You are on page 1of 26

STATUS PASIEN

ALLOANAMNESIS
Nama pasien : (Nama)/ (Sex)/ (Usia)

Alloanamnesis : (Tanggal)

Diperoleh dari : (Nama), (Sex), (Usia), (No.Telepon)

Pekerjaan :

Pendidikan :

Hub.dengan Pasien :

KU : Keluhan Utama  Penyebab pasien dirujuk ke Rumah Sakit

AT : Anamnesis Terpimpin

- Sejak kapan? Seperti apa?


- Gejala-gejala lain yang menyertai.
- Faktor pencetus gangguan yang sekarang.
- Apakah pernah mengalami gangguan sebelumnya? Kapan mulai perubahan
perilaku? Awal munculnya bagaimana perilaku ps?
- Apakah pasien pernah sembuh? Jika tidak, bagaimana aktivitas harian pasien
sejak terjadi gangguan perilaku?
- Pernah berobat/ tidak? Riwayat pengobatan.
- Pernah sakit medis lainnya? dirawat di RS? (Iya -> Kapan? Berapa lama)

RPM : Riwayat PreMorbid

- Lahir normal/cacat. Cukup bulan? Dibantu sama siapa? (Dokter/Bidan/Dukun?)


- Riwayat ASI / pengasuhan
- Perkembangan di sekolah?
- Bagaimana pergaulannya?
- Bagaimana sifat/perilaku pasien sebelum sakit?
- Riwayat pekerjaan

RK : Riwayat Keluarga

- Anak keberapa? Jenis kelamin saudara-saudara (?,?,?,?)


- Bagaimana hubungan dengan keluarga?
- Tinggal dengan siapa?
- Riwayat pernikahan?
- Riwayat keluarga yang menderita penyakit jiwa?
RPS : Riwayat Penyakit Sebelumnya

- Infeksi (+/-)
- Trauma (+/-)
- Kejang (+/-)
- NAPZA (+/-)

STATUS PASIEN
Nama :

Jenis kelamin : TTL :

Status perkawinan : Agama :

Pekerjaan/Sekolah :

Alamat/telp :

Nama keluarga :

Dikirim oleh :

Dokter yang megobati :

Diagnosa sementara :

Gejala utama :

LAPORAN PSIKIATRI

I. RIWAYAT PENYAKIT
A. Keluhan Utama dan Alasan Masuk RS
“Ada apa dengan bapak/ibu sampai dibawa kesini? / Apa yang dilakukan sehingga
dibawa kesini?”

B. Riwayat Gangguan Sekarang


B.1. Keluhan dan Gejala
- Anamnesa terpimpin : Waktu mulai KU?
- Kapan memberat?
- Apa yang dilakukan pasien bila KU mulai muncul?
- Apa ada tindakan yang meresahkan (memukul, main benda tajam, dll)
- Bagaimana awal munculnya gejala?
- Apakah gejala berlangsung terus-menerus/ sementara?

NOTE : Pada anamnesis hindari kata “Kenapa” => Ada Apa?

B.2. Hendaya/disfungsi
- Hendaya sosial (+/-)
- Hendaya pekerjaan (+/-)
- Hendaya waktu senggang (+/-)

B.3 Faktor stressor psikososial


Hal yang mencetuskan timbulnya KU

B.4 Hubungan gangguan sekarang dengan riwayat penyakit fisik dan psikis
sebelumnya
(Liat di anamnesis terpimpin)  Berhubungan dengan KU

C. Riwayat gangguan sebelumnya


Riwayat penyakit sebelumnya :
 Trauma (+/-)
 Infeksi (+/-) Bisa tidak berhubungan dengan KU
 Kejang (+/-)

Riwayat penggunaan zat psikoaktif


 Merokok ya Berapa batang/bungkus/hari
 Alkohol ya

Jenis apa? Sudah berapa lama menggunakan

 Zat lain ya
D. Riwayat kehidupan pribadi
 Lahir normal / tidak
 Cukup bulan/ tidak
 Dibantu oleh siapa? Dokter/bidan/dukun
 Perkembangan dan pertumbuhan
 Interaksi sosial?
 Pendidikan terakhir?
 Bekerja dimana?
 Menikah/belum/cerai, punya berapa anak?
E. Riwayat kehidupan keluarga
 Anak keberapa dari berapa bersaudara
 (Sex saudara-saudara)
 Hubungan dengan keluarga
 Riwayat gangguan jiwa pada keluarga
F. Situasi sekarang
 Saat ini tinggal dengan siapa?
 Bahagia atau tidak?
 Apakah keluhan/ gejala masih muncul?
G. Persepsi Pasien tentang diri dan kehidupan
 Apakah pasien merasa sakit/ tidak? Apa harapan pasien?

