You are on page 1of 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Demam thypoid merupakan salah satu penyakit infeksi endemis di Asia, Afrika, Amerika
latin, Karibia, Oceania dan jarang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa.

Demam thypoid pada masyarakat dengan standar hidup dan kebersihan rendah,cenderung
meningkat dan terjadi secara endemis. Biasanya angka kejadian tinggi pada daerah tropik
dibandingkan daerah berhawa dingin. Penyebabnya adalah kuman sallmonela thypi atau
sallmonela paratypi A, B dan C.

Penyakit typhus abdominallis sangat cepat penularanya yaitu melalui kontak dengan
seseorang yang menderita penyakit typhus, kurangnya kebersihan pada minuman dan
makanan, susu dan tempat susu yang kurang kebersihannya menjadi tempat untuk pembiakan
bakteri salmonella, pembuangan kotoran yang tak memenuhi syarat dan kondisi saniter yang
tidak sehat menjadi faktor terbesar dalam penyebaran penyakit typhus.

Dalam masyarakat, penyakit ini dikenal dengan nama thypus, tetapi didalam dunia
kedokteran disebut dengan Typoid fever atau thypus abdominalis, karena pada umumnya
kuman menyerang usus, maka usus bisa jadi luka dan menyebabkan pendarahan serta bisa
mengakibatkan kebocoran usus.

BAB II ASSESMENT Nama : Miss E T Usia : 18 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Pekerjaan : Mahasiswa Status Pasien : Rawat Inap No. MERRY .70 Ruang : Ruang Rawat Tulip Tanggal Masuk RS : 29/05/2018 Suku/Bangsa : Batak Agama : Kristen Alamat : Dusun BangunHoras Tanjung Kualuh Hilir Diagnosa Medis : Typoid Riwayat Penyakit Personal Dulu : - Riwayat Penyakit Personal Sekarang : Typoid Riwayat Penyakit Keluarga : Typoid Dokter : dr.RM : 21 – 72 .

56 Status Gizi 𝐵𝐵 𝐼𝑀𝑇 = 2 (𝑇𝐵(𝑐𝑚)) 52 = (1.000 – 11.22. N : 4.8 (Normal : 18.9) Status gizi = Gizi Normal Biokimia HB : 8.Assesment Antropometri BB = 52 kg TB = 158.000 mm3 ( normal ) Tekadan Darah : 110 / 70 mmHg Nyeri di ulu hati.0 g/dl.584)2 = 2o.2 ℃ (tinggi) Keadaan sering mual dan tampak lemas Demam naik turun Ekonomi - Dietary Makanan Junkfood Kurang mengkonsumsi air putih Tidak teratur makan .400 mm3.4 cm BBI : 52.5 . Clinic/fisik Nadi 82 x/menit (normal) RR 20 x/menit (normal) Tekadan Darah : 110 / 70 mmHg Suhu 39. N :12 – 16 ( rendah ) Leukosit : 4.

67 g Serat = 28. Tujuan Jangka Panjang : . Memberikan makanan yang tidak merangsang saluran cerna pasien.46 kal Lemak = 20. NC – 2. Sering begadang Jarang makan sayur Dietary Memiliki kebiasaan makan pasien 3x / sehari History Hasil Recall : Energi = 1450.53 g Berdasarkan assesmen gizi yang dilakukan. Mencegah terjadinya penyakit penyerta. Memberikan makanan dan cairan yang sesuai kebutuhan zat gizi pasien.79 g Protein = 50. . Mencapai berat badan ideal .8. Mencapai status gizi yang ideal . .7 Pemilihan makanan yang salah berkaitan dengan pola makan yang sembarangan ditandai dengan mengkonsumsi makanan siap saji dan jarang makan sayur.2 : Perubahan terkait nilai lab yang terkait gizi berkaitan makan tidak teratur sering begadang ditandai dengan HB nya rendah ( 8 g/dl ) NB – 1. Ny E Tdengan status gizi lebih didiagnosis menderita Typoid Diagnosis Gizi NI – 5. 53 g KH = 186.4 : Asupan serat tidak adekuat berkaitan dengan jarang makan sayuran yang ditandai dengan asupan serat yang rendah. Intervensi Gizi Tujuan Jangka Pendek : .

