You are on page 1of 214

i

Panduan
Advokasi
Pertanian
Keluarga

PENULIS :
Gunawan

PENYUNTING :
Tim Advokasi KNPK

PEMERIKSA AKSARA :
Tim IHCS

PENERBIT :
IHCS
Komite Nasional Pertanian
Keluarga Indonesia

2017
ii Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Daftar Isi

Daftar Isi > iii

Pengantar Penulis > v

Pengantar > ix
Komite Nasional Pertanian Keluarga Indonesia

Bab I. > 3
Advokasi: Dari Nasional ke Daerah

Bab II. > 17
Meredistribusikan Sumber Daya Produktif

Bab III. > 43
Konstitusionalisme Agraria

Bab IV. > 67
Advokasi Kebijakan di Daerah

Bab V. > 131
Bantuan Hukum dan Paralegal

Daftar Pustaka > 135

Lampiran > 139

n Daftar Isi iii
iv Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Pengantar Penulis

Salam Demokrasi

B
agaimana Pemerintah dan Pemda dapat mereali-
sasikan kewajibannya dalam memberikan jamin-
an luas lahan pertanian bagi petani gurem dan
petani penggarap sebagaimana perintah Undang-
undang No. 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan
dan Pemberdayaan Petani, sangat tergantung pada
kemampuan Pemerintah dan Pemerintah Daerah
dalam melakukan penetapan kawasan perdesaan dan
kawasan pertanian serta menyediakan tanah negara
bebas, sebagaimana diatur dalam Undang-undang
tentang Penataan Ruang dan Undang-undang Per-
lindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.
Dengan memperhatikan sejumlah undang-
undang tersebut di atas, maka ada tiga temuan. Perta-
ma, terkait rencana umum penggunaan tanah; Kedua,
perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan
sebagai pelaksanaan dari pembaruan agraria; Ketiga,
hak petani ada sejak rencana penggunaan tanah, se-
hingga bukan sekedar penerima; Keempat, penggu-
naan kata lahan menggantikan kata tanah.

*****
n Pengantar Penulis v
Penetapan sebuah kawasan, dilakukan melalui rencana tata
ruang sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 26
Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Menurut undang-undang
tersebut, penataan ruang kawasan perdesaan diarahkan untuk.
pertahanan kawasan lahan abadi pertanian pangan, untuk keta-
hanan pangan, dan berbentuk kawasan agropolitan.
Kawasan Agropolitan di dalam Undang-undang Nomor
18 Tahun 2012 dikenal dengan Sentra Produksi Pangan. Sentra
produksi pangan dan pengembangan lahan produktif bisa diwu-
judkan melalui implementasi Undang-undang Nomor 26 Tahun
2007 tentang Penataan Ruang, Undang-undang Nomor 41 Tahun
2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
dan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan
dan Pemberdayaan Petani.
Undang-undang Penataan Ruang telah mengamanatkan para
pembuat undang-undang untuk membentuk undang-undang
guna mengatur kawasan lahan abadi pertanian pangan. Maka
kemudian disusunlah Undang-undang Nomor 41 Tahun 2009
tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, di
mana undang-undang tersebut memandatkan perlunya undang-
undang perlindungan dan pemberdayaan petani. Hingga kemu-
dian lahirlah undang-undang tersebut.
Dari undang-undang seperti tersebut di atas, terlihat bahwa
mandatnya adalah penataan kawasan, perlindungan kawasan, ke-
mudahaan petani mempergunakan tanah negara bebas di dalam
kawasan pertanian. Pengaturan jaminan luas lahan pertanian
tidak lagi menata dan melindungi kawasan, akan tetapi bagaima-
na merealiasikan jaminan luas lahan pertanian bagi petani.

****

vi Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Terkait kewajiban negara mengupayakan pertanahan bisa
untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, Mahkamah Konstitusi
dalam perkara pengujian Undang-undang Penanaman Modal,
berpendapat, untuk melindungi tujuan sebesar-besar kemak-
muran rakyat, negara melakukan pendistribusian kembali dan
pembatasan luas kepemilikan tanah pertanian.
Dalam hal pendistribusian kembali tanah, Mahkamah Konsti-
tusi dalam putusan pengujian Undang-undang Perlindungan dan
Pemberdayaan petani berpendapat bahwa redistribusi tanah ne-
gara harus memprioritaskan petani yang benar-benar tidak punya
tanah.
Maka yang diperlukan adalah inventarisasi petani yang ber-
hak mendapatkan redistribusi tanah, dan inventarisasi tanah ne-
gara bebas yang bisa dipergunakan oleh petani. Undang-undang
Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, telah mengatur siapa
saja petani yang mendapatkan perlindungan dan pemberdayaan
oleh Pemerintah dan Pemda, termasuk diberikan jaminan luas lahan
pertanian, yang menjadi masalah adalah dalam hal inventarisasi
tanah negara bebas.
Inventarisasi semestinya dilakukan di seluruh wilayah Indone-
sia, bukan dalam pengertian statis mencari tanah negara bebas
dalam arti belum dilekati hak atas tanah, akan tetapi bagaimana
menemukan, memperbanyak lokasi dan memperluas tanah ne-
gara bebas yang bisa diredistribusikan kepada petani.
Di dalam Undang-undang Perlindungan Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan dan Undang-undang Perlindungan dan
Pemberdayaan Petani, telah disebutkan bahwa perluasan lahan
pertanian dapat berasal dari tanah bekas kawasan hutan, tanah
terlantar dan konsolidasi tanah.
Oleh karenanya tanah negara bebas harus diartikan sebagai
tanah obyek landreform (reforma agraria) yang bersumber dari

n Pengantar Penulis vii
pelepasan kawasan hutan, tanah negara bekas tanah terlantar,
tanah negara bekas HGU dan HGB yang tidak diperpanjang, dan
lain-lain.
Keterkaitannya dengan petani, maka kawasan pertanian ber-
ada di dalam kawasan perdesaan di mana petani hidup dan be-
kerja, sehingga harus dilepaskan dari kawasan kehutanan, dan hal
ini seiring dengan Undang-undang Penataan Ruang yang menye-
butkan bahwa desa adalah pertahanan bagi lahan abadi perta-
nian pangan.
Selain di dalam Undang-undang Perlindungan Lahan Per-
tanian Pangan Berkelanjutan, disebutkan bahwa Musyawarah
Petani adalah dasar dalam perencanaan lahan pertanian pangan
berkelanjutan dan inventarisasinya berprinsip partipatoris.

*****

Nah, selamat membaca dan selamat berjuang untuk rakyat
dan demi rakyat.

Merdeka 100%

Bogor, Juli 2017

Gunawan
Penulis

viii Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Pengantar
Komite Nasional Pertanian Keluarga Indonesia

P
ada tahun 2008, prakarsa Tahun Internasional Per-
tanian Keluarga diluncurkan oleh World Rural Fo-
rum (WRF) sebuah NGO Internasional berbasis di
kota Basque, Spanyol dimana mereka melakukan kam-
panye global mendapatkan dukungan dengan bekerja
sama dengan lebih dari 350 organisasi diseluruh dunia.
Pada tanggal 5-7 Oktober 2011, sebuah Final Declara-
tion of Family Farming World Conference menetapkan
tahun 2014 sebagai Tahun Internasional Pertanian Ke-
luarga (International Year of Family Farming/IYFF), yang
mengakui pentingnya peran Pertanian Keluarga dalam
mengentaskan kemiskinan dunia. FAO secara resmi
meluncurkan Tahun Pertanian Keluarga (International
Year Family Farming) pada tanggal 22 November 2013
di kota New York, Amerika Serikat.
Pada saat ini, sekitar 3 miliar penduduk dunia ting-
gal di daerah pedesaan. Mereka kebanyakan berasal
dari keluarga-keluarga yang melakukan kegiatan per-
tanian, disebut pertanian keluarga (Family Farming),
di mana suami dan/atau istri bersama anggota rumah
tangga terlibat secara langsung dalam kegiatan usaha
tani lain (termasuk beternak, memelihara/menangkap
ikan, mengumpulkan hasil hutan non kayu dan lain-
lain), dan kegiatan tersebut menjadi sumber utama
penghasilan keluarga. Setengah dari jumlah itu, sekitar
n Pengantar Komite Nasional Pertanian Keluarga Indonesia ix
1,5 miliar perempuan dan laki-laki petani hidup dari lahan kecil
kurang dari 2 hektar, 410 juta orang mengumpulkan hasil hutan
dan padang rumput, sementara 100-200 juta orang menjadi
penggembala ternak, 100 juta orang berprofesi sebagai nelayan
kecil, serta 370 juta lainnya merupakan kelompok masyarakat
adat yang sebagian besar bertani. Selain itu, masih ada 800 juta
orang bercocok tanam di perkotaan. Keluarga-keluarga petani kecil
itu terbatas aksesnya ke lahan dan permodalan, serta teknologi
untuk menjadikan pertanian sebagai mata pencaharian yang
bernilai ekonomi dan bermartabat.
Itulah gambaran penduduk dunia yang melakukan pertanian
keluarga. Pertanian Keluarga sesungguhnya menghadirkan nilai
strategis, karena pertanian keluarga memiliki fungsi-fungsi ekono-
mis, sosial, budaya, lingkungan, dan kewilayahan (teritori). Baik
perempuan maupun laki-laki yang terlibat dalam pertanian ke-
luarga menghasilkan 70% pangan dunia. Pertanian keluarga dan
pertanian skala kecil sangat terkait dengan keamanan pangan
dunia, menjaga produk makanan tradisional, merupakan basis
produksi pangan yang berkelanjutan, berupaya mencapai ke-
tahanan dan kedaulatan pangan, pengelolaan lingkungan/lahan
dan keanekaragaman hayatinya secara berkelanjutan, meningkat-
kan ekonomi lokal, bila dikombinasikan dengan kebijakan khu-
sus yang ditujukan untuk perlindungan sosial dan kesejahteraan
masyarakat serta menjadi basis pelestarian warisan sosial-budaya
yang penting dari bangsa-bangsa dan komunitas pedesaan.
Oleh karena itu, tujuan dasar dari Tahun Internasional Pertani-
an Keluarga (IYFF) adalah membantu mengenali dan mendukung
kontribusi pertanian keluarga dan pertanian petani kecil dalam
memberantas kelaparan, mengurangi kemiskinan pedesaan,
mencapai ketahanan dan kedaulatan pangan melalui produksi
berkelanjutan dan pembangunan berkelanjutan di daerah pede-
saan. Sedangkan Tujuan umum pertanian keluarga adalah Untuk
mengangkat profil pertanian keluarga dan petani kecil bahwa

x Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
peran penting mereka sangat besar terhadap pengurangan ke-
laparan dan kemiskinan, berkontribusi terhadap pangan dan gizi
yang sehat terhadap masyarakat, meningkatkan penghidupan,
penerapan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan mela-
lui praktek-praktek pertanian yang berkelanjutan.
Keluarga petani atau rumah tangga petani kecil di seluruh dunia
sangat dipengaruhi oleh krisis pangan yang berkaitan dengan krisis
keuangan, bahan bakar, dan perubahan iklim. Banyak kebijakan
publik untuk mengatasi krisis tersebut tidak tanggap terhadap
keadaan terkini, serta kebutuhan petani kecil dan keluarganya.
Banyak pula kebijakan organisasi antar pemerintah dan lembaga
keuangan internasional yang mengabaikan atau bahkan merugi-
kan pertanian keluarga. Pencaplokan lahan menjadi ancaman
terbesar bagi pertanian keluarga dan produksi pangan secara
berkelanjutan. Banyak pertanian keluarga, termasuk petani kecil,
nelayan kecil/tradisional, masyarakat adat, dan penggembala, ter-
ampas asetnya melalui “pengambil alihan” (akuisisi) lahan-lahan
atau daerah tangkapan mereka untuk dijadikan perkebunan tana-
man ekspor untuk industri dan tanaman pangan atau dijadikan
kawasan komersial. Selain itu, pertanian keluarga berskala kecil
ini mengalami keterbatasan akses ke pembiayaan dan pasar, serta
memiliki daya tawar yang lemah atas harga-harga produk mereka.
Sementara itu, perlindungan dan pemberdayaan keluarga-keluarga
petani kecil masih terbatas dalam implementasinya.
Perempuan petani memegang peran penting dalam produksi
dan penyediaan pangan bagi keluarga, menjaga lingkungan dan
tradisi, serta menerapkan teknik-teknik pertanian yang rendah input
kimia sintetis namun efisien, bahkan banyak perempuan yang telah
melakukan praktik pertanian organik/alami. Para perempuan ber-
ada di depan dalam upaya pelestarian dan pemanfaatan sum-
berdaya genetika, mulai dari seleksi benih, panen, penyimpanan,
dan sebagainya. Namun, sumbangsih perempuan sering tidak
diperhitungkan, banyak kebijakan dan program pertanian tidak

n Pengantar Komite Nasional Pertanian Keluarga Indonesia xi
sensitif terhadap kebutuhan perempuan petani. Sementara mere-
ka mengalami keterbatasan akses dan kendali atas lahan, akses
pasar, pendidikan, pembiayaan, dan suara politik mereka dalam
organisasi serta badan-badan pemerintah. Mereka juga meng-
hadapi diskriminasi gender dalam rumah tangga dan masyarakat.
Faktor-faktor tersebut mengurangi kemampuan perempuan un-
tuk berkontribusi kepada dan mengambil manfaat dari program
pembangunan pertanian.
Para generasi muda di pertanian juga berperan sangat penting
bagi keberlanjutan pertanian di seluruh dunia. Namun pemuda
petani juga memiliki keterbatasan dalam dukungan ekonomi
dan pendidikan yang dapat memotivasi mereka agar memajukan
pertanian di desa. Berbagai keterbatasan itu membuat pertanian
tidak menarik, sehingga pemuda lebih memilih meninggalkan
desa tanpa menyadari pentingnya melanjutkan, menciptakan dan
menghasilkan kehidupan di lingkungan pertanian mereka sendiri
dengan penuh martabat.
Melalui buku Panduan Advokasi Pertanian Keluarga ini, di-
harapkan para petani yang terorganisir melalui kelompok-kelom-
pok tani, asosiasi, serikat dan koperasi pertanian dapat bekerja
sama dengan pemerintah pemerintah daerah dan nasional dan
organisasi masyarakat sipil lainnya suntuk lebih mempromosikan
tindakan yang menguntungkan petani keluarga. Ada tiga jalur
yang dapat dilakukan, yaitu:
1. Dialog Publik dalam proses pengambilan keputusan kebijakan.
2. Identifikasi, dokumentasi dan berbagi pelajaran yang dipela-
jari dan pengalaman sukses dari kebijakan pertanian pro-
keluarga petani kecil yang ada di tingkat lokal dan nasional
dan atau tingkat lainnya untuk memanfaatkan pengetahuan
yang relevan tentang pertanian keluarga.
3. Komunikasi dan advokasi.

xii Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Dengan demikian, buku Panduan ini menjadi salah satu in-
strumen praxis yang dapat mempromosikan tindakan kolektif
antar kekuatan jaringan sosial masyarakat sipil untuk menjalan-
kan prioritas agenda pertanian keluarga di Indonesia, yakni : (a).
Pengakuan pertanian keluarga, khususnya perempuan, (b). Hak
atas tanah, (c). Penerapan sistem pertanian atau agroekologi yang
berkelanjutan, (d). Meningkatnya kekuatan pasar yang lebih ber-
pihak pada petani kecil, (e). Meningkatnya kapasitas petani dalam
proses kebijakan publik melalui partisipasi dalam pengambilan
keputusan, (f ). Terpenting adalah menarik minat pemuda tani ke
pertanian

Selamat Membaca...

Malang, 01 Juli 2017

Muhammad Nur Uddin
Koordinator Nasional Konsorsium
Komite Nasional Pertanian Keluarga (KNPK) Indonesia

n Pengantar Komite Nasional Pertanian Keluarga Indonesia xiii
xiv Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Ba b. 1

Advokasi :
Dari Nasional
ke Daerah

1
2 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Ba b. 1
Advokasi: Dari Nasional
ke Daerah

1. Beberapa Capaian Pembaruan Hukum
di Level Nasional

S
ebagai upaya pemajuan dan pembelaan hak atas
pangan, hak asasi petani, dan hak-hak nelayan,
IHCS bersama koalisi organisasi massa telah men-
dorong pergantian Undang-undang Nomor 7 Tahun
1996 tentang Pangan dan Undang-undang Nomor 27
Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil serta mendorong RUU Perlindungan
dan Pemberdayaan Petani melalui advokasi program
legislasi nasional (prolegnas) 2010-2014.
Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang
Pangan sebagai pengganti Undang-undang Nomor 7
Tahun 1996 tentang Pangan, undang-undang terse-
but telah mengakomodir tuntutan masyarakat mela-
lui IHCS dan koalisi ormas terkait hak atas pangan, ke-
daulatan pangan, bantuan pangan dan kelembagaan
pangan. Namun sebagai catatan penting, Undang-un-
dang tersebut masih tidak merujuk pada Undang-un-
dang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan Inter-
national Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights
n Bab. I >> ADVOKASI: Dari Nasional ke Daerah 3
(Kovenan Internasional Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya). Se-
hingga tidak jelas standar dan indikator hak atas pangan di dalam
undang-undang tersebut.
Untuk itulah dalam upaya memberikan jaminan pengaturan
Hak atas Pangan, IHCS meminta penafsiran Mahkamah Konstitusi
melalui permohonan uji materi Undang-undang Pangan, agar
pengertian hak atas pangan merujuk kepada kovenan. Meski
tidak merujuk pada Kovenan, karena Undang-Undang Pangan
mengadopsi hak atas pangan, Undang-undang Pangan mengenal
serangkaian hak yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab
Pemerintah dan Pemerintah Daerah (Pemda).
Undang-undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan telah
memberikan tanggung jawab dan kewajiban kepada Pemerintah/
Pemda terkait kebijakan pangan dan memberi ruang partisipasi
masyarakat. Tugas Pemerintah/Pemda dalam kebijakan pangan
amatlah luas, antara lain: ketersediaan pangan, cadangan pangan,
distribusi pangan, harga pangan, konsumsi pangan, melindungi
produsen pangan, keamanan pangan dan lain-lain.
RUU Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, setelah disah-
kan pada tahun 2013, undang-undang ini mengenal beberapa
hak petani dan kewajiban Pemerintah dan Pemerintah Daerah.
Namun hak petani yang dijamin tidaklah utuh, berbeda dengan
naskah Deklarasi Hak Asasi Petani yang disusun oleh koalisi ormas
sejak 2001 silam. Oleh karenanya dalam rangka memberikan jami-
nan kepastian hukum kepemilikan tanah untuk petani dan jami-
nan hukum kebebasan petani membentuk kelembagaan petani,
maka pasal-pasal terkait di ujimaterikan ke Mahmakah Konstitusi.
Undang-undang Nomor 19 tahun 2013 tentang Perlin-
dungan dan Pemberdayaan Petani banyak mengatur tanggung
jawab dan kewajiban Pemerintah/Pemda, antara lain jaminan
ketersediaan lahan, ganti kerugian gagal panen, asuransi perta-

4 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
nian, dukungan keuangan, menyelenggarakan pendidikan dan
pelatihan kepada Petani dan lain-lain. Kewajiban Pemerintah/
Pemda untuk memberikan jaminan ketersediaan lahan pertanian
dengan memberikan kemudahan bagi petani kecil dan petani tak
bertanah untuk mendapatkan akses tanah Negara, mengharus-
kan Pemerintah Daerah untuk terlebih dahulu menetapkan dan
melindungi kawasan perdesaan sebagai pertahanan lahan abadi
pertanian pangan dan kawasan pertanian pangan sebagaimana
diatur dalam Undang-undang No. 6 tahun 2007 tentang Penataan
Ruang dan Undang-undang No. 41 Tahun. 2009 tentang Perlind-
ungan Pertanian Pangan Berkelanjutan.
Di dalam Undang-undang No. 1 Tahun 2014 tentang Pengelo-
laan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau kecil diatur pula tanggung
jawab Pemda dan partisipasi masyarakat dalam menentukan zo-
nasi perairan pesisir yang akan membawa dampak bahan pangan
khususnya yang bersumber dari perikanan. Undang-undang
tersebut adalah undang-undang perubahan Undang-undang No-
mor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau
Kecil, yang mana sebelumnya IHCS bersama koalisi ormas meng-
gugat undang-undang tersebut di Mahkamah Konstitusi dan me-
nyusun Naskah Akademik dan RUU Perubahannya.
Memang dalam kesehariannya masyarakat secara mandiri
telah mengembangkan pola pertanian, pola perikanan dan pola
pangannya sendiri. Namun, bagaimanapun juga ternyata memer-
lukan peran Pemerintah dan Pemda karena banyak persoalan per-
tanian, perikanan dan pangan diatur oleh Pemerintah dan Pem-
da. Oleh karenanya masyarakat khususnya organisasi-organisasi
masyarakat pembela hak atas pangan, hak petani dan hak nelayan
haruslah menyadari apa yang menjadi tanggung jawab dan ke-
wajiban Pemerintah dan Pemda serta apa yang menjadi haknya
nelayan, petani dan masyarakat yang bekerja di pedesaan.

n Bab. I >> ADVOKASI: Dari Nasional ke Daerah 5
Melihat adanya hak atas pangan, hak nelayan dan hak petani
yang realisasinya menjadi tanggungjawab dan kewajiban Peme-
rintah dan Pemda, IHCS memandang perlu kegiatan yang bisa
dikorelasikan dengan kegiatan pelatihan paralegal dan peman-
tauan serta penanganan kasus di daerah, yaitu advokasi kebijakan
publik di tingkat daerah

2. Keperluan Advokasi di Daerah
Dalam perkembangannya, telah muncul sejumlah peraturan
perundang-undangan terkait kewajiban dan tanggung jawab
Pemerintah Daerah dan hak rakyat terkait hak atas pangan,
hak petani, dan hak nelayan serta memberi ruang partisipasi
masyarakat.
Selama ini IHCS bekerjasama dengan berbagai organisasi
masyarakat telah bekerja di tingkat daerah untuk melakukan ker-
ja bantuan hukum, pendidikan hukum (paralegal), memfasilitasi
musyawarah petani dan investigasi, monitoring serta riset di be-
berapa daerah seperti di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Riau,
Jambi, Lampung, Banten, Jawa Barat, DIY, Jawa Timur, Kalimantan
Tengah, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Se-
latan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Maluku,
dan Papua. Kerja-kerja tersebut di dedikasikan untuk pemajuan
dan pembelaan hak atas pangan, hak nelayan, dan hak petani dan
masyarakat yang bekerja di Pedesaan.
Dengan pengalaman melakukan kerja pembaruan hukum di
level nasional dan pengalaman advokasi di level daerah, menja-
di penting organisasi masyarakat mendorong kebijakan di level
daerah berdasarkan mandat undang-undang terkait. Kerja-kerja
ini mensyaratkan dua hal: Pertama. Pemahaman yang baik di
kalangan organisasi masyarakat dan Pemerintah Daerah tentang
hak atas pangan, hak nelayan, hak petani dan hak masyarakat
6 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
nsyaratkan yang
Kerja-kerja inibekerja
dua di pedesaan;
mensyaratkan
hal: Pertama. Kedua.
dua hal:
Pemahaman Adanya
Pertama.
yang diinisiasi
Pemahaman
baik kalanganpengaturan
yang baik didikalangan
organisasi masyarakat
akat dan Pemerintah dan
Daerah
daerah tentang Pemerintah Daerah
tentang hak atas
perlindungan tentang
danpangan, hak atas
hak nelayan,
pemenuhan pangan,
hak atas hak nelayan,
pangan,
ak hak petani dan
masyarakat hak
yang masyarakat
bekerja yang bekerja
di pedesaan; Kedua.diAdanya
pedesaan; Kedua. Adanya inisiasi
inisiasi
rah hakperlindungan
pengaturan
tentang nelayan,
di daerahhak petani
tentang
dan dan hak masyarakat
perlindungan
pemenuhan hakdan yang bekerja
ataspemenuhan
pangan, di pede-
hak atas
hak pangan, hak
nelayan,
dan saan.
hak petaniyang
hak masyarakat dan hak masyarakat
bekerja yang bekerja di pedesaan.
di pedesaan.
Begitu perlu dan mendesaknya perlindungan dan pemenuhan
Begitu perlu
endesaknya dan mendesaknya
perlindungan perlindungan
dan pemenuhan dan pemenuhan
hak-hak hak-hak tersebut di atas
tersebut di atas
iabagi hak-hak
rakyat
setidaknya dapattersebut
Indonesia di situasi
setidaknya
dilihat dari atas bagi
dapat rakyat
dilihat
dalam Indonesia
dari situasi
statistik setidaknya
dalam
berikut: statistik dapat
berikut:
dilihat dari situasi dalam statistik berikut:
Per September 2013 Per September
Per Maret2013
2014 Per Maret 2014
Perkotaan PedesaanPerkotaan
PerkotaanPedesaan
PedesaanPerkotaan Pedesaan
nduduk Jumlah penduduk
miskin
10.634.470 17.919.46010.634.470
10.50720017.919.460 10.507200
17.772.810 17.772.810
Persentase
miskin penduduk
8,52% miskin
14,42% 8,52% 8,34% 14,42% 14,17% 8,34% 14,17%

Sumber:
Sumber: Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik (BPS)
(BPS)

emiskinan Persentase
yang masih kemiskinan
tinggi diyang masihditinggi
pedesaan di pedesaan
Indonesia membuka di Indonesia membuka
pencermatan
dap Persentase kemiskinan yang masih tinggi di pedesaan dibeberapa
terhadap
dampak kemiskinan dampak
pedesaan. kemiskinan
Untuk pedesaan.
menyebut Untuk
beberapa menyebut
hal In- hal
akibat kemiskinan
pedesaan ini terhadap pedesaan
masalah ini terhadap
urbanisasi, masalah
berubahnya
donesia membuka pencermatan terhadap dampak kemiskinan urbanisasi,
pedesaan berubahnya pedesaan
menjadi lapangan
kompetisi kompetisi untuk
untuk komersialiasi komersialiasi
dan monopoli dan monopoli
penguasaan sumber penguasaan sumber
daya alam,
a ekosistem,pedesaan.
rusaknya Untuk
menurunnya menyebut
ekosistem,
kualitas menurunnya
air, dan lainbeberapa hal dan
kualitas air,
sebagainya. akibat kemiskinan
lain sebagainya.
Pertanyaan besar terkait kemiskinan pedesaan ini
pedesaan ini terhadap masalah urbanisasi, berubahnya pedesaan
besar terkait kemiskinan pedesaan ini adalah apakah adalah
kemiskinan apakah
ini kemiskinan ini
anmerupakan
kebijakan, kegagalan
atau tidakkebijakan, atau tidak adanya
adanya perlindungan hak-hak perlindungan
dasar secarahak-hak dasar secara
mahnya
menjadi
substantif,
peranatau
lapangan
lemahnya
negara.
kompetisi
peran
Bisa jadi
untukjadi
negara. Bisaterletak
penjelasannya
komersialiasi
penjelasannya
dan monopoli
pada paduanterletak pada paduan
dari
ut. Namun, penguasaan
masalah tersebut.
disadari sumber
Namun,
bahwa daya alam,
disadari
masyarakat rusaknya
bahwa
perlu ekosistem,
masyarakat
memecahkan perlu menurunnya
masalah memecahkan masalah
n mereka sendiri
perlu melindungi dan perlu melindungi
penghidupan mereka
kualitas air, dan lain sebagainya. penghidupan
sendiri. mereka
Dengan sendiri.
jumlah Dengan jumlah
penduduk
240 sekitar 240
juta, tidaklah juta, semua
mungkin tidaklahsisimungkin
kehidupan semua sisi kehidupan masyarakat
masyarakat
hdiselenggarakan
pemerintah dan Pertanyaan
oleh besar dan
pemerintah
birokrasi. terkait kemiskinan pedesaan ini adalah
birokrasi.
pedesaan, apakah
Masyarakat
dengankemiskinan
pedesaan,
ini, perluini merupakan
dengan ini, kegagalan
mendapatkan perlu kebijakan, perlindungan
mendapatkan
perlindungan atau
anakonstitusional
mereka dapat dimana
terlibatmereka
langsungdapat
dalamterlibat langsung
mengupayakan dalam mengupayakan
perbaikan
tidak adanya perlindungan hak-hak dasar secara substantif, atau perbaikan
penghidupan
ka. Juga, pembaruan mereka.hukumJuga, yang
pembaruan hukum yang dan
sudah berlangsung, sudah berlangsung, dan masih
masih
diarahkan lemahnya
diupayakan, padaperlu
upaha peran
diarahkan negara.
perwujudan Bisa jadi
padahak-hak
upaha penjelasannya
perwujudan
masyarakat hak-hak
ini. Dalam terletak pada
masyarakat ini. Dalam
hal ini,
ndasi beberapa
telah pondasi
didirikan, telah
sebagaimana didirikan,
berikut: sebagaimana berikut:
paduan dari masalah tersebut. Namun, disadari bahwa masyarakat
perlu
ah1. Konstitusi
Putusan memecahkan
Mahkamah masalah
Konstitusi
terkait perlindungan terkait
dan
mereka sendiri
perlindungan
pemajuan dan
hak-hak
dan perlu melindungi
pemajuan
masyarakat hak-hak masyarakat
pedesaan:penghidupan mereka sendiri. Dengan jumlah penduduk sekitar
mah- Konstitusi
Putusan Mahkamah
240dalam Konstitusi
juta, perkara pegujian
tidaklah dalam
mungkin perkara pegujian
Undang-undang
semua sisiNo.25 Undang-undang
Tahun 2007
kehidupan No.25 Tahun
masyarakat di- 2007
tentang Penanaman Modal;
man Modal;
mah selenggarakan
- Konstitusi
Putusan Mahkamah olehpegujian
dalam perkara pemerintah
Konstitusi dalam dan birokrasi.
perkara
Undang-undang pegujian Undang-undang
No. 27 Tahun No. 27 Tahun
2007 tentang
layah Pesisir Wilayah Pesisir
dan Pulau-pulau Kecil; dan Pulau-pulau Kecil;
mah - Konstitusi
n Bab.
Putusan I >> ADVOKASI:
Mahkamah
dalam perkara Dari Nasional
Konstitusi
pegujiandalam ke Daerahpegujian
perkara
Undang-undang Undang-undang
No. 18 Tahun No. 718 Tahun
2004 tentang Perkebunan;
rkebunan;
mah- Konstitusi
Putusan dalam
Mahkamah Konstitusi
perkara pegujiandalam perkara pegujian
Undang-undang No 19 Undang-undang
Tahun 2004 No 19 Tahun 2004
tentangPemerintah
an Peraturan Penetapan Pengganti
Peraturan Undang-undang
Pemerintah Pengganti
NomorUndang-undang
1 Tahun 2004 Nomor 1 Tahun 2004
Masyarakat pedesaan, dengan ini, perlu mendapatkan per-
lindungan konstitusional dimana mereka dapat terlibat langsung
dalam mengupayakan perbaikan penghidupan mereka. Juga,
pembaruan hukum yang sudah berlangsung, dan masih diupaya-
kan, perlu diarahkan pada upaya perwujudan hak-hak masyarakat
ini. Dalam hal ini, beberapa pondasi telah didirikan, sebagaimana
berikut:

1. Putusan Mahkamah Konstitusi terkait perlindungan dan
pemajuan hak-hak masyarakat pedesaan:
-
Putusan Mahkamah Konstitusi dalam perkara pengujian
Undang-undang No.25 Tahun 2007 tentang Penanaman
Modal;
- Putusan Mahkamah Konstitusi dalam perkara pengujian
Undang-undang No. 27 Tahun 2007 tentang Wilayah Pe-
sisir dan Pulau-pulau Kecil;
- Putusan Mahkamah Konstitusi dalam perkara pengujian
Undang-undang No. 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan;
- Putusan Mahkamah Konstitusi dalam perkara pengujian
Undang-undang No 19 Tahun 2004 tentang Penetapan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor
1 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-undang
Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Menjadi
Undang-undang;
- Putusan Mahkamah Konstitusi dalam perkara pengujian
Undang-undang No. 21 Tahun 2002 tentang Minyak dan
Gas Bumi
- Putusan Mahkamah Konstitusi dalam perkara pengujian
Undang-undang No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budi-
daya Tanaman
- Putusan Mahkamah Konstitusi dalam perkara pengujian

8 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Undang-undang No. 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan
dan Pemberdayaan Petani
- Putusan Mahkamah Konstitusi dalam perkara pengujian
Undang-undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan
- Putusan Mahkamah Konstitusi dalam perkara pengujian
Undang-undang No. 4 Tahun 2009 tentang pertambang-
an Mineral dan Batu Bara
- Putusan Mahkamah Konstitusi dalam perkara pengujian
Undang-undang N0. 39 tahun 2014 tentang Perkebunan

2. Peraturan perundangan terkait perlindungan dan pema-
juan hak-hak masyarakat pedesaan:
- Undang-undang tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok
Agraria;
- Undang-undang tentang Perlindungan dan Pemberdayaan
Petani;
- Undang-undang tentang Pangan;
- Undang-undang tentang Desa;
- Undang-undang tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil;
- Undang-undang tentang Pertambangan Mineral dan
Batu Bara;
- Undang-undang tentang Pemerintah Daerah;
- Undang-undang tentang Pengesahan Kovenan Inter-
nasional Hak-hak Ekonomi, Sosial, Budaya;
- Undang-undang tentang Pengesahan Kovenan Inter-
nasional Hak-hak Hak Sipil dan Politik;
- Undang-undang tentang Perikanan;
- Undang-undang tentang Sistem Budidaya Tanaman;
- Undang-undang tentang Perkebunan;
- Undang-undang tentang Penataan Ruang;
n Bab. I >> ADVOKASI: Dari Nasional ke Daerah 9
Dalam landasan hukum seperti tersebut di atas, ditetapkan
perlindungan atas hak-hak dasar. Perlindungan ini diwujudkan
dalam langkah dan pengembangan kebijakan publik yang se-
makin mengejar tujuan-tujuan kesejahteraan masyarakat pe-
desaan, dengan partisipasi substantif masyarakat pedesaan.