II. STATUS MENTAL

A. Penampilan
Penampilan secara umum : dari ujung rambut sampai ujing kaki, terawat/tidak
terawat, sesuai umur atau tidak.
Kualitatif : baik/berubah
B. Kesadaran

Kuantitatif: GCS

Kesadaran = Kemampuan seseorang untuk melakukan kontak dengan


lingkungan sekitarnya dan melakukan pembatasan.

 Kesadaran menurun : Persepsi dan perhatian berkurang dinilai dengan GCS.


Tingkat kesadaran : Apatis, Samnolen, Stupor, Soporocoma.
 Kesadaran berubah : Pasien mampu melakukan kontak dengan lingkungan tapi
tidak mampu melakukan pembatasan.
 Kesadaran berkabut : penurunan kewaspadaan terhadap lingkungan, meliputi :
Fugue, Histeria, Trans, Somnabulisme

C. Perilaku dan Aktifitas Psikomotor


 Mannerisme : Gerakan seperti bersandiwara, sering diulang.
 Stereotipik : Pengulangan tindakan yang tidak berguna secara menetap.
 Stupor : Aktivitas psikomotor yang sangat menurun sampai imobilitas.
 Agitasi : Gaduh gelisah tanpa tujuan
 Flexibilitas serea : Sikap tubuh yang bisa dibentuk pemeriksa dan dipertahankan.
 Posturing : Sikap tubuh aneh yang dipertahankan dalam jangka lama.
 Command automatisn : Mengikuti yang diperintahkan secara otomatis.
 Negativistik : Melawan perintah atau perlakuan pemeriksa.
Perhatikan segala bentuk psikomotor pasien.

D. Pembicaraan
 Spontanitas, Kelancaran (lancar/terbata-bata/sering berhenti mendadak),
nada/intonasi bicara
E. Sikap Terhadap Pemeriksa
Kooperatif, Bersahabat, Bermusuhan, Menyerang/hostile, Seduktif, Main-main, Tidak
peduli

Keadaan Afektif
A. Mood
Suasana perasaan yang bertahan lama biasanya 2-3 minggu, melatarbelakangi ekspresi
emosi pasien.
 Disforik : Mood yang tidak menyenangkan
 Irritable : Mudah dibuat marah.
 Labil : Mudah berubah-ubah antara gembira dan sedih.
 Elevated/Elasi : Gembira
 Euforia : Kegembiraan/elasi yang meluap-luap.
 Eksaltasi : Euforia yang kuat dengan rasa kebesaran.
 Ekspansif : Suasana perasaan yang beragam dan mudah berubah.
 Eutimik : Mood dalam rentang normal, tidak ada mood yang
tertekan/melambung
B. Afek
Suasana perasaan yang kurang menetap dan dapat diamati pada wajah dan perilaku.
Berkaitan dengan stimulus dari luar/pemeriksa.
 Appropriate : Sesuai/normal
 Inappropriate : Tidak sesuai, contoh : cerita sedih tapi tertawa.
 Labil : Afek berubah drastis, contoh : tertawa kemudian tiba-tiba menangis.
 Restriktif/terbatas : Respon sesuai stimulus tapi tidak adekuat.
 Tumpul : Perubahan suasana perasaan tidak langsung tampak/lambat.
 Datar : Tidak ada perubahan ekspresi dan intonasi suara.

C. Empati
Apakah pemeriksa dapat turut merasakan perasaan pasien pada saat itu.
 Dinyatakan dengan : “dapat dirabarasakan atau tidak dapat dirabarasakan”
 Psikotik : Tidak dapat dirabarasakan.
FUNGSI INTELEKTUAL
1. Taraf Pendidikan, Pengetahuan, Kecerdasan :
 Tanyakan pertanyaan umum yang disesuaikan dengan latar belakang pendidikan.
 Contohnya : “Siapa presiden Indonesia atau wakilnya? ”
 Dinilai dengan : Sesuai taraf pendidikan atau tidak sesiau taraf pendidikan
 Pada pasien skizofrenia paranoid : Fungsi kognitif dapat “Tidak Terganggu ”
Pada pasian skizofrenia Hebefrenik : Fungsi kognitif “Sangat terganggu”

2. Orientasi
 Waktu :- Sudah berapa lama dirawat ?
- Tanya keadaan : Pagi/siang/malam
 Tempat : Apakah pasien tahu ia dimana?
 Orang : Apakah pasien tahu siapa yang membawanya /
 Dinyatakan dengan : “Baik” atau “terganggu”
3. Daya Ingat
 Jangka panjang : Sekolah / kapan menikah
 Jangka pendek : Apa yang dikerjakan tadi pagi ?
 Jangka segera : Mengulangi 6 angka ? contoh = 5, 7, 12, 9
 Dinyatakan dengan : “Baik”, “Cukup”, ”kurang”
4. Pikiran Abstrak
Kemampuan pasien memahami sesuatu konsep yang tidak secara konkrit dilihatnya atau
dialaminya pada saat itu.
5. Bakat Kreatif
 Bakat yang dapat memberi penghasilan
 Untuk mengarahkan setelah pasien sembuh

