluddin.htm. Jalaluddin. Jakarta Kriyanto. Metode dan Terapan Didalam Media Massa. Yayasan Pena.acehinstitute.suarapembaruan. Pengantar Ilmu Pertanian.com/new/2006/06/21/editor/edi07.html http://www. 2005. Banda Aceh Sumber lain http://www. 2007. Jakarta. Yayasan Obor Indonesia. Alumni Bandung Hardiman. Bandung Severin. Werner dan Tankard James.3. 1984.ac. Teori Komunikasi: Sejarah. 2007. Remaja Rosdakarya.html www. dimana isi koran tersebut diharapkan memiliki muatan lokal yang memuat informasi mengenai tata cara dan budaya pengelolaan tanaman hortikultura secara tepat dan efisien. Dimensi – Dimensi Komunikasi. Erlangga. Peternakan. 2006. Prenada Media. 1998. Paramita. Ikhtisar Eksekutif Pembangunan Kabupaten Karo. Leksikon Komunikasi. Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Rusdakarya. Jakarta Su’ud. Opini Umum. Denis. Perikanan dan Perkebunan Kabupaten Karo Rencana Kerja Penyuluh Pertanian. Gagas Ulung. Teknik Prakis Riset Komunikasi. 1981.pertanian. Kencana Prenada Media Grup. Jakarta Rakhmat. 2006.rehabrekon buyadong. Hasan. Psikologi Komunikasi. Metode Penelitian Komunikasi.. Perlu adanya penanganan pengelolaan hasil pasca panen 4. 1998. Jakarta Lippmann. dan bila memungkinkan program koran masuk desa dihidupkan kembali . Simpang Empat . Onong. Sirkulasi media lokal lebih ditingkatkan baik dari segi mutu (kuantitas dan kualitas). Bandung Rakhmat.org/opini-mastur-yahya. Karo Program Pembangunan Pertanian Kecamatan Simpang Empat. Pradya.

Hal ini disebabkan masih banyak masyarakat yang kurang mengerti dan memahami pentingnya Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Kewarganegaraan. globalisasi berlangsung melalui dua dimensi. Teknologi Informasi. Dengan kata lain proses globalisasi akan berdampak melampaui batas-batas kebangsaan dan kenegaraan. globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan. Hal ini dilihat dari beberapa faktor pendukung yang kurang terlaksana dengan baik. Sebagai sebuah proses. yaitu kemampuan pemerintah dan kemampuan masyarakat kurang mampu memberikan dukungan terhadap pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi dalam perkembangan kebudayaan di kota Makassar. 2005). sosial budaya. Jamli (Edison A. Secara umum globalisasi dapat dikatakan suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Menurut Edison A. Dimensi ruang yang dapat diartikan jarak semakin dekat atau dipersempit sedangkan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Pengaruh globalisasi dirasakan di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik. dalam interaksi antar bangsa. Tujuan penulisan penelitian adalah untuk mengetahui sejauhmana faktor pendukung pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di kota Makassar. ekonomi. Jamli dkk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di kota Makassar kurang optimal. fasilitas yang digunakan baik dari segi kualitas maupun kuantitas kurang mampu mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar serta sikap dan perilaku masyarakat dalam memahami pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi kurang optimal. Kata Kunci : Globalisasi. pertahanan keamanan dan lain-lain yang akan mempengaruhi nilai-nilai nasionalisme bangsa.ANALISIS FAKTOR PENDUKUNG PEMANFAATAN GLOBALISASI TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PENGEMBANGAN KEBUDAYAAN DI KOTA MAKASSAR RUKMAN PALA ABSTRAK Tulisan ini berjudul analisis faktor pendukung pemanfaatan globalisasi teknologi informasi dalam pengembangan kebudayaan di kota makassar. Hal ini tentunya tidak terlepas dari .Khususnya kemampuan masyarakat dalam memahami pentingnya pemanfaatan Teknologi Informasi. ideologi. Kebudayaan PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Kehadiran globalisasi membawa pengaruh bagi kehidupan suatu bangsa. kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa. yaitu dimensi ruang dan dimensi waktu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey sampel dengan wawancara dan kuesioner serta dilengkapi dengan observasi sebagai teknik pengumpulan data.bangsa di seluruh dunia.

dll ) yang berpengaruh sebagai kerangka untuk membentuk pandangan hidup manusia yang relatif menetap dan dapat dilihat dari pilihan warga budaya itu untuk menentukan sikapnya terhadap berbagai gejala dan peristiwa kehidupan. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia. Seperti kita ketahui budaya masyarakat Kota Makassar begitu beragam dan perlu dilestarikan sehingga dapat tetap bertahan dan memberikan devisa bagi Kota Makassar khususnya. Dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi. kebijaksanaan. ketelitian hasil perhitungan dapat ditingkatkan dengan adanya komputasi numeris. dan efek negatif dapat lebih diminimalkan. Pemanfaatan Teknologi Informasi untuk memberikan data dan informasi tentang perkembangan kebudayaan di Kota Makssar. bahkan untuk mengatasi berbagai persoalan pelik yang timbul di masyarakat. makin besar pula arus informasi dapat dialirkan dengan jangkauan dan dampak global. Pengaruh positif yang dapat dirasakan dengan adanya TIK adalah peningkatan kecepatan. Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) adalah pendukung utama bagi terselenggaranya globalisasi. Kecepatan arus informasi yang dengan cepat membanjiri kita seolah-olah tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk menyerapnya dengan filter mental dan sikap kritis. TIK tidak hanya membantu dan mempermudah manusia tetapi juga menawarkan cara-cara baru di dalam melakukan aktivitas-aktivitas tersebut sehingga dapat mempengaruhi budaya masyarakat yang sudah tertanam sebelumnya. dapat disebarluaskan dengan mudah sehingga dapat dengan cepat mempengaruhi cara pandang dan gaya hidup hingga budaya suatu bangsa. keindahan. sejak dulu hingga sekarang ditujukan untuk membantu dan memberikan kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan. Makin canggih dukungan teknologi tersebut. maka perlunya ditunjang oleh . Untuk memberikan data dan informasi tersebut. baik pada saat manusia bekerja. misalnya dari globalisasi aspek ekonomi. Sebagai contoh manifestasi TIK yang mudah dilihat di sekitar kita adalah pengiriman surat hanya memerlukan waktu singkat. sehingga semua manfaat positif yang terkandung di dalam TIK mampu dimanifestasikan agar mampu membantu dan mempermudah kehidupan masyarakat. dan masih banyak lagi. Dengan banyaknya produk luar negeri dan ditambahnya harga yang relatif lebih murah dapat mengurangi rasa kecintaan masyarakat terhadap produk dalam negeri. pengelolaan data dalam jumlah besar juga bisa dilakukan dengan mudah yaitu dengan basis data (database). ketepatan. masyarakat harus selektif dan bersikap kritis terhadap TIK yang berkembang sangat pesat. Oleh karena itu selama ini dikenal asas “kebebasan arus informasi” berupa proses dua arah yang cukup berimbang yang dapat saling memberikan pengaruh satu sama lain. informasi dalam bentuk apapun dan untuk berbagai kepentingan.dukungan pesatnya laju perkembangan teknologi yang semakin canggih khususnya teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Seyogyanya. Demikian halnya perkembangan kebudayaan di Kota Makassar juga ikut berpengaruh terhadap perkembangan globalisasi Teknologi Informasi. tenaga dan biaya. karena kehadiran surat elektronis (email). terbukanya pasar bebas memungkinkan produk luar negeri masuk dengan mudahnya. Sedangkan pengaruh negatif yang bisa muncul karena adanya TIK. pengaruh globalisasi dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pada hakikatnya teknologi diciptakan. akurasi dan kemudahan yang memberikan efisiensi dalam berbagai bidang khususnya dalam masalah waktu. Jadi bagaimana TIK dapat mempengaruhi nilai-nilai yang telah tumbuh di masyarakat dalam suatu bangsa itu sangat tergantung dari sikap masyarakat tersebut. Namun perlu diingat. kemanusiaan. berkomunikasi. keadilan. Budaya atau kebudayaan adalah kerangka acuan perilaku bagi masyarakat pendukungnya yang berupa nilai-nilai (kebenaran.

beberapa faktor dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Data mentah yang terkumpul dari hasil jawaban responden maupun yang didapat dari hasil wawancara. Teknik aksidental ini adalah mereka yang ditemui dan memahami pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar yang dapat diberikan pertanyaan. dan sikap dan perilaku masyarakat terhadap pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. serta mengupayakan pemecahan masalah tentang analisis faktor pendukung pemanfaatan globalisasi teknologi informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiono. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Wawancara. Oleh karena itu sampel dalam penelitian ini adalah masyarakat yang memahami pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas. Faktorfaktor tersebut seperti kemampuan pemerintah dan masyarakat dalam mendukung dan memahami Teknologi Informasi yang digunakan. memecahkan. juga sangat membantu untuk mendapatkan data yang obyektif dan valid dalam rangka memahami. yang dapat ditempuh dengan cara membandingkan data dari responden dengan informan yang . maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Bagaimanaka faktor pendukung pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar ? Tujuan Penulisan Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui sejauhmana faktor pendukung pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar Metode Penelitian Dalam penelitian ini. Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah teknik aksidental. 2001 : 57). dari sejumlah informan akan bermanfaat guna mewujudkan validitas data secara keseluruhan. telaah dokumen serta observasi akan diolah dengan menggunakan sistem tabulasi data dengan memakai analisis frekuensi. Dengan rumus sebagai berikut : . didapat dari responden. Selanjutnya dengan kuesioner guna mendapatkan data yang akurat dan obyektif terhadap permasalahan yang diteliti. sarana atau fasilitas yang digunakan dalam mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi tersebut. Namun permasalahan yang muncul adalah pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi terhada perkembangan budaya Makassar belum terlaksana secara optimal sehingga memerlukan peran serta pemerintah dan masyarakat memanfaatkan globalisasi Teknologi Informasi tersebut. Pada penelitian ini yang menjadi populasi adalah masyarakat dan mereka yang memahami tentang pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. peneliti menggunakan metode survey yang lebih menekankan pada jenis penelitian deksriptif kuantitatif dimana metode ini sangat relevan dengan topik yang akan diteliti.

maksudnya data yang ada diangkakan kemudian dideskripsikan. Apakah yang kita maksudkan dengan ‘budaya’ atau ‘kebudayaan’ itu? Untuk memberikan jawaban atas pertanyaan mi banyak cara dapat ditempuh. cara mi akan membutuhkan uraian panjang lebar karena biasanya perlu diperjelas dengan tafsiran konseptual dan kontekstual. dan mengingat bahwa jagad kemanusiaan ditandai oleh pluralisme budaya.F P = --------------------. Dalam gerak lintas-budaya mi terjadi berbagai pertemuan antarbudaya (cultural encounters) yang sekaligus mewujudkan proses saling-pengaruh antarbudaya. dengan kemungkinan satu fihak lebih besar pengaruhnya ketimbang fihak lainnya. . Kita dapat mencari jawaban berdasarkan etimologi. tiap teori bisa saja memiliki keunggulan dalam satu dan lain hal. Mungkin juga kita lakukan pendekatan komparatif antara suatu teori dengan lainnya. tapi keunggulan suatu teori berkenaan dengan sesuatu gej ala budaya tidak selalu bearti keunggulan teori itu secara menyeluruh. Pertemuan antar-budaya memang menggej ala sebagai keterbukaan (exposure) fihak yang satu terhadap lainnya. maka globalisasi sebagai proses juga menggejala sebagai peristiwa yang melanda dunia secara lintasbudaya (trans-cultural). cara mi jelas dapat memperkaya wawasan kita tentang kebudayaan. maka akan ternyata betapa kata ‘globalisasi’ itu cenderung dilontarkan tanpa terlalu dihiraukan apa maknanya. yaitu. 2003 : 23). Cara lain ialah memperbandingkan berbagai definisi yang dapat dipandang terkemuka dalam literatur. melainkan bolehjadi juga terjadi sebagai proses imposisi budaya yang satu terhadap lainnya. Menurut Aditya (2004 : 11) globalisasi pada hakikatnya adalah proses yang ditimbulkan oleh sesuatu kegiatan atau prakarsa yang dampaknya bekelanjutan melampaui batasbatas kebangsaan (nation-hood) dan kenegaraan (state-hood). dan kalau semuanya itu kita perhatikan secara saksama. cara mi mungkin menarik secara akademik namun mungkin terlalu steril untuk diturunkan sebagai medium analisis dalam terapan empirikal. (Sudarmajid. dan makin mengaburkan implikasi dan komplikasi makna yang terkandung di dalamnya. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Globalisasi Kata ‘globalisasi’ makin lama makin menjadi sajian sehari-hari melalui berbagai pemyataan publik dan liputan media massa. Pernyataan seperti “dalam era globalisasi dewasa mi” berarti bahwa kita telah berada dalam era globalisasi. sehingga konvergensi antar-teori mungkin saja digunakan dalam usaha memahami berbagai manifestasi budaya. namun pengaruh-mempengaruhi dalarn pertemuan antar-budaya itu tidak selalu berlangsung sebagai proses dua-arah atau timbal-balik yang berimbang. Kelatahan dalam penggunaan kata ‘globalisasi’ sedemikian itu akhimya mengesankan kesembarangan arti kata globalisasi.x 100 % N Keterangan : P= Persentase F= Jawaban responden N= Jumlah responden Analisis Data Data yang diperoleh dalam penelitian ini akan diolah dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif yang dikualitatifkan. lain lagi halnya kandungan pernyataan “menjelang era globalisasi” yang berarti kita belum berada dalam era tersebut. terpaan budaya yang satu berpengaruh dominan terhadap budaya lainnya.

Pasang-surutnya kebudayaan sepanjang sejarah kemanusiaan nyata sekali ditentukan oleh sejaubmana kebudayaan itu masih berlanjut sebagai kerangka acuan untuk dijabarkan melalui sesuatu tatanan normatif. ‘buruk’. sedangkan peradaban adalah penjabaran nilainilai tersebut melalui diwujudkannya norma-norma yang selanjutnya dijadikan tolokukur bagi kepantasan perilaku warga masyarakat ybs. Sebagai sumber acuan. Terjalinnya kesadaran transendensi dan immanensi inilah yang menjadikan dinamika sejarah kemanusiaan sebagai kaleidoskop perkembangan kebudayaan dan peradaban. Kesemuanya mi sekaligus menunjukkan bahwa kebudayaan adalah suatu pengejawantahan yang hidup selama ada masyarakat pendukungnya. 2002) Dalam sejarah kemanusiaan banyak contoh yang menunjukkan. dsb). Norma (nomos) adalah tolokukur yang memungkinkan terjadinya konformisme perilaku dalam sesuatu masyarakat. Misalnya. nilai kesusllaan dinyatakan melalui berbagai tatakrama. Dan uraian di atas mi dapat disimpulkan.(Kariadi. maka tidak terlalu keliru kiranya kalau kita mengartikan kebudayaan sebagai sehimpunan nilai-nilai yang oleh masyarakat pendukungnya dijadikan acuan bagi perilaku warganya. kebajikan. bahwa kebudayaan adalah kerangka acuan perilaku bagi masyarakat pendukungnya berupa nilai-nilai (kebenaran. keindahan. ketika Kemal Attaturk melancarkan gerakan modernisasi (yang diartikan sebagai ‘westemisasi’). seperti misalnya usaha pengenalan dan penyadaran tentang apa yang ‘baik’. dan dengan demikian tersedia pula ukuran untuk nonkonformisme. Nilai keadilan diwujudkan melalui hukum dan sistem peradilan. nilai religius diungkapkan melalui berbagai norma agama. kebudayaan Pharaonic yang benlaku dalam masyarakat Mesir kuno surut seiring dengan klan memudarnya kebudayaan itu sebagai sumber acuan untuk penjabaran norma-norma perilaku bagi masyarakat Mesir sekarang.Kalau kita sarikan muatan berbagai definisi yang terkemuka. Tapi juga dalam era kontemporer mi suatu kebudayaan sebagai sistem nilai dapat dengan suatu rekayasa didesak oleh sistem nilai barn. keadilan. hal mi berlaku balk bagi kebudayaan yang surut oleh perubahan zaman maupun yang kehadirannya dipaksakan untuk mendesak kebudayaan lama. batas antara apa yang dinilai sebagai kebajikan (good) atau kejahatan (evil) berlaku dalam garis besar yang memisahkan satu dan lainnya. persepi terhadap nilai-nilai itu masih besifat umum. dan begitu seterusnya. Nilai-nilai itu juga berpengaruh sebagai kerangka untuk membentuk pandangan hidup yang kemudian relatif menetap dan tampil melalui pilihan warga budaya itu untuk menentukan sikapnya terhadap berbagai gejala dan peristiwa kehidupan. perubahan serupa pun teijadi tatkala Partai Komunis Rusia berhasil menggulingkan kekaisaran di Rusia dan memperkenalkan nilai-nllai barn sebagai acuan bagi norma perllaku barn yang ideal bagi suatu masyarakat komunis. tolokukur itu baru menjelma melalui norma-norma sebagai pengatur kepantasan perllaku. nilai keindahan dijabarkan melalui berbagai norma artistik. Adanya tolokukur normatif mi menjadi dasar bagm berkembangnya peradaban (civilization) sebagai bagian dan dinamika budaya tertentu. belum lagi antara keduanya diperbedakan dalam perbandingan ‘seberapa balk’ atau ‘seberapa buruk’ dipandang dan tolokukur tertentu. bahwa timbultenggelamnya kebudayaan sangat dipengaruhi oleh apa yang tenjadi dalam pertemuan antarbudaya. Singkatnya. yaitu sejauh mana satu di antara fihak yang saling bertemu kurang atau tidak . Perhatikan misalnya “Revolusi Kebudayaan” yang secara berencana dilancarkan di Republik Rakyat Cina pada pertengahan tahun 6Oan. sehingga kebudayaan yang lama kehilangan dayanya sebagai acuan untuk menjabarkan normanorma perllaku. kemanusiaan. penjabaran nilai kebudayaan menjadi norma peradaban dapat dipandang sebagai pengalihan dan sesuatu yang transenden menjadi sesuatu yang immanen. ‘indah’. Nilai-nilai itu pada sendirinya barn merupakan acuan dasar yang keberlakuannya disadarkan melalui ikhtiar pendidikan sejak dini. Perhatikan pula perubahan yang terjadi di Turki. dsb dalam tindak-tanduk seseorang. ‘dosa’.

Ruang/jarak makin diperdekat dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala mondial. yaitu berlakunya herbagai norma acuan penilaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Seantero jagad seolah-olah tertangkap dalam satu janingan besar tanpa adanya suatu pusat tunggal. maka ada baiknya kita bahas dahulu hal-ihwal yang berkenaan dengan globalisasi sebagai proses maupun globalisme sebagai carapandang yang dewasa mi cenderung dianut dalam tata-pergaulan intemasional. yaitu sebagai daya yang cenderung melestanikan dan daya yang cenderung berkembang atas kemekarannya sendiri. Kecenderungan meniru itu dalam kelanjutannya bisa terpantul melalui berkembangnya gayahidup (ljfestyle) barn yang dianggap superior dibandingkan dengan gayahidup lama. Kendatipun dalam periode Perang Dingin kondisi bipolar seakan-akan membelah-dua dunia mi dengan pengendalian dan dua pusat kekuatan dunia yang saling bertentangan. Proses globalisasi yang diakibatkan oleh berbagai prakarsa dan kegiatan pada skala internasional sebagaimana menggej ala dewasa mi pun penlu kita cermati sejauhmana siginifikan pengaruhnya dalam pertemuan antar-budaya. yaitu dimensi ruang (space) dan waktu (time).kondisi global yang plurisentnik dan multipolar dalam era kontemporer. Kebudayaan adalah suatu daya yang sekaligus tersimpan (latent) dan nyata (actual). melainkan terjadi dengan ketenlibatan sejumlah fihak secara segera (instantaneous) serta serempak (simultaneous). Dalam perkembangan sedemikian itu dirasakan makin dipenlukannya suatu tatanan dunia baru yang perwujudannya memperhatikan plurisentrisme dan multipolanitas . Sampai batas tertentu dan saling-pengaruh yang terjadi itu dapat terpantul seberapa tinggi derajat kesadaran dan tingkat ketahanan budaya masing-masing fihak yang saling bertemu. globalisasi benlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antarbangsa. makin kuat pula budaya asing yang menerpanya berpengaruh dominan terhadap masyarakat itu. Dalam kaitan mi pertemuan antar-budayajangan terutama digambarkan sebagai pertemuan antara dua fihak belaka.(Ekawati. Tidak ada kekuatan tunggal yang mutlak dan sanggup mengabaikan -apalagi mengungguli. Makin rendah derajat ketahanan budaya masyarakat pendukungnya. Justru plunisentrisme dan multipolaritas menjadi cmi dunia menjelang akhir abad ke-20 dan memasuki abad ke-2 1. usainya Perang Dingin tidak menjadikan dunia kita monosentnik. Antara kedua daya inilah tiap masyarakat pendukung kebudayaan tertentu berada. Kesanggupan sesuatu satuan budaya untuk mempertahankan kesejatiannya dalam pertemuan antar-budaya yang demikian majemuknya itu sangat ditentukan oleh tinggi-rendahnya derajat kesadaran budaya dan tanguhrapuhnya tingkat ketahanan budaya masyarakat pendukungnya. Perubahan gayahidup yang ditiru dan budaya asing bisa berkelanjutan dengan timbulnya gejala keterasingan dan kebudayaan sendiri (cultural alienation). Tangguh atau rapuhnya ketahanan budaya biasanya dilatani oleh menurunnya kesadaran masyarakat yang bersangkutan terhadap kebudayaannya sebagai pengukuh jatidirinya. dan hal ml pada gllirannya mendorong berlangsungnya proses globalisasi yang terus berkembang atas kemekarannya sendiri. satu daya dengan kecenderungan preservatif dan satunya lagi dengan kecenderungan progresif.lagi memiliki ketahanan budaya (cultural resilience). 2003) Karena perhatian akan kita pusatkan pada persoalan pertemuan antarbudaya dalam era globalisasi. Dalam kondisi demikian itulah globalisme menjadi cara pandang dalam interaksi antarbangsa. Dalam kondisi demikian itulah pertemuan antarbudaya sangat berpengaruh atas perimbangan antara kedua daya tersebut. satu daya mempertahankannya agar lestani dan daya lainnya menariknya untuk maju. Berkembangnya gayaliidup baru itu dapat menimbulkan kondisi sosial yang ditandai oleh heteronomi. Sebagai proses. Budaya asing yang berpengarnh dominan terhadap satuan budaya asli bisa membangkitkan kesan sebagai ‘model’ untuk ditiru. Demikianlah kebudayaan mengandung dua daya sekaligus.

Dalam bidang inilah terjadi pemadatan dimensi rnang dan waktu (yang disebut Harvey ‘time-space compression’). bahwa dalam pertemuan antar-budaya mengalirnya anus informasi itu tidak senantiasa terjadi secara dua-arah. Kesegeraan dan keserampakan anus informasi yang dengan derasnya menerpa kita seolah-olah tidak membenikan kesempatan pada kita untuk menyerapnya dengan filter mental dan sikap knitis. Dengan jangkaun sedemikian itu. mau-tak-mau. globalisasi dalam bidang ml sudah dijangkau oleh sistem dan pelembagaan yang makin dijadikan acuan dalam hubungan internasional. dan ditenima dengan alasan ‘mengikuti kecenderungafl global’. maka betapa pun paradoksal kedengarannya. sedang kesiapan untuk ambilbagian dalam tatanan barn itu merupakan imperatif yang sukar dielakkan. melainkan dominasi anus informasi dan fihak yang didukung oleh kesanggupan merentangkan sistem informasi dengan jangkauan global. banjir informasi melalui sistem dan pelembagaan yang didukung oleh teknologi canggih tidak dengan sendirinya mempenkaya wawasan kita. Dengan dukungan teknologi modem infonmasi dalam berbagai bentuk dan untuk benbagai kepentingan dapat disebarluaskan begitu rnpa. maka yang sesungguhnya terjadi bukanlah ‘pertukanan informasi’ (exchange of information) berupa proses dua-arah yang cukup bermmbang. Ditenimanya suatu tatanan global barn mestinya dapat diandalkan pada tergalangnya konsensus maksimal di antara segenap eksponen yang berperan dalam janingan itu. dan inilah awal dan suatu proses yang akhimya bisa bermuara pada pernbahan sikap mental dan kultural. suka-tak-suka. Maka tidak mustahil kemajuan masyarakat yang diterpa cenderung diukur secara memperbandingkan dengan hal-ihwal yang dipenkenalkafl melalui informasi dan fihak yang menerpa. Makin canggih dukungan tersebut makin besar pula anus informasi dapat dialirkan dengan jangkauan dan dampak global. Kalau dewasa ml dianut asas ‘kebebasan arns informasi’ (free flow of information). maka terjadilah banjir deras informasi (information glut) yang menghujani kita dan nyanis tak lagi terkendali. Tatanan itu tentu menuntut dirancangnya berbagai sistem dan pelembagaan yang hams diwujudkan sebagai konsekuensinya. Kecenderungan mi adakalanya dianggap sebagai bagian dan upaya ‘modemisasi’. maka dalam hal mi pun terbawa limbah yang samasekali tidak berguna. Dalam bidang mi tampaknya tiada altematif lain bagi kita kecuali turut berperan di dalamnya.sebagai kenyataan global masakini. Dewasa mi sistem dan pelembagaan termaksud tenutama nyata perkembangannya dalam bidang ekonomi dan perdagangan internasional. yaitu bidang informasi dan komunikasi yang sangat tertunjang oleh pesatnya laju perkembangan teknologi yang semakin canggih. maka fmhak yang lebih unggul dalam menguasai teknologi informasi dan komunikasi niscaya lebih berkesanggupan untuk membiaskan pengaruhnya secara global. 2001) Gejala tersebut nyata berpengaruh atas terbentuknya sikap mental dan kultural pada fihak yang diterpa (expose) oleh fihak yang menerpanya (impose) dengan anus informasi. dan sebagaimana terjadi dengan setiap banj in. sehingga dengan mudah dapat mempengaruhi carapandang dan gayahidup kita. dominasi cendernng terjadi dan fihak yang memiliki dukungan teknologi lebih maju terhadap fihak yang lebih terbelakang. Dalam bidang informasi. (Ridwansyh. Sikap yang naif mi antara lain juga ditandai oleh kecenderungan glonifikasi terhadap fihak yang . jarak makin diperdekat dan waktu makin dipersingkat. Rancangan demikian itu tentunya hams dapat ditenima oleh majonitas eksponen yang ambilbagian dalam janingan global yang plunisentrik dan multipolar. melainkan bisa juga mencemani kita secara mental. Maka tidaklah mengherankan kalau banjir informasi itu akhirya juga bisa benpengaruh terhadap carapandang maupun gayahidup kita. Dalam naskah mi perhatian kita pusatkan pada penjelmaan globalisme dalam bidang yang jelas berdampak terhadap wawasan budaya kita. Teknologi informasi dan komunikasi dalam era globalisasi mi merupakan pendukung utama bagi tenselenggaranya pertemuan antarbudaya. Perlu dicatat.

sosial budaya. mewujudkan seni (sastra). 1990). pertahanan keamanan dan lain-lain yang akan mempengaruhi nilai-nilai nasionalisme bangsa. Kita telah bergerak dari budaya lisan ke budaya tulisan sejak ditemukannya huruf. perlu diketahui terlebih dahulu tentang pengertian budaya itu sendiri. baik lewat tulisan. Tapi. yaitu dimensi ruang dan dimensi waktu. Sebagai sebuah proses. berkomunikasi. mempelajari naskah-naskah kuno. Dimensi ruang yang dapat diartikan jarak semakin dekat atau dipersempit sedangkan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Dalam budaya visual. Dimana era globalisasi ini erat sekali kaitannya dengan teknologi informasi atau komunikasi. yang meliputi kesenian. dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi. ekonomi. Pengertian Budaya Sebelum mengulas tentang perkembangan tekologi komunikasi terhadap kehidupan budaya. gambar-yang diam atau bergerakmenjadi bagian yang penting dalam proses komunikasi. Seperti dalam hal bahasa. Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas dibandingkan perubahan sosial. yang berasal dari kata Latin Colere. Namun demikian dalam prakteknya di lapangan kedua jenis perubahan perubahan tersebut sangat sulit untuk dipisahkan (Soekanto. dapat disebarluaskan dengan mudah sehingga dapat dengan cepat mempengaruhi cara pandang dan gaya hidup hingga budaya suatu bangsa. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus. Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah. Melalui bahasa. ataupun gerakan (bahasa isyarat). Akan tetapi perubahan tersebut tidak mempengaruhi organisasi sosial masyarakatnya. sekarang kita sedang bergeser dari budaya tulisan ke budaya visual. informasi dalam bentuk apapun dan untuk berbagai kepentingan. Teknologi komunikasi adalah pendukung utama bagi terselenggaranya globalisasi. kebudayaan disebut culture. ideologi. Kehadiran globalisasi membawa pengaruh bagi kehidupan suatu bangsa. dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat. manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat. Dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi. Sehingga kemudian sampailah pada era globalisasi. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani.diunggulkan sebagai sumber informasi global dan tampil sebagai penentu kecendeningafl (trend-setter) dalam pembentukan sikap mental dan kultural serta gaya hidup barn. dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan seharihari. tata krama masyarakat. Pengaruh globalisasi dirasakan di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik. filsafat dan lainnya. yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Semakin lama kebudayaan akan semakin berkembang. Hal ini tentunya tidak terlepas dari dukungan pesatnya laju perkembangan teknologi yang semakin canggih khususnya teknologi komunikasi. dalam interaksi antar bangsa. Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan budaya. lisan. tingkah laku. Dalam bahasa Inggris. globalisasi berlangsung melalui dua dimensi. teknologi. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian. Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan. yaitu mengolah atau mengerjakan. Kecepatan arus informasi yang dengan cepat membanjiri kita seolah-olah tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk menyerapnya dengan filter mental dan sikap . Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi. ilmu pengetahuan.

Internet menghilangkan semua batas-batas fisik yang memisahkan manusia dan menyatukannya dalam dunia baru. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia. Mulai dari wahana TI yang paling sederhana berupa perangkat radio dan televisi. Indeks nilai tukar dollar yang ditentukan di Wall Street. akurasi dan kemudahan yang memberikan efisiensi dalam berbagai bidang khususnya dalam masalah waktu. Peningkatan kualitas hidup semakin menuntut manusia untuk melakukan berbagai aktifitas yang dibutukan dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya. ketepatan. tak bisa dipungkiri memberikan kontribusi yang signifikan terhadap seluruh proses globalisasi ini. Pengaruh globalisasi dengan dukungan teknologi komunikasi meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. misalnya dari globalisasi aspek ekonomi. Makin canggih dukungan teknologi tersebut. Jika eCommerce “hanya” memungkinkan seseorang bertransaksi jual beli melalui internet dan melakukan pembayaran dengan kartu kreditnya secara on-line. Teknologi Informasi dan Komunikasi yang perkembangannya begitu cepat secara tidak langsung mengharuskan manusia untuk menggunakannya dalam segala aktivitasnya. Perubahan harga saham sebuah perusahaan farmasi di Bursa Efek Jakarta hanya membutuhkan waktu kurang dari sepersepuluh detik untuk diketahui di Surabaya. Demikian juga peragaan busana di Paris. AS. TI telah mengubah wajah ekonomi konvensional yang lambat dan mengandalkan interaksi sumber daya fisik secara lokal menjadi ekonomi digital yang serba cepat dan mengandalkan interaksi sumber daya informasi secara global. Kemudian dapat menunjang perkembangan kebudayaan. Pengaruh positif yang dapat dirasakan dengan adanya Teknokom adalah peningkatan kecepatan. tenaga dan biaya. Konsep Teknologi Informasi (TI) Teknologi Informasi (TI) yang kini berkembang amat pesat. dan infrastruktur komunikasi.kritis. Dengan banyaknya produk luar negeri dan ditambahnya harga yang relatif lebih murah dapat mengurangi rasa kecintaan masyarakat terhadap produk dalam negeri. Sulawesi. yaitu dunia “maya”. Konsep perdagangan elektronik melalui internet. TI di internet berkembang dengan kecepatan yang sukar dibayangkan. Setara dengan perkembangan perangkat keras komputer. (Radian. Oleh karena itu selama ini dikenal asas “kebebasan arus informasi” berupa proses dua arah yang cukup berimbang yang dapat saling memberikan pengaruh satu sama lain. atau memungkinkan . terbukanya pasar bebas memungkinkan produk luar negeri masuk dengan mudahnya. khususnya mikro-prosesor. 2004) Perubahan informasi kini tidak lagi ada dalam skala minggu atau hari atau bahkan jam. Peran Internet tidak bisa dipungkiri dalam hal penyediaan informasi global ini sehingga dalam derajat tertentu. makin besar pula arus informasi dapat dialirkan dengan jangkauan dan dampak global. saling mempelajari kebudayaan lain. hingga internet dan telepon gengam dengan protokol aplikasi tanpa kabel (WAP). Internet sendiri memang fenomenal kemunculannya sebagai salah satu tiang pancang penanda kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Banyak hal yang didapat karena pengaruh teknologi komunikasi. TI disamaratakan dengan Internet. yang pada waktu hampir bersamaan bisa disaksikan dari Gorontalo. Sedangkan pengaruh negatif yang bisa muncul karena adanya teknologi komunikasi. melainkan sudah berada dalam skala menit dan detik. informasi mengalir dengan sangat cepat dan menyeruak ruang kesadaran banyak orang. yang dikenal dengan nama e-Commerce yang lahir karena perkawinan TI dengan globalisasi ekonomi belum lagi genap berusia lima tahun dikenal – dari fakta bahwa sebenarnya sudah ada sekitar 20 tahun yang lalu—ketika sudah harus merelakan dirinya digilas dengan konsepsi e-Business yang lebih canggih. dalam waktu kurang dari satu menit sudah dikonfirmasi oleh Bank Indonesia di Medan Merdeka.

pemerintah (12. hak cipta dan masalah lain.8%). sektor yang paling banyak mengeluarkan uang adalah komunikasi & media (19. Angka ini masih sangat kecil dan jika dijadikan pijakan konsepsi utopis TI yang mampu mendorong terjadinya perubahan sosial. lebih khusus lagi bagi negara yang memiliki peraturan ketat. Namun.9 juta itu.4%).e-culture/203) Pertemuan Asian Regional Conference of the Global Information Infrastructure Commission (GIIC) di Manila pada bulan Juli 2000 menghasilkan rencana untuk membangun jaringan komunikasi. jumlah personal computer yang ada di negeri ini hanya sekitar 2 juta unit.seorang ibu rumah tangga memprogram lemari-esnya untuk melakukan pemesanan saribuah secara otomatis jika stok yang disimpan di kulkas itu habis dan membayar berbagai tagihan rumah tangganya melalui instruksi pada bank yang dikirim dengan menekan beberapa tombol pada telepon genggamnya. masih menurut sumber dari Kontan On-line. Lebih buruk lagi. Dari US$ 772. keberadaan internet khususnya merupakan masalah yang pelik. terutama antara lain sumber daya yang terbatas. Jumlah ini belum termasuk investasi dotcom yang sempat bergairah obor-blarak dalam dua tahun terakhir. wajar jika pemerintah negara-negara Asia.9%). krisis ekonomi yang dialami Asia pada akhir tahun 90an menunda perkembangan TI di saat AS dan negara-negara Eropa sedang berkembang pesat dalam penggunaan teknologi itu. TI disikapi dengan penuh kebingungan.9 juta. Sementara dari 17 sektor yang membelanjakan uang untuk TI tadi. khususnya pemanfaatan jaringan internet. Namun memang masih ada hambatan. Itu berarti hanya 0. transaksi ekspor impor antar negara lengkap dengan pembukaan LC dan model cicilan pembayarannya juga bisa dilakukan dengan wahana dan media yang sama. Kasus ini layaknya menghadapkan kemajuan TI dengan alat perang dan kekuasaan. Karena itu. masih kakunya sistem pemerintahan. Sebagian yang lain (14. angka sekecil itu yang diperkuat dengan TI. akan tetap menempatkan Asia di pihak yang merugi. Bagaimana dengan Indonesia? Menurut Tabloid Kontan On-line tanggal 9 Oktober 2000 yang mengutip IDC (Information Data Corporation) . Seharusnya. dana yang sudah dibelanjakan untuk kepentingan TI di Indonesia cukup besar. Di jaman Orde Baru berkuasa dulu. serta mengembangkan pendidikan untuk meningkatkan daya saing Asia. seperti misalnya dalam kasus penggerebekan salah satu Internet Service Provider (ISP) di Jakarta saat “Kudatuli” –kerusuhan dua puluh tujuh juli —yang menghebohkan itu. Bagi Asia. Dan seperti biasanya. diikuti oleh discreet manufacturing (16. kejahatan internet. angka untuk perangkat lunak ini jauh lebih besar daripada untuk perangkat kerasnya. (http://www. senjata lebih berkuasa daripada teknologi. merek dagang. bisa cukup menimbulkan dilema bagi pemerintah.95% dari jumlah penduduk. dari seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah 220 juta jiwa.7%) dibelanjakan untuk perangkat keras seperti PC dan notebook. serta perbedaan sosial politik di antara negara-negara yang kini harus bekerjasama –yang bila gagal diatasi. Tahun 2000 ini diperkirakan US$ 772. maka dengan e-Business. kekuatan TI yang ditekan itu kemudian tampil “jumawa” dalam episode jatuhnya . sebagian besar (57. membangun jaringan online-pemerintah. negara yang dianggap kurang maju. menyediakan perangkat pengakses informasi dari internet untuk masyarakat. Hal ini diduga keras karena di Indonesia tingkat pembajakan masih di atas 90%. menyusun framework penggunaan TI.3%). Salah satu tindakan yang akan dilakukan oleh pemerintah Asia yang disepakati dalam pertemuan GIIC itu adalah mempersiapkan hukum mengenai transaksi. naik dari US$ 638. kini mulai secara resmi mendukung perkembangan TI setelah sekian lama diam-kebingungan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan perkembangan teknologi yang demikian cepat ini. dan perbankan (11.4%) dibelanjakan untuk perangkat lunak.4 juta tahun lalu. yang saat ini sedang bekerja keras mengejar ketinggalan dari negara-negara maju dan pada saat yang sama mengalami perubahan sosial politik. Namun. Sampai dengan bulan Juni 1999.

2004) TI modern memungkinkan kerjasama yang luar biasa antar masyarakat. Dunia dalam kacamata TI saat ini adalah dunia tentang pribadi orang per orang. jika dilihat dari kacamata TI dan globalisasi secara paradoks bisa jadi sudah punah karena negara yang efektif justru memecah dirinya menjadi bagian lebih kecil dan lebih efisien. Kebingungan ini juga terlihat jelas dalam perumusan UU Telekomunikasi beserta PP yang menyertainya. Globalisasi. pelaku ekonomi dan negara. jelas adalah keniscayaan. Tak ada jalan untuk mundur lagi. bahwa kebijakan pemerintah saat ini menimbulkan semakin banyak masalah yang timbul dalam pengembangan TI. yang tentu ada dalam mainstream TI. Dengan Kepres itu. Konsep Negara Kesatuan misalnya. teknologi harus berpihak dan mengabdi pada manusia. telepon gengam dan email pada para koordinator lapangan untuk mengantisipasi blokade militer yang menyapu Jakarta dan kota-kota lainnya saat itu. justru banyak pemain lokal yang berteriak dan menentang keppres ini. komunikasi militer pun disadap dan semua sandi militer diterjemahkan oleh para aktivis dan dibagikan lewat pager. Bahkan. informasi tidak ada. yang pada masa lalu tidak terlihat –tapi bukannya tidak ada. Keppres 96/2000 yang garis besarnya berisi larangan masuknya investor asing di bidang industri multimedia di Indonesia. TI. apabila seseorang ingin mendirikan warung internet. yaitu dengan memberikan kesempatan pada yang kecil. Menurut Amartya Sen. Dengan semakin banyaknya informasi yang diterima masyarakat. secara langsung atau tidak. Tanpa TI. Dalam PP No 52/2000 misalnya. Demokrasi melanda dunia dan dunia menerapkan demokrasi itu melalui sistem telekomunikasi global. menunjukkan dengan jelas kebingungan pemerintah dalam merespon perkembangan bisnis multimedia. 1998 dan 1999. melihat dengan jelas bahwa gagasan “pemerintah pusat adalah bagian yang terpenting dari sebuah pemerintahan” sudah saatnya ditinggalkan. Satu-satunya pemain lokal yang terlihat paling getol mendukung dikeluarkannya keppres tersebut hanyalah PT. Dalam hal politik. berkontribusi atas terjadinya suatu perubahan sosial yang bermakna di Indonesia.1 juta unit usaha yang “tahan . pemerintah baru yang terpilih secara relatif demokratis pasca rejim Orde Baru ini juga gagap menanggapi kemajuan TI. harus meminta ijin yang ditandatangani oleh menteri (!). Bagaimana memulai? Pertama. dan tanpa informasi maka semua kegiatan akan berhenti. Jelas. Konon. Padahal. untuk mengurus ijin pendirian warnet.Orde Baru. Tapi. melainkan pada legitimasi masyarakat. Pemerintah beranggapan bahwa proteksi itu diberikan dengan asumsi tidak mungkin pemain-pemain lokal mampu bersaing dengan investor asing dalam dunia TI. Dengan populasi mencapai 2. Dunia yang saat ini. Kenichi Ohmae dalam bukunya yang terkenenal The End of the Nation State. dalam hal informasi dan dilihat dari kacamata TI. dari yang lokal. menurut pencetus ide “The Third Way” Anthony Giddens dengan teori strukturasi modernisnya. pemerintah harus mulai berubah ke arah sistem dimana peraturan dan hukum didasarkan bukan pada kemauan pemerintah. bukan negara (state). yaitu jatuhnya rejim militeristik yang sudah berkuasa 32 tahun lamanya. meningkatnya tribalisme saat ini mungkin bisa dianggap terkait dengan kemajuan TI karena memperjelas banyak hal sehingga setiap orang dapat mengetahui peristiwa yang terjadi di mana saja. dipercaya bahwa gerakan mahasiswa dan bantuan logistiknya dikoordinasikan dengan memanfaatkan kecanggihan TI ini. sedang bermetamorfosa dari swapraja menuju swakelola. Sebuah paradoks: karena ekonomi global makin membesar. entah dimana salahnya. tersirat inferioritas yang luar biasa dalam diri pemerintah. (Martinginsih. maka negara-negara yang mengambil peran akan semakin mengecil. Maka yang harus dilakukan dalam konteks perkembangan TI dan globalisasi ini adalah membangun kembali keberpihakan TI melalui strategi yang membela mereka yang selama ini ditinggalkan dan diabaikan dalam arus globalisasi. Telkom. pemenang hadiah Nobel bidang Ekonomi tahun 1998.

Oleh karena adanya pergeseran demikian. seni dan sastra. Bangsa dan negara yang menguasai teknologi tinggi berarti akan menguasai “dunia”. Dampak buruk dari perkembangan “dunia maya” ini tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan masyarakat modern saat ini dan masa depan. menengah dan koperasi merupakan sasaran pokok yang harus didorong dan diberdayakan dalam memanfaatkan TI untuk melakukan perdagangan elektronik karena keterbatasan modal. terutama terhadap generasi muda itu. semakin dituntut dan diperlukan untuk mengawasi. Sedangkan dampak negatifnya adalah masuknya pengaruh budaya asing. diperlukan persiapan yang matang. membina dan menyelamatkan para generasi muda dari dampak negatif kemajuan teknologi informasi. terutama teknologi informasi (information technology) seperti internet sangat menunjang setiap orang mencapai tujuan hidupnya dalam waktu singkat. Globalisasi dunia melalui teknologi informasi (internet. Dampak perkembangan teknologi informasi dirasa sangat berpengaruh terhadap pengaturan hukum. sehingga dalam membangun sosial budaya. Perkembangan iptek. Selaku harapan serta tumpuan bangsa dan negara yang akan melanjutkan pembangunan di segala bidang. pemantapan kehidupan . Adanya penyalahgunaan teknologi informasi yang merugikan kepentingan pihak lain sudah menjadi realitas sosial dalam kehidupan masyarakat moderen sebagai dampak dari pada kemajuan iptek yang tidak dapat dihindarkan lagi bagi bangsa-bangsa yang telah mengenal budaya teknologi (the culture of technology). Disamping itu. penyalahgunaan Narkoba. mudah. politik. baik legal maupun illegal dengan menghalalkan segala cara karena ingin memperoleh keuntungan secara “potong kompas”. sumber daya manusia dan keahlian. hukum internasional maupun teknologi persenjataan militer untuk pertahanan dan keamanan negara bahkan kebutuhan intelijen. maka tidak mengherankan dalam setiap aspek kehidupan manusia pun mulai menunjukan suatu fenomena baru. Pemanfaatan Teknologi Informasi Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang cukup pesat sekarang ini sudah menjadi realita sehari-hari bahkan merupakan tuntutan masyarakat yang tidak dapat ditawar lagi. merupakan salah satu manfaat positif. Semua ini dapat dipahami. budaya. tindakan kriminalitas dan budaya kekerasan. Betapa tidak dengan penggunaan teknologi informasi perilaku manusia secara nyata telah beralih dari model aktifitas yang didasarkan pada suatu bentuk hubungan face to face telah bergeser kepada pola hubungan digitally.banting” –sudah teruji dalam krisis ekonomi—maka pengusaha kecil. telepon selular dan media elektronik lain) yang berkembang sangat pesat. Kemudahan dalam mengakses informasi dan ilmu pengetahuan dari berbagai sumber dan belahan dunia. karena teknologi memegang peran amat penting di dalam kemajuan suatu bangsa dan negara di dalam percaturan masyarakat internasional yang saat ini semakin global. Hal ini salah satunya dapat dilihat pada upaya kreasi manusia yang berkaitan dengan bidang ilmu pengetahuan. Tujuan utama perkembangan iptek adalah perubahan kehidupan masa depan manusia yang lebih baik. cepat dan aman. generasi muda mesti dibekali sedini mungkin dengan ilmu pengetahuan tentang tata cara mengambil manfaat positif dari kemajuan teknologi informasi yang berkembang dengan deras dan pesat. Peranan pemerintah bersama serta segenap elemen masyarakat. baik secara ekonomi. agar mereka dapat mengambil manfaat positif dan membentengi diri dari dampak negatif globalisasi dunia yang tengah berkembang ini. seperti pergaulan bebas. bisa positif bisa pula negatif. murah. Dampak perkembangan teknologi informasi. kompetitif dan komparatif. Teknologi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan umat manusia dalam dunia yang semakin “sempit” ini. Generasi muda adalah kelompok masyarakat yang sangat rentan terhadap pengaruh budaya asing ini.

sarana dan prasarana teknologi yang dimiliki. karena kemajuan teknologi yang digunakan para pelaku cukup canggih dalam aksi kejahatannya. Kesulitan yang dialami adalah pada perangkat hukum atau undang-undang teknologi informasi dan telematika yang belum ada sehingga pihak kepolisian Indonesia masih ragu-ragu dalam bertindak untuk menangkap para pelakunya. Suatu hal yang patut diperhatikan adalah bahwa kejahatan sebagai gejala sosial sampai sekarang belum diperhitungkan dan diakui untuk menjadi suatu tradisi atau budaya yang selalu mengancam dalam setiap saat kehidupan masyarakat. kebudayaan. masyarakat bahkan bangsa dan negara. ekonomi dan hukum dari kemajuan teknologi moderen yang tidak begitu mudah ditangani oleh aparat penegak hukum di negara berkembang seperti halnya Indonesia yang membutuhkan perangkat hukum yang jelas dan tepat dalam mengantisipasi setiap bentuk perkembangan teknologi dari waktu ke waktu. Di sini perlu ada semacam batasan hukum yang tegas di dalam menanggulangi dampak sosial. kehidupan pribadi. Mengantisipasi kejahatan ini seyogianya dimulai melalui pembentukan perangkat undang-undang seperti dalam Konsep KUHP Baru dan RUU Teknologi Informasi yang disusun oleh Pusat Kajian Cyberlaw Universitas Padjadjaran. Kejahatan mayantara dewasa ini mengalami perkembangan pesat tanpa mengenal batas wilayah negara lagi (borderless state). Manifestasi kejahatan mayantara yang terjadi selama ini dapat muncul dalam berbagai macam bentuk atau varian yang amat merugikan bagi kehidupan masyarakat ataupun kepentingan suatu bangsa dan negara pada hubungan internasional. Internet menjadi medium bagi pelaku kejahatan untuk melakukan kejahatan dengan sifatnya yang mondial. namun amat disayangkan apabila unit ini bekerja tidak dilengkapi dengan perangkat legislasi anti cybercrime. Pemerintah Indonesia sedang melakukan suatu pendekatan evolusioner untuk mengatur kegiatan-kegiatan santun di cyberspace dengan memperluas pengertian-pengertian (ekstensif interpretasi) yang terdapat dalam Konsep KUHP Baru. Semua ini menjadi motif dan modus operandi yang amat menarik bagi para penjahat digital. Jaringan informasi global atau internet saat ini telah menjadi salah satu sarana untuk melakukan kejahatan baik domestik maupun internasional. akan tetapi diatur secara umum dalam RUU Teknologi Informasi dan RUU Telematika. Pembentukan unit kepolisian ini patut dipuji. 2002) Selain melakukan upaya dengan mengkriminalisasikan kegiatan di cyberspace dengan pendekatan global. akan tetapi juga akan mempengaruhi aspek kehidupan lain seperti agama. (Nugraha. artinya ketentuan cybercrime tidak dibuat dalam bentuk perundang-undangan tersendiri (khusus). Para hacker dan cracker bisa melakukannya lewat lintas negara (cross boundaries countries) bahkan di negaranegara berkembang (developing countries) aparat penegak hukum. Pihak kepolisian Indonesia telah membentuk suatu unit penanggulangan kejahatan mayantara dengan nama Cybercrime Unit yang berada di bawah kendali Direktrorat Reserse Kriminal Polri. khususnya kepolisian tidak mampu untuk menangkal dan menanggulangi disebabkan keterbatasan sumber daya manusia. . Harus diakui bahwa Indonesia belum mengadakan langkah-langkah yang cukup signifikan di bidang penegakan hukum (law enforcement) dalam upaya mengantisipasi kejahatan mayantara seperti dilakukan oleh negara-negara maju di Eropa dan Amerika Serikat. kecuali kejahatan mayantara yang bermotif pada kejahatan ekonomi/perbankan. sosial. Model yang digunakan adalah Umbrella Provision atau “undang-undang payung”. politik. Munculnya revolusi teknologi informasi dewasa ini dan masa depan tidak hanya membawa dampak pada perkembangan teknologi itu sendiri. internasional dan melampaui batas ataupun kedaulatan suatu negara.beragama dapat dijadikan benteng pertahanan bagi masyarakat untuk meminimalisasi pengaruh negatif dari dampak globalisasi dunia melalui teknologi informasi yang masuk dengan deras ke semua pelosok negeri di Indonesia.

Berikut pendapat responden tentang kemampuan Pemerintah dalam mendukung pemanfaatan globalisasi teknologi informasi terhadap budaya masyarakat di Kota Makassar yaitu sebagai berikut : . HASIL PEMBAHASAN Hasil penelitian yang digunakan dalam pelaksanaan ini untuk menganalisa faktor pendukung pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Dampak buruk teknologi yang disalahgunakan oleh orang-orang tidak bertanggungjawab menjadi masalah hukum pidana dan harus segera ditanggulangi melalui sarana penal yang dapat dilakukan oleh penegak hukum kepolisian. Konsep KUHP Baru sebelumnya tidak memperluas pengertian-pengertian yang terkait dengan kegiatan di cyberspace sebagai delik baru. Namun kemajuan teknologi membawa dampak buruk dalam kehidupan masyarakat berupa kejahatan mayantara sehingga harus diantisipasi dengan tersedianya perangkat hukum atau undang-undang yang tepat. Selain itupula dukungan kemampuan masyarakat untuk mengetahui perkembangan kebudayaan Kota Makassar juga berperan penting terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Mengingat kemajuan teknologi telah merambah ke pelosok dunia. termasuk kepedesaan di Indonesia. maka dampak buruk teknologi yang menjadi kejahatan mayantara pada masa depan harus ditanggulangi dengan lebih hati-hati. baik melalui sarana penal maupun non penal agar tidak menjadi masalah kejahatan besar bagi bangsa dan negara yang mengalami krisis ekonomi. Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat dewasa ini patut disyukuri sebagai hasil budaya manusia moderen. Sayangnya. karena telah menjadi “kebutuhan pokok” manusia moderen yang cenderung pada kemajuan dengan mempermudah kehidupan masyarakat melalui komunikasi dan memperoleh informasi baru. Seyogianya kemajuan teknologi menolong kehidupan masyarakat yang semakin kompleks. Data tersebut dikumpulka melalui pra survey dan survey lapangan (observasi langsung) dan wawancara mendalam (debt interview) dengan menggunakan pedoman wawancara. Namun perkembangan teknologi digital tidak akan dapat dihentikan oleh siapapun. Dampak buruk teknologi menjadi pekerjaan rumah bersama yang merupakan sisi gelap dari perkembangan teknologi yang harus ditanggulangi. Adapun hasil penelitian yang dilakukan terhadap obyek penelitian adalah sebagai berikut : Kemampuan Masyarakat dan Pemerintah Pemanfaatan globalisasi teknologi informasi dapat terlaksana dengan baik jika didukung oleh kemampuan pemerintah mendukung penggunaan teknologi informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. perangkat undang-undang belum tersedia sebagai sarana penal dalam menanggulanginya. Data primer diperoleh melalui penyebaran angket kepada beberapa responden dengan menggunakan angket (questioner).Artinya.

56 %) Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa pemerintah mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap perkembangan budaya masyarakat di Kota Makassar.Tabel 1 Pendapat Responden Tentang Kemampuan Pemerintah Dalam Mendukung Globalisasi Teknologii Informasi terhadap Kegiatan Kebudayaan Di Kota Makassar Frekuensi Persentase No Pendapat Responden (orang) (%) 1. . Tidak mendukung 6 9. Kurang mendukung 7 9. Hal ini dapat dilihat dari pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung kegiatan di Kota Makassar seperti pembuatan website Pemerintah Kota Makassar yang memuat tentang perkembangan sektor kebudayaan di KotaMakassar.52 Jumlah 63 100.52 4. Hal ini disebabkan masih kurang masyarakat yang membuka website-website yang memuat tentang perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Sangat Mampu 13 20. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban mendukung sebanyak 35 orang (55.81 2.46 Jumlah 63 100. Tidak Mampu 11 17. Mampu 10 15. Kurang Mampu 29 46. Berikut pendapat responden tentang kemampuan masyarakat menggunakan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan budaya masyarakat di Kota Makassar. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemerintah sebagai motivator dalam mendukung penggunaan teknologi informasi terhadap perkembangan budaya masyarakat di Kota Makassar.00 Sumber : Data Primer diolah November 2008 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa kemampuan pemerintah mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi budaya masyarakat Kota Makassar. yaitu sebagai berikut : Tabel 2 Pendapat Responden Tentang Kemampuan Masyarakat Menggunakan Teknologi Informasi Dalam Mendukung Kebudayaan Masyarakat di Kota Makassar Frekuensi Persentase No Pendapat Responden (orang) (%) 1. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban kurang mampu sebanyak 29 orang (46.87 3. Hal ini dapat dilihat dari fasilitas yang digunakan saat melakukan kegiatan kebudayaan seperti pameran-pameran kebudayaan ataupun memperkenalkan seni-seni budaya yang ada di Kota Makassar kepada dunia luar. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan Teknologi Informasi masih kurang.00 Sumber : Data Primer diolah November 2008 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa kemampuan pegawai di instansi Pemerintah Kota Makassar masih kurang dalam menggunakan software computer PC di setiap unit kerja.03 %).63 2. Sangat mendukung 15 23.03 4.56 3. Mendukung 35 55.

Hal ini dapat dilihat saat melakukan kegiatan kebudayaan Teknologi Informasi yang digunakan dapat digunakan baik oleh masyarakat maupun pihak. Tidak Berkualitas Jumlah Sumber : Data Primer diolah November 2008 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa kualitas fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung perkembangan budaya masyarakat di Kota Makassar kurang berkualitas. Hal ini dapat dilihat masih banyaknya masyarakat yang kurang memahami pemanfaatan globlalisasi Teknologi Informasi dari seluruh aspek kehidupan termasuk perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar selain menggunakan fasilitas yang dimiliki. Berikut pendapat responden tentang kualitas fasilitas Teknologi Informasi dalam mendukung perkembagan budaya masyarakat di Kota Makassar yaitu sebagai berikut : Tabel 3 Pendapat Responden Tentang Kualitas Sarana dan Prasarana Dalam Pemanfaatan Teknologi Informasi Terhadap Perkembagan Kebudayaan di Kota Makassar No Pendapat Responden Frekuensi (orang) 14 18 21 10 63 Persentase (%) 22.87 100. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa fasilitas yang digunakan dalam mendukung peningkatan kegiatan kebudayaan di Kota Makassar telah memadai dan memiliki kualitas yang cukup berkualitas. Berkualitas 3.58 33.Hasil pengamatan menunjukkan bahwa teknologi informasi yang digunakan dalam mendukung kebudayaan di Kota Makassar kurang maksimal.33 %). Kurang berkualitas 4. Berikut pendapat responden tentang kuantitas fasilitas yang dimiliki dalam mendukung penggunaan Teknologi Informasi yaitu sebagai berikut : . pihak Pemerintah Kota juga melakukan kerjasama dengan pihak penyediaan layanan Teknologi Informasi untuk mendukung kualitas fasilitas yang digunakan. Dukungan Fasilitas Teknologi Informasi Fasilitas teknologi informasi yang memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitas sangat dibutuhkan. Sangat Berkualitas 2. Karena dari 63 orang yang memberikan jawaban kurang berkualitas adalah 21 orang (33. Fasilitas yang memadai akan memberikan kemudahan kepada pengguna Teknologi Informasi untuk memperoleh data dan informasi.00 1.33 15. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa fasilitas yang digunakan dalam setiap kegiatan kebudayaan fasilitas yang digunakan cukup berkualitas.22 28. Demikianlah halnya penggunaan teknologi informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar memerlukan fasilitas yang memadai bai dari segi kualitas maupun kuantitas.

2.92 100.00 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar dari segi kuantitas masih kurang.98 36. 3. maka untuk mendukung kegiatan kebudayaan masih menyewa peralatan dari penyediaan layanan Teknologi Informasi. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar kurang baik. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar masih perlu mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Makassar.51 14. Frekuensi (orang) Sangat baik 4 Baik 7 Kurang Baik 21 Tidak Baik 15 Jumlah 63 Sumber : Dara primer diolah November 2008 Pendapat Responden Persentase (%) 8. 4. 3.89 44. Sikap dan Perilaku Masyarakat Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar perlu didukung sikap dan perilaku masyarakat dalam memahami Teknologi Informasi tersebut.51 19. 2.46 26.68 %).05 100. Hal ini disebabkan keterbatasan anggaran yang dimiliki untuk melakukan penambahan fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung perkembangan kebudayaan masyarakat di Kota Makassar kurang maksimal. Hal ini dapat dilihat saat melakukan kegiatan kebudayaan.Tabel 4 Pendapat Responden Tentang Fasilitas Teknologi Informasi Dari Segi Kuantitas Dalam Mendukung Kegiatan Kebudayaan di Kota Makassar No 1. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban kurang baik sebanyak 21 orang (44. Berikut pendapat responden tentang sikap dan perilaku masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar yaitu sebagai berikut : Tabel 5 Pendapat Responden Tentang Sikap Masyarakat Terhadap Penggunaan Teknologi Informasi Dalam Mendukung Perkembangan Budaya Masyarakat No 1.00 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa sikap masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan . Kurang memadainya fasilitas Teknologi Informasi yang digunakan dari segi jumlah masih sangat terbatas. Dukungan sikap dan perilaku masyarakat untuk mengetahui sejauh mana perkembangan kegiatan kebudayaan di Kota Makassar.68 31. 4. Pendapat Responden Frekuensi Sangat baik 11 Baik 17 Kurang Baik 23 Tidak Baik 12 Jumlah 63 Sumber : Dara primer diolah November 2008 Persentase 17.

Hal ini dapat dilihat dari sikap masyarakat untuk mengetahui perkembangan kebudayaan di Kota Makassar masih perlu mendapat perhatian dari pemerintah. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa sikap masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar masih kurang baik. Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban kurang baik sebanyak 23 orang (36.di Kota Makassar kurang baik. 3. Masyarakat kurang termotivasi tentang kegiatan kebudayaan masyarakat. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa sikap masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar memerlukan pemahaman dari masyarakat. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sikap masyarakat terhadap Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar masih kurang baik.29 20. . Karena dari 63 responden yang memberikan jawaban kurang memahami sebanyak 22 orang (34. Hal ini dapat dilihat dari keinginan dan animo masyarakat untuk mengetahui perkembangan kegiatan kebudayaan di Kota Makassar. Website yang memuat kegiatan kebudayaan di Kota Makassar sering mengalami gangguan atau dalam melakukan download file mengalami gangguan. Hal ini dapat dilihat dari sikap masyarakat untuk mengetahui perkembangan kegiatan kebudayaan di Kota Makassar masih perlu mendapat perhatian dari pemerintah.51 %). 3.93 %).00 Mengacu kepada jawaban responden tersebut terlihat bahwa sikap masyarakat dalam memahami Teknologi Informasi yang digunakan dalam mendukung kegiatan kebudayaan di Kota Makassar masih kurang memahami. Kurangnya keinginan tersebut disebabkan : 1.92 30. 2.16 100. Wawancara dengan informan diperoleh informasi bahwa sikap masyarakat terhadap penggunaan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar masih kurang baik. 4. kurangnya sosialisasi yang dilakukan Pemerintah Kota Makassar kepada masyarakat untuk memanfaatkan Teknologi Informasi dalam mengetahui perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Berikut pendapat responden tentang pemahaman masyarakat terhadap Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar yaitu sebagai berikut : Tabel 6 Pendapat Responden Tentang Pemahaman Masyarakat Terhadap TI Mendukung Perkembangan Budaya Masyarakat No 1. 2.63 34. Frekuensi (orang) Sangat memahami 9 Memahami 13 Kurang Memahami 22 Tidak memahami 19 Jumlah 63 Sumber : Dara primer diolah November 2008 Pendapat Responden Persentase (%) 14.

London. Kemampuan Pemerintah dan kemampuan masyarakat kurang mampu memberikan dukungan terhadap pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi dalam perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Hal ini disebabkan masih banyak masyarakat yang kurang mengerti dan memahami pentingnya Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. http://www. Third Way and Its Critics. Sikap dan perilaku masyarakat dalam memahami pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi kurang optimal. 1995 Sen. 3. http://www. yaitu : 1. Technology & Development. 2. 2000 Murray.PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan pembahasan di atas. The Standard of Living. Denise E. Fasilitas yang digunakan baik segi kualitas dan kuantitas kurang mampu mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. Oxford University Press. 1975 Sen. 9 Oktober 2000. 2. Employment. Knowledge Machine : Language & Information in a Technological Society. London: Harper Collins. Longman Publisher.com Edisi Juli-Agustus 2000. Khususnya kemampuan masyarakat dalam memahami pentingnya pemanfaatan Teknologi Informasi. Perlunya sosialisasi yang dilakukan pemerintah dalam mendukung peningkatan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan Teknologi Informasi dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan globalisasi Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar kurang optimal. Singapore.. Anthony. Daftar Bacaan Giddens.kontan-online.com/ di-Up load oleh: Anton Waspo . 1985 Lain-lain : Infokomputer. Polity Press. Cambridge University Press. Saran Adapun saran yang dapat diberikan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut : 1. India. Perlunya penambahan fasilitas yang memadai dalam mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap perkembangan kebudayaan di Kota Makassar.infokomputer. Hal ini dilihat dari beberapa faktor pendukung yang kurang terlaksana secara baik. Kenichi. Amartya. Sikap dan perilaku yang dimiliki oleh masyarakat dalam memanfaatkan Teknologi Informasi sangat penting dimiliki sehingga masyarakat dapat memanfaatkan Teknologi Informasi secara maksimal dalam mendukung perkembangan kebudayaan di Kota Makassar. 3. 1995 Ohmae.com/ Kontan On-line. Amartya. The End of The Nation State – The Rise of Regional Economies.

Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan dan wawancara mendalam (depth interview) serta mempelajari data sekunder. 4 Penulis adalah Peneliti Madya bidang Studi Komunikasi dan Media pada Pusat Litbang Aptel SKDI. Calon TKI sebagai pencari kerja juga biasanya mengingikan informasi yang dianggap menarik perhatian saja seperti mengenai adat istiadat dan agama. dan pencari kerja di loket diseminasi kartu kuning. sistem gaji dan uang lembur. Di masa yang akan datang. calon TKI sebagai pencari kerja cenderung menerima saja informasi yang disampaikan petugas atau sponsor. apakah diseminasi informasi online sudah berjalan ? Penelitian ini bersifat deskriptif dan menggunakan pendekatan kualitatif dengan fenomenologi realistik. Diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui online pernah dilakukan dengan menggunakan internet khususnya e mail dan browsing. Kata Kunci : Diseminasi Informasi Ketenagakerjaan. Dinas Tenaga Kerja Latar Belakang Masalah Keluhan pencari kerja. Sejauh ini belum banyak diteliti mengenai informasi apa yang selama ini diterima oleh pencari kerja baik yang bekerja di dalam negeri maupun calon TKI yang hendak berangkat ke luar negeri. perusahaan tempat kerja. Umumnya informasi tentang hak dan kewajiban TKI yang lengkap belum diterima pada saat pendaftaran dan proses rekrutmen calon TKI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua Dinas Tenaga Kerja tersebut telah melaksanakan diseminasi informasi ketenagakerjaan secara variatif melalui spanduk. Oleh karena itu. Di dalamnya diungkapkan apa saja yang dilaksanakan Dinas Tenaga Kerja sebagai institusi pemerintah di Daerah tersebut kepada pencari kerja. siaran televisi. khususnya di Kota Palangkaraya. kedua Dinas Tenaga Kerja itu disarankan menyediakan leaflet berisi informasi ketenagakerjaan seperti lowongan pekerjaan dan persyaratan pembuatan kartu kuning. Sikap ini terjadi karena kurang lengkap pengetahuan dan informasi yang dimilikinya mengenai hak dan kewajiban seorang TKI. perlu dibangun jaringan LAN ketenagakerjaan di antara instansi ketenagakerjaan yang terkait. serta penyampaian informasi secara langsung atau tatap muka. Informasi yang diperoleh pencari kerja di Tanah Air dari sumber informasi resmi masih amat terbatas tentang informasi lowongan pekerjaan. Di samping pemanfaatan internet. Wawancara menggunakan pedoman wawancara dengan nara sumber di Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dan di Kota Palangkarya. serta peraturan cuti kerja di negara tujuan.Diseminasi Informasi Ketenagakerjaan Pada Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan Kota Palangkaraya Oleh : Paraden Lucas Sidauruk4 Abstrak Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran bagaimana pelaksanaan diseminasi informasi ketenagakerjaan bagi pencari kerja di Provinsi Kalimantan Tengah. sebelumnya peneliti yang sama pada Pusat Pengembangan Literasi Departemen Komunikasi dan Informatika. Pencari Kerja. Semua aktivitas tersebut belum maksimal menjangkau khalayak pencari kerja. termasuk calon TKI mengenai informasi ketenagakerjaan belum banyak diungkapkan. buletin dan leaflet. tetapi sementara tidak dapat difungsikan karena hambatan dana. Jakarta .

Kurangnya informasi ketenagakerjaan membuat pencari kerja tidak melihat adanya alternatif atau kesempatan kerja lain. sumber informasi resmi di bidang ketenagakerjaan belum sepenuhnya melakukan diseminasi informasi ketenagakerjaan sebagai sutatu bentuk komunikasi yang benar-benar menjangkau khalayak pencari kerja. Sebagai pencari kerja mereka belum mendapatkan informasi ketenagakerjaan yang mencukupi untuk melamar pekerjaan atau menciptakan lapangan kerja baru. Apa saja yang dilaksanakan pemerintah untuk pencari kerja dalam diseminasi informasi ketenagakerjaan? 2. Di samping masalah informasi ketenagakerjaan itu. Kalimantan Tengah. Secara spesifik melalui studi ini dapat diketahui : 1. Untuk memutuskan apakah pencari kerja bekerja di luar negeri atau di dalam negeri dibutuhkan data dan informasi ketenagakerjaan yang memadai. Pelaksanaan diseminasi informasi ketenagakerjaan on line kepada pencari kerja. Dalam kenyataannya. Akibatnya. Berdasarkan pemikiran itu. perlu dijawab informasi apa yang disampaikan sumber informasi tersebut selama ini kepada stakeholder khusunya pencari kerja. Informasi apa yang disampaikan oleh pemerintah kepada pencari kerja ? Tujuan dan Manfaat Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran diseminasi informasi ketenagakerjaan bagi pencari kerja di Palangkarya. Komunikasi yang dilakukan oleh pemerintah dan perusahaan selama ini masih belum mampu memenuhi kebutuhan informasi ketenagakerjaan pencari kerja seperti juga terjadi di Palangkaraya. Provinsi Kalimantan Tengah. . yaitu : 1. Selain karena kurangnya sarana komunikasi. Apa yang diharapkan oleh khalayak pencari kerja tidak lain adalah agar mereka mendapatkan informasi ketenagakerjaan sesuai dengan kebutuhannya. 2. Pencari kerja ini menggunakan informasi itu dalam jumlah yang cukup untuk menghasilaan keputusan yang tepat. tiap pencari kerja berhak untuk mendapatkan informasi yang lengkap sesuai dengan kebutuhannya sehingga mereka bisa membuat keputusan yang tepat.Padahal semua informasi berkaitan dengan ketenagakerjaan itu merupakan hak seorang pencari kerja sebagai warganegara yang dijamin oleh Pasal 28 F UUD 1945 dan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Provinsi Kalimantan Tengah ?” Beberapa pertanyaan penelitian dapat diajukan.Oleh karena itu. Rumusan Masalah Masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : ”Bagaimana pelaksanaan diseminasi informasi ketenagakerjaan bagi pencari kerja di Kota Palangkaraya. Pemenuhan kebutuhan informasi ketenagakerjaan melalui diseminasi informasi yang efektif dapat memberdayakan pencari kerja sebagai warga negara. perlu penelitian mengenai pemerintah sebagai komunikator yang menangani ketenagakerjaan dalam diseminasi informasi ketenagakerjaan. juga sering dikeluhkan kurangnya kualitas sumber daya manusia yang menangani kegiatan diseminasi informasi tersebut. Apakah diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui on line telah dilaksanakan pemerintah kepada pencari kerja ? 3. Diseminasi informasi ketenagakerjaan yang dilaksanakan pemerintah untuk pencari kerja. Selain itu. tidak sedikit di antaranya berganti-ganti pekerjaan dalam waktu singkat. Banyak juga yang menganggap pekerjaan tertentu hanya sebagai batu loncatan seperti bekerja sebagai penjual (sales) atau bekerja di perusahaan atau instansi yang tidak sesuai dengan harapannya. tidak sedikit pula pencari kerja yang menerima tawaran suatu pekerjaan tanpa didasari pada keputusan yang matang.

Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkarya saran-saran penelitian ini dapat diterapkan untuk meningkatkan diseminasi infomasi ketenagakerjaan kepada pencari kerja. kata-kata dan kalimatnya (Wilbur Scramm. 1997 : 50) bahwa “information refers to the opportunity to reduce uncertainty”. Hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai referensi menambah khazanah pengetahuan mengenai diseminasi informasi. terutama dalam mempersiapkan implementasi Undang-undang Nomor 14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik.3. dan (2) dinilai jujur. Di samping itu. Terlebih lagi karena informasi berharga guna mengurangi ketidakpastian seperti dikemukakan dalam Shannon dalam Griffin. unsur komunikator (who). Proses . Dengan kekuasaan dimaksudkan sumber informasi mempunyai kewenangan di bidangnya secara resmi. Setidaknya. Dalam kaitannya dengan diseminasi informasi sebagai bentuk dan proses komunikasi. 1973 dalam Hamidi. Where. apabila syaratsyarat pesan yang baik itu dapat terpenuhi. Untuk itu. Rumus 5W & 1H yang dipakai dalam penyusunan berita ( Effendy. perlu dirancang agar pesan menarik perhatian. ’attractiveness’ (daya tarik) dan ’power’ (kekuasaan/kekuatan)” Credibility atau kredibilitas menunjuk pada suatu kondisi di mana si sumber dinilai punya pengetahuan. sehingga pihak penerima menjadi percaya bahwa pesan yang disampaikannya itu bersifat objektif” Lebih lanjut dikemukakannya. 1993 :72) meliputi Why. Who. keahlian. istilah. Harold D. Menurut Sasa Djuarsa dkk. Agar khalayak tertarik terhadap pesan yang disampaikan komunikator.. maka pesan tersebut hendaknya mudah dipahami baik bahasa. What. pesan (what) dan khalayak (whom) merupakan variabel penelitian yang penting dicermati dalam studi diseminasi informasi pada instasni pemerintah. atau pengalaman yang relevan dengan atau topik pesan yang disampaikannya. secara praktis dapat digunakan sebagai masukan dalam penyusunan/penyempurnaan kebijakan pelayanan atau diseminasi informasi pada Departemen Komunikasi dan Informatika. Pemerintah sebagai komunikator atau sumber informasi menyampaikan pesan (message) kepada khalayaknya. 2007 : 72-73) Informasi yang dikandung dalam pesan itu akan digunakan khalayak. Kerangka Pemikiran Tiap unsur komunikasi mempunyai perannya sendiri untuk mewujudkan proses komunikasi yang efektif. Ibnu Hamad (2007) mengatakan pembahasan lebih pada diseminasi informasi menggunakan 5W & 1H. sedikitnya ada tiga karakteristik dari sumber yang perlu diperhatikan yakni : ’credibility’ (kredibilitas). Komunikasi dapat berlangsung jika unsur-unsur yang menopangnya ada dan berperan sesuai dengan fungsinya masing-masing.. (1993 : 204) . When. Informasi yang disampaikan pemerintah kepada pencari kerja. Laswell dalam Wilbur Schramm (1963 :117) mengatakan ”a convenient way to describe an act of communication is to answer the following questions : who says what in which channel to whom with what effect ?” Schramm menunjukkan unsur-unsur yang menggambarkan suatu tindakan komunikasi. pentingnya pelaku (sumber) dalam suatu kegiatan. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kredibilitas komunikator adalah kekuasaan dan keahlian yang dimiliki sehingga menimbulkan kepercayaan di mata khalayak. Dalam hal ini. Bagi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dan Dinas Tenaga Kerja. punya integritas serta dipercayai oleh pihak komunikan (khalayak)” Dalam diseminasi informasi sebagai proses komunikasi yang efektif memerlukan pengemasan pesan sehingga menimbulkan kebutuhan bagi khalayak. Satu unsur saja tidak ada membuat komunikasi tidak berlangsung dengan baik. dan How dapat juga digunakan untuk diseminasi informasi. ”seorang komunikator akan berhasil dalam upaya persuasi yang dilakukannya apabilka ia (1) dipandang punya pengetahuan dan keahlian.

2004 : 230) Komunikator atau sumber informasi adalah unsur dalam proses komunikasi yang menyampaikan atau menyebarluaskan pesan atau informasi kepada khalayak. Pesan adalah data dan informasi ketenagakejaan yang disampaikan oleh pemerintah kepada pencari kerja.. hak dan kewajiban TKI. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya. Hal itu semakin jelas. Diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui online adalah diseminasi informasi ketenagakerjaan yang “terhubung secara langsung ke internet” (Jasmadi. dkk (1993 : 221) . kita seyogyanya berorientasi ke khalayak sasaran (audience oriented)” Sejalan dengan itu. khalayak dalam proses komunikasi yang dimaksud adalah pencari kerja yang juga pencari informasi. Dalam hubungannya dengan penelitian ini. dalam merancang suatu kegiatan komunikasi apakah melalui saluran kegiatan komunikasi personal atau melalui media massa. lowongan kerja. bukan yang dimaksudkan oleh pengirim. tetapi mempunyai pandangan terhadap pesan dan komunikator. Definisi Konseptual Diseminasi adalah penyebaran (of information) (John M Echols dan Hassan Shadily. Mereka aktif dan juga selektif. 1995. khalayak bukanlah merupakan sekumpulan dari indvidu-individu yang bersikap dan bertindak ’pasip’. Secara implisit mereka membutuhkan informasi ketenagakerjaan yang berguna untuk membantunya dalam mencari atau melamar pekerjaan. Dalam hal ini sebagai komunikator adalah instansi pemerintah.. John Fiske (2006 : 208) mengemukakan “khalayak memiliki sekumpulan kebutuhan yang dicari pemuasannya melalui media massa. Khalayak adalah unsur dalam proses komunikasi yang merupakan sasaran dari penyampaian pesan atau penerima informasi dari komunikator atau sumber informasi.. Karena itulah. cara lain dan relasi sosial”. Dalam hal inilah pentingnya pengetahuan dan informasi bagi khalayak sehingga dapat menentukan sikap yang tepat.. Menurut Sasa Djuarsa Sendjaja.. . Sebagai khalayak adalah pencari kerja baik pencari yang bekerja di dalam negeri maupun di luar negeri (calon TKI).. Khalayak ternyata tidak pasif dalam proses komunikasi. Unsur komunikasi lain adalah khalayak seringkali dipersepsikan sebagai unsur yang kurang penting karena dianggap sebagai orang bersikap pasif dan menerima saja apa yang disampaikan oleh komunikator. dan bahwa pesan adalah apa yang dibutuhkan oleh khalayak.pengambilan keputusan yang memberikan kepastian hanya mungkin jika tersedia informasi yang cukup. bahkan untuk membuka lapangan pekerjaan baru. Informasi ketenagakerjaan adalah informasi yang berkaitan dengan ketenagakerjaan seperti peraturan ketenagakerjaan. yakni Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dan Dinas Tenaga Kerja. Model ini mengasumsikan khalayak setidaknya sama aktifnya dengan pengirim. Diseminasi informasi ketenagakerjaan adalah suatu bentuk komunikasi yang menyampaikan atau menyebarkan informasi atau pesan mengenai ketenagakerjaan dari pemerintah sebagai komunikator kepada khalayak pencari kerja. 1979) Informasi adalah “data yang telah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam mengambil keputusan saat ini atau mendatang” (Gordon B Davis. Padahal khalayak sebagai sasaran juga memiliki sikap sendiri dalam berkomunikasi sesuai dengan kepentingan dan tujuannya. pencari kerja termasuk informasi TKI meliputi persyaratan dan prosedur bekerja di luar negeri.28). apalagi jika komunikatornya merupakan instansi pemerintah yang dianggap memiliki kredibilitas di bidangnya.

(Hamidi.” Selain melalui pengamatan atau observasi terhadap proses diseminasi informasi di lingkungan instansi pemerintah. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan fenomenologi. membuat teori” (Pawito. petugas loket pelayanan kartu kuning. GAMBARAN UMUM Geografi dan Demografi Provinsi Kalimantan Tengah Provinsi Kalimantan Tengah dibentuk berdasarkan Undang-Undang Darurat Nomor 10 tahun 1957 dengan ibukota Palangkaraya. maka dipilih Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkarya dengan alasan kota ini merupakan pusat kegiatan pemerintahan dan masyarakat. Oleh karena diseminasi informasi ketenagakerjaan langsung kepada pencari kerja melalui loket pengurusan kartu kuning hanya dilaksanakan oleh Dinas Tenaga Kerja Kabupaten / Kota. Dengan penelitian ini diharapkan dapat digambarkan proses diseminasi informasi dan jenis kebutuhan informasi khalayak pencari kerja. dan pencari kerja. Lokasi penelitian ditetapkan secara purposive yaitu Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Provinsi Kalimantan Tengah di Kota Palangkaraya dengan pertimbangan bahwa instansi pemerintah yang melayani informasi ketenagakerjaan di Provinsi Kalimantan Tengah terdapat di kota tersebut.Wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara yang disusun terlebih dahulu. Menurut Embree (1998 :333-343) dalam Pawito (2007 :58). Tertib dan Keterbukaan). logis dan rasional yang digunakan oleh peneliti ketika merencanakan. Metode Penelitian Metode penelitian merupakan seperangkat cara yang sistematik. 2007 : 44) Dalam hal ini salah satu varian fenomenologi yang digunakan adalah fenomelogi realistik. pengumpulan data lapangan juga dilakukan wawancara mendalam (depth interview).400 km2.Provinsi ini terletak di daerah khatulistiwa dengan iklim tropis yang lembab. menganalisis dan menyajikan data untuk menarik kesimpulan. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan melakukan reduksi data terlebih dahulu terhadap data yang masuk baik yang diperoleh melalui wawancara mendalam maupun catatan observasi di lapangan. Data kualitatif yang diperoleh dari jawaban narasumber dan hasil observasi yang benar-benar sesuai dengan tujuan penelitian berkesempatan untuk dianalisis. 2007 : 122). fenomenologi realistik lebih menekankan pada pengamatan serta penggambaran esensi-esensi yang bersifat umum. artinya tempat yang suci.Pencari kerja adalah setiap orang yang terdaftar di Kantor Dinas Tenaga Kerja Kota / Kabupaten untuk mencari atau melamar pekerjaan di dalam negeri maupun di luar negeri Kebutuhan informasi ketenagakerjaan adalah kebutuhan khalayak pencari kerja mengenai informasi ketenagakerjaan. Aman. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya. sedangkan data yang kurang relevan tidak dimasukkan dalam analisis. Satusatunya pemerintahan kota di provinsi ini adalah Palangkaraya dengan luas 2. Pendekatan kualitatif ”lebih dimaksudkan untuk memberikan gambaran atau pemahaman mengenai gejala (dari perspektif subjek atau aktor). mengumpulkan. panas . Mottonya adalah Kota Cantik (Terencana. Kategori data dibuat berdasarkan permasalahan penelitian dan data lapangan. termasuk kegiatan ketenagakerjaan di Kalimantan Tengah. Narasumber yang diwawancarai adalah pejabat Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dan Dinas Tenaga Kerja. mulia dan besar.

Ot-siang. perkebunan 6. Makassar.823 42.401 Sumber : Diolah dari Dinas Tenaga Kerja Pemprov.937.564 km2 terdiri dari hutan dan pertanahan lainnya 134. Sungai Kahayan. (Dinas Tenaga Kerja Pemprov. desa dan kelurahan 1. terutama tari-tarian antara lain Deder Ketingan.071 92. yang terdiri dari beberapa sub suku bangsa seperti Ngaju. Kesenian masyarakat Dayak. Pada tahun 2005 jumlah penduduk tercatat 1.066 7 Kab. Selain orang Dayak ada juga penduduk pendatang. Kaharingan.545 10 Kab. 2 25 km . Di seluruh Provinsi Kalimantan Tengah terdapat 30 bahasa daerah. Pulang Pisau 59.514 laki-laki dan 974. Kotawaringain Barat 106.003 41. sawah dan ladang 10. Mereka bermukim dalam komunitas–komunitas desa di sepanjang Sungai Barito.176 14 Kota Palangkaraya 91. Bugis.028. Lawangan. 1. Jawa. Sungai Kapuas.75 penduduk / km2.514 974. Seruyan 57.219 16. Barito Barat 58. tanggal 20-3-2008) Pada tahun 2006 jumlah penduduk Provinsi Kalimantan Tengah tercatat sebanyak 2. A.231 11 Kab.go.449 9 Kab. Sungai Mentaya dll.351 5 Kab. Dalam tiga tahun akan ada 126 desa dijadikan percontohan. 133-2008) Dalam publikasi yang diterbitkan oleh LIN. Barito Selatan 62. ”mulai tahun 2008-2010 Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mempunyai program Mamangun Mahaga Lewu (Membangun Menjaga Desa).id?web/id/KER 01/profil/kalteng/tanggal 25-4-2008) Secara administratif Provinsi Kalimantan Tengah terbagi atas 13 kabupaten. Arab dan China.i. Curah hujan terbanyak pada bulan-bulan Oktober sampai dengan Maret.259 2 Kab. (2001 : 43-44) dikemukakan bahwa penduduk asli Provinsi Kalimantan Tengah adalah suku bangsa Dayak.2001) dan (http://www.kalteng bps.448 63.961 13 Kab.861 jiwa dengan laju pertumbuhan 2.566 6 Kab. 2008a :2) Menurut Gubernur.028.887 Jumlah total penduduk 2.62 km2. Katingan dll. Kristen. Bahasa Dayak Ngaju sebagai bahasa lingufranca.124 175.887 perempuan dapat dilihat pada Tabel 1. dan Budha.24 km2 (BPS.957. Giring-giring.Gunung Mas 45.814 99. (2008a:2) No Kabupaten/Kota . Madura. Kalteng.36 % dan kepadatan 12.003.723 Jumlah 1.goid. Tabel 1 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kabupaten dan Kota (orang) Penduduk Laki-laki Perempuan 1 Kab. Lamandau 28.244.79 km2. (http://www. Sungai Katingan.513 27.744. Melayu.571 60.b. Kotawaringin Timur 165.025 12 Kab. Murung Raya 45.401 jiwa terdiri dari 1. permukiman dan bangunan lainnya 1. Ot Danum.377 55.089 42.637. Penduduk yang menganut agama Islam merupakan golongan terbesar. Ma’anyam. Katingan 69.383 8 Kab.003.697 3 Kab.357 dan 70 % di antaranya adalah desa” (Kompas.353 146.dengan suhu rata-rata 34 0 Celcius.132 50. Agama penduduk nya Islam. yaitu orang-orang Banjar. Sukamara 19.977 58. Kapuas 176. dan Kinyah Kamber.177 desa dan 122 kelurahan.455 4 Kab. bergaul dengan masyarakat setempat. Luas provinsi ini 153. 95 kecamatan. 1 kota. Barito Timur 43. Kalteng. Teras Nerang.

Tabel 1 menunjukkan tiga kabupaten dan kota Palangkaraya mempunyai jumlah penduduk yang tergolong besar. Berbeda dengan di perdesaan penduduk yang benar-benar tidak bekerja sama sekali sulit ditemukan. Tabel itu juga memperlihatkan jumlah penduduk laki-laki secara keseluruhan maupun per kabupaten lebih besar daripada jumlah penduduk perempuan.478 Penganggur 35.7 %)” (http://www. Setidaknya penduduk di perdesaan bisa menggarap lahan pertanian atau berkebun di tanahnya sendiri atau milik keluarganya sebagai mata pencaharian. Perusahaan dan mall di Kota Palangkaraya mulai menawarkan pekerjaan khusus untuk wanita sebagai sales promotion girls (SPG).280 954. jasa.360 Sisa Pencaker 2007 20.168 376. “Bertambahnya jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian menyebabkan angka pengangguran menurun secara signifikan. Pendapatan penduduk per kapita pada tahun 2006 mencapai Rp 9.670 46.690 82.423 Angkatan Kerja 614.337.7 %. Penyebaran penduduk masih belum merata di seluruh provinsi Kalimantan Tengah. sedangkan di kabupaten lainnya jumlah cukup kecil. Kabupaten Kapuas merupakan kabupaten terbesar dengan jumlah penduduknya 351. tetapi lebih terkonsentrasi di perkotaan.838 Kesempatan Kerja 578.Hal ini mendorong penduduk perdesaan pindah (urbanisasi) ke kota Palangkaraya sebagai pencari kerja baru.289 Sumber : Diolah dari Dinas Tenaga Kerja Pemprov.360 orang terdiri dari penganggur perempuan 46.180 jiwa.690 orang jauh lebih besar daripada jumlah penganggur lakilaki 35.558 340.asp.497 Bukan Angk. seperti perdagangan.590 872. Penduduk memilih bertempat tinggal di perkotaan karena faktor lapangan kerja sektor formal yang mulai berkembang. Kalteng. dan transportasi.8 % dan perempuan 13.Kerja 186. TNI/Polri dan karyawan perusahaan dan berwirausaha cukup tinggi. dan kabupaten Sukamara hanya berpenduduk 36. Keinginan untuk mendapatkan pekerjaan di kota mulai tumbuh di kalangan perempuan di perdesaan.7 %) turun menjadi 55.991.469 Sisa Lowongan 162 183 345 Bukan Tenaga Kerja 189. Angka yang disajikan itu merupakan jumlah penganggur yang tercatat secara resmi di Kantor Dinas Tenaga Kerja di Kabupaten/Kota se-Provinsi Kalimantan Tengah. Sektor pertanian dan perkebunan (berkebun sendiri) dan usaha mencari hasil hutan besar peranannya dalam menyerap tenaga kerja sehingga terkesan penduduk di Kalimantan Tengah. .kalteng. Data ini membuktikan bahwa daerah ini tidak bebas dari pengangguran meski wlayahnya amat luas untuk bisa digarap sebagai lahan pertanian.329 187. tercatat tingkat pengangguran sebesar 8. (2008a : 2) Jumlah pengangguran terbuka Agustus 2006 67.704 411. Tabel 2 Data Ketenagakerjaan di Provinsi Kalimantan Tengah ( orang) Uraian Laki-laki Perempuan Jumlah Tenaga Kerja 829.0 %) pada Pebruari 2007 atau turun 12. kecuali di Kota Palangkaraya.dengan laju pertumbuhan ekonomi tahun 2006 sebesar 5. Pemprov Kalteng.244 orang (5.6 % dengan jumlah penganggur laki-laki 5.631 orang (6.go.421 18. Umumnya penganggur tersebut berdomisili di perkotaan sebagai akibat dari banyaknya lulusan terdidik khususnya SLTA hingga sarjana. tanggal 25-4-2008). 2008a : 2-3) Pada Tabel 2 dapat dilihat jumlah penganggur sebesar 82.397 orang (1.id/ viewarticle. Berkaitan dengan kondisi ketenagakerjaan di provinsi ini.558 974.670 orang.048 38. Minat penduduk untuk bekerja sebagai pegawai negeri sipil.579 jiwa.585 598.84 %.888 293. terutama di perdesaan hampir tidak ada yang kelihatan menganggur secara total. (Dinas Tenaga Kerja.561.887 1.

“Pencari kerja yang tidak melaporkan atau tidak mendaftar ulang setelah terdaftar sebagai pencari kerja selama 6 bulan berturut-turut akan dihapuskan sebagai pencari kerja karena diangggap tidak memerlukan Diseminasi antar kerja lagi.469 orang.124 2. Pemprov Kalteng. dan jumlah pencari kerja yang lebih terkonsentrasi pada pekerjaan perkantoran di instansi pemerintah dan perusahaan swasta.Secara selayang pandang gambaran Kota Palangkaraya dalam beberapa hal seperti adat istiadat.30 % atau 13.51 km2 dengan jumlah penduduk pada tahun 2003 tercatat 168. 2008a : 8) Jumlah pencari kerja yang terdaftar di Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah berasal dari pencari kerja yang mengurus kartu kuning (AK1) di Kantor Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya di Palangkaraya dan Kantor Dinas Tenaga Kerja yang terdapat di tiga belas kabupaten se-Kalimantan Tengah.421 18. Kalteng. Bahkan sebagaimana dikemukakan sebelumnya. Jumlah pencari kerja berpendidikan tinggi D1-S3 ternyata cukup besar 34. sebagian besar 36.878 Jumlah 20. tetapi hanya mengolah dan merangkum data pencari kerja dalam publikasi Berita Pasar Kerja dan Lembar Informasi Ketenagakerjaan yang terbit tiap bulan seperti dapat dilihat pada Tabel 3.319 S1-S3 4. “Jumlah pencari kerja yang belum ditempatkan sampai dengan akhir bulan Desember 2007 sebanyak 38. (2008a :5) No 1 2 3 4 5 6 Data jumlah sisa pencari kerja atau pencaker hingga akhir tahun 2007 sebesar 38. terjadi pertambahan sebanyak 15. Kartu kuning yang digunakan untuk melengkapi persyaratan lamaran kerja hanya dapat diperoleh di kantor Dinas Tenaga Kerja Kota/Kabupaten melalui loket Diseminasi kartu kuning.345 jiwa dalam waktu lima tahun.wikipeda.048 38.677 7.104 11.307 SLTA 12. Di samping itu penghapusan sebagai pencari kerja dapat disebabkan karena permintaan sendiri.195 5. Luas kota ini 2678.764 orang atau 95. Jumlah para pencari kerja ini merupakan sisa yang tidak dapat disalurkan atau mendapat pekerjaan pada tahun 2007 dan mereka mencoba mendaftar kembali untuk mendapatkan kartu AK1 yang baru. suku bangsa.197 orang. tercatat 183.463 23. Pencari Kerja (Pencaker) Kantor Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah tidak melayani langsung pengurusan kartu kuning bagi pencari kerja. Kalteng. Tabel 3 Jumlah Pencari Kerja Menurut Tingkat Pendidikan di Kalimantan Tengah (orang) Tingkat Pendidikan Laki-Laki Perempuan Jumlah Tidak Tamat SD 67 24 91 SD 208 99 307 SLTP 717 590 1. (2008a : 5). (http://www.567 D1-D3/SM 3. Jadi.469 orang diperoleh dari hasil pendaftaran melalui kartu kuning (AK1) yang dikeluarkan oleh Kantor Dinas Tenaga Kerja Kota atau Kabupaten se Kalimantan Tengah. sebagai satu-satunya pemerintahan kota di Provinsi ini tampak karakteristik dan kemajuan perkotaan pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi.id. pindah wilayah.469 Sumber : Diolah dari Dinas Tenaga Kerja Pemprov.89 jiwa/km2.56 % merupakan tenaga terdidik mulai dari t amatan SLTA hingga kategori S1-S3” (Dinas Tenaga Kerja.794 jiwa. agama tidak berbeda jauh dari keadaan Provinsi Kalimantan Tengah.201 3. Pelamar yang hendak mencari .449 jiwa dan kepadatan 62. meninggaal dunia atau sudah mendapat pekerjaan” (Dinas Tenaga Kerja Pemprov. tanggal 28-4-2008) Jumlah penduduknya menurut Tabel 1.org/wki/kota Palangkaraya.

053 1.005 4. (2008a : 4) “ visi Gubernur Kalimantan Tengah Tahun 2005-2010 adalah ‘membuka Isolasi Menuju Kalimantan Tengah yang Sejahtera dan Bermanfaat’.Visi dan misi Gubernur Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah di bidang ketenagakerjaan merupakan dasar bagi penentuan visi dan misi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah.295 3.664 1. Untuk memahami dan melaksanakan visi. Karena tiap pencari kerja diharuskan mengisi Daftar Isian Pencari Kerja yang disediakan secara gratis.949 Tenaga Usaha Penjualan 1.929 3. dengan misi di bidang ketenagakerjaan ‘Membangun Balai Pendidikan dan Ketrampilan untuk Meningkatkan Kemampuan Mengembangkan Semangat Kewirausahaan dan Keahlian Berusaha Melalui Kerjasama Dengan Berbagai Pihak Termasuk Perguruan Tinggi’ Berdasarkan hal itu. (David Osborne dan Ted Gaebler.64 %). Program dan kebijakan mengenai diseminasi informasi ketenagakerjaan dibuat dalam rangka mencapai visi dan misi Dinas tersebut.560 38. seperti dapat dilihat pada Tabel 4 tampaknya jabatan sebagai tenaga produksi. Tabel 4 Jumlah Pencari Kerja Menurut Golongan Pokok Jabatan Pada Tahun 2007di Kalimantan Tengah (orang) No 1 2 3 4 5 6 7 Golongan Pokok Jabatan Laki-Laki Perempuan Profesional. yaitu “reinventing government”. dan pejabat pelaksana cukup banyak diminati ( 66.TNI.147 2. Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah Dengan paradigma baru di bidang pemerintahan dewasa ini.654 1.643 7.164 Tenaga Usaha Pertanian 2.818 3. Berdasarkan jumlah kartu yang dikeluarkan Dinas Tenaga Kerja Kota / Kabupaten itu dapat diketahui jumlah yang mendaftar sebagai pencari kerja.198 3.552 1.537 Tenaga Produksi 6.555 Jumlah 20. Keberhasilan sektor pendidikan melahirkan tenaga terdidik yang cukup besar di wilayah Kalimantan Tengah berpengaruh terhadap pilihan lapangan kerja.590 10.782 2. Pemprov Kalteng.469 Pelaksanaan Diseminasi Informasi Ketenagakerjaan 1. . pegawai. (2008a :5) Jumlah 7.Polri) dan perusahaan swasta diharuskan melampirkan kartu kuning (AK1) sebagai salah satu syarat. pekerjaan dan upah yang diinginkan pencari kerja.pekerjaan di kantor pemerintah (CPNS. Tiap organisasi di lingkungan birokrasi pemerintahan lebih digerakkan oleh misinya sehingga birokrasi mampu bertindak cepat dalam melayani masyarakatnya.979 Pejabat Pelaksana dan Tata Usaha 3. Dalam publikasi Dinas Tenaga Kerja. Orientasi pemerintah ditujukan kepada khalayaknya sebagai pelanggan yang harus dipenuhi kebutuhannya. misi dan tujuan organisasi pemerintahan tersebut diperlukan kesamaan persepsi semua pejabat. Kalteng. Identitas pribadi dan pas photo pencari kerja yang tercantum dalam formulir meliputi tentang pekerjaan sekarang. dan stakeholdernya.230 Tenaga Usaha Jasa 1. tujuan mencari kartu AK1.421 18.634 Kepemimpinan dan Ketatalaksanaan 1.048 Sumber : Diolah dari Dinas Tenaga Kerja Pemprov. Kecenderungan pilihan jenis pekerjaan yang favorit di masa yang akan datang bersifat manajerial di instansi pemerintah dan perusahaan swasta. Apabila diperhatikan jenis pekerjaan atau golongan pokok jabatan yang didaftar oleh pencari kerja yang belum ditempatkan (ybdi). dan Teknisi 4. tenaga profesional. 1998) termasuk kebutuhan informasi. Data pencari kerja yang diperoleh dari proses pengurusan kartu tersebut memuat jumlah pencari kerja dan jenis pekerjaan yang diinginkannya. peranan visi dan misi semakin penting dalam menjalankan organisasi pemerintahan.

Mewujukan pembangunan bidang ketenagakerjaan melalui perluasan lapangan kerja. Tingginya tingkat pengangguran golongan terdidik -minimal tamatan SLTA. dibentuk Seksi Informasi Ketenagakerjaan di bawah Sub Dinas Perencanaan dan Program. Pemprov Kalteng. Upaya pemerintah ditujukan untuk memperluas dan mengembankan kesempatan kerja. 2. 3. Salah satu indikator rendahnya pendayagunaan atau pemborosan sumber daya manusia adalah tingginya tingkat pengangguran . Sedangkan misinya adalah : 1. fungsi dan pekerjaan masing-masing. Basuniansyah. Program perluasan dan pengembangan kesempatan kerja 2. 3.di antaranya disebabkan faktor keberhasilan dunia pendidikan menciptakan tenaga terdidik lebih besar dari daya serap lapangan kerja untuk tenaga terdidik tersebut sehingga terjadi kelebihan penawaran tenaga terdidik (Dinas Tenaga Kerja. Mewujudkan peningkatan kualitas dan produktivitas angkatan kerja. Program perlindungan dan pengembangan kelembagaan. Program peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja. sehingga tiap sumber daya manusia yang terdidik dan telah mendapat pelatihan ketrampilan mendapat pekerjaan. Pembentukan Seksi Informasi Ketenagakerjaan dimaksudkan untuk melakukan diseminasi dan penyebaran informasi ketenagakerjaan.visi Dinas Tenaga Kerja ‘Mengurangi Tingkat Pengangguran dan Meningkatkan Kualitas Hubungan Industrial untuk Meningkatkan Produktivitas Tenaga Kerja’. Memperluas dan mengembangakan kesempatan kerja. (2008a : 5) Penganggur tersebut merupakan pencari kerja yang sebenarnya membutuhkan informasi ketenagakerjaan. Adanya pembagian tugas yang jelas tersebut tidak menghalangi satuan organisasi untuk menginformasikan hal-hal yang berkaitan dengan ketenagakerjaan. Walaupun demikian. kebijakan di bidang ketenagakerjaan pada dasarnya adalah mendayagunakan sepenuhnya sumber daya manusia yang telah dikembangkan melalui pelaksanaan program utama ketenagakerjaan. Sejalan dengan itu disusun Program Dinas tersebut meliputi : 1. termasuk informasi mengenai TKI di provinsi ini. pengusaha dan perlindungan tenaga kerja. Secara fungsional Seksi Informasi Ketenagakerjaan mempunyai tugas untuk melaksanakan diseminasi informasi ketenagakerjaan. Meningkatkan perlindungan dan pengembangan kelembagaan. penempatan tenaga kerja dan peningkatan kesempatan kerja di perkotaan dan perdesaan. Dalam hubungan itu. 3. Hal ini berarti fokus perhatian utama Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah adalah mengatasi pengangguran. salah satu tugas Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah yang didelegasikan kepada Seksi Informasi Ketenagakerjaan adalah melaksanakan kegiatan hubungan masyarakat . Tujuan Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah ditetapkan untuk : 1. Tingkat pengangguran di Kalimantan Tengah pada tahun 2006 sebesar 8. terutama tentang lowongan kerja yang tersedia di instansi dan perusahaan swasta.6 % merupakan yang tertinggi yang pernah dialami . tiap Sub Dinas dan Bagian Tata Usaha pada Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah dapat memberikan informasi mengenai tugas. Menciptakan hubungan industrial yang harmonis antara pekerja. Meningkatkan kualitas dan produktivitas tenaga kerja. Menurut Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah A. Oleh karena itu. ”Diseminasi informasi ketenagakerjaan terutama yang ditujukan kepada stakeholder dan masyarakat dianggap sebagai tugas yang penting dalam masyarakat informasi”. Untuk dapat melaksanakan diseminasi informasi ketenagakerjaan secara khusus. 2.

Kepala Seksi Informasi Ketenagakerjaan hanya dibantu oleh dua pegawai staf berpendidikan tamatan SLTA. Kegiatan diseminasi informasi ketenagakerjaan yang telah dilaksanakan selama ini secara rutin adalah membuat buletin Lembar Informasi Ketenagakerjaan yang diterbitkan tiap bulan. tahun 2004 5. Standarisasi dan Sertifikasi Tenaga Kerja 7. pembuatan spanduk bulan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja). tahun 2002. Menjadi TKI Meningkatkan Kesejahteraan 10. Tiga seksi lainnya pada Sub Dinas Perencanaan dan Program yang erat hubungannya dengan Seksi Informasi Ketenagakerjaan. Seksi Pelaporan dan Evaluasi 3. Leaflet tentang TKI tidak disampaikan kepada calon TKI maupun Perusahaan Jasa TKI/Pelaksana Penempatan TKI Swata. Seksi Perencanaan Tenaga Kerja Ketiga seksi tersebut senantiasa bekerja sama dengan Seksi Informasi Ketenagakerjaan. Kepala Seksi . Trafiking (Perdagangan) Perempuan dan Anak 9. Beberapa leaflet yang diterbitkan antara lain berjudul: 1. yaitu : 1. sejumlah leaflet dicetak dan diterbitkan oleh Seksi Informasi Ketenagakerjaan. Sub Dinas Perencanaan dan Program. Kerjasama antar satuan kerja di lingkungan Dinas terutama karena jumlah dan kualifikasi pegawai yang menangani amat terbatas. tahun 2004 3. Persyaratan Permohonan Izin Pemutusan Hubungan Kerja dan Prosedur Permohonan Banding. BPS. Sub Dinas Perencanaan dan Program. Di samping itu. RAN-PKTP (Rencana Aksi Nasional Penghapusasn Kekerasan Terhadap Perempuan) 8. secara internal Seksi Informasi Ketenagakerjaan merupakan supporting unit bagi Sub Dinas dan Bagian Tata Usaha. Jaminan Kecelakaan Kerja Program Jamsostek. dalam kegiatan penyebaran informasi ketenagakerjaan serti penyusunan dan penerbitan buletin dan leaflet. Lembar informasi ketenagakerjaan yang dijilid secara sederhana dengan tampilan sebagai buletin dapat bermanfaat bagi stakeholder atau pengguna karena isinya memuat informasi yang menggambarkan perkembangan pencari kerja. tahun 2004 4. Kesepakatan Kerjasama Pembangunan Ketenagakerjaan Lintas Kabupaten Kota Se Kalimantan Tengah. Visi dan Misi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. tetapi dalam hal tertentu seperti kegiatan sosialisasi dan pembuatan spanduk melibatkan seksi lain dan Bagian Tata Usaha.guna memperkenalkan ketenagakerjaan. Pada umumnya Diseminasi informasi ketenagakerjaan dilaksanakan sendiri oleh Seksi tersebut. Prosedur TKI Bekerja Ke Luar Negeri. juga diberikan secara selektif kepada pencari kerja atau petugas pemerintahan yang memintanya. Di samping produk berupa Lembar Informasi Ketenagakerjaan itu. tahun 2004 6. 2. Diseminasi informasi secara institusional di tingkat provinsi merupakan tugas dan tanggung jawab Seksi Informasi Ketenagakerjaan. Seksi Rencana dan Program 2. lowongan kerja dan pengangguran di Kalimantan Tengah selama satu bulan. Menurut Jahidin Siringo-ringo. Tata Cara Permintaan Jaminan Kecelakaan Kerja. Tuntutan pekerjaan menghendaki Seksi ini mampu memberikan dukungan terhadap seluruh satuan organisasi yang berada dalam Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. Leaflet dimaksudkan sebagai sarana komunikasi untuk memperkenalkan Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah sebagai institusi pemerintahan dan menyebarluaskan informasi atau peraturan ketenagakerjaan. Dinas Perhubungan. Leaflet yang berisi informasi ketenagakerjaan selain disebarkan di lingkungan instansi pemerintah seperti Bappeda.

Namun. Sumber daya manusia (SDM) yang menangani internet ini dilaksanakan oleh dua orang operator. Sosialiasi ini yang dimaksudkan untuk mengingatkan para pekerja agar lebih berhati-hati pada saat bekerja di bangunan-bangunan. Kampanye K3 yang dilakukan secara terus menerus diharapkan dapat menjadikan K3 sebagai budaya kerja sehingga para pekerja terhindar dari kecelakaan kerja. Internet bisa dioperasikan mulai bulan Mei sampai dengan Desember 2007. diseminasi informasi mengenai TKI belum dilaksanakan oleh Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. Karena perusahaan TKI ini belum operasional. Untung Surapati nomor 8 Kapuas. Menurut kedua operator. gedung-gedung dan tempat kerja lainnya. Pegawai yang dapat mengoperasikan internet sebagai sarana dalam kegiatan diseminasi informasi ketenagakerjaan online telah siap sejak Mei 2007. Fasilitas yang mendukung aktivitas ini tersedia dua komputer yang tersambung (link) dengan jaringan internet milik Telkom. Menurut Fauzi ” hal ini disebabkan belum ada (pencairan) dana tahun anggaran 2008 untuk membayar telepon”. Sub Dinas Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kerja. diterbitkan pula Laporan Berita Pasar Kerja berupa himpunan data yang berasal dari laporan Informasi Pasar Kerja (IPK) dari seluruh kantor Dinas Tenaga Kerja Kota dan Kabupaten se-Kalimantan Tengah. sejauh ini belum ada aktivitasnya”. Sebenarnya masalah internet ini tidak banyak berpengaruh terhadap kegiatan pelaporan ketenagakerjaan . Situs (website) Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah sendiri belum ada. Kampanye K3 ini penting bukan saja untuk setiap pekerja. Diseminasi informasi ketenagakerjaan dalam bulan K3 atau Keselamatan dan Kesehatan Kerja (12 Desember-12 Januari) dilaksanakan dengan kampanye K3 melalui pemasangan spanduk di pinggir jalan besar dan tempat strategis di kota-kota Kalimantan Tengah. Kegiatan diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui online ditempakan pada satu ruangan dengan Seksi Penyaluran dan Penempatan Tenaga Kerja. Laporan ini terbit tiap bulan merupakan ”salah satu kegiatan Proyek Pengembangan Perluasan Kesempatan Kerja (PPKK) Provinsi Kalimantan Tengah Tahun Anggaran 2007” Pembuatannya dikoordinasikan oleh Sub Dinas Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kerja. Dalam pelatihan diberikan mengoperasikan Windows dan cara membuka situs di internet” Sebelumnnya Maret-April 2007 komputer (Windows) dikirim dulu dan sebagai tindak lanjutnya mereka mengikuti pelatihan komputer itu. “di Kalimantan Tengah hanya terdapat satu perusahaan TKI yang baru berdiri berdasarkan izin tanggal 10 November 2007. di acara itu dikemukakan mengenai perkembangan dan masalah ketenagakerjaan di daerah ini Acara siaran televisi ini dianggap penting sebagai sarana komunikasi untuk menjangkau masyarakat di wilayah yang amat luas seperti Kalimantan Tengah. yaitu PT Titian Hidup Langgeng di Jalan Kol. Penyebaran informasi ketenagakerjaan melalui media massa khususnya siaran televisi dilakukan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. Selama ini calon TKI yang akan bekerja ke luar negeri berangkat melalui daerah Kalimantan Selatan. Di samping penyebaran informasi ketenagakerjaan sebagaimana dimuat dalam cakupan kegiatan Seksi Informasi Ketenagakerjaan itu. Wawancara dengan topik ketenagakerjaan dilaksanakan secara periodik ( 3 bulanan ) di TVRI. tetapi juga bagi perusahaan dan pemerintah sebagai penyedia kerja yang bertanggun jawab terhadap keselamatan dan kesehatan pekerjanya. mereka ”pernah mengikuti pelatihan operator dan mengoperasikan komputer online 3 hari yang dilaksanakan oleh Depnakertrans di Jakarta Mei 2007. Mahmud Fauzi dan Budi Ahmad Yani. Pada saat penelitian ini dilakukan internet keduanya untuk sementara waktu tidak bisa digunakan karena hambatan keuangan.Penyaluran dan Penempatan Tenaga Kerja.

Komunikasi data dengan menggunakan LAN masih merupakan tantangan bagi Dinas Tenaga Kerja Provinsi dan Dinas Tenaga Kerja kota dan kabupaten se-Kalimantan Tengah. Persyaratan pembuatan kartu kuning (AK1) dalam pengumuman 29 November 2006 adalah : 1.per orang masuk kas . pencaker sering hanya membawa ijazah terakhir” Ketidaklengkapan berkas fotocopy ijazah ini timbul karena pencari kerja baru mengetahui informasi persyaratan yang sebenarnya ketika membacanya di samping loket. 3. Selama ini penggunaan internet di Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah terbatas hanya untuk mencari ( browsing) dan mengirim (e-mail) informasi. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kota Palangkaraya Masalah pengangguran yang berkaitan erat dengan pencari kerja merupakan salah satu aspek ketenagakerjaan yang mendapatkan prioritas dalam program Dinas Tenaga Kerja baik di provinsi maupun di kota dan kabupaten. 2. “keluhan pencaker tidak ada. Petugas adalah pegawai dari Seksi Penempatan dan Perluasan Kerja yang ditempatkan di ruangan pembuatan kartu kuning. Sedangkan untuk mendapatkan informasi dan peraturan ketenagakerjaan terbaru sebagian dilakukan melalui browsing ke situs www. 2. Fotocopy KTP yang masih berlaku 1 lembar. Kedua fungsi internet itu belum dilaksanakan secara maksimal. internet tidak digunakan sebagai satu-satunya sarana pengiriman dan pencarian data dan informasi ketenagakerjaan.karena bukan andalan utama untuk mengirim data dan informasi ketenagakerjaan.000-an. Dinas Tenaga Kerja. Fotocopy ijazah SD s/d terakhir 1 lembar. Pengurusan kartu kuning di kota Palangkaraya mulai tanggal 1 Januari 2007 tidak dipungut biaya. Menurut Kepala Seksi Pelatihan dan Produktivitas Tenaga Kerja. Lilik. Sebagai langkah awal tiap pencari kerja diminta untuk mengisi formulir terlebih dahulu dan menyerahkan dokumen sesuai dengan persyaratan seperti tercantum pada pengumuman yang ditempel di samping loket.. Penggunaan browsing untuk mencari data dan informasi ketenagakerjaan masih terbatas sebagai pelengkap. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kota Palangkaraya. Karena itu. Menurut petugas kartu kuning. Kalimantan Tengah belum memakai fasilitas jaringan Local Area Network (LAN). Penggunaan cara manual dengan surat merupakan cara pengiriman yang utama. Kebijakan pembebasan biaya pembuatan kartu kuning dengan jelas tertera pada pengumuman yang ditempel di samping loket. Semua petugas bekerja berdasarkan petunjuk dan prosedur tetap pembuatan kartu kuning dan mendapatkan bimbingan dari Kepala Seksinya. Pada Dinas Tenaga Kerja. Setelah berkas selesai diproses.nakertrans. diseminasi informasi ketenagakerjaan dilaksanakan petugas secara langsung kepada pencari kerja melalui loket dari ruangan pelayanan kartu kuning bersamaan dengan proses pembuatan kartu tersebut. Demikian pula hubungan dengan stakeholder ketenagakerjaan di Palangkaraya. petugas kemudian memberikan kartu kuning melalui loket. Meskipun persyaratan ijazah yang dicantumkan dalam pengumuman cukup jelas. Pasfoto ukuran 3x4 cm 3 lembar. Untuk mengirim sebagian data dan informasi ketenagakerjaan ke Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Jakarta dikirim melalui e mail. Ruangan berukuran 3 x 4 meter ini digunakan untuk memproses dokumen pembuatan kartu kuning dan menyerahkan hasilnya kepada pencari kerja. mengingat penggunaannya masih baru dan lebih banyak dimaksudkan sebagai sarana pembelajaran teknologi informasi. go id di Jakarta. Selama 2002-2006 dipungut Rp 10. sering terjadi kekeliruan karena yang diserahkan pencari kerja hanya ijazah terakhir.000. Darwono “ jumlah pencaker tahun 2007 terdaftar 7.

karyawan perusahan itu menyampaikan persyaratan dan prosedur untuk mengisi lowongan yang tersedia diperusahaannya secara detail. Kedua pekerjaan itu dilakukan oleh petugas yang sama. ”Pencaker bertanya. prosedur dan syarat melamar perusahaan dan instansi pemerintah yang menawarkan pekerjaan. Dengan mendapatkan informasi ketenagakerjaan pencari kerja mengetahui apa yang seharusnya dilakukan untuk mempersiapkan dan melamar pekerjaan secara lengkap Ketika mengurus karu kuning pencari kerja sekaligus memperoleh informai ketenagakerjaan. Informasi mengenai lowongan pekerjaan secara lengkap dapat dibaca pada pengumuman dan karena itu tidak disampaikan lagi. Kebanyakan pencari kerja mengetahui adanya lowongan pekerjaan yang ditawarkan instansi dan perusahaan dari papan pengumuman tersebut. Kedua kebutuhan ini menyatu sehingga sukar untuk dipisahkan. informasi lowongan kerja. petugas memberikan informasi” kata Lilik. tapi dari teman-teman” Menurut keduanya diharapkan . Kebanyakan informasi yang disampaikan mengenai persyaratan kartu kuning. Komunikasi tidak dapat berlangsung lama sebab petugas amat sibuk melayani pencari kerja yang antre di depan loket. Akibatnya. Dengan seizin petugas. Oleh karena itu. kecuali ditanya oleh pencari kerja. ada pula karyawan dari perusahaan swasta yang aktif mencatat nama. Perusahaan yang demikian umumnya berasal dari perusahaan yang membutuhkan banyak karyawan sebagai agent atau tenaga survey. Komunikasi tatap muka terjadi antara petugas yang berada di dalam ruangan dengan pencari kerja yang berdiri di depan loket.bertentangan dengan ILO dan pencaker masih penganggur. tidak ada keleluasaan bagi pencari kerja untuk bertanya guna mendapatkan informasi yang lengkap.. Pada waktu yang sama petugas memberikan informasi dan juga menyeleksi berkas pembuatan kartu AK1. walaupun secara ekonomi cukup banyak punya mobil dan motor”.. Namun. Peranan loket tidak hanya untuk memasukkan berkas dan menyerahkan kartu kuning. Kadangkala beberapa karyawan perusahaan asuransi jiwa yang menempelkan pengumuman lowongan pekerjaan turut memberikan informasi kepada pelamar yang berminat lewat loket. tetapi di sana juga terjadi komunikasi antara petugas dengan pembuat kartu kuning yang tidak lain adalah pencari kerja. perlu petugas loket informasi yang fokus memberikan informasi” Untuk mendapatkan informasi ketenagakerjaan secara detail melalui loket tidak dimungkinkan karena tidak adanya petugas dan loket informasi. yaitu informasi yang berkaitan dengan pekerjaan yang dilamarnya. kebutuhan akan mendapatkan pekerjaan secara implisit di dalamnya ada kebutuhan informasi ketenagakerjaan atau sebaliknya. “informasi lowongan kerja diperoleh bukan dari Dinas Tenaga Kerja.Daerah. kegiatan diseminasi informasi dilakukan secara langsung atau tatap muka (face to face communication) dengan pencari kerja yang datang mendaftarkan diri di loket pembuatan kartu kuning. Keluhan yang sama dilontarkan oleh Nia (24 tahun). Para pencari kerja mendapat informasi dari petugas secara langsung atau mengetahuinya dari pengumuman yang ada di loket pelayanan kartu kuning. petugas wanita yang melayani pembuatan kartu kuning. seperti persyaratan pembuatan kartu kuning. Berdasarkan data pencari kerja itu perusahaan akan menawarkan informasi pekerjaan sebagai SPG melalui surat ke alamat masing-masing. Veronika (23 tahun) ”mau menanyakan kepada petugas yang sibuk tidak enak. Pencari kerja yang sedang mengurus kartu kuning dapat mendengarkan suara petugas melalui loket yang sama. Kebutuhan informasi mendesak dari tiap pencari kerja pada dasarnya sama. alamat dan pendidikan pencari kerja yang telah terdaftar di Buku Daftar Isian Pencari Kerja. Dalam pelayanan ini tidak ada petugas dan loket khusus yang menyampaikan informasi ketenagakerjaan. Menurut seorang pencari kerja yang mengurus kartu kuning. Peranan pengumuman ini sangat bermanfaat dalam diseminasi informasi lowongan pekerjaan. Kenyataannya.