3. Perkembangan Internasional
Tahun 2015 adalah tahun yang ditetapkan sebagai batas
waktu dalam pewujudan pembangunan dalam Millenium Develop-
ment Goals (MDGs), termasuk pengurangan kemiskinan ekstrim
dan kelaparan. Ada pendapat bahwa capaian MDGs ini tidak-
lah merata, bahkan ada yang tidak banyak mengalami kemajuan.
Dalam Dewan Hak Asasi Manusia, menyusul krisis dunia 2007-2008,
Laporan Pelapor Khusus Hak Atas Pangan tahun 2008 (A/HRC/9/23)
mengamati adanya kenyataan di mana pedesaan menjadi “sarang
kemiskinan dan kelaparan”. Begitu juga dalam laporan Dewan Hak
Asasi Manusia tahun 2012 (A/HRC/19/75) menekankan bahwa ke-
laparan di dunia masihlah merupakan masalah pedesaan. “Of the
1 billion people who suffer from extreme poverty in the world, 75 per cent
live and work in rural areas” (dari 1 milyar kelompok miskin ekstrem,
75% hidup dan bekerja di pedesaan).
Kemiskinan pedesaan seringkali menjadi titik tolak terhadap
asumsi yang tidak begitu tepat. Asumsi itu berputar di sekitar
“peningkatan produksi pangan”, “peningkatan komersialisasi”,
“pembukaan lahan subur”, “monokultur pertanian”, “menghilang-
kan sifat kolektif pedesaan”. Kajian dan langkah-langkah PBB
menghasilkan penilaian yang berbeda. Misalnya, dalam tugas
Panel “UN High-Level Panel on Right to Food”, dijelaskan dengan ru-
musan bahwa “krisis pangan adalah hasil dari pendapatan yang tidak
cukup dari mereka yang terkena krisis, ketidakseimbangan kekuatan

10 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
dalam produksi pangan dan rantai distribusi, dan pelemahan seg-
men miskin dan yang termarjinal” (the result of insufficient incomes
for those affected, imbalances of power in the food production and
distribution chain, and disempowerment of the poor and marginalized
segments of society).
Lebih jauh, dijelaskan bahwa tindakan jawaban terhadap
kemiskinan bukan hanya meningkatkan produksi, dan dengan
ini menurunkan harga, tetapi mengurangi jurang pemisah antara
harga di tingkat petani/nelayan/masyarakat pedesaan dengan
harga pada konsumen; dan menjawab masalah volatilitas harga
baik di tingkat internasional maupun di tingkat nasional, dengan
tindakan pemerintah yang tepat terkait harga (the solution is not
simply to boost production and thus to lower prices: it is to reduce
the gap between the farm-gate prices and the prices paid by the
consumer; and it is to combat the volatility of prices on both inter-
national and domestic markets, by appropriate government regula-
tion of prices.)
Pada langkah ini, sudah jelas bahwa justru peran negara
(terutama melalui pemerintah) tidak bisa digantikan oleh peran
organisasi komersial, atau diserahkan begitu saja pada kelompok-
kelompok masyarakat. Jenis pertarungan dominasi (kuat lemah),
pembiaran atau penelantaran, dan ‘anak emas’ (favoritisme) men-
jadi wilayah keadilan (just and fair game) yang perlu dibangun oleh
pemerintah. Wilayah ini sekaligus membutuhkan partisipasi lang-
sung dari masyarakat pedesaan dalam hal-hal yang menyangkut
kehidupan mereka.
Layanan publik di pedesaan juga menjadi titik perhatian.
Layanan publik dipandang sebagai wujud keadilan, sekaligus
menjadi pendorong ekonomi (economic multiplier). Keberadaan
dan fungsinya justru membuat interaksi antar-masyarakat menjadi
siklus ekonomi yang dilibati oleh semakin banyak pihak. Peng-

n Bab. I >> ADVOKASI: Dari Nasional ke Daerah 11
aturan air di wilayah pedesaan dapat menjadi contoh dimana la-
yanan publik dapat difungsikan (melalui pengaturan air), sekali-
gus mendorong siklus ekonomi.
Dengan standar demokrasi yang semakin dipertinggi, Peme-
rintahan Daerah menjadi pihak yang amat penting untuk mem-
bangun pola dan praktek revitalisasi pedesaan. Hal ini berlaku baik
dalam konteks desa dengan tata pemerintahan generik dan desa
adat (atau yang mempunyai kedua karakter secara sekaligus).
Jenis-jenis masalah pedesaan seperti, komersialisasi, dominasi
kepemilikan tanah, kerusakan ekosistem dipandang mencermin-
kan juga masalah pemerintahan daerah. Ada masalah kapasitas,
tetapi banyak juga masalah kesalingpercayaan (trust). Berfungsinya
pemerintah daerah tidak bisa diandaikan dapat tumbuh dengan
sendirinya, tetapi harus ada dukungan keahlian dan partisipasi
dari praktisi, ahli, penggerak masyarakat. Evaluasi dari entitas
seperti “kemitraan”, misalnya, mengembangkan suatu indeks di
mana praktisi, ahli dan penggerak masyarakat dapat melakukan
monitoring, bahkan desakan terhadap pemerintah daerah.
Standar hak atas pangan kembali perlu diangkat dalam me-
majukan pewujudan hak-hak petani, nelayan, dan masyarakat
pedesaan lainnya. Standar ini diarahkan pada pangan dalam
arti sumber daya terkait pangan; akses, partisipasi dan kontrol
masyarakat terhadap pangan; dan kecukupan dan keberlanjutan
atas ketersediaan dan akses pangan.
Pada saat yang sama, pangan tidak hanya dipahami sebagai
semata “produk pangan”, melainkan juga budaya pangan. Ada
teknologi dan pengetahuan tradisional. Ada pengolahan ka-
wasan secara berkeberlanjutan. Budaya pangan ini mencakup
daya hidup manusia itu sendiri. Standar hak atas pangan kembali
perlu diangkat dalam memajukan pewujudan hak-hak petani dan
nelayan.

12 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Indonesia, sebagai warga dunia, memainkan peranan yang
amat besar ketika PBB didesak untuk menjawab masalah kemiskin-
an pedesaan, terutama terkait dengan krisis dunia 2007-2008,
dan juga terkait dengan langkah-langkah Millenium Development
Goals.
Dalam PBB, negara-negara selatan (termasuk India, Afrika Sela-
tan, Bolivia, Sri Lanka, Tunisia) mendesak supaya masalah kemiskin-
an pedesaan ini dipertimbangkan dengan amat mendalam, dan
mengikutsertakan masyarakat pedesaan itu sendiri. Desakan ini
menghasilkan gugus tugas yang menilai dan membangun hak-
hak masyarakat pedesaan, dengan membangun hak-hak petani,
nelayan, masyarakat adat, perempuan pedesaan, pekerja per-
tanian-perkebunan, masyarakat berburu-meramu, masyarakat
penggembala, dan segmen lain dalam pedesaan.
Upaya internasional ini memasuki babak penting dengan
kodifikasi deklarasi serta penerjemahan dalam perlindungan di
tingkat negara dan di tingkat antar-negara.
Salah satu upaya internasional ini adalah mengadvokasi
Deklarasi Hak Asasi Petani menjadi Konvensi Internasional ten-
tang Hak Asasi Petani, di mana isi deklarasi tersebut telah menjadi
laporan advisory committe Dewan HAM PBB (Final study of the Human
Rights Council Advisory Committee on the advancement of the rights
of peasants and other people working in rural areas).1
Krisis pangan dunia telah mendorong Dewan HAM PBB me-
nyelenggarakan sesi khusus persidangan pada tahun 2008 yang
menyimpulkan bahwa peran negara semakin berkurang dalam
strategi cadangan pangan dan pembukaan lahan komersil.
Selanjutnya Pelapor Khusus Hak Atas Pangan Dewan HAM
PBB pada tahun 2009 menyatakan bahwa justru 70% korban dari
krisis pangan adalah petani dan masyarakat pedesaan lainnya.
Kemudian laporan tersebut diajukan dalam sidang Dewan HAM

n Bab. I >> ADVOKASI: Dari Nasional ke Daerah 13
PBB pada tahun 2010, dikemukakan bahwa petani dan penduduk
pedesaan telah mengalami diskriminasi secara langsung maupun
tidak langsung, yang mana negara secara langsung maupun tidak
langsung adalah pelaku diskriminasi tersebut.
Pada tahun 2011-2012 Komite Penasehat PBB melakukan studi
tentang bagaimana mengatasi diskrimimasiterhadap petani dan
penduduk pedesaan. Akhirnya pada tahun 2013 Dewan HAM PBB
lewat voting menyetujui laporan Komite Penasehat Dewan HAM
PBB bahwa telah ada diskriminasi terhadap petani dan penduduk
pedesaan, serta perlunya langkah-langkah anti diskriminasi. Ke-
mudian merekomendasikan kepada Internasional Working Group
untuk membahas Deklarasi Hak Petani dan Masyarakat yang be-
kerja di Perdesaan.

[] [] []

1. Komisi HAM PBB (Commission on Human Rights) dalam resolusi 2000/10 tanggal 17 April
2000 dan resolusi 2001/25 tanggal 20 April 2001 telah membentuk Special Rappoteur on the
right to food, yang mana Special Rappoteur percaya bahwa akses ke tanah adalah elemen
kunci yang penting untuk membasmi kelaparan di dunia. Hal ini berarti bahwa pilihan ke-
bijakan seperti pembaruan agraria harus memainkan peranan penting dalam suatu strategi
suatu negara dalam hal ketahanan pangan, di mana akses atas tanah adalah mendasar.
Seringkali pembaruan agraria dinyatakan sebagai pilihan yang ketinggalan jaman dan tidak
efektif, tetapi bukti tidaklah mendukung pernyataan itu.

14 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Ba b. I1

Meredistribusikan
Sumber Daya
Produktif

15
16 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Ba b. 1I
Meredistribusikan
Sumber Daya Produktif

1. Reforma Agraria sebagai Kewajiban Konstitu-
sional Negara

K
ewajiban konstitusional negara untuk meredistri-
busikan sumber daya produktif melalui reforma
agraria bersumber pada UUD 1945 Pasal 33 ayat
(2) dan (3) yang berbunyi :
(2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi ne-
gara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak
dikuasai oleh negara;
(3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung
di dalamnya dikuasai oleh negara dan diperguna-
kan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Menurut pendapat Mahkamah Konstitusi, dalam
pertimbangannya dalam putusan perkara pengu-
jian Undang-undang Penanaman Modal, menyatakan
bahwa Pasal 33 UUD 1945 memberikan mandat ke-
pada negara untuk melakukan redistribusi tanah se-
bagaimana petikan Putusan Mahkamah Konstitusi No-
mor 21-22/PUU-V/2007 sebagai berikut:2

n Bab. II >> Meredistribusikan Sumber Daya Produktif 17
“Sepanjang menyangkut tanah, maka atas dasar adanya
kepentingan yang dilindungi oleh konstitusi itulah dibuat kebijakan
nasional di bidang pertanahan yang dimaksudkan untuk men-
capai tujuan kemakmuran rakyat, di antaranya berupa pendistri-
busian kembali pemilikan atas tanah dan pembatasan pemilikan
luas tanah pertanian, sehingga penguasaan atau pemilikan tan-
ah tidak terpusat pada sekelompok orang tertentu. Inilah yang
antara lain dilakukan melalui Undang-undang Nomor 5 Tahun
1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA) (Lem-
baran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 104, Tam-
bahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2043) dan
Undang-undang Nomor 56 Prp Tahun 1960 tentang Pembatasan
Luas Tanah Pertanian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4431). Dengan adanya pembatasan dan pendistribusian
demikiann berarti sumber ekonomi akan tersebar pula secara
lebih merata dan pada akhirnya akan tercapai tujuan pemerataan
kemakmuran rakyat.”

2. Reforma Agraria sebagai Kewajiban Hukum Negara
UUPA 1960 merupakan operasionalisasi dari Pasal 33 UUD
1945 yang memberikan mandat adanya Hak Menguasai Negara
(HMN) atas sumber-sumber agraria guna melindungi tujuan untuk
sebesar-besar kemakmuran rakyat. Dengan mengatur soal pem-
baruan agraria, UUPA 1960 memberi mandat kepada Negara untuk
mengakhiri ketidakadilan agraria warisan kolonialisme dan feodal-
isme, serta mewujudkan tanah bagi mereka yang benar-benar
menggarap tanah.
Semboyan “Tanah bagi Penggarap” bersumber dari Pasal 10
(1) UUPA 1960 yang mewajibkan badan usaha dan perorangan di

18 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
tanah pertanian untuk mengerjakan sendiri dan tidak boleh me-
nimbulkan pemerasan.
UUPA 1960 merupakan operasionalisasi dari Pasal 33 UUD 1945 yang
Pasal 10 (1)
memberikan UUPA
mandat 1960
adanya Hak Menguasai Negara (HMN) atas sumber-sumber agraria
guna melindungi tujuan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Dengan mengatur soal
“Setiap
pembaruan orang
agraria, UUPAdan1960badan
memberihukum yang Negara
mandat kepada mempunyai suatu
untuk mengakhiri
ketidakadilan agraria warisan kolonialisme dan feodalisme, serta
hak atas tanah pertanian pada azasnya diwajibkan mengerja- mewujudkan tanah
bagi mereka yang benar-benar menggarap tanah.
kan atau “Tanah
Semboyan mengusahakannya sendiri
bagi Penggarap” bersumber darisecara aktif,
Pasal 10 (1) UUPAdengan
1960 yang
mewajibkan badan usaha dan perorangan di tanah pertanian untuk mengerjakan sendiri
mencegah
dan tidak cara-cara
boleh menimbulkan pemerasan.
pemerasan.

Pasal 10 (1) UUPA 1960
Pasal 10 UUPA
“Setiap orang 1960
dan badan bisa
hukum yangdisebut
mempunyai sebagai dasar
suatu hak atas tanah pelaksanaan
pertanian pada
azasnya diwajibkan mengerjakan atau mengusahakannya sendiri secara aktif, dengan
landreform yangpemerasan.
mencegah cara-cara mengatur kewajiban negara untuk melakukan
redistribusikan tanah,
Pasal 10 UUPA karena
1960 bisa pasal
disebut tersebut
sebagai menjadilandreform
dasar pelaksanaan sumber him-
yang
punan peraturan
mengatur kewajiban tentang landreform.
negara untuk melakukan redistribusikan tanah, karena pasal
tersebut menjadi sumber himpunan peraturan tentang landreform.

Tabulasi UUPA 1960 dan Peraturan tentang Landreform
Mandat UUPA3 Himpunan Peraturan tentang Landreform
Peraturan Pelaksanaan 1. UU No. 5 Tahun 1960;
tentang Landreform. 2. UU No. 2 Tahun 1960 tentang Perjanjian Bagi Hasil;
Pelaksanaan Pasal 10 3. UU No. 38 Prp. Tahun 1960 tentang Penggunaan dan Penetapan
ayat 2 dan pengecualian Luas Tanah untuk Tanaman-Tanaman Tertentu;
pasal 10 ayat 3 4. UU No. 51 Prp. Tahun 1960 tentang Larangan Pemakaian Tanah
Tanpa Ijin yang Berhak atau Kuasanya;
5. UU No. 56 Prp. Tahun 1960 tentang Penetapan Luas Tanah
Pertanian;
6. PP No. 224 Tahun 1961 tentang Pelaksanaan Pembagian Tanah dan
Pemberian Ganti Kerugian; 6. Undang-undang No. 16 Tahun 1964
tentang Bagi Hasil Perikanan;
7. PP lainnya yang merupakan pelaksanaan dari peraturan-peraturan
yang disebut di atas dan peraturan-peraturan lainnya yang secara
tegas disebut sebagai peraturan landreform beserta peraturan-
peraturan pelaksanaannya dan peraturan-peraturan baru yang akan
dibuat dikemudian hari, yang secara tegas disebut di dalamnya bahwa
peraturan itu adalah peraturan landreform

Selain pasal 10, ada beberapa pasal dalam UUPA 1960 yang mengatur
Selaintanah,
redistribusi pasal 10,
yaitu: ada beberapa pasal dalam UUPA 1960 yang
mengatur
Pasal 4 redistribusi tanah, yaitu:
3
Sudargo Gautama, (1973), Tafsiran Undang-undang Pokok Agraria, Tjetakan Ke-4, Penerbit Alumni, Bandung

14

n Bab. II >> Meredistribusikan Sumber Daya Produktif 19
Pasal 4
(1) Atas dasar hak menguasai dari Negara sebagai yang dimak-
sud dalam pasal 2 ditentukan adanya macam-macam hak atas
permukaan bumi, yang disebut tanah, yang dapat diberikan
kepada dan dipunyai oleh orang-orang, baik sendiri maupun
bersama-sama dengan orang-orang lain serta badan-badan
hukum.

Pasal 7.
Untuk tidak merugikan kepentingan umum maka pemilikan
dan penguasaan tanah yang melampaui batas tidak diper-
kenankan.

Pasal 14
(1) Dengan mengingat ketentuan-ketentuan dalam pasal 2 ayat
2 dan 3, pasal 9 ayat 2 serta pasal 10 ayat 1 dan 2 Pemerintah
dalam rangka sosialisme Indonesia, membuat suatu rencana
umum mengenai persediaan, peruntukan dan penggunaan
bumi, air dan ruang angkasa serta kekayaan alam yang ter-
kandung di dalamnya: a. untuk keperluan Negara; b. untuk
keperluan peribadatan dan keperluan-keperluan suci lainnya,
sesuai dengan dasar Ketuhanan Yang Maha Esa; c. untuk keper-
luan pusat-pusat kehidupan masyarakat, sosial, kebudayaan dan
lain-lain kesejahteraan; d. untuk keperluan memperkembang-
kan produksi pertanian, peternakan dan perikanan serta sejalan
dengan itu; e. untuk keperluan memperkembangkan industri,
transmigrasi dan pertambangan.
(2) Berdasarkan rencana umum tersebut pada ayat 1 ini dan meng-
ingat peraturan-peraturan yang bersangkutan, Pemerintah
Daerah mengatur persediaan, peruntukkan dan penggunaan
bumi, air serta ruang angkasa untuk daerahnya, sesuai dengan
keadaan daerah masing-masing.
20 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Pasal 17.
(3) Tanah-tanah yang merupakan kelebihan dari batas maksi-
mum termaksud dalam ayat 2 pasal ini diambil oleh Pemerin-
tah dengan ganti kerugian, untuk selanjutnya dibagikan kepa-
da rakyat yang membutuhkan menurut ketentuan-ketentuan
dalam Peraturan Pemerintah.

3. Reforma Agraria sebagai Kewajiban HAM Negara
Kewajiban HAM negara untuk melakukan redistribusi tanah
diatur dalam Kovenan Internasional Hak-hak Ekonomi, Sosial,
dan Budaya yang telah disahkan oleh Indonesia melalui Undang-
undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan International
Covenant on Economic, Social and Cultural Rights.
1. Negara Pihak pada Kovenan ini mengakui hak setiap orang
atas standar kehidupan yang layak baginya dan keluarga-
nya, termasuk pangan, sandang dan perumahan, dan atas
perbaikan kondisi hidup terus menerus. Negara Pihak akan
mengambil langkah-langkah yang memadai untuk menjamin
perwujudan hak ini dengan mengakui arti penting kerjasama
internasional yang berdasarkan kesepakatan sukarela.
2. Negara Pihak pada Kovenan ini, dengan mengakui hak men-
dasar dari setiap orang untuk bebas dari kelaparan, baik secara
individual maupun melalui kerjasama internasional, harus
mengambil langkah-langkah termasuk program-program
khusus yang diperlukan untuk;
a) Meningkatkan cara-cara produksi, konservasi dan distribusi
pangan, dengan sepenuhnya memanfaatkan pengetahu-
an teknik dan ilmu pengetahuan, melalui penyebarluasan
pengetahuan tentang asas-asas ilmu gizi, dan dengan

n Bab. II >> Meredistribusikan Sumber Daya Produktif 21
mengembangkan atau memperbaiki sistem agraria se-
demikian rupa, sehingga mencapai suatu perkembangan
dan pemanfaatan sumber daya alam yang efisien;
b) Memastikan distribusi pasokan pangan dunia yang adil
yang sesuai kebutuhan, dengan memperhitungkan
masalah-masalah negara-negara pengimpor dan peng-
ekspor pangan.

Di dalam “Revisi Pedoman tentang Bentuk dan Isi Laporan
yang Harus Dilaporkan oleh Negara-negara Pihak Berdasarkan
Pasal 16 dan 17 Kovenan Internasional Hak Ekonomi, Sosial, dan
Budaya”, reforma agraria masuk sebagai materi yang dimintakan
laporannya dengan pertanyaan sebagaimana berikut:
Coba jelaskan langkah-langkah reforma agraria yang dilaksana-
kan oleh Pemerintah Anda untuk menjamin agar sistem agraria
dapat dimanfaatkan secara efisien untuk meningkatkan jamin-
an pangan di tingkat rumah tangga tanpa berdampak mer-
ugikan bagi martabat manusia, baik di pedesaan maupun di
perkotaan dengan mempertimbangkan pasal 6 dan 8 Kovenan.
Jelaskan langkah-langkah yang dilaksanakan:
(i) Untuk menyusun undang-undang reformasi ini:
(ii) Untuk menegakan undang-undang reforma agraria yang
ada;
(iii) Untuk memfasilitasi pemantauan melalui organisasi
pemerintah dan organisasi no masyarakat

4. Pengaturan Redistribusi Tanah untuk Petani
Pada hari Kamis, 18 Oktober 2012, DPR RI sahkan RUU Per-
ubahan Undang-undang No.7 Tahun 1996 tentang Pangan men-

22 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
jadi Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Bisa
dibilang Undang-undang Pangan “yang baru ini masih belum
berorientasi pada realisasi progresif pemenuhan hak atas pangan,
karena tidak kenal apa itu hak atas pangan dan gagal memahami
kedaulatan pangan, sehingga tidak menjadikan reforma agraria
sebagai jalan pemenuhan hak atas pangan.
Undang-undang Pangan yang baru ini, di dalam Menimbang
menyatakan pangan pemenuhannya bagian dari HAM yang dijamin
UUD 1945. Namun di dalam Mengingat, tidak menyebut Undang-
undang Pengesahan Kovenan Internasional Hak-hak Ekonomi,
Sosial dan Budaya dan di dalam Ketentuan Umum tidak ada
definisi hak atas pangan. Artinya Undang-undang Pangan tidak
jelas standar dan indikator Hak atas Pangan, sehingga di dalam
batang tubuhnya ada banyak kewajiban negara dan hak warga
negara terkait pangan tidak diatur, salah satunya adalah reforma
agraria dan hak atas tanah bagi petani produsen pangan.
Ketika konsep hak atas pangannya tidak jelas sehingga mem-
bawa dampak pada tidak adanya pengaturan reforma agraria se-
bagai sarana untuk melakukan redistribusi tanah kepada petani
produsen pangan, justru Undang-undang Pangan menggabung-
kan dua asas yang saling bertentangan yaitu ketahanan pangan
dan kedaulatan pangan.
Padahal Sekjen PBB di depan Majelis Umum PBB pada tahun
2002 telah mengingatkan, bahwa, konsep Hak atas Pangan lebih
kuat daripada konsep Ketahanan Pangan. Hak atas Pangan me-
masukkan juga elemen Ketahanan Pangan - termasuk ketersediaan,
aksesibilitas, dan utilisasi/penggunaan pangan - tetapi juga jauh
melampaui konsep Ketahanan Pangan karena ada tekanan pada
akuntabilitas. Pendekatan berdasar-hak (right-based approach)
memfokuskan perhatian pada suatu kenyataan bahwa membuat
kemajuan dalam mengurangi kelaparan adalah suatu kewajiban

n Bab. II >> Meredistribusikan Sumber Daya Produktif 23
legal, bukan sekedar pilihan yang lebih baik (preference) atau
pilihan belaka. Hak atas Pangan dikuatkan kembali dalam Deklarasi
Final, dan Pemerintah partisipan setuju untuk menjabarkannya
dalam suatu Pedoman Sukarela mengenai Hak atas Pangan
Undang-undang Pangan berasas kedaulatan dan ketahanan,
padahal konsep kedaulatan pangan adalah kritik terhadap konsep
ketahanan pangan, karena kedaulatan pangan berbasis pada
petani dan nelayan sedangkan ketahanan pangan berbasis me-
kanisme pasar.
Hasil temuan Pelapor Khusus Hak Atas Pangan yang disampai-
kan oleh Sekretaris Jenderal PBB pada tahun 2002 menyatakan
perlunya memperhatikan kebijakan alternatif kedaulatan pangan
yang diusung organisasi masyarakat sipil. Gerakan sosial dan
organisasi non-pemerintah menjalankan suatu pilihan kebijakan
alternatif, termasuk pertanian skala kecil, produksi lokal, metode
agro-ekologi, dan konsep kedaulatan pangan (food sovereignty).
Pelapor Khusus percaya bahwa bahwa proposal ini harus diberi
perhatian lebih besar di level internasional jika masalah kelaparan
di dunia memang benar-benar mau dipecahkan. Ia memajukan
konsep kedaulatan pangan (food sovereignty) sebagaimana yang
dirumuskan oleh NGO/CSO Forum on Food Sovereignty. Forum itu
merumuskan konsep kedaulatan pangan dengan fokus pada be-
berapa elemen kunci. Hal ini termasuk bagi pasar domestik dan
lokal dengan menggunakan pertanian agro-ekologi dan pertani-
an keluarga; memastikan harga yang adil; memastikan akses ke
tanah dan sumber daya vital lainnya; melindungi bibit dari usa-
ha untuk mematenkan; mendorong moratorium untuk produk
pangan dengan modifikasi genetik dengan menimbang risikonya
yang mempengaruhi keberagaman genetik; dan meningkatkan
investasi publik untuk mendukung pemberdayaan dan aktivitas
produktif keluarga dan komunitas.

24 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Konsep ketahanan pangan cenderung mementingkan keter-
sediaan (availability), keterjangkauan (accessibility) dan keamanan
(security) pangan tanpa memedulikan bagaimana pangan di-
produksi (how to produce) dan bagaimana pangan diperoleh (how
to get). Artinya suatu negara boleh menggantungkan pemenuhan
pangannya terhadap negara lain melalui mekanisme impor. Pada
akhirnya konsep ketahanan pangan ini telah menegasikan para
produsen pangan dan memaksa mereka untuk mengikuti ke-
inginan sistem yang berorientasi pasar.
Sementara konsep kedaulatan pangan berupaya memenuhi
hak atas pangan yang berkualitas gizi baik dan dapat diterima se-
cara budaya, diproduksi dengan sistem pertanian yang berkelan-
jutan dan ramah lingkungan. Artinya kedaulatan pangan sangat
menjunjung tinggi diversifikasi pangan sesuai dengan budaya
lokal yang ada. Kedaulatan pangan juga merupakan pemenuhan
hak manusia untuk menentukan sistem pertanian dan pangannya
sendiri yang lebih menekankan pada pertanian keluarga. Dalam
realisasinya, kedaulatan pangan akan terwujud jika produsen
pangan memiliki, menguasai, dan mengkontrol alat-alat produksi
pangan seperti tanah, air, benih dan teknologi. Syarat lainnya ada-
lah terlaksananya reforma agraria. Jika melihat Undang-undang
Pangan maka ada sejumlah persoalan yang menghambat ter-
penuhinya syarat-syarat tersebut.
Dengan mengkompromikan kedua asas yang saling ber-
tentangan, mengakibatkan pengaturan produksi pangan tidak
sepenuhnya bertumpu pada kekuatan petani dan landreform,
melainkan juga bertumpu pada pelaku usaha pangan. Singkatnya
Undang-undang Pangan tidak menyiapkan seperangkat peng-
aturan untuk redistribusi tanah untuk petani.
Padahal negara agraris seperti Indonesia, seharus lebih meng-
utamakan sumber-sumber agraria dalam rangka pemenuhan hak

n Bab. II >> Meredistribusikan Sumber Daya Produktif 25
atas pangan, dari pada model Raskin dan BLSM yang memper-
gunakan keuangan negara yang defisit.
Menurut Asbjorn Eide,4 dalam kasus seperti di negara-negara
yang anggaran negaranya tidak terlalu kuat akan tetapi memiliki
kekayaan alam yang berlimpah, hak-hak ekonomi, sosial, dan bu-
daya akan lebih dapat diupayakan melalui kebijakan landreform
atau cara-cara lain untuk mendistribusikan kembali sumber daya
utama, ketimbang melalui kebijakan anggaran publik yang tinggi.
Akan tetapi di masyarakat industri maju dan pasca industri, di
mana pertanian merupakan bagian yang tidak penting bagi hak
ekonomi, sosial, dan budaya, maka diperlukan adanya suatu ne-
gara yang relatif kuat yang bertugas baik untuk memfasilitasi
tempat tinggal bagi mereka yang akan termarginalisasi dalam
proses tersebut, sehingga mereka memiliki kesempatan yang
sama, maupun untuk memberikan jaminan sosial bagi mereka
yang tidak mampu mengupayakannya untuk dirinya sendiri.
Laporan Sekretaris Jenderal PBB (dokumen A/57/356/27
August 2002), kepada Sidang Umum PBB, telah meletakan penilai-
an atas perlunya agenda pembaruan agraria dalam melawan ke-
laparan dan kemiskinan serta kunci dari hak atas pangan:
Kemudian pada tanggal 09 Juli 2013, di DPR RI telah menge-
sahkan RUU Perlindungan dan Pemberdayaan Petani menjadi
undang-undang. Namun sayangnya justru sedari “Menimbang”
Undang-undang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani tidak
menjadikan tanah sebagai permasalahan yang dihadapi petani,
walhasilnya tidak terlihat upaya komprehensif dalam melakukan
redistribusi tanah kepada petani.
Hal ini terlihat dari hanya konsolidasi tanah, tanah pertani-
an terlantar dan tanah negara bebas yang bisa diredistribusikan
kepada petani, itupun bukan menjadi Hak Milik, melainkan Hak
Sewa, Izin Pengusahaan, Izin Pengelolaan, atau Izin Pemanfaatan

26 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
sebagaimana diatur dalam pasal 59 Undang-undang Perlindung-
an dan Pemberdayaan Petani.
Hak Sewa dalam pengertian petani penggarap membayar
sewa tanah terhadap negara adalah melanggar prinsip dari HMN,
karena berarti menjadikan negara menjadi pemilik tanah yang
tanahnya disewa oleh petani, dan adalah bentuk dari tidak adanya
upaya negara melakukan redistribusi tanah untuk sebesar-besar
kemakmuran rakyat.
Selain melanggar prinsip HMN, Hak Sewa tanah negara juga
menimbulkan ketidakpastian hukum sebab bertentangan dengan
UUPA 1960 yang menyatakan bahwa penggunaan tanah negara
dilakukan dengan Hak Pakai yang bukan sewa menyewa (Pasal 41
UUPA 1960). Dan dalam Penjelasan Pasal 44 UUPA 1960 dengan
tegas dinyatakan negara tidak dapat menyewakan tanah, karena
negara bukan pemilik tanah. Bahkan dalam pasal 53 UUPA 1960
juga disebutkan bahwa hak sewa tanah adalah hak yang bersifat
sementara yang akan dihapuskan.
Petani menyewa tanah kepada negara, menjadikan feodalisme
hidup kembali, di mana negara menjadi tuan tanah dan petani
menjadi penggarap, yang mana kesulitan petani membayar sewa
akan membawa petani dalam perangkap lintah darah dan sistem
ijon. Sisa-sisa penghisapan feodalisme inilah yang sesungguhnya
hendak diberantas oleh UUPA 1960.
Namun sayangnya, di dalam Undang-undang Perlindungan
dan Pemberdayaan Petani hanya satu obyek redistribusi tanah
yang diatur, yaitu Tanah Negara Bekas Tanah terlantar yang diatur
lewat Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 2010 tentang Penertiban
dan Pendayagunaan Tanah Terlantar.
Adapun obyek-obyek yang lain yang diatur dalam Rancangan
Peraturan Pemerintah tentang Reforma Agraria, namun hingga
kini RPP tersebut belum ditandatangani Presiden.

n Bab. II >> Meredistribusikan Sumber Daya Produktif 27
Obyek serupa kini diatur dalam RUU Pertanahan, yang mana
obyek pembaruan agraria atau Tanah Obyek Reforma Agraria
(TORA) yang bisa diredistribusikan kepada petani dan masyarakat
yang tak bertanah berasal dari: a. Tanah negara bekas Tanah ter-
lantar; b. Tanah kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi; c.
Tanah dari sumber lainnya, yang berasal dari: 1). Tanah negara be-
bas; 2). Tanah negara bekas hak barat; 3). Tanah negara berasal dari
Tanah timbul dan Tanah tumbuh; 4. Tanah negara bekas swapraja;
5. Tanah negara berasal bekas pertambangan mineral, batubara,
dan panas bumi; 6. Tanah negara berasal dari pelepasan kawasan
hutan; 7. Tanah negara berasal dari tukar menukar atau perbuatan
hukum keperdataan lainnya dalam rangka Reforma Agraria; atau
Tanah yang diserahkan oleh pemegang haknya kepada negara
untuk Reforma Agraria.
Di dalam “Menimbang” RUU Pertanahan dinyatakan, “bahwa
dalam perkembangan pelaksanaan kebijakan pembangunan
yang cenderung mengutamakan pertumbuhan ekonomi, telah
memungkinkan terjadinya penafsiran yang menyimpang dari
tujuan dan prinsip-prinsip Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960
tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria dengan berbagai
dampaknya.“ dan “Bahwa Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960
tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria sebagai peraturan
perundang-undangan yang mengatur bidang pertanahan dalam
pokok-pokoknya perlu dilengkapi sesuai dengan perkembangan
yang terjadi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Di dalam ”Menimbang” RUU Pertanahan terlihat ada dua yang
ditekankan. Pertama. Tentang kekeliruan penafsiran UUPA 1960;
dan kedua, tentang perlunya membuat aturan baru guna melak-
sanakan UUPA 1960 dan memenuhi masyarakat.
Oleh karenanya supaya tidak keliru menafsirkan dan mem-
bikin aturan turunan dari UUPA 1960, RUU Pertanahan wajib

28 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
mengidentifikasi apa saja di dalam UUPA 1960 yang perlu diatur
lebih lanjut.
Jika kita mengidentifikasi perintah UUPA 1960 untuk mem-
bikin pengaturan lebih lanjut, lalu kita mengidentifikasi pengaturan-
pengaturan yang ada dalam RUU Pertanahan, maka terlihat RUU
Pertanahan tidak memuat pengaturan tentang hubungan hukum
antara orang dan tanah untuk mencegah pemerasan, padahal hal
tersebut diperintahkan dalam pasal 11 ayat 1 UUPA 1960. RUU
Pertanahan juga berbeda dengan UUPA 1960 terkait Macam Hak
Atas Tanah, di dalam RUU Pertanahan Hak Atas Tanah terdiri atas:
(1). Hak Milik; (2). Hak Guna Usaha; (3). Hak Guna Bangunan; (4).
Hak Pakai; dan (5). Hak Sewa Untuk Bangunan. Lebih sedikit dari
apa yang ditentukan UUPA 1960 di mana Hak Atas Tanah meliputi:
(1). Hak Milik; (2). Hak Guna Usaha; (3). Hak Guna Bangunan; (4).
Hak Pakai; (5). Hak sewa; (6). Hak Membuka Tanah; (7); Hak Me-
mungut Hasil hutan; (8). Hak-hak lain yang tidak termasuk dalam
hak-hak tersebut di atas yang akan ditetapkan dengan undang-
undang serta hak-hak yang sifatnya sementara.5
Dengan mempertegas bahwa Hak Memungut Hasil Hutan
adalah ranahnya pertanahan, diharapkan akan mengakhiri sektoral-
isme yang kontradiktif antara kebijakan pertanahan yang merupa-
kan domein dari Badan Pertanahan Nasional dengan kebijakan
kehutanan yang merupakan domein dari Kementerian Kehutan-
an, sehingga persoalan desa dan tanah garapan petani yang be-
rada di dalam wilayah hutan bisa dicarikan solusinya, dan progam
pembaruan agraria berjalan karena tanah di kawasan hutan yang
merupakan sumber pengadaan tanah terbesar bisa diredistribusi-
kan kepada para petani.
Melihat komposisi Tanah Obyek Reforma Agraria, bisa diarti-
kan bahwa reforma agraria dimaknai oleh RUU Pertanahan seba-
gai sekedar redistribusi Tanah Negara kepada masyarakat miskin,

n Bab. II >> Meredistribusikan Sumber Daya Produktif 29
bukan dalam rangka menciptakan struktur agraria yang adil, me-
nyelesaian konflik agraria dan sebagai dasar pembangunan sehingga
kekayaan alam (sumber-sumber agraria bisa dipergunakan untuk
sebesar-besar kemakmuran rakyat, sebagaimana mandat Pasal 33
UUD 1945.
Dengan RUU Pertanahan tidak mengatur Batas Minimum
kepemilikan tanah, serta tidak dimasukan Tanah Kelebihan Batas
Maksimum sebagai Tanah Obyek Reforma Agraria, menjadikan
Reforma Agraria di dalam RUU Pertanahan belum memberikan
solusi bagi ketidakadilan atau ketimpangan agraria.
Jika kemudian dasar peraturan tentang reforma agraria ber-
sumber pada Pasal 10 (1) UUPA 1960, yang mewajibkan pemilik
tanah menggarap tanah dan mencegah cara pemerasan, maka
Penerima Tanah Obyek Reforma Agraria yang diatur di dalam
RUU Pertanahan menjadi terlalu luas batasannya, karena kategori
hanya warga negara Indonesia (WNI), berusia 18 tahun atau sudah
menikah, miskin, menganggur dan bersedia ditempatkan di Tanah
Obyek Reforma Agraria. Seharusnya RUU Pertanahan mengatur
prioritas Penerima Tanah Obyek Reforma Agraria, yang paling pri-
oritas tentunya mereka yang bersedia menggarap tanah, yaitu
petani yang tidak memiliki tanah, sehingga berkorelasi dengan
upaya mewujudkan kedaulatan pangan. Juga rakyat yang tanahnya
di bawah batas minimum kepemilikan tanahnya yang menjadi
prioritas.