GANGGUAN PERSEPSI
1. Halusinasi
Persepsi tanpa ada objek yang sebenarnya.
Contoh : melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
a. Halusinasi penglihatan (visual, optik)
Contoh : sinar, sosok orang
b. Halusinasi pendengaran (Auditorik, akustik)
Contoh : Suara manusia, hewan, musik, mesin
c. Halusinasi penciuman (Olfaktorik)
Contoh : mencium bau
d. Halusinasi pengecap (Gustatorik)
Contoh : merasa mengecap sesuatu
e. Halusinasi peraba (Taktil)
Contoh : Merasa diraba, disentuh, ditiup.
2. Ilusi
Persepsi salah atau kesalahan interpretasi tentang suatu objek
Contoh : gorden disangka setan, angin seperti suara panggilan.
3. Depersonalisasi :
Perasaan aneh terhadap diri sendiri atau merasa dirinya ada perubahan.
Contoh : - merasa ada tumor diperutnya
- merasa lehernya panjang
4. Derealisasi
Perasaan aneh tentang lingkungan yang tidak sesuai dengan kenyataan.
Contoh : - merasa disurga Padahal dia di rumah sakit Dadi
- merasa dihutan

PROSES BERPIKIR
Gangguan proses berpikir di bagi atas 3 hal :
1. Bentuk pikiran
 Dereisme : Proses berfikir yang tidak mengikuti logika/kenyataan
 Autistik : Hidup di alam pikirannya sendiri tanpa peduli orang lain
 Pikiran tidak realistik : Pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan
2. Arus pikiran
 Produktivitas : ide yang berlebihan / mishinigle
Pikiran yang cepat / lambat
“Cukup” ”Kurang”
 Irelevan : Tidak nyambung kalau ditanya
 Asosiasi Longgar : Dua kalimat yang tidak berhubungan, tetapi ada spasi di tengah.
Contoh : Saya lapar spasi mobil berjalan
 Flight of Ideas : Perubahan yang mendadak lgi cepat dalam pembicaraan,
sehingga satu ide belum selesai disambung dengan ide baru.
Contoh : kucing hitam, mobil mahal, saya lapar (tidak ada spasi)
 Inkoheren : (Wold sald) satu kata dan kata lain tidak berhubungan sehingga
tidak membentuk suatu kalimat.
Contoh : saya minta lahir pakaian lengkap untuk pengadilan tuhan dengan jodoh.

3. Isi pikir
 Pre-okupasi : Pikiran yang terpaku hanya sebuah ide saja.
- Mania : Preokupasi pada diri sendiri
- Monomania : pre-okupasi pada objek tunggal
Contoh : Pre-okupasi tentang membunuh/bunuh dia
 Waham : keyakinan tentang suatu isi pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan
walau di jelaskan yang sebenarnya tetap menyangkal dan tidak bertentangan dengan
budaya setempat
1. Waham yang kacau (Bizarre delution)
Keyakinan aneh yang mustahil dan sma sekali tidak masuk akal.
Contoh : - orang dari luar angkasa telah menanamkan suatu elektroda pada otak
pasin
- Kalau angkat tangan kanan Tuhan, tangan kiri manusia
Waham non bizzare (waham membumi) : orang bisa percaya, bisa tidak dan mungkin
terjadi. Contoh : ada pasien yang mengatakan pada dokter kalau ada seseorang yang
mencari dokter.
2. Waham tersistematisasi (waham sekunder)
Keyakinan palsu yang digabungkan oleh suatu tema atau peristiwa tunggal.
Contoh : Pasien dimata-matai oleh agen rahasia.
3. Waham yang sejalan dengan mood
Contoh : pasien depresi percaya bahwa ia bertanggung jawab untuk
penghancuran dunia.
4. Waham yang tidak sejalan dengan mood
Contoh :
5. Waham somatik
Keyakinan palsu menyangkut fungsi tubuh pasien, tapi pasien merasa tidak aneh.
Contoh : Otaknya membubur, kepalaku mau pecah.
6. Waham Nihilistik
Perasaan palsu bahwa dirinya, orang lain dan dunia adalah tidak ada atau berakhir.
7. Waham kemiskinan
Keyakinan palsu bahwa pasien kehilangan atau terampas semua harta miliknya.
8. Waham paranoid
a. Waham persekutorik (curiga)
Keyakinan palsu bahwa pasien sedang diganggu atau ditipu atau disiksa.
(khas pada skizofrenia paranoid)
b. Waham kebesaran
Keyakinan memiliki kemampuan/kekuatan atau identitas khusus.
c. Waham referensi
Keyakinan palsu bahwa perilaku orang lain ditujukan untuk dirinya.
Contoh : percaya bahwa orang di TV membicarakan dirinya.
9. Waham menyalahkan diri sendiri
Keyakinan palsu tentang penyesalan yang dalan dan rasa bersalah
10. Waham pengendalian
Perasaan palsu bahwa kemauan atau pikiran/perasaan pasien dikendalikan tenaga
dari luar
a. Thought of withdrawl
Waham bahwa pikiran pasien dihilangkan/diambil keluar
b. Thought of insertion
Waham bahwa pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam pikirannya
c. Thought of broadcasting
Waham bahwa pikiran pasien dapat di dengar oleh orang lain