KH cukup . Lemak cukup . yaitu BB dan IMT Evaluasi : Perubahan Berat Badan Perubahan pola makan BB = 52 kg TB = 158. porsi kecil. Energi dan protein diberikan cukup . Mudah dicerna . sesuai kemampuan pasien untuk menerima nya. Memantau data antropometri. . dan sering diberikan .Syarat Diet : .4 cm . Memantau asupan makanan sesuai dengan kebutuhan atau tidak. Cairan dan serat cukup Bentuk Makanan : Makanan Lunak Rute Pemberian : Oral Monitoring dan Evaluasi : Monitoring : Memantau asupan makanan yang sesuai atau tidak dengan diet yang diberikan.

344 = 164.64 gr 4 .83 + 1813.174 = 294.2 = 292.6587 gr 4 Lemak = 15 % x 1813.344 SDA : 10 % x 1648.2 Suhu Tubuh : 26 % x 1123.62 Aktivitas : 20 % x 1373.22 Koreksi Tidur : 10 % x 52 x 8 jam = 41.62 = 274.032 + 1415.174 Kal Kebutuhan Zat GizI Protein = 20 % x 1813.9 x 52 kg x 24 jam = 1123.724 + 1648. 219 gr 9 KH = 65 % x 1813.6 – 1373.174 = 30.174 = 90.Perhitungan Kebutuhan Energi BMR : 0.

dan usus penyerapan (ileum). Cairan empedu Cairan empedu berwarna kuning kehijauan. Usus halus merupakan saluran berkelok-kelok yang panjangnya sekitar 6-8 meter. Berbagai macam enzim diperlukan untuk membantu proses pencernaan kimiawi ini. a. Sementara itu molekul-molekul protein dicerna menjadi molekul-molekul asam amino. Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu usus usus dua belas jari (duedenum). lebar 25 mm dengan banyak lipatan yang disebut vili atau jenjot-jenjot. Konsep Teoritis Penyakit Thypoid 1. Kimus yang berasal dari lambung mengandung molekul-molekul pati yang telah dicernakan di mulut dan lambung. Pencernaan makanan yang terjadi di usus halus lebih banyak bersifat kimiawi. Vili ini berfungsi memperluas permukaan usus halus yang berpengaruh terhadap penyerapan makanan. Getah pencernaan yang berperan di usus halus ini berupa cairan empedu. Selama di usus halus. Hati. molekul-molekul protein yang telah dicernakan di mulut dan lambung. dan tidak mengandung enzim. BAB II PEMBAHASAN A. mengandung mucin dan garam empedu yang berperan dalam pencernaan makanan. Pada usus dua belas jari terdapat muara saluran yaitu dari pankreas dan kantung empedu. Anatomi dan Fisiologi Usus Halus Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang terletak di antara lambung dan usus besar.molekul lemak yang belum dicernakan serta zat-zat lain. getah pankreas. pankreas. 86% berupa air. . molekul. usus kosong (jejenum). dan kelenjar- kelenjar yang terdapat di dalam dinding usus halus mampu menghasilkan getah pencernaan. dan semua molekul lemak dicerna menjadi gliserol dan asam lemak. Akan tetapi. dan getah usus. semua molekul pati dicernakan lebih sempurna menjadi molekul-molekul glukosa. Getah ini bercampur dengan kimus di dalam usus halus.

lemak harus bereaksi dengan empedu terlebih dahulu. Laktase.dan merangsang gerak peristaltik usus. yaitu lipase yang membantu dalam pemecahan lemak. . Getah usus Pada dinding usus halus banyak terdapat kelenjar yang mampu menghasilkan getah usus. Pankreas ini berperan sebagai kelenjar eksokrin yang menghasilkan getah pankreas ke dalam saluran pencernaan dan sebagai kelenjar endokrin yang menghasilkan hormon insulin. Maltase. teipsin membantu dalam pemecahan protein. berfungsi membantu mempercepat proses pemecahan peptida menjadi asam amino. berfungsi membantu mempercepat proses penecahan maltosa menjadi dua molekul glukosa. berfungsi membantu mempercepat proses pemecahan sukrosa menjadi galaktosa dan fruktosa. Enzim peptidase. yaitu sebelum lemak di cernakan. 3. b. Hormon ini dikeluarkan oleh sel-sel berbentuk pulau-pulau yang disebut pulau langerhans. berfungsi membantu mempercepat proses pemecahan laktosa menjadi glukosa dan galaktosa. Insulin ini berfungsi menjaga gula darah agar tetap normal dan menjaga gula darah agar tetap normal dan mencegah diabetes militus. cairan empedu berfungsi menetralkan asam klorida dalam kimus. Dalam proses pencernaan ini. Dalam pankreas terdapat tida macam enzim. Getah usus mengandung enzim-enzim sebagai berikut. 2. 4. Getah pankreas ini dari pankreas mengalir melalui saluran pankreas masuk ke usus halus. 1. Selain itu. Getah pankreas Getah pankreas dihasilkan di dalam organ pankreas. c. dan amilase membantu dalam pemecahan pati. Empedu mengalir dari hati melalui saluran empedu dan masik ke usus halus. menghentikan aktivitas pepsin pada protein. Sukrase. empedu berperan dalam proses pencernaan lemak.