5. Pengaturan Redistribusi Pesisir
13 Desember 1957, Perdana Menteri Indonesia Djuanda Karta-
widjaja, membuat sebuah deklarasi yang pada intinya menyata-
kan Indonesia adalah negara kepulauan dan kepulauan nusantara
adalah sejak dahulu adalah satu kesatuan.
Deklarasi Juanda ini secara hukum, merubah hukum laut ko-
30 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
lonial yang memisahkan antar pulau dengan laut dengan hukum
nasional yang mempersatukan tanah-air Indonesia, dengan me-
nyatukan pulau dengan laut karena laut di antara pulau adalah
wilayah perairan Indonesia. Pada tahun 1982 deklarasi ini diterima
sebagai Konvensi Hukum Laut PBB (UN Convention on The Law of
The Sea/UNCLOS).
Secara politik-pertahanan, Deklarasi Juanda mencegah inter-
vensi militer asing dalam persoalan dalam negeri Indonesia.
Deklarasi Juanda kemudian disahkan lewat Undang-undang
No.4/PRP/1960 tentang Perairan Indonesia, menyusul kemudian di-
sahkan Undang-undang No.5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar
Pokok-pokok Agraria. Kedua produk hukum ini selain merubah hu-
kum agraria kolonial dengan hukum agraria nasional, membangun
persatuan dan kesatuan tanah-air-rakyat, juga mengamanat-kan
Hak Menguasai Negara atas kekayaan alam untuk sebesar-besar
kemakmuran rakyat.
Kenyataannya kini nelayan dan penduduk pesisir serta pulau-
pulau kecil masih memiliki kerawanan dalam perlindungan dan
pemenuhan hak-hak ekonomi, sosial dan budaya, TNI Angkatan
Laut belum kuat dalam Alutsista (Alat Utama Sistem Persenjataan),
pencurian ikan dan impor ikan terus berlangsung dan terjadinya
pengkaplingan perairan pesisir untuk kepentingan bisnis.
IHCS yang sebelumnya adalah Pemohon dalam judicial review
(Permohonan Uji Materi) Undang-undang No. 27 Tahun 2007 ten-
tang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Kecil yang dikabulkan
oleh Mahkamah Konstitusi, dan menyusun Naskah Akademik dan
Draft RUU Perubahan Undang-undang Pengelolaan Wilayah Pesi-
sir dan Pulau-Pulau Kecil versi organisasi masyarakat, yang kini Un-
dang-undang perubahannya sudah disahkan DPR, memandang
perubahan undang-undang tersebut seharusnya mengatur
agenda pembaruan penguasaan dan pengunaan perairan pesisir

n Bab. II >> Meredistribusikan Sumber Daya Produktif 31
untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, melindungi hak-hak ne-
layan kecil, nelayan tradisional dan nelayan masyarakat adat, dan
pengelolaan pulau-pulau kecil terluar serta menjawab potensi
ancaman perairan pesisir Indonesia baik yang berupa ancaman
konvensional atau tradisional seperti sengketa perbatasan antar
negara maupun ancaman non konvensional atau non tradisional
seperti pencurian ikan dan tambang, perdagangan manusia dan
narkotika, bajak laut, bencana, perubahan iklim dan lain-lain.
Permohonan uji materi Undang-Undang Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau Kecil, yang dikabulkan Mahkamah Konstitusi
mengakibatkan dihapuskannya konsep HP3 (Hak Pengusahaan
Perairan Pesisir).
Kini dalam Undang-undang Perubahan Undang Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau Kecil, konsep HP3 diganti dengan konsep
ijin: Ijin Lokasi dan Ijin Pengelolaan. Yang harus diperhatikan oleh
DPR dan Pemerintah adalah bahwa perubahan HP3 ke ijin harus
memperhatikan pendapat Mahkamah Konstitusi kenapa HP3 di-
hapuskan, beberapa di antarnya adalah :
(1). Hilangnya hak tradisional yang bersifat turun temurun;
(2). Tidak mungkin masyarakat dapat HP3 karena kekurangan
modal;
(3). Mengakibatkan pengkaplingan/privatisasi;
(4). Mengancam penghidupan nelayan;
(5). Menimbulkan diskriminasi secara tidak langsung.

Problemnya kini perubahan undang-undang ini masih tidak
memisahkan kepentingan nelayan tradisional, nelayan kecil dan
nelayan masyarakat adat dengan pengusaha pariwisata, nelayan
modern dan pengusaha perikanan dengan menjadikan pemangku
kepentingan utama, yaitu pengguna utama sumberdaya pesisir

32 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
dan pulau kecil, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 (30), sehingga
tidak jelas mana yang harus dilindungi dan mana yang harus di-
batasi.
Padahal harus dibedakan antara kepentingan rakyat yang
penghidupan dan kehidupannya di perairan pesisir dengan per-
seorangan dan korporasi yang berbisnis di perairan pesisir, serta
tidak boleh dihilangkannya peran negara yang mempunyai Hak
Menguasai atas perairan pesisir untuk tujuan melindungi terpe-
nuhinya tujuan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Akibat dari memposisikan sama antara nelayan tradisional
dengan pebisnis perseorangan dan korporasi, nelayan masyarakat
tradisional yang punya hak tradisional di daerah tertentu, juga
harus punya Izin dalam pemanfaatan sumber daya pesisir, misal-
nya untuk produksi garam, meski pemerintah memfasilitasi pem-
berian Izin tersebut.
Undang-undang Perubahan Undang-undang Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil dalam beberapa pasal
mengatur perijinan bagi nelayan tradisional, sebagaimana berikut
di bawah ini:
Pasal 16
(1) Setiap Orang yang melakukan pemanfaatan ruang dari
sebagian Perairan Pesisir dan pemanfaatan sebagian pulau-
pulau kecil secara menetap wajib memiliki Izin Lokasi.
(2) Izin Lokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi
dasar pemberian Izin Pengelolaan.

Pasal 19
(1) Setiap Orang yang melakukan pemanfaatan sumber daya
perairan pesisir dan perairan pulau-pulau kecil untuk
kegiatan:
n Bab. II >> Meredistribusikan Sumber Daya Produktif 33
a. produksi garam;
b. biofarmakologi laut;
c. bioteknologi laut;
d. pemanfaatan air laut selain energi;
e. wisata bahari;
f. pemasangan pipa dan kabel bawah laut; dan/atau
g. pengangkatan benda muatan kapal tenggelam;
wajib memiliki Izin Pengelolaan.

Pasal 20
(1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memfasili-
tasi pemberian Izin Lokasi dan Izin Pengelolaan kepada
Masyarakat Lokal dan Masyarakat Tradisional.
(2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada
Masyarakat Lokal dan Masyarakat Tradisional, yang me-
lakukan pemanfaatan ruang dan sumber daya perairan
pesisir dan perairan pulau-pulau kecil, untuk pemenuhan
kebutuhan hidup sehari-hari.

Pasal 22A
Izin Lokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) dan
Izin Pengelolaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat
(1) diberikan kepada:
a. orang perseorangan warga negara Indonesia;
b. korporasi yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia;
atau
c. koperasi yang dibentuk oleh Masyarakat.

34 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Pasal 22B
Orang perseorangan warga negara Indonesia atau korporasi
yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia dan koperasi
yang dibentuk oleh Masyarakat yang mengajukan Izin Penge-
lolaan harus memenuhi syarat teknis, administratif, dan ope-
rasional.

Kewajiban untuk mendapatkan Izin, tentu bertentangan dengan
hakikat nelayan tradisional yang memiliki hak yang bersifat turun
temurun.
Undang-undang Perubahan Undang-undang Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, pada Pasal 1 (35) menyatakan:
“Masyarakat Tradisional adalah masyarakat perikanan
tradisional yang masih diakui hak tradisionalnya dalam
melakukan kegiatan penangkapan ikan atau kegiatan
lainnya yang sah di daerah tertentu yang berada dalam
perairan kepulauan sesuai dengan kaidah hukum laut
internasional.”

Pasal tersebut di atas menegaskan identitas Nelayan Tradisi-
onal yang memiliki dua unsur. Pertama. Pengakuan hak tradisional
dalam kegiatan penangkapan ikan atau lainnya; Kedua. Daerah
tertentu.
Hasil dari sebuah sebuah penelitian menyebutkan ciri-ciri
nelayan tradisional yang meliputi “wilayah yang dikunjungi ter-
tentu” sebagai salah satu empat unsur hak tradisional, yang selain
wilayah unsur yang lainnya adalah nelayannya tradisional, metode
dan kapalnya tradisional, dan hasilnya harus untuk memenuhi ke-
butuhan fundamental nelayan tersebut.7
Karena wilayah merupakan salah satu unsur hak yang dilin-

n Bab. II >> Meredistribusikan Sumber Daya Produktif 35
dungi, maka menjadi tidak tepat kalau di wilayah yang telah di-
akui adanya hak-hak tradisional tersebut nelayan tradisional atau
masyarakat tradisional harus mempunyai ijin.
Oleh karena adanya pengakuan atas hak-hak tradisional ne-
layan tradisional harus diberlakukan affirmative action. Akan teta-
pi dalam Undang-undang Perubahan Undang-undang Pengelo-
laan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau terjadi persamaan perlakuan
antara perseorangan, korporasi dan koperasi yang dibentuk
masyarakat, dalam persyaratan teknis, operasional, adminitrasi
untuk memperoleh Izin. Dapat dipastikan perseorangan nelayan
tradisional dan koperasi masyarakat tradisional akan kalah dengan
perseorangan dan korporasi yang mempunyai modal yang besar.
Pengaturan tentang perijinan bagi nelayan tradisional berten-
tang dengan prinsip-prinsip penghormatan, perlindungan dan
pemenuhan hak asasi manusia dan dan prinsip perekonomian na-
sional yang telah ditentukan dalam konstitusi Republik Indonesia,
UUD 1945. Pasal 28I ayat (3) UUD 1945 menyatakan:
“Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati
selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban.”

Mahkamah Konstitusi dalam Putusan Permohonan Uji Materi
Undang-undang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Kecil telah
berpendapat bawah salah satu tolak ukur “sebesar-besar kemak-
muran rakyat” yang diatur dalam Pasal 33 UUD 1945 adalah peng-
hormatan terhadap hak rakyat turun-temurun dalam memanfaat-
kan sumber daya alam.
Persoalan perlakuan sama terhadap sesuatu yang berbeda
sebelumnya juga telah dinyatakan dalam Putusan Mahkamah
Konstitusi Nomor : 3/PUU-VII/2010 tentang Pengujian Undang-
undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, yang dalam pertimbangannya
36 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
mahkamah berpendapat:
”Pemberian HP-3 dapat menimbulkan diskriminasi secara
tidak langsung (indirect discrimination). Bila suatu keten-
tuan hukum yang nampaknya netral, baik kriteria mau-
pun secara praktisnya, tetapi hal itu akan menimbulkan
kerugian bagi orang-orang tertentu yaitu masyarakat
nelayan dibandingkan pemilik modal kuat. Oleh karena
kemampuan dan keadaan para nelayan tradisional tidak
seimbang dibandingkan dengan kemampuan dan keadaan
pemilik modal besar dalam persaingan memperoleh hak
pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, maka
akan terjadi indirect discrimination yang berakibat merugi-
kan para nelayan tradisional”.

Praktek diskriminasi jelas bertentangan dengan Pasal 28I ayat
(2) Undang-undang Dasar 1945 yang menyatakan: ”Setiap orang
bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa-
pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan
yang bersifat diskriminatif itu”.
Undang-undang perubahan ini juga menghindar dari persoal-
an krusial dengan member mandat kepada Peraturan Presiden
terkait pengalihan saham dan luasan lahan yang dipergunakan
penanaman modal asing di pulau-pulau kecil.
Pasal 26A Undang-Undang Perubahan Undang-undang Penge-
lolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil menyatakan:
(1) Pemanfaatan pulau-pulau kecil dan pemanfaatan perairan di
sekitarnya dalam rangka penanaman modal asing harus men-
dapat izin Menteri.
(2) Penanaman modal asing sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) harus mengutamakan kepentingan nasional.
(3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah
mendapat rekomendasi dari bupati/wali kota.
n Bab. II >> Meredistribusikan Sumber Daya Produktif 37
(4) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
a. badan hukum yang berbentuk perseroan terbatas;
b. menjamin akses publik;
c. tidak berpenduduk;
d. belum ada pemanfaatan oleh Masyarakat Lokal;
e. bekerja sama dengan peserta Indonesia;
f. melakukan pengalihan saham secara bertahap kepada
peserta Indonesia;
g. melakukan alih teknologi; dan
h. memperhatikan aspek ekologi, sosial, dan ekonomi pada
luasan lahan.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengalihan saham dan luasan
lahan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf f dan huruf
h diatur dengan Peraturan Presiden.

Bahwa penggunaan tanah di pulau-pulau kecil harusnya
tetap merujuk pada Undang-undang No. 5 Tahun 1960 tentang
Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria.

6. Kesimpulan
Redistribusi tanah dan sumber daya produktif lainnya meru-
pakan kewajiban konstitusional, kewajiban hukum dan kewajiban
HAM negara, sebagaimana diatur dalam UUD 1945, UUPA 1960
dan Kovenan Internasional Hak-hak Ekonomi Sosial dan Budaya.
Produk hukum dan intrumen HAM telah memberikan arahan
tentang bagaimana redistribusi tanah kepada petani dan sumber
daya produktif lainnya seharusnya dilakukan.
Produk hukum yang ada, dalam hal ini Undang-undang
Pangan, Undang-undang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani,

38 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
serta Undang-undang Perubahan Undang-undang Wilayah Pesisir
dan Pulau-pulau Kecil tidak cukup menjadi instrumen yang kuat
bagi pelaksanaan reforma agraria, meski ada sejumlah ruang untuk
melakukan terobosan hukum dan membuka peluang politik yang
bisa dimanfaatkan untuk membela hak atas pangan, hak nelayan,
hak petani dan masyarakat yang bekerja di pedesaan.

[] [] []

2. Program pembaruan agraria, ketika dijalankan secara benar untuk memberi kontribusi
dalam perubahan transformatif, amat sukses dalam mengurangi kemiskinan dan ketak-
setaraan di banyak negara. Pembaruan agraria terbukti amat berhasil ketika landreform se-
cara radikal mengurangi ketaksetaraan dalam soal distribusi tanah dan diikuti dengan akses
yang memadai atas input lain, dan ketika rintangan politis atas pembaruan itu berhasil
diatasi. Pemilikan tanah yang aman, yang mempunyai catatan soal tanah yang akurat, dan
administrasi tanah yang efisien dan adil, tidak korup, dan dengan pendanaan yang mema-
dai, menjadi elemen yang amat penting untuk pembaruan yang sukses. Juga jelas bahwa
dalam landreform, tanah itu sendiri tidaklah cukup. Sering kualitas tanah sama pentingnya
dengan kuantitas nafkah yang mungkin untuk diusahakan. Akses atas tanah juga harus
diikuti dengan akses yang memadai atas input lain, termasuk air, kredit, transpor, perluasan
layanan publik, dan infrastruktur lain.
3. Pertanian skala kecil cenderung menggunakan tenaga kerja manusia daripada pertanian
yang amat termekanisasi dan dengan teknologi tinggi, dan dengan itu semakin mengem-
bangkan lapangan kerja pertanian. Hal ini kemudian mengembangkan kesempatan kerja
non-pertanian, sebagaimana suatu keluarga pertanian berbasis luas yang mendapatkan
manfaat dari landreform menerima pendapatan yang lebih tinggi dan masuk ke dalam
pasar untuk membeli rentang barang dan layanan yang diproduksi lokal. Banyak studi
berargumen bahwa hanya landreform yang mempunyai potensi untuk menjawab masalah
pengangguran kronis di banyak negara berkembang. Sebagaimana pertanian skala kecil
memperkerjakan lebih banyak tenaga kerja dan lebih mencapai kondisi modal-intensif,
hanya landreform yang mampu mengurangi urbanisasi pesat dan membalik migrasi yang
berpola desa ke kota
4. Secara umum, berdasarkan bukti dari pembaruan agraria yang telah dilembagakan di lebih
dari 60 negara sejak Perang Dunia II, landreform berhasil ketika pembaruan itu benar-benar
transformatif dan mempunyai sifat distributif yang asli, ketika tanah berkualitas didistribusi-
kan kepada kelompok miskin, dan ketika struktur kekuasaan pedesaan diterobos. Seba-
liknya, pembaruan yang hanya memberikan tanah tidak berkualitas kepada masyarakat,
atau yang gagal mengubah struktur kekuasaan desa yang nyata-nyata menjadi penyebab
kemiskinan, gagal menghasilkan dampak penting untuk perubahan dalam masalah ketak-
setaraan, kemiskinan, dan kelaparan.

n Bab. II >> Meredistribusikan Sumber Daya Produktif 39
5. Akses atas pembaruan agraria dan tanah harus menjadi kunci dari Hak atas Pangan
(right to food). Dasar legal sudah jelas di dalam teks Kovenan Internasional Hak Ekonomi,
Sosial, dan Budaya. Di bawah artikel 11, paragraf 2 (a), negara-negara berkomitmen untuk
“mengembangkan atau memulai pembaruan sistem agraria dengan cara mana sehingga
tercapai pembangunan yang paling efisien dan penggunaan sumber daya alam” (develop-
ing or reforming agrarian systems in such a way as to achieve the most efficient development
and utilization of natural resources). Sekarang ini terjadi peningkatan pengertian terhadap
hal dimana pertanian skala kecil lebih efisien daripada yang berskala besar, dan lebih
mampu untul melindungi lingkungan. Hal ini dapat dapat dipahami bahwa mempromosi-
kan reforma agraria juga berarti mempromosikan pertanian skala kecil. General Comment
12, yang merupakan interpretasi yang otoritatif Komite Ekonomi, Sosial, Ekonomi, Budaya
(CESCR) mengenai Hak atas Pangan, menyatakan secara jelas bahwa Hak atas Pangan me-
merlukan akses fisik dan ekonomi atas sumber daya. Komentar itu mengakui bahwa akses
atas pangan datang baik dari akses atas pendapatan, atau akses atas sumber daya produktif
seperti tanah. Argumen yang diajukan adalah bahwa kelompok rentan, termasuk mereka
yang tidak mempunyai tanah, membutuhkan perhatian khusus, dan bahwa masyarakat
adat dan perempuan mempunyai hak atas warisan dan kepemilikan tanah. Jelas bahwa
kewajiban pemerintah untuk menghormati Hak atas Pangan berarti bahwa negara harus
mengambil segala langkah yang dapat memperbaiki akses atas pangan. Dengan ini, peng-
gusuran tanpa kompensasi yang pantas berati pelanggaran atas Hak atas Pangan.
6. Hak perempuan atas tanah dan hak milik harta benda juga dilindungi oleh Konvensi
Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi atas Perempuan (Convention on the Elimina-
tion of All Forms of Discrimination against Women). Article 14.2 melarang diskriminasi atas
perempuan di wilayah pedesaan dan menyerukan perlakuan setara dalam soal tanah dan
reforma agraria. Article 16.1 (h) menyerukan hak kesetaraan atas kepemilikan harta benda.
Meskipun demikian, meski di banyak negara telah ada pengakuan legal dan seringkali
konstitusional atas hak tersebut, perempuan masih menghadapi halangan besar dalam hal
warisan, pembelian atau kontrol atas tanah, meski telah diakui secara luas bahwa perem-
puan melakukan proses produksi 60%-80% dari panen pangan di negara berkembang, dan
memainkan peranan penting dalam memastikan keamanan pangan di suatu rumah tangga.
Sebagai tambahan, program distribusi tanah seringkali hanya memperhitungkan laki-laki-
lah penerimanya, bukan perempuan. Hal ini harus dirubah jika memang kita mau reforma
agraria berhasil. Bentuk-bentuk tradisional dari sewa-milik tanah dan hak guna-nya harus
lebih diakui dan dimengerti. Hak masyarakat adat atas tanah dilindungi oleh artikel 13 dan
19 dari Konvensi tahun 1989 ILO (International Labour Organisation – Organisasi Perburuhan
Internasional) mengenai Masyarakat Adat dan Suku. Hak Masyarakat Adat atas Tanah juga
termasuk dalam Hak atas Pangan di dalam General Comment 12 Komite Ekonomi, Sosial,
Budaya (Committee on Economic, Social, and Cultural Rights). Ada juga draf deklarasi hak
Masyarakat Adat, yang disiapkan oleh Kelompok Kerja Komisi HAM PBB, yang memberikan
lebih besar perlindungan terhadap hak Masyarakat Adat atas tanah saat nanti diberlakukan.
Jelas bahwa tanah yang secara tradisi dihuni dan digunakan oleh masyarakat adat seringkali
diambil sebagai bagian milik (apropriasi), seringkali melalui berbagai bentuk kekerasan
atau diskriminasi, dan bahwa cara untuk menjamin perlindungan yang efektif terhadap hak
kepemilikan (ownership and possession) mereka adalah mendasar.
7. Landreform yang berdasar pasar (“market based”) yang justru membuat legislasi lokal dan
komitmen konstitusi menjadi merosot atau yang membuat kemungkinan reforma agraria
yang benar-benar transformtif dan redistributif terhambat, haruslah dihindari.

40 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Ba b. I1I

Konstitusionalisme
Agraria

41
42 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Ba b. 1II
Konstitusionalisme Agraria

P
utusan-putusan Mahkamah Konstitusi dalam
perkara pengujian sejumlah undang-undang
terkait agraria (bumi, air, dan kekayaan alam yang
terkandung di dalamnya) terhadap UUD 1945, mem-
perlihatkan pendapat-pendapat Mahkamah Konstitusi
terkait pengertian-pengertian tentang Hak Mengua-
sai Negara (HMN), Sebesar-besar kemakmuran rakyat,
reforma agraria, perlindungan hak-hak petani, nelayan
dan masyarakat adat, serta konflik agraria.
Pengertian-pengertian yang disusun oleh Mahkamah
Konstitusi bersumber dari Pembukaan UUD 1945.
Mahkamah Konstitusi menyatakan:
Bahwa dalam menemukan pengertian dan/
atau maksud dari suatu ketentuan yang ter-
dapat dalam pasal-pasal UUD 1945 tidaklah
cukup apabila hanya berpegang pada bunyi
teks pasal yang bersangkutan dan hanya dengan
menggunakan satu metode interpretasi ter-
tentu. UUD 1945, sebagaimana halnya setiap
undang-undang dasar atau konstitusi, adalah
sebuah sistem norma dasar yang memberi-
kan landasan konstitusional bagi pencapaian

n Bab. III >> Konstitusionalime Agraria 43
tujuan hidup berbangsa dan bernegara sebagaimana
digariskan dalam Pembukaan UUD 1945. Sebagai suatu
sistem, UUD 1945 adalah susunan kaidah-kaidah konsti-
tusional yang menjabarkan Kemerdekaan Kebangsaan
Indonesia, sebagaimana ditegaskan dalam Pembukaan
UUD 1945, alinea keempat:
“Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Peme-
rintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bang-
sa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan
untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban du-
nia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan
keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebang-
saan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar
Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan
Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat
dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Ke-
manusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia
dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksana-
an dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan
mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia”. Oleh karena itu, setiap interpretasi terhadap
suatu ketentuan dalam Pasal-pasal UUD 1945 harus selalu
mengacu kepada tujuan hidup berbangsa dan bernegara
sebagaimana yang digariskan dalam Pembukaan UUD
1945 tersebut.8

1. Hak Menguasai Negara
Pasal 33 UUD 1945 telah memberikan mandat adanya pe-
nguasaan negara atas bumi, air, serta kekayaan yang terkandung
di dalamnya untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
44 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Pasal 33 UUD 1945
(3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk
sebesarbesar kemakmuran rakyat.

Kalimat dikuasai oleh negara itulah yang kemudian melahir-
kan konsep Hak Menguasai Negara (HMN). Mahkamah Konstitusi
memiliki beberapa pendapat terkait konsepsi tersebut.
Pertama. HMN bukanlah kepemilikan dalam konsepsi hukum
perdata, melainkan kepemilikan publik oleh rakyat secara kolektif.
Di dalam putusan perkara pengujian Undang-undang Nomor 20
Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan, Mahkamah Konstitusi ber-
pendapat:
Mahkamah menafsirkan makna ”dikuasai oleh negara” se-
bagaimana dimaksud dalam Pasal 33 UUD 1945. Dalam
konteks ini, pengertian “dikuasai oleh negara” itu me-
ngandung pengertian yang lebih tinggi atau lebih luas
daripada pemilikan dalam konsepsi hukum perdata. Kon-
sepsi penguasaan oleh negara merupakan konsepsi hu-
kum publik yang berkaitan dengan prinsip kedaulatan
rakyat yang dianut dalam UUD 1945, baik di bidang politik
(demokrasi politik) maupun ekonomi (demokrasi ekono-
mi). Dalam paham kedaulatan rakyat itu, rakyatlah yang
diakui sebagai sumber, pemilik dan sekaligus pemegang
kekuasaan tertinggi dalam kehidupan bernegara, sesuai
dengan doktrin “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”.
Dalam pengertian kekuasaan tertinggi tersebut, tercakup
pula pengertian kepemilikan publik oleh rakyat secara
kolektif.9

n Bab. III >> Konstitusionalime Agraria 45
Kedua. HMN adalah mandat rakyat secara kolektif kepada ne-
gara. Di dalam putusan perkara pengujian Undang-undang Nomor
22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas, Mahkamah Konstitusi
berpendapat:
Pengertian “dikuasai oleh negara” haruslah diartikan men-
cakup makna penguasaan oleh negara dalam luas yang bersum-
ber dan diturunkan dari konsepsi kedaulatan rakyat Indonesia
atas segala sumber kekayaan “bumi, air dan kekayaan alam yang
terkandung di dalamnya”, termasuk pula di dalamnya pengertian
kepemilikan publik oleh kolektivitas rakyat atas sumber-sumber
kekayaan dimaksud. Rakyat secara kolektif itu dikonstruksikan
oleh UUD 1945 memberikan mandat kepada negara untuk meng-
adakan kebijakan (beleid) dan tindakan pengurusan (bestuurs-
daad), pengaturan (regelendaad), pengelolaan (beheersdaad),
dan pengawasan (toezichthoudensdaad) untuk tujuan sebesar-
besarnya kemakmuran rakyat. Fungsi pengurusan (bestuursdaad)
oleh negara dilakukan oleh Pemerintah dengan kewenangannya
untuk mengeluarkan dan mencabut fasilitas perijinan (vergun-
ning), lisensi (licentie), dan konsesi (consessie). Fungsi pengaturan
oleh negara (regelendaad) dilakukan melalui kewenangan legis-
lasi oleh DPR bersama Pemerintah, dan regulasi oleh Pemerintah.
Fungsi pengelolaan (beheersdaad) dilakukan melalui mekanisme
pemilikan saham. (share-holding) dan/atau melalui keterlibatan
langsung dalam manajemen Badan Usaha Milik Negara atau
Badan Hukum Milik Negara sebagai instrumen kelembagaan,
yang melaluinya Negara, c.q. Pemerintah, mendayagunakan pe-
nguasaannya atas sumber-sumber kekayaan itu untuk digunakan
bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Demikian pula fungsi
pengawasan oleh negara (toezichthoudensdaad) dilakukan oleh
Negara, c.q. Pemerintah, dalam rangka mengawasi dan mengen-
dalikan agar pelaksanaan penguasaan oleh negara atas sumber-

46 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
sumber kekayaan dimaksud benar-benar dilakukan untuk sebesar-
besarnya kemakmuran seluruh rakyat.10
Ketiga. HMN untuk melindungi kemakmuran rakyat. Dalam
putusan perkara pengujian Undang-undang Nomor 25 Tahun
2007 tentang Penanaman Modal, Mahkamah Konstitusi berpen-
dapat:
Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 menyatakan, “Bumi dan air
dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikua-
sai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar
kemakmuran rakyat”. Dalam rumusan tersebut terdapat
kepentingan yang dilindungi oleh konstitusi dan karena
itu penting ditegaskan adanya penguasaan oleh negara.
Kepentingan yang hendak dilindungi oleh konstitusi ada-
lah kemakmuran rakyat dalam kaitannya dengan peman-
faatan bumi, air, kekayaan yang terkandung di dalamnya.11

Keempat. HMN tidak dapat dikurangi atau ditiadakan oleh
pemberian hak atas tanah. Dalam putusan perkara pengujian
Undang-undang Penanaman Modal, Mahkamah Konstitusi ber-
pendapat:
Pemberian fasilitas HGU, HGB, dan Hak Pakai demikian tidak
meniadakan atau mengurangi kewenangan negara untuk men-
jalankan mandatnya yang diberikan oleh rakyat secara kolektif
Agar HMN tidak tertiadakan dan terkurangi maka Mahkamah
Konstitusi melarang pemberian hak-hak atas tanah demikian
(HGU, HGB, dan Hak Pakai) diberikan dengan perpanjangan di
muka sekaligus, karena dapat mengurangi, sekalipun tidak me-
niadakan, prinsip penguasaan oleh negara.
Bahkan fungsi pengawasan dan fungsi pengelolaan dari HMN
bisa terhalangi apabila hak atas tanah untuk penanaman modal
bisa diperpanjang di muka sekaligus. Hal tersebut disebabkan:
n Bab. III >> Konstitusionalime Agraria 47
Pertama, negara tidak lagi bebas menjalankan kehendaknya
untuk menghentikan atau tidak memperpanjang hak-hak atas
tanah sebagaimana jika perpanjangan hak-hak atas tanah itu
tidak diberikan secara di muka sekaligus;
Kedua, karena pemberian dan perpanjangan hak-hak atas
tanah tersebut diberikan sekaligus di muka, maka ketika negara
menghentikan atau membatalkan perpanjangan hak-hak atas
tanah dimaksud, perusahaan penanaman modal tetap berhak
mempersoalkan keabsahan tindakan negara tersebut;
Ketiga, karena pemberian dan perpanjangan hak-hak atas
tanah yang diberikan sekaligus di muka tersebut juga meng-
hambat negara untuk melakukan pemerataan kesempatan untuk
memperoleh hak-hak atas tanah tersebut secara adil.12

2. Sebesar-besar Kemakmuran Rakyat
Mahkamah Konstitusi juga telah memberikan pendapatnya
terkait frasa sebesar-besar kemakmuran rakyat, seperti yang ter-
cantum di dalam Pasal 33 UUD 1945.
Pada putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 3/PUU-VII/2010
dalam perkara pengujian Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007
tentang Pengelolaan Perairan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil terha-
dap UUD RI 1945, Mahkamah Konstitusi berpendapat:
Dengan adanya anak kalimat “dipergunakan untuk sebesar-
besar kemakmuran rakyat” dalam Pasal 33 ayat (3) UUD
1945, maka sebesar-besar kemakmuran rakyat-lah yang
menjadi ukuran utama bagi negara dalam menentukan
pengurusan, pengaturan atau pengelolaan atas bumi, air,
dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya.13
“untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat” di bidang
sumberdaya alam diperlukan empat tolok ukur yaitu :

48 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
(i). Kemanfaatan sumber daya alam bagi rakyat, (ii).Ting-
kat pemerataan manfaat sumber daya alam bagi rakyat,
(iii).Tingkat partisipasi rakyat dalam menentukan man-
faat sumber daya alam, (iv).Penghormatan terhadap hak
rakyat secara turun temurun dalam pemanfaatan sumber
daya alam.14