Proses pembuatannya tiap dimulai dari Seksi Informasi Ketenagakerjaan dilanjutkan ke Sub Dinas Perencanaan dan Program hingga ditandatangani Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah sebagai penanggung jawab terakhir. Kegiatan pemberdayaan (empowering) tenaga kerja dan masyarakat melalui pelatihan ini secara tidak langsung melakukan diseminasi informasi dan motivasi kepada pesertanya. Terbitan lain dari Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah berupa laporan Berita Pasar Kerja yang memuat informasi pasar kerja (IPK) bulanan. 2008a :18). Dalam bab situasi umum diinformasikan tentang keadaan geografi dan demografi.Dinas ini juga memberikan informasi lowongan kerja dan loket pelayanan kartu kuning tidak di belakang kantor. Walaupun program pelatihan BLK cukup bermanfaat bagi tenaga kerja. tetapi ditempatkan di depan kantor supaya mudah diketahui. ”Lembar Informasi Ketenagakerjaan ini disusun sebagai sarana penyebaran informasi ketenagakerjaan dan keberhasilan bidang ketenagakerjaan yang dilaksanakan Dinas Tenaga Kerja Provisi Kalimantan Tengah” (Dinas Tenaga Kerja Pemprov Kalteng. PDRB dan pendapatan regional per kapita. Di samping diseminasi informasi langsung melalui loket kartu kuning. Jumlah kumulatif pencari kerja . penempatan/pengisian lowongan kerja dan (2) pelatihan dan produktivitas tenaga kerja. orientasinya ke PNS” Padahal peserta bukan saja mendapat informasi dan pengetahuan mengenai pelatihan yang diikutinya. lowongan kerja terdaftar/dihapuskan. misi. kebijakan ketenagakerjaan Dinas Tenaga Kerja Kalimantan Tengah. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya melaksanakan kegiatan pelatihan yang bermaksud meningkatkan kualitas tenaga kerja melalui Balai Latihan Kerja (BLK). Dinas Tenaga Kerja. lowongan yang terdaftar. dan penempatan tenaga kerja selama bulan itu. Sebagaimana yang tercantum di dalam buletin Lembar Informasi Ketenagakerjaan terdapat bab yang menerangkan situasi umum dan situasi khusus tentang informasi ketenagakerjaan informasi. Informasi yang Disampaikan Dinas Tenaga Kerja Provinsi dan Kota Salah satu penerbitan yang dimaksudkan sebagai sarana diseminasi informasi ketenagakerjaan untuk stakeholders adalah Lembar Informasi Ketenagakerjaan. tujuan. Secara implisit di dalam “Program Peningkatan dan Produktivitas Tenaga Kerja” terdapat informasi. yakni : 1. (3) hubungan industrial dan pengawasan ketenagakerjaan antara lain mengenai upah minimum provinsi. publikasi ini didistribusikan kepada seluruh Dinas Tenaga Kerja di kabupaten/kota se-Kalimantan Tengah. tetapi lebih esensial mengenai informasi ketersediaan lowongan pekerjaan. Apabila dilihat dari isi publikasinya dapat dikatakan buletin ini merupakan produk unggulan yang dikeluarkan oleh Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah. program. Informasi yang disampaikan umumnya mengenai informasi ketenagakerjaan yang dapat dipergunakan sebagai bahan masukan pengambilan kebijakan ketenagakerjaan di Kalimantan Tengah. pengetahuan dan motivasi yang diberikan kepada peserta pelatihan. Hal ini menggambarkan bahwa kebutuhan informasi ketenagakerjaan tidak hanya sebatas persyaratan pembuatan kartu kuning. Secara lebih rinci informasi yang dimuat di dalam terbitan tersebut. pasar kerja bulanan yang memuat tentang pencari kerja terdaftar. Sebagai sarana komunikasi yang lebih bersifat intern. Seperti dalam terbitan Berita Pasar Kerja periode bulan Desember 2007 terdapat informasi tentang jumlah pencari kerja yang terdaftar. dan visi. menurut Kepala BLK Drs Anden ”putra daerah tidak mau dilatih dibengkel / bubut. tetapi juga memperoleh sertifikat dan kesempatan penempatan sesuai dengan jenis pelatihan yang pernah diikutinya di BLK. penghapusan pencari kerja. 3. Di dalam bab situasi khusus tercantum mengenai (1) pembinaan dan penempatan tenaga kerja.

Informasi di dalam leaflet kebanyakan memuat informasi peraturan dan permasalahan ketenagakerjaan secara nasional. Diseminasi informasi ketenagakerjaan pada Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah belum banyak disampaikan kepada khalayak pencari kerja secara langsung. yaitu : 1. Informasi yang disampaikan petugas secara langsung di loket Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Kota Palangkaraya kebanyakan mengenai persyaratan pembuatan kartu kuning kepada pencari kerja yang datang sendiri di instansi tersebut.Selain itu. Sebagaimana telah dikemukakan. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya melalui loket pelayanan pembuatan kartu kuning. Informasi lowongan pekerjaan yang tersedia merupakan informasi yang cukup banyak didiseminasikan melalui pengumuman di loket pembuatan kartu AK1. Selain itu.2. ada juga leaflet yang bermaksud memperkenalkan visi dan misi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah sebagai instansi pemerintah di bidang ketenagakerjaan. Informasi tentang instansi Dinas Tenaga Kerja 2. 5. serta penghapusan kekerasan terhadap perempuan. pelatihan di BLK secara implisit menyampaikan pengetahuan dan ketrampilan kepada peserta yang mengikutinya. sedangkan kebanyakan penerbitan bulletin dan leaflet dikirim kepada Dinas Tenaga Kerja Kota dan Kabupaten di provinsi ini. Sejauh ini hanya diseminasi informasi K3 melalui spanduk yang ditujukan kepada tenaga kerja yang bekerja di kota-kota. Oleh karena itu. 6. 2. diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui spanduk dimaksudkan untuk memberitahukan pentingnya K3 bagi para pekerja. Kecuali itu. Diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui siaran TVRI kepada masyarakat luas masih minim. dan penyebaran informasi ketenagakerjaan melalui online tidak berfungsi. spanduk kampanye K3 tentu isinya mengenai keselamatan dan kesehatan kerja untuk pekerja. Diseminasi informasi ketenagakerjaan bagi pencari kerja secara langsung sebagian besar dilaksanakan pada Dinas Tenaga Kerja. diseminasi informasi lowongan pekerjaan . setidaknya dapat dikelompokan menjadi tiga jenis informasi ketenagakerjaan. Informasi tentang TKI dan perdagangan perempuan dan anak. 3. Demikan pula wawancara pada siaran TVRI mengetengahkan informasi mengenai perkembangan dan masalah ketenagakerjaan yang ditujukan kepada masyarakat luas. 3. Kesimpulan Berdasarkan uraian dalam pembahasan sebelumnya dapat ditarik beberapa butir kesimpulan berikut : 1. Informasi tentang peraturan ketenagakerjaan. 7. Pendaftaran pencari kerja Pencari kerja yang ditempatkan Pencari kerja yang dihapuskan Pencari kerja belum ditempatkan Lowongan permintaan tenaga kerja Lowongan yang dipenuhi Lowongan kerja yang belum dipenuhi Sarana diseminasi informasi ketenagakerjaan yang lebih ringkas dan praktis diterbitkan dalam bentuk leaflet. Diseminasi informasi mengenai persyaratan kartu tersebut disampaikan petugas kepada pencari kerja secara langsung (tatap muka) bersamaan dengan proses pembuatan kartu kuning. 8. 4. Apabila dilihat dari isi (pesan) di dalam leaflet.

Informasi yang disampaikan Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah kebanyakan berisi informasi ketenagakerjaan yang bersifat umum seperti informasi peraturan ketenagakerjaan. tetapi juga disediakan untuk pencari kerja melalui loket pelayanan kartu kuning di Dinas Kota/Kabupatense-Kalimantan Tengah. jumlah pencari kerja dan lowongan kerja. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya agar memanfaatkan loket pelayanan kartu kuning secara maksimal untuk diseminasi informasi ketenagakerjaan. Untuk memenuhi kebutuhan informasi khalayak pencari kerja. Informasi lowongan kerja agar tidak didominasi perusahaan swasta. Lembar Informasi Ketenagakerjaan. pengangguran. khususnya pencari kerja melalui pengumuman di loket 3. t. Palangkaraya . tetapi lebih khusus dan detail sehingga dapat dimanfaatkan oleh pencari kerja. Palangkaraya ________. Leaflet. DAFTAR PUSTAKA Davis. Leaflet.. Gordon B. sebaiknya Dinas Tenaga Kerja. Jakarta. Kerangka Dasar Sistem Informasi Manajemen..2008. Dinas Tenaga Kerja. Bulan Desember 2007. Umumnya kebutuhan informasi akan peraturan ketenagakerjaan bagi pencari kerja belum dapat dipenuhi oleh kedua Dinas Tenaga Kerja itu. Berita Pasar Kerja Bulan Desember 2007.disampaikan kepada masyarakat. Transparansi dan Keterbukaan Informasi Publik Undang-Undang Republik Indonesia Nonor 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik. Saran Dengan memperhatikan kesimpulan tersebut dapat disampaikan beberapa saran berikut : 1. perlu adanya petugas dan loket informasi ketenagakerjaan. Palangkaraya ________. RAN-PKTP. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. 3. Untuk itu. Pusat Pelayanan Informasi. Dinas Tenaga Kerja. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya sebagian besar menjawab kebutuhan informasi mengenai persyaratan pembuatan kartu kuning dan informasi lowongan pekerjaan dari sebagian kecil instansi pemerintah dan perusahaan swasta. Informasi ketenagakerjaan yang disampaikan Dinas Tenaga Kerja. 2. PT Pustaka Binaman Presindo. 2008. Penggunaan online melalui internet perlu difungsikan kembali dan di masa yang akan datang perlu dijajaki pemasangan jaringan Local Area Network. Jakarta.t.2008. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palangkaraya mendiseminasikan peraturan ketenagakerjaan dan lowongan kerja yang lebih luas melalui pengumuman yang terdapat di loket. tetapi diupayakan dari seluruh instansi pemerintah. Informasi ketenagakerjaan yang berkaitan dengan lowongan pekerjaan sebaiknya tidak bersifat umum.1995. Rencana Aksi Nasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan. Bagian I. Departemen Komunikasi dan Informatika.t. Palangkaraya ________. t. Diseminasi informasi ketenagakerjaan melalui leaflet yang diterbitkan Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah tentang peraturan ketenagakerjaan sebaiknya tidak hanya dikirimkan kepada Dinas Tenaga Kerja Kabupaten/Kota. Leaflet. Palangkaraya ________. Trafiking (Perdagangan) Perempuan dan Anak. 2002 Visi dan Misi Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kalimantan Tengah.

. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Palangkaraya. ”Gubernur Kalteng Dukung DPD Kembangkan Desa dengan Kearifan Lokal”. Penerbit PT Remaja Rosdakarya. 2004.1993. Pawito. Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja. Harold D.t. Rekapitulasi Pendaftaran Pencari Kerja. Standarisasi dan Sertifikasi Tenaga Kerja. Metode Penelitian dan Teori Komunikasi. 2006.1963. Sasa Djuarsa. Ibnu . 2008. Onong Uchjana. Palangkaraya ________.t. Claude dan Warren Weaver. New York. The McGraw-Hill Companies. PT Gramedia Effendy. 2006.. Lembaran. 1993. Kesepakatan Kerjasama Pembangunan Ketenagakerjaan Lintas Kabupaten Kota Se-Kalimantan Tengah. Sub Dinas Perencanaan dan Program. dkk. ”The Structure and Function of Communication in Society”. CV Nuansa Aulia . Leaflet.Dinas Tenaga Kerja. Deli Publising dan Penerbit Andi.t. Leaflet. University of Illinois Press. Jalasustra. Palangkaraya. Palangkaraya ________. Kamus Inggris-Indonesia. 2005. Echols. Menggunakan Fasilitas Internet. Urbana. Kompas. di Jakarta. t. 2007. Palangkaraya ________. Yogyakarta. LKIS Sendjaja. Cultural and Communication Studies : Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. Terjemahan Yosal Iriantara dan Idi Subandy Ibrahim. Pemerintah Kota Palangkaraya. Leaflet. Penempatan Pencari Kerja dan Penghapusan Pencari Kerja Menurut Kelompok Pendidikan Tahun 2006 dan Trahun 2007 . UMM Press Jasmadi. John. 2004. 2004. Pembahasan dan tanggapan(lisan) terhadap “Studi Diseminasi Informasi Peringatan Dini (Early Warning System) Untuk Permasalahan Lingkungan dan Bencana Alam” Seminar. Jakarta Seksi Informasi Ketenagakerjaan Sub Dinas Perencanaan dan Program. Teras A. Fiske. 2007. Yogyakarta. Jakarta. Himpunan PeundangUndangan Republik Indonesia Tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Di Luar Negeri. Tata Cara Permintaan Jaminan Kecelakaan Kerja. tanggal 11-12-2007 Hamidi. 2004. Hamad. 2008. 2005. Laswell. dalam Wilbur Schramm. Universitas Terbuka Shannon. Palangkaraya ________. Leaflet. Bandung. Jakarta. Leaflet. “Information Theory” dalam A First Look At Communication Theory. Transmigrasi dan Pemberdayaan Masyarakat. 1997. Bandung. Mass Communication. John M dan Hassan Shadily. Palangkaraya. Mewirausahakan Birokrasi Reinventing Government. 13 Maret. Inc Sekretariat Jenderal MPR RI. Yogyakarta.2007. Informasi Sosial Budaya. Jakarta Nerang. t. David dan Ted Gaebler. Penelitian Komunikasi Kualitatif. Leaflet.2001. PT Pustaka Binaman Presindo. Prosedur TKI Bekerja ke Luar Negeri. Pengantar Komunikasi. Dinamika Komunikasi. M. Malang. Menjadi TKI Meningkatkan Kesejahteraan.Third Edition. Lowongan Kerja. Osborne. Persyaratan Permohonan Izin Pemutusan Hubungan Kerja dan Prosedur Permohonan Banding. t. 1998. Lembaga Informasi Nasional (LIN). Tim Redaksi Nuansa Aulia.1979. Palangkaraya ________. Jakarta.

kalteng. tanggal 25-4-2008) .b.go.go.id/ viewarticle. tanggal 20-3-2008) (http://www.goid.asp.Internet : (http://www.kalteng bps.i.id?web/id/KER01/profil/kalteng/tanggal 25-4-2008) (http://www.

2 Agustus 2009 TINGKAT LITERASI KOMPUTER MASYARAKAT DESA PARDOMUAN –I KECAMATAN PANGURURAN KABUPATEN SAMOSIR PROVINSI SUMATERA UTARA Oleh : Burhanuddin Panjaitan. Volume 10 No. Dibanding dengan teknologi informasi lainnya. perkembangan komputer berjalan dengan sangat pesat karena memiliki kelebihan dan kemudahan dalam pemanfaatannya. karena beragam konsekuensi/implikasi yang bisa muncul dari perkembangan ini. Jika beberapa waktu lampau “kemampuan membaca” merupakan kemampuan dasar yang penting bagi kemajuan masyarakat. khususnya para pembuat kebijakan. termasuk komputer diakui sebagai salah satu “lompatan teknologi” yang telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia dewasa ini dan menjadi salah satu kunci perkembangan masa depan. 5 Penulis adalah Peneliti Madya Pada Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BBPPKI) Medan . SH5 Abstrak Teknologi informasi telah memperluas komunikasi yang dilakukan oleh manusia dengan perkembangannya saat ini telah merambah sampai ke pelosok perdesaan. memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi. Sehubungan dengan itu penelitian ini dilakukan dengan pendekatan deskriptif dengan menentukan sampelnya sebanyak 75 orang responden. Kesiapan manusia/masyarakat dalam menyongsong era informasi/digital menjadi salah satu perhatian banyak pihak. Dalam hal ini teknologi informasi yang berkembang dan penggunaannya meningkat dengan pesat adalah komputer. Mengacu kepada hasil penelitian yang dilakukan mengenai tingkat literasi komputer masyarakat Desa Pardomuan –I Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Provinsi Sumatera Utara bahwa komputer dinilai penting dan disukai. termasuk memproses. menyimpan. Komputer adalah alat yang digunakan untuk mengolah data. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. sehingga dapat menumbuhkan minat masyarakat untuk belajar mengetahui penggunaan komputer. Kata kunci : Literasi Komputer. Masyarakat Perdesaan. mendapatkan.II. menyusun. Kemampuan dalam memanfaatkan komputer merupakan salah satu indikator yang kini dinilai makin penting. maka hal ini dinilai sebagai ukuran yang tak lagi memadai.

aplikasi. dan yang lainnya lagi yang berbasis elektronika (Wardiana. jaringan internet dan berbagai media elektronik. berbelanja ataupun melakukan kegiatan perdagangan (http://www. yaitu peradaban dimana informasi sudah menjadi komoditas utama. menjalankan pemerintahan. belajar. seperti e-commerce. Untuk itu guna menuju transformasi masyarakat menuju masyarakat informasi dan masyarakat berbasis pengetahuan. komputer.itb. Latar Belakang Masalah Sebagaimana diketahui. telah menggeser cara manusia bekerja. termasuk memproses. dan konektivitas/akses) yang handal. televisi. dan regulasi (peraturan) yang mendukung. RSY. termasuk komputer diakui sebagai salah satu “lompatan teknologi” yang telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan . kehidupan seperti ini dikenal dengan e-life. Kemajuan Teknologi Informasi saat ini.id). disimpulkan serta dapat dikirimkan tanpa lagi mengenal batas-batas geografis suatu negara. Kusumastuti pada acara pembukaan Diklat Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk kalangan aparatur negara yang diselenggarakan di Jakarta. mendapatkan. demikian antara lain sambutan tertulis Menkominfo yang disampaikan oleh Deputi Bidang SDM Kominfo Ir. mengelola perusahaan. e-biodiversity. Mengapa demikian. memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi. Ketersediaan informasi yang dapat diakses secara “Instant” melalui telepon. perkembangan teknologi informasi memacu suatu cara baru dalam kehidupan manusia. telah menimbulkan banyak perubahan mendasar dalam kehidupan manusia. Ternyata ada korelasi yang positif antara keduanya. atas kerja sama Depkominfo dan Japan International Cooperation Agency. e-education. Selain itu. Hal ini seringkali disebut sebagai era globalisasi ataupun revolusi informasi. Dibanding dengan teknologi informasi lainnya. Bahkan dalam sebuah papernya. artinya semakin tinggi tingkat literasi sebuah masyarakat semakin tinggi pula harapan hidupnya (Isnaini). emedicine. dari kehidupan dimulai sampai dengan berakhir. menghasilkan tidak hanya sebuah perangkat baru. Komputer adalah alat yang digunakan untuk mengolah data. Fasli Jalal dan Nina Sardjunani menghubungkan antara tingkat literasi dengan harapan hidup masyarakat. dicari. perkembangan komputer berjalan dengan sangat pesat karena memiliki kelebihan dan kemudahan dalam pemanfaatannya. karena elektronik bertindak sebagai perantara atau media yang membawa atau menyuarakan informasi dari pengirim ke penerima. e-government. e-library. menyusun. tidak saja membutuhkan infrastruktur (hardware.A. artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan secara elektronik.Ippm.ac. untuk menggambarkan betapa mudahnya berbagai jenis informasi dapat diakses. e-laboratory. menyimpan. Dan sekarang ini. Seperti telah diungkapkan di atas. Teknologi informasi telah memperluas komunikasi yang dilakukan oleh manusia dengan perkembangannya saat ini telah merambah sampai ke pelosok perdesaan. 2002). eletronik secara tidak langsung mempunyai peran strategis dalam mengembangkan masyarakat informasi. Dalam hal ini teknologi informasi yang berkembang dan penggunaannya meningkat dengan pesat adalah komputer. software. sedang semarak dengan berbagai huruf yang dimulai dengan awalan e. e-journal. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. dan interaksi antar manusia sudah berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Adanya kemajuan teknologi informasi yang digabungkan dengan pendekatan berbagai perangkat keras dan lunak. peradaban masa depan adalah masyarakat informasi (information society). tetapi juga teknologi baru yang diperluas sampai batas optimalnya. tetapi juga sumber daya manusia (SDM) atau brainware dengan tingkat literasi (melek) media yang memadai dan kemampuan mengeksplorasi konten (literasi informasi) untuk menciptakan kemakmuran.

B. Tinjauan Teori Secara umum untuk menggambarkan kondisi Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang telematika dapat diketahui dari tingkat kesadaran. masih belum dapat diakses secara cepat dengan teknologi informasi dalam hal ini seperti komputer apalagi Internet. maka hal ini dinilai sebagai ukuran yang tak lagi memadai. Kesiapan manusia/masyarakat dalam menyongsong era informasi/digital menjadi salah satu perhatian banyak pihak. D. Kegunaan Penelitian Secara teoritis. Sesuai dengan kenyataan yang ada.manusia dewasa ini dan menjadi salah satu kunci perkembangan masa depan. pariwisata. bahkan masih dijumpai kegiatan surat-menyurat dilakukan secara manual. Untuk mengatasi kesenjangan ini. perlu dilakukan penelitian yang diharapkan dapat mengidentifikasi tingkat pemanfaatan teknologi informasi khususnya komputer dan menemukan gagasan-gagasan yang kontekstual untuk menentukan kebijakan yaitu melalui sebuah pengkajian dan penelitian. Tujuan dan Kegunaan Tujuan Penelitian. Literacy dalam kamus bahasa inggris. diartikan sebagai “the . b) Untuk mengetahui faktor-faktor apakah yang menjadi pendorong/pendukung bagi masyarakat Desa Pardomuan–I Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir dalam menggunakan komputer. hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan menjadi referensi dalam penelitian selanjutnya dibidang teknologi informasi khususnya komputer. pemahaman dan pendayagunaan ICT yang disebut e-literacy. khususnya para pembuat kebijakan. karena beragam konsekuensi/implikasi yang bisa muncul dari perkembangan ini. pendidikan. khususnya dalam hal pemanfaatan teknologi informasi komputer untuk kepentingan publik. Jika beberapa waktu lampau “kemampuan membaca” merupakan kemampuan dasar yang penting bagi kemajuan masyakat. c) Untuk mengetahui faktor-faktor apakah yang menjadi penghambat bagi masyarakat Desa Pardomuan-I Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir dalam menggunakan komputer. Secara praktis. a) Untuk mengetahui bagaimana tingkat literasi komputer pada masyarakat Desa Pardomuan-I Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir. Permasalahan a) Bagaimana tingkat literasi komputer pada masyarakat Desa Pardomuan-I Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir ? b) Faktor-faktor apakah yang menjadi pendorong/pendukung bagi masyarakat Desa Pardomuan-I Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir dalam menggunakan komputer ? c) Faktor-faktor apakah yang menjadi penghambat bagi masyarakat Desa Pardomuan-I Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir dalam menggunakan komputer ? C. Kemampuan dalam memanfaatkan komputer merupakan salah satu indikator yang kini dinilai makin penting. di Kabupaten Samosir pemanfaatan teknologi informasi masih sangat terbatas. kesehatan. pasar. Informasi-informasi menyangkut pertanian. hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan masukan untuk kebijakan pemerintah pusat maupun daerah.

berdasarkan konsep atau teori Personal-Capability Maturity Model (P-CMM). Persuasi : menentukan sikap suka atau tidak sukanya terhadap inovasi. (d) diantara para anggota suatu sistem sosial. dan telah melibatkan teknologi informasi maupun komunikasi untuk mencarinya. 3. 4. dan secara langsung maupun tidak langsung telah mewarnai perilaku dan budaya hidupnya (bagian dari information society atau manusia berbudaya informasi). melek internet. Dalam bidang yang terkait dengan telematika. . Level 5 Selanjutnya teori yang juga dapat dijadikan acuan adalah teori Difusi Inovasi. Konfirmasi : mencari penguat bagi keputusan yang telah diambil sebelumnya. dalam penyebaran suatu inovasi baru. (c) dalam jangka waktu tertentu. melek teknologi. Level 3 Jika seorang individu telah memiliki standard penguasaan dan pemahaman terhadap informasi maupun teknologi yang diperlukannya. dan secara konsisten mempergunakan standard tersebut sebagai acuan penyelenggaraan aktivitasnya sehari-hari. ada 4 tahap keputusan seorang individu dalam peneeyebarserapan inovasi baru yaitu : 1. level e-literacy seseorang dapat digambarkan sebagai berikut : Level 0 Seorang individu sama sekali tidak tahu dan tidak perduli akan pentingnya informasi dan teknologi untuk kehidupan sehari-hari Level 1 Jika seorang individu pernah memiliki pengalaman satu dua kali dimana informasi merupakan sebuah komponen penting untuk pencapaian keinginan dan pemecahan masalah. Level 2 Jika seorang individu telah berkali-kali menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu aktivitasnya sehari-hari dan telah memiliki pola keberulangan dalam penggunaannya. melek komputer. Pengetahuan : mengetahui adanya inovasi dan memiliki pengertian bagaimana inovasi tersebut berfungsi. Keputusan : terlibat dalam kegiatan yang membawa seseorang pada situasi memilih apakah menerima atau menolak inovasi. (b) dikomunikasikan melalui satu saluran tertentu. Level 4 Jika seorang individu telah sanggup meningkatkan secara signifikan (dapat dinyatakan secara kuantitatif) kinerja aktivitas kehidupannya sehari-hari melalui pemanfaatan informasi dan teknologi Jika seorang individu telah menganggap informasi sebagai bagian tidak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari. Menurut teori ini.ability to read and write” atau kemampuan untuk membaca dan menulis. 2. ada beberapa jenis literacy atau kadar melek seseorang. Bahkan dikatakan oleh Rogers dan Shoemaker. Menurut Rogers (1995). terdapat unsur-unsur (a) suatu inovasi. Gambaran e-literacy secara konseptual dapat dikategorikan dalam enam kategori. Teori difusi inovasi termasuk kedalam pengertian komunikasi secara luas dalam mengubah masyarakat melalui penyebarserapan ide-ide dan hal-hal yang baru. yaitu melek informasi. Dalam bahasa Indonesia bisa disebut dengan kata “melek”.

Dalam metode survei. Adapun yang termasuk kedalamnya adalah : usia. Kerangka Konsep Kerangka konsep adalah abstraksi mengenai suatu fenomena yang dirumuskan atas dasar generalisasi dari sejumlah karaktersitik kejadian ke dalam kelompok atau individu tersebut (Singarimbun. Kemampuan untuk dicoba : sejauhmana inovasi tersebut mungkin dapat dicobakan dengan kemampuan yang terbatas. . kesesuaian. adapun konsep-konsep dalam penelitian ini dapat dibedakan menjadi beberapa variabel. yaitu: 1. pendapatan. Kemampuan dapat dilihat : maksudnya adalah sejauhmana hasil-hasil dari inovasi tersebut dapat dilihat oleh orang lain dalam waktu cepat. 5. 1998:24). Kesesuaian : sejauhmana inovasi tersebut konsisten terhadap nilai-nilai yang ada. F. Variabel Efek. keputusan dan konfirmasi.Selanjutnya Rogers (1995 : 15-16) menegaskan bahwa ada beberapa karakteristik yang mempengaruhi tingkat adopsi inovasi tersebut. Dimana variabel anteseden ini akan membedakan antara satu karakter individu dengan individu lainnya. mampu dicobakan. E. Jenis Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan metode survei yang bertujuan mengumpulkan dan menggali sejumlah besar data untuk dianalisis selanjutnya. Variabel Penerima. Maksudnya adalah sejauhmana tingkat penerimaan suatu individu dalam masyarakat terhadap internet dan kemampuannya dalam menguasai internet tersebut. 3. Adapun yang termasuk kedalamnya adalah keuntungan relatif. Metode Penelitian 1. Variabel anteseden ini terdiri dari data sosiodemografis dan psikologis masyarakat. tingkat kerumitannya. 4. 3. Variabel Media. pendidikan. Keuntungan relatif : maksudnya adalah sejauhmana inovasi tersebut dipandang lebih baik dan memberikan keuntungan bagi penggunanya dari teknologi sebelumnya. persuasi. Berdasarkan kerangka teoritis di atas. Variabel media adalah sejauhmana terpaan media internet (adopsi inovasi) mampu diterima oleh individu dalam masyarakat. Kerumitan : maksudnya adalah sejauhmana inovasi tersebut dipandang sulit untuk dimengerti atau digunakan oleh penggunanya. yaitu : 1. Yang termasuk kedalamnya adalah tingkat pengetahuan. jenis kelamin. pekerjaan. Maksudnya adalah sejauhmana tingkat penguasaan individu dalam masyarakat dengan menggunakan internet. 2. minat akan informasi dan teknologi internet. Variabel Anteseden Variabel Penerima Variabel Media Terpaan Internet Internet Variabel Efek Pemanfaatan dan Psikologis Sosiodemografis Dimensi Inovasi G. Model Teoritis. Ini dapat dilihat dari tingkat atau level e-literacy. 4. dan mampu dilihat hasilnya. 2. Variabel Anteseden.

maka analisis penelitian ini dilakukan dengan pendekatan deskriptif kuantitatif didukung dengan data kualitatif yang diperoleh melalui indepth-interview. Jadi sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 75 orang responden. maka untuk menentukan besarnya sampel.dilakukan juga prasurvey sebagai eksperimen untuk melihat kelayakan penelitian tersebut untuk dilanjutkan. Sehingga margin error dalam penelitian ini yang dapat diterima 3/100 x 10 = 0. 5. b. penduduk Desa Pardomuan – I Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Propinsi Sumatera Utara. . Populasi dan Sampel a. Propinsi Sumatera Utara yang merupakan bagian dari wilayah kerja BBPPKI Medan. (1. 2003 . Populasi Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang mengenal atau mengerti komputer. Lokasi Penelitian Penelitian ini memilih lokasi penelitian di Kabupaten Samosir. peneliti menggunakan formula Cochram (dalam Lubis. baik dari kepustakaan maupun dari sumber-sumber lain yang berhubungan dengan penelitian ini.30 n = (1. interval kesalahan pada data adalah sebesar 10% dan untuk data kontiniu sebesar 3%. 72) dengan rumus sebagai berikut : n0 = (t)2 . menyatakan bahwa secara umum dalam penelitian. 2. b.96)2 .96 s = estimasi standard deviasi populasi 1. wawancara dan penyebaran kuesioner. 3.4 dibulatkan menjadi 75. Metode Pengumpulan Data Dalam melaksanakan penelitian ini. 4. (s)2 (d)2 Keterangan : no = ukuran sampel standard Cochram t = nilai persentil t = 1. Field Research (Penelitian Lapangan).30)2 = 75. 2003 . Penentuan daerah ini menjadi lokasi penelitian adalah dengan pertimbangan bahwa Pemerintah telah membangun “Kampung Digital” di Kabupaten Samosir. Propinsi Sumatera Utara. akan dilakukan pengumpulan data melalui: a.25)2 (0. Library Research (Penelitian Kepustakaan). dimana data lapangan yang diperoleh melalui daftar pertanyaan dikoding dan ditabulasi untuk mendapatkan tendensi dengan persentase.25 d = interval kesalahan (margin of error) Menurut Lubis. Metode Analisis Data Sesuai dengan sifat dan tujuannya. Sampel Berhubung besarnya jumlah populasi yang mengenal atau mengerti komputer di desa Pardomuan – I tidak diketahui. Ini dilakukan dengan menghimpun data dari berbagai literatur. Yaitu mengumpulkan data dengan cara menghimpun data secara langsung di daerah lokasi yang diteliti dan direkam melalui observasi.

Gambaran Umum Lokasi Penelitian. Luas wilayah Desa Pardomuan I adalah 2.73 100.513 yang terdiri dari 1.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban. Tabel – 1 Minat Responden Terhadap TI (Komputer) Keterangan F Sangat berminat 25 Berminat 31 Kurang berminat 19 Tidak berminat Jumlah 75 % 33.73 %. Jarak kantor Kepala Desa Pardomuan I ke Ibukota Kabupaten adalah sejauh 1 km dengan menggunakan roda dua atau roda empat. 2. dan 1. No 1. sedangkan jumlah banyaknya rumahtangga sebesar 712 rumahtangga.695 orang laki-laki.34 41. I.33 %. tentang jumlah responden yang pernah mendengar komputer sebagaimana dapat diketahui bahwa responden yang menjawab pernah mendengar dan tahu menggunakannya dalam penelitian ini yaitu dengan jumlah persentase sebesar 77.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan pendapat responden tentang minat terhadap TI sebagaimana terdapat dalam tabel tersebut diatas dapat dilihat bahwa responden yang menjawab berminat menempati urutan pertama dengan jumlah persentase sebesar 41. Sedangkan responden yang memberikan jawaban tidak pernah mendengar dan pernah mendengar tetapi belum melihatnya tidak ada dalam penelitian ini .33 %. Jumlah penduduk Desa Pardomuan I adalah sebanyak 3.33 25. Temuan Penelitian. 4.50 km². Tabel ini memberikan gambaran tentang minat responden terhadap TI dalam penelitian ini adalah lebih didominasi responden dengan menjawab berminat dengan jumlah persentase 41.67 77. Tabel – 2 Pengenalan Responden Tentang Komputer NO 1 2 3 4 Keterangan Tidak pernah mendengar Pernah mendengar tetapi belum melihatnya Pernah mendengar dan tahu bentuknya Pernah mendengar dan tahu menggunakannya Jumlah F 17 58 75 % 22.33 100.33%. Desa Pardomuan I memiliki 3 Dusun dan tidak memiliki lingkungan.H.67 %.818 orang perempuan.34%. sedangkan responden yang mengatakan tidak berminat tidak ada ditemukan dalam penelitian ini.menyusul responden yang mengatakan kurang berminat dengan jumlah persentase sebesar 25. 3. urutan kedua adalah responden yang mengatakan sangat berminat yaitu dengan jumlah persentase sebesar 33. kemudian diurutan terakhir responden yang menjawab pernah mendengar dan tahu bentuknya yaitu dengan jumlah persentase sebesar 22.

Tabel – 3 Pertama Kali Responden Memperoleh Sumber Informasi Komputer NO Uraian F % 1. Lainnya.34 %.00 3. Berdasarkan pendapat responden tentang pertama kali responden memperoleh sumber informasi komputer sebagaimana terdapat dalam tabel diatas dapat dilihat bahwa responden pertama memperoleh sumber dari Buku-buku Komputer yaitu menempati urutan pertama dengan jumlah persentase sebesar 44.34 %. Teman 1 1. Kadang-kadang menggunakan 4 5. Tabel – 5 Durasi Responden Menggunakan Komputer NO Keterangan F % 1.33 Jumlah 75 100. Media Elektronik 13 17.00 6. Teman dengan jumlah persentase sebesar 1. urutan keempat adalah bahwa responden pertama memperoleh sumber dari Kursus/Les dengan jumlah persentase sebesar 17.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden tentang responden yang memiliki komputer sebagaimana dapat diketahui bahwa responden yang menjawab memiliki dalam penelitian ini sebanyak 62 responden yaitu dengan jumlah persentase sebesar 82.33 %. Majalah.66 Jumlah 75 100. Tabel – 4 Pemilikan Responden Terhadap Komputer NO Keterangan F % 1. Jarang menggunakan 15 20. urutan terakhir adalah bahwa responden pertama memperoleh sumber dari Lainnya.34 3. urutan ketiga adalah bahwa responden pertama memperoleh sumber dari Media Elektronik dengan jumlah persentase sebesar 17. Tabloid 19 25.67 2. Tabel ini memberikan gambaran bahwa pertama kali responden memperoleh sumber informasi komputer dalam penelitian ini adalah bersumber dari buku-buku computer/Pelajaran di Sekolah. Sering menggunakan 16 21.00 4. urutan kedua adalah bahwa responden pertama memperoleh sumber dari Majalah. Setiap hari menggunakan 17 22.00 Sumber: Hasil penelitian . Kursus/Les 9 12. Pernah menggunakan 6 8.34 2.34 %. kemudian diurutan terakhir responden yang menjawab tidak memiliki sebanyak 13 responden yaitu dengan jumlah persentase sebesar 17.66 %. Taboid dengan jumlah persentase sebesar 25.00 5.00 %.67 Jumlah 75 100. Memiliki 13 17.33 4.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Tabel ini memberikan gambaran bahwa responden yang diteliti dalam penelitian ini adalah lebih didominasi oleh yang pernah mendengar dan tahu menggunakannya. Tidak memiliki 62 82. Buku-buku Komputer/Pelajaran di Sekolah 33 44. Tidak pernah menggunakan 17 22.34 2.34 %.00 5.

n = 75 Berdasarkan pendapat responden tentang durasi penggunanaan komputer adalah yang tidak pernah menggunakan dan setiap hari menggunakan memiliki jumlah persentase yang sama yaitu sebesar 22.33 2.33 %. urutan kedua adalah sering menggunakan.00 %. Tabel ini memberikan gambaran bahwa tingginya animo masyarakat bukan menjadi pendorong responden dalam menggunakan komputer. Tidak 56 74. Ya 42 56.00 Jumlah 75 100. kemudian menyusul ditempat kedua/terakhir responden yang menjawab tidak yaitu dengan persentase sebesar 74.00 %. Tabel – 8 Kemudahan Dalam Menyelesaikan Pekerjaan Sebagai Pendorong/Pendukung Responden Menggunakan Komputer NO Keterangan F % 1. Tidak 58 77. dan terakhir adalah kadangkadang menggunakan dengan jumlah persentase sebesar 5.33 Jumlah 75 100.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 . Tabel – 7 Dukungan Infrastruktur Lingkungan Sebagai Pendorong/Pendukung Responden Menggunakan Komputer NO Keterangan F % 1.00 %.67 Jumlah 75 100. Ya 17 22.67 %.67 2. menyusul pernah menggunakan dengan jumlah persentase sebesar 8.33 %.73 %. kemudian menyusul ditempat terakhir responden yang menjawab tidak menjadi pendorong yaitu dengan persentase sebesar 77. yaitu dengan jumlah persentase sebesar 21. Ya 19 25.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden tentang pendukung responden menggunakan komputer diurutan pertama yaitu dengan dukungan infrastruktur lingkungan dalam penelitian ini yaitu dengan jumlah persentase sebesar 22.67 %.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden tentang pendukung responden menggunakan komputer di urutan pertama yaitu tingginya animo masyarakat untuk belajar dalam penelitian ini dengan jumlah persentase sebesar 25. tempat ketiga adalah jarang menggunakan yaitu dengan jumlah persentase sebesar 20.00 2. Tidak 33 44.67 %. Tabel ini memberikan gambaran bahwa dengan dukungan infrastruktur lingkungan bukan menjadi pendorong responden dalam menggunakan komputer. Tabel – 6 Tingginya Animo Masyarakat Untuk Belajar Sebagai Pendorong/Pendukung Responden Menggunakan Komputer NO Keterangan F % 1.

Tabel – 11 Dapat Memudahkan Komunikasi Sebagai Pendorong/Pendukung Responden Menggunakan Komputer NO Keterangan F % 1. Ya 17 22.33 Jumlah 75 100.00 2. Tabel ini memberikan gambaran bahwa dapat memudahkan memperoleh pekerjaan bukan menjadi pendorong responden untuk menggunakan komputer.67 %. Tidak 52 69.Berdasarkan jawaban responden tentang pendukung responden menggunakan komputer diurutan pertama yaitu kemudahan dalam menyelesaikan pekerjaan dalam penelitian ini yaitu dengan jumlah persentase sebesar 56.00 %. kemudian menyusul ditempat kedua/terakhir responden yang menjawab tidak menjadi pendorong dengan persentase sebesar 77. Tabel ini memberikan gambaran bahwa kemudahan dalam menyelesaikan pekerjaan adalah menjadi pendorong responden dalam menggunakan komputer. kemudian menyusul ditempat kedua/terakhir responden yang menjawab tidak menjadi pendorong yaitu dengan persentase sebesar 44.00 Jumlah 75 100.67 2. kemudian menyusul .33 Jumlah 75 100. Tidak 58 77.33 %. Ya 23 30.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden tentang pendorong responden menggunakan komputer diurutan pertama yaitu adanya dukungan kebijakan dalam penelitian ini yaitu dengan jumlah persentase sebesar 22.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden tentang pendorong responden menggunakan komputer di urutan pertama yaitu dapat memudahkan memperoleh pekerjaan dengan jumlah persentase sebesar 30. Tidak 54 72. Tabel – 9 Adanya Dukungan Kebijakan Sebagai Pendorong Responden Menggunakan Komputer NO Keterangan F % 1. Tabel ini memberikan gambaran bahwa dukungan kebijakan bukan menjadi pendorong responden dalam menggunakan komputer Tabel – 10 Kemudahan Dalam Memperoleh Pekerjaan Sebagai Pendorong/Pendukung Responden Menggunakan Komputer NO Keterangan F % 1. kemudian menyusul ditempat terakhir responden yang menjawab tidak menjadi pendorong yaitu dengan persentase sebesar 69.33 %.67 %.00 %. Ya 21 28.67 2.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden tentang pendukung responden menggunakan komputer diurutan pertama yaitu dapat memudahkan komunikasi sebagaimana dalam penelitian ini yaitu dengan jumlah persentase sebesar 28.00 %.

00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden tentang penghambat responden menggunakan komputer diurutan pertama yaitu harga komputer yang mahal dalam penelitian ini dengan jumlah persentase sebesar 72.00 %.00%.00 Jumlah 75 100.00 2. . Tidak 45 60. Tabel – 12 Harga Komputer Yang Mahal Sebagai Penghambat Responden Menggunakan Komputer NO Keterangan F % 1.ditempat kedua/terakhir responden yang menjawab tidak menjadi pendorong yaitu dengan persentase sebesar 72.00 %.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden tentang penghambat responden menggunakan komputer diurutan pertama yaitu biaya les komputer yang mahal dalam penelitian ini yaitu dengan jumlah persentase sebesar 44. Ya 54 72.00 2. Tabel ini memberikan gambaran bahwa dapat memudahkan komunikasi bukan menjadi pendorong responden untuk menggunakan komputer. Tabel ini memberikan gambaran bahwa waktu tidak cukup untuk belajar bukan menjadi penghambat responden dalam menggunakan komputer. Tidak 42 56.00 Jumlah 75 100. Ya 30 40. Tabel – 14 Waktu Tidak Cukup Untuk Belajar Sebagai Penghambat Responden Menggunakan Komputer NO Keterangan F % 1. Tabel – 13 Biaya Les Komputer Yang Mahal Sebagai Penghambat Responden Menggunakan Komputer NO Keterangan F % 1. Tabel ini memberikan gambaran bahwa harga komputer yang mahal adalah merupakan penghambat responden untuk menggunakan komputer.00 Jumlah 75 100.00 %. Ya 33 44.00 %.00 2. kemudian menyusul ditempat kedua/terakhir responden yang menjawab tidak menjadi penghambat dengan persentase sebesar 60. kemudian menyusul ditempat terakhir responden yang menjawab tidak menjadi penghambat yaitu dengan persentase sebesar 28.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden tentang penghambat responden menggunakan komputer yaitu ditempat pertama yang menjawab waktu yang tidak cukup untuk belajar dengan jumlah persentase sebesar 40. Tabel ini memberikan gambaran bahwa dibeberapa daerah sulit menemukan komputer bukan menjadi penghambat responden dalam menggunakan komputer. Tidak 21 28.00 %.00 %. kemudian menyusul ditempat kedua/terakhir responden yang menjawab tidak menjadi penghambat yaitu dengan persentase sebesar 56.

Ya 33 44. Ya 47 62. Tabel – 16 Ilmu Komputer Yang Sulit Sebagai Penghambat Responden Menggunakan Komputer NO Keterangan F % 1. Tabel ini memberikan gambaran bahwa ilmu komputer yang sulit bukan menjadi penghambat responden dalam mendukung responden untuk menggunakan komputer.00 %.67 2. kemudian menyusul ditempat kedua/terakhir responden yang menjawab tidak yaitu dengan persentase sebesar 56.33 Jumlah 75 100.00 %.00 %.00 Jumlah 75 100.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden tentang penghambat responden menggunakan komputer diurutan pertama yaitu bahasa inggris yang minim yaitu dengan jumlah persentase sebesar 62. Tidak 48 64.00 Jumlah 75 100. Tidak 28 37. Tabel – 17 Di Beberapa Daerah Sulit Ditemukan Komputer Sebagai Penghambat Responden Menggunakan Komputer NO Keterangan F % 1. Tidak 42 56. kemudian menyusul ditempat kedua/terakhir responden yang menjawab tidak yaitu dengan persentase sebesar 37.67 %.33 %.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden tentang penghambat responden menggunakan komputer yaitu ilmu komputer yang sulit sebagaimana dapat diketahui bahwa responden yang menjawab ya dalam penelitian ini yaitu dengan jumlah persentase sebesar 44. .Tabel – 15 Bahasa Inggris Yang Minim Sebagai Penghambat Responden Menggunakan Komputer NO Keterangan F % 1.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden tentang penghambat responden menggunakan komputer yaitu dibeberapa daerah sulit ditemukan komputer sebagaimana dapat diketahui bahwa responden yang menjawab ya dalam penelitian ini yaitu dengan jumlah persentase sebesar 36. Tabel ini memberikan gambaran bahwa dibeberapa daerah sulit menemukan komputer bukan menjadi penghambat responden dalam untuk menggunakan komputer.00 2. Ya 27 36. kemudian menyusul ditempat kedua/terakhir responden yang menjawab tidak yaitu dengan persentase sebesar 64.00 2. Tabel ini memberikan gambaran bahwa dibeberapa daerah sulit menemukan komputer bukan menjadi penghambat responden dalam menggunakan komputer.00 %.

kemudian menyusul ditempat kedua/terakhir responden yang menjawab mengharapkan yaitu dengan persentase sebesar 37.33%.33 2.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden harapan responden agar mudah dalam mencari penjualan komputer dapat diketahui bahwa responden yang menjawab tidak mengharapkan berada pada posisi pertama yaitu dengan jumlah persentase sebesar 62. Mengharapkan 38 50.33 2.67 %.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden harapan responden agar program pelatihan komputer gratis dapat diketahui bahwa responden yang menjawab mengharapkan dalam penelitian ini yaitu dengan jumlah persentase sebesar 50. Tabel ini memberikan gambaran bahwa responden mengharapkan agar harga komputer lebih murah.67 %.67 2.Tabel – 18 Harapan Responden Agar Harga Komputer Lebih Murah NO Keterangan F % 1. Tabel – 20 Harapan Responden Agar Program Pelatihan Komputer Gratis NO Keterangan F % 1.67 Jumlah 75 100. kemudian menyusul ditempat kedua/terakhir responden yang menjawab tidak mengharapkan yaitu dengan persentase sebesar 26. Tidak Mengharapkan 20 26.33 Jumlah 75 100.67 Jumlah 75 100. Tabel ini memberikan gambaran bahwa responden tidak mengharapkan agar mudah dalam mencari pusat penjualan komputer.67 %. Tidak Mengharapkan 47 62. Mengharapkan 55 73. Mengharapkan 28 37. Tabel – 19 Harapan Responden Agar Mudah Dalam Mencari Penjualan Komputer NO Keterangan F % 1.33 %. . kemudian menyusul ditempat kedua/terakhir responden yang menjawab tidak mengharapkan yaitu dengan persentase sebesar 49.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden harapan responden agar harga komputer lebih murah dapat diketahui bahwa responden yang menjawab mengharapkan dalam penelitian ini yaitu dengan jumlah persentase sebesar 73.33 %. Tabel ini memberikan gambaran bahwa responden berharap agar program pelatihan komputer gratis tidak dipungut biaya. Tidak Mengharapkan 37 49.

00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden harapan responden agar pengoperasiaan komputer lebih mudah dapat diketahui bahwa responden yang menjawab mengharapkan dalam penelitian ini yaitu dengan jumlah persentase sebesar 62. Apabila dikaitkan dengan teori Personal-Capability Maturity Model (P-CMM). Mengharapkan 45 60.00 2. secara umum dapat diketahui bahwa tingkat penguasaan responden berada pada level-2 dan level-3. Tabel ini memberikan gambaran bahwa responden berharap agar pengoperasian komputer lebih mudah.00 Sumber: Hasil penelitian n = 75 Berdasarkan jawaban responden harapan responden agar program komputer berbahasa Indonesia dapat diketahui bahwa responden yang menjawab mengharapkan dalam penelitian ini yaitu dengan jumlah persentase sebesar 60. . Tabel – 22 Harapan Responden Agar Pengoperasian Komputer Lebih Mudah NO Keterangan F % 1.33 Jumlah 75 100. J. Hal ini menunjukkan bahwa menggunakan komputer sudah menjadi kebiasaan rutin di kalangan masyarakat Desa Pardomuan – I Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir.00 %.00 Jumlah 75 100. Mengharapkan 47 62. karena responden pada umumnya berminat terhadap penggunaan komputer dan telah sering menggunakan komputer bahkan ada yang setiap hari menggunakannya.33 %. Tabel ini memberikan gambaran bahwa responden berharap agar program komputer berbahasa Indonesia.67 %.67 2. dan pada level-3 dikatakan jika seorang individu telah memiliki standard penguasaan dan pemahaman terhadap informasi maupun teknologi yang dipergunakannya. Tidak Mengharapkan 28 37. kemudian menyusul ditempat kedua/terakhir responden yang menjawab tidak mengharapkan yaitu dengan persentase sebesar 40.Tabel – 21 Harapan Responden Agar Program Komputer Berbahasa Indonesia NO Keterangan F % 1. Pembahasan Berdasarkan temuan data-data penelitian diatas dapat dilihat bahwa tingkat literasi terhadap penggunaan komputer adalah telah mampu menguasai pemanfaatannya.00 %. dimana pada level-2 dikatakan jika seorang individu telah berkali-kali menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu aktivitasnya seharihari dan telah memiliki pola keberulangan dalam penggunaannya. kemudian menyusul ditempat kedua/terakhir responden yang menjawab tidak mengharapkan yaitu dengan persentase sebesar 37. dan secara konsisten mempergunakan standard tersebut sebagai acuan penyelenggaraan aktivitasnya seharihari. Tidak Mengharapkan 30 40.

. karena komputer telah mampu mengoptimalkan pekerjaan/tugas-tugas mereka sehingga dirasakan sangat besar pengaruhnya terhadap pekerjaan/aktivitas kegiatan mereka sehari-hari. Saran. 1. tetapi tidak tahu menggunakannya. biaya les/kursus komputer yang mahal. Bahwa faktor-faktor yang menjadi penghambat responden dalam menggunakan komputer adalah masih tingginya harga komputer. dimana masyarakat pada umumnya berminat terhadap komputer dan telah menggunakannya lebih dari 5 tahun. Untuk mengatasi hal tersebut masyarakat mengharapkan agar pemerintah dapat menyediakan komputer dengan harga yang lebih murah dan menyediakan program komputer dalam bahasa Indonesia sehingga masyarakat lebih mudah dalam mengoperasikan komputer. Bahwa faktor-faktor yang menjadi pendorong/pendukung bagi masyarakat Desa Pardomuan – I Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Provinsi Sumatera Utara dalam menggunakan komputer adalah perasaan nyaman ketika menggunakannya dan merasa penting untuk memenuhi kebutuhannya 3. Rogers dan Shoemaker (1971). dan perubahan sosialpun merangsang orang untuk menemukan dan menyebarluaskan hal-hal yang baru tersebut. bahasa komputer yang merupakan bahasa Inggris sehingga sulit untuk dimengerti. Keuntungan relatif yang didapatkan melalui komputer sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. waktu yang tidak cukup untuk belajar. sedangkan yang menjadi faktor penghambat dalam menggunakan komputer bagi masyarakat adalah harga komputer yang relatif mahal dan penguasaan bahasa Inggris yang minim sehingga sulit dalam mengoperasionalkan komputer yang pada umumnya bahasa programnya hanya tersedia dalam bahasa Inggris. misalnya dalam menggunakan mesin tik manual dan elektronik. bahwa penyebarserapan (adopsi inovasi) informasi menyebabkan masyarakat menjadi berubah. 2. Agar pemerintah mengadakan sosialisasi tentang pentingnya penggunaan komputer dalam kehidupan manusia baik di kota maupun di desa. karena masih ada responden yang kurang berminat terhadap penggunaan komputer dan ada responden yang hanya pernah mendengar dan tahu bentuk komputer. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan. Agar pemerintah menyediakan akses universal terhadap informasi kepada masyarakat baik di kota maupun di desa secara adil dan merata. Adapun perubahan yang terjadi pada masyarakat adalah bahwa dimana masyarakat sudah dimanjakan dengan kehadiran teknologi komputer. Adapun yang menjadi faktor pendorong bagi masyarakat dalam menggunakan komputer adalah kemudahan dalam menyelesaikan pekerjaan mereka. ilmu komputer yang sulit untuk dipahami. bahkan ada yang setiap hari menggunakan komputer serta pada umumnya telah mengetahui dan mengenal perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) komputer. serta dibeberapa daerah masih sulit ditemukan pusat penjualan komputer. instrument kebijakan beserta program/kegiatan (prakarsa) yang tepat untuk membangun akses universal bagi seluruh lapisan masyarakat sangat urgen untuk terus ditumbuhkembangkan. Hal ini terbukti bahwa setelah masyarakat menggunakan komputer prestasi kerja mereka mengalami peningkatan.Jika hal ini dilihat dari teori difusi inovasi oleh Rogers (1995). Bahwa tingkat literasi komputer masyarakat Desa Pardomuan – I Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Provinsi Sumatera Utara sudah cukup baik. 2. 1. Apabila hal ini diilustrasikan dengan teknologi komputer. maka komputer sudah mampu mengubah perilaku-perilaku masyarakat dalam menggantikan kebiasaan lama.

Raja Grafindo. Elvinaro dan Erdinaya. Gempur. Telematika Indonesia. LP3ES. DAFTAR PUSTAKA Ardianto. Teknik Praktis Riset komunikasi. New York. Rogers. New York. Arikunto. seperti warnet. E. Mendorong pengembangan fasilitas multifungsi disentra aktivitas masyarakat untuk komunitas UKM/IKM atau sentra industri. (2002). (2006). dan Sekolah. Singarimbun. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Rakhmat. Kebijakan dan Perkembangan Tim Koordinasi Telematika Indonesia (TKPI). Jakarta. Metode Penelitian Survey. (226). Agar pemerintah meningkatkan penyediaan sarana prasarana informasi dan komunikasi di daerah yaitu dengan mengembangkan pusat-pusat fasilitas umum bersama. Jakarta. Cipta. Suharsimi. PT. Rineka. Rogers. 4. K. Jakarta. Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. serta mengembangkan pola-pola kepemilikan komputer murah. Pusat Pendidikan/Pelatihan. dan F.3. Jakarta. Simbiosa Rekatama Media. Communication of Innovation – A Cross Cultural Approach. kemitraan pemerintah dan swasta dalam penyediaan prasarana dan sarana telematika. telecenter. (1995). . Diffusion of Innovations.M. dan sejenisnya. Sumadi. Masri dan Sofyan Effendi. Free Press. Kriyantono. fasilitas multifungsi Perdesaan. Jakarta. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek. Santoso.M. Metode Penelitian. Shoemaker (1971). Free Press. Suryabrata. (2005). fokus pada peningkatan pendidikan dan berbagai pengetahuan dalam komunitas masyarakat. (2003). Kencana Prenada Media Group. Lukiati (2004). E. seperti pengembangan lembaga Jasa Pengembangan Bisnis berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Jakarta. (2004). Kementerian Komunikasi dan Informasi RI. Prestasi Pustaka Publisher. Bandung.

yaitu Kota Cane. ekonomi. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan mewawancarai informan yang terdiri dari berbagai kalangan. Kata Kunci : Iklim Komunikasi Umat Beragama. Yang pernah terjadi hanya tawuran antar anak muda. Syariat Islam di Aceh menyatu dengan adat sedemikian rupa. Syariat Islam di Aceh bukan hanya dipahami dalam aspek hukum dan peradilan. Ketua Mahkamah Agung dalam sambutannya menyampaikan tiga hal sebagai berikut : 6 Penulis adalah Peneliti Madya pada Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BBPPKI) Medan . dan terus bergolak sampai Belanda kalah karena kedatangan Jepang). Pada saat melantik ketua Mahkamah Syariah Provinsi NAD. itupun di atas 20 tahun yang lalu. Iklim komunikasi antar umat beragama di Kabupaten Aceh tenggara telah lama terbina. baik dalam hal kerukunan antar umat beragama maupun dalam menjalankan keaktivitasan kehidupan pada berbagai sektor pekerjaan dan kehidupan bermasyarakat sehari-harian. Namun setelah disosialisasikan UU Syariat Islam tersebut akhirnya dimengerti bahwa Syariat Islam hanya diberlakukan terhadap penduduk yang beragama Islam. Pada awal diberlakukan UU syariat Islam di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. sehingga sering sifat adatnya lebih menonjol dari sifat syariatnya. Maka iklim komunikasi antar umat beragama dalam pelaksanaan Syariat Islam di Provinsi NAD pada Kabupaten Aceh Tenggara tetap terbina dengan pengertian komunikasi yang komunikastif di antara sesama warga terimplementasi dalam berbagai sektor kehidupan. dan lain sebagainya. Metode yang digunakan deskriptif analisis. pemerintahan. adanya pemisahan antara mesjid dengan meunasah. Perbedaan Agama dan kemajemukan suku yang terdapat di Kabupaten Aceh Tenggara tidak pernah membuat terjadinya konflik. kegiatan seni dan budaya bahkan olahraga. lebih dari itu beberapa ijtihad dan terobosan telah dilakukan Ulama Aceh atas aturan dalam Fiqih Mazhab Syafi’I. hidup kemasyarakatan dan hidup ketatanegaraan pada masa kesultanan dahulu yaitu sebelum diganggu dan dicampuri oleh penjajah Belanda (mulai menyerang Aceh pada tahun 1873 dan terus mendapat perlawanan sengit sampai awal abad dua puluh. Syariah Islam Latar Belakang Pelaksanaan syariat Islam di Aceh menurut catatan tertulis dan ingatan kolektif masyarakat Aceh telah berlangsung cukup lama. misalnya keizinan perempuan menjadi kepala Negara. bukan konflik masalah SARA. yang oleh masyarakat non muslim dipahami suatu keharusan dengan demikian dapat berimplementasi membuat iklim komunikasi yang tidak komunikatif sesama warga.Iklim Komunikasi Antar Umat Beragama Dalam Pelaksanaan Syariat Islam Di Kabupaten Aceh Tenggara Oleh : Amiruddin Z6 Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan iklim komunikasi yang berlangsung antar umat beragama dalam pelaksanaan syariat serta faktor pendukung dan penghambat komunikasi antar umat beragama di kabupaten Aceh Tenggara. berbagai bentuk dan tata cara pelayanan social. hal tersebut terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari. tetapi mencakup berbagai bidang kehidupan seperti pendidikan. sebagaimana dikemukakan oleh Al Yasa’ Abubakar : Bahwa rakyat Aceh telah lama melaksanakan syariat Islam secara relative sempurna dalam hidup keseharian.

Lingkungan fisik menunjukkan bahwa suatu proses komunikasi hanya bisa terjadi apabila tidak ditemukan rintangan fisik. 11 Tahun 2002 tentang pelaksanaan syariat Islam bidang Akidah. Titik penting dari konsep syariat Islam adalah untuk memelihara hak-hak manusia dan memberi mereka perlindungan dan keselamatan serta kedamaian yang bersifat kaku dan statis. 13 Tahun 2003 tentang Maisir (perjudian) 4. Qanum Nomor. Pelaksanaan syariat Islam harus secara bertahap. Qanum Nomor. 14 Tahun 2003 tentang Khalwat (perbuatan mesum) 5. Qanum Nomor. maka pelaksanaan syariat Islam mungkin menjadi bumerang dan kontra produktif. Sampai saat ini telah disahkan enam buah quanum yang berkaitan langsung dengan hukum dan peradilan syariat Islam yaitu : 1. Sedangkan komunikasi adalah proses penyampaian suatu pernyataan oleh seorang kepada orang lain. Qanum Nomor. Qanum Nomor. Lebih-lebih lagi di Kecamatan Lawe Sigala-gala. misalnya geografis . Secara pragmatis komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau untuk mengubah sikap. pendapat atau perilaku. Iklim adalah Suasana seseorang kepada orang lain. Qanum Nomor. maupun ide/gagasan. yaitu Iklim dan Komunikasi. fakta. Dalam pengertian yang luas. Iklim Komunikasi Iklim Komunikasi terdiri dari duia kata. Sebagaimana diketahui di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam terutama pada Kabupaten Aceh Tenggara ditemukan penganut agama lain (Kristen). Komunikasi akan dapat berhasil baik apabila ada saling pengertian antara pihak pengirim dan penerima informasi. karena bagaimanapun juga syariat Islam di Aceh sekarang adalah ibarat benih yang baru dipindahkan dari persemaian ke tengah sawah atau kebun. Apabila hal ini tidak berhasil dilakukan. tetapi ia merupakan jalan atau metode normative yang perlu diaktualisasikan tentang apa yang harus dilakukan dan bagaimana umat Islam harus melaksanakan ajaran agamanya. baik secara lisan.   Syariat Islam yang dijalankan di Aceh harus dapat memenuhi kesadaran hukum rakyat dan harus dapat memberikan keadilan yang lebih baik kepada umat. Karena itu harus dijaga dan dirawat dengan baik dan tidak boleh diberi beban yang berlebihan Pembentukan peradilan untuk melaksanakan syariat Islam dalam rangka otonomi khusus di Aceh. Iklim Komunikasi adalah suasana lingkungan atau Komunikasi yang menjadi faktor penentu berlangsungnya komunikasi terdiri dari empat macam yaitu : 1. ibadah dan syiar Islam 2. komunikasi tidak hanya sebagai pertukaran informasi antar individu. bukan pula sebagai petunjuk teknis yang dapat dijadikan pegangan manusia dalam kehidupan di dunia. 7 Tahun 2004 tentang pengelolaan zakat 6. Komunikasi dipahami sebagai penyampaian informasi dan pengertian dari seseorang kepada orang lain. melainkan juga antar kelompok dan masyarakat luas mengenai tukar menukar data. 11 Tahun 2004 tugas fungsional kepolisian daerah NAD Syariat Islam secara umum dipahami sebagai paradigma moral yang berdasarkan pada kedudukan kepada Tuhan. maupun tidak langsung melalui pendapat. tetapi juga akan mempengaruhi perkembangan hukum tatanegara di Indonesia. bukan saja mempengaruhi hukum positif di Aceh. 12 Tahun 2003 tentang Minuman Khamar dan sejenisnya. 3. jumlah penganut agama Kristen relative lebih banyak disbanding penganut agama Islam.

Perubahan ada di mana-mana 2. Objek penelitian ini adalah iklim komunikasi antar umat beragama dalam pelaksanaan syariat Islam di Kabupaten Aceh Tenggara Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah : 1. dan perbedaan pola perilaku cultural. Masyarakat yang menjadi objek penelitian adalah masyarakat yang berdomisili di di Kabupaten Aceh Tenggara yang terpilih sebagai informan penelitian ini bersifat kualitatif 2. dan politik yang bisa menjadi kendala terjadinya komunikasi. misalnya.2. karena cuaca atau musim Permasalahan Berdasarkan uraian diatas. didasarkan pada asumsiasumsi : 1. dan 4. terlalu disederhanakan atau terlalu dilebihlebihkan terhadap suatu kategori atau kelompok orang (Samovar dkk. Dimensi waktu menunjukkan situasi yang tepat untuk melakukan kegiatan komunikasi. 1981 : 122). Etnosentrisme merupakan kecenderungan orang untuk mempertimbangkan kelompok social mereka sebagai “normal” dan menilai kelompok social orang lain sebagai “abnormal” atau “interio” (Lewis dan Slide. 1994 : 131). 1976) Lewis dan Siade ()1994 : 128-130 menguraikan tiga kawasan paling problematic dalam komunikasi antar budaya. Disensus dan konflik terdapat di mana-mana 3. . percakapan. dimensi psikologi ini sering disebut dengan dimensi internal. Lingkungan sosial budaya menunjukkan faktor social. 4. untuk mendeskripsikan iklim komunikasi yang berlangsung antar umat beragama dalam pelaksanaan syariat Islam 2. ekonomi. Setiap unsur masyarakat memberikan sumbangan pada disintegrasi dan perubahan masyarakat. terdapat 3 (tiga) faktor penghambat dalam jalinan komunikasi antar budaya yaitu etnosentrisme. stereotip dan prasangka. stereotip diberi batasan sebagai keyakinan yang terlalu digeneralisasi. perbedaan nilai. Setiap masyarakat didasarkan pada paksaan beberapa orang anggota terhadap anggota lain Dengan demikian konflik merupakan sumber terjadinya perubahan social (Dahrendrof. budaya. maka masalah penelitian dapat dirumuskan:  Bagaimana iklim komunikasi yang berlangsung antar umat beragama dalam proses pelaksanaan syariat islam di Kabupaten Aceh Tenggara  Apa saja faktor pendukung dan penghambat komunikasi antar umat beragama dalam pelaksanaan syariat Islam di Kabupaten Aceh Tenggara Pembatasan Masalah 1. banyak proses komunikasi tertentu karena pertimbangan waktu missal. Setiap masyarakat tunduk pada proses perubahan. Secara teoritik. yaitu kendala bahasa. Untuk mengetahui dan memahami faktor-faktor pendukung dan penghambat komunikasi antar umat beragama Kerangka Teori Pokok pikiran yang terkandung dalam teori konflik. adat istiadat dan status social 3. Dimensi psikologi adalah pertimbangan kejiwaan yang digunakan dalam berkomunikasi misalnya. menghindari kritik yang menyinggung perasaan orang lain. bahasa.

Dari kalangan pejabat birokrasi  Drs. Mth. Karena penelitian ini bersifat kualitatif maka dilakukan pemantauan di lapangan/lokasi. tidak menguji hipotesa atau membuat prediksi (Rokhmat. dan stereotip tentang kelompok sasaran  Avoidance : Menghindari anggota-anggota dari kelompok yang tidak disukai  Discrimination : Melakukan pemilihan-pemilihan yang negative berdasarkan pekerjaan. tanpa mencari dan menjelaskan hubungan. Kandepag Kabupaten Aceh Tenggara  Drs. Suwansuri : Guru Agama dan Da’i  Drs. Kabag Humas / keprotokolan setkab Aceh Tenggara  Abidan Situmeang. Nababan. dan studi dokumen yang dipandang relevan. juga dilaksanakan wawancara terhadap informan dari pemuka-pemuka agama. pejabat birokrasi. Sth. Pendeta HKBP Kota Cane 3. kesempatan pendidikan dan sebagainya  Physical Attack : mengarah pada tindakan-tindakan kekerasan  Extermintion : Hukuman mati tanpa peradilan. M. Msc : Budayawan. 1981:123). perasaan. Kabag Bina Mitra Polres Aceh Tenggara  Drs. Aceh Tenggara (Pejabat Struktural Dinas Syariat Islam) 2. Dari Wilayah Pemuka Agama Islam  Drs. Kepala Kantor Urusan Agama Kec. Tujuannya adalah untuk membuat deskripsi secara sistematis. Dari kalangan Budayawan  DR.Ag. Dinas Syariat Islam Kab. Jumarsah Siahaan. Siahaan.Prasangka merupakan sikap kaku terhadap suatu kelompok didasarkan pada keyakinan atau prakonsepsi yang keliru (Samovar dkk. factual dan akurat mengenai faktor –faktor dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. Pendeta Resort GKPI Kota Cane  Pdt. Sth. 1997 : 34) Penelitian deskriptif hanya memberi gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu. pembunuhan besar-besaran dan permusuhan terhadap suatu kelompok Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. Habidin Silian : Ulama dan Pegawai Dinas Syariat Islam 4. mantan dosen Insyiah (Islam) . M. Dari kalangan Pemuka Agama Katolik  Pdt. Informan yang diwawancarai : 1. keadaan gejala. tempat tinggal. Marolap Sinaga. Ka. metode yang hanya memaparkan situasi dan peristiwa apa adanya. Klasifikasi prasangka menurut Samovar dkk (1981:124)  Antilocution : Membicarakan sikap. Ralidin : Tokoh dan Kepala Sekolah MTS  Drs. Najaruddin.  Pdt.H. Preses XII HKBP Distrik Tanah Alas. atau kelompok tertentu. Penyelenggara Bimas Kristen Kandepag Aceh Tenggara  AKP Suprapto. Sth. pendapat. TP. Djauharuddin. Yoserizal. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penduduk yang berdomisili di Kabupaten Aceh Tenggara. Lawe Sigala gala  Qarnain. Pendeta HKBP Ressort Lawe Sigala Gala  Pdt. Thalib Akbar.

S. Sihombing (Ompu Roi) : Budayawan, Penasehat Tokoh masyarakat dan adat dari Badan Kerjasama Antar Gereja, Anggota Badan Kerjasama Umat Beragama Kristen Gambaran Umum Lokasi penelitian - Kabupaten Aceh Tenggara Kabupaten Aceh Tenggara Ibukotanya bernama Kota Cane Data Demografi Kab. Aceh tenggara : Luas Wilayah : 4.231,41 Km2 Jumlah Penduduk : 168.131 Jiwa (Aceh Tenggara Dalam Angka 2008) Batas Wilayah Utara : Kab. Gayo Lues Selatan : Kab. Aceh selatan Kab. Aceh Singkil Timur : Prop. Sumatera Utara / Kab. Karo Barat : Kab. Aceh Selatan Jumlah Kecamatan : 16 Kecamatan Jumlah Desa/ kelurahan : 385 Desa / Lurah  Rangkuman Wawancara dari Informan Iklim komunikasi kerukunan umat beragama Kabupaten Aceh Tenggara terkategori harmonis, akur, baik sejak sebelum diberlakukannya Perda Istimewa Aceh No. 5 Tahun 2000 Tentang Pelaksanaan Syariat islam, maupun sesudah diberlakukannya Syariat islam tersebut. Sungguhpun pada mulanya diperlakukan (diundangkan) Syariat Islam itu memang ada kesan dan pemahaman terutama dari golongan non muslim bahwa syariat Islam itu mengikat dan memaksakan terhadap semua masyarakat yang berdomisili di Prov. Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Namun setelah disosialisasikannya perda No.5 tahun 2000 oleh berbagai pihak antaranya dari kalangan para pejabat dan kadis Aceh Tenggara maupun dari kalangan Tokoh Agama Islam sendiri, bahwa pelaksanaan Syariat Islam itu hanya berlaku bagi pemeluknya yaitu umat Islam, sesuai UU tahun 1999 yaitu pasal 4 ayat 1 UU No.44 Tahun 1999. Penyelenggaraan kehidupan beragama diwujudkan dalam bentuk pelaksanaan syariat Islam bagi pemeluknya. Disebutkan pula pasal 4 ayat 2 bahwa daerah mengembangkan dan mengatur penyelenggaraan kehidupan beragama dengan tetap menjaga kerukunan hidup antar umat beragama. Selanjutnya dijelaskan dalam pasal 5 bahwa daerah membentuk lembaga agama dan mengaku lembaga agama yang sudah ada dengan sebutan sesuai dengan kedudukannya masing-masing. Dalam ayat 2 pasal 5 ditegaskan pula bahwa lembaga yang dibentuk itu merupakan bagian dari perangkat daerah. Keharmonisan iklim komunikasi dari kerukunan antar umat beragama di Kab. Aceh Tenggara tetap langgeng, rukun, hal ini teraplikasi di tempat-tempat keramaian seperti di pasar, di tempat-tempat acara pesta, kehidupan bertetangga, bermasyarakat. Tingkat toleransi terhadap sikap, pendapat dan perilaku orang lain juga tergolong tinggi. Hal itu diwujudkan bukan hanya dalam bentuk penghargaan terhadap kepercayaan yang dianut oleh agama lain, tetapi juga toleransi terhadap cara beribadat yang berbeda yang dilakukan anggota masyarakat dari pemeluk agama yang sama. Toleransi dalam kehidupan social juga diwujudkan dalam bentuk toleransi terhadap keberadaan seorang pimpinan. Masyarakat dapat menerima pimpinan dari agama yang berbeda maupun etnis yang berbeda, asalkan dipandang mampu. Karena masyarakat di daerah ini didominasi oleh suku Alas, maka mereka menganggap bahwa secara budaya mereka berbeda dengan Aceh. Lebih dari itu, mereka merasa lebih dekat dengan Karo daripada dengan Aceh., karena bisa memahami bahasa

Karo, tetapi sama sekali tidak memahami bahasa Aceh. Identitas budaya yang berbeda itulah merupakan salah satu faktor yang mendorong sebagian masyarakat untuk membentuk provinsi yang berbeda, yaitu Provinsi Aceh Leuser Antara (ALA). Kerjasama antara warga berlangsung sangat baik di daerah ini. Kerjasama itu bukan hanya antara warga yang berbeda dalam satu kelompok, melainkan juga mereka yang dari kelompok yang berbeda beda. Kerjasama antar warga itu antara lain diwujudkan dalam bentuk kegiatan gotong-royong dalam membersihkan fasilitas umum. Walaupun modal sosial yang dimiliki masyarakat Aceh Tenggara tidak tinggi, namun hubungan antar kelompok masyarakat berbeda, baik antar etnis maupun antar pemeluk agama, berjalan baik, baik hubungan yang bersifat ekonomi maupun hubungan kemasyarakatan yang bersifat non ekonomi. Jika ada hajatan misalnya, maka semua anggota masyarakat diundang, tanpa memperhatikan kesukuan maupun agama yang dianut. Untuk menghormati pemeluk agama yang berbeda, jika kebetulan yang mengundang orang non muslim, mereka menyediakan juru masak khusus untuk orang Islam. Dengan demikian walaupun yang punya hajat non muslim, tetapi umat islam tidak perlu khawatir bahwa masakan yang dihidangkan itu tidak halal, karena yang memasaknya seorang muslim. Dicontohkan bahwa hubungan yang baik antara berbagai kelompok masyarakat itu juga tampak pada saat terjadi banjir banding di wilayah Kecamatan Semadam tahun 2004 yang lalu. Pada saat itu, solidaritas antar warga sangat tinggi dengan memberi bantuan terhadap para korban banjir, tanpa melihat kesukuan maupun agama yang dianut. Meskipun demikian solidaritas yang tinggi itu sedikit ternoda dengan kebijakan bantuan banjir banding oleh satu HKBP yang tidak diserahkan melalui Kepala Desa, tetapi melalui gereja. Oleh gereja, bantuan itu hanya diberikan kepada jemaatnya. Bukan hanya warga dari agama lain yang tidak dibagi, tetapi warga yang satu agama namun berbeda gereja juga tidak dibagi. Dengan hubungan yang saling percaya itu, maka konflik social, baik yang bersifat antar etnis maupun yang bersifat antar agama tidak pernah terjadi di daerah ini. Bahkan jika ada konflik misalnya, baik internal suku/agama maupun antar suku/agama, diupayakan penyelesaiannya dilakukan secara adat, karena mereka terikat oleh hukum adat. Solidaritas dalam kehidupan social juga ditunjukkan oleh warga non muslim dalam berpakaian. Jika dalam satu kantor banyak pegawai yang beragama Islam mengenakan jilbab, maka tidak jarang mereka yang non muslim juga ikut memakai jilbab, walaupun tidak ada yang menyuruh dan memaksa. Begitu pula di sekolah. Banyak di antara anak sekolah yang non muslim yang ikut memakai jilbab seperti temannya yang muslim, walaupun tidak ada yang menyuruh mereka. Toleransi terhadap agama lain juga ditunjukkan dengan baik tidak mempermasalahkan masyarakat yang non muslim yang kebetulan memelihara babi, mereka juga menghargai orang muslim dengan cara mengkandangkan babi yang dimiliki. Dalam kaitannya dengan norma yang mengatur kehidupan masyarakat, antara hukum adat dan hukum nasional (KUHP) memang berjalan seiring. Dalam arti jika permasalahan itu sudah diatur secara adat, maka penyelesaian pertama dilakukan secara adat. Jika tidak berhasil baru diserahkan kepada aparat untuk diproses secara hukum nasional. Meskipun demikian terjadinya overlapping antara kedua norma itu kadang tidak dapat dihindari, sehingga pelaku kriminal mendapatkan hukuman lebih dari satu kali. Penerapan Qanun juga belum dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan. Hal itu karena kondisi masyarakatnya yang heterogen, sehingga penerapan Qanun memunculkan dualisme dalam penerapan hukum. Penerapan Qanun untuk orang muslim dan KUHP untuk yang non muslim dianggap sebagai bentuk diskriminasi hukum. Hal itu jika terjadi kasus perjudian yang pelakunya terdiri dari orang muslim dan non muslim,

maka pelaku muslim tidak ditahan, sedangkan yang non muslim ditahan. Karena itu aparat kepolisian dalam menegakkan hukum yang diatur dalam Qanun mengalami kebingungan, sehingga diputuskan pelanggan yang ada kaitannya dengan Qanun pelakunya tidak diproses secara hukum, melainkan hanya dinasehati. Dari hasil wawancara terhadap informan, juga diperoleh informasi yang dapat dipandang suatu masukan yang sangat berharga terhadap kondisi iklim komunikasi antar umat beragama yaitu suatu kebisaaan bagi masyarakat bila mempunyai kesamaan nama anak di antara mereka (dalam bahasa Alas Kutacane disebut Sename) dipandang/dianggap menjadi saudara walaupun berbeda agama, dan berimplikasi selanjutnya saling berkunjung terutama pada hari-hari besar keagamaan dan pada saatsaat ada hajatan di antara mereka. Pembahasan Hasil Penelitian 1. Aspek Geografis dan Monopolis Kabupaten Aceh Tenggara mempunyai luas wilayah 4.231,41 Km2 mempunyai 16 Kecamatan dan 385 Desa/Lurah. Dengan jumlah penduduk 168.131 jiwa menganut 6 agama / kepercayaan. Yaitu : - Islam : 139.966 - Protestan : 25.681 - Katolik : 2.464 - Hindu : 7 - Budha : 8 - Konghocu : 5 Secara Jumlah memang Islam masih lebih banyak, Namun Protestan dan kaolik juga cukup banyak. Malah pada tempat-tempat tertentu (Desa/Kelurahan) dijumpai penganut agama Protestan lebih dominan. Terutama pada kecamatan Lawe Sigala Gala. Tingkat toleransi penduduk terhadap sikap, pendapat dan perilaku orang lain tergolong tinggi. Hal ini diwujudkan bukan hanya dalam bentuk penghargaan terhadap kepercayaan yang dianut oleh agama lain, tetapi juga toleransi terhadap cara beribadat yang berbeda yang dilakukan anggota masyarakat dari pemeluk agama yang sama. Toleransi dalam kehidupan social juga diwujudkan dalam bentuk toleransi terhadap keberadaan seorang pimpinan masyarakat dapat menerima pimpinan dari agama. Masyarakat di Kab. Aceh Tenggara ini pada awalnya adalah suku Alas, maka mereka menganggap bahwa secara budaya mereka berbeda dengan Aceh, lebih dari itu mereka merasa lebih dekat dengan Karo daripada dengan Aceh. Karena bisa memahami bahasa Karo, tetapi sama sekali tidak memahami bahasa Aceh. Identitas budaya yang berbeda itulah merupakan salah satu faktor yang mendorong sebagaimana masyarakat untuk membentuk Provinsi yang berbeda yaitu Provinsi Aceh Leuser Antara (ALA). Kerjasama antar warga berlangsung sangat baik di daerah ini, kerjasama itu bukan hanya antara yang berada dalam satu kelompok, melainkan juga antara mereka yang dari kelompok yang berbeda-beda. Kerjasama antar warga itu antara lain diwujudkan dalam bentuk kegiatan gotong-royong dalam membersihkan fasilitas umum. Terjadinya konflik di daerah Aceh beberapa tahun belakangan ini, hingga MOU antara pemerintah RI dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), bukan disebabkan perbedaan agama dan etnis. Dan gerakan separatisme terjadi di Aceh tidak berbasis di daerah yang majemuk agama, etnis/suku, malah terjadi di wilayah yang masyarakatnya tidak majemuk yang dihuni tidak banyak etnis/suku. Sungguhpun Aceh dipahami dan dipandang sebagai daerah yang tidak kondusif belakangan ini, konflik yang berkepanjangan, namun ada daerah tertentu tidak demikian halnya seperti di Kabupaten Aceh Tenggara.

2. Aspek Iklim Komunikasi 2.1 Faktor Peluang Yang Menguntungkan Hasil-hasil pemantauan di lapangan dan informasi yang disampaiakan oleh para informan yang berkaitan tentang iklim komunikasi antar umat beragama dalam pelaksanaan syariat Islam di Kab. Aceh Tenggara dapat dipahami dari kondisi dan aktivitas yang telah menjadi tradisi masyarakat adalah hal-hal yang dapat dipandang sebagai faktor merupakan peluang yang menguntungkan : - Ketaatan terhadap norma agama dan norma hukum masih dijalankan dengan penuh kesadaran oleh masyarakat. Norma yang mengatur kehidupan antara hukum adat dan hukum nasional (KUHP) berjalan seiring. - Hubungan kemasyarakatan kelompok masyarakat yang berbeda baik etnis, maupun antar pemeluk agama berjalan baik - Solidaritas antar warga sangat tinggi, tanpa melihat kesukuan maupun agama yang dianut - Toleransi dan solidaritas umat non muslim ditunjukkan dalam berpakaian, jika dalam satu kantor banyak pegawai yang beragama Islam mengenakan jilbab, maka tidak jarang mereka non muslim juga ikut memakai jilbab walaupun tidak ada yang menyuruh. - Toleransi terhadap keberadaan seorang pimpinan, masyarakat dapat menerima pimpinan dari agama yang berbeda maupun dari etnis yang berbeda, asalkan dipandang mampu. 2.2 Faktor Yang Merugikan Faktor yang dapat menjadi pemicu terjadinya gerakan massa di daerah ini antara lain terkait dengan penerapan syariat Islam. Banyaknya penduduk yang non muslim maka penerapan Qanun dapat menjadi potensi terjadinya pemicu keresahan masyarakat, terutama di saat itu pemerintah daerah belum lagi melakukan sosialisasi penerapan syariat Islam kepada semua lapisan masyarakat. Bahkan dilakukannya sosialisasi Qanun menimbulan kekhawatiran warga non muslim, karena penerapan Qanun dapat menimbulkan anggapan tentang pembatasan hak-hak warga setempat, selain itu perbedaan perlakuan dalam penegakan hukum antara lain muslim dan non muslim itu bisa menjadi pemicu bagi timbulnya gerakan massa. Karena adanya diskriminasi penegakan hukum yang dirasakan oleh non muslim dalam kasus perjudian yang pelakunya terdiri dari orang muslim dan non muslim karena pelaku muslim tidak ditahan, sementara pelaku non muslim ditahan, hal ini disebabkan berkaitan dengan Qanun di daerah tersebut. Demikian halnya, faktor kemajemukan (pluralisme) yang dimiliki dapat mengundang potensi konflik. Kendati agama memiliki kekuatan pemersatu, agama juga mempunyai potensi pemecah belah. Kesan ambivalensi agama salah satunya dapat dilihat dari fenomena perang dan damai, sebagai akibat logis dari watak. Watak agama yang dapat mendorong pertentangan dan konflik. Dalam dinamika kehidupan masyarakat yang pluralis seperti Kabupaten Aceh Tenggara ini dibutuhkan sikap dan pemikiran sebagaimana keanekaragaman budaya dan etnis yang dipelihara dengan konsensus umum mengenai nilai dan norma yang dihormati bersama. Kesimpulan. - Dari hasil penelitian baik berupa wawancara mendalam (Depth Interview) terhadap tokoh pemerintahan dan pemuka agama (Islam-Kristen) yang dijadikan sebagai informan, maupun pengamatan langsung dilapangan memberikan jawaban bahwa

-

-

iklim komunikasi antar umat beragama dalam pelaksanaan syariat Islam di Kabupaten Aceh Tenggara relative dinamis. Kehidupan masyarakat yang harmonis hal tersebut teraplikasi di dalam kehidupan sehari-hari baik sebelum diberlakukan syariat Islam maupun sesudah diberlakukan syariat Islam tersebut. Kelangsungan berkomunikasi di tengah-tengah masyarakat mempergunakan bahasa dari berbagai etnis yang ada, yang dominan bahasa Alas, Gayo, Tapanuli, dan Karo. Sementara etnis dan bahasa Aceh sangat relatif sedikit (jarang) pada umumnya masyarakat disamping menguasai bahasa etnisnya sendiri, juga dapat / bisa berkomunikasi dengan etnis yang lain. Pelaksanaan / penerapan syariat Islam di Kab. Aceh Tenggara tidak berdampak negatif terhadap kerukunan antar umat beragama, dikarenakan tingkat toleransi dan solidaritas umat sangat tinggi yang terimplikasi yaitu umat beragama dapat melaksanakan aktivitas. Kegiatan ajaran agamanya masing-masing yang saling percaya, maka konflik social, baik bersifat antar etnis maupun yang bersifat antar agama tidak pernah terjadi, hal ini dapat merupakan nilai plus yang dimiliki oleh masyarakat Kabupaten Aceh Tenggara yang perlu dicontoh di tengah kemajemukan etnis/agama di Negara kesatuan Republik Indonesia ini.

Saran. Saran yang dapat disampaikan dari hasil penelitian tentang iklim Komunikasi antar umat beragama dalam pelaksanaan syariat Islam Kab. Aceh Tenggara sesuai dengan kesimpulan di atas adalah : 1. Kondisi iklim Komunikasi yang telah tertata baik/harmonis perlu dipelihara, peran dan fungsi Tokoh/pemuka agama sangat strategis oleh karenanya pemerintah setempat mampu dan dapat menyatu dengan para tokoh tersebut, terutama di saat-saat menerapkan suatu kebijakan/peraturan. Demikian juga para birokrat dapat meminta bantuan tokoh agama pada pensosialisasian peraturan dan perundangan terhadap masyarakat, sehingga dapat disampaikan secepat mungkin dan merata. 2. Keistimewaan Aceh dalam bidang agama yang diimplementasikan dengan pelaksanaan syariat Islam secara Kappah di NAD, hendaknya dilaksanakan dengan baik, bijak, simpatis, damai, tidak menimbulkan konflik terutama dari agama lain. Oleh karenanya dalam penerapan syariat Islam dimaksud agar berhati-hati tidak menimbulkan iklim komunikasi yang tidak baik. 3. Departemen Komunikasi dan Informatika RI dapat mengangkat nilai positif dan strategis yang dimilki oleh masyarakat majemuk (pluralis) dalam rangka menuju masyarakat informasi. DAFTAR PUSTAKA Abubakar, Al Yasa, (tanpa tahun), Sekilas Syariat Islam di Aceh, Banda Aceh, Dinas Syariat Islam Provinsi NAD, tt. Akbar Thalib, 2006, Sanksi dan Denda Tindak Pidana Adat Alas, Kabupaten Aceh Tenggara, Hasil Musyawarah Adat Alas. Cangara, Hafied 2005 Cetakan ke-5, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta, Raja Grafindo Persada. Effendy, Onong Uchjana, 2000 cetakan ke-3, Dinamika Komunikasi, Bandung, Remaja Rosdakarya. Effendy, Onong Uchjana 2001 cetakan ke-14, Komunikasi Teori dan Praktek , Bandung, Remaja Rosdakarya. Ghazali, Adeng Muchtar 2004, Agama dan Keberagaman dalam Konteks Perbandingan Agama, Bandung, Pustaka Setia.

Hanafi, Abdillah 1984, Memahami Komunikasi Antar manusia, Surabaya, Usaha Nasional. Hidaya, Kamaruddin 1998, Agama Untuk Kemanusiaan dalam Andito (ed) atas Nama Agama, Bandung Pustaka Hidayah. H. Kamisan, Delis 2009, Peningkatan Kinerja Upaya Pemantapan Visi dan Misi Majelis Adat Alas untuk Mewujudkan Perdamaian Dalam masyarakat, Majelis Adat Alas Kab. Aceh Tenggara. Kahmad, Dadang 2000, Sosiologi Agama, Bandung, Remaja Rosdakarya. Lembaga Informasi Nasional 2001, Kerukunan Hidup Umat Beragama, Jakarta, LIN. Lubis, M.Ridwan, dkk 2001, Pengelolaan Keserasian Sosial Antar Umat Beragama di Kota Medan, Riset Partisipasi untuk Perumusan Kebijakan dalam Khaeroni, dkk (ed) Islam dan Hegemoni Sosial, Jakarta, Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam Dep. Agama RI. Muhajir, Noeng 1992, Metodologi Penelitian Kualitatif, Yogyakarta, Rekasarasin. Rakhmat, Jalaluddin 1998 cetakan ke-12, Phsikologi Komunikasi, Bandung, Remaja Rosdakarya. Sasongko, Haryo 2005, Kerukunan Beragama Daulat Politik dan Kereta Reformasi, Jakarta, Harapan Baru Raya. Soehartono, Irawan 1995, Metode Penelitian Sosial Suatu Teknik Penelitian Bidang Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Sosial Lainnya, Bandung, Remaja Rosdakarya. Sunarwinadi, Ilya, Komunikasi Antar Budaya, Jakarta, Pusat Antar Universitas IlmuIlmu Sosial Universitas Indonesia, tt. Undang-Undang RI No.18 tahun 2001, Tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh Sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Banda Aceh, Dinas Informasi dan Komunikasi Prov. NAD, 2002. Widjaya, A. W 1993 cetakan ke-2, Komunikasi-Komunikasi dan Hubungan Masyarakat, Jakarta, Bumi Aksara.

GAYA HIDUP MASYARAKAT YANG MENGGUNAKAN TELEPON SELULAR DI KECAMATAN PADANGSIDIMPUAN SELATAN7 Oleh. Drs. Hamdan Hamidin** Abstrak Penelitian ini berjudul Gaya Hidup Masyarakat Yang Menggunakan Telepon selular di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan bertujuan untuk melihat dan mengamati fenomena gaya hidup masyarakat yang menggunakan telepon selular hanya pada masyarakat kecamatan Padangsidimpuan selatan, Sampel penelitian ini sangat terbatas, hanya pada masyarakat Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, karena masyarakatnya sangat homogen, penelitian ini menggunakan random sampling. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis, sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran kuesioner. Kuesioner terdiri dari 58 pertanyaan tertutup, baru dianalisa dalam bentuk tabel tunggal kemudian dilakukan tabel silang. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gaya hidup masyarakat yang menggunakan telepon selular di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan sangat tinggi, sebagai akibat kebutuhan yang semakin meningkat, baik untuk bisnis, relasi, maupun hubungan sosial kekeluargaan dan bahkan dianggap sebagai tingkat status sosial, sehingga ada diantara masyarakat yang memiliki 3 (tiga) buah telepon selular.

Kata kunci:

Gaya Hidup Masyarakat, Padangsidimpuan Selatan

Telepon

Selular,

di

Kecamatan

PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Informasi merupakan hal yang mutlak dibutuhkan oleh masyarakat dimana seluruh aktivitas yang dilakukan selalu mengacu pada pertimbangan intensifitas den efektivitas. Kondisi ini berlangsung karena keadaan selalu berubah dengan cepat. Sebagai konsekwensinya, maka tanpa informasi, seseorang akan tertinggal dalam segala hal dan akan kalah dalam berbagai kompetisi yang semakin ketat dalam rangka mempertahankan dan mencapai kemajuan hidup. Pada masa sekarang ini, informasi bukan lagi merupakan produk pelengkap, melainkan sudah merupakan kebutuhan utama. Dengan memiliki informasi, maka seseorang akan tahu apa yang harus dilakukan dan ia akan dapat menguasai keadaan. Dengan demikian informasi merupakan referensi penting bagi manusia dalam membuat keputusan perihal apa yang akan dilakukan demi mencapai tujuan tertentu. Modernisasi peralatan komunikasi ini terjadi secara terus-menerus dengan kecepatan yang makin tinggi. Dengan demikian informasi yang ada dapat diakses dalam waktu singkat dan mampu tersebar pada khalayak yang akan dicapai. Dalam upaya memenuhi kebutuhan akan informasi tersebut, saat ini kita mengenal berbagai alat komunikasi modern sebagai hasil dari kemajuan teknologi. Penggunaan pesawat telepon biasa yang hanya mungkin di tempat yang bersifat statis, ternyata sangat menghalangi dan membatasi pergerakan penggunanya. Kondisi tersebut tentu sangat
7

**

* Telah diseminarkan, 29 juli 2009 di Cottage Pardede Hotel di Prapat. Penulis adalah Peneliti Muda Bidang Komunikasi pada Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BBPPKI) Medan

Namun perkembangan yang terjadi akhir-akhir ini antara lain menunjukkan bahwa pengguna telepon tidak lagi terbatas hanya para pengusaha. pada akhir-akhir ini telepon selular tidak hanya dilihat dari sisi kemampuannya sebagai alat berkomunikasi.lebih mahasiswa yang biasanya sangat dekat dengan dinamika budaya populer. dan . yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kebutuhan yang semakin meningkat. tetapi juga kalangan pekerja (buruh) baik di sektor pemerintah maupun swasta. dimana sisi terakhir ini dianggap mencerminkan status sosial. status sosial. Berapa biaya yang digunakan telepon seluler setiap bulan.menghambat jika seseorang harus berkomunikasi dengan orang lain. Tujuan Penelitian 1. 4. Namun perkembangan yang terjadi selanjutnya mengindikasikan bahwa telepon selular juga dianggap mencerminkan status sosial. 2. 5. yang dalam hal ini dianggap sebagai golongan yang paling membutuhkan komunikasi dengan intensitas dan frekwensi yang tinggi demi kemajuan usahanya. Untuk mengetahui biaya yang digunakan telepon seluler setiap bulan. Ashadi Siregar (Ibrahim. 1997:227). sehingga banyak informasi penting yang terpaksa terlewatkan. Bagaimana intensitas penggunaan telepon selular di kalangan masyarakat Kecamatan Padangsidimpuan Selatan. mengemukakan gaya hidup dapat diartikan sebagai penjejak dengan cara gampangan untuk mengenali perbedaan kehidupan kelompok-kelompok dalam masyarakat. 3. Akibat logis dari kondisi dan keterbatasan tersebut banyak pula peluang yang tidak dapat ia gunakan dengan baik. tujuan dan manfaat dan gaya hidup masyarakat. produsen telepon selular selalu mempromosikan produk telepon selular dengan berbagai mode dan spesifikasi yang makin bervariasi. Bagaimana gaya hidup pengguna telepon selular. Pada awalnya penggunaan telepon selular hanya berkaitan dengan upaya memperoleh kemudahan dalam menghubungi dan dihubungi saat mana memerlukan dan diperlukan komunikasi antar manusia. tetapi juga dilihat dari sisi mode telepon selular itu. Untuk mengetahui tujuan menggunakan telepon selular 3. dan gaya hidup. dan gaya hidup. Untuk mengetahui manfaat telepon selular. Untuk mengetahui intensitas penggunaan telepon seluler di kalangan maryarakat Kecamatan Padangsidimpuan Selatan. Manfaat yang diperoleh menggunakan telepon selular. tetapi juga bersumber dari orang lain. citra. yakni yang berkaiatan dengan intensitas. Pada mulanya penggunaan telepon selular selalu dikatakan dengan golongan pengusaha. 2. 4. Dengan demikian pengguna telepon selular dikondisikan untuk menerapkan gaya hidup tertentu yang berbeda dari gaya yang tidak memiliki telepon selular. citra. sementara ia sedang dalam perjalanan. Gaya hidup pengguna telepon selular merupakan suatu fenomena baru dalam masyarakat kita khususnya di kalangan anak muda terlebih. . Pembatasan Masalah Adapun batasan masalah dalam penelitian ini hanya terkait dengan masyarakat Kecamatan Padangsidimpuan Selatan yang menggunakan telepon selular.gaya hidup masyarakat pengguna telepon selular bukan hanya bersumber dari mereka sendiri. Tujuan menggunakann telepon selular. Citra. Melalui berbagai media. Perumusan Masalah 1.

4. Penelitian ini bermanfaat dalam penerapan teori-teori tentang dampak kehadiran teknologi komunikasi dan pengaruhnya terhadap gaya hidup masyarakat. kelompok terdiri dari jenis kelamin.952 jiwa. Sampel merupakan sebagian atau mewakili populasi yang diteliti dan dianggap menggambarkan ciri-ciri yang akan diteliti. Manfaat Penelitian 1. yang jumlah penduduknya 59. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat Kecamatan Padangsidimpuan Selatan. Populasi.708 jiwa dan perempuan 29. tumbuhan. Sebagai pengembangan ilmu Komunikasi. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah penelitian perihal penggunaan teknologi komunikasi khususnya telepon selular dalam kehidupan sehari-hari. 1995 :144). 2. 3. Sebagai bahan masukan kepada Departemen Komunikasi dan informatika RI untuk bahan membuat rumusa dan kebijakan. pendapatan dan lain-lain. . Teknik Pengumpulan Data. populasi dibatasi pada masyarakat yang berusia 17 tahun s/d 60 tahun. yang menjadi sampel dalam penelitian ini berjumlah 60 jiwa. maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif analisis yang menggambarkan bagaimana Gaya hidup masyarakat yang menggunakan Telepon Selular di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan. benda. Sampel adalah sebagaian dari populasi yang menjadi sumber data sebenarnya dalam suatu penelitian (Rakhmat. METODOLOGI PENELITIAN Metode Penelitian. kemudian dari setiap kelompok diambil sampel yang sebanding dengan besar setiap kelompok (Rakhmat. Populasi dan Sampel. a. Menurut Sugiono (2002 : 56) bila populasi besar. yaitu aktivitas penelitian dengan cara mengumpulkan data. Sampel. 1. Penelitian Kepustakaan. Untuk mengetahui gaya hidup masyarakat yang menggunakan telepon selular di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan.5. terdiri dari manusia. Populasi adalah keseluruhan objek yang dikaji. 3. pendidikan. 2001 : 144) Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan. informasi dan keterangan melalui buku-buku teoritis yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. 1989 :79). 2. dan penelitian tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi. Teknik Penentuan Responden. pekerjaan . Sampel adalah sebagian yang diambil dari kata populasi dengan menggunakan cara-cara tertentu (Nawawi. nilai-nilai atau peristiwa berbagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu didalam suatu penelitian (Nawawi :141 ). Teknik penentuan responden yang digunakan yaitu teknik sampling proporasional yaitu dengan melibatkan pembagian populasi kedalam kategori.660 jiwa terdiri dari laki-laki 29. gejala.

dan hasil karya manusia. karya. sebagaimana terjadi dalam masyarakat tradisional. atau keterampilan. antara lain dinyatakan bahwa telepon menghapus jarak dan mempersingkat waktu. maka unsur teknologi semakin menguasai kehidupan manusia. Sebagai salah satu unsur kebudayaan yang universal. Teknologi Komunikasi Unsur teknologi sudah akrab dalam kehidupan umat manusia. poiitik. Teknologi Komunikasi dan Telepon Selular 1. Alisjahbana (1992:24). maka kita ketahui pula bahwa pembaharuan/peruhahan positif tidak mugkin dicapai tanpa teknologi komunikasi. yakni technologia. sosial budaya (termasuk agama dan . Hal ini merupakan konsekuensi logis dari pemenuhan kebutuhan manusia yang menuntut penerapan cara-cara tertentu dalam upaya mempertahankan kehidupan manusia. maka akan memakan waktu dan harus mengorbankan dana lebih banyak lagi. maka kita akan dapat menjangkau sasaran relasi lebih jauh dan lebih banyak. Dengan demikian. seni. lokasi penelitian ini ditetapkan secara Purposif. oleh karena keterbatasan waktu. Angket yaitu menyebarkan daptar pertanyaan kepada responden dengan memilih salah satu jawaban yang telah disediakan dalam daftar pertanyaan. sementara kebutuhan manusia cenderung bergerak tidak terbatas. Cara berpikir seperti ini merupakan landasan bagi kita untuk membedakan sekaligus mempertentangkan konsep teknologi dengan konsep alamiah dari kehidupan manusia. Lokasi Penelitian. atau rnembuat lebih ampuh anggota tubuh. Antropolog Indonesia. dimana lebih tepat disebut sebagai suatu kebudayaan. memperkuat. yaitu suatu aktivitas penelitian untuk mencari data-data yang lengkap dan akurat yang berkaitan dengan judul yang diteliti. yaitu mengadakan pengamatan langsung ke objek penelitian untuk mengamati secara dekat masalah yang dihadapi. Penelitian lapangan yang penulis lakukan disini adalah dengan terjun langsung ke lokasi penelitian: c. sehingga untuk memenuhi kebutuhan inilah. rnanusia dapat berbuat lebih banyak. Koentjaraningrat (1992:204) memasukkan sistem peralatan hidup dan teknologi sebagai salah satu dari tujuh unsur kebudayaan universal. dimana pun berada. Lokasi penelitian ini ditetapkan di Kelurahan Kampung Darek dan Kelurahan Wek VII Kecamatan Padangsidimpuan Selatan di Kota Padangsidimpuan. Untuk memahami konsep teknologi. ada baiknya kita tinjau secara etimologi. e. Wawancara langsung kepada tokoh-tokoh masyarakat yang dianggap dapat menjawab permasalahan tersebut diatas. d. dan lebih bervariasi dalam waktu yang singkat. Melalui teknologi telekomunikasi. yang berarti teknik. hal ini berarti bahwa manusia memiliki keterbatasan alamiah. Semakin maju peradaban manusia.T. maka teknologi terdapat dalam semua masyarakat. Telkom. dimana jika untuk menyampaikan pesan dan mombicarakan sesuatu kepada orang lain kita harus bertemu secara langsung secara fisik. Teknologi komunikasi merupakan sarana bagi manusia untuk mampu rnelakukan aktivitas lebih banyak dalam aspek ekonomi. dimana konsep teknologi dalam bahasa Indonesia disadur dari bahasa Inggris. Dalam iklan yang dipasang P. Penelitian Lapangan.b. Berdasarkan uraian ini dapatlah kita ketahui bahwa teknologi merupakan ide-ide. Pengamatan (observasi). panca indera. biaya yang ada. dan otak rnanusia. seakan-akan kita dapat berada di mana-mana dalam waktu yang bersamaan atau hampir bersamaan. Hal ini logis dan mudah dipahami. mengemukakan bahwa teknologi adalah cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan alat dan akal (hardware dan sofware) sehingga seakan-akan memperpanjang. lebih berkwalitas. bukan kemampuan yang secara genetis dibawa bersamaan dengan kelahiran manusia.

Telepon selular masa kini misalnya. Selain merek dan tipenya. Lebih lanjut lagi. Yang karena bentuknya mirip sarang lebah. Selain itu. nokia. Alat telekomunikasi yang ia temukan di tahun 1970-an ini disebut dengan Cellular Radio Telephone dan pada mulanya bentuknya masih tebal (hampir sebesar batu bata) dan berat. Eko Setyo Sadewo. Oleh karena itu. Selain peningkatan kemutakhiran teknologi. Pengembangan tersebut akan ditempuh dengan penerapan teknologi mutakhir dan pelayanan kelas dunia (Eksekutif. Anggapan ini tentu senada dengan sebutan zaman ini dan terutama di rnasa mendatang sebagai zamannya komunikasi. sehingga memiliki prospek pasar yang makin cerah. sehingga suara yang dikeluarkan sering tumpang tindih atau bahkan hilang sama sekali. Secara teknis agar pembicaraan ponsel tidak terputus. produk teknologi komunikasi dalam kehidupan munusia sangat jelas dan nyata. Nama pendek dari Cellular Radio Telephone adalah Cell Phone.pendidikan). Telepon Selular Telepon selular pertama kali diperkenalkan oleh lllionis Bell. sehingga dapat ditransmisikan lebih cepat dengan kualitas suara yang lebih tajam. para teknolog dan pelaku bisnis telepon selular juga sangat memperhatikan mode agar lebih menarik. bahwa pengembangan telepon selular di Indonesia akan semakin pesat di masa mendatang. Alat telekomunikasi ini pada mulanya memakai frekuensi yang masih berdekatan dengan gelombang radio biasa. Sistim ini mengirimkan sinyal dalam bentuk digital. 3. 2.000. namun merupakan ajang bisnis yang memiliki masa depan cerah di masa mendatang. Dari tekad dan usaha nyata pengembangan teknologi telepon selular dari pihak teknologi dan pelaku bisnis. 200. motorola. September 2000:40). maka produsen penghasil perangkat teknologi yang semula dianggap ajaib inipun semakin banyak. dan pertahanan keamanan. Beberapa produsen telepon selular diantaranya adalah ericsson. Bahkan dalam banyak . Jika komunikasi dengan menggunakan teknologi ini terganggu berarti kita berada di tempat yang sulit dicapai oleh sinyal dari menara selular. Istilah ini sudah sangat sering kita dengar dan bahkan kita ucapkan. Generasi terbaru dari telepon selular saat ini dinamakan dengan PCS (Personal Communications Services) dan beroperasi pada frekuensi yang lebih tinggi. Walaupun masih jauh dari sempurna. Selaras dengan perkembangan jaman yang pesat yang dialami telepon selular. namun penemuan ini tetap dianggap penemuan hebat di zamannya. tidak terpisah atau memiliki jarak.000 hingga Rp. General Manager Telkomsel Regional III menegaskan. Telepon selular bukan sekedar alat telekomunikasi canggih. Gaya hidup (life style) sudah menjadi istilah yang cukup akrab bagi kita. Gaya Hidup. 03-12 Agustus 1996:62). Satu sel berjarak radius 1. Penemuan lainnya adalah teknologi yang memungkinkan kita untuk dapat mengakses internet melalui telepon selular. harganyapun bervariasi yakni Rp. karena memang nyata-nyata menawarkan sesuatu yang sangat berbeda dari telepon biasa (Desiyanti. siemens. telepon seluler generasi terbaru juga dilengkapi dengan layar kristal yang berfungsi untuk memunculkan menu yang kita inginkan.5 km sampai 56 km dari menara selular. panasonic. dan Iainnya. istilah sel yang digunakan di sini merujuk pada daerah yang dicakup oleh satu menara penerus sinyal. biasanya sel-sel itu disusun secara overlap (bertumpuk) di ujungnya. Gadis. yakni sekitar 1900 Mhz. maka telepon selular yang kita kenal saat ini sudah jauh lebih canggih dari temuan awal. jauh lebih kecil dan ringan dari generasi sebelumnya.000. yang dalam bahasa Indonesia dinamakan dengan telepon selular atau disingkat dengan ponsel. 7. maka disebut sistem selular.

Istilah gaya sendiri dapat diartikan cara yang benar dan khusus. maka gaya hidup itu meliputi aspek ekonomi. Istilah gaya hidup sudah sangat akrab dengan teknologi komunikasi. adanya istilah gaya hidup masa kini secara implisit ingin menginformasikan dua atau lebih gaya hidup yang berbeda. 1. yang secara implisit berbeda dari kelompok manusia lain. Perubahan Kognitif Perubahan yang berkaitan dengan pikiran. karena istilah tersebut tidak lazim digunakan untuk menginformasikan sesuatu yang universal.magazine. misalnya yang semula tidak menyenangi sesuatu hal menjadi menyenangi. dan lain-lain. Dengan pengaruh ini diharapkan komunikan yang semula tidak mengerti menjadi mengerti. Gaya hidup juga mencakup pola konsumsi. Kedua istilah tersebut mengindikasikan cara hidup yang biasa dijalani dan diterapkan sehingga merupakan kebiasaan sekaligus ciri tersendiri. Istilah gaya hidup berkaitan erat dengan budaya. Perubahan Behavioral Perubahan itikad untuk berperilaku tertentu dalam arti karena melakukan suatu tindakan atau kegiatan yang bersifat fisik atau jasmani. 2. melainkan digunakan untuk menginformasikan sesuatu yang khusus. Sedangkan gaya hidup diartikan dengan cara hidup (Ostler. yang semula kecewa menjadi tidak kecewa. menunjukkan cara hidup yang dianggap benar dan spesifik bagi kaum elitisme. sehingga terdapat kecenderungan untuk menerapkan cara hidup yang berbeda dari kaum awam. politik. Demikian halnya dengan majalah khusus telepon selular lain seperti TELSET telematique society . Misalnya. Demikian akrab dan menyatunya penggunaan telepon selular dengan gaya hidup ini. Perubahan Afektif Perubahan yang berhubungan dengan perasaan. yakni masa kini dengan masa sebelumnya. 1987 : 556). Jika dilihat dari segi aspek. dengan demikian istilah ini sering dihubungkan dengan dunia mode sehingga mengindikasikan kecenderungan memiliki dan menerapkan sesuatu yang spesifik dalam rangka identitas diri. khususnya telepon selular. juga dikaitkan dengan gaya hidup. Dengan demikian gaya hidup dapat diartikan sebagai cara hidup yang dianggap benar dan khusus yang biasanya menjadi milik sekelompok manusia. Jika kita mengikuti jalur berfikir James Lull di atas dapat dikemukakan bahwa gaya hidup memiliki cakupan luas. Hal ini antara lain disebabkan penampilan seseorang yang menjadi pengguna telepon selular itu sering berbeda dari masyarakat banyak. yang semula tidak tahu membedakan mana yang salah atau benar menjadi tahu. Perubahan sikap/behavioral dalam penelitian ini adalah : perubahan gaya hidup masyarakat setelah menggunakan telepon selular .lifestyle . Demikian halnya dengan istilah gaya hidup selebriti. kehidupan keluarga. 3. nalar atau rasio. yakni meliputi seluruh sisi kehidupan seseorang. sehingga secara implisit bersirat komparasi atau membandingkan. sehingga ada kaIanya memiliki arti yang bergeser dari pengertian semula. misalnya digunakan untuk menginformasikan budaya yang dominan ( James Lull. kehidupan sosial. Adanya istilah budaya pop. terkesan vulgar. Adanya unsur dan sifat khusus (spesifik) dalam konsep gaya hidup ini.penggunaannya. 1998 : 85). sehingga salah satu majalah khusus telepon selular bernama "Trend Gaya Hidup Digital SELULAR".

sedangkan laki-laki mayoritas bekerja.HASIL DATA DAN PEMBAHASAN A. adapun data yang akan dibahas mulai dari identitas responden. dengan demikian yang akan dianalisis dalam bab ini adalah data yang diperoleh 60 responden tersebut. aceh. karena mayoritas laki-laki lebih bertanggaung jawab dalam rumah tangga untuk mencari napkah dari pada perempuan di Padangsidimpuan ini Tabel 2 Suku bangsa responden No 1 2 3 4 5 6 7 8 Suku bangsa responden Batak Jawa Melayu Minang Aceh Bugis Nias Lainnya sebutkan… Jumlah f 40 14 6 60 % 66. nias dan lainnya tidak ada sama sekali. Dari keseluruhan jumlah kuesioner yang dialokasikan di lokasi penelitian yaitu sebanyak 60 kuesioner. . Agama dan lain-lain dan berikut ini dapat kita liahan antara lain: Tabel 1 Identitas Responden Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah Sumber : Hasil Penelitian n = 60 No. 1 2 f 26 34 60 % 43. sedangkan suku melayu. jumlah tersebut kembali semuanya.33 10 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 60 Dari tabel 2 tersebut diatas dapat dilihat bahwa suku bangsa responden adalah suku Batak sebanyak 40 orang atau 66. dari hasil analisa dan pengetahuan peneliti bahwa suku masyarakat di Padangsidimpuan adalah mayoritas batak dan Padangsidimpuan adalah tanah batak.67 %. jenis kelamin.33 % dan jenis klamin perempuan subanyak 34 orang atau 56. sehingga kuesioner cukup 100%.33 56.67 100 Responden yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 26 orang atau 43. Deskripsi Hasil Penelitian. pendidikan.67 %. dan suku minang sebanyak 6 orang atau 10 %. suku.33 %. bugis. suku jawa sebanyak 14 orang atau 23.67 23. Dari pengamatan peneliti lebih dominan perempuan disebabkan pada waktu wawancara dilapangan yang mulai pagi hari yang dijumpai dirumah adalah mayorotas prempuan. usia.