Penderitanya juga beragam. sedangkan vitamin yang larut dalam air penyerapannya dilakukan oleh jonjot usus.2010). Paratyphi A.asam lemak. namun juga banyak di jumpai pada usia 30. Demam thypoid ( thypus abdominalis. Selain itu vitamin dan mineral juga diserap. terutama di perut dan usus. mulai dari usia balita. Monosakarida. selanjutnya menurut Arif Mansjoer (2003) Typus Abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari 7 hari. Penyakit ini lebih banyak menyerang pada anak usia 12-13 tahun (70-80%). yaitu Salmonella typhi. Paratyphi B.dan dewasa (Suratum dan Lusianah.2003).40 tahun (10-20%) dan di atas usia 12 atau 13 tahun. dan Paratyphi C.yakni sebanyak 5-10%. khususnya varian-varian turunannya. Kuman-kuman tersebut menyerang saluran pencernaan. Vitamin-vitamin yang larut dalam lemak. Typhus abdominalis sendiri merupakan penyakit infeksi akut yang selalu ditemukan di masyarakat (endemik) Indonesia. C. gangguan pada saluran cerna. 2. Muhammad Ardiansyah (2012) Thypus Abdominalis adalah penyakit infeksi bakteri pada usus halus menimbulkan gejala-gejala klinis yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi atau Salmonella Paratyphi A. asam amino. anak-anak. dan gliserol hasil pencernaan terakhir di usus halus mulai diabsorbsi atau diserap melalui dinding usus halus terutama di bagian jejenum dan ileum. penyerapannya bersama dengan pelarutnya. enteric fever) adalah infeksi pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang disebabkan kuman Salmonella enterika. dan gangguan kesadaran. menurut Noer Saifoellah (2001) Thypus Abdominalis adalah penyakit infeksi usus halus yang biasanya lebih ringan dan menunjukkan manifestasi klinis yang sama atau menyebabkan enteritis akut. Definisi Typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman Salmonella Typhi (Arif Mansjoer. . B.

Etiologi Etiologi Typus Abdominalis adalah Salmonella Typhi. Sampai saat ini diketahui bahwa kuman ini hanya menyerang manusia. Endotoksin salmonella typhi berperan dalam proses inflamasi lokal pada jaringan tempat kuman tersebut berkembangbiak. Salmonella Paratyphi B. Kuman ini dapat hidup baik sekali pada suhu tubuh manusia maupun suhu yang lebih rendah sedikit dan pH pertumbuhan 6-8 serta mati pada suhu 700 C maupun oleh antiseptik. Antigen V1 = Kapsul : merupakan kapsul yang meliputi tubuh kuman dan melindungi O antigen terhadap fagositosis. kuman menembus lamina probia.terdapat pada flagella dan bersifat termolabil. 3. Antigen H = Hauch (menyebar). bergerak dengan rambut getar. Bila terjadi komplikasi perdarahan dab perforasi intestinal.2003). tidak berspora. . c. masuk aliran limfe dan mencapai kelenjar limfe mesenterial dan masuk aliran darah melalui duktus torasikus. Salmonella Typhi mempunyai 3 macam antigen yaitu : a. Antigen O = Ohno Hauch = Somatik antigen ( tidak menyebar) b. limfa. sehingga terjadi demam (Arief Mansjoer.bagian lain sistem retikuloendotelial. Salmonella typhi lain dapat mencapai hti melalui sirkulasi portal dari usus. Salmonella Paratyphi A. Salmonella typhi bersarang di plak penyeri.2003). 4. Salmonella typhi dan endotoksinya merangsang sintesis dan pelepasan zat pirogen dan leukosit pada jaringan yang meradang. Samonella Paratyphi C ( Arief Mansjoer. Patofisiologi Kuman Salmonella typhi masuk ke dalam tubuh manusia melalui mulut bersamaan dengan makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh kuman. hati. Wujudnya berupa basil gram negatif. sebagian kuman dimusnahkan oleh asam lambung sebagian lagi masuk ke usus halus dan mencapai jaringan limfoid plak penyeri di ileum terminalis yang mengalami hipertrofi. dan bagian.