3. Reforma Agraria
Dalam rangka melindungi sebesar-besar kemakmuran rakyat,
menurut Mahkamah Konstusi diperlukan Hak Menguasai Negara.
Agar tujuan itu tercapai diperlukan kebijakan negara untuk me-
lakukan redistribusi tanah dan pembatasan pemilikan luas tanah
pertanian sebagaimana pendapat Mahkamah Konstitusi sebagai
berikut :
Sepanjang menyangkut tanah, maka atas dasar adanya kepen-
tingan yang dilindungi oleh konstitusi itulah dibuat kebijakan na-
sional di bidang pertanahan yang dimaksudkan untuk mencapai
tujuan kemakmuran rakyat, di antaranya berupa pendistribusian
kembali pemilikan atas tanah dan pembatasan pemilikan luas tanah
pertanian, sehingga penguasaan atau pemilikan tanah tidak ter-
pusat pada sekelompok orang tertentu. Inilah yang antara lain
dilakukan melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang
Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA) (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 2043) dan Undang-Undang
Nomor 56 Prp Tahun 1960 tentang Pembatasan Luas Tanah Per-
tanian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor
116, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4431). Dengan adanya pembatasan dan pendistribusian demikian
berarti sumber ekonomi akan tersebar pula secara lebih merata

n Bab. III >> Konstitusionalime Agraria 49
dan pada akhirnya akan tercapai tujuan pemerataan kemakmur-
an rakyat. Di samping itu, untuk tanah yang dikuasai oleh negara,
pemerataan hak atas tanah tersebut dilakukan dengan kebijakan
pemerataan kesempatan untuk memperoleh HGU, HGB, dan Hak
Pakai dalam jangka waktu tertentu yang tidak terlalu lama.15
Tanah negara yang diredistribusikan kepada petani juga
tidak boleh dipungut sewa oleh Pemerintah, demikian pendapat
Mahkamah Konstitusi dalam putusan perkara pengujian Undang-
undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pem-
berdayaan Petani:
Sewa menyewa tanah antara negara dengan warga ne-
gara khususnya petani adalah politik hukum yang sudah
ditinggalkan sejak berlakunya Undang-Undang Pokok
Agraria (UUPA) karena politik hukum demikian adalah
politik hukum peninggalan kolonialisme yang bersifat
eksploitatif terhadap rakyat.16

4. Perlindungan Hak Rakyat Pedesaan
Mahkamah Konstitusi telah memberikan pendapat tentang
perlindungan hak-hak konstitusional rakyat di perdesaan, baik ne-
layan, masyarakat adat dan petani, terkait bumi, air, dan kekayaan
alam yang terkandung di dalamnya.
Di dalam putusan perkara pengujian Undang-undang Penge-
lolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Mahkamah Konsti-
tusi berpendapat:
Penguasaan oleh negara atas bumi, air dan kekayaan alam
yang terkandung di dalamnya harus juga memperhatikan
hak-hak yang telah ada, baik hak individu maupun hak
kolektif yang dimiliki masyarakat hukum adat (hak ulayat),

50 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
hak masyarakat adat serta hak-hak konstitusional lainnya
yang dimiliki oleh masyarakat dan dijamin oleh konstitusi,
misalnya hak akses untuk melintas, hak atas lingkungan
yang sehat dan lain-lain.17

Mahkamah Konstitusi juga mengakui hak-hak masyarakat di
pedesaan pesisir:
Menurut Mahkamah dalam wilayah perairan pesisir dan
pulau-pulau kecil telah terdapat hak-hak perseorangan,
hak masyarakat hukum adat serta hak masyarakat nelayan
tradisional, hak badan usaha, atau hak masyarakat lainnya
serta berlakunya kearifan lokal yaitu nilai-nilai luhur yang
masih berlaku dalam tata kehidupan masyarakat.18

Hak-hak masyarakat adat juga tidak bisa diberikan kepada
swasta yang mengakibatkan hilangnya tanggungjawab nega-
ra serta tidak bisa dikompensasi karena bertentangan dengan
sifat hak yang bersifat turun menurun, sebagaimana pendapat
Mahkamah Konstitusi dalam putusan perkara pengujian Undang-
undang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil:
Diserahkan kepada swasta dengan pembayaran ganti
kerugian. Hal itu akan mengakibatkan hilangnya hak-hak
masyarakat adat/tradisional yang bersifat turun temurun,
padahal hak-hak masyarakat tersebut mempunyai karak-
teristik tertentu, yaitu tidak dapat dihilangkan selama
masyarakat adat itu masih ada.
Demikian juga mengenai konsep ganti kerugian terha-
dap masyarakat yang memiliki hak-hak tradisional atas
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, akan menghilang-

n Bab. III >> Konstitusionalime Agraria 51
kan hak-hak tradisional rakyat yang seharusnya dinikmati
secara turun temurun (just saving principle), karena dengan
pemberian ganti kerugian maka hak tersebut hanya
dinikmati oleh masyarakat penerima ganti kerugian pada
saat itu. Hal itu juga bertentangan dengan prinsip hak-
hak tradisional yang berlaku secara turun temurun, yang
menurut Mahkamah bertentangan dengan jiwa Pasal 18B
UUD 1945 yang mengakui dan menghormati kesatuan-
kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradi-
sionalnya.19

Bagi Mahkamah Konstitusi, sebagaimana mandat UUD
1945, seharusnya perlindungan masyarakat adat diatur di dalam
undang-undang bukan peraturan di bawah undang-undang se-
bagaimana yang sekarang terjadi. Di dalam putusan dalam perka-
ra pengujian Undang-undang Perkebunan, Mahkamah Konstitusi
berpendapat:
Sudah sewajarnya jika perlindungan hak-hak masyarakat
hukum adat sebagai hak-hak tradisional mereka
yang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan
masyarakat dalam kerangka negara kesatuan Republik
Indonesia dalam bentuk Undang-Undang segera da-
pat diwujudkan, agar dengan demikian ketentuan Pasal
18B UUD 1945 mampu menolong keadaan hak-hak
masyarakat hukum adat yang semakin termarginalisasi
dan dalam kerangka mempertahankan pluralisme ke-
hidupan berbangsa dan bernegara.

Masyarakat adat, sebagai subyek hak, memiliki hak untuk
mengelola haknya, sehingga penguasaan negara dibatasi agar

52 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
yang tidak tumpang tindih, sebagaimana pendapat Mahkamah
Konstitusi dalam perkara pengujian Undang-undang Kehutanan
sebagaimana berikut:
Menurut Mahkamah, keberadaan hutan adat dalam ke-
satuannya dengan wilayah hak ulayat dari suatu
masyarakat hukum adat adalah konsekuensi pengakuan
terhadap hukum adat sebagai - living law.
Hutan adat dalam kenyataannya berada dalam wilayah
hak ulayat. Dalam wilayah hak ulayat terdapat bagian-
bagian tanah yang bukan hutan yang dapat berupa ladang
penggembalaan, kuburan yang berfungsi untuk meme-
nuhi kebutuhan umum, dan tanah-tanah yang dimiliki se-
cara perseorangan yang berfungsi memenuhi kebutuhan
perseorangan. Keberadaan hak perseorangan tidak bersi-
fat mutlak, sewaktu-waktu haknya dapat menipis dan me-
nebal. Jika semakin menipis dan lenyap akhirnya kembali
menjadi kepunyaan bersama.
Hubungan antara hak perseorangan dengan hak ulayat
bersifat lentur. Hak pengelolaan hutan adat berada pada
masyarakat hukum adat, namun jika dalam perkem-
bangannya masyarakat hukum adat yang bersangkutan
tidak ada lagi, maka hak pengelolaan hutan adat jatuh ke-
pada Pemerintah.
Wewenang hak ulayat dibatasi seberapa jauh isi dari we-
wenang hak perseorangan, sedangkan wewenang negara
dibatasi sejauh isi dan wewenang hak ulayat. Dengan cara
demikian, tidak ada tumpang tindih (kejumbuhan) antara
wewenang negara dan wewenang hak masyarakat hu-
kum adat yang berkenaan dengan hutan. Negara hanya

n Bab. III >> Konstitusionalime Agraria 53
mempunyai wewenang secara tidak langsung terhadap
hutan adat;
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka diatur hubungan
antara hak menguasai negara dengan hutan negara, dan
hak menguasai negara terhadap hutan adat. Terhadap hu-
tan negara, negara mempunyai wewenang penuh untuk
mengatur dan memutuskan persediaan, peruntukan, pe-
manfaatan, pengurusan serta hubungan-hubungan hu-
kum yang terjadi di wilayah hutan negara.

Kewenangan pengelolaan oleh negara di bidang kehutanan
seharusnya diberikan kepada kementerian yang bidangnya meli-
puti urusan kehutanan. Terhadap hutan adat, wewenang negara
dibatasi sejauh mana isi wewenang yang tercakup dalam hutan
adat. Hutan adat (yang disebut pula hutan marga, hutan pertuan-
an, atau sebutan lainnya) berada dalam cakupan hak ulayat ka-
rena berada dalam satu kesatuan wilayah (ketunggalan wilayah)
masyarakat hukum adat, yang peragaannya didasarkan atas leluri
(traditio) yang hidup dalam suasana rakyat (in de volksfeer) dan
mempunyai suatu badan perurusan pusat yang berwibawa dalam
seluruh lingkungan wilayahnya. Para warga suatu masyarakat
hukum adat mempunyai hak membuka hutan ulayatnya untuk
dikuasai dan diusahakan tanahnya bagi pemenuhan kebutuhan
pribadi dan keluarganya. Dengan demikian, tidak dimungkinkan
hak yang dipunyai oleh warga masyarakat hukum adat tersebut
ditiadakan atau - dibekukan sepanjang memenuhi syarat dalam
cakupan pengertian kesatuan masyarakat hukum adat seba-
gaimana dimaksud dalam Pasal 18B ayat (2) UUD 1945.21
Yang sering menjadi permasalahan bagaimana pengakuan

54 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
dan syarat pengakuan terhadap Masyarakat Adat dilakukan.
Mahkamah Konstitusi telah memberikan pendapat atas frasa
“sepanjang kenyataannya masih ada dan diakui keberadaanya”,
yang singkatnya harus diartikan sebagai penghormatan dan per-
lindungan.

UUD 1945 telah menjamin keberadaan kesatuan kesatuan
masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya
sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan
masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indo-
nesia yang diatur dengan Undang-undang dalam Pasal
18B ayat (2) UUD 1945. Sekalipun disebut masyarakat
hukum adat, masyarakat demikian bukanlah masyarakat
yang statis. Gambaran masyarakat hukum adat masa lalu
untuk sebagian, kemungkinan besar telah mengalami pe-
rubahan pada masa sekarang. Bahkan masyarakat hukum
adat dengan hak ulayatnya di berbagai tempat, lebih-lebih
di daerah perkotaan sudah mulai menipis dan ada yang
sudah tidak ada lagi. Masyarakat demikian telah berubah
dari masyarakat solidaritas mekanis menjadi masyarakat
solidaritas organis. Dalam masyarakat solidaritas mekanis
hampir tidak mengenal pembagian kerja, mementing-
kan kebersamaan dan keseragaman, individu tidak boleh
menonjol, pada umumnya tidak mengenal baca tulis,
mencukupi kebutuhan sendiri secara mandiri (autochton),
serta pengambilan keputusan-keputusan penting dis-
erahkan kepada tetua masyarakat (primus interpares). Di
berbagai tempat di Indonesia masih didapati masyarakat
hukum yang bercirikan solidaritas mekanis. Masyarakat
demikian merupakan unikum-unikum yang diakui ke-
beradaannya (rekognisi) dan dihormati oleh UUD 1945.

n Bab. III >> Konstitusionalime Agraria 55
Kata “memperhatikan” dalam Pasal 4 ayat (3) UU Kehu-
tanan harus dimaknai lebih tegas, yaitu negara mengakui
dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum
adat beserta hak-hak tradisionalnya, sejalan dengan mak-
sud Pasal 18B ayat (2) UUD 1945. Adapun syarat peng-
akuan dan penghormatan masyarakat hukum adat dalam
frasa - sepanjang kenyataannya masih ada dan diakui ke-
beradaannya, harus dimaknai sepanjang masih hidup dan
sesuai dengan perkembangan masyarakat, karena hukum
adat pada umumnya merupakan hukum yang tidak tertu-
lis dan merupakan living law, artinya merupakan hukum
yang diterima (accepted) dan dijalankan (observed) serta
ditaati oleh masyarakat yang bersangkutan karena me-
menuhi rasa keadilan bagi mereka dan sesuai serta diakui
oleh konstitusi;
Di samping itu, berkenaan dengan syarat sepanjang ke-
nyataannya masih ada dan diakui keberadaannya, dalam
kenyataannya status dan fungsi hutan dalam masyarakat
hukum adat bergantung kepada status keberadaan-
masyarakat hukum adat. Kemungkinan yang terjadi
adalah: (1) kenyataannya masih ada tetapi tidak diakui
keberadaannya; (2) kenyataannya tidak ada tetapi diakui
keberadaannya. Jika kenyataannya masih ada tetapi tidak
diakui keberadaannya, maka hal ini dapat menimbulkan
kerugian pada masyarakat yang bersangkutan. Misalnya,
tanah/hutan adat mereka digunakan untuk kepentingan
lain tanpa seizin mereka melalui cara-cara penggusuran-
penggusuran. Masyarakat hukum adat tidak lagi dapat
mengambil manfaat dari hutan adat yang mereka kuasai.
Sebaliknya dapat terjadi masyarakat hukum adat kenyataan-

56 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
nya tidak ada tetapi objek hak-hak adatnya masih diakui.
Artinya, berdasarkan sejarah keberadaan mereka pernah
diakui oleh negara, padahal kenyataannya sesuai dengan
perkembangan zaman sudah tidak terdapat lagi tanda-
tanda atau sifat yang melekat pada masyarakat hukum
adat. Tanda-tanda dan sifat masyarakat hukum adat yang
demikian tidak boleh dihidup-hidupkan lagi keberadaan-
nya, termasuk wewenang masyarakat atas tanah dan hutan
yang pernah mereka kuasai. Hutan adat dengan demikian
kembali dikelola oleh Pemerintah/Negara.
Pengakuan keberadaan masyarakat hukum adat, tidak
bermaksud melestarikan masyarakat hukum adat dalam
keterbelakangan, tetapi sebaliknya mereka harus tetap
memperoleh kemudahan dalam mencapai kesejahtera-
an, menjamin adanya kepastian hukum yang adil baik
bagi subjek maupun objek hukumnya, jika perlu mem-
peroleh perlakuan istimewa (affirmative action). Identitas
budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras
dengan perkembangan zaman dan peradaban (vide Pasal
28I ayat (3) UUD 1945). Tidak dapat dihindari, karena pe-
ngaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
masyarakat hukum adat cepat atau lambat juga akan
mengalami perubahan, bahkan lenyap sifat dan tanda-
tandanya. Perubahan tersebut dapat berdampak positif
maupun negatif bagi masyarakat yang bersangkutan.
Untuk mencegah terjadinya dampak negatif, UUD 1945
memerintahkan keberadaan dan perlindungan kesatuan-
kesatuan masyarakat hukum adat supaya diatur dalam
Undang-undang, agar dengan demikian menjamin ada-
nya kepastian hukum yang berkeadilan.22

n Bab. III >> Konstitusionalime Agraria 57
Lewat putusan Mahkamah Konstitusi dalam perkara Pengujian
Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya
Tanaman terhadap Undang-undang Dasar Negara Republik Indo-
nesia Tahun 1945, Mahkamah Konstitusi membatalkan pasal-pasal
yang melarang dan mengkriminalkan petani dalam pemuliaan
tanaman.
Putusan tersebut mengakibatkan tidak dilarang perorangan
petani kecil yang melakukan kegiatan berupa pencarian dan pe-
ngumpulan plasma nutfah untuk dirinya maupun komunitasnya
sendiri, dan tidak dilarang pengedaran hasil pemuliaan yang di-
lakukan oleh perorangan petani kecil dalam negeri untuk komuni-
tas sendiri yang tidak lebih dahulu dilepas oleh Pemerintah.
Alasan-alasan yang dipergunakan Mahkamah Konstitusi
dalam menyusun pendapat-pendapatnya antara lain:23
Pertama, petani kecil sebetulnya telah melaksanakan pen-
carian dan pengumpulan plasma nutfah dalam kegiatan pertanian-
nya semenjak lama, bahkan dapat dikatakan juga menjadi peles-
tari karena dengan pola pemilihan tanaman sebetulnya petani
telah memilih varietas tertentu yang dianggap menguntungkan.
Kedua, khusus varietas hasil pemuliaan dalam negeri yang
dilakukan oleh perorangan petani kecil, yang mata pencaharian
mereka dari hasil pertanian, bahkan secara turun temurun ber-
kecimpung dalam dunia pertanian adalah tidak mungkin atau
bahkan mustahil akan melakukan sabotase pertanian, sebab hal
itu berarti melakukan sabotase terhadap kehidupan sendiri. Per-
orangan petani kecil pada umumnya justru mewarisi atau memili-
ki kearifan lokal di sektor pertanian yang dapat ditumbuhkembang-
kan untuk ikut memajukan sektor pertanian.

Terkait kewajiban negara mengupayakan pertanahan bisa
untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat melalui pendistribusi-
an kembali dan pembatasan luas kepemilikan tanah pertanian,

58 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Mahkamah Konstitusi dalam putusan pengujian Undang-undang
Perlindungan dan Pemberdayaan petani juga berpendapat bahwa
redistribusi tanah negara harus memprioritaskan petani yang be-
nar-benar tidak punya tanah.24
Mahkamah Konstitusi juga menegaskan bahwa kebebasan
berkumpul dan berserikat adalah hak konstitusional petani.
Mahkamah Konstitusi berpendapat:
Petani harus diberikan hak dan kebebasan untuk ber-
gabung atau tidak bergabung dengan kelembagaan ben-
tukan Pemerintah dan juga dapat bergabung dengan kelem-
bagaan petani yang dibentuk oleh petani itu sendiri.25

5. Hak atas Pangan
Dalam pertimbangan hukumnya, Mahkamah Konstitusi
merujuk pada Kovenan Internasional Hak Ekonomi dan Budaya
dalam memberikan penafsirkan kepada Undang-undang Pangan.
Mahkamah Konstitusi dalam perkara pengujian Undang-undang
Pangan berpendapat:
Frasa kebutuhan dasar manusia adalah sandang, pangan
dan papan (perumahan) hal tersebut berkesuaian den-
gan Pasal 11 (1) Covenant On Economic, Social And Cultural
Right, sebagaimana telah disahkan dengan Undang-un-
dang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan Inter-
national Covenant On Economic, Social And Cultural Rights
(Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial
Dan Budaya) (Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak
Ekonomi, Sosial Dan Budaya), yang pada pokoknya me-
nyatakan kebutuhan dasar manusia tidak hanya menyang-
kut pangan, tetapi juga sandang dan perumahan. Bahwa
kebutuhan dasar manusia yang utama adalah pangan.26
n Bab. III >> Konstitusionalime Agraria 59
6. Konflik Agraria
Di dalam putusan perkara pengujian Undang-undang Nomor
18 Tahun 2004 tentang Perkebunan, Mahkamah Konstitusi ber-
pendapat tentang konflik agraria, khususnya terkait kriminalisasi
masyarakat dengan tuduhan pendudukan tanah tanpa izin di areal
perkebunan.
Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa masalah penduduk-
an tanah tanpa izin pemilik sangatlah beragam sehingga penye-
lesaiannya seharusnya menurut pertimbangan-pertimbangan
keadaan yang berbeda: kapan munculnya persoalan tersebut?;
apakah pendudukan tanah tersebut merupakan cara memperoleh
tanah menurut hukum adat?; apakah pendudukan tersebut karena
keadaan darurat telah diijinkan oleh penguasa?; apakah pen-
dudukan tersebut disebabkan batas wilayah penguasaan secara
hukum adat dengan wilayah yang dikuasai langsung oleh negara
tidak jelas? Kasus-kasus yang sekarang timbul di daerah-daerah
perkebunan yang baru dibuka, sangat mungkin disebabkan oleh
tiadanya batas yang jelas antara wilayah hak ulayat dan hak indi-
vidual berdasarkan hukum adat dengan hak-hak baru yang diberi-
kan oleh negara berdasarkan ketentuan perundang-undangan.27
Uraian pendapat Mahkamah Konstitusi seperti tersebut di
atas, menurut Mahkamah Konstitusi adalah proses sejarah, seba-
gaimana pendapat Mahkamah Konstitusi tersebut di bawah ini:
Tindakan okupasi tanah tanpa izin pemilik merupakan
peristiwa atau kasus yang sudah terjadi sejak zaman Hindia
Belanda. Pemerintah Hindia Belanda telah memberikan
banyak konsesi tanah kepada pemilik modal yang diberi-
kan dalam bentuk hak erfpacht. Tanah yang menjadi ob-
jek hak erfpacht tersebut diberikan tanpa batas yang je-
las, sehingga seringkali melanggar hak atas tanah-tanah

60 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
yang dikuasai (hak ulayat) atau dimiliki rakyat berdasar-
kan hukum adat (erfelijk individueel bezitrecht), sehingga
menimbulkan konflik antara pemilik hak erfpacht dengan
masyarakat adat yang menguasai hak ulayat. Untuk me-
nyelesaikannya Pemerintah Hindia Belanda mengeluar-
kan Ordonnantie 7 Oktober 1937, S.1937-560. Kedudukan
persil erfpacht kuat karena selalu dimungkinkan mengusir
rakyat (inlanders) yang memakai tanah baik dengan ganti
rugi maupun tanpa ganti rugi. Seringkali karena dalam
akte erfpacht tahun 1909 tidak ada syarat yang disebut
“bebouwing clausule”, sehingga pemilik erfpacht tidak
wajib untuk mengusahakan seluruh tanah erfpachtnya.
Akibatnya, bagian tanah yang tidak diusahakan jauh me-
lebihi batas yang biasa disediakan untuk cadangan.
Pada zaman Jepang, Pemerintah Pendudukan Jepang telah
mengijinkan rakyat menduduki tanah perkebunan milik
pemegang erfpacht agar dikerjakan dan hasilnya dibagi
antara Pemerintah Pendudukan Jepang dengan rakyat
dalam rangka menimbun stok pangan untuk kepentingan
Perang Dunia II. Tanah-tanah perkebunan demikian sam-
pai sekarang masih banyak yang diduduki rakyat tetapi
dipersoalkan Pemerintah Indonesia karena dianggap
tidak sah, sehingga timbul sengketa antara rakyat dengan
Pemerintah.
Pemilik erfpacht dengan membonceng agresi militer Be-
landa I dan II telah berusaha mengambil kembali tanah
di banyak onderneming misalnya di Sumatera Timur, Asa-
han, dan Malang Selatan. Untuk itu dikeluarkan Ordonnan-
tie onrechtmatige occupatie van gronden (Ord.8 Juli 1948, S
1948-110), serta Surat Edaran Kementerian Dalam Negeri

n Bab. III >> Konstitusionalime Agraria 61
No.A.2.30/10/37 (Bijblaad 15242), yang intinya mengan-
jurkan agar penyelesaian tanah erfpacht tersebut dilaku-
kan melalui jalan perundingan. Demikian juga dalam Per-
setujuan Keuangan dan Perekonomian Konferansi Meja
Bundar 1949 juga disebutkan “Tiap-tiap tindakan akan
dipertimbangkan dan akan diusahakanlah penyelesaian
yang dapat diterima oleh segala pihak“;
Undang-undang Nomor 51/Prp/1960 tentang Larangan
Pemakaian Tanah Tanpa Izin Yang Berhak atau Kuasanya
juga menekankan jalan musyawarah untuk menyelesai-
kannya. Peraturan Menteri Pertanian dan Agraria Nomor
11 Tahun 1962, mengecualikan pemberian hak guna usa-
ha kepada swasta nasional atas bagian tanah bekas areal
perkebunan besar yang sudah merupakan perkampungan
rakyat, diusahakan rakyat secara tetap, dan tidak diperlu-
kan oleh Pemerintah. Malahan, Pasal 10 ayat (1) Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 3 Tahun 1979 menyatakan
tanah-tanah perkebunan yang diduduki rakyat tersebut
dengan pertimbangan teknis dan seterusnya, akan diberi-
kan suatu hak baru.28

Dari kajian historis seperti tersebut di atas, maka terlihat pen-
dapat Mahkamah Konstitusi atas penyelesaian konflik agraria di
perkebunan. Pertama, perundingan jika terkait penanaman mod-
al asing; Kedua, musyawarah; Dan ketiga, tidak memberikan HGU
kepada swasta jika lahan perkebunan sudah digarap rakyat dan
memberikan hak baru atas tanah garapan tersebut untuk rakyat.
Oleh karenanya Mahkamah Konstusi berpendapat, konflik
agraria di areal perkebunan diselesaikan dengan jalan musyawa-

62 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
rah, seperti pendapat Mahkamah Konstitusi terkait pasal pidana di
Pasal 21 Undang-undang No. 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan.
Karena konflik yang timbul merupakan sengketa keper-
dataan yang seharusnya diselesaikan secara keperdataan
dengan mengutamakan musyawarah sebagaimana di-
maksud oleh Undang-undang Nomor 51/Prp/1960 mau-
pun ketentuan-ketentuan lain sebelum diundangkannya
Undang-undang Nomor 51/Prp/1960, tidak diselesaikan
secara pidana.29

[] [] []

n Bab. III >> Konstitusionalime Agraria 63
64 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Ba b. IV

Advokasi
Kebijakan di Daerah

65
66 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Ba b. 1V
Advokasi
Kebijakan di Daerah

1. Perencanaan

U
ntuk mengadvokasi kebijakan, keterlibatan
partisipasi masyarakat harus dimulai semenjak
perencanaan, dan sekarang ini boleh dibilang
perencanaan dan partisipasi publik senantiasa dimasuk-
an dalam peraturan perundangan.
Perencanaan yang penting untuk melibatkan par-
tisipasi masyarakat terkait hak atas pangan, hak nelayan,
hak petani dan masyarakat pedesaan antara lain Ren-
cana Pembangunan, Rencana Tata Ruang/Tata Wilayah,
Rencana Desa, Rencana Wilayah Pesisir dan Pulau-
pulau Kecil, Rencana Pengelolaaan Perikanan, Peren-
canaan Lahan Pertanian Berkelanjutan, Perencanaan
Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, Perencanaan
Pangan.
Dari beberapa perencanaan seperti tersebut di
atas, rencana pembangunan dan rencana tata ruang
yang terpenting karena menjadi rujukan perencanaan-
perecanaan yang lain. Perencanan-perencanaan terse-
but kemudian di daerah diatur lewat peraturan dae-
rah terkait, yang mana perencanaaan peraturan perda
tersebut ada di Progam Legislasi Daerah (Prolegda).

n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 67
Partisipasi masyarakat atas perencanaan pemerintah daerah
bisa dilakukan melalui memberikan masukan ke Badan Perenca-
naan Pembangunan Daerah, dinas terkait, DPRD dan terlibat di
kegiatan-kegiatan musyawarah yang diselenggarakan pemerin-
tah daerah dan pemerintah desa seperti Musyawarah Rencana
Pembangunan (Musrembang) dan Musyawarah Desa.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Menteri Perencana-
an Pembangunan Nasional yang menyelenggarakan Musrembang
Nasional dan Kepala Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah) yang menyelenggarakan Musrembang Daerah, masing-
masing untuk membahas Rancangan Awal Rencana Pembangun-
an Jangka Panjang dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
di tingkan nasional dan di tingkat daerah yang disusun oleh Menteri
Perencanaan dan Kepala Bappeda.
Selain merupakan perintah undang-undang, partisipasi rakyat
dalam perencanaan khususnya dalam pengelolaan sumber-sumber
agraria (bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya)
adalah mandat konstitusi.
Menurut pendapat Mahkamah Konstitusi, “sebesar-besar ke-
makmuran rakyat” yang dimaksud di dalam Pasal 33 UUD 1945,
salah satu tolok ukurnya adalah tingkat partisipasi rakyat dalam
menentukan manfaat sumber daya alam.
Menurut pendapat Mahkamah Konstitusi, tidak ada peran
rakyat dalam perencanaan, merupakan: 1. Pembungkaman hak
masyarakat; 2. Berpotensi pelanggaran hak publik di kemudian
hari; 3. Perlakuan yang membedakan; dan 4. Mengabaikan hak-
hak masyarakat untuk memajukan dirinya dan memperjuangkan
haknya secara kolektif.

68 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Sistem Perencanaan Pembangunan
dalam Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional

1. Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional merupakan penjabaran dari tujuan
dibentuknya pemerintahan Negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan
Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dalam bentuk visi,
misi, dan arah pembangunan

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah memuat visi, misi, dan arah pem-
bangunan Daerah yang mengacu pada RPJP Nasional.

Musrenbang Jangka Panjang Nasional dan Musrenbang Jangka Panjang Daerah
dilaksanakan paling lambat 1 (satu) tahun sebelum berakhirnya periode RPJP yang
sedang berjalan.

RPJP Nasional ditetapkan dengan Undang-undang. RPJP Daerah ditetapkan dengan
Peraturan Daerah.

2. Rencana Pembangunan Jangka Menengah
RPJM Nasional merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program Presiden yang pe-
nyusunannya berpedoman pada RPJP Nasional, yang memuat strategi pembangunan
Nasional, kebijakan umum, program Kementerian/Lembaga dan lintas Kementerian/
Lembaga, kewilayahan dan lintas kewilayahan, serta kerangka ekonomi makro yang
mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan
fiskal dalam rencana kerja yang berupa kerangka regulasi dan kerangka pendanaan
yang bersifat indikatif.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah merupakan penjabaran dari visi,
misi, dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Dae-
rah dan memperhatikan RPJM Nasional, memuat arah kebijakan keuangan Daerah,
strategi pembangunan Daerah, kebijakan umum, dan program Satuan Kerja Perang-
kat Daerah, lintas Satuan Kerja Perangkat Daerah, dan program kewilayahan disertai
dengan rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan
yang bersifat indikatif.

Musrenbang Jangka Menengah Nasional dilaksanakan paling lambat 2 (dua) bulan
setelah Presiden dilantik. Musrenbang Jangka Menengah Daerah dilaksanakan paling
lambat 2 (dua) bulan setelah Kepala Daerah dilantik.

RPJM Nasional ditetapkan dengan Peraturan Presiden paling lambat 3 (tiga) bulan
setelah Presiden dilantik. Renstra-KL ditetapkan dengan peraturan pimpinan Kemen-
terian/Lembaga setelah disesuaikan dengan RPJM Nasional. RPJM Daerah ditetapkan

n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 69
dengan Peraturan Kepala Daerah paling lambat 3 (tiga) bulan setelah Kepala Daerah
dilantik. Renstra-SKPD ditetapkan dengan peraturan pimpinan Satuan Kerja Perang-
kat Daerah setelah disesuaikan dengan RPJM Daerah

RPJM Nasional ditetapkan dengan Peraturan Presiden paling lambat 3 (tiga) bulan
setelah Presiden dilantik. (2) Renstra-KL ditetapkan dengan peraturan pimpinan
Kementerian/Lembaga setelah disesuaikan dengan RPJM Nasional. RPJM Daerah
ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah paling lambat 3 (tiga) bulan setelah
Kepala Daerah dilantik. Renstra-SKPD ditetapkan dengan peraturan pimpinan Satu-
an Kerja Perangkat Daerah setelah disesuaikan dengan RPJM Daerah.

3. Rencana Pembangunan Tahunan
Rencana Kerja Pemerintah merupakan penjabaran dari RPJM Nasional, memuat
prioritas pembangunan, rancangan kerangka ekonomi makro yang mencakup
gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal, serta
program Kementerian/Lembaga, lintas Kementerian/Lembaga, kewilayahan dalam
bentuk kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif.

Rencana Kerja Pembangunan Daerah merupakan penjabaran dari RPJM Daerah
dan mengacu pada RKP, memuat rancangan kerangka ekonomi Daerah, prioritas
pembangunan Daerah, rencana kerja, dan pendanaannya, baik yang dilaksanakan
langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi
masyarakat.

Musrenbang penyusunan RKP dilaksanakan paling lambat bulan April. Musrenbang
penyusunan RKPD dilaksanakan paling lambat bulan Maret.

RKP menjadi pedoman penyusunan RAPBN. RKPD menjadi pedoman penyusunan
RAPBD.

RKP ditetapkan lewat peraturan presiden. RKPD ditetapkan lewat peraturan kepala
daerah.

2. Tentang Program Legislasi Daerah (Prolegda)
Banyak pengaturan tentang hak atas pangan, hak nelayan,
hak petani dan masyarakat yang bekerja di pedesaan memerlukan
pengaturan di level Pemerintah Daerah, partisipasi masyarakat
bisa dimulai dalam agenda Progam Legislasi Daerah (Prolegda).

70 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Di dalam Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 Undang-undang No-
mor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-
undangan, disebutkan bahwa Program Legislasi Daerah yang
selanjutnya disebut Prolegda adalah instrumen perencanaan
program pembentukan Peraturan Daerah Provinsi atau Peraturan
Daerah Kabupaten/Kota yang disusun secara terencana, terpadu,
dan sistematis.
Dari uraian tersebut di atas, jelas tersurat bahwa produk dari
Prolegda adalah Peraturan Daerah atau Perda. Adapun yang di-
maksud dengan Peraturan Daerah Provinsi adalah Peraturan
Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah Provinsi dengan persetujuan bersama Gubernur.
Sedangkan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota adalah Peraturan
Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah Kabupaten/Kota dengan persetujuan bersama Bu-
pati/Walikota.
Pasal 14 Materi muatan Peraturan Daerah Provinsi dan Per-
aturan Daerah Kabupaten/Kota berisi materi muatan dalam rang-
ka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan serta
menampung kondisi khusus daerah dan/atau penjabaran lebih
lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi.

n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 71
Perencanaan Perda Berdasarkan UU Pembentukan
Peraturan Perundang-undangan
Perencanaan Peraturan Daerah Provinsi

Pasal 32
Perencanaan penyusunan Peraturan Daerah Provinsi dilakukan dalam Prolegda
Provinsi.

Pasal 33
(1) Prolegda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 memuat program pemben-
tukan Peraturan Daerah Provinsi dengan judul Rancangan Peraturan Daerah
Provinsi, materi yang diatur, dan keterkaitannya dengan Peraturan Perundang-
undangan lainnya.
(2) Materi yang diatur serta keterkaitannya dengan Peraturan Perundang-undangan
lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan keterangan mengenai
konsepsi Rancangan Peraturan Daerah Provinsi yang meliputi:
a. Latar belakang dan tujuan penyusunan;
b. Sasaran yang ingin diwujudkan;
c. Pokok pikiran, lingkup, atau objek yang akan diatur; dan
d. Jangkauan dan arah pengaturan.
(3) Materi yang diatur sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang telah melalui
pengkajian dan penyelarasan dituangkan dalam Naskah Akademik.

Pasal 34
(1) Penyusunan Prolegda Provinsi dilaksanakan oleh DPRD Provinsi dan Pemerintah
Daerah Provinsi.
(2) Prolegda Provinsi ditetapkan untuk jangka waktu 1 (satu) tahun berdasarkan
skala prioritas pembentukan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi.
(3) Penyusunan dan penetapan Prolegda Provinsi dilakukan setiap tahun sebelum
penetapan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi tentang Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah Provinsi.