67 3. buruh/tukang tidak ada sama sekali. dan milik orang tua ada 5 orang atau 8. B. sadangkan untuk milik kawan tidak ada.67%. sedangkan yang milik keluarga sangan minim sekali. pegawai swasta sebanyak 6 orang atau 10%. Jumlah 10 6 28 2 12 2 60 % 16. pedagang. sedangkan ibu rumah tangga ada 2 orang atau 3. karena sangat tidak mungkin selamanya kita selalu meminjam milik orang lain. Dari analisis peneliti bahwa kebanyakan memiliki sendiri. dan pelajar /siswa ada 12 orang atau sebanyak 20%.67 10 46.67%. Sedangkan pensiunan.33 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 60 Dari tabel 3 di atas dapat dilihat bahwa pekerjaan responden adalah PNS/ABRI sebanyak 10 orang atau 16.33 20 3. menunjukkan bahwa masyarakat padangsidimpuan masih produktip sebagai pekerja dan masih membutuhkan pekerjaan dan untuk belanja keluarga sehari-hari.33%. tetapi sudah merupakan barang biasa.33%. petani/nelayan.67 8.33 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 60 Dari tabel 4 diatas dapat dilihat bahwa kepemilikan telepon selular responden adalah milik sendiri ada 55 orang atau sebanyak 91. lalu yang tidak bekerja ada 2 orang atau 3.67%. dan wiraswasta sebanyak 28 orang atau 46. . Kepemilikan Telepon Selluler Tabel 4 Kemiliki telepon selular sendiri No 1 2 3 4 Alternatif jawaban Memiliki sendiri Milik orang tua/keluarga Kawan Lainnya … Jumlah f 55 5 60 % 91.33%.No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Tabel 3 Pekerjaan responden Pekerjaan responden f PNS/ABRI Pegawai swasta Wira swasta Pensiunan Pedagang Petani/nelayan Buruh/tukang Ibu rumah tangga Pelajar/siswa Tidak bekerja Lainnya sebutkan…. karena jaman sekarang ini telepon selular bukan lagi barang mewah.

sehingga diantara masyarakat membeli telepon selular sangat murah sekali.000.000 – Rp100.000. dan untuk diatas 3 buah ada 15 orang atau 25%.67 %.Rp50.200.Rp100.000 ada 19 orang atau 31. dan di atas 15 jam ada 49 orang atau 81.33 15 8. sehingga pada jam belajar mereka tetap mematikan hp nya juga pada waktu malam. hal ini sangat pantas seorang pegwai menghidupkan Hp diatas 15 jam sedangkan lainnya adalah pelajar.67%..67 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 60 Dari tabel 7 diatas dapat dilihat bahwa biaya telepon selular responden setiap bulan adalah dibawah Rp.150.000 ada 9 orang atau 15%.67%.-Rp150.150. Tabel 6 Lamanya Telepon Selular aktif Dalam 24 jam No.67%.33%.Jumlah f 19 26 9 5 1 60 % 31.000. Tabel 7 Berap biaya rata-rata setiap bulan No 1 2 3 4 5 Biaya pekmakaian setiap bulan Dibawah Rp50. sedangkan 3 buah ada 3 orang atau 5%.antara Rp..67 6.000. 1 2 3 Keadaan aktif selama 24 jam Dibawah 10 jam 10 – 15 jam Diatasa 15 jam Jumlah f 7 4 49 60 % 11.66%.50. karena kepemilikan keluarga ini sangat membutuhkan.Diatas Rp200. 50.200.Tabel 5 Jumlah telepon di rumah Responden No 1 2 3 4 Jumlah telepon selular di rumah Respondsen 1 ( satu ) buah 2 (dua ) buah 3 (tiga ) buah Diatas 3 (tiga ) buah Jumlah f 18 24 3 15 60 % 30 40 5 25 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 60 Dari tabel 5 diatas dapat dilihat bahwa seberapa banyak telepon selular responden dirumah saat ini adalah 1 buah ada 18 atau 30%.000 – Rp.000 – Rp. Diantara responden yang memakai diatas 15 jam karena diantara mereka adalah pegawai negeri.67 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 60 Dari tabel 6 diatas dapat dilihat bahwa frekuensi telepon selular responden saat akif selama 24 jam adalah dibawah 10 jam ada 7 orang atau 11.000.000.33 1.000 ada 1 orang atau 1.100. dan bukan barang mewah.66 81. lalu antara Rp.-Rp 200.33%. dan 2 buah ada 24 orang atau 40%. namun ada juga pegawai swasta.67 43.000.100. dari analisis peneliti bahwa telepon selular dalam rumah tangga lebih dominan 2 (dua) buah.000 – Rp.Rp150. dan antara Rp. dan memakai antara 10-15 jam ada 4 orang atau 6.000 ada 26 orang atau 43. Diantara responden yang menghabiskan biaya antara .000 ada 5 orang atau 8. dan untuk diatas Rp.

dan ada diantara responden tidak mengetahui apakan telepon selularnya memakai fasilitas Internet.67%. dari jumlah responden telepon selulernya yang memakai fasilitas internet ada 8 orang tidak pernah memakai sama sekali.33%. dan yang sangat sering ada 2 orang atau 13.67 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 60 Dari tabel 10 diatas dapat dilihat bahwa apakah sejak menggunakan talepon selular teman atau sahabat dan pergaulan responden bertambah adalah yang biasa saja ada 20 orang atau 33.33%. Tabel 8 Pengetahuan Layanan internet telepon selular responden No 1 2 3 Kemiliki layanan fasilitas internet Tidak ada Tidak tahu Ada Jumlah f 43 2 15 60 % 71. sedangakan lainnya tidak ada. ini sangat relepan. dan untuk yang .33 13.. Tabel 10 Sejak menggunakan telepon selular.33 25 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 60 Dari tabel 8 diatas dapat dilihat bahwa layanan fasilitas mengakses internet pada telepon selular responden adalah yang tidak ada.karena responden kebanyakan pegawai sehingga membutuhkan komunikasi dengan kawan kerja dan juga keluarga. mereka ini mencari informasi yang belum mereka dapatkan dari media lainnya.000. sedangkan lainnya ada yang memang jarang digunakan dan ada yang mengaku sering dan sangat sering digunakan. ada 15 orang atau 25%. apakah teman atau sahabat dan pergaulan responden bertambah No 1 2 3 Pergaulan anda setelah memiliki telepon selular Biasa saja Berkurang Bertambah Jumlah f 20 6 34 60 % 33.000 sampai dengan Rp100.67 3. lalu yang sering ada 2 atau 13. yang tidak pernah ada 8 orang atau 53. Tabel 9 Penggunaan fasilitas internet oleh responden No 1 2 3 4 Penggunaan fasilitas layanan mengakses internet Tidak pernah Jarang Sering Sangat sering Jumlah F 8 3 2 2 15 % 53.34%.33%. Diantara responden telepon selularnya yang menggunakan fasilitas Internet hanya 15 orang ini sudah kemungkinan PNS atau Pegawai swasta yang mempunyai jabatan. yang tidak tahu ada 2 orang atau 3.34 20 13.Rp50.33 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 60 Dari tabel 9 diatas dapat dilihat bahwa penggunaan fasilitas mengakses internet pada telepon selular response adalah. ada 43 orang atau 71. dan yang ada. dan yang jarang ada 7 orang atau 20%.33 10 56.33%. an yang berkurang ada 6 orang atau 10%.

setelah memiliki telepon selular kebanyakan bertambah sering berkomunikasi tatap muka. lalu yang bertambah ada 15 orang atau 25%.dan yang berkurang ada 5 orang atau 8. karena mereka bisa berjanji dimana ketemu.67%.67%.67 25 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 60 Dari tabel 12 diatas dapat dilihat bahwa kegiatan hubungan komunikasi tatap muka responden bertambah atau berkurang sejak memiliki telepon selular adalah yang tidak tahu ada 6 orang atau 10%.66 5 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 60 Dari tabel 11 diatas dapat dilihat bahwa reaksi teman responden yang tidak memilki telepon selular adalah tidak tahu ada 10 orang atau 16. mungkin kita terlalu bangga punya benda tersebut.67 23.67 71.33 11. Naum diantara kerabat kita yang tidak memiliki telepon selular menilai bermacam-macang ada yang menilai kurang simpati.lalu yang biasa saja ada 43 orang atau 71.67%. namum lebih dominan biasa-biasa saja.67%. dan yang biasa saja ada 34 orang atau 56.33%. dan yang semakin akrab ada 3 orang atau 5%.33 56.66%.67 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 60 . Tabel 12 Kegiatan hubungan komunikasi tatap muka responden bertambah atau berkurang sejak memiliki telepon selular No 1 2 3 4 Hubungan komunikasi tatap muka dengan keluarga .67 6. Tabel 11 Reaksi teman responden yang tidak memiliki telepon selular No 1 2 3 4 Reaksi teman anda yang tidak memiliki telepon selular Tidak tahu Kurang simpati Biasa saja Semakin akrab Jumlah f 10 4 43 3 60 % 16. namun ada yang semakin akrab.33 33. Tidak tahu Berkurang Biasa saja Bertambah Jumlah f 6 5 34 15 60 % 10 8.bertambah ada 34 orang atau 56. Memang sangat wajar kalau kita sering berkomunikasi dengan sahabat kerabat keluarga kekeluargaan sudah pasti bertambah.dan yang kurang simpati asa 4 orang atau 6. Tabel 13 Pengaruh penggunaan telepon selular terhadap pekerjaan sehari-hari responden No 1 2 3 4 Pengaruh penggunaan telepon selular terhadap pekerjaan Tidak tahu Tidak berpengaruh Berpengaruh Sangat berpengaruh Jumlah f 19 14 20 7 60 % 31.

karena murahnya harga telepon selular ada diantar responden memiliki telepon selular 2 buah dan diatas 3 buah didalam rumah tanggan ada yang menyatakan 15 responden yang dimiliki tersebut adalah berbagai merek dan tife dan mereka sangat mebutuhkan telepon selular ini karena cepet dan tepat bisa berkomunikasi dengan keluarga. Kesimpulan. dan sering dipanggil lembur. dan sudah bosan melihat yang lama.Dari tabel 55 diatas dapat dilihat bahwa pengaruh penggunaan telepon selular terhadap pekerjaan sehari-hari responden adalah yang tidak tahu ada 19 orang atau 31. tapi masih ada sebahagian kecil milik bersama (keluarga) karena jaman sekaran ini telepon selular bukan lagi barang mewah..sampai Rp 100.33%. adapun pergaulan mereka semakin baik. lalu yang berpengaruh ada 20 orang atau 33.. bercanda mengajak keluar dengan segala macam dalih terpaksa juga kita sekali-sekali meninggalkan pekerjaan. boleh dikatakan tidak terlepas dari badannya mereka dan juga memiliki telepon kabel dirumah mereka dan diantara responden lamanya memiliki tetepon selular yang paling banyak diatas 3 tahun. juga masyarakat ada yang menggunakan fasilitas bluthoot.000. karena harganya sudah cukup murah (terjangkau). ada yang positif pekerjaan di kantor bertambah banyak.33%. PENUTUP A. tetapi sudah merupakan barang biasa. namun tidak dipungkiri ada yang tambah jauh dan ada yang biasa-biasa saja. dan yang tidak berpengaruh ada 14 orang atau 23. dan pada umumnya mereka mengganti ke yang lebih baik. setelah memiliki telepon selular pergaulan atau persahabatan semakin bertambah dan diantara responden telepon selularnya hidup dengan berpariasi ada dibawah 10 jam dan ada diatas 15 jam. Diantara responden ada yang menghabiskan biaya antara dibawah Rp 50. dan yang sangat berpengaruh ada 7 orang atau 11. bagi responden yang memiliki telepon selular yang mempunyai radio masih banyak yang menggunakannya. Diantara responden sangat banyak memanfaatkan layanan SMS dan hanya 1 orang yang tidak pernah memanfaatkannya. juga telepon selular yang mempunyai fasilitas MP3 mereka selalu memanfaatkannya karena tidak terlalu sulit untuk memanfaatkannya. karena masyarakat masih butuh informasi dan hiburan. tapi pada umumny yang memanfaatkan fasilitas ini mayoritas adalah kaulah muda yakni pelajar dan mahasiswa. Pembahasan.000. C. baik kekerabatan juga kekeluargaan. juga pemakain 3G mayoritas adalah kaulah muda pelajar dan mahasiswa itupun jarang mereka pergunakan. yang memiliki ini mayoritas juga adalah pegawai PNS dan Swasta. Dari hasil penelitian tersebut diatas nampaknya bahwa kebanyakan memiliki sendiri telepon selular sendiri. Mereka terdiri dari berbagai . Masyarakat Kecamatan Padangsidimpuan Selatan pengguna telepon selular cukup tinggi (bahkan ada yang memiliki 3 buah telepon selular). dari segi negatif sedang kita bekerja ada saja kawan-kawan yang mengganggu. dan masih banyak diantara masyarakat tidak mengerti dalam menggunakannya fasilitas bluthoot tersebut.67%. sehingga pada saat -saat tertentu dimana saja mereka dapat membuka siaran radio yang mereka senangi. kadangkadang keluarga memanggil tidak terelakkan. 1..67%.karena responden kebanyakan pegawai sehingga membutuhkan komunikasi dengan sejawat. hal ini bisa mereka mendapat hiburan dimana saja.. setelah memiliki telepon selular sangat berpengaruh terhadap pekerjaan sehari-hari. bagi responden selalu menukar telepon selularnya karena melihat lebih bagus dan menarik.. telepon selular responden juga sudah ada yang memiliki pasilitas Internet dan diantara mereka ada yang selalu memanfaatkannya hal ini dimiliki diantara PNS dan wira swasta. dan juga banyak diantara responden menggunakan layanan SMS dengan kekerabat dan keluarga.

Teori-teori Komunikasi. Metode Penelitian Sosial. Sikap manusia. Abdillah. 1993. . Usaha Nasional. rumah tangga dan sebagainya. Ilmu Komunikasi. Media Komuniksai. 3. Masyarakatkan ide-ide Baru. Kebudayaan Pop Dalam Masyarakat Komodits Indonesia. Perubahan serta Pengukurannya. Jakarta. 1992. 1993. Diharapkan kepada masyarakat setelah memiliki telepon selular tetap menjaga atau memelihara kerukunan dan kekompakan diantara berkeluarga dan bermasyarakat.1995. Medan. East West Comunition Institute. Remadja Rosdakarya. 1998. Bandung. Nasution. Komunikasi Antar Pribadi. Hanif. kesejahteraan maupun proses penyampaian berita dan persaudaraan sesamanya. di samping itu diharapkan tidak merusak hubungan keluarga. 1997. Koencaraningrat. Tatang. 2. Surabaya. Nawawi. 1986. 1992. seperti pelajar dan mahasiswa. PT Raja Grafindo. 1984. Bandung. Hadari. Diharapkan kepada masyarakat supaya hidup sederhana dan menyesuaikan pengeluaran biaya telepon seluler dengan kemampuannya. Aubery. Dinamiaka Kmiomunikasi. Citra Aditya Bakti. Jakarta. Amirin. 1990. pegawai swasta juga pegawai negeri sipil. PT Cipta Adtya Bakti. 4. Menyusun rencana Penelitian. Remadja Rosdakarya. Pustaka Mizan. namun dapat disimpulkan cukup besar dilihat dari profesi para penggunanya. Kincaid. Mar’at. Z. Diharapkan kepada masyarakat supaya mengurangi penggunaan telepon selular pada waktu jam sibuk. 1997. Yogyakarta. Metode Penelitian Bidang Sosial. ibu rumah tangga. SARAN-SARAN. Effendy. USU Press. Ilmu. Bandung. 5. Teknologi dan Perkrmbangan. Remadja Rosda Karya. Ghali Indonesia. Bandung ----------------. Manfaat yang mereka rasakan adalah semakin mudah dan cepatnya hubungan komunikasi dapat dilakukan kepada orang lain. Teori dan Praktek. Gaya hidup masyarakat yang cukup maju (kawasan bisnis. Masyarakat kota Padangsidimpuan memiliki telepon selular bertujuan untuk memudahkan berkomunikasi dengan masyarakat. teman sejawat di kantor maupun rekan. M. Jakarta. Lubis. Teknologo Kominikasi. Wilbur. 3. sanak famili. Iskandar. Ecstasy Gaya Hidup. Fisher. Laurence D. Onang Uchyana. Gajah Mada University Press. Hawai. Liliweri.1992.1987. Ibrahin Idi Subandy 1997. Jakarta. Azas-Azas Komunikasi Antara manusia. Suardi. sehingga dapat meningkatkan pendapatan. Aksara Baru. Suatu Pendekatan Global. B. gunakan SMS untuk mengurangi pemakaian pulsa. 1991. yayasan Idayu. 4. Bandung. James. Penggunaan telepon harus benar-benar bermanfaat dan berpotensi terhadap peningkatan taraf hidupnya. 1. 1989.2. Jumlah biaya terhadap penggunaan telepon seluler cukup berpariasi. relasi bisnis dan lainnya. Alo. -----------------. Yayasan Obor Indonesia. Bandung. Lull. perkantoran dan pusat pendidikan) meningkatkan penggunaan telepon seluler (ada yang memiliki sampai 3 buah telepon selular) dan mengikuti perkembangan setiap munculnya model baru. Kebudayaan. kedudukan. Pengantar Ilmu Antropologi. DAFTAR PUSTAKA Alisjabana. & Schramm.

Jakarta.Nazir. Weinner. Muhammad. 1983. Soekanto. 1995. Gramedia. SM. Metode Penelitian Komunikasi. 1990. Sumadi. Sosiologi Suatu Pengantar. Soerjono. Masri. ----------------. Jakarta. 1993. Ostler. Yogyakarta. Jalaluddin. Bandung. Puspowardoyo. Remadja Rosda Karya. 1991. 1991. Modernisasi Dinamika Pertumbuhan. Myron. . The Little Oxford Distionary Of Current English. Bandung. Jakarta. Jakarta. Bandung. George. Metode Penelitian. Rakhmat. Komunikasi dan Pembangunan Penarapan Perspektif Kritis. BPK Gunung Agung Mulia. Pieter. jakarta. CV Rajawali. Metode Penelitian. Kamus Inggeris – Indonesia. Menelitian Survey. Gajah Mada University Perss. 1994. Salim. Oxford University. Ghali Indonesia. 1998. Soerjanto. Siahaan. PT. 1989. LP3ES. 1995. Gramedia. Oxford. LP3S Jakarta. Komunikasi Pemahaman dan Penerapan. Rajawali Pers. Pembangunan Berdasarkan Kebudayaan. Singarimbun. 1987. Suryabrata.

dimana informasi kebijakan dan pesan-pesan Pemerintah disampaikan oleh bagian Humas kepada masyarakat dengan cara mengundang wartawan dari berbagai media dan dipublikasikan juga dengan melalui media massa dengan berbagai materi kegiatan Pemko. maka dengan adanya ketentuan tersebut pemerintah daerah secara leluasa dapat membentuk dinas/lembaga untuk menampung sebanyak mungkin pejabat struktural pada masing-masing daerah. maupun Peraturan Pemerintah Daerah dan berbagai bidang informasi Ekonomi. Kesra dan Perkebunan. Kata Kunci : Sistem Informasi PENDAHULUAN A. sehingga tidak ada kesamaan nama dinas/lembaga/badan yang menyalurkan atau menangani informasi disetiap daerah menggunakan istilah nama yang berbeda sehingga ada yang namanya hubungan masyarakat (humas) informasi konstruksi (infokom) ada juga Badan Informasi Komunikasi telematik (BIKT).SISTEM INFORMASI PEMERINTAHAN PADA OTONOMI DAERAH DI PEMERINTAHAN KOTA PEKANBARU Oleh : Ali Murtadha M. beda dengan sebelum otonomi daerah ditentukan oleh Pemerintah Pusat. Arifin*) Abstrak Penelitian mandiri ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pelaksanaan sistem penyampaian informasi di Pemerintahan Kota Pekanbaru setelah diberlakukannya otonomi Daerah. sekarang otonomi dan terlebih lagi dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi pada saat ini sehingga berdampak positif terhadap sistem penyampaian informasi. Penelitian diadakan pada Pemerintah Kota Pekanbaru dengan permasalahan/ instansi maupun yang bertugas untuk menyampaikan informasi dan juga apa saja materi yang disajikan dan media apa yang digunakan dalam penyampaian informasi oleh Lembaga Informasi dan seterusnya dalam hal ini Humas. Pada orde baru sistem informasi dan pembentukan instansi dan struktur organisasi penyampaian informasi ditentukan oleh pemerintah pusat. Demikianlah sistem informasi di Kota Pekanbaru setelah otonomi daerah ditentukan oleh Pemerintah Daerah setempat. Adapun hasil penelitian dapat digambarkan bahwa otonomi daerah dapat merubah sistem informasi di Pemerintah Kota Pekanbaru. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode kwantitatif adapun pengumpulan data dengan sistem field research dan library research. Pada instansi Pemerintah sebelumnya penyampaian informasi dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah dibawah arahan/ pengendalian Pemerintah Pusat (Deppen RI). Setelah diberlakukan undang-undang otonomi daerah pemerintah daerah dapat membentuk dinas/lembaga atau badan penyalur informasi sesuai dengan kebutuhan pemerintah daerah masing-masing. Latar Belakang Masalah Sistem informasi pada orde baru jauh berbeda dengan sistem informasi pada masa reformasi dan sistem komunitas juga berbeda yang mana sebelumnya sistem sentralisasi. materi informasi maupun instansi lembaga struktur organisasi penyalur informasi ditentukan oleh daerah setempat. * Penulis adalah Peneliti Muda Pada Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BBPPKI) Medan . sedangkan pada masa otonomi daerah sekarang ini sistem informasi.

Materi informasi apa saja yang disampaikan kepada masyarakat. Instansi/Lembaga mana yang bertugas/mempunyai tugas pokok dalam penyampaian informasi kebijakan Pemerintah Kota Pekanbaru. maka dimungkinkan terjadinya tumpang tindih kegiatan bahkan bisa terjadi kegiatan yang saling bertantangan antara satu dengan yang lainnya. Dengan diketahuinya pelaksanaan sistem informasi di daerah tersebut dapat menambah pengetahuan mengenai sistem informasi di Kota Pekanbaru.Akibat berbedanya nama instansi yang berkaitan dengan penyaluran informasi. Sistem informasi yang baik memungkinkan kegiatan yang dilakukan pemerintah dapat direspon oleh masyarakat sehingga dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. maka mungkin saja berbeda sistem informasi pemerintah antara satu daerah dengan daerah lain dan pada saat ini sistem informasi di pemerintah masih mencari pola/model yang lebih relefan dan efektif untuk kelancaran pelaksanaan pembangunan yang sedang dilaksanakan. Ada perbedaan tugas antara humas dengan Kandep Penerangan menyampaikan informasi yang bersumber dari pemerintah pusat dan kemudian dilanjutkan ke Jupen Kecamatan sebagai ujung tombak juru penerangan (jupen) demikian juga Departemen lain menyampaikan informasi dengan melalui petugas penyuluh lapangan (PPL) dari masing-masing instansi. c. Dari hasil survey membuktikan bahwa ada dua instansi/organisasi yang menyangkut dengan penanganan penyaluran informasi di Kota Pekanbaru yaitu Kantor Informasi & Komunikasi Pemerintah dibawah Dinas Perhubungan dan sub bagian Hubungan Masyarakat (Humas) di bawah Pemerintah Kota Pekanbaru. Sedangkan humas yaitu menyampaikan informasi yang bersumber dari pemerintah daerah disampaikan kepada masyarakat dengan cara yang selalu disebut persrelis yang disampaikan melalui media massa. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas dirumuskan permasalahan penelitian yaitu bagaimana pelekasanaan sistem penyampaian informasi pada daerah otonomi di Pemerintahan Kota Pekanbaru. d. D. Maka dengan demikian dapat diketahui tujuannya sebagai berikut : b. Suatu model atau sistem informasi pemerintah mempunyai peran yang penting untuk mensukseskan pembangunan di suatu daerah sistem informasi yang baik dapat menciptakan ke satuan gerak dan langkah antara lembaga/dinas untuk mencapai tujuan jika sistem informasi antara lembaga/dinas tidak berjalan baik. Hasil penelitian ini juga dapat dimanfaatkan sebagai pembanding sistem informasi diberbagai daerah yang memiliki sistem informasi yang berbeda. Untuk mengetahui apa saja materi informasi yang disampaikan kepada masyarakat. Kantor Informasi dan Komunikasi adalah lembaga hasil peleburan kantor departemen penerangan pada masa orde baru sebelum otonomi daerah sedangkan humas di bawah sekretaris daerah pada Kantor Walikota dan sudah ada sebelum otonomi daerah yang struktur organisasinya berada di bagian sekretaris daerah. B. Pembatasan Masalah Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : b. Untuk mengetahui siapa yang bertugas menyampaikan informasi. Metode dan media apa saja yang digunakan dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan sistem informasi di Kota Pekanbaru. c. .

mengolah. Pengertian Sistem Informasi Berbagai pengertian tentang sistem informasi dikemukakan dalam berbagai buku untuk menggambarkan pengertian mengenai sistem informasi diantaranya ditulis oleh Alter (1992) bahwa Sistem Informasi adalah kombinasi antara prosedur kerja. Adanya urusan-urusan tertentu yang diserahkan oleh pemerintah pusat atau daerah untuk diatur dan diurusnya dalam batas-batas wilayahnya. Oram dan Wiggins (1990) mendifinisikan sistem informasi adalah suatu sistem buatan manusia yang secara umum terdiri atas sekumpulan komponen berbasis komputer dan manual yang dibuat untuk menghimpun. Model masukan keluaran ini biasa disebut juga dengan model kotak hitam (black-box model). daerah otonomi merupakan ”kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasar aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia”. H. dapat disimpulkan bahwa daerah otonom adalah daerah yang memiliki otonomi daerah. ada proses (data menjadi informasi) dan dimaksudkan untuk mencapai suatu sasaran atau tujuan (output). tehnologi informasi dan prosedur kerja) berupa masukan (input). Adanya alat-alat perlengkapan atau organ-organ atau apatur sendiri. Menurut UU No. E. Proses transformasi sistem ini sering dilukiskan organ dengan mempergunakan model masukankeluaran (input-output). orang dan tehnologi informasi yang diorganisasikan untuk mencapai tujuan dalam sebuah organisasi. J. informasi.d. Otonomi Daerah Untuk melaksanakan kebijakan desentralisasi dibentuk daerah otonom. Oleh karena itu. 2. Teori Sistem Setiap sistem merupakan tempat memproses. diproses menjadi informasi dan didistribusikan kepada pemakai. Untuk mengetahui metode dan media apa saja yang digunakan dalam penyampaian informasi tersebut. I. mengubah. Model adalah gambaran mengenai sesuatu realitas untuk menggambarkan bagaimana suatu itu tampaknya atau bagaimana bekerjanya guna memudahkan memahami dan atau mengkajinya. Kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasar aspirasi masyarakat sering disebut otonomi daerah. Istilah kotak hitam disini . 3. menyimpan dan mengelola data serta menyediakan informasi keluaran kepada pemakai. Gelinas. Pengaturan urusan-urusan tersebut masyarakat daerah perlu memiliki sumber-sumber pendapatan/keuangan sendiri. Istilah kotak hitam disini dipergunakan untuk memudahkan memahami dan atau mengkajinya. Kaho (1987) memaparkan ciri-ciri Daerah Otonom sebagai berikut : G. Dari berbagai difinisi tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem informasi mencakup sejumlah komponen (manusia. Landasan Teori 1. atau menstransformasikan bahan-bahan yang disebut masukan (input) menjadi suatu hasil kerja yang bisa disebut keluaran (output) (Shrode dan Voich. 1974 : 128). Hall (2001) mendifinisikan sistem informasi sebagai sebuah rangkaian prosedur formal dimana data dikelompokkan. Bodnar dan Hopwood (1993) mendifinisikan sistem informasi adalah kumpulan perangkat keras dan perangkat lunak yang dirancang untuk mentransformasikan data ke dalam bentuk informasi yang berguna. 22 Tahun 1999. Pengaturan dan pengurusan urusan-urusan tersebut dilakukan atas inisiatif sendiri dan didasarkan pada kebijaksanaan sendiri pula.

Proses Dari sisi proses di Humas dan Kantor infokom yang bisa dijadikan indikator terjadinya proses pelaksanaan sistem informasi adalah : 1) Pelaksanaan proses tugas penyampaian informasi ditandai oleh : Kepemimpinan lembaga yang kuat. 5. 3. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kebijakan. 2) Sumberdaya yang tersedia dan siap. Kompetensi ini dapat ditunjukkan dengan kesesuaian tingkat dan latar belakang pendidikan. Indikator terjadinya kinerja pelaksanaan informasi tersebut adalah informasi yang disampaikan oleh humas dan infokom dapat diterima. yang ditandai komunikasi yang baik dan harmonis antara humas. 3) Partisipasi yang tinggi dari unit kerja di pemerintah daerah. maka pendekatan sistem merupakan cara yang tepat sebagai pemandu. Input Dari sisi masukan (input). Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan penelitian kualitatif yaitu dengan mengumpulkan dan menggali data kemudian ditabulasi dan dianalisa secara diskriptif. dan kedisiplinan dalam melaksanakan tugas. Konsep dasarnya : Masukan Proses Keluaran Untuk menilai pelaksanaan sistem informasi di Pemerintah Kota Pekanbaru. 3) Staf yang kompeten dan komitmen tinggi. sejauh mana kesiapan sumberdaya baik sumberdaya manusia (yang mencakup jumlah dan kualitas) maupun sumber dana selebihnya seperti keuangan. jadi seperti kotak hitam (Tatang M. yang bisa dijadikan indikator untuk mengetahui masukan pelaksanaan sistem informasi di humas dan Kantor infokom adalah : 1) Memiliki tugas dan sasaran yang jelas. 2. 2002 : 38). kerja sama yang didasari oleh saling pengertian dan kesediaan menerima perbedaan pendapat. Arifin. menggerakkan sumber daya manusia dilingkungan humas dan infokom serta menyerasikan semua sumberdaya yang ada pada satu tujuan yang sama.dipergunakan untuk menunjukkan bahwa isiyang terkandung di dalam satuan (unit) pemroses (transformasi) atau jelasnya sistem itu tidak diketahui. dalam arti kepemimpinan yang kuat dalam mengkoordinasikan. Dalam hal ini dapat diamati dari : keikutsertaan unit kerja di Pemda dalam berbgai aktifitas pelaksanaan tugas Humas dan Infokom. Sumberdaya sangat strategis bagi keberhasilan pelaksanaan tugas humas dan infokom. Staf yang kompeten merupakan pra sarat mutlak dalam pelaksanaan tugas humas dan infokom. 1. Out-put Setiap proses pelaksanaan sistem informasi selalu diharapkan adanya keluaran atau hasil berupa kinerja pelaksanaan sistem informasi. Model kotak hitam itu digambarkan atau dilukiskan orangorang bermacam-macam. kemampuan melaksanakan tugas. infokom dan satuan unit kerja di pemerintahan. tugas dan sasaran yang akan dicapai Humas dan kantor infokom. Lokasi Penelitian . 2) Kerja sama yang kompak dan cerdas serta dinamis. peralatan perlengkapan dan sebagainya. F.

Field Research (Penelitian Lapangan) Dalam rangka mengumpulkan atau menghimpun data dengan cara mengadakan wawancara dan melalui penyebaran kuesioner kepada responden yang telah ditentukan secara fuspasitife. A. 1. Tehnik Analisa Data Adapun yang digunakan untuk menganalisis dalam penelitian analisis kualitatif didukung dengan data kualitatif yang diperoleh melalui pengamatan/wawancara. sedangkan yang informasi dan komunikasi 7 F atau 28%. yaitu yang mempunyai tugas pokok sebagai penyalur informasi kebijakan Pemerintah Kota Pekanbaru kepada masyarakat dalam hal ini adalah semua karyawan Bagian Hubungan Masyarakat dan protokol pada Pemerintah Kota Pekanbaru sebanyak 25 orang sebagai responden. 3. Maka untuk selanjutnya dapat diketahui tentang yang menyampaikan informasi pada pemerintah Kota Pekanbaru sebagaimana yang tertera pada tabel berikut ini. Tehnik Pengumpulan Data Dalam penelitian untuk memperoleh data dengan melalui : a. Uraian Infokom Hubungan Masyarakat Pengolahan Data Elektronik Lainnya sesuai bidangnya Jumlah F 7 16 2 25 % 28 64 8 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 25 Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa yang bertugas dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat adalah instansi Pemerintah Pemko bidang hubungan masyarakat sebanyak 16 F atau 64%. Penyampaian informasi Pada pemerintahan Kota Pekanbaru ada beberapa bidang / instansi yang menyampaikan informasi sebagaimana yang tertera pada tabel berikut ini. Kemudian data yang diperoleh melalui kuesioner di edit dan ditabulasi dan dipersentase dan dipaparkan untuk selanjutnya disimpulkan. Penyampai Layanan Informasi Kepada Masyarakat No. . 2. Library Research (Penelitian Kepustakaan) yaitu dengan mengumpulkan data dengan melalui buku-buku maupun terbitan Pemko Pekanbaru yaitu peneliti berusaha untuk memperoleh data dan informasi yang berhubungan dengan sistem informasi. yang dijadikan sebagai landasan teoritis dan data pendukung dalam penelitian ini. Tabel 1. 4. HASIL PENELITIAN Berdasarkan hasil penelitian di lapangan tentang sistem informasi publik pada otonomi daerah di Kota Pekanbaru dapat diuraikan sesuai dengan tabel dibawah ini.Penelitian ini dilaksanakan di Pemerintahan Kota Pekanbaru pada Sub Bagian Hubungan Masyarakat dan Protokol sebagai lembaga yang secara khusus menangani dan menyampaikan informasi kepada masyarakat 6. 7. sedangkan yang menjawab pengolahan data elektronik yang menyampaikan informasi kepada masyarakat hanya 2 F atau 8%. b.

Demikian uraian tentang yang berhak menyampaikan informasi selanjutnya akan diutarakan tentang bagaimana Humas menyampaikan informasi kepada masyarakat melalui media. B. Mengadakan Dialog Interaktif Jumlah Sumber : Hasil Penelitian n = 25 F 21 2 2 25 % 84 8 8 100 Adapun cara atau metode Humas menyampaikan informasi melalui media adalah sebagaimana yang tertera dalam tabel tersebut di atas yaitu dengan cara bahwa setiap ada acara kegiatan Pemko atau informasi yang hendak disampaikan kepada masyarakat pihak Humas mengundang wartawan dari berbagai media apakah media elektronik maupun media cetak yaitu sebesar 21 F yang menjawab mengundang wartawan atau 84%.61%. 3. Mengirim Berita ke Media 3.25 16. Demikian sistem atau cara Humas dalam menyampaikan informasi melalui media baik media cetak maupun media elektronik. Uraian 1. 2.Tabel 2.14%. Uraian Politik dan Keamanan Kesejahteraan Masyarakat Ekonomi dan Keuangan Kegiatan Pemko Pekanbaru Jumlah F 5 10 5 5 25 % 20 40 20 20 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 25 . Materi Informasi Adapun materi informasi yang disampaikan adalah berpariasi sesuai dengan bidangnya masing-masing sebagaimana yang tertera dalam tabel berikut ini : Tabel 4.14 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 25 Dari tabel tersebut diatas dapat diketahui bahwa yang menyampaikan informasi tentang kegiatan Pemerintah Kota Pekanbaru adalah yang menjawab Humas sebanyak 16 F atau 51. 1. Materi Informasi Yang Disampaikan No. Caranya Humas Menyampaikan Informasi Melalui Media No.25% dari yang menjawab petugas lainnya 5 F atau 16. sedangkan yang menjawab instansi terkait sebanyak 10 F atau 32.61 32. Tabel 3. 1. 4. Dari jawab responden dapat diketahui bahwa Humaslah yang bertugas untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat tentang kegiatan Pemerintah Kota Pekanbaru. Penyampai Informasi Tentang Kegiatan Pemerintah Pada Masyarakat No. 2. Uraian Hubungan Masyarakat Instansi Terkait Petugas Lainnya Jumlah F 16 10 5 25 % 51. Adapun yang menjawab cara menyampaikan informasi itu mengirim berita ke redaksi media dan ada juga yang menjawab dengan cara mengadakan dialog interaktif masing-masing 2 F atau 8%. maka Humaslah sebagai corong pemerintah Kota Pekanbaru dalam setiap penyampaian informasi kegiatan Pemerintah Kota Pekanbaru. Mengundang Wartawan 2. 3.

Ekonomi dan Keuangan. 4. Bentuk Kegiatan Pemerintah Kota No. Politik dan Keamanan. Materi Informasi Yang Paling Dominan No. Maka dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa materi informasi yang disalurkan adalah bidang Kesra. ekonomi dan keuangan kegiatan Pemerintah Kota Pekanbaru masing-masing hanya memperoleh 5 F atau 20% masing-masingnya. Uraian 1. Peresmian / Pelantikan 3.Humas Pemko Kota Pekanbaru sebagai corong pemerintah kota menyampaikan informasi dengan berbagai jenis informasi. . 1. Tabel 5. Maka dengan demikian dapat diketahui bahwa materi informasi yang paling banyak adalah informasi tentang kesejahteraan masyarakat (Kesra) hal ini mungkin yang dianggap perlu oleh Humas untuk disampaikan kepada masyarakat karena sesuai dengan tujuan negara RI adalah antara lain untuk mensejahterakan rakyat. Adapun materi informasi Kesra sebanyak 10 F atau 40% sedangkan Politik dan Keamanan 5 F atau 20% sedangkan Ekonomi sebanyak 5 F atau 20% dan kegiatan Pemko Pekanbaru sebanyak 5 F atau 10%. Maka dengan demikian dapat diketahui bahwa kegiatan Pemko Pekanbaru juga merupakan materi informasi meskipun peresmian / pelantikan mendapat yang terkecil namun juga dipublikan kepada khalayak. Ekonomi disamping itu juga yang dipublikasikan oleh Humas adalah kegiatan-kegiatan Pemerintah Daerah Kota Pekanbaru ini materi-materi informasi yang disampaikan kepada masyarakat dengan melalui media cetak dan elektronik yang ada pada daerah tersebut. Kesejahteraan Rakyat (Kesra) juga kegiatan Pemko Kota Pekanbaru termasuk sebagai materi dan informasi yang disiarkan oleh Humas yaitu yang berbentuk kegiatan Pemko Pekanbaru yang berua kunjungan kerja Pemko Pekanbaru sebanyak 2 F atau 40% kemudian Peraturan Pemerintah Daerah juga sebesar 2 F atau 40% sedangkan peresmian / pelantikan hanya 1 F yang menjawab atau 20%. 2. 3. Uraian Polhukam Kesra Ekuin Kegiatan Pemko Jumlah F 5 10 5 5 25 % 20 40 20 20 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 25 Adapun materi informasi yang disajikan sesuai dengan tabel tersebut di atas adalah bidang Kesra sebanyak 10 F sedangkan materi informasi yang berupa politik dan keamanan. Dengan demikian uraian tentang materi yang paling banyak disajikan kepada masyarakat khususnya kepada masyarakat Kota Pekanbaru. Maka pada tabel berikut ini akan dipaparkan tentang materi yang paling banyak disampaikan kepada masyarakat sebagai berikut : Tabel 6. Kunjungan Kerja 2. Peraturan Pemerintah Daerah Jumlah Sumber : Hasil Penelitian n = 25 F 2 1 2 5 % 40 20 40 100 Pada tabel ini menguraikan bahwa materi informasi yang disampaikan kepada masyarakat disamping Politik Keamanan.

Metode Tambahan Yang Digunakan Dalam Penyampaian Informasi No. Berikut ini akan diutarakan tentang informasi yang disampaikan kepada masyarakat apakah yang telah di olah atau di kemas oleh lembaga-lembaga instansi yang tertentu sebagaimana yang ada pada tabel dibawah ini. 2. Jadi disamping informasi disampaikan melalui tokoh-tokoh juga informasi disampaikan di rumah-rumah ibadah dengan melalui selebaran maupun pengumuman kepada khalayak. Tabel 7. . 1. Metode Utama Yang Digunakan Dalam Penyampaian Informasi No. Adapun cara atau metode dengan melalui mengadakan rapat / pertemuan atau pengumpulan masa masing-masing sebanyak 4 F atau 16%. Tabel 8. Dialog Interaktif 7 28 2. Mengadakan Pengumpulan Massa 4 16 4. 3. metode ini dengan memanfaatkan tokoh agama sebanyak 10 F atau 40%. Metode Penyampaian Informasi Dalam penyampaian informasi publik Humas mempunyai metode tersendiri sebagaimana tersebut dalam tabel berikut ini. Uraian F % 1. Pertemuan Rapat Rutin 4 16 3. Uraian Tokoh Formal Tokoh Agama Tokoh Krismetik Pengumuman di rumah ibadah Jumlah F 8 10 5 2 25 % 32 40 20 8 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 25 Tabel di atas menjelaskan tentang metode yang digunakan disamping metode yang tersebut pada tabel sebelumnya. 4.C. Jadi dalam penyampaian informasi adakalanya di tengah-tengah keramaian dengan melalui pengumumanpengumuman. Mengundang Wartawan Dari Masing10 40 masing Media Jumlah 25 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 25 Dalam penyampaian informasi Humas menggunakan beberapa metode seperti mengundang wartawan yaitu sebanyak 10 F atau 40% maksudnya setiap ada informasi yang ingin dipublikasikan Humas memanggil wartawan dari berbagai media apakah media cetak media elektronik semacam pers rikas yang menjadi sumber informasi yang membri keterangan adalah Humas pemerintah daerah Kota Pekanbaru disamping itu mengadakan dialog interaktif 7 F atau 28% yaitu pihak Humas mengadakan penyampaian informasi melalui media elektronik dengan menggunakan cara / metode dialog interaktif. Adapun melalui tokoh formal sebanyak 8 F atau 32% dengan melalui tokoh Kerismetik sebanyak 5 F atau 20% adapun dengan melalui pamplet atau penguman ditempat keramaian atau pada rumah-rumah ibadah sebanyak 2 F atau 8%.

Alur Penyampaian Informasi No. tokoh masyarakat juga informasi kebijakan pemerintah disampaikan dengan bertahap/berjenjang yaitu dari Pemerintah Kota lalu ke Kecamatan dan diteruskan sampai ke Tingkat Kelurahan sebanyak 5 F atau 20% dan ada juga secara langsung dari Pemko langsung ke masyarakat sebanyak 20 F atau 80% dimana pihak pemerintah menyampaikan informasi secara langsung kepada masyarakat baik melalui lisa tatap muka. Demikian cara penyampaian informasi kebijakan pemerintah kepada masyarakat. Dengan cara tatap muka kepada masyarakat Jumlah Sumber : Hasil Penelitian n = 25 F 5 12 8 25 % 20 48 32 100 Sesuai dengan tabel diatas bahwa penyampaian informasi secara langsung sebanyak 12 F atau 48% yaitu pihak pemerintah menyampaikan langsung kepada masyarakat baik dengan melalui pengumuman di tempat keramaian maupun melalui rumah-rumah ibadah dan juga dengan cara tatap muka pada masyarakat sebanyak 8 F atau 32 %. Badan/Dinas Yang Menyampaikan Informasi No. Hubungan Masyarakat 3. Bertahap dari Pemko ke Kecamatan ke Kelurahan 2. Sedangkan adapun informasi yang diolah Bagian Pengolahan Data Elektronika sebanyak 6 F atau 24%. Jadi informasi yang disampaikan kepada masyarakat adalah informasi yang telah diolah di kemas atau dibahas di filter yaitu sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat sehingga tak menimbulkan keresahan masyarakat. Uraian 1. Uraian 1. Dengan cara tanya jawab 2. Menyampaikan secara langsung 3. Tabel 11. Cara Pemerintah Daerah Dalam Penyampaian Informasi Langsung No. Baca langsung dari Pemko ke masyarakat Jumlah Sumber : Hasil Penelitian n = 25 F 5 20 25 % 20 80 100 Adapun tahapan atau sistem informasi kebijakan pemerintah disamping melalui mess media. PDE Pengelola Dalam Elektrik 2. . Tabel 10.Tabel 9. Sedangkan yang di kemas infokom sebanyak 4 F atau 16%. tanya jawab maupun pidato/ceramah Walikota secara tertulis dengan melalui pengumuman di tempat-tempat keramaian maupun di rumah-rumah ibadah. Hal ini sebagaimana tertera pada tabel berikut ini. Uraian 1. Informasi dan Elektronika Jumlah Sumber : Hasil Penelitian n = 25 F 6 15 4 25 % 24 60 16 100 Sesuai dengan tabel di atas bahwa informasi yang disampaikan kepada masyarakat adalah informasi yang telah diolah atau dikemas oleh Bagian Hubungan Masyarakat sebanyak 15 F atau 60%.

Media yang digunakan dalam penyampaian informasi Pemerintah Kota Pekanbaru dalam menyampaikan informasi kebijakan Pemko Pekanbaru dengan menggunakan beberapa media seperti media elektronik Radio dan Televisi maupun media cetak seperti surat kabar dan juga media baru yaitu internet dan selanjutnya akan dapat diketahui tentang media yang sering dimanfaatkan oleh Pemda Kota Pekanbaru dalam penyampaian informasi. Pemeritahuan 3. 1. Penyampaian Informasi Secara Tertulis No. Tabel 14. Tidak pernah Jumlah Sumber : Hasil Penelitian n = 25 F 5 10 10 25 % 20 40 40 100 Dari tabel diatas menunjukkn bahwa informasi kebijakan pemerintah yang disampaikan masyarakat dapat diketahui bahwa jarang disampaikan secara tertulis yaitu 10 F atau 40% dan yang menjawab tidak pernah sebanyak 10 F atau 40% sedangkan yang mengatakan sering hanya 5 F atau 20%. Uraian Media Cetak Media Elektronik TV Tatap muka Media radio Jumlah F 9 7 3 6 25 % 36 28 12 24 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 25 Pada tabel ini mengutarakan tentang media yang sering dimanfaatkan oleh Humas dalam menyampaikan informasi pemerintah berdasarkan tabel diatas bahwa yang menjawab media cetak sebanyak 9 F atau 36%. Maka dengan demikian pemerintah Kota Pekanbaru ada menyampaikan informasi kepada masyarakat dengan cara tertulis. D. Uraian 1. media elektronik Televisi sebanyak 7 F . 3. Macam-Macam Informasi Tertulis No. Yang sering 2. Jarang 3. Sebagaimana yang tertera pada tabel berikut ini.Tabel 12. Perda 2. Tabel 13. Uraian 1. Maka dengan demikian jelas bahwadisaming informasi disampaikan melalui media juga ada informasi disampaikan secara tulis seperti brosur-brosur tentang Peraturan Pemerintah Daerah kegiatan Pemko dan pemberitahuan lainnya. Kegiatan Pemko Jumlah Sumber : Hasil Penelitian n = 25 F 2 1 2 25 % 40 20 40 100 Adapun informasi yang disampaikan secara tetrulis kepada masyarakat luas adalah seperti Perda yaitu menjawab 2 F atau 40% demikian juga kegiatan Pemko 2 F atau 40% sedangkan pemberitahuan hanya 1 F atau 20%. 4. 2. Demikian penjelasan tentang tabel diatas tentang penyampaian informasi yang disampaikan secara tertulis. Media Yang Paling Dominan Dalam Penyampaian Informasi No.

Sedangkan media radio sebanyak 6 F atau 24%. Uraian Berita Karikatur Artikel Tajuk Pajak Jumlah F 25 25 % 100 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 25 Pada tabel ini memaparkan bahwa media cetak surat yang digemari oleh masyarakat adalah dalam bentuk berita secara 25 F atau 100%. hal ini telah menjadi kebiasaan masyarakat Pekanbaru dalam memperoleh / mencari informasi tentang kegiatan Pemerintah maupun informasi lain yang bersumber dari Pemko masuarakat akan mencari atau memilih surat kabar sebagai sumber informasi demikian uraian tentang penggunaan media dalam menyampaikan informasi. Jadi yang lebih banyak digunakan oleh Humas adalah media cetak dalam hal ini adalah surat kabar kemudian barulah Televisi dan Radio yang digunakan sebagai media dalam penyampaian informasi publik di Pemerintahan Kota Pekanbaru.19%.82%.82 44. Sedangkan yang menjawab informasi disampaikan dengan melalui tatap muka sebanyak 3 F atau 8. 3. 4. Tabel 15. maka dari tabel tersebut jelas bahwa Humas menyampaikan informasi dengan mengundang wartawan surat kabar terbitan daerah Pekanbaru dan menyajikan informasi tersebut dalam bentuk / jenis berita. 1.atau 28%.88 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 25 Berdasarkan tabel di atas bahwa Humas menyampaikan informasi kepada masyarakat dengan menggunakan media cetak sebanyak 15 F atau 44. Kemudian dengan melalui media elektronik sebanyak 14 F atau 41. Media Informasi Humas No. 5. 3. Ada juga yang menjawab bahwa menyampaikan informasi kegiatan Pemerintah Daerah dengan melalui disposisi dari Pemko sampai ke tingkat Kelurahan maksudnya informasi di sampaikan dengan secara tertulis mulai dari Pemerintah Kota ke Kecamatan lalu dilanjutkan ke Kelurahan dan sampai ke tingkat Kepala Lingkungan / Ketua Rukun Tetangga dan sampai kepada masyarakat. hal ini disebabkan kemungkinan masyarakat lebih menggemari surat kamar dalam memperoleh atau menikmati informasi.19 5. Format Informasi Pada Media Cetak No. Tabel 16. Uraian Tatap Muka Media Cetak Media Elektronik Dengan Disposisi dari Pemko Jumlah F 3 15 14 2 34 % 8. . 2.11%.11 41. 4. sedangkan selebihnya adalah informasi disampaikan dengan melalui tatap muka sebanyak 3 F atau 12%. Berikut ini cara Humas menyampaikan informasi sesuai dengan tabel berikut ini. Demikian media yang digunakan oleh Humas yang disampaikan kepada masyarakat. 2. 1.

Media Radio 2. Uraian 1. Tatap Muka Jumlah Sumber : Hasil Penelitian n = 25 F 7 10 8 25 % 28 40 32 100 Pada tabel ini menggambarkan tentang penyampaian informasi yang efektif yaitu yang menjawab media radio sebanyak 7 F atau 28%.Tabel 17. Penyampaian informasi disamping melalui media juga informasi disampaikan melalui tokoh agama melalui tempat / rumah ibadah demikian penjelasan tentang tabel tersebut di atas selanjutnya akan dipaparkan tentang penyampaian informasi yang efektif sebagaimana yang tertera pada tabel berikut. PEMBAHASAN Sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Pekanbaru tentang pembentukan susunan organisasi kedudukan tugas pokok sekretariat daerah bahwa Bagian Hubungan Masyarakat mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas sekretariat daerah dalam bidang bina hubungan dengan lembaga resmi dan hubungan dengan lembaga sesuai dan masyarakat serta fasilitas pelaksanaan kehumasan dan protool kemudian sub bagian penerangan dan hubungan masyarakat mempunyai tugas merumuskan dan mengkoordinasikan pembinaan bidang penerangan dan hubungan masyarakat sedangkan sub bagian dokumentasi dan informasi mempunyai tugas merumuskan dan mengkoordinasikan pembinaan bidang dokumentasi dan informasi. Efektifitas Media Informasi No. sedangkan efektif yang terbanyak adalah penyampaian informasi melalui media cetak sebanyak 10 F atau 40%. Kemudian yang efektif ke dua adalah tatap muka sebanyak 8 F atau 32%. Media Cetak 3. Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Pekanbaru tersebut di atas maka yang bertugas menyampaikan informasi pada otonomi daerah Kota Pekanbaru adalah Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) sebagai corong Pemerintah Daerah Kota Pekanbaru. Demikian uraian tentang pembahasan tabel demi tabel dalam penulisan temuan penelitian ini. Menyampaikan informasi melalui tokoh agama melalui tempat ibadah Jumlah Sumber : Hasil Penelitian n = 25 F 5 7 13 25 % 20 28 52 100 Selanjutnya akan dijelaskan tentang tabel di atas tentang penyampaian informasi juga disampaikan melalui / menggunakan media baru atau internet sebanyak 5 F atau 20% menempel pamplet ditempat keramaian sebanyak 7 F atau 28% sedangkan penyampaian informasi melalui tokoh agama pada tempat-tempat ibadah sebanyak 13 F atau 5%. Uraian 1. Maka berdasarkan tabel di atas penyampaian informasi yang paling efektif adalah melalui media cetak dalam hal ini adalah surat kabar harian daerah. Maka dengan demikian jelas yang bertugas untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat adalah bagian Hubunan Masyarakat (Humas) pada Pemerintah Kota . Internet / Media Baru 2. Media Informasi Alternatif No. Menempel pamplet di tempat keramaian 3. Tabel 18.

maupun non formal untuk menyampaikan informasi tersebut. Adapun cara Humas untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat adalah dengan cara / metode mengundang wartawan dari berbagai media seperti media cetak maupun media elektronik. Yusniar.Pekanbaru dengan berbagai macam materi informasi seperti Bidang Ekonomi. Kesra. Disamping memperolehnya cepat / harga terjangkau dan dapat dibaca berulang-ulang kali. 2. Penyampaian informsi lebih efektif dan efisien dengan melalui pers rilies yang mana penyusunan redaksi dan kata-katanya diatur oleh wartawan Disaming melalui media massa juga pihak pemerintah Kota Pekanbaru (Humas) menyampaikan informasi dengan memanfaatkan tokoh-tokoh agama. . ketidak sempurnaan sebagaimana yang diharapkan itu kesemuanya akibat karena keterbatasan kemampuan dari penulis sendiri. ceramah pidato tatap muka langsung ada juga dengan cara mengundang wartawan dari semua media massa (pers relies) dalam menyampaikan informasi disamping itu juga memanfaatkan tokoh-tokoh formal. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan pada bab terdahulu maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. hal ini kemungkinan yang digemari oleh masyarakat dalam memperoleh / mendapatkan informasi. maupun informasi lain seperti kegiatan Pemerintah Kota Pekanbaru. Msi. Di Pemerintahan Kota Pekanbaru yang bertugas untuk menyampaikan informasi kebijakan Pemerintah maupun kegiatannya adalah Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) sebagai Corong Pemerintah dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Peraturan Daerah maupun yang lainnya harus dipublikasikan oleh Humas sebagai corong Pemko Pekanbaru. media cetak maupun media baru dan tatap muka dalam menyampaikan informasi memuat hasil penelitian mediayang efektif adalah media cetak dalam hal ini adalah Surat Kabar Harian Daerah. Untuk itu diharapkan kritikan. Materi informasi yang disampaikan kepada masyarakat adalah kegiatan Pemerintah Kota seperti kunjungan kerja. Berdasarkan hasil jawaban responden bahwa media yang digunakan oleh Humas dalam menyampaikan informasi adalah berbagai media namun yang paling dominan bahwa Humas menggunakan media cetak yaitu surat kabar terbitan daerah. Dalam menyampaikan informasi tersebut Bagian Humas menggunakan metode yang beragam seperti mengadakan dialog interaktif. ini perbedaan manakala dibanding dengan media lain materi yang terbanyak adalah Kesra. Bagian Humas memberikan ketrangan / informasi kepada wartawan untuk dipublikasikan kepada khalayak sesuai dengan jawab responden pada tabel 3 bab IV atau dengan cara mengadakan Pres Relies. Maka dengan demikian jelas bahwa yang bertugas menyampaikan informasi itu adalah bagian Humas dengan mengadakan Press Relies dalam menyampaikan berbagai bidang informasi kepada masyarakat. 4. Politik dan Keamanan. 3. PENUTUP A. Kesejahteraan Rakyat. Media yang digunakan adalah media elektronik. bidang Pulhukan. tokoh karismatik dalam menyampaikan informasi yaitu dengan melalui pintu agama dimana informasi disampaikan di rumah-rumah ibadah oleh tokoh tersebut lihat tabel 8 bab III yaitu 40 F (20%) Humas memanfaatkan tokoh Agama dalam penyampaian informasi. peresmian / pelantikan. Sesuai dengan pendapat Drs. Demikian hasil laporan penelitian ini dibuat penulis menyadari bahwa tentu masih terdapat kekurangan. masukan demi kesempurnaannya laporan hasil penelitian ini. Peraturan Pemerintah Daerah dan mencakup ruang lingkup Ekonomi dan Keuangan.

Jakarta. Sekretriat Daerah. Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. PT. Raja Grafindo Persada. Raja Grafindo Persada. Organisasi and Management. Sistem Komunikasi Indonesia. Saran-Saran Berdasarkan uraian kesimpulan di atas dapat disarankan sebagai berikut : a. Pekanbaru Dalam Angka. 1987. or win Book. Malaysia. Yogyakarta. co. Nomor 8. 2001. elektronik. Sistem Komunikasi Indonesia Nurdin.B. Pokok-Pokok Teori Sistem. Nurdin. Peraturan Daerah Kota Pekanbaru 2007. Sumber lainnya Peraturan Daerah Kota Pekanbaru Nomor 52 Tahun 2002 tentang Perubahan Peraturan Daerah Kota Pekanbaru Nomor 22 Tahun 2000 tentang Susunan Organisasi Tataruang. PT. DAFTAR PUSTAKA Gelinas. 2003. Shrode. William A and Dan Voich Toich. Riwu Kaho. b. 9 tahun 2008. 1990. disamping penyampaian informasi melalui media cetak. Tatang M. Kanisius. c. Kepada Bagian Humas Kota Pekanbaru dalam penyampaian informasi kepada masyarakat disamping melalui media massa juga kiranya dapat meningkatkan penyampaian informasi melalui tokoh-tokoh agama maupun berupa pengumuman di tempat keramaian. media maya kiranya untuk menyampaikan informasi yang tidak kalah pentingnya dengan melalui tatap muka / berupa pengumuman baik di tempat keramaian maupun di tempat-tempat peribadatan. 2008 Pemerintah Kota Pekanbaru. Kepada Pemerintah Pusat. Hubungan Pemerintah Pusat dan Daerah di Indonesia. Jakarta. Suryadi dan Budimansah. PT Raja Grafika Persada. Kepada Pemerintah Kota Pekanbaru kiranya dapat meningkatkan sistem informasi publik dengan mengadakan tatap muka langsung antara Pemkab dengan masyarakat. 2003. Oranda Wiggins. New York. Amiran. Basic System Conceps. jakarta. 1974. Rineka Cipta. Jakarta. Peraturan Daerah Kota Pekanbaru Nomor 8 Tahun 2002 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kota Pekanbaru Nomor 26 Tahun 2000 tentang Susunan Organisasi Tata Kerja Kantor Kepala Daerah. . Information System Theory and Practice. Yosep.

Berita-berita yang disajikan media televisi ini dikonsumsi secara luas dan bebas oleh semua kalangan termasuk kalangan pelajar. olahraga hiburan seperti smack down ataupun kekerasan dalam sajian kartun. publik di Indonesia disajikan jenis tontonan yang semakin beragam. perilaku Pendahuluan Sejak berkembangnya industri pertelevisian di tahun 90-an. mencubit dan menampar. 40 Tahun 1999 yang menandai era kebebasan pers di Indonesia. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif yaitu dengan melakukan survei ke lapangan untuk mengumpulkan data dalam bentuk kuesioner kepada para pelajar di Kecamatan Medan Tembung. Schramm mengatakan bahwa ‘usaha-usaha untuk mencari informasi secara individual kebanyakan dari komunikasi’ (Siregar. 1986:3) ‘untuk dapat hidup efektif orang harus hidup dengan cukup informasi’. Berita kekerasan di media televisi tidak sedikit yang melibatkan pelajar. Khususnya setelah dikeluarkannya Undang-Undang Pers No. Hal ini terkait dengan keberadaan manusia yang merupakan makhluk yang memerlukan informasi karena sifat ingin tahu yang dimiliki oleh setiap orang. baik yang disajikan dalam bentuk film. baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial di mana dia berada. Kata kunci: kekerasan. Seperti dikatakan Wiener (Susanto. Apalagi di era digital sekarang ini di mana kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari media massa khususnya televisi. Sekarang ini media menjadi sumber informasi yang sangat akrab karena hampir setiap hari berinteraksi dari pagi hari sampai malam. beritaberita. baik dari pelajar tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) mempraktekkan kekerasan dalam lingkungan sekolah atau dalam lingkungan yang terkait dalam dunia pendidikan.TAYANGAN KEKERASAN DI TELEVISI DAN PERILAKU PELAJAR OLEH : IDA TUMENGKOL ABSTRAK Penelitian ini mencoba untuk mengetahui tanggapan para pelajar di Kecamatan Medan Tembung atas tayangan kekerasan di televisi swasta nasional dan sejauh mana tayangan tersebut memberikan motivasi bagi pelajar untuk melakukan tindakan kekerasan. Berdasarkan penelitian ini diketahui bahwa pada umumnya pelajar (55. Dan sebanyak 13. Khususnya berita tentang kekerasan. 1983:35). Dalam interaksi sosial. Para pelajar ini pada umumnya juga pernah melakukan kekerasan (65. penonton televisi di Indonesia disajikan berita-berita yang semakin cepat dan detail.1%) seperti memukul. seseorang individu akan melakukan komunikasi yang merupakan sarana individu untuk saling dipertukarkan. Pelaku tindak kekerasan dalam tayangan televisi bisa dilakukan para orang dewasa ataupun oleh pelajar.9% pelajar mengaku perilaku kekerasan yang dilakukannya termotivasi oleh tayangan televisi Apa yang dihasilkan dalam penelitian ini baik untuk ditelaah para pengelola televisi swasta nasional untuk memperhatikan efek dari pesan kekerasan dalam tayangan televisi.8%) suka tayangan televisi yang menampilkan aksi kekerasan. Agar tayangan tersebut lebih dibatasi untuk kepentingan pendidikan anak bangsa secara berkelanjutan. Orang juga terdorong mencari informasi untuk dapat memahami berbagai aspek lingkungannya. .

Artinya komunikasi itu selalu ada di mana saja dan kapan saja. menjelang seorang anak lulus dari SMA rata-rata mereka telah menonton sekitar 18. insiden-insiden kekerasan yang diperlihatkan kira-kira sekali dalam setiap 16. Itulah sebabnya komunikasi dikatakan sebagai ubiquitous atau ada di mana-mana. Global TV.3 menit. Perumusan Masalah Dari uraian yang disampaikan di atas. TPI. setidaknya ada 10 stasiun televisi swasta nasional. Di Amerika. Diperkirakan. selama sepuluh tahun pertama kehidupan anak-anak yang terkena terpaan televisi adalah sangat dominan. Komunikasi Massa Pada prinsipnya komunikasi dapat menyentuh semua aspek kehidupan masyarakat atau sebaliknya semua aspek kehidupan menyentuh komunikasi. Di Amerika sendiri. yaitu melalui proses atau sistem untuk bertanya. Ia juga sebagai alat untuk menggambarkan aktivitas masyarakat dan peradaban. dalam penelitian ini dirumuskan hal yang menjadi masalah. sajian televisi pada umumnya sering menampilkan adegan kekerasan dalam berbagai bentuk. DAAI TV dan TV Anak. Sebuah survei mengenai acara televisi melaporkan bahwa pada senja hari ketika sekitar 26.Masalah kekerasan di media sudah sejak lama jadi perhatian para pakar sosiologi. yakni: Apakah tayangan kekerasan di media televisi memotivasi perilaku kekerasan pada pelajar ? Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan: 1. membahas efek negatif juga efek prososial menonton televisi bagi anak-anak. yaitu TVRI dan tiga stasiun televisi lokal yaitu Deli TV. Fenomena komunikasi dapat memelihara dan menggerakkan kehidupan. Pada umumnya. (Arifin. Di Indonesia.7 juta anak Amerika menonton televisi. Uraian Teoritis a. Asumsi tersebut akan menarik jika digali lebih dalam melalui penelitian ini. yakni Indosiar. MetroTV. Komunikasi dapat mengubah insting menjadi inspirasi. RCTI. Untuk mengetahui tanggapan pelajar tentang tayangan kekerasan di televisi. Penelitian mereka menyebutkan. Para pelajar akan berubah dari objek yang menonton tayangan kekerasan menjadi pelaku kekerasan tersebut. memberi perintah dan mengawasi. psikologi dan komunikasi di seluruh dunia termasuk di Indonesia. 2. ANTV. (Robert M Liebert and Joyce Sprafkin. TransTV ditambah satu televisi pemerintah. Mereka menelaah semua teori dan riset mengenai sikap. Ia dapat memperkuat perasaan kebersamaan dengan saling bertukar informasi dan mengubah pemikiran menjadi tindakan. TransTV.000 pembunuhan dalam televisi. . 1988). Berbagai telaah dan penelitian para ilmuwan menyimpulkan bahwa tayangan kekerasan di televisi yang disiarkan secara berulang-ulang menimbulkan efek bagi para pelajar. SCTV. stasiun televisi swasta nasional termasuk TPI memiliki tayangan khusus kriminal. perilaku dan perkembangan anak-anak. (Stewart and Sylvia. Penelitian Liebert dan Sprafkin memandang televisi sebagai 'jendela dini' anak-anak untuk melihat dunia. Untuk mengetahui kemampuan tayangan kekerasan di televisi memberikan motivasi melakukan tindakan kekerasan di kalangan pelajar. hampir 98 persen dari semua rumah memiliki televisi sehingga disimpulkan bahwa anak-anak diterpa televisi sejak mereka lahir. 1998:20). pesawat televisi di Amerika rata-rata dihidupkan lebih dari tujuh jam setiap hari dan sejak tahun 1950-an secara signifikan telah mengubah kehidupan keluarga. 1996). TVOne. Di samping itu.

Williams mengatakan ‘Berbeda dengan jenis teknologi komunikasi terdahulu. c. Komunikator cenderung merupakan suatu organisasi yang kompleks yang mungkin melibatkan biaya yang besar. Pesan yang disampaikan terbuka untuk umum dan seringkali menjangkau khalayak dalam jumlah besar secara simultan dan bersifat sementara. 1992:119). film. menampar. dari yang sudah berkembang ke yang sedang berkembang. dari kaum elit ke massa khalayak. seksual dan psikogi. komunikasi massa sering diidentikkan dengan penggunaan televisi. Televisi Seperti halnya radio. bukannya sesuatu yang lahir sebagai respons terhadap suatu kebutuhan pelayanan baru. radio. bukanlah suatu yang istimewa. pandangan. bersifat heterogen dan anonim. televisi lahir setelah adanya beberapa penemuan teknologi seperti telepon. menurut pengamatan para ahli komunikasi menimbulkan revolution of the rising frustration (revolusi meningkatnya frustrasi). Dalam pemakaiannya secara populer. 3. Tetapi pengaruhnya bisa positif bisa negatif tergantung pengelolaannya. . Mar’at dari Universitas Padjajaran Bandung. ini adalah hal yang wajar. radio dan televisi merupakan sistem yang dirancang terutama untuk kepentingan transmisi dan penerimaan yang merupakan proses abstrak yang batasan isinya sangat terbatas atau bahkan sama sekali tidak ada’.(Raymond Williams. majalah dan berbagai bentuk teknologi lainnya. surat kabar. Ditujukan kepada khalayak yang relatif besar. 1994:188). persepsi dan perasaan para penonton. Teknologi ini ditemukan untuk mencari kegunaan. menembak. dari kota ke desa. terpesona atau latah. telegraf. (Onong.Kegiatan komunikasi yang menggunakan media massa disebut dengan komunikasi massa. Bittner mendefinisikan komunikasi massa secara sederhana yakni: komunikasi massa sebagai pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah orang (Rakhmat. 1975) Televisi adalah produk revolusi elektronik atau sering disebut juga Revolusi Industri Kedua dalam abad ke-20 ini. Definisi Kekerasan Definisi kekerasan Fisik badan kesehatan Perserikatan Bangsa-bangsa World Health Organization (WHO) adalah tindakan fisik yang dilakukan terhadap orang lain atau kelompok yang mengakibatkan luka fisik. b. Informasi yang disebarkan media massa elektronik terutama dilancarkan dari atas ke bawah. 1988:3) yaitu: 1. Pengaruh televisi itu kuat terhadap kehidupan manusia sudah diduga dan disadari ketika media massa itu pada tahun 1962 mulai dimunculkan di tengah-tengah masyarakat. Masalahnya sekarang adalah bagaimana agar pengaruh yang positif itu seperti to inform (menyebarkan informasi) dan to educate (fungsi mendidik) bisa benar-benar dimanfaatkan. acara televisi pada umumnya mempengaruhi sikap. mendorong (paksa) dan menjepit. Jadi apabila ada hal-hal yang menyebabkan penonton terharu. tetapi tidak menciptakan cara-cara untuk memperolehnya. 2. sebab salah satu pengaruh psikologis dari televisi seakan-akan menghipnotis penonton sehingga mereka seolah-olah hanyut dalam keterlibatan pada kisah atau peristiwa yang dihidangkan televisi. Menurut Prof Dr R. menendang. Ada beberapa karakteristik dari komunikasi massa (Wright. menikam. Tindakan itu antara lain berupa memukul. Anggapan ini karena media elektronik telah memanipulasi keinginan khalayak. Sedangkan to entertain (fungsi menghibur) dan to influence (mempengaruhi) jangan sampai merusak tata nilai bangsa. fotografi (yang bergerak dan yang tidak bergerak) dan rekaman suara.

Teori belajar sosial mulai dengan menganalisis dua hal: 1. badan. definisi kekerasan dan ancaman kekerasan. b. Teori Belajar Sosial Menurut teori belajar sosial. Populasi Dan Sampel Populasi penelitian ini adalah para pelajar tingkat SLTA yaitu tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Kemampuan penonton dalam mengendalikan dirinya berkurang (disinhibition). Joy. Metode Penelitian Metode penelitian dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. dengan perasaan iri dan sebagainya. Kota Medan. kesadaran akan bahaya atau perampasan kemerdekaan seseorang. Berdasarkan data dari Pemko Medan. 1972. Metodologi Penelitian a. mengimitasi dan mempraktikkanya ke dalam perilaku nyata. Berbagai penelitian yang dilakukan (Liebert dan Baron. 2. Lingkungan sosial menyediakan bermacam-macam kesempatan untuk memperoleh ketrampilan dan kecakapan dengan jalan mengamati pola-pola tingkah laku beserta akibat-akibatnya atau konsekuensi-konsekuensinya. 4. . Penonton mempelajari metode agresi setelah melihat contoh (observational learning). 1977) memberikan suatu kesimpulan bahwa efek adegan kekerasan terjadi dalam tiga tahap: 1. jumlah populasi pelajar SLTA di Kecamatan Medan Tembung sebanyak 10. Penelitian ini untuk menggambarkan secara objektif apa adanya data yang didapat dari lapangan. Kota Medan. Karena itu kekerasan dibagi menjadi dua unsur. Hingga makna kekerasan merupakan ancaman atau penggunaan kekuatan fisik untuk menimbulkan kerusakan pada orang lain. Sedangkan teori belajar sosial beranggapan bahwa hubungan antarpribadi antara anak dengan orang dewasa menyebabkan anak meniru atau menyerap perilaku-perilaku sosial melalui interaksi sosial anak melakukan identifikasi dengan orang tuanya. Teori tentang Sosialisasi anak: Teori behavioristik hanya terbatas pada hubungan S – R (Stimulus – Respons) saja. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah (MA) yang bersekolah di wilayah Kecamatan Medan Tembung. 3. Teori Behavioristik: Teori ini memandang belajar itu sebagai hubungan antara stimulus dan respon. dengan kekuasaan.889 orang yang terdiri dari 5. orang cenderung meniru perilaku yang diamatinya. teori belajar sosial menjelaskan bahwa anak mempelajari perilaku baru melalui pengamatan terhadap model.721 orang tingkat SMA. Berkaitan dengan kekerasan. Kedua definisi kekerasan tersebut tidak mensyaratkan bahwa tindakan yang memicunya harus selalu tindakan ilegal. c. Perasaan mereka menjadi tidak tersentuh walaupun melihat korban tindakan agresinya (desensitization). Lokasi Penelitian Penelitian ini mengambil lokasi di Kecamatan Medan Tembung.294 orang tingkat SMK dan 874 orang untuk tingkat MA.Sedangkan UU Anti Perdagangan Orang mengajukan definisi kekerasan adalah setiap perbuatan dengan atau tanpa menggunakan sarana secara melawan hukum terhadap fisik yang menimbulkan bahaya bagi nyawa. yang penting tindakan itu mengakibatkan ketakutan. d. atau menimbulkan terampasnya kemerdekaan seseorang. 2.

Waktu menonton televisi Pada umumnya para pelajar menonton TV pada malam hari (53. responden dikelompokkan pria sebanyak 50 persen dan perempuan 50 persen.6% menonton TV pada siang hari dan hanya 7% pada pagi hari. . Karakteristik Responden Para responden dibagi ke dalam kelompok kelas I.889 n= 1 + (10889) (10%)² = 92 Responden Penarikan sampel menggunakan teknik Proportional Stratified Random Sampling di mana jumlah sampel ditarik sesuai dengan proporsi dalam populasinya. kelas II dan kelas III setingkat SLTA. yaitu dimulai dari penjelasan teoritis yang bersifat umum. Secara umum penelitian kuantitatif diartikan sebagai suatu penelitian yang menggunaan alat bantu statistik sebagai paling utama dalam memberikan gambaran atas suatu peristiwa atau gejala.9%). (Bambang & Lina: 2005) Populasi Sampel 1 = Total Populasi x Total Sampel Maka : Sampel SMA = 5721/10889 x 92 = 48 Responden Sampel SMK = 4294/10889 x 92 = 36 Responden Sampel MA = 874/10889 x 92 = 8 Responden Metode Analisis Data Dalam penelitian ini. Dari segi jenis kelamin. Kemudian pandangan teoritis yang bersifat umum itu diuji kebenarannya kepada suatu sampel tertentu yang bersifat khusus untuk diambil suatu kesimpulan. Penelitian kuantitatif pada umumnya adalah bersifat deduktif. Hasil Penelitian 1. analisis data dilakukan dengan melakukan survei menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data. baik statistik deskriptif maupun statistik inferensial. 2.5%) dan sore hari (20. N n = 1 + Ne ² Di mana: n = Besaran sampel N = Besaran populasi e = Nilai kritis yang diinginkan Maka 10. Usia responden adalah usia sekolah tingkat SLTA antara 16 sampai 20 tahun.Sedangkan sampel dalam penelitian ini ditarik dari populasi dengan menggunakan rumus Slovin (Consuelo:1993). Sedangkan 18. yang termasuk dalam penelitian kuantitatif.

3. Selebihnya 18.3 13. Tujuan Menonton Televisi Pada umumnya pelajar menonton TV untuk mencari hiburan (52%).1 3. 4. 11-15 jam 5.1% untuk tujuan lain. .5 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 92 Sementara waktu yang dihabiskan di depan televisi setiap hari rata-rata 2-5 jam (79. 2.6% memikirkan/menganalisanya dan 16.No 1. sedangkan yang ingin mencari informasi sebanyak (32. Namun jumlah yang menjadikan tayangan televisi sebagai referensinya juga cukup signifikan.6 2. 4. Tabel 1 Waktu Menonton Televisi Waktu Menonton F Pagi hari 7 Siang hari 17 Sore hari 19 Malam hari 49 Jumlah 92 % 7 18.3% untuk tujuan pendidikan.1%) dan 18.5%).3% menonton TV selama 6-10 jam sehari. % 52 32.6 20. Tabel 3 Tujuan Menonton Televisi Tujuan Menonton F Mencari hiburan 48 Mencari informasi 30 Untuk pendidikan 2 Dll 12 Jumlah 92 No 1. 6-10 jam 2 2.1 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 92 Setelah menonton tayangan televisi banyak pelajar akan mengabaikan apa yang baru dia saksikan (39.6%.9 53.3 4.6% yang menonton 0-1 jam sehari serta sebanyak 2. 2. 0-1 jam 17 18. selebihnya 13. Tabel 2 Waktu Menonton Televisi No Waktu Menonton F % 1.6%) dan hanya 2.6 2.3% yang mendiskusikannya. yakni 25. 2-5 jam 73 79. 15 jam < Jumlah 92 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 92 3. 3.

3. 5. 5.3 100 Jenis tayangan berita yang paling disukai pelajar adalah berita kriminal (60.3 4.6 9. 3.9%).6 44.9 11.6 16.5 13. olahraga (9.3%) yang mana keduanya adalah jenis film yang cenderung menampilkan aksi kekerasan. F 56 13 11 8 4 92 % 60.6%).3 9. Jenis Tontonan Jenis tontonan hiburan berupa musik adalah yang paling disukai pelajar (44. Tabel 4 Tindakan Setelah Menonton Tindakan Setelah Menonton F TV Memikirkan/Menganalisa 17 Dijadikan referensi 24 Mendiskusikannya 15 Mengabaikannya 36 Jumlah 92 % 18. 2.5 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 92 4. disusul tayangan berita (20. .6 4. Sumber : Hasil Penelitian n = 92 F 19 2 17 4 41 9 92 % 20. 2.3%).3%).No 1. infotainment (9. 2.3%. Tabel 6 Jenis Berita Jenis Berita Berita Kriminal Berita Politik Berita Ekonomi Infoteinmen Dll Jumlah No 1. 3. ekonomi (11.3%).5%).7 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 92 Sedangkan jenis film yang paling disukai adalah film perang (62.3 39.8%) dan film action/laga (23. film Barat (18. politik (13.6%). 4.9 2. 6. 4.3 18.9%). dan sinetron 2.6%). Kartun (4.6 25. Tabel 5 Jenis Tontonan Jenis tontonan Berita Sinetron Film Barat Kartun Musik Olahraga Jumlah No 1. 4.

No 1. 2. 3. 4. Sumber : Hasil Penelitian n = 92

Tabel 7 Jenis Film Yang Ditonton Jenis Film Film Action/Laga Film Perang Film Asmara Dll Jumlah

F 21 58 13 92

% 23,3 62,8 13,9 100

5. Frekuensi Menonton Tayangan Kekerasan Pada umumnya para pelajar ternyata suka menyaksikan tayangan kekerasan (55,8%), bahkan 23,3% sangat menyukainya. Jumlah yang tidak suka lebih sedikit (16,3%) dan sangat tidak suka 4,6%.
No 1. 2. 3. 4. Sumber : Hasil Penelitian n = 92 Tabel 8 Tingkat menyukai tayangan kekerasan Tanggapan F Sangat Suka 21 Suka 51 Tidak Suka 15 Sangat Tidak Suka 5 Jumlah 92 % 23,3 55,8 16,3 4,6 100

Meski jumlah yang jarang menonton tayangan kekerasan sebanyak 55,8%, namun yang sering menontonya juga banyak, yakni 41,9% dan 2,3% sangat sering.
No 1. 2. 3. 4. Tabel 9 Frekuensi Menonton Tayangan Kekerasan Frekuensi Kekerasan F Sangat Sering 2 Sering 39 Jarang 51 Tidak Pernah Jumlah 92 % 2,3 41,9 55,8 100

Sumber : Hasil Penelitian n = 92

Meski menyukai, namun pada umumnya pelajar berpendapat tayangan kekerasan tidak perlu (60,5%) dan 9,3% sangat tidak perlu. Namun ada 30,2% yang menyatakan perlu.
Tabel 10 Tanggapan Pelajar Terhadap Tayangan Kekerasan No Tanggapan F % 1. Sangat Perlu 2. Perlu 28 30,2 3. Tidak Perlu 56 60,5 4. Sangat Tidak Perlu 8 9,3 Jumlah 92 100 Sumber : Hasil Penelitian n = 92

6. Motivasi Tayangan Kekerasan Di Televisi Perilaku kekerasan seperti mencubit, memukul, menampar pernah dilakukan pada umumnya pelajar (65,2%), bahkan ada 13,9% yang mengaku sering melakukannya. Sedangkan 20,9% tidak pernah melakukan kekerasan.
Tabel 11 Perilaku Kekerasan Pelajar No Perilaku Kekerasan F 1. Sangat Sering 2. Sering 13 3. Pernah 60 4. Tidak Pernah 19 Jumlah 92 Sumber : Hasil Penelitian n = 92

% 13,9 65,2 20,9 100

Perilaku kekerasan yang dilakukan pelajar karena termotivasi oleh tayangan kekerasan di televisi (13,9%) dan 7% lainnya sangat dimotivasi oleh tayangan tersebut.
Tabel 12 Motivasi Tayangan Kekerasan No Motivasi Tayangan F 1. Sangat Memotivasi 6 2. Memotivasi 13 3. Tidak Memotivasi 56 4. Sangat Tidak Memotivasi 17 Jumlah 92 Sumber : Hasil Penelitian n = 92 % 7 13,9 60,5 18,6 100

Pembahasan Dari sebanyak 92 responden yang merupakan pelajar tingkat SLTA di Kecamatan Medan Tembung, 51 orang (55%) adalah pria dan 41 orang (45%) adalah perempuan. Sebanyak 20% responden menyukai tayangan berita di televisi dan dari yang menyukai berita tersebut, 60,5% lebih menyukai tayangan berita kriminal. Hal ini berbanding lurus dengan jenis film yang lebih disukai yakni jenis film perang (62,8%) dan jenis film laga/action (23,3%). Pada umumnya pelajar (55,8%) suka tayangan yang menampilkan aksi kekerasan dan 41,9% mengaku sering menyaksikan tayangan seperti itu. Mereka menyatakan tayangan yang berbau kekerasan itu perlu dilihat pelajar (30,2%), meski yang menyatakan tidak perlu masih jauh lebih banyak yakni 60,5%. Para pelajar ini pada umumnya juga pernah melakukan kekerasan (65,1%) dan yang menyatakan sering melakukan kekerasan sebanyak 13,9%, selebihnya 20,9% tidak pernah melakukan kekerasan seperti memukul, mencubit dan menampar. Jumlah ini sebanding dengan jumlah pelajar yang termotivasi melakukan tindakan kekerasan karena tayangan televisi. Sebanyak 13,9% mengaku perilaku kekerasan yang dilakukannya termotivasi oleh tayangan televisi, meski jumlah yang tidak termotivasi masih jauh lebih besar (60,5%) dan yang sangat tidak termotivasi 18,6%. Kesimpulan Frekuensi tayangan kekerasan di televisi semakin tinggi, sesuai dengan keinginan masyarakat penonton televisi yang memang menggemari tayangan seperti itu. Kalangan pelajar adalah salah satu kelompok masyarakat yang menyukai tayangan yang berbau kekerasan.

Hobi menyaksikan tayangan kekerasan tersebut ternyata menimbulkan motivasi bagi pelajar untuk melakukan tindakan kekerasan yang sama. Baik secara sadar ataupun tidak sadar mereka memiliki kecenderungan melakukan tindakan kekerasan seperti yang dilihatnya di televisi. Saran Berdasarkan kesimpulan yang didapat, maka para pengelola televisi perlu memperhatikan dampak dari materi siaran tayangan kekerasan yang ditampilkan karena berdampak buruk bagi perkembangan pelajar. Tayangan kekerasan di televisi swasta nasional perlu dikurangi frekuensinya dan sebaliknya semakin mengedepankan program tayangan yang bersifat mendidik. Juga siaran reka ulang sangat tidak bermanfaat. DAFTAR PUSTAKA Arifin, Anwar, Ilmu Komunikasi: Sebuah Pengantar Ringkas: Jakarta, Rajawali Press,1988. Consuelo, G.Sevilla, et. All, Pengantar Metode Penelitian (terjemahan Alimuddin Tuwu), Jakarta: UI Press, 1993. Effendy, Onong Uchjana, Dinamika Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992. Joy, Television Exposure and Children’s Aggresive Behavior. Mass CommunicationReview Yearbook III. Sage Publications. Beverly Hills: 1977. Liebert And Baron, Some Immediate Effects of Televised Violence on Children’s Behavior. Development Psychology, VI, 1972. Prasetyo, Bambang dan Miftahul Jannah, Lina, Metode Penelitian Kuantitatif, Teori dan Aplikasi, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005. Rakhmat, Jalaluddin, Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994. Robert M Liebert and Joyce Sprafkin, The Early Windows: Effects of Television on Children and Youth, edisi ke tiga, 1988. Siregar, Ashadi, Etika Komunikasi (bagian ke 2), Yogyakarta: Seksi Penerbitan Badan Penelitian dan Pengembangan FISIP UGM, 1983. Stewart L Tubbs and Sylvia Moss, Human Communication, 1996. Susanto, Astrid S, Komunikasi dalam Teori dan Praktek I, Bandung: Bina Cipta, 1986. William, Raymond, Television, Tecnology and Cultural From, London: Fontana, 1975. Wright, Charles R, Sosiologi Komunikasi Massa, Cetakan ke-tiga, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1988.

THE SEARCH FOR THE PERFECT NUMERAL SYSTEM, WITH PARTICULAR REFERENCE TO SOUTHEAST ASIA Dra. Wan Anayati, MA Abstract Apabila kita mengadakan perbandingan antar-bahasa, kita boleh saja beranggapan bahwa bahasa yang satu lebih atau kurang ideal dibandingkan bahasa yang lain. Sistem penghitungan dalam bahasa merupakan salah satu cara dimana kita dapat melakukan perbandingan semacam itu. Dengan mengambil contoh-contoh pada sejumlah bahasa di Asia Tenggara, penulis beranggapan bahwa sistem penghitungan seharusnya mencerminkan bagaimana angka-angka ditulis dengan figur. Kini, cara desimal untuk menulis angka-angka hampir bersifat universal. Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa sistem penghitungan yang ideal dalam budaya penghitungan yang moderen seharusnya juga desimal. Dalam makalah ini penulis akan memfokuskan pada perkalian dan penjumlahan dalam sistem penghitungan desimal. 1. INTRODUCTION The title of this article - which should not be interpreted without a certain element of humor - is taken from that of a book by Umberto Eco (Eco 1997). While I doubt whether one can evaluate any language as a whole as being more or less ideal than any other, such a comparison may be possible in certain very restricted parts of the structure of a language, and the numeral system is one area where one might be able to make such a comparison. In the following sections, I will try to do this with respect to selected Southeast Asian languages. In the final section, however, I will express a number of caveats with respect to the notion of “ideal” numeral system, suggesting that even here the notion of “ideal” may not be so easy to define. I will make a number of assumptions in the definition of an “ideal” numeral system. First, I will assume that the numeral system should mirror closely the way numbers are written by means of figures. In the present-day world, the decimal way of writing numbers is almost universal, so I will assume more specifically that an “ideal” numeral system in a modem, numerate culture should be decimal - though this does not exclude the possibility that in other scenarios a numeral system with some other base would have been “ideal”, a concrete example being the ancient Mayan system, which both linguistically and in its notational system was vigesimal (base 20). Incidentally, even those Southeast Asian cultures which optionally or obligatorily use their own notation for figures, such as Burmese, Khmer, and Thai, nonetheless have a decimal system for this notation. A decimal system is characterized ideally by the following features. The numerals 1 - 9 are expressed by distinct morphemes. There is a distinct morpheme for 10, and products of 10 are expressed by a conventionalized means of indicating multiplication, as in Indonesian dua puluh ‘20, i.e. two ten, i.e. 2 x 10’, with the convention that a smaller number followed by a larger number is to be interpreted as multiplication. Numerals in between products of 10 are expressed by a conventional means of indicating the addition of the remainder to the power of 10, as in Indonesian tiga puluh sembilan ‘39, i.e. three ten nine, i.e. 3 x 10 + 9’, with the convention that a larger numeral followed by a smaller number is to be interpreted as addition. Ideally, a decimal system should also have a systematic way of expressing powers of 10 (‘exponentiation’), and indeed this is found to

some extent in the international system for higher powers of 10 (bi-Ilion, tri-ilion, quadrillion, etc.). However, no language seems to use such a system without exception for the lower powers of 10, so that we rather find portmanteau forms like English hundred for 102, thousand for 1O3, etc. I will not discuss further the expression of powers of 10. In this paper, I will concentrate on multiplication and addition in a decimal numeral system. There are other features that should surely be imposed on an “ideal” numeral system, such as expressibility (i.e. the possibility of expressing any number) and absence of ambiguity, and indeed I have discussed such features in Comrie (1997), but I will not discuss them further in the present context. As a starting point, one might ask how English and other major European languages fare in terms of such an “ideal” system. Basically they operate in terms of transparent multiplication and addition, with addition proceeding from higher to lower powers of 10, as in English three thousand five hundred and six ‘3506 (i.e. 3 x 1000 + 5 x 100 + 6)’, there are nonetheless a rather large number of deviations from this pattern. In English, the forms of the l0s use not the element ten but rather -ty, and there are some morphophonological irregularities of combination (cf. five but fif-teen). The teens again do not use the element ten, but rather a different suffix -teen, and invert the usual order by having the unit before this suffix, as in six-teen ‘16, i.e. 6 + 10’, again with some morphophonological irregularities (e.g. fif-teen), and with at least one complete irregularity, namely eleven ‘11’, which is synchronically unanalyzable. Other irregularities found in other major European languages include a partial foray into vigesimalism in French, where 80 is expressed as quatrevingts, literally ‘four-twenties, i.e. 4 x 20’, an unexpected portmanteau form for 40 in Russian (sorok), and consistent inversion of the tens and units in German and Dutch (ein-und-zwanzig and een-en-twintig respectively for 21, lit. ‘one- and-twenty’). Note finally, before we proceed to Southeast Asia, that I am not concerning myself explicitly with how multiplication and addition are expressed, so long as there is a consistent way of indicating them, as in the analysis of the Indonesian forms given above. Of course, an “ideal” system should operate consistently, so that English is inconsistent in sometimes requiring expression of the unit in multiplication (e.g. a/one hundred ‘100’), and sometimes not (e.g. ten ‘10’), while French is inconsistent in sometimes requiring overt expression of addition (e.g. vingt-et-un ‘21, lit, twenty-and-one’), sometimes disallowing it (e.g. vingt-deux ‘22, lit, twenty-two’). In the Southeast Asian languages considered below, the basic system is consistently decimal, with (covert) indication of addition and multiplication as in the Indonesian example analyzed at the beginning of this section. Nonetheless, individual languages have more or fewer deviations from this “ideal” system, as illustrated in the following sections.

2. INDONESIAN [The source of my data on Indonesian is Sneddon (1996: 184 - 185).] Indonesian comes close to the ideal system outlined in section 1. The basic structure is as follows: A smaller numeral followed by a larger numeral is interpreted as multiplication; a larger numeral followed by a smaller numeral is interpreted as addition; all multiplications are carried out before addition. This can be seen in example (1): (1) dua ribu enam ratus tiga puluh sembilan two thousand six hundred three ten nine ‘2639 (i.e. 2 x 1000 + 6 x 100 + 3 x 10 + 9)’

To this general pattern, there are only two exceptions. One is essentially morphophonological, in that the numeral 1 in multiplication is expressed as the prefix serather than the separate word satu in the powers of 10 from 10 through 1000, and optionally in the case of ‘million’, e.g. se-ribu ‘1000 (i.e. 1 x 1000)’; both prefix and separate word are attested elsewhere in the languages, so this is making use of an already existing set of forms. The second is that the formation of the teens falls outside the general pattern, so that ‘10 + n’ is expressed as n belas, e.g. tiga belas is ‘13 (i.e. three teen)’; the form for 11 combines this with the morphophonological property just noted to give sebelas. 3. MANDARIN CHINESE [The source of my data on Mandarin is Yip and Rimmington (1997: 11—12) and Chao (1968: 567—575).] Although Chinese is gographically an East Asian rather than a Southeast Asian language, its presence in the area, especially through cultural influence on other languages - Thai, for instance, has borrowed most of its numerals from Chinese justifies at least a brief treatment in the present context, especially as Chinese, here illustrated by Mandarin, fits well into the general Southeast Asian pattern, close to the “ideal system”. The general pattern is essentially as given above for Indonesian, as illustrated in (2): (2) wŭ- băJi yi-shi èr five-hundred one-ten two ‘512 (i.e. 5x 100 + l x 10 + 2)’ (Note that this pattern also extends to the teens. It would also be possible to omit the morpheme yì ‘1’ of yi-shi.) The main exception to this regular pattern concerns variant forms of the numeral 2, namely èr and liǎng. (A further complication is discussed in section 8.) In numerals, generally, the variant èr is used. However, hang is an optional variant before products of powers of 10 from 100 upwards, i.e. 200 can be either êr- bai or liäng-bffi ‘two-hundred’. In addition, the numeral 1 undergoes tone sandhi, so that it has falling tone in (2), but level tone in isolation. 4. THAI [The source of my data on Thai is Smyth (2002: 172—174).] Thai follows essentially the same pattern as Indonesian, as can be seen in example (3): (3) sẻẻη phan hâa róẻy sìi sip cèt two thousand five hundred four ten seven ‘2547 (i.e. 2 x 1000 + 5 x 100 + 4x 10 + 7)’ This same pattern extends to the teens, which are thus formed regularly, as in (4): (4) sip sẻẻη ten two ‘12 (i.e. [1 x] 10 + 2)’ (Note that Thai does not express 1 before 10, although it optionally does so before 100 and higher powers of 10, e.g. (n)phan ‘1000 (i.e. 1 x 1000)’.) Nonetheless, there are two striking deviations from the ideal pattern set out in section 1: First, whenever I appears as the final element of an additive compound numeral, in place of the word nfzj ‘1’ one finds rather èt, as in (5): (5) sii sip èt four ten one ‘41 (i.e. 4 x 10 + 1)’ Second, 20 is expressed using a different word for 2, as in (6) [cf. (4) above]: (6) yii sIp two ten

‘20 (i.e. 2 x 10)’ Moreover, when 20 is followed by a unit in an additive construction, the combination as given in (6) may optionally be reduced to yǐip, although the full form as in (6) is also possible. 5 KHMER [The source of my data on Khmer is Jacob (1998: 81—83).] Khmer presents a rather larger number of departures from the ideal system as presented in section 1. First, the numerals 6—9 are expressed as if in a quinary system, i.e. 6 is expressed as 5 + 1, as in (7): (7) pram-muẻy five-one ‘6 (i.e. 5 + 1)’ However, the quinary system plays no part in multiplication (i.e. there are no forms interpreted as ‘n x 5’), nor in exponentiation (i.e. there are no morphemes interpretable as ‘125’, or more generally 5”). The word for 10 is dap, and the teens are formed regularly, as in (8): (8) dap-pii ten-two ‘12 (i.e. 10 + 2)’ However, the products of 10 from 30 to 90 are expressed using morphemes borrowed from Thai. Thus, although 3 is by and 10 is dap, the form for 30 is as given in (9): (9) saam-sap three-ten ‘30 (i.e. 3 x 10)’ Although this is sometimes described by saying that the words for the tens are not synchronically analyzable in Khmer, this is not strictly speaking correct, since the recurrent element -sap is found in all of the tens 30-90 and is thus synchronically an irregular allomorph of the word for 10. Likewise a form like saam- is more appropriately treated synchronically as an irregular allomorph of the word for 3. These forms for the tens have a synchronically transparent internal structure. Beyond this, the word for 20 is completely irregular, namely mephiy. Note that products of the higher powers of 10 are formed regularly, thus giving rise to combinations like (10): (10) pram-muзy-rccy saam-scp-budn five-one-hundred three-ten-four ‘634(i.e.(5+ 1) x 100+3 x 10+4)’ In other words, Khmer illustrates basically the same kind of structure as in the other cited Southeast Asian languages, but with rather more deviations, 6. VIETNAMESE [The source of my data on Vietnamese is Thompson (1987: 184 - 190).] The basic forms in Vietnamese follow the same pattern as we have already seen in other Southeast Asian languages, with a decimal system using multiplication and addition, as in example (11): (11) ba mu’o’i bô’n three ten four ‘34(i.e.3x 10+4)’ However, as in some of the other languages considered, there are some morphophonological changes, in Vietnamese concerning tone. When used as the multiplicand to express the tens, the word much ‘10’ has the high level tone (no diacritic in Vietnamese orthography), while in isolation it has the low level tone, indicated

lit. and this form is also used in teens. in 11. ‘two-ten’.e.my data on Burmese is Comyn and Roop (1968: 30-32. lit. e. as in (13): (13) hai mu’oi mô two ten one ‘21 (i. as in the expression for 60 in (15)..).e. For instance. the Englishlexified lingua franca of most of Papua New Guinea. tones are marked by means of one of the four symbols{=. i. First.e. A perhaps even more striking example is seen slightly outside our geographical area. etc. but after other products of powers of 10 its tone is rising. 30 behaves similarly. 8 x 100+6x 10 +3’ Departures from this regular system concern morphophonological alternations. 2 x 10 + 1)’ In addition. But a little more thought suggests putting the numeral systems of languages of Southeast Asia in a somewhat different perspective. as in (16) . as in (14): (14) bô’n (mu’o’i) chin four ten nine ‘49 (i. in compound numerals involving addition of a unit the abbreviation is rather through omission of the word for 10. e. This same element also changes its tone when followed by a unit. numeral systems are heavily cultural objects. for 20 followed by a unit.e.. hcau’-hse. muoi ‘10’. BURMESE [The source of. five-ten’. it is not idiosyncratic to the formation of numerals. mot ‘1’. We saw this in section 5.. In Tok Pisin. i. AND REGAINED The presentation of material on Southeast Asian numeral systems suggests that they come close to the “ideal” numeral system proposed in section 1. indicated orthographically by a subscript dot.e. in some of the tens the element -hse’‘10’ is voiced to -ze. the traditional system was “ideal”. in addition to the full form just given there is also a contracted form as in the alternative form ham mô’t ‘21’. 10 + 1)’ The numeral 1 in isolation.] Burmese also evinces the same basic system as in other Southeast Asian languages.g. but 20 is hna-hse. 101. 1001. which are formed regularly. with the exception of a few morphophonological alternations. The numerals 1. thoun: eight-hundred six-ten three ‘863. as can be seen in example (15): (15) hyi’-ya. 8. some (but not all) of which are paralleled elsewhere in the language. PARADISE LOST . 2. has the sharp falling tone. so that 2 is hni’. ‘} after the syllable.orthographically by means of a grave accent. this vowel change also occurs when these numerals precede numeral classifiers. certainly much closer than most major European languages. and also lose their tone. and cultural pressures can override “ideal” structure. especially once one starts considering the departures from the “ideal” system. i. where the Khmer numerals for the tens are borrowed from Thai.356).e. indicated orthographically by means of an acute accent. Thus.g. But for 40 upwards. as in (12): (12) muoi mqt ten one ‘11 (i. and also following an unmultiplied power of 10 (i. there are certain contractions that are frequent at least in the spoken language.(17): . thus giving rise to synchronically irregular allomorphs that reflect diachronically Thai equivalents of the usual Khmer morphs.e. 355. and 7 change their last vowel when multiplying a power of 10. nga:-ze ‘50. 4 x 10 + 9)’ 7. the same is true of expressions for the other powers of 10 when followed by a lower power of 10 (including a unit).

3 x 10 + 3)’ However. with the convention that the apparent unit in fact refers to the next lower power often.e. here 2 x 1000 + 2 x 100. twelv. there is some advantage to having shorter forms. making frequent use of numerals. In this way one can account for the contracted forms for 20 in Thai and Vietnamese (in the latter language. and our characterization of the “ideal” numeral system in section 1 pays attention only to the former of these. such as the alternative form for 500 in Vietnamese: nô’a ngàn. with sharp falling tone on the element ‘1’. in Vietnamese at least. A prelude to contraction can be seen in various morphophonological alternations.e.and perhaps some other languages. for instance. Typologically. . the portmanteau Russian numeral sorok ‘40’ is readily identifiable as such. Second. without any need to identify morphemes for ‘4’ and ‘ten’. also 30). a radically different form. since the contraction is only possible where the final component is of the next lower power of ten relative to the preceding element). If it is necessary to express unequivocally 2200. especially where this does not lead to ambiguity. such as the formation of the teens in Indonesian. In both languages. in a numerate culture. these traditional numerals are replaced by their standard English equivalents (in local pronunciation and spelling). respectively (Mihalic 1971: 20).e. but economy is never completely absent. Language is always an arena of tension between the competing forces of clarity (favoring more extended formulations) and economy (favoring more concise formulations). literally ‘half thousand’. and 1100. Finally. teti-tri. then one can add the word for 100. Thai forms are discussed by Noss (1964: 110—ill). with rising tone on this element. a Vietnamese example is given in (18): (18) hai ngàn hai two thousand two Now. i. or Khmer 20. although shorter descriptions even of Thai and Vietnamese often fail to note the contraction under consideration. whether an irregular combination or a portmanteau morph. this contraction actually gives rise to an ambiguity. which also serve economy of pronunciation.e. since (18) can mean not only 2200 but also 2002 (but not 2020. Thus. can serve to quickly identify a particular numeral.(16) wan-pela ten tu one-SUFFIX ten two ‘l2 (i. i. This might account for the other irregularities noted above. putting íé ‘and’ before the final element unequivocally indicates 2002 (and the morphophonology of 1 means that there is always a distinction between contracted 1001. with all the idiosyncrasies of standard English. and also other occasional anomalies. A further contraction may be observed in Thai and Vietnamese . in current usage. Southeast Asian numeral systems seem to place more emphasis on clarity. a numeral like 2200 can be expressed simply by saying ‘two thousand two’. l x 10 + 2)’ (17) tri-pela ten tri three-SUFFIX ten three ‘33 (i.

Oxford: Oxford University Press. Comrie. Umberto. William S. 1968. Berkeley: University of California Press. and D. 1968. Laurence C. Washington. R. Qid. Mihalic. James Neil. Bernard. St Leonards. 1997. D. Palek (ed.REFERENCES Chao. 1971. Indonesian Reference Grammar. . A Vietnamese Reference Grammar.): Proceedings of LP’96. Noss. Thai Reference Grammar. 1987. 1964. P.56.C. Thompson. Linguistik Indonesia. Thai: An Essential Grammar. 1997. 2002. 41 . Revised ed. 1997. ‘Some Problems in the Theory and Typology of Numeral Systems’.20. Agustus 2004 Jacob. Prague: Charles University Press. Chinese: An Essential Grammar. 2. Judith M. B. 1996. Beginning Burmese. No. Smyth. Yuan Ren. Cornyn. Haigh Roop. Eco. 1968. NSW: Allen & Unwin. F. London: Routledge. Yip Po-Ching and Don Rimmington. Introduction to Cambodian.: Foreign Service Institute. CT: Yale University Press. The Search for the Perfect Language. David. A Grammar of Spoken Chinese. London: Routledge. Honolulu: University of Hawaii Press. Tahun ke 22. Oxford: Blackwell. New Haven. The Jacaranda Dictionary and Grammar of Melanesian Pidgin.: Jacaranda Press. Milton. Sneddon. In B.

Volume 10 No. researcher wanted to know the using of internet based on the media's scheme . could facilitate the users to find information and increase knowledge. Di MMTC Jogyakarta tanggal 5-6 Oktober 2009. diversion. maintain and enchance the cooperation with various parties. and personal identity. Keywords: User Motives in Using Internet 8 Telah dipresentasikan pada Seminar Hasil Penelitian BBPPKI Medan di Kota Parapat. In fulfilling the needs of diversion. people have needs and motives based on the diverse social characteristics. and than to fulfill needs of personal identity. ** Penulis adalah Peneliti Pertama Bidang Komunikasi pada BBPPKI Medan .III. Using internet .persons interactions that covered the needs of the information. That was why. The result in this research found that internet using based on information needs. internet had helped users to search for ideas and thoughts to create. 3 Desember 2009 MOTIF-MOTIF MASYARAKAT KOTA TEBING TINGGI MENGGUNAKAN INTERNET 8 (Survei Pada Pengguna Warnet Di Kota Tebing Tinggi) Oleh : Budiman ** Abstract This study attempted to know the motivation of Tebing Tinggi’s people using internet. Depkominfo RI. This study used as many as 50 respondents. in the perspective Uses and Gratifications theory. positively could cause feelings of happines. Kabupaten Simalungun Tanggal 29 Juli 2009 dan pada Temu Ilmiah Balitbang SDM.

Internet menjadi semakin dekat dengan masyarakat dengan sifatnya hampir sama dengan televisi atau media massa lainnya sehingga setiap orang dapat menggunakan media tersebut tanpa harus berada di tempat yang khusus.143 16.080.200.000.000 25. Para pengguna sangat menyambut baik dengan menunjukkan minat yang tinggi terhadap adanya warnet.002 865.000 667. Media internet muncul sebagai sarana yang ampuh menjangkau khalayak dengan cepat dan mudah tanpa mengenal rintangan jarak dan waktu dan proses yang kompleks.500.700. Perkembangan TIK mendapat perhatian pemerintah.000 400.id Demi mendukung perkembangan TIK khususnya pemanfaatan internet di Provinsi Sumatera Utara dalam menunjang berbagai aktivitas. Pardede mencanangkan 2008 sebagai tahun kebangkitan TIK.000 * Perkiraan s/d akhir 2007 Sumber : www.000 Pemakai 512. di antaranya akses internet yang ada di warnet-warnet yang tergabung dalam Asosiasi Warung Internet Indonesia (Awari).087.000. Warung adalah kalimat yang sangat akrab bagi telinga kita. Karena itulah ketika banyak pengusaha mulai membuka usaha berjualan layanan internet maka mereka memberi nama “Warung Internet” bagi usahanya.900. Bisnis warnet sudah tumbuh subur di Indonesia terutama di daerah perkotaan. Selain itu.000 1. Bisnis warnet di Kota Tebing Tinggi sudah muncul sekitar tahun 2000 dan mengalami kemajuan yang sangat pesat sekitar dua tahun terakhir. hingga saat ini jumlah usaha warnet mencapai lebih dari 15 tempat dan rata-rata sehari terdapat sekitar 50 pengguna yang mengunjungi di setiap warnet.500. ada juga Warung Masyarakat Informasi (Warmasif) yang menyediakan akses informasi tentang pelayanan publik di 50 lokasi di Indonesia.apjii.534 11.Latar Belakang Masalah Teknologi Komunikasi dan Informatika (TIK) atau Information and Communication Technology (ICT) semakin dirasakan penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia modern. Bagi masyarakat perkotaan dewasa ini sudah tidak asing lagi dengan istilah warnet (warung internet).000 1. Salah satu aksinya adalah membangun Community Acces Point (CAP).000 20.000.000 256.000. Disamping itu adanya teknologi internet telah merangsang munculnya bisnis penyedia jasa internet yakni warnet. Bagi pengguna (user) yang tidak memiliki perangkat komputer yang belum tersambung dengan jaringan internet .000 581.or. Gubernur Sumatera Utara Drs. Rudolf M.428 1. Istilah “Warnet” merupakan istilah khas Indonesia untuk “warung internet”.000 1.000 2.000 4.226. Perkiraan resmi dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) terhadap jumlah pelanggan dan pemakai internet selama ini dan perkiraan sampai akhir tahun 2006 adalah sesuai dengan tabel berikut ini: Perkembangan Jumlah Pemakai Internet (kumulatif*) Di Indonesia Tahun 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007* Pelanggan 134. Upaya yang dilakukan pemerintah melalui Departemen Komunikasi dan Informatika yang konsen terhadap perkembangan TIK melakukan beberapa aksi baik melalui programprogram maupun dengan kebijakan-kebijakan.706 1.000 8.000 4.000. Community Access Point (CAP) di Indonesia sendiri memiliki banyak wujud.

chatting. Berbagai fungsi dan manfaat yang didapat dari internet tidak terlepas dari motifmotif bagi penggunanya. Beberapa aktifitas melalui komputer ataupun internet dapat dilakukan disini seperti mencari informasi (browshing). Komunikasi dapat dilakukan manusia dengan begitu luas dan cepat dengan hadirnya internet. Tapi apakah penggunaan internet memang dapat memberikan manfaat positif atau malah dapat berdampak negatif pada para penggunanya masih dapat belum dipastikan. dimana dalam penelitian berusaha untuk mengidentifikasi unsur motif-motif yang menjadi pendorong khalayak untuk menggunakan internet. tapi ada juga beberapa dampak negatif yang dapat dialami oleh para pengguna internet. Internet akan lebih mengefisienkan waktu dan sistem kerja dibandingkan dengan komunikasi/ informasi secara manual.biasanya dapat mengakses di warnet. Dimana iklan tersebut menggambarkan bahwa anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar pun dapat memanfaatkan media internet sebagai akses pencarian data jika diberikan tugas membuat kliping. hasil penelitian ini walau hanya pada sebuah kota diharapkan dapat dijadikan masukan bagi pemerintah melalui Depkominfo ataupun Pemerintah Daerah khususnya untuk mengkaji stategi perkembangan TIK khususnya internet dalam hal tren penggunaannya. permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : “Motif-motif apakah yang mendorong masyarakat Kota Tebing Tinggi menggunakan Internet ?” Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan secara umum mengenai motif-motif yang mendorong masyarakat Kota Tebing Tinggi menggunakan Internet. Pemerintah Indonesia bahkan mulai mendorong kepada warganya untuk menggunakan media Internet seperti yang dilakukan oleh Depkominfo yang mensponsori penayangan berbagai iklan di media televisi. Rumusan Masalah Dari uraian diatas. Manfaat Teoretis Penelitian ini untuk mengetahui penerapan pendekatan Uses and Gratifications. e-mail. yang membutuhkan waktu yang lama dan tempat yang terbatas. Seperti dijabarkan diatas ada banyak manfaat positif yang didapat dari penggunaan media internet. Internet semakin mampu meningkatkan intensitas dan kecepatan serta jangkauan komunikasi dengan pengaruh sosial yang cukup besar. Manfaat Penelitian : Manfaat Praktis Secara praktis. internet menjadi salah satu fenomena komunikasi bermedia yang terus berkembang serta semakin dibutuhkan oleh masyarakat. Asumsi penggunaan sebuah media massa termasuk internet mendorong terciptanya pemenuhan kebutuhan (gratifikasi media atau kepuasan) atau akibat yang tidak diinginkan (ketidakpuasan). untuk itu peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian ini. Dari penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan studi komunikasi serta . Seperti diketahui bahwa pengguna media internet dapat menelusuri apa saja yang diinginkannya. maka penggunaan internet diprediksi akan menimbulkan dampak tertentu dalam diri masyarakat berupa gratifikasi media atau tingkat kepuasan dalam menggunakan media internet. terlepas dari apakah hal tersebut memberikan kontribusi positif bagi pengguna tersebut atau bahkan berdampak rusaknya moralitas penggunanya. bahkan bermain game. Dengan memiliki keunggulan dalam efesiensinya ini.

seperti yang dirumuskan oleh Harold dan Charles Wright. melepaskan diri dari rutinitas dan masalah. Tiga fungsi ini kemudian ditambah oleh Charles Wright yaitu fungsi hiburan (Entertaiment). perbedaan pada pola terpaan media atau keterlibatan dalam kegiatan lain. 4. Menurut Mc.lain. Kebutuhan afektif adalah kebutuhan yang .edu/~drlane/capstone/contexts. eksplorasi realitas. atau hiburan dan informasi menurut Wilbur Schramm. sarana pelepasan emosi. pengetahuan. kesempatan melarikan diri dari kesibukan sehari-hari. 2004).mampu memperkaya varian. Blumler dan Katz (1974) mengutarakan bahwa seorang pengguna media mencari sumber media yang terbaik guna memenuhi kebutuhan mereka. 2. KAJIAN PUSTAKA Landasan Teori Terkait dengan motif-motif penggunaan internet. yang melahirkan. juga memuaskan rasa penasaran dan dorongan untuk penyelidikan kita. ada empat tipologi motivasi khalayak dalam menggunakan media. Menurut pencetus teori ini. Di sini media dianggap memberikan hiburan. yaitu kebutuhan yang bersifat afektif (yang berkaitan dengan perasaan) dan kebutuhan kognitif (yang berkaitan dengan pengetahuan). Kebutuhan ini didasarkan pada hasrat untuk memahami dan menguasai lingkungan. Khalayak berperan aktif dalam mengambil bagian dalam proses komunikasi dan diorientasikan pada tujuan penggunaan media (http://www. Surveillance. dan pemahaman mengenai lingkungan. yaitu : 1. hubungan sosial (correlation). dan penguatan nilai. 3. Personal identity. bentuk-bentuk pencarian informasi. Dari berbagai jenis kebutuhan tersebut. Mengenai fungsi media massa terhadap pemenuhan kebutuhan audien tersebut. Masyarakat memiliki tipologi kebutuhan dan motif beraneka ragam terhadap media berdasarkan karakteristiknya sosialnya.htm). Mengenai kebutuhan kognitif dan afektif Nurudin menjelaskan. 2007). pengawasan lingkungan (surveillance). akibatakibat . dan hiburan serta transmisi kultural. alternatif rujukan serta sebagai khasanah referensi dalam penelitian-penelitian tentang khalayak di masa mendatang terhadap pemanfaatan industri teknologi komunikasi dan informasi. Menurut Stephenson media massa hanya memenuhi satu jenis kebutuhan saja. Sedangkan menurut Wilbur Scramm. Ahli komunikasi lainnya menyebutkan dua fungsi. yaitu referensi diri. media massa memenuhi kebutuhan akan hiburan dan informasi. Diversion . Personal relationships. Yang lain lagi menyebutkan tiga fungsi media massa dalam memenuhi kebutuhan. dan menghasilkan. Harold D Laswell pernah mengajukan 3 fungsi media yaitu yaitu pengawasan (Surveillance).uky. yaitu memuaskan hasrat bermain atau melarikan diri dari kenyataan. dalam teori Uses and Gratifications mengusulkan bahwa khalayak (pengguna) memainkan peran dalam pemilihan dan penggunaan media. dan kegunaan sosial. informasi dan lain sebagainya. korelasi (Correlation). dari media massa atau sumber-sumber lain yang menyebabkan. harapan-harapan. kebutuhan kognitif adalah kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan informasi. yaitu persahabatan. bahkan akibat-akibat yang tidak dikehendaki (dalam Rakhmat. pemenuhan kebutuhan serta. media massa memenuhi kebutuhan akan fantasi dan informasi menurut Weiss.Quail (2002). William J Mc Guire (dalam Muchati 1972) kemudian mengelompokan jenis-jenis kebutuhan tersebut menjadi 2 dimensi. Konsep dasar yang diteliti dari teori tersebut adalah : sumber sosial dan psikologis dari kebutuhan. dan transmisi budaya atau sosialisasi (Cultur Transmission and Socialisation). Motif afektif menekankan aspek perasaan dan kebutuhan mencapai tingkat emosional tertentu (Rakhmat. Motif kognitif menekankan kebutuhan manusia akan informasi dan kebutuhan untuk mencapai tingkat ideasional tertentu.

dan information.wikipedia. sengaja atau tidak (dalam Wiryanto. internet berperan dalam menyampaikan informasi yang sifatnya mendidik. demikian pula dengan fungsi lainnya. edukasi dan hiburan. memberi kepuasan ataupun mengurangi ketidakseimbangan. (http://en. Oleh karena itu tidak akan ada motivasi. (Nurudin. Definisi Konsep Menurut Shannon dan Weaver (1949) komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama lainnya. internet dapat juga sebagai media hiburan yang dapat memenuhi selera masyarakat. Berdasarkan fungsi-fungsi ini dapat disimpulkan bahwa media massa sebagai media pembangunan atau proses perubahan ke arah kondisi kehidupan yang lebih baik (Ardianto dkk. menghibur.org/wiki/Alvin_Toffler) Pendapat ini dapat disimpulkan bahwa komunikasi memiliki andil dan sumbangan yang sangat besar dalam pembangunan. dan motivasi yang telah tumbuh memang dapat menjadikan motor dan dorongan untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan atau pencapaian keseimbangan. Selain sebagai media untuk mendidik.berkaitan yang berkaitan dengan peneguhan pengalaman-pengalaman yang estetis.( http://id. jika tidak dirasakan rangsangan-rangsangan terhadap hal semacam di atas yang akan menumbuhkan motivasi.org/wiki/Motivasi) . dan hiburan. Isi pesan tidak hanya disediakan oleh lembaga atau organisasi namun juga oleh individual 3. model Uses and Gratifications adalah sebagai berikut : Anteseden Motif Penggunaan Media Efek Sumber : Jalaludin Rahmat. telah berkembang mediamedia lain yang kemudian dikelompokkan ke dalam media massa seperti internet dan telepon selular. penyebaran nilai. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa motivasi pada dasarnya adalah kondisi mental yang mendorong dilakukannya suatu tindakan (action atau activities) dan memberikan kekuatan (energy) yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan. Sebagai media yang bersifat masif.wikipedia. industrial. Kemudian menurut Alvin Toffler dalam bukunya The Third Wave (1980) membagi tiga tahap perkembangan peradapan manusia yakni Agricultural. penafsiran. Motivasi adalah faktor yang mendorong orang untuk bertindak dengan cara tertentu. 2007) Sesuai dengan bentuk model-model yang lain. Mengenai fungsi internet juga tidak berbeda dengan media massa pada umumnya yang mempunyai fungsi sosial seperti informasi. menyenangkan. 2001. Penerima yang menentukan waktu interaksi (http://id. Sementara Hafied Cangara (2007) mengatakan bahwa komunikasi adalah sebuah proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya .wikipedia. Media massa yang lebih modern ini memiliki ciri-ciri seperti: 1. dan emosional. Sebagai media hiburan ia juga dapat berfungsi dalam memenuhi selera masyarakat. Sumber dapat mentransmisikan pesannya kepada banyak penerima (melalui SMS atau internet misalnya) 2. Komunikasi mengalir (berlangsung) ke dalam 5. Metode Penelitian Komunikasi.org/wiki /Media_massa) Mencermati beberapa fungsi media massa yang ditulis Dominick (2001) terdiri dari pengawasan. yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam. Tidak ada perantara. interaksi terjadi pada individu 4. 2000). 2007). Seiring dengan perkembangan teknologi dan sosial budaya.