. Tujuan dari uji widal ini adalah tidak menentukan adanay aglutinin dalam serum klien yang di sangka menderita typhoid akibat infeksi dan salmonella typhi. uji widal tes tetap negatif pada pemeriksaan ulang walaupun biakan darag positif (Arif Mansjoer. Aglutinin O. b. 6. mual. Reaksi widal tes tunggal dengan titer antibodi O 1/320 atau titer antibodi H 1/640 menyokong diagnosis demam Thypoid pada pasien dengan gambaran klinis yang khas. epitaksis.meteorismus dan penurunan kesadaran dari ringan sampai berat. 2003). Aglutinin V1. Pada umumnya demam berangsur naik.rasa tidak enak diperut. nyeri otot. klien membuat antibody atau aglutinin yaitu : a. masa inkubasi rata-rata 2 minggu. batuk. Aglutinin H. Peningkatan titer uji widal tes 4 kali lipat selama 2-3 minggu memastikan diagnosis demam Typhoid.hepatomegali. nyeri otot. lidah yang khas (ptih. Biakan tinja positif menyokong diagnosis klinis demam Typhoid. Pada beberapa pasien. gejala yang timbul tiba-tiba atau berangsur-angsur. Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diatasi di laboratirium.Typhos = kabut).nyeri kepala. Pemeriksaan Diagnostik Biakan darah positif memastikan demam Typhoid. Pada minggu ke II gejala sudah jelas dapat berupa demam. tetapi biakan darah negatif tidak menyingkirkan demam Typhoid. c. 5. 1. anoreksia. pinngirnya hiperemi). Dengan keluhan dan gejala demam. titer O 1/100 sudah sangat mencurigakan. terutama sore dan malam hari (bersifat fenris remitont). Manifestasi Klinis Menurut Arif Mansjoer (2003). Dari ketiga aglutinin tersebut hanya O maupun H sebesar 1a/50 pada akhir minggu I sudah mencurigakan. umumnya apatis (seolah-olah berkabut. nyeri kepala. Uji widal Uji widal adalah ssuatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibody (aglutinin). kotor. ynag dibuat karena rangsangan antigen V1 (berasal dari simpanan kuman). Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella typhi terdapat dalam serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. obstipasi/diare. brakikardi. yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari tubuh kuman). yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel kuman).

pakaian. Tirah baring dengan perawatan sepenuhnya di tempat seperti makanan. Amoxcilin dan Ampisilin e. Penatalaksanaan Penatalaksanaan penyakit typhoid sampai saat ini dibagi menjadi tiga bagian (Bambang Setiyohadi. dan perlengkapan yang dipakai. 7. minuman. Diet Diet yang sesuai seperti jenis makanan padat. lunak dan cair.Sudoyo. Tiampenikol c. Psisi pasien perlu diawasi untuk mencegah dekubitus dan pneumonia ortostatik serta hygiene perorangan tetap. buang air kecil dan buang air besar akan membantu mempercepat masa penyembuhan. perlu diperhatikan dan dijaga. 2. 3. Klorampenikol b. 2006). Kotrimoksazol d. cukup kalori dan tinggi protein seperti rendah serat banyak mengkonsumsi vitamin C dan B kompleks. Dalam perawatan perlu sekali dijaga kebersihan tempat tidur. Pada penderita yang akut diberi bubur saring setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam selama 7 hari. Pemberian Antibiotik a. Idrus Alwi. yaitu : 1. Sefalosporin generasi ketiga . Istirahat dan Perawatan Tirah baring dan perawatan profesional bertujuan untuk mencegah komplikasi. mandi.Aru W.