Pasal 35
Dalam penyusunan Prolegda Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat
(1), penyusunan daftar rancangan peraturan daerah provinsi didasarkan atas:
a. Perintah Peraturan Perundang-undangan lebih tinggi;
b. Rencana pembangunan daerah;
c. Penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan; dan
d. Aspirasi masyarakat daerah.

Pasal 36
(1) Penyusunan Prolegda Provinsi antara DPRD Provinsi dan Pemerintah Daerah
Provinsi dikoordinasikan oleh DPRD Provinsi melalui alat kelengkapan DPRD
Provinsi yang khusus menangani bidang legislasi.

72 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
(2) Penyusunan Prolegda Provinsi di lingkungan DPRD Provinsi dikoordinasikan oleh
alat kelengkapan DPRD Provinsi yang khusus menangani bidang legislasi.
(3) Penyusunan Prolegda Provinsi di lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi dikoor-
dinasikan oleh biro hukum dan dapat mengikutsertakan instansi vertikal terkait.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan Prolegda Provinsi di ling-
kungan DPRD Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Per-
aturan DPRD Provinsi.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan Prolegda Provinsi di ling-
kungan Pemerintah Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur
dengan Peraturan Gubernur.

Pasal 37
(1) Hasil penyusunan Prolegda Provinsi antara DPRD Provinsi dan Pemerintah Dae-
rah Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) disepakati menjadi
Prolegda Provinsi dan ditetapkan dalam Rapat Paripurna DPRD Provinsi.
(2) Prolegda Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan
Keputusan DPRD Provinsi.

Pasal 38
(1) Dalam Prolegda Provinsi dapat dimuat daftar kumulatif terbuka yang terdiri atas:
a. Akibat putusan Mahkamah Agung; dan
b. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi.
(2) Dalam keadaan tertentu, DPRD Provinsi atau Gubernur dapat mengajukan Ran-
cangan Peraturan Daerah Provinsi di luar Prolegda Provinsi:
a. untuk mengatasi keadaan luar biasa, keadaan konflik, atau bencana alam;
b. akibat kerja sama dengan pihak lain; dan
c. keadaan tertentu lainnya yang memastikan adanya urgensi atas suatu Ran-
cangan Peraturan Daerah Provinsi yang dapat disetujui bersama oleh alat ke-
lengkapan DPRD Provinsi yang khusus menangani bidang legislasi dan biro
hukum.

Perencanaan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota
Pasal 39
Perencanaan penyusunan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota dilakukan dalam Pro-
legda Kabupaten/Kota.

Pasal 40
Ketentuan mengenai perencanaan penyusunan Peraturan Daerah Provinsi seba-
gaimana dimaksud dalam Pasal 32 sampai dengan Pasal 38 berlaku secara mutatis
mutandis terhadap perencanaan penyusunan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.

Pasal 41
Dalam Prolegda Kabupaten/Kota dapat dimuat daftar kumulatif terbuka mengenai
pembentukan, pemekaran,dan penggabungan Kecamatan atau nama lainnya dan/
atau pembentukan, pemekaran, dan penggabungan Desa atau nama lainnya.

n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 73
3. Penetapan Kawasan
Penetapan sebuah kawasan, dilakukan melalui rencana tata
ruang sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 26 Tahun
2007 tentang Penataan Ruang.

Beberapa Definisi dalam Penataan Ruang
1. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara,
termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia
dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan
hidupnya
2. Tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang.
3. Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan
prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekono-
mi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional.
4. Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meli-
puti peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi
budidaya.
5. Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, peman-
faatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.
6. Penyelenggaraan penataan ruang adalah kegiatan yang meliputi pengaturan,
pembinaan, pelaksanaan, dan pengawasan penataan ruang.
7. Pengaturan penataan ruang adalah upaya pembentukan landasan hukum bagi
Pemerintah,
8. pemerintah daerah, dan masyarakat dalam penataan ruang.
9. Perencanaan tata ruang adalah suatu proses untuk menentukan struktur ruang
dan pola ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata ruang.
10. Pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan struktur ruang dan pola
ruang sesuai dengan rencana tata ruang melalui penyusunan dan pelaksanaan
program beserta pembiayaannya.
11. Rencana tata ruang adalah hasil perencanaan tata ruang.
12. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur
terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif
dan/atau aspek fungsional.
13. Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budidaya.
14. Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi
kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber
daya buatan.

74 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
15. Kawasan budi daya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk
dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya
manusia, dan sumber daya buatan.
16. Kawasan perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian,
termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan se-
bagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan
sosial, dan kegiatan ekonomi.
17. Kawasan agropolitan adalah kawasan yang terdiri atas satu atau lebih pusat ke-
giatan pada wilayah perdesaan sebagai sistem produksi pertanian dan pengelo-
laan sumber daya alam tertentu yang ditunjukkan oleh adanya keterkaitan fung-
sional dan hierarki keruangan satuan sistem permukiman dan sistem agrobisnis.

Rencana tata ruang di daerah, baik provinsi atau kabupaten
kabupaten kota diatur melalui Peraturan Daerah (Perda), dan me-
mang Undang-undang Penataan Ruang sejalan dengan kebijakan
otonomi daerah yang memberikan kewenangan semakin besar
kepada pemerintah daerah dalam penyelenggaraan penataan ruang.

Perencanaan Tata Ruang Wilayah Provinsi
dalam UU Penataan Ruang

Pasal 22
(1) Penyusunan rencana tata ruang wilayah provinsi mengacu pada:
a. Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional;
b. Pedoman bidang penataan ruang; dan
c. Rencana pembangunan jangka panjang daerah.
(2) Penyusunan rencana tata ruang wilayah provinsi harus memperhatikan:
a. Perkembangan permasalahan nasional dan hasil pengkajian implikasi pena-
taan ruang provinsi;
b. Upaya pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi provinsi;
c. Keselarasan aspirasi pembangunan provinsi dan pembangunan kabupaten/
kota;
d. Daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup;
e. Rencana pembangunan jangka panjang daerah;
f. Rencana tata ruang wilayah provinsi yang berbatasan;
g. Rencana tata ruang kawasan strategis provinsi; dan
h. Rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota.

n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 75
Pasal 23
(1) Rencana tata ruang wilayah provinsi memuat:
a. Tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang wilayah provinsi;
b. Rencana struktur ruang wilayah provinsi yang meliputi sistem perkotaan
dalam wilayahnya yang berkaitan dengan kawasan perdesaan dalam
wilayah pelayanannya dan sistem jaringan prasarana wilayah provinsi;
c. Rencana pola ruang wilayah provinsi yang meliputi kawasan lindung dan ka-
wasan budi daya yang memiliki nilai strategis provinsi;
d. Penetapan kawasan strategis provinsi;
e. Arahan pemanfaatan ruang wilayah provinsi yang berisi indikasi program
utama jangka menengah lima tahunan; dan
f. Arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah provinsi yang berisi indi-
kasi arahan peraturan zonasi sistem provinsi, arahan perizinan, arahan insentif
dan disinsentif, serta arahan sanksi.
(2) Rencana tata ruang wilayah provinsi menjadi pedoman untuk:
a. Penyusunan rencana pembangunan jangka panjang daerah;
b. Penyusunan rencana pembangunan jangka menengah daerah;
c. Pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang dalam wilayah
provinsi;
d. Mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan
antarwilayah kabupaten/kota, serta keserasian antarsektor;
e. Penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi;
f. Penataan ruang kawasan strategis provinsi; dan
g. Penataan ruang wilayah kabupaten/kota.
(3) Jangka waktu rencana tata ruang wilayah provinsi adalah 20 (dua puluh) tahun.
(4) Rencana tata ruang wilayah provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditinjau
kembali 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun.
(5) Dalam kondisi lingkungan strategis tertentu yang berkaitan dengan bencana
alam skala besar yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan dan/
atau perubahan batas teritorial negara dan/atau wilayah provinsi yang ditetap-
kan dengan Undang-Undang, rencana tata ruang wilayah provinsi ditinjau kem-
bali lebih dari 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun.
(6) Rencana tata ruang wilayah provinsi ditetapkan dengan peraturan daerah
provinsi.

Pasal 24
(1) Rencana rinci tata ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (3) huruf b
ditetapkan dengan peraturan daerah provinsi.
(2) Ketentuan mengenai muatan, pedoman, dan tata cara penyusunan rencana
rinci tata ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan
Menteri.

76 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Perencanaan Tata Ruang Wilayah Kabupaten
dalam UU Penataan Ruang

Pasal 25
(1) Penyusunan rencana tata ruang wilayah kabupaten mengacu pada:
a. Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan rencana tata ruang wilayah provinsi;
b. Pedoman dan petunjuk pelaksanaan bidang penataan ruang; dan
c. Rencana pembangunan jangka panjang daerah.
(2) Penyusunan rencana tata ruang wilayah kabupaten harus memperhatikan:
a. Perkembangan permasalahan provinsi dan hasil pengkajian implikasi pena-
taan ruang kabupaten;
b. Upaya pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi kabupaten;
c. Keselarasan aspirasi pembangunan kabupaten;
d. Daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup;
e. Rencana pembangunan jangka panjang daerah;
f. Rencana tata ruang wilayah kabupaten yang berbatasan; dan
g. Rencana tata ruang kawasan strategis kabupaten.

Pasal 26
(1) Rencana tata ruang wilayah kabupaten memuat:
a. Tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang wilayah kabupaten;
b. Rencana struktur ruang wilayah kabupaten yang meliputi sistem perkotaan
di wilayahnya yang terkait dengan kawasan perdesaan dan sistem jaringan
prasarana wilayah kabupaten;
c. Rencana pola ruang wilayah kabupaten yang meliputi kawasan lindung ka-
bupaten dan kawasan budi daya kabupaten;
d. Penetapan kawasan strategis kabupaten;
e. Arahan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten yang berisi indikasi program
utama jangka menengah lima tahunan; dan
f. Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten yang berisi
ketentuan umum peraturan zonasi, ketentuan perizinan, ketentuan insentif
dan disinsentif, serta arahan sanksi.
(2) Rencana tata ruang wilayah kabupaten menjadi pedoman untuk:
a. Penyusunan rencana pembangunan jangka panjang daerah;
b. Penyusunan rencana pembangunan jangka menengah daerah;
c. Pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah kabu-
paten;
d. Mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan antarsektor;
e. Penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi; dan
f. Penataan ruang kawasan strategis kabupaten.
(3) Rencana tata ruang wilayah kabupaten menjadi dasar untuk penerbitan perizin-
an lokasi pembangunan dan administrasi pertanahan.
(4) Jangka waktu rencana tata ruang wilayah kabupaten adalah 20 (dua puluh) tahun.

n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 77
(5) Rencana tata ruang wilayah kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditinjau kembali 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun.
(6) Dalam kondisi lingkungan strategis tertentu yang berkaitan dengan bencana
alam skala besar yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan dan/
atau perubahan batas teritorial negara, wilayah provinsi, dan/atau wilayah ka-
bupaten yang ditetapkan dengan Undang-Undang, rencana tata ruang wilayah
kabupaten ditinjau kembali lebih dari 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun.
(7) Rencana tata ruang wilayah kabupaten ditetapkan dengan peraturan daerah
kabupaten.

Pasal 27
(1) Rencana rinci tata ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (3) huruf c
ditetapkan dengan peraturan daerah kabupaten.
(2) Ketentuan mengenai muatan, pedoman, dan tata cara penyusunan rencana
rinci tata ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan
Menteri.

3.1. Kawasan Perdesaan
Salah satu yang dihasilkan dari Perda Tata Ruang adalah pe-
netapan kawasan perdesaan dan pertanian. Pasal 48 Undang-
undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang me-
nyatakan:
(1) Penataan ruang kawasan perdesaan diarahkan: e. pertahanan
kawasan lahan abadi pertanian pangan, untuk ketahanan
pangan;
(4) Kawasan perdesaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) da-
pat berbentuk kawasan agropolitan;

Pasal tersebut di atas menegaskan bahwa hakekat dari desa
salah satunya adalah keberadaan lahan pertanian, kata “abadi”
menunjukan lahan pertanian haruslah dipertahankan, karena jika
hilang maka hilanglah salah satu hakekat desa dan tujuan pena-
taan ruang kawasan perdesaan.

78 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Penataan, Perencanaan, Pemanfaatan dan Pengendalian Ruang
Kawasan Perdesaan dalam UU Penataan Ruang

Pasal 48
(1) Penataan ruang kawasan perdesaan diarahkan untuk:
a. Pemberdayaan masyarakat perdesaan;
b. Pertahanan kualitas lingkungan setempat dan wilayah yang didukungnya;
c. Konservasi sumber daya alam;
d. Pelestarian warisan budaya lokal;
e. Pertahanan kawasan lahan abadi pertanian pangan untuk ketahanan pangan;
dan
f. Penjagaan keseimbangan pembangunan perdesaan-perkotaan.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelindungan terhadap kawasan lahan abadi
pertanian pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e diatur dengan
Undang-undang.
(3) Penataan ruang kawasan perdesaan diselenggarakan pada:
a. Kawasan perdesaan yang merupakan bagian wilayah kabupaten; atau
b. Kawasan yang secara fungsional berciri perdesaan yang mencakup 2 (dua)
atau lebih wilayah kabupaten pada satu atau lebih wilayah provinsi.
(4) Kawasan perdesaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk ka-
wasan agropolitan.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai penataan ruang kawasan agropolitan diatur
dengan peraturan pemerintah.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai penataan ruang kawasan perdesaan diatur
dengan peraturan pemerintah.

Pasal 49
Rencana tata ruang kawasan perdesaan yang merupakan bagian wilayah kabupaten
adalah bagian rencana tata ruang wilayah kabupaten.

Pasal 50
(1) Penataan ruang kawasan perdesaan dalam 1 (satu) wilayah kabupaten dapat di-
lakukan pada tingkat wilayah kecamatan atau beberapa wilayah desa atau nama
lain yang disamakan dengan desa yang merupakan bentuk detail dari penataan
ruang wilayah kabupaten.
(2) Rencana tata ruang kawasan perdesaan yang mencakup 2 (dua) atau lebih
wilayah kabupaten merupakan alat koordinasi dalam pelaksanaan pembangun-
an yang bersifat lintas wilayah.
(3) Rencana tata ruang sebagaimana dimaksud padaayat (2) berisi struktur ruang
dan pola ruang yang bersifat lintas wilayah administratif.

n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 79
Pasal 51
(1) Rencana tata ruang kawasan agropolitan merupakan rencana rinci tata ruang 1
(satu) atau beberapa wilayah kabupaten.
(2) Rencana tata ruang kawasan agropolitan memuat:
a. Tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang kawasan agropolitan;
b. Rencana struktur ruang kawasan agropolitan yang meliputi sistem pusat ke-
giatan dan sistem jaringan prasarana kawasan agropolitan;
c. Rencana pola ruang kawasan agropolitan yang meliputi kawasan lindung
dan kawasan budidaya;
d. Arahan pemanfaatan ruang kawasan agropolitan yang berisi indikasi pro-
gram utama yang bersifat interdependen antardesa; dan
e. Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan agropolitan yang
berisi arahan peraturan zonasi kawasan agropolitan, arahan ketentuan per-
izinan, arahan ketentuan insentif dan disinsentif, serta arahan sanksi.

Pasal 52
(1) Pemanfaatan ruang kawasan perdesaan yang merupakan bagian wilayah kabu-
paten merupakan bagian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten.
(2) Pemanfaatan ruang kawasan perdesaan yang merupakan bagian dari 2 (dua)
atau lebih wilayah kabupaten dilaksanakan melalui penyusunan program pem-
bangunan beserta pembiayaannya secara terkoordinasi antarwilayah kabupaten

Pasal 53
(1) Pengendalian pemanfaatan ruang kawasan perdesaan yang merupakan bagian
wilayah kabupaten merupakan bagian pengendalian pemanfaatan ruang
wilayah kabupaten.
(2) Pengendalian pemanfaatan ruang kawasan perdesaan yang mencakup 2 (dua)
atau lebih wilayah kabupaten dilaksanakan oleh setiap kabupaten.
(3) Untuk kawasan perdesaan yang mencakup 2 (dua) atau lebih wilayah kabupaten
yang mempunyai lembaga kerja sama antarwilayah kabupaten, pengendalian-
nya dapat dilaksanakan oleh lembaga dimaksud.

Pasal 54
(1) Penataan ruang kawasan perdesaan yang mencakup 2 (dua) atau lebih wilayah
kabupaten dilaksanakan melalui kerja sama antardaerah.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penataan ruang kawasan perdesaan sebagai-
mana dimaksud pada ayat (1) untuk kawasan agropolitan yang berada dalam 1
(satu) kabupaten diatur dengan peraturan daerah kabupaten, untuk kawasan
agropolitan yang berada pada 2 (dua) atau lebih wilayah kabupaten diatur
dengan peraturan daerah provinsi, dan untuk kawasan agropolitan yang berada
pada 2 (dua) atau lebih wilayah provinsi diatur dengan peraturan pemerintah.

80 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
(3) Penataan ruang kawasan perdesaan diselenggarakan secara terintegrasi dengan
kawasan perkotaan sebagai satu kesatuan pemanfaatan ruang wilayah kabu-
paten/kota.
(4) Penataan ruang kawasan agropolitan diselenggarakan dalam keterpaduan sistem
perkotaan wilayah dan nasional.
(5) Keterpaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) mencakup keterpaduan sistem
permukiman, prasarana, sistem ruang terbuka, baik ruang terbuka hijau maupun
ruang terbuka nonhijau

Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa kemudi-
an memberikan pengaturan tentang Pemerintah Desa, demokrasi
di desa dan pemberdayaan masyarakat desa. Dengan undang-
undang ini aspirasi masyarakat desa untuk membangun desanya
lewat mekanisme yang legal formal menjadi dimungkinkan.

3. 2. Kawasan Agropolitan
Kawasan Agropolitan di dalam Undang-undang Penataan
Ruang, di dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 di-
kenal dengan Sentra Produksi Pangan. Menurut Undang-undang
Pangan, perwujudan kemandirian dan kedaulatan pangan berupa :
1. Pangan Lokal; 2. Pengembangan lahan produktif; 3. Pengem-
bangan Kawasan sentra produksi; 3. Pembatasan impor.
Sentra produksi pangan dan pengembangan lahan produktif
bisa diwujudkan melalui implementasi Undang-undang Nomor
26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Undang-undang Nomor
41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan dan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2013 ten-
tang Perlindungan dan pemberdayaan petani.
Jika kawasan agropolitan atau sentra produksi pangan berupa
daratan, bisa diwujudkan dalam kawasan pertanian sebagaimana
disebut di dalam Undang-undang Perlindungan Lahan Pertanian

n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 81
Pangan Berkelanjutan dan Kawasan Usaha Tani sebagaimana di-
sebut di dalam Undang-undang Perlindungan dan Pemberdayaan
Petani.
Jika di daerah pesisir, maka kawasan agropolitan atau sentra
produksi pangan juga bisa berupa lahan pertanian pangan tanah
pantai (pesisir) dan zonasi perairan pesisir dan wilayah pengelo-
laan perikanan (minapolitan). Maka pengaturan penataan ruang
tidak hanya singkron dengan Undang-undang Perlindungan La-
han Pertanian Pangan Berkelanjutan dan Undang-undang Desa,
tetapi juga dengan Undang-undang Pengelolaan Wilayah Pesisir
dan Pulau-pulau Kecil.
Percepatan penganekaragaman pangan lokal berbasis sumber
daya lokal perlu dukungan penyediaan tanah, wilayah perikanan
dan dukungan kepada petani pemulia benih, terlebih setelah per-
mohonan Permohonan Uji Materi Undang-undang Sistem Budi-
daya Tanaman dikabulkan Mahmakah Konstitusi, sehingga petani
diberi kebebasan mencari, mengembangkan dan mengedarkan
benih idaman petani.

4. Zonasi Pesisir dan Pengelolaan Perikanan
Salah satu ruang bagi nelayan dan masyarakat pedesaan pe-
sisir adalah perairan pesisir, oleh karenanya masyarakat harus ber-
partisipasi dalam rencana dan zonasi perairan pesisir. Kini setelah
putusan Mahkamah Konstitusi, Undang-undang Nomor 1 Tahun
2014 tentang Perubahan Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007
tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil mem-
beri tempat partisipasi masyarakat dalam perencanaan.

82 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Beberapa Definisi Pengelolaan Wilayah Pesisir dalam
UU Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

1. Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil adalah suatu pengoordinasian
perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian sumber daya pesi-
sir dan pulau-pulau kecil yang dilakukan oleh Pemerintah dan Pemerintah Dae-
rah, antarsektor, antara ekosistem darat dan laut, serta antara ilmu pengetahuan
dan manajemen untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
2. Wilayah Pesisir adalah daerah peralihan antara Ekosistem darat dan laut yang
dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut.
3. Pulau Kecil adalah pulau dengan luas lebih kecil atau sama dengan 2.000 km2
(dua ribu kilo meter persegi) beserta kesatuan Ekosistemnya.
4. Sumber Daya Pesisir dan Pulau-pulau Kecil adalah sumber daya hayati, sumber
daya nonhayati; sumber daya buatan, dan jasa-jasa lingkungan; sumber daya
hayati meliputi ikan, terumbu karang, padang lamun, mangrove dan biota laut
lain; sumber daya nonhayati meliputi pasir, air laut, mineral dasar laut; sumber
daya buatan meliputi infrastruktur laut yang terkait dengan kelautan dan per-
ikanan, dan jasa-jasa lingkungan berupa keindahan alam, permukaan dasar laut
tempat instalasi bawah air yang terkait dengan kelautan dan perikanan serta
energi gelombang laut yang terdapat di Wilayah Pesisir.
5. Bioekoregion adalah bentang alam yang berada di dalam satu hamparan kesatu-
an ekologis yang ditetapkan oleh batas-batas alam, seperti daerah aliran sungai,
teluk, dan arus.
6. Perairan Ekosistem adalah kesatuan komunitas tumbuh-tumbuhan, hewan,
organisme dan non organisme lain serta proses yang menghubungkannya
dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas.
7. Perairan Pesisir adalah laut yang berbatasan dengan daratan meliputi perairan
sejauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai, perairan yang meng-
hubungkan pantai dan pulau-pulau, estuari, teluk, perairan dangkal, rawa payau,
dan laguna.
8. Kawasan adalah bagian Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil yang memiliki
fungsi tertentu yang ditetapkan berdasarkan kriteria karakteristik fisik, biologi,
sosial, dan ekonomi untuk dipertahankan keberadaannya.
9. Kawasan Pemanfaatan Umum adalah bagian dari Wilayah Pesisir yang ditetap-
kan peruntukkannya bagi berbagai sektor kegiatan.
10. Kawasan Strategis Nasional Tertentu adalah Kawasan yang terkait dengan ke-
daulatan negara, pengendalian lingkungan hidup, dan/atau situs warisan dunia,
yang pengembangannya diprioritaskan bagi kepentingan nasional.
11. Zona adalah ruang yang penggunaannya disepakati bersama antara berbagai
pemangku kepentingan dan telah ditetapkan status hukumnya.

n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 83
12. Zonasi adalah suatu bentuk rekayasa teknik pemanfaatan ruang melalui pe-
netapan batas-batas fungsional sesuai dengan potensi sumber daya dan daya
dukung serta proses-proses ekologis yang berlangsung sebagai satu kesatuan
dalam Ekosistem pesisir.
13. Rencana Strategis adalah rencana yang memuat arah kebijakan lintas sektor
untuk Kawasan perencanaan pembangunan melalui penetapan tujuan, sasaran
dan strategi yang luas, serta target pelaksanaan dengan indikator yang tepat un-
tuk memantau rencana tingkat nasional.
14. Rencana Zonasi adalah rencana yang menentukan arah penggunaan sumber
daya tiap-tiap satuan perencanaan disertai dengan penetapan struktur dan pola
ruang pada kawasan perencanaan yang memuat kegiatan yang boleh dilakukan
dan tidak boleh dilakukan serta kegiatan yang hanya dapat dilakukan setelah
memperoleh izin.
15. Rencana Pengelolaan adalah rencana yang memuat susunan kerangka kebijak-
an, prosedur, dan tanggung jawab dalam rangka pengoordinasian pengambil-
an keputusan di antara berbagai lembaga/instansi pemerintah mengenai ke-
sepakatan penggunaan sumber daya atau kegiatan pembangunan di zona yang
ditetapkan.
16. Rencana Aksi Pengelolaan adalah tindak lanjut rencana Pengelolaan Wilayah Pe-
sisir dan Pulau-pulau Kecil yang memuat tujuan, sasaran, anggaran, dan jadwal
untuk satu atau beberapa tahun ke depan secara terkoordinasi untuk melaksana-
kan berbagai kegiatan yang diperlukan oleh instansi Pemerintah, Pemerintah
Daerah, dan pemangku kepentingan lainnya guna mencapai hasil pengelolaan
sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil di setiap Kawasan perencanaan.
17. Rencana Zonasi Rinci adalah rencana detail dalam 1 (satu) Zona berdasarkan arahan
pengelolaan di dalam Rencana Zonasi dengan memperhatikan daya dukung
lingkungan dan teknologi yang diterapkan serta ketersediaan sarana yang pada
gilirannya menunjukkan jenis dan jumlah surat izin yang diterbitkan oleh Peme-
rintah dan Pemerintah Daerah.

Keterlibatan masyarakat dalam perencanaan akan mem-
pengaruhi persoalan akses masyarakat ke perairan pesisir dan
pulau-pulau kecil serta memastikan konsultasi publik berjalan
dengan benar.

84 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
dalam UU Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

Pasal 7
(1) Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil sebagaimana di-
maksud dalam Pasal 5, terdiri atas:
a. Rencana Strategis Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil yang selanjutnya di-
sebut RSWP-3-K;
b. Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang selanjutnya di-
sebut RZWP-3-K;
c. Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil yang selanjutnya
disebut RPWP-3-K; dan
d. Rencana Aksi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil yang selan-
jutnya disebut RAPWP-3-K.
(2) Norma, standar, dan pedoman penyusunan perencanaan Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-pulau Kecil diatur dengan Peraturan Menteri.
(3) Pemerintah Daerah wajib menyusun semua rencana sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) sesuai dengan kewenangan masing-masing.
(4) Pemerintah Daerah menyusun rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-
pulau Kecil dengan melibatkan masyarakat berdasarkan norma, standar, dan
pedoman sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
(5) Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menyusun Rencana Zonasi rinci di setiap
Zona Kawasan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil tertentu dalam wilayahnya.

Rencana Strategis Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
Pasal 8
(1) RSWP-3-K merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari rencana pembangun-
an jangka panjang setiap Pemerintah Daerah.
(2) RSWP-3-K sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mempertimbangkan
kepentingan Pemerintah dan Pemerintah Daerah.
(3) Jangka waktu RSWP-3-K Pemerintah Daerah selama 20 (dua puluh) tahun dan
dapat ditinjau kembali sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun sekali.

Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
Pasal 9
(1) RZWP-3-K merupakan arahan pemanfaatan sumber daya di Wilayah Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil pemerintah provinsi dan/atau pemerintah kabupaten/kota.
(2) RZWP-3-K diserasikan, diselaraskan, dan diseimbangkan dengan Rencana Tata
Ruang Wilayah (RTRW) pemerintah provinsi atau pemerintah kabupaten/kota.
(3) Perencanaan RZWP-3-K dilakukan dengan mempertimbangkan:

n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 85
a. Keserasian, keselarasan, dan keseimbangan dengan daya dukung ekosistem,
fungsi pemanfaatan dan fungsi perlindungan, dimensi ruang dan waktu, di-
mensi teknologi dan sosial budaya, serta fungsi pertahanan dan keamanan;
b. Keterpaduan pemanfaatan berbagai jenis sumber daya, fungsi, estetika ling-
kungan, dan kualitas lahan pesisir; dan
c. Kewajiban untuk mengalokasikan ruang dan akses Masyarakat dalam pe-
manfaatan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil yang mempunyai fungsi
sosial dan ekonomi.
(4) Jangka waktu berlakunya RZWP-3-K selama 20 (dua puluh) tahun dan dapat di-
tinjau kembali setiap 5 (lima) tahun.
(5) RZWP-3-K ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Propinsi
Pasal 10
RZWP-3-K Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9, terdiri atas:
a. Pengalokasian ruang dalam Kawasan Pemanfaatan Umum, Kawasan Kon-
servasi, Kawasan Strategis Nasional Tertentu, dan alur laut;
b. Keterkaitan antara Ekosistem darat dan Ekosistem laut dalam suatu Bio-
ekoregion;
c. Penetapan pemanfaatan ruang laut; dan
d. Penetapan prioritas Kawasan laut untuk tujuan konservasi, sosial budaya,
ekonomi, transportasi laut, industri strategis, serta pertahanan dan keamanan.

Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Kabupaten/Kota
Pasal 11
(1) RZWP-3-K Kabupaten/Kota berisi arahan tentang: a. alokasi ruang dalam Rencana
Kawasan Pemanfaatan Umum, rencana Kawasan Konservasi, rencana Kawasan
Strategis Nasional Tertentu, dan rencana alur; b. keterkaitan antarekosistem Pesi-
sir dan Pulau-pulau Kecil dalam suatu Bioekoregion.
(2) Penyusunan RZWP-3-K sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwajibkan meng-
ikuti dan memadukan rencana Pemerintah dan Pemerintah Daerah dengan
memperhatikan Kawasan, Zona, dan/atau Alur Laut yang telah ditetapkan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.

Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
Pasal 12
(1) RPWP-3-K berisi:
a. Kebijakan tentang pengaturan serta prosedur administrasi penggunaan
sumber daya yang diizinkan dan yang dilarang;
b. Skala prioritas pemanfaatan sumber daya sesuai dengan karakteristik Wilayah

86 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Pesisir dan Pulau-pulau Kecil;
c. Jaminan terakomodasikannya pertimbanganpertimbangan hasil konsultasi
publik dalam penetapan tujuan pengelolaan Kawasan serta revisi terhadap
penetapan tujuan dan perizinan;
d. Mekanisme pelaporan yang teratur dan sistematis untuk menjamin tersedia-
nya data dan informasi yang akurat dan dapat diakses; serta
e. Ketersediaan sumber daya manusia yang terlatih untuk mengimplementasi-
kan kebijakan dan prosedurnya.
(2) RPWP-3-K berlaku selama 5 (lima) tahun dan dapat ditinjau kembali sekurang-
kurangnya 1 (satu) kali.

Rencana Aksi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
Pasal 13
(1) RAPWP-3-K dilakukan dengan mengarahkan Rencana Pengelolaan dan Rencana
Zonasi sebagai upaya mewujudkan rencana strategis.
(2) RAPWP-3-K berlaku 1 (satu) sampai dengan 3 (tiga) tahun.

Pasal 14
(1) Usulan penyusunan RSWP-3-K, RZWP-3-K, RPWP-3-K, dan RAPWP-3-K dilakukan
oleh Pemerintah Daerah, Masyarakat, dan dunia usaha.
(2) Mekanisme penyusunan RSWP-3-K, RZWP-3-K, RPWP-3-K, dan RAPWP-3-K
pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota dilakukan dengan melibat-
kan Masyarakat.
(3) Pemerintah Daerah berkewajiban menyebarluaskan konsep RSWP-3-K, RZWP-
3-K, RPWP-3-K, dan RAPWP-3-K untuk mendapatkan masukan, tanggapan, dan
saran perbaikan.
(4) Bupati/wali kota menyampaikan dokumen final perencanaan Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil kabupaten/kota kepada gubernur dan
Menteri untuk diketahui.
(5) Gubernur menyampaikan dokumen final perencanaan Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-pulau Kecil provinsi kepada Menteri dan Bupati/wali kota di
wilayah provinsi yang bersangkutan.
(6) Gubernur atau Menteri memberikan tanggapan dan/atau saran terhadap usulan
dokumen final perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja.
(7) Dalam hal tanggapan dan/atau saran sebagaimana dimaksud pada ayat (6) tidak
dipenuhi, dokumen final perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-
pulau Kecil dimaksud diberlakukan secara definitif.

n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 87
Selain zonasi perairan pesisir, pemerintah dan Pemda juga
mempunyai wewenang dalam mengatur wilayah perikanan.

Pengaturan Wilayah Pengelolaan Perikanan Berdasar
Undang-undang No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan
WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN
Pasal 5
(1) Wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia untuk penangkapan ikan
dan/atau pembudidayaan ikan meliputi:
a. Perairan Indonesia;
b. ZEEI; dan
c. Sungai, danau, waduk, rawa, dan genangan air lainnya yang dapat diusaha-
kan serta lahan pembudidayaan ikan yang potensial di wilayah Republik
Indonesia.
(2) Pengelolaan perikanan di luar wilayah pengelolaan perikanan Republik Indo-
nesia, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diselenggarakan berdasarkan per-
aturan perundang-undangan, persyaratan, dan/atau standar internasional yang
diterima secara umum.

PENGELOLAAN PERIKANAN
Pasal 6
(1) Pengelolaan perikanan dalam wilayah pengelolaan perikanan Republik Indone-
sia dilakukan untuk tercapainya manfaat yang optimal dan berkelanjutan, serta
terjaminnya kelestarian sumber daya ikan.
(2) Pengelolaan perikanan untuk kepentingan penangkapan ikan dan pembudi-
dayaan ikan harus mempertimbangkan hukum adat dan/atau kearifan lokal
serta memperhatikan peran serta masyarakat.