Telkom tahun 2003.wikipedia. Penemuan internet dianggap sebagai penemuan yang cukup besar. Padahal akses internet yang merakyat sangat dibutuhkan bukan hanya sekedar untuk sarana berkomunikasi murah dan cepat. dan kapan saja. tetapi juga alat untuk mencerdaskan bangsa. melakukan riset.624 terdapat 398. Berdasarkan data ini pula pula pada umumnya mereka menggunakan internet untuk kepentingan komunikasi elektronik. peningkatan yang terjadi lebih tinggi lagi.) Definisi Operasional Defenisi operasional dalam penelitian merupakan defenisi yang akan dijelaskan dari beberapa variabel penelitian yang diambil dari unsur teori Grand Theory Uses and . Tren penurunan tersebut diikuti pula oleh pengguna akses kantoran.574. Purbo (2001) melukiskan bahwa internet juga telah mengubah metode komunikasi massa dan penyebaran data atau informasi secara fleksibel dan mengintegrasikan seluruh bentuk media massa konvensional seperti media cetak dan audio visual (http://www.com/ ) Minat masyarakat terhadap warung internet (warnet). menulis skripsi. menurut hasil riset AC Nielsen terkini. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan PT. Jika pada tahun 2000 warnet merupakan tempat favorit bagi 50% pengguna internet.065 pengguna internet. komunikasi bermedia (mediated communication) mengalami kemajuan pula dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Peningkatan tersebut ternyata merupakan dampak dari turunnya jumlah pengguna akses rumahan menjadi 7% pada tahun 2003. Dunia seolah-olah menjadi kecil.( http://www. org/ v17/com/ictwatch/paper/paper051. Dari populasi sebanyak 3.426 pengguna internet atau sekitar 16. terdapat 1. Sementara di kawasan Asia. dari 42% pada tahun 2000 menjadi 18% pada tahun 2003. Melalui internet faktor jarak dan waktu sudah tidak menjadi masalah. Warnet banyak dimanfaatkan oleh mahasiswa. baik melalui e-mail. pelajar.114. Sementara bagi masyarakat umum warnet digunakan untuk: memeriksa kiriman surat elektronik (email) terbaru.org/wiki/ Warnet).wbizzasia. melamar pekerjaan. Warnet digunakan untuk bermacam-macam tujuan.666.8 %.Sejalan dengan berkembangnya peradaban masyarakat dan kebudayaannya.geocities. menunjukan angka pertumbuhan yang cukup signifikan.htm). Warung Internet (disingkat : warnet) adalah salah satu jenis wirausaha yang menyewakan jasa internet kepada khalayak umum.1 persen dari jumlah penduduk atau berkisar 18 juta penduduk dari total penduduk Indonesia yang lebih dari 220 juta orang.527. terhadap 1500 responden menyebutkan bahwa sebahagian besar dari pengguna internet terdiri dari kelompok usia antara 17 tahun hingga 30 tahun sebanyak 70%. (www.com.709. Dalam tujuh tahun terakhir pertumbuhan pengguna internet di dunia mencapai 208. yang mengubah dunia dari bersifat lokal atau regional menjadi global.9 % dari jumlah populasi tersebut. Pengguna internet di dunia dari tahun ke tahun semakin meningkat. com /inrecent/projec . bagi pelajar. Pentingnya peranan media (media sekunder) dalam proses komunikasi disebabkan oleh efisiensinya mencapai komunikan dimana. Dalam hal ini Onno W.417 jiwa.7 %. chatting maupun instan massaging.274. Pengguna internet di Indonesia hanya berkisar 8.vlsm. Dari jumlah populasi sebesar 6. dan komunikasi menjadi mudah. yakni mencapai 248. Namun ada juga dari sebagian dari mereka menggunakan internet bermain game online. dari 13% pada tahun 2000. sarana menikmati hiburan dan lain sebagainya ( http://id.712. dan mahasiswa warnet banyak digunakan untuk: mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah.html). bersosialisasi dan berkomunikasi (chatting). Karena internet terdapat sumbersumber informasi dunia yang dapat diakses oleh siapapun dan dimanapun melalui jaringan internet.internetworldstats. maka pada tahun 2003 ini diperkirakan meningkat menjadi 64%. (http://free. profesional dan wisatawan asing.

berwawasan kebudayaan.Net 3 Bio. 2. Motif dalam penelitian ini adalah faktor-faktor yang mendorong masyarakat Kota Tebing Tinggi untuk menggunakan internet di warnet yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan. keadaan. bertaqwa. Jenis Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif yakni hanya memaparkan situasi dan peristiwa apa adanya. Provinsi Sumatera Utara.Net 2 Green. gejala.Net 4 Raja Net 5 Ridho Net 6 Diamond 7 Thamrin. menguasai pengetahuan dan teknologi.Gratifications . tanpa mencari dan menjelaskan hubungan. Dengan demikian yang dimaksud dengan : 1. Net 13 One Stop. Disamping itu ditambah dari visi Dinas Pendidikan Kota Tebing Tinggi yang ingin mewujudkan masyarakat yang beriman. Net 10 Ono Net 11 Sky Link 12 Primkopad. Untuk melihat jumlah populasi pengguna warnet yang ada di Kota Tebing Tinggi. teori pendukung dan konsep-konsep terutama terhadap motivasi seseorang menggunakan media massa. . Populasi Dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang bertempat tinggal di Kota Tebing Tinggi dan pengguna warnet. Net 8 Qioz Online 9 Inter. 3. Dengan kata lain dalam penelitian ini hanya memberikan deskripsi secermat mungkin mengenai suatu individu. dilakukan pendataan dan wawancara kepada pemilik atau pengelola warnet. Dari pendataan jumlah pengguna selama 7 (tujuh) hari di 15 warnet dapat dilihat pada tabel berikut : Data Warnet Di Kota Tebing Tinggi NO W A R N E T 1 Spider. METODE PENELITIAN Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kota Tebing Tinggi. masyarakat Kota Tebing Tinggi yang mampu menggunakan atau mengoperasionalisasikan internet dalam kehidupannya. atau kelompok tertentu. Net 14 Star Net 15 D. kebangsaan dan masa depan. tidak menguji hipotesa atau membuat prediksi. Masyarakat dalam penelitian ini yang dimaksud adalah pengguna yakni . Warung Internet (disingkat: warnet) adalah salah satu jenis wirausaha yang menyewakan jasa internet kepada khalayak umum yang berada di Kota Tebing Tinggi. Salah satu alasan untuk melakukan penelitian ini di Kota Tebing Tinggi adalah mengingat visi dan misi kota ini adalah bercita-cita mewujudkan daerahnya menjadi kota pendidikan dan masyarakat yang berpendidikan.Net Jumlah Rata-Rata Pengunjung 35 75 80 50 50 30 70 50 40 20 40 60 60 50 40 750 Sumber :Data survei tanggal 4-7 Maret 2009. memberi kepuasan ataupun mengurangi ketidakseimbangan.

hasil-hasil penelitian terdahulu. pengeluaran Kebutuhan informasi.ac. dan untuk menentukan jumlah sampel dalam penelitian ini merujuk pendapat Roscoe (1975) dalam Uma Sekaran (1992) memberikan pedoman penentuan jumlah sampel sebaiknya ukuran sampel di antara 30 s/d 500 elemen. Pengumpulan Data Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yakni : Data Primer . Mengadakan diskusi dan pembahasan hasil temuan data penelitian. Perancangan Alat Ukur Dan Analisis No 1 2 Anteseden Motif Dimensi Sosiodemografis dan psikologis Kebutuhan Kognitif Kebutuhan Diversi Kebutuhan Identitas Personal Penggunaan Warnet Nilai-nilai Indikator penelitian Usia. makalah. frekuensi penggunaan.id/~hasan/ SAMPLING.Dari sekitar 15 warnet yang terdapat di Kota Tebing Tinggi rata-rata pengunjungnya sebanyak 750 orang. pengawasan lingkungan. Analisis Data Data yang terkumpul seluruhnya akan ditabulasikan ke dalam tabel tunggal dan juga membuat beberapa tabulasi silang berdasarkan tujuan penelitian. dan pencarian informasi melalui internet. dalam penelitian ini akan dibatasi pada dimensi-dimensi motif penggunaan media saja. (http://home. Analisis data dilakukan dalam beberapa tahap : 1. dan manfaat Penilaian terhadap Internet 3 4 Penggunaan Media Sikap Dari model Uses and Gratifications. isi. pekerjaan. Kebutuhan pelepasan dari tekanan.doc. pendidikan. hiburan Memperkuat/menonjolkan sesuatu yang penting dalam kehidupan Pengalaman. diperoleh melalui kuisioner yang diberikan kepada responden terpilih. jenis. suratkabar. Durasi yang digunakan. Maka jumlah sampel yang diperoleh adalah 750 : 15 = 50 orang. Dan untuk menentukan jumlah sampel dalam penelitian ini. Membuat tabel distribusi frekuensi (f ) dan prosentasi (%) serta interpretasi untuk keseluruhan data penelitian. 2. Teknis pengambilan atau penentuan responden di warnet yakni merujuk pada pengunjung bernomor ganjil. diperoleh melalui buku-buku. dan jumlah ini dianggap sebagai jumlah populasi pengguna warnet di Kota Tebing Tinggi. unpar. jenis kelamin. Selanjutnya kuisioner disebarkan ke limabelas warnet tersebut masing-masing warnet mendapat 3 atau 4 responden. Data Sekunder . dilakukan dengan menghitung jumlah rata-rata pengunjung dibagi dengan jumlah warnet yang ada.). eksplorasi realitas. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik non-probability. Disamping itu juga dilakukan wawancara terstruktur kepada beberapa responden untuk memperkuat data yang terkumpul melalui kuisioner. Untuk pengambilan sampel dari populasi yang homogen ini memiliki keuntungan yakni terletak pada ketepatan peneliti memilih sumber data sesuai dengan variabel yang diteliti. .

Jenis Kelamin. : Kebun Paya Pinang. Kebun Gunung Pamela Kabupaten Serdang Bedagai.409 jiwa. Bila dilihat dari karakteristik pengunjung warnet memang didominasi oleh kaum pelajar SLTA maupun SLTP. Walau relatif dianggap media baru namun internet sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Kota Tebing Tinggi. Dan memiliki jumlah penduduk sebesar 139. namun terdapat juga profesi lainnya seperti para wartawan. Perkembangan TIK khususnya internet tergolong maju di Kota Tebing Tinggi. Kabupaten Serdang Bedagai. Sekitar tahun 2000 usaha warnet sudah ada. PT. Pengeluaran biaya perbulan. : Kebun Bahilang.473 9. Tingkat Pendidikan. PTPN III Kabupaten Serdang Bedagai . Usia NO 1 2 3 4 5 USIA ≤ 17 Tahun 18 . dan Pekerjaan. Berikut datanya yang ditampilkan dalam bentuk tabel. pegawai swasta bahkan pegawai negeri. dan pesatnya sekitar tahun 2006-2007.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kota Tebing Tinggi terletak di wilayah Provinsi Sumatera Utara yang berjarak 80 km dari Kota Medan dan berada di jalur lintas jalan nasional menuju Kota Pematang Siantar dan Kota Kisaran.0 12.438 Km2 dan secara administratif mempunyai 5 (lima) kecamatan. Utara Selatan Timur Barat Hasil Temuan : Sosiodemografis Dan Psikologis Responden yang berjumlah 50 orang dalam penelitian ini dilihat dari aspek sosiodemografis-nya mencakup : Usia. : Kebun Tanah Bersih. Saat dilakukan penelitian ini data usaha warnet di Kota Tebing Tinggi terdapat sekitar limabelas unit yang tersebar di inti kota dan di dekat sekolah-sekolah. Luas wilayah Kota Tebing Tinggi adalah 38.0 4.078 38. dapat dilihat pada tabel berikut : Kecamatan Di Kota Tebing Tinggi NO 1. 3. Kota Tebing Tinggi terletak antara 30 19’ – 30 21’ Lintang Utara dan 980 9’ – 980 11’ Bujur Timur dengan ketinggian antara 26 m – 334 m di atas permukaan laut.935 11.441 3.409 Wilayah Kota Tebing Tinggi berbatasan dengan : : Kebun Rambutan.0 14. 2. Tabel 1.511 5. 5. Socfindo Kabupaten Serdang Bedagai.0 100. Berbagai bidang profesi sudah memanfaatkan media ini. Kecamatan Padang Hulu Rambutan Padang Hilir Tebing Tinggi Kota Bajenis Total Sumber : Data BPS Kota Tebing Tinggi 2007 Luas (Km²) 8.0 Total Sumber : K 1 n = 50 .23 Tahun 24 – 29 Tahun 30 – 35 Tahun ≥ 35 Tahun F 34 6 7 2 1 50 % 68.438 Jumlah Penduduk 24277 27647 27419 29783 30283 139. 4. termasuk munculnya usaha penyedia jasa internet yakni warnet.0 2.

Rp.0 14.0 12.000.2. . kemudian pada kategori Rp...500.s/d Rp.2.000. Tabel 3.000.sebanyak 16 orang (32%) serta pada kategori Rp..000.0 8.1.500.1.0 100.Total Sumber : K 4 n = 50 F 26 16 2 4 2 50 % 52.s/d Rp.1. Tabel 2.0 Tingkat pendidikan responden yang terjaring dalam penelitian ini yakni yang terbanyak dari kelompok SMA 31 orang (62%). kemudian diikuti sebanyak 7 orang dalam kategori usia 24 – 29 Tahun dan selanjutnya sebanyak 6 orang (12%).000.sebanyak 4 orang (8%).000.0 100.000.s/d Rp.0 62.1.0 Perempuan Total Sumber : K 2 n = 50 Mengenai jenis kelamin yang dimuat pada tabel 2 dapat secara porposional hampir terbagi sama yakni laki-laki sebanyak 29 orang (58%) dan perempuan 21 orang (42%). Tabel 4.s/d Rp.0 Kategori tingkat pengeluaran perbulan dari responden yang terbanyak adalah pada kategori <Rp.000.000.0 4.000.000.0 10..500.0 42.000.000.500. Tingkat Pendidikan NO 1 2 3 4 5 TINGKAT PENDIDIKAN SD SMP SMA Diploma Sarjana (S1) Total Sumber : K 3 n = 50 F 1 5 31 7 6 50 % 2.000.1.000.0 100.Rp.500..Dari tabel 1..2..000.500. yang memuat usia responden dapat dijelaskan bahwa sebanyak 34 orang (68 %) dalam kategori usia ≤ 17 Tahun. Jenis Kelamin NO 1 2 JENIS KELAMIN Laki-laki F 29 21 50 % 58.000.500.1. Pengeluaran Per Bulan NO 1 2 3 4 5 PENGELUARAN PER BULAN < Rp..s/d Rp.0 32.yakni sebanyak 26 orang (52%).000.Rp. Diploma 7 orang (14%) dan sarjana 6 orang (12%).0 4.000.> Rp.

Internet dapat dijadikan sumber informasi dinyatakan sangat setuju oleh responden sebanyak 32 orang (64%) dan pernyataan setuju sebanyak 18 orang (36%).0 Untuk memenuhi kebutuhan informasi banyak cara dan media yang dapat diakses.0 36. Kebutuhan Informasi Kebutuhan akan informasi dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui sikap responden dalam memenuhi kebutuhan informasi melalui penggunaan internet yang tersaji dalam tabel-tabel yang dapat dilihat berikut di bawah ini: Tabel 6.0 100.Tabel 5. Pekerjaan NO 1 2 3 4 5 6 PEKERJAAN PNS/TNI/Polri/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/Berdagang Pelajar/Mahasiswa Lain-lainya F 1 8 6 31 3 1 50 % 2.0 2.0 Belum Bekerja Total Sumber : K 5 n = 50 Pelajar atau mahasiswa merupakan responden terbanyak dalam penelitian ini yakni sebesar 31 orang (62%).0 0 0 100. demikian halnya dengan penelitian ini menawarkan untuk pengaksesan informasi melalui media internet hampir mayoritas responden menyatakan sangat setuju yakni sebanyak 30 orang (60%) dan yang menyatakan setuju sebanyak 20 orang (40%). . Banyaknya pelajar/mahasiswa yang menggunakan di warnet sepertinya sudah menjadi tuntutan jaman ataupun pergaulan dewasa ini.0 0 0 100. Tabel 7. kemudian pegawai swasta sebanyak 8 orang (16%) serta wiraswasta sebanyak 6 orang (12%).0 12.0 16.0 Banyak pilihan media untuk mengakses informasi.0 62. Disamping itu beberapa sekolah telah memiliki sarana laboratorium komputer yang online.0 6. Mencari Informasi Via Internet NO 1 2 3 4 Sumber : K 6 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 30 20 0 0 50 % 60.0 40. Internet Sebagai Sumber Informasi NO 1 2 3 4 Sumber : K 7 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 32 18 0 0 50 % 64. salah satunya adalah internet.

0 12. Tabel 9.0 Dengan mengakses internet dapat mengetahui kondisi di tempat lain. Informasi Sosial Via Internet NO 1 2 3 4 Sumber : K 8 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 20 23 5 2 50 % 40. untuk pernyataan ini responden yang menyatakan setuju sebanyak 24 orang (48%).0 46. untuk hal ini yang .0 100.0 Untuk informasi sosial responden yang menyatakan setuju sebanyak 23 orang (46%) dan sangat setuju sebanyak 20 orang (40%) kemudian yang kurang setuju sebanyak 5 orang (10%). Tabel 11.0 Dari tabel 11 dapat dilihat bahwa adanya internet bagi responden termotivasi untuk mempelajari sesuatu sesuai dengan keinginan dan keperluan.0 100.0 4.0 4.Tabel 8. Internet Sesuai Dengan Kebutuhan Dan Harapan NO 1 2 3 4 Sumber : K 9 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 18 24 6 2 50 % 36.0 60.0 4. dan yang kurang setuju serta tidak setuju sebanyak 2 orang (4%). Tabel 10.0 100. Motivasi Untuk Mempelajari Sesuatu NO 1 2 3 4 Sumber : K 11 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 14 30 6 0 50 % 28.0 46. yang menyatakan sangat setuju sebanyak 18 orang (36%).0 0 100.0 48.0 12.0 4.0 10. pernyataan ini dinyatakan sangat setuju dan setuju oleh responden masing-masing sebanyak 23 orang (46%).0 Kehadiran internet telah memenuhi kebutuhan dan harapan responden. kemudian yang menyatakan kurang setuju sebanyak 6 orang (12%). Mengetahui Kondisi Di Tempat Lain NO 1 2 3 4 Sumber : K 10 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 23 23 2 2 50 % 46.

0 Dari tabel 12 mengenai adanya internet bagi pengguna/responden telah termotivasi untuk menambah pengetahuan.0 Penggunaan internet dalam memenuhi salah satu kebutuhan diversi yakni untuk melarikan diri dari persoalan dinyatakan responden dengan tidak setuju yakni sebanyak 19 orang (38%).0 38.0 8. kurang setuju sebanyak 13 orang (26%).0 Selanjutnya dari tabel 14 mengenai internet sebagai sarana bermain (game) dinyatakan kurang setuju oleh sebanyak 24 orang (48%). namun yang setuju diakui oleh sebanyak 15 orang (30%). Kebutuhan Diversi Pernyataan-pernyataan kebutuhan diversi dalam penelitian ini yang tersaji dalam bentuk tabel dapat dilihat sebagai berikut : Tabel 13. kemudian diikuti yang menyatakan setuju sebanyak 7 orang (14%).menyatakan setuju sebanyak 30 orang (60%). Tabel 12.0 48. diikuti sebanyak 14 orang (28%) untuk sangat setuju. Motivasi Untuk Menambah Pengetahuan NO 1 2 3 4 Sumber : K 12 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 25 24 1 0 50 % 50. Tabel 14. Internet Membantu Untuk Melarikan Diri Dari Persoalan NO 1 2 3 4 Sumber : K 13 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 11 7 13 19 50 % 22. serta sebanyak 6 orang (12%) menyatakan kurang setuju.0 48. Internet Sebagai Sarana Bermain (Game) NO 1 2 3 4 Sumber : K 14 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 7 15 24 4 50 % 14.0 100. untuk pernyataan ini dinyatakan sangat setuju oleh sebanyak 25 orang (50%) dan sebanyak 24 orang (48%) menyatakan setuju.0 26. .0 100.0 2.0 30. kemudian diikuti yang menyatakan sangat setuju sebanyak 11 orang (22%).0 14.0 0 100.

0 100. dan diikuti oleh yang menyatakan tidak setuju sebanyak 11 orang (22%).0 Internet memiliki fasilitas untuk berkomunikasi salah satunya adalah chatting. Internet Mampu Menimbulkan Kesenangan NO 1 2 3 4 Sumber : K 15 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 17 30 3 0 50 % 34.0 100.0 22.0 .0 42. Untuk pernyataan tersebut sebanyak 23 orang (46%) menyatakan setuju dan diikuti sebanyak 17 orang (34%) menyatakan sangat setuju.0 22.0 Internet dalam upaya untuk melupakan dan mengatasi kesulitan hidup. .0 46. diikuti pernyataan setuju sebanyak 17 orang (34%) dan yang kurang setuju hanya 3 orang (6 %).0 100. pernyataan ini disikapi setuju oleh responden yakni sebanyak 30 orang (60%). dengan adanya fasilitas ini internet dianggap dapat meningkatkan hubungan silahturahmi.0 8. Internet Dapat Melupakan Dan Mengatasi Kesulitan Hidup NO 1 2 3 4 Sumber : K 17 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 7 11 21 11 50 % 14. ternyata pernyataan ini direspon oleh sebanyak 21 orang (42%) dengan sikap kurang setuju.0 Internet dianggap mampu memberikan kesenangan. Tabel 17.Tabel 15.0 12. Namun terdapat yang menyatakan kurang setuju sebanyak 6 orang (12%).0 6. Tabel 16. namun dengan jumlah yang sama yakni sebanyak 11 orang (22%) menyatakan sebaliknya yakni dengan sikap setuju. Internet Meningkatkan Hubungan Silaturahmi NO 1 2 3 4 Sumber : K 16 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 17 23 6 4 50 % 34.0 60.

0 100.0 Fasilitas yang terdapat pada internet memungkinkan untuk melakukan komunikasi bermedia.0 4. Dan yang kurang setuju untuk pernyataan ini hanya 4 orang (8 %). Sementara yang menyatakan kurang setuju sebanyak 6 orang (12%). ternyata hal ini direspon dengan sikap setuju oleh sebanyak 31 orang (62%) dan diikuti sebanyak 11 orang (22%) yang menyatakan sangat setuju. Internet Membantu Mengatasi Persoalan .0 100.0 12. Internet Menjadi Sarana Mengisi Waktu Luang NO 1 2 3 4 Sumber : K 18 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 14 28 6 2 50 % 28.0 52.0 4. hal ini tentu saja dapat membangun relasi atau persahabatan dengan pengguna disekitar atau diluar lingkungan responden.0 12.0 100. Tabel 21. Tabel 20.0 62. Sementara yang menyatakan kurang setuju sebanyak 6 orang (12 %).0 Pernyataan Internet dapat dijadikan sarana untuk mengisi waktu luang direspon oleh sebanyak 28 orang (56 %) dengan menyatakan setuju dan diikuti sebanyak 14 orang (28%) yang menyatakan sangat setuju. Pernyataan sikap setuju ditunjukan oleh sebanyak 26 orang (52 %) dan diikuti sebanyak 19 orang (38 %) yang menyatakan sangat setuju.0 56. Internet Menjadi Sarana Bersantai NO 1 2 3 4 Sumber : K 19 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 11 31 6 2 50 % 22.0 2.0 Internet dijadikan sarana untuk bersantai. Tabel 19. Mencari Persahabatan Di Lingkungan Sekitar / Luar NO 1 2 3 4 Sumber : K 20 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 19 26 4 1 50 % 38.0 8.Tabel 18.

NO 1 2 3 4 Sumber : K 21 n = 50

SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total

F 8 27 13 2 50

% 16.0 54.0 26.0 4.0 100.0

Hadirnya internet dapat membantu mengatasi persoalan, pernyataan ini direspon oleh sebanyak 27 orang (54 %) dengan sikap setuju, namun yang kurang setuju dinyatakan oleh sebanyak 13 orang (26 %) dan kembali pada sikap yang sangat setuju sebanyak 8 orang (16 %). Tabel 22. Internet Mengatasi Kebosanan
NO 1 2 3 4 Sumber : K 22 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 12 21 13 4 50 % 24.0 42.0 26.0 8.0 100.0

Internet dapat dijadikan untuk mengatasi kebosanan dalam menjalani rutinitas hidup, penyataan ini direspon oleh sebanyak 21 orang (42 %) dengan sikap setuju, namun yang kurang setuju diakui oleh sebanyak 13 orang (26 %). Dan kembali pada sikap sangat setuju sebanyak 12 orang (24 %). Kebutuhan Identitas Personal Dalam memenuhi kebutuhan indentitas personal dalam penggunaan internet dalam temuan penelitian ini yang disajikan dalam bentuk tabel dapat dilihat sebagai berikut : Tabel 23. Membantu Mencari Ide Untuk Berkreasi
NO 1 2 3 4 Sumber : K 23 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 18 26 4 2 50 % 36.0 52.0 8.0 4.0 100.0

Dalam melakukan suatu kegiatan (menyelesaikan tugas-tugas kantor atau sekolah) terkadang kita mengalami kebuntuan. Dan adanya internet dianggap mengatasi kebuntuan tersebut dalam mencari ide untuk berkreasi. Pernyataan ini disikapi setuju oleh sebanyak 26 orang (52 %) dan diikuti sebanyak 18 orang (36 %) yang menyatakan sangat setuju. Namun ada sikap yang menyatakan kurang setuju sebanyak 4 orang (8 %). Tabel 24. Membantu Beraktivitas/Berusaha/Berbisnis

NO 1 2 3 4 Sumber : K 24 n = 50

SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total

F 16 23 8 3 50

% 32.0 46.0 16.0 6.0 100.0

Beraktivitas, berusaha atau berbisnis di dunia maya ternyata menarik perhatian untuk sebagian orang, hal ini tergambar dari pernyataan sikap setuju yang ditunjukan oleh sebanyak 23 orang (46 %), dan diikuti sebanyak 16 orang (32 %) yang menyatakan sangat setuju. Kemudian yang kurang setuju terdapat sebanyak 8 orang (6 %). Tabel 25. Membantu Menjalin Kerja Sama
NO 1 2 3 4 Sumber : K 25 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 17 25 5 3 50 % 34.0 50.0 10.0 6.0 100.0

Internet juga dianggap dapat menjalin kerjasama untuk beraktivitas kegiatan yang digeluti, hal ini juga tergambar pada tabel di atas, yakni sebanyak 25 orang (50 %) menyatakan setuju dan diikuti sebanyak sangat setuju sebanyak 17 orang (34 %), serta yang kurang setuju sebanyak 5 orang (10%). Tabel 26. Membantu Meningkatkan Kerja Sama
NO 1 2 3 4 Sumber : K 26 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 7 31 7 5 50 % 14.0 62.0 14.0 10.0 100.0

Telah terjalinnya hubungan kerjasama ternyata internet juga dapat meningkatkan kerjasama tersebut, hal ini dirasakan oleh sebanyak 31 orang (62 %), dan diikuti sebanyak 7 orang (14 %) yang menyatakan sangat setuju. Namun sebanyak 7 orang (14 %) menyatakan kurang setuju karena belum merasakan manfaatkan tersebut. Tabel 27. Membantu Mendapatkan Informasi Dunia Usaha
NO 1 2 3 4 Sumber : K 27 n = 50 SIKAP Sangat Setuju Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Total F 13 28 5 4 50 % 26.0 56.0 10.0 8.0 100.0

Internet juga dianggap telah membantu responden untuk mendapatkan informasi dunia usaha, pernyataan ini disikapi dengan pernyataan setuju sebanyak 28 orang (56 %), dan diikuti dengan sangat setuju oleh sebanyak 13 orang (26%). Dan terakhir yang menyatakan kurang setuju sebanyak 5 orang (10%). Penggunaan Internet Penggunaan internet bagi responden dalam penelitian ini meliputi : pengalaman responden dalam penggunaan internet, biaya akses internet dan sebagainya. Untuk lebih lanjut dapat disimak dibawah ini yang tersaji dalam bentuk tabel.

Tabel 28. Perkembangan TIK Di Daerah
NO 1 2 3 4 Sumber : K 28 n = 50 TANGGAPAN Sangat Maju Maju Kurang Maju Tidak Maju Total F 7 32 11 0 50 % 14.0 64.0 22.0 0 100.0

Perkembangan teknologi informasi dan teknologi (TIK) semakin pesat dan hal ini ditanggapi maju oleh sebanyak 32 orang (64%), namun yang menanggapinya dengan kurang maju cukup lumayan yakni 11 orang (22%) dan terakhir yang menanggapi sangat maju adalah sebanyak 7 orang (14%). Tabel 29. Minat Terhadap Internet
NO 1 2 3 4 Sumber : K 29 n = 50 SIKAP Sangat Berminat Berminat Kurang Berminat Tidak Berminat Total F 32 18 0 0 50 % 64.0 36.0 0 0 100.0

Dalam penggunaan internet terlepas pada minat seseorang untuk itu terdapat 32 orang (64%) yang menyatakan sangat berminat dan diikuti dengan berminat sebanyak 18 orang (36%). Tabel 30. Pertama Kali Belajar Internet
NO 1 2 3 4 5 Sumber : K 30 n = 50 BELAJAR DARI Teman Keluarga Sekolah Kursus/Pelatihan Belajar Sendiri dari majalah/buku Total F 20 1 13 3 13 50 % 40.0 2.0 26.0 6.0 26.0 100.0

Pengalaman responden pertama kali belajar internet adalah yang tertinggi belajar dari teman yakni diakui oleh sebanyak 20 orang (40%), kemudian diikuti belajar dari

sekolah atau belajar sendiri dari majalah/buku yakni masing-masing diakui oleh sebanyak 13 orang (26 %). Tabel 31. Pengalaman Menggunakan Internet
NO 1 2 3 4 Sumber : K 31 n = 50 LAMA 6 Bulan 1 Tahun 2 Tahun Lebih dari 2 Tahun Total F 11 9 4 26 50 % 22.0 18.0 8.0 52.0 100.0

Pengalaman responden tentang sudah seberapa lama menggunakan internet, yang terbanyak telah menggunakan media ini lebih dari 2 tahun yakni sebanyak 26 orang (52 %), kemudian ada yang menggunakan baru sekitar 6 bulan diakui oleh sebanyak 11 orang (22%), dan diikuti yang telah menggunakan sekitar 1 tahun yakni sebanyak 9 orang (18%) Tabel 32. Pemanfaatan Internet
NO 1 2 3 4 5 Sumber : K 32 n = 50 MANFAAT Membantu Pekerjaan/Studi Mencari Informasi Hiburan Media Komunikasi Lainnya Total F 14 23 7 3 3 50 % 28.0 46.0 14.0 6.0 6.0 100.0

Manfaat internet yang dapat dirasakan oleh para responden adalah yang paling besar dalam penelitian ini adalah mencari informasi yakni diakui sebanyak 23 orang (46%), diikuti membantu pekerjaan/studi yakni sebanyak 14 orang (28%), dan selanjutnya untuk hiburan diakui oleh sebanyak 7 orang (14%). Tabel 33. Penggunaan Internet Per Minggu
NO 1 2 3 4 Sumber : K 33 n = 50 WAKTU < 1 Jam 1 s/d 4 Jam 5 s/d 8 Jam > 8 Jam Total F 0 16 19 15 50 % 0 32.0 38.0 30.0 100.0

Mengenai penggunaan internet dalam seminggu yang tertinggi adalah rata-rata responden menggunakannya sekitar 5 s/d 8 jam sebanyak 19 orang (38%), kemudian diikuti rata-rata penggunaan 1 s/d 4 jam sebanyak 16 orang (32%). Dan terakhir adalah yang menggunakan internet rata-rata lebih dari 8 jam per minggu sebanyak 15 orang (30%). Tabel 34.Tempat Lain Mengakses Internet

NO 1 2 3 4 Sumber : K 34 n = 50

TEMPAT Di rumah Di kantor Di sekolah Di tempat lainnya Total

F 8 8 24 10 50

% 16.0 16.0 48.0 20.0 100.0

Walau dalam penelitian ini terfokus pada responden yang mengakses internet di warnet, namun kecenderungan tempat lain yang sering digunakan perlu juga untuk diketahui. Jawaban terbanyak adalah di sekolah yakni sebanyak 24 orang (48%) hal ini dikarenakan sekolah sekarang pada umumnya telah mempelajari bidang studi TIK (komputer dan internet) dan memiliki laboratorium komputer. Kemudian di tempat lain disini maksudnya di rumah teman yakni sebanyak 10 orang (20%) dan di rumah serta kantor masing-masing sebanyak 8 orang (16%). Tabel 35. Alasan Menggunakan Internet
SIKAP NO ALASAN 1 Kemudahan Informasi 2 Kemudahan Komunikasi 3 Tuntutan Pekerjaan/Studi 4 Kelengkapan Fasilitas 5 Rasa Ingin Tahu 6 Mengikuti Perkembangan Zaman Sumber : K 35 n=5 Akses Untuk Sangat Mendorong F % 24 14 23 12 24 23 48.0 28.0 46.0 24.0 48.0 46.0 Mendorong F 26 29 21 25 26 23 % 52.0 58.0 42.0 50.0 52.0 46.0 Kurang Mendorong F % 0 5 6 11 0 2 0 10.0 12.0 22.0 0 4.0 Tidak Mendorong F % 0 2 0 2 0 2 0 4.0 0 4.0 0 4.0

Beberapa alasan yang memotivasi responden untuk menggunakan internet adalah karena kemudahan akses informasi diakui mendorong oleh 26 orang (52%) dan sangat mendorong bagi 24 orang (48%). Alasan kemudahan untuk komunikasi (komunikasi bermedia) dinilai mendorong bagi sebanyak 29 orang (58%) dan diikuti oleh 14 orang (28%) yang menyikapi sangat mendoron. Untuk tuntutan pekerjaan/studi hal ini diakui sangat mendorong bagi 23 orang (46%) dan mendorong bagi 21 orang (42%). Kemudian termotivasi karena kelengkapan fasilitas yang ada pada internet diakui mendorong oleh 25 orang (50%) dan sangat mendorong bagi 12 orang (24%). Keingintahuan juga faktor yang memberikan motivasi bagi responden untuk menggunakan internet, hal ini disikapi mendorong oleh sebanyak 26 orang (52%) dan bahkan hal ini sangat mendorong bagi 24 orang (48 %). Dan yang terakhir alasan untuk mengikuti perkembangan zaman diakui sangat mendorong dan mendorong oleh masing-masing sebanyak 23 orang (46%). Tabel 36. Kegiatan Yang Dilakukan Via Internet
SIK NO AP KEGIATAN E-mail Sangat Sering F % 9 Sering F % 56.0 Jarang F 12 % 24.0 Tidak Pernah F % 1 2.0

1

18.0 28

SIK NO 2 3 4 5 6 7 8 AP

Sangat Sering

Sering 42.0 24.0 44.0 0 24.0 4.0 4.0 56.0 34.0 40.0 48.0 42.0 42.0 4.0 50.0 16.0 14.0 26.0 22.0 6.0 6.0

Jarang 11 13 13 9 14 5 8 8 17 8 15 11 3 3 6 10 18 11 17 11 14 22.0 26.0 26.0 18.0 28.0 10.0 16.0 16.0 34.0 16.0 30.0 22.0 6.0 6.0 12.0 20.0 36.0 22.0 34.0 22.0 28.0

Tidak Pernah 4 23 9 41 16 43 40 3 9 6 8 5 2 41 6 19 21 23 8 35 33 8.0 46.0 18.0 82.0 32.0 86.0 80.0 6.0 18.0 12.0 16.0 10.0 4.0 82.0 12.0 38.0 42.0 46.0 16.0 70.0 66.0

Chatting 14 28.0 21 KEGIATAN Mengakses lowongan pekerjaan 2 4.0 12 Mengakses berita on-line Reservasi tiket Mengakses bahan referensi Menawarkan barang/produk Membeli jasa barang/produk dan 6 0 8 0 0 12.0 22 0 0 16.0 12 0 2 0 2

9 Mengakses informasi hiburan 11 22.0 28 10 Mengakses informasi kesehatan 7 14.0 17 11 Mengakses pendidikan informasi 16 32.0 20 3 6.0 24 13 26.0 21

12 Mailinglist (tukar informasi) 13 Jaringan sosial online

14 Browsing (mencari informasi) 24 48.0 21 15 E-commerce (bisnis via 4 8.0 2 internet) 16 Download program/data/lagu 13 26.0 25 17 Upload program/data/lagu 18 Video conference via internet 19 Audio via internet 20 Game-online 21 Telepon via internet 22 Mengakses situs porno Sumber : K 36 n = 50 13 26.0 4 8.0 8 7

3 6.0 13 14 28.0 11 1 0 2.0 0 3 3

Banyak kegiatan yang dapat dilakukan jika mengakses internet. Pada tabel 36. menampilkan beberapa contoh kegiatan yang biasanya dilakukan oleh pengguna internet. Hanya sebagian dari beberapa kegiatan yang dipaparkan disini. Untuk kegiatan e-mail diakui sering dilakukan oleh sebanyak 28 orang (56%), kemudian jarang 12 orang (24%) dan selanjutnya diakui sangat sering oleh sebanyak 9 orang (18%). Kemudian untuk kegiatan chatting diakui sering oleh sebanyak 21orang (42%) dan diikuti sangat sering sebanyak 14 orang (28%). Untuk mengakses berita on-line dinyatakan sering oleh sebanyak 22 orang (44%) dan yang jarang mengaksesnya diakui oleh sebanyak 13 orang (26%) serta yang tidak pernah mengaksesnya sebanyak 9 orang (18%). Mengakses informasi hiburan diakui sering oleh sebanyak 28 orang (56%), dan sangat sering sebanyak 11 orang (22%), sebaliknya terdapat 8 orang (16%) yang jarang melakukannya. Mengakses informasi pendidikan diakui sering melakukannya oleh sebanyak 20 orang (40%) dan sangat sering dilakukan oleh sebanyak 16 orang (32%) hal ini disebabkan hampir mayoritas responden yang terjaring dalam penelitian ini adalah pelajar, dimana dalam mengakses internet mereka banyak mencari informasi (browsing) untuk tujuan menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Untuk kegiatan browsing sangat sering dilakukan sebanyak 24 orang (48%), dan yang menyatakan sering 21 orang (42%). Untuk beberapa kegiatan lainnya dalam mengakses internet dapat disimak pada tabel 36 di atas. Namun sebagai tambahan ada hal yang menarik dari mengakses situs porno,

walau hampir mayoritas responden menjawab jarang atau tidak pernah, terdapat juga sekitar 3 orang (6%) sering mengaksesnya. Tabel 37. Pengeluaran Biaya Akses Internet Per Bulan
NO 1 2 3 4 Sumber : K 37 n = 50 JUMLAH < Rp.100.000,Rp.100.000,- s/d Rp.200.000,Rp.200.000,-s/d Rp.300.000,> Rp.300.000,Total F 35 11 0 4 50 % 70.0 22.0 0 8.0 100.0

Mengenai kisaran atau rata-rata biaya yang harus dikeluarkan per bulan untuk mengakses internet oleh responden di warnet adalah yang terbesar pada kategori <Rp. 100.000,-yakni sebanyak 35 orang (70%) kemudian pada kategori Rp.100.000,- s/d Rp.200.000,- sebanyak 11 orang (22%) serta yang terakhir pada kategori > Rp.300.000,sebanyak 4 orang (8%). Tabel 38. Biaya Akses Internet Dari Warnet
NO 1 2 3 4 Sumber : K 38 n = 50 BIAYA Sangat Mahal Mahal Sedang Murah Total F 5 14 25 6 50 % 10.0 28.0 50.0 12.0 100.0

Untuk biaya akses internet via warnet diakui oleh responden dalam kategori sedang yakni sebanyak 25 orang (50%), lain halnya yang dirasakan oleh 14 orang (28%) menyatakan biaya tersebut dianggap mahal, dan sebaliknya 6 orang (28%) justru dianggap murah. Tabel 39. Manfaat Internet Terhadap Aktivitas Sehari-Hari
NO 1 2 3 4 Sumber : K 39 n = 50 MANFAAT Sangat Bermanfaat Bermanfaat Kurang Bermanfaat Tidak Bermanfaat Total F 31 16 2 1 50 % 62.0 32.0 4.0 2.0 100.0

Dalam menjalankan aktivitas sehari-hari seperti tuntutan pekerjaan, studi, hobi, hiburan, komunikasi dan lainnya, internet dirasakan sangat bermanfaat oleh sebanyak 31 orang (62%), dan diikuti sebanyak 16 orang (32%) menyatakan bermanfaat. Sikap Terhadap Kehadiran Internet Sikap ataupun pendapat responden dalam penelitian ini adalah meliputi beberapa kriteria melalui pertanyaan terbuka tentang seputar kehadiran teknologi komunikasi dan informasi khususnya internet yang akan disajikan dalam bentuk tabel yang dapat diperhatikan pada halaman berikut :

Para pengguna sangat menyambut baik dengan menunjukkan minat yang tinggi terhadap adanya warnet. diversi. sarana pelepasan emosi.00 Dari pertanyaan terbuka yang diajukan kepada responden mengenai adanya internet adalah memudahkan untuk mencari/berbagi informasi dan menambah pengetahuan sesuai profesi hal ini diakui sebanyak 21 orang (42%). Dalam memenuhi kebutuhan diversi (Diversion) . Internet dimanfaatkan responden untuk mengetahui atau menambah wawasan tentang keadaan/kehidupan di tempat lain. eksplorasi realitas. Sikap Terhadap Internet NO 1 2 3 4 5 Total Sumber : K 40 n = 50 PENDAPAT Memudahkan untuk mencari/berbagi informasi dan menambah pengetahuan sesuai profesi Kecepatan masih lambat.00 100. menjalin serta meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak baik di dalam lingkungan sekitar maupun di luar. Penggunaan dan bisnis warnet di Kota Tebing Tinggi mengalami kemajuan yang sangat pesat. hal ini terkait dengan pencarian informasi. yaitu referensi diri.00 10. Poin-poin ini secara tidak langsung diakui akan membantu untuk meningkatkan peluang-peluang karena mengetahui informasi lebih detail dan cepat . hingga saat ini jumlah usaha warnet mencapai lebih dari 15 tempat dan ratarata sehari terdapat sekitar 50 pengguna yang mengunjungi di setiap warnet.Tabel 40. dan identitas personal. Mengenai kecepatan akses internet masih lambat dan turunkan tarif akses internet diajukan oleh sebanyak 14 orang (28%). sebagai sumber informasi. Dan untuk selanjutnya dapat disimak pada tabel 40 di atas. Dengan penggunaan internet ini sesuai dengan harapan dan kebutuhan. Dan ditambah dengan aspek-aspek pengalaman responden terhadap penggunaan internet di warnet serta sikap terhadap kehadiran internet. adanya warnet oleh pengguna dapat diupayakan untuk melepaskan diri dari rutinitas dan masalah. dan turunkan tarif akses Mengetahui atau menambah wawasan tentang keadaan/kehidupan di tempat lain Mengetahui penggunaan teknologi informasi dan komunikasi Internet Merusak moral remaja karena dimanfaatkan untuk hal yang negatif (mengakses situs porno atau judi) F 21 14 8 5 2 50 % 42. penguatan nilai.00 16. Masyarakat pengguna internet di Kota Tebing Tinggi dalam memenuhi kebutuhan informasi (Information) termasuk informasi sosial melalui internet. . mengisi waktu luang serta mencari persahabatan yang lebih luas. Namun tidak untuk melarikan atau melepaskan diri dari persoalan kehidupan dengan menjadikannya sebagai sarana untuk bermain. sangat membantu terutama menimbulkan perasaan senang terkait dengan meningkatkan silaturahmi dengan keluarga dan teman. Pembahasan Motif-motif yang merupakan unsur dari teori Uses And Gratifications yang menjadi variabel penelitian ini yakni mencakup kebutuhan informasi. Hasil temuan ini menggambarkan bahwa keberadaan warnet telah membantu pengguna untuk mencari ide/pemikiran untuk berkreasi.00 4. Kebutuhan identitas personal (Personal identity). mereka sangat memerlukannya. hal ini diakui sebanyak 8 orang (16%).00 28. membangun sistem jaringan sosial atau ekplorasi informasi yang terdapat di sekitar atau diluar lingkungannya yang pada gilirannya dapat memberikan pengetahuan atau menambah pengalaman.

meningkatkan silaturahmi dengan keluarga dan teman. Sikap masyarakat terhadap hadirnya warnet dewasa ini dirasakan telah memberikan kemudahan mencari berbagai informasi. 2. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari motif-motif yang merupakan unsur dari teori Uses And Gratifications yang menjadi tujuan penelitian ini yakni mencakup kebutuhan informasi. 3. . dan identitas personal dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Suatu Pengantar. Hafied. Mc. selain itu juga secara bersamaan dapat melakukan komunikasi melalui chatting atau e-mail. Internet dianggap telah sesuai dengan harapan dan kebutuhan pengguna karena memudahkan para pengguna untuk mencari informasi dan menambah pengetahuan yang merupakan pemenuhan kebutuhan informasi. mengisi waktu luang serta mencari persahabatan yang lebih luas. Komala. Bandung. berkreasi. sarana pelepasan emosi. 2007. Internet dapat menimbulkan perasaan senang.Proses pembelajaran menggunakan internet yang mereka lakukan cenderung melalui dari teman dan selanjutnya dari sekolah. dan para pengguna juga mengharapkan kalau memungkinkan biaya akses internet diturunkan. Erlangga. PT. Kencana. Jadikanlah internet untuk mencari ide atau pemikiran. RajaGrafindo Persada. menjalin dan meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak baik di dalam lingkungan sekitar maupun di luar untuk pengembangan dan kemampuan diri. 2002 Teori Komunikasi Massa. Denis. DAFTAR BACAAN Ardianto. Cangara. Simbiosa Rekatama Media. Untuk pemenuhan kebutuhan identitas personal keberadaan internet telah membantu pengguna untuk mencari ide atau pemikiran untuk berkreasi. Saran-Saran 1. Elvinaro. 2006 Teknik Praktis Riset Komunikasi. namun jangan larut dalam melarikan atau melepaskan diri dari persoalan kehidupan hanya memanfaatkannya sebagai sarana untuk bermain (game). Lukiati dan Karlina. 2. Namun warnet yang beroperasi saat ini akses internetnya dirasakan masih lambat bahkan sering mengalami gangguan. Jakarta. Manfaat-manfaat yang sangat dirasakan oleh pengguna adalah untuk mencari informasi dan membantu memenuhi tuntutan pekerjaan atau studi. Dalam memenuhi kebutuhan diversi. Mudahnya pengguna mendapatkan berbagai informasi di internet hendaknya dimanfaatkan untuk menambah pengetahuan secara bijaksana dan positif. secara positif dapat menimbulkan perasaan senang bagi pengguna karena untuk melepaskan diri dari rutinitas dan masalah. Jakarta. menjalin serta meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak baik di dalam lingkungan sekitar maupun di luar.Quail. Rachmat. Siti. 3. Kriyantono. 2007 Pengantar Ilmu Komunikasi. diversi. dan menambah pengetahuan sesuai dengan profesi para pengguna. Jakarta. Komunikasi Massa Suatu Pengantar.

Bandung. Available.uky.org/wiki/motivasi . Psikologi Komunikasi. Sistem Komunikasi Indonesia. Remaja RosdaKarya. com /inrecent/projec .wikipedia. 4 November 2008.wikipedia.com. PT. Rakhmat.htm diakses tgl 6 Pebruari 2009. di akses tgl. 2007.diakses tgl. 2001.vlsm. Bandung. 7 Pebruari 2009 Http://Free.org/wiki /Media_massa. Communication Contexts. RajaGrafindo Persada.or.org/wiki/Alvin_Toffler. http://www. diakses tgl. Http:/www./v17/com/ictwatch/paper/paper051. Masyarakat Pengguna Internet di Indonesia.org. Jalaluddin. 7 Pebruari 2009. RajaGrafindo Persada. Onno W. Http://id. PT. PT. 2002.wikipedia. Jakarta. http://www. 2004. diakses tgl 26 Agustus 2007 Http://www.html. 7 Pebruari 2009.edu/~drlane/ capstone/contexts. Remaja Rosda Karya Nurudin. . Metode Penelitian Komunikasi. Grasindo. Jakarta. Bandung.7 Pebruari 2009 Http://id.apjii. ___________. ___________. Pengantar Komunikasi Massa. 1972. 2001.7 Pebruari 2009 Http://id.id . Wiryanto. diakses tgl. 2005.htm. PT. Teori Komunikasi Massa. Http://en.Muchati. Lain-Lain : Purbo. PT. 7 Pebruari 2009. Jakarta.wikipedia. Media Massa dan Penerimaan Khalayak. Remaja Rosdakarya.diakses tgl.diakses tgl.internetworldstats.geocities. 2007. Edisi Revisi.htm .org/wiki/warnet .diakses tgl.

dan apakah pemanfaatan kampung digital dapat mewujudkan Sumatera pulau digital.Dengan dukungan teknologi komunikasi dan informatika.motivasi masyarakat dalam menggunakan kampung digital.Dalam pertemuan Geneva tahun 2003 lalu dihasilkan deklarasi World Summit On The Information Society (WSIS ) tentang “ Setiap orang berhak secara bebas menyampaikan * Penulis adalah Peneliti Pertama Bidang Komunikasi Pada BBPPKI Medan .Perkembangan tersebut juga telah mendorong negara negara di dunia untuk meningkatkan pemanfaatan teknologi komunikasi dan informatika dalam upaya mempercepat proses modernisasi menuju terwujudnya Masyarakat Informasi ( information society ) atau masyarakat berbasis ilmu pengetahuan ( knowledge based society ). Kampung Digital.wawancara dan penyebaran kuesioner langsung kepada orang-orang yang berkompeten dan mengetahui dengan baik permasalahan penelitian ini.distribusi dan kontrol terhadap informasi serta interkoneksi antar unit saat ini dapat dilakukan secara lebih cepat. Kata Kunci : Pemanfaatan. dan berkomunikasi antar negara tidak lagi dibatasi oleh batas.Tuk dalam mengakses internet dan membuka peluang bagi pengelola untuk lebih mudah dan murah dalam bisnis jasa internet. Kehadiran kampung digital mempermudah masyarakat Tuk.Di tingkat global.mulai dari dunia usaha sampai ke pemilihan gubsu.Ini terlihat dari banyaknya masyarakat yang begitu familiar dalam menggunakan internet dalam kehidupan sehari hari dan begitu banyaknya tempat yang menyediakan jasa internet setelah hadirnya kampung digital . Masyarakat.mudah dan murah.PEMANFAATAN KAMPUNG DIGITAL OLEH MASYARAKAT TUK-TUK KABUPATEN SAMOSIR SUMATERA UTARA Oleh : Idawati Pandia * ABSTRAK Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan masyarakat tentang keberadaan kampung digital Tuk-Tuk Kabupaten Samosir. Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi komunikasi dan informatika yang pesat saat ini telah menimbulkan perubahan – perubahan yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat.batas ruang dan waktu. A. sehingga setiap negara saat ini seolah .Dengan kata lain di Kampung Digital masyarakat dapat melakukan transaksi elektronikyang mencakup semua aspek sesuai dengan culture kampung tersebut.perkembangan teknologi komunikasi dan informatika telah mendorong perluasan jaringan akses informasi dan komunikasi dunia.Pengumpulan data dilakukan melalui observasi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif . Perubahan pola dalam masyarakat di negara kita.yang juga menjadi bagian dari dunia global ( global village ) akan selalu mencari bentuk yang sesuai dan memberikan kepuasan dan kenyamanan dalam mengakses informasi melalui adanya TIK ini. proses – proses transmisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehadiran kampung digital di Tuk Tuk telah dimanfaatkan oleh masyarakat terutama untuk pembelajaran awal. Namun berdasarkan hasil pengamatan sangat disayangkan kampung digital yang semula banyak digunakan sebagai pembelajaran awal oleh masyarakat terutama pelajar dan guide ini beberapa bulan terakhir tidak bisa lagi dioperasionalkan karena rusak dan belum diperbaiki hingga sekarang.olah menjadi tidak memiliki batas kewilayahan.

seperti pembentukan Tim Koordinasi Telematika Indonesia ( TKTI ) melalui Kepres No. sehingga semakin hari semakin bisa dinikmati oleh masyarakat luas. Salah satu bentuk nyata terobosan Telkom ini dari segi Communiti Tele Center atau pusat-pusat Komunitas Informasi adalah sudah didirikannya Kampung Digital.Kampung Digital adalah suatu kampung daerah kawasan wisata dimana seluruh potensi dan aktivitas kampung dimaksud difasilitasi dengan ICT. Telkom ingin menjadi perusahaan yang role model di Indonesia seperti Telkom Malaysia yang tetap menjadi kebanggan negaranya walaupun banyak pesaingnya.2007. Telkom untuk menjadikan Pulau Sumatera memiliki infrastruktur yang memadai untuk dimanfaatkan dalam konsep ICT. yaitu bahwa pada tahun 2015 sebanyak 50% dari wilayah di berbagai negara sudah terjangkau jaringan infrastruktur teknologi. informasi dan komunikasi. 186 tahun 1998 . Diluar Sumut sendiri ada di Pulau .6 tahun 2001 tentang pengembangan dan pendayagunaan telematika di Indonesia. baik itu pedesaan .dan berbagai kebijakan lainnya. Dimana langkah Telkom sebagai salah satu penggerak industri Telekomunikasi di Indonesia diantaranya dengan mendorong terjadinya daya kompetitif price. Tuk – Tuk Kabupaten Samosir .Sedangkan misi dari Telkom adalah : Memberikan kualitas yang excellent. Kunci utama bahwa pada tahun 2015 separuh dari penduduk Indonesia sudah masuk kemasyarakat informasi global adalah terletak pada kesiapan infrastruktur TIK yang dipergunakan untuk mengakses informasi. yaitu fasilitas akses informasi yang didukung oleh teknologi Internet. Yang Menjadi Pemimpin Pasar Yang Ada Dikawasan Regional . lembaga pendidikan.Usaha yang cukup signifikan juga ditandai dengan dibentuknya Departemen Komunikasi dan Informatika yang bervisikan “Terwujudnya masyarakat informasi yang sejahtra melalui penyelenggaraan komunikasi dan informatika yang efektif dan efisien dalam kerangka NKRI. Sumber Karya Jalan Binjai dan yang terbaru ada di Desa Sukamulia Kecamatan Hinai Kabupaten Langkat yang dibuka Gubernur Sumatera Utara. Bola salju kebangkitan ICT telah diluncurkan dari Medan sebagai pusat Industri perekonomian di Sumatera Utara. lembaga kesehatan dan lembaga pemerintahan terhubung dalam satu jaringan. menyepakati satu deklarasi yang merupakan Plan Of Action dari UNESCO. menerima serta memberikan informasi dan gagasan – gagasan melalui media apa saja. Hal ini sesuai dengan Visi dari Telkom. maka Telkom sebagai Ketua Kendali Mutu suatu Project Sumatera Digital (Digital Island) menyiapkan Sumatera sebagai pulau yang ber – ICT.2). Selanjutnya sesuai dengan kesepakatan bersama negara – negara didunia melalui World Summit On The Information Society ( WSIS ) tahun 2003 di Geneva dan tahun 2005 di Tunisia . Di Sumatera Utara sendiri tahun 2008 telah dicanangkan sebagai Kebangkitan ICT Sumatera Utara yang sudah diresmikan Gubernur tanggal 5 Januari 2008. yang mana adalah Visi PT.separuh dari penduduk Indonesia sudah masuk ke masyarakat informasi global atau Global Information Society ( Sumber: Muhammad Nuh.pendapat tanpa mempengaruhi dan bebas dalam mencari. sehingga interaksi masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan dapat dilakukan secara mudah dan cepat di seluruh dunia dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi.H . Dalam kesempatan bagaimana upaya Telkom Group untuk berpartisipasi mendayagunakan potensi cipta dan karya bangsa bagi manfaat dan kepentingan luas. Di Sumatera Telkom menerjemahkan Indico (Indonesia Digital Community) dengan program yang dinamakan Sumatera Pulau Digital. pada Jambore Tepat Guna . Pemerintah indonesia dalam menyahuti masyarakat informasi global telah mengeluarkan berbagai kebijakan . bersamaan dengan 100 tahun Kebangkitan Nasional.Kampung Digital di Sumatera Utara Yaitu di Desa Terang Bulan Paya Bakung.Hal ini berarti bahwa tahun 2015.26 hingga 29 Mei 2009.Desa Sampali. Instruksi Presiden No.Syamsul Arifin .

b. Dari uraian tersebut diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian Tentang “ Pemanfaatan Kampung Digital Oleh Masyarakat Tuk-Tuk Kabupaten Samosir Sumatera Utara”. B. Disini masyarakat dibina dan dibimbing hingga akhirnya memperoleh ilmu pengetahuan serta pengalaman. masyarakat sudah bisa mulai membuat profosal kekantor-kantor pemerintah. Tujuan dan Manfaat Penelitian.Yang jadi pertanyaan apakah masyarakat sekitar wisata Tuk-Tuk betul-betul memerlukan blog tersebut dan sudahkah Kampung Digital mengexplore (menjelajahi) kekayaan /potensi lokal tersebut. . Dengan kata lain melalui Kampung Digital masyarakat bisa melakukan transaksi elektronik yang mencakup semua aspek sesuai dengan Culture Kampung tersebut. Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah : . Kampung Digital adalah suatu Puture Village (kampung masa depan yang high technolologi) atau bisa dikatakan suatu konsep memperkenalkan satu daerah berdasarkan katagori tertentu seperti pariwisata melalui dunia maya. C. maka permasalahan pokok yang akan ditelusuri dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : d. Sementara target kedepannya Kampung Digital ini akan menembus 100 kampung (Sumber : Andang Anshari . . . Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan berharga bagi Departemen Kominfo RI dalam pembuatan kebijakan-kebijakan tentang akses informasi dan komunikasi pada khususnya. Swasta tentang penawaran pelatihan computer & Internet.banyak pihak netter (pengguna jaringan)yang telah berkunjung dan memberi respon positif terhadap keberadaan blog tersebut. membuat Web Block. Pernikahan. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diutarakan diatas. c. dan kebijakan-kebijakan tentang pengembangan masyarakat informasi pada umumnya. Setelah sekian lama Kampung Digital lokasi Tuk-Tuk di launching oleh Bupati Samosir IR. Dari Kampung Digital. Adapun yang menjadi manfaat penelitian ini adalah : 4. Dengan didirikannya Kampung Digital ini akan bisa menjawab penantian masyarakat kampung yang sudah lama menunggu akan adanya pelatihan-pelatihan tentang Komputer. Untuk mengetahui apakah pemanfaatan kampung Digital dapat mewujudkan Sumatera Pulau Digital. Pertanian. Pariwisata. juga penawaran barang.kampungdigital.Focus Group RPJM.Untuk mengetahui motivasi masyarakat dalam menggunakan kampung digital. .Mangindar Simbolon.com/). Dunia Usaha sampai kepada pemilihan Gubsu (http:blog. Kehausan akan ilmu pengetahuan di bidang Ilmu Komputer dan Internet ini semua bisa diperoleh di Kampung Digital. Ulang tahun.Untuk mengetahui apakah pemanfaatan Kampung Digital dapat mewujudkan Sumatera Pulau Digital. Palembang dan Batam.2008). Apa motivasi masyarakat menggunakan kampung digital. serta promosi usaha dan juga pengelolaan usaha agar berhasil.Penyengat.Untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan masyarakat tentang keberadaan Kampung Digital. Bagaimanakah seharusnya masyarakat memanfaatkan keberadaan kampung digital. sehingga bisa membuat usaha sendiri terutama yang berhubungan dengan Teknologi Informasi. mulai dari pelatihan Internet.

Ada beberapa katagori kebutuhan individu yang semuanya berasal dari fungsi sosial dan psikologi dari media. Dengan kata lain teori ini menitikberatkan kepada konsumen pesan sebagai pengguna atau yang memanfaatkan media untuk mendapatkan pesan. kepercayaan diri. teman. Kebutuhan akan pelarian : hasrat melarikan diri dari kenyataan.hiburan dan intraksi sosial.Dimana teori ini tidak tertarik pada apa yang dilakukan media pada diri orang. bahkan sering kali akibat-akibat yang tidak dikehendaki (Rakhmat. Hunter. Teori ini digambarkan sebagai a dramatic break with effects. dan Gurevitch) adalah : (1) Sumber Sosial dan Psikologis dan (2) Kebutuhan.Dari sini timbul istilah uses and gratifications. melepaskan ketegangan.Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dapat dicapai dengan dua cara. 2004 : 65). kebutuhan akan hiburan. Kebutuhan interaksi sosial : memperkuat hubungan dengan keluarga. dan status pribadi. kesetian. yang melahirkan (3) Harapan-harapan dari (4) Media massa atau sumber-sumber yang lain. yang menyebabkan (5) Perbedaan pada terpaan media (atau keterlibatan dalam kegiatan lain) dan menghasilkan (6) Pemenuhan kebutuhan da (7) akibat-akibat lain. Kebutuhan afektif : kebutuhan untuk memperkuat pengalaman akan emosi. kategori ini antara lain menurut Katz Hass dan Gurevitch yakni: Kebutuhan kognitif.tradition of the past (Rakhmat.dan pengertian tentang lingkungan sekitar. dalam mengkaji realitas komunikasi massa adalah teori Uses and Gratipications. Anggota khalayak dianggap secara aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya. Blumler. Kebutuhan integrative personal : memperkuat kredibilitas. Sejalan dengan hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa pengguna media secara umum adalah untuk memenuhi kebutuhan informasi. Kerangka Teori Aspek Komunikasi Teori Komunikasi massa yang popular dan sering digunakan saat ini.pengetahuan. kesenangan. sebagai kerangka teori. Konsep dasar dari teori ini sendiri diringkas oleh para pendirinya (Katz. yaitu: (1) Pemenuhan kebutuhan yang didapatkan dengan cara mengakses/menggunakan media yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan (2) Pemenuhan kebutuhan didapatkan dengan cara mempelajari isi informasi dalam media yang kemudian diterapkan dalam praktek. suatu loncatan dramatis dari model jarum hipodermik. kebutuhan akan informasi. atau pengalaman keindahan. dengan alam sekitar.1997:” Teori uses and gratification yang menekankan bahwa para pengguna media adalah orang-orang yang berpikiran rasional yang secara aktif memilih media mana yang mereka anggap dapat memuaskan kebutuhan yang mereka ingin dapatkan”. tetapi ia tertarik pada apa yang dilakukan orang terhadap media.D. 2004: 65) .penggunaan dan pemenuhan kebutuhan.

Aspek Kampung Digital CAKUPAN AREA LAYANAN SUMATRA PULAU DIGITAL KONDISI SOSIAL MASYARAKAT Pengguna Internet 8% Partisipasi Kondisi Sosial masyarakat Sumatra Sekolah : 0.4% .

kesenian dlsb)þ Aspek teknis (ada internet access connection. Bukitlawang dll). elemen-elemen Kampung) Aktivitas & obyek wisatata (termasuk herritage. jaringan internet ELEMEN KAMPUNG WISATA DIGITAL Admin di kampung setempat Members (Hotel-hotel/penginapan. potensi wisata/alam dll ke dunia internasional . Kampung Tuktuk Samosir adalah prototype pertama kampung wisata digital di Sumatra dan akan dikembangkan di seluruh Sumatra seperti Internetworking dengan dunia luar melalui Berastagi. KAMPUNG DIGITAL 2/3 website/portal. Bukittinggi. dll). MANFAAT Memfasilitasi transaksi bisnis kampung (reservation online/email.KAMPUNG DIGITAL 1/3 DEFINISI Adalah suatu kampung daerah kawasan wisata Kampung Wisata Digital : dimana seluruh potensi dan aktivitas kampung dimaksud difasilitasi dengan ICT. sentra bisnis pendukung wisata. pemesanan souvenir dll)þ Sebagai wahana komunikasi antar Kampung Wisata Digital Ajang promosi kekayaaan daerah berupa herritage.

Tuktuk Kalangan pebisnis di Tuktuk/Samosir INTER NAL Orang Asing Industri dan Dunia Usaha Hal : 17 TELKOM BANGUN NEGERI Launching SPEEDY TUK-TUK .KAMPUNG DIGITAL 3/3 Stakeholder Kampung Wisata Digital Tuktuk EKSTE RNAL Kampung wisata lainnya Pengajar. Pelajar & Mahasiswa (kepentingan studi)þ Kampung Wisata Digital Tuktuk Masyarakat Umum Aparat/Pemda Samosir & Tuktuk Masy. Peneliti.

kontak sosial. salah satunya. Variabel Motif Variabel Motif.TUKTUKSAMOSIR. hubungan personal. Terhadap dua hal ini. Telkom Divisi Regional I Sumatera sebagai salah satu volunteer yang bergerak di bidang penyediaan dan pelayanan infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (Infokom). atau surveillance.. Dimana variable anteseden ini akan membedakan antara satu karakter individu lainnya. berinisiatif untuk berperan aktif dalam upaya mengatasi masalah tersebut. 1998 : 24) Berdasarkan kerangka teoritis diatas. yaitu : 1. Sementara.2004:66) 3. melalui komitmen “Education for Tomorrow“ sebagai wujud dari program Telkom Corporate Social Responsibility melalui komitmen “membangun masyarakat cerdas bersama Telkom”.com HTTP://WWW. dengan jumlah penduduk lebih dari 220 juta jiwa dan di antaranya 48 juta bermukim di Sumatera.COM E. Variabel Arteseden Anteseden meliputi variabel individual yang terdiri dari data demografis seperti usia. Salah satu program dalam upaya membangun masyarakat cerdas bersama Telkom.pekerjaan. Dalam Penelitian ini kami hanya melihat terbatas pada penggunaan media .KAMPUNG DIGITAL.dan faktor-faktor psikologiskomunikan seperti tingkat pendidikan. maka diluncurkan “Program Kampung Digital”. karenanya diperlukan upaya yang bersifat jangka panjang. 2. berupa kemiskinan dan kebodohan. yang sudah tentu akan melibatkan banyak orang dan institusi.KOMPOENG DIGITAL.Kerangka Konsep Kerangka konsep adalah abstraksi mengenai suatu fenomena yang dirumuskan atas dasar generalisasi dari sejumlah karakteristik kejadian kedalam kelompok atau individu tersebut (Singarimbun. bifungsional (informasi-edukasi. dan multi fungsi onal ( Rakhmat.dan surveillance. minat akan informasi dan teknologi informasi serta variabel lingkungan seperti organisasi . empat-fungsional (diversi. . Program ini membentuk kampungkampung/perumahan yang difasilitasi teknologi digital yang berwawasan ICT (Information. Indonesia juga menghadapi persoalan lain yang tidak mudah. korelasi. fantasistescapist. hiburan.tingkat pengeluaran/pendapatan.2004:66). tak ada jalan pintas. transmisi budaya. identitas personal. atau bermain) . Communication & Technology). Variabel Penggunaan Media Penggunaan media terdiri dari jumlah waktu yang digunakan dalam berbagai media jenis isi media yang dikonsumsi dan berbagai hubungan antara individu konsumen media dengan isi media yang dikonsumsi atau dengan media secara keseluruhan ( Rakhmat.sistem sosial dan struktur sosial. adapun konsep-konsep dalam penelitian ini dapat dibedakan menjadi beberapa variable.jenis kelamin. saat ini menghadapi tantangan sangat berat dalam upaya meningkatkan kualitas SDM masyarakatnya agar memiliki daya saing tinggi. Ini merupakan dua hal yang sangat berpengaruh dan menjadi problematika besar bangsa ini. atau gratifikasi segera tertangguhkan). dapat dioperasionalisasikan dengan berbagai cara yaitu unifungsional (hasrat melarikandiri. INDONESIA. tidak sampai ke efek media.

Lokasi Penelitian Adapun yang menjadi lokasi penelitian ini adalah Tuk-Tuk Kecamatan Simanindo Kabupaten Samosir. Dengan luas wilayah 5. Penduduk setempat menggantungkan hidup dari bisnis pariwisata dan pertanian. 2004 : 24). Populasi dan Sampel Populasi Populasi artinya keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia. Metode penelitian deskriptif adalah metode yang hanyalah memaparkan situasi atau peristiwa apa adanya. Penelitian ini tidak mencari atau menjelaskan hubungan. 3.Jumlah penduduk sebanyak 1941 orang. 2. lalu diambil lagi 1 kelurahan secara purposive yaitu Tuk-Tuk Samosir .318 km2 Tuk-Tuk berarti pintu masuk. penelitian deskriptif digunakan untuk menggambarkan (mendeskripsikan) secermat mungkin mengenai suatu individu.Sedangkan Si adong berarti ada. 1990 : 23). 2008 ). Metode Penelitian. gejala kelompok tertentu. 1983 : 141). maka untuk menentukan besarnya sampel. Dengan kata lain.ketok. Kabupaten Samosir Provinsi Sumatera Utara. Tuk-Tuk berbatasan dengan : Sebelah Utara berbatasan dengan Pangururan Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Ronggur Nihuta Sebelah Selatan berbatasan dengan Onan Runggu Sebelah Barat berbatasan dengan Danau Toba Tuk-Tuk Siadong adalah satu-satunya kelurahan yang ada di Kecamatan Simanindo Kabupaten Samosir ( Samosir dalam angka. bendabenda. tumbuh-tumbuhan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kuantitatif.peneliti menggunakan Formula Cochram dengan rumus sebagai berikut : no= (t)2 – (S)2 (d)2 Keterangan : no = ukuran sampel standard Cochram . keadaan. Adapun yang menjadi Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat pengguna Kampung Digital Tuk-Tuk.diambil 1 kabupaten secara purposive. Dalam penentuan sampel mengingat Sumatera Utara yang merupakan bagian dari wilayah kerja BBPPKI Medan memiliki empat kampung digital yaitu kampung digital Terang Bulan di daerah Payabakung Diski . tidak menguji hipotesis atau membuat prediksi (Rakhmat. Karena besarnya jumlah populasi yang menggunakan Kampung Digital Tuk – Tuk Samosir tidak bisa diukur jumlahnya (non probability) .F.kampung digital Sampali.Dari I kabupaten diambil lagi 1 kecamatan secara purposive.Tuk-Tuk Siadong adalah sebuah kota kecil di pulau Samosir yang berjarak kurang lebih 2 Km dari kota Tomok. hewan. gejala-gejala.kampung digital Sumber Karya Binjei dan kampung digital Tuk-Tuk Samosir dibagi secara Multi sampling (dimana populasi yang berada di daerah besar dibagi dalam beberapa area yang lebih kecil yang jelas batas –batasnya). Metodologi Penelitian 1. Sampel Sampel adalah bagian dari populasi yang terpilih melalui suatu teknis pengambilan sampel tertentu sehingga dapat mewakili populasi untuk diteliti (Sumarto. nilai test atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu didalam suatu penelitian (Nawawi. Pemilihan sampel purposive yaitu sampel yang dipilih dengan pertimbangan karakteristik tertentu.

Ini dilakukan dengan menghimpun data dari berbagai literature.19)2 (0. Metode Analisis Data Sesuai dengan sifat dan tujuannya maka analisis dari penelitian ini dilakukan dengan metode pendekatan deskriptif kuantitatif didukung dengan data kualitatif yang diperoleh melalui wawancara . Pendekatannya melalui observasi. (1. Metode Pengumpulan Data Dalam melaksanakan penelitian ini.96 s = estimasi standard deviasi populasi 1.t = nilai persentil t = 1.interval kesalahan pada data adalah sebesar 10 % dan untuk data kontiniu sebesar 3 %.96)2 .4 dibulatkan menjadi 60 Jadi sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 60 responden 4.30 n = (1. pengumpulan data dilakukan melalui : a. baik dari kepustakaan maupun sumber-sumber lain yang relevan dengan permasalahan. Field Research (Penelitian Lapangan) Menggunakan data secara langsung di daerah lokasi yang diteliti.30)2 = 60. wawancara dan penyebaran kuesioner langsung kepada orangorang yang berkompeten dan mengetahui dengan baik permasalahan yang diteliti. Studi dokumentasi. yaitu mengumpulkan data yang sudah ada dan bersifat tertulis yang berhubungan dengan penelitian. .dimana data lapangan yang telah diperoleh melalui daftar pertanyaan dikoding dan ditabulasi untuk memperoleh tendensi dengan persentase. Observasi adalah merupakan kegiatan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara langsung terhadap gejala-gejala yang tampak selama melaksanakan penelitian.19 d = interval kesalahan ( margin of error ) Secara umum dalam penelitian . Library Research (Penelitian Kepustakaan) yaitu penelitian yang menggunakan sumber bacaan yang terpilih dan terkait atau relevan dengan masalah yang akan diteliti sebagai dasar pemikiran dan pemecahan masalah.Sehingga margin error dalam penelitian ini yang dapat diterima 3/100 x 10 = 0. b. 5.

7 5 Lainnya 12 20.0 Ragu-ragu 2 3.0 Total 60 100. 2 Pengetahuan Tentang Kampung Digital SIKAP F % NO 1 2 3 4 Sangat Mengetahui 7 11.7 4 Kurang Berminat 3 5.3 Kurang Mengetahui 15 25.0 Sumber : K2 n = 60 Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa responden memang mengetahui dan memanfaatkan kampung digital. dari 60 responden sebanyak 35 atau 58.0 % menjawab mengetahui kampung digital.3 2 Berminat 21 35.0 Sumber : K1 n = 60 Para pengguna kampung digital pada dasarnya merefleksikan suatu kewajaran antara posisi mereka sebagai daerah wisata yang tentunya tak bisa lepas dari turis asing yang sangat berhubungan dengan teknologi informasi dengan minat mereka sendiri dengan hal.7 % menjawab ragu-ragu. 3 Kegunaan Menggunakan Kampung Digital NO KEGUNAAN F % 1 Mencari Informasi 37 61. 1 Minat Terhadap Dunia Teknologi Informasi (Internet) NO SIKAP F % 1 Sangat Berminat 35 58.3 % menyatakan sangat berminat pada ICT.ini dapat dilihat dari jawaban responden yaitu sebanyak 60. Ini mungkin karena singkatnya waktu keberadaan kampung digital di lokasi tersebut.0 % menyatakan kurang berminat dan 1.3 % yang menjawab ragu-ragu.3 4 Mengisi Waktu Luang 7 11.0 Total 60 100.0 3 Ragu-ragu 1 1.0 %. sementara sebanyak 25.0 % menjawab kurang mengetahui.7 % menjawab sangat mengetahui dan hanya 3.7 2 Mempromosikan Usaha 2 3.7 Mengetahui 36 60.0 Total 60 100.0 Sumber : K3 n = 60 . Tabel.3 3 Mencari Relasi 2 3. Sisanya sebanyak 11. Tabel.G. Analisa Hasil Penelitian Tabel. Sisanya sebanyak 5.hal yang berhubungan dengan teknologi informasi pula. yang mengaku berminat sebanyak 35. Hal ini dibuktikan dari data statistik berdasarkan kuesioner yang diberikan pada responden menunjukkan bahwa.

7 2 Bermanfaat 18 30. lainnya sebanyak 20.0 Sumber : K6 n = 60 . Sisanya untuk skor yang sama yaitu masingmasing 3.0 3 Kadang-kadang 5 8. Sikap masyarakat tehadap kehadiran kampung digital ini dapat dilihat dari hasil tabel diatas yaitu 45.0 %. Tabel.3 2 Penting 36 60.0 Sumber : K4 n = 60 Kehadiran kampung digital ternyata memberikan manfaat dan pengetahuan kepada responden ini terlihat dari jawaban yang diperoleh yaitu responden yang menjawab sangat bermanfaat yakni sebanyak 61.7 Total 60 100. 43. Tabel.0 3 Ragu-ragu 2 3. 6 Tingkat Kepentingan Terhadap Kampung Digital NO SIKAP F % 1 Sangat Penting 20 33.Tak beda dengan internet kampung digital banyak dimanfaatkan responden untuk mencari informasi.0 % responden menjawab baik .7 %.3 % yang menggunakan untuk mempromosikan usaha dan mencari relasi.7 %. ini terlihat dari jawaban responden yang mayoritas menjawab mencari informasi yaitu sebanyak 61. 10.0 % yang menjawab sedang.3 4 Kurang Bermanfaat 0 0 5 Tidak Bermanfaat 0 0 Total 60 100. yang menjawab bermanfaat sebanyak 30. dan hanya 1 orang atau 1.0 Sumber : K5 n = 60 Adanya kampung digital disambut masyarakat dengan baik karena dengan kehadiran kampung digital di Tuk-Tuk membawa banyak perubahan terutama kearah perkembangan dunia usaha warnet yang memang sangat dibutuhkan di Tuk-Tuk sebagai kampung wisata.0 4 Kurang Baik 1 1. Tabel. menggunakan untuk mengisi waktu luan sebanyak 11.7 % yang menjawab kurang baik.3 2 Baik 27 45.0 %. 5 Penilaian Tentang Adanya Kampung Digital NO SIKAP F % 1 Sangat Baik 26 43.7 %.3 4 Kurang Penting 2 3. 4 Kampung Digital Memberikan Manfaat Dan Pengetahuan NO SIKAP F % 1 Sangat Bermanfaat 37 61.0 3 Sedang 6 10.3 % responden menjawab sangat baik .3 Total 60 100.

0 %.3 %.7 2 Penting 41 68.000.7 %.0 % untuk kelengkapan fasilitas yang ada.3 %. Tabel. ini terlihat dari jawaban responden yaitu yang menjawab berpengaruh sebanyak 63.7 10.3 3 Ragu-ragu 1 1.3 3.0 63.7 Total 60 100.0 21.sampai Rp 20. kemudahan untuk berkomunikasi sebanyak 16.3 % . 7 Kampung Digital Membawa Pengaruh Yang Nyata NO 1 2 3 4 Sumber : K7 n = 60 SIKAP Sangat Berpengaruh Berpengaruh Ragu-ragu Kurang Berpengaruh Total F 18 38 2 2 60 % 30. dan yang menjawab ragu – ragu dan kurang berpengaruh masing-masing sebanyak 3.0 Namun yang mendorong responden dalam menggunakan kampung digital tidak terlalu jauh berbeda yaitu rasa ingin tahu 30. 8 Hal Yang Mendorong Dalam Menggunakan Kampung Digital NO 1 2 3 4 5 Sumber : K8 n = 60 MENDORONG Rasa Ingin Tahu Kemudahan Akses Informasi Kelengkapan Fasilitas Yang Ada Mengikuti Perkembangan Zaman Kemudahan Untuk Berkomunikasi Total F 18 13 6 13 10 60 % 30.per jamnya. kemudahan akses informasi dan mengikuti prkembangan zaman menduduki persentase yang sama yaitu masing – masing 21.7 % dan sisanya 10.000 sampai Rp 10.3 %. Tabel..0 Kampung digital membawa pengaruh yang nyata bagi masyarakat Tuk-Tuk .Hampir sebagian besar responden menganggap kampung digital itu penting. sangat berpengaruh sebanyak 30.0% .7 5 Tidak Penting 1 1.3 100. Setelah kehadiran speedy tarif menggunakan internet perjam di Tuk – Tuk yaitu untuk Turis asing Rp 15. Ini terlihat dari jawaban .-.7 4 Kurang Penting 4 6. yang menjawab sangat penting 33..0 Sumber : K9 n = 60 Adapun tingkat kepentingan responden terhadap kampung digital dalam kehidupan sehari-hari mayoritas responden mengatakan penting. sementara yang menjawab ragu-ragu dan kurang penting dengan persentase yang sama yaitu masing – masing sebanyak 3. ini terlihat dari hasil jawaban mereka yakni yang menjawab penting 60.0 21.3 3.7 16.0 % . Sementara untuk lokal Rp 8. 9 Tingkat Kepentingan Terhadap Kampung Digital Dalam Kehidupan Sehari-Hari NO SIKAP F % 1 Sangat Penting 13 21.7 100.000.000. Tabel. Dikatakan berpengaruh karena dengan kehadiran kampung digital atau dicanangkannya kampung digital memancing speedy landing sehingga biaya dalam menggunakan internet yang sebelumnya hampir sama dengan biaya interlokal yaitu sebesar 60 ribu perjam ( Telkom net instant ) menjadi lebih murah.

12 Keberadaan Kampung Digital Memotifasi .7 %. Tabel. yang mengatakan sangat penting sebanyak 21.0 %. yang menjawab sangat setuju sebanyak 15.7 %. café. untuk jawaban raguragu sebanyak 6. yang menjawab kurang penting sebanyak 6. losmen atau penginapan dan usaha lain seperti rental game yang ide awalnya terisnpirasi dari hadirnya kampung digital.3 %.7 % untuk jawaban ragu – ragu dan tidak penting.0 % untuk jawaban tidak setuju.7 % dan sisanya 5.7 3 Ragu-ragu 4 6. yang menjawab sangat setuju sebanyak 26.3 % menjawab setuju.0 %.responden yaitu yang mengatakan penting sebanyak 68.3 %.0 2 Setuju 26 43. hotel.0 Sumber : K10 n = 60 Hadirnya kampung digital di Tuk-Tuk dirasakan sebagian besar masyarakat membantu dalam memecahkan masalah ekonomi karena dengan kehadiran kampung digital membawa dan membuka peluang usaha dibidang rental internet yang begitu banyak peminatnya di kampung wisata tersebut. Tabel.3 4 Kurang Setuju 8 13.0 % yang menjawab tidak setuju. kurang setuju sebanyak 10. cotage. dan juga ada responden yang tertarik membuka rental game setelah hadirnya kampung digital tersebut. 10 Keberadaan Kampung Digital Dapat Membantu Memecahkan Masalah Ekonomi NO SIKAP F % 1 Sangat Setuju 9 15. kurang setuju sebanyak 13.0 Total 60 100.0 Sumber : K11 n = 60 Hadirnya kampung digital membantu responden dalam mencari ide/pemikiran untuk berwirausaha seperti menyediakan rental internet di hampir semua tempat seperti restauran.3 % dan 10.0 Total 60 100. 11 Keberadaan Kampung Digital Membantu Dalam Mencari Ide / Pemikiran Untuk Berwirausaha NO SIKAP F % 1 Sangat Setuju 16 26.3 5 Tidak Setuju 6 10.3 3 Ragu-ragu 11 18.7 4 Kurang Setuju 6 10. Sisanya masing – masing 1. Ini juga dapat dilihat dari hasil statistik dimana responden yang menjawab setuju sebanyak 51.0 5 Tidak Setuju 3 5.7 2 Setuju 31 51. Tabel. ragu-ragu sebanyak 18.7 %. Ini dapat dilihat dari hasil tabel diatas yaitu sebanya 43.7 %.

0 %.7 Total 60 100.0 % dan sisanya untuk jawaban tidak setuju sebanyak 6.0 %. kurang setuju sebanyak 11.7 4 Kurang Setuju 8 13.7 %.0 3 Ragu-ragu 13 21. kurang setuju sebanyak 11.0 2 Setuju 24 40. Tabel .7 100.14 Keberadaan Kampung Digital Sudah Membantu Untuk Melancarkan / Meningkatkan Kerjasama Usaha Dengan Pihak Lain NO SIKAP F % 1 Sangat Setuju 12 20.7 6. Tabel. Ragu-ragu sebanyak 21. yang menjawab sangat setuju sebanyak 16. Sisanya sebanyak 6.0 %. sangat setuju sebanyak 20.0 Sumber : K14 n = 60 Dari hasil tabel diatas dapat dilihat jawaban responden yang menjawab setuju sebanyak 43.7 % dan .0 10.7 55. ragu-ragu sebanyak 10.3 %.0 Sumber : K13 n = 60 Kampung digital dirasakan responden dapat membantu dalam menjalin kerjasama usaha dengan pihak luar misalnya si wisatawan yang sudah pernah datang berkunjung ke Tuk-Tuk tersebut membawa situs atau website kampung digital pulang kenegaranya lalu ditunjukkan atau dipromosikan ke rekan atau relasinya yang ingin berkunjung ke TukTuk. ini dapat dilihat dari jawaban sebagian besar responden yang menjawab setuju kalau kampung digital yang memotifasi mereka dalam membuka usaha yaitu sebanyak 55.3 3 Ragu-ragu 10 16.7 % menjawab tidak setuju.0 2 Setuju 26 43.7 %. Ragu – ragu ada sebanyak 16.7 %.7 5 Tidak Setuju 4 6.7 %.0 11. 13 Keberadaan Kampung Digital Membantu Dalam Menjalin Kerjasama Usaha Dengan Pihak Lain NO SIKAP F % 1 Sangat Setuju 12 20. sangat setuju sebanyak 20.0 %.7 Total 60 100.0 Banyak masyarakat khususnya responden yang terisnpirasi dan termotifasi untuk membuka usaha dengan hadirnya kampung digital tersebut.NO 1 2 3 4 5 Sumber : K12 n = 60 Untuk Membuka Usaha SIKAP F Sangat Setuju 10 Setuju 33 Ragu-ragu 6 Kurang Setuju 7 Tidak Setuju 4 Total 60 % 16.7 4 Kurang Setuju 7 11.7 %. Ini dapat dilihat dari jawaban responden yang menjawab setuju sebanyak 40.3 5 Tidak Setuju 4 6.

000 – Rp 20.yang menjawab kurang setuju sebanyak 13. sangat pantastis bedanya dibandingkan dengan diluar yang bisa mencapai Rp 8000.7 2 Murah 47 78.3 4 Kurang Murah 1 1.3 3 Ragu-ragu 5 8.7 % dan ragu –ragu sebanyak 8.0 Sumber : K16 n = 60 Biaya yang dibebankan kepada pengguna kampung digital tidaklah mahal dibandingkan dengan menggunakan internet di tempat rental internet /service informasi lainnya yang kini tumbuh bagaikan jamur dimusim hujan di Tuk-Tuk siadong.Sisanya 1. Menjawab sangat murah sebanyak 11. 16 Biaya Yang Dibebankan Kepada Pengguna Kampung Digital NO SIKAP F % 1 Sangat Murah 7 11. 15 Keberadaan Kampung Digital Sudah Membantu Masyarakat Di Lingkungan Tempat Tinggal Anda Untuk Mendapatkan Informasi Tentang Dunia Usaha NO SIKAP F % 1 Sangat Membantu 21 35. Sisanya yang menjawab tidak setuju sebanyak 4 orang atau sebanyak 6.7 5 Tidak Murah 0 0 Total 60 100.7 % atau 1 orang menjawab tidak murah. Tabel.Rp 10.0 % menjawab setuju kalau keberadaan kampung digital sudah membantu masyarakat di lingkungan tempat tinggal mereka untuk mendapatkan informasi tentang dunia usaha. Contoh yang paling nyata dalam Malaysia Paralayang terbuka yang memakai Iven Samosir yang pusatnya dilaksanakan di Tuk-Tuk Siadong. Kampung digital sudah membantu untuk melancarkan /meningkatkan kerjasama usaha dengan pihak lain.3 %. Tabel.000 untuk kalangan lokal dan Rp 15. Biaya di kampung digital hanya Rp 3000 perjamnya.7 %. 000 untuk turis asing dalam perjamnya.0 4 Kurang Membantu 0 0 5 Tidak Membantu 0 0 Total 60 100. Tabel.3 %.0 % dan sisanya hanya 6 orang atau sebanya 10.3 %. Dalam Iven ini tentunya kampung digital sangat berperan menjual yang nantinya bisa diketahui apa maunya pengunjung mulai dari kamar sampai kebutuhan kecil . 17 Harapan Kedepan Untuk Kemajuan Kampung Digital .Yang menjawab sangat membantu sebanyak 35.0 2 Membantu 33 55.0 % yang menjawab ragu –ragu.0 Sumber : K15 n = 60 Jawaban yang pantastis dari responden yakni sebanyak 55.0 3 Ragu-ragu 6 10. Ini dapat lebih diperjelas dari jawaban responden yakni yang menjawab murah sebanyak 78.

Meskipun biaya yang dikenakan dikampung digital relatif lebih murah dibandingkan dengan jika menggunakan diluar namun sebanyak 20.0 Untuk tabel 50 ini juga.0 Untuk tabel 49.7 %. Sisanya menjawab harapan lainnya yaitu 10. serta harapan akan diadakannya pembelajaran gratis atau bimbingan teknis pemanfaatan kampung digital sebanyak 6.ini mungkin disebabkan responden yang terjaring tersebut sebagian adalah pelajar dan pekerja yang mempunyai gaji yang relatif kecil.NO HARAPAN F % 50. dari pertanyaan terbuka yang dijaring oleh peneliti yaitu mengenai kendala yang responden hadapi dalam penggunaan kampung digital. Dari pertanyaan terbuka yang dijaring oleh peneliti mengenai harapan masyarakat mengenai kemajuan kampung digital kedepan di Tuk-Tuk Siadong.3 6. Sisanya sebanyak 28. merasa kurang mengerti /paham dalam penggunaan kampung digital sebanyak 21.7 10.Berharap akan adanya penambahan unit komputer.0 1 Membawa Pengaruh Positif .Terutama Dapat Menambah Wawasan Masyarakat 30 Dibidang TIK 2 Penambahan Unit Komputer .0 %.0 100.7 %.7 28. 7 %. 0 %.0 % . Yang menjawab kurangnya fasilitas sehingga harus antri sebanyak 11. Peningkatan Fasilitas dan Sosialisasi Ke 12 Masyarakat 3 Dapat Membawa Kemajuan Dibidang Pendidikan 8 4 Pembelajaran Gratis Atau Bimbingan Teknis Pemanfaatan Kampung Digital 4 5 Harapan Lainnya 6 Total 60 Sumber : K17 n = 60 20.3 %.Sementara yang menjawab kendala yang mereka hadapi karena lambat Loading atau lebih populer dengan lalot sebanyak 18.3 %.3 11.0 18. Tabel.0 % responden mengatakan masalah biaya menjadi kendala yang mereka hadapi. . 18 Kendala Yang Dihadapi Dalam Penggunaan Kampung Digital NO KENDALA F % 1 Kurang Mengerti /Paham Dalam Penggunaan Kampung Digital 2 Masaah Biaya 3 Lambat Loading 4 Kurangnya Fasillitas Sehingga Harus Antri 5 Kendala Lainnya Total Sumber : K18 n = 60 13 12 11 7 17 60 21.7 20.3 100. terutama dapat menambah wawasan masyarakat dibidang TIK sebanyak 50.3 % menjawab kendala lainnya. harapan dapat membawa kemajuan dibidang pendidikan 13. harapan akan membawa pengaruh positif. peningkatan fasilitas dan sosialisasi ke masyarakat sebanyak 20.0 13.

game dan lain sebagainya.browsing (mencari informasi melalui website). .sedangkan faktor-faktor lainnya yang mendorong pemanfaatan kampung digital bagi masyarakat adalah kemudahan untuk berkomunikasi serta untuk kelengkapan fasilitas yang ada. yang mana pada umumnya responden sangat berminat terhadap teknologi informasi internet lewat kampung digital ini.Berdasarkan temuan data-data penelitian diatas dapat dilihat bahwa pemanfaatan kampung digital oleh mayarakat Tuk – Tuk Kabupaten Samosir Sumatera Utara untuk menambah informasi .juga banyak digunakan untuk membuka peluang usaha. Teori informasi membentuk dasar untuk komputer elektronik modern dan pengiriman informasi dalam cyberspace. Sedangkan keberadaan kampung digital juga banyak dimanfaatkan masyarakat dalam memecahkan persoalan kehidupan sosial.Adapun yang menjadi faktor pendorong dalam pemanfaatan kampung digital bagi masyarakat Tuk – Tuk siadong Kabupaten Samosir ini adalah rasa ingin tahu.2007:61 ).Keadaan ini tentunya menimbulkan perasaan yang kurang nyaman bagi masyarakat terutama bagi masyarakat yang betul-betul tertarik untuk mempelajari dan mendalami masalah internet ini dan mempunyai uang saku yang terbatas seperti anak sekolah. hiburan.dan memecahkan masalah ekonomi keluarga.chatting. ini tidak bisa dipungkiri karena kehadiran kampung digital yang terbatas memancing masyarakat lainnya untuk membuka service informasi ini dibanyak tempat di Tuk –Tuk karena memang daerah ini sangat memerlukan kehadiran teknologi baru tersebut untuk mengimbangi permintaan pasar . Adapun waktu dimana masyarakat mengakses kampung digital adalah kebanyakan masyarakat memanfaatkannya dengan waktu yang tidak tentu yaitu mengingat perangkat kampung digital yang tersedia hanya 1 (satu) unit jadi mereka harus antri menunggu waktu luang. Antusiasme masyarakat terhadap kampung digital ini dapat dilihat melalui data pada tabel II.meningkatkan pengetahuan mereka. Mereka memanfaatkan kampung digital dan mengakses kampung digital yang telah disediakan Telkom Divisi I yang dikelola oleh Dinas Pariwisata karena Telkom hanya bertanggung jawab sampai ke saluran saja. namun dirasakan sangat kurang karena fasilitas yang ada hanya satu unit. Mengakses teknologi informasi internet lewat kampung digital sudah menjadi kebiasaan rutin sebagian masyarakat Tuk –Tuk Kabupaten Samosir.kemudahan akses informasi dan untuk mengikuti perkembangan jaman. mengisi waktu luang. misalnya perusahaan komunikasi yang besar tidak lagi dibutuhkan untuk mengirim informasi karena penerbitan – sendiri (do-it-yourself pubblishing) sekarang dimungkinkan lewat internet (Severin. begitu juga dengan anak – anak sekolah mereka akan memperaktekkan pelajaran sekolah dikampung digital sepulang sekolah. Internet sudah mampu mengubah perilakuperilaku masyarakat dalam menggantikan kebiasaan lama. mengakses informasi hiburan.11. dan sebagai media komunikasi telah disambut dengan baik kehadirannya oleh mayarakat dan digunakan secara efektif serta berhasil guna karena kehadiran kampung digital yang biayanya relatif lebih murah dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai pembelajaran awal. e-mail (surat menyurat melalui internet). Manfaat yang dirasakan masyarakat dengan hadirnya kampung digital ini membawa pengaruh yang positif bagi mayarakat karena bukan saja kemudahan akses informasi yang didapat . Dalam pencarian informasi yang sering diakses adalah mengenai infomasi pariwisata dan bisnis/dunia usaha yang berhubungan dengan pariwisata sesuai daerah mereka yang memang kampungnya wisatawan . sarana bersantai. Adapun jenis kegiatan yang dilakukan melalui kampung digital ini pada umumnya adalah untuk mengakses informasi. meningkatkan hubungan silaturahmi.pendidikan.

kelengkapan fasilitas yang ada dan mengikuti perkembangan jaman menjadi motifasi masyarakat menggunakan kampung digital ini. Jika saja di tempat lain juga ini dapat diterapkan maka Sumatera pulau digital akan segera terwujud. Saran 5. Evaluasi dan koordinasi dengan tim webmaster (pengelola web) dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Seni Budaya Pemkab Samosir untuk selalu berupaya agar situs ini tetap eksis dan bermanfaat bagi lingkungan kawasan wisata digital dan masyarakat batak yang ada dipulau Samosir dan tidak menutupi kemungkinan bagi masyarakat lain yang menginginkan melihat via internet tentang info ataupun pengembangan objek wisata dilokasi ini. Dinas Pariwisata dan seni Budaya sebagai pihak pengelola. Motifasi masyarakat menggunakan kampung digital dipicu rasa ingin tahu karena sering kali si wisatawan bercerita tentang internet. Memperluas jangkauan akses kampung digital dan menambah kehadiran kampung digital di berbagai daerah terutama daerah terpencil supaya masyarakat bisa merasakan manfaat dari kampung digital sehingga tidak ada lagi masyarakat yang ketinggalan informasi. sehingga banyak peralatan yang kini sudah tidak dapat digunakan lagi. baik it dari segi pengelolaan fisik maupun dari segi administrasinya.Selain rasa ingin tahu. E-mail harus dicek setiap saat untuk mengetahui apa maunya si turis yang sering kali mengabarkan akan kedatangannya dan memesan segala fasilitas juga lewat e-mail atau lewat chatting.sebagai media komunikasi seperti chatting dan surat menyurat melalui internet atau disebut juga e-mail.Tuk kabupaten Samosir Sumatera utara yang telah dilakukan dirangkum dalam kesimpulan sebagai berikut : 1. Melalui kampung digital masyarakat dapat melakukan transaksi elektronik yang mencakup semua aspek sesuai dengan culture kampung tersebut baik dunia usaha sampai kepada pemilihan gubsu. 3.. karena kehadiran kampung digital masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat Tuk-Tuk sebagai pembelajaran dan penyeimbang Rental internet atau servis informasi yang ada disana. Kesimpulan Beberapa poin penting yang dapat diambil dari hasil penelitian tentang pemanfaatan kampung digital oleh masyarakat Tuk . kemudahan untuk berkomunikasi. Namun karena pengguna kampung digital ini banyak supir baru (pengguna pemula) sehingga tingkat kerusakan tinggi. 6. Khusus e-mail dan chatting misalnya banyak dilakukan dengan turis asing. dalam bidang informasi dapat meningkatkan kualitas pikiran manusia di era globalisasi sekarang ini. Juga dimanfaatkan untuk mengakses informasi . Dengan kata lain banyak yang bisa internet atau hanya sekedar cek E-mail dan chatting di Tuk-Tuk tapi dia tidak bisa menggunakan komputer. membantu pekerjaan. dan awalnya juga kampung digital Tuk –Tuk banyak digunakan oleh wisatawan lalu diikuti oleh guide yang penasaran akan kampung digital. bukti bahwa mereka siap menerima kehadiran teknologi informasi di kehidupan sehari – hari mereka. sehingga begitu mudahnya mengakses internet di Tuk-Tuk dan begitu mudah menemukan orang yang familiar dengan internet. 2.Namun dari pegamatan penulis terlihat bahwa pemanfaatan Kampung Digital tersebut tidak terorganisir secara baik. Kehadiran kampung digital dirasakan masyarakat sangat bermanfaat karena dapat meningkatkan usaha dan perekonomian masyarakat. kemudahan akses informasi. Kampung digital yang semula diperuntukkan untuk pebelajaran masyarakat ini beberapa bulan terakhir rusak dan tidak bisa dimanfaatkan lagi karena sampai sekarang belum ada perbaikannya. Kehadiran kampung digital memancing untuk speedy loading. .

Warnet Atasi Kesenjanan Digital. Andi Offset. Erlangga.hadari. Gadjah Mada. Penambahan sarana kampung digital sangat dibutuhkan terutama bagi anak sekolah yang ingin menerapkan / mempraktekan pelajaran yang telah diperoleh disekolah.2008. Badan Pusat Statistik Kabupaten Samosir. Sosialisasi tentang kampung digital dan pengadaan bimbingan teknis penggunaan internet gratis masih perlu dilakukan di Tuk-Tuk Siadong sebagai kampung digital karena sering kali pengelola kampung digital dan masyarakat kewalahan /tidak bisa menjawab jika turis asing menanyakan situs tertentu tentang Indonesia.2007.tuktuksamosir. Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar.kampungdigital.Media Kominfo.php http:// blog. Denis. Rakhmat. Jakarta Nuh. Teori Komunikasi Sejarah . Teknik Praktis Riset Komunikasi. Metode Penelitian Bidang Sosial. MeQuail. Yogyakarta.Jalaluddin.Medan.Werner dan James Tankard. 8. Remaja Rosda Karya. 1990. Yogyakarta.7. Bandung.kampungdigital.2007. 2004.com/ Anshari. FocusGrup Discussion RPJM 2010-2014 DEPKOMINFO. .com/senibudaya. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan.Muhammad. 1983.1994. Metode penelitian Komunikasi. Pemkab Samosir. Severin. Kencana Prenada Media Group. Jakarta. DAFTAR PUSTAKA Kriyantono. 2006.. Samosir Dalam Angka Tahun 2008. Sumber lain http://www.Jakarta Nawawi.Kencana Prenada Media Group. dan Terapan di Dalam Media Massa. Rachmat.Andang. Sumanto.Hotel Dharma Deli.

Tentunya keadaan ini sangat memprihatinkan di satu sisi masyarakat ingin tahu tentang daerah mereka melalui TVRI Sumut namun yang diharapkan tidak demikian karena daerah mereka adalah Blank Spot TVRI Sumut. yaitu informasi dengan gambar bergerak (motion picture). TVRI dan RRI Jakarta) yang sama sekali tidak menyiarkan informasi publik yang diharapkan informasi yang berhubungan dengan daerah mereka. Model ini digunakan hanya untuk memfokuskan permasalahan terhadap penggunaan media untuk memenuhi kebutuhan akan informasi publik. Karena TV dapat menyajikan informasi seperti apa yang terjadi sebenarnya (audio visual). dan merupakan salah satu media yagn sangat digemari oleh masyarakat. Analisa data yang digunakan bersifat deskriftif dengan maksud dari hasil jawaban responden di media sedemikian rupa hingga memperoleh deskripsi jawban dari permasalahan yang diteliti. Oleh karenanya pemerintah daerah diharapkan dapat mendorong pihak TVRI Sumut agar siaran TVRI Sumut yang ada di Medan dapat menjangkau di daerah Kelurahan Bakaran Bat Kec. Televisi merupakan medium yang paling akrab bagi keluarga. informasi publik. Namun karena TVRI Sumut tidak dapat menjangkau siaran dimaksud. dengan seadanya masyarakat mencari alternatif media lain yangmungkin dapat memenuhi kebutuhan mereka akan informasi publik. Kata Kunci : Pemilihan media. * Penulis adalah Peneliti Madya Bidang Komunikasi Pada BBPPKI Medan .PEMILIHAN MEDIA ALTERNATIF DALAM MEMPEROLEH INFORMASI PUBLIK DI DAERAH BLANK SPOT TVRI SUMUT DI KABUPATEN LABUHAN BATU Oleh : Parulian Sitompul * ABSTRAK Penulisan ini menulis tentang masyarakat di Labuhan Batu Kelurahan Bakaran Batu Kec. Padahal TVRI Sumut merupakan salah satu refresentasi media audio visual yang diharapkan dapat menyiarkan informasi publik yang dibutuhkan masyarakat Labuhan Batu. daerah blank spot Latar Belakang Masalah Televisi merupakan salah satu media massa penyampaian pesan kepada masyarakat secara luas. dan TV swasta lainnya. Sering dituduh bahwa penetrasi televisi ke lingkungan rumah tangga menjadi nilai pembenaran (intruder) dalam kehidupan keluarga. Sebaliknya dapat ditunjukkan bahwa di antara media komunikasi. Penelitian diadakan dengan cara survey langsung kepada responden di Kelurahan Bakaran Batu terhadap 60 orang yang memiliki masyarakat sebagai pengguna media. Dari hasil penelitian yang diperoleh dengan ketidak jangkauan TVRI sumut (blank spot) menyiarkan informasi publik maka responden memilih media lain sebagai alternatif untuk memperoleh informasi publik yang diinginkan media tersebut antara lain adalah televis swasta nasional yang ada (RCTI. Rantau Selatan Kabupaten Labuhan Batu. televisi menurut Monaco seperti yang dikutip dalam Siregar. Sementara pendekatan teori yang digunakan adalah dengan menggunakan model uses and gratifications. Artinya siaran TVRI Sumut tidak terjangkau siaran pada masyarakat. Rantau Selatan yang merupakan Blank Spot TVRI Sumut. Trans TV.

1981. Pada satu sisi hal itu dapat diterima . Melalui televisi keadaan suatu daerah akan tampak jelas dan tergambar seolah-olah dalam siaran itu adalah keadaan sebenarnya realitas dari objek yang terjadi. tabloid maupun media elektronik seperti radio siaran dan televisi melalui informasi. dan sikap perilaku individu dan masyarakat. terutama pesan-pesan pembangunan.“Merupakan perangkat yang dapat dinikmati bersama – sama (sharing). Diketahui sebahagian penduduk Indonesia berada di daerah pedesaan membutuhkan dalam jumlah besar informasi baru tentang pembangunan disekitar daerahnya.bahwa dalam proses komunikasi massa harus memperhatikan tentang keberadaan khalayak yang begitu kompleks dan beragam. bahwa komunikasi massa diartikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar. opini. Melihat begitu pentingnya kehadiran media massa bagi masyarakat terutama televisi. heterogen dan anonim melalui media cetak ataupun elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima seacara serentak dan sesaat. bahwa khalayak bersifat pasif menganalogikan pesan seperti obat yang disuntikkan ketubuh penerima. Ada banyak orang beranggapan bahwa media masa sangat efektif mempengaruhi khalayak. maka dapat diasumsikan keberadaan siaran televisi di suatu daerah merupakan kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. hal : 177 ) Jika dilihat dari uraian di atas defenisi komunikasi massa tersebut menunjukkan bahwa dalam proses komunikasi massa seperti yang diutarakan di atas begitu kompleks dan perlu perencanaan yang matang. Demikian juga halnya yang terjadi di Kabupaten Labuhan Batu.. Kelurahan Bakaran Batu Kecamatan Rantau Selatan. Didalam kehidupan sosial atau proses sosial secara dinamis didasarkan pada komunikasi. Media massa baik yang tercetak seperti majalah. Tetapi sebagaimana yang digambarkan oleh Rakhmat . Berbagai penelitian dan pendapat para ahli komunikasi mengatakan bahwa media massa memiliki pengaruh terhadap persepsi. Anggapan yang demikian ini dianut oleh Bullet Theory atau yang sering disebut model hipodermik yang mengasumsikan. Televisi merupakan salah satu bentuk komunikasi massa. maka dengan keberadaan media televisi yang memiliki berbagai jenis informasi akan dapat lebih mempermudah masyarakat untuk mengembangkan proses sosialnya berdasarkan informasi yang diperolehnya dari televisi. dapat juga disebut sebagai jenis khusus dari komunikasi sosial yang dilembagakan memiliki banyak pengertian seperti Jalaluddin Rakhmat menyebutkan. Akibatnya. penduduk di wilayah ini . tetapi keadaan ini hanya dapat berlaku pada masyarakat yang bersifat pasif menerima apa adanya pesan. berbeda dengan media cetak yang penikmatannya bersifat individual”. daerah ini sulit menerima siaran-siaran dari TVRI Sumut karena kondisi geografis wilayahnya yang berada di balik atau dikelilingi bukit barisan sehingga pemancar TVRI Sumut kurang mampu bahkan tidak mampu menyebarkan sinyal dan gelombangnya kepada antena televisi ke rumah-rumah penduduk di Kelurahan Bakaran Batu Kecamatan Rantau Selatan Kabupaten Labuhan Batu. opini. pesanpesan yang disampaikan harus tepat. Propinsi Sumatera Utara. karena televisi merupakan jenis khusus dari berbagai media yang ada dalam lingkup studi komunikasi massa. Televisi sebagai suatu sarana komunikasi massa yang memiliki peranan penting dalam menyampaikan pesan. pengorganisasian komunikator terlembaga dan perlunya merancang dan menyususn strategi komunikasi yang dilakukan dalam komunikasi massa. surat kabar. wilayah ini termasuk dalam kategori Blank Spot jangkauan siaran TVRI Sumut.pesan yang disampaikan padanya. Dengan kata lain. ( Rahmat. dan materi siaran dengan berbagai metoda pendekatan melakukan aktivitas yang dapat memberi pengetahuan dan pendidikan kepada masyarakat. Kekompleksitasan itu dikarenakan oleh suatu sasaran media agar proses komunikasi yang dilakukan dapat efektif.

Untuk mengetahui waktu responden mendapatkan informasi publik.mencari alternatif lain untuk memperoleh informasi publik yang mereka butuhkan dalam kehidupan mereka. Responden penelitian ini adalah masyarakat yang mengonsumsi informasi publik Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Apabila media alternatif tersebut bermuatan positif (berisi pesan-pesan pembangunan yang konstruktif dan hiburan yang mendidik) memang tidak akan menimbulkan persoalan baru. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang penelitian di atas. namun jika media alternatif yang digunakan bermuatan negatif (berisi informasi dan hiburan yang tidak mendidik) maka masalah akan muncul yaitu terjadinya efek yang destruktif dari kehadiran media alternatif tersebut yang dapat menimbulkan pola pikir masyarakat negatif yaitu diantaranya adalah hilangnya rasa nasionalisme dan tidak termotivasi untuk membangun daerahnya. Untuk mengetahui lokasi responden biasanya mendapatkan informasi publik setiap hari. Bagaimanakah frekuensi masyarakat menggunakan media alternatif mendapatkan informasi publik ? 2. Media dan jenis informasi publik yang dikonsumsi masyarakat Kelurahan Bakaran Batu Kecamatan Rantau Selatan Kabupaten Labuhan Batu 2. 3. 4. 5. Untuk mengetahui bagaimanakah frekwensi responden menggunakan media alternatif untuk mendapatkan informasi publik. maka permasalahannya adalah media alternatif apakah yang digunakan oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi publik yang mereka butuhkan tersebut. Waktu masyarakat mendapatkan informasi publik ? 4. Mengetahui kualitas informasi publik yang diterima untuk Pembatasan Masalah Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. maka peneliti dapat merumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut : “Bagaimanakah pemilihan media alternatif dalam memperoleh informasi publik di daerah Blank Spot TVRI Sumut di Kelurahan Bakaran Batu Kecamatan Rantau Selatan Kabupaten Labuhan Batu” Adapun permasalahan khusus dalam penelitian ini adalah: 1. . Untuk mengetahui durasi responden mendapatkan informasi publik setiap hari. Daerah penelitian ini adalah di Kelurahan Bakaran Batu Kecamatan Rantau Selatan Kabupaten Labuhan Batu 3. 2. Berdasarkan pemikiran inilah penelitian ini sebaiknya dilakukan untuk mengantisipasi efek negatif kepada masyarakat atas kehadiran media alternatiif yang mungkin tidak konstruktif di wilayah Kabupaten Tobasa. Durasi masyarakat mendapatkan informasi publik setiap hari ? 5. Untuk mengetahui apakah media dan jenis informasi publik yang digunakan responden. Apakah media dan jenis informasi publik yang digunakan masyarakat ? 3. Tentunya keadaan ini menjadi masalah dalam memperoleh informasi public dalam lingkup informasi public dari provinsi Sumatera utara.

Informasi Publik. lebih hidup dan mencekam. Seperti yang dikemukakan Melezke (1963) yang dikutip oleh Rakhmat. maka dalam kerangka teoritis akan diuraikan mengenai komunikasi massa. lebih nyata. Mungkin saja masih ada jarak waktu. gagasan dan sikap kepada komunikan yang beragam dalam jumlah yang banyak menggunakan media. Salah satu contoh media massa ialah televisi. misalnya jika tidak siaran langsung . Televisi adalah salah satu media massa. 1986:3). Televisi Sebagai Media Komunikasi Massa Sebagai media massa. Televisi dapat merangsang orang untuk bertahan lama dihadapannya hanya karena untuk menyaksikan siaran audiovisual yang ditayangkan secara hidup seperti kejadian yang sebenarnya. Teori uses and gratification menungkapkan bahwa penggunaan media memiliki pilihan alternative lain untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka. Dari uraian di atas menunjukkan bahwa televisi itu mempunyai kemampuan yang lebih dibandingkan dengan media massa lainnnya. Alat-alat audio visual (televisi) juga membuat suatu pengertian atau informasi menjadi lebih berarti. televisi memang memiliki kelebihan dalam penyampaian pesan dibandingkan dengan media massa lain. sangat cepat (actual) terlebih lagi dalam siaran langsung (live broadcasting) dan menjangkau ruang yang sangat luas (Wahyudi. Meskipun demikian keserentakan lebih terasa. Dengan teknologi yang dimilikinya maka wajar televisi mendapat posisi yang berarti bagi pemirsanya. Menurut mereka berdasarkan pemikiran ini bahwa seseorang akan mencari sumber informasi (media) lain untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkannya. Komunikasi massa menyiarkan informasi. Kita lebih mudah dan lebih cepat belajar dengan melihat alat-alat sensori seperti gambar atau model (Sulaiman. Apalagi didaerah pedesaan kebutuhan . 1981 mengartikan komunikasi massa sebagai setiap bentuk komunikasi yang menyampaikan pernyataan secara terbuka melalui media penyebaran teknis secara tidak langsung dan satu arah pada publik yang tersebar.Uraian Teoretis. Karenanya dengan pendekatan teori ini bagi masyarakat di Kelurahan Bakaran Batu Selatan Kabupaten Labuhan Batu yang menjadi lokasi penelitian ini dan juga sebagai blank spot TVRI Sumut tentunya akan mencari media alternative lain selain TVRI Sumut untuk memperoleh informasi public yang dibutuhkan. Televisi merekam atau memotret kejadian secara hidup dan langsung menyiarkan kepada penonton. Pesan-pesan melalui televisi disampaikan melalui gambar dan suara bersama (sinkron) dan hidup. Televisi merupakan media massa pandang dengar dan membuat informasi yang disampaikan lebih menarik dan menyenangkan pemirsa dibandingkan dengan komunikasi lainnya seperti media cetak. Adapun sebagai kerangka teoritis dalam penelitian ini adalah menggunakan kerangka pemikiran dengan pendekatan teori Uses and Gratifications. 1974). Dengan demikian dengan keberadaan TV sebagai media informasi yang banyak digemari oleh masyarakat. seperti suratkabar.1981:1). (Katz dan Blumler. Penelitian ini membahas tentang “Bagaimanakah Pemilihan Media Alternatif dalam Memperoleh Informasi Publik di Daerah Blank Spot TVRI Sumut di Kelurahan Bakaran Batu Kecamatan Rantau Selatan Kabupaten Labuhan Batu”. maka keberadaan media tersebut memiliki peran penting dalam menyebarluaskan informasi public. Hal yang sama diungkapkan oleh Yacob Utomo mengemukakan bahwa televisi merekam kejadian dengan gambar dan suara serentak. mentah seperti apa adanya.