2003). Pielonefritis dan Perinefritis. Meningitis. Komplikasi ekstraintestinal 1) Komplikasi kardiovaskular : kegagalan sirkulasi perifer (renjatan. Sindrom Gullain Barre. Psikosis. Komplikasi Intestinal 1) Perdarahan usus 2) Perforasi usus 3) Ilius paralitik b. 7) Komlikasi neuropsikiatrik : Delirium. trombositopenia. sepsis). dan Pleuritis. Spondilitis. 5) Komplikasi ginjal : Glumerulonefritis. Polyneuritis Perifer. dan tromboflebitis.komplikasi demam Typhoid dapat dibagi dalam 2 bagian yaitu : a. 2) Komplikasi darah : anemia hemolitik. . Emfisema. Kompliksi Menurut (Arief Mansjoer. atau koagulasi intra vaskular diseminata dan sindrom uremia hemolitik.miokarditis.dansindrom Katatonia. 6) Komplikasi tulang : Osteomielitis. dan Arthritis. 3) Komplikasi paru : Pneumoni. 4) Komplikasi hepar dan kandung kemih : Hepatitis dan Kolelitiasis. Periostitis. 8. trombosis. Meningismus.

Implementasi Pelaksanaan tindakan atau implementasi mencapai tujuan rencan tindakan yang telah disusun setiap tindakan yang dilakukan dan dicatat dalam pencatatan agar tindakan terhadap klien berlanjut. keterampilan yang harus perawat punya dalam melaksanakan tindakan kongnitif dan sifat psikomotor. rencana tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai kemungkinan terjadi pada tahap evaluasi adalah masalah dapat diatasi. 5. Evaluasi Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses yang menandakan seberapa jauh diagnosa gizi. Dalam melakukan tindakan menggunakan tiga tahap yaitu independen. . masalah teratasi sebagian.Secara independen adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh perawat tanpa petunjuk dan perintah dokter atau tenaga kesehatan lainnya. Evaluasi proses adalah yang dilaksanakan untuk membantu keefektifan terhadap tindakan. dependen. interdependen. Prinsip dalam melaksanakan tindakan yaitu cara pendekatan kepada klien efektif. evaluasi hasil adalah evaluasi yang dilakukan pada akhir tindakan keperawatan secara keseluruhan sesuai dengan waktu yang ada pada tujuan. dependen adalah tindakan yang sehubungan dengan tindakan pelaksanaan rencana tindakan medis dan interdependen adalah tindakan yang menjelaskan suatu kegiatan yang memerlukan suatu kerjasama dengan tenaga kesehatan lainnya. Sedangkan. misalnya tenaga sosial. Evaluasi dilakukan yaitu evaluasi proses dan evaluasi hasil. masalah belum teratasi atau timbul masalah yang baru. teknik komunikasi terapi serta penjelasan untuk setiap tindakan yang diberikan kepada klien. ahli gizi dan dokter.

hepatomegali. yaitu Salmonella typhi. terutama sore hari dan malam hari.kritikal. Dengan keluhan dan gejala demam. Paratyphi A. Dan pada Minggu II gejala sudah jelas dapat berupa demam. Tanda dan gejalah :Minggu I Pada umumnya demam berangsur naik. . terutama di perut dan usus. Saran Dalam penyusun makalah ini sangat jauh dari penyempurnaan maka saran. Kuman-kuman tersebut menyerang saluran pencernaan. pinggirnya hiperemi). dan Paratyphi C. nyeri kepala. kotor. perasaan tidak enak di perut. anorexia dan mual. B. bradikardi. meteorismus. penurunan kesadaran. batuk. enteric fever) adalah infeksi pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang disebabkan kuman Salmonella enterika. Paratyphi B.idea dari mahasiswa atau mahasiswi yang bersifat menambah dan membangun maka penulis sangat mengharapkan demi penyempurnaan makalah ini. BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Demam thypoid ( thypus abdominalis. khususnya varian-varian turunannya. lidah yang khas (putih. nyeri otot. epitaksis. obstipasi / diare.

DAFTAR PUSTAKA http://kandafy.com/2017/01/makalah-thypoid.blogspot.html?m=1 .