Pasal 7
(1) Dalam rangka mendukung kebijakan pengelolaan sumber daya ikan, Menteri
menetapkan:
a. Rencana pengelolaan perikanan;
b. Potensi dan alokasi sumber daya ikan di wilayah pengelolaan perikanan Re-
publik Indonesia;
c. Jumlah tangkapan yang diperbolehkan di wilayah pengelolaan perikanan
Republik Indonesia;
d. Potensi dan alokasi lahan pembudidayaan ikan di wilayah pengelolaan per-
ikanan Republik Indonesia;
e. Potensi dan alokasi induk serta benih ikan tertentu di wilayah pengelolaan
perikanan Republik Indonesia;

88 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
f. Jenis,jumlah, dan ukuran alat penangkapan ikan;
g. Jenis, jumlah, ukuran, dan penempatan alat bantu penangkapan ikan;
h. Daerah, jalur, dan waktu atau musim penangkapan ikan;
i. Persyaratan atau standar prosedur operasional penangkapan ikan;
j. Sistem pemantauan kapal perikanan;
k. Jenis ikan baru yang akan dibudidayakan;
l. Jenis ikan dan wilayah penebaran kembali serta penangkapan ikan berbasis
budi daya;
m. Pembudidayaan ikan dan perlindungannya;
n. Pencegahan pencemaran dan kerusakan sumber daya ikan serta lingkungan-
nya;
o. Rehabilitasi dan peningkatan sumber daya ikan serta lingkungannya;
p. Ukuran atau berat minimum jenis ikan yang boleh ditangkap;
q. Suaka perikanan;
r. Wabah dan wilayah wabah penyakit ikan;
s. Jenis ikan yang dilarang untuk diperdagangkan, dimasukkan, dan dikeluar-
kan ke dan dari wilayah Republik Indonesia; dan
t. Jenis ikan yang dilindungi.
(3) Menteri menetapkan potensi dan jumlah tangkapan yang diperbolehkan sebagai-
mana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c setelah mempertimbangkan
rekomendasi dari komisi nasional yang mengkaji sumber daya ikan.
(4) Komisi nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dibentuk oleh Menteri dan
beranggotakan para ahli di bidangnya yang berasal dari lembaga terkait.
(5) Menteri menetapkan jenis ikan dan kawasan perairan yang masing-masing di-
lindungi, termasuk taman nasional laut, untuk kepentingan ilmu pengetahuan,
kebudayaan, pariwisata, dan/atau kelestarian sumber daya ikan dan/atau ling-
kungannya.
(6) Dalam rangka mempercepat pembangunan perikanan, pemerintah memben-
tuk dewan pertambangan pembangunan perikanan nasional yang diketuai oleh
Presiden, yang anggotanya terdiri atas menteri terkait, asosiasi perikanan, dan
perorangan yang mempunyai kepedulian terhadap pembangunan perikanan.
(7) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan organisasi dan tata kerja dewan per-
timbangan pembangunan perikanan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat
(6) ditetapkan dengan Keputusan Presiden.

PENYERAHAN URUSAN DAN TUGAS PEMBANTUAN
Pasal 65
(1) Penyerahan sebagian urusan perikanan dari Pemerintah kepada Pemerintah
Daerah dan penarikannya kembali ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
(2) Pemerintah dapat menugaskan kepada Pemerintah Daerah untuk melaksanakan
urusan tugas pembantuan di bidang perikanan.

n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 89
5. Perlindungan Kawasan Pertanian Pangan
Undang-undang Penataan Ruang telah mengamanatkan un-
tuk membentuk undang-undang guna mengatur kawasan lahan
abadi pertanian pangan. Maka kemudian disusunlah Undang-
undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Per-
tanian Pangan Berkelanjutan.
Di daerah, pengaturan penetapan kawasan pertanian di dae-
rah diatur dalam Perda tentang Tata Ruang, sedang penetapan
lahan pertanian pangan berkelanjutan diatur melalui Perda, dan
Penetapan Rencana Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Ber-
kelanjutan dimuat dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang
(RPJP), Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), dan
Rencana Tahunan baik nasional melalui Rencana Kerja Pemerintah
(RKP), provinsi, maupun kabupaten/kota.
Pasal 9 (3) Undang-undang Perlindungan Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan, menyatakan bahwa perencanaan Ka-
wasan Pertanian Pangan Berkelanjutan, Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan, dan c. Lahan Cadangan Pertanian Pangan Berkelan-
jutan, didasarkan pada:
a. Pertumbuhan penduduk dan kebutuhan konsumsi
pangan penduduk;
b. Pertumbuhan produktivitas;
c. Kebutuhan pangan nasional;
d. Kebutuhan dan ketersediaan lahan pertanian pangan;
e. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi;
f. Musyawarah petani.

Perencanaan seperti tersebut di atas dilakukan di lahan yang
sudah tersedia. Di luar itu, mekanismenya adalah pengembangan.
Ada dua langkah dalam rangka pengembangan Lahan Pertanian,
yaitu melalui Intensifikasi dan Ekstensifikasi.
Menurut Pasal 28 Undang-undang Perlindungan Lahan Per-
tanian Pangan Berkelanjutan, Intensifikasi Kawasan Pertanian
90 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Pangan Berkelanjutan dan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
dilakukan dengan:
a. Peningkatan kesuburan tanah;
b. Peningkatan kualitas benih/bibit;
c. pendiversifikasian tanaman pangan;
d. Pencegahan dan penanggulangan hama tanaman;
e. Pengembangan irigasi;
f. Pemanfaatan teknologi pertanian;
g. Pengembangan inovasi pertanian;
h. Penyuluhan pertanian; dan/atau
i. Jaminan akses permodalan.

Pasal 29 (1) Undang-undang Nomor 41 Tahun 2009 menyebut-
kan bahwa Ekstensifikasi Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan
dan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, dilakukan dengan:
a. Pencetakan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan;
b. Penetapan lahan pertanian pangan menjadi Lahan Per-
tanian Pangan Berkelanjutan; dan/atau
c. Pengalihan fungsi lahan nonpertanian pangan menjadi
Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (Tanah Terlantar
dan Tanah bekas kawasan hutan).

Pemerintah juga berkewajiban memberikan insentif (pasal
38) yang berupa:
a. Keringanan Pajak Bumi dan Bangunan;
b. Pengembangan infrastruktur pertanian;
c. Pembiayaan penelitian dan pengembangan benih dan
varietas unggul;
d. Penyediaan sarana dan prasarana produksi pertanian;
dan/atau
e. Jaminan penerbitan pendaftaran secara sistematis bidang
tanah pertanian pangan
n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 91
Sedangkan untuk penerbitan sertifikat (tanda bukti hak),
dalam pasal 39 disebutkan:
(1) Pemerintah dapat memberikan insentif dalam bentuk peng-
alokasian anggaran secara khusus atau bentuk lainnya kepa-
da pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabu-
paten/kota sesuai peraturan perundang-undangan;
(2) Pemerintah daerah provinsi dapat memberikan insentif dalam
bentuk pengalokasian anggaran secara khusus atau bentuk
lain sesuai peraturan perundang-undangan.

Pasal 44 memberikan mandat kepada pemerintah guna
mencegah alih fungsi lahan. Tanah yang sudah ditetapkan sebagai
Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dilindungi dan dilarang di-
alihfungsikan, kecuali untuk kepentingan umum sesuai peraturan
perundang-undangan.
Bahkan undang-undang ini ada bab tersendiri mengenai
pemberdayaan petani.

Pasal 61
Pemerintah, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah
kabupaten/kota wajib melindungi dan memberdayakan petani,
kelompok petani, koperasi petani, serta asosiasi petani.

Pasal 62
(1) Perlindungan petani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61
berupa pemberian jaminan:
a. Harga komoditas pangan pokok yang menguntungkan;
b. Memperoleh sarana produksi dan prasarana pertanian;
c. Pemasaran hasil pertanian pangan pokok;
d. Pengutamaan hasil pertanian pangan dalam negeri untuk
memenuhi kebutuhan pangan nasional; dan/atau
e. Ganti rugi akibat gagal panen.
92 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
(2) Perlindungan sosial bagi petani kecil merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari sistem jaminan sosial nasional yang di-
atur dalam peraturan perundangundangan

Pasal 63
Pemberdayaan petani meliputi:
a. Penguatan kelembagaan petani;
b. Penyuluhan dan pelatihan dalam rangka peningkatan
kualitas sumberdaya manusia.
c. Memfasilitasi sumber pembiayaan/permodalan;
d. Bantuan kredit kepemilikan lahan pertanian;
e. Pembentukan bank bagi petani; dan
f. Fasilitas pendidikan dan kesehatan rumahtangga tani,
serta memfasilitasi aksesibilitas ilmu pengetahuan dan
teknologi serta informasi.

6. Perlindungan dan Pemenuhan Hak Petani
6.1. Pemajuan Hak Petani
Konferensi Nasional Pembaruan Agraria dan Hak Asasi Petani
di tahun 2001 yang melahirkan Deklarasi Hak Asasi Petani dan
ide tentang KNUPKA (Komisi Nasional untuk Penyelesaian Konflik
Agraria).
Hak Asasi Petani yang dideklarasikan meliputi:
(1) Kesetaraan hak perempuan dan laki-laki petani;
(2) Hak atas kehidupan dan atas standar kehidupan yang layak;
(3) Hak atas Tanah dan Teritori;
(4) Hak atas Benih, Pengetahuan dan Praktek Pertanian Tradi-
sional;
(5) Hak atas Permodalan dan Sarana Produksi Pertanian;

n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 93
(6) Hak atas Informasi dan Teknologi Pertanian;
(7) Kebebasan untuk Menentukan Harga dan Pasar untuk
Produksi Pertanian;
(8) Hak atas Perlindungan Nilai-nilai Pertanian;
(9) Hak atas Keanekaragaman Hayati;
(10) Hak atas Pelestarian Lingkungan;
(11) Kebebasan Berkumpul, Berpendapat dan Berekspresi;
(12) Hak untuk Mendapatkan Akses terhadap Keadilan

Hak Asasi Petani di level hukum internasional diharapkan men-
jadi sebuah konvensi melalui mekanisme di Perserikatan Bangsa-
Bangsa – yang prosesnya di Dewan HAM PBB telah melahirkan
kesepakatan untuk menyusun sebuah deklarasi -, dan di level hu-
kum nasional menjadi agenda Progam Legislasi Nasional. Namun
alih-alih menyusun Undang-undang Hak Asasi Petani, DPR jus-
tru menyusun Undang-undang Perlindungan dan Pemberdayaan
Petani.
Adapun terkait ide Komisi Nasional untuk Penyelesaian Konflik
Agraria, draft yang telah digodok Komnas HAM dan organisasi
masyarakat ditolak presiden Megawati maupun presiden Susilo
Bambang Yudoyono (SBY), namun kemudian diakhir periode
pemerintahannya presiden SBY memerintahkan Menkopolhukam
untuk menyiapkan kelembagaan bagi penyelesaian konflik per-
tanahan dengan berkoordinasi dengan Komnas HAM. Dan organi-
sasi masyarakat telah memberikan masukan kembali, baik ke
Presiden dan Komnas HAM serta meminta DPR membentuk Pan-
sus Agraria. Dan kini presiden Joko Widodo menjanjikan pelemba-
gaan khusus dalam rangka penyelesaian konflik agraria.

94 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
6.2. Definisi Petani
Di level nasional, secara hukum, masih kabur pengertian
petani, karena di dalam Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006
tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan,
tidak membedakan petani sebagai kelompok rentan dan peng-
usaha tani, sebagaimana terlihat dalam Pasal 1.
10. Petani adalah perorangan warga negara Indonesia beserta
keluarganya atau korporasi yang mengelola usaha di bidang per-
tanian, wanatani, minatani, agropasture,penangkaran satwa dan
tumbuhan, di dalam dan di sekitar hutan, yang meliputi usaha
hulu, usaha tani, agroindustri, pemasaran, dan jasa penunjang.
Sedangkan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang
Sistem Budidaya Tanaman, penjelasan Pasal 6 Ayat (1) mendefi-
nisikan petani di luar korporasi pertanian:
Petani adalah orang, baik yang mempunyai maupun tidak
mempunyai lahan yang mata pencaharian pokoknya mengusaha-
kan lahan dan/atau media tumbuh tanaman untuk budidaya
tanaman.
Demikian halnya di dalam Undang-undang Perlindungan
lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, di dalam pasal 1 telah
mendefinisikan siapa itu petani, akan tetapi ditambahi predikat
pangan:
Petani Pangan adalah setiap orang Warga Negara Indonesia
beserta keluarganya yang mengelola usaha di Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan.
Di dalam Ketentuan Umum Undang-undang Perlindungan
dan Pemberdayaan Petani, disebutkan :
Petani adalah warga negara Indonesia perseorangan dan/
atau beserta keluarganya yang melakukan Usaha Tani di bidang
tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan/atau peternakan.

n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 95
6.3. Hak Petani
Di dalam peraturan-perundangan tentang perlindungan va-
rietas tanaman dan sistem budidaya tanaman ada sejumlah hak
petani yang dilindungi sebagaimana tabel di bawah.

Hak Petani dalam Pemuliaan Tanaman
Hak Petani: Tujuan dan Perencanaan (UU Sistem Budidaya Tanaman)
1. Pasal 3: Sistem budidaya tanaman bertujuan: b. meningkatkan pendapatan dan
taraf hidup petani; c. mendorong perluasan dan pemerataan kesempatan ber-
usaha dan kesempatan kerja.
2. Pasal 5: Perencanaan budidaya tanaman pemerintah : d. menciptakan kondisi
yang menunjang peran serta masyarakat, dan memperhatikan kepentingan
masyarakat.

Hak Petani: Kebebasan Menanam
Pasal 6:
Petani memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan jenis tanaman dan pem-
budidayaannya.

Kebebasan ini dapat dibatasi dengan adanya kewajiban petani berperanserta dalam
mewujudkan rencana pengembangan dan produksi budidaya tanaman, sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5. Tetapi pemerintah wajib memberikan jaminan penghasilan
tertentu apabila petani menjalankan kewajibannya terhadap pemerintah yang akan
diatur dalam Peraturan Pemerintah tentang jaminan penghasilan petani.

Hak Petani : Pemuliaan Benih Hak atas Plasma Nutfah

1. Petani berhak melakukan pemuliaan tanaman (pasal 11)
2. Petani berhak melestarikan plasma Nutfah yang pencarian dan pengumpulan-
nya dilakukan oleh pemerintah (pasal 9)
3. Hak tidak dikriminalkan karena menggunakan sebagain hasil panen dari varietas
yang dilindungi sepanjang tidak dalam rangka komersil dan pemuliaan varietas
tanaman (pasal 10 (1) UU 29/2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman)

Hak Petani: Perlindungan khusus
Pasal 47-50
• Hak mendapat perlakuan khusus yang berbeda dengan pengusahaan budidaya

96 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
tanamanan – usaha lemah dan pengusaha kuat - yang dilakukan perorangan dan
badan hukum (koperasi, BUMN/BUMD, dan swasta
• Hak difasilitasi oleh pemerintah untuk bermitra dengan badan usaha
• Hak petani kecil berlahan sempit untuk tidak dipungut biaya
• Perlindungan ini diatur dalam PP

Hak Petani: Hak atas Pendidikan
Serikat petani – sebagai organisasi profesi – dan koperasi petani, berhak mendapat
pemberian bimbingan dari pemerintah, sebagaimana diatur dalam pasal 52 dan
pasal 53

Pasal 52 (1)
Pemerintah melaksanakan pembinaan budidaya tanaman dalam bentuk pengaturan,
pemberian bimbingan, dan pengawasan terhadap penyelenggaraan budidaya tana-
man.

Pasal 53
Pemerintah mendorong dan mengarahkan peranserta organisasi profesi terkait
dalam pembinaan budidaya tanaman sebagaimana dimaksud dalam Penjelasan
Pasal 53 Pasal 53 Yang dimaksud dengan organisasi profesi terkait adalah semua
bentuk perhimpunan profesional, keilmuan, pengusahaan, atau perdagangan di bi-
dang budidaya tanaman.

Hak Petani:
Hak atas sumbangan petani - UU No. 4 Tahun 2006 tentang Pengesahan Perjanjian
internasional tentang sumberdaya genetik untuk pangan dan Pertanian
Sumbangan petani pada masa lalu, kini, dan mendatang, di seluruh dunia, terutama
di pusat asal dan pusat keanekaragaman, dalam melestarikan, memperbaiki dan
membuat sumberdaya ini merupakan landasan hak-hak petani; Bagian Pemajuan
Hak Petani; Mengakui dampak buruk revolusi hijau

Bagian III Hak Petani Pasal 9
1. Pengakuan kontribusi yang sangat besar masyarakat adat dan petani
2. Perlindungan pengetahuan tradisional yang relevan dengan sumberdaya genetik
3. Pembagian keuntungan dari pemanfaatan sumberdaya genetik
4. Partisipasi dalam pengambilan keputusan
5. Tidak boleh dibatasi hak petani untuk menyimpan, mempergunakan, memper-
tukarkan dan menjual benih hasil tanaman sendiri

n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 97
Petani yang dilindungi oleh Undang-undang Perlindungan
dan Pemberdayaan Petani (perlintan) adalah :

Pasal 12
(2) Perlindungan Petani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7
ayat (2) huruf a, huruf b, huruf c, huruf e, dan huruf g diberikan
kepada:
a. Petani penggarap tanaman pangan yang tidak memiliki
lahan Usaha Tani dan menggarap paling luas 2 (dua) hektare;
b. Petani yang memiliki lahan dan melakukan usaha budi
daya tanaman pangan pada lahan paling luas 2 (dua)
hektare; dan/atau
c. Petani hortikultura, pekebun, atau peternak skala usaha
kecil sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

98 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Perlindungan dan Pemberdayaan Petani Menurut
Undang-undang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani
No. Hak Petani Kewajiban Pemda
1. Prasarana Pertanian Menyediakan dan/atau mengelola: a. jalan Usaha Tani, jalan pro-
duksi, dan jalan desa; b. bendungan, dam, jaringan irigasi, dan
embung; dan c. jaringan listrik, pergudangan, pelabuhan, dan pasar.
2. Sarana Produksi (1) Menyediakan sarana produksi Pertanian secara tepat waktu dan
Pertanian tepat mutu serta harga terjangkau bagi Petani.
(2) Sarana produksi Pertanian paling sedikit meliputi: a. benih, bibit,
bakalan ternak, pupuk, pestisida, pakan, dan obat hewan sesuai
dengan standar mutu; dan b. alat dan mesin Pertanian sesuai
standar mutu dan kondisi spesifik lokasi.
(3) Penyediaan sarana produksi Pertanian diutamakan berasal dari
produksi dalam negeri
(4) Subsidi benih atau bibit tanaman, bibit atau bakalan ternak,
pupuk, dan/atau alat dan mesin Pertanian sesuai dengan kebu-
tuhan. Pemberian subsidi harus tepat guna, tepat sasaran, tepat
waktu, tepat lokasi, tepat jenis, tepat mutu, dan tepat jumlah.
3. Kepastian Usaha a. Menetapkan kawasan Usaha Tani berdasarkan kondisi dan po-
tensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya
buatan;
b. Memberikan jaminan pemasaran hasil Pertanian kepada Petani
yang melaksanakan Usaha Tani sebagai program Pemerintah;
c. Memberikan keringanan Pajak Bumi dan Bangunan bagi lahan
Pertanian produktif yang diusahakan secara berkelanjutan; dan
d. Mewujudkan fasilitas pendukung pasar hasil Pertanian.
Keterangan :
Jaminan pemasaran merupakan hak Petani untuk mendapatkan
penghasilan yang menguntungkan. Jaminan pemasaran dapat di-
lakukan melalui: a. pembelian secara langsung; b. penampungan
hasil Usaha Tani; dan/atau c. pemberian fasilitas akses pasar.
4. Harga Komoditas Menciptakan kondisi yang menghasilkan harga Komoditas Per-
yang Menguntungkan tanian yang menguntungkan bagi Petani dengan menetapkan: a.
tarif bea masuk Komoditas Pertanian; b. tempat pemasukan Ko-
moditas Pertanian dari luar negeri dalam kawasan pabean; c. per-
syaratan administratif dan standar mutu; d. struktur pasar produk
Pertanian yang berimbang; dan e. kebijakan stabilisasi harga
pangan.
Keterangan
(1). Tarif Bea Masuk Komoditas Pertanian
Besaran tarif bea masuk sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditetapkan oleh Pemerintah berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Penetapan besaran tarif bea masuk sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) paling sedikit didasarkan pada: a. harga pasar internasional;

n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 99
No. Hak Petani Kewajiban Pemda
b. harga pasar domestik; c. jenis Komoditas Pertanian tertentu na-
sional dan lokal; dan d. produksi dan kebutuhan nasional.
(2). Jenis Komoditas Pertanian
Penetapan jenis Komoditas Pertanian tertentu dilakukan berdasar-
kan: a. pengaruh Komoditas Pertanian terhadap stabilitas ekonomi
nasional; dan/atau b. kepentingan hajat hidup orang banyak.

(3). Tempat Pemasukan Komo`ditas Pertanian
Penetapan tempat pemasukan Komoditas Pertanian dalam kawasan
pabean harus mempertimbangkan: a. daerah sentra produksi Ko-
moditas Pertanian dalam negeri; dan b. kelengkapan instalasi ka-
rantina sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Setiap Orang yang mengimpor Komoditas Pertanian wajib melalui
tempat pemasukan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah.

(4) Pembatasan Impor
Setiap Orang dilarang mengimpor Komoditas Pertanian pada saat
ketersediaan Komoditas Pertanian dalam negeri sudah mencukupi
kebutuhan konsumsi dan/atau cadangan pangan Pemerintah.

Kecukupan kebutuhan konsumsi dan cadangan pangan Pemerintah
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri.

(5).Persyaratan Administratif dan Standar Mutu
Setiap Komoditas Pertanian yang diimpor harus memenuhi per-
syaratan administratif dan standar mutu
Persyaratan administratif paling sedikit meliputi: a. surat izin impor;
b. tanggal panen dan tanggal kedaluwarsa; dan c. surat keterangan
asal negara penghasil dan negara pengekspor.
Selain persyaratan administratif dan standar mutu, komoditas
pangan harus memenuhi keamanan panga yang diatur dengan
5. Penghapusan Praktik Menghapuskan berbagai pungutan yang tidak sesuai dengan ke-
Ekonomi Biaya Tinggi tentuan peraturan perundang-undangan.
6. Ganti Rugi Memberikan bantuan ganti rugi gagal panen akibat kejadian luar
Gagal Panen Akibat sesuai dengan kemampuan keuangan negara.
Kejadian Luar Biasa
Untuk menghitung bantuan ganti rugi gagal panen akibat kejadian
luar biasa Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan ke-
wenangannya berkewajiban: a. menentukan jenis tanaman dan
menghitung luas tanam yang rusak; b. menentukan jenis dan meng-
hitung ternak yang mati; dan c. menetapkan besaran ganti rugi tana-
man dan/atau ternak.

Sistem Peringatan Dini
Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangan-

100 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
No. Hak Petani Kewajiban Pemda
nya membangun sistem peringatan dini dan penanganan dampak
perubahan iklim untuk mengantisipasi gagal panen akibat bencana
alam.
Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangan-
nya wajib mengantisipasi terjadinya gagal panen dengan mel-
akukan: a. peramalan serangan organisme pengganggu tumbu-
han, serangan hama, dan/atau wabah penyakit hewan menular;
dan b. upaya penanganan terhadap hasil prakiraan iklim dan pe-
ramalan serangan organisme pengganggu tumbuhan, serangan
hama, dan/atau wabah penyakit hewan menular.

Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem peringatan dini dan
penanganan dampak perubahan iklim diatur dengan Peraturan
Menteri.
7. Asuransi Pertanian Melindungi Usaha Tani yang dilakukan oleh Petani dalam ben-
tuk Asuransi Pertanian, untuk melindungi Petani dari kerugian
gagal panen akibat: a. bencana alam; b. serangan organisme
pengganggu tumbuhan; c. wabah penyakit hewan menular; d.
dampak perubahan iklim; dan/atau e. jenis risiko-risiko lain diatur
dengan Peraturan Menteri.
Pemerintah dan Pemerintah Daerah menugaskan badan usaha
milik negara dan/atau badan usaha milik daerah di bidang asuran-
si untuk melaksanakan Asuransi Pertanian.
Pelaksanaan Asuransi Pertanian dilaksanakan sesuai dengan ke-
tentuan peraturan perundang-undangan.
Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangan-
nya memfasilitasi setiap Petani menjadi peserta Asuransi Perta-
nian. Fasilitasi meliputi: a. kemudahan pendaftaran untuk men-
jadi peserta; b. kemudahan akses terhadap perusahaan asuransi;
c. sosialisasi program asuransi terhadap Petani dan perusahaan
asuransi; dan/atau d. bantuan pembayaran premi.
Pelaksanaan fasilitasi asuransi Pertanian sebagaimana diatur
dengan Peraturan Menteri.
8. Pendidikan dan Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan antara lain berupa:
Pelatihan a. pengembangan program pelatihan dan pemagangan; b. pem-
berian beasiswa bagi Petani untuk mendapatkan pendidikan
di bidang Pertanian; atau c. pengembangan pelatihan kewira-
usahaan di bidang agribisnis.
Petani yang sudah mendapatkan pendidikan dan pelatihan serta
memenuhi kriteria berhak memperoleh bantuan modal dari
Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah. Persyaratan Petani
yang berhak memperoleh bantuan modal dari Pemerintah dan/
atau Pemerintah Daerah diatur dengan Peraturan Menteri.

n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 101
No. Hak Petani Kewajiban Pemda
Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangan-
nya berkewajiban meningkatkan keahlian dan keterampilan
Petani melalui pendidikan dan pelatihan secara berkelanjutan.
Untuk meningkatkan keahlian dan keterampilan Petani dapat di-
lakukan melalui sertifikasi kompetensi.
Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangan-
nya berkewajiban memfasilitasi Petani untuk memperoleh serti-
fikat kompetensi. Ketentuan lebih lanjut mengenai penyeleng-
garaan pendidikan dan pelatihan, serta sertifikasi kompetensi
diatur dengan Peraturan Menteri.
9. Penyuluhan dan Memberi fasilitas penyuluhan dan pendampingan kepada Petani,
Pendampingan berupa pembentukan lembaga penyuluhan dan penyediaan pe-
nyuluh yang dibentuk oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah.
Penyediaan Penyuluh paling sedikit 1 (satu) orang Penyuluh
dalam 1 (satu) desa.
Penyuluhan dan pendampingan dilakukan antara lain agar Petani
dapat melakukan: a. tata cara budi daya, pascapanen, pengolah-
an, dan pemasaran yang baik; b. analisis kelayakan usaha; dan
c. kemitraan dengan Pelaku Usaha.
Penyuluhan dan pendampingan dilaksanakan sesuai dengan ke-
tentuan peraturan perundang-undangan.
Setiap Orang dilarang melakukan penyuluhan yang tidak sesuai
dengan materi penyuluhan dalam bentuk teknologi tertentu
yang telah ditetapkan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah,
kecuali yang bersumber dari pengetahuan tradisional.
10. Sistem dan Sarana Pengembangan sistem dan sarana pemasaran hasil Pertanian yang
Pengembangan diselenggarakan dengan: a. mewujudkan pasar hasil Pertanian
Pertanian yang memenuhi standar keamanan pangan, sanitasi, serta mem-
perhatikan ketertiban umum; b. mewujudkan terminal agribisnis
dan subterminal agribisnis untuk pemasaran hasil Pertanian; c.
mewujudkan fasilitas pendukung pasar hasil Pertanian; d. mem-
fasilitasi pengembangan pasar hasil Pertanian yang dimiliki dan/
atau dikelola oleh Kelompok Tani, Gabungan Kelompok Tani,
koperasi, dan/atau kelembagaan ekonomi Petani lainnya di dae-
rah produksi Komoditas Pertanian; e. membatasi pasar modern
yang bukan dimiliki dan/atau tidak bekerja sama dengan Kelom-
pok Tani, Gabungan Kelompok Tani, koperasi, dan/atau kelem-
bagaan ekonomi Petani lainnya di daerah produksi Komoditas
Pertanian; f. mengembangkan pola kemitraan Usaha Tani yang
saling memerlukan, mempercayai, memperkuat, dan mengun-
tungkan; g. mengembangkan sistem pemasaran dan promosi
hasil Pertanian; h. mengembangkan pasar lelang; i. menyediakan
informasi pasar; dan j. mengembangkan lindung nilai.

102 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
No. Hak Petani Kewajiban Pemda
11. Jaminan Ketersediaan Memberikan jaminan ketersediaan lahan Pertanian melalui: a.
Lahan Pertanian konsolidasi lahan Pertanian; dan b. jaminan luasan lahan Perta-
nian.
Konsolidasi lahan Pertanian merupakan penataan kembali peng-
gunaan dan pemanfaatan lahan sesuai dengan potensi dan ren-
cana tata ruang wilayah untuk kepentingan lahan Pertanian.
Konsolidasi lahan Pertanian diutamakan untuk menjamin luasan
lahan Pertanian bagi Petani agar mencapai tingkat kehidupan
yang layak.
Konsolidasi dilakukan melalui: a. pengendalian alih fungsi lahan
Pertanian; dan b. pemanfaatan lahan Pertanian yang terlantar.
Selain konsolidasi lahan Pertanian Pemerintah dan Pemerintah
Daerah sesuai dengan kewenangannya dapat melakukan perluas-
an lahan Pertanian melalui penetapan lahan terlantar yang po-
tensial sebagai lahan Pertanian.
Perluasan lahan Pertanian sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangan-
nya berkewajiban memberikan jaminan luasan lahan Pertanian
bagi Petani, dilakukan dengan memberikan kemudahan un-
tuk memperoleh tanah negara bebas yang diperuntukan atau
ditetapkan sebagai kawasan Pertanian.
Kemudahannya berupa: a. pemberian paling luas 2 hektare tanah
negara bebas yang telah ditetapkan sebagai kawasan Pertanian
kepada Petani, yang telah melakukan Usaha Tani paling sedikit
5 (lima) tahun berturut-turut; b. pemberian lahan Pertanian dari
tanah negara bekas tanah terlantar; c. memfasilitasi pinjaman
modal bagi Petani) untuk memiliki dan/atau memperluas kepe-
milikan lahan Pertanian.
Kemudahan bagi Petani untuk memperoleh lahan Pertanian di-
berikan dalam izin pengusahaan, izin pengelolaan, atau izin pe-
manfaatan.
Pemberian lahan Pertanian diutamakan kepada Petani setempat
yang: a. tidak memiliki lahan dan telah mengusahakan lahan Per-
tanian di lahan yang diperuntukkan sebagai kawasan Pertanian
selama 5 (lima) tahun berturut-turut; atau b. memiliki lahan Per-
tanian kurang dari 2 (dua) hektare.
Petani yang menerima tanah negara dapat memperoleh keringan-
an Pajak Bumi dan Bangunan dan insentif lainnya sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Ketentuan lebih lanjut mengenai jaminan luasan lahan Pertanian
diatur dengan Peraturan Pemerintah.

n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 103
No. Hak Petani Kewajiban Pemda
12. Fasilitas Pembiayaan Memfasilitasi pembiayaan dan permodalan Usaha Tani. Dilakukan
dan Permodalan dengan: a. pinjaman modal untuk memiliki dan/atau memperluas
kepemilikan lahan Pertanian; b. pemberian bantuan penguatan
modal bagi Petani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat
(2); c. pemberian subsidi bunga kredit program dan/atau imbal
jasa penjaminan; dan/atau d. pemanfaatan dana tanggung jawab
sosial serta dana program kemitraan dan bina lingkungan dari
badan usaha.
13. Akses Ilmu Memberikan kemudahan akses ilmu pengetahuan, teknologi, dan
Pengetahuan, informasi untuk mencapai standar mutu Komoditas Pertanian yang
Teknologi dan meliputi: a. penyebarluasan ilmu pengetahuan dan teknologi; b.
Informasi kerja sama alih teknologi; dan c. penyediaan fasilitas bagi Petani
untuk mengakses ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi.
Penyediaan informasi paling sedikit berupa: a. sarana produksi
Pertanian; b. harga Komoditas Pertanian; c. peluang dan tan-
tangan pasar; d. prakiraan iklim, dan ledakan organisme peng-
ganggu tumbuhan dan/atau wabah penyakit hewan menular; e.
pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan; f. pemberian subsidi dan
bantuan modal; dan g. ketersediaan lahan Pertanian.
Informasi harus akurat, tepat waktu, dan dapat diakses dengan
mudah dan cepat oleh Petani,
14. Penguatan Kelembagaan Petani Mendorong dan memfasilitasi
terbentuknya Kelembagaan Petani dan Kelembagaan Ekonomi
Petani.
Pembentukan kelembagaan dilaksanakan dengan perpaduan
dari budaya, norma, nilai, dan kearifan lokal petani.
Kelembagaan Petani sterdiri atas: a. Kelompok Tani; b. Gabung-
an Kelompok Tani; c. Asosiasi Komoditas Pertanian; d. Dewan
Komoditas Pertanian Nasional; dan e. kelembagaan petani yan
dibentuk oleh para petani.
Kelembagaan Ekonomi Petani berupa badan usaha milik Petani
berbentuk koperasi atau badan usaha lainnya sesuai dengan ke-
tentuan peraturan perundang-undangan
15. Pembiayaan dan Pembiayaan dan pendanaan untuk kegiatan Perlindungan dan
Pendanaan Pemberdayaan Petani yang dilakukan oleh Pemerintah bersum-
ber dari anggaran pendapatan dan belanja negara.
Pembiayaan dan pendanaan untuk kegiatan Perlindungan dan
Pemberdayaan Petani yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah
bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja daerah.
Pembiayaan dan pendanaan dalam kegiatan Perlindungan dan
Pemberdayaan Petani dilakukan untuk mengembangkan Usaha
Tani melalui: a. lembaga perbankan; dan/atau b. Lembaga Pem-
biayaan.

104 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
No. Hak Petani Kewajiban Pemda
Pemerintah menugasi Badan Usaha Milik Negara bidang perban-
kan dan Pemerintah Daerah menugasi Badan Usaha Milik Daerah
bidang perbankan untuk melayani kebutuhan pembiayaan Usaha
Tani dan badan usaha milik Petani sesuai dengan ketentuan pera-
turan perundang-undangan.
Badan Usaha Milik Negara bidang perbankan dan Badan Usaha Milik
Daerah bidang perbankan membentuk unit khusus pertanian.
Pelayanan kebutuhan pembiayaan oleh unit khusus pertanian dilak-
sanakan dengan prosedur mudah dan persyaratan yang lunak.
Pelayanan kebutuhan pembiayaan Usaha Tani dapat dilakukan oleh
bank swasta sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Untuk melaksanakan penyaluran kredit dan/atau pembiayaan Usaha
Tani, pihak bank berperan aktif membantu petani agar memenuhi
persyaratan memperoleh kredit dan/atau pembiayaan.
Pihak bank berperan aktif membantu dan memudahkan petani
mengakses fasilitas perbankan.
Bank dapat menyalurkan kredit dan/atau pembiayaan bersubsidi
untuk Usaha Tani melalui lembaga keuangan bukan bank dan/atau
jejaring lembaga keuangan mikro di bidang agribisnis.
Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan unit khusus perta-
nian serta prosedur penyaluran kredit dan pembiayaan Usaha Tani
diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Pemerintah dan Pemerintah Daerah berkewajiban menugasi
Lembaga Pembiayaan Pemerintah atau Pemerintah Daerah untuk
melayani Petani dan/atau badan usaha milik Petani memperoleh
pembiayaan Usaha Tani sesuai dengan ketentuan peraturan per-
undang-undangaan.
Lembaga Pembiayaan berkewajiban melaksanakan kegiatan
pembiayaan Usaha Tani dengan persyaratan sederhana dan
prosedur cepat.
Untuk melaksanakan penyaluran kredit dan/atau pembiayaan
bagi Petani, pihak Lembaga Pembiayaan berperan aktif memban-
tu Petani agar memenuhi persyaratan memperoleh kredit dan/
atau pembiayaan.
Pihak Lembaga Pembiayaan berperan aktif membantu dan me-
mudahkan petani dalam memperoleh fasilitas kredit dan/atau
pembiayaan.
Lembaga Pembiayaan dapat menyalurkan kredit dan/atau pembi-
ayaan bersubsidi kepada petani melalui lembaga keuangan bukan
bank dan/atau jejaring lembaga keuangan mikro di bidang agribisnis
dan Pelaku Usaha untuk mengembangkan Pertanian.
Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan sederhana dan prose-
dur cepat dan penyaluran kredit dan/atau pembiayaan bagi petani
diatur oleh Pemerintah.

n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 105
7. Hak Nelayan dan Masyarakat Pedesaan Pesisir

Peraturan perundangan yang ada, juga sangat luas men-
definisikan nelayan. Di dalam Pasal 1 Undang-undang Nomor 45
Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31
Tahun 2004 Tentang Perikanan, disebutkan:
• Nelayan adalah orang yang mata pencahariannya melakukan
penangkapan ikan
• Dari definisi tersebut maka nelayan bisa nelayan kecil, nelayan
tradisional dan bisa juga pemilik modal perorangan. Meski de-
mikian, peraturan perundangan yang ada bisa dipergunakan
untuk menentukan nelayan seperti apa yang wajib mendapat
perlindungan dari negara, seperti yang tersebut di bawah ini.