Seiring dengan perwujudan pemerintahan yang transparan dan terbuka terhadap partisipasi aktif masyarakat menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi perlunya informasi publik itu hadir ditengah-tengah masyarakat. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 60 orang ditarik secara sampel random sederhana dengan menggunakan rumus pengambilan sampel menurut Suharsimi Arikunto dalam buku Prosedur Penelitian (1998) menyebutkan jika jumlah populasi lebih dari 100 maka dapat diambil sampel antara 10 sampai 15% dan antara 20 sampai 25% dari jumlah populasi. sebab informasi public menyangkut hajat hidup orang banyak. TV dan media lainnya memiliki kedudukan penting dalam penyebaran informasi publik pada masyarakat. legislatif. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini adalah dilakukan di Kelurahan Bakaran Batu Kecamatan Rantau Selatan Kabupaten Labuhan Batu. Dijelaskan lagi badan-badan publik itu bisa pada level eksekutif. BUMD.masyarakat akan informasi publik menjadi begitu penting. Jelas ditegaskan diatas bahwa begitu pentingnya informasi public itu bagi masyarakat. Tentunya ketersediaan informasi public itu pada masyarakat menjadi keharusan apalagi melalui media TV. Masyarakat harus diberi akses seluas-luasnya untuk mengetahui produk kebijakan dan kinerja badan-badan pemerintah beserta pejabatnya. yudikatif. Adapun jumlah sample penelitian ini adalah 10% dari jumlah populasi. Sementara sampel dalam penelitian ini adalah pengguna media di daerah tersebut. . Karenanya maka yang menjadi rujukan ilmiah tentang pengertian informasi publik menurut Sudibyo peneliti ISAI Jakarta (2009) menyebutkan bahwa informasi public itu adalah “Segala informasi yang berkaitan dengan hajat hidup publik (masyarakat) yang berada dibawah pengelolaan badan-badan publik. karena penelitian ini adalah penelitian survey dengan menyebarkan kuesioner kepada responden yang telah ditentukan. Data yang diperoleh dari lapangan ditabulasi secara tabel tunggal dan digambarkan sedemikian rupa tanpa melakukan analisa secara mendalam seperti tabulasi silang. Metode ini bertujuan untuk menggambarkan apa adanya dari data lapangan yang dihimpun. Dari data tersebut dianalisa secara sederhana sebagaimana lazimnya dalam metode deskriptif. Metode Analisa Data Analisa data dilakukan secara deskriptif. Propinsi Sumatera Utara. badan-badan hukum Negara juga organisasi non pemerintah atau swasta yang menggunakan anggaran pemerintah atau yang mempunyai perjanjian kerja dengan pemerintah untuk fungsi pelayanan publik. Populasi dan Sampel Adapun populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat Kelurahan Bakaran Batu Kecamatan Rantau Selatan Kabupaten Labuhan Batu. BUMN. berjumlah 600 orang (survey awal 2009 pengguna media. Metode Penelitian Adapun metode penelitian adalah penelitian survey dengan bersifat deskriptif.

67 %).67 %). Selanjutnya disusul pekerjaan sebagai Buruh Tani yaitu sejumlah 6 orang (10 %). Penarik Beca. Pekerjaan Jenis pekerjaan responden mayoritas adalah wiraswasta / berdagang yaitu sekitar 24 orang (40 %). sehingga mereka meskipun tidak memperoleh siaran dari TVRI SUMUT. informasi dan hiburan bagi meraka. sebab berdasarkan lokasi domisili responden yang berada di desa. Berdasarkan data ini terlihat masih cukup banyak responden yang hidup pra sejahtera. 700 ribu.33 %) dan perempuan berjumlah 16 orang ( 26. TNI. 200 ribu sampai dengan Rp. Kondisi ini dinilai cukup baik. kemudian disusul dengan Pegawai Negeri Sipil sebanyak 20 orang (33. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan responden yang tamat SMA menjadi mayoritas yaitu 28 orang (46. Dari data ini terlihat. keadaan ini berimbang dengan masyarakat dengan tingkat penghasilan antara Rp. Selanjutnya termasuk kategori lain-lain sejumlah 10 orang (16. Frekuensi Penggunaan Media Massa Frekuensi responden menggunakan media massa adalah Televisi. Kernet dan lain sebagainya. penonton televisi ternyata didominasi oleh laki-laki . keberadaan responden yang berada di desa ternyata tidak berkorelasi dengan minat yang rendah meraih pendidikan tinggi. sementara media massa yang lain . akses dan minat terhadap tingkat pendidikan yang lebih tinggi biasanya sangat rendah. 800 ribu sampai Rp. disusul kemudian antara 1. Dari data ini terlihat. ini diantaranya adalah berdagang.3 juta per bulan sebesar 30 %. kemudian disusul responden tamat SMP berjumlah 20 orang (33 % ). penonton televisi di daerah tersebut sangat bervariasi yaitu dari remaja hingga dewasa.67 %).33 %). Penggunaan Beberapa Media Massa • Televisi Penggunaan Televisi Mayotitas responden menggunakan media Televisi sebagai media untuk menambah pengetahuan. Selain itu. Berdasarkan fakta ini terlihat bahwa responden sangat tergantung kepada media Televisi.9 Juta yaitu 20 % .Hasil Penelitian Dan Pembahasan • Karakteristik Responden Usia Mayoritas usia responden adalah di atas 42 tahun ( 30 %).4 Juta sampai 1. kemudian disusul penggunaan Radio lalu Surat Kabar dan yang paling sedikit adalah majalah. sedangkan yang berusia 22 sampai 26 tahun berjumlah (10 %) dan yang berusia antara 17 – 21 tahun (13 % ). Tingkat Penghasilan Tingkat penghasilan responden mayoritas berada antara Rp.1. kemudian disusul dengan responden yang berusia 27 sampai 31 tahun dan 37 – 41 tahun (25 %). mereka akan mengambil siaran dari stasiun Televisi dan media lainnya. Berdasarkan realitas ini membuktikan ketergantungan responden terhadap kehadiran media Televisi sangat tinggi. yang termasuk ke dalam kategori Sering mencapai 50 %. Jenis Kelamin Laki-laki lebih dominan daripada perempuan yaitu laki – laki berjumlah 44 orang ( 73.

Daya Tarik Siaran Radio Responden sangat tertarik pada jenis acara Berita sebesar 47%. Rendahnya budaya membaca juga terlihat dari rendahnya pemilihan media cetak seperti surat kabar dan majalah Terpaan Media Televisi Ternyata masyarakat yang tidak menonton TVRI ternyata menonton siaran televisi swasta yang lain. Hal ini membuktikan responden masih memiliki rasa nasionalisme yang tinggi untuk tetap setia kepada siaran Televisi Swasta Nasional. Durasi Menonton Televisi Durasi responden menonton Televisi mayoritas berkisar antara dua jam sampai dua setengah jam yaitu sebesar 43%. dilanjutkan dengan jenis acara hiburan 23 %. Frekuensi Menonton Televisi Frekuensi Menonton Televisi mayoritas ditonton lebih dari 4 kali dalam sepekan dan termasuk dalam kategori sering. Indosiar dan RCTI). • Surat Kabar Topik yang Dibaca dalam Surat Kabar . Topik Siaran Radio Topik Informasi Musik yang sangat sering didengar responden sebesar 50%. • Radio Frekuensi Mendengarkan Radio Materi siaran informasi.hanya menjadi pilihan berikutnya. dilanjutkan dengan siaran hiburan sebesar 23%. Siaran Televisi Swasta yang ditonton adalah Siaran Televisi Swasta Nasional (TRANS TV. disini terlihat bahwa responden memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap siaran televise. terlihat bahwa meskipun responden dapat mengambil siaran-siaran Televisi dari Negara lain tetapi tetap memiliki kesetiaan kepada siaran Televisi Swasta Nasional. Artinya. Namun demikian. rsponden yang jarang menonton Televisi juga banyak yaitu mencapai 23 % yang menonton televisi hanya satu kali dalam sepekan. Dari fakta ini terlihat bahwa responden mendengarkan radio mayoritas ingin memperoleh informasi saja. Hal ini jika dihubungkan dengan Gambaran 09 di bawah ini saling mendukung yaitu responden menonton Televisi mayoritas lebih dari 4 kali sepekan yaitu sebesar 26%. Dengan demikian . Pemahaman Siaran Radio Pendengar memiliki pemahaman yang sangat tinggi pada siaran berita di radio dengan frekuensi sebesar 47%. Hal ini dimungkinkan karena kesibukan dalam bekerja. Sedangkan siaran Politik menjadi frekuensi yang sering didengarkan pendengar 40%. Hal ini membuktikan bahwa responden memiliki ketergantungan untuk menonton Televisi setiap harinya. sedangkan acara Talkshow diminati sebesar 30% yang tertarik. sedangkan siaran Informasi ditemukan sebesar 30%. sedangkan Topik Ekonomi. Hukum dan Olah Raga menjadi topik yang sering didengar responden yaitu sebesar 20%. Talkshow dan Forum Dialog yang sangat sering didengar oleh responden 20%.

Rubrik hiburan sangat sering dibaca oleh pembaca sebesar 27%. Indosiar. ini terlihat dari frekuensi yaitu sebesar 46%. 11. Kemudian disusul dengan acara Hiburan (20 %). Kualitas siaran informasi publik yang diterima mayoritas menjawab Sangat Baik terutama dalam bidang Politik. 8. Mayoritas responden menonton Televisi di rumah mereka sendiri bersama keluarga dengan frekuensi Sangat Sering. diikuti dengan Berita yaitu sebesar 30%. Kategori Hiburan juga menempati urutan yang termasuk dalam kategori Sering yaitu sebesar 23% yang termasuk kategori Sering. RCTI). Indosiar dan RCTI). Durasi responden menonton Televisi mayoritas berkisar antara dua jam sampai dua setengah jam. Kualitas Gambar Siaran informasi Publik dari televise mayoritas dinilai Sangat Baik oleh responden . 10. mereka akan mengambil siaran dari stasiun Televisi yang lain dan juga media massa lain seperti radio dan surat kabar. 3. Hukum. 5. Kesimpulan 1. Siaran informasi publik dari Televisi memberikan manfaat bahkan sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan mereka namun ada juga menganggap hal itu sebagai informasi saja 9. Saran-Saran 1. Dengan demikian. 7. Sedangkan topik Politik sering dibaca oleh pembaca sebesar 53%. 2. Berdasarkan fakta ini terlihat bahwa responden sangat menyukai Berita Politik. Namun demikian. Keberadaan siaran Televisi yang bermuatan lokal atau regional dengan sentuhan budaya lokal perlu ditingkatkan agar masyarakat di daerah merasa memiliki media yang dapat menyalurkan aspirasinya. Pemerintah daerah perlu meningkatkan kualitas penerbitan media komunitas yang langsung dapat menyentuh kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Media tradisional seperti PETRA ternyata tidak menjadi pilihan mayoritas masyarakat untuk mendapatkan informasi publik yang diinginkan oleh mereka. ada juga responden yang menonton televisi di rumah tetangga mereka. Berdasarkan realitas ini membuktikan ketergantungan responden terhadap kehadiran media Televisi sangat tinggi. Kemudian motif lainnya yang mendorong masyarakat untuk menonton televisi adalah untuk memperoleh informasi. Ekonomi dan Sosial Budaya. sehingga mereka meskipun tidak memperoleh siaran dari TVRI Sumut. . 2. Walaupun responden tidak mendapatkan siaran TVRI Sumut (Blank Spot) namun responden memilih media lain sebagai media informasi seperti TVRI Jakarta. TV Swasta Nasional (TRANS TV. disusul dengan topik pendidikan sebesar 20%. Siaran Televisi Swasta yang ditonton adalah Siaran Televisi Swasta Nasional (TRANS TV. informasi dan hiburan bagi meraka. Frekuensi responden menggunakan media massa untuk mendapatkan informasi publik dari Televisi berupa siaran berita yang ditayangkan cukup tinggi. Acara Televisi yang paling banyak ditonton oleh masyarakat adalah siaran berita yaitu sebanyak 60 %. 4. Materi acara paling sering yang ditonton oleh responden adalah berita Politik. Mayoritas responden menggunakan media massa Televisi sebagai media untuk menambah pengetahuan. Agama. Masyarakat yang tidak menonton TVRI Sumut ternyata menonton siaran televisi swasta yang lain. animo masyarakat untuk menggunakan televisi sebagai media informasi cukup signifikan. Hal ini membuktikan bahwa responden memiliki ketergantungan untuk menonton Televisi setiap harinya 6.

Krech. Kalaupun masyarakat menonton TVRI hanya diperoleh dari TVRI Pusat Jakarta. 200 3. A Texbook of Social Psychology. Diterjemahkan Trimo. Sosialisasi perlu ditingkatkan untuk member penyadaran kepada masyarakat tentang arti pentingnya upaya-upaya untuk menerbitkan atau menyelenggarakan berdirinya media-media komunitas yang berbasis kepada muatan lokal. 1991. Individual In Society. Teori Komunikasi . Jakarta. Teori Komunikasi Massa. Teori-Teori Komunikasi. Penyunting : Jalaluddin Rakhmat. 5. 1989. 1987. Masri. Penyunting: Jalaluddin Rakhmat. 2005. Sosiologi Komunikasi Massa.Model Komunikasi. Deanna F. 1993. 1962. Illinois. Ohio. Waveland Press. Charles R. Bina Aksara. James W. Tankard. Andrew. Peranan Komunikasi Massa Dalam Pembangunan. 1990. LP3ES. S. International Student Edition. dan surat kabar dan apalagi TVRI Sumut sama sekali tidak dapat dijangkau siarannya oleh masyarakat. 1993. Prenada Media. New York & London. Pemerintah daerah perlu memfasilitasi media massa yang berorientasi kepada kepentingan local agar isi media tersebut dapat member stimulasi kepada masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan di daerah. Alih Bahasa : Agus Dharma dan Aminuddin Ram. Remaja RosdaKarya. DeFleur. Alih Bahasa : Putu Laxmant S. Eduard dan Collin Mac Andrew. Ltd. Remaja Rosdakarya. Remaja RosdaKarya. Alexis. Suharsimi. Erlangga.3. Psikologi Komunikasi. Melvin and Ball-Rokeach. Bandung. Theories of Mass Communication. Mass Communication Theories and Research. Pengantar Studi Penelitian Terhadap Pembaca. Grid Publishing Inc. Pendengar. Richard S and Ballachey Egerton. Suatu Pendekatan Praktik. 1986. Bandung. Jr. Remaja RosdaKarya. Singarimbun.Hill International Book Company. 1982. Bandung. Wright. New York. McQuail. Aubrey B. radio. Daftar Bacaan Arikunto. Jakarta.Rancer. S. Prosedur Penelitian. Jakarta.Womack. Denis. Metode Penelitian Survai. Infante A Dominac. Bandung. 1988. Building Communication Theory. 1982. David. Sari. Metode dan Terapan di Dalam Media Massa. Pendit. Foundation of Behaviour Research. Metode Penelitian Komunikasi. Yogyakarta. Jakarta. Sejarah. Tokyo: McGraw. Pemerintah daerah diharapkan dapat mendukung peran dari media tradisional sebagai media alternative dalam memperoleh informasi pada masyarakat Kelurahan Bakaran Batu Selatan selain media modern seperti televisi. Columbus. 1980. Remaja Rosdakarya. Uni Primas. Jakarta ---------------. 1985. Tan. dan Sofian Effendy (ed). Kogakhusa. Rakhmat. 4. Audience Research. Severin Werner J. --------------------. Kerlinger. Fisher. Fred N. . Bandung. Gajah Mada University Press. Jalaluddin. 1985. New York University.dan Pemirsa. Crutchfield. Second Edition. Model . Endang. Soedjono. Depari.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh siaran liputan 6 SCTV terhadap Opini Masyarakat di Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi cukup memuaskan. khususnya televisi swasta. bersamaan dengan peresmian penyiaran Televisi Republik Indonesia (TVRI) oleh Presiden Soekarno pada tanggal 24 Agustus 1962. media massa mempunyai peran yang sangat penting dalam pelaksanaan pembangunan di negaranya. Sebelum terjadi * Penulis adalah Peneliti Muda Bidang Komunikasi Pada BBPPKI Medan . Seiring dengan gelombang perubahan yang terjadi di Indonesia membawa nuansa lain bagi pertelevisian di Indonesia. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dan sedang berusaha mensejajarkan diri dengan negara-negara yang lebih maju. Setelah itu acara-acara yang dihadirkan di televisi semakin banyak dan variatif. Media massa televisi pun pada akhirnya melahirkan istilah baru dalam peradaban manusia yang lebih dikenal dengan budaya massa. Adapun jumlah responden dalam penelitian ini berjumlah 100 orang dengan menggunakan rumus Taro Yamane. Televisi muncul di Indonesia pada tahun 1962 bertepatan dengan penyelenggaraan Asian Games yang ke-4 di Jakarta. Hamdan Hamidin* ABSTRAKSI Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan melihat bagaimana Pengaruh Siaran Liputan 6 SCTV Terhadap Opini Masyarakat di Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi. dan juga siaran Liputan 6 SCTV berpengaruh terhadap Opini Masyarakat Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi. Salah satunya adalah sektor teknologi informasi yang semakin canggih terutama dibidang pertelevisian. Penetapan menggunakan sampel strata proporsional. Peristiwa disatu tempat dapat dilihat di tempat lain dengan pola teknologi yang baru yaitu “Direct Broadcasting (DBS). Dimana dunia pertelevian terkena terpaan arus perubahan dalam penyampaian informasi. kini media layar kaca tersebut sudah menjadi kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan dan penyebaran angket dan menghimpun data dari buku-buku serta sumber bacaan yang relevan dengan masalah penelitian. Di negaranegara dunia ketiga. Media televisi di Indonesia bukan lagi dilihat sebagai barang mewah seperti pertama kali muncul. Manusia cenderung menjadi konsumen budaya televisi yang menghasilkan suara dan gambar. Sejak bermunculan televisi swasta. monopli dunia layar kaca di Indonesia tidak hanya milik TVRI saja. Dengan kata lain informasi sudah merupakan kehidupan bagi manusia untuk aktualitas diri. Kata Kunci : Pengaruh Siaran liputan 6 SCTV Terhdap Opini Masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yaitu meneliti bagaimnana pengarus Siaran Liputan 6 SCTV terhadap Opini Masyarakat di Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi. dan termasuk Indonesia juga menghadapi keadaan yang sama. PENDAHULUAN A.PENGARUH SIARAN LIPUTAN 6 SCTV TERHADAP OPINI MASYARAKAT DI KECAMATAN PADANG HILIR KOTA TEBING TINGGI OLEH : Drs.

Isi berita yang ditayangkan dalam liputan 6 SCTV dapat menambah wawasan pemikiran. E. Masyarakat yang pernah menonton Siaran Liputan 6 SCTV di Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi. tajam dan terpercaya tentang berbagai peristiwa yang terjadi di Indonesia maupun di luar negeri (manca negara) dikemas dalam satu siaran yang berlabel “liputan 6 SCTV”. siang. maka permasalahan perlu dibatasi. Adapun tujuan penelitiannya adalah untuk mengetahui Pengaruh Siaran Liputan 6 SCTV Terhadap Opini Masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi.gelombang perubahan yang terjadi di Indonesia yang dikenal dengan istilah reformasi berbagai informasi yang disajikan terkesan kaku dan terfokus hanya apa yang dianggap baik oleh penguasa saja. terutama sebagai media untuk mendapatkan informasi yang aktual serta dalam membentuk opini atau sikap masyarakat umumnya pada khususnya terhadap permasalahan yang sedang berlangsung. Perumusan Masalah Yang menjadi permasalah dalam penelitian ini adalah : “Sejauh Mana Pengaruh Siaran Langsung 6 SCTV Terhadap Opinin Masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi “ C. penting. Bertolak dari uraian dan pemikiran tersebut maka penulis menetapkan judul penelitian “Pengaruh Siaran Liputan 6 SCTV Terhadap Opini Masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi”. Selain isi berita yang aktual. frekwensi penayangan tiga kali sehari sehingga berita-berita yang ditayangkan benar-benar aktual. Manfaat Penelitian . Hal ini mengingat pendapat Nawawi (1991 : 36) dalam bukunya metode penelitian bidang sosial menyebutkan bahwa : “Masalah tidak boleh terlalu luas tapi juga tidak boleh terlalu sempit”. Pembatasan Masalah Berdasarkan masalah yang akan dibahas. Maka penulis membatasi sebagai berikut : Siaran Liputan 6 SCTV yang ditayangkan setiap hari. dan agar suatu penelitian tidak longgar dan tidak terjadi kerancuan dalam pembahasannya. Stasiun televisi SCTV mengemas berbagai berita aktual. Disadari atau tidak. B. Salah satu stasiun televisi di Indonesi yang mempunyai program acara penyampaian berita yang aktual. tajam serta terpercaya liputan 6 SCTV juga mempunyai daya tarik lain seperti desain tayangan yang ditata apik. sore. Hal yang menarik untuk ditelusuri adalah bahwa liputan 6 SCTV sebagai penayang berita atau informasi. seberapa jauh siaran atau tayangan liputan 6 SCTV mampu hadir dihati pemirsa. pembentukan persepsi dan opini atau sikap bagi masyarakat. Liputan 6 SCTV disuguhkan kepada masyarakat lima kali dalam sehari yaitu pagi. Tujuan Penelitian Menurut Arikunto tujuan penelitian adalah perumusan kalimat yang menunjukkan adanya sesuatu yang hendak dicapai setelah penelitian selesai (Arikunto : 1993 : 49). Begitu juga siaran liputan 6 SCTV sedikit banyaknya membawa dampak tertentu bagi masyarakat khususnya mahasiswa. dan menarik adalah stasiun televisi SCTV (Surya Citra Televisi). D. yang berani menayangkan berita tajam dari tayangan-tayangan lain yang sejenis. petang dan tengah malam. peran atau pengaruh media dalam membentuk opini terhadap suatu permasalahan yang di informasikan itu ada dalam diri masyarakat meskipun pengaruh itu kecil. bukan siaran mingguan dan situs liputan 6 SCTV.

pesan. Menurut Freidow (dalam Rakhmat. yakni suatu institusi atau organisasi. Ini berarti bahwa komunikasi dalam prosesnya meliputi lima unsur. yaitu : adanya komunikator (penyampai pesan). Teori Komunikasi dan Komunikasi Massa Sedangkan Harold Laswel (Effendy. to whom. says. Untuk itu perlu disusun kerangka teori yang akan memuat pokok-pokok pikiran dari sudut mana masalah akan disoroti. with what effect. mempengaruhi (to influence) (Effendi. menghibur (to entertaint). siaran radio dan televisi yang ditujukan kepada umum. Media massa sebagai saluran komunikasi massa merupakan lembaga. Bertitik tolak dari defenisi ini suatu berita yang disajikan dalam televisi harus merupakan berita-berita yang dianggap menarik perhatian penonton dan merupakan berita yang penting yang akan menyaksikan apakah berita itu menarik atau tidak. opini. khususnya masyarakat yang menonton Siaran Liputan 6 SCTV di Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi. URAIAN TEORITIS . Kerangka teori ini berfungsi sebagai pendukung untuk menganalisa variabel-variabel yang akan diteliti. 1991 : 41)”. what. “Kerangka berpikir merupakan hasil berpikir rasional yang di tuangkan secara tertulis meliputi aspek-aspek yang terdapat di dalam masalah dan sub masalah (Nawawi.Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah : Secara praktis penelitian ini merupakan masukan bagi pemirsa SCTV dalam memilih acara penayangan berita atau informasi. Kerangka Teori Setiap penelitian tentunya memerlukan kejelasan titik tolak atau landasan berpikir dalam memecahkan atau menyoroti masalahnya. media (sarana penyampai pesan). Dan sebagai salah satu bentuk atau proses komunikasi. komunikasi (penerima pesan). 1990 : 10) mendefenisikan komunikasi dengan mencoba menjawab beberapa unsur berikut ini :who. komunikasi massa mempunyai fungsi sebagai berikut : menyampaikan informasi (to inform). dimana komunikatornya melembaga. Menurut Effendy (1993. F. penelitian ini diharapkan akan dapat memperkaya khasanah penelitian masyarakat. film yang dipertunjukkan di gedung bioskop. berita. Berita Berita adalah pemberitahuan atau informasi yang disampaikan kepada khalayak melalui media massa. Sedangkan menurut Effendy (1993 : 79) komunikasi melalui media massa modern yang meliputi surat kabar yang mempunyai sirkulasi yang luas. Penting tidaknya suatu berita kepada khalayak. 1993 : 31). in which channel. Secara pribadi. dan bukan hanya satu atau beberapa individu atau sebagian khusus populasi. Maka dapatlah diberikan beberapa pengertian yang berhubungan dengan penelitian yaitu : komunikasi dan komunikasi massa. sangat tergantung kepada media massa sebagai pihak yang menyajikan berita. effek (umpan balik sebagai reaksi komunikan terhadap pesan yang disampaikan). Komunikasi juga mempunyai anggapan tersirat akan adanya alat-alat khusus untuk menyampaikan informasi agar komunikasi itu dapat mencapai pada saat yang sama semua orang yang mewakili berbagai lapisan masyarakat. : 67) mendefenisikan berita dengan : berita adalah pelaporan tercepat mengenai fakta atau opini yang mengandung hal yang minat atau penting kedua-duanya bagi sejumlah penduduk yang besar. mendidik (to educate). 1993 : 188) komunikasi dialamatkan kepada sejumlah populasi dari berbagai kelompok.

mengenai suatu hal yang dikomunikasikan. maksudnya memiliki makna yang sama. hal itu mengingat bahwa kunci dari komunikai adalah informasi. komunikasi massa didefenisikan sebagai bentuk komunikasi yang menggunakan sarana-sarana teknik yang mampu menyampaikan pesan kepada suatu khalayak yang besar dalam waktu relatif atau bahkan secara langsung. komunikasi adalah proses penyampaian lambang-lambang yang bermakna bagi kedua belah pihak. with what effect. Menurut Effendy (1992 : 28) pernyataan itu adalah pikiran atau perasaan seseorang yang dinyatakan kepada orang lainnya dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya. Komunikasi pada hakekatnya merupakan pernyataan antara manusia. bahkan ingin mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya. Istilah komunikasi dalam bahasa Inggris disebut “communication” yang berasal dari bahasa latin “communicatio” yang bersumber dari kata “communis” yang artinya sama. 2. komunikan (penerima pesan). Jadi komunikasi berlangsung apabila orang-orang yang terlibat terdapat kesamaan makna. Yang berarti komunikasi memiliki lima unsur yang terdiri dari komunikator (penyampai pesan). Defenisi lain yang dipakai untuk memahami pengertian komunikasi yaitu seperti yang dijabarkan oleh Leswell yang menjelaskan didalam komunikasi terdapat unsurunsur komunikasi yaitu :who. Pengertian Komunikasi Komunikasi merupakan bagian yang sangat penting bagi kehidupan manusia sejak dahulu hingga sekarang. media (sarana penyampaian pesan). Proses itu kemudian mennimbulkan suatu dampak yang berati efek. Dari defenisi-defenisi yang dikemukakan diatas dapat disimpulkan komunikasi merupakan proses penyampaian atau pengoperan lambang-lambang dalam bentuk informasi. Ia ingin mengetahui lingkungan sekitarnya. Kemudian menurut De Vito (dalam Effendy. efek (berupa umpan balik sebagai reaksi komunikan terhadap pesan yang disampaikan). 1990 : 5) komunikasi adalah kegiatan yang dilakukan seseorang atau lebih yakni kegiatan menyampaikan dan menerima pesan untuk memberi tahu apakah mengubah sikap.1. Menurut Hovland (dalam Arifin. Rasa ingin tahu itu memaksa manusia untuk berkomunikasi. penonton film dan penonton televisi . Sejalan dengan pengertian tersebut Effendi (1992 : 8) mengemukakan. what. in which channel. Pengertian Komunikasi Massa Menurut Ensiklopedi Pers Indonesia (1991 : 314). pesan. Pernyataan Laswell tersebut jelas tertuang dalam penjelasan Effendy (1990 : 10) yaitu proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu. to whom. dimana proses penyamaan makna tersebut menggunakan media sebagai perantaranya. pendengar radio. Komunikasi massa adalah penyebaran pesan dengan menggunakan media massa yang ditujukan kepada massa yang abstrak atau sejumlah orang yang tidak nampak oleh si penyampai pesan. Sebagai makhluk sosial senantiasa ingin berhubungan dengan manusia yang lainnya. pendapat atau perilaku baik langsung secara lisan maupun tidak langsung secara tulisan. says. 1988 : 25) menyatakan komunikasi adalah proses dimana seseorang (komunikator) menyampaikan perangsang (biasanya lambang-lambang dalam bentuk kata-kata) untuk mengubah tingkah laku orang lain. Komunikasi Massa A. Pembaca koran. Banyak pakar menilai bahwa komunikasi adalah kebutuhan yang sangat fundamental bagi seorang dalam hidup bermasyarakat.

Pesan-pesan bukan hanya ditujukan pada satu orang saja. akhirnya terciptalah telegraph. juru dongeng keliling. Kelahiran televisi didunia pada abad ke-19 yang berlanjut pada abad ke-20. 3. Sedangkan menurut Freidsow (dalam Rakhmat. maupun gambar diam (still picture). dan tampaknya akan terus berkembang pada abad-abad selanjutnya. Selain media massa modern terdapat media massa tradisional seperti teater rakyat. Menurut Wahyudi (1986 : 42) memberi defenisi komunikasi massa yang menggunakan media massa modern yang terbit atau disiarkan secara periodik Defenisi lain seperti yang diuraikan Effendi (1981 : 59) menyatakan bahwa komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa modern. dimana pada saat itu sedang berlangsung pertemuan para ahli di bidang elektronik dari berbagai negara. Istilah television pertama kali dicetuskan tanggal 25 Agustus 1900 di kota Paris. baik dalam bentuk gambar hidup (moving picture). Melalui perkembangan yang panjang. Secara etimologis istilah televisi berasal dari kata tele (bahasa Yunani) yang berarti jauh. Televisi Televisi merupakan media massa termuda diantara media massa yang lainnya. karena televisi lahir setelah pers dan radio. dan televisi pada abad ke-20. televisi saudara muda dari radio hal ini karena dasar televisi adalah radio. Philipina merupakan negara yang pertama dalam menyelenggarakan siaran . disiarkan. anggota-anggota khalayaknya menyadari bahwa setiap anggota memperoleh materi atau pesan yang sama. 1992 : 188) komunikasi massa dibedakan dari jenis komunikasi lainnya dengan suatu kenyataan bahwa komunikasi dialamatkan pada sejumlah populasi dari berbagai kelompok dan bukan hanya satu atau beberapa individu atau sebagian khusus populasi. siaran radio dan televisi yang ditujukan kepada umum. radio dan televisi. yang meliputi surat kabar yang mempunyai sirkulasi yang luas. isinya pun terbuka bagi setiap orang. film. radio siaran. telepon dan kemudian gelombang-gelombang elegtromagnetik sehingga lahir radio komunikasi. Dengan demikian televisi diartikan dengan melihat jauh diusahakan oleh prinsip gambar. Pernyataan tersebut diperkuat oleh Rakhmat (1988 : 5) komunikasi massa adalah komunikasi umumm bukannya bersifat pribadi.tidak nampak oleh komunikator. Lazimnya media massa modern menunjukkan seluruh sistem dimana pesan-pesan diproduksi. dan visi (vedere. atau dilalakukan oleh komunikan. bahasa latin) berarti penglihatan. Diantara negara-negara berkembang yang tergabung dalam Asean. dimengerti. 4. diterima dan ditanggapi. Pesan yang disebarkan oleh komunikator. Pada tahun 1802 Dane melakukan percobaan sederhana. Bahkan menurut Effendy. Peralihan dari pemilikan atau bahkan penguasaan terhadap media massa relatif tidak berubah hanya berganti variasi yang mana media massa memperkuat kelas-kelas sosial yang ada dalam suatu masyarakat itu sendiri daripada diakibatkan oleh kehadiran media massa. dan film yang dipertunjukkan di gedung-gedung bioskop. Komunikasi massa atau komunikasi melalui medi massa sifatnya satu arah (one way traffic). dipilih. juru pantun dan lain-lain. tidak diketahui apakah pesan itu diterima. Teori Media Massa Media massa adalah media yang digunakan dalam menyampaikan pesan dari sumber pada khalayak (penerima) dengan menggunakan alat-alat komunikasi mekanis seperti surat kabar. Sederhananya perkembangan permulaan media massa sampai kepada modernisasi pada saat sekarang ini. dari percobaannya itu ditemukan bahwa pesan dapat dikirim melalui kawat beraliran listrik dalam jarak pendek.

seperti konferensi. Gagasan pikiran. yang dapat menarik perhatian khalayak yang sajikan melalui media massa. Itulah sebabnya media televisi disebut tidak menguasai waktu tetapi menguasai ruang. yang berisi tentang : a. foro. Berita A. Artinya menyajikan informasi dalam bentuk audio visual secara sinkron d. Artinya visual yang ditampilkan mengutamakan yang bergerak (moving effects) c. Pengertian Berita Menurut Hepwood (dalam Assegaff. c. Selain itu juga televisi mampu menyodorkan gambar yang lebih hidup. telop dapa disajukan melalui media televisi. b. Dengan kata lain berita adalah realitas yang diberikan. efek yang dihasilkan dapat merangsang fantasi pemirsa. tokoh-tokoh yang ditampilkan menjadi hidup. seperti situasi ekonomi. Media televisi adalah media elektronik. Artinya visual dalam bentuk slide. perasaan. pertandingan. umpan balik. 182 : 24) berita adalah suatu penuturan secara benar dan tidak memihak dari fakta-fakta yang mempunyai arti penting dan baru terjadi. ketegangan. f. film. televisi juga memiliki karakteristik psikologis yang khas. Media televisi adalah audio visual. Peristiwa atau kejadian. perang dan lain-lain. Hal ini dapat kita lihat dari media televisi itu antara lain : a.televisi yaitu pada tahun 1952. seperti soal cinta kasih masalah umum dan lainlain. Sedangkan di Indonesia dimulai pada tanggal 17 Agustus 1962 ketika Asean Games IV. Media televisi adalah media yang mengutamakan efek gerak. Dunia nyata adalah obyek yang dapat dilihat dengan mata seperti apa adanya. bencana alam. Hal ini tampak pada pengendalian arus informasi. Sedangkan menurut Junaedhie (1991 : 26) berita adalah pemberitahuan tentang informasi yang diberitahukan kepada khalayak melalui media massa. 5. Artinya media televisi tidak dapat menyajikan isi pesan atau informasi rinci karena isi pesan yang sajikan hanya lewat atau hanya sekejap. Sebagai salah satu bentuk komunikasi massa. foto. politik dan lain-lain. pertumbuhan. Artinya hanya bisa berfungsi bila ada tenaga listrik b. Pengungkapan realitas ini haruslah ditunjang oleh bahan berita yang secara keseluruhan sedapat-dapatnya unsur- . Pada dasarnya. 6. Media televisi media yang mengutamakan visual yang cluse up dari individu karena layar televisi relatif kecil e. pendapat. sedangkan dunia baru adalah visual yang kita lihat dilayar televisi. stimulasi alat indera dan proporsi terutama dalam hal ini adalah pemirsa melalui media pandangan dan pendengan (audio visual). Fungsi Televisi Sebagai Media Elektro Televisi yang merupakan media komunikasi massa produk revolusi elektronik diabad 20. Media televisi bukan media yang menyajikan pesan (informasi audio visual) secara rinci. telop). Keadaan. produk informasi audio visual gerak adalah suatu usaha untuk memindahkan obyek/benda kedalam realitas kamera melalui pendekatan sistem lensa atau dengan kata lain usaha mengubah dunia nyata kedalam dunia baru. mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan manusia. Media televisi merupakan media terpadu dengan sarana yang lain (silde.

unsur lima W + 1H yakni : Apa. karena tujuan pemuatan suatu berita adalah agar disaksikan khalayak. Penilaian suatu berita secara umum dapat dinilai melalui beberapa unsur. lingkungan yang terkena oleh berita) • Penting karena ternama • Keluarbiasaan berita • Akibat yang mungkin ditimbulkan berita • Ketegangan yang ditimbulkan berita • Pertentangan (conflict) yang terdapat dalam berita • Kemajuan-kemajuan yang diberitakan • Emosi yang ditimbulkan berita b. Misalnya berita perombakan kabinet. Sejauhmana . Whom Where. Kedekatan (Proxinity) Berita tentang musibah atau bencana di tanah air misalnya. akan bernilai tinggi karena diminati banyak orang. Disini berlaku hukum klasik. biasanya bernilai berita tinggi. • • • • Apa yang menarik perhatian khalayak haruslah terdapat dalam sebuah berita. unsur ini juga menyangkut emosi. Nilai dan Unsur Berita Nilai berita (New Value) juga mempengaruhi dalam menyiarkannya kepada masyarakat. Assegaf (1983 : 25-26) menjelaskan beberapa unsur-unsur berita tersebut : • Berita haruslah termasa (baru) • Berita itu penting (dekat jaraknya. berita-berita yang menyentuh unsur-unsur kemanusian. Sehingga meski musibah itu terjadi di mancanegara jika berita itu menggugah emosi pemirsa. Kemasyuran (Prominence) Berita-berita yang menyangkut pautkan nama-nama orang termasyur biasanya juga bernilai berita tinggi. karena ada berita maka ada media massa. Why. niscaya akan bernilai berita tinggi daripada musibah yang terjadi di India. Siapa. Akibat (Consequence) Berita yang diduga berdampak luas. penempatan nilai juga tergantung pada cakupan wiayah yang terdiri dari : berita lokal. Berita Dalam Media Massa Antara berita dan media massa satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan. berita nasional dan berita internasional. Selain pada nilainya. a. Atau berita sejenis yang terjadi di India akan lebih berarti dibandingkan yang terjadi di Bangladesh. Manusiawi (Human interest) Pada akhirnya. Beritaberita tentang sesuatu yang sedang hangat dibicarakan orang juga bisa digolongkan dalam bagian ini. Nilai berita sebagai ukuran layak tidaknya suatu berita dipilih dan dipublikasikan. Dimana. juga bis disebut bernilai berita. Kapan. When. pengunduran diri perdana menteri. and How). Mengapa. Bagi media massa berita merupakan nadi bagi kehidupannya selanjutnya media merupakan alat atau sarana bagi berita. dan Bagaimana (What. dapat dilihat seperti diuraiakan Junaedhie (1991 : 177) : • Ketepatan waktu (Timeless) Berita yang aktual semakin cepat disiarkan akan bernilai berita yang tinggi. Dalam perkembangannya. name makes news atau nama membuat berita.

oleh karena itu selektifitas dari berita tentu diperhatikan demi tercapainya tujuan utama yaitu kelangsungan hidup media massa tersebut. Metode merupakan cara melakukan sesuatu.kedudukan berita. Para ahli mengemukakan berbagai rumusan atau defenisis tentang opini publik. Opini ata pendapat dapat dinyatakan melalui media massa seperti televisi. Sehingga komunikatif media massa tergantung pada berita yang disajikan. yang berbeda-beda satu sama lain. Jadi pengertian opini mempunyai dua unsur yaitu : a. Albig (dalam Meinando. Menurut Childs (1965) hal ini terjadi karena perbedaan interest (titik perhatian) dalam mengkaji opini publik tersebut. Selanjutnya pengertian publik menurut Soekamto (dalam Sunarjo. Mempunyai pendukung dalam jumlah yang besar. Merupakan sintesa atau kesatuan dari banyak pendapat c. Metode berasal dari bahasa Yunani. serta kemanakah arah dan tujuan dari media massa memandang dan menempatkan posisi berita tersebut. televisi. Interaksi yang terjadi secara tidak langsung melalui media massa komunikasi massa. serta kemanakah arah dan tujuan dari media massa tersebut juga tercermin dalam berita. Sedangkan menurut Hartono. Metode . Opini atau pendapat mempunyai ciri-ciri yaitu : a. Selalu diketahui dari pernyataan-pernyataan b. Seperti dikemukakan Effendy (1993 : 45) 7. Opini Publik Untuk memberikan pengertian opini publik perlu dijelaskan terlebih dahulu hakikat dari opini dan publik. Metodologi Penelitian. hal ini tergantung pada kejadian dan kelincahan media massa memandang dan menempatkan posisi berita tersebut. Opini merupakan expressed statement yang biasa diucapkan dengan kata-kata isyarat atau cara lain yang lain mengandung arti dan dapat dipahami maksudnya. Sedangkan menurut Carl I Hovland opini dimulai sebagai jawaban yang diucapkan dan diberi individu terhadap suatu rangsangan atau situasi yang mengemukakan beberapa pertanyaan yang dipermasalahkan. Dari opini dan publik timbullah istilah opini publik. 1983 : 314). misalnya radio. Pernyataan b. surat kabar. Mengenai masalah yang bertentangan c. 1984 : 19) adalah kelompok yang tidak merupakan kesatuan. 1980 : 29) menyatakan bahwa opini adalah suatu pernyataan mengenai sesuatu yang sifatnya bertentangan. Methodus berarti cara. misalnya pembicaraan secara pribadi desas-desus media komunikasi massa. radio maupun surat kabar dan majalah. Publik merupakan kelompok yang abstrak dari orang-orang yang menaruh minat pada suatu persoalan atau kepentingan yang sama dimana mereka terlibat dalam suatu pertukaran pikiran melalui komunikasi tidak langsung untuk mencari penjelasan atau kepuasan atas persoalan atau kepentingan mereka itu (Rousydy. Komunikasi terlebih komunikasi massa dewasa ini sangat berperan penting dalam mempengaruhi khalayak. Sehingga komunikatif tidaknya komunikasi media massa tergantung pada berita yang disajikan. METODOLOGI PENELITIAN a. dan sebagainya. Ia menggambarkan prosedur dalam melakukan sesuatu.

Penelitian lapangan yang penulis lakukan disini adalah dengan terjun langsung ke tempat penelitian yang dijadikan pembahasan dengan cara : • Pengamatan (oberservasi). Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi yang jumlahnya 5. 4. Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah Masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi. kelas atau kelompok kemudian dari setiap strata diambil sampel yang sebanding dengan besar setiap strata (Rakhmat. 6. Teknik Analisis Data Untuk menganalisis data dilakukan analisis kualitatif. mengidentifikasikan masalah serta membuat perbandingan atau evaluasi (Rakhmat. 1995 : 144). Teknik Pengumpulan Data Dalam melakukan kegiatan penelitian untuk memperoleh data maka penulis menggunakan teknik sebagai berikut : a. 1995 : 27). 2. Sampel adalah sebagian dari populasi yang menjadi sumber data sebenarnya dalam suatu penelitian (Rakhmat. Metode kualitatif bertujuan untuk meneliti sejauh mana pengaruh liputan 6 SCTV terhadap opini dan tingkat pengaruh terhadap masyarkat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi. Analisis kualitatif menggunakan tabel tunggal. Lokasi penelitian ditetapkan di Kalurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi. informasi dan keterangan melalui buku-buku teoritis yang berhubungan dengan masalah yang diteliti b. sebagaimana dapa kita lihat pada tabel hasil penelitian ini. Lokasi Penelitian. yaitu mengadakan pengamatan langsung ke objek penelitian untuk mengamati secara dekat masalah yang dihadapi • Angket yaitu menyebarkan daftar pertanyaan kepada responden dengan memilih salah satu jawaban yang telah disediakan dalam daftar pertanyaan. Penelitian kepustakaan. Penelitian lapangan.bertujuan untuk mengumpulkan informasi. . Sampel Sampel merupakan sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti dan dianggap menggambarkan ciri-ciri yang akan diteliti. 5. Populasi Populasi adalah wilayah generasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kwalitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditetapkan kesimpulannya (Sugiono. Populasi dan Sampel 1. Adapun jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 100 jiwa. 1989 : 79). 2. Teknik Penentuan Responden Teknik penentuan responden yang digunakan yaitu teknik sampling proporsional yaitu dengan melibatkan pembagian populasi kedalam kategori. yaitu aktivitas penelitian dengan cara mengumpulkan data. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. yaitu suatu aktivitas penelitian untuk mencari data-data yang lengkap dan akurat yang berkaitan dengan judul yang diteliti. iii.066 jiwa. 1994 : 57).

23 4 4 23 . e. Sangat percaya 67 67 b.37 22 22 37 . 2 Jenis Kelamin Responden Jenis Kelalmin F % a. f.55 10 10 55 keatas 4 4 Jumlah 100 100. F % 17 . Tabel. untuk kelompok usia 23-30 tahun berjumlah 19 responden atau 19%. Dalam hal ini angket disebarkan kepada responden yang memenuhi persyaratan akurat dimana angket disusun berdasarakan usia. II Tabel lll menunjukkan bahwa responden laki-laki lebih banyak yaitu 71 responden atau 71%.49 21 21 49 .00 Sumber Angket No. Hal ini menunjukkan tingkat perhatian laki-laki besar dibanding perempuan dalam menonton liputan 6 SCTV. maka penulis mengajukan data-data tersebut dalam bentuk tabel. Hal ini menunjukkan bahwa yang paling banyak berusia antara 30-37 responden. Tabel. 1 Usia Responden Usia a.43 20 20 43 . memang dianggap usia seperti itu sangat dianggap masih produktif walaupun lainnyaa juga sangat produltif. Percaya 25 25 c. Kurang percaya 7 7 . kelompok usia 49 – 55 berjumlah 10 responden atau 10% dan yang kelompok usia 55 ketasa sebanyak 4 responden atau 4%. untuk usia 43 – 49 berjumlah 21 responden atau 21%. I Tabel diatas memperlihatkan bahwa usia 17-23 tahun menunjukkan jumlah frekuensi salah satu yang terkecil sebanyak 4 atau 4%. Untuk memudahkan mendapatkan data yang diperlukan.30 19 19 30 . dimana tabel tersebut sesuai banyaknya pertanyaan yang diberikan. maka setiap responden diberikan kebebasan untuk mengisi angket (daftar pertanyaan) sesuai dengan pendapat mereka masing-masing tanpa pengaruh atau paksaan dari pihak lain. g. 3 Kepercayaaan Responden terhadap Liputan 6 SCTV Jawaban F % a. Sedangkan perempuan berjumlah 29 responden atau 29%.00 Sumber Angket No. Perempuan 29 29 Jumlah 100 100. jenis kelamin dan semester.PENYAJIAN DATA Berdasarkan hasil data-data yang terkumpul baik melalui observasi dan penyebaran angket. Tabel. d. Laki-laki 71 71 b. c. kelompok usia 30 – 37 berjumlah 22 responden atau 22% untuk usia kelompok 37 – 43 berjumlah 20 responden atau 20%. b.

5 Jawaban Responden Tentang Jelas Tidaknya Suatu Berita Yang di Tayangkan Liputan 6 SCTV Jawaban F % a. Jelas 35 35 c. Sangat sesuai 43 43 b. Hal ini berarti bahwa berita yang ditayangkan di liputan 6 SCTV menarik bagi mayaraskat Tebing Tinggi. sedangkan menyatakan tidak percaya 1 responden atau 1%. responden yang menyatakan kurang percaya 7% orang. Tabel. IV 1 100 1 100. Sangat jelas 54 54 b. Tidak menarik 1 1 Jumlah 100 100. 6 Jawaban Responden Tentang Berita Liputan 6 SCTV Dapat di Percaya Atau Tidak Jawaban F % a. Dari tabel dapat dilihat bahwa berita yang ditayangkan liputan 6 SCTV jelas khususnya bagi masyarakat Tebing Tinggi. 25%. sedangkan yang menyatakan tidak jelas 1 responden atau 0. Tidak percaya Jumlah Sumber Angket No. 35 responden atau 35% menyatakan jelas. VI Berdasarkan tabel diatas diketahui sebanyak 54 responden atau 47.71%. yang menyatakan menarik 31 responden atau 31%. Tidak sesuai 1 1 Jumlah 100 100. responden Dari tabek dapat dilihat bahwa liputan 6 SCTV dapat dipercaya. yang menyatakan kurang menarik 5 responden atau 5% dan yang menyatakan tidak menarik 1 responden atau 1%. Tabel .00 Sumber Angket No.85% yang mengatkan sangat jelas akan isi berita yang ditayangkan liputan 6 SCTV. 4 Jawaban Responden Tentang Menarik Tidaknya Suatu Berita Yang Ditayangkan Liputan 6 SCTV Jawaban F % a.d. Menarik 31 31 c. responden yang menyatakan percaya. Tidak jelas 1 1 Jumlah 100 100. Kurang menarik 5 5 d. Sangat manarik 63 63 b. V Dari tabel diatas diperoleh data 63 responden atau 632% responden yang menyatakan sangat menarik. Sesuai 43 43 c.00 Dari tabel diatas data 67 responden sangat percaya atau 67%. Kurang sesuai 13 13 d. khususnya bagi kalangan masyarakat Tebing Tinggi. Tabel . Kurang jelas 10 10 d.00 Sumber Angket No.00 . 10 responden atau 10% yang menyatakan kurang jelas.

Tabel. Sehingga dapat dilihat bahwa berita yang disiarkan di liputan 6 SCTV memang berdasarkan dengan kenyataan atau fakta serta tidak mengada-ada dan dapat dipertanggungjawabkan. Sangat yakin 42 42 b. Tidak percaya 3 3 Jumlah 100 100. XI Dari tabel diperoleh data 41 responden atau 41% responden yang menyatakan sangat lengkap. Yakin 44 44 c. Tabel. 13 responden atau 13% menyatakan kurang sesuai dan yang menyatakan tidak sesuai 1 responden atau 1%. Kurang lengkap 9 9 d. yang menyatakan lengkap 49 responden atau 49% menyatakan kurang lengkap 9 responden atau 9% dan yang menyatakan tidak lengkap 1 responden atau 1%. 43 responden atau 43% menyatakan sesuai. XV . yang menyatakan yakin 44 responden atau 44% kurang yakin sebanyak 11 responden atau 11% dan yang tidak yakin sebanyak 3 responden atau 3%.00 Sumber Angket No. Sangat percaya 43 43 b. Tidak lengkap 1 1 Jumlah 100 100. Tabel. 9 Jawaban Responden Tentang Berita Liputan 6 SCTV Apakah Mempercayai Isi Berita Jawaban F % a. VII Dari tabel diatas diperoleh data 43 responden atau 43% responden menyatakan sangat sesuai. Ini menunjukkan bahwa Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir merasa yakin akan berita yang ditayangkan di liputan 6 SCTV. Kurang yakin 11 11 d.Sumber Angket No.00 Sumber Angket No. Kurang percaya 10 10 d. Sangat lengkap 41 41 b. 8 Jawaban Responden Tentang Berita Liputan 6 SCTV Apakah Sudah Merasa Yakin Dengan Berita Tersebut Jawaban F % a. Tidak yakin 3 3 Jumlah 100 100. XII Dari tabel diperoleh data 42 responden atau 42% yang menyatakan sangat yakin. Lengkap 49 49 c. Dari tabel dapat dilihat bahwa berita liputan 6 SCTV menurut masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Tebing Tinggi sangat lengkap.00 Sumber Angket No. Percaya 47 47 c. 7 Jawaban Responden Tentang Berita Liputan 6 SCTV Apakah Sudah Lengkap Jawaban F % a.

yang menyatakan sangat senang 41 responden atau 41% yang menyatakan senang 12 responden atau 12% dan yang kurang senang. Tabel. 10 Jawaban Responden Tentang Berita Liputan 6 SCTV Apakah Sudah Memahami Berita Tersebut Jawaban F % a. XVI Dari tabel diperoleh data responden yang menyatakan memahami sebanyak 33 responden atau 33% yang sangat memahami 49 responden atau 49% sedangkan kurang memahami 15 responden atau 15% dan yang tidak memahami 3 responden atau 3%. Puas 38 38 c. XVIII Hasil tabel menunjukkan bahwa mahasiswa amat senang akan berita yang ditayangkan di liputan 6 SCTV yaitu sebanyak 38 responden atau 38%. Memahami 49 49 c. 11 Jawaban Responden Tentang Berita Liputan 6 SCTV Apakah Menyenangi Berita Liputan 6 Jawaban F % a. 9 responden atau 9% tidak senang. karena berita yang disajikan kepada khalayak sesuai dengan kenyataan dan fakta yang terjadi di lapangan atau tempat kejadian dimana peristiwa tersebut terjadi. Kurang memahami 15 15 d. XX . Kurang puas 13 13 d. Tabel. Kurang senang 12 12 d. Sangat puas 38 38 b. Senang 41 41 c. Tidak memahami 3 3 Jumlah 100 100. Ini berarti bahwa mahasiswa merasa percaya pada isi berita yang ditayangkan liputan 6 SCTV. Hal ini berarti Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Tebing Tinggi sangant menyenangi berita liputan 6 SCTV. Sangat senang 38 38 b. Dari tabel dapat dilihat bahwa Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi memahami berita di liputan 6 SCTV.00 Sumber Angket No.00 Sumber Angket No. Tidak puas 11 11 Jumlah 100 100. Sangat memahami 33 33 b.00 Sumber Angket No. Tabel.Tabel diatas menunjukkan responden yang menyatakan percaya pada isi berita liputan 6 SCTV sebanyak 43 responden atau 43% yang menyatakan sangat percaya 47 responden atau 47% yang menyatakan kurang percaya 10 responden atau 10% dan yang tidak percaya 3 responden atau 3%. Tidak senang 9 9 Jumlah 100 100. 12 Jawaban Responden Tentang Berita Liputan 6 SCTV Apakah Puas Dengan Isi Berita Liputan 6 Jawaban F % a.

yang menyatakan kurang mempengaruhi 16 responden atau 16% dan yang menyatakan tidak mempengaruhi 3 responden atau 3%. Tabel. Tidak mempengaruhi 3 3 Jumlah 100 100. yang menyatakan puas 38 responden atau 38%. yang menyatakan kurang puas 13 responden atau 13% dan yang tidak puas 11 responden atau 11%. Kurang simpati 19 19 d. 13 Jawaban Responden Tentang Berita Liputan 6 SCTV Apakah Merasa Simpati Pada Isi Pesan Yang Disampaikan Jawaban F % a. Simpati 42 42 c. Hasil tabel menunjukkan bahwa masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir sangat puas terhadap isi berita liputan 6 SCTV. Bagi masyarakat yang menjadi responden dalam penelitian ini menyatakan bahwa mereka sangat cenderung menyaksikan menonton liputan 6 SCTV. menunjukkan bahwa siaran liputan 6 SCTV sangat berpengaruh terhadap opini masayarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi. Ini berarti bahwa masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir merasa simpati terhadap isi beriat liputan 6 SCTV. Dari hasil penelitian masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi menyatakan bahwa pemberitaan di liputan 6 SCTV sangat menarik dan berita-berita yang ditayangkan juga sangat jelas. Pembahasan Data Dari hasil penelitian yang dilakukan. A. hal ini sangat positif bagi masyarakat karena dapat menambah wawasan dan pengetahuan yang lebih luas dibandingkan mahasiswa yang tidak cenderung menonton liputan 6 SCTV. XXI Hasil tabel responden yang menyatakan sangat simpati sebanyak 37 responden atau 37% yang menyatakan simpati 42 responden atau 42%. 14 Jawaban Responden Tentang Berita Liputan 6 SCTV Apakah Berita Tersebut Dapat Mempengaruhi Jawaban F % a. Tabel. Tidak simpai 2 2 Jumlah 100 100.Dari tabel diatas data responden yang menyatakan sangat puas 38 dengan responden atau 38%.00 Sumber Angket No. Sangat mempengaruhi 29 29 b. yang menyatakan simpati kurang 19 responden atau 19% dan yang menyatakan tidak simpati 2 responden atau 2%. Sangat simpati 37 37 b. XXII Hasil tabel memperlihatkan bahwa responden yang menyatakan sanagt mempengaruhi sebanyak 29 responden atau 29% yang menyatakan mempengaruhi 52 responden atau 52%. Masyarakat mengatakan . Mempengaruhi 52 52 c. Kurang mempengaruhi 16 16 d. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa berita liputan 6 SCTV mempengaruhi sikap Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi.00 Sumber Angket No.

Hendaknya masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi tetap menyaksikan acara liputan 6 SCTV karena dapat menambah wawasan serta dapat mengetahui hal-hal apa saja yang terjadi di tanah air dan di luar negeri 3. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh siaran liputan 6 SCTV terhadap opini Masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi sangat memuaskan. dan pemebritaan itu masayarakat menyatakan sudah lengkap. seperti mereka setiap hari menontonnya. 2. berdasarkan dari jawaban responden /masyarakat banyak. apabila mereka tidak menyaksikan pemeberitaan Liputan 6 SCTV mereka merasa kurang dalam hal informasi. juga bagi masyarakat yang menjadi responden dalam penelitian ini menyatakan bahwa sangat cendrung menyaksikan pemebritaan Liputan 6 SCTV . kita sudah puas dan dapat kita pahami pemberitaan yang disiarkan itu. Berita yang disajikan dalam liputan 6 SCTV sebagian besar Masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi sangat percaya dan merasa yakin akan isi pesan yang disampaikan liputan 6 SCTV setiap hari 5. mendukung dan sangat setuju dan sesuai acara liputan 6 SCTV dan acara lainnya. Bahwa siaran liputan 6 SCTV sangat berpengaruh dan sangat di percaya terhadap opini Masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi. 3. Masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi sangat simpati terhadap siaran pemberitaan Liputan 6 SCTV. PENUTUP Kesimpulan 1. 4. Masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi menunjukkan bahwa Masyarakat sangat berminat menyaksikan siaran berita liputan 6 SCTV. peneliti 4. Saran-saran. serta dapat mempertahankan hal-hal yang menjadi ciri khasnya seperti mempertahankan ketajaman dan keberanian dalam penyampaian berita 2. responden banyak menonton liputan 6 SCTV adalah masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi sangat berminat untuk menonton liputan 6 SCTV. Diharapkan kepada masyarakat agar selalu menonton berita liputan 6 SCTV supaya menambah wawasan dan ilmu pengetahuan. dimana peristiwa itu betul terjadi serat tidak mengada-ada dan dapat dipertanggungjawabkan. Dari hasil penelitian yang dilakukan di Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi. Tingkat minat menonton Masyarakat Kelurahan Tebing Tinggi Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi terhadap liputan 6 SCTV cukup tinggi. hal ini sangat positif bagi mereka karena dapat menambah wawasan dan pengetahuan yang lebih luas dibandingkan bagi masyarakat yang jarang dan tidak pernah menyaksikan pemebitaan tersebut. . sehingga dapat mempengaruhi sikap masyarakat. Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti. 1.bahwa berita yang disiarkan itu dapat kita lihat berdasarkan kenyataan dan fakta. Dalam menghadapi persaingan bebas yang semakin ketat maka acara liputan 6 SCTV hendaknya terus merevisi beberapa hal yang terasa masih kurang seperti tambahan untuk materi berita.

... Hadari....... 1993 Psikologi Komunikasi. Bandung.. Nawawi......5. Madar Maju. Jakarta. Jurnalistik Masa Kini..... Alo.1998 Sosiologi Komunikasi Massa Bandung. DAFTAR PUSTAKA Assegaff. Alumni.... Wawan. Dimensi-Dimensi Komunikasi....... Rakhmat. 1986.... 1988 Strategi Komunikasi... Dja’far. . Onong U.. Bandung.1990 Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek... 1991. Quail.. Diharapkan penelitian ini dapat dilanjutkan oleh peneliti-peneliti lain dengan pembahasan indikator variabel yang lebih banyak dan lokasi yang lebih luas. 1991. Remaja Rosda Karya.. Bandung......... Pustaka Utama.. Erlangga....... 1982.. H......1986 Dinamika Komunikasi...... Mc... Effendy........ .... Citra Aditya Bakti.. ......... Jalaluddin... Bandung..... Armico.... Bandung Remaja Rosda Karya..1993 Televisi Siaran Teori dan Praktek... Jakarta Ghalia Indonesia...... Reneca Cipta.. Metode Penelitian Bidang Sosial. Bandung... 1966...... Remaja Rosda Bakti.. Teori-teori Komunikasi Massa. Alumni.. Kuswandi.. Memahami Peran Komunokasi Massa Dalam Masyarakat. 1980 Metode Penelitian Komunikasi Bandung Alumni. Komunikasi Massa Sebuah AnalisisMedia Televisi Jakarta.. Prosudur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Jakarta : Rinaka Ciptan Arifin.......... Kurniawan....... Suharsisi.. Arikuntoro.. Jakarta. Liliweri.... 1991 Ensiklopedi Pers Indinesia... ........ Bandung .. Dennis 1989........Remaja Rasda Karya. Anwar.. Junaedhie. . Bandung..... ..... 1997..

Instrumen yang dipakai adalah materi (informasi) dari peserta Pemilu. Fungsi pemilihan umum seperti demikian nampaknya tidak memberi pembelajaran politik kepada masyarakat.AKSES INFORMASI POLITIK DARI PERSPEKTIF BIROKRAT (Studi Kasus Pada Pegawai Negri Sipil Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta) Oleh: Emmy Poentarie ABSTRACT The results showed that voters Provincial Government Daerah Istimewa Yogyakarta civil servants is an active audience who behave rationally. DPD. Kebanyakan dari para pemilih tersebut tidak mengetahui pengalaman politik para wakilnya. kredibilitas. can be categorized into two namely "prospective voters" and "retrospective voters". Dengan demikian idealnya informasi yang disampaikan dalam kampanye terkait dengan kompetensi. program dan kebijakan yang ditawarkan peserta Pemilu dapat menjadi bahan evaluasi rakyat untuk menentukan pilihannya secara tepat (Pamungkas. demikian juga bagi para pemilih tidak kesulitan dalam mencoblos. identifikasi politik mereka terletak pada partai politik yang diketahui dari tanda gambarnya. Gambar partai apa yang memperoleh suara terbanyak di DPR misalnya adalah representasi partai pemenang dan memperoleh legitimasi. Perangkat yang dipakai salah satunya adalah materi kampanye dari peserta Pemilu. the absorption of information. Sejak pemilihan pertama dilaksanakan pada tahun 1955 masyarakat Indonesia hampir tidak pernah mengetahui dengan pasti calon legislatif yang mewakilinya dalam lembaga legislatif. technical and human resources are concerned. Attempts to access the information carried by the media and also uses the non-media (directly face to face). Metode pemilihan umum dengan hanya mencoblos (dewasa ini berubah menjadi ‘mencontreng’) tanda gambar sebenarnya lebih mempermudah sosialisasi peserta pemilihan umum. 2009:6). yang diharapkan bisa mencerdaskan pemahaman politik dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai demokrasi. facilities. ideologi. Peran itu terutama dilakukan oleh partai politik maupun individu peserta Pemilu. Para pemilih datang ke lokasi-lokasi pemilihan umum untuk ‘mencoblos’ 3 (tiga) tanda gambar peserta pemilihan umum. dan kedekatan . Based on the priorities and the reasons stands on the information required by the Provincial Government of voters civil servants. dan tentunya waktu yang digunakan dalam bilik suara akan lebih cepat. diikuti oleh 38 partai politik peserta pemilihan umum. the Legislative Elections 2009) PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Pemilihan Umum (Pemilu) Tahun 2009 bagi anggota DPR. tailored to the level of skills in accessing information voters. maupun DPRD dilaksanakan pada bulan April 2009. before the political choices needed information Legislative Election 2009. Problems faced in access to information include the availability of information. Pemilihan umum merupakan salah satu bentuk pendidikan politik yang bersifat langsung. The government should understand these conditions by providing information relating to the General Election which can be accessed easily and cheaply. (Keywords: information. terbuka dan massal.

khususnya yang berada di lingkungan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka dilarang terlibat aktif dalam kegiatan kepartaian seperti kampanye.calon anggota legislatif. menyentuh langsung aspirasi mereka. dan tentunya sangat mudah dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat. mobilisasi partisipasi pegawai negeri sipil secara menyeluruh di Indonesia diorientasikan kepada organisasi peserta pemilihan umum dari Golongan Karya (Golkar). Ketika PNS menjadi alat kekuatan politik dari partai politik tertentu. Namun demikian nampaknya keinginan masyarakat (dalam hal ini PNS) untuk memperoleh informasi akurat dari partai maupun calon anggota legislatif semakin sulit menghadapi Pemilihan Umum 2009. berpotensi menjadi tidak netral. 23 Maret 2009:1). Informasi politik dari calon legislatif maupun partai politik merupakan variabel sangat penting bagi calon pemilih untuk menentukan pilihan politiknya secara akurat sesuai dengan referensi dan aspirasi politiknya. Juga visi. dan menjadi anggota salah satu partai. Gubernur DIY yang juga Sultan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat waktu itu adalah salah satu tokoh Golkar. tanpa penyimpangan. sehingga dengan mudah para abdi negara di lingkungan ini memiliki kecenderungan memilih Golkar. PNS diberi kebebasan untuk memilih partai maupun calon anggota legislatif sesuai aspirasi masing-masing saat pemilihan umum. Dengan demikian bukan tidak mungkin masyarakat kekurangan kesempatan memperoleh informasi politik yang mendorong pikiran kritis mereka. informasi tersebut tidak mudah didapat. obral janji dan pengerahan massa terjadi setiap kali kampanye digelar (Kompas. misi dan program-program yang akan dilaksanakan oleh partai secara jelas. Sosiolog politik Sunyoto Usman mengakui bahwa aksi partai politik dan calon anggota legislatif ketika menggelar kampanye nyaris tidak berbeda dari pemilihan umum sebelumnya. Namun dalam kenyataannya. Di era reformasi sejak 1999. Menarik untuk diketahui bagaimana para PNS tersebut mengambil keputusan memilih partai politik serta calon wakil rakyat di DPR. Tata cara pemilihan umum merupakan salah satu cerminan kehidupan berdemokrasi masyarakat. DPD. maka dalam menjalankan tugas dan fungsinya PNS cenderung akan bersifat parsial. Kasus anggota Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi menarik untuk diangkat sebagai persoalan penelitian. Pasal 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 melarang keberpihakan PNS terhadap partai politik tertentu. sehingga memperoleh pembelajaran politik yang lebih rasional. kedudukan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam kehidupan politik ditinjau kembali agar PNS tidak terlibat dalam partai politik manapun. dan DPRD. sedangkan cerminan lainnya terwujud dalam hak memperoleh informasi politik seluas-luasnya. Salah satu hal yang penting dalam pemilihan umum adalah keterlibatan secara politik para abdi negara yaitu Pegawai Negeri Sipil (PNS). Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Kepegawaian Negara mengatur secara tegas netralitas pegawai. menjadi calon anggota legislatif. demikian pula menarik untuk dipahami bagaimana mereka mencari sumber informasi yang dipakai sebagai dasar untuk pengambilan keputusan politiknya. Demikian juga di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Persoalan ini menjadi penting karena bagaimanapun PNS dalam masyarakat tertentu masih dipandang sebagai pemuka masyarakat (opinion leader). Ketika Orde Baru berkuasa. . Informasi yang berciri transparan. Fungsi kampanye pemilihan umum hingga saat ini masih didominasi oleh pemahaman tentang bagaimana mempengaruhi sebanyak mungkin orang untuk memilih calon legislatif maupun partai dalam pemilihan umum.

yakni dapat memberikan masukan bagi pihak-pihak yang berkompeten (pemerintah. Seperti bentuk-bentuk komunikasi yang lain. Sementara Galdnoor (dalam Nasution. 1999:24) menyatakan bahwa komunikasi politik merupakan infrastruktur politik. 2004:xiii). Kedua pihak itu dipertemukan melalui pertukaran pesan komunikasi. Menurut Maran (2001:159) proses ini terjadi secara berkesinambungan dan mencakup pula pertukaran informasi di antara individu-individu dengan kelompok-kelompoknya pada semua tingkatan. maupun partai politik serta calon anggota legislatif) untuk mengetahui kebutuhan masyarakat akan informasi politik (pemilihan umum).Permasalahan Berdasarkan latar belakang di atas maka dapatlah diambil suatu rumusan masalah yaitu: bagaimana Pegawai Negeri Sipil memperoleh informasi politik yang diperlukan sebagai bahan referensi menentukan pilihan politiknya dalam Pemilihan Umum Legislatif 2009? Tujuan dan Manfaat Penelitian yang dilaksanakan bertujuan untuk mengetahui cara Pegawai Negeri Sipil (PNS) memperoleh informasi politik yang diperlukan. Hasil penelitian diharapkan bermanfaat. menggunakan media. Komunikasi politik menjadi penting karena merupakan suatu elemen yang dinamis dan yang menentukan sosialisasi politik serta partisipasi politik. Dalam kegiatan politik pemilihan umum. agregasi. sosialisasi. Di samping itu juga untuk mengetahui dan pemahami kebutuhan informasi Pemilihan Umum Legislatif 2009 dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebagai bahan referensi menentukan pilihan politiknya dalam Pemilihan Umum Legislatif 2009. Kerangka Teoritis Komunikasi merupakan proses yang melibatkan dua pihak yaitu sumber komunikasi dan penerima komunikasi. dan di antara sistem-sistem sosial dengan sistem-sistem politik. sedangkan penerima merupakan pihak yang menerima pesan (informasi) dari sumber. dengan . maupun tanpa media yaitu bila komunikasi berlangsung secara personal. yakni suatu kombinasi dari berbagai interaksi sosial di mana informasi yang berkaitan dengan usaha bersama dan hubungan kekuasaan masuk dalam peredaran. Michael Rush dan Philip Althoff (dalam Maran. dan rekrutmen) yang terdapat dalam suatu sistem politik. hasil penelitian diharapkan dapat memberikan konsep pemikiran bagi partai politik serta calon anggota legislatif yang akan berlaga dalam pemilihan umum. Melalui cara tersebut dapat dicapai deskripsi penggunaan media dan non media dalam mengakses informasi Pemilihan Umum Legislatif 2009 yang diterapkan oleh pemilih dari kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS). komunikasi politik berlangsung sebagai suatu proses penyampaian pesan-pesan tertentu yang berasal dari sumber (selaku pihak yang memprakarsai komunikasi) kepada khalayak. Selanjutnya dapat menjadi bahan untuk memformulasikan terkait dengan akses informasi politik dalam pemilihan umum berikutnya. Karena itu. 2001:158) menyebutkan bahwa komunikasi politik sebagai suatu proses di mana informasi politik yang relevan diteruskan dari satu bagian sistem politik kepada bagian lainnya. Sumber komunikasi dianggap sebagai pihak yang memprakarsai terjadinya komunikasi melalui penyampaian pesan (informasi). Rumusan Galdnoor tersebut sejalan dengan pendekatan Almond dan Powell (dalam Nasution. Bahkan dikemukakan pula bahwa komunikasi merupakan prasyarat (prerequisite) yang diperlukan bagi berlangsungnya fungsi-fungsi yang lain tadi. komunikasi memiliki peran yang penting seperti yang pernah dikemukakan oleh Chaffee (1975) bahwa komunikasi politik merupakan peranan komunikasi dalam proses politik (dalam Kaid. 1990:24) yang menempatkan komunikasi sebagai suatu fungsi politik bersama-sama dengan fungsi lainnya (artikulasi.

(c) platform/ program partai politik. Namun pemilih memiliki berbagai kemungkinan untuk membatasi ketidaktahuan ini. kelompok minat maupun partai itu sendiri. 2005. Aspek-aspek informasi politik Pemilihan Umum 2009 khususnya tentang partai politik dan calon anggota legislatif yang dibutuhkan masyarakat di antaranya adalah tentang: (a) tipe partai politik. dan bisa juga menggunakan media. Menurut pendekatan ini. Kemudian Heath dan Bryant (2000:89) menyederhanakan menjadi dua macam komunikasi yaitu komunikasi langsung (direct communication) dan komunikasi yang termediasi (mediated communication). Menurut Downs (dalam Roth 2008:49-50) sebetulnya pemilih membutuhkan informasi yang lengkap. salah satunya adalah mengumpulkan informasi mengenai bidang-bidang yang dirasa penting. tentunya pemilih rasional membutuhkan informasi politik yang berkaitan dengan partai politik maupun calon anggota legislatif.menggunakan media tertentu untuk mencapai suatu tujuan yang telah tertentu pula. Terkait dengan kebutuhan informasi politik yang berhubungan dengan perilaku pemilih. 2000:10-15). bisa dengan berinteraksi dengan lingkungannya. Pemilihan Umum bagi anggota DPR maupun DPRD yang dilaksanakan pada bulan 9 April 2009. 1990:42). menurut Roth (2008:23-48) ada beberapa pendekatan (approach) atau dasar pemikiran yang berusaha menerangkan perilaku pemilih. Pendekatan pemilih rasional menawarkan cara pandang terhadap perilaku pemilih yang disebut “memilih retrospektif“ atau memilih secara memandang ke belakang dan “memilih prospektif”. Oleh karena itu pada umumnya pemilih harus mengambil keputusan dalam “ketidaktahuan”. informasi menjadi bagian penting dalam membuat keputusan politik. McQuail. Pada pemilih rasional. Ada beberapa cara yang dilakukan manusia untuk mendapatkan informasi politik (berkomunikasi). (d) reputasi partai politik. . melainkan hasil penilaian rasional dari warga yang cakap. public. yang menentukan pilihan bukanlah adanya keter-gantungan terhadap ikatan sosial struktural atau ikatan partai yang kuat. Sebelum menentukan pilihan politiknya. Kegiatan pemilihan umum di Indonesia yang dilaksanakan pada tanggal 9 April 2009 merupakan kegiatan suatu proses komunikasi politik. mass communication (Littlejohn. alternatif-alternatif pilihan lebih mudah dirumuskan. organisasi dan termediasi (mediated) yang sama dengan konteks komunikasi massa. Proses pertukaran pesan politik terjadi sepanjang masa sosialisasi calon anggota legislatif sebagai sumber informasi politik dengan konstituennya sebagai pihak penerima. Interaksi dengan manusia lainnya juga bisa dalam lingkup yang beragam seperti yang banyak disinggung oleh beberapa ilmuwan tentang level komunikasi yang ada seperti interpersonal. Dengan memanfaatkan media. diikuti oleh 38 partai politik peserta pemilihan umum. Dengan adanya informasi yang lengkap. Bisa dengan berinteraksi langsung dengan manusia lainnya yang ada di sekitarnya. akhirnya dapat mengambil keputusan. Sedangkan pemilih retrospektif yaitu seseorang memilih partai politik atau tokoh tertentu setelah mengevaluasi aktivitas/ komitmen dari partai politik tersebut sebagai pemerintah atau oposisi selama periode terakhir. Pemilih prospektif yaitu seorang pemilih akan memilih partai atau tokoh lebih dikarenakan memenuhi kriteria-kriteria tertentu yang menjadi preferensi dari pemilih. small-group. (b) visi dan misi partai politik. organization/ institution. hingga masa penetapan calon terpilih. di antaranya pendekatan rational choice. atau hanya dapat diperoleh melalui pengorbanan ekonomis yang besar. dan ini bisa dalam berbagai konteks-interpersonal. Hal inilah yang merupakan masalah sesungguhnya dalam teori Downs. Unsur-unsur tersebutlah yang memungkinkan terjadinya suatu kegiatan komunikasi politik dalam suatu masyarakat (Nasution. Namun pada kenyataannya informasi yang lengkap tidak selalu tersedia. (e) kualitas calon anggota legislatif. dalam masa kampanye pemilihan umum.

observasi. majalah). memfokuskan pada hal-hal yang penting. dan terakhir (d) Penarikan kesimpulan. yakni merangkum. . televisi). b. memilah hal-hal yang pokok. Dengan studi kasus. melalui wawancara mendalam dengan informan maupun observasi langsung. Penelitian ini tergolong dalam bentuk studi kasus yang bertujuan menjelaskan (to explain) atau mencari (seek to understand). Oleh karena itu informan yang dipilih dalam penelitian ini diambil berdasarkan referensi dari satu informan ke informan lainnya. Dalam penelitian ini disajikan data dalam bentuk teks yang bersifat naratif. penelitian bertujuan untuk mengetahui dan memahami penggunaan media dan non media dalam akses informasi politik Pemilihan Umum 2009 dari perspektif Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan juga mengeksplorasi terkait dengan akses informasi tersebut (Creswell. sebagai berikut. fungsional dan staf pelaksana di lingkungan Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. yakni pemilihan informan paling awal yang memberikan rekomendasi kenalan yang memiliki karakteristik yang sama. Sasaran Penelitian Sasaran penelitian adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau birokrat di Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemprov DIY). Bermedia (mediated) Terdiri dari media cetak (suratkabar. Pemilihan informan dilakukan dengan menggunakan teknik snowballing. media luar ruang (spanduk. Dalam penelitian digunakan teknik sampel bertujuan (purposive sampling) untuk memilih informan. Non media (Interpersonal) Menurut Nimmo (1989:126) ada dua saluran utama komunikasi interpersonal yang membantu khalayak belajar politik (mengakses informasi politik). (b) Reduksi data. (c) Setelah data direduksi maka langkah selanjutnya adalah menampilkan data (display). (a) Pengumpulan data/ informasi. yakni keluarga dan lingkungan yang terdiri atas kawan-kawan dekat dan akrab yang dikenal sebagai sebaya. terkait dengan tiga pelaku birokrasi yaitu pejabat struktural. 1994:71). baliho). METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Sesuai pertanyaan penelitian dan tujuan yang hendak dicapai dari penelitian. penggunaan dokumen dan arsip. Teknik Pengolahan dan Analisis data Unit analisis dalam penelitian adalah individu Pegawai Negeri Sipil di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Peneliti berusaha mengetahui dan memahami sesuatu yang menjadi fokus penelitian. poster. untuk dicari tema dan polanya. Adapun teknik analis yang diambil dan digunakan adalah teknik analisis tematik. media elektronik (radio. dan media baru (internet). maka jenis penelitian adalah kualitatif. Metode Pengumpulan data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam menjawab pertanyaan penelitian ini adalah wawancara mendalam/ in-depth interviews.Berdasarkan uraian di atas kiranya dapat disebutkan bahwa masyarakat dalam mencari (mengakses) informasi politik dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: a.

serta program yang diperjuangkannya tidak bersifat normatif. ada yang sama. tapi yang konkrit… Juga untuk mendapatkan informasi tentang caleg yang mempunyai kemampuan dan kapasitas sebagai wakil rakyat…” (Wawancara. Downs (dalam Roth. Bila mengacu pada pendekatan perilaku pemilih sebagaimana yang dikemukakan oleh Roth. Apabila hasil kinerja pemerintah yang berkuasa (juga bila dibandingkan dengan . perilaku pemilih PNS Pemerintah Provinsi DIY tergolong sebagai pemilih rasional. yang dapat digambarkan sebagai berikut: Kebutuhan Informasi Pemilu Legislatif 2009 Berdasarkan temuan di lapangan didapatkan bahwa pada hakekatnya PNS Pemerintah Provinsi DIY memiliki kecenderungan yang sama yakni membutuhkan informasi Pemilu 2009 khususnya yang berkaitan dengan partai politik dan calon anggota legislatif. Berdasarkan prioritas dan alasan yang melatar belakangi informasi yang dibutuhkan oleh pemilih PNS Pemerintah Provinsi DIY. atau cara memilih dengan memandang ke belakang. namun ada pula yang berbeda..TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dalam tahap analisis. Prioritas informasi yang dibutuhkan masing-masing individu cenderung beragam. 2008:48) pemilih menetapkan pilihannya secara retrospektif yaitu dengan menilai apakah kinerja partai yang menjalankan pemerintahan pada periode legislatif terakhir bagi dirinya sendiri dan bagi negara atau sebaliknya. dapat dikategorikan menjadi dua yakni perilaku pemilih yang disebut “pemilih prospektif” dan “pemilih retrospektif”. Berikut ini paparan temuan penelitian berdasarkan hasil wawancara dengan pemilih Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Jenis pemilih PNS Pemerintah Provinsi yang kedua adalah golongan pemilih retrospektif. Jenis pemilih yang tergolong sebagai pemilih prospektif dapat dilihat dari pernyataan informan. Penilaian ini juga dipengaruhi oleh penilaian terhadap kinerja pemerintah di masa yang lampau. PNS Pemerintah Provinsi DIY yang menjadi informan yang tergolong sebagai pemilih retrospektif memprioritaskan kebutuhan informasi terutama tentang kinerja dan reputasi partai politik maupun calon anggota legislatif.ingin mendapatkan informasi mengenai partai politik peserta Pemilu yang mempunyai ideologi jelas. Pemilih prospektif yaitu seorang pemilih akan memilih partai politik atau calon anggota legislatif yang telah memenuhi kriteria-kriteria tertentu yang menjadi preferensi dari pemilih. Informasi yang dibutuhkan di antaranya tentang visi dan misi serta program partai politik/ calon anggota legislatif. Sedangkan pemilih retrospektif. Pemilih retrospektif adalah pemilih yang memilih partai politik atau calon anggota legislatif setelah mengevaluasi aktivitas/ komitmen dari partai politik atau elit yang mewakili partai selama masa baktinya. di antaranya sebagai berikut: “ . Sudibyo: 5 Maret 2009). 2008:49) menyebutkan bahwa pemilih rasional sebelum menentukan pilihan politiknya membutuhkan informasi yang sebanyak-banyaknya. menekankan pada kemampuan pemilih untuk memilih berdasarkan pada penilaiannya pada penampilan kontestan di masa lalu (sebelumnya). kinerja dan reputasi partai polilitik/ calon anggota legislatif dan kualitas calon anggota legislatif. peneliti menggunakan analisis interview seperti yang dipergu-nakan May (2001:137). Menurut Key (dalam Roth. Benney dan Hughes (1984) yaitu menggunakan teknis analisis hasil wawancara dengan menggunakan ukuran similarity (kesamaan) dan comparability (perbandingan bisa berisi persamaan dan perbedaan).

akan diperoleh gambaran ke arah mana bangsa ini akan dibawa ke depannya. Calon anggota legislatif yang suka kawin cerai. apabila hasil penilaiannya negatif. membutuhkan informasi yang akan digunakan sebagai dasar evaluasi. Dengan perkataan lain bahwa informasi yang diinginkannya adalah yang berkaitan dengan calon anggota legislatif yang dapat mengagregasikan sikap politiknya dengan layak. di mana pemilih akan melihat reputasi yang berkaitan dengan kepribadian seorang calon anggota dewan. intelektual. memungkinkan pemilih PNS Pemerintah Provinsi DIY saat ini menjadi bebas dan terbuka untuk menentukan arah pilihan politiknya. Artinya kualitas dan performa individu seorang calon anggota legislatif menjadi prioritas utama. terutama adalah informasi tentang kinerja partai politik serta reputasi (citra) partai politik. Berdasarkan hasil paparan di atas dapat dikatakan bahwa pada dasarnya Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Provinsi DIY telah berlaku sebagai pemilih rasional. sebagai berikut: “… saya membutuhkan informasi tentang kinerja dan reputasi calon anggota legislatif. konkrit. Menekankan perlunya para anggota dewan. Terkait dengan visi dan misi. Sedangkan untuk calon anggota legislatif adalah informasi yang berkaitan dengan pengenalan prestasi (kualitas calon anggota legislatif) serta serta perilaku (reputasi) calon anggota legislatif. untuk dipilih sebagai anggota dewan yang terhormat. Wijayanti: 13 Maret 2009). Sedangkan untuk informasi yang berhubungan dengan reputasi calon anggota legislatif. tidak terikat (berafiliasi) dengan partai tertentu. Untuk memilih seorang calon anggota legislatif dibutuhkan informasi yang berkaitan dengan kapasitas. tidak layak menjadi anggota dewan yang terhormat. akan diperoleh gambaran tentang partai politik yang mempunyai reputasi dan kinerja yang mendahulukan kepentingan rakyat atau lebih mendahulukan kepentingan golongan. maka akan dipilih kembali. bukan saja untuk bekerja secara . Sementara dengan adanya informasi mengenai program partai politik akan dapat diketahui partai politik mana yang mempunyai program yang jelas.” (Wawancara. Terkait dengan calon anggota legislatif. masuk akal. Sebagaimana dikatakan oleh informan ketika memberi alasan mengapa ia memprioritaskan kebutuhan informasi tentang reputasi calon anggota legislatif. kepribadian dan karya nyata yang menjadi pertimbangan utama pemilih sebelum menentukan pilihan politiknya.pendahulunya) positif. Informasi tersebut nampaknya cenderung dijadikan sebagai dasar pertimbangan informan untuk menilai bahwa seorang calon legislatif itu layak atau tidak. Sementara dengan adanya informasi tentang kualitas calon anggota legislatif akan didapatkan gambaran tentang calon anggota legislatif yang mempunyai kemampuan dan kapasitas sebagai wakil rakyat. maka pemerintah tersebut tidak akan dipilihnya kembali. Keterbukaan informasi memperlebar pintu kesempatan bagi PNS untuk melakukan evaluasi terhadap lembaga-lembaga politik yang ada terutama lembaga legislatif. riil dan terarah. dalam pandangan pemilih rasional ini menempatkan pemilih sebagai makhluk rasional yang mempunyai alasan dan tujuan dalam tindakannya. mempunyai kapasitas dan integritas sebagai legislator. ingin mengetahui calon anggota legislatif yang mempunyai reputasi baik atau buruk. Bagaimanapun juga pemilih yang rasional tidak akan memilih calon anggota legislatif yang mempunyai reputasi kurang baik. Arus informasi yang semakin terbuka dan lancar serta posisi PNS yang netral. adalah karena ingin mengetahui ideologi dari partai politik yang bersangkutan. Maka sudah sewajarnya bila PNS Pemerintah Provinsi DIY yang menjadi informan dalam penelitian ini. Terkait dengan informasi tentang reputasi dan kinerja partai politik. mempunyai hobi berselingkuh. sebagian besar informan membutuhkan informasi yang berkaitan dengan moral calon anggota dewan. Pada umumnya mereka yang membutuhkan informasi mengenai tipe/ platform partai politik.

Informan yang memilih Kompas sebagai sumber informasi tidak hanya dari sudut pandang yang berkaitan kelengkapan informasi saja. Cara berkomunikasi dalam mengakses informasi Pemilu Legislatif 2009 pemilih PNS Pemerintah Provinsi DIY dapat digambarkan sebagai berikut: 1.. Banyak suratkabar baik yang berskala nasional maupun lokal yang terbit dan beredar di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan demikian lembaga legislatif akan diisi oleh orang-orang yang mempunyai kapasitas intelektual. opini. namun juga berkaitan dengan cara peliputan yang tidak hanya satu sisi saja (cover one side) yang akan terkesan memihak. majalah. ada juga yang menggunakan media. kebutuhan tersebut berupa informasi Pemilu Legislatif 2009 khususnya yang berkaitan dengan partai politik dan calon anggota legislatif. Hal ini menunjukkan bahwa informan melihat Kedaulatan Rakyat didasarkan pada proximity (berita yang isinya memiliki kedekatan baik secara psikologis. vitalitas kerja. Sebagai mana disampaikan oleh beberapa informan di antaranya sebagai berikut: “.aku lebih banyak membaca suratkabar terbitan lokal seperti KR karena banyak memuat berita-berita yang berskala lokal khususnya berita yang berhubungan dengan DIY. melainkan juga berperilaku patut dan layak menjadi suri tauladan orang banyak. kinerja maupun reputasi partai politik anggota dewan di tingkat pusat. Surat kabar Media komunikasi yang dipergunakan oleh para informan cenderung beragam. dengan lingkungannya (komunitas). pengawas kekuasaan eksekutif dan penyusunan anggaran. sebagai individu senantiasa berusaha untuk memenuhi kebutuhannya. ada yang melalui media cetak (suratkabar. brosur). Sedangkan beberapa informan yang memilih suratkabar Kedaulatan Rakyat. Cara berkomunikasi seperti ini. Masingmasing informan mempunyai motif dan alasan tersendiri ketika memilih media yang dipergunakan untuk mencari informasi Pemilu Legislatif 2009. serta mempunyai kopetensi dan integritas seorang wakil rakyat. Akses Informasi Pemilu Legislatif 2009 Berdasarkan hasil temuan di lapangan diperoleh kecenderungan bahwa pada dasarnya para pemilih PNS Pemerintah Provinsi DIY. Namun demikian tidak semua informan menggunakan suratkabar yang sama untuk memenuhi kebutuhan informasinya. Informasi Pemilu Legislatif 2009 yang diperoleh oleh informan kebanyakan berkaitan dengan partai politik peserta Pemilu di antaranya tentang profil partai politik. . juga melalui iklan dari caleg maupun parpol” (Wawancara. mempunyai alasan bahwa informasi yang disampaikannya lebih bersifat kedaerahan (lokal) terutama berita seputar Daerah Istimewa Yogyakarta. Ada yang berinteraksi langsung dengan individu-individu yang ada di sekitarnya. geografis atau demografis). akan tetapi banyak sisi (cover both side) sehingga menghasilkan informasi yang netral dan berimbang. Marwati. Informasi tentang pemilu aku dapatkan melalui berita. media elektronik (radio dan televisi). bila mengacu pada Heath dan Bryant (2000:89) disebut sebagai komunikasi langsung (direct communication) dan komunikasi yang termediasi (mediated communication/ indirect communication). Mediated (menggunakan media) a. media luar ruang (spanduk dan baliho) serta media baru (internet). 7 Maret 2009). Beberapa cara telah ditempuh oleh pemilih PNS Pemerintah Provinsi DIY ketika mencari upaya dalam mendapatkan informasi tersebut. Dalam konteks penelitian ini.profesional sebagai legislator.

Televisi Informan pemilih PNS Pemerintah Provinsi DIY yang menjadikan televisi sebagai rujukan ketika mencari informasi Pemilu Legislatif 2009. dapat dikatakan bahwa pada dasarnya informan mengandalkan TV One dan Metro TV karena kedua stasiun televisi tersebut dapat menjadi rujukan untuk mencari informasi Pemilu Legislatif 2009. Di antaranya ada yang mencari informasi melalui televisi dengan alasan informasi melalui televisi lebih cepat sampai ke audience daripada informasi melalui media cetak. maupun sebaliknya. Singkatnya ketika seseorang mendengarkan radio.. Ada juga yang memberi alasan bahwa informasi melalui televisi mudah diingat. Konco Tani. MBS dan Yasika FM. lebih berdasarkan pada segi kepraktisannya. Radio Dalam penelitian diperoleh pula informan yang mencari informasi Pemilu Legislatif 2009 melalui radio. Adapun stasiun radio yang dipakai untuk mencari informasi Pemilu Legislatif 2009 cukup beragam seperti RRI. tetap bisa sambil melakukan aktivitas lainnya. Informasi Pemilu Legislatif 2009 tentang visi. Trijaya FM. tokoh dan tempat-tempat yang berada jauh dari audience. Sonora FM.” (Wawancara. mempunyai motif dan alasan yang berbeda-beda. jadi relatif fleksibel. Ada pula yang menyatakan. c. Radio merupakan salah satu media massa yang tidak memberikan prasyarat khusus bagi khalayak yang mengaksesnya. bisa diakses di mana saja baik di rumah maupun di perjalanan. Berbagai alasan mengapa mereka mencari informasi melalui radio: ada yang menyatakan karena radio itu mendengarkan suara. misi dan program partai politik maupun hal-hal yang berhubungan calon anggota legislatif kebanyakan didapat informan melalui berita. dapat melihat dan mendengar sekaligus dan langsung (live) sebagaimana bertatap-muka langsung dengan sumbernya. Sebagaimana disampaikan oleh salah satu informan sebagai berikut: “…. Ada pula yang menyatakan karena ada liputan khusus pemilihan umum. Di samping itu.dialog. Retjo Buntung FM. Informasi yang disampaikan lewat radio ringkas dan padat. namun yang menjadi unggulan kebanyakan informan adalah Radio Sonora FM. karena dapat mendengarkan sambil melihat.. sebagai rujukan dalam mencari informasi Pemilu Legislatif 2009. dialog maupun iklan politik. Sebagaimana disampaikan oleh Becker (1987:253) radio dapat dibawa ke manapun dan audience-nya dapat mengakses tanpa menganggu aktivitas utamanya dan tanpa harus serius mendengarkannya. Radio yang saya dengarkan tidak tentu kadang Sonora atau Trijaya … Informasi mengenai parpol dan caleg saya dengar dari acara berbincang-bincang …ya. Berdasarakan dari pernyataan informan tersebut di atas. Berdasarkan dari alasan yang dikemukakan oleh beberapa informan tersebut. Bahwa informasi melalui televisi mudah diserap karena televisi bisa dilihat sekaligus didengar.b. dapat dikatakan bahwa informan menggunakan radio dalam mencari informasi. Sudarsono: 12 Maret 2009). Kedua stasiun televisi tersebut setiap hari menyiarkan . tidak semua stasiun televisi dijadikan rujukan dalam mencari informasi Pemilu Legislatif 2009. Ada yang memilih Metro TV dan TV One. Ada yang beralasan karena banyak tayangan tentang Pemilu yang dikemas cukup serius dan berbobot. ya.. dalam hal ini motif dan alasan yang disampaikan informan berkaitan dengan alasan mendasar yang menyebabkan televisi diminati oleh masyarakat adalah sebagaimana dikemukakan oleh Bignell (2004:19) karena kemampuannya untuk menghadirkan berbagai macam peristiwa. lebih pada melihat televisi dari sudut pandang sifatnya yang audio visual yakni pandang dengar.saya mendengarkan radio di mobil dalam perjalanan dari rumah menuju kantor. Sementara alasan yang lain.. Alasan informan memilih televisi karena kecepatan informasi sampai ke audience.

saya dapatkan dalam situs seperti Kompas Online. 1996:8) bahwa televisi merupakan gabungan dari media dengar dan gambar yang bisa bersifat politis dan bisa pula informatif. Sementara TV One melalui acara seperti Interview Politik. Internet Tidak ketinggalan beberapa informan pemilih PNS Pemerintah Provinsi DIY juga menggunakan media baru (internet) untuk mencari informasi Pemilu Legislatif 2009. pendidikan atau bahkan gabungan dari ketiga unsur tersebut. Ada yang beralasan bahwa banyak informasi yang secara mudah didapatkan ketika dicari di internet. Top Nine News. IV) dan pejabat fungsional. Partai Bicara.” (Wawancara. Documentary One. Atas Nama Rakyat. 6 Maret 2009). Alasan seperti tersebut di atas mencerminkan bahwa beberapa informan ketika mencari informasi Pemilu Legislatif 2009 tidak hanya melalui tayangan yang sifatnya serius saja. Benar-Benar Membangun/ BBM (RCTI) dan Kontes de Parpol (TPI). Jadi khalayak yang menyaksikannya di samping mendapatkan informasi juga mendapat hiburan. d. dapat diakses melalui internet. III. Uji Kandidat. mengapa ya karena banyak informasi tersedia dengan mudah dan cepat bisa saya dapat. Rahayu. sekaligus juga dapat informasi mengenai parpol dan caleg dari beberapa tokoh yang dihadirkan.” (Wawancara. Penyampaian isi pesan seolah-olah langsung antara komunikator dengan komunikan sehingga mudah dimengerti karena jelas terdengar secara audio dan melihat secara visual. Genta Demokrasi. Namun demikian tidak semua informan memiliki kesempatan dan kemampuan yang sama. Untuk informasi mengenai pemilu 2009. Debat Parpol. Berdasarkan hasil temuan didapatkan bagi informan pejabat struktural (II. Kabar Pemilu.informasi yang berkaitan dengan partai politik dan calon anggota legislatif.saya suka menonton parodi dalam acara BBM. hal ini karena terkait dengan kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang tidak mendukungnya. Sebagaimana diungkapkan oleh salah satu informan seabagai berikut: “…di samping melalui media massa saya juga sering browsing di internet. media baru (internet ) ini juga dipergunakan untuk mencari informasi Pemilu Legislatif 2009. Wijayanti: 13 Maret 2009). pernah juga saya membuka situsnya KPU …. Ada pula yang menyatakan bahwa internet menyediakan berbagai informasi yang dibutuhkan dan secara mudah di dapatkan di situ melalui situs-situs yang ada. RCTI danTPI untuk mencari informasi Pemilu Legislatif melalui mata acara parodi politik seperti Democrazy (Metro TV). Melalui search engine google atau yahoo segala informasi yang dibutuhkan dengan cepat dapat diperoleh. sebagaimana disampaikan oleh informan sebagai berikut: “ ….. Special Dialog. Dengan demikian motif dan alasan yang disampaikan informan sejalan dengan apa yang dikemukakan Skomis (dalam Kuswandi. Debat. mempunyai kecenderungan yang sama. Suara Rakyat. Untuk staf pelaksana khususnya untuk golongan I (satu) cenderung tidak pernah mengunakan internet. Di samping itu ada juga informan yang memilih Metro TV. di samping mencari hiburan karena banyak banyolan-banyoan dan sindiran. seperti dalam acara parodi politik. hiburan. tapi juga tayangan yang ada hiburannya. Untuk Metro TV melalui mata acara seperti Suara Anda. Dalam acara ini informasi yang berkaitan dengan Pemilu Legislatif 2009 dikemas dengan banyolan dan sindiran-sindiran serta menghadirkan para tokoh ataupun para pakar yang mempunyai kompetensi. . Banyak informasi mengenai partai politik maupun para calon anggota legislatifnya. Masing-masing informan mempunyai alasan tersendiri mengapa mengakses informasi melalui internet.

2. Sedangkan bagi staf pelaksana golongan 1 (satu) yang rata-rata berpendidikan SLTP cenderung merasa nyaman-nyaman saja meskipun tidak bisa mengoperasikan komputer maupun mengakses informasi melalui internet. ada juga informan yang mencari informasi Pemilu Legislatif 2009 khususnya yang berkaitan dengan partai politik dan calon anggota legislatif kepada teman kantor. Bila merujuk pada apa yang disampaikan oleh Nimmo (1989:125) ada dua saluran utama komunikasi interpersonal yang membantu belajar politik (akses informasi Pemilu Legislatif 2009) yakni keluarga dan lingkungan yang terdiri dari kawan-kawan. radio dan internet. . sebagai sumber informasi terdekat yang mudah ditemui. Di samping itu ada juga beberapa informan yang lebih suka mencari informasi secara langsung dengan keluarganya (anak. para informan pemilih PNS Provinsi DIY dalam mencari informasi Pemilu Legislatif 2009 juga mempunyai kecenderungan yang sama. Tabel 1 Akses Informasi Pemilu Legislatif 2009 Menurut PNS Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta No 1 Nama Sudibyo Pejabat struktural eselon II Keterangan Mediated: suratkabar. Selain itu. Alasan seperti tersebut di atas memandang sumber informasi dari sisi rasa kenyamanan pencari informasi. ada yang dari pakar. Berbagai macam alasan disampaikan oleh masing-masing informan ketika memilih individu sebagai sumber informasi. Sedang teman kantor dan tetangga dikategorikan sebagai kawan-kawan. yakni melakukannya secara langsung tatap-muka (face to face). duduk satu ruangan dan setiap hari bertemu. dengan alasan karena mempunyai kompetensi dalam bidangnya. Menurut Dowson (1979:142) ada ikatan emosional yang kuat dalam keluarga. ada juga dari calon anggota legislatif yang melakukan sosialisasi serta ada yang dari teman kantor dan tetangga. majalah. informasinya valid . sehingga informasi yang disampaikan tidak diragukan validitasnya. Maka suami. Andalan: pakar. sehingga dalam hal ini sudah selayaknya bila ada salah satu anggota keluarga bisa menjadi tempat yang nyaman untuk bertanya bagi anggota keluarga yang lain ketika membutuhkan suatu informasi. menantu. Untuk pejabat struktural maupun fungsional rata-rata paling rendah berpendidikan sarjana strata 1 (satu) bukan tidak mungkin akan merasa kurang nyaman jika tidak pernah (tidak bisa) mengakses informasi melalui internet. anak dan menantu dikategorikan sebagai keluarga. Non media: pakar dan teman. Alasan ini melihat sumber informasi dari sudut pandang yang berkaitan dengan kapasitasnya sebagai narasumber yang dapat memberikan informasi Pemilu Legislatif 2009 sesuai dengan apa yang dibutuhkannya. anak. lebih bebas. Informasi Pemilu Legislatif 2009 khususnya yang berkaitan dengan partai politik dan calon anggota legislatif dari masing-masing informan didapatkan secara langsung dari sumber informasi yang beragam yakni ada yang dari suami. lebih terbuka. berita/ informasi berimbang. Ada beberapa informan yang mengandalkan seorang pakar sebagai sumber informasi. Alasan ini memandang teman kantor sebagai karib yang senasib. brosur. Non Media Di samping menggunakan media. tidak merasa sungkan. Dengan alasan tidak merasa malu.Nampaknya penggunaan internet untuk akses informasi ada kaitannya dengan latar belakang pendidikan dan jabatan masing-masing individu informan. Andalan: Kompas. Di samping itu ada juga informan yang memilih tetangga sebagai sumber informasi. karena mempunyai kompetensi. suami). Sementara pakar dan calon anggota legislatif dalam model alir dua tahap (two step flow model) dimaksudkan sebagai pemuka pendapat (tokoh masyarakat). televisi. Alasannya karena sama-sama PNS. karena netral.

karena informasinya obyektif dan akurat. televisi. Andalan pakar. karena terlibat langsung dalam Pemilu. baliho. Andalan pakar. teman dan tetangga. radio. televisi dan internet. karena informasinya belum tentu benar. radio. andalan suami. Andalan: tidak ada. brosur. televisi dan internet. karena informasinya dapat dipercaya. televisi. Mediated: spanduk. informasinya lengkap. Andalan: menantu. Non media: suami sekaligus menjadi andalan.2 Tri Mulyono Pejabat struktural eselon II Sri Rahayu Pejabat struktural eselon III Sasongka Harjanta Pejabat struktural eselon III Tri Rubiyanto Pejabat struktural eselon III Aris Rahajeng Wijayanti Pejabat struktural eselon IV Sudarsono Pejabat struktural eselon IV Ani Kuswati Pejabat struktural eselon IV Sarono Tamtomo Yudho Pejabat fungsional Veronika Ismartiningsih Pejabat fungsional Sri Mawarti Staf pelaksana Gol III Tri Wahyono Staf pelaksana Gol III Astriyanto Sri Harjanto Staf pelaksana Gol III Ani Sutarti Staf pelaksana Gol III Yohana Indarti Staf pelaksana Gol III Hastin Puntaningrum Staf pelaksana Gol 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Mediated: suratkabar. Mediated: suratkabar. Andalan: suratkabar KR. Mediated: brosur. Media andalan: TV One. Andalan: televisi. Mediated: suratkabar. Mediated: surat kabar. Andalan: suami karena lebih sering mengikuti perekembangan yang terjadi terkait dengan Pemilu 2009. caleg dan teman kantor. alasan informasi tentang Pemilu disajikan secara lengkap dan mendalam. Non media: caleg. karena berita tentang pemilu banyak. leaflet. yang menjadi andalan kerabat.Non media: tim sukses dan teman. bahasanya mudah dimengerti. spanduk dan internet. televisi. Metro TV: informasi tentang Pemilu banyak. yakni SCTV. Non media: tim sukses. radio dan internet. televisi. Mediated: suaratkabar. radio. televisi dan internet. televisi. TV One. televisi dan internet. televisi dan internet. karena informasinya cepat dan lengkap. Andalan: tidak ada. radio. televisi. Alasan: beritanya lengkap dan akurat. Andalan: suratkabar Kedaulatan Rakyat. radio dan internet. Mediated: suratkabar dan televisi. Non media: pakar dan teman. Non media: suami. Non media: caleg. Andalan: televisi. kerabat. Alasan: informasinya bersifat kedaerahan. Andalan: tidak ada. radio. Mediated: suratkabar. pengetahuan banyak. Mediated: suratkabar. brosur. yang diandalkan tidak ada. Non media: teman kantor. anak.radio. Andalan: televisi (Metro TV). Media andalan: suratkabar KR. Media andalan: televisi. Andalan: surat-kabar Kompas. Media andalan: suratkabar Kompas. majalah. informasinya dapat dipercaya. majalah. andalan suami. Andalan: surat kabar Kompas. caleg. Media andalan: suratkabar Kompas. radio. informasi tentang pemilu lengkap. Non media: anggota dewan dan teman. radio. karena wawasannya luas. karena lebih sreg. radio dan internet. televisi dan internet. Mediated: suratkabar. mempunyai kapasitas dalam bidangnya. televisi dan internet. andalannya anggota dewan. Andalan: anggota KPU. caleg. suratkabar. Andalan: televisi. televisi. caleg. Mediated: suratkabar. radio. Non media: teman kantor dan tetangga. caleg. teman. teman. Non media: anak/ menantu. TV One: acara khusus liputan Pemilu. Mediated: suratkabar. Alasannya: karena mengkhususkan berita di seputar DIY. anggota KPU. Non media: suami. Non media : suami. Mediated: suratkabar. Andalan: suami. baliho. informasinya dapat 14 15 16 . suratkabar. Alasan: banyak informasi tentang pemilu. Media andalan: televisi RCTI. karena informasinya lengkap. Mediated: suratkabar. merupakan sumber informasi yang dapat dipercaya. tahu kapasitasnya. Non media: pakar. Andalan: surat-kabar Kompas. Non media: suami.

dalam hal ini bisa dibedakan dari jenis media. caleg. sebagai dasar acuan untuk menentukan hak pilih saya pada hari H nanti” (Wawancara. 2009 Pemenuhan dan Pemanfaatan Informasi Pemilu Legislatif 2009 Berdasarkan temuan di lapangan diperoleh kecenderungan bahwa pada dasarnya kebutuhan informasi Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Provinsi DIY tentang Pemilihan Umum Legislatif 2009 khususnya yang berkaitan dengan partai politik dan calon anggota legislatif pada umumnya sudah terpenuhi.dan televisi. Secara umum dapat disebutkan bahwa terdapat pernyataan yang berbeda-beda dalam pemenuhan informasi yang diperoleh. andalannya tetangga karena percaya. radio. radio. Non media: caleg dan tetangga. Meskipun ada juga yang menyatakan belum terpenuhi semuanya. Sumber: Data diolah. Non media: teman. bisa menjadi referensi. semuanya didasarkan pada kebutuhan masing-masing individu. Mediated: suratkabar. Non media: caleg dan tetangga. Rahayu: 6 Maret 2009). Andalan: televisi. serta dorongan situasi sosial dalam mencari informasi. Kuswati: Maret 2009) Berdasarkan paparan di atas didapatkan kecenderungan bahwa informasi Pemilu 2009 khususnya yang berkaitan dengan partai politik dan calon anggota legislatif. Media andalan: spanduk. lebih tahu tentang pemilu. Non media: anak.17 II Suprapto Staf pelaksana Gol II Tumin Staf pelaksana Gol II Tukino Staf pelaksana Gol I Purwanto Staf pelaksana Gol I 18 19 20 dipercaya. TPI. bisa menjadi bahan referensi bagi pemilih PNS Pemerintah Provinsi DIY dalam menentukan pilihan politiknya pada Pemilu Legislatif 2009. Berdasarkan penelitian di lapangan didapatkan pula bahwa kebutuhan informasi yang dicari dan didapatkan. banyak informasi dan hiburannya. Andalan: caleg. Dari pernyataan belum terpenuhinya kebutuhan informasi Pemilu 2009. sekaligus menjadi andalan karena tidak merasa malu. Hal ini disebabkan karena isi media atau informasi Pemilu 2009 yang berkaitan dengan partai politik dan calon anggota legislatif yang terkandung di dalamnya. Mediated: suratkabar. hanya beberapa saja orangnya. televisi dan radio. Pemenuhan kebutuhan informasi yang diperoleh dari masing-masing informan paling tidak dari sumber berbeda. nampaknya . belum semuanya. mendapat informasi dan hiburan. Sebagaimana disampaikan oleh informan di antaranya berikut ini: “…. spanduk/ poster. diantaranya sebagai berikut: “…ya informasi yang saya peroleh. Andalannya caleg karena informasi langsung dari orangnya. masih banyak yang belum saya ketahui. isi media serta konteks sosial. masih ada saja hal-hal yang dirasakan sebagai kekurangan. Sebagai terungkap dari pernyataan informan. spanduk. Mediated: suratkabar. televisi. Andalan: televisi TPI. Baru beberapa saja dari partai lama (partai peserta Pemilu 2004). “…informasi yang saya dapat. karena bisa melihat foto caleg dari partai. meskipun kebutuhan informasi Pemilu Legislatif 2009 relatif sudah terpenuhi. Dari wawancara dengan informan diperoleh kecenderungan. radio. paling tidak membantu saya sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan pilihan saya pada saat pencontrengan.” (Wawancara. (Wawancara. baliho. namun belum semua informasi yang diinginkan bisa diperoleh. Media andalannya televisi: TPI. itupun hanya orang-orang tertentu saja yang cukup dikenal oleh masyarakat Yogyakarta…. televisi.informasi tentang calon anggota legislatif untuk DPR RI Dapil DIY. mendapatkan informasi dan hiburan. yang dibutuhkan oleh PNS Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada dasarnya sudah cukup terpenuhi. Mulyono: 10 Maret 2009). Mediated: suratkabar.

terkait dengan masalah teknis. terutama bagi pegawai negeri yang berjenjang staf pelaksana. Dengan demikian akses informasi Pemilu Legislatif 2009 melalui internet cenderung terbatas. Adanya “rasa tidak enak ketika meminta penjelasan lebih mendalam dari sumber informasi”. Oleh beberapa informan golongan I (satu). bahkan bisa dikatakan hampir tidak ada. Hal ini menyebabkan pencari informasi mengalami kesulitan dalam memahami informasi yang disampaikan melalui media massa tersebut. untuk pengambilan keputusan dan diterapkan ketika menggunakan hak pilihnya pada Pemilu Legislatif 2009. ketika mengakses informasi Pemilu Legislatif 2009. seagai berikut: Pertama. mengenai ketersediaan fasilitas media komunikasi. membuat informasi yang disampaikan tidak mudah dimengerti. Ketiga. masih cukup mahal. terkait dengan ketersediaan informasi Pemilu Legislatif 2009 yang berkaitan dengan repuasi dan kualitas calon anggota legislatif. Beberapa informan menyebutkan bahwa untuk berlangganan suratkabar dan majalah belum bisa dikatakan murah. Kondisi ini bukan tidak mungkin akan menyebabkan tingkat penyerapan terhadap informasi yang berkaitan dengan partai politik menjadi rendah. Kelima. radio dan televisi. “perasaan ewuh pekewuh bila menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan calon anggota legislatif kepada kenalan”. setelah mengakses informasi baik melalui media maupun secara langsung tatap muka. Informan menginginkan ada sesuatu yang dapat dipetik dari informasi yang terkandung di dalamnya. terkesan hanya untuk para calon anggota legislatif tertentu saja dan itupun dari partai politik peserta Pemilihan Umum lama (2004). Tidak hanya sekedar informasi seadanya akan tetapi yang lebih mendalam. sehingga acapkali membuat urung untuk mengaksesnya. terkait dengan masalah psikologis dari PNS bersangkutan. Kedua. Kendala PNS Pemerintah Provinsi DIY Dalam Mengakses Informasi Pemilu Legislatif 2009. Keempat. Berdasarkan hasil temuan didapatkan bahwa ada kendala yang dihadapi terkait dengan kemampuan pemilih Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Provinsi Daerah Istmewa Yogyakarta. terkait dengan penyerapan informasi yang diakses melalui media massa seperti suratkabar. Demikian pula untuk memasang dan berlangganan internet. “merasa kurang sreg (kurang nyaman) kalau mencari informasi yang berkaitan dengan partai poliitik maupun calon anggota legislatif kepada . Dalam hal ini berkaitan dengan kemampuan daya beli pegawai negeri. Selanjutnya dapat dijadikan bahan referensi diri dalam pertimbangan dan masukan yang berarti. penggunaan bahasa atau istilah-istilah yang masih tergolong asing. Sedangkan informasi yang berkaitan dengan para calon anggota legislatif lainnya dari partai politik baru (2009) nyaris tidak pernah tersentuh. Adapun kendala yang dihadapi secara teknis di antaranya yang berkaitan dengan kecepatan mengakses informasi melalui internet yakni ketika mengakses loading-nya atau waktu men-download terasa lama.informan mengharapkan dengan mengakses informasi baik melalui media maupun secara langsung tatap-muka. biaya operasional perbulannya dirasakan masih cukup mahal. Dengan demikian masih dirasakan berat untuk kantong pegawai negeri. Sedangkan kendala yang berkaitan dengan SDM adalah tidak sedikit PNS yang sampai saat ini belum bisa mengoperasikan komputer. dapat memberikan pencerahan baru dari informasi yang diperolehnya. sehingga bukan hal yang luar biasa bila yang bersangkutan tidak pernah mengakses informasi yang berkaitan dengan partai politik maupun calon anggota legislatif melalui internet. porsi dan jumlahnya relatif sedikit. waktu dan juga yang terkait dengan sumber daya manusia (SDM). Dari media massa yang memuat informasi berkaitan dengan reputasi dan kualitas calon anggota legislatif.

orang lain”. yakni sebelum menentukan pilihan politiknya membutuhkan informasi yang sebanyak-banyaknya. televisi). serta media baru (internet). Berdasarkan prioritas dan alasan yang melatar belakangi informasi yang dibutuhkan dapat dikategorikan sebagai “pemilih prospektif” dan “pemilih retrospektif”. tergolong sebagai pemilih rasional. perlu membuat strategi pencitraan dan image positif untuk partai politik maupun individu yang diusungnya. Sementara individu yang diusungnya tidak sekedar karena popularitasnya saja. majalah. Setiap partai politik peserta pemilihan umum yang menginginkan meraih suara dari pemilih. dalam menyampaikan informasi perlu dipergunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti oleh khalayak. diinformasikan kepada masyarakat pemilih. Berdasarkan hasil temuan didapatkan pula bahwa ada kendala yang dihadapi terkait dengan kemampuan pemilih Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Provinsi Daerah Istmewa Yogyakarta. brosur). Pada dasarnya PNS Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Citra atau image positif tidak hanya dimunculkan saat menjelang pemilihan saja. spanduk). Untuk itu yang berkompeten diharapkan membuat kebijakan terkait dengan ketersediaan informasi pemilihan umum dan penyebarluasannya. terkait dengan ketersediaan informasi pemilihan umum ke depan. Alasan ini melihat sumber informasi dari sudut pandang yang berkaitan dengan kapasitasnya sebagai narasumber yang dapat memberikan informasi sesuai dengan apa yang dibutuhkannya. Saran 1. Di samping itu. teknis dan sumber daya manusia yang bersangkutan. media elektronik (radio. akan tetapi diperlihatkan melalui kinerja partai politik di parlemen. maka acapkali antara individu yang satu dengan yang lainnya tidak mempunyai peluang dan kesempatan yang sama. bila mengacu pada pendekatan perilaku pemilih sebagaimana yang dikemukakan oleh Roth. Hal itu dilakukan dengan memanfaatkan media yang murah dan mudah diakses sesuai dengan tingkat kebutuhan maupun kemampuan masyarakat. namun demikian karena keterbatasan kemampuan. Untuk itu informasi yang disampaikan perlu disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan daya tangkap masyarakat. Media komunikasi yang dipergunakan untuk akses informasi Pemilihan Umum Legislatif 2009 oleh para informan cenderung beragam meliputi: media cetak (suratkabar. informasi mengenai profil masing-masing caleg juga perlu disampaikan kepada khalayak. Juga dilakukan secara langsung tatapmuka (face to face) dengan sumber informasi yang beragam. Kondisi ini menjadi salah satu penghambat kelancaran dalam upaya pemenuhan kebutuhan informasi. faslitas. 2. khususnya media massa yang berskala lokal. 3. ketika mengakses informasi Pemilu Legislatif 2009. Baik akses secara langsung tatap muka (non media) maupun dengan menggunakan media komunikasi dan informasi. Bagi pengelola media massa. tapi juga yang mempunyai . Semuanya itu mengindikasikan adanya kendala psikologis yang berpotensi menghambat kelancaran dalam akses informasi. penyerapan informasi. Pemilihan sumber informasi pada umumnya didasarkan pada kompetensi (kemampuan). PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan data dari penelitian ini diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. media luar ruang (baliho. 2. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya meliputi ketersediaan informasi. Pada dasarnya setiap warga negara mempunyai hak yang sama terkait dengan akses informasi pemilu. Karena tidak setiap individu khalayak mempunyai tingkat kemampuan dan daya cerna yang sama terhadap suatu informasi. 3.