d. Thought of control
Waham bahwa pikiran pasien dikendalikan oleh orang/tenaga lain
11. Waham cemburu (persecutory)
Merasa pasangan punya hubungan gelap
12. Erotomania
Keyakinan bahwa seseorag sangat mencintai dirinya (biasanya pada perempuan)
13. Pseudologia phantastica
Suatu jenis kebohongan, dimana seseorang tampak percaya terhadap kenyataan
fantasinya dan bertindak atas kenyataan. Contoh : pura-pura sakit

Gangguan somatoform
1. Hipondria
keyakinan yang berlebihan tentang kesehatan pasien yang didasarkan pada
interpretasi yang tidak realistis terhadap tanda yang abnormal. Contoh : doctor
shopping
2. Obsesi
Ketekunan yang patologis dari suatu pikiran/perasaan yang tidak dapat
ditentang.
3. Kompulsi
Kebutuhan patologis untuk melakukan suatu impuls yang jika ditahan
menyebabkan kecemasan, perilaku berulang sebagai respon dari obsesi.
4. Koprolalia
Pengungkapan secara kompulsif kata-kata yang cabul
5. Noesis
Suatu wahyu, dimana terjadi pencerahan yang besar sekali disertai dengan
perasaan bahwa pasien telah dipilih memimpin dan memerintah
6. Unio mystica
Perasaan meluap dimana pasien secara mistik bersatu dengan kekuatan yang
tidak terbatas. Tidak dianggap suatu gangguan jika sejalan dengan keyakinan
pasien/lingkungan kultural
7. Fobia
Rasa takut yang patologis terhadap suatu objek sehingga memaksa untuk
menghindari stimulus yang ditakuti
a. Fobia sederhana : rasa takut terhadap objek atau situasi yang jelas
b. Fobia social : rasa takut akan keramaian
c. Akrofobia : rasa takut terhadap tempat tinggi
d. Agorafobia : rasa takut terhadap tempat terbuka
e. Algofobia : rasa takut terhadap rasa nyeri
f. Astrafobia : rasa takut terhadap badai, Guntur, kilat
g. Ailurofobia : rasa takut terhadap kucing
h. Bakteriofobia : rasa takut terhadap kuman/bakteri
i. Eritrofobia : rasa takut terhadap warna merah
j. Hematofobia : rasa takut terhadap darah
k. Klaustrofobia : rasa takut terhadap ruangan yang tertututp
l. Monofobia : rasa takut terhadap kesendirian
m. Niktofobia : rasa takut terhadap kegelapan
n. Xenophobia : rasa takut terhadap orang asing
o. Zoofobia : rasa takut terhadap binatang

PENGENDALIAN IMPULS
Apakah pasien dapat mengendalikan dorongan agresi, emosi, amarah, keinginan
memiliki. Dinyatakan dengan baik, cukup kurang.

UJI DAYA NILAI


 daya nilai social : apakah pasien sadar akibat perilakunya dan apakah pengertian akan
hal itu akan mempengaruhi dirinya.contoh : pasien mau membunuh orang. Merasa
bukan hal yang mengkhawatirkan.(daya nilai social terganggu)
 daya nilai. Contoh : apa yang dilakukan pasien bila menemukan dompet di jalan.
Dinyatakan dengan terganggu/tidak terganggu.

TILIKAN
Derajat kesadaran dan pengertian bahwa dirinya sakit. Terbagi atas 6 derajat :
1. derajat 1 : penyangkalan penuh bahwa dirinya sakit
2. derajat 2 : menyadari bahwa dirinya sakit, tetapi segera mengoreksi
3. derajat 3 : menyadari dirinya sakit tetapi menyalahkan orang lain
4. derajat 4 : menyadari dirinya sakit tetapi tidak tahu penyebabnya apa
5. derajat 5 : menyadari dirinya sakit tetapi tidak ada usaha mengobati
6. derajat 6 : menyadari dirinya sakit dan butuh pengobatan

TARAF DAPAT DIPERCAYA


Apakah hasil pemeriksaan dapat dipercaya atau tidak. Oleh karena itu lakukan
autoanamnesus dan alloanamnesis.
III. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT
 status internus
 hasil pemfis dan lab

IV. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Tuliskan hanya gangguan singkat

V. EVALUASI MULTIAKSIAL
1. Aksis 1 : untuk mendiganosis dan perhatian klinis ( gangguan/hambatan yang
menyebabkan diagnosis)
2. Aksis 2 : ciri kepribadian
3. Aksis 3 : kelainan organobiologik ( tidak harus berhubungan dengan aksis 1)
4. Aksis 4 : stressor
5. Aksis 5 : GAF scale

VI. DAFTAR PROBLEM


 Kelainan organobiologik
 Kelainan psikologi
 Kelaianan social

VII. PROGNOSIS
 Faktor pendukung
 Faktor penghambat

VIII. TINJAUAN PUSTAKA


Penjelasan mengenai teori diagnosis

IX. RENCANA TERAPI


 Farmakoterapi
 Psikoterapi
 Sosioterapi

X. FOLLOW UP
Pantau keadaan umum dan perkembangan penyakit seperti menilai efektivitas obat.
Kemungkinan efek samping obat yang diberikan.