Kelompok Sosial Nelayan dan Masyarakat
yang Bekerja di Pedesaan Pesisir
No. Dasar Model Nelayan Dasar Hukum
Pengelompokan
Sosial
1. Kelas Sosial ber- nelayan pemilik ialah orang atau badan Undang-undang
dasar Kepemilikan hukum yang dengan hak apapun berkua- No. 16 Tahun 1964
Modal/Kapal/Lahan sa atas sesuatu kapal/perahu yang diper- tentang Bagi Hasil
gunakan dalam usaha penangkapan ikan Perikanan
dan alat-alat penangkapan ikan;
nelayan penggarap ialah semua orang
yang sebagai kesatuan dengan menye-
diakan tenaganya turut serta dalam usaha
penangkapan ikan laut;
pemilik tambak ialah orang atau badan
hukum yang dengan hak apapun berkua-
sa atas suatu tambak;
penggarap tambak ialah orang yang se-
cara nyata, aktif menyediakan tenaganya
dalam usaha pemeliharaan ikan darat atas
dasar perjanjian bagi-hasil yang diadakan
dengan pemilik tambak;

106 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
No. Dasar Model Nelayan Dasar Hukum
Pengelompokan
Sosial
2. Mata Pencaharian Petani ikan adalah orang yang mata pen- Undang-undang
cahariannya melakukan pembudidayaan Nomor 9 Tahun
ikan. 1985 tentang
Perikanan;
Nelayan adalah orang yang mata penca-
hariannya melakukan penangkapan ikan. Undang-undang
Nelayan Kecil adalah orang yang mata Nomor 45 Tahun
pencahariannya melakukan penangkapan 2009 tentang
ikan untuk memenuhi kebutuhan hidup Perubahan atas
sehari-hari yang menggunakan kapal Undang-undang
perikanan berukuran paling besar 5 (lima) Nomor 31 Tahun
gross ton (GT). 2004 Tentang
Perikanan
Pembudi Daya Ikan adalah orang yang
mata pencahariannya melakukan pembudi-
dayaan ikan.
Pembudi Daya-Ikan Kecil adalah orang
yang mata pencahariannya melakukan
pembudidayaan ikan untuk memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari.
3. kapasitas Nelayan Kecil adalah orang yang mata Undang-undang
kapal nelayan pencahariannya melakukan penangkapan Nomor 45 Tahun
ikan untuk memenuhi kebutuhan hidup 2009 tentang Per-
sehari-hari yang menggunakan kapal ubahan atas
perikanan berukuran paling besar 5 (lima) Undang-undang
gross ton (GT). Nomor 31 Tahun
2004 Tentang Per-
Nelayan Tradisional” adalah nelayan yang ikanan
menggunakan kapal tanpa mesin, di-
lakukan secara turun temurun, memiliki Undang-undang
daerah penangkapan ikan yang tetap, Nomor 1 Tahun
dan untuk memenuhi kebutuhan hidup 2014 tentang
sehari-hari. Perubahan Undang-
undang Nomor 27
Tahun 2007 tentang
Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil

n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 107
No. Dasar Model Nelayan Dasar Hukum
Pengelompokan
Sosial
4. Teritori Masyarakat Hukum Adat adalah sekelom- Undang-undang
pok orang yang secara turun-temurun Nomor 1 Tahun
bermukim di wilayah geografis tertentu 2014 tentang
di Negara Kesatuan Republik Indonesia Perubahan Undang-
karena adanya ikatan pada asal usul le- undang Nomor 27
luhur, hubungan yang kuat dengan tan- Tahun 2007 tentang
ah, wilayah, sumber daya alam, memiliki Pengelolaan
pranata pemerintahan adat, dan tatanan Wilayah Pesisir dan
hukum adat di wilayah adatnya sesuai Pulau-pulau Kecil
dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Masyarakat Lokal adalah kelompok
Masyarakat yang menjalankan tata ke-
hidupan sehari-hari berdasarkan kebi-
asaan yang sudah diterima sebagai nilai-
nilai yang berlaku umum, tetapi tidak
sepenuhnya bergantung pada Sumber
Daya Pesisir dan Pulau-pulau Kecil ter-
tentu.
Masyarakat Tradisional adalah Masyarakat
perikanan tradisional yang masih diakui
hak tradisionalnya dalam melakukan ke-
giatan penangkapan ikan atau kegiatan
lainnya yang sah di daerah tertentu yang
berada dalam perairan kepulauan sesuai
dengan kaidah hukum laut internasional.
“Nelayan tradisional” adalah nelayan
yang menggunakan kapal tanpa mesin,
dilakukan secara turun temurun, memi-
liki daerah penangkapan ikan yang tetap,
dan untuk memenuhi kebutuhan hidup
sehari-hari

Dari dasar pengelompokan sosial seperti di dalam tabel di
atas, maka nelayan dan masyarakat pedesaan pesisir yang perlu
dilindungi adalah:
1. Nelayan Penggarap;
2. Penggarap Tambak;
3. Petani ikan atau Pembudidaya Ikan Kecil;
4. Nelayan Kecil;

108 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
5. Nelayan Tradisional;
6. Masyarakat Adat;
7. Masyarakat Lokal; dan
8. Masyarakat Tradisional

Belum ada pengaturan yang komprehensif dalam rangka
melindungi keseluruhan hak-hak nelayan dan masyarakat desa
pesisir. Meski demikian sudah ada upaya penghormatan, pember-
dayaan, dan affirmative action atau pengecualian pemberlakukan
sejumlah peraturan, diantaranya adalah:

Penghormatan dan Perlindungan Hak Nelayan
dan Masyarakat Pedesaan Pesisir
Berdasarkan Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan

Pasal 6
(1) Pengelolaan perikanan dalam wilayah pengelolaan perikanan Republik Indone-
sia dilakukan untuk tercapainya manfaat yang optimal dan berkelanjutan, serta
terjaminnya kelestarian sumber daya ikan.
(2) Pengelolaan perikanan untuk kepentingan penangkapan ikan dan pembudi-
dayaan ikan harus mempertimbangkan hukum adat dan/atau kearifan lokal
serta memperhatikan peran serta masyarakat.

Pasal 61
(1) Nelayan kecil bebas menangkap ikan di seluruh wilayah pengelolaan perikanan
Republik Indonesia.

(2) Pembudidaya ikan kecil dapat membudidayakan komoditas ikan pilihan di selu-
ruh wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia.

n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 109
Pemberdayaan Nelayan dan Masyarakat Pedesaan Pesisir
Berdasarkan Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan

Pasal 3
a. meningkatkan taraf hidup nelayan kecil dan pembudi daya ikan kecil;

Pasal 60
(1) Pemerintah memberdayakan nelayan kecil dan pembudi daya-ikan kecil melalui:
a. penyediaan skim kredit bagi nelayan kecil dan pembudi daya-ikan kecil, baik
untuk modal usaha maupun biaya operasional dengan cara yang mudah,
bunga pinjaman yang rendah, dan sesuai dengan kemampuan nelayan kecil
dan pembudi daya-ikan kecil;
b. penyelenggaraan pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan bagi nelayan kecil
serta pembudi daya-ikan kecil untuk meningkatkan pengetahuan dan ke-
terampilan di bidang penangkapan, pembudidayaan, pengolahan, dan pe-
masaran ikan; dan c. penumbuhkembangan kelompok nelayan kecil, kelom-
pok pembudi daya-ikan kecil, dan koperasi perikanan.

Pasal 62
Pemerintah menyediakan dan mengusahakan dana untuk memberdayakan nelayan
kecil dan pembudi daya-ikan kecil, baik dari sumber dalam negeri maupun sumber
luar negeri, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Affirmative Action untuk Nelayan dan Masyarakat Pedesaan Pesisir
Nelayan dan petani ikan kecil yang melakukan penangkapan atau pembudidayaan
ikan yang hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tidak dikenakan
pungutan perikanan (Pasal 11 (2) Undang-undang No. 9 Tahun 1985 Perikanan).
Kewajiban mematuhi ketentuan mengenai sistem pemantauan perikanan tidak ber-
laku bagi nelayan kecil dan/pembudiya ikan kecil (Pasal 7 (3) Undang-undang No. 9
Tahun 1985 tentang Perikanan);
Kewajiban memiliki SIUP (Surat Izin Usaha Perikanan) tidak berlaku bagi nelayan kecil
dan/atau pembudidaya ikan kecil (Pasal 26 (2) Undang-undang No. 31 Tahun 2004
tentang Perikanan);
Kewajiban memiliki SIPI (Surat Izin Penangkapan Ikan) dan/atau membawa SIPI tidak
berlaku bagi nelayan kecil (Pasal 27 (5) Undang-undang No. 31 Tahun 2004 tentang
Perikanan);
Kewajiban memiliki SIKPI (Surat Izin Kapal Pengangkut Ikan dan/atau membawa
SIKPI asli tidak berlaku bagi nelayan kecil dan/pembudiya ikan kecil (Pasal 28 (3)
Undang-undang No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan);

110 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Kewajiban memiliki izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) – Izin Lokasi-
dan Pasal 19 ayat (1) – Izin Pengelolaan dikecualikan bagi Masyarakat Hukum Adat
(Pasal 22 (1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Perubahan Undang-
undang Nomor 27 Tahun 2007 Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil.

Hak Nelayan dan Masyarakat Pedesaan Pesisir dalam
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
Berdasarkan Undang-undang No. 1 Tahun 2014 tentang Perubahan atas
Undang-undang No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir
dan Pulau-pulau Kecil

a. Memperoleh akses terhadap bagian perairan pesisir yang sudah diberi Izin Lokasi
dan Izin Pengelolaan;
b. Mengusulkan wilayah penangkapan ikan secara tradisional ke dalam RZWP-3-K
(Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil);
c. Mengusulkan wilayah Masyarakat Hukum Adat ke dalam RZWP-3-K;
d. Melakukan kegiatan pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-pulau Kecil ber-
dasarkan hukum adat yang berlaku dan tidak bertentangan dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan;
e. Memperoleh manfaat atas pelaksanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-
pulau Kecil;
f. Memperoleh informasi berkenaan dengan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-
pulau Kecil;
g. Mengajukan laporan dan pengaduan kepada pihak yang berwenang atas keru-
gian yang menimpa dirinya yang berkaitan dengan pelaksanaan Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil;
h. Menyatakan keberatan terhadap rencana pengelolaan yang sudah diumumkan
dalam jangka waktu tertentu;
i. Melaporkan kepada penegak hukum akibat dugaan pencemaran, pencemaran,
dan/atau perusakan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil yang merugikan ke-
hidupannya;
j. Mengajukan gugatan kepada pengadilan terhadap berbagai masalah Wilayah
Pesisir dan Pulau-pulau Kecil yang merugikan kehidupannya; k. memperoleh
ganti rugi;
l. Mendapat pendampingan dan bantuan hukum terhadap permasalahan yang di-
hadapi dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 111
Rumusan hak nelayan dan masyarakat pedesaaan pesisir, da-
pat disusun melalui penafsiran UUD 1945 sebagaimana penda-
pat-pendapat Mahkamah Konstitusi dalam putusan perkara pen-
gujian beberapa undang-undang terkait agraria.
Terkait hak-hak konstitusional nelayan dan masyarakat pede-
saan pesisir, Mahkamah Konstitusi dalam putusan perkara pengu-
jian Undang-udang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau
Kecil, berpendapat hak-hak tersebut berupa, hak akses untuk
melintas, hak atas lingkungan yang sehat dan lain-lain termasuk
hak masyarakat adat dan hak-hak tradisional yang bersifat turun
temurun atas perairan pesisir yang tidak bisa diganti dengan kon-
sep ganti rugi.
DPR telah mensahkan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2016
tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya
Ikan dan Petambak Garam.
Dalam undang-undang ini subyek yang diindungi sebagai-
mana disebut dalam undang-undang ini antara lain:
Nelayan:
a. Nelayan Kecil;
b. Nelayan Tradisional;
c. Nelayan Buruh;
d. Nelayan Pemilik yang memiliki kapal penangkap Ikan,
baik dalam satu unit maupun dalam jumlah kumulatif lebih
dari 10 (sepuluh) GT sampai dengan 60 (enam puluh) GT
yang dipergunakan dalam usaha Penangkapan Ikan.

Pembudi Daya Ikan:
a. Pembudi Daya Ikan Kecil;
b. Penggarap Lahan Budi Daya;
c. Pemilik Lahan Budi Daya.

112 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Pembudi Daya Ikan Kecil ditentukan dengan kriteria:
a. Menggunakan teknologi sederhana;
b. Melakukan Pembudidayaan Ikan dengan luas lahan:

1. Usaha Pembudidayaan Ikan air tawar untuk kegiatan:
a) Pembenihan Ikan paling luas 0,75 (nol koma tujuh
puluh lima) hektare; dan
b) Pembesaran Ikan paling luas 2 (dua) hektare.

2. Usaha Pembudidayaan Ikan air payau untuk kegiatan:
a) Pembenihan Ikan paling luas 0,5 (nol koma lima)
hektare;
b) Pembesaran Ikan paling luas 5 (lima) hektare.

3. Usaha Pembudidayaan Ikan air laut untuk kegiatan:
a) Pembenihan Ikan paling luas 0,5 (nol koma lima)
hektare;
b) Pembesaran Ikan paling luas 2 (dua) hektare.

Pemilik Lahan Budi Daya ditentukan dengan kriteria:
a. Menggunakan teknologi sederhana atau teknologi
semi-intensif;
b. Memiliki hak atau izin atas lahan:

1. Usaha Pembudidayaan Ikan air tawar untuk kegiatan:
a) Pembenihan Ikan lebih dari 0,75 (nol koma tujuh pu-
luh lima) hektare sampai dengan 5 (lima) hektare;
b) Pembesaran Ikan lebih dari 2 (dua) hektare sampai
dengan 5 (lima) hektare.

2. Usaha Pembudidayaan Ikan air payau untuk kegiatan:
a) Pembenihan Ikan lebih dari 0,5 (nol koma lima) hek-
tare sampai dengan 5 (lima) hektare;

n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 113
b) Pembesaran Ikan lebih dari 5 (lima) hektare sampai
dengan 15 (lima belas) hektare.

3. Usaha Pembudidayaan Ikan air laut untuk kegiatan:
a) Pembenihan Ikan lebih dari 0,5 (nol koma lima) hek-
tare sampai dengan 5 (lima) hektare;
b) Pembesaran Ikan lebih dari 2 (dua) hektare sampai
dengan 5 (lima) hektare.

Petambak Garam:
a. Petambak Garam Kecil;
b. Penggarap Tambak Garam;
c. Pemilik Tambak Garam yang memiliki lahan lebih dari 5
(lima) hektare sampai dengan 15 (lima belas).

Tujuannya dari pada perlindungan dan pemberdayaan ne-
layan, pembudidaya ikan dan petambak garam adalah:
a. Menyediakan prasarana dan sarana yang dibutuhkan
dalam mengembangkan usaha;
b. Memberikan kepastian usaha yang berkelanjutan;
c. Meningkatkan kemampuan dan kapasitas Nelayan,
Pembudi Daya Ikan, dan Petambak Garam; menguatkan
kelembagaan dalam mengelola sumber daya Ikan dan
sumber daya kelautan serta dalam menjalankan usaha
yang mandiri, produktif, maju, modern, dan berkelanju-
tan; dan mengembangkan prinsip kelestarian lingkungan;
d. Menumbuhkembangkan sistem dan kelembagaan pem-
biayaan yang melayani kepentingan usaha;
e. Melindungi dari risiko bencana alam, perubahan iklim,
serta pencemaran; dan

114 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
f. Memberikan jaminan keamanan dan keselamatan serta
bantuan hukum.

Adapun strategi perlindungannya dilakukan melalui:
a. Penyediaan prasarana Usaha Perikanan dan Usaha Per-
garaman;
b. Kemudahan memperoleh sarana Usaha Perikanan dan
Usaha Pergaraman;
c. Jaminan kepastian usaha;
d. Jaminan risiko Penangkapan Ikan, Pembudidayaan Ikan,
dan Pergaraman;
e. Penghapusan praktik ekonomi biaya tinggi;
f. Pengendalian impor Komoditas Perikanan dan Komoditas
Pergaraman;
g. Jaminan keamanan dan keselamatan; dan
h. Fasilitasi dan bantuan hukum.

Sedangkan strategi pemberdayaanya dilakukan melalui:
a. Pendidikan dan pelatihan;
b. Penyuluhan dan pendampingan;
c. Kemitraan usaha;
d. Kemudahan akses ilmu pengetahuan, teknologi, dan in-
formasi; dan
e. Penguatan Kelembagaan.

Di dalam undang-undang ini telah diatur perlindungan dan
pemberdayaan untuk masing masing nelayan, pembudidaya ikan
dan petambak garam, namun untuk perlindungan khusus bagi
nelayan sesuai kekhasan tiap kelompok sosial nelayan.

n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 115
Untuk nelayan kecil dan nelayan pemilik sudah ada perlindung-
an khususnya. Namun untuk nelayan penggarap, penyewa lahan
budidaya ikan, dan petambak penggarap Pemerintah perlindun-
gan hanyalah mendampingi dalam penyusunan perjanjian kerja-
saama dan perjanjian bagi hasil nelayan pemilik, pemilik lahan
budidaya ikan dan pemilik tambak.
Sedangkan untuk nelayan tradisional justru tidak ada per-
lindungan khusus yang sesuai kekhasan nelayan tradisional, khu-
susnya terkait wilayah perikanan tradisionalnya.

8. Perlindungan dan Pemenuhan Hak atas Pangan
Putusan Mahkamah Konstitusi dalam perkara pengujian
Undang-undang Pangan, telah mengembalikan Kovenan Hak
Ekosob sebagai rujukan Undang-undang Pangan, terutama dalam
memaknai kebutuhan dasar manusia.
Jika merujuk pada definisi atau pengertian tentang “kebutuhan
dasar manusia” yang terdapat pada Pasal 11 Undang-undang Nomor
11 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant On
Economic, Social And Cultural Rights (Kovenan Internasional Ten-
tang Hak-Hak Ekonomi, Sosial Dan Budaya), Bahwa Pasal 11 Ayat
(1) UU Pengesahan Kovenan Ekosob menyatakan:
Negara Pihak pada Kovenan ini mengakui hak setiap orang
atas standar kehidupan yang layak baginya dan keluarganya,
termasuk pangan, sandang dan perumahan, dan atas perbaikan
kondisi hidup terus menerus. Negara Pihak akan mengambil lang-
kah-langkah yang memadai untuk menjamin perwujudan hak ini
dengan mengakui arti penting kerjasama internasional yang ber-
dasarkan kesepakatan sukarela”.
Pasal 11 Ayat (2) UU Pengesahan Kovenan Ekosob juga dinyata-
kan tentang standar pemenuhan Hak Atas Pangan, yaitu:

116 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Negara Pihak pada Kovenan ini, dengan mengakui hak men-
dasar dari setiap orang untuk bebas dari kelaparan, baik se-
cara individual maupun melalui kerjasama internasional, harus
mengambil langkah-langkah termasuk program-program khusus
yang diperlukan untuk;
a) Meningkatkan cara-cara produksi, konservasi dan distribusi
pangan, dengan sepenuhnya memanfaatkan pengetahuan
teknik dan ilmu pengetahuan, melalui penyebarluasan penge-
tahuan tentang asas-asas ilmu gizi, dan dengan mengem-
bangkan atau memperbaiki sistem pertanian sedemikian
rupa (reforming agrarian system), sehingga mencapai suatu
perkembangan dan pemanfaatan sumber daya alam yang
efisien;
b) Memastikan distribusi pasokan pangan dunia yang adil yang
sesuai kebutuhan, dengan memperhitungkan masalah-
masalah negara-negara pengimpor dan pengekspor pangan.”

Selanjutnya Kovenan Internasional Hak Ekonomi, Sosial, dan
Budaya, di dalam Pasal 11 juga memberikan pengakuan bahwa-
sannya hak setiap orang atas standar kehidupan yang layak bagi-
nya dan keluarganya, termasuk pangan, sandang dan perumahan,
dan atas perbaikan kondisi hidup terus menerus dan adalah hak
mendasar dari setiap orang untuk bebas dari kelaparan. “Komen-
tar Umum Nomor 12 Hak atas Bahan Pangan yang Layak dari
Komite Persatuan Bangsa-bangsa untuk Hak-hak Ekonomi Sosial
dan Budaya”, yang merupakan penjelasan otoritatif atas Kovenan
Ekosob menyatakan,”hak asasi manusia atas pangan yang layak
mempunyai arti yang penting yang krusial untuk pemenuhan dari
semua hak asasi.
Bahwa menurut Pelapor Khusus Hak Atas Pangan (UN Spe-
cial Rapporteur on the Right to Food) Olivier De Schutter, Hak atas
n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 117
pangan adalah hak asasi manusia yang diakui menurut hukum
internasional yang melindungi hak semua manusia untuk meme-
nuhi kebutuhan makanannya sendiri secara bermartabat, baik
dengan memproduksi makanan mereka atau dengan membeli.
Untuk menghasilkan makanan sendiri, seseorang membutuhkan
lahan, bibit, air dan sumber daya lainnya, dan untuk membel-
inya, orang perlu uang dan akses ke pasar. Hak atas pangan ka-
rena itu memerlukan negara untuk menyediakan lingkungan di
mana orang dapat menggunakan potensi penuh mereka untuk
memproduksi atau mendapatkan makanan yang cukup bagi diri
mereka sendiri dan keluarga mereka. Untuk membeli makanan,
seseorang perlu pendapatan yang memadai : hak atas pangan aki-
batnya membutuhkan Serikat Buruh untuk memastikan bahwa
kebijakan upah atau jaring pengaman sosial memungkinkan war-
ga untuk mewujudkan hak mereka atas pangan yang memadai.
Di dalam Undang-undang Pangan, hak atas pangan diakui se-
bagai hak dasar yang dilindungi konstitusi:
Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling
utama dan pemenuhannya merupakan bagian dari hak
asasi manusia yang dijamin di dalam Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai
komponen dasar untuk mewujudkan sumber daya manu-
sia yang berkualitas.

118 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Hak atas Pangan dalam Undang-undang No. 18 Tahun 2012
tentang Pangan
No. Hak Rakyat yang Tanggungjawab dan Realisasi Progresif
Dilindungi Kewajiban
Negara khususnya
Pemerintah/Pemda
1. Pangan bagian dari Negara berkewajiban mewu- Sebagai negara dengan jumlah
hak asasi manusia judkan ketersediaan, keter- penduduk yang besar dan di sisi
yang dijamin di dalam jangkauan, dan pemenu- lain memiliki sumber daya alam
Undang-undang Dasar han konsumsi Pangan yang dan sumber Pangan yang be-
Negara Republik cukup, aman, bermutu, ragam, Indonesia mampu me-
Indonesia Tahun 1945 dan bergizi seimbang, baik menuhi kebutuhan Pangannya
pada tingkat nasional mau- secara berdaulat dan mandiri;
pun daerah hingga perse- Penyelenggaraan Pangan di-
orangan secara merata di lakukan untuk memenuhi ke-
seluruh wilayah Negara Ke- butuhan dasar manusia yang
satuan Republik Indonesia memberikan manfaat secara
sepanjang waktu dengan adil, merata, dan berkelanju-
tan berdasarkan Kedaulatan
memanfaatkan sumber
Pangan, Kemandirian Pangan,
daya, kelembagaan, dan bu-
dan Ketahanan Pangan.
daya lokal
Penyelenggaraan Pangan ber-
tujuan untuk: a. meningkatkan
kemampuan memproduksi
Pangan secara mandiri; b. me-
nyediakan Pangan yang beraneka
ragam dan memenuhi persyara-
tan keamanan, mutu, dan Gizi
bagi konsumsi masyarakat; c.
mewujudkan tingkat kecuku-
pan Pangan, terutama Pangan
Pokok dengan harga yang wajar
dan terjangkau sesuai dengan
kebutuhan masyarakat; d. mem-
permudah atau meningkatkan
akses Pangan bagi masyarakat,
terutama masyarakat rawan
Pangan dan Gizi; e. meningkat-
kan nilai tambah dan daya sa-
ing komoditas Pangan di pasar
dalam negeri dan luar negeri;
f. meningkatkan pengetahuan
dan kesadaran masyarakat ten-
tang Pangan yang aman, ber-
mutu, dan bergizi bagi konsumsi
masyarakat; g. meningkatkan
kesejahteraan bagi Petani, Ne-
layan, Pembudi Daya Ikan, dan
Pelaku Usaha Pangan; dan h.
melindungi dan mengembang-
kan kekayaan sumber daya
Pangan nasional

n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 119
No. Hak Rakyat yang Tanggungjawab dan Realisasi Progresif
Dilindungi Kewajiban
Negara khususnya
Pemerintah/Pemda
2. Hak Petani, Nelayan, Meningkatkan kesejahter- a. Mengatur, mengembang-
Pembudi Daya Ikan, aan bagi Petani, Nelayan, kan, dan mengalokasikan
dan Pelaku Usaha Pembudi Daya Ikan, dan lahan pertanian dan sum-
Pangan sebagai pro- Pelaku Usaha Pangan ber daya air;
dusen Pangan. b. Memberikan penyuluhan
melindungi dan member-
dan pendampingan;
dayakan Petani, Nelayan,
Pembudi Daya Ikan, dan c. Menghilangkan berbagai
Pelaku Usaha Pangan seba- kebijakan yang berdampak
gai Produsen Pangan. pada penurunan daya sa-
ing;
d. Melakukan pengalokasian
anggaran.
e. Pemerintah menetapkan
kebijakan dan peraturan Im-
por Pangan yang tidak ber-
dampak negatif terhadap
keberlanjutan usaha tani,
peningkatan produksi, ke-
sejahteraan Petani, Nelayan,
Pembudi Daya Ikan, dan
Pelaku Usaha Pangan mikro
dan kecil.
3. Perlindungan kepada Bantuan Pangan Pemerintah dan Pemerintah
kelompok khusus Daerah bertanggung jawab
(rentan) dan dalam dalam penyediaan dan pen-
situasi khusus. yaluran Pangan Pokok dan/
atau Pangan lainnya sesuai
dengan kebutuhan, baik bagi
masyarakat miskin, rawan
pangan dan gizi, maupun
dalam keadaan darurat. Ban-
tuan pangan dilakukan dengan
mengutamakan produksi dalam
negeri dan kearifan lokal.

120 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Dasar Penyelenggaran Pangan Undang-undang Pangan
Kedaulatan Pangan adalah hak negara dan bangsa yang secara mandiri menentukan
kebijakan Pangan yang menjamin hak atas Pangan bagi rakyat dan yang memberi-
kan hak bagi masyarakat untuk menentukan sistem Pangan yang sesuai dengan po-
tensi sumber daya lokal.
Kemandirian Pangan adalah kemampuan negara dan bangsa dalam memproduksi
Pangan yang beraneka ragam dari dalam negeri yang dapat menjamin pemenuhan
kebutuhan Pangan yang cukup sampai di tingkat perseorangan dengan memanfaat-
kan potensi sumber daya alam, manusia, sosial, ekonomi, dan kearifan lokal secara
bermartabat.
Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan
perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah
maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak ber-
tentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup
sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.

Lingkup Penyelenggaraan Pangan dalam Undang-undang Pangan
Ketersediaan Keterjangkauan Konsumsi Realisasi Progresif
Pengembangan Distribusi Penyediaan pangan Menjaga pangan tetap
pangan lokal; yang beragam, ber- aman, higienis, bermutu,
Penetapan jenis gizi seimbang, aman, bergizi, dan tidak berten-
pangan lokal; dan tidak berten- tangan dengan agama,
tangan dengan aga- keyakinan, dan budaya
ma, keyakinan, dan masyarakat;
budaya masyarakat Mencegah kemungkinan
cemaran biologis, kimia,
dan benda lain yang dapat
mengganggu, merugikan,
dan membahayakan kese-
hatan manusia.
Penyediaan pangan un- Pemasaran
tuk masyarakat, rumah
tangga dan perorangan
Produksi pangan dalam Perdagangan
negeri
Sentra produksi Stabilisasi harga
pangan lokal
Stabilisasi pasokan Bantuan pangan
Cadangan pangan Larangan pe-
pemerintah, Pemda nimbunan oleh
dan masyarakat pelaku usaha
pangan
Impor pangan
Penganekaragaman
pangan

n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 121
Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, yang
mengamanatkan dibentuknya lembaga pangan, yang diatur di
dalam beberapa pasal sebagaimana berikut di bawah ini:

Pasal 32
(1) Pemerintah menugasi kelembagaan Pemerintah yang
bergerak di bidang Pangan untuk mengelola Cadangan
Pangan Pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(2) Kelembagaan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) didukung dengan sarana, jaringan, dan infrastruk-
tur secara nasional

Pasal 126
Dalam hal mewujudkan Kedaulatan Pangan, Kemandirian
Pangan, dan Ketahanan Pangan nasional, dibentuk lembaga
Pemerintah yang menangani bidang Pangan yang berada di
bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden.

Pasal 127
Lembaga Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal
126 mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di
bidang Pangan.

Pasal 128
Lembaga Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal
127 dapat mengusulkan kepada Presiden untuk memberi-
kan penugasan khusus kepada badan usaha milik negara di
bidang Pangan untuk melaksanakan produksi, pengadaan,
penyimpanan, dan/atau distribusi Pangan Pokok dan Pangan
lainnya yang ditetapkan oleh Pemerintah.
122 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Pasal 129 Ketentuan lebih lanjut mengenai organisasi dan tata
kerja lembaga Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal
126 sampai Pasal 128 diatur dengan Peraturan Presiden.
Berdasar Bab XII Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 ten-
tang Pangan, bisa dibentuk format kelembagaan pangan.
Pertama. Berdasarkan Pasal 126, yang berbunyi: “Dalam hal
mewujudkan Kedaulatan Pangan, Kemandirian Pangan, dan Keta-
hanan Pangan nasional, dibentuk lembaga Pemerintah yang me-
nangani bidang Pangan yang berada di bawah dan bertanggung-
jawab kepada Presiden.” Kelembagaan pangan tersebut tidak bisa
mempergunakan nama Ketahanan Pangan, karena berarti meng-
abaikan kedaulatan pangan dan kemandirian pangan.
Karena berdasarkan Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-undang
Pangan, Kedaulatan, Kemandirian dan Ketahanan adalah asas
dan dasar penyelenggaraan pangan guna memenuhi kebutuhan
dasar manusia.
Pasal 2
Penyelenggaraan Pangan dilakukan dengan berdasarkan asas:
a. Kedaulatan;
b. Kemandirian;
c. Ketahanan;
d. Keamanan;
e. Manfaat;
f. Pemerataan;
g. Berkelanjutan; dan
h. Keadilan.
Pasal 3
Penyelenggaraan Pangan dilakukan untuk memenuhi kebutuh-
an dasar manusia yang memberikan manfaat secara adil,
merata, dan berkelanjutan berdasarkan Kedaulatan Pangan,
Kemandirian Pangan, dan Ketahanan Pangan.
n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 123
Kedua. Berdasarkan Pasal 127 yang berbunyi: “Lembaga
Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 126 mempunyai tu-
gas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang Pangan.” Kelem-
bagaan pangan tersebut tidak sekedar mengeluarkan Badan Ke-
tahanan Pangan dari Kementerian Pertanian. Selain nama “badan”
tidak tepat bernama ketahanan pangan, juga harus benar-benar
di bawah presiden dan hanya bertanggungjawab kepada pres-
iden dalam menjalankan tugas pemerintah di bidang pangan, se-
bagaimana mandat Pasal 126. Artinya tidak di bawah koordinasi
menteri.

9. Penyelesaian Konflik Agraria
Tap MPR Nomor IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria
dan Pengelolaan Sumber Daya Alam, telah memberikan mandat
kepada Pemerintah dan DPR untuk melaksanakan pembaruan
agraria, penyelesaian konflik agraria dan pembagian kewenangan
di tingkat nasional, provinsi, kabupaten/kota dan desa dalam
alokasi dan pengelolaan sumber-sumber agraria.
Desentralisasi pengelolaan dan penanganan konflik agraria
kemudian ditegaskan oleh Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun
2003 tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan. Pasal 2
Keppres tersebut menyatakan:
(1) Sebagian kewenangan Pemerintah di bidang pertanahan
dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota.
(2) Kewenangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ada-
lah: a. pemberian ijin lokasi; b. penyelenggaraan pen-
gadaan tanah untuk kepentingan pembangunan; c. penye-
lesaian sengketa tanah garapan; d. penyelesaian masalah
ganti kerugian dan santunan tanah untuk pembangunan;
e. penetapan subyek dan obyek redistribusi tanah, serta

124 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah
absentee; f. penetapan dan penyelesaian masalah tanah
ulayat; g. pemanfaatan dan penyelesaian masalah tanah
kosong; h. pemberian ijin membuka tanah; i. perencanaan
penggunaan tanah wilayah Kabupaten/Kota.
(3) Kewenangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) yang
bersifat lintas Kabupaten/Kota dalam satu Propinsi, dilak-
sanakan oleh Pemerintah Propinsi yang bersangkutan.