Dasar-Dasar Jurnalistik Radio dan Televisi. Roth. Pengantar Sosiologi Politik. Wahyudi. Pamungkas. Bignell. Jakarta. 1987. 2001. Peterjemah Denise Matindas. Instrumen danMetode. Jakarta. 2004. Research Design Qualitative & Quantitative Approachhes. Yogyakarta. . Eds. Samuel L. Irawan. PLOD UGM. Robert L. Yogyakarta. JB. London&New Delhi. Wawan. Dan. 2 (Edn) Mahwah. Bandung. Penerjemah: Tjun Surjaman.kapasitas. Thousands Oaks: Sage Pub. 2000. Ghalia Indonesia. Politik Indonesia: Transisi Menuju Demokrasi. Jonathan. 1996. Perihal Pemilu. I Ketut Putra. 1990. An Introduction to Television Studies. 2000. 2003. Komunikasi Politik: Khalayak dan Efek. Discovering Mass Communication. PT Mitra Alembana Grafika. Komunikasi Politik: Suatu Pengantar. Komunikasi Massa ”Sebuah Analisis Media Televisi”. Remaja Karya. jauh dari skandal Daftar Bacaan Becker. Rineka Cipta. Jakarta. Creswell. Zulkarnain. Parpol. Kuswandi. 1994. Human Communication Theory and Research: Concepts Contexts & Challenges. 1989. integritas serta idealnya dalam kehidupan sehari-hari relatif bersih. Yogyakarta. Rineka Cipta. Nimmo. Jakarta. JIP Jurusan Ilmu Pemerintahan UGM. Afan. Sigit. Dieter.Pustaka Pelajar. 2008. New Jersey & London: Lawrence Erlbaum Associates Publishers. Heath. John W. Jakarta. & Bryant. 1996. Illionis. Pemilu dan Legislasi-Teori Voters. Maran. Rafael R. Nasution. Studi Pemilu Empiris: Sumber. Teori-Teori. Gaffar. Pustaka Utama Grafiti. London: Routledge. Scott Foremen & Co. 2009. Jennings.

Adapun sebagai tujuan dari penelitian ini adalah : untuk mengetahui pengaruh figur Susilo Bambang Yudhoyono di TV One terhadap minat memilih Presiden pada masyarakat . Hal ini bermakna hubungan figur SBY terhadap minat memilih masyarakat sebesar 49% atau hanya 49% figur SBY di TV One berpengaruh terhadap minat memili presiden bagi masyarakat kelurahan Pasar Merah Timur kecamatan Medan Area Kota Medan dalam PilPres tahun 2009. Latar belakang masalah dalam pemilihan ini adalah .menempatka figur Susilo Bambang Yudhoyono di TV One sebagai Variable bebas ( X ) dan Minat Memilih sebagai variable terikat ( Y ). Selanjutnya diketahui r adalah 0.70 . Sebagai perumusan masalah dalam penelitian ini adalah “ Sejauh manakah figur Susila Bambang Yudhoyono di TV One berpengaruh terhadap minat memilih Presiden dikalangan mahasiswa kelurahan Pasar Merah Timur kecamatan Medan Area Kota Medan. Ha : menujukan tidak terdapatnya hubungan antara variable X dan Y. yang membuatnya mendapat aspirasi positif dari rakyat Indonesia. sesuai dengan skala Guilford. melalui flukturasi Bahan Bakart Minyak ( BBM ) dan Pemberian Bantuan Langsung Tunai ( BLT ). Data-data yang diperoleh dalam penelitian ini selanjutnya dianalisis dalam tabel tunggal dan tabel silang. . Kepemimpinannya terkesan tidak tebang pilih dalam upaya penegakan upaya hukum tindak pidana korupsi. menengah atas dan bawah.698 berada pada tingkat 0. Model teoritis yang duiajukan . dimana 0. bahwa figur Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden RI mengalami peningkatan ketika pemerintahannya menunjukan keseriusan dalam hal pemberantasan korupsi. Dengan menggunakan rumus prodiuk momen ( person`s correlations ). yabg berarti hubungan SBY signifikandengan minaty memilih.698. Untuk melihat besarnya kekuatan pengaruh ( KP ) digunakan rumus. Sebagai hipotesis adalah: Ho : menunjukan terdapatnya hubungan antara variable X dan Y. hasilnya= 49%.40-0. Penelitian ini bermaksud melihat popularitas figur Susilo Bambamng Yudhoyono dalam mempengaruhi minat memilih masyarakat pada Pemilihan Presiden tahun 2009. Adapun variable Anteseden adalah karakteristik responden .Popularitas figur Susilo Bambang Yudoyhono semakin kuat ketika ia mampu menggabungkan dua kelompok masyarakat . untuk selanjutnya dilakukan uji hipotesis. KP { rs )2 x 100%.Selain itu program Jaminan Kesehatan Masyarakat ( Jamkesmas ). maka diketahui terdapat hubungan yang signifikan antara figur SBY di TV One dengn Minat memilih masyarakat. Penelitian ini menggunakan teori Uses And Gratifications yang memiliki teori pendukung Social Categories dan Individual Differewnces Theory.Figur Susilo Bambang Yudhoyono Di TV ONE Dan Minat Memilih Presiden Tahun 2009 (Kajian Pengaruh Figur Susilo Bambang Yudhoyono di Media TV One Terhadap Minat Memilih di Kelurahan Pasar Merah Timur Kecamatan Medan Area Kota Medan Pada Pemilihan Presiden Tahun 2009) Oleh : Fauziah Dongoran Abstraksi Penelitian ini berjudul Figur Susilo Bambang Yudhoyono di TV One Dan Minat Memilih Presoden Tahun 2009 ( Kajian Pengaruh Susilo Bambang Yudhoyono di Media TV One Terhadap Minat Memilih di Kelurahan Pasar Merah Timur Kecamatan Medan Area Kota Medan Pada Pemilihan Presiden Tahun 2009.

Sebagai seorang tentara ia bersikap halus dan sopn.5%. Apa yang dilakukan ini tentunya dalam kaitan untuk mendapatkan simpati dan dukungan suara dari masyarakat luas. kapasitas dan kapabilitas kolektif untuk mengkompromikan dan mempersatukan berbagai disparitas sosialnya. Tidak tanggung-tanggung data ini bahkan menunjukan partai Demokrat telah mengambil alih posisi Golkar dengan selisih angka yang cukup signifikan. Apalagi secara fisik menurut sebagian masyarakat kita Susilo Bambang Yudhoyono tergolong tampan. perolehan suara yang sangat cemerlang partai demokrat pada pemilihan legislatif tahun 2009 ini terkait erat dengan figur Susilo Bambang Yudhoyono. Pertama: dewasa ini politik berada diera mediasi. Peristiwa politik ini juga telah menjadi bahan berita dan iformasi yang menarik bagi berbagai media massa dintaranya stasiun televisi TV ONE. dimana terjadinnya peningkatan perolehan suara yang diperkirakan hampir tiga kali lipat dari hasil pemilu tahun 2004. Figur pada konteks pemilihan umum ini adalah. baik dari segi penampilan fisiknya juga prestasi yang pernah diraihnya. Lembaga Survey Indonesia. Ttentang apa yang dianggap menjadi kelebihan. tetapi dapat juga dalam bentuk kapasitas organisasi maupun gerakannya Sebagai seorang pemimpin. baik dalam bentuk rencana kerja kedepan maupun personalitynya sebagai seorang kandidat. Kemenangan partai Demokrat dianggap sangat fantastis. Ketokohan Susilo Bambang Yudhoyono diduga menjadi faktor yang sangat signifikan dalam mempengaruhi secara drastis peningkatan perolehan suara partai Demokrat . termasuk media televise yaitu. Ada dua faktor saling berkaitan yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Semua hal yang . Kapasitas tersebut tidak harus bertumpu pada individu tertentu. Pesta demokrasi rakyat tersebut didahului oleh kegiatan – kegiatan sosialisasi dan kampanye dari masing – masing kandidat. Latar Belakang Masalah Peristiwa politik selalu menarik perhatian media massa untuk dijadikan sebagai bahan liputan. Dari pemilihan anggota legislatif tanggal 9 april 2009. sedangkan periode kedua pada bulan juli 2009 adalah pemilihan Presiden dan Wakil Presiden secara langsung untuk masa bakti 2009 – 2014. hasilnya dapat diketahui melalui penghitungan suara dengan menggunakan quick count yang dilakukan LP3ES.Tetapi berdasarkan analisis yang dilakukan para pengamat politik maupun para akademisi. Periode pertama adalah pemilihan wakil rakyat secara langsung untuk anggota DPR. Lingkungan Survey Indonesia dan lembaga – lembaga survey lainnya. sehingga hampir mustahil kehidupan politik dipisahkan dari media massa. popularitasnya.Pendahuluan 1. yakni media massa. ketokohan kepemimpinan (good leadership). Pada tahun 2009 Indonesia telah melaksanakan pesta rakyat sebanyak dua kali. telah disebarluaskan secara sistematis dan terorganisir menurut caranya masing-masing. dan ini pulalah yang membedakannya dengan dengan kebanyakan koleganya dari perwira dan pemimpin lainya. peristiwa politik dalam bentuk tingkah laku dan pernyataan para aktor politik lazimnya selalu mempunyai nilai berita. Data -data yang ada mengungkapkan keunggulan partai Demokrat dalam perolehan suara anggota legislatif sekitar 20. Kedua. agar pihaknya bisa tampil sebagai pemenang. Figur publik merupakan seorang tokoh masyarakat yang menjadi pusat perhatian orang banyak dan sudah dikenal oleh masyarakat luas. Dalam kaitan ini hal yang dimaksudkan adalah.berpenampilan santun. figur Susilo Bambang Yudhoyono adalah seorang pemimpin yang penuh perhitungan dalam mengambil keputusan dan janji perubahan yang hati-hati menjadi ciri khasnya.

Penelitian terbatas pada figur Susilo Bambang Yudhoyono dalam televisi khususnya TV One.Tujuan dan Manfaat Penelitian. Penelitian ini mengemukakan tiga ru. Untuk mengetahui ketertarikan masyarakat terhadap figure Susilo Bambang Yudhoyono dalam pemilihan Presiden 2. Popularitas figur Susilo Bambang Yudhoyono ini kian meningkat setelah ketika pemerintahannya mendapat aspirasi positif masyarakat. penggabungan kelompok masyarakat menengah atas-bawah. a. Objek penelitian adalah masyarakat kelurahan Pasar Merah Timur kecamatan Medan Area kota Medan. Sejauh manakah figure Susilo Bambang Yudhoyono berpengaruh ditelevisi TV One terhadap minat memilih presiden dikalangan masyarakat kelurahan pasar merah timur kecamatan Medan Area. 2. Secara akademis. Semua ini diduga telah mendongkrak popularitas Susilo Bambang Yudhoyono. Penurunan harga BBM premium danpemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). 1.tersebut itu membuat kewibawaannya semakin kuat dimata kebanyakan bangsa Indonesia dan telah menghantarkannya sebagai figur pemimpin yang populer.Tujuan Penelitian. penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mahasiswa. 3. 4. Bagaimanakah ketertarikan msyarakat terhadap figure Susilo Bambang Yudhoyono.musan masalah sebagai berikut : 1. 1.Manfaat Penelitian. Untuk mengetahui pengaruh figur Susilo Bambang Yudhoyono di TV One terhadap Minat memilih Presiden pada masyarakat di kelurahan Pasar Merah Timur kota Medan. b. Pemaparan fenomena komunikasi politik tersebut adalah objek kajian yang menarik perhatian peneliti untuk selanjutnya dijadikan sebagai latar belakang masalah dalam penelitian ini. serta beras untuk rakyat miskin (Raskin). Untuk mengetahui factor yang mendorong dalam minat memilih masayarakat pada Figur Susilo Bambang Yudhoyono. 3. Penelitian dilakukan untukmengetahui pengaruh figur Susilo Bamba dalam minat memilih Presiden pada 2009. . 3.Pembatasan Masalah Penelitian ini dibatasi hanya pada masalah sebagai berikut 1. Perumusan Masalah. Kebijakan pemerintahannya yang telah mnguntungkan lapisan masyrakat menengah atas-bawah ini telah menjadi bahan pemberitaan yang hangat dimedia massa maupun khalayak luas. Faktor-faktor apakah yang mendorong minat memilih masyarakat pada figure Susilo Bambang Yudhoyono. 3. 2. Khususnya ilmu komunikasi dalam rangka memperkaya bahan penelitian dan sumber Bacaan. diantaranya lewat fluktuasi harga BBM. penelitian ini diberi judul “ Figur Susilo Bambang Yudhoyono di TV One dan minat memilih presiden tahun 2009 (Kajian pengaruh Susilo Bambang Yudhoyono di Media TV ONE Terhadap Minat Memilih Presiden di kelurahan Pasar Merah Timur Kecamatan Medan Area Kota Medan Pada Pemilihan Presiden Tahun 2009 2.Untuk menguji pengaruh Figur Susilo Bambang Yudhoyono terhadap minat memilih Presiden. khususnya dalam upaya pemberantasan korupsi.

Teori ini berangkat dari pandangan bahwa komunikasi tidak mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi khalayak. Kerangka Teori. Menurut teori tersebut. merupakan pergeseran focus dari tujuan komunikator ke tujuan komunikan. Menurut Herbert Blumer dan Elihu Katz. pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan media tersebut. dan menimbulkan kebutuhan dan akibat-akibat lain. Model ini merupakan pengembangan dari jarum hypodermik yang menganggap khalayak pasif. sebab khalayak dianggap aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya. Meskipun hal ini mengundang kritik. Adapun media dianggap berusaha memenuhi motif khalayak. tetapi dalam model ini perhatian telah bergeser dari proses pengiriman pesan kepada proses penerimaan pesan. Study Uses and gratifications ini memusatkan perhatian pada pengguna (uses) media. Dengan kata lain. teori yang dianggap relevan dengan penelitian ini adalah Uses and Gratifications (kegunaan dan kepuasan). Secara praktisi. Pendekatan dalam memahami interaksi orang dengan media. Model ini memandang individu sebagai makhluk suprarasional yang sangat efektif. (Orang pertama yang mengenalkan teori ini pada tahun 1974 da. Dalam proses komunikasi massa. atau dari proses pengiriman pesan ke proses penerimaan pesan. Artinya teori ini mempunyai pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhannya. . Model uses and gratifications menekankan pada pendekatan manusiawi dalam melihat media massa. melalui pemanfaatan media oleh orang itu (uses). uses and gratifications meneliti asal mula kebutuhan secara psikologi dan social.lam bukunya The Uses on Mass Communication Current Perpectives on gratifications research) dan Michael Gurevitch (sebagai orang yang ikut mencetuskan teori ini). penelitian ini dapat memperluas cakrawala peneliti tentang partai politik dalam pemilihan umum. yang diuraikan dengan berita figur Susilo Bambang Yudhoyono terhadap minat memilih. Teori ini mempunyai teori pendukung antara lain.2. pengguna media adalah pihak yang aktif dalam proses komunikasi. untuk mendapatkan kepuasan (gratifications) atas kebutuhan seseorang. Sedangkan inisiatif untuk mengaitkan pemuasan kebutuhan dengan pemilihan media terletak pada khalayak. Uses and gratifications ini menentukn fungsi komunikasi massa dalam melayani khalayak. 3. Pengguna media berusaha untuk mencari sumber media yang paling baik didalam usaha memenuhi kebutuhannya. penelitian ini dapat memberi masukan bagi peneliti yang lain jika akan mengadakan penelitian yang sama. Sosial categories theory dan Individual differences theory. Asal mula kebutuhan secara pshikologis dan social yang menimbulkan harapan tertentu dari media massa atau sumber lain yang membawa pola terpaan media yang berlainan dan menimbulkan pemenuhan kebutuhan dan akibat lain. Model ini tidak tertarik pada apa yang dilakukan media pada diri khalayak. Model Uses and Gratifications. Pada intinya khalayak menggunakan media massa berdasarkan motif-motif tertentu. Model ini menunjukan bahwa yang menjadi permasalahan utama bukanlah bagaimana media mengubah sikap dan perilaku khalayak. tetapi tertarik pada apa yang dilakukan khalayak terhadap media. tetapi bagaimana media memenuhi kebutuhan pribadi dan social khalayak. yang membawa pada pola terpaan media yang berlainan (keterlibatan pada kegiatan lain). wewenang untuk memperla kukan media. Bahwa manusia mempunyai otonomi. yang menimbulkan harapan tertentu dari media massa atau sumbersumber lain. dan keputusan yang diperoleh (gratifications). Untuk mendukung pemecahan masalah secara sistematis. Secara teoritis. 5.

teori tersebut dapat berfungsi sebagai teori sderhana untuk studi media massa. Dalam kaitan dengan pemaparan teori tersebut. Teori pendukung berikutnya adalah Individual Differencest theory. yakni menggunakan media untuk pemuasan kebutuhannya. konsisten dngan sikapsikapnya. tetapi ini dikarenakan pengetahuan secara individual yang berbeda. Bahwa penggunaan media massa TV One oleh khalayak dalam mendapatkan informasi figur Susilo Bambang Yudhoyono adalah sebagai inisiatif untuk . maka secara ilmiah dapat diduga akan muncul efek yang berfariasi sesuai dengan perbedaan individual itu. perolehan informasi dan kontak social. Asumsi dasar teori ini ialah teori sosiologis yang menyatakan bahwa meskipun masyarakat modern sifatnya heterogen. Meskipun pada saat yang sama. Khalayak sebagai sasaran media massa akan menaruh perhatian secara selektif kepada pesan-pesan terutama jika berkaitan dengan kepentingannya. akan mempunyai pola hidup tradisional yang sama. peredaan rasa kesepian. Pendekatan mempersoalkan apa yang dilakukan pada media. Gratifikasi yang sifatnya umum antara lain pelarian rasa khawatir. Teori ini mengandung rangsangan-rangsangan khusus yang menimbulkan interaksi yang berbeda dengan watak-watak perorangan anggota khalayak. DeFleur dalam buku “ Individual Differencest theory of mass communication effect”. bahwa manusia amat bervariasi dalam organisasi psikologinya secara biologis. Diawali decade 1940-an dan 1950-an para pakar melakukan penelitian mengapa khalayak terlibat dalam berbagai jenis perilaku komunikasi. Efek atau pengaruh media massa terasa lebih kuat lagi. khalayak sukar mengecek keberadaan yang disajikan media. Persamaan gaya. Inilah yang menyebabkan efek media pada khalayak tidak seragam. tetapi bukan apa yang dilakukan media pada khalayak. kebersamaan-kebersamaan atau kategori social pada masyarakat urban industrial yang perilakunya ketika diterpa perangsang tertentu hamper-hampir seragam. Umumnya khalayak lebih tertarik kepada apa yang khalayak lakukan pada media. dukungan emosional. Oleh karena terdapat perbedaan individual pada setiap pribadi anggota khalayak itu. tetapi bagi penduduknya yang memiliki sejumlah ciri yang sama. Teori kategori sosial ini merupakan formula yang lebih bersifat penjelasan dari pada pembahjasan. Sosial categories theory yang diperkenalkan Melvin L. DeFleur.Pendekatan uses and gratifications memberikan alternative untuk memandang pada hubungan antara isi media dan audience.tetapi sejauh mana dapat digunakan sebagai landasan untuk prediksi kasar dan sebagai pedoman untuk penelitian. Tetapi menurut teori ini konsumen media mempunyai kebebasan untuk memutuskan bagaimana media itu berdampak pada dirinya. sesuai dengan kepercayaannyaa yang diduking oleh nilai-nilainya. Teori ini menelaah perbedaan diantara individu-individu sebagai sasaran media massa ketika mereka diterpa sehingga menimbulkan efek tertentu. Teori ini juga menyatakan bahwa media dapat mempunyai pengaruh jahat dalam kehidupan. karena pada masyarakat modern orang memperoleh banyak informasi tentang dunia dari media massa. orientasi dan perilaku akan berkaitan dengan suatu gejala seperti media massa dalam perilaku yang seragam. melainkan beragam. Anggota-anggota dari suatu kategori tertentu akan memilih pesan komunikasi yang kira-kira sama dan menanggapinya dengan cara yang hampir sama pula. yang dikemukakan Melvin D. karena secara individual berbeda satu sama lainnya dalam struktur kejiwaannya. dan pengkategorian isi media menurut fungsinya. Pendukung model uses and gratifications diantaranya . Menurut teori ini adanya perkumpulanperkumpilan. maka penelitian ini mencoba melihat pada hubungan antara isi media massa yang menampilkan informasi tentang figur Susilo Bambang Yudhoyono sebagai seorang pemimpin dimata masyarakat dan minat memilih presiden. Anggapan dasar teori perbedaan individual ini .

Perhatian. .Tampan. 3. Kerangka konsep ini. Model teoritis. atau keputusan khalayak dengan pemilihan media adalah dalam kaitan memenuhi kepuasannya. Model Teoritis Variable Bebas (X) Figur SBY di Media TV One Variable Terikat (Y) Minat Memilih Karakteristik Responden b. Karakteristik: .Penampilan.Pendidikan. dan lahan pengamatan. Figur 3.Relegius. . Penerimaan. Untuk pencapaian hasil yang diharapkan dalam penelitian ini.Gaya Bicara. Kerangka konbsep dalam penelitian ini adalah. Kerangka Konsep. Jenis kelamin. Anteseden Variable Operasional 1.Pekerjaan 1. 6. Pengertian.1 Anteseden yang terdiri dari a). 4. 2.Usia. sehingga menghasilkan suatu model teoritis sebagai berikut: Gambar 1. Definisi Operasional. Sebagai definisi dari variablevariable ini adalah sebagai berikut: 7. Sebagai variable operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Variable Teoritis 1. Variable operasional adalah penjabaran dari kerangka konsep model teoritis yang berfungsi sebagai peta penelitian didalam pengumpulan data-data. a.Berwibawa. Jenis kelamin 2. yaitu pengelompokan jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang akan diajukan sebagai responden. dibentuk melalui pengelompokan variable – variable yang ada. Minat. .mengaitkan minat memilih presiden. 7. 2. diperlukan kerangka konsep yang disusun berdasarkan perkiraan teoritis . Defenisi operasional merupakan penjabaran lebih lanjut mengenai konsep yang telah dikelompokan dalam variable operasional penelitian. 3. Variable Operasional.

yang memerlukan suatu penalaran tentang hal tersebut. Gaya bicara yaitu teknik seorang figur dalam berbicara di media sehingga menarik dan mudah dimengerti oleh masyarakat. Karakteristik yaitu cara seorang figur menampilkan ciri tersendiri di media sehingga dapat menarik hati masyarakat diantaranya. Ha : Terdapat hubungan antara figur Bambang Yudhoyono dalam media televisi TV One Terhadap minat memilih presiden pada masyarakat di-kelurahan Medan Timur diKota Medan. Membangun hubungan antar manusia. Sebagai hipotesis dalam penelitian ini adalah: Ho : Tidak terdapat hubungan antara figur Susilo Bambang Yudhoyono dalam media Televisi TV One terhadap Minat Memilih Presiden pada masyarakat di. Pesan { isi informasi ). dan gerak-gerik sebagai alat penyalurnya. religius. c). b). Uraian Teoritis. Hipotesis. yaitu menunjukan kondisi batasan umur responden yang diajukan. c). Pendidikan yaitu. Usia.kelurahan Pasar Merah Timur di-kota Medan. Penerimaan yaitu rangkaian proses yang dimulai dari perhatian. Media ( alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan informasi ). dan sebagainya. pemimpin.2 Figur yaitu. a). . A. b). Dilihat dari hakekatnya komunikasi ialah proses pertukaran atau perpindahan informasi antara manusia dengan menggunakan bahasa. pengertian dan diakhiri dengan penerimaan terhadap informasi atau suatu hal yang kemudian dapat mendatangkan suatu respond dan tanggapan. gambar. 7. sosok individu yang sudah dikenal oleh masyarakat luas. tampan. Komunikator (orang yang menyampaikan informasi). yang menunjuka kondisi pendidikan responden yang diajukan. komunikan ( orang menerima informasi ) dan efek ( pengaruh komunikasi ). berwibawa. Harold Lasswell dalam bukunya The Structure and Function of Comminication in Society untuk menjelaskan komunikasi ia mengemukan formulasi “ Who Says What In Wich Channel To Whom With What Effect” Formulasi itu kemudian diterjemahkan menjadi unsur-unsur komunikai yaitu. Pengertian Komunikasi. seperti pejabat. Perhatian yaitu suatu bentuk sikap yang mencerminkan keinginan untuk mengetahui tentang suatu hal yang dianggap menarik untuk disimak. 2. kelompok sarjana komuni kasi mendifinisikannya sebagai berikut: komunikasi adalah suatu transaksi. menunjukan status kelompok kerja atau profesi responden yang diajukan sebagai responden. Pengertian yaitu proses berfikir mengeni suatu hal yang membuat seseorang dapat menyerap apa yang disampaikan kepada dirinya. 7. proses simbolik yang menghendaki orang-orang mengatur lingkungannya dengan : 1. a). Melalui pertukaran informasi. Hipotesis adalah suatu pendapat atau sementara atau kurang sempurna. Penampilan yaitu cara tampilan seorang figur dalam media sehingga menarik bagi masyarakat. c). karena ketokohannya. 8. Tetapi untuk membatasi makna komunikasi.3 Minat yaitu kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu.b). Pekerjaan yaitu. d).

massa seperti telephon. seperti artis. yang lebih popular dengan sebutan SBY adalah Presiden Indonesia yang ke-6 (2004-2009). Serta berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu. 4. Pengertian figur.Tahun 19973 ia sebagai Taruna Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Media ada yang bersifat massa seperti seperti televisi dan non. Sedangkan komunikasi secara skunder ( proses penyampaian informasi dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua}. Lackland. Lahir di Pacitan. Hiburan. Jawa Timur pada tanggal 9 September 1949. Memulai karirnya dimiliter sejak tahun 1970. (Proses transformasi). Untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain. Komunikasi massa adalah proses komunikasi yang dilakukan melalui media massa dengan berbagai tujuan komunikasi dan untuk menyampaikan informasi kepada khalayak luas. Informasi. B. Fungsi Pengawasan. merupakan sentral yang menjadi pusat perhatian. 6. pejabat. (Entertaiment) C.(Konyrol social). Khalayak (penerima informasi). 2002: 19) Proses komunikasi dapat berlangsung melalui dua cara yaitu. Fungsi penyampaian informasi. 4. Pengertian Komunikasi Massa. Menghubur ( to entertain ). David Orgilvy dalam Kesuma (1993:403) mengemukakan. e. dan pada masa pemerintahan Megawati ia diangkat menjadi Menko Polkam . Getekeeper (Penyeleksi informasi).2006:79-81) adalah sebagai berikut : a. olah raga. yaitu sebagai berikut : a). Fungsi Sicial Learning. sikap dan tindakan-tindakannya. Umpan Balik Sedangkan Fungsi media massa menurut (Bungin. Fungsi transformasi budaya.2006:71). Atas dasar batasan ini maka unsure komunikasi massa yang dikemukakannya adalah : 1. Semakin populer sosok seorang figur biasanya semakin sering ia tampil di media massa. peran. Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (1988-705). boleh jadi karena segi penampilan fisiknya prestasinya. Haji Susilo Bambang Yudoyono.( Bungin.tokoh. Komunikator 2. Mendidik ( to educate ) c). Mempengaruhi ( to influence ).3. Tokoh masyarakat berarti orang yang sudah dikenal oleh masyarakat luas. 5. Jadi public figur adalah tokoh. (to informations) d. ketokohannya atau karena hal lainnya. Publik berarti orang banyak (umum). Penggunaan media massa merujuk kepada fungsi media massa itu sendiri. b. public figur adalah figur masyarakat (tokoh masyarakat). Menyampaikan informasi (to inform ) b). wujud. . (guiding pendidikan) c. American Language Course.( Cangara. Sedangkan figur bermakna : bentuk. secara primer (proses penyampaian informasi dengan menggunakan lambang ( symbol ) sebagai media. orang yang berperan. pemimpin. yang menjadi pusat perhatian orang banyak. 2005 :8 ). dan akan semakin menjadi pembicaraan prilaku. Jadi publik figur merupakan sosok orang menjadi pusat perhatian orang banyak atau masyarakat luas. dan tokoh masyarakat lainnya. Media Massa 3. ( Effendy. d).

Kearifan dan kecerdasan SBY dalam berhadapan dengan tokoh-tokoh senior yang juga calon-calon presoden lainya pada tahun 2004 dengan pernyataan “bagi saya Megawati atau Amin Rais bukanlah musuh. Hanya saja minat punya kaitan dengan faktor internal individu seperti mental atau bakat .Pengertian Minat. Doyles Fryer (1983:224) menyatakan minat atau interest adalah gejala yang berkaitan dengan objek atau aktifitas yang menstimulir perasaan senang pada individu. Karenanya. Sebagai presiden masa bakti 2004-2009. Jadi minat bukanlah sesuatu yang dibawa sejak lahir. Graduated ICAO di AS dan tahun 2003 terpilih sebagai Tokoh berbahasa lisan Terbaik. D. Poerwadarminta. 1986:55). ( Kompas. Pada pemilihan Presiden tahun 2009 beberapa survey. Dalam kamus bahasa Indonesia. sikap (attitude). melainkan terbentuk oleh stimulus melalui interaksi.mengalahkan calon-calon lainnya. Dalam menyikapi beberapa persoalan menurut sebagaian masyarakat ia terkesan lamban dan ragu-ragu. intensif dan lebih menguasai individu secara mendalam. Kursus Komando Batalyon tahun 19855 dan pangkat terakhir yang disandangnya adalah Jendral TNI terhitung tanggal 25 September 2000 dan pensiun pada tanggal 10 November 2000. Menurt Meichati ( 1974. Minat seseorang itu merupakan proses internal dalam diri individu. Figur calon presiden biasanya berhubungan denagn perilaku pemilih. marilah berkompetisi secara sehat dalam bingkai demokrasi“. minat diartikan sebagai perhatian. beberapa kebijakannya yang dianggap pro rakyat telah membuat figurnya semakin fenomenal dimasyarakat. Menrut Fisben and Ijek perilaku memilih dipengaruhi sistem yang terdiri dari kepercayaan (believe). tetapi kompetitor. yang kemudian pada pemilihan presiden tahun 2004 ia mencalonkan diri sebagai presiden dan tampil sebagai pemenangnya beserta wakilnya Usuf Kalla.Figur SBY ini selain telah menghantarkanya sebgai pemenang pada pemilihan presiden langsung untuk masa bakti 2009-20014. dan polling yang pernah diadakan oleh berbagai media. jajak pendapat. kuat. Banyak masyarakat yang beranggapan SBY sebagai simbol perubahan . Apabila dikaitakan dengan pemilihan maka minat ini akan terarah kepada suatu objek yang menjadi perhatiannya dan merupakan sumber motivasi yang mendorong orang secara bebas untuk menentukan apa atau siapa yang mereka pilih. Semakin disenangi figur seseorang semakin besar peluangnya untuk dipilih oleh pemilih pada peristiwa pemilihan umum.Texas AS tahun 1976.kesukaaan (kecenderungan hati) kepada suatu keinginan tertentu. Diantara penghargaan yang pernah diterimanya adalah :Tahun 1973 Lencana Adi Mahakarya dari Presiden RI untuk lulusan AKABRI terbaik. 1983 Honorour. maksud (intention) dan perilaki (behavior). tutur kata yang santun dan gaya bicara yang panjang lebar untuk dalam menjelaskan beberapa persoalan. Performancenya ini telah merebut simpati masyarakat luas dari berbagai lapisan masyarakat.24/6/2004 ). Karir politik SBY mulai menanjak setelah pengnduran dirinya pada masa kabinet Gotong Royong pemerintahan presiden ke 5. tubuh yang tegap. diduga figurnya jugalah yang telah berhasil mendongkrak perolehan kursi DPR partai Demokrat pada pemilihan tahun ini juga. sikap-sikap positif SBY yang selalu menonjol dan telah membawanya sebagi orang populer. Figur SBY dikenal sebagaai tokoh yang berwajah tampan.25) minat adalah perhatian. Sistem ini merupakan dasar dari rule system yang menjadikannya aksen activity. tetapi sebagian lagi berpendapat bahwa hal itu hanyalah sebagai ujud kehati-hatiannya sebagai seorang pemimpin yang berusaha untuk bisa arif. termasuk dalam hal minat memilihnya. tekun.Sedangkan Jersild dan Tasch (1983:224) menekankan bahwa minat atau interst menyangkut aktifita yang dipilih secara bebas oleh individu.

maka minat dapat timbul jika adanya objek yang menonjol (kontras). b. B. Semakin besar harapannya untuk mendapatkan sesuatu pada objek itu maka akan semakin besar minatnya terhadap objek itu. D. ( Distribusi sample diambil dari 12 lingkungan). Metodologi Penelitian. Usia 17 – 60 tahun. . Deskripsi Daerah Penelitian. yang menarik perhatiannya dan tentu ia mempunyai harapan untuk mendapatkan sesuatu dari sana. Pada penelitian ini untuk mengetahui pengaruh figur Susilo Bambang Yudhoyono dalam media televisi TV One terhadap minat memilih Presiden di Kelurahan Pasar Merah Timur Kecamatan Medan Area Kota Medan. A.Populasi: terdiri dari 12 lingkungan dengan jum. “metode korelasional untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor lain berdasarkan pada koefisien korelasional.lah penduduk 11. 2004:82).dan sebagainya yang dapat membuat orang merasa senang.Metode Penelitian. Teknik Pengumpulan Data.Oleh karena itu minat bersifat situasional dan temporer yang dapat berubah. Penelitian ini menggunakan metode korelasional. suka terhadap suatu objek. Untuk menentukan jumlah sample digunakan rumus Taro Yamane dengan presisi 10% dan tingkat kepercayaan 90% ( Rahmat. Penelitian ini dilakukan di kelurahan Pasar Merah Timur Kecamatan Medan Area Kota Medan.Sample.93 N = 99 Responden. Selanjutnya untuk penarikan sample digunakan rumus : • nI x n N Kreteria sample telah ditentukan sebagai berikut : a. N n= Nd² + 1 Dengan demikian besar sample yang diambil adalah : N n= Nd² + 1 11793 = 118. Dengan demikian jika dilihat dari kepentingan indifidu. dengan profilnya sebagai berikut : 1.793 Jiwa C. Menonton acara tersebut.

c.dokumen lainnya). Untuk menguji hubungan diantara kedua variable penelitian digunakan rumus Product Moment sebagai berikut:. N ∑ xy r= . Perempuan Jumlah Sumber . Analisis data dilakukan dalam beberapa tahap: 1. Penelitian lapangan (pengumpulan data melalui Kuesioner) dalam empat bentuk yaitu : a. A. Tabel.60 100. Analisis table tunggal (membagi variable kedalam sejumlah frekuensi dan Presentase. Uji hipotesis (untuk mengetahui apakah hipotesis diterima atau ditolak).00 .Untuk mendapatka data penelitian yang diperlukan. 1 Jenis Responden No Jenis Responden 1. 2. b.∑x∑y √ [ N ∑ X² - (∑ X²)][N ∑Y² . Kuesioner pilihan ganda.(∑Y²)] Keterangan : r : Koefisien korelasi produk moment N : Jumlah sample x : Variable bebas y : Variable terikat. d. Angket Tahun 2009 n = 99 n 40 59 99 % 40. Jika Rxy <0. Analisa Table Tunggal. Kuesioner isian. 2). Hasil Penelitian dan Pembahasan. Tanda silang ( X ) sebuah daftar pada kolom yang sesuai. untuk melihat besar sukap responden. tulisan dan Dokumen. penelitian ini menggunakan dua sumber yaitu : 1). Penelitian kepustakaan (Pengambilan data melalui buku literature. Likert scale( Skala likert ).40 59. maka hipotesis ditolak. Laki-laki 2. Rxy >0. maka hipotesis diterima. Teknik Analisis Data. Analisis table silang (untuk mengetahui hubungan variable) 3. E.

Mampu 59 59. Tabel.67 25.28 Jumlah 99 100. 3 Penampilan SBY mempengaruhi minat No.00 Sumber: Angket Tahun 2009. Tidak Berpengaruh 7 7. n = 99 Tabel menunjukan bahwa tingkat pengaruh penampilan SBY di televisi sangat tinggi bagi responden dalam mendapatkan informasi tentang figur SBY. Sangat Berpengaruh 24 24.07 3. 4 Gaya Bicara SBY pengaruhgaya bicara SBY. 2 Pengaruh SBY terhadap informasi Responden No Kategori Jawaban N % 1.00 .00 Sumber: Angket Tahun 2009 n = 99 Tabel.07 2. Sangat Berpengaruh 28 28. Katogori Jawaban N % 1.25 100. Sangat Berpengaruh 25 Jumlah 99 % 5.00 Sumber : Angket tahun2009. Tidak Berpengaruh 5 2.24 Jumlah 99 100. Hal ini menunjukan bahwa di kelurahan pasar merah timur kecamatan Medan Area Kota Medan jumlah penduduk permpuan lebih banyak dari pada laki-laki. Berpengaruh 58 58.09 3.05 2. Tidak Berpengaruh 5 5. n = 99 Data pada tabel menunjukan bahwa pengaruh gaya bicara SBY cukup siknifikan dalam mengubah pola pikir responden. Kurang Berpengaruh 9 9. Tabel.62 4. 5 Karakteristik SBY.03 66. Tabel. Berpengaruh 61 61. Tidak Mampu 2 2.05 3.62%) berpengaruh terhadap menyatakan gaya bicara SBY berpengaruh gaya pola pikirnya .31 Jumlah 99 100. No. Katogori Jawaban N 1. No. atau 61 responden (61. Sangat Mampu 31 31.02 2. Berpengaruh 66 4. Kurang Berpengaruh 3 3. Katogori Jawaban N % 1. Kurang Berpengaruh 6 6.Responden Perempuan lebih bayak dari laki-laki.60 4. Kurang Mampu 7 7.06 3.59 4.

2. Tidak Berpengaruh Kurang Berpengaruh Berpengaruh Sangat Berpengaruh Jumlah 4 11 65 19 99 4. 3. Katogori Jawaban N % 1.04 2. dalam pemilihan president.05 64. Tabel. No.19 100.04 11. Tidak Berpengaruh Kurang Berpengaruh Berpengaruh Sangat Berpengaruh 6 5 64 24 6.02 52. 2.41 100.53 41.67%). 4. menurut 64 responden (64. Katogori Jawaban N % 1. 3.53%). Tabel.24 Jumlah Sumber: Angket Tahun 2009 n = 99 99 100. Katogori Jawaban N % 1. Tabel. Tidak Berpengaruh Kurang Berpengaruh Berpengaruh Sangat Berpengaruh Jumlah 4 2 52 41 99 4.66 19.Sumber: Angket Tahun 2009 n = 99 Data pada tabel dalam kaitan pengaruh karakteristik SBY dalam pemilihan president cukup tinggi. menurut 66 responden (66.00 Data pada tabel menunjukan bahwa setelah mengikuti figur SBY di telefisi berpengaruh dalam tingkat minat .00 Sumber: Angket Tahun 2009 n = 99 Kewibawaan SBY menurut tabel diatas berpengaruh terhadap minat memilih presiden menurut 52 responden (52. 6 Kewibawaan SBY.11 65.06 5. . 7 Sifat Reliji SBY. 2. 4.66%% ). 8 Meminat Memilih SBY No.65%).65 24. No. 3.00 Sumber: Angket Tahun 2009 n = 99 Sifat Reliji SBY ternyata berpengaruh terhadap tingkat memilih dalam pemilihan presiden menurut 65 responden (65. 4.

07 Total F 2 7 59 31 % 2. mampu mempengaruhi tingkat perhatian dalam pemilihan Presiden.04 33.01 Mampu F 1 4 33 22 % 1.60% 16 16. 2.00 0.02 2. Hubungan antara penampilan figur Susilo Bambang Yudhoyono.00% Hubungan antara penampilan figur SBY terhadap tingkat perhatian masyarakat dalam Pemilihan Presiden. No 1.01 7 7.01 6 2 2. 3.02% 22.06 29.00 1 14 1 1.00 3.07% Kurang Mampu F % 0 0.00 0 0.09% .01 1 4 1 1.31% 16 16. Figur SBY Tidak Sering Kurang Sering Sering Sangat Sering Minat Memilih Capres Tidak Kurang Sangat Mampu Mampu Mampu Mampu F % F % F % F % 0 0. 4. menurut 59 ( 59.3 2 Total 2 2 66 9 2.Sedangkan 33 ( 31.14 1.2 9 1 4 14.08 7.02 2 9 1. 4.33 22. Analisa Table Silang. Tabel.06 32.02 0 0.60% 31.16% 99 100. 1).16% 60 60. 2). Tabel.6% ) responden : bahwa daya tarik penampilan SBY dianggap . Figur SBY Tidak Mampu Kurang Mampu Mampu Sangat Mampu Total Tidak Mampu F % 1 1.70% 9.01 4.22 Sangat Mampu F % 0 0. Hubungan Antara Intensitas Bicara SBY di Televisi Terhadap Minat Memilih Responden.01 8.00 0 3 0 0.04 1. 3.31% ) responden mengatakan sangat mampu.1 4 6 3 2 6.00 2 2 1 2.01 4.00 1 8 7 1.22% 66. 2.B. berpengaruh terhadap Tingkat Perhatian Responden Pada Pilpres . 10 Hubungan antara Intensitas Bicara SBY terhadap Minat Memilih No 1.02% 7.00 2 2.07% 59.02 6. 9 Hubungan penampilan SBY terhadap tingkat perhatian.01 14.

01 41.Total 3 3.01 F 0 1 4 0 % 0. maka korelasi dapat diketahui dengan menggunakan rumus Produk Moment yaitu :.(∑ X)²][N ∑Y² .24% Figur SBY.04 0. Sedangkan tingkat pengaruh kewibawaan SBY berpengaruh terhadap tingkat minat responden dalam memilih presiden. Menurut 52 (52. Tidak Berpengaruh Kurang Berpengaruh Berpengaruh Sangat Berpengaruh Figur SBY Tidak Berpengaruh Kurang Berpengaruh Berpengaruh Sangat Berpengaruh Total TOTAL 4 2 52 41 4. Dari hasil temuan data yang ada.41% 99 F 4 0 1 1 % 4. 3.01 4.00 6.00 0.41% ) responden menyatakan sangat berpengartuh. N ∑ xy .22 F 0 0 6 18 % 0. √ .00 1.06 18.05% 47 47.7% ) responden menyatakan: intensitas bicara SBY di televisi sering mempengaruhi tingkat frekuensi minat responden dalam maju untuk ikut memberikan suara pada pilpres.Adapun yang menyatakan sangat sering sebanyak 9 (9.18 6 6.01 1. Hubungan Antara Kewibawaan SBY dan Minat Memilih Presiden.03% 5 5.(∑Y)²] Keterangan : r : Koefisien korelasi produk moment N : Jumlah sample x : Variable bebas y : Variable terikat.64% 24 24.06% 5 5. 11 Kewibawaan SBY dan Minat Memilih Presiden. 4. Uji hipotesis meliputi variable meliputi variable bebas ( X )sebagai figur Susilo Bambang Yudhoyono. 4.05% 64 64.04 0.47% 16 16.02% 52. ternyata tingkat pengaruh kewibawaan sebanyak 41 ( 41.00 1.00 1. Uji Hipotesis.52% 41.00 F 0 1 41 22 % 0. Minat Memilih Pilpres No 1.09%) responden. dan variable terikat ( Y) yakni minat memilih. berpengaruh terhadap tingkat minat memilih presiden.41 22.5%) responden. Tabel. Bahwa sebanyak 66(66.04% 2. 2. 3).16% 99 Terdapat hubungan antara tingkat frekuensi menerima intensitas bicara SBY terhadap tingkat frekuensi pengaruh minat memilih presiden.∑ x ∑ y r= [N ∑ X² .

7%. . dapat dihitung dengan menggunakan rumus : • KP= (rs)2 x 100% Keterangan : KP : Kekuatan Pengaruh r : Koefisien korelasi.000 99 Minat Memilih . 5. Dengan menggunakan rumus produk moment. Menurut skala Guilford. Untuk melihat besarnya kekuatan pengaruh ( KP ) yang ditimbulkan oleh figur Susilo Bambang Yudhoyono dari TV One terhadap minat memilih masyarakat dikelurahan Pasar Merah Timur. Ini berarti figur Susilo Bambang Yudhoyono signifikan denagn minat memilih masyarakat. Ini bermakna bahwa hanya sebesar 49% figur Susilo Bambang Yudyoyono di media televise berpengaruh terhadap minat memilih Presiden bagi masyarakat kelurahan Pasar Merah Timur Kecamatan Medan Kota. korelasi ini (antar Figur Susilo Bambang Yudhoyono dan minat memilih masyarakat dikelurhaan Pasar Merah ) terdapat hubungan yang signifikan. Karena di dalam software tersebut sudah diperingat kan secara jelas dan rinci. yaitu 0%. (2-tailed) n 1 99 .01 maka Ho ditolak. Perhitungan nya menggunakan piranti lunak ( Software).Pengujian Hipotesis korelasi ini menggunakan korelasi Product Moment (Person’s correlation). Jika probabilitas 0. diketahui harga r adalah 0.698 x 100% = 48.698 berada pada tingkat 0. dimana 0.70.000 99 1 99 Minat Memilih ** Correlation is singnificant at the 0.00. ( terdapatnya hubungan figur Susilo Bambang Yudhoyono dan minat memlih masyarakat).0 for windows.40-0. = 49% Dengan demikian hubungan figur Susilo Bambang Yudhoyono terhadap minat memilih masyarakat di kelurahan Pasar Merah Timur adalah sebesar 49%.01 level (2-tailed) Berdasarkan tabel korelasi tersebut diketahui bahwa korelasi yang diperoleh bersifat positif yaitu +0. Correlation’s Figur SBY Figur SBY Pearson Correlation Sig.698.698 (**) . Ini bermakna adanya hubungan antara variable X dan Y. pengujian t-test dan uji-Z tidak dibutuh kan lagi. KP= (rs)2 X 100%. Tingkat signifikansi korelasi lebih kecil dari0. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.68.698 (**) .698 )2 x 100% = (0. Pembahasan Hasil Uji Hipotesis. = (0. SPSS 15.

698. Hasil uji hipotesis Ha. bersahaja dan dapat menerima keritikan-keritikan. Pengaruh figurnya ini pada pilpres sebesar 49%. . Penelitian ini telah membuktikan bahwa figur Susilo Bambang Yudhoyono cukup berpengaruh. Hasil ini menolak uji hipotesis Ho (tidak ada pengaruh sama sekali). sabar dalam menghadapi masalah. Hubungan ini dianggap cukup berarti dan cukup signifikan dalam mempengaruhi masyarakat untuk memilih Susilo Bambang Yudoyono sebagai calon presiden masa bakti 2009 -2014. dapat dilihat dari uji hipoteis adalah 0. karena figurnya sudah cukup dikenal oleh masyarakat.698% ). Besarnya kekuatan pengaruh (KP) yang ditimbulkan oleh figur Susilo Bambang Yudhoyono dari TV One terhadap minat memilih masyarakat di-kelurahan Pasar Merah Timur. Kota medan. figur Susilo Bambang Yudhoyono berhubungan dengan minat memilih presiden bagi masyarakat kelurahan Pasar Merah Timur kecamatan Medan Area Kota Medan masyarakat.70 – 0. Terdapat pengaruh antara figur Susilo BambangYudhoyono di media televisi terhadap minat memilih presiden pada masyarakat kelurahan Pasar Merah Timur kota Medan. terhadap minat memilih presiden bagi masyarakat kelurahan Pasar Merah Timur kecamatan Medan Area. 3). dihitung dengan menggunakan rumus: KP = (rs) 2 x 100%. bagi masyarakat Kelurahan Pasar Merah Timur.Dengan demikian figur Susilo Bambang Yudyoyono adalah figur seorang pemimpin bangsa. menunjukan terdapatnya pengaruh yang cukup berarti antara figur Susilo Bambang Yudhoyono dengan minat memilih masyarakat dikeluruhan Pasar Merah Timur kecamatan Medan Area kota Medan. sebesar 49%. bahwa hubungan figur Susilo Bambang Yudhoyono pada tayangan media televisi. Dalam praktek demokrasi hanya pemimpin yang memiliki legitimasi masalah yang memiliki suatu kekuatan untuk mempengaruhi dan mengarahkan bangsanya sesuai dengan apa yang dicita-citakannya. Figur SBY. seperti cara berfikirnya kritis. menunjukan terdapat hubungan yang signifikan antara figur Susilo Bambang Yudhoyono pada siaran TV One terhadap minat memilih presiden pada masyarakat kelurahan Pasar Merah Timur dengan skala Guilford 0. ada hal yang menyenangkan ataupun memberikan kepuasan. berpengaruh terhadap tingkat minat memilih presiden. Berdasarkan data-data yang terkumpul melalui pengajuan Kuesioner dapat diketahui bahwa figur Susilo Bambang Yudhoyono mampu mempengaruhi. Dalam hal ini tentu karena adanya rasa ketertarikan. Uji hipotesis nilai r = 0. Penelitian ini telah menghasilkan data-data tentang hubungan yang ditimbulkan antara figur Susilo Bambang Yudhoyono terhadap minat memilih masyarakat pada Pilpres dikelurahan Pasar Merah Timur. Kesimpulan 1). Kesimpulan Dan Saran A. sedangkan 51% disebabkan beberapa faktor-faktor lainnya. Hasil dari perhitungan ini adalah.70 (hubungan cukup berarti). Sedangkan tingkatpengaruh kewibawaan SBY ini berpengaruh terhadap tingkat minat responden dalam memilih presiden.Hasil uji hipotesis secara keseluruhan dapat diklasifikasikan bahwa . bahwa minat dimaknai dengan kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. mengarahkan dan mengajak masayarakat untuk turut menggunakan haknya dalam pelaksanaan pemilihan presiden. Sebagaimana dalam pembahasan sebelumnya. 2). Dengan demikian makna keseluruhannya adalah. Hal ini berarti hanya 49% kekuatan pengaruh figur Susilo Bambang Yudhoyono dimedia televisi terhadap minat memilih calon presiden. terdapat hubungan antara X dan Y.

Metode Penelitian Survei. Medan. Jakarta.. Metode Penelitian Komunikasi. Adi Soempeno Femi.A. Hurlock. K. Dennis.Inu & Ashari. Yokyakarta. 2004. Analisis Inventori Minat dan Kepribadian. 2007.B.Hafied 2002. Jakarta. Cetakan Pertama. Jakarta.. 2007. Indonesia Memilih.2007. Sistem Politik Indonesia. Suwardi Lubis. Rakhmat Jalaluddin. Citra Aditya Bakti Bandung. Hadari. Pengantar Komunikasi Massa.. PT.... Jakarta. Pustaka Bangsa Press. tutur kata. santun. PT. Ilmu Komunikasi Pengantar Studi.. Riyono. H.. Yokyakarta. Onong Uchjana. Jakarta. Jakarta. Penerbit USU Press Wiryanto.2006. Purba. 2006. Nurudin. Jakarta. 2009.Dino. 1987. Andi Offset. Sejarah Perpustakaan dan Pengembangan di Indonesia. PT. . Rachmat. MC.. Kilas Balik Pemilihan Presiden. PT. Nurhadi. Bandung .Jakarta. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Metode Penelitian Komunikasi. 1994. 2004. Amir dkk. Surakarta. Gajah Mada Universitas Press. DAFTAR PUSTAKA. Pustaka Pelajar Offset. Jakarta. Psikologi Perkembangan. Yokyakarta.. Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Departemen Pendidikan Nasional. Balai Pustaka. Mulyana Deddy. 2005. 2006. Galangpress. agar meminimalisasi konflik dan ketegangan dalam penyelesaian masalahnya. Teknik Praktis Riset Komunikasi. 2006. Teori Komunikasi Massa. Gasindo. Raja Grafindo Persada. Bandung... Kamus Umum Bahasa Indonesia. Raja Grafindo Persada. Harus Bisa! Catatan Harian.B. 1993. Pustaka LP3ES. Pengantar Penelitian Komunikasi. Bungin Burhan. Kriyantono. Elizabet. Sumber lain : . Sukardi. Syafie.R&W.W. Sumardi. Berbagai Aspek Ilmu Komunikasi. Metode Penelitian Bidang Sosial. PT. Metode Penelitian. PT. 2007. 2001. 2005. Muljani. Cangara. Remaja Rosda Karya Bandung. 2006.. Rafika Aditama. Erlangga. PT. Kenca Prenada Media Grup . Ketut Dewa. Pratikno.Gelora Aksara Pratama. dan Filsafat Komunikasi. Jakarta Effendy. Figur Susilo Bambang Yudhoyono yang mendapat penilaian positif seperti religius berwibawa. Rineka Cipta. Jakarta. hati-hati dan lain-lainnya seyogiyanyalah untuk dipertahankan terlebih-lebih dalam menghadapi berbagai permasalahan baik yang berkaitan dengan masyarakat luas....Quil. Erotika Media Massa. 1998.1983. Suryabrata. Djalal P. 2005. Poewardaminta. Nawawi. Kencana . Remaja Rosda Karya. Kencana.Erlangga PT.. Remaja Rosdakarya. Singarimbun Masri & Sofien Effendi. PT. Muhammadiyah university Press. Saran 1). Ilmu Teori. Widjaya. Bandung.. Metode Penelitian. Koiruddin... 1984. Metode Penelitian Kuantitatif..2000... 2005. Sosiologi Komunikasi.A. Jakarta. Gramedia Pustaka . Rineke Cipta. 2000.2008. Yokyakarta.

g.tarigan.id/searchpengertian+minat+menurut+h.as.comm/doe/2558832/perilaku-memilih-transmigran-jawa. http:///www.google.dan khalayakdalam.multiply.library. 24 Juni 2004 http//:www. http:///kaligrafindah.al-guruneducationapsychology-perspektive.Unnas. Html:www.Kompas. 6 April.ac. www.com/jurnal/item/27minat-.id/scholor=kamus+umum+inclonesia&btng=televisi. .unuka. http:///www.scribd.tvOne. Dijilid.html.ad.id.blogspot.co. Kompas. Sindo.manggoreskalografi.id/fakultas/psikojg/artkel/ss-i-htm http://scholor. 30 Juli 2009.Komunikasimassa-umy.co. 2009.google.com/2005/11/teori-media . 2009. Waspada.co. 29 April.

Teman/sejawat merupakan sumber informasi utama OSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun sudah cukup lama mengenal perangkat lunak open source. Untuk memperkuat dan menjelaskan data kuantitatif dilakukan wawancara mendalam dengan enam orang narasumber yang bekerja atau berprofesi di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK). . sedangkan sosialisasi bersifat langsung baik dari Departemen Komunikasi dan Informatika. maupun dari Badan Informasi dan Telematika Daerah Pemerintah Provinsi Bali tidak pernah diikuti oleh responden.IV. Penelitian bersifat deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Salah satu komponennya adalah mengungkapkan sumber informasi bagi karyawan instansi yang diteliti. Pengumpulan data dilaksanakan dengan survei dengan mengedarkan kuesioner kepada 30 responden. diharapkan Departemen Komunikasi dan Informatika beserta instansi terkait dengan OSS dapat mengeluarkan regulasi penggunaan OSS yang lebih kondusif guna mendorong aparatur pemerintah menerapkannya di instansi masing-masing. 1 April 2010 SOSIALISASI OPEN SOURCE SOFTWARE DI DENPASAR Oleh : Paraden Lucas Sidauruk Abstrak Tujuan utama penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan sosialisasi open source software (OSS) pada instansi pemerintah di Denpasar. tidak kompatibel dengan perangkat lunak proprietary. Jumlah responden dan lokasi penelitian ditentukan secara purposif. tetapi tidak digunakan antara lain karena tidak terbiasa mengoperasikannya. Provinsi Bali. Selain meningkatkan sosialisasi dengan tepat sasaran. Volume 11 No.

Kata Kunci : Penggunaan Open Source Software. tahun 2006 menurun menjadi 85 persen dan tahun 2007 tinggal 84 persen. it is expected the Ministry of Communication and Information and its agencies associated with the use of OSS may issue regulation that are more conducive to encourage government officials to implement it in their respective intuition. Dewasa ini hampir tidak ada lagi orang yang tidak mengetahui komputer dan telepon genggam atau handpone (HP). Sebagai closed source software. Menurut Donny A Sheyoputra. Bali Province. One of the components is revealing the source of information for agency employees is being investigated.Teman / peers are the main information source OSS. komputer dengan sistem operasi tersebut tentu bersifat monopoli dan tidak bebas untuk dikembangkan kecuali oleh perusahaan pemiliknya sendiri. sedangkan di pihak lain harganya terbilang mahal dan kesadaran masyarakat menghargai hak cipta dan membayar pajak masih rendah. is not compatible with software proprietary. Maraknya pemakaian komputer tentu menggembirakan karena dapat mendorong berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi (information and communication technology atau ICT) di Indonesia. Keywords: Use of Open Source Software. pemerintah berkepentingan untuk mencari strategi dan cara meningkatkan minat masyarakat untuk memanfaatkan komputer dan internet secara sehat dan legal. Menurut Dwi Handoko (2005 :31). Results showed that although old enough to know open source software. while socialization is directly either from the Ministry of Communications and Information Technology . Oleh karena itu. Data collection was carried out with the survey by distributing questionnaires to 30 respondents. “pada tahun 2005 sekitar 87 persen peranti lunak dalam komputer yang beredar di Indonesia bajakan. Di satu pihak permintaan terhadap peranti lunak milik Microsoft cukup tinggi. Peralatan (gadget) itu telah banyak digunakan di kalangan masyarakat untuk keperluan komunikasi dan mempermudah penyelesaian pekerjaan. among others. but not used. To strengthen and clarify the quantitative data in-depth interviews were conducted with six speakers who worked or work in the field of information and communication technology (ICT). Information Resources Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sudah sedemikian rupa pesatnya sehingga memengaruhi cara bekerja dan berkomunikasi manusia. Socialization. “peranti lunak proprietary mengacu kepada suatu peranti lunak yang dikembangkan oleh vendor di mana kode programnya (source code) tertutup dari pengguna. Akibatnya. Selain merugikan . because not used to operate it. Sejauh ini kebanyakan komputer yang digunakan di kantor pemerintahan berasal dari peranti lunak proprietary. The number of respondents and the location is determined by purposive research. sedangkan peranti lunak open source yang dikembangkan oleh komunitas yang bekerja secara voluntir dan kode programnya dapat dilihat oleh pengguna”. salah satunya adalah sistem operasi dari microsoft. In addition to increased socialization with the right target. or from the Information Agency and the Regional Government of Bali Province Telematics never followed by the respondent. Sosialisasi. tidak mengherankan apabila muncul pembajakan atau penggunaan perangkat ini di berbagai kantor dan perumahan secara ilegal. Sumber Informasi The main objective of this research is to know how the implementation of the dissemination of open source software (OSS) in government offices in Denpasar. Descriptive research with quantitative approach.

Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Kehakiman dan HAM.negara karena para pembajak tidak membayar pajak juga merugikan industri peranti lunak karena terjadi persaingan tidak sehat”. meningkatkan kreatifitas anak bangsa dan penegakan hak atas kekayaan intelektual”. (2) penghematan dalam penggunaan devisa negara dan dapat mengurangi tingkat ketergantungan impor teknologi dan sumberdaya manusia. (3) peningkatan reliabilitas (realibility) dan peningkatan keamanan (secure) dalam penggunaan aplikasi perangkat lunak. yaitu (1) aplikasi perangkat lunak legal lokal open source lebih kompetitif dan terjangkau dibanding dengan aplikasi perangkat lunak lainnya. Dorongan kebutuhan ternyata seringkali jauh lebih besar daripada kewajiban menghormati hak cipta perangkat lunak itu. Berbagai kelebihan OSS ini merupakan salah satu materi yang perlu disosialisasikan sehingga dipahami oleh aparatur pemerintah dan masyarakat secara luas. ”Dengan adanya OSS ini diharapkan dapat menjawab tantangan yang disebabkan oleh banyak beredarnya perangkat lunak bajakan atau ilegal yang melanggar Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI). hal 12) Banyaknya penggunaan bajakan peranti atau perangkat lunak windows itu di kalangan pemerintahan. (Koran Jakarta. 13/6/2008. hal 15) Salah satu langkah yang ditempuh pemerintah untuk melawan pembajakan software adalah melakukan sosialisasi baik mengenai HaKI maupun menggalakkan penggunaan open source software (OSS) di instansi pemerintah dan masyarakat. Pembajakan ini juga menimbulkan citra negatif karena negara kita dimasukkan dalam “priority watch list” dari sebelumnya “watch list” berkaitan dengan pembajakan perangkat lunak komputer. (5) memungkinkan peningkatan kapasitas penelitian dan pengembangan dan perguruan tinggi dalam pengembangan teknologi informasi dan komunikasi secara nasional. Indonesia masih termasuk dalam daftar Negara Prioritas untuk diawasi (Priority Watch List) berdasarkan usulan International Intellectual Property Alliance (IIPA) kepada United State Trade of Representative (USTR). masyarakat dan dunia swasta merupakan pelanggaran Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang hak cipta. film dan musik.PAN/3/2009 tanggal 30 Maret 2009 tentang Pemanfaatan Perangkat Lunak Legal dan Open Source Software (OSS). 2007) Selain deklarasi itu. Departemen Komunikasi dan Informatika. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara. Isi lainnya mewajibkan Instansi Pemerintah untuk menggunakan perangkat lunak . Menteri Komunikasi dan Informatika mendorong pemakaian dan pemanfaatan penggunaan peranti lunak legal di lingkungan instansi pemerintah melalui surat edaran Nomor 05/SE/M. Deklarasi IGOS-II pada tanggal 27 Mei 2008 diperluas meliputi 18 kementerian dan Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) seperti dimuat dalam surat edaran Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor : SE/01/M. 2005 : 28). SKDI (2007 : 2) Pemerintah mencanangkan penggunaan OSS dengan “deklarasi program Indonesia Go Open Source (IGOS) 30 Juni 2004 oleh Kementerian Riset dan Teknologi. Secara international. Ada lima pertimbangan pemanfaatan dan penggunaan aplikasi perangkat lunak legal lokal berbasis open source. (4) terbukanya kesempatan pengembang perangkat lunak lokal dalam persaingan global. Program ini merupakan upaya untuk peningkatan dan pengembangan industri software lokal dalam menghadapi persaingan global. (Departemen Komunikasi dan Informatika. (Kompas. salah satunya karena dianggap belum berhasil dalam mengatasi pembajakan perangkat lunak komputer” (Pusat Litbang Aptel. 2/5/2009.KOMINFO/10/2005 tanggal 24 Oktober 2005. Esensinya adalah “menggelorakan semangat Indonesia Go Open Source (IGOS) yaitu semangat membangun peranti lunak yang memenuhi kebutuhan mendasar bagi pengguna komputer tanpa kekhawatiran melanggar HaKI dan tanpa pemborosan uang untuk membayar lisensi yang harus dibayarkan kepada pemilik yang notabene menjadi dampak negatif atau ancaman globalisasi” (Kusmayanto Kadiman.

informasi itu bermanfaat bagi penerimanya menghilangkan keraguan dalam menyikapi OSS. Untuk memahami penggunaan OSS di kalangan aparatur pemerintah di daerah diperlukan informasi yang benar dan lengkap dari sumber informasi yang kredibel. Sosialisasi pada dasarnya merupakan proses penyampaian informasi tentang suatu program pemerintah kepada masyarakat. 1997 :50) “Entropi adalah ketidakpastian . Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan sosialisasi perangkat lunak open source pada instansi pemerintah di Denpasar. Khalayaknya kurang mendapat informasi yang cukup sehingga bersikap ragu-ragu karena kurang mengetahui apa yang seharusnya dilakukan dan dalam hal apa ikut berpartisipasi. Di samping itu. Untuk itu. diperlukan penelitian mengenai bagaimana sosialisasi OSS selama ini dilaksanakan pasca deklarasi IGOS-I dan kebijakan Menteri Komunikasi dan Informatika tanggal 24 Oktober 2005 pada instansi pemerintah di Denpasar. Bagaimana penggunaan perangkat lunak open source pada instansi pemerintah di Denpasar. Untuk instansi pemerintah di Denpasar hasil penelitian berguna sebagai masukan dalam rangka migrasi dari windows ke OSS. Perumusan Masalah Masalah penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Dengan demikian. Provinsi Bali ? 2. Sejauh ini. Kerangka Pemikiran Salah satu hambatan yang umum terjadi dalam pelaksanaan suatu program pemerintah kurangnya informasi yang disampaikan kepada khalayak yang berkepentingan dengan tujuan program tersebut. hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai referensi bagi kalangan akademisi dan praktisi yang berminat terhadap pengembangan OSS. Provinsi Bali. Provinsi Bali ? Tujuan dan Kegunaan Tujuan penelitian ini adalah : 1. It gives us a chance to reduce entropy” (Claude Shannon & Warren Weaver. Kegiatan sosialisasi yang mendahului atau menyertai suatu program itu juga seharusnya berlaku terhadap penggunaan OSS. Kredibilitas sumber ini penting agar informasi yang disampaikan dipercaya khalayaknya. 2. Bagaimana pelaksanaan sosialisasi perangkat lunak open source pada instansi pemerintah di Denpasar. Provinsi Bali. Provinsi Bali. Betapa pentingnya informasi guna mengurangi atau menghilangkan ketidakpastian dalam diri manusia merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat dimungkiri. “information refers to the opportunity to reduce uncertainty.open source guna menghemat anggaran pemerintah. Informasi menghapuskan kebimbangan seseorang dalam menghadapi pilihan-pilihan yang akan diputuskannya. dan paling lambat 31 Desember 2011 seluruh instansi pemerintah sudah menerapkan penggunaan perangkat lunak legal. Untuk mengetahui bagaimana penggunaan perangkat lunak open source pada instansi pemerintah di Denpasar. Hasil penelitian berguna bagi Departemen Komunikasi dan Informatika sebagai bahan masukan bagi peningkatan program IGOS serta sebagai bahan evaluasi pelaksanaan sosialisasi OSS. Implikasi kedua kebijakan itu adalah mendorong penggunaan dan pemanfaatan OSS yang lebih murah dan legal sebagai salah satu upaya untuk menghilangkan pembajakan perangkat lunak proprietary. Penggunaan OSS dimulai dari instansi pemerintah yang diharapkan dapat diikuti oleh sektor swasta dan masyarakat. indikasi penggunaan open source software (perangkat lunak open source) semenjak 30 Juni 2004 belum dilaksanakan secara maksimal. dalam Griffin.

keterandalannya (reliable).. . Severin dan James W.. dan (3) kendala / hambatan OSS. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan sumber informasi adalah komunikator (dalam komunikasi interpersonal) dan sumber yang memberikan informasi . Tankard. wataknya. (2000 :117). mengabarkan pada khalayak ramai tentang sesuatu yang urgent. Definisi Operasional Sosialisasi adalah sebuah proses pemberitahuan. Informasi dapat disampaikan dengan komunikasi interpersonal atau tatap muka maupun melalui media massa. dan dalam derajat yang lebih rendah. Demikian pula informasi yang tepat akan berguna bagi penerimanya. kita menghubungkannya dengan tingkat kebebasan memilih yang dimiliki seseorang dalam membangun sebuah pesan” (Werner J. Tankard. Variabel penelitian sosialisasi dijabarkan menjadi tiga sub variabel (1) sumber informasi OSS. 2007 :19) Sumber informasi atau komunikator merupakan salah satu unsur penting dalam sosialisasi. faktualitasnya (factual). sama halnya dalam kegiatan komunikasi disebut komunikator bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan khalayak (BPPI Makassar. kedinamisannya” Keotoritatifan atau keahlian sumber informasi dalam OSS penting diperhatikan karena menimbulkan kepercayaan bagi penerima informasi. Dalam teori informasi.answer. Severin dan James W. ) “Kebutuhan seseorang akan informasi juga ditinjau dari segi kualitasnya . Provinsi Bali. iklan. ketepatannya (precision). materi sosialisasi OSS mencakup dua-sisi. Tankard. Davis (1995 :28) bahwa “informasi mengurangi ketidakpastian ...yahoo. Severin dan James W. nilainya (valuable). pemberdayaan di media cetak maupun elektronik. dan karena itu mempunyai nilai dalam proses keputusan”.com/question/index?qid=20090118000121AaoAt2. “kredibilitas sumber berarti persepsi penerima terhadap keotoritatifan pembicara dalam topik tertentu. juga poster-poster di pinggir jalan (http://id. tanggal 17/2/2001) Sosialisasi adalah proses penyampaian materi atau informasi OSS (dan perangkat lunak proprietary) kepada karyawan atau pegawai baik melalui komunikasi interpersonal maupun media massa dan internet pada instansi pemerintah di Denpasar. Jr. 2007 :183) Dalam konteks ini. 2007 :162) Menurut Steward L. Ketepatan informasi berkaitan dengan keadaan dan kebutuhan khalayak. Tubbs dan Sylvia Moss. sesuatu yang harus segera diketahui khalayak. (2) lama mengenal OSS. “Pesan satu-sisi adalah paling efektif bagi orang-orang berpendidikan lebih rendah dan pesan dua-sisi adalah paling efektif bagi orang-orang berpendidikan lebih tinggi” (Werner J. dan kebenarannya (truth). Jr. tingkat kegunaannya (useful). sebagaimana dikatakan oleh Denis McQuail (1987 : 251) “media memainkan peran dalam awal sosialisasi anak-anak dan sosialisasi orang dewasa. yaitu informasi perangkat lunak open source dan proprietary Menurut B. Medianya bisa bermacam-macam seminar. “Sumber informasi dalam sosialisasi biasa disebut sosialisator.atau ketidakteraturan suatu situasi. (Sasa Djuarsa Sendjaja.sebagai upaya mengajarkan norma dan nilai yang mapan melalui pujian dan hukuman simbolis bagi berbagai jenis perilaku”.. 1993 :87). Kuppuswamy (1975 :39) “socialization is the interactional process by which the child’s behavior is modified to conform to the expectations held by the members of the group to which he belongs” Dalam sosialisasi terjadi proses interaksi yang tiada lain merupakan proses komunikasi yang melibatkan unsur-unsurnya. Media massa juga tidak kalah perannya dalam sosialisasi. “Kredibilitas adalah aset terpenting dari seorang komunikator” ( Werner J. Jr. Informasi yang mengandung kebenaran karena disampaikan oleh komunikator yang memiliki keahlian di bidangnya dapat menghilangkan ketidakpastian. pengumuman secara besarbesaran.. 2007 : 60) Pandangan itu sejalan dengan apa yang dikemukakan Gordon B..

brosur/leaflet/pamplet/spanduk) dan reklame luar ruang (baliho). Sistem operasi adalah sekumpulan program yang mengatur semua aktivitas hardware dan memungkinkan kita untuk menggunakan application software. pelatihan. (Depkominfo. sukar sekali untuk membuat daftar kerangka sampel yang memuat nama-nama. “sampel bertujuan dilakukan dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan atas strata. t. seminar). Secara garis besar perangkat lunak terdiri dari dua jenis. Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif yang menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survey.(pendidikan.. Kendala adalah halangan. ( http://en wikipedia. Open source adalah source code yang dibuka dan biasanya didistribusikan untuk publik. Subjek yang diambil sebagai sampel benar-benar merupakan subjek yang paling banyak mengandung ciri-ciri yang terdapat populasi (key subjects)” Ciri-ciri yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keterlibatan responden dalam TIK baik secara individu maupun melalui instansinya.. 1976: 479).t: 3-4) Penggunaan OSS adalah tingkat atau persentase pemakaian perangkat lunak OSS pada instansi pemerintah dalam melaksanakan kegiatan perkantoran sehari-hari. yaitu perangkat lunak sistem dan perangkat lunak aplikasi. 2008a : 1) Perangkat lunak sistem atau system sofware adalah program yang mengendalikan operasi dari komputer dan komponen-komponennya. Jumlah responden dan lokasi penelitian ditentukan secara bertujuan atau purposive oleh Pusat Penelitan dan Pengembangan Aplikasi Telematika dan Sarana Komunikasi Diseminasi Informasi di Jakarta.. Provinsi Bali. Instansi pemerintah adalah pemerintah provinsi dan pemerintah kota serta instansi vertikal Badan Pusat Statistik yang berkedudukan di Denpasar. yakni 30 orang yang tersebar di tiga instansi.. tanggal 5/2/2010) Perangkat Lunak adalah komponen dari sistem komputer berupa program yang mengatur proses-proses bagaimana perangkat keras bekerja untuk mengolah data sehingga menghasilkan output sesuai dengan yang diharapkan user.org/wki/opensource_software. penerbitan (buku. Lama mengenal OSS adalah jangka waktu mengenal atau mengetahui tentang OSS.Perangkat lunak yang dihasilkan dari open source biasanya disebut Open Source Software atau sering disingkat OSS. (Indriyatno Banyumurti. (2) Kantor Pusat Data Elektronik Kota Denpasar 8 . rintangan (WJS.. Secara umum terdapat dua jenis system sofware yaitu sistem operasi (Operating System/OS) dan program utility..dalam penelitian ini kendala OSS dimaksudkan berupa hambatan yang terdapat dalam OSS. random atau daerah tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu. 2008a : 1-2) Open Source Software (OSS) is computer software for which the source code and certain other rights normally reserved for copyright holders are provided under a software licence that meets the open source Definition or that is in the public domain. Jumlah responden yang telah ditentukan Pusat Litbang Aptel SKDI tersebut. yaitu (1) Badan Informasi dan Telematika Pemerintah Provinsi Bali 17 orang . Kota Denpasar dipilih sebagai salah satu dari 11 lokasi penelitian dalam “Studi Penggunaan dan Pengembangan Perangkat Lunak Open Source Pada Institusi Pemerintahan berdasarkan potensi pengembangan OSS dan keberadaan komunitas OSS” (Pusat Litbang Aptel. Dalam hubunganya dengan sampel purposive Eriyanto (1999 : 110) mengatakan “karena menyangkut populasi yang spesifik. Poerwadarminta. SKDI. internet. (Depkominfo. 2007 : 8) Menurut Suharsimi Arikunto (2002 : 117).” Oleh sebab itu dalam penelitian sosialisasi OSS target populasi adalah karyawan yang sehari-hari bekerja dengan menggunakan TIK atau karyawan yang bekerja di instansi pemerintah yang nomenklaturnya berkaitan dengan pengembangan TIK. media massa.

917 orang.23 %. 23 dan 27 ) Lebih lanjut dikemukakan pada tahun 2004 jumlah penduduk Kota Denpasar tercatat 444. Budha 5. (3) Bappeda Pemerintah Provinsi Bali 5 orang.893 orang. lahan perkebunan 35 Ha. Pengumpulan kuesioner dan wawancara mendalam serta observasi dilaksanakan oleh petugas lapangan dalam bulan Mei 2007 dengan mendapat pelatihan (coaching) dan supervisi dari peneliti. Kedudukannya yang multi fungsi dan letaknya pada posisi penghubung dengan kota-kota kabupaten membutuhkan infrastruktur dan sarana umum . Dengan menggabungkan kedua pendekatan dalam analisis data terutama pada level pembahasan dapat diperoleh deskripsi mengenai permasalahan penelitian secara utuh. Gambaran Lokasi Penelitian Pulau Bali sebagai salah satu tujuan wisatawan sudah mendunia. Distribusi atau sebaran kuesioner di tiga instansi itu dilakukan secara proporsional dengan mempertimbangan jumlah pegawai yang menangani tugas dan pekerjaan di bidang TIK. (5) pengelola atau administrator sistem informasi pada instansi pemerintah. Wisatawan asing yang datang dari mancanegara setiap hari mudah ditemukan di tempat wisata. khususnya keterlibatannya dalam OSS.304 orang. Penduduk yang memeluk agama Hindu 325.4o C -28. Selain sebagai kota pariwisata yang bertaraf internasional.orang.583 Ha yang terbagi luas lahan sawah 5. 39 desa adat.5o C dengan suhu maksimum pada Januari dan suhu minimum pada Agustus. Islam 62. 16 kelurahan. pendidikan. serta situasi keamanan yang mendukung aktivitas penduduknya. sebagai ibukota provinsi Bali kota ini menjadi pusat pemerintahan.78 km2 dengan kecamatan Denpasar Selatan 49. Katolik 8. Pengumpulan data pada ketiga instansi pemerintah yang berada di Kota Denpasar dilakukan dengan mengedarkan kuesioner kepada responden yang pekerjaan pokoknya berkaitan dengan penggunaan TIK khususnya komputer. tertinggi pada Pebruari (406 mm) dan terendah pada Oktober (0 mm). Tingkat kepadatan penduduk rata-rata 4. (Bagian Humas Setda Kota Denpasar 2006. Kota Denpasar terkenal sebagai kota pariwisata yang memiliki pantai Kuta dan Jimbaran. Analisa data dilakukan terhadap data kuantitatif melalui penyajian Tabel. (Bagian Humas Setda Kota Denpasar 2006. 27 desa dinas.99 km2 sebagai wilayah terluas.541 orang. Wawancara mendalam dengan enam orang informan atau narasumber yang pekerjaan atau kepakarannya. (3) praktisi TIK (4) pakar TIK. . (2) akademisi TIK.547 Ha. Suhu antara 25.079 orang.001 Ha. Luas lahan kota ini tahun 2005 seluas 15. (6) pengelola atau administrator telematika pada instansi pemerintah. 285 banjar adat. Jumlah curah hujan tahun 2002 antara 0-406 mm. Data berupa persentase digunakan bersama dengan data kualitatif yang diperoleh dari hasil wawancara mendalam dan observasi.427 orang/km2. 16-17 ) Secara administratif Denpasar terbagi menjadi 4 wilayah kecamatan. Luas wilayah Kota Denpasar 127. Oleh sebab itu. berkaitan dengan teknologi informasi dan komunikasi. lahan kering 10. yaitu (1) pemerhati teknologi informasi. Kristen Protestan 10. pengumpulan data kualitatif dibutuhkan untuk melengkapinya melalui wawancara mendalam (depth interview) dan observasi di instansi pemerintah yang diteliti. perekonomian dan pusat kegiatan lainnya. Sejak awal disadari bahwa data kuantitatif yang diperoleh dari responden kurang mampu menggambarkan realitas sosial di lapangan secara utuh. Morfologi landai dan beriklim tropis dengan musim kemarau dipengaruhi angin timur (Juni-Desember) dan musim hujan dengan angin barat (September-Maret) dengan diselingi musim pancaroba.527 jiwa dengan tingkat pertumbuhan 6. Topografi kota Denpasar umumnya miring kearah selatan dengan ketinggian antara 0-75 m di atas permukaan laut. Dari pembahasan yang bertitik tolak dari Tabel dengan penjelasan yang berasal dari data kualitatif dicoba ditarik kesimpulan.

Pegawai berusia muda memiliki potensi lebih besar menguasai teknologi informasi dan komunikasi. ternyata tingkat pendidikan pegawai cukup bervariasi mulai dari tingkat sekolah dasar/menengah (10%). D1-D3 (3.90 % merupakan lulusan sarjana. Pemerintah Kota Denpasar bekerja sama dengan Yayasan Pembangunan Sanur memasang CCTV (Circuit Close Television) di 18 titik di wilayah Sanur. Di luar itu masih ada Honorer 3.25 % SD. 43 unit SMP.46 ) Identitas Responden Dari 30 orang responden terrdapat pegawai berusia muda di bawah 25 tahun 13. Revitalisasi UPT didukung penerapan teknologi informasi dengan menghubungkan Dinas-Dinas terkait pelayanan publik secara on line. yaitu 43. Guna memberikan kenyamanan kepada wisatawan. Dilihat dari pendidikan pencari kerja sebesar 42. dan 126 wartel. Di samping itu.66% sehingga prospek perkembangan teknologi informasi dan komunikasi cukup baik di Bali.33 % CPNS. 43 unit SMP. Jumlah sekolah swasta terdapat 34 unit SD.22 % dan sektor lainnya 0. Lapangan usaha utama penduduk.66 %) dan pascasarjana S2 (20%). sektor pertanian 4. 43. dan 10 unit mobil sarana angkutan. Dalam tahun tersebut. 32 SMA/SMK. Yang lain kemampuan menggunakannya sudah lumayan bagus”.98 %. bahkan “masih ada menyentuh komputer untuk bekerja masih enggan.37. Di samping itu.33%. Pendidikan formal responden di bidang komputer 20 % dapat menjadi modal untuk terus meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan komputer. (Bagian Humas Setda Kota Denpasar 2006 : 27. tercatat jumlah sekolah negeri 218 unit SD. Angkatan kerja 4.873 orang terdiri dari 1. Pegawai di bawah 25 tahun diharapkan dapat menjadi faktor pendorong memajukan TIK. .44.25 %. 34.771 orang tidak terserap di pasar kerja.75 % diploma. 38 Gereja Kristen Protestan. Di tiap desa/kelurahan tersedia 1 Pos dan Giro tambahan.33 %.2) Status kepegawaian menunjukkan 79 % merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan 3. Kota Denpasar mengalami pertumbuhan penduduk dan pembangunan sarana yang pesat sehingga memiliki tingkat kerawanan yang cukup tinggi. Pegawai di atas 46 tahun hingga 55 tahun apalagi pegawai yang menjelang usia pensiun (56 tahun) tidak begitu intensif menggunaan komputer di kantor.Rumah peribadatan terdapat 7 Pura dan Kayangan. 511 telepon koin. 3 Gereja Katolik. Biasanya karyawan muda lebih cepat dan mudah memanfaatkan peralatan (gadget) teknologi informasi baru. dan 4 Biara. persentase berusia 25-45 tahun dan 46-55 tahun sama besar.746 sambungan induk.066 orang yang bekerja. 45 unit SMA/SMK. 10 unit sepeda motor dinas pos keliling. khususnya perangkat lunak open source. sektor perdagangan 32. 21. 105 Pura Kayangan Tiga. 135 telepon umum kartu. Pelayanan Pos dan Giro sudah menjangkau seluruh wilayah Kota Denpasar. dan 3.33 %. ) Kerapkali tampak karyawan tua menjadi gagap teknologi (gaptek) dalam mengoperasikan komputer. Di sektor telekomunikasi terdapat 87.02 % SLTP. Segelintir pegawai yang belum lancar mengoperasikan komputer masih ditemukan di instansi yang diteliti. terdapat 12 unit mobil dinas Pos Keliling. termasuk komputer daripada pegawai yang sudah berusia tua. 1. sebagian besar mereka bekerja di sektor jasa sebesar 48. Sebagai sebagai salah tujuan wisata di Bali. S1 (66.38 39. dan 0. dengan 3 STO. Ilmu komputer yang diperoleh dari perguruan tinggi memudahkan karyawan meng-implementasikan perangkat lunak OSS. 38 Mesjid. Mayoritas responden merupakan lulusan S1 dan S2 sebanyak 86.17 % SLTA.33%). guna memberikan pelayanan prima pada perizinan dilakukan revitalisasi Unit Pelayanan Terpadu (UPT) atau One Stop Service. Apabila dilihat dari segi pendidikan.57 %.33% dan status lain-lain 13.

Apabila dilihat dari pekerjaan.6 6 100 % 20 6.66 36. 3 Sosial dan Politik 4 Lainnya (ekonomi. Operator komputer ditempatkan di unit kerja bidang administasi untuk melakukan pengolahan data dan pelayanan media on line.Tabel 1: Jenis Pendidikan No Jenis Pendidikan 1 Ilmu Komputer Ilmu Eksakta non 2 Komputer Ilmu Hukum.33 16. Keduanya . Kenyataannya. Dalam Tabel 1 dapat dibaca bahwa jurusan atau latar belakang pendidikan pegawai yang nonkomputer ternyata amat besar 80%.1) Pergeseran pekerjaan kantor ke arah serba komputer menuntut tersedianya sejumlah SDM yang menguasai komputer. Hal ini cukup menggembirakan karena di samping adanya Tabel 2: Jabatan / Pekerjaan No 1 2 3 4 5 Jabatan/Pekerjaan Struktural Administrasi Teknisi Operator Komputer Lainnya Jumlah F 9 7 4 5 5 30 % 30 23.33 13. Untuk menangani pekerjaan kantor yang menggunakan komputer jauh dari mencukupi. karena “secara umum di sini melaksanakan sensus. semakin banyak tugas dan pekerjaan kantor sekarang yang diolah dengan komputer dan semakin sedikit memakai cara manual. ditransfer ke data entry masuk ke data base. yang menggunakan website masuk ke website untuk menampilkan dan juga membuat publikasi.99 %) terdiri dari operator komputer (16. Sastra.66 %) dan teknisi komputer (13.66 100 operator komputer terdapat pula tenaga teknisi yang bekerja bersama-sama di satu kantor. Dari segi diseminasi. Perbandingan jumlah pegawai berdasarkan jenis pendidikan kurang proposional guna mempercepat kemajuan TIK di pemerintahan. Tenaga teknisi komputer memungkinkan untuk perbaikan komputer dengan cepat sehingga dapat menjamin penyelesaian pekerjaan tepat waktu. Membuat format-format itu semua computerized”. Yang pertama adalah segi pengolahan data yang dikumpulkan dari lapangan. kuesioner masuk dikumpulkan. jumlah karyawan yang menangani teknologi informasi dan komunikasi (29. Bahkan di kantor BPS Bali hampir seluruh pekerjaan memanfaatkan komputer. Selama ini keluhan pengguna komputer umumnya mengenai masalah teknisnya. dsb) Jumlah F 6 2 11 11 30 6 36. jumlah karyawan yang berpendidikan ilmu komputer ternyata masih minim.6 Masalahnya.33 %) seperti dapat dilihat pada Tabel 2. hanya ada 6 orang pegawai atau 20 %. Operator jarang bisa mereparasi komputer yang dipakainya sehari-hari.66 16.

khususnya perangkat lunak komputer yang berbasis pada kemampuan dalam negeri. Dalam jangka panjang kebijakan ini dimaksudkan untuk menciptakan iklim kondusif bagi pengembangan OSS sekaligus meniadakan pembajakan perangkat lunak proprietary. Karena erat kaitannya dengan berlakunya UU HaKI (UU 19 /2002)”5) Temuan penelitan menunjukkan bahwa semua responden terbukti masih menggunakan perangkat lunak proprietary yang diperoleh melalui berbagai cara. Untuk itu pemerintah berusaha mendorong penggunaan OSS yang memenuhi standard dan juga bersifat legal terutama di instansi pemerintah. Tindakan terhadap pemberantasan perangkat lunak bajakan dengan cara mendorong penggunaan dan pengembangan OSS semakin penting artinya di tengahtengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. 2006 :132). tetapi juga bagian dari proses pengembangan TIK. “Karena itu kebijakan teknologi harus diarahkan untuk menyesuaikan sistem inovasi pada kondisi yang terus berubah. melalui pembelajaran dan percobaan (learning and experimentation). Usaha pemerintah untuk meningkatkan penggunaan dan pengembangan perangkat lunak berbasis pada komponen lokal juga dimaksudkan untuk memajukan industri telematika dan perekonomian bangsa. Oleh karena itu. yaitu . Pembahasan Penggunaan Perangkat Lunak Open Source Upaya untuk menggunakan open source software (OSS) sebagai alternatif dari perangkat lunak proprietary di instansi pemerintah tidak saja merupakan strategi yang harus ditempuh untuk bisa keluar dari kemelut pembajakan. penambahan jumlah tenaga komputer dan teknisi di satu pihak dan mengurangi pegawai administrasi dan struktural di pihak lain merupakan persyaratan organisasi yang bersifat fungsional TIK. termasuk perangkat lunak sistem operasi dan aplikasinya tentu memberikan kepastian hukum bagi industri dan pemakainya.99%) lebih sedikit daripada jumlah tenaga administratif dan struktural.saling komplementer untuk menyelesaikan pekerjaan kantor khususnya yang berkaitan dengan TIK. 2010 : 24) Penggunaan dan pengembangan OSS diharapkan selain memenuhi standard juga merupakan perangkat lunak dengan komponen kandungan lokal cukup besar dan tidak merusak lingkungan. Dengan adanya standardisasi dan sertifikasi komputer. hal itu berguna sebagai indikasi awal bahwa pemerintah bersungguh-sungguh untuk menghentikan pembajakan sistem operasi dan aplikasi komputer di Tanah Air. Jumlah SDM TIK (29. Kebijakan pemerintah merupakan suatu alternatif yang menguntungkan seperti dimuat dalam surat edaran Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 5 Tahun 2005. Hal ini sesuai dengan misi Departemen Komunikasi dan Informatika (2004-2009) ”mengembangkan standardisasi dan sertifikasi dalam rangka menciptakan iklim usaha yang konstruktif dan kondusif di bidang industri komunikasi dan informatika” (Departemen Komunikasi dan Informatika. Pengembangan OSS tersebut juga sejalan dengan misi Kementerian Komunikasi dan Informatika (2010-2014) yang ” mengembangkan sistem kominfo yang berbasis kemampuan lokal yang berdaya saing tinggi dan ramah lingkungan” (Kementerian Komunikasi dan Informatika. keberadaan teknisi dan operator komputer dapat mendorong penggunaan OSS di kemudian hari. Setiap kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan penggunaan dan pengembangan OSS. jumlah 9 orang SDM TIK berhadapan dengan volume pekerjaan teknologi informasi yang terus meningkat. Secara kualitatif. “Pengadaan perangkat lunak pada Instansi Pemerintah harus legal atau sesuai dengan aturan hukum yang berlaku baik dalam pengembangan dan distribusinya. Namun. 2005 : 10). dari segi kuantitas masih kurang memadai karena jauh dari kebutuhan kantor sehari-hari. pencarian dan penelitian (search and research)” (Ikbal Maulana.(70%). Ini berarti.

Artinya ada 30 responden yang memakainya dengan kapasitas di bawah 10 % atau Tabel 3: Persentase Komputer Menggunakan Sistem Operasi Open Source (Misal Linux) Persentase Penggunaan F % Sistem Operasi Open Source 1 0 – 10 % 30 100 2 11 – 40 % 3 41 – 60 % 4 61 – 90 % 5 91 – 100 % Jumlah 30 100 secara kualitatif penggunaan perangkat lunak sistem operasi open source pada instansi pemerintah di Denpasar tidak ada. tapi belum tampak hasil signifikan.66%). intinya bahwa pengguna perangkat lunak aplikasi open source amat minim. berdasarkan observasi dan wawancara dengan nara sumber ternyata komputer di kantor instansi yang diteliti tidak menggunakan OSS. VoIP). terutama di kantor yang diteliti. “penerapan OSS dapat dimulai dari instansi pemerintah dan pendidikan selanjutnya ke pihak swasta dan masyarakat”6) Dalam hal penggunaan perangkat lunak aplikasi open source tidak jauh berbeda seperti dapat dilihat pada Tabel 4. komputer ini diusahakan dimiliki dengan berbagai cara mulai dari yang legal sampai yang melanggar hukum. Banyak pihak mendorong. “ Untuk Bali Microsoft minded karena user friendly sudah terbiasa. Meskipun persentase pembelian copy bajakan relatif kecil. dan beli atau copy bajakan (3. pengembangan No . tapi ke depan harus migrasi ke OS. Microsoft sekarang cukup memadai. dampaknya cukup luas karena terjadi di lingkungan pemerintahan. Aplikasi lainnya seperti teknikal (CAD/CAM. pengadaan resmi kecuali individuindividu atau pribadi bisa membeli bajakan. speadsheet. Secara persentase sedikit lebih bervariasi karena terdapat 6. “Sejauh instansi resmi. Hasilnya adalah (1) perkantoran (word procecssing.”3) Oleh karena itu. khususnya di kantor. server (web. hiburan (audio/video. untuk sekarang masih Microsoft.database) 17 jawaban. Tapi kalau pemerintah harus asli” 2) Secara kuantitatif komputer yang menggunakan OSS antara 0-10 %. beli dengan lisensi corporate (36. tampak dari jawabannya. Akan tetapi. Pengetahuan responden mengenai perangkat lunak aplikasi open source cukup baik. dapat dilihat pada Tabel 3. Padahal.3) Untuk menegaskan kepastian arah OSS di masa depan.33%).66 % responden masuk dalam 11-40 %. Itu artinya untuk mengukuhkan Indonesia Microsoft minded”. CASE). Tingginya persentase pemakaian komputer proprietary bisa karena faktor masyarakatnya dan keunggulan/kelebihan yang terdapat dalam komputer itu sendiri. penyebabnya (1) karena dari segi kebiasaan belum diimbangi dengan edukasi. alat bantu (antivirus.beli dengan lisensi individu (60%).33 % dalam 0-10%. games) 6 jawaban. presentation) 15 jawaban. Pemerintah sebagai teladan diharapkan dapat berperan memelopori penggunaan perangkat lunak legal dan open source software (OSS) yang diikuti oleh masyarakat. ”Fakta objektif masih Microsoft minded. (2) belum ada regulasi yang kondusif mendukung itu artinya belum melihat gebrakan signifikan yang mendorong itu bahkan Presiden bertemu dengan Microsoft. CAE. kolaborasi (groupware.e-mail. Sekian tahun sudah banyak ditraining. statistik) 3 jawaban. Untuk penerapan OSS sangat terbatas. tapi cukup banyak yang dikeluarkan untuk beli lisensi. Ketigapuluh responden memberikan 41 jawaban ( satu orang responden dapat memberikan jawaban lebih dari satu) mengenai aplikasi open source. untuk migrasi ke OS satu edukasi. dan mayoritas 93.

kenyataannya tidak digunakan sebagai sarana kerja. terutama pada waktu senggang. bisa mendorong aplikasi sistem operasi produk/merek Indonesia karena ia open. mudahnya masyarakat dalam memperoleh perangkat lunak bajakan. Esensi dari data ini adalah hampir semua komputer yang dipakai oleh responden di kantor tidak menggunakan sistem operasi dan aplikasi open source seperti Linux. e-library) tidak ada jawaban. Kredibilitas sumber ini penting karena berkaitan dengan kepercayaan.”3).Umumnya. sulitnya memperoleh perangkat lunak OSS.66 3 41 – 60 % 4 61 – 90 % 5 91 – 100 % Jumlah 30 100 Hal ini karena pengguna komputer yang bekerja di instansi pemerintah sejauh ini merasakan ”microsoft sudah nyaman dan memadai. Padahal secara “finansial OS malah lebih murah.1) Walaupun diketahui bahwa OSS memiliki beberapa kelebihan seperti ”dari segi kreativitas kalau dikembangkan Linux lebih murah. Pendidikan formal bidang komputer merupakan sumber informasi yang kredibilitasnya cukup tinggi karena menyangkut pengetahuan dan keahlian bidang TIK. Pendidikan formal sebagai sumber informasi (20%) dianggap paling dipercaya karena OSS diperoleh dari perguruan tinggi sehingga dipahami dengan baik. ”Beberapa masalah yang menjadikan kegiatan OSS di Indonesia terhambat antara lain kurangnya pengetahuan masyarakat tentang OSS. Tabel 4 : Persentase Penggunaan Perangkat Lunak Aplikasi Berbasis Open Source Persentase Penggunaan F % Perangkat Lunak Aplikasi Open Source 1 0 – 10 % 28 93. Sosialisasi OSS Unsur utama dalam sosialisasi OSS adalah sumber informasi yang menyampaikan informasi OSS kepada khalayak sehingga mengetahui atau mengenalnya.33 %) merupakan sumber informasi yang paling mudah dihubungi dan berperan luas menularkan OSS kepada sesama karyawan.33 2 11 – 40 % 2 6.. tapi sudah terbiasa dengan program windows”1). Linux lebih aman. Tampak bahwa migrasi dari peranti lunak proprietary khususnya microsoft ke open source software masih menghadapi sejumlah masalah. Teman sebagai sumber informasi dapat dihubungi hampir setiap waktu. Kedalaman informasi OSS yang diterimanya tergantung kepada darimana atau siapa sumbernya. content management system (e-learning. Tabel 5 : Sumber Informasi Open Source Software (OSS) No . 2007 : 61-62) Oleh karena hampir semua masalah tersebut berakar dari kurangnya informasi OSS. Microsoft cenderung membuat produk yang mengada-ada supaya orang beli padahal dengan windows 2000 orang sudah nyaman”. Sedangkan teman atau sejawat (33. interpreter). dari segi virus. masih minimnya penggunaan OSS oleh dunia pendidikan dan lembaga litbang dan kurangnya dukungan pemerintah (Puslitbang Aptel dan SKDI. teman/sejawat itu adalah teknisi dan operator komputer. maka sosialisasi menjadi kata kunci sebelum berharap banyak terhadap penggunaan OSS khususnya di instansi pemerintah.(compiler.

“Sosialisasi berdua Daerah dan Pusat. Media massa (5%) tidak banyak berperan sebagai sumber informasi OSS. bisa terjadi apatisme di daerah misal orang Telkom. Penularan pengetahuan OSS secara ”in house training” di kalangan pegawai dapat terjadi tanpa mengganggu pekerjaan kantor sehari-hari.”1) Dalam sosialisasi perlu ditetapkan penanggung jawab tingkat nasional sebagai ”leading sector” sehingga ada koordinasi dan sinkronisasi antar Departemen atau Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND)serta BUMN/D dan asosiasi TIK. yang tahu masyarakat Pemda. Untuk pengembangan TI duduk bersama Depkominfo. Keterlibatan daerah tidak dapat diabaikan agar tercapai kerjasama yang baik dalam sosialisasi OSS mulai dari Pusat sampai ke Daerah. Tidak boleh Pusat saja. secara informal berlangsung proses pembelajaran atau pemindahan pengetahuan (transfer of knowledge) antarsesama pegawai. Deperindag. Untuk mencapai hasil maksimal dari sosialisasi OSS.66%). Sebaliknya. duduk Kadin. tetapi juga menerbitkan sejumlah buku panduan sebagai upaya untuk . Asosiasi Warnet dalam bentuk Tim sehingga nyambung. Terlebih karena migrasi proprietary ke open source software tampaknya dilematis dengan kompleksitas tinggi. aturannya. manfaatnya sehingga sinergi”2). Di daerah BPS karena ada pejabat fungsional komputer yang berhubungan secara fungsional. karyawan jarang mengikuti kegiatan itu baik yang diadakan kantor sendiri maupun oleh instansi lain. Yang satu dari segi bagaimana barangnya.66 Teman atau Sejawat 10 33. sebagai center of excellence. sedikit di atas internet (4%) Pada umumnya liputan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya OSS di media massa daerah belum mendapat porsi pemberitaan yang besar. “Ada kerjasama Depkominfo. internet yang banyak memuat OSS ternyata jarang diakses pegawai sebagai sumber informasi. “Sosialisasi di pusat paling bertanggung jawab Depkominfo dan Menristek. Depdagri dan Kadin sebagai pengguna. Universitas di daerah. Depdagri. maupun mengadakan seminar dan pelatihan dengan peserta dari aparat instansi pemerintah di daerah. Hal ini dapat dimengerti karena tiap media massa menyampaikan informasi yang menjadi perhatian publik (agenda setting). Pelaksanaan sosialisasi OSS yang diselenggarakan instansi pemerintah terutama oleh deklarator OSS masih dianggap kurang terkoordinasi.No Sumber Informasi 1 2 3 4 5 F % Pendidikan Formal 6 20 Seminar dan Pelatihan 5 16.33 Media Massa 5 16. selain unsur Pusat dan Daerah. bagaimana pengoperasiannya. Peranan pemerintah seharusnya cukup besar sebagai sumber informasi baik untuk menyampaikan informasi OSS. Kadin untuk melakukan sosialisasi. Sumber informasi berupa seminar dan pelatihan OSS persentasenya hanya 16. Menristek. Depnaker dan Depdiknas. Keempatnya membuat peraturan bersama OSS”4) Departemen Komunikasi dan Informatika sebenarnya tidak saja mengeluarkan regulasi. Kalau UNUD ada pionir yang menangani TI dilibatkan sebagai stakeholder pengguna.33 Internet 4 13. tergantung yang ada TI. BUMN Telkom Daerah.66 Jumlah 30 100 Oleh karena itu. dan Kominfo tapi profesional seperti Asosiasi Wartel.66 % Alasannya. Misal bagaimana pendidikan supaya sesuai dengan kebutuhan masyarakat. peluangnya. Sebagai sumber informasi OSS pemerintah mungkin implisit dalam kegiatan seminar dan pelatihan yang diselenggarakan instansi pemerintah dan swasta (16. Daerah bisa sosialisasi. peran dunia usaha sebagai pembuka lapangan kerja dilibatkan agar terjalin keterkaitan (linkage) dengan pendidikan dan pengembangan OSS.

Pada tahun 2008 Direktorat Sistem Informasi. (3) Mandriva. Di samping itu. harus ada saat dimulai. Pada Tabel 6 terlihat 32. Bahhan responden yang sudah mengetahui OSS lebih dari 3 tahun. Persentase yang mengenal OSS cukup lama 1-3 tahun juga cukup besar 36. Orang yang menggunakan . Dengan terbitan tersebut diharapkan minat aparat dan masyarakat dapat meningkat terhadap OSS sehingga mau menggunakan dan mengembangkan OSS. (3) Sistem Keamanan Transportasi Email. diterbitkan pula tutorial interaktif disertai CD petunjuk yang berkaitan dengan keamanan data dan ketersediaan sistem informasi yang dapat digunakan untuk sistem operasi GNU/Linux seperti buku ”High Availibility System” dan ”Pengamanan Server Menggunakan SMS”.33 36. Tidak diterapkannya OSS bisa karena adanya keterbatasan dalam OSS atau faktor kebiasaan (habit) pengguna komputer. Sebagai pedoman praktis dalam penggunaan OSS diterbitkan beberapa buku (manual book) tutorial dasar penggunaan Linux disertai DVD berupa quick tutorial untuk pemula. Apabila deklarasi IGOS 30 Juni 2004 dianggap sebagai awal OSS secara kelembagaan pemerintah. tetapi tidak memakainya di kantor karena kendala yang dihadapinya. “Kendalanya adalah merubah kebiasaan yang semula terbiasa menggunakan windows berailh ke Linux memerlukan pelatihan atau Bintek bagi operator di instansi masing-masing” 6) Walaupun mengubah kebiasaan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Di Indonesia kalau pemerintah belum mulai belum bisa. yaitu (1) IGOS Nusantara. ”Behavior bisa diubah dengan kebijakan. Buku-buku petunjuk praktis ini merupakan referensi atau materi pelajaran OSS untuk tingkat pengguna komputer pemula.33 %) kurang dari 3 bulan. perubahan itu bukan suatu yang mustahil. tidak terlalu susah. (4) Kubuntu. Anggap misalnya kalau orang sudah terbiasa menggunakan micosoft itu suatu behavior. berarti waktu untuk menerapkan OSS sesungguhnya sudah cukup lama. Kalau tidak pernah dimulai kapan muncul behavior. di ruangan ini kalau buka file tidak bisa.43 % responden (N=74 jawaban) menghadapi kesulitan mengoperasikan OSS karena mengubah kebiasaan pengguna komputer yang selama ini memakai peranti lunak proprietary. Kebiasaan tidak jadi hambatan asal ada reward dan punishment bagi orang yang bekerja di operator.”1) Tabel 5 : Lama Mengenal Open Source Software (OSS) No 1 2 3 4 Lama Mengenal OSS Kurang dari 3 bulan 3 – 12 bulan 1 – 3 tahun Lebih dari 3 tahun Jumlah F 13 1 11 5 30 % 43. Tabel 5 menunjukkan bahwa lama responden mengenal OSS sebagian besar (43.mensosialisasikan open source di Indonesia. (2) PC LinuxOS .66 100 Hambatan yang dipersepsikan oleh responden cukup bervariasi ketika membicarakan OSS. Ditjen Aplikasi Telematika setidaknya telah menerbitkan buku-buku tutorial interaktif berbasis Open Source disertai dengan CD petunjuk. (4) Integrasi Keamanan Sistem Informasi. yaitu (1) Sistem Keamanan Jaringan Informasi. Responden yang mengenal OSS lebih dari 3 tahun tercatat 16.66 16. ”Pilihan waktu belajar (di luar negeri) pakai OS. Tapi tekanan dari luar.33 3. (2) Keamanan Aplikasi & Database Server . Masalahnya di sini Open Source di tempat lain tidak. pakai Linux dan compile yang pakai Linux. bisa diatasi dengan pelatihan dengan mendatangkan instruktur. Bagi orang-orang yang sudah mempunyai kebiasaan tidak sulit switch.66 %. pemerintah harus memberikan contoh misal uji kompetensi sertifikat”4) Kendala lain dalam diri pengguna “gaptek.66 %. (5) Ubuntu. Perangkat Lunak dan Konten.

Perbandingan keduanya dikemukakan bahwa “walaupun Linux berkembang masih sulit.86 20. terutama segi keuntungan dan kerugian atau kendala masing-masing. belanja beli Microsoft bisa dikompensasi untuk pelatihan. sekedar office biasa. keterbatasan infrastruktur dan infostruktur” 5) Dalam kaitannya dengan berbagai macam kendala tersebut. php?name=New %file=article&sid=290. materi sosialisasinya mencakup peranti lunak proprietary dan OSS.17 % berupa kendala penggunaan OSS yang terdapat pada OSS itu sendiri. Microsoft segalanya tinggal klik. hal-hal lain yang berpengaruh pada penggunaan OSS (misal masalah dana. tgl 17/2/2010). “Kendala yang dihadapi para pengguna OSS secara umum pada penggunaan fitur-ftur yang ada karena keterbatasan pengetahuan dan ketrampilan. aplikasi-aplikasinya.id /modules. Dengan mengetahui informasi perangkat lunak dari dua sisi itu justru minat dan keingintahuan terhadap OSS dapat lebih dibangkitkan. orang ingin gampang dan murah di situ keterbatasannya.86%). Informasi yang disampaikan kepada pengguna komputer yang berpendidikan S1 dan S2 (86. Dari segi kecepatan.batan-bdg.35 5.2) Kendala yang terdapat dalam OSS sendiri jauh lebih besar daripada faktor kebiasaan pengguna komputer.OSS diberi tunjangan karena punya skill. perangkat-perangkat lunak yang digunakan dengan sistem OSS) (http://www. Tabel 6 : Kendala/Hambatan Open Source Software (OSS) No 1 2 3 4 5 6 7 Kendala/Hambatan OSS Sulit dlm pengoperasiannya krn tdk biasa Tidak menarik perhatian Banyak pekerjaan tdk bisa dikerjakan Tdk kompatibel dgn per.35%). belum se-powerfull Microsoft.(14. Drs Rusmanto dihadapan CPNS Batan Bandung.go. Sosialisasi OSS mencakup informasi keberadaan perangkat lunak proprietary yang selama ini sudah banyak digunakan tidak melemahkan posisi OSS.27 1.40 100 *N=74 merupakan jumlah jawaban dari 30 responden (tiap responden dapat memberikan lebih dari satu jawaban).27 %). Linux.43 10 12.3) Informasi yang berimbang mengenai keuntungan dan kerugian kedua perangkat lunak ini penting sebagai bahan masukan pengambilan keputusan yang tepat. materi yang relevan dan tepat hendaknya mendapat perhatian dari penyelenggara sosialisasi.lunak proprietary Sulit mendptkan driver utk bbrp peripheral Fitur yang ada kurang lengkap Lainnya Jumlah * F 24 10 9 11 15 1 4 74 % 32.66%) bukanlah informasi satu-sisi tentang OSS semata. Mahal murahnya relatif tergantung pimpinan. Lebih murah bisa melibatkan banyak orang. yang memahami betul TI menganggarkan dan menyediakan dana. Agar pesan yang disampaikan efektif. kemudahan penggunaan OSS.16 14. Pakar Linux Indonesia. tapi harus dilihat per kasus. fitur yang kurang lengkap (1. Dari jawaban yang diberikan responden ada 62. Soal fitur ini berkaitan dengan informasi mengenai OSS sehingga turut berpengaruh pada penggunaannya. Kalau Linux masih terbatas. seperti sulit mendapatkan driver untuk beberapa peripheral (20. tidak kompatibel dengan perangkat lunak proprietary. . 3-4 November 2008 menyampaikan tentang perbandingan penggunaan OSS dan Windows.

Kesimpulan Berdasarkan uraian yang dikemukakan dalam pembahasan dapat ditarik beberapa kesimpulan berikut : 1. Secara nasional sosialisasi OSS sudah dilakukan pemerintah melalui deklarasi. tetapi amat rendah.43 %). bahkan pengembangan OSS.27%) dan tidak kompatibel dengan perangkat lunak proprietary (14. Agar diadakan penelitian lanjutan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh sosialisasi terhadap tingkat penggunaan OSS di Indonesia guna memecahkan masalah rendahnya penggunaan OSS pada instansi pemerintah terutama di daerah. sosialisasi tidak sekedar berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi.pengadaan dan . MSi dosen FIKOM Universitas Dwijendra. “Yang perlu dilibatkan fungsional-fungsional komputer (di BPS). Dengan demikian. 3. Agar sosialisasi dilaksanakan pada instansi pemerintah di Denpasar dengan materi yang benar dan tepat (perangkat lunak proprietary dan open source) dan dikuti oleh peserta yang memenuhi persyaratan yang ditentukan terlebih dahulu. Sosialisasi yang kurang menjangkau sasaran khalayak diperkirakan berpengaruh terhadap tingkat penggunaan OSS di kalangan aparat di instansi pemerintah. Sosialisasi yang mengabaikan persyaratan ketat pesertanya dan lebih mengutamakan kuantitas dapat terjebak dalam sosialisasi sebagai formalitas yang tidak mampu menghasilkan calon pengguna OSS. Seleksi peserta sangat berguna agar sosialisasi dapat mencapai tujuan jangka panjangnya. dan publikasi.Salah satu komponen dalam penyelenggaraan sosialisasi OSS yang juga penting mendapat perhatian adalah pesertanya. Kepala Bidang IPDS BPS Prov Bali. tetapi hal itu tidak sampai kepada aparat di lokasi penelitian. Direktur CV Asia Raya Media Tama (pendidikan. Saran Dengan mencermati kesimpulan tersebut. yang menangani urusan komputer. kesulitan mendapatkan driver (20. Faktor kebiasaan atau behavior pengguna komputer merupakan kendala terbesar (32. dapat disarankan : 1. (2) akademisi TIK I Gusti Agung Oka Budiartha. Penggunaan perangkat lunak proprietary mendominasi komputer pada kantor-kantor instansi pemerintah di Denpasar. Fungsional komputer berhubungan dengan angka kredit”1). 2. Tingkat penggunaan perangkat lunak sistem operasi OSS secara persentase di bawah kapasitas 10 % artinya hampir tidak ada yang menggunakannya. maka diprioritaskan kepada mereka yang pekerjaannya berkaitan dengan komputer. tetapi juga berguna sebagai pembelajaran untuk mendorong penggunaan. 33%) di kantor. 2.86%). Peserta yang memenuhi persyaratan itu diharapkan selesai mengikuti sosialisasi memiliki motivasi tinggi untuk memelopori penggunaan OSS di kantornya. (3) I Dewa Kade Wiarsa Raka Sandi ST. Lampiran Narasumber yang pendapatnya dikutip dalam teks: (1) pemerhati teknologi informasi Dr Yudi Agusta. Lama seseorang mengenal OSS ternyata tidak mendorongnya menggunakan OSS karena adanya beberapa kendala baik yang terdapat dalam peranti lunak open source maupun dalam diri pengguna komputer dan lingkungan kantor. Selain seleksi persyaratan usia dan latar belakang pendidikan. Agar pengadaan komputer pada instansi pemerintah di Denpasar mensyaratkan penggunaan perangkat lunak sistem operasi dan aplikasi berbasis open source. 3. kebijakan. yakni meningkatnya penggunaan OSS. sedangkan peranti lunak aplikasi berbasis open source secara persentase lebih bervariasi (0-10% dan 11-40%). Sumber informasi yang terbesar datang dari teman/sejawat (33.

Jakarta. Kementerian Komunikasi dan Informatika. SKDI ------------. Pusat Litbang Aptel. Kompas. BITD Provinsi Bali. 2008c. 1995. Jakarta. SE.SKDI. “Bangsa Pembajak Hak Cipta”. Pusat Tek. BITD dan (6) pengelola atau administrator Telematika pada instansi pemerintah I Made Sondra. aplikasi perkantoran dan internet). 1975. BPPT. Dwi Handoko dan Ikbal Maulana. 2007. Teori Komunikasi Massa. Kusmayanto. Kuppuswamy. 12 “Indonesia Masuk ‘Priority Watch List”. Memberdayakan Suara Rakyat. Laporan Akhir Studi Evaluatif Program IGOS Dalam Pengimplementasian Open Source di Lembaga Pemerintah. Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Komunikasi dan Informatika 2010-2014. 1987. 2007. Hal 123-139 “Indonesia Urutan 12 Pembajak Peranti Lunak”. terjemahan Andreas S. Penggunaan dan Pengembangan Perangkat Lunak Open Source Pada Instansi Pemerintah. Pusat Litbang Aptel. Makassar. Bagian Humas Setda Kota Denpasar. Pimpinan Lembaga Pendidikan TIK Ganesha Guru. (1999). 2 Mei. Denpasar. Laporan Akhir Studi Penggunaan dan Pengembangan Perangkat Lunak Open Source Pada Institusi Pemerintah. 2008b. Vikas Publising House Pvt Ltd. Kompas. New Delhi. Diktat. B. Denis. Rencana Strategis Departemen Komunikasi dan Informatika 2004-2009. Bagian I. Departemen Komunikasi dan Informatika. Forum Dialog Peneliti Tentang Semangat Kreatifitas Tanpa Batas Dalam Pemanfaatan Software Legal di Instansi Pemerintah. Gordon B. Elements of Sosial Psychlogy. (5) pengelola atau administrator sistem informasi pada instansi pemerintah. 2010.maintenace).(4) I Made Sarjana. 13 Juni. Hal. 2008. Davis. “Open Source : Potensi dan Strategi Pengembangannya” Dalam Kajian Teknologi Informasi dan Komunikasi. Adiwardana. Edisi Kedua. “Sistem Inovasi Open Source software (OSS) dan Kebijakan Pemerintah” Dalam Kajian Teknologi Informasi dan Komunikasi. BPPT Eriyanto. Hal 15 Indriyanto Banyumurti. Modul Komputer. Sistem Informasi Manajemen. I Ketut Jack Mudastra. Bandung. Buku Saku sekilas Bali.t. PT Pustakan Binaman Pressindo. SH Kepala Bidang Sistem Informasi Manajemen. Jakarta. Daftar Pustaka Badan Pusat Statistik Propinsi Bali. Jakarta -----------. SKDI ------------. Pusat Ltbang Aptel. Denpasar Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi (BPPI) Wilayah VII Makassar. Penerbit Erlangga. Koran Jakarta. Kepala Bidang Telematika. SKDI. SE MM. 2008a. Jakarta. Penerbit PT Remaja Rosdakarya Ikbal.7 McQuail. Bandung. Jakarta. . 6/5/2007 hal. Pusat Litbang Aptel. (Pengenalan komputer. Jakarta. 2005. Laporan Hasil Penelitian Tentang Tanggapan Masyarakat Desa Tertinggal Terhadap Sosialisasi Kebijakan Pemerintah di Kabupaten Bantaeng. t. Jakarta. 2006. P3TIE. Data Selayang Pandang Kota Denpasar. 2009. 2005. 2006.Informasi dan Komunikasi. 2006. Kadiman. Metodologi Polling. -----------. Maulana.