F00-F09
GANGGUAN MENTAL ORGANIK

Gangguan mental yang berkaitan dengan penyakit/gangguan sistemik atau otak yang dapat
didiagnosis tersendiri.contoh : hipertiroid
Gambaran uatama:
1. Gangguan fungsi kognitif
 Daya ingat (memory)
 Daya pikir ( intellect)
 Daya belajar (learning)
2. Gangguan sensorium
 Gangguan kesadaran
 Gangguan perhatian
3. Sindrom dengan manifestasi yang menonjol
 Persepsi (halusinasi/ilusi)
 Gangguan isi pikir
 Suasana perasaan dan emosi
F20-F20.9
SKIZOFRENIA

Skizofrenia : jiwa yang terpecah antara perilaku, perasaan dan pikiran


Pedoman diagnostic :
 1 gejala :
1. THOUGHT
 Thought of echo : isi pikir yang bergema
 Thought of insertion : isi pikiran yang masuk dalam pikiran
 Thought of withdrawl : isi pikiran diambil keluar
 Thought of broadcasting : isi pikiran tersiar, orang lain tahu

2. DELUTION
 Delution of control : waham dirinya dikendalikan oleh sesuatu dari luar, yang
dilawan tapi tetap dilakukan
 Delution of influence : waham dirinya diperintahkan oleh sesuatu. Pasien lebih
sering melawan, walau kadang diikuti
 Delution of passivity : waham pasrah terhadap kekuatan dari luar
 Delution of perception : waham yang berhubungan dengan pengalaman
indrawi yang tidak wajar

3. HALUSINASI AUDITORIK
 Suara yang berkomentar terus menerus/bergosip
 Pasien merasa diceritai
 Panca indera yang berbicara. Contoh : tangan bicara

4. WAHAM
Waham yang menurut budaya setempat tidak wajar dan mustahil

 2 gejala :
1. HALUSINASI
Halusinasi yang menetap dan berasal dari indera mana saja

2. ARUS PIKIRAN
Arus pikiran yang terputus : irrelevan, inkoherensi, flight of idea, asosiasi longgar,
neologisme
3. PERILAKU KATATONIK
Gangguan yang terlihat pada tingkah laku. Contoh : gaduh, gelisah, negativism,
stupor, posturing.
4. GEJALA NEGATIF
Contoh : autism, jarang bicara, malas mandi, malas-malasan, anhedonia, apatis, afek
tumpul

 Gejala berlangsung selama > 1 bulan


 Terdapat hendaya (disability)

F20.0 SKIZOFRENIA PARANOID


 Waham yang khususnya :
 Waham kebesaran
 Waham kejaran
 Halusinasi yang mengancam
 Fungsi kognitif sedikit berkurang, kayak waras
 Umur dewasa

F20.1 SKIZOFRENIA HEBEFRENIK


 Umur 15-25 tahun
 Biasanya menyendiri
 Pemalu, pendiam, suka menyendiri
 Kekanak-kanakan

F20.2 SKIZOFRENIA KATATONIK


 Sangat menonjol pada psikomotornya

F20.3 UNDIFERENTIATED SKIZOFRENIA ( SKIZO-TAK TERINCI)


 Memenuhi beberapa kriteria skizofrenia (paranoid, hebefrenik, katatonik, residual)

F20.5 SKIZOFRENIA RESIDUAL


 Gejala negative yang menonjol
 Ada riwayat satu episode psikotik yang jelas dimasa lampau (>1 tahun) yang
memenuhi kriteria skizofrenia

F20.6 SKIZOFRENIA SIMPLEKS


 Gejala negative yang duluan muncul tanpa ada gejala positif

F20.9 SKIZOFRENIA YTT ( YANG TAK TERGOLONGKAN)


 Tidak memenuhi gejala jenis-jenis skizofrenia, data tidak lengkap.