Kencana Prenada Media Group Shannon. EM (ed) A First Look At Communication Theory. 2007. Penerbit Universitas Terbuka Severin Werner J. Jr. Kementerian Komunikasi dan Informasi. Jakarta. Human Communication. 1997.com/question/index?qid=20090118000121Aao 17/2/2001 http://www. Dalam Griffin. Jakarta. Edisi Kelima. James W. Inc.PAN/3/2009 tentang Pemanfaatan Perangkat Lunak Legal dan Open Source Software (OSS) Pusat Litbang Aptel SKDI.Menteri Komunikasi dan Informatika. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta. Penerbit Rineka Cipta. Edisi Revisi V. Sendjaja. Jakarta. Metode. Stewart dan Sylvia Moss. Claude dan Warren Weaver. Konteks-Konteks Komunikasi. 2007. Teori Komunikasi: Sejarah. Rancangan Penelitian Studi Penggunaan dan Pengembangan Perangkat Lunak Open Source Pada Institusi Pemerintahan.id /modules. Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara 2009. tanggal 5/2/2010 http://en wikipedia.org/wki/open-source_software. Surat Edaran Nomor: 05/ SE/M/Kominfo/10/2005 tentang Pemakaian dan Pemanfaatan Penggunaan Piranti Lunak Legal Di Lingkungan Instansi Pemerintah. “ Information Theory”. Penerbit PT Remaja Rosdakarya. Jakarta. 2004.batan-bdg. Jakarta. tgl 17/2/2010 t2. Kamus Umum Bahasa Indonesia. New York. Suharsimi. Bandung. Sasa Djuarsa. Makalah Republik Indonesia. dan Terapan di Dalam Media Massa. 2002. PN Balai Pustaka Internet : http://en wikipedia. Arikunto. 2005.go. Tubbs.yahoo. Prosedur Penelitian.org/wki/open-source_software. 1993. WJS. %file=article&sid=290.Tankard. tanggal 5/2/2010 http://id. 1976. Pengantar Komunikasi. Poerwadarminta. Surat Edaran Nomor : SE/01/M. tanggal php?name=New KECENDERUNGAN PEMBERITAAN MEDIA CETAK DAN TANGGAPAN DARI BERBAGAI KALANGAN TENTANG KLAIM MALAYSIA ATAS PULAU-PULAU TERLUAR DAN SENI BUDAYA INDONESIA . Third Edition. 2000.answer. The Mc Graw-Hill Companies.

budaya dan juga punya kelebihan masingmasing seperti Indonesia memiliki ribuan pulau dan ratusan juta jiwa penduduk. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis framing dari Zhongdang pau dan Gerald M. Dayak dan suku-suku lainnya yang berasal dari Indonesia. (Sobar alex. Good news from various also conception various circle very averse action that done by Malaysian towards Indonesia on extern islands claim with Indonesia culture art. Berdasarkan hasil penelitian ini. Teknik analisa data menggunakan teknik analisis framing. klaim Malaysia. Minang. seputar berbagai konsepsi. Study method that this troubleshoot analysis method framing from Zhongdang pau and Gerald M. Malaysian claim. Di negara jiran tersebut ada Suku Bugis. media memiliki posisi begitu besar dalam menyampaikan berbagai isu yang berkaitan dengan masalah perbatasan. seni. extern islands Latar Belakang Hubungan persahabatan Indonesia Malaysia sejak lima puluh tujuh tahun yang lalu mengalami pasang surut kadang harmonis kadang menuai konflik. Persahabatan ini setiap waktu mengalami perubahan.Oleh : Parulian Sitompul Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang media berita cetak dan seputar kecenderungan berbagai konsepsi tentang klaim Malaysia terhadap pulau-pulau terluar Indonesia dan seni budaya Indonesia. This problem is necessary studied because so the incessant media especially newspaper illuminate Malaysian claim rumors towards extern islands and Indonesia culture art. 2002). Jawa. Kosicki. Kata kunci: berita media cetak. Teknik pengumpulan data yang dilakukan mengambil pesan teks tentang klaim Malaysia terhadap seni budaya dan pulau-pulau terluar Indonesia. Based on this study result is has position so big in submits various rumors related to border troubleshoot. data collecting technique that done pencupli message text about Malaysian claim towards culture art and Indonesia extern island. Kosicki. pulau terluar This study aims to discuss about inclination news media prints and conception various circle about Malaysian claim on extern islands from indonesia culture. conception various circle. Karena kedua negara ini adalah serumpun wajar pula kiranya negara abang beradik ini selalu ada saja muncul permasalahan yang selalu dipersoalkan. Dikatakan serumpun sebab sebahagian dari penduduk Malaysia itu adalah keturunan Indonesia yang sudah menetap berpuluh tahun sebagai warga negara Malaysia. bagaimana ketika presiden pertama RI Soekarno pada tahun 1964 . 2002. Berita baik dari berbagai kalangan maupun berbagai konsepsi yang sangat menolak tindakan yang dilakukan oleh Malaysia terhadap klaim yang dilakukan terhadap pulau-pulau terluar dan seni budaya Indonesia. Masalah ini perlu diteliti karena begitu gencarnya media khususnya surat kabar mengenai desas-desus klaim Malaysia terhadap pulau terluar dan seni budaya Indonesia. Data analysis technique uses analysis technique framing (alex sobar. Sementara Malaysia jumlah pulaunya sedikit dan begitu juga jumlah penduduknya sehingga saling mengklaim satu dengan lainnya. Tetapi walau demikian tidak ada salahnya jika kita set back sejarah berdasarkan berbagai sumber media. Pada hakekatnya kedua negara ini banyak memiliki persamaannya seperti bahasa. Wajar kiranya terkadang ada pertumbuhan dan perkembangan terkadang ada surutnya persahabatan Indonesia Malaysia. keyword: news media prints.

menuduh Malaysia sebagai negara tetangga yang diketahui sebahagian dari penduduk Malaysia itu berasal dari bebagai suku di Indonesia dijadikan proyek Nekolim (Neo Kolonialisme dan Inperialisme) oleh Inggris dengan tujuan untuk membentuk kerajaankerajaan kecil di semenanjung Malaysia, Serawak, Sabah dan Brunai untuk mengepung Indonesia. Presiden Soekarno pada saat itu sangat marah kepada pihak Malaysia, maka pada tanggal 3 Mei 1964 dihadapan apel besar sukarelawan Indonesia memberikan komando pengganyangan terhadap Malaysia walaupun akhirnya selesai di meja perundingan. Pengalaman bagi Indonesia, sejak di tahun 1962-1966 Indonesia juga pernah malakukan konfrontasi politik terhadap Malaysia. Sampai-sampai Presiden Soekarno di masa itu mengeluarkan maklumat “Ganyang Malaysia”. Masih hangat dalam ingatan di tahun 2007 Malaysia mengklaim Pulau Sipadan dan Ligitan sebagai pulau mereka dan berakhir di Mahkamah Internasional Den Hag Belanda dimenangkan oleh Malaysia sehingga kedua pulau tersebut menjadi miliknya Malaysia. Belum lagi problem tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Malaysia selalu tergambar bahwa TKI menjadi bulan-bulanan pihak Malaysia karena dikatakan ilegal. Kalau memang ilegal kenapa TKI dapat masuk dan bekerja di Malaysia sebagai buruh kebun dan pembantu rumah tangga (PRT) di Malaysia.

http://indonesiaberprestasi.web.id/wp-content/uploads/2009/08/tari-pendet.jpg

Akhir-akhir ini juga hubungan persahabatan Indonesia Malaysia juga terusik dikarenakan berbagai hal seperti klaim Malaysia terhadap Blok Ambalat yang berada di Kabupaten Nunukan Kalimantan Timur yang menimbulkan kejengkelan bangsa Indonesia terhadap negara jiran itu. Sementara Indonesia adalah negara berdaulat Akibat kejengkelan itu ribuan penduduk Indonesia bersedia menjadi sukarelawan untuk ditugaskan guna mempertahankan hak kepemilikan pada blok Ambalat tersebut. Tidak sampai di situ saja klaim Malaysia terhadap pulau terluar milik Indonesia yaitu Pulau Jemur di Kecamatan Pasir Limau Kapas Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) Riau. Walaupun sebelumnya pihak Dirjen Bea Cukai (BC) Indonesia mengerahkan kapal patroli BC 9004 beroperasi di Pantai Timur Sumatera. Tidak puas dengan pengklaiman pulau terluar daerah perbatasan Malaysia Indonesia, Malaysia juga mengklaim berbagai produk seni dan budaya asli Indonesia. Malaysia mengklaim batik yang berasal dari Solo, Yogya dan lainnya merupakan milik Malaysia. Begitu juga keberanian Malaysia mengklaim Wayang, Reog Ponorogo, Tari Pendet dan Ulos Batak adalah milik Malaysia. Tidak kalah sengitnya lagi juga pihak Malaysia berani menciplak lagu Terang Bulan dan Negaraku yang diketahui adalah ciptaan anak bangasa Indonesia dijadikan sebagai lagu nasional Malaysia dan sekaligus sebagai lagu kebangsaan Malaysia. Tentunya dampak perbuatan Malaysia itu memunculkan beragam reaksi dari rakyat Indonesia. Reaksi itu dibuktikan dengan sejumlah mahasiswa di Medan dalam kelompok Forum Mahasiswa Anti Liberalisme dan Kolonialisme (Formalin) melempari

dengan tomat kantor Konsulat Jenderal Malaysia di Medan, (Sumut Pos, 02/09). Kelompok itu mengatakan Malaysia terlalu berani mengklaim Wayang, Reog Ponorogo, Tari Pendet, Ulos Batak adalah milik negara jira itu dan menjiplak lagu Terang Bulan menjadikan sebagai lagu nasional Malaysia. Selain itu menghina lagu Indonesia Raya dengan mengubah total isi lagu tersebut. Tindakan ini tentunya menyakiti hati rakyat Indonesia. Sisi lain sejarahwan Sumatera Barat Prof. Dr. Gusti Asnan menjelaskan sikap Malaysia yang selalu mengklaim berbagai budaya dari Indonesia sebagai miliknya hanya karena mereka sedang mencari identitas diri, sebab Malaysia kini gamang melihat masa depannya. Memang dalam pergaulan dunia antar negara yang mengglobal di era teknologi komunikasi dan informatika saat ini sulit bagi suatu negara melakukan pembatasanpembatasan untuk tidak masuknya budaya asing melebur ke ranah budaya suatu negara seperti Indonesia yang begitu terbuka dan demokratis. Kemampuan teknologi media, baik media massa cetak maupun elektronik juga media maya memainkan peranan penting untuk mengubah ideologi politik,budaya dan seni suatu bangsa apabila di suatu negara itu tidak memiliki kekuatan ideologi politik, budaya dan seni yang mengakar pada nilainilai budaya yang berkembang di daerah (local genius). Sikap kemapanan budaya perlu ditingkatkan sehingga tidak ada lagi dari suatu produk budaya suatu daerah yang nantinya diklaim sebagai milik negara lain walaupun dengan alasan serumpun dan alasan lainnya. Memang diakui tidak ada persoalan yang tidak dapat diselesaikan dengan kepala dingin hati tenang. Sebagaimana yang diungkapkan Konjen Malaysia di Medan, Fauzi Omar berkaitan dengan isu-isu negatif yang dapat mendistorsi hubungan persahabatan antara Indonesia dan Malaysia.Ia menanggapi bahwa Indonesia dan Malaysia adalah serumpun dan banyak penduduk Malaysia yang berasal dari Indonesia menjadi warga negara Malaysia yang memiliki bentuk-bentuk budaya yang sama dengan saudaranya di Indonesia. Mereka mengaku tarian yang mereka miliki otomatis menyiratkan tarian Malaysia karena mereka adalah orang Malaysia. (Waspada, Analisa, 08/09/2009) Bahkan Omar mengatakan dalam jumpa persnya di Medan pihak Malaysia tidak pernah mengklaim Tari Pendet dan Pulau Jemur sebagai milik Malaysia, itu hanya kesalahpahaman saja. Malahan Omar mempertegas penolakannya atas tuduhan beberapa pihak bahwa ia tak dapat menerima Malaysia sebagai hantar teroris ke Indonesia. Malahan dikatakan media di Indonesia dan pihak-pihak ketiga yang memblow up isu-isu tersebut sehingga menimbulkan percikan amarah di pihak Indonesia agar terjadi konflik antara Malaysia dan Indonesia.

http://beta.tnial.mil.id/cakra/images/ambalat.jpg

Indonesia diketahui adalah sebagai negara demokrasi ketiga terbesar setelah Amerika dan India. Memiliki kebebasan pers yang begitu luas. Wajar kiranya informasi apa pun yang memungkinkan menjadi konsumsi publik Indonesia dapat diberitakan oleh media di Indonesia menjadi suatu kewajaran. Tetapi tentunya sebagaimana telah diungkapakan di atas tadi, jika pihak pemerintah Indonesia dan Malaysia tidak mencari

solusi penyelesain konflik opini kedua negara berjiran ini yang bersumber dari media dan pihak-pihak ketiga berdasarkan pemberitaan berbagai media akan dapat memperburuk hubungan yang harmonis sebagaimana telah dijalin selama ini dengan baik dan juga kerugian-kerugian yang akan dialami oleh kedua belah pihak seperti investasi, kerjasama perdagangan, pendidikan dan lain sebagainya akan lenyap hanya karena salah paham. Oleh karena itu berdasarkan uraian di atas sangat dianggap perlu untuk dilakukan suatu pengkajian khusus tentang kecenderungan pemberitaan media cetak suratkabar dan tanggapan dari berbagai pihak di daerah perbatasan tentang pengklaiman Malaysia terhadap beberapa pulau terluar dan produk seni budaya Indonesia sebagai milik Malaysia. Sehingga melalui pengkajian ini dapat diperoleh suatu informasi dan saran pemikiran tentang yang perlu dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam menyikapi klaim Malaysia atas pulau-pulau terluar dan seni budaya Indonesia. Permasalahan Permasalahan dalam pengkajian ini adalah isu yang bersumber dari pemberitaan media cetak suratkabar yang terbit di Medan berkaitan dengan pengklaiman beberapa pulau terluar sebagai milik negara Malaysia, begitu juga klaim Malaysia terhadap produk hasil kesenian dan budaya Indonesia yang mendapat reaksi keras dari masyarakat Indonesia. Sebab cara-cara yang dilakukan oleh negara jiran itu dapat merusak hubungan yang harmonis antara Indonesia dan Malaysia yang selama ini sudah terjalin dengan baik. Oleh karena itu adapun permasalahan secara khusus dalam pengkajian ini adalah : 5. Bagaimanakah kecenderungan media massa cetak surat kabar terbitan Medan dalam memberitakan isu klaim pulau terluar di wilayah perbatasan BBPPKI Medan dan klaim Malaysia terhadap produk seni dan budaya Indonesia? 6. Bagaimanakah tanggapan dari berbagai pihak masyarakat di daerah perbatasan di wilayah kerja BBPPKI atas pemberitaan surat kabar tentang klaim Malaysia terhadap pulau terluar Indonesia dan produk seni dan budaya Indonesia? 7. Langkah-langkah apakah yang perlu dilakukan oleh pemerintah agar tidak terulang lagi klaim Malaysia terhadap pulau-pulau terluar serta seni budaya Indonesia berdasarkan pemberitan suratkabar yang terbit di Medan dan juga tanggapan dari berbagai kalangan di daerah perbatasan Wilayah kerja BBPPKI Medan. Tujuan Pengkajian Pengkajian ini bertujuan untuk mengetahui : e. Kecenderungan media massa cetak suratkabar dalam memberitakan isu-isu klaim Malaysia terhadap pulau terluar dan produk seni dan budaya Indonesia. f. Tanggapan berbagai kalangan masyarakat di daerah perbatasan di wilayah kerja BBPPKI Medan atas pemberitaan suratkaba tentang klaim Malaysia terhadap pulau-pulau terluar dan produk seni dan budaya Indonesia. g. Langkah-langkah apa yang terbaik di lakukan oleh Pemerintah untuk mencegah terjadinya klaim Malaysia terhadap produk seni dan budaya Indonesia serta pulau-pulau terluar Indonesia berdasarkan tanggapan tokoh masyarakat di daerah perbatasan wilayah kerja BBPPKI Medan. Sasaran Adapun sasaran pengkajian ini adalah : 8. Diperolehnya gambaran umum tentang bagaimana kecendrungan media suratkabar dalam memberitakan klaim Malaysia atas pulau-pulau terluar dan seni budaya Indonesia melalui metode analisis wacana framing dan tanggapan dari berbagai kalangan masyarakat di daerah perbatasan wilayah kerja BBPPKI Medan.

9. Diperolahnya data dan informasi tentang langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh pemerintah dalam menyikapi kalim Malaysia terhadap pulau-pulau terluar dan seni budaya Indonesia. Lokasi Nara Sumber Kajian Lokasi narasumber pengkajian ini diambil di dua provinsi yang berbatasan langsung dengan Malaysia yaitu provinsi Kepulau Riau dan Kalimantan Timur. Provinsi Kepulau Riau sangat dekat jarak wilayahnya dengan Malaysia dan Singapura. Jika dilakukan penyebarangan melalui laut dari Batam ke Singapura maka dapat ditempuh dengan hanya lima belas menit.Demikian pula dengan Malaysia dapat ditempuh sekitar satu jam dalam perjalanan melalui laut. Sementara itu provinsi Kaltim kabupaten Nunukan berbatasan darat dengan Tawau Malaysia begitu juga dengan kabupaten Malinau berbatasan darat dengan Sabah Malaysia. Tentunya sebagai sumber informasi kunci dalam pengkajian ini adalah dari berbagai kalangan masyarakat di dua ibukota provinsi dimaksud. Karena di kedua ibukota provinsi tersebut ada suatu badan khusus di pemeritahan daerah yang menangani daerah-daerah perbatasan. Antara lain : pejabat Dinas Infokom Prov Kaltim, Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata, Kepala Pengelola Daerah Perbatasan Provinsi Kaltim, Ketua Kepemudaan KNPI Kaltim, Korem Danrem 091/ASN Kaltim. Sementara sumber pemberitaan dari media suratkabar yang terbit di Medan adalah harian Waspada dan Analisa. Pemahaman Teoretis a. Media Massa Surat Kabar adalah salah satu media yang digunakan banyak orang sebagai sumber informasi politik, Keberadaan media akan dapat membantu orang mengetahui banyak hal khususnya yang menyangkut dunia politik. Media di aplikasikan sebagai sebuah jendela dunia (lipman) yang dapat memandang luas berbagai hal tentang kejadian yang terjadi di Negara – Negara lain seperti perang antar Negara, bencana alam, kenaikan nilai mata uang dan berbagai hal tentang kehidupan manusia sehingga seseorang dapat berwacana sesuai dengan sudut pandang yang dimiliki karena media menurut Laswell dalam proses komunikasi melalui aktivitas sebagai berikut yaitu who, says what, in which channel, to whom, with what effect (Tankarel, 2005). Dengan kata lain dalam proses informasi yang disampaikan (pesan–pesan politik) melalui aktivitas ini, karena memang yang menjadi pembahasan dalam pengkajian ini adalah berkaitan dengan informasi politik seperti berita klaim Malaysia terhadap pulau terluar dan seni budaya Indonesia. Dalam kajian ini dengan menggunakan pendekatan framing terhadap isu pembuatan media tentang klaim Malaysia terhadap pulau terluar dan seni budaya indonesia dan juga tanggapan dari berbagai kalangan terhadap isu dimaksud berdasarkan pemberitaan media surat kabar. Dari media ini nantinya akan tampak penonjolan isu berdasarkan konstruksi yang dilakukan oleh pengelola media. Konsep Framing Analisis framing merupakan versi terbaru dari pendekatan analisis wacana khususnya untuk menganalisis teks media. Framing dimaknai sebagai struktur konseptual atau perangkat kepercayaan menganalisis pandangan politik, kebijakan dan wacana serta yang menyediakan kategori – kategori standard mengoptimalisasi realitas. (Sobur 2002 : 162).

b.

Dalam denah studi komunikasi analisis framing mewakili tradisi yang mengedepankan atau perspektif, multi disipliner untuk menganalisa fenomena – fenomena atau aktivitas komunikasi, juga dalam studi komunikasi analisis framing dipakai untuk membedakan cara–cara atau ideologi saat mengkonstruksi fakta. Dengan kata lain analisis framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan wartawan ketika menyeleksi dan menulis berita.

http://beritadaerah.com/UserFiles/Image/travel/batik/batik3.jpg

c.

Teori Konstruksionis Analisis framing adalah salah satu metode analisis teks yang berada lain kategori penulisan konstruksionis. Dalam teori ini memusatkan perhatian kepada proses pembentukan realitas. Karenanya dalam pandangan teoritis konstruksionis menemukan bagaimana peristiwa atau realitas dikonstruksikan dengan cara apa konstruksi itu dibentuk. Ada dua karakteristik penting dari pendekatan konstruksionis, pertama pendekatan konstruksionis menekan pada politik pemaknaan dan proses bagaimana seseorang membuat gambar yang realitas. Kedua, konstruksionis memandang kegiatan komunikasi sebagai proses dinamis pendekatan ini memandang bagaimana pembentukan pesan dari isi-isi komunikator dan dalam sesi penerima, ia memeriksa bagaimana konstruksi makna individu ketika menerima pesan. Pesan dipandang bukan sebagai mirror of reality yang menampilkan apa adanya. Dalam konteks kajian ini adalah bagaimana media mengenai realitas obyektif isu itu tentang klaim Malaysia terhadap pulau terluar dan seni budaya Indonesia, sehingga berbagai media surat kabar yang telah diteliti akan didapatkan gambaran tentang bagaimana penggunaan kata – kata yang terpilih untuk tujuan tertentu, melalui perangkaian berita dan mempergunakan simbol simbol agar dapat menimbulkan kesan tertentu ketika khalayak serta menentukan apakah isu itu penting atau tidak. Tanggapan Berdasarkan kamus bahasa Indonesia, tanggapan berawal dari kata tanggap yang artinya, mencamkan, melihat (mendengarkan) baik–baik. Sedangkan tanggapan adalah terapan yaitu apa yang diterima panca indera, bayangan dalam angan–angan, sambutan (reaksi), menggambarkan dan melahirkan pikiran dan perasaan. (Balai Pustaka, 2006 : 1203). Tanggapan dalam komunikasi tentunya merupakan reaksi yang timbul akibat dari pesan yang diterima. Sama halnya dengan pendapat umum yang diartikan sikap pribadi seseorang ataupun sikap kelompoknya maka sebagian dari sikapnya ditentukan oleh pengalamannya, yaitu pengalaman dari kelompoknya juga.

d.

(Astrid, 1985 : 80). Dengan demikian tanggapan adalah sikap dari gambaran pengalaman dan belajar dari pengalaman. Ada hubungan yang erat antara sikap dan pendapat yang menyimpulkan, bahwa suatu pendapat itu dinyatakan (expressed) dan dapat juga tidak dinyatakan akan tetapi ada atau tidak disadari (laten). Sehubungan dengan itu berbagai pembentukan media khususnya surat kabar terbitan Medan klaim atas pulau–pulau terluar dan seni budaya Indonesia akan menimbulkan berbagai pendapat, tanggapan. Ada yang mungkin menanggapi sangat reaktif terhadap pembentukan itu ada mungkin dianggap masalah biasa saja. Tetapi walaupun demikian berdasarkan pembentukan media, berita tentang klaim Malaysia terhadap pulau terluar dan seni budaya Indonesia mendapat perhatian yang begitu beragam dari masyarakat Indonesia. Metodologi Penelitian 1. Metode Penelitian Penelitian ini melalui pendekatan discourse analysis dengan menggunakan metode analisis framing dari Zhongdang Pau dan Gerald M. Kosicki. Sesuai dengan pandangan Pau dan Kosicki menggunakan metode ini yaitu suatu proses membuat suatu pesan lebih daripada yang lain sehingga khalayak lebih tertuju pada pesan tersebut. 2. Pengertian Operasional a. Pemberitaan Media Cetak Pemberitaan media cetak adalah berita yang disajikan oleh dua suratkabar yang terbit di Medan yaitu harian Waspada dan harian Analisa yang memberitakan tentang isu-isu klaim Malaysia terhadap pulau-pulau terluar dan seni budaya Indonesia b. Tanggapan Berbagai Kalangan Tanggapan berbagai kalangan adalah merupakan sikap dan pengapat dari berbagai narasumber yang mempunyai kompetensi menyikapi dan berpendapat terhadap pemberitaan tentang isu-isu klaim Malaysia terhadap pulau-pulau terluar serta seni budaya Indonesia. Tanggapan berbagai kalangan ini berdomisili di daerah perbatasan Indonesia dengan Malaysia seperti Provinsi Kalimantan Timur dan Kepulauan Riau. c. Pulau-pulau terluar & seni budaya Indonesia Pulau-pulau terluar Indonesia adalah sejumlah pulau yang berbatas langsung baik darat maupun laut dengan Negara tetangga, seperti Malaysia, Singapore, Thailand, Philipina, Vietnam, Laos, Burma dan lainnya yang rawan konflik perbatasan antar Negara. Sementara seni budaya Indonesia adalah berbagai seni budaya yang diciptakan oleh putra-putri Indonesia seperti tari Pendet, dan seni kain batik yang sering di klaim oleh Malaysia sebagai milik mereka.

Model Kerangka Framing Pau dan Kosicki
STRUKTUR Sintaksis Cara wartawan menyusun fakta PERANGKAT FRAMING 1. Skema berita UNIT YANG DIMINATI Headline, Latar Informasi, Kutipan sumber, pernyataan

Skrip Cara wartawan mengesahkan fakta Tematik Cara wartawan menulis berita

1. Kelengkapan berita

5w + 1h

1. Detail 2. Maksud kalimat 3. nominalisasi antar kalimat 4. koherensi 5. Bentuk kalimat 6. Kata ganti

Paragraf Proposisi

Retoris 1. Leksikor Cara wartawan 2. Grafis menekankan fakta 3. Metafora 4. Pengandaian

Kata Idiom gambar, kata, grafik

Sumber, Analisis teks media (Sobur, 2002 : 176) 3. Teknik Pengumpulan Data Obyek yang dianalisis dalam penelitian ini adalah teks berita tentang klaim Malaysia terhadap seni budaya dan pulau terluar Indonesia yang dimuat oleh Surat Kabar harian Waspada dan Analisa tanggal 1 s/d 8 September 2009. Pemilihan terhadap media ini dikarenakan kedua media dimaksudkan adalah merupakan salah satu surat kabar nasional yang terbit di daerah dengan memiliki pembaca dalam jumlah besar. Kedua media tersebut menaruh perhatian penting terhadap isi tentang klaim Malaysia terhadap pulau–pulau terluar dan seni budaya Indonesia. Tentunya klaim tersebut menjadi pro-kontra atau menimbulkan dari berbagai kalangan seperti Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim, Korem Kaltim, Tokoh masyarakat, Kepala Dinas Infokom, Kepala pengelola Daerah Perbatasan. Teknik Analisa Data Analisa data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah menggunakan framing varia Pau dan Kosicki yang membagi pada empat struktur analisa (sintaksis, skrip, tematik dan retoris) yang merupakan rangkaian yang menunjukkan framing dari suatu media. Selanjutnya di interpretasikan berdasarkan paradigma konstruksionis dengan memanfaatkan Teori Shoemaker dan Reese sehingga dicari titik temu dari hasil penafsiran-penafsiran tersebut.

4.

Hasil Kajian Isu pembentukan tentang klaim Malaysia terhadap pulau – pulau terluar Indonesia dan seni budaya Indonesia menjadi perhatian banyak orang. Selain berita informasi itu penting tetapi juga menuai prokontra di masyarakat. Malahan ada sekelompok yang melakukan tindakan anarkis yaitu melempar tomat ke kantor konsulat Malaysia di Medan, dan juga membakar bendera Malaysia. Kejadian itu sangat disayangkan oleh Malaysia, sebab malaysia tidak pernah mengklaim pulau terluar Indonesia seperti pulau jemur sebagai milik Malaysia begitu juga seni budaya Indonesia bahwa Pemerintah Malaysia tidak pernah mengklaim Tari Pendet sebagai tarian Malaysia. Pihak pemerintah Malaysia tidak pernah memberi bahan tentang tari pendet kepada pihak Discovery Channel, jika itu pun dilakukan oleh discovery channel itu sepertinya tanggung jawab discovery channel sendiri. 1. Framing Harian Waspada

jpg Dari analisis sintaksis pandangan harian waspada terhadap isu tersebut diwujudkan dalam bentuk skema atau bagan dalam berita. mengambil pernyataan Gubernur Riau Rusli Jainal akan mengklarifikasi persoalan itu. terutama dengan pengutipan pernyataan orang-orang yang relevan dengan yang dimuat. Dari judul berita ini harian waspada mengangkat isu ini karena begitu penting untuk diketahui oleh khalayak pembaca.wordpress. Elemen tematik yang ditampilkan adalah adanya koherensi yang tampak pada beberapa kalimat yang menghubungkan tiap alinea pada berita yang ditampilkan. http://wiryanto. Burhanundin Amin mengungkapkan adanya klaim Malaysia terhadap Pulau Jemur di Riau. Apa lagi Malaysia berbatasan dengan Indonesia. Rusli Zainal. Klaim Malaysia atas pulau jemur berdasarkan sumber lain yaitu Pangdam I BB Mayjen. Malaysia mengklaim gugusan pulau jemur di Provinsi Riau sebagai kawasan wisata mereka. Harian Waspada pada edisi 2 September 2009 memunculkan berita dengan judul “Malaysia Klaim Pulau Jemur”. Disisi lain Gubernur tersebut juga menegaskan Pulau Jemur adalah salah satu dari sembilan pulau yang termasuk dalam gugusan pulau arwah di Kabupaten Rokan Hilir Riau.Klaim Malaysia terhadap pulau-pulau terluar Indonesia banyak menjadi perhatian berbagai media. Dalam tematik harian waspada menggambarkan adanya tema tertentu atas satu peristiwa. Navigasi Perhubungan bahkan Mess Pemda setempat berada di pulau itu. Dalam teks berita pada bentuk head harian waspada menampilkan ucapan sumber. Pemerintahan Provinsi Riau berniat mengklarifikasi hal ini ke Konsulat Jenderal Malaysia di Pekanbaru. Gubernur Riau. Pulau ini berjarak 70 km dari Bagan Siapi-api Kabupaten Rokan Hilir. Dari judul ini pula menunjukkan bagaimana waspada mem-frame dalam strategi rencana dengan menempatkan berita ini walaupun dalam headline halaman dua tetapi mencuri perhatian pembaca.com/2008/05/reog. Karena kesan judul berita tersebut bernilai panas dalam arti ada kesengajaan media menjustifikasi bahwa Malaysia telah mengklaim kepemilikan pulau-pulau terluar di Indonesia khususnya di pulau Sumatera. . Judul berita sudah jelas menunjukkan begitu pentingnya isu itu untuk diketahui khalayak. Disamping itu dalam pengesahan fakta harian waspada berupaya menggambarkan unsur penting dalam pemberitaan klaim Malaysia terhadap pulau terluar dan Seni Budaya Indonesia. Dari judul dan teks berita yang disajikan harian waspada ada beberapa elemen yang dapat diamati dari perangkat tematik yaitu adanya koherensi. Harian waspada telah mengkonstruksi sedemikian rupa tentang adanya realitas isu klaim Malaysia terhadap pulau terluar dan seni budaya Indonesia. Pangdam menjelaskan berdasarkan sejarah Pulau Jemur masuk wilayah Kerajaan Siak dan secara defacto maupun dejure adalah milik Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ditandai oleh Pos TNI Angkatan Laut.files.

Dalam retoris waspada telah memilih dan memakai kata-kata tertentu untuk mem-frame isu tentang klaim Malaysia terhadap pulau terluar dan seni budaya Indonesia.com/wp-content/uploads/batik1. Bukti-bukti pemberitaan yang ditonjolkan oleh harian Waspada (Skrip) adalah pulau Jemur di Kabupaten Rohil Provinsi Riau diklaim oleh Malaysia melalui situs pariwisata Travel Journal dan Laman Osvajd. Sumber penting dari pemberitaan ini yaitu Gubernur Provinsi Riau Rusli Zainal yang ditempatkan pada lead berita dan latar dengan model piramida terbalik Harian Waspada memaknai adanya pihak Malaysia mengklaim pulau-pulau terluar dan seni budaya Indonesia walaupun pada sisi lain pihak Malaysia membantah isu itu dengan menuding pihak ketiga. juga dari sisi grafis penekanan terhadap penggunaan huruf yang relatif tebal atau hitam. Begitu juga tentang klaim seni budaya Indonesia.net yang menyebutkan bahwa pulau Jemur sebagai destinasi wisata negara bagian Slangor Malaysia yang dikatakan dalam situs itu pulau Jemur masuk dalam wilayah Slangor Malaysia. Tematik yang ditampilkan oleh harian ini adalah adanya persesuaian kaitan yang kelihatan antara beberapa kalimat dengan yang lain sehingga hubung menghubungkan setiap alenia dari setiap pernyataan yang ditampilkan. kalimat ini begitu tegas menjelaskan kepemilikan Indonesia terhadap Pulau Skrip Tematik . dalam upaya menunjukkan betapa pentingnya dan menariknya isu tersebut. ELEMEN Skematis STRATEGI PENULISAN Pemuatan sumber-sumber berita yang memiliki relevansi dengan judul berita menerangkan adanya klaim Malaysia terhadap pulau-pulau terluar dan seni budaya Indonesia. Dalam retoris waspada juga mencoba memberikan efek kognatif yang mengarah pada perhatian dan keterkaitan khalayak pembaca secara intens.jpg Dari struktur retoris wacana berita menggambarkan pemulihan gaya kata yang dipilih oleh wartawan untuk menonjolkan arti yang ingin disampaikan oleh wartawan tersebut.http://matanews. Seperti sikap Gubernue Riau Rusli Zainal dimuat bahwa pihak pemerintah daerah Riau akan meminta klarifikasi tentang klaim itu. Dengan demikian unsur-unsur dalam pemberitaan telah memenuhi syarat dalam pengungkapan fakta yang diperoleh Waspada. Sikap ini sangat didukung oleh bagaimana gubernur juga menyatakan bahwa dari 9 pulau yang termasuk dalam gugusan Pulau Arwah di Kabupaten Rohil salah satunya adalah Pulau Jemur.

Judul ini diangkat berdasarkan penegasan yang disampaikan Konsul Jenderal Malaysia Fauzi Omar yang didampingi Direktur Tourisme Malaysia di Medan Noor Azman ketika menerima kunjungan kerja anggota DPD RI Parlindungan Purba. Dalam teks berita pada bentuk headline harian Analisa menampilkan penyataan pihak pemerintah Malaysia melalui Konsulat Jenderal Malaysia Fauzi Omar mengungkapkan masalah Tari Pendet sebenarnya 100 persen merupakan tanggung jawab Discovery Channel. Begitu juga isi berita tentang penyataan Konsul Jenderal Malaysia atas kekecewaannya terhadap pemberitaan media di Indonesia yang cenderung memperuncing permasalahan sehingga pernyataan Konsul Malaysia bahwa . http://www. Walaupun demikian pihak rumah produksi yang memberi bahan kepada Discovery Channel sudah mengklarifikasi dan meminta maaf atas kejadian tersebut. Kesan judul ini dimaknai untuk mencoba menepis prasangka negatif atas isu klaim Malaysia terhadap pulau-pulau terluar dan seni budaya Indonesia. Dilihat dari sisi grafis judul berita ini ditulis dengan huruf tebal hitam (bold) sehingga tampak penonjolan begitu pentingnya isu itu. Karena itu pihak Malaysia merasa perlu menjelaskan hal ini kepada Indonesia. “Malaysia Klaim Pulau Jemur”.Retoris Jemur dimaksud. Dari judul ini nampak harian Analisa mencoba menunjukkan bagaimana pihak pemerintah Malaysia merasa terganggu karena berbagai pemberitaan di Indonesia yang cenderung memperuncing persoalan dimaksud. Framing Harian Analisa Berdasarkan framing harian Analisa tentang isu klaim Malaysia terhadap pulau terluar Pulau Jemur dan seni budaya Indonesia seperti Tari Pendet sama sekali pihak Malaysia menyatakan tidak pernah menyatakan itu.primaironline.com/images_content/2009824tari%20pendet. 2. Harian ini telah memilih dan memakai kata-kata tertentu untuk memframe isu tentang klaim Malaysia terhadap pulau terluar dan seni budaya Indonesia yaitu dengan judul berita. Begitu penyataan minta maaf dari Discovery Channe. Kelengkapan sumber berita Fauzi Omar Konsul Jenderal Malaysia di Medan sebagai aktor pemberitaan disebutkan sangat jelas. Hal itu dapat dilihat pada judul berita pada harian Analisa berjudul “Malaysia Tidak Pernah Diangkat Klaim Tari Pendet Dan Pulau Jemur”.jpg Analisis sintaksis pandangan harian Analisa terhadap isu tersebut diwujudkan dalam bentuk skema atau bagan berita. Judul berita menunjukkan begitu pentingnya isu penyataan pihak Malaysia atas penolakan pemberitaan berbagai media di Indonesia klaim Malaysia terhadap pulau-pulau terluar dan seni budaya Indonesia. Dalam pengungkapan fakta pemberitaan telah mengikuti tata cara pemberitaan yang benar.

Analisa framing berdasarkan tematik penulisan berita tentang isu Malaysia tidak pernah klaim Tari Pendet dan Pulau Jemur. Skrip . Dalam penutup berita itu Analisa memframe bahwa hanya karena miskomunikasi saja dan kesalahan komunikasi itu dimanfaatkan media sebagai isu penting pemberitaan. Malahan ditegaskan ada agensi di Slangor yang membuat paket wisata dengan memasukkan Pulau Jemur dalam paket wisata Malaysia karena kedekatan geografis. Dalam retoris pemahaman dan perhatian serta keterkaitan khalayak pembicara terhadap pemberitaan. Ungkapan-ungkapan alenia ke alenia hanya berhubungan terutama dengan pengutipan penyataan dari sumber. http://prabowosubianto.info/v2/wp-content/uploads/2009/06/ambalat. “Malaysia Tidak Pernah Mengklaim Tari Pendet Dan Pulau Jemur”. Harian Analisa memaknai bahwa pihak pemerintah Malaysia menolak tudingan klaim dimaksud. menunjukkan penolakan pemberitaan dimaksud. Dalam lead berita Analisa mengambil pernyataan narasumber dari Konsul Jenderal Malaysia di Medan Fauzi Omar mengatakan pihak pemerintah Malaysia tidak pernah klaim Tari Pendet begitu juga klaim terhadap Pulau Jemur. ELEMEN Skematis STRATEGI PENULISAN Pada framing harian Analisa lebih menonjolkan tentang penolakan pemerintah Malaysia atas pemberitaan berbagai media di Indonesia dengan mengangkat judul. Judul berita pada harian Analisa bercetak tebal (bold). Hal ini dilakukan untuk menunjukkan pentingnya berita itu dan menarik untuk disimak.pihaknya tidak pernah mengklaim Tari Pendet dan Pulau Jemur sebagai milik Malaysia. Dalam skrip Analisa menggunakan pola penulisan 5W+1H dengan menonjolkan bagaimana sumber berita menyikapi tudingan klaim Malaysia terhadap pulau terluar dab seni budaya Indonesia. harian Analisa adanya koherensi. Harian Analisa telah mengkontruksi sedemikian rupa tentang adanya realitas bagaimana pihak Malaysia menolak tudingan dimaksud.jpg Dari struktur wacana retoris wacana berita menggambarkan pemilihan gaya kata yang dipilih oleh wartawan untuk menonjolkan arti yang ingin disampaikan.

Adanya koherensi yang tampak dalam kalimat sehingga tersusun dalam paragraf yang menjelaskan topik berita dimaksud. sebab tanpa melakukan hal itu tidak tertutup kemungkinan akan terulang kembali klaim Malaysia. Tetapi pada sisi lain tentunya tidak perlu terlalu berlebihan menyikapi pemberitaan media di Indonesia atau klaim Malaysia dimaksud. Hasil Wawancara Berdasarkan hasil wawancara dari berbagai kalangan seperti dari kepemudaan menjelaskan bahwa pemerintah perlu secara terus menerus melakukan pendataan terhadap pulau-pulau terluar dan seni budaya Indonesia untuk menghindari klaim yang dilakukan oleh negara tetangga. Klaim Malaysia atas pulau terluar dan seni budaya Indonesia berdasarkan pemberitaan berbagai media perlu klarifikasi dari pemerintahan Malaysia. Berdasarkan pemberitaan media tentang hal dimaksud tentunya Indonesia harus melakukan langkah-langkah antisipatif seperti mempertanyakan persoalan itu kepada pemerintah Malaysia tentang kebenarannya. Sebagai negara tetangga apalagi serumpun perlu dikembangkan saling menjaga dan menghargai kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya. Sebab tindakan media akan menginformasikan tentang sesuatu apalagi masalah kepentingan negara jika tidak ada sumbernya. Dari pihak pariwisata menjelaskan dengan keberadaan media yang begitu terbuka saat ini memberikan kontribusi yang begitu besar bagi masyarakat Indonesia sehingga diketahuinya bahwa negara tetangga Malaysia mengklaim pulau-pulau terluar dan seni budaya Indonesia.Tematik Retoris Tema yang dimuat oleh harian Analisa adalah penolakan Malaysia atas tudingan klaim terhadap pulau terluar dan seni budaya Indonesia. Malahan harian Analisa mengambil ungkapan anggota DPD Sumut Parlindungan Purba bahwa klaim itu hanya masalah miskomunikasi bukan seperti yang diberitakan berbagai media. Walaupun di sisi lain Indonesia perlu mencari bukti kebenaran di lapangan atas pemberitaan tersebut. Dan tentunya pemerintah Indonesia perlu secara berkelanjutan melakukan sosialisasi kepada masyarakat Indonesia yang berada di perbatasan untuk menjaga keutuhan wilayah. Tetapi pihak TNI tidak setuju atas perbuatan pemerintah Malaysia mengklaim pulau terluar dan seni budaya Indonesia. Dari ungkapan konsul jenderal Malaysia di Medan juga anggota DPD Parlindungan Purba terucap klaim Malaysia terhadap Pulau Jemur dan seni budaya Indonesia hanya miskomunikasi saja. Walaupun dari beberapa pemberitaan media di Indonesia pemerintah Malaysia tidak lagi ambil serius dengan persoalan tersebut. 3. Dan masalah ini tidak ada tawar menawar dan harus ditolak dan perlu diselesaikan dengan segera. Dan tidak perlu terlalu demonstratif tetapi dengan cara-cara yang elegan persuasive. Tentunya dengan keberadaan media di . Harian Analisa telah memilih dan memakai kata-kata yang beruas untuk menkontruksi bahwa pemerintah Malaysia melalui konsul jenderal di Medan membantah tentang pemberitaan klaim Malaysia terhadap Pulau Jemur dan seni budaya Indonesia. Sebab hal itu berkaitan dengan kedaulatan negara kesatuan Republik Indonesia. Penjelasan dari pihak Kodim 091/ASW Kaltim dan Tanjung Pinang menjelaskan pemberitaan media itu masih dalam tahap kewajaran walaupun di sisi lain perlu diseleksi kebenaran pemberitaan dimaksud. Tentunya Indonesia sangat terbantu dengan pemberitaan media.

Tentunya Indonesia lebih banyak memiliki seni dan budaya dibanding Malaysia. Memang Indonesia Malaysia serumpun tetapi ada banyak hal yang berbeda jika dilihat dari ragam budaya. Padahal seni budaya asli Indonesia. Dikarenakan sudah lama berada di Malaysia rindu akan leluhur kebudayaannya sehingga berbagai seni budaya yang dimiliki dipertunjukkan yang ternyata dikatakan seni budaya yang dipertunjukkan itu sebagai milik Malaysia.Indonesia saat ini lagi terbuka pantas diberikan rasa hormat kepada media di Indonesia yang begitu cepat mengangkat kasus tersebut walaupun masih perlu diselidiki kebenarannya. Dalam hal ini penempatan Babinsa perlu ditingkatkan secara merata di daerah-daerah perbatasan. Bangsa Indonesia tidak boleh lengah dengan keadaan ini perlu ada tindakan tegas dan terencana. Sementara negara tetangga terus membangun daerahnya yang berbatas langsung dengan Indonesia dan ini menunjukkan kesenjangan dalam berbagai hal antara Indonesia dan Malaysia di daerah perbatasan kedua belah pihak khususnya di bidang ekonomi. jika memang perlu dilakukan kesepakatan di Mahkamah Internasional sehingga akan dapat menguatkan keutuhan NKRI. Keadaan ini dapat memancing reaksi negatif Indonesia. Dengan pemberitaan itu akan diketahui apa-apa yang perlu dilakukan untuk mengatasi masalah dimaksud apalagi masalah perbatasan Indonesia Malaysia. Sehubungan dengan keberadaan pulau-pulau terluar Indonesia aparat keamanan seperti TNI perlu ditingkatkan keberadaannya di daerah tersebut. Tanggapan yang diungkapkan dari Ormas di daerah perbatasan Tanjung Pinang menyebutkan perlu kiranya saling menghormati hukum internasional tentang zona batas Indonesia Malaysia. Setiap persoalan yang terjadi antara Indonesia dan Malaysia tidak harus dilakukan secara destruktif yang berdampak pada ketidakharmonisan hubungan kedua negara yang selama ini sudah terjalin baik. Maka langkah-langkah yang perlu dilakukan pemerintah Indonesia adalah dilakukannya pendataan ulang untuk memastikan keberadaan pulau-pulau terluar serta seni budaya Indonesia. Begitu juga peralatan pemantau seperti kapal perang dan infrastruktur lainnya perlu segera diwujudkan sehingga aparat TNI dan unsur Muspida terkait dapat dengan mudah melakukan patroli guna melakukan penjagaan di daerah-daerah perbatasan baik darat maupun laut di wilayah Indonesia yang berbatas dengan negara lain. Tanggapan dari Badan Pengelola Daerah Perbatasan Provinsi Kaltim mengungkapkan sangat respon positif terhadap pemberitaan media di Indonesia tentang isu klaim Malaysia terhadap pulau-pulau terluar dan seni budaya Indonesia. Reaksi Malaysia terhadap pemberitaan media di Indonesia tentang isu dimaksud biasa-biasa saja sebab mereka sudah sejahtera tidak perlu ada keributan dan klaim . Klaim Malaysia terhadap seni budaya Indonesia sempat disayangkan. Tentunya program-program yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat maupun daerah perlu diwujudkan tidak hanya program semata tetapi tidak diwujudkan dengan berbagai alasan. Pemerintah Indonesia Malaysia perlu melakukan menginverting kembali berbagai seni budaya kedua belah pihak. Reaksi Malaysia terhadap pemberitaan klaim Malaysia terhadap pulau terluar dan seni budaya Indonesia perlu dipelajarin sebab walaupun Indonesia Malaysia serumpun tetapi ternyata Malaysia sanggup mengklaim pulau terluar dan seni budaya Indonesia. begitu juga keberadaan pulau-pulau terluar sebab bagaimanapun juga sebagai negara bertetengga yang mana di Malaysia banyak warga Indonesia berdomisili di sana baik yang sudah menetap sebagai warga Malaysia maupun sebagai TKI dan juga pelajar.

sebab Malaysia Indonesia negara adik abang. 3. Tetapi belum dilaksanakan secara maksimal karena terbatas dan terkendala pada pembiayaan/anggaran. 2. 3. Sebab dengan keterbukaan media pada saat ini merupakan peluang bagi masyarakat untuk mengenal dan mengetahui keberadaan daerahnya dari informasi yang ditemui dari berbagai media. Sebab dengan kebebasan memperoleh informasi dari berbagai media akan dapat meningkatkan peran masyarakat untuk menjaga dan mengoptimalkan potensi-potensi yang ada di daerah perbatasan yang menjadi tempat tinggal mereka. Daftar Pustaka . Kesimpulan 1. Pada satu sisi pemerintah Indonesia sangat menghormati kedaulatan negara tetangga seperti Malaysia. Untuk dilakukan pendaftaran secara internasional yang menjadi milik bangsa Indonesia. sebab klaim Malaysia atas pulau-pulau terluar Indonesia serta seni budaya Indonesia menyangkut dengan kedaulatan negara. Rekomendasi 1. Pemerintah perlu menginverting kembali pulau-pulau terluar serta seni budaya Indonesia sebab berdasarkan kesepakatan UNCLOS Indonesia memiliki 92 pulau terluar berbatasan langsung dengan sepuluh negara. Dengan pengakuan internasional tersebut tidak ada lagi negara lain seperti Malaysia dapat mengklaim pulau-pulau terluar serta seni budaya Indonesia sebagai milik mereka. Sementara masyarakat di daerah tetangga perbatasan pembangunan sudah maju. Begitu juga media di Indonesia memberitakan secara terbuka tentang bagaimana reaksi masyarakat Indonesia atas klaim Malaysia tersebut. Pemerintah Indonesia perlu secara proaktif menyikapi persoalan-persoalan yang muncul pada masyarakat yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur di daerah perbatasan. 2. Kebebasan pers dapat mengungkapkan dengan gamblang tentang bagaimana negara tetangga seperti Malaysia mengklaim pulau terluar dan seni budaya Indonesia. Apapun yang terjadi antara Indonesia atas klaim Malaysia terhadap pulau-pulau terluar serta seni budaya Indonesia perlu dibicarakan secara baik-baik dengan cara kekeluargaan dengan pendekatan budaya serumpun. Baik pemberitaan dari berbagai media maupun tanggapan dari berbagai kalangan sangat menolak tindakan yang dilakukan oleh Malaysia terhadap Indonesia. Pemerintah perlu mengoptimalkan peranan media massa untuk selalu mensosialisasikan kepada masyarakat upaya-upaya yang akan dan sudah dilakukan oleh pemerintah tentang pembangunan di daerah perbatasan.Malaysia terhadap pulau terluar dan seni budaya Indonesia hanya media di Indonesia saja yang meributkannya. Tentunya untuk mendorong kearah tersebut pemerintah perlu membangun infrastruktur sarana telekomunikasi untuk mempermudah akses masyarakat terhadap informasi yang diinginkan oleh masyarakat di daerah perbatasan. 4. Sebab sudah banyak program yang telah direncanakan baik pemerintah pusat maupun daerah untuk keperluan masyarakat daerah perbatasan. Keberadaan media yang semakin terbuka di Indonesia perlu terus didorong oleh pemerintah. Keberadaan media memiliki posisi yang begitu besar dalam menyampaikan berbagai isu yang berkaitan dengan permasalahan perbatasan. Tentunya dengan tegas pihak pemerintah Indonesia menolak dan meminta klarifikasi atas klaim dimaksud. tetapi bangsa Indonesia juga sangat cinta terhadap bangsa dan negara Indonesia yang berdaulat.

Harian Analisa.wordpress.com/images_content/2009824tari%20pendet. Balai Pustaka.ac.files.jpg PERAN MEDIA DALAM PEMBENTUKAN OPINI MASYARAKAT DI WILAYAH PERBATASAN MENGENAI JATI DIRI BANGSA INDONESIA9 Oleh : Amiruddin Z.id/cakra/images/ambalat. Harian Waspada. Werner J. Kamus Bahasa Indonesia. Sobur. Remaja Rosdakarya.primaironline. Tankarel Jr. Alex.suarapembaruan. Senerin. 2006.web.info/v2/wp-content/uploads/2009/06/ambalat. terbitan tanggal 1 s/d 30 September 2009. Kencana Prenada Media Group.com/UserFiles/Image/travel/batik/batik3.tnial.jpg http://beritadaerah.gif http://www.mil. Bandung.jpg http://indonesiaberprestasi. terbitan tanggal 1 s/d 30 September 2009. Abstrak 9 Telah dipresentasikan pada acara seminar hasil penelitian tanggal 3 Desember 2009 di BBPPKI Medan .J. Teori Komunikasi.jpg http://www.com/2008/05/reog.id/wp-content/uploads/2009/08/tari-pendet.jpg http://beta.com/News/2007/03/05/Nasional/030307am. W.id/userfiles/image/reog24.Poerwadarminta.jpg http://wiryanto.umpo. 2007. Analisis Teks Media.S. Lain-lain : http://www.com/wp-content/uploads/batik1.jpg http://matanews. 2002.jpg http://prabowosubianto.

namun wawasan kebangsaan mereka dapat dikatakan menurun. termasuk tentang keberadaan dan peran dari media nasional. 1978 :16 ) Peran media di dalam penyampaian informasi diungkapkan seorang penulis ternama Alfin Tofler bahwa peradaban manusia dimasa ini telah memasuki era baru yang disebut “ The Third Wave “ dikatakan bahwa fungsi informasi menjadi jauh lebih penting daripada era sebelumnya. Lokasi yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah wilayah perbatasan yang menjadi wilayah kerja Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika Medan. Dari hasil temuan terungkap bahwa wilayah perbatasan masih merupakan daerah tertinggal dari berbagai aspek. Latar Belakang Masalah Hidup ini dikendalikan media massa. . Jhon Naisbit mengungkapkan bahwa ada sepuluh pertanda zaman yang kini merubah hidup dan kehidupan masyarakat Amerika. hal tersebut tentu suatu kewajaran disebabkan minimnya mendapatkan penjelasan dan informasi dari tayangan / siaran media nasional. Masyarakat memperoleh berbagai informasi sekaligus mempengaruhi sikap atau membentuk cara pandang. but the insights of their nationality can be said to decline. Sementara dikarenakan media Malaysia lebih jelas dan mudah. the methods used descriptive analysis. This research is qualitative interviewing informants from various groups that are considered relevant. Kata Kunci : Peran media masyarakat wilayah perbatasan. kehadiran/keberadaan media massa di suatu lokasi/tempat adalah sangat penting. Hasil penelitian juga menyimpulkan bahwa jati diri masyarakat di wilayah perbatasan tidaklah luntur.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peran media dalam pembentukan opini masyarakat di wilayah perbatasan mengenai jati diri Bangsa Indonesia. jati diri. Sehingga masyarakat lebih memilih penggunaan media (TV. Saluran komunikasi ini dapat dianggap sebagai penerus atau saluran pesan yang berasal dari sumber informasi kepada sasaran komunikasi ( Rogres. it is certainly a lack of fairness due to get an explanation and information from the impressions / national media broadcasts. Radio) from the neighboring country of Malaysia. While the media is because Malaysia is more clear and easy. dari kesepuluh pertanda zaman tersebut yang pertama kali adalah information society atau masyarakat informasi. The present study also concluded that the identity of the community in the border region is not run. Dengan keberadaan media massa dapat meningkatkan peradaban masyarakat di lokasi/ tempat tersebut. Penyebaran informasi adalah usaha komunitas melalui saluran komunikasi untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat luas. including the existence and role of the national media. Locations sampled in this study is a border region that became the working area of Research and Development Center for Communications and Information Technology Field. So that people would prefer the use of media (TV. From the findings revealed that the border region are still disadvantaged areas from various aspects. Radio) dari negara tetangga Malaysia tersebut. Key words: Role of media frontier society. identity. metode yang digunakan deskritif analisis. Dapat dipahami pengaruh informasi yang disampaikan melalui media sangat berperan dalam pembentukan opini masyarakat. Penelitian ini bersifat kualitatif yaitu mewawancarai terhadap informan dari berbagai kalangan yang dianggap relevan. The purpose of this study is to describe the role of media in shaping public opinion in the border region about the identity of the Indonesian nation.

Provinsi Kalimantan Barat adalah : Kabupaten Sanggau. Pendekatan tersebut menurut Gonzales (1978: dalam Jahi. Peran Media . dengan demikian dikhawatirkan akan mengalami kelunturan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Kabupaten Sambas. Chaffe (1980) dalam Rahmat (1985 : 215-217) mengemukakan tiga pendekatan untuk melihat efek media massa : Pertama Kedua Ketiga : Pendekatan yang berkaitan dengan media massa : Pendekatan dengan melihat jenis perubahan yang terjadi pada khalayak seperti penerima informasi. efeksi. Menurut beliau apabila seseorang berkomunikasi dia berusaha untuk mencari informasi yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan yang sedang dihadapinya supaya dia mempunyai satu gambaran yang lebih tepat tentang keadaan yang dihadapinya . meliputi media elektronik. Namun karena faktor keterbatasan dana. Provinsi Kepri adalah : Kabupaten Bintan dan Kabupaten Tanjung Balai Karimun. maka dibatasi yaitu hanya wilayah. 1988 :17) disebut tiga dimensi efek komunikasi massa itu : • Efek Kognitif yang meliputi peningkatan kesadaran belajar dan tambahan pengetahuan • Efek Afektif yang berhubungan dengan emosi. Kajian Teoritis 1. lebih mengenal negara tetangga. • Efek Konatif erat hubungannya denga niat dan kecenderungan dan berperilaku menurut cara tertentu Adanya asumsi bahwa masyarakat pada wilayah perbatasan menggunakan media luar negeri. Objek penelitian ini adalah Media yang beredar di wilayah perbatasan dalam cakupan kerja BBPPKI Medan. dan media cetak . dan Kabupaten Bengkayang. Provinsi Riau yaitu : Kabupaten Rokan Hilir. Provinsi Kalimantan Timur adalah : Kabupaten Malinao dan Kabupaten Nunukan.Carter (1973) menganggap komunikasi sebagai satu tingkah laku. perubahan perasaan atau sikap dan perubahan perilaku (perubahan kognisi. Permasalahan Berdasarkan Uraian diatas. Media Dalam Pembentukan Opini a. Pembatasan Masalah. maka masalah penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut : Bagaimana Peran Media dalam pembentukan opini masyarakat mengenai jati diri Bangsa Indonesia di wilayah perbatasan ? Tujuan Penelitian Untuk mengetahui peran media dalam pembentukan opini masyarakat mengenai jati diri Bangsa Indonesia di wilayah perbatasan. bihavioral) : Meninjau suatu observasi yang dikenal efek media massa. waktu dan tenaga. oleh karenanya dipandang perlu penelitian ini. Masyarakat yang menjadi objek penelitian ini adalah masyarakat yang berdomisili di wilayah perbatasan yang berada dalam cakupan wilayah kerja BBPPKI Medan. perasaan dan sikap. Provinsi Sumatera Utara yaitu : Kabupaten Batubara.

Opini berupa reaksi pertama dimana orang mempunyai rasa ragu ragu tentang sesuatu. Selanjutnya pengertian publik menurut Soekamto dalam Sunarjo (1984 :19) adalah kelompok yang tidak merupakan kesatuan. desas desus. maupun Suratkabar atau Majalah.Peran media massa dalam kehidupan sosial menurut beberapa literatur tidak diragukan lagi. hiburan dan kontrol sosial b. . Hal ini berarti opini harus dinyatakan. Kedua. Karena itu opini mempunyai ciri ciri : 1) Selalu diketahui dari pernyataan pernyataan. atau cara lain yang mengandung arti dan dapat dipahami maksudnya. 2) Merupakan sinthesa atau kesatuan dari banyak pendapat. Opini merupakan “ Expressed statement “ yang biasa diucapkan dengan kata kata. Melihat Media Massa sebagai Window On Events And Experience atau khalayak memandang apa yang terjadi di luar sana. Dari beberapa Pengkajian maupun tulisan dinyatakan bahwa hampir semua tempat. radio. pendidik. Pertama. yang lain dari kebiasan. mereka terlibat dalam suatu pertukaran pemikiran untuk mencari penyelesaian atau kepuasan atas persoalan itu ( Hartono dalam Rousydy.Quail dalam bukunya Mass Communication Theories (2000:66) menerangkan opini publik terhadap peran Media Massa. televisi dan sebagainya. Radio. ketidakcocokan. walaupun kerap dipandang secara berbeda-beda. Namun tidak ada yang menyangkal atas peran media massa yang signifikan dalam masyarakat moderen. media massa diharapkan ikut mengembangkan kepentingan nasional dan menunjang nilai nilai utama pola perilaku tertentu karena sesungguhnya media massa itu sendiri berfungsi sebagai pemberi informasi. Publik menaruh minat pada persoalan atau kepentingan yang sama. 1984 :31) Dengan demikian pengertian opini atau pendapat mempunyai dua unsur yaitu : 1) Adanya pernyataan 2) Mengenai masalah yang bertentangan. melalui media komunikasi massa misalnya surat kabar. Opini ini dikemukakan oleh berbagai kalangan dari berbagai kalangan. Interaksi terjadi secara tidak langsung melalui media komunikasi misalnya pembicaraan secara pribadi. MC. Dikatakan beliau media massa merupakan sumber ketahanan atau alat kontrol. Media Massa dianggap A miror Of event In Society And The Word Impleying A Faith Full Relection atau cermin dari berbagai peristiwa yang ada. 3) Mempunyai pendukung dalam jumlah besar. menagemen dan motivasi dalam masyarakat yang dapat didayagunakan sebagai pengganti kata atau sumber daya lainnya. dan adanya perubahan penilaian. Pengertian Opini dan Opini Publik William Albiq dalam bukunya “ Modern Public Opinion “ yang dikutip oleh Meinanda (1980 : 29 ) mengemukakan bahwa “Opini adalah suatu pernyataan mengenai sesuatu yang sifatnya bertentangan. Subyek dari suatu opini biasanya masalah masalah baru. Isyarat. Unsur unsur ini mendorong orang untuk saling mempertentangkannya ( Albiq dalam Sunarjo. Opini atau pendapat itu dapat dinyatakan melalui media massa seperti Televisi.

diperlukan pula adanya issu atau masalah agar sesuatu itu dapat dinilai sebagai opini publik. kemudian pihak pihak lain menitikberatkan pada cara pembentukan pendapat atau tentang kualitas dari pendapat pendapat yang dinyatakan. Suatu issu akan menjadi issu sosial apabila ia menyebabkan orang lain akan membentuk pendapatnya dan menyatakan ataupun memberikan tanggapannya atas persoalannya yang dibahas oleh pendapat semula (Irish dan Protho. 2) Terlihat dalam diskusi mengenai issu tersebut. Sedangkan Iris dan Protho (1965) dalam bukunya : The Politics Of Opini adalah “ The Ekspression Of Attitude On A Social Issue “. Sebab menurut mereka sesuatu yang belum dinyatakan belum bisa disebut opini karena belum mengalami proses komunikasi. Lebih lanjut Irish dan Protho dalam Susanto (1985 :90) menyatakan : suatu pendapat harus dinyatakan terlebih dahulu agar dapat dinilai sebagai pendapat atau opini publik.1985 :314 ). opini publik merupakan pendapat yang ditimbulkan oleh adanya unsur unsur sebagai berikut : . dikutip oleh Susanto. Dengan demikian opini publik terbentuk melalui suatu kegiatan yang berupa debat. Secara singkat Blumer dalam Sastropoetro (1990 : 108 ) mengemukakan ciri ciri publik sebagai berikut : 1) Dikonfrontasi / dihadapkan kepada sesuatu issu. atau pertukaran pikiran antara individu individu yang berada dalam suatu kelompok. pembicaraan. Para ahli mengemukakan berbagai rumusan atau definisi tentang opini publik. Artinya Opini publik adalah jumlah akumulasi pendapat individual tentang suatu issu dalam pembicaraan secara terbuka dan pengaruh terhadap sekelompok orang. Suatu pendapat akan menjadi issu apabila mengandung unsur kemungkinan pro dan kontra. masih merupakan sikap. Dari kata opini dan publik timbullah istilah yaitu opini publik. Peneliti mencoba mengutip beberapa teori yang dianggap relevan dengan penelitian ini. Namun kekuatannya yang meresap sangat mudah dirasakan. sulit untuk diukur dan tidak mungkin untuk dilihat. dari sejumlah teori yang ada. pengaruh pengaruhnya dan sebagainya (Sastroepoetro. 3) Memiliki perbedaan pendapat tentang cara mengatasi issu. 1990 :117 ) Cutlip dan Center dalam Sastroepoetro (1990 :117 ) bahwa istilah opini publik sangat licin. Cutlip dan Center (1961) dalam bukunya “ Effective Public Relations “ yang dikutip oleh Sastroepoetro (1990 : 71 ) menyatakan bahwa : “ Opini Is The Sum Of Accumulated Individual Opinion On And Issue In Public Debates And Effecting A Group Of People “. Meskipun demikian. 1985 : 92 ) Dengan demikian. melainkan masih merupakan suatu proses dalam diri manusia. Menurut Childs (1965 ) hal ini terjadi karena adanya perbedaan interest (titik perhatian) dalam mengkaji opini publik tersebut. 2) Adanya perhatian dan minat terhadap sesuatu hal yang umum sifatnya dan menyangkut kepentingan umum pula. Misalnya ilmuan politik membatasi untuk kajian politik. yang berbeda satu sama lain. sulit pula untuk didefinisikan. Disamping itu. Menurut Schramm dalam Sunarjo dan Sunarjo ( 1981 : 2) yang menyebabkan timbulnya publik adalah : 1) Sebagai respons terhadap suatu masalah. sukar untuk diwajibkan.

2. Pengembangan wilayah perbatasan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya alam lokal melalui pengembangan sektor sektor unggulan. Fasilitasi pemerintah daerah untuk mengembangkan wilayah perbatasan antara negara sehingga wilayah perbatasan menjadi beranda depan negara.667 pulau. Adanya masalah atau situasi yang bersifat kontroversial yang menimbulkan kontra. 11 0 Lintang Selatan dan diatas 95 0 Bujur Timur. Sementara itu. Indonesia adalah merupakan negara kepulauan yang terdiri dari 13. Pengamanan wilayah perbatasan dari kegiatan illegal dan fasilitas pergerakan barang dan orang secara sah dan mudah. 2. . Indonesia disamping memiliki potensi wilayah yang strategis bagi pertahanan dan keamanan negara. sosial dan budaya serta potensi lokasi perbatasan. Kegiatan pokok yang akan dilakukan adalah : 1. Wilayah Perbatasan Indonesia bila dilihat dari sisi geografis adalah merupakan negara besar di Asia Tenggara. Untuk wilayah perbatasan (khususnya perbatasan darat) disamping masih rendahnya dana pembangunan. pulau pulau kecil yang ada di Indonesia sulit berkembang terutama karena lokasinya sangat terisolir dan sulit dijangkau. Dan menjadikan wilayah perbatasan sebagai halaman depan negara sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara negara RI dengan negara tetangga dan antara masyarakat Indonesia dengan masyarakat negara tetangga.1. Puskesmas. Dalam Draft Rancangan Pembangunan Nasional Jangka Panjang (20042009) pada Bab 24 tentang pengurangan ketimpangan Pembangunan Daerah dijelaskan bahwa wilayah Perbatasan dan terpencil kondisinya masih terbelakang. namun di beberapa wilayah perbatasan terjadi kesenjangan pembangunan yang cukup besar dengan negara tetangga yang dikhawatirkan dalam jangka panjang akan menimbulkan kerawanan. dan 141 0 Bujur Barat. penyebab utama ketinggalan adalah akibat dari arah kebijakan pembangunan kewilayahan yang selama ini cenderung berorientasi in word looking sehingga seolah olah kawasan perbatasan hanya menjadi halaman belakang dari pembangunan kita. 4. meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat dengan menggali potensi ekonomi. Selanjutnya disebutkan program pengembangan wilayah perbatasan ditujukan untuk menjaga keutuhan wilayah NKRI melalui penetapan hak kedaulatan NKRI yang dijamin oleh hukum internasional. Sekolah. berada diantara Benua Asia-Australia dan diantara Samudra Hindia-Pasifik. Perhatian berbagai pihak terhadap pembangunan di kawasan perbatasan pada beberapa tahun terakhir ini semakin besar. Adanya publik yang terikat kepada masalah tersebut dan berusaha memberikan pendapatnya 2. baik kondisi fisik maupun kehidupan masyarakatnya tidak sangat jauh berbeda dengan yang ada di negara tetangga. Keberadaan Negara Indonesia terletak diantara 6 0 Linta Utara. Diantaranya banyak yang tidak berpenghuni atau sangat sedikit jumlah penduduknya. Deklarasi serta penetapan garis perbatasan antara negara dengan tanda tanda batas yang jelas 3. dan lain lain. serta belum tersentuh oleh pelayanan dasar dari pemerintah seperti.

atau kelompok tertentu. faktual. Humas Setda Kab/Kota/Kabid Informasi Dinas Perhubungan 2. dan Kabupaten Bengkayang. 2. metode yang hanya memaparkan situasi dan peristiwa apa adanya. Metodologi Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. Tokoh Organisasi Masyarakat 10. 6. Kabupaten Sambas. Organisasi KNPI Setempat/Tokoh Pemuda 9. tidak menguji hipotesa atau membuat prediksi ( Rakhmat. Informan Yang Diwawancarai 1. Lokasi Penelitian Dengan berbagai pertimbangan dan pengkajian secara intern BBPPKI Medan ditetapkan lokasi yang dijadikan sampel dalam penelitian ini yaitu :  Untuk Provinsi Sumatera Utara yaitu : Kabupaten Batubara. yaitu sebagai negara kepulauan yang dua pertiga wilayahnya terdiri dari lautan dan diantara pulau pulaunya ada yang memberikan cukup ruang dan kedalam bagi penyusunan perlawanan. lokasi tersebut dinilai dapat mewakili setiap provinsi  Sementara Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi NAD yang juga merupakan wilayah kerja BBPPKI Medan. tanpa mencari dan menjelaskan hubungan. DPRD Kab/Ko ( yang membidangi informasi) 3. 1997 : 34). Penegakan supermasi hukum serta aturan perundang undangan terhadap setiap pelanggaran yang terjadi di wilayah perbatasan. serta 8.5. Organisasi Radio 7. Tujuannya adalah untuk membuat deskripsi secara sistematis. Peningkatan wawasan kebangsaan masyarakat. Penelitian deskriptif hanya memberi gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu. 7. Tokoh Adat / Budayawan 5. Peningkatan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah dan masyarakat. menipisnya rasa kebangsaan dan hilangnya jati diri bangsa Indonesia. keadaan gejala. Organisasi Pers 6. dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu 1. Dinas Pendidikan / Tokoh Pendidikan 4. Tokoh Agama . Mengingat bentuk geografis Indonesia. Organisasi Televisi 8.  Untuk Provinsi Riau yaitu : Kabupaten Rokan Hilir  Untuk Provinsi Kepri adalah : Kabupaten Bintan dan Kabupaten Tanjung Balai Karimun  Untuk Provinsi Kalimantan Timur adalah : Kabupaten Malinao dan Kabupaten Nunukan  Untuk Provinsi Kalimantan Barat adalah : Kabupaten Sanggau. namun tidak diikutsertakan pada penelitian ini. Peningkatan kualitas sumber daya manusia khususnya dalam bidang kesehatan dan pendidikan. Tidak terkecuali melalui pemberitaan media massa (keberadaan media asing) dapat membuat kedangkalan rasa kecintaan terhadap tanah air Indonesia.

Pengumpulan data primer dilakukan dengan melalui wawancara mendalam (in-depth interview) sesuai pedoman wawancara yang disusun berdasarkan permasalahan dan tujuan yang akan dicari dalam penelitian. dkk:1998. Keberadaan negara Indonesia terletak diantara 6 0 Lintang Utara. Untuk lebih mendalami secara akurat dalam pengumpulan data ini juga dilakukan melalui teknik snowball (bola salju). 110 Lintang Selatan dan diatas 95 0 Bujur Timur. 141 0 Bujur Barat. Kristi Poerwandari:2001. dan selanjutnya diminta untuk menyebutkan nara sumber lainnya dengan spesifikasi/spesialisasi yang sama. Indonesia bila dilihat dari sisi geografis adalah merupakan negara besar di Asia Tenggara. yang biasanya saling mengenal karena mereka satu spesialisasi (Darmadi D. Prosedur dan mekanisme melalui penerapan dengan metoda atau teknik snowball ini dilakukan secara berantai. pengumpulan data kepada para key informan ini dicari yang relevan untuk di interview. 3.11. kepustakaan dan sebagainya dikumpulkan dan ditelaah serta dikaitkan dengan permasalahan dan tujuan penelitian • Data yang telah dirangkum berdasarkan permasalahan yang ingin diperoleh jawabannya. catatan lapangan. kemudian dipelajari dan dianalisis secara mendalam berdasarkan alur pemikiran dan sistematika penulisan. Pada tingkatan operasional. KPID Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap informan dan studi dokumen.667 pulau. Wawancara dianggap cukup dan bisa diakhiri ketika pemberi informan terkahir memberikan jawaban yang sama dan tidak menyimpang dari nara sumber informasi sebelumnya Teknik Analisis Data • Data primer dan skunder yang telah diperoleh melalui observasi. Pembahasan Hasil Penelitian 1. apabila dibandingkan dengan kesejahteraan masyarakat setempat antara yang tinggal di wilayah Indonesia dan Negara tetangga. wawancara mendalam. makin lama informan semakin besar seperti halnya bola salju. Pembangunan wilayah perbatasan antar Negara . Karena posisinya yang langsung berbatasan dan berhadapan dengan Negara tetangga yang saat ini lebih maju dan dengan tingkat laju pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Aspek Geografis.61) Pengumpulan data melalui metoda ini dilakukan dengan pertama. Dari pengalaman lepasnya Timor Timur dan Pulau Sipadan dan Ligitan. berada diantara benua Asia-Australia dan diantara Samudra Hindia-Pasifik. buku-buku pedoman dan peraturan. kemudian kedua meminta kepada nara sumber pertama itu untuk menyebutkan key informan yang berikut dan seterusnya sehingga data yang diperoleh semakin kaya untuk kepentingan analisisnya. 4. buku laporan. Wilayah perbatasan antar Negara mempunyai nilai strategis dalam mendukung keberhasilan pembangunan nasional. kliping media cetak. menentukan nara sumber yang pertama kali di wawancarai.34. maka sudah waktunya lebih memperhatikan kondisi wilayah perbatasan antara Negara untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Indonesia adalah merupakan negara kepulauan yang terdiri dari 13.

Dalam Negeri. Dep. pulau-pulau kecil yang ada di Indonesia sulit berkembang terutama karena lokasinya sangat terisolir dan sulit dijangkau. yang telah membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di sepanjang koridor perbatasannya melalui berbagai kegiatan ekonomi dan perdagangan yang telah memberikan keuntungan bagi masyarakatnya. dan lain-lain. Kata Drs. Untuk wilayah perbatasan (khususnya perbatasan darat) disamping masih rendahnya dana pembangunan. MPA. sehingga secara ekonomi. Dari aspek politik dan sosial budaya. perhatian berbagai pihak terhadap pembangunan dikawasan perbatasan pada beberapa tahun terakhir ini semakin besar. serta belum tersentuh oleh pelayanan dasar dari pemerintah sepertisekolah. Namun di beberapa wilayah perbatasan terjadi kesenjangan pembangunan yang cukup besar dengan negara tetangga yang dikhawatirkan dalam jangka panjang akan menimbulkan kerawanan. Meski perbatasan dengan . Wikaya Kusuma.merupakan bagian dari upaya perujudan ruang wilayah nusantara sebagai satu kesatuan ideologi. terutama wilayah perairan Indonesia dengan negara-negara perbatasan. puskesmas. menelan biaya ratusan milyar rupiah untuk menghindari pencaplokan wilayah kesatuan Indonesia sebagaimana Pulau Ligitan dan Sepadan yang kini milik Malysia dan Pulau Pasir masuk wilayah Australia. otonomi. masyarakat di wilayah inipun lebih cenderung berorientasi pada Negara tetangga karena rendahnya akses informasi dan komunikasi yang mereka peroleh sehari-hari. SH. Sedangkan pembangunan perbatasan sudah beres sebanyak 72 Pos Lintas Batas (PLB). Kartiko Purnomo. penyebab utama ketertinggalan adalah akibat dari arah kebijakan pembangunan kewilayahan yang selama ini cenderung berorientasi inward looking sehingga seolah-olah kawasan perbatasan hanya menjadi halaman belakang dari pembangunan kita. Ditjen Pemerintahan Umum. sebagaimana terjadi di Kalimantan Barat. Secara umum wilayah perbatasan dipandang dari aspek informasi dan komunikasi. MA. Dampak dari pendekatan seperti itulah yang mengakibatkan wilayah perbatasan ini menjadi daerah yang tidak tersentuh oleh dinamika pembangunan dan pusat pelayanan pemerintah lainnya yang menyebabkan masayarakatnya menjadi relative miskin dan tertinggal . Diantaranya banyak yang tidak berpenghuni atau sangat sedikit jumlah penduduknya. Disamping memiliki potensi wilayah yang strategis bagi pertahanan dan keamanan negara. peneliti senior di Univ. Direktur Wilayah Administrasi dan Perbatasan. mercusuar dan pilar-pilar dikepulauan terluar diperbatasan negara.Kominfo Edisi Desember 2006. sehingga dikhawatirkan akan melunturkan nilai-nilai jati diri kebangsaan sebagai warga NKRI Dalam draft Rancangan Pembangunan Nasional Jangka Panjang (20042009) pada Bab 24 tentang Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Daerah dijelaskan bahwa wilayah perbatasan dan terpencil kondisinya masih terbelakang. Secara umum wilayah perbatasan masih merupakan wilayah rertinggal dengan sarana dan prasaran sosial dan ekonomi yang masih sangat terbatas akibat dari kebijakan pendekatan pembangunan di wilayah tersebut selama ini lebih mengutamakan pada pendekatan keamanan (security approach) dari pada pendekatan kesejahteraan ( prosperty approach). sosial budaya dan hankam.Tanjungpura Pontianak (Asa di Tapal Batas) Tabloit Dep. masyarakat di wilayah ini lebih berorientasi kepada negara tetangga Malaysia. Selama ini lebih mengenai pemerintah dan kebijakan negeri tetangga. Sementara itu. mengatakan masih banyak batas wilayah negara yang belum beres. ekonomi.

yang turut campur tangan dalam penyelesaian perbatasan Indonesia – Papua Nugini. Dalam Negeri terus bekerja keras. Karena media komunikasi informasi dimaksud dapat menyentuh dan mempengaruhi pengetahuan dan cara pandang serta bertingkah laku. walaupun tidak seketika terhadap kehidupan masyarakat di daerah/wilayah dimaksud. namun masih dilakukan pemasangan mercusuar untuk diwilayah perbatasan perairan (laut) dan pembangunan PLB yang juga diharapkan dapat mendongkrak makro ekonomi masyarakat di wilayah perbatasan. Dep.Malaysia. Membujuk (To Persuade) 4. Filipina. Memberi tahu (To Inform) 2. . justru sebaliknya yang di khawatirkan kita tidak dapat mengelolanya.981 pulau telah dilaporkan ke Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 38 tahun 2002. Untuk Timor Leste kini masih terus dilakukan negosiasi dan diplomasi daerah Kupang yang masih tarik ulur. Aspek Media Sesuai dengan fungsi komunikasi secara umum dapat dikategorikan menjadi : 1. “ Begitu juga dengan pulau Pasir yang menjadi milik Australia. Kita tidak takut lagi kehilangan pulau. Tapi efektifision dan efektifprinsipil juga harus diperhatikan. Mencermati geografis Indonesia teridiri dari Kepulauan dan berhubungan dengan wilayah perbatasan yang banyak. Diminta terhadap masyarakat Indonesia agar mendukung dan tidak boleh lagi lemah apa yang telah dilakukan oleh Malayasi dengan mengambil kedua pulau Indonesia. Luar Negeri berupaya meningkatkan lobby-lobby untuk menyelamatkan wilayah Indonesia “. Timor Leste. dimana selalu terjadi tumpang tindih perbatasan wilayah meski telah disepakati bersama. Thailand. “ Disinilah Patriotisme Kebangsaan kita diuji. begitu juga Dep. sehingga tidak gampang negara mengklaim pulau itu miliknya. Dikaitkan dengan Wilayah Kerja Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BBPPKI) Medan mencakup 7 Provinsi juga memiliki wilayah perbatasan dituntut kesiapan dari berbagai aspek untuk dapat memiliki peta kewilayahan dan perbatasan 2. Singapura. Yang belum beres untuk wilayah perairan dengan Indonesia. Kalau kita lalai mengelolanya bisa terulang kembali kasus Ligitan dan Sipadan. ujar Kartiko menceritakan kegeramannya di berbagai forum dalam mengurus penyelesaian perbatasan negara yang dianggap remeh Malaysia dan Australia. Papua Nugini dan Australia titik-titik koordinat sudah selesai. “ Jangan khawatir akan kehilangan pulau-pulau terdepan dan terluar. kasari sajalah. Banyak batas wilayah titik koordinat diperairan dengan negara-negara tetangga ini perlu mendapat perhatian kita bersama. terhadap Malaysia. Vietnam. Menghibur (To Entertaint) Dampak dari keberadaan media komunikasi informasi ditengah-tengah masyarakat/lingkungan adalah dapat membawa kedinamisan dan kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan dan sektor lapangan kerja dari masyarakat lingkungan/daerah tersebut. Mencegah pencaplokan pulau-pulau terluar. karena 4. “ Katanya. tentang daftar koordinat geografis titik-titik dasar pangkal kepulauan Indonesia . bila perlu serang saja negara yang mencaplok wilayah kita. pemerintah telah memasang prasasti. Mendidik (To Educate) 3.

• Jati Diri Bangsa Indonesia Jati diri bangsa Indonesia dibentuk oleh 4 (empat) Konsepsus dasar yaitu : 1. Wawasan Kebangsaan Dan Jati Diri Bangsa.Tidaklah berlebihan atau yang diungkapkan oleh Takaji Miyoshi yang mensejajarkan informasi dengan energi dan pangan. Semakin maju suatu daerah/wilayah semakin berperan dan berfungsi media komunikasi informasi. terutama pada bagian pedalaman. memandang diri kita sendiri. malah pada lokasi pedalaman di wilayah perbatasan. Minimnya rasa nasionalisme terhadap bangsa. Namun disisi lain. UUD-1945 3. Terlepas dari berbagaai penyebab dan factor terjadinya kurangnya nasionalisme seperti karena krisis ekonomi dan politik. berbeda dengan media Indonesia yang harus menggunakan parabola/antenna. malah ada diantara mereka yang terpaksa berpindah-pindah guna mendapatkan lahan pertanian yang bakal digarap dijadikan lahan pertanian. Wawasan kebangsaan itu harus dinomorsatukan dari keutuhan Negara Indonesia. atau dengan kata lain maju dan terbelakangnya suatu daerah/wilayah dapat ditandai dengan keberadaan media komunikasi informasi di daerah/wilayah tersebut. Penduduk di pedalaman wilayah perbatasan dari sisi ekonomi sangat memprihatinkan. Sungguhpun pada prinsipnya bagi masyarakat bahwa siaran/tayangan dan bahasan yang digunakan oleh media luar negeri tersebut tidaklah lebih baik dan menarik dibandingkan dengan siaran/tayangan oleh media Indonesia. Temuan dari dampak media pada daerah lokasi penelitian ini membuktikan bahwa pada daerah yang dijadikan penelitian di wilayah perbatasan. Pancasila 2. dapat diketahui bahwa wawasan kebangsaan dan jati diri bangsa . Konsep dasar ini pulalah yang menyatukan kebhinekaan tunggal ika kita. bangsa Indonesia harus benar-benar kembali akan pentingnya wawasan kebangsaan. • Wawasan Kebangsaan Wawasasan kebangsaan sangat penting dihayati untuk keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ke depan. media luar negeri lebih unggul dalam hal daya jangkauannyalebih luas dan mudah diakses tanpa menggunakan parabola/antenapun dapat terlihat jelas. memandang bangsa lain. Suatu bangsa yang tidak mempedulikan akan arti pentingnya wawasan kebangsaan bisa hancur. NKRI 4. Dari jawaban hasil wawancara mendalam terhadap informan pada penelitian ini. bisa memecah kesatuan dan persatuan bangsa yang sudah puluhan tahun terikat. Kondisi ini tentu lebih tidak memungkinkan dapat menerima siaran/tayangan dari media Indonesia 3. masyarakat/penduduk Indonesia lebih dominant menggunakan media (TV/RADIO) siaran/tayangan luar negeri (Malaysia). belum optimal mendapat siaran/tayangan dari media Indonesia. Bhineka Tunggal Ika Empat sumber dasar inilah yang membentuk sikap kita dalam melihat. Hal ini dapat dicermati bahwa kebutuhan informasi disuatu daerah/wilayah menunjukkan tentang peran dan fungsi dari media tersebut membawa dampak terhadap kemajuan sesuatu daerah. juga tidak sejelas/terang dari media Malaysia.

kesehatan yang masih terbelakang. Berkaitan dengan peran media nasional belum berfungsi optimal. Wilayah perbatasan menjadi menjadi daerah yang belum tersentuh oleh dinamika pembangunan dan pusat-pusat pelayanan pemerintah lainnya yang menyebabkan masyarakat menjadi relatif miskin dan tertinggal. . terutama berupa wawancara mendalam (Depth Interview) terhadap informan yang dijadikan pada penelitian “ Peran Media Dalam Pembentukan Opini Masyarakat di Wilayah Perbatasan Mengenai Jati Diri Bangsa Indonesia “. yang paling mendasar bagi masyarakat pedalaman di wilayah perbatasan adalah persoalan ekonomi. ekonomi yang masih sangat terbatas. 2. Keterbelakangan SDM bagi masyarakat pedalaman di wilayah perbatasan membuat peranan media tidak banyak artinya karena media lebih difungsikan hanya bertujuan sebagai hiburan. namun tidaklah luntur atau mengingkari/menolak dari empat konsepsus dasar tersebut. lebih jelas dibandingkan dengan siaran/tayangan nasional. dengan demikian masyarakat tersebut menyerap tayangan/siaran dari negara tetangga (Malaysia) 3. Dari hasil penelitian. Kesemua sarana yang ketertinggalan tersebut bisa terpenuhi. tentu suatu kewajaran disebabkan minimnya mendapatkan penjelasan dan informasi nasional yang akhirnya mereka bisa jadi lebih mengenal struktur negara tetangga tersebut dari pada negaranya sendiri. Kesimpulan 1. sehingga secara ekonomi masyarakat di wilayah perbatasan ini lebih berorientasi kepada negara tetangga Malaysia yang terus membangun ousat-pusat pertumbuhan ekonomi disepanjang koridor perbatasannya melalui berbagai kegiatan ekonomi dan perdagangan yang lebih memberikan keuntungan bagi masyarakatnya. sehingga dikhawatirkan nilai-nilai kebangsaan sebagai NKRI. Di sisi lain adalah SDM. Hasil penelitian ini juga menemukan bahwa keberadaan media (terutama TV dan Radio) di wilayah perbatasan khususnya di Pulau Kalimantan didapatkan selain siaran dan tayangan nasional. terungkap bahwa wilayah perbatasan masih merupakan wilayah tertinggal dengan saran dan prasarana sosial. yang dapat diterima tanpa menggunakan antena parabola. Tentang jati diri bangsa Indonesia bagi masyarakat wilayah perbatasan. karena rendahnya akses informasi dan komunikasi yang mereka peroleh sehari-hari. hal ini terkait dengan faktor ekonomi masyarakat karena bagi masyarakat yang ekonomi lemah. tetapi wawasan mereka dapat dikatakan menurun. masyarakat di wilayah perbatasan lebih cenderung berorientasi pada negara tetangga. Dari aspek politk dan sosial budaya. juga peran dan keberadaan media TV dan Radio negara tetangga (Malaysia) lebih eksis. peningkatan pendidikan menjadi prioritas utama.Indonesia oelh masyarakat di wilayah perbatasan masih rendah. Karena jangkauan media nasional kalah bersaing dibanding dengan jangkauan oleh media Negara tetangga (Malaysia). tidaklah dapat membeli seperangkat alat yang digunakan agar bisa mendapatkan siaran nasional. sarana pendidikan. berdasarkan jawaban dari berbagai kalangan dari informan yang dijadikan dalam penelitian ini mengemukakan bahwa jati diri masyarakat di wilayah perbatasan tidaklah luntur. Sehingga dilokasi tertentu yaitu pada bagian pedalaman wilayah perbatasan peran dan keberadaan media luar negeri tersebut lebih dominan. jati diri bangsa Indonesia bagi masyarakat pedalaman di wilayah perbatasan tidaklah perlu diragukan. infrastruktur yang belum tertata. Bagi masyarakat pedalaman di wilayah perbatasan tidaklah menampilkan ke-empat konsepsus dasar jati diri tersebut. transportasi dan listrik sangat terbatas.

Asa Di Tapal Batas. 5. Jakarta. .  Diharapkan kesinergian Pemerintah Pusat. 2006. Sosiologi Komunikasi Massa. dan pemerintah setempat. Per. sehingga masyarakat wilayah perbatasan lebih menggunakan media nasional tersebut dan bila perlu pemerintah dapat memblok siaran luar negeri Saran Saran yang dapat disampaikan dari hasil penelitian “ Peran Media Dalam Pemberitaan Opini Masyarakat Di Wilayah Perbatasan Mengenai Jati Diri Bangsa Indonesia “. oleh karenanya media nasional harus lebih eksis. dalam penataan wilayah perbatasan. Desember. Badan Perencanaan pembangunan Nasional. 1986. Nasution. Provinsi dan Daerah guna penataan infrastruktur pembangunan di wilayah perbatasan. Jakarta. Lembaga Informasi Nasional. Jakarta. Keberadaan siaran/tayangan dari media nasional ditengah-tengah masyarakat pada wilayah perbatasan. Sabarti. Suwardi. pemda. Jakarta. 2006. 1986. Demikian juga dengan penataan media komunikasi informasi dibutuhkan kesinkronisasian dengan perangkat lainnya dan aparatur perangkat di lokasi. 2006. Teori Komunikasi Universitas Terbuka. oleh karenanya pemerintah harus memprioritaskan pembangunan ekonomi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat akan terbina peningkatan wawasan kebangsaan dan terpeliharanya jati diri bangsa Indonesia. Depkominfo. Daftar Pustaka Akhadiah. Metodologi Penelitian Komunikasi. Tabloid Komunika. 2004. dari persoalan ekonomi ini berdampak menurunnya wawasan kebangsaan. Lubis. Bandung. 1988. Syukur. Komunikasi Dan Informatika No. Membedah Potensi Negara Kepulauan. Medan.32 tahun 2002 Tentang Penyiaran. Karena keberadaan dan pengguna media informasi sangat tergantung terhadap maju dan tidaknya serta SDMnya dari suatu daerah/wilayah tersebut. Cita Pustaka Media. Zulkarnain. Rencana Pembangunan Jangka Menengah. Komunikasi Pembangunan. Bandung. Remaja Karya. Mei. Metodologi Penelitian Komunikasi.4. banyak mengangkat agar peran pemerintah lebih serius dan optimal memajukan wilayah perbatasan dan kesinergian pemerintah pusat. PT.Djuassa.Raja Grafindo Persada. S. Depkominfo.Kominfo/6/2008 tentang Organisasi Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Bidang Pengkajian Dan Pengembangan Komunikasi Dan Informatika Rakhmat. sangat diperlukan dalam hal pembentukan jati diri bangsa Indonesia. Men. Jalaluddin. disebabkan masyarakat dapat mengakses media nasional. 1994. 2003. Jakarta UU No. Sandjaja. Hasil wawancaradengan berbagai informan dalam penelitian ini. Tabloid Komunika. 1996. Demikian pula penataan dari media informasi tidak terlepas dan senantiasa mempunyai ketertarikan dari keberadaan dan kesiapan sarana dan prasarana lainnya.22/Per/M. Khollil. Pendidikan Kewiraan Universitas Terbuka. USU.  Persoalan yang paling mendesak bagi masyarakat Indonesia yang berdomisili di pedalaman wilayah perbatasan adalah masalah ekonomi.

PENGETAHUAN MASYARAKAT KOTA MAKASSAR TERHADAP INFORMASI KEBIJAKAN PEMERINTAH DI BIDANG EKONOMI MELALUI MEDIA MASSA Oleh : Rukman Pala .

Menggunakan media masa dengan organisasi (lembaga media) yang jelas. but most respondents agreed and disagreed with relatively few in number. Informasi Pemerintah Kebijakan Ekonomi. Ada pengaruh yang dikehendaki . was about the attitude of respondents to the 12 categories of such government policy is highly variable number of certain categories of the respondents agree and disagree. memproduksi pesan. The method used in this research is survey with quantitative approach. Setelah reformasi digulirkan petugas operasional penyebar informasi (jupen) hilang dengan sendirinya sehingga kemacetan informasi kebijakan pemerintah dirasakan oleh masyarakat. sedang mengenai sikap responden terhadap 12 kategori kebijakan pemerintah tersebut ini sangat bervariasi beberapa kategori tertentu responden setuju dan kurang setuju. Ciri-ciri komunikasi massa antara lain sebagai berikut: 1. Kata Kunci : Pengetahuan Masyarakat. Informasi tersebut dihadirkan secara serentak kepada khalayak luas yang beragam. Hal ini membuat media massa menjadi bagian dari salah satu institusi yang kuat dalam masyarakat. namun perkembangannya bahwa media massa menjadi tumpuan masyarakat untuk mendapatkan informasi kebijakan pemerintah. apakah keberadaan media massa mampu memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui. sebanyak 9 kategori yang diketahui oleh responden dengan presentase diatas 50%. termasuk mengetahui kebijakan pemerintah. Pesan searah dan umum. Adapun metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah survey dengan pendekatan kuantitatif.Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat pengetahuan masyarakat tentang informasi kebijakan pemerintah dibidang ekonomi melalui media massa. Media massa sebagai suatu lembaga menyebarluaskan pesan-pesan yang bertujuan untuk mempengaruhi dan mencerminkan kebudayaan suatu masyarakat. dan menyampaikannya pada khalayak. Dari 269 responden dengan 12 kategori kebijakan pemerintah dibidang ekonomi. Media Massa This study aimed to describe the level of public knowledge about government policies in the economic information through mass media. media masa merupakan lembaga yang memiliki otoritas untuk menyeleksi. Of the 269 respondents with 12 categories of government policy in the economic field. Kegiatan media masa teratur dan berkesinambungan 6. Keywords: Knowledge Society. including knowing the government's policy. as many as nine categories that are known by the respondents with percentages above 50%. tetapi responden yang sangat setuju dan tidak setuju relative sedikit jumlahnya. Media massa merupakan proses penyampaian pesan kepada khalayak banyak (publik). Komunikator memiliki keahlian tertentu 3. Khalayak yang dituju heterogen dan anonim 5. Dalam komunikasi masa. whether the existence of the mass media can fulfill people's right to know. 2. Economic Policy Government Information. serta melalui proses produksi dan terencana 4. Mass Media Latar Belakang Masalah Sebelum memasuki era reformasi informasi kebijakan pemerintah tidak menjadi suatu persoalan untuk disosialisasikan kepada masyarakat karena instansi penerangan sebagai petugas operasional penyebar informasi kebijakan pemerintah.

tetapi juga media baru (internet) telah banyak mewarnai perkembangannya. afektif dan konatif. khususnya dalam hal memenuhi hak dasar warga Negara untuk mengetahui (right to know) dan hak untuk berekspresi (right to expression). Media massa dalam hal pemenuhan hak dasar warga Negara. cenderung lebih banyak mengikuti siaran TV berita. televisi. Dalam konteks sosial terjadi saling mempengaruhi antara media dan kondisi masyarakat serta sebaliknya. seperti surat kabar. dan tambahan pengetahuan. dan film. tidak hanya mengunakan media konvensional yang umum dikenal. adat istiadat. Efek kognitif meliputi peningkatan kesadaran. baik dalam hal penggunaan media maupun dalam hal memperoleh/mengakses informasi yang diperlukannya (uses and gratifiction theory). persoalan penggunaan media oleh teori user and gratifications menekankan bahwa khalayak dalam hal penggunaan media bersifat selektif. Bahkan dewasa ini antara media konvensional dan media baru sudah menyatu menjadi media konvergensi (convergence media). 8. Demikian juga efek komunikasi masa dapat dibedakan menjadi tiga macam. Selanjutnya. Tidak hanya disebabkan karena banyak media massa. Dengan demikian masyarakat memperoleh banyak pilihan dan kesempatan. Lebih jauh dari itu. 10 11 http://kommabogor. maka kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah mendorong perkembangan komunikasi massa semakin cepat. radio. maka diharapkan eksistensi media massa tidak hanya berorientasi pada bisnis semata. agama. belajar. tetapi juga mengedepankan kepentingan public. dll). suku. maka media tersebut sudah pasti akan terpinggirkan karena ditinggalkan oleh audience. media yang tidak mampu mendekatkan atau menselaraskan content-nya (baik yang bersifat informative mapun yang bersifat hiburan) dengan karakteristik serta minat dan kepentingan audience. boleh jadi media massa yang cenderung berorientasi pada peningkatan dan pengembangan kapasitas informasi dan pengetahuan masyarakat akan tertinggal dibandingkan dengan media yang lebih condong pada hiburan (entertainment) semata. perasaan. persaingan antar media khususnya dalam hal merebut pasar iklan sebagai sumber utama pembiayaan serta target audience semakin ketat. Hubungan antara komunikator (biasanya media massa) dan komunikan (pemirsanya) tidak bersifat pribadi. yaitu efek kognitif. Oleh karena itu. Seiring dengan harapan terhadap keberadaan media massa sebagai saluran komunikasi massa. Sedangkan efek konatif berhubungan dengan perilaku dan niat untuk melakukan sesuatu menurut cara tertentu. dan attitude (sikap). Disinilah posisi media dapat berperan sebagai mitra pemerintah dan atau menjadi sebagai “watchdog” atas berbagai kebijakan dan perilaku menyimpang dari para aparat birokrasi. Akibatnya. Hal tersebut dapat terjadi apabila media massa dapat membangun hubungan baik secara fungsional dengan pemerintah dan juga lembaga non pemerintah (civil society). pembaca) yang semakin pintar dan kritis serta sangat heteregon dalam banyak hal (ras. Salah satu diantaranya media massa dapat menjadi saluran informative terkait dengan kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi. Fenomena di lapangan menunjukkan bahwa kecenderungan khalayak dalam memenuhi kebutuhan informasinya. tetapi juga karena khalayak (penonton. efek afektif berhubungan dengan emosi.11 Terkait dengan industri media massa di Indonesia.10 Dalam kaitan dengan efek yang dapat ditimbulkan oleh komunikasi massa.7. . Hal itu penting agar masyarakat dapat memperoleh pengetahuan yang memadai tentang kebijakan pemerintah tersebut untuk dimanfaatkan dalam peningkatan taraf hidupnya. wordpresscom/2007/12/31/efek-komunikasi-massa-kognitif-afektif-behavioral Teori ini menjelaskan bahwa seseorang menggunakan meda untuk memenuhi kepuasannya. diharapkan dapat mencerdaskan dan memotivasi masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam pembangunan.

serta fungsi kontrol social yaitu fungsi media sebagai wahana komunikasi sosial yang bertujuan untuk memberikan kritik terhadap perubahan dan pekembgangan social yang sedang berjalan. sebagai media advocacy bagi warga negara. • Keempat. Media massa yang berkembang ditengah-tengah masyarakat yang semakin kritis dan persaingan industri yang semakin ketat sudah pasti dituntut lebih berkualitas dan professional dalam menjalankan perannya dalam masyarakat.. London. yaitu fungsi media yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kepada audience tentang suatu peristiwa. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang. • Kedua. fungsi edukatif yaitu fungsi media yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan khalayak. diharapkan hasil penelitian ini dapat mendeskripsikan konsepkonsep yang terkait dengan terpaan media massa (mass media exposure) dalam masyarakat. Hal itu akan berimbas pada perolehan pasar iklan setiap tahunnya. 21-22. Routledge. maka konsekuensinya adalah persaingan dalam industri media massa pun semakin ketat dan pilihan-pilihan bagi masyarakat baik dalam hal media maupun informasi semakin bergam. Menurut McNair (2003) mengkategorikan lima fungsi media massa yang ideal yaitu: • Pertama. diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan bagi pemerintah dan lembaga terkait lainnya dalam rangka pemberdayaan peran media massa mendukung peningkatan pengetahuan masyarakat dalam pembangunan. . media massa diharapkan dapat memberikan pencerahan (peningkatan pengetahuan dan keterampilan) bagi masyarakat. dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut: Bagaimana pengetahuan masyarakat tentang informasi kebijakan pemerintah dibidang ekonomi melalui media massa? Tujuan dan Manfaat Penelitian Penelitian dilaksanakan dengan tujuan sebagai berikut: Untuk mendeskripsikan tingkat pengetahuan masyarakat tentang informasi kebijakan pemerintah dibidang ekonomi melalui media massa.dibandingkan dengan siaran TV non berita. B. sebagai media penyedia ruang (platform) untuk diskusi publik guna memudahkan terbentuknya pendapat umum. • Ketiga. Dalam hal ini media masa diharapkan dapat menyajikan pesan yang bersifat informative dan edukatif. sebagai media publikasi (publisitas) dalam rangka kontrol (watchdog) terhadap institusi-instiusi publik. 12 12 McNair. Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini yaitu: 1 Manfaat praktis. • Kelima. Lebih jauh dari kemajuan tersebut. Tinjauan Pustaka Konsep Media Massa Sehubungan dengan pesatnya kemajuan perkembangan media massa dewasa ini. Secara umum peran media massa meliputi fungsi informative. 2 Manfaat ilmiah. hal. sebagai media pendidikan (educate) menyangkut maksud dan hubungan suatu perstiwa. sebagai media informasi (inform) kepada setiap warganegara tentang apa yang terjadi disekelilingnya. 2003. An Introduction to Political Communication (Third Editions).

Dalam hal ini media direfresentasikan mampu memenuhi kepentingan dan kebutuhan individu dan masyarakat. dan Hak Asasi Manusia. mode. jelas bahwa media memiliki posisi penting dalam masyarakat. Hal itu penting guna mencerdasakan masyarakat untuk ikut berpartisiasi atau mengambil peran dalam berbagai kebijakan dan program pemerintah. dan inovasi dalam masyarakat yang dapat didayagunakan sebgai pengganti kekuatan atau sumber daya lainnya.2009 15 . serta menghidupkan industri lain yang terkait. tetapi juga penyajian berita yang akurat. mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat. dan 5) kebutuhan aktualisasi diri. Jakarta. b. media juga memiliki industri tersendiri yang memiliki peraturan dan norma-norma yang menghubungkan industri tersebut dengan masyarakat dengan institusi sosial lainnya. e.Terkait dengan peranan media massa sebagai media pers dalam mendukung peningkatan pengetahuan masyarakat. 1996. • Media massa merupakan sumber kekuatan –alat kontrol. d. McQuail. D. bahwa manusia memiliki lima jenis kebutuhan dari yang terendah hingga yang tertinggi yaitu: 1) kebutuhan fisiologis 2) kebutuhan akan rasa aman 3) kebutuhan sosial 4) kebutuhan status. Kebutuhan manusia yang begitu kompleks. institusi media diatur oleh masyarakat. barang. • Media seringkali berperan sebagai wahana pengembangan kebudayaan.wikipedia.15 13 14 Undang-Undang RI. manajemen. koreksi.” 13 Menurut McQuail (1996) ada lima dalil yang mendasari sehingga media massa diasumsikan memiliki fungsi penting dalam masyarakat yaitu: • Media merupakan industri yang berubah dan berkembang yang menciptakan lapangan kerja. No. dan jasa. dikunjungi: 23 Feb.14 Berdasarkan uraian di atas. program. memperjuangkan keadilan dan kebenaran. tetapi juga bagi masyarakat dan kelompok secara kolektif. Di lain pihak. media menyuguhkan nilai-nilai dan penilaian normatif yang dibaurkan dengan berita dan hiburan. dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum. bukan saja dalam pengertian pengembangan bentuk seni dan simbol. 1996. maka sudah seharusnya suguhan media massa tidak hanya mencakup keprihatinan masyarakat seperti kasus korupsi atau penyalahgunaan wewenang. untuk menampilkan peristiwa-peristiwa kehidupan masyarakat. • Media merupakan lokasi (atau forum) yang semakin berperan. serta menghormat kebhinekaan. dan pelayanan pemerintah. melakukan pengawasan. kritik. h. Erlangga. gaya hidup. dan norma-norma. McQuail. 40 tahun 1999 tentang Pers pasal 6 yaitu: a. mendorong terwujudnya supremasi hukum. baik yang bertaraf nasional maupun internasional. antara lain digambarkan oleh teori kebutuhan Abraham H. • Media telah menjadi sumber dominan bukan saja bagi individu untuk memperoleh gambaran dan citra realitas sosial. Maslow. 3 http://id. dan kritis tentang kebijakan. menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi.org/wiki/TEORI_MOTIVASI. akurat dan benar. tetapi juga dalam pengertian pengembangan tata cara. sehingga menjadi salah satu sumber referensi individu dan masyarakat dalam mengelola kehidupannya. Peran media massa semacam itu sesuai dengan peran pers yang tertuang dalam Undang-undang No. c. Pers nasional melaksanakan peranannya sebagai berikut : memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui. Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar (Edisi Kedua) Terjemahan: Agus Dharma dan Aminuddin Ram. 40 Tahun 1999 tentang Pers. independen.

3. Blumer dan Katz percaya bahwa tidak hanya ada satu jalan. 2. Penggunaan media tidak hanya dipengaruhi oleh faktor fsikologis sesorang. hal. Pengantar Komunikasi Massa. pengalaman menyenangkan atau estetis. baik lingkungan fisik (geografis) maupun lingkungan sosial (seperti: ciri-ciri demografis. stabilitas dan status. baik dari aspek pengetahuan dan sikap. Gurevitch. khususnya terhadap anak-anak dan remaja yang umumnya secara psikologis dalam tahap pencarian bentuk jati diri. yaitu “suatu pendekatan yang bertujuan mendeskripsikan atau menjelaskan suatu fenomena yang 16 Nurudin. hal. melainkan banyak alasan dan pertimbangan khalayak untuk menggunakan media. Kebutuhan pelepasan ketegangan . 356 Ibid. Kebutuhan afektif . khususnya di kalangan orang tua yang merasa khawatir dari pengaruh yang bisa ditimbulkan oleh media. yaitu: 1. 2007. dibandingkan dengan khalayak yang ingin memperoleh kepuasan dari rasa ketegangan. Salah satu teori yang mendasari selektivitas khalayak dalam hal penggunaan media adalah teori uses and gratification yang diperkenalkan pertama kali pada tahun 1974 oleh Herbert Blumer dan Elihu Katz.emosional.memperoleh informasi. hal. Pengantar Komunikasi Massa.pelarian dan pengalihan”. Kebutuhan integratif personal . 2005. RajaGrafindo Persada. Jakarta. dan sebagainya.Jr. dengan asumsi bahwa khalayak hanya menggunakan media dan mengkonsumsi pesan yang disampaikannya apabila relevan dengan kebutuhan dan kepentingannya. Severin. tetapi juga ditentukan oleh faktor lingkungan. karena banyak faktor lain yang menentukan pengaruh media terhadap audience.16 Asumsi dasar pendekatan Uses and Gratification. Oleh karena itu. walaupun dalam diri individu memiliki daya selektifitas yang tinggi (menurut teori Uses and Gratifications). hal. 5.W.memperkuat kredibilitas. Media bersaing dengan sumber-sumber pemenuhan kebutuhan yang lain. Jakarta. 357 Nurudin. Dalam proses Komunikasi Massa banyak inisiatif pengaitan diantara gratifikasi kebutuhan dan pilihan media yang terletak pada audien. Jakarta. afiliasi kelompok. 4. 192. Werner J. termasuk dalam hal penggunaan media. Audience dipandang bersifat aktif artinya peranan penting mamfaat media massa diorientasikan pada sasaran. 2007. Kebutuhan integratif sosial . rasa percaya diri. Teori Komunikasi. Kencana Prenada Media.17 Katz.memperkuat hubungan dengan keluarga. pengetahuan dan pemahaman. 3. 2. dan Haas menggolongkan fungsi-fungsi sosial dan psikologis media massa terhadap individu-individu ke dalam lima kategori yaitu : 1. dan sebagainya). Tidak sedikit masyarakat. Tankard. RajaGrafindo Persada. teman. namun tidak berarti pengaruh negatif media akan selalu terfilter. Bahkan sudah banyak bukti yang menunjukkan bahwa media dapat mempengaruhi khalayak. Teori ini memandang bahwa pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan media massa. & J. Kebutuhan kognitif . 17 18 19 .Hal lain yang harus dipertimbangkan terkait dengan penggunaan media adalah daya selekivitas individu dan masyarakat.19 Televisi berita seperti MetroTV atau TVOne akan lebih banyak dipilih dan digunakan oleh mereka yang ingin mencari kepuasan dalam perolehan berita (news).18 Teori used and gratification memandang individu sebagai mahluk suprarasional yang sangat selektif. 193. Metode Penelitian Pendekatan Dan Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan menggunakan pendekatan kuantitatif.

c. Riset Komunikasi. h. 2006. 2. Penetapan responden menggunakan metode stratified random sampling (sample acak sederhana berstrata) ditingkat PSU. Metode tersebut digunakan untuk . d. Menetapkan sampel ORW/ORK atau di daerah-daerah tertentu disebut lingkungan/dusun secara simple random sampling untuk masing-masing kelurahan/desa yang terpilih. Guna menghasilkan penarikan sample penelitian yang representative. Menetapkan RW/RK dan atau lingkungan di masing-maing kelurahan yang terpilih. ditujukan untuk mendeskripsikan secara sistematik masalah penelitian berdasarkan data yang dihimpun melalui questioner yang diajukan kepada responden dengan cara wawancara tatap muka. Populasi Dan Sampel Populasi penelitian ini adalah keseluruhan warga masyarakat yang berusia 17 tahun ke atas yang berdomisili tetap di lokasi penelitian yang telah ditetapkan. 20 21 N 1 +N e 2 Rachmat Kriyantono.160 . Penentuan sampel lokasi penelitian dengan cara multi stage sampling sebagai berikut : a. b. Penetapan sample lokasi penelitian menggunakan metode multi stage sampling. Menetapkan satu kelurahan (pusat kota) dan satu kelurahan (pinggiran) secara purposive sampling untuk masing-masing kecamatan yang terpilih. Penentuan besaran sampel penelitian ini menggunakan rumus Slovin21 yaitu: n= Dimana : n = ukuran sampel N = ukuran populasi e = tingkat kesalahan Berdasarkan rumus penentuan sampel dengan tingkat kesalahan sampel (sampling error) sebesar 3%. Jumlah sampel ORW/ORK disesuaikan dengan jumlah responden tingkat ORW/ORK. Selanjunya responden penelitian didistribusi ke seluruh lokasi penelitian dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1.Kencana. maka ditetapkan besaran sampel (responden) penelitian sebanyak 269 orang. Menetapkan kecamatan tepilih di kota Makassar b. Menetapkan Kelurahan di masing-maing kecamatan terpilih c.207. Menetapkan RT sebagai primary sampling unit (PSU) di masing-masing RW yang terpilih.hasilnya dapat digeneralisasikan”. Adapun data populasi (jumlah penduduk) Kota Makassar 1.592 dari 14 Kecamatan dan 143 Kelurahan.20 Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey. a. 2006. Jakarta Burhan Bungin. maka kerangka sampling penelitian ini disusun sebagai berikut: 1. Menetapkan dua kecamatan secara purposive sampling dengan ketentuan satu kecamatan pusat kota dan satu kecamatan pinggiran.

Menetapkan sampel ORT secara simple random sampling sebagai primary sampling unit (PSU) untuk masing-masing ORW/ORK yang terpilih sesuai dengan jumlah responden tingkat ORT. Penggunaan media (media uses) adalah pola penggunaan media dalam masyarakat. Hasil pengolahn data penelitian selanjutnya dianalisis dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. selanjutnya dicoding dengan menggunakan coding sheet program SPSS.d. maka definisi operasional dideskripsikan sebagai berikut: 1. pendekatan kuantitatif ditujukan untuk menggambarkan pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kebijakan pemerintah dibidang ekonomi. diantaranya menyangkut seberapa banyak media berhasil menjangkau public (media exposure). Metode Pengolahan Dan Analisis Data Data penelitian ini dengan menggunakan dekriktif analisis. juga mengumpulkan data sekunder melalui catatan atau data pendukung yang dihimpun peneliti. serta fakta-fakta tentang pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kebijakan pemerintah dibidang ekonomi. Data yang terkumpul melalui qusioner. isi (content) . Penelitian ini disamping mengumpulkan data primer. guna menggambarkan krasterstik . Defisinsi Operasional Berdasarkan teori dan konsep penelitian ini. Kerangka Sampling Lokasi Penelitian dan Jumlah Responden Multi Stage Sampel Kota Makassar (269 Responden) Kecamatan Rappocini (135 Responden) Kecamatan Biringkanaya (134 Respponden) Kelurahan Buakana (68 Responden) Kelurahan Banta – Bantaeng (67 Responden) Kelurahan Daya (67 Responden) Kelurahan Sudiang (67 Responden) RW 01 (34 Responden) RW 05 (34 Responden) RW 03 (34 Responden) RW 08 (33 Responden) RT A (17 Responden) RT D (17 Responden) RT B (17 Responden) RT C (16 Responden) Keterangan: Jumlah Responden Setiap RT yaitu sebanyak 17 Responden Metode Pengumpulan Data Data primer penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara tatap muka dengan menggunakan quesioner. seberapa intens penggunaan medianya.

Adapun responden yang cerai. pengeluaran rata-rata perbulan. dan Social Economical Standard responden. diantaranya mengenai kebijakan pemerintah tentang: a. Program swasembada beras e. Usia. Data tersebut dideskripsikan sebagai berikut: Tingkat Pendidikan Berdasarkan data penelitian yang dihimpun. karakteristik responden. jumlah anggota keluarga yang memiliki penghasilan tetap. suku bangsa. Program pembagunan keparawisataan “Visit Indonesian Year 2008” Hasil Penelitian Temuan Penelitian Data temuan penelitian yang diuraikan dalam bagian ini meliputi. Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) g. Pengetahuan masyarakat yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengetahuan sesorang tentang informasi kebijakan pemerintah di bidang eknomi. Program dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) i. Jenis Kelamin.4%. Program penyediaan pupuk bersubsidi bagi petani l. Program penyesuaian harga BBM c.3%). status perkawinan. Responden yang berusia antara 12-26 tahun dan antara 27-31 tahun ternyata jumlahnya sama yaitu masing-masing 12.7%. tergambar bahwa mayoritas (lebih dari 70 persen) responden berpendidikan menengah ke bawah (SMA ke bawah).3%. Program penanganan masalah pengangguran dan kesempatan kerja f. Program koversi Minyak Tanah ke Gas j.6% dan kelompok usia 32-36 tahun sebanyak 12.7%) perempuan dibandingkan dengan responden laki-laki (48.. terpaan media dan pengetahuan responden terhadap informasi kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi. Responden yang berusia antara 47-51 tahun sebanyak 8. Adapun responden yang usianya diatas 60 tahun hanya 1.9%.8%) yaitu responden yang berusia antara 42-46 tahun. Program penggunaan produksi dalam negeri k. berdasarkan klasifikasi usia. Karakteristik responden Data karakteristik responden yang dideskripsikan pada bagian ini meliputi. usia. Program pengendalian stabilitas harga bahan pokok b. Selanjutnya. serta sikap responden terhadap kebijakan ekonomi pemerintah. apa tujuannya mengunakan media. data yang dihimpun mencakup tingkat pendidikan. serta bagaimana karakteristik pengguna media.2%) responden yang berusia antara 17-21 tahun. Data hasil penelitian tentang status perkawinan dihimpun pada responden mayoritas sudah kawin. Program Jaminanan Kesehatan Daerah (Jamkesda) h. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri d. ternyata responden yang terjaring lebih banyak (51. hoby.media yang digunakan. serta kepemilikan media komunikasi dan informasi. Bahkan . Social Economical Standard (SES) Terkait dengan standar sosial ekonomi masyarakat. menyusul (13. responden penelitian ini yang paling banyak (19. jenis kelamin. 2. Dan Status Perkawinan Berdasarkan metode penelitian yang digunakan. Hanya lebih dari seperempat jumlah responden yang belum kawin. kepemilikan media. Uraian tersebut bersifat deskriptif guna menggambarkan secara sistematis variabel-variabel dalam penelitian. baik cerai mati maupun cerai hidup sebanyak 2.