F22 GANGGUAN WAHAM MENETAP


 Yang menonjol hanya waham
 Minimal 3 bulan
 Ada halusinasi tapi tidak menonjol dan sejalan dengan waham
 Wahamnya tipe membumi
 Waham tersistematisasi

F23 GANGGUAN PSIKOTIK AKUT DAN SEMENTARA


 Berlangsung 2 minggu
 Harus ada stressor
 Prognosis baik
 Ada waham dan halusinasi

F24 GANGGUAN WAHAM INDUKSI


 2 orang atau lebih mengalami waham dimana jika mereka dipisahkan maka waham
akan menghilang

ANTI PSIKOTIK ( NEUROLEPTIC)


Obat acuan : chlorpromazine

Pembagian penggolongan generik sediaan Dosis


anjuran
Tipikal 1. Phenothiazine
 Rantai alphatic Chlorpromazine Tab.25,100 150-600
mg mg/hari
2 mg i.m
50 mg i.v
 Rantai piperazine Trifluoperazine Tab. 1 mg, 10-15
5 mg mg/hari
 Rantai piperidin Thioridazine Tab. 50 mg, 150-600
100 mg mg/hari
2. Buthyropenone Haloperidol Tab. 0,5 5-15
mg, 1,5 mg, mg/hari
5 mg
Amp. 5 mg
3. Diphenyl-butylpiperidin Pimozide Tab 4 mg 2-4 mg

atipikal 1. Benzamide Sulpiride Tab. 200 300-600


mg mg/hari
Amp: 50
mg/ml
2. Benzixozole Risperidon Tab. 1 mg, 2-6
2mg, 3 mg mg/hari
3. Dibenzodiazepine clozapine Tab. 25 mg 25-100
dan 100 mg mg/hari

Efek samping antipsikosis


1. Sedasi dan inhibisi psikomotor ( ngantuk, psikomotr dan kognitif menurun)
2. Gangguan otonom :
 Hipotensi
 Antikolinergik/parasimpatolitik
 Mulut kering, susah miksi dan defek, hidung tersumbat, tekanan intraokuler
meningkat, mata kabur, gangguan irama jantung
3. Gangguan ekstrapiramidal
 Dystonia akut (tonus kaku, krisis okuligirik, torticollis ( leher terputar)
 Akatisia ( tidak tenang, selalu mau jalan) restless leg syndrome
 Sindrom Parkinson ( rigiditas, bradikinesia, tremor)
Bila gejala EPS muncul,berikan :
o Trihexylphenidy (THP) : 3-4 x 2 mg/hari
o Atropine sulfat : 0,5-0,75 mg/ inj i.m (sediaan: 0,25 mg/ml )
o Dipenhidramin : sediaan 10 mg/ml
4. Gangguan endokrin : amenore, ginekomastia
5. Efek samping irreversible ( tardive dyskinesia)
Gerakan berulang involunter pada lidah , wajah, mulut dan anggota gerak. Tapi jika
pasien tidur, gejala menghilang. Penanganannya : hentikan antipsikotik perlahan-
lahan dan berikan reserpine 2.5 mg/hari
6. Efek samping yang mematikan ( sindrom neuroleptic maligna)
 Hiperpireksia > 38 C
 Rigiditas
 Inkontinensia urin
 Perubahan status mental dan kesadaran
Penanganan :
 Hentikan pengobatan
 Beri perawatan suportif
 Berikan agonis dopamine ( bromokriptin, L-dopa 2 x 100 mg/hari, amantadine
200 mg/hari

Perbedaan antipsikotik tipikal dan atipikal


TIPIKAL ATIPIKAL
Mekanisme kerja Menghambat reseptor Afinitas lemah terhadap
dopamine 2 dengan afinitas dopamine 2, tetapi memiliki
yang tinggi ( mudah terjadi afinitas dalam menghambat
EPS) reseptor dopamine 4,
serotonin, histamine,
reseptor muskarinik dan
reseptor α adrenergic
efektivitas Hanya efektif untuk gejala Efektif untuk gejala (+) dan
(+) gejala (-)
CPZ dan thioridazine memiliki efek sedative kuat, cocok untuk pasien : gaduh gelisah, susah
tidur, hiperaktif, pikiran kacau
Trifluoperazine, haloperidol, flufenazine memiliki efek sedative lemah, cocok untuk pasien :
apatis, menarik diri, afek tumpul, hilang minat, hipoaktif, waham, halusinasi
Cara pemberian obat anti psikosis

Mulai dari dosis


minimal ( 2-3 hari)

Ada perubahan Tidak ada


gejala perubahan gejala

Terdapat Naikkan dosis


perubahan gejala terapi
menurumenurun

Pertahankan
Turunkan tiap 2
dosis 8-12 minggu
minggu
( stabilisasi)

Gejala hilang Dosis


pemeliharaan (3-6
bulan)

Tapering off tiap


2-4 minggu HENTIKAN
F30-F39
GANGGUAN SUASANA PERASAAN ( MOOD/AFEKTIF)

F30 EPISODE MANIK


 Afek meningkat : hipertimia
 Aktivitas motorik dan psikomotor meningkat
 Flight of idea

F31 GANGGUAN AFEKTIF BIPOLAR


 Episode manik 2 minggu samapai 5 bulan kemudian normal
 Kemudian muncul depresif selama 6 bulan
F32 EPISODE DEPRESIF
 Afek depresif
 Anhedonia : penurunan minat dan kegembiraan
 Anergy : energy berkurang
Gejala tambahan :
 Konsentrasi dan perhatian menurun
 Harga diri dan percaya diri menurun
 Rasa bersalah dan tidak berguna
 Pesimis
 Ingin bunuh diri
 Tidur dan makan terganggu

F32.0 EPISODE DEPRESIF RINGAN


 Minimal 2 dari 3 gejala utama
 Ditambah minimal 2 gejala tambahan
 Berlangsung selama minimal 2 minggu
 Disability lebih sedikit

F32.1 EPISODE DEPRESIF SEDANG


 Minimal 2 dari 3 gejala utama
 Ditambah minimal 3-4 gejala tambahan
 Berlangsung minimal 2 minggu
 Disability (+)

F32.2 EPISODE DEPRESIF BERAT TANPA GEJALA PSIKOTIK


 Terdapat 3 gejala utama
 Ditambah minimal 4 gejala tambahan
 Minimal 2 minggu, bisa kurang dari 2 minggu
 Disability (+)

F32.3 EPISODE DEPRESIF BERAT DENGAN GEJALA PSIKOTIK


 Memenuhi kriteria episode depresif berat (F32.2)
 Disertai waham, halusinasi, stupor depresif

F33 EPISODE DEPRESIF BERULANG


F34 GANGGUAN SUASANA PERASAAN MENETAP
F38 GANGGUAN SUASANA PERASAAN LAINNYA
F39 GANGGUAN SUASANA PERASAAN YTT

ANTI DEPRESI ( TIMOLEPTIK )


Obat acuan amitriptilin

penggolongan generik sediaan Dosis anjuran


 Amitriptilin
Trisiklik  Imipramine Tab. 25 mg 75-150 mg/hari
 clomipramin
Tab. 10, 25, 50, 75
Tetrasiklik maprotilin 75-150 mg/hari
mg
MAOI reversible moclobemide Tab. 150 mg 300-600 mg/hari
SSRI  sertraline Tab. 50 mg 50-100 mg/hari
 paroxetine Tab. 20 mg 20-40 mg/hari
 fluoxetine Tab. 20 mg 20-40 mg/hari
Atipikal trazodone Tab.50, 100 mg 100-200 mg/hari
Depresi terjadi karena defesiensi salah satu neurotransmitter aminergik (noreadrenalin,
serotoin, dopamine) pada sinaps neuron d SSP ( khususnya sistem limbic)

Antidepresan bekerja dengan menghambat reuptake aminergik neurotransmitter dan


menghambat penghancuran oleh enzim mono amine oxidase sehingga terjadi peningkatan
jumlah aminergik neurotransmitter

Untuk pemilihan obat sebaiknya:


1. step 1 : golongan SSRI ( paling aman untuk manula)
2. step 2 : golongan trisiklik ( dapat mengakibatkan atropine toxic syndrome)
3. step 3 : golongan tetrasiklik, atipikal, dan MAOI reversible

ANT-MANIA (MOOD STABILIZER)


Obat acuan : lithium carbonate

golongan Generic Sediaan Dosis anjuran


Mania akut  haloperidol Tab. 1,5 – 5 mg 4,5 – 15 mg/hari
 carbamazepin Tab. 200 mg 400-600 mg/hari
Profilaksis mania Lithium carbonate 250-500 mg/hari

Efek anti-mania : mengurangi dopamine receptor supersensitivity, meningkatkan cholinergic


muscarinic activity, dan menghambat cyclic AMP ( adenosine monophosphate dan
phosphoinostiides)

F40-F48
GANGGUAN NEUROTIK, SOMATOFORM, GANGGUAN STRESS

 khawatir, waspada berlebihan


 ketegangan motoric ( gelisah, sakit kepala, gemetar)
 hiperaktivitas otonom : saraf simpatis ( jantung berdebar0debar), saraf parasimpatis (
keringat dingin, BAB dan BAK

F40 GANGGUAN ANXIETAS FOBIK


 Dicetuskan oleh suatu objek yang sebenarnya tidak bahaya sehingga objek tersebut
dihindari oleh pasien.