Adapun responden yang rata-rata pengeluarannya perbulan antara 2-3 juta rupiah sebanyak 7. Pendapatan Dan Pengeluaran Rata-Rata Perbulan Pendapatan dan pengeluaran rata-rata perbulan juga dijadikan salah satu indikator SES responden. 22. maka penelitian ini juga menelusuri jumlah anggota keluarga responden yang memiliki penghasilan tetap. 31. mengenai pengelaran ratarata responden dalam satu bulan.9%). 23.ada 1. Kepemilikan Media Komunikasi Dan Informasi Data kepemilikan media juga diposisikan sebagai salah satu indikator standar ekonomi sosial/responden.1%.2%. dan siswa/mahasiswa 9. Data ini cenderung merefresentasikan gambaran tingkat pendidikan masyarakat Indonesia.8%) yaitu responden yang mengaku berpendapatan di atas 3 juta rupiah perbulan.6% responden yang memiliki pendapatan antara 1 juta – 2 juta rupiah perbulan. politisi. diperoleh data bahwa mayoritas (41. buruh/tukang.1% responden yang tidak ada anggota keluarganya berpenghasilan tetap. Berdasarkan data hasil penelitian. Jumlah tersebut membuktikan bahwa penetrasi HP dalam masyarakat mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Adapun responden yang di dalam keluarganya terdapat lebih dari 2 orang yang berpenghasilan tetap sebanyak 10. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas atau lebih dari setengah jumlah responden yang rata-rata pengeluarannya perbulan kurang dari 1 juta rupiah. Paling tidak menggambarkan bahwa mayoritas responden penelitian ini berpendidikan menengah ke bawah. Data hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas (62. Data hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam hal kepemilikian telepon rumah dan fax ternyata jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah responden yang memiliki telepon genggam (handphone). Selanjutnya. Mencermati data tersebut dapat disimpulkan bahwa responden penelitian cenderung berpendapatan menengah ke bawah.6% responden yang tidak pernah sekolah. Selebihnya (4. Pekerjaan Utama Pekerjaan utama responden penelitian justru yang terbanyak (18. dengan asumsi bahwa keluarga yang memiliki jumlah anggota keluarga yang berpenghasilan tetap. Terkait dengan jumlah pendapatan dan pengeluaran. sedang jumlah responden yang memiliki telepon mobile (handphone) mendekati angka 71 orang dalam 100 orang responden.1%) responden megaku memiliki pendapatan kurang dari 1 juta rupiah perbulan.3 telepon rumah per 100 orang responden. Selebihnya yaitu 3.9%) . Menyusul pegawai negeri sipil (17. Selanjutnya. Data kepemilikan telepon rumah berdasarkan hasil penelitian ini yaitu hanya 36.6% responden yang berpendapatan antara 2 juta – 3 juta rupiah perbulan. Selanjutnya. Data ini penting guna mengetahui produktivitas suatu keluarga. relative lebih tinggi tingkat pendapatan keluarganya dibandingkan dengan keluarga yang sedikit atau tidak ada anggota keluarganya yang berpenghasilan tetap. pegawai swasta 14. wiraswasta/pedagang 15. TNI/Polri. Selebihnya yaitu 7. masingmasing kurang dari 6%.8%.8% Selebihnya yaitu profesional. petani/nelayan 10%.9% responden yang mengaku dalam keluarganya ada 2 orang yang berpenghasilan tetap.6%. Kepemilikan HP berdasarkan hasil penelitian hampir menyamai jumlah (85. serta responden yang tidak bekerja.8%) responden yang mengaku hanya 1 orang dalam keluarganya yang memiliki penghasilan tetap. Selebihnya (kurang dari 30 persen) responden yang berpendidikan tinggi.4% responden yang mengaku tidak ada pengeluarannya perbulan.8%) adalah ibu rumah tangga.2% persen responden yang rata-rata pengeluarannya perbulan antara 1-2 juta rupiah.5% responden yang mengaku rata-rata pengeluarannya perbulan di atas 2 juta rupiah. Sebanyak 10. Sebanyak 31. Selanjutnya.

program penggunaan produksi dalam negeri.9 32. Sikap Responden Data hasil penelitian yang dideskripsikan pada bagian ini yaitu sikap responden tentang kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi yang meliputi kategori program . 8.1 49. jelas terlihat bahwa diseminasi informasi kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi hingga saat ini relatif belum merata.4 78.6 83.3 5.3 38.8 51. program BOS.responden yang memiliki pesawat televisi. program Jamkesmas.3 55.5 13.3 7.1 13. Adapun kategori informasi yang dinilai paling populer adalah program dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). 4. bahkan masih ada yang cenderung lambat dan relatif rendah.2% responden Pengetahuan Responden Data hasil penelitian yang dideskripsikan pada bagian ini yaitu pengetahun responden tentang informasi kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi yang meliputi kategori informasi program pengendalian stabilitas harga bahan pokok.4 Tidak tahu 29.6 9. 6. yang memiliki email 6.8 33. dan informasi program visit Indonesia year.4 32. 7.8 37.6 9. 5. bahkan sudah melebihi jumlah (55.2 10.9 9. radio dan surat kabar. 9.7 46. Kategori informasi kebijakan yang paling sedikit responden yang mengetahuinya yaitu informasi tentang program Visit Indonesian Year.0 47.7 44. 11. program konversi minyak tanah ke gas. program Jamkesda. program swasembada beras. Adapun jumlah responden yang memiliki komputer masih sangat sedikit yaitu hanya 16. Tabel Distribusi Persentase Responden Berdasarkan Pengetahuan Tentang Informasi Kebijakan Pemerintah Bidang Ekonomi Melalui Media Massa (N.4%. Adapun 4 kategori lainnya dinilai kurang dan tidak popular karena jumlah responden yang mengaku mengetahui hal tersebut kurang dari 50% responden.8 Jumlah 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 Sumber: Hasil Pengolahan Data Mencermati data hasil penelitian yang terangkum pada tabel .8 Pengetahuan Raguragu 12. program PNPM Mandiri. Berdasarkan angkaangka yang terinci pada tabel 1. program penurunan harga BBM. 12.1 10.1 12.6 57.1 54.2 67. yang bersumber dari media elektronik dan cetak yaitu televisi.4% responden.8 41.1 16. 2. terlihat jelas bahwa dari 12 kategori informasi kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi.6 5.8%) responden yang punya radio dan berlangganan suratkabar. memiliki web 1. penanganan masalah pengangguran dan kesempatan kerja.9 11. 3. program penyediaan pupuk bersubsidi. 269) No.5 25. 1.2 66.6 20. sebanyak 8 kategori yang dinilai cukup populer dikalangan responden. Kedelapan kategori tersebut dinilai populer karena jumlah responden yang mengaku mengetahui informasi tersebut lebih dari 50%. 10. Kategori Informasi Kebijakan Pemerintah dalam Bidang Ekonomi Pengendalian Stabilitas Harga Bahan Pokok Penurunan Harga BBM PNPM Mandiri Swasembada Beras Penanganan Masalah Pengangguran dan Kesempatan Kerja Program Jamkesmas Program Jamkesda Program BOS Program Konversi Minyak Tanah ke Gas Program Penggunaan Produksi dalam Negeri Program Penyediaan Pupuk Bersubsidi Program Visit Indonesia Year Tahun 58.

0 43.7 22. hanya satu 1 kategori yang dinilai mendapat respon (sikap) positif dikalangan responden. program Jamkesmas.2 37. 10.3 18.7 17. program Jamkesda.5 7.4 16.9 25.7 3 8.1 11. 3. Kategori Kebijakan Pemerintah dalam Bidang Ekonomi Pengendalian Stabilitas Harga Bahan Pokok Penurunan Harga BBM PNPM Mandiri Swasembada Beras Penanganan Masalah Pengangguran dan Kesempatan Kerja Program Jamkesmas Program Jamkesda Program BOS Program Konversi Minyak Tanah ke Gas Program Penggunaan Produksi dalam Negeri Program Penyediaan Pupuk Bersubsidi Program Visit Indonesia Year SS (+) 0. dan informasi program visit Indonesia year.3 26.9 7.4 24. Bahwa penggunaan media massa dalam masyarakat relatif cukup tinggi.6 21. program penyediaan pupuk bersubsidi.7 43.8 13 14.pengendalian stabilitas harga bahan pokok.8 6 16. dapat ditarik simpulan sebagai berikut: 1.0 24. Kesimpulan Berdasarkan temuan dan analisis hasi penelitian ini. 1 2. 6 3. yaitu Program Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). penanganan masalah pengangguran dan kesempatan kerja.9 33. 269) No . Selebihnya yaitu 11 kategori lainnya kurang dari 50% responden yang menyikapinya secara positif (sangat setuju dan setuju).0 17. 9 13. 9.9 20. Saran . 4.8 38. 5.6 14.5 28.8 6.2 26. 1. 2.9 TS (-) 24. Rendahnya jumlah responden yang bersikap setuju dan sangat setuju terhadap kebijakankebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi boleh jadi disebabkan oleh rendahnya diseminasi informasi kebijakan pemerintah tersebut.3 17. Bahwa pengetahuan masyarakat terhadap berbagai kebijakan pemerintah di bidang ekonomi terutama dari beberapa kategori cukup tinggi.5 9.7 18.7 11.6 5. 8.7 34 34. 2.6 58.7 25.9 11.3 33.5 Sumber: Hasil pengolahan data Mencermati data hasil penelitian yang terangkum pada tabel terlihat jelas bahwa dari 12 kategori informasi kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi.2 9 3. 12.8 45.7 TT (0) 15. program PNPM Mandiri.3 Sikap KS (-) 48. dengan jumlah responden yang bersikap setuju dan sangat setuju lebih dari 50%.1 44. program penggunaan produksi dalam negeri. terbukti bahwa pengetahuan masyarakat tentang kebijakan pemerintah dibidang ekonomi melalui media massa cukup tinggi walupun dari beberapa kategori kebijakn cenderung rendah pengetahuannya.3 1.9 32. 11.7 11. namun dari sikap masyarakat cenderung terjadi pro dan kontra. program konversi minyak tanah ke gas. program BOS. 6.3 2. Tabel Distribusi Persentase Sikap Responden Terhadap Kebijakan Pemerintah Bidang Ekonomi Melalui Media (N.3 13. Hal tersebut seiring dengan terpaaan dari berbagai jenis media massa kepada masyarakat.3 6.6 15.5 S (+) 11. program swasembada beras. 7.1 36. program penurunan harga BBM.

An Introduction To Political Communication (Third Editions). Advertising. Kencana Prenada Media Group.W. Komunikasi Organisasi. 2007. Komunikasi Pemasaran. Pengantar Komunikasi Massa. Kencana Prenada Media. McNair. 2003. J. Severen. Public Relations. dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Routledge. 2. tetapi juga penting menyampaikan kelebihan atau sisi positif dari kebijakan pemerintah. Tankard. Bugin.L. Hal itu hanya dapat terwujud jika media tidak hanya menyampaikan kelemahan dan kekurangan kebijakan pemerintah. McQuail. Daftar Pustaka Nurudin. RajaGrafindo Persada. 2005. Sosiologi Komonikasi: Teori. Jakarta..Disertai contoh Praktis Riset Media. Erlangga. Terjemahan:Haris Munandar dan Priatna. Agar peran media massa terhadap disemininasi kebijakan pemerintah dapat lebih ditingkatkan. Jakarta. Jakarta. Jakarta. Undang-Undang RI. Rivers. maka diajukan saran sebagai berikut: 1. B.Jr. Media Massa dan Masyarakat Moderen.40 Tahun 1999 tentang Pers STUDI: . 2006. Rahcmat. paradigma. Kencana Prenada Media. Jakarta. 2003.Berdasarkan simpulan penelitian ini. Kencana Prenada Media. Agar pengetahuan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah terus ditingkatkan sehingga citra pemerintah di mata masyarakat dapat lebih baik. Teknik Praktis Riset Komunikasi .Peterson. Jakarta. dan JW. Teori Komunikasi. Oleh karena itu pemerintah perlu terus meningkatkan sosialisasi kebijakannya termasuk dengan mengoptimalkan peran media massa. W. D. Edisi Kedua. S.WernerJ. Kriyantono. London. Teori komunikasi massa suatu pengantar (edisi kedua) terjemahan: Agus Dharman dan Aminuddin Ram. No. 1996. 2006.M.T dan Jensen. Burhan H.

television. Perubahan yang tengah dialami tersebut memberikan peluang bagi penataan berbagai segi kehidupan berbangsa dan bernegara. The purpose of this research is to get an idea of how the presence of radio. dan warung internet di Propinsi Sumatera Utara. Kata Kunci : Studi Pemetaan. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan dan pengisian daftar pertanyaan yang diajukan kepada pemilik serta pengelola dari media penyiaran radio dan televisi. Media Penyiaran radio dan televisi. many among the managers of radio and television broadcast media and internet cafes that still do not know the procedures and procedures for permits. sehingga masih dirasa perlu untuk mengadakan sosialisasi tentang prosedur dan tata cara pengurusan izin kepada para pengelola media radio dan televisi. as well as stalls Internet. Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia pada saat ini tengah mengalami kehidupan berbangsa dan bernegara secara fundamental menuju ke sistem pemerintahan yang demokratis transparan serta meletakkan dasar supremasi hukum. and Riau. Sumatera Barat. The results showed that many of the problems faced in the operation very difficult. SH Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang bagaimana keberadaan radio. Penelitian ini bersifat deskriptif dan menggunakan pendekatan survei dengan fenomenologi realistik. televisi. serta warung internet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak permasalahan yang dihadapi didalam pengoperasiannya terutama yang dirasakan sangat menyulitkan adalah masalah pengurusan perizinan dimana banyak yang mengatakan ketidakpuasan mereka terhadap pelayanan pengurusan izin karena sepertinya ada kesan ketidakadilan dan kelambanan dalam pengurusan izin tersebut. Didalamnya diungkapkan tentang masalah – masalah apa saja yang dihadapi serta bagaimana cara pemecahan masalahnya. Besides. warung internet. 22 Telah dipresentasikan pada acara seminar hasil penelitian tanggal 3 Desember 2009 di BBPPKI Medan . internet cafes. dan Riau. dimana kepentingan rakyat dapat kembali diletakkan pada posisi sentral. Keywords: Mapping Studies. especially the perceived problem and permits is where many say their dissatisfaction with the service permits because there seems to be the impression of injustice and inaction in these permits. serta warung internet.any problem encountered and how to solve it.PEMETAAN MEDIA PENYIARAN RADIO DAN TELEVISI SERTA WARUNG INTERNET DI PROPINSI SUMATERA UTARA – SUMATERA BARAT DAN RIAU22 Oleh : Burhanuddin Panjaitan. Therein expressed about the problem . West Sumatra. and internet cafes. Disamping itu masih banyak diantara para pengelola media penyiaran radio dan televisi serta warung internet yang masih belum mengetahui prosedur dan tata cara pengurusan izin. This study is descriptive and uses a survey approach with realistic phenomenology. Media Broadcasting radio and television. so it is still felt necessary to convene the socialization of the procedures and procedures for permits to the managers of radio and television media. and internet cafes in the province of North Sumatra. Data collected by observation and filling a list of questions submitted to the owners and managers of radio and television broadcast media.

khususnya dibidang perdagangan. dan pemetaannya agar dapat diketahui peta keberadaan dan permasalahannya serta bagaimana pemecahan masalahnya. Kenyataan telah menunjukkan bahwa penggunaan media elektronik merupakan faktor yang sangat penting dalam berbagai transaksi domestik maupun internasional. Kemajuan teknologi informasi yang demikian pesat serta potensi pemanfaatannya secara luas. serta membentuk jaringan sistem manajemen dan proses kerja yang memungkinkan instansi-instansi pemerintah bekerja secara terpadu untk menyederhanakan akses kesemua informasi dan layanan publik yang harus dilaksanakan oleh pemerintah. Pemerintah pusat maupun daerah seharusnyalah mendorong masyarakat luas. Untuk menjawab tantangan tersebut pemerintah pusat dan daerah harus mampu membentuk dimensi baru kedalam organisasi. Pengembangan e-government merupakan upaya untuk mengembangkan penyelenggaraan kepemerintahan yang berbasis (menggunakan) elektronik dalam rangka meningkatkan kualitas layanan publik secara efektif dan efisien. Sehubungan dengan hal tersebut Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Informasi wilayah – I Medan memandang perlu dilakukan pendataan penyiaran dan media elektronik Kabupaten Kota Sumatera Utara. Sumatera Barat dan Riau. Sumatera Barat dan Riau. Komunikasi Massa . Maksud dan Tujuan. informasi yang dilakukan oleh Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Informasi wilayah –I Medan di seluruh Kabupaten Kota Sumatera Utara. Perubahan yang sedang dijalani terjadi pada saat dunia sedang mengalami transformasi menuju era informasi. Sumatera Barat dan Riau merupakan awal yang sangat penting dalam menghasilkan suatu basis data media penyiaran dan media elektronik dan melihat sejauhmana keberadaan media penyiaran dan media elektronik dalam membuka akses yang seluas-luasnya terhadap penyebaran informasi publik. Hal ini dapat dijadikan informasi untuk perencanaan dan pembinaan serta pengembangan penguasaan teknologi informasi dan komunikasi bagi instansi terkait. Pengumpulan data.Untuk meletakkan kepentingan rakyat pada posisi sentral maka pemerintah harus mengupayakan kelancaran arus informasi dan komunikasi dengan lembaga-lembaga Negara. membuka peluang bagi pengaksesan pengelolaan. Disamping itu. televisi dan warung internet di Propinsi Sumatera Utara. sistem manajemen dan proses kerja yang tidak dilandaskan pada tatanan birokrasi yang kaku. pemerintah juga lebih terbuka terhadap derasnya aliran ekspresi aspirasi rakyat dan harus mampu menanggapinya secara cepat dan efektif. Maksud dan tujuan disusunnya laporan ini adalah untuk memberikan deskripsi keberadaan radio. Melalui proses transformasi (dilaksanakannya proses transformasi menuju E-Government) pemerintah dapat mengoptimalisasikan pemanfaatan kemajuan teknologi informasi untuk mengeliminasi sekat-sekat organisasi birokrasi. agar dapat memenuhi kebutuhannya akan informasi. Dengan pemetaan dan pendataan ini permasalahanpermasalahan yang muncul tentang penggunaan media penyiaran dan media elektronik (internet) di kabupaten kota dapat diketahui. dan pendayagunaan informasi dalam volume yang besar secara cepat dan akurat. Ketidakmampuan pemerintah menyesuaikan diri dengan kecenderungan global tersebut akan membawa bangsa Indonesia terisolasi dari perkembangan global karena tidak mampu memanfaatkan informasi. Untuk memuaskan kebutuhan masyarakat yang semakin beraneka ragam dimasa mendatang harus dikembangkan sistem manajemen modern dengan organisasi berjaringan sehingga dapat memperpendek lini pengambilan keputusan dan memperluas rentang kendali.

Selanjutnya menurut Rakhmadi (1993:189). 2000 : 189). majalah. Penyair mengeluh karena gadis-gadis desa tidak lagi mendendangkan lagu-lagu tradisional. 2000 :189). Psikologi telah lama menelaah efek komunikasi massa pada perilaku penerima pesannya (Rakhmat. efek komunikasi massa telah beralih dari ruang kuliah ke ruang pengadilan. Defenisi yang paling sederhana tentang komunikasi massa dirumuskan Bitner (Rakhmat. 2000 : 187). dari politisi. komunikasi massa dapat diartikan sebagai suatu jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang terbesar. Secara sederhana komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa. baik karena kerakusan atau ketakutan mencoba “melunakkan” pengaruh media massa atau mengendalikannya. Efek Komunikasi Massa . heterogen. artinya tidak ada interaksi peserta-peserta komunikan. artinya ditujukan pada publik yang tidak terbatas dan anonim. “Mass communication is the technologically based production and distribution of the most broadly shared continious flow of messages in industrial societies” (Komunikasi massa adalah Produksi dan partisipasi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontiniu serta paling luas dimiliki oleh orang dalam masyarakat industri). Tokoh agama mencemaskan hilangnya warisan rohaniah yang tinggi karena penetrasi media erotica. Tapi perlu. Petani telah menukarkan kerbaunya dengan radio transistor dan televisi.Di Negara-negara maju. penyair. Politisi. Kemudian Gebner (Rakhmat. Mempunyai publik yang secara geografis terbesar. Tan (Rakhmat. televisi. Pengertian Komunikasi Massa. 12. 9. Bersifat terbuka. 2000 : 188) :”Mass communication is messages communicated through a mass medium to a large number of people” (Komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang). dan anonim melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan dapat diterima secara serentak dan sesaat. Yang penting. heterogen. Perkataan “dapat” dalam defenisi ini menekankan pengertian bahwa jumlah sebenarnya penerima komunikasi massa pada saat tertentu tidaklah esensial. sedikit sekali orang menyadari gejala komunikasi massa. dijelaskan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan komunikasi massa. dan anonim melalui media cetak dan elektronik. 2. 11. serta pengaruh media massa pada sistem kognitif dan efektif khalayaknya. dan film. Walaupun setiap orang menyadari efek komunikasi massa. kita akan melihat bagaimana karakteristik individu mempengaruhi penggunaan media. Di negara berkembang efek komunikasi massa telah merebut perhatian berbagai kalangan. artinya harus melewati media teknis. yakni surat kabar. dari polemik ilmiah di antara para professor ke debat parlementer di antara anggota legislatif. sampai petani. Sesuai dengan kerangka faktor-faktor personal dan situasional yang mempengaruhi perilaku manusia. 1. Komunikasi massa diartikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah besar khalayak tersebar. tokoh agama. “The communicator is a social organization capable of reproducing the message and sending it simultaneously to large of people who are spatial separated”. Bersifat satu arah. sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat. 10. Bersifat tidak langsung. Komunikasi massa telah dipandang secara ambivalen. Bila sistem komunikasi massa diperbandingkan dengan komunikasi interpersonal. 2000 : 188) menulis. seperti dikatakan Alexis S. secara teknis kita dapat menunjukkan empat tanda pokok dari komunikasi massa menurut ElizabethNoelle Neuman (Rakhmat.

Sebuah pesan yang telah disiarkan maka ia akan bebas dari sumbernya dan apa yang terjadi pada pihak penerima diluar kekuasaan sumbernya untuk merubahnya. Dalam setiap proses komunikasi menghendaki adanya tiga unsur : sumber (source). Pesan ataau message dapat berwujud tinta diatas kertas. maka itu sudah merupakan proses komunikasi antara manusia. Jika sumber tidak mempunyai informasi yang setara dan terang. Sistem proses komunikasi itu dapat digambarkan sebagai berikut : Sumber (Source) Encoder Isyarat (Signal) Decoder Destination (sasaran) Anggaplah bahwa sumber dan encoder itu adalah seorang dan decoder dan sasaran adalah orang lain serta isyaratnya adalah bahasa. Berlo terdiri dari sumber. gambaran tadi di code dalam bentuk kata-kata lisan maka akan dapat dipindahkan dengan mudah dan efektif. 1985 : 28). yaitu ia mengambil informasi yang ia berikan lalu ia tuangkan dalam bentuk yang dapat dikirimkan. kecuali dibawa oleh gelombang radio. maupun kelompok-kelompok orang yang sedang mendengarkan ceramah. mengubah sikap. tetapi kepada apa yang dilakukan media kepada kita. saluran dan penerima sebagaimana terlihat dalam diagram di bawah ini: Diagram I . Proses komunikasi lewat radio siaran tidak ubahnya sebagai gambaran menyerupai “lingkaran”. Jika pesan tidak di code kedalam pola yang sesuai dengan akhirnya jika sasaran tidak dapat mengcode maka tidak akan dapat menimbulkan tanggapan sesuai yang diinginkan. yakni menggunakan media untuk pemuas kebutuhannya. teliti dan efektif kedalam isyarat yang dapat dioperkan. atau menggerakkan perilaku kita. (Effendi.. jika pesan tidak di code dengan sempurna. Umumnya kita lebih tertarik bukan kepada apa yang kita lakukan kepada media. gelombang radio di udara. akan tetapi ini tidak akan dapat terhantarkan jauh. Sumber dalam proses komunikasi dapat merupakan perorangan atau sebuah organisasi komunikasi (seperti surat kabar. tetapi bagaimana suratkabar dan televisi menambah pengetahuan. Pertama-tama sumber “meng-code” pesannya. kendati menghadapi interferensi dan kompetisi kepada sasaran yang dituju. lambaian tangan atau tanda-tanda lain dan apabila diinterpretasikan mempunyai arti tertentu. memperhatikan atau membaca. Inilah yang dimaksud dengan efek komunikasi massa. pesan. Satu hal perlu diketahui bahwa sistem seperti itu tidak akan lebih kuat daripada mata rantai yang terlemah. pesan (message). radio dan lain-lain). Kita ingin tahu bukan untuk apa kita membaca suratkabar atau menonton televisi. dan sasaran (destination). Gambaran dalam otak kita tak mungkin dapat dioperkan atau disiarkan kecuali sudah “di-code”. Sedangkan proses komunikasi menurut David K.Pendekatan uses and gratification mempersoalkan apa yang dilakukan orang pada media. menonton dan sebagainya. Sasaran dapat merupakan seseorang yang sedang mendengarkan. Dalam satu tahap akan “terdapat penyaringan” atau perubahan. jika pesan itu tidak dioperkan dengan cukup cepat dan teliti.

Dalam lingkup komunikasi sebagai proses penyampaian gagasan atau ide. Sebagian lagi bersifat tidak langsung. kesenian dan pranata-pranata. disiarkan. Ternyata komunikasi. diterima dan ditanggapi. Komunikasi massa di sini diartikan ialah komunikasi dengan menggunakan media massa modern. tradisi-tradisi dan pranata-pranata. pesan saluran dari penerima. termasuk organisasi-organisasi dalam lingkungan kesusastraan. tak teratur dan membangun pergaulan hidup yang lebih bersifat kemanusiaan. 1991 : 3). yakni melalui usaha meningkatkan inteligensi. Pentingnya komunikasi sangatlah dominan. Seorang komunikator yang menyampaikan pesan kepada ribuan pribadi . Mass education (pendidikan) g. adalah struktur di luar pikiran yang mengandung sebab dan akibat yang terdapat didalam pikiran atau keadaan hidup manusia. Mass entertainment (menghibur) Fungsi komunikasi tidak akan timbul dan tercapai apabila pesan yang dikomunikasikan tidak disampaikan kepada sasarannya. terproyeksikannya. Dalam perkembangan teknologi komunikasi khususnya teknologi komunikasi massa. Tanpa komunikasi pikiran tidak akan dapat mengembangkan sifat manusiawi yang sebenarnya. Apabila pesan sudah sampai kepada khalayak pendengar. f. mempunyai kedudukan yang istimewa dalam kehidupan masyarakat dalam upaya membentuk jaringan-jaringan baru dalam proses interaksi melalui komunikasi massa. Kesemuanya itu merupakan suatu pertumbuhan lambang-lambang. Mass information (informasi). mengurangi bentuk-bentuk organisasi yang bersifat mekanis.. Dengan hiburan musik sajapun seharusnya manusia dapat terhindar dan mengurangi jiwa berontaknya terhadap orang lain dan lingkungan. Pikiran yang sedemikian kacau ini dikarenakan tidak adanya informasi yang diterima untuk dijadikan pegangan pengetahuan untuk merubah keadaannya. Mass persuasion (mempengaruhi) h. melakukan keseimbangan menjalani perkembangan dan menetapkan pikiran-pikiran tertentu yang tidak dihadapi oleh pesan yang disalurkan. (Liliweri. Melakukan kegiatan komunikasi massa jauh lebih sukar daripada komunikasi antar personal. akan tetap berada dalam keadaan yang abnormal. yang meliputi surat kabar bersirkulasi luas. dipilih. hal-hal tersebut mengadakan reaksi dalam arti kata mengadakan pengontrolan. mereka akan mengadakan penyaringan informasi yang mereka perlukan. Lazimnya media massa modern menunjukkan seluruh sistem di mana pesan-pesan diproduksi. radio dan televisi yang siarannya ditujukan kepada umum dan film yang dipertunjukkan di gedung-gedung bioskop. dapat disimpulkan bahwa komunikasi itu memiliki fungsi antara lain : e.Proses komunikasi menurut formula Berlo Sumber Keterampilan sikap mental pengetahuan sistem sosial kebudayaan Pesan Saluran Melihat Mendenga r Mencium Meraba Mengecap Penerima Ketrampilan sikap mental pengetahuan sistem sosial kebudayaan Isi kode perlakuan Dari diagram di atas terlihat unsur-unsur yang dimiliki oleh sumber. Fungsi komunikasi dalam penyebarluasan sifat kemanusiaan sebagai bersifat langsung melalui kontak yang leluasa.

Jika ia tidak bersedia mengikuti kebijaksanaan.yang berbeda satu sama lain namun pada saat yang sama tidak akan bisa menyesuaikan harapannya untuk memperoleh tanggapan komunikasi secara pribadi. . Sedangkan radio hanya auditori. Suatu pendekatan yang bisa meyakinkan sebagian komunikan. Jadi tidak ditujukan kepada perorangan tertentu atau kelompok tertentu. sehingga berhasil melancarkan penetrasi ke dalam bentuk komunikan. Jadi dari sifat eksplisit diimplikasikan. peraturan. karena peristiwanya diceritakan oleh reporter. pendidikan. tetapi radiopun melebihi televisi dalam hal daya jangkauannya yang lebih jauh dan memudahkannya dalam penyampaian suatu pesan. maka ia pun akan diberhentikan sebagai komunikator. media tidak disebut. melainkan kepada seluruh masyarakat. kebudayaan. meski kata media tidak disebutkan. hobi. Media dalam komunikasi massa atau lebih tegasnya media massa menciptakan suatu situasi dimana khalayak secara serempak (simultan) dan serentak (instant) bersama-sama pada saat yang sama memperhatikan pesan yang dikomunikasikan kepadanya. Adapun yang menjadi ciri-ciri komunikasi massa antara lain : 1. pendengar atau penonton yang berbeda satu sama lainnya dalam jenis kelamin. Media menimbulkan keserempakan. reporter. Komunikator yang melancarkan komunikasi massa yakni komunikasi melalui media massa tidaklah bertindak atas nama pribadinya. Komunikasi massa (mass communication) sesungguhnya penyederhanaan komunikasi media massa. komentator dan lain-lain. mesti bersikap dan bertindak tidak sebagai individu yang bebas melainkan sebagai wakil lembaga . Meski televisi mempunyai kelebihan dari radio yakni televisi sifatnya audiovisual. usia. Komunikator dalam komunikasi massa. Sebagai konsekuensinya. Sehingga pendengar bisa lekas mengetahui peristiwa tersebut. yakni khalayak sasaran media massa bersifat heterogen yang berarti antar pembaca. bukan khusus mengenai kepentingan umum. Sebuah pesan yang isinya lemah yang disampaikan dengan lemah pula kepada jutaan orang. Dalam komunikasi massa ada dua tugas komunikator : mengetahui apa yang dikomunikasikan dan mengetahui bagaimana harus menyampaikannya. agama. kebebasannya terbatas. melainkan atas nama lembaga dimana ia bekerja. seperti wartawan. pengalaman. bisa menimbulkan pengaruh yang kurang efektif dibanding dengan pesan yang disampaikan dengan baik kepada komunikan yang jumlahnya sedikit. Komunikan pada komunikasi massa. maka selaku komunikator melembaga (institutional communicator) ia tidak melembaga. mungkin saja bisa merenggangkan kelompok lainnya. dan ketentuan lembaganya. Pesan yang dikomunikasikan komunikator kepada komunikan bersifat umum (public). ideologi. penyiar. pandangan hidup. Cukup komunikasi massa saja. cita-cita dan lain sebagainya. Heterogenitas komunikasi seperti inilah yang menyebabkan para komunikator media massa menetapkan acara tertentu secara khusus untuk berbagai kelompok di atas dengan tujuan supaya setiap individu terpuaskan. Media massa yang tinggi derajat keserempakannya setelah televisi adalah radio. pekerjaan. pengertiannya tetap komunikasi media massa. 2. karena ditujukan kepada khalayak umum. Komunikasi melembaga.

agama. juga mengandung resiko bahaya tertembaknya pesawat udara yang menyebarkannya. Kalau pun terjadi. tatkala Jerman. setelah pers dianggap sebagai “kekuasaan keempat” (the fourth estate) dan tiga lembaga lainnya – eksekutif. Para ahli komunikasi membandingkannya ketika dalam Perang Dunia II Sekutu menyebarkan pamflet ke negara-negara di Eropa yang diduduki Jerman. Amerika. dan sebagainya. yang pertama-tama diincar adalah stasiun radio siaran. Para ahli komunikasi memberi julukan kekuasaan kelima kepada radio karena dibuktikan oleh sejarah yakni ketika menjelang. Mengapa radio dijuluki kekuasaan kelima ? Ada tiga faktor yang mendukungnya: 1. jika radio bersifat auditif – hanya untuk didengarkan – televisi bersifat audiovisual – selain untuk didengarkan. brosur. dan Jepang di satu pihak. jika terjadi perebutan kekuasaan di sebuah Negara. Sebagai konsekuensi dari situasi komunikasi massa seperti itu. Sampai sekarang pun. Dan kelompok sasaran (target group) berdasarkan jenis-jenis yang beragam tadi. Sifat yang dimiliki radio siaran sepeti itu telah dimanfaatkan pula oleh Bung Tomo ketika pada zaman Revolusi dengan Radio Pemberontaknya dari Jawa Timur berhasil membakar semangat para pemuda di Jawa Barat untuk bertempur melawan Belanda. Secara inderawi (recerived) dan rohani (accepted) menyenangkan dan memuaskan. usia. bahwa suatu pesan yang akan disiarkan dapat dilakukan tanpa proses yang rumit. Itu semua adalah demi kepunyaan khalayak yang sungguh heterogen itu. 2. terlibat dalam perang radio dengan Inggris. legislatif. dan sesudah Perang Dunia II. Proses komunikasi massa berlangsung satu arah (one way traffic communication) secara linier. semasa. . dan negara-negara lainnya di lain pihak. Selain memerlukan waktu yang lama dalam pembuatannya. juga untuk dilihat. berlangsungnya secara tertunda (delayed feed back) itupun tanggapan seorang atau dua orang saja. diantara sekian banyak media massa. Ini berarti prosesnya tidak menimbulkan umpan balik (feed back). yakni khalayak keseluruhan tanpa melihat jenis kelamin. selain lama dalam memprosesnya. kedua dan ketiga. komunikator harus melakukan perencanaan dan persiapan sedemikian rupa sehingga pesan yang disebarkan diterima komunikan yang heterogen dalam jumlah yang relatif sangat banyak itu. Radio Siaran Sebagai Kekuasaan Kelima Radio siaran mendapat julukan “kekuasaan kelima” atau the fifth estate. yudikatif – masing-masing sebagai kekuasaan pertama. Dibandingkan dengan televisi siaran. atau media cetak lainnya yang. juga tidak mudah menyebarluaskannya.Dengan demikian maka isi atau pesan yang dikomunikasikan media massa diperuntukkan bagi khalayak sasaran (target audience). Italia. televisi sebenarnya lebih lengkap daripada radio sebab. Bandingkan dengan penyiaran pesan melalui surat kabar. Radio siaran bersifat langsung Makna langsung sebagai sifat radio siaran ialah. Meskipun demikian. Rusia. dan langsung pula dapat disampaikan melalui mikrofon. Radio siaran tidak mengaenal jarak dan rintangan Faktor lain yang menyebabkan radio dianggap memiliki kekuasaan ialah tidak dijumpainya jarak dan rintangan. Penyampaian pesan propaganda lebih efektif dan efisien melalui radio karena langsung tertuju ke rumah-rumah. sampai sekarang televisi belum pernah diberi julukan “kekuasaan keenam” (the sixth estate). pamflet.

dapat sampai seketika di tempat lain. Tidak demikian dengan media massa lainnya. pada waktu hanya terdapat dua jenis media massa. disebabkan oleh tiga unsur yang melekat padanya. Kata-kata lisan (spoken words). televisi bersifat audio-visual. sehingga ia bersama-sama para pemuda lainnya mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. c. bekerja. umpamanya tanda waktu pada saat akan memulai acara warta berita dalam bentuk bunyi telegrafi atau bunyi salah satu alat musik. mobil atau pesawat terbang. ataupun samudera tidak menjadi rintangan. selain audial seperti radio. radio siaran mempunyai ciri dan sifat yang berbeda dengan media massa lainnya. lembah. dan lain-lain. negara lain. yskni: a. Disebabkan faktor itulah pula dunia mengetahui diproklamasikannya Republik Indonesia yang disampaikan oleh penyiar Sakti Alamsyah melalui Bandung Hoso Kyoku. juga dengan film yang bersifat mekanik-optik. Karena faktor itulah. stasiun radio siaran yang kemudian diambil alih dan menggunakan station call “Radio Bandung”. bagaimanapun jauhnya sasaran yang dituju. transistor. sambil tidur-tiduran. suatu acara yang disajikan radio menjadi hidup. dan lain-lain. Suatu pesan yang disiarkan dari suatu tempat di suatu Negara. seperti pemancar sistem frequency modulation (FM). begitu suatu pesan diucapkan olehg seorang penyiar atau orator. hujan atau badai. Dengan dihiasi musik dan didukung efek suara. Musik (music). sambil bekerja bahkan sambil mengemudikan mobil. Keuntungan radio siaran bagi komunikan ialah sifatnya yang santai. Sebelum pesawat televisi muncul sebagai pelengkap rumah tangga sekitar tahun lima puluh. langsung. seperti suara binatang. atau sambil mengemudikan kendaraan. Bagi radio tiada oula jarak ruang. tidak mengenal jarak dan rintangan. juga visual. Efek suara (sound effect). 3. Dengan televisi. kalaupun ada persamaannya dengan sifatnya yang elektronik terdapat perbedaan yakni radio sifatnya audit. surat kabar. Itulah faktor-faktor yang menyebabkan dijulukinya radio sebagai the fifth estate. Orang bisa menikmati radio sambil makan. Radio siaran memiliki daya tarik Faktor ketiga yang menyebabkan radio dijuluki kekuasaan kelima ialah daya tarik yang dimilikinya. Gunung. padang pasir. Meskipun kemudian muncul di rumah-rumah pesawat televisi yang. atau majalah dan radio. radio dapat mencapainya. pada saat itu juga dapat diterima oleh khalayak. Keefektifan radio siaran semakin didukung pula oleh produksi teknologi mutakhir. pesawat radio tetap tidak tergeser sebab. khalayak tidak bias beranjak dari kursi di depan pesawat. Chaerul Saleh di zaman pendudukan Jepang melalui radio dapat mengetahui menyerahnya pemerintahan Jepang kepada pihak Sekutu. radio memiliki daya tarik. serta memiliki daya tarik. b. dan benua lain. sedangkan acara dari pesawat radio dapat dinikmati sambil mandi.Bagi radio tidak ada jarak waktu. Kalaupun ada lambang-lambang yang dipergunakan jumlahnya sangat minim. . Jelas berbeda dengan surat kabar yang merupakan media cetak. Radio Siaran Sebagai Media Massa Elektronik Sebagai unsur dari proses komunikasi dalam hal ini sebagai media massa. untuk menikmati suatu acara dari pesawat televisi. Penyampaian pesan melalui radio siaran dilakukan dengan menggunakan bahasa lisan.

Hal yang sama dikemukakan oleh Jacob Oetama yang mengemukakan “bahwa : televisi merekam kejadian dengan gambar dan suara serentak. Dengan demikian televisi yang dalam bahasa Inggrisnya “television” diartikan dengan melihat jauh. 1988 : 3489). (Wahyudi. Daya pikat untuk bisa melancarkan pesan ini penting artinya dalam proses komunikasi. Arus balik (feed back) tidak mungkin pada saat itu. Televisi Sebagai Media Komunikasi Massa Menurut Wahyudi televisi berasal dari dua kata yaitu : “Tele” (bahasa Yunani) yang berarti jauh dari “visi” (bahasa latin) yang berarti penglihatan. Radio siaran seperti halnya itu surat kabar. televisi dan film merupakan bagian dari sarana komunikasi. Sinyal yang diterima disalurkan kepada pemilih saluran yang melakukan pengubahan frekwensi. Diantara acara-acara musik yang memukau itulah pesan-pesan disampaikan kepada pendengar. Melihat jauh disini diartikan dengan gambar dan suara yang diproduksi disuatu tempat (studio televisi) dapat dilihat dari tempat lain melalui sebuah perangkat penerima/televiset. dan hidup. terutama melalui media massa. lebih nyata. mentah seperti apa adanya. oleh karenanya fungsi dari komunikasi merupakan fungsi dari radio pula. Kelemahan-kelemahan ini bagi radio di tambah lagi dengan sifatnya yang lain yakni “didengar sekilas”. sebab publik sifatnya selektif. sebagaimana radio merupakan bagian dari komponen dari suatu proses komunikasi. 1986 : 3). Pesan yang disampaikan kepada pendengar hanya sekilas saja. Dalam pesawat penerima televisi warna ada pemisahan dan penggarapan sinyal dan informasi warna dilakukan suatu alat khusus” (Ensikzslopedia. Setelah itu dipisah-pisahkan sinyal gambarnya dengan sinyal suara singkronisasi. Mungkin saja masih ada jarak waktu. Komunikator tidak mengetahui tanggapan komunikan. Untuk lebih memperjelas mengenai keberadaan radio siaran sebagai bagian dari komunikasi massa. disebabkan sifatnya yang satu arah (one way traffic communication). begitu didengar begitu hilang. Pesan-pesan melalui televisi disampaikan melalui gambar dan suara secara bersamaan (sinkron).Penyajian hal yang menarik dalam rangka penyampaian suatu pesan adalah penting. Begitu banyak pillihan diantara sedemikian banyak media komunikasi dan begitu banyak pula pilihan acara dari sekian banyak acara dari setiap media. Meskipun demikian keserentakan lebih terasa. misalnya jika tidak siaran langsung. Sebagai media massa televisi memang memiliki kelebihan dalam penyampaian melalui gambar dengan media massa lain. Pendengar yang tidak mengerti atau mungkin ingin memperoleh penjelasan lebih lanjut tak mungkin meminta kepada penyiar guna mengulangi lagi. Karena kelemahan-kelemahan itulah maka radio siaran banyak dipelajari dan diteliti guna mencari teknik-teknik yang bisa mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut sehingga komunikasi melalui radio siaran lebih efektif. . 1986 : 3). Setelah disaring (dengan filter) lalu dimodulasi. Komunikasi hanya dari komunikator kepada komunikan. lebih hidup dan mencekam” (Atmowiloto. Dalam hubungan ini musik memegang peranan yang sangat penting. harus diketahui apa yang menjadi fungsi dari radio itu sendiri. didefenisikan sebagai pesawat televisi yang berisi perlengkapan untuk mengubah sinyal televisi menjadi gambar dan suara. 1986 : xi). Televisi merekam atau memotret kejadian secara hidup dan langsung menyiarkannya kepada penonton. Lebih rinci Ensiklopedia Indonesia memberikan defenisi televisi yaitu : “Televisi sebagai pesawat penerima. sangat cepat (aktual) terlebih lagi dalam siaran langsung (live broadcast) dan dapat menjangkau ruang yang sangat luas (Wahyudi.

Hongkong. Televisi swasta yang pertama muncul adalah RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia). Sekarang sebagian besar jam siar televisi swasta tadi masih diisi oleh film-film dari luar negeri. pendidikan. Siaran televisi swasta bertambah lagi dengan hadirnya ANTEVE (Andalas Televisi). Bogor. Amerika Latin ( untuk telenovela). senang. Rata-rata stasiun televisi swasta tadi mengudara 18 Jam perhari. yang semuanya merupakan hal yang wajar karena sifat manusia yang berbeda-beda” Televisi siaran yang pertama kali di Indonesia adalah TVRI yaitu tahun 1962. marah. yang umumnya menyajikan produk-produk import (film-film dan acaranya). yang merupakan televisi siaran milik pemerintah. Tangerang. menimbulkan pro dan kontra dari masyarakat Stasiun televisi swasta mengalami perkembangan. orang tua. tidak puas. yang hadir pada pertengahan 1989 (Manan. pria yang berpendidikan atau tidak. paham golongan yang berbeda-beda. Televisi dapat membuat orang puas. dan Bekasi). kita lebih mudah dan lebih cepat belajar enggan melihat alat-alat sensori seperti gambar. MTV. belum dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. karena hanya dapat ditonton oleh mereka yang mempunyai decoder. Hal ini menyebabkan pesan televisi dapat merasuk ke seluruh lapisan masyarakat baik remaja. Baru tahun 1989. Tak tanggung-tanggung lima stasiun televisi swasta muncul. harganyapun murah.Alasannya selain kualitas dan teknik film-film itu cukup bagus. Jadi hanya dapat ditangkap didaerah Jabotabek (Jakarta. adalah INDOSIAR yang mempromosikan warna dan suara yang lebih bagus dengan sistem digitalnya Tapi dengan me-nasionalnya televisi swasta tadi masyarakat semakin dapat bebas memilih saluran televisi yang disenanginya. kalau stasiun-stasiun daerah yang sewaktu itu direncanakan jadi dibuka (Swa edisi November 1995 : 13). Kehadiran televisi swasta tadi ini. 1981 : 1). Kemudian pada tahun 1991 hadir stasiun swasta lain yang mengambil tema pendidikan yaitu TPI (Televisi Pendidikan Indonesia). bagan. Ada yang terhibur dan puas dan ada yang tidak. Televisi swasta berada di Jakarta dan baru diperuntukkan bagi pemirsa televisi disekitar kota Jakarta. khusus dibidang siaran televisi yang memberi ijin pendirian stasiun yang murni komersial dan dimiliki swasta. terutama dari Amerika Serikat. Hal ini sejalan dengan kebijaksanaan pemerintah. total jam siaran kelima stsiun televisi tadi 90 Jam perhari (Swa edisi Oktober 1995 :46) Perkembangan Televisi Swasta Nasional tersebut itu diikuti oleh televisi swasta lainnya seperti TPI. METRO TV dan malahan dibeberapa daerah provinsi seperti . Kemudian disusul oleh SCTV (Surya Citra Televisi Indonesia) pada tanggal 18 Agustus 1990 yang berada di kota Surabaya. Dan terakhir. 994 : 24). Sehingga wajar jika pesan yang disampaikan televisi diterima dan diartikan berbeda-beda pemirsanya tergantung kondisi dan situasinya. siaran RCTI dan SCTV akhirnya dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat tanpa memakai decoder. atau model (Suleiman. Dalam hal ini Indonesia adalah negara pertama yang memanfaatkan satelit yang bertujuan supaya siaran-siaran televisi swasta tadi dapat menjangkau seluruh Indonesia. Televisi ini mengudara secara nasional di Indonesia. gembira. India dan Jepang. Perkembangan didunia siaran televisi Indonesia terus berkembang. bahkan untuk masa yang akan datang malah akan lebih. Sampai tahun 1988 TVRI merupakan talevisi siaran satu-satunya yang ada di Indonesia. status sosial. sedih. Siaran-siaran yang dikelola kedua televisi swasta ini. mulai muncul televisi swasta secara bertubi-tubi (Swa edisi November 1995 : 12). Jam siarannya berlangsung dari pagi hingga siang hari. usia.Alat-alat audiovisual (televisi) juga membuat suatu pengertian atau informasi menjadi lebih berarti. kepercayaan. Seperti yang diungkapkan Wahyudi (1986 : 215) : “Televisi sebagai media massa tidak mungkin dapat memuaskan semua orang yang memiliki latar belakang. (alat Bantu untuk menangkap siaran). tidak senang. wanita.

Orang harus menggunakan jaringan telekomunikasi dan komputer sendiri (private lines. Penjabaran dari masalah-masalah tersebut adalah sebagai berikut : Masalah Yang Bersifat Umum dan Strategis. Masalah yang bersifat umum dan strategis. Namun dalam pandangan komunikasi perkembangan komunikasi massa perhatian masyarakat akan memanfaatkan media massa sebagai media informasi seperti televisi umpamanya tampaknya cukup tinggi. merupakan permasalahan yang muncul disetiap objek. Internet Sebagai Komunikasi Massa. sampai ke daerah. Radio. Masalah yang memerlukan perhatian dan penanganan serta tindak lanjut. Justru itulah wajar kiranya dari kajian teoritis komunikasi massa tersebut perlu disambut dan didukung atas kehadiran media massa ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Televisi dan Warung Internet adalah antara lain 1.) Ada sebuah hipotesa bahwa pemanfaatan Telematika dapat meningkatkan daya saing yang akhirnya dapat membuat rakyat sejahtera. Berbagai permasalahan yang ditemui dilapangan dalam penggunaan media penyiran dan media elektronik Radio. Penyedia Jasa Internet (PJI. akses terhadap informasi menjadi lebih mudah dan murah dengan adanya media Internet ini. value added network) yang harganya mahal. Namun masih belum jelas pemanfaatan dari Telematika di Indonesia. Ada pihak radio menyatakan ketidakpuasan terhadap pelayanan pengurusan ijin karena . Indonesia tidak berbeda dengan negara lain dimana Internet dan Teknologi Informasi mulai menjadi sesuatu hal yang penting. Berbagai inisiatif sudah dijalankan. 1.Provinsi Sumut Kotamadya Siantar mencoba membangun TV komunitas walaupun akhirnya gagal. Hipotesa ini masih harus dibuktikan. Apakah pemanfaatan Telematika dapat meningkatkan kemampuan dan daya saing Pemerintah Daerah? Adakah manfaat lain dari penerapan Telematika di Pemerintah Daerah? PETA PERMASALAHAN MEDIA PENYIARAN DAN MEDIA ELEKTRONIK DI PROPINSI SUMATERA UTARA. Sementara itu otonomi daerah merupakan sebuah fenomena yang muncul di Indonesia. Di Indonesia penggunaan teknologi informasi yang berbasis elektronik ini lebih dikenal dengan istilah “Telematika”. namun belum meningkatkan jumlah pengguna dalam angka yang berarti. Pengantar. Selain itu jaringan Internet juga sudah makin tersebar keberadaannya di Indonesia. Televisi dan Warung Internet Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. namun jumlah pengguna Internet di Indonesia diperkirakan masih belum mencapai dua (2) juta orang. Penggunaan Internet telah mengubah pengunaan teknologi informasi. Internet Service Provider / ISP) sudah mencapai lebih dari 100 buah. (Lihat “Bahan Bacaan”. Masih banyak radio yang belum mempunyai ijin dari KPI. Di berbagai tempat di dunia. Pada mulanya akses kepada informasi dalam bentuk elektronik (electronic information) sangat sukar dan mahal. 2. Ada dugaan hal ini berkaitan dengan masalah kultur Indonesia. a. Keberadaan Radio. Sumatera Barat dan Riau. SUMATERA BARAT DAN RIAU.

11. Warung Internet.. maka banyak pengusaha siaran radio yang melakukan kegiatan penyiaran meskipun belum memiliki ijin dengan alasan ijin sedang dalam pengurusan. 2. Listrik yang sering padam. 3. 7. Akses internet yang sering terputus-putus sehingga mengganggu dalam pemakaiannya. 5. ISP yang tersedia di daerah masih sangat terbatas yang menyebabkan para pemilik warnet hanya bisa menggunakan ISP yang ada saja. sedangkan radio yang baru berdiri bisa dengan mudah mendapatkan ijin FM. Faktor alam yaitu cuaca buruk yang sangat menggangu dan berbahaya dalam melakukan penyiaran radio.sepertinya ada kesan ketidak adilan dan kelambanan dalam pengurusan ijin. 2. 1. 3. 9. sehingga jaringan yang dimiliki ISP menjadi over load (kelebihan beban). Televisi. M. Pemecahan Masalah. P. . Analisis Masalah. sedangkan pengurusan sudah dilakukan jauh hari sebelumnya. Akses sering putus dan lama aksesnya. N. Radio. kalaupun ada harus diperoleh dengan harga yang tinggi (mahal). 6. Bahwa infrastruktur untuk kelancaran pelaksanaan internet belum memadai karena jaringan internet masih sering mengalami gangguan. O. Virus jaringan. Virus dalam penggunaan warnet sangat sulit untuk diatasi. 10. Harga ISP yang terlalu tingi. 6. disamping itu banyak radio yang tidak masuk dalam Master Plan daerah. Dana alokasi untuk perijinan dalam pendirian televisi sangat besar. Misalnya untuk mengurus pengalihan frekuensi AM ke FM. masih ada radio yang belum mengantongi ijin. 8. Radio. Karena kurangnya alokasi dana dan perijinan dalam mendirikan Televisi swasta lokal. yang sangat berbahaya terhadap perangkat penyiaran radio. 7. 1. L. Masalah yang harus diwaspadai dalam pengoperasian stasiun radio adalah cuaca yang buruk dan sangat rawan petir. Fasilitas listrik yang sering padam. Q. warnet sering mengalami gangguan jaringan yang tidak stabil dalam mengakses internet. Jaringan Speedy kurang lancar dan jaringan sering terjadi Disconnect. Sulit mendapatkan software resmi. sehingga masih banyak di tiap-tiap daerah yang belum ada. Karena kesulitannya mengurus perijinan. b. yang mengakibatkan kerugian bagi pemilik warnet. Televisi. sehinga sulit bagi pengusaha untuk mendirikan televisi swasta lokal. Warung Internet. Dimana dalam penggunaannya. K. Jaringan tidak stabil. Software resmi sangat sulit didapatkan.

Seharusnya jaringan lebih diperlancar dan diperbaiki agar tidak terjadi banyak gangguan atau disconnect. Dimana kita hendaknya dapat memanfaaatkan prakiraan cuaca dari BMG tentang prakiraan cuaca yang akan terjadi. 9. Pemerintah hendaknya menyediakan subsidi software resmi (legal) bagi pemilik dan pengguna internet. c. 2. 3. sehinga menyulitkan bagi para pengusaha yang berminat untuk mendirikan televisi swasta lokal. Supaya stabilitas koneksi akses diperbaiki dan lebih ditingkatkan lagi kualitas maintenance dan pelayanan dalam pengaksesan. Bahwa dana alokasi untuk pengurusan perijinan dalam pendirian televisi sangat besar. Faktor alam. mulai dari pihak KPI dalam urusan yang berhubungan dengan penyiaran. Warung Internet. yang mengakibatkan kerugian bagi pemilik warnet. sehingga jaringan yang . f. Akses juga sering terputus-putus sehingga mengganggu dalam pemakaiannya. Memberikan penambahan jumlah ISP dengan harga yang relatif lebih murah yang dapat terjangkau. Bahwa ada pihak radio menyatakan ketidakpuasan terhadap pelayanan pengurusan ijin karena sepertinya ada kesan ketidak adilan dan kelambanan dalam pengurusan ijin. dan pihak Balmon yang berhubungan dengan frekuensi sehinga radio bisa didirikan. d. Televisi. Bahwa infrastruktur untuk kelancaran pelaksanaan warung internet belum memadai karena jaringan internet masih sering mengalami ganguan. 10. Warung Internet. 8. 2. 3. Jika PLN berani memberi denda terhadap keterlambatan pembayaran tagihan. 7. 6. Kesimpulan. Radio. ISP yang tersedia di daerah masih sangat terbatas yang menyebabkan para pemilik warnet hanya bisa menggunakan ISP yang ada saja. Disamping itu. Dimana dalam penggunaannya warnet sering mengalami jaringan yang tidak stabil dalam menggunakan internet. 11. Fasilitas listrik yang sering padam. 5. e. sehinga para pengusaha mampu untuk mendirikan televisi swasta lokal di setiap daerah. Dimana kalau ada masalah jaringan yang tidak stabil sebaiknya Telkom cepat memberikan solusi dan segera mengatasinya. yaitu cuaca. karena radio adalah media yang sangat penting bagi masyarakat pedesaan/pedalaman yang sulit dijangkau oleh media komunikasi yang lain. masalah cuaca buruk dan sangat berbahaya yang sering mengganggu terhadap perangkat penyiaran radio. 1. Dalam pendirian televisi swasta lokal sebaiknya dana tidak terlalu besar atau tinggi. Televisi.b. Sebaiknya didalam pengurusan perijinan pendirian radio diberi kemudahan. Bila terjadi virus harus diformat atau diinstall kembali. maka PLN juga harus bersedia membayar biayar kompensasi atas kerugian pengusaha warnet karena seringnya terjadi pemadaman listrik dari pihak PLN. Para pengguna warnet juga harus menyediakan genset untuk mengantisipasi apabila terjadi pemadaman listrik dari PLN.

Metode Survey Untuk Komunikasi.dimiliki ISP menjadi over load (kelebihan beban). Jakarta. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Jakarta. Arikunto. E. (2006). New York. Telematika Indonesia. LP3ES. Agar kualitas jaringan dan maintenance lebih ditingkatkan lagi sehingga tidak terjadi banyak gangguan atau disconnect dan apabila ada masalah jaringan yang tidak stabil sebaiknya Telkom cepat memberikan solusi dan segera mengatasinya. Simbiosa Rekatama Media. 6. (2002). (1990). Metode Penelitian Komunikasi. Agar pemerintah menambah jumlah ISP dengan harga yang relatif lebih murah yang dapat terjangkau serta menyediakan subsidi software resmi (legal) bagi pemilik dan pengguna internet. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek. Singarimbun. Saran 1. Rogers. Bandung. (2006). sehingga pemadaman-pemadaman listrik yang sering terjadi dapat diminimalisir. (2000). Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Suharsimi. Metode Penelitian. Biro Pusat Statistik. Kencana Prenada Media Group. Sebaiknya dalam hal perijinan pendirian radio tidak perlu rumit dan dipersulit. (226). Rakhmat. Masri dan Sofyan Effendi. Televisi. Para pengguna warnet juga harus menyediakan genset untuk mengantisipasi apabila terjadi pemadaman listrik dari pihak PLN. agar setiap daerah memiliki siaran televisi swasta lokal. karena radio adalah salah satu media komunikasi yang siarannya sampai kedaerah pedalaman yang sulit dijangkau oleh media lainnya.M. Elvinaro dan Erdinaya. Agar dana dalam pengurusan perizinan pendirian televisi swasta tidak terlalu mahal atau tinggi. Software resmi sangat sulit didapatkan. Bandung. Santoso.UGM. 8. Agar kualitas pelayanan listrik dari PLN lebih ditingkatkan lagi. 7. PAU Studi Sosial. (2005). Kebijakan dan Perkembangan Tim Koordinasi Telematika Indonesia (TKPI). kalaupun ada harus diperoleh dengan harga yang tinggi (mahal). PT. Raja Grafindo. . Teknik Praktis Riset komunikasi. Jakarta. K. Free Press. Jakarta. Suryabrata. Rineka Cipta. Comminication of Innovation – A Cross Cultural Approach. Setiawa. Free Press. (2003). Rogers. E. DAFTAR PUSTAKA Ardianto. Sumadi. Beberapa Indikator Penting Sosial Ekonimi Indonesia. Prestasi Pustaka Publisher. Warung Internet. 3. Gempur. (1995). 5. Bambang. g. 2. Rakhmat. Jakarta. Shoemaker (1971). Yogyakarta. Agar pihak pemilik warnet memformat atau menginstall kembali program komputer apabila terjadi gangguan virus. dan F. Metode Penelitian Survey. (2004). Diffusion of Innovations. Radio. Jalaluddin. Jakarta. Virus dalam penggunaan warnet sangat sulit untuk diatasi. Kriyantono. Remaja Rosdakarya. Kementerian Komunikasi dan Informasi RI.M. Lukiati (2004). New York. Edisi Juli.

(2005). dan Terapan di Dalam Media Massa.Severin. Edisi Kelima. Tankard. Prenada Media.J. TINGKAT PEMAHAMAN MASYARAKAT TERHADAP APLIKASI KOMPUTER DAN INTERNET (Survey Terhadap Pengunjung Warung Internet di 14 Kota Wilayah Kerja BPPI Wilayah I Medan)23 Oleh : Abdul Rahman Harahap 23 Telah dipresentasikan pada acara seminar hasil penelitian tanggal 3 Desember 2009 di BBPPKI Medan . W. Jr. James w. Teori Komunikasi : Sejarah. Jakarta. Metode.

From the social and cultural perspective. komputer. Win ME and Win NT. dengan jumlah responden 280 orang pengunjung warung internet. mastery of computers and the Internet. Dari perspektif sosial dan kebudayaan. media dan informatika (Telematika) telah . penguasaan terhadap computer dan internet. yang terjadi sedemikian pesat sehingga data. Penelitian ini dilaksanakan di 14 kota wilayah kerja BPPI Medan. Kata Kunci : Pemahaman. Sejauh mana tingkat pemahaman masyarakat dalam mengaplikasikan komputer dan internet. e-commerce. Win XP. applications. win Xp. misalnya. The Internet also has encouraged the emergence of some new anxieties among the public. Latar Belakang Masalah Penguasaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada era informasi ini sudah merupakan suatu keharusan. communities. for example. with the number of visitors 280 respondents internet cafes. How far the level of public understanding in applying computers and internet. Sedangkan Linux masih belum familier dikalangan masyarakat pengunjung warung internet. internet. The low level of mastery of the Internet (Internet Literacy) and control information (information literacy) and the mindset of the people who menggangap Internet presence is still limited to the cause of the entertainment media. internet sebagai introduksi salah satu jenis teknologi telah mendorong berlangsungnya pelbagai perubahan di masyarakat. internet. Teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini tidak hanya merupakan faktor pendukung bagi pembangunan Indonesia dibidang politik. or cybersex. and what obstacles encountered in understanding and applying it is a problem of research. Dukungan keunggulan teknologi informasi dan komunikasi yang merupakan suatu konvergensi antara telekomunikasi. bila tidak ingin tertinggal dengan negara lain. hukum dan hankam akan tetapi sudah merupakan motor penggerak pembangunan. Internet juga telah mendorong munculnya beberapa kecemasan baru di kalangan masyarakat luas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebahagian besar responden memiliki pengenalan. While Linux still not familiar visitors among the community of internet cafes. However. social budaya. the digital gap (digital divide). Namun perangkat lunak sistem operasi (operating system) yang digunakan masih pada win 98. informasi dan pengetahuan dapat diciptakan dengan teramat sangat cepat dan dapat disebarkan ke seluruh lapisan masyarakat di berbagai belahan di dunia dalam hitungan detik. This research was conducted in 14 cities of Medan BPPI working area. operating system software (operating system) that is used is still on win 1998. ekonomi. was settled some examples of some radical changes in economic and social sphere of society. win ME dan Win NT.Abstrak Masih rendahnya tingkat penguasaan Internet (Internet Literacy) dan menguasai informasi (information literacy) serta Pola pikir masyarakat yang menggangap kehadiran Internet masih sebatas media hiburan penyebab terjadinya kesenjangan digital (digital devide). Hal ini dipicu (driver) dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. computers. atau cybersex. masyarakat. the introduction of the Internet as one type of technology has encouraged the various changes taking place in society. aplikasi. e-commerce. The results showed that the respondents have settled some recognition. Keywords: Comprehension. serta apa kendala yang dihadapi dalam memahami dan mengaplikasikannya merupakan permasalahan penelitian ini. adalah sebahagian contoh dari beberapa perubahan radikal dalam lingkup ekonomi dan sosial masyarakat.

Peranan informasi dan komunikasi dalam mengatasi berbagai permasalahan nyata dewasa ini ( isu kemiskinan. Tentang masyarakat informasi. (http://www. Dalam mengembangkan masyarakat Informasi di Indonesia. konflik vertikal dan horizontal dalam masyarakat. KKN.id ) Bagi Indonesia berarti bahwa pada tahun 2015 sebesar 50 Persen dari penduduk Indonesia sudah masuk ke masyarakat informasi global (Global information Society). pengetahuan dan keterampilan untuk mampu meningkatkan daya saing bangsa dalam menghadapi tantangan global. pemerintah tidak hanya sebagai regulator tetapi juga sebagai operator. pada awal abad ini UNESCO telah melaksanakan dua kali pertemuan internasional yaitu Word Summit On the Information Society (WSIS). Tumbuhnya masyarakat informasi tidak terlepas dari adanya revolusi digital yang muncul pertengahan abat 20.meningkatkan kualitas komunikasi dan informasi dalam menyediakan informasi yang mudah dan cepat bagi masyarakat secara merata. menggunakan. Revolusi ini telah memberikan pengaruh yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat baik dilihat dari aspek sosial. Dalam mengatasi kesenjangan digital. budaya . antisipasi bencana alam) dengan memperhatikan arah perkembangan peradaban pada masa yang akan datang.ekonomi dan politik.dari UNESCO. Pada umumnya mencakup dua hal. ekonomi dan kegiatan masyarakat secara luas. sehingga merupakan wahana dalam mentransfer pemikiran dan sudut pandang. gagasan. maka inflementasi dan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi sudah menjadi kebutuhan dan bahkan dalam aspek tertentu menjadi katalisator seperti penerapan e-Government dan eProcurement yang menjadi metode dalam upaya mengatasi sebagian isu KKN. Pada WSIS kedua di Tunisia tahun 2005 disepakati satu deklarasi yang cukup progresif yang merupakan Plan of Action. yaitu bahwa pada tahun 2015 sebanyak 50 Persen dari wilayah diberbagai negara sudah terjangkau jaringan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi. Kedua institusi ini sepakat bahwa pada masyarakat yang lebih maju adalah masyarakat yang lebih instens dalam pemanfaatan teknologi informasi sehingga memiliki akses yang lebih besar terhadap informasi. . seperti Komisi Eropa dan UNESCO. Artinya pengembangan teknologi informasi Mdan komunikasi menjadi prioritas untuk menyiapkan Indonesia menghadapi masa depan dan sekaligus menjadi bagian dari solusi untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut. di Jenewa pada tahun 2003 dan di Tunisia tahun 2005. Kita berkomitmen sepenuhnya untuk mengubah kesenjangan digital ini menjadi satu peluang digital untuk semua orang khususnya bagi mereka yang beresiko tertinggal dan semakin terpinggirkan”. Kesenjangan digital (digital devide) telah memisahkan banyak orang yang terhubung pada revolusi digital dalam ICT dengan orang-orang yang tidak memiliki akses pada teknologi baru ini.(Renstra Depkominfo 2004-2009) Pendapat tentang perlunya meningkatkan ekses informasi dan komunikasi bagi negara-negara berkembang muncul dari berbagai pihak termasuk institusi internasional. peran pemerintah masih tampak menonjol. Castels menyatakan: “ Masyarakat informasi adalah yang menciptakan. mengekploitasi informasi sebagai satu yang penting dalam kegiatan ekonomi. Secara spesifik teknologi informasi pada masyarakat berada pada posisi sentral dalam kegiatan produksi. separatisme. hukum dan HAM. yaitu mengakses teknologi secara fisik dan secara luas kemampuan dan ketersediaan sumber daya yang tersedia untuk digunakan”.postel.go. “ Terminologi dari digital devide merujuk kepada adanya jurang pemisah antara masyarakat yang mengakses teknologi informasi digital secara efektif dengan yang tidak mengakses sama sekali. Pada 2003 para pemimpin dunia yang hadir saat itu mendeklarasikan tekat bersama dalam mengurangi kesenjangan digital ini. politik dan budaya. antara lain berbunyi: “ Kita juga menyadari bahwa manfaat dari revolusi teknologi informasi pada saat ini telah terdistribusi tidak merata antara negara-negara maju dan negara-negara berkembang serta lingkungan masyarakat.

yang oleh berbagai pihak dinilai telah menciptakan ketidakadilan. Oleh sebab itu perlu diteliti “ Pemahaman Masyarakat Terhadap Aplikasi Komputer dan Internet “. Banyak hal yang diperkirakan menyebabkan lambatnya perkembangan TIK dimaksud. Dibanding dengan negara-negara ASEAN Indonesia berada jauh dibawah Singapura dan Malaysia. seperti rendahnya tingkat pendidikan. walaupun terjadi peningkatan dibanding tahun 2002 yang baru berjumlah 4.34. Indonesia sejajar dengan Gabon.5 juta orang Walaupun pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan dalam pengembangan TIK namun di Indonesia TIK belum berkembang secara signifikan. menguasai internet (Internet Literacy) dan menguasai informasi (information literacy). menunjukkan bahwa tingkat ICT-Literacy penduduk Indonesia saat ini berada pada urutan ke 51 pada kategori Medium Access. rendahnya akses informasi dan lemahnya tingkat ekonomi masyarakat serta rendahnya tingkat pemahaman masyarakat mengakses /menguasai komputer (computer literacy). Masih rendahnya tingkat mengakses /menguasai komputer (computer literacy) menguasai Internet (Internet Literacy) dan menguasai informasi (information literacy) dikalangan Masyarakat. misalnya tingkat perkembangan ekonomi yang belum mendukung. Data terakhir dari ITU. Sementara itu APJII mencatat bahwa sampai dengan tahun 2006 pengguna Internet di Indonesia baru mencapai 20 juta orang atau sekitar 8 persen dari jumlah penduduk. dan pada urutan 116 dari 178 negara yang di indeks oleh International Comunication Union ( ITU). Dengan indeks skor 0. . masih relative tingginya masyarakat yang tinggal di pedesaan dengan berbagai persoalan yang dihadapi. Sampai saat ini posisi Indonesia di kancah internasional dalam hal inflementasi Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) tergolong masih rendah. dalam rangka mencapai target 50 persen penduduk sudah terakses kedalam TIK pada tahun 2015. Oleh karena itu dibutuhkan kemampuan. Identifikasi Masalah Adapun permasalahan dalam penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai berikut: 1. keterampilan dan pemahaman mengaplikasikan teknologi informasi komunikasi yang demikian pesat perkembangannya agar dapat berinteraksi dengan masyarakat luar terutama agar dapat menerima informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat itu sendiri agar dapat meningkatkan Pengetahuan yang bermuara pada peningkatan tarap hidupnya. WSIS. Walaupun pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan dalam pengembangan TIK namun di Indonesia TIK belum berkembang secara signifikan 3. “ Ketidak seimbangan ini tentu saja akan menyebabkan pengkutuban antara segelintir negara dan kelompokkelompok yang memperoleh keuntungan. 2.Upaya pemerintah ini tidak terlepas dari proses globalisasi yang sedang berlangsung. kebijakan dan program kegiatan apa yang sangat dibutuhkan masyarakat untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan aplikasi internet serta hambatan dan permasalahan yang menjadi kendala bagi masyarakat dalam memahami dan mengaplikasikan internet. diatas Maroko dan dibawah Mongolia. Kesenjangan digital (digital devide) telah memisahkan banyak orang yang terhubung pada revolusi digital dalam TIK dengan orang-orang yang tidak memiliki akses terhadap aplikasi komputer dan internet. Pentingnya kajian dan pengembangan terhadap TIK di Indonesia terutama adalah untuk mengejar ketertinggalan bangsa Indonesia dalam penerapan TIK khususnya dalam percepatan inflementasi Plan of Action. dan negara-negara maupun yang kalah atau termarjinalisasikan. bahkan Vietnam yang semuanya juga masuk kedalam kategori Upper Access.

dan pengangguran. literasi memiliki arti yang sangat luas. Dapat menjadi salah satu referensi dalam membuat konsep kebijakan dan program kegiatan untuk peningkatan pemahaman dan keterampilan masyarakat dalam mengaplikasikan komputer dan internet. Mengetahui tingkat pemahaman masyarakat terhadap penggunaan komputer dan internet. 2. Wagner (2000) menegaskan bahwa tingkat literasi yang rendah berkaitan erat dengan tingginya tingkat drop-out sekolah. Ketiga kriteria tersebut adalah sebagian dari indikator rendahnya Indeks Pembangunan Manusia. berpikiran kritis. dan peka terhadap lingkungan sekitar. Kerangka Teori Secara umum untuk menggambarkan kondisi Sumber daya Manusia (SDM) di bidang telematika dapat diketahui dari tingkat kesadaran. diartikan sebagai “the ability to read and write” atau kemampuan untuk membaca dan menulis. Perumusan Masalah Adapun permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. pemahaman dan pendayagunaan ICT yang disebut e-literacy. 3. Sebagai bahan informasi dalam merumuskan kebijakan dan program kegiatan yang dibutuhkan masyarakat dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan penggunaan komputer dan internet. . Lebih jauh. Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian ini adalah : 1. Dalam bahasa Indonesia bisa disebut dengan kata ‘melek’. 2. Dalam konteks sekarang. Pola pikir masyarakat yang menggangap kehadiran Internet masih sebatas media hiburan. Dapat menjadi bahan masukan bagi instansi terkait mengenai hambatan dan permasalahan-permasalahan yang dihadapi masyarakat dalam upaya memahami dan mengaplikasikan internet 3. Dapat mengetahui bagaimana gambaran tentang tingkat pemahaman masyarakat pengunjung warung internet terhadap aplikasi Komputer dan internet 2. Hambatan-hambatan dan permasalahan apa yang menjadi kendala bagi masyarakat dalam memahami dan mengaplikasikan komputer dan Internet?. Literacy dalam kamus bahasa Inggris.4. Mengetahui faktor-faktor penghambat yang dihadapi masyarakat dalam memahami penggunaan komputer dan internet. Sejauhmana pemahaman masyarakat pengunjung warung internet terhadap aplikasi komputer dan internet di 28 Warung internet pada 14 kabupaten/Kota wilayah kerja BPPI Medan. kemiskinan. Secara sederhana literasi adalah kemampuan membaca dan menulis atau melek aksara. Kebijakan dan Program kegiatan apa yang dibutuhkan masyarakat untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan aplikasi internet ? Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk : 1. Kirsch dan Jungeblut dalam buku Literacy Profiles of America’s young adults mendefinisikan literasi kontemporer sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan informasi tertulis atau cetak untuk mengembangkan pengetahuan sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Literasi bisa berarti melek teknologi politik. 3. seorang baru bisa dikatakan literat jika ia sudah bisa memahami sesuatu karena membaca dan melakukan sesuatu berdasarkan pemahaman bacaannya.

3) Digital Literacy adalah kemampuan memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber ketika disajikan melalui alat – alat teknologi digital. berdasarkan konsep atau teori Personal-Capability Maturity Model (P-CMM). video. 4) Internet literacy adalah kemampuan menggunakan pengetahuan teoritis dan praktis mengenai internet sebagai suatu media komunikasi dan informasi bagi manusia yang memerlukannya. yaitu melek informasi. Kritis terhadap segala informasi yang diterima sehingga tidak bereaksi secara emosional dan peduli terhadap lingkungan sekitar. jika seorang individu telah memiliki standar penguasaan dan pemahaman terhadap informasi maupun teknologi yang Level 2 Level 3 . Eliteracy. Kerangka Berpikir Dalam bidang yang terkait dengan TIK / ICT. surat kabar. jika seorang individu telah berkali-kali menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu aktivitasnya seharihari dan telah memiliki pola keberulangan dalam penggunaannya. yaitu : 1)Information Literacy. Secara teoritis. Persamaan diantara berbagai konsep literasi adalah penciptaan masyarakat yang memiliki kebebasan akses informasi dan cerdas menggunakan informasi yang dimilikinya. 2)Computer Literacy. dan 4) Internet Literacy ( sumber : Ministry of Communication and Information Technology. Untuk menggambarkan kondisi Sumber daya Manusia (SDM) dalam bidang pengusaan teknologi informasi dan komunikasi dapat diketahui dari tingkat kesadaran.0 : Desember 2006). untuk sampai ke tingkat ICT. level e-literacy seseorang dapat digambarkan seperti berikut : Level 0 Level 1 seorang individu sama sekali tidak tahu dan tidak peduli akan pentingnya informasi dan teknologi untuk kehidupan sehari-hari. Penciptaan generasi yang literat. Secara jelas diuraikan bahwa : 1) Information literacy adalah kemampuan mengakses. 3) Digital Literacy. Menurut teori ini. serta keterampilan kontemporer yang harus dimiliki seseorang untuk belajar menggunakan teknologi informasi dan komunikasi secara efektif. Sebagai hulu dari semua ‘melek’ tersebut adalah melek informasi. literasi pengetahuan.Menciptakan generasi literat merupakan jembatan menuju masyarakat makmur yang kritis dan peduli. CD-Rom atau Web. Version 1. mengevaluasi dan menggunakan informasi dan berbagai bentuk. 2) Computer literacy adalah kemampuan menggunakan computer untuk memenuhi kebutuhan peribadi ataupun suatu instansi. pemahaman dan pendayagunaan ICT yang disebut e-literacy. Dengan demikian ICT – Literacy adalah suatu kombinasi dari kemampuan intelektual dan konsep fundamental. melek komputer.Literacy ada empat tahap yang harus dilalui. jika seorang individu pernah memiliki pengalaman satu dua kali dimana informasi merupakan sebuah komponen penting untuk pencapaian keinginan dan pemecahan masalah. melek teknologi. ada beberapa jenis literacy atau kadar melek seseorang. melek internet. dan telah melibatkan teknologi informasi maupun komunikasi untuk mencarinya. dapat dilihat dari gambaran kemampuan akses masyarakat terhadap informasi melalui internet yang didukung oleh keunggulan teknologi informasi dan komunikasi. literasi politik. seperti buku. Gambaran e-literacy secara konseptual dapat dikategorikan dalam enam kategori. saat ini mencakup berbagai bidang kehidupan diantaranya literasi membaca. literasi gender dan berbagai literasi lainnya.

Uses and Gratifications model memusatkan perhatian pada kegunaan isi media untuk memperoleh gratifikasi atau pemenuhan kebutuhan. Kemudian teori perbedaan individu yang diketengahkan oleh Melvin D. Tanggapan terhadap pesan yang diterima oleh individu. teori. individu ini berharap bahwa konsumsi atau pengunaan media massa tertentu akan memenuhi sebagian kebetuhannya. individu konsisten dengan sikapsikapnya. tetapi dapat pula menimbulkan ketergantungan dan perubahan kebiasaan dan ini merupakan efek dari penggunaan internet pada individu itu. Selanjutnya pemilihan Warung Internet (secara Purposive) dipilih 1 warung internet yang berlokasi di inti kota dan 1 warung internet (warnet) yang . persepsi. individu akan menaruh perhatian pada pesan-pesan yang diterimanya terutama jika berkaitan dengan kepentingannya. dalam Karlinah. Dari pengalamannya. diubah oleh tatanan psikologisnya. dan secara konsisten mempergunakan standar tersebut sebagai acuan penyelenggaraan aktivitasnya sehari-hari. norma. melainkan beragam disebabkan secara individual berbeda satu sama lain dalam struktur kejiwaannya. seperti halnya sebagian besar manusia mempunyai kebutuhan dasar untuk mengadakan interaksi sosial. membuka situs-situs yang berhubungan dengan kebutuhannya. membaca content website dan sebagainya. Selanjutnya model yang dapat juga dijadikan acuan adalah adalah Model Uses and gratification. Ke-14 kota ini dipilih karena menurut hemat penulis bahwa daerah ini adalah daerah tergolong maju terhadap perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (internet) dibandingkan dengan daerah lainnya pada wilayah kerja BPPI wilayah I Medan. Model ini meneliti asal muka kebutuhan manusia secara psikologis dan sosial. Dalam beberapa kasus. dan secara langsung maupun tidak langsung telah mewarnai perilaku dan budaya hidupnya (bagian dari information society atau manusia berbudaya informasi). Dimana variasi dimulai dari perbedaan Keperibadian. jika seorang individu telah sanggup meningkatkan secara signifikan (dapat dinyatakan secara kuantitatif) kinerja aktivitas kehidupannya sehari-hari melalui pemanfaatan informasi dan teknologi. kegiatan ini menghasilkan gratifikasi kebutuhan.Level 4 Level 5 diperlukannya. Menurut teori ini khalayak amat bervariasi dalam organisasi psikologisnya secara pribadi. 1999) Model Uses and Gratifications memakai pendekatan penggunaan dan grafikasi adalah : individu tertentu. apakah berinteraksi dengan dunia luar dengan penggunaan e mail atau pun Chatting. nilai. jika seorang individu telah menganggap informasi dan teknologi sebagai bagian tidak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari. Oleh karena terdapat perbedaan individual pada setiap pribadi maka secara alamiah dapat diduga akan muncul efek yang bervariasi sesuai dengan perbedaan individu itu. interaksi dan struktur jiwa. yang menimbulkan harapan tertentu dari media massa atau sumber-sumber lain (atau keterlibatan pada kegiatan lain) dan menimbulkan pemenuhan kebutuhan. sesuai dengan kepercayaannya yang didukung oleh nilai-nilainya. McQuail (pada Betty-Soemirat. Teori ini menjelaskan bahwa efek media massa pada khalayak tidak seragam. Fleur bahwa individu-individu sebagai anggota khalayak merupakan sasaran media massa secara selektif. Metode Penelitian 1. sikap. Hal ini menuntun pada kegiatan penggunaan internet. persepektif. dkk. peranan. Lokasi dan Waktu Pelaksanaan Penelitian Lokasi penelitian ini adalah 14 kota pada wilayah kerja balai pengkajian dan pengembangan Informasi Medan yang terpilih secara purposive.

3.800 3. 2. peneliti menggunakan penarikan secara non probability sampling.000 3.020 905 3. 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Jambu Net Speed ++ Net.645 orang.100 .325 2.200 1.715 1.250 1. penelitian deskriptif hanya memberi gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu. metode deskriptif adalah metode yang hanya memaparkan situasi dan peristiwa apa adanya. Menurut Rakhmat (2000: 24).200 2.500 2. tidak menguji hipotesa atau membuat pradiksi.250 3. Populasi Populasi penelitian ini adalah masyarakat pengunjung warnet selama bulan Oktober 2007 pada 28 warnet yang dipilih dari 14 kota di wilayah kerja BPPI Wilayah I Medan sebanyak 68. Adapun ke-empat belas kota tersebut masing-masing bersama 2 warung internet yang dipilih adalah sebagai berikut TABEL 1 NAMA KOTA DAN WARNET SERTA JUMLAH PENGUNJUNG PADA BULAN OKTOBER 2007 NO NAMA KOTA BANDA ACEH MEDAN LUBUK PAKAM KABANJAHE PEMATANG SIANTAR KISARAN RANTAU PRAPAT PADANG SIDEMPUAN PADANG BUKIT TINGGI BATAM PEKAN BARU NAMA WARNET JLH PENGUNJUNG OKTOBER 2007 1.560 1.500 3.2. Hal ini dilakukan dengan asumsi akan terjaring pengunjung warnet dengan mobolitas ekonomi tinggi untuk inti kota dan mobilitas ekonomi rendah untuk pinggiran kota.600 1. berlokasi dipinggiran kota daerah penelitian.700 3.500 2. Tegasnya . yaitu secara purporsive sampling (sampel bertujuan). Drag Net Gemini Net Dimensi Internet Jimmy Net Perimsa warnet Tenan Kata Warnet Warnet Poltak Cyber Net Bima Net Planet Net Warnet SMK I Dharma Net Dano Marsabut Warung-Infokom Kharisma Net Malpindo Net Tuiji Net Melka Net Warnet Clasia Lesehan Net Lingga Net Graha Net 2.200 900 2.400 1. Populasi dan Sample a. Selanjutnya dalam menentukan teknik penarikan sampel di lapangan. 3. gejala atau kelompok tertentu.270 11.230 1. keadaan.000 4. Disain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Deskriptif Analitis. tanpa mencari dan menjelaskan hubungan.100 2.

Sampel Penentuan besaran sampel dari populasi tersebut ditetapkan dengan menggunakan rumus Taro Yamane yaitu: n= N N d 2 +1 Dimana : n = ukuran sampel N = ukuran populasi d = tingkat n= 68...4%5% atau 10% (umar..200 900 68....645 68.0036 + 1 n= n= 68..645 orang b... Dengan pecahan sample seperti pada table berikut : TABEL 2 NAMA KOTA DAN WARNET SERTA PENETAPAN JUMLAH SAMPEL NO NAMA KOTA BANDA ACEH MEDAN NAMA WARNET Jlh Responden 1..350 1.....645 248. Sumber data : Hasil observasi oktober 2007 1. 2007) Untuk penelitian ini maka peneliti memutuskan untuk mengambil 280 orang sampel...970 1. 2%.....12  n = 276 ..645 68. Dimana untuk masing-masing warung internet ditetapkan 10 orang responden ( quota sampling).13 14 BENGKALIS Vista Net Kuantum Net LHOKSEUMAWE Lacak Com Enjoy Net Jumlah.3%.645(6%) 2 + 1 68.. Jambu Net Speed ++ Net. Drag Net Gemini Net 10 10 10 10 ..645 x0. 2....66 ⇒277 orang Batas kesalahan yang ditolerir ini bagi setiap populasi tidak sama .. Ada yang 1%.. 2002 dalam Kriyantono...

. lamanya waktu meng-gunakan internet.. mengevaluasi dan menggunakan informasi dan berbagai bentuk.. jenis pesan yang diakses.. pekerjaan pendapatan... Intensitas. pendidikan..3. sikap individu terhadap internet internet sbg kebutuhan. 2 Ordinal Nominal 3 Pemahaman Aplikasi TIK -Information literacy (Kemampuan Akses Informasi) -Computer literacy (Kemampuan Ordinal Statistik univariat . kemampuan menggunakan computer untuk memenuhi Skala Nominal Analisis Statistik Univariat (f dan %) Statistik univariat (f dan %). kemampuan mengakses. 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 LUBUK PAKAM KABANJAHE PEMATANG SIANTAR KISARAN RANTAU PRAPAT PADANG SIDEMPUAN PADANG BUKIT TINGGI BATAM PEKAN BARU BENGKALIS LHOKSEUMAWE Dimensi Internet Jimmy Net Perimsa warnet Tenan Kata Warnet Warnet Poltak Cyber Net Bima Net Planet Net Warnet SMK I Dharma Net Dano Marsabut Warung-Infokom Kharisma Net Malpindo Net Tuiji Net Melka Net Warnet Clasia Lesehan Net Lingga Net Graha Net Vista Net Kuantum Lacak Com Enjoy Net Total Sampel . jenis kelamin..... peneliti menggunakan teknik Accidental Sampling (sampel kebetulan) terhadap pengunjung Warnet yang telah ditentukan diatas sampai memenuhi quota yang telah ditetapkan Perancangan Alat Ukur dan Analisis No 1 Dimensi Anteseden (sosiodemografis dan psikologis ) Latarbelakang pengalaman masyarakat Indikator penelitian Usia.... minat akan internet Frekwensi menggunakan internet. (Content) CD-Rom atau Web. nilai-nilai yang terbentuk. 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 280 Selanjutnya untuk memilih responden dalam penelitian ini. kepercayaan terhadap internet.....

Variabel Melek (literacy) • Information literacy adalah kemampuan mengakses. • Digital Literacy adalah kemampuan memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber ketika disajikan melalui alat – alat teknologi digital. video. Efek kognitif afektif. Ordinal Statistik univariat (f dan %). adapun konsep-konsep dalam penelitian ini dapat dibedakan menjadi beberapa variabel. apektif dan Behavioral .Menggunakan Komputer) -Digital Literacy (Kemampuan Memahami) -Internet literacy (Kemampuan Internet) 4 Efek dari pemahaman internet kebutuhan peribadi ataupun suatu instansi. 4. surat kabar. seperti buku. Kerangka Konsep Kerangka konsep adalah abstraksi mengenai suatu fenomena yang dirumuskan atas dasar generalisasi dari sejumlah karekteristik kejadian ke dalam kelompok atau individu tersebut (Singarimbun. mampu digunakan. 2. yaitu : 1. kemampuan menggunakan pengetahuan teoritis dan praktis mengenai internet sebagai suatu media komunikasi dan informasi bagi manusia yang memerlukannya. mengevaluasi dan menggunakan informasi dan berbagai bentuk. dan behavioral (f dan %). Variabel Anteseden. Berdasarkan kerangka teoritis di atas. • Internet literacy adalah kemampuan menggunakan pengetahuan teoritis dan praktis mengenai internet sebagai suatu media komunikasi dan informasi bagi manusia yang memerlukannya. dan mampu dilihat hasilnya. Model Teoritis Variabel Anteseden Sosiodemografis & Psikologis Minat dan motivasi Variabel Literacy .Dimensi kemampuan. 1998:24). CD-Rom atau Web. Pemahaman terhadap Komputer Variabel Media Terpaan komputer & internet terhadap kebutuhan dan Variabel efek Efek Kognitif. • Computer literacy adalah kemampuan menggunakan computer untuk memenuhi kebutuhan peribadi ataupun suatu instansi. Variabel anteseden ini terdiri dari data sosiodemografis dan psikologis masyarakat. kesesuaian. kemampuan memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber ketika disajikan melalui alat teknologi digital. Adapun yang termasuk ke dalamnya adalah keuntungan relatif. Variabel Efek Maksudnya adalah sejauhmana tingkat Pemahaman individu dalam masyarakat dalam menggunakan internet. Variabel Media Variabel media adalah sejauhmana terpaan media internet terhadap kebutuhan dan kepuasan oleh individu dalam masyarakat. 3.

Digital literacy a.Pekerjaan 5. Sedangkan yang berjenis kelamin wanita berjumlah 43%. Masyarakat yang menjawab tingkat pendidikan akhirnya adalah tamat SMU (sederajat) berjumlah 47.2% Sedangkan yang menjawab status perkawinan sudah menikah berjumlah 20.Jenis kelamin 3. Aspek Sosiodemokrafis dan psikografis • Usia Responden Berdasarkan data yang diperoleh bahwa dapat dilihat 39.Minat terhadap internet 1.Usia 2.9% • Jenis Kelamin Responden 57% masyarakat yang menjawab berjenis kelamin pria.Internet literacy kemampuan menggunakan internet sbg kebutuhan media komunikasi dan informasi Variabel Melek (Literacy) Temuan dan Pembahasan a. • Status Perkawinan Masyarakat yang menjawab status perkawinan tidak menikah berjumlah 70. Sedangkan untuk janda masyarakat menjawab status perkawinan janda berjumlah 5.4%. menggunakan informasi berbagai bentuk : referensi.8%. Sedangkan 40 tahun keatas dijawab 1.7%.III) berjumlah 18. mengevaluasi. untuk kebutuhan pribadi atau instansi 3. Lamanya waktu menggunakan internet d. berita.4% masyarakat menjawab tingkat pendidikan akhirnya adalah tamat S3 . Sedangkan 0. • Tingkat Pendidikan Akhir.7%.6% masih berusia antara 15-19 tahun. kemampuan mengakses internet b. Untuk usia masyarakat 20-25 tahun berjumlah 34. content internet c. Information literacy a. Sedangkan tingkat pendidikan akhirnya adalah tamat Diploma (I. kemampuan menggunakan computer b.9%. Jenis pesan yang diakses 2.1%. kemampuan memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber 4.Pendidikan 4.Pendapatan 6. Dan masyarakat yang menjawab status perkawinan duda berjumlah 3. Computer literacy a. adapun operasionalisasi variabel penelitian ini adalah sebagai berikut : Variabel Konsep Variabel Anteseden (Sosiodemografis dan psikografis) Variabel Operasional 1.& internet kepuasan Operasionalisasi Variabel Berdasarkan variabel-variabel konsep dan model teoritis di atas .

Perangkat output bisa dikatakan sebagai pelengkap input. Program aplikasi yang digunakan masyarakat untuk kegiatan chating 13. Jika dilihat lebih jauh. Yang kurang mengenal berjumlah 26. Fasilitas yang digunakan masyarakat untuk mengakses internet. Pengenalan masyarakat terhadap perangkat lunak internet yang terdiri dari microsoft internet explorer. yaitu: 1. Manfaat internet yang paling dirasakan. Lama mengenal internet. 5. Scanner gambar dan webcam merupakan salah satu poin favorit bagi pengguna internet. Sedangkan untuk pekerjaan masyarakat pensiunan. akademisi masyarakat hanya menjawab 0. Jika dilihat persentase masyarakat yang sangat mengenal dan mengenal input memiliki jumlah lebih besar dari yang kurang mengenal dan tidak mengenal sama sekali.8%.4% dan 6. Pemahaman Masyarakat Terhadap Aplikasi Internet Saat Ini Ada 15 hal penting yang menjadi sorotan untuk mengetahui pemahaman masyarakat terhadap aplikasi internet saat ini. sebanyak 30. 10.1% mengenal input. 14. Untuk pekerjaan karyawan swasta masyarakat menjawab 17. mouse. Masyarakat yang kurang mengenal output sebanyak 20. Pengenalan masyarakat terhadap perangkat keras (hardware) yang terdiri dari pengenalan perangkat input. perangkat output serta scanner gambar dan webcam.4%. dan hanya 3. Umumnya fasilitas scanner gambar dan webcam telah banyak disediakan oleh warung internet . Kegiatan yang dilakukan masyarakat melalui internet. 4. internet mail/outlook express.6%.4%. mozila fire fox. trackball dan gamepad. Perangkat keras output yang terdiri dari printer. Pekerjaan Mayoritas pekerjaan masyarakat adalah pelajar/mahasiswa dengan 42. Sedangkan 7. Yang mendorong masyarakat dalam menggunakan internet 7. Situs yang digunakan masyarakat untuk memperoleh informasi atau berita.• b. Aplikasi browser yang digunakan masyarakat. Sedangkan 16. Lokasi mengakses internet. 11.2% masyarakat tidak mengenal scanner gambar dan webcam.2% kurang mengenal. sebanyak 26% sangat mengenal. Frekuensi masyarakat dalam mengakses internet selama seminggu 8.9% masyarakat sangat mengenalnya dan 49. Untuk perangkat keras input yang terdiri dari key board. maka hal ini sangat wajar karena perangkat input yang dimaksud sering digunakan atau dilihat sehari-hari oleh masyarakat pengguna internet maupun keseharian dalam bekerja dan belajar. Dari data yang diperoleh dapat dilihat bahwa 40% masyarakat mengenal scanner gambar dan webcam. 12. 2. Pekerjaan berwiraswasta yang dijawab oleh masyarakat berjumlah 21. Informasi yang dicari masyarakat melalui internet. 6. 3.4% tidak mengenal sama sekali.8% yang tidak mengenal. maka perangkat output tidak berbeda jauh pengenalannya oleh masyarakat yang juga mengenal input. Asal mula masyarakat belajar internet. Situs yang digunakan masyarakat untuk kegiatan browsing (pencarian data). 15. speaker dan networking (jaringan) sangat dikenal oleh 30.9% masyarakat dan yang mengenal sebanyak 42.9%. 9.3%.

8.(warnet) sebagai salah satu daya tarik untuk menambah pengunjung. 33. Perangkat Internet Mozzila Firefox sangat dikenal oleh 34% masyarakat dan 44.7% . Dalam hal belajar internet.4% tidak mengenal sama sekali.1% masyarakat sangat mengenalnya.9% masyarakat dan yang mengenal sebanyak 47. sehingga bagi masyarakat yang tidak memiliki fasilitas tersebut di rumah atau yang sama sekali rumahnya tidak memiliki fasilitas internet dapat menggunakan scanner gambar dan webcam di warnet. Bagi yang belajar dari sekolah berjumlah 19. Di era perkembangan teknologi ternyata sangat memacu masyarakat untuk lebih mengenal internet agar dapat mengikuti perkembangan zaman.7% mencari informasi yang dibutuhkan. Sebanyak 15. Sedangkan 20% masyarakat kurang mengenal Perangkat internet mail/outlook express dan 6. Perbedaan yang tidak terlalu mencolok dalam hal penggunaan internet menggambarkan bahwa saat ini internet telah dianggap penting untuk membantu berbagai kegiatan masyarakat.8% mengakses internet diantara 5 sampai dengan 8 jam/minggu. Sedangkan 15.2% dan 18. Sebanyak 27. Dari data tersebut ternyata waktu 2 sampai dengan 3 tahun memberikan pendalaman masyarakat untuk lebih memahami internet.5% masyarakat memilih belajar internet dari kursus. Kemudahan untuk berkomunikasi sangat mendorong 42.7% tidak mengenal.9%. Yang kurang mengenal berjumlah 12.6% memanfaatkannya sebagai alat komunikasi dan 20% masyarakat menggunakannya untuk menambah wawasan. Sedangkan yang mengenal internet 3 sampai dengan 4 tahun adalah 23% dan yang mengenal internet lebih dari 5 tahun berjumlah 7.5% mengenal. perangkat Microsoft internet explorer merupakan hal yang wajib digunakan sebagai jalur untuk masuk kedalam tahapan lanjutan.6% mengenalnya 2 sampai dengan 3 tahun. Sedangkan yang belajar dari pelatihan hanya berjumlah 1. Lebih dari 8 jam diakses oleh 34. Dalam hal perangkat internet mail/outlook express sebanyak 29. Penggunaan perangkat internet Mozilla Firefox sangat mempermudah para pengguna internet dalam membuka berbagai macam situs dengan waktu yang relative lebih cepat. Microsoft internet explorer sangat dikenal oleh 21.2%.2% masyarakat menggunakan internet sebagai hiburan. Artinya masyarakat membutuhkan waktu yang bisa dikatakan . Sedangkan 16.2% masyarakat dalam melakukan penggunaan internet dan 44.1% kurang mengenalnya dan hanya 6% tidak mengenal perangkat internet Mozzila Firefox.5% tuntutan pekerjaan. 44. Sebagai salah satu perangkat yang sangat digemari.5%.5% serta 17.2% Sedangkan belajar dari teman berjumlah 25. Bagi para pengguna awal internet.3% masyarakat dan sebanyak 10.6% membantu pekerjaan mereka. Dalam waktu penggunaan internet. internet mail/outlook express lebih mempercepat pengguna internet untuk mengakses situs yang sudah disimpan sebelumnya. Artinya belajar internet dari teman dan mencoba langsung lebih dikedepankan masyarakat untuk dapat belajar internet. 25. serta 10. masyarakat yang langsung mencoba sebanyak 24.6% hanya mengakses internet 1 sampai dengan 4 jam/minggu.3 % masyarakat untuk menggunakan internet.9% mengenal perangkat tersebut. Mengikuti perkembangan zaman adalah alasan sebanyak 53.8% masyarakat mengenal internet kurang dari 1 tahun.3% masyarakat menggunakannya kurang dari 1 jam/minggu Kemudian 46.

Untuk melakukan kegitan pembukaan elektronik mail (e-mail) di internet. tetangga/saudara.plasa.kaskus.plasa. Melakukan kegiatan mengakses lowongan pekerjaan di internet dilakukan oleh 28. Sebanyak 40. Fasilitas ponsel untuk mengakses internet hanya digunakan oleh 7. sedangkan 36. Sedangkan hanya 7. Hanya 10. Untuk kegiatan email 30. belum lagi ditambah 24.2% masyarakat. Lembaga pendidikan sebagai salah satu tempat yang seharusnya mempermudah masyarakat untuk memgakses internet justru persentasenya bisa dibilang rendah.com dengan jumlah 21. Dalam penggunaan internet di warnet. Situs wikipedia menempati urutan terendah sebagai situs yang sangat sering digunakan oleh masyarakat. tentang kesehatan 34. Program situs yang sangat sering digunakan untuk chating oleh masyarakat adalah www.com.1% masyarakat tidak pernah mengakses internet di rumah teman.com yang dimiliki oleh telkom ternyata masih menjadi favorit bagi para pengguna email.cukup panjang untuk mengakses internet sebagai hiburan.5% yang sangat sering menggunakan www. karena saat ini sudah banyak institusi pendidikan yang memiliki web site sendiri bahkan banyak perguruan tinggi yang sudah menerapkan sistem on line bagi mahasiswanya yang ingin melihat perkembangan terakhir nilainya.2% untuk mengakses informasi.2% yang sangat sering menggunakan situs www. Situs www.0% masyarakat yang sangat sering menggunakannya.8% masyarakat sering melakukan chating (komunikasi secara instant melalui internet) pada saat mengakses internet. Data tentang ekonomi hanya 7. Data tentang pendidikan sering dicari 42. Program aplikasi yahoo messenger untuk kegiatan chating sangat sering digunakan oleh 26% masyarakat dan 29.3%.2% masyarakat yang sering menggunakannya.gmail.4% sangat sering dan 25. Melakukan chating menempati posisi yang cukup tinggi dalam kegiatan masyarakat mengakses internet.9%. Hanya 15. Kantor menjadi tempat dimana masyarakat sangat sering mengakses internet dengan jumlah sebanyak 31.6%. Sebanyak 24.wikipidia.6% masyarakat sangat sering menggunakan situs www. mencari informasi yang dibutuhkan. menambah wawasan. Penggunaan fasilitas chating hampir selalu dibuka dalam kegiatan mengakses internet.3% masyarakat melalui internet.2% masyarakat sangat sering menggunakan kampus/sekolah/perpustakaan untuk mengakses internet dan yang sering sebanyak 16.com.yahoo.4% mengatakan sering.com. Sedangkan penggunaan dirumah sering digunakan oleh 21.2% masyarakat sangat sering menggunakan laptop/notebook untuk mengakses internet dan jumlah yang sering menggunakannya sebanyak 30.6% masyarakat yang sangat sering mencarinya. Game on line hanya 7.com hanya 6. Sedangkan . Mengakses internet melalui ponsel belum menjadi pilihan utama masyarakat karena tidak semua ponsel memiliki fasilitas untuk mengakses internet. sebagai alat komunikasi.9% masyarakat. 20.7% masyarakat. serta membantu pekerjaan mereka.3%.7%. Sedangkan 61.9% yang sangat sering melakukannya. Sedangkan penggunaan www.6%. Temuan penelitian menemukan bahwa data tentang pendidikan paling sering diakses terutama bagi masyarakat yang ingin mencari jalur pendidikan yang lebih tinggi baik di dalam maupun luar negeri.3% sering menggunakannya. sebanyak 34% masyarakat sering menggunakannya dan yang sangat sering sebanyak 14.

booter.1% mengatakan sering.1% masyarakat dan 30.com dengan jumlah 47.7% masyarakat menjawab percaya terhadap informsi yang dipublikasikan oleh internet.com (23. Hambatan-hambatan dan permasalahan yang menjadi kendala bagi masyarakat dalam memahami dan mengaplikasikan Internet?.8%.3% tidak pernah menggunakan www.org untuk memperoleh informasi/ berita.1% dan banner iklan yang membuat lama pembukaan situs (34%).9% menyatakan tidak mengenal perangkat yahoo.jobsdb. Sedangkan 15.4% masyarakat. Masyarakat yang tidak mengetahui penggunaan dari perangkat lunak Eudora berjumlah 27.com adalah yang sering digunakan oleh 29. Dalam hal ini www. Situs yang dipakai untuk memperoleh informasi/ berita. c. sedangkan meebo masih sangat asing ditelinga masyarakat penggiat chating.4%. Eudora juga jarang diketahui penggunaannya oleh 47.program aplikasi meebo hanya 7. Sedangkan kendala lain adalah beredarnya situs-situs yang memiliki dampak negative. Selain perangkat lunak Eudora dan yahoo. Masyarakat pengguna internet sering menggunakan situs www. Mozzila firefox telah menjadi trend baru karena mampu mengakses secara cepat berbagai macam situs sebanyak apapun halaman yang kita buka. Situs yang tidak pernah digunakan masyarakat untuk mencari data (browsing) adalah www. Situs www. Sedangkan 42.google. Masyarakat masih belum memahami beberapa perangkat lunak internet. Situs www.1% masyarakat menjawab tidak pernah mengalami gangguan pada saat menggunakan internet Gangguan yang sering pada saat mempergunakan internet adalah tidak dapat menemukan informasi yang dicari dengan jumlah 38.5%. Dari hasil data dapat dilihat bahwa 8.9%. Mail Selver.jobsdb.5% masyarakat yang sangat sering menggunakannya. dan Webserver.com.yahoo. sebanyak 32. masyarakat banyak yang belum mengenal secara luas perangkat Maxthon. seperti situs porno yang bisa dibuka oleh siapapun tanpa terkecuali anak dibawah umur. Sedangkan 25. Sedangkan gangguan hacker (system dibobol) sangat sering dialami oleh 17.3% masyarakat sangat percaya terhadap informasi yang dipublikasikan oleh internet. Masyarakat menyatakan pernah mengalami gangguan non teknis atau teknis pada saat menggunakan internet dengan jumlah 84.7% masyarakat belum mengenal perangkat lunak Eudora. Untuk aplikasi browser. Yahoo messenger merupakan program aplikasi yang sudah sangat terkenal bagi para penggiat chating.yahoo. 9.4% masyarakat untuk kegiatan browsing (pencarian data). Diantaranya adalah 48. Sampai saat ini mayoritas masyarakat banyak yang baru mengenal penggunaan dasar internet. Untuk yang kurang percaya terhadap informasi yang dipublikasikan sebanyak 37. Sedangkan yang tidak percaya terhadap informasi yang dipublikasikan oleh internet sebanyak 28. Sebanyak 27.8% masuk dalam kategori sering menggunakannya.1% masyarakat sangat sering menggunakan Mozzila Firefox dan 26. Dan gangguan yang jarang dialami masyarakat pada saat .com masih menempati posisi tertinggi dalam kegiatan browsing. Ternyata masyarakat lebih membutuhkan informasi mengenai lowongan pekerjaan melaui www.4%).com sering digunakan oleh 17. booter.5% masyarakat. Nerscape Communicator.4% masyarakat. Gangguan yang tidak pernah dialami masyarakat pada saat menggunakan internet adalah virus komputer dengan jumlah 52.wikipedia.altavista.7%.2 %. Saat ini internet explorer merupakan aplikasi yang tidak pernah digunakan oleh 41.6% jarang menggunakannya.

Akan tetapi. juga cenderung akan melahirkan beberapa problem sosial yang baru. antara lain ketika semakin lama orang tertantang untuk semakin terbiasa dengan kondisi yang relatif paperless di tempat kerja atau di rumah masing-masing. Berdasarkan pada kecenderungan umum sikap yang diambil terhadap munculnya teknologi internet. dll. Secara ekonomis. web surfing. Selain telah secara revolusioner mengubah metode komunikasi massa dan penyebaran data atau informasi. secara sederhana kita bisa membagi masyarakat ke dalam tiga kelompok utama: Pertama. .menggunakan internet adalah tidak dapat menentukan dimana saya berada tersesat di dunia maya dengan jumlah 35. di samping keuntungan-keuntungan komparatif tadi. internet juga telah mendorong munculnya beberapa kecemasan baru di kalangan masyarakat luas. misalnya. kelompok perspective users.5%. sedikit banyak telah memperoleh cukup informasi tentang manfaat internet bagi kehidupan mereka. Setiap bentuk perubahan sosial dan kebudayaan. yakni mereka yang saat ini sudah menjadi pemakai aktif beberapa layanan internet seperti e-mail. karena beberapa alasan. Kedua. misalnya. adalah sebagian contoh dari beberapa perubahan radikal dalam lingkup ekonomi dan sosial masyarakat postmodern saat ini yang mustahil muncul tanpa kehadiran internet. d. konversi segala jenis data menjadi kode-kode digital dalam internet. Untuk kelompok ini. ramah lingkungan. atau cybersex. yakni mereka yang saat ini masih belum menjadi pemakai internet tapi yang. dalam beberapa hal internet boleh jadi telah membawa akibat berupa efisiensi waktu dan penghematan biaya yang sangat besar. memiliki potensi besar untuk menjadi pemakai di masa depan. alasan. telah melahirkan respon berupa kecurigaan yang terkadang berlebihan terhadap akibat negatif yang bisa ditumbulkan oleh pertumbuhan jenis teknologi ini. dan pengalaman konkretnya (evaluasi) dalam menggunakan jasa-jasa internet. jenis pemanfaatan. Beberapa kasus kejahatan atau perilaku menyimpang dari seseorang atau sekelompok orang yang secara kebetulan menjadi bagian dari masyarakat pengguna internet. juga dianggap sebagai alternatif gaya hidup yang eco-friendly. tenaga edukatif di lembagalembaga pendidikan serta kelompok-kelompok masyarakat lain yang secara keseluruhan bisa diasumsikan sebagai orang-orang yang telah memiliki pengetahuan minimal tentang komputer atau. Apa yang kemudian dikenal sebagai e-commerce. Meskipun masih merupakan hal yang relatif baru. Di seluruh dunia. paling tidak. Dari sisi ekologis. termasuk di Indonesia. karyawan perkantoran. ecommerce. kelompok existing users. setiap introduksi satu jenis teknologi ke dalam sebuah masyarakat pasti akan mendorong berlangsungnya pelbagai perubahan. Kebijakan dan program kegiatan yang dibutuhkan masyarakat dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan aplikasi Internet. di lain pihak. Dalam perspektif sosial dan kebudayaan. tidak diragukan lagi bahwa kehadiran dan pertumbuhan teknologi internet telah menjadi salah satu fenomen sosial yang paling menarik perhatian saat ini. kini semakin banyak orang yang memanfaatkan internet untuk bermacam-macam kebutuhan. Ke dalam kelompok ini termasuk para mahasiswa. internet juga telah membuktikan dirinya sebagai satu-satunya medium berjangkauan massal yang paling fleksibel. pertanyaan penelitiannya bisa difokuskan pada apa dan bagaimana latar belakang. Ia dengan mudah bisa mengintegrasikan seluruh bentuk media massa konvensional seperti media cetak dan audio visual bahkan tradisi lisan (oral tradition) sekalipun.

mouse. tarap hidup ekonomi. input. Secara skematik. dan variabel-variabel sosial lain yang hubungannya sangat signifikan dengan preferensi pilihan mereka terhadap salah satu produk teknologi seperti internet. Hal itu dapat dilihat dari tingginya persentase pengenalan. kemampuan dan keterampilan responden dalam menggunakan perangkat keras computer dan perangkat lunak computer dan internet. jenis pekerjaan. Perangkat Internet Mozzila Firefox sangat dikenal. proses-proses sosial yang berlangsung antara masyarakat dan internet itu adalah seperti dalam Figure 1 berikut Kesimpulan 1.Di luar dua kelompok tersebut. gamepad. Sebahagian besar responden juga sangat mengenal fungsi perangkat keras dan perangkat lunak computer dan internet. Ada banyak sebab mengapa mereka tidak bisa digolongkan ke dalam kelompok perspective users seperti tingkat pendidikan. Disamping itu masyarakat juga menyatakan pernah mengalami gangguan non teknis atau teknis pada saat menggunakan internet. Gangguan yang sering pada saat mempergunakan internet adalah tidak dapat menemukan informasi yang dicari dan banner iklan yang membuat lama pembukaan situs. dan Webserver. Kebijakan dan Program yang dibutuhkan untuk meningkatkan pemahaman aplikasi computer dan internet. Hambatan dan permasalahan yang dialami masyarakat pengunjung warnet dalam memahami dan mengaplikasikan internet adalah masyarakat masih belum memahami beberapa perangkat lunak internet. Seperti belum mengenal perangkat lunak Eudora. seperti situs porno yang bisa dibuka oleh siapapun tanpa terkecuali anak dibawah umur. Perangkat keras output yang terdiri dari printer. Sedangkan kendala lain adalah beredarnya situs-situs yang memiliki dampak negative. booter. speaker dan networking (jaringan). perangkat Maxthon. Sedangkan kebijakan yang dibutuhkan adalah . Sedangkan gangguan hacker (system dibobol) juga sangat sering dialami sebahagian kecil masyarakat pengunjung warnet. 2. Melihat kondisi masyarakat sampai saat ini masih banyak yang baru mengenal penggunaan dasar internet maka Program yang dibutuhkan adalah Bimbingan Teknis bagi pengelola warung internet. Sampai saat ini mayoritas masyarakat banyak yang baru mengenal penggunaan dasar internet. Menu-menu yang ada pada computer seperti key board. Bahwa Pemahaman masyarakat pengunjung warung internet terhadap aplikasi computer dan internet cukup tinggi. tentu saja adalah kelompok sosial lain yang menjadi bagian terbesar dari populasi masyarakat. 3. perangkat internet mail/outlook express. yahoo. Microsoft internet explorer. mengingat mayoritas masyarakat pengunjung Warnet belajar menggunakan internet langsung coba umumnya di warung internet bagi yang tidak memiliki laptop maupun ponsel yang memiliki vitur internet. trackball. Nerscape Communicator. Mail Selver.

(2005). Rogers.E. (1990). Jokyakarta. Teori Komunikasi : Sejarah. Yogyakarta. .Raja Grafindo.(2003).(2002). (2006). Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek. Teknik Praktis Riset Komunikasi. (1995). Elvinaro dan Erdinaya. peningkatan kapasitas Bandwidth dan penurunan tarip internet. Edisi Juli Kementerian Komunikasi dan Informasi RI. plagiasi. pembajakan hak cipta. Jakarta.(1971). (2006).(2004). Metode Penelitian Survei.James w. Bandung. PAU Studi Sosial. E. (2004). Komunikasi Massa Suatu Pengantar.M & F. New York.(2000). Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Dalam meningkatkan pemahaman berbagai aplikasi yang beredar. PT. Prenada Media. Sumadi. perlu disosialisasikan hal-hal dasar mengenai penggunaannya termasuk aplikasi apa yang paling cepat dan efektif untuk digunakan. Penggunaan biaya tinggi jangan sampai dibebankan pada masyarakat. Suryabrata. Jakarta. Metode Penelitian Komunikasi.proteksi terhadap situs-situs porno. Diffusion of Innovations. Rogers. Metode Survey Untuk Komunikasi. maka harus diberikan pemahaman awal mengenai penggunaan aplikasi bagi kepentingan masyarakat luas terutama bagi pembangunan manusia Indonesia agar benar-benar berguna bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Metode Penelitian.Shoemaker. UGM Singarimbun. Kebijakan dan Perkembangan Tim Koordinasi Telematika Indonesia (TKPI). K. Free Press. (2006).M. Harus ada distribusi pemahaman dan keahlian dari tenaga-tenaga profesional semaksimal mungkin ke daerah-daerah yang benar-benar belum mengetahui tentang komputer maupun internet. Rakhmat. Dan Terapan di Dalam Media Massa. Bandung. Suharsimi. Kencana Prenada Media Group. Edisi Kelima. Arikunto. Sedangkan bagi masyarakat yang benar-benar telah mengetahui berbagai macam aplikasi dan mampu mengoperasikannya secara maksimal. Communication of Innovations – A Cross Cultural Approach. Gempur. Prestasi Pustaka Publisher. Rineka Cipta.Jr.J. Remaja Rosdakarya.Bambang. . Jakarta Kriyantono. Severin. Santoso. Lukiati. Saran Masyarakat sangat membutuhkan sosialisasi lebih meluas mengenai penggunaan internet baik secara positif maupun negative. Setiawan. Telematika Indonesia. Biro Pusat Statistik. Free Press. dan pornografi. Jalaluddin. (2005). Masri dan Sofyan Effendi.Tankard. Beberapa Indikator Penting Sosial Ekonomi Indonesia. Rachmat. New York. perusakan data dokumen suatu lembaga.W. Daftar Pustaka Ardianto. artinya akses semaksimal mungkin harus dapat diterima masyarakat terutama kalangan menengah kebawah. Jakarta. Untuk pemahaman mengenai aplikasi sebaiknya diberikan tahapan-tahapan dasar.Simbiosa Rekatama Media. LP3ES. Jakarta. Penyedia jasa internet atau warnet perlu meminimalisir pelanggaran hukum seperti pencurian/ pembobolan rekening bank. Metode. Jakarta.

pustaka.php?title=Information_Society&printable http://en.de/eng/itas-profil/technology.com/divakar_goswani.usm.Lain – Lain : www.htm http//en.fzk.Kominfo/4/2005 http://en.org/w/index.itas.org/w/index.my/docushare/dsweb/Get/Document-5633/ http//www.itu.php?title=Information_Society&printable .majalahheindonesia.wikipedia.int/home/feedback/index.htm Digital Access Index 2002 (ITU 2002) http//www.org/wiki/Digital_divide http//www.wikipedia.wikipedia.phtml? mail=indicators Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor : 1/PM.