F41 GANGGUAN ANXIETAS LAINNYA


F41.0 GANGGUAN PANIK ( ANXIETAS PAROKSISMAL EPISODE)
 Ditemukan adanya gangguan anxietas fobik ( F40 )
 Serangan terjadi beberapa kali dalam 1 bulan

F41.1 GANGGUAN CEMAS MENYELURUH


 Berlangsung tiap hari sampai beberapa bulan
 Cemas terus menerus tanpa dicetuskan oleh suatu objek ( free floating)

F41.2 GANGGUAN CAMPURAN ANXIETAS DAN DEPRESI


 Kedua-duanya tidak menonjol da nada hiperaktivitas otonomik
 Ditemukan gejala primer anxietas dan depresi
 Untuk anxietas : gejala ketegengan otonom harus ditemukan walau tidak terus
menerus

F42 GANGGUAN OBSESIF KOMPULSIF


Obsesi : pikiran, perasaan, ide, sensasi yang mengganggu
Kompulsi : perilaku yang disadari

Gejala obsesi kompulsi :


 Harus disadari ada suatu pikiran impuls/ pikiran sendiri
 Setidaknya ada satu pikiran yang berhasil dilawan
 Pikiran yang dilakukan memberi kelegaan
 Tapi pikiran tersebut terulang-ulang dan tidak menyenangkan
Gejala tersebut muncul setap hari minimal 2 minggi, menimbulkan penderitaan bagi pasien

F43 REAKSI TERHADAP STRESS BERAT DAN GANGGUAN PENYESUAIAN


F43.1 GANGGUAN STRESS PASCA TRAUMA
 Terdapat flash back/bayang-bayang yang berulang-ulang
 Terjadi dalam kurun waktu 6 bulan
 Gangguan otonomik, gangguanafek,kelainan tingkah laku

F43.2 GANGGUAN PENYESUAIAN


 Dilatarbelakangi situasi yang stressfull ( ada bukti)
 Manifestasi gangguan bervariasi : afek depresif, anxietas, campuran anxietas depresi,
tapi tidak spesifik untuk diagnosis
 Onset 1 bulan setelah kejadian stressfull dan gejala tidak bertahan > 6 bulan
 Bisa dilatarbelakangi social, pekerjaan, dll

F44 GANGGUAN DISOSIATIF ( KONVERSI )


Kehilangan sebagian/seluruh dari integrasi moral
Disosiatif muncul sebagai suatu pertahanan terhadap trauma
Gejala utama yaitu kehilangan :
 Ingatan masa lalu
 Kesadaran identitas dan penginderaan segera
 Control terhadap gerak tubuh
Berlangsung dari hari ke hari, jam ke jam

F44.0 AMNESIA DISOSIATIF (HILANG INGATAN)


 Hilang ingatan tanpa adanya gangguan mental organic

F44.1 FUGUE DISOSIATIF (HILANG IDENTITAS)


 Mirip amnesia : berjalan jauh untuk membentik identitas baru

F44.2 STUPOR DISOSIATIF (HILANG KONTAK)


 Gerakan involunter dan rangsangan dari luar (cahaya, suara, perabaan) tapi disadari

F44.3 GANGGUAN TRANS


 Hilangnya identitas diri untuk sementara dan berperilaku seakan-akan dikuasai oleh
kekuatan gaib

F44.4 GANGGUAN MOTORIK DISOSIATIF


 Ketidakmampuan menggerakkan seluruh/sebagian anggota gerak

F44.5 KONVULSI DISOSIATIF


 Mirip kejang epileptic, tapi tidak disertai lidah tergigit dan hilang kesadaran

F44.6 ANASTESIA DAN KEHILANGAN SENSORIK DISOSIATIF


 Hilangnya penginderaan yang tidak disebabkan oleh kerusakan neurologis (pura-pura
buta, tuli, hilang rasa)

F45 GANGGUAN SOMATOFORM


Ciri utama : pasien merasa ada gangguan fisik walaupun hasil pemeriksaan negative, pasien
menolak membahas hubungan keluhan dengan problem yang dialaminya (isi pikir :
hipokondria)

ANTI-ANXIETAS (MINOR TRANSQUILIZER)


Obat acuan : diazepam/chlordiazepoxide

Penggolongan generik Sediaan Dosis anjuran


Benzodiazepine  Diazepam Tab. 5 mg Oral:10-30 mg/hari
Iv/im : 2-10 mg/3-4
jam
 Lorazepam Tab. 0,5 ,1 mg, 2 mg 2-3 x 1 mg/hari
 Clobazam Tab. 10 mg 2-3 x 10 mg/hari

 alprazolam Tab. 0,25-0,5-1 mg 3 x 0.25-0.5 mg/hari

Non-benzodiazepine  buspirone Tab. 10 mg 15-30 mg/hari


 sulpiride Cap 50 mg 100-200 mg/hari
 hydroxyzine Caplet 25 mg 3 x 25 mg/hari
Tapering off (2-3 bulan prosesnya)
 efek samping :
1. sedasi (rasa mengantuk,kewaspadaan berkurang, kinerja psikomotor menurun,
kemampuan kognitif melemah.
2. Relaksasi otot (cepat lelah, rasa lemas)
3. Penghentian obat secara mendadak dapat menimbulkan gejala putus obat
(rebound phenomenom)
 Pemberian obat tidak boleh lebih dari 3 minggu
 Efek sampingn paling buruk benzodiazepine : ketergantungan/kebutuhan
 GABA pada seorang cemas menurun, sehingga diberikan obat yang meningkatkan
GABA (benzodiazepine)