Kewenangan Pemerintah Daerah terhadap sumber-sumber
agraria tersebut diatur juga dalam Undang-undang Pemerintah
Daerah. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 kewenangan
tersebut meliputi urusan pemerintah dalam bidang pangan, ling-
kungan hidup, pertanahan, penanaman modal; kelautan dan per-
ikanan, pariwisata, pertanian, kehutanan, energi dan sumber daya
mineral, perindustrian, dan transmigrasi.
Hal tersebut kemudian dipertegas dalam Peraturan Pemerin-
tah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerinta-
han antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerin-
tah Daerah Kabupaten/Kota, sebagaimana tabel di bawah:

Pasal 1
5. Urusan pemerintahan adalah fungsi-fungsi pemerintahan yang menjadi hak dan
kewajiban setiap tingkatan dan/atau susunan pemerintahan untuk mengatur dan
mengurus fungsi-fungsi tersebut yang menjadi kewenangannya dalam rangka
melindungi, melayani, memberdayakan, dan menyejahterakan masyarakat.

Pasal 2
(1) Urusan pemerintahan terdiri atas urusan pemerintahan yang sepenuhnya
menjadi kewenangan Pemerintah dan urusan pemerintahan yang dibagi
bersama antar tingkatan dan/atau susunan pemerintahan.
(2) Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) meliputi politik luar negeri, pertahanan, keamanan,
yustisi, moneter dan fiskal nasional, serta agama.

n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 125
(3) Urusan pemerintahan yang dibagi bersama antar tingkatan dan/atau susu-
nan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah semua uru-
san pemerintahan di luar urusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
(4) Urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) terdiri atas 31
(tiga puluh satu) bidang urusan pemerintahan meliputi: a. pendidikan; b.
kesehatan; c. pekerjaan umum; d. perumahan; e. penataan ruang; f. peren-
canaan pembangunan; g. perhubungan; h. lingkungan hidup; i. pertanahan;
j. kependudukan dan catatan sipil; k. pemberdayaan perempuan dan per-
lindungan anak; l. keluarga berencana dan keluarga sejahtera; m. sosial; n.
ketenagakerjaan dan ketransmigrasian; o. koperasi dan usaha kecil dan me-
nengah; p. penanaman modal; q. kebudayaan dan pariwisata; r. kepemudaan
dan olah raga; s. kesatuan bangsa dan politik dalam negeri; t. otonomi dae-
rah, pemerintahan umum, administrasi keuangan daerah, perangkat daerah,
kepegawaian, dan persandian; u. pemberdayaan masyarakat dan desa; v.
statistik; w. kearsipan; x. perpustakaan; y. komunikasi dan informatika; z. per-
tanian dan ketahanan pangan; aa. kehutanan; bb. energi dan sumber daya
mineral; cc. kelautan dan perikanan; dd. perdagangan; dan ee. perindustrian.

Pasal 3
Urusan pemerintahan yang diserahkan kepada daerah disertai dengan sumber
pendanaan, pengalihan sarana dan prasarana, serta kepegawaian.

Pasal 6
(1) Pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota
mengatur dan mengurus urusan pemerintahan yang berdasarkan kriteria
pembagian urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat
(1) menjadi kewenangannya.
(2) Urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas uru-
san wajib dan urusan pilihan.

Pasal 7
(1) Urusan wajib sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) adalah uru-
san pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh pemerintahan daerah
provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota, berkaitan dengan pe-
layanan dasar.
(2) Urusan wajib sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. pendidikan;
b. kesehatan; c. lingkungan hidup; d. pekerjaan umum; e. penataan ruang;
f. perencanaan pembangunan; g. perumahan; h. kepemudaan dan olah-
raga; i. penanaman modal; j. koperasi dan usaha kecil dan menengah; k.
kependudukan dan catatan sipil; l. ketenagakerjaan; m. ketahanan pangan;
n. pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak; o. keluarga berencana
dan keluarga sejahtera; p. perhubungan; q. komunikasi dan informatika; r.
pertanahan;s. kesatuan bangsa dan politik dalam negeri; t. otonomi daerah,

126 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
pemerintahan umum, administrasi keuangan daerah, perangkat daerah,
kepegawaian, dan persandian; u. pemberdayaan masyarakat dan desa; v. so-
sial; w. kebudayaan; x. statistik; y. kearsipan; dan z. perpustakaan.
(3) Urusan pilihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) adalah urusan
pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan, dan potensi
unggulan daerah yang bersangkutan.
(4) Urusan pilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (3)meliputi: a. kelautan dan
perikanan; b. pertanian; c. kehutanan; d. energi dan sumber daya mineral; e.
pariwisata; f. industri; g. perdagangan; dan h. ketransmigrasian.
(5) Penentuan urusan pilihan ditetapkan oleh pemerintahan daerah.

Adanya kewenangan Pemda, maka kewenangan BPN (Badan
Pertanahan Nasional) BPN adalah melakukan legislasi aset perse-
orang, badan hukum, dan publik. Namun kewenangan tersebut
hanya bisa dilakukan setelah Pemda mengeluarkan Izin Lokasi
dan Pencadangan Tanah, setelah itu baru BPN berwenang mem-
berikan hak atas tanah khusunya yang terkait dengan Hak Guna
Usaha (HGU) dan Hak Guna Bangunan (HGB). Singkatnya Pemda
yang menentukan kebijakan politik pertanahan dan BPN yang
tentukan statusnya.
Dengan kewenangannya maka sesunggunya Pemda bisa me-
nyelesaikan konflik agraria melalui pembaruan tata ruang, pem-
baruan penggunaan, pemanfaatan dan penggunaan tanah serta
perlindungan terhadap petani dan masyarakat pedesaan.

10. Pembaruan Desa
Undang-undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa adalah dasar
pembaruan desa. Hal ini dikarenakan, pertama, UU Desa adalah
untuk kali pertama pengaturan desa diatur dengan dengan un-
dang-undang dan pengaturan komprehensif, karena yang diatur
di dalam UU Desa meliputi, Desa, Pemerintah Desa, Masyarakat
Desa, beserta dengan kewenangan dan hak-haknya termasuk

n Bab. IV >> Advokasi Kebijakan di Daerah 127
dana desa dan pendampingan. Kedua, UU Desa membawa pem-
baruan desa karena memberikan kedaulatan bagi desa berdasar-
kan hak asal usul dan kewenangan yang bersifat lokal di desa.
Memberikan ruang demokrasi, baik demokrasi politik seperti Pe-
milihan Kepala Desa dan anggota Badan Permusyawaratan Desa,
Musyawarah Desa, dan akuntabilitas Pemerintah Desa. Selain itu,
dibuka pula demokrasi ekonomi seperti dalam pengelolaan aset
desa, ulayat desa, dan Badan Usaha Milik Desa. Namun yang paling
penting dari hak demokrasi adalah ruang partisipasi masyarakat
desa dalam rangka pembangunan dan pemberdayaan bagi desa
dan masyarakat desa yang tetap bersandar nilai-nilai luhur di per-
desaan, seperti musyawarah, keberagaman, kebersamaan, ke-
gotongroyongan, dan kekeluargaan.
Artinya meski desa telah diberikan kewenangan, hak, dana
dan pendamping. Namun kesuksesannya sangat tergantung dari
partisipasi masyarakat, khususnya partisipasi dalam Musyawarah
Desa. Sehingga rencana pembangunan desa, Peraturan Desa,
pengelolaan aset desa dan BumDesa benar-benar membawa kes-
ejahteraan bagi masyarakat desa.

[] [] []

128 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Ba b. v

Bantuan Hukum
dan Paralegal

129
130 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Ba b. V
Bantuan Hukum
dan Paralegal

P
aralegal adalah pekerja hukum yang tidak me-
miliki latar belakang pendidikan Sarjana Hu-
kum dan Pendidikan Kejuruan Profesi Advokat.
Dalam medan perjuangan masyarakat adat, petani dan
masyarakat yang bekerja di pedesaan, Paralegal diper-
lukan untuk menjawab minimnya tenaga advokat guna
membela masyarakat adat, petani dan masyarakat
yang bekerja di pedesaan dalam konflik agraria.
Oleh karenanya, pekerja paralegal yang dilahirkan
dari kalangan masyarakat sendiri, diharapkan tidak saja
mumpuni menjadi “asisten advokat”, tetapi juga mampu
memberikan pendidikan hukum kepada yang di-
dampinginya (dalam hal ini masyarakat adat, petani
dan masyakarat yang bekerja di pedesaan) tentang
apa saja hak-haknya, baik hak konsitusional, hak asasi
manusia, maupun hak-hak lain yang dilindungi oleh
peraturan perundangan.
Maka, paralegal dapat bekerja untuk: pertama,
penguatan organisasi, anggota dan perjuangan kaum
tani. Kedua, urgent action atau tindakan segera jika
terjadi tindakan represif atau tindak kekerasan. Ketiga,
melakukan investigasi, pemantauan dan pendokumen-
tasian dalam rangka pelaporan dan publikasi.
n Bab. V >> Bantuan Hukum dan Paralegal 131
Dalam situasi konflik agraria, paralegal akan mengupayakan
berbagai metode alternatif penyelesaian konflik agraria, baik
berupa upaya litigasi maupun non-litigasi. Dalam perencanaan
pembangunan, paralegal bisa menjadi mitra pemerintah/Pemda,
khususnya dalam penetapan kawasan.
Adapun pengertian Paralegal, sebagaimana telah disebutkan
di atas, adalah seseorang yang memiliki kemampuan, kemauan
dan bertindak untuk melaksanakan kerja-kerja advokasi baik,
secara hukum maupun non-hukum dalam penyelesaian suatu
masalah untuk mencapai keadilan. Di mana fungsi dan perannya
meliputi: (1). Memberikan bantuan hukum sampai dengan tingkat-
an tertentu; (2). Melakukan penguatan organisasi masyarakat; (3).
Melakukan investigasi (penyelidikan), monitoring (pemantauan)
dan riset (penelitian) terhadap suatu kasus; (4). Melakukan pen-
dokumentasian hukum (kronologi suatu kasus, pengumpulan
bukti-bukti, dan pencatatan sejarah tanah masyarakat); (5). Me-
lakukan pelaporan-pelaporan; (6). Berperan serta dalam legal reform
(pembaruan hukum).
Untuk itulah, agar dapat menjadi Paralegal diperlukan per-
syaratan: Pertama, memiliki kesadaran, kemauan, dan keberanian
untuk memperjuangkan hak-hak rakyat (keberpihakan kepada
rakyat); Kedua, memiliki pemahaman hukum, HAM, sosial budaya,
ekonomi dan politik; Ketiga, aktif dan memahami organisasi rakyat
atau serikat tani; Keempat, aktif mengikuti pelatihan-pelatihan
terkait perjuangan rakyat demi peningkatan kemampuan dan
keahlian.
Pendidikan paralegal bagi masyarakat adat, petani dan
masyarakat yang bekerja di pedesaan adalah bagian meningkat-
kan kapasitas kelembagaan adat dan organisasi masyarakat sipil
untuk bekerja secara demokratis dan legal dalam berpartisipasi
dalam rencana pembangunan pemerintah khususnya dalam ren-

132 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
cana penggunaan tanah yang diawali dari penetapan kawasan
yang dilakukan pemerintah/Pemda.
Pendidikan paralegal bagi masyarakat di pedesaan secara
khusus bertujuan untuk melahirkan kader-kader di masyarakat
yang mampu melakukan kerja-kerja hukum. Secara umum bertu-
juan untuk membangun kesadaran hukum yang kritis yang me-
mungkinkan masyarakat melakukan langkah-langkah yang pro-
gresif (berpikir dan bertindak maju) dalam merespon dinamika di
masyarakat.
Dengan disahkannya Undang-undang Bantuan Hukum, maka
tradisi paralegal diakui keberadaannya secara formal oleh negara
dan negara mengakui keberadaan organisasi pemberi bantuan
hukum yang dibentuk oleh masyarakat. Oleh karenanya diperlu-
kan pemahaman bagaimana mekanisme bantuan hukum dalam
kerangka yang telah ditentukan oleh Undang-undang Bantuan
Hukum.
Guna memajukan pendidikan paralegal, menjadi perlu untuk
disusun panduan pendidikan dalam rangka memajukan kerja-kerja
pendidikan hukum bagi masyarakat adat, petani dan masyarakat
yang bekerja di pedesaan.
Panduan pendidikan tersebut harus lahir dari interaksi di antara
peneliti sosial, advokat, masyarakat adat, petani dan masyarakat
yang bekerja di pedesaan dalam sebuah upaya penyelesaian kon-
flik agraria dan mendorong partisipasi warga dalam perencanaan
pemerintah dalam pembangunan khusunya rencana penggu-
naan tanah atau penetapan kawasan.

[] [] []

n Bab. V >> Bantuan Hukum dan Paralegal 133
134 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Daftar Pustaka

Asbjorn Eide, et al (Ed), Hak Ekomomi, Sosial dan Bu-
daya, Buku Teks Revisi Edisi Kedua
Gunawan, (24 Juli 2013), RUU Pertanahan dan UUPA
1960, Harian Kompas, Jakarta
Gunawan, (11 April 2014), Reforma Agraria Pasca SBY,
Harian Kompas, Jakarta
Sudargo Gautama, (1973), Tafsiran Undang-Undang
Pokok Agraria, Tjetakan Ke-4, Penerbit Alumni,
Bandung

Peraturan Perundang-undangan
Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia
1945
Tap MPR Nomor IX/MPR/2001 tentang Pembaruan
Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Per-
aturan Dasar Pokok-Pokok Agraria
Undang-undang Nomor 16 Tahun 1964 tentang
Bagi Hasil Perikanan
Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang
Perikanan
Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang
Sistem Budidaya Tanaman
n Daftar Pustaka 135
Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Peren-
canaan Pembangunan Nasional
Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan
Undang-undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesah-an
International Covenant on Economic, Social, and Culural Rights
(Kovenan Internasional Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya)
Undang-undang Nomor 4 Tahun 2006 tentang Pengesahan
Perjanjian internasional tentang sumberdaya genetik untuk
pangan dan Pertanian
Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Pe-
nyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan
Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
Undang-undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan
Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
Undang-undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan
atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Per-
ikanan
Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentuk-
an Peraturan Perundang-undangan
Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan
Undang-undang No. 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan
dan Pemberdayaan Petani
Undang-undang No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa
Undang-undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Perubahan
Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
Undang-undang 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah
Undang-undang Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan
136 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan dan Petam-
bak Garam.
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pem-
bagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah
Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota
Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan
Nasional di Bidang Pertanahan

Putusan Mahkamah Konstitusi
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, 2008, Ikhtisar Putusan
Mahkamah Konstitusi 2003-2008, Sekretariat Jenderal dan
Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Putusan Perkara
Nomor 002/PUU-I/2003 dalam Perkara Pengujian Undang-
undang Nomor 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi
terhadap Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia
1945, 15 Desember 2004
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Risalah Sidang
Perkara Nomor 21/PUU-V/2007, Perkara Nomor 22/PUU-
V/2007, Perihal Pengujian Undang-undang Republik Indone-
sia Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal terha-
dap Undang-undang Dasar 1945, Acara Pengucapan Putusan
(VI), Jakarta, Selasa, 25 Maret 2008
Mahkamah Konstitusi, Putusan Nomor 3/PUU-VIII/2010,
dalam Perkara Pengujian Undang-undang Nomor 27 Tahun
2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau
Kecil terhadap Undang-undang Dasar Negara Republik Indo-
nesia Tahun 1945, Jakarta, Kamis, 16 Juni 2011
Mahkamah Konstitusi, Putusan Nomor 55/PUU-VIII/2010,
dalam Perkara Permohonan Pengujian Undang-undang No-
n Daftar Pustaka 137
mor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan terhadap Undang-
undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Jakarta,
Selasa 6 bulan September 2011
Mahkamah Konstitusi, Putusan Nomor 35/PUU-X/2012 dalam
perkara Pengujian Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999
tentang Kehutanan, Jakarta, 16 Mei 2013
Mahkamah Konstitusi, Putusan Nomor 99/PUU-X/2012, dalam
perkara Pengujian Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992
tentang Sistem Budidaya Tanaman terhadap Undang-undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Jakarta, 9 Juli
2013
Mahkamah Konstitusi, Putusan Nomor 87/PUU-XI/2013,
dalam Perkara Pengujian Undang-undang Nomor 19 Tahun
2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani terha-
dap Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, 5 November 2014
Mahkamah Konstitusi, Putusan No 98/PUU-XI/2013, Dalam
Perkara Pengujian Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012
tentang Pangan, Jakarta, 3 Desember 2014

Dokumen PBB/UN
The Rights to Food Note by the Secretary-General, A/57/356,
27 August 2002
Final study of the Human Rights Council Advisory Committee
on the advancement of the rights of peasants and other people
working in rural areas A/HRC/19/75, United Nations General
Assembly, 24 February 2012

[] [] []

138 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Lampiran

Lampiran 1
Sambutan Menteri Agraria
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN: Sumber
Daya Agraria Merupakan Rahmat Tuhan
Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Kepala BPN, Ferry
Mursyidan Baldan mengatakan bahwa sumber daya
agraria/sumber daya alam yang meliputi bumi, air,
ruang angkasa dan kekayaan yang terkandung di
dalamnya merupakan rahmat Tuhan Yang Maha Esa.
Pengingkaran akan hal tersebut akan membuat kita
menerima murka dari Tuhan.
Demikian disampaikan Menteri Agraria dan Tata Ruang/
Kepala BPN saat menjadi Keynote Speaker pada Kon-
ferensi dan Lokakarya yang diadakan oleh Indonesian
Human Right Comitee For Social Justice (IHCS) di Hotel
Kaisar, Jakarta, Kamis (13/11). Hadir pada acara ber-
tema “Pemajuan Hak Atas Pangan, Hak Petani, dan
Masyarakat Yang Bekerja di Pedesaan” tersebut para
pemerhati dan penggiat di bidang agraria.
Lebih lanjut Ferry mengatakan bahwa Kementerian
Agraria dan Tata Ruang/BPN telah melakukan sinkro-
nisasi dan harmonisasi peraturan di bidang pertana-
han. Selain itu Kementerian Agraria dan Tata Ruang/
BPN telah menyiapkan Rancangan Undang-Undang
n Lampiran 139
tentang Pertanahan untuk diusulkan dalam Program Legislasi Na-
sional Prioritas Tahun 2015.
“RUU ini mendasarkan pada 7 (tujuh) prinsip utama yaitu Prinsip
tanah sebagai perekat NKRI, Prinsip Hak menguasai Negara, Prinsip
RUU Pertanahan tidak menggantikan UUPA, Prinsip tanah mem-
punyai fungsi sosial, Prinsip kepastian hukum atas tanah, Prinsip
RUU Pertanahan harus komprehensif, Prinsip RUU Pertanahan
harus menjadi sarana meminimalisir sengketa pertanahan/agraria,”
ujar Ferry.
Pada akhir sambutanya, Ferry berharap bahwa acara ini dapat
memberikan pandangan dan masukan serta saran dari kalangan
penggiat agraria dan akademisi dalam membuat kebijakan yang
tepat di bidang agraria.
© 2014 Kementerian Agraria Dan Tata Ruang/BPN
http://www.bpn.go.id/Berita/Siaran-Pers/menteri-agraria-dan-
tata-ruangkepala-bpn-sumber-daya-agraria-merupakan-rahmat-
tuhan-4889

140 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Lampiran 2
Tabel Tanggung Jawab dan Kewajiban Pemerintah/Pemda
dalam Perlindungan dan Pemenuhan Hak Atas Pangan, Hak
Petani dan Masyarakat yang Bekerja di Pedesaan
Disusun oleh: Husnul Yaqin, Ersad Ade Irawan, Yohanes Bidaya
Lampiran 2
Tabel Tanggung Jawab dan Kewajiban Pemerintah/Pemda dalam Perlindungan dan
Pemenuhan Hak Atas Pangan, Hak Petani dan Masyarakat yang Bekerja di Pedesaan
Tabel 1.oleh: Husnul Yaqin, Ersad Ade Irawan, Yohanes Bidaya
Disusun
Kewajiban Pemerintah/Pemda serta partisipasi masyarakat me-
Tabel 1. Kewajiban Pemerintah/Pemda serta partisipasi masyarakat menurut Undang-
nurut
undangUndang-undang No.Pangan
No. 18 Tahun 2012 Tentang 18 Tahun 2012 Tentang Pangan
No. Pasal Kewajiban Pemerintah/Pemda Partisipasi Masyarakat
1. 12 Ketersediaan Pangan, Pengembangan
Produksi Pangan Lokal, Menetapkan
Jenis Pangan Lokal
2. 16 (1) Mengembangkan Potensi Produksi Mengembangkan Potensi Produksi
Pangan Pangan
3. 17 Melindungi dan memberdayakan Petani,
Nelayan, Pembudi
Daya Ikan, dan Pelaku Usaha Pangan
sebagai produsen Pangan.
4. 18 Dalam memenuhi kebutuhan Pangan
berkewajiban: mengatur,
mengembangkan, dan mengalokasikan
lahan pertanian dan sumber daya air;
memberikan penyuluhan dan
pendampingan; menghilangkan berbagai
kebijakan yang berdampak pada
penurunan daya saing; dan melakukan
pengalokasian anggaran.
5. 19 Mengembangkan dan menyebarluaskan
ilmu pengetahuan dan teknologi untuk
peningkatan Produksi Pangan.
6. 20 Memfasilitasi penggunaan dan
pengembangan sarana dan prasarana
dalam upaya meningkatkan Produksi
Pangan.
7. 21 Mengembangkan kelembagaan pangan
masyarakat untuk meningkatkan
Produksi Pangan.
8. 22 (2) Berkewajiban mengantisipasi dan
menanggulangi ancaman Produksi
Pangan melalui bantuan teknologi dan
regulasi.
9. 29 ( 1) Pemerintah provinsi, pemerintah
kabupaten/kota, dan/atau pemerintah
desa menetapkan jenis dan jumlah
cadangan Pangan tertentu sesuai dengan
n Lampiran kebutuhan konsumsi masyarakat 141
setempat.

93
Produksi Pangan.
8. 22 (2) Berkewajiban mengantisipasi dan
menanggulangi ancaman Produksi
Pangan melalui bantuan teknologi dan
regulasi.
9. 29 ( 1) Pemerintah provinsi, pemerintah
kabupaten/kota, dan/atau pemerintah
desa menetapkan jenis dan jumlah
cadangan Pangan tertentu sesuai dengan
kebutuhan konsumsi masyarakat
setempat.
44 (1) Berkewajiban melakukan tindakan
10. dan (2) untuk mengatasi Krisis Pangan93dapat
dilakukan dalam bentuk:
a. pengadaan, pengelolaan, dan penyaluran
Cadangan Pangan Pemerintah dan
Pemerintah Daerah;
b. mobilisasi Cadangan Pangan Masyarakat
di dalam dan antardaerah;
c. menggerakkan partisipasi masyarakat;
dan/atau
d. menerapkan teknologi untuk mengatasi
Krisis Pangan dan pencemaran
lingkungan.
11. 46 Bertanggung jawab dalam mewujudkan
keterjangkauan Pangan bagi
masyarakat, rumah tangga, dan
perseorangan.
12. 49 1) Mewujudkan kelancaran distribusi
Pangan dengan mengutamakan
pelayanan transportasi yang efektif dan
efisien sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
2) Memberikan prioritas untuk kelancaran
bongkar muat produk Pangan.
3) Berkewajiban menyediakan sarana dan
prasarana distribusi Pangan, terutama
Pangan Pokok.
4) Berkewajiban mengembangkan lembaga
distribusi Pangan masyarakat.
13. 50 1) Berkewajiban melakukan pembinaan
kepada pihak yang melakukan
pemasaran pangan.
2) Pembinaan yang bertujuan agar setiap
pihak mempunyai kemampuan
menerapkan tata cara pemasaran yang
baik.
3) Melakukan promosi untuk
meningkatkan penggunaan produk
Pangan Lokal.
4) Melakukan promosi di luar negeri untuk
meningkatkan pemasaran produk
pangan.
14. 58 (1) Bertanggung jawab dalam penyediaan
dan penyaluran pangan
Pokok dan/atau Pangan lainnya sesuai
dengan kebutuhan, baik bagi masyarakat
miskin, rawan pangan

94
142 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
dan gizi, maupun dalam keadaan
darurat.
15. Pasal Berkewajiban meningkatkan
59 pemenuhan kuantitas dan kualitas
konsumsi pangan masyarakat melalui:
a. penetapan target pencapaian angka
konsumsi pangan per kapita pertahun
sesuai dengan angka kecukupan gizi;
b. penyediaan pangan yang beragam,
bergizi seimbang, aman, dan tidak
bertentangan dengan agama, keyakinan,
dan budaya masyarakat; dan
c. pengembangan pengetahuan dan
kemampuan masyarakat dalam pola
konsumsi pangan yang beragam, bergizi
seimbang, bermutu, dan aman.
16. 60 (1) Berkewajiban mewujudkan
penganekaragaman konsumsi pangan
untuk memenuhi kebutuhan gizi
masyarakat dan mendukung hidup
sehat, aktif, dan produktif.
17. 63 (3) Menyusun rencana aksi pangan dan gizi
setiap 5 (lima) tahun.
18. 68 (1)1) Menjamin terwujudnya penyelenggaraan
dan (5) Keamanan Pangan di setiap rantai
pangan secara terpadu.
2) Membina dan mengawasi pelaksanaan
penerapan norma, standar, prosedur,
dan kriteria Keamanan Pangan
20. 88 (2) Membina, mengawasi, dan memfasilitasi
pengembangan usaha pangan segar
untuk memenuhi persyaratan teknis
minimal Keamanan Pangan dan Mutu
Pangan.
21. 92 Melakukan pengawasan dan pencegahan
secara berkala terhadap kadar atau
kandungan cemaran pada pangan.
21. 95 Melakukan pengawasan terhadap
penerapan sistem jaminan produk
halal bagi yang dipersyaratkan terhadap
pangan
22. 98 (3) Melaksanakan pembinaan terhadap
usaha mikro dan kecil agar secara
bertahap mampu menerapkan ketentuan
label
23. 114 (1)
1) Berkewajiban membangun, menyusun,
dan (3) dan mengembangkan sistem informasi
Pangan yang terintegrasi.
2) Sesuai dengan kewenangannya
95
berkewajiban mengumumkan harga
komoditas pangan.
24. 121 Berkewajiban memfasilitasi publikasi,
penyebaran, pemanfaatan, dan
penerapan hasil penelitian pangan.
25. 125 Memberikan penghargaan dan/atau
n Lampiran insentif bagi peneliti dan/atau 143
penelitian pangan yang mampu
menghasilkan teknologi unggul yang
bermanfaat bagi masyarakat dalam
pewujudan Kedaulatan Pangan,
Pangan yang terintegrasi.
2) Sesuai dengan kewenangannya
berkewajiban mengumumkan harga
komoditas pangan.
24. 121 Berkewajiban memfasilitasi publikasi,
penyebaran, pemanfaatan, dan
penerapan hasil penelitian pangan.
25. 125 Memberikan penghargaan dan/atau
insentif bagi peneliti dan/atau
penelitian pangan yang mampu
menghasilkan teknologi unggul yang
bermanfaat bagi masyarakat dalam
pewujudan Kedaulatan Pangan,
Kemandirian Pangan, dan Ketahanan
Pangan.
26. 130 1) Masyarakat dapat berperan serta dalam
(1), (2) mewujudkan Kedaulatan Pangan,
(3) Kemandirian Pangan, dan Ketahanan
Pangan.
2) Peran serta masyarakat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam
hal:
a. pelaksanaan produksi, distribusi,
perdagangan, dan konsumsi pangan;
b. penyelenggaraan Cadangan Pangan
Masyarakat;
c. pencegahan dan penanggulangan rawan
pangan dan gizi;
d. penyampaian informasi dan
pengetahuan pangan dan gizi;
e. pengawasan kelancaran penyelenggaraan
Ketersediaan Pangan, keterjangkauan
Pangan, Penganekaragaman Pangan,
dan Keamanan Pangan; dan/atau
f. peningkatan Kemandirian Pangan
rumah tangga.
3) Pemerintah dan/atau Pemerintah
Daerah mendorong peran serta
masyarakat

Tabel 2. Kewajiban Pemerintah/Pemda serta Partisipasi Masyarakat dalam Undang-
Undang No. 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani

No. Pasal Kewajiban Pemerintah/Pemda Partisipasi Masyarakat
1. 13 Bertanggung jawab atas

96

144 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Tabel 2.
Kewajiban Pemerintah/Pemda serta Partisipasi Masyarakat dalam
Undang-undang No. 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan
Tabel 2. Kewajiban Pemerintah/Pemda serta Partisipasi Masyarakat dalam Undang-
Pemberdayaan
Undang No. 19 TahunPetani
2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani

No. Pasal Kewajiban Pemerintah/Pemda Partisipasi Masyarakat
1. 13 Bertanggung jawab atas
PerlindunganPetani.
2. 14 Melakukan koordinasi dalam
perencanaan, pelaksanaan,
danpengawasan Perlindungan Petani.
3. 16 Bertanggung jawab menyediakandan/atau
mengelola prasarana pertanian
4. 17 Menyediakan dan/atau mengelola
prasaranaPertanian yang dibutuhkan
petani.
5. 18 Berkewajiban memelihara prasarana
pertanian yang telah ada
6. 19 (1) 1) Menyediakan sarana produksi pertanian
dan (4) secara tepat waktu dantepat mutu serta
harga terjangkau bagi petani;
2) membina petani, Kelompok Tani, dan
Gabungan Kelompok Tani dalam
menghasilkan sarana produksi pertanian
yang berkualitas.
7. 20 Menyediakan sarana produksi pertanian
yang dibutuhkan petani.
8. 21 Memberikan subsidi benih atau bibit
tanaman, bibit atau bakalan ternak,
pupuk, dan/atau alat dan mesin pertanian
sesuai dengan kebutuhan.
9. 22 a. menetapkan kawasan Usaha Tani
berdasarkan kondisidan potensi sumber
daya alam, sumber daya manusia, dan
sumber daya buatan; memberikan
jaminan pemasaran hasil pertanian kepada
petani yang melaksanakan Usaha Tani
sebagai program pemerintah;
b. memberikan keringanan Pajak Bumi dan
Bangunan bagi lahan Pertanian produktif
yang diusahakan secara berkelanjutan;
dan mewujudkan fasilitas pendukung
pasar hasil pertanian.
10. 33 Memberikan bantuan ganti rugi gagal
panen akibat kejadian luar biasa sesuai
dengan kemampuan keuangan negara.
11. 34 Membangun sistem peringatan dini dan
penanganan dampak perubahan iklim
untuk mengantisipasi gagal panen akibat
bencana alam
12. 35 (2) Berkewajib mengantisipasi 97 terjadinya
gagal panen dengan melakukan:
peramalan serangan organisme
n Lampiran pengganggu tumbuhan, serangan hama, 145
dan/atau wabahpenyakit hewan menular;
dan upaya penanganan terhadap hasil
prakiraan iklim dan peramalan serangan
bencana alam
12. 35 (2) Berkewajib mengantisipasi terjadinya
gagal panen dengan melakukan:
peramalan serangan organisme
pengganggu tumbuhan, serangan hama,
dan/atau wabahpenyakit hewan menular;
dan upaya penanganan terhadap hasil
prakiraan iklim dan peramalan serangan
organisme pengganggu tumbuhan,
serangan hama, dan/atau wabah penyakit
hewan menular.
13. 37 Melindungi Usaha Tani yang dilakukan
oleh petani dalam bentuk Asuransi
Pertanian.
14. 38 Menugaskan badan usaha milik negara
dan/atau badan usaha milik daerah di
bidang asuransi untuk melaksanakan
Asuransi Pertanian
15. 39 Memfasilitasi setiap petani menjadi
peserta Asuransi Pertanian.
16. 41 melakukan koordinasi dalam
perencanaan, pelaksanaan, dan
pengawasan pemberdayaan petani
17. 42 Berkewajiban menyelenggarakan
pendidikan dan pelatihan kepada petani.
18. 43 (1) Meningkatkan keahlian dan keterampilan
petani melalui pendidikan dan pelatihan
secara berkelanjutan.
19. 44 Menerapkan tata cara budi daya,
pasca panen, pengolahan, dan
pemasaran yang baik untuk
meningkatkan kualitas dan daya saing
secara berkelanjutan sesuai dengan
Peraturan Menteri.
20. 46 (1) Memberi fasilitas penyuluhan
dan (2) danpendampingan kepada petani, berupa
pembentukan lembagapenyuluhan dan
penyediaan penyuluh
21. 48 Melakukan pemberdayaan petani melalui
pengembangan sistem dan sarana
pemasaran hasil pertanian.
22. 50 Berkewajiban mengutamakan penjualan
komoditas pertanian dalam negeri.
23. 53 (2) Membina petani untuk memenuhi standar
mutu komoditas pertanian.
24. 54 Menyelenggarakan promosi dan
sosialisasi pentingnya mengonsumsi
komoditas pertanian dalam negeri.
25. 55 (1) Berkewajiban memberikan 98 jaminan
ketersediaan lahan pertanian
26. 57 (1) Melakukan perluasan lahan pertanian
melalui penetapan lahan terlantar yang
potensial sebagai lahan pertanian.
27. 58 (1) Berkewajiban memberikan jaminan
luasan lahan Pertanian bagi Petani
28. 64 (1) Membina Petani yang lahannya
146 sudahdimiliki oleh Petani lain untukPanduan
alih Advokasi Pertanian Keluarga n
profesi.
29. 66 Memfasilitasi pembiayaan dan
permodalan Usaha Tani.
25. 55 (1) Berkewajiban memberikan jaminan
ketersediaan lahan pertanian
26. 57 (1) Melakukan perluasan lahan pertanian
melalui penetapan lahan terlantar yang
potensial sebagai lahan pertanian.
27. 58 (1) komoditas
Berkewajiban pertanian dalam negeri.jaminan
memberikan
25. 55 (1) Berkewajiban memberikan
luasan lahan Pertanian bagi Petani jaminan
28. 64 (1) ketersediaan
Membina lahan Petanipertanian
yang lahannya
26. 57 (1) Melakukan
sudahdimilikiperluasan
oleh Petanilahan pertanian
lain untuk alih
melalui
profesi. penetapan lahan terlantar yang
29. 66 potensial sebagai lahan
Memfasilitasi pertanian.
pembiayaan dan
27. 58 (1) Berkewajiban
permodalan Usahamemberikan
Tani. jaminan
30. 67 (1) luasan lahan Pertanian
Memberikan kemudahan bagi Petani
akses ilmu
28. 64 (1) Membina
pengetahuan, Petani
teknologi,yang lahannya
dan informasi
sudahdimiliki
untuk mencapai oleh Petanimutu
standar lain komoditas
untuk alih
profesi.
pertanian.
29.
31. 66 69 (1) Memfasilitasi
Mendorong pembiayaan
dan dan
memfasilitasi
permodalan
terbentuknyaUsaha Tani.
kelembagaan petani dan
30. 67 (1) Memberikan kemudahan
kelembagaan ekonomi petani.akses ilmu
32. 94 1) pengetahuan, teknologi,dan
Melakukan pemantauan danevaluasi
informasi
dari
(1)dan untuk mencapaisecara
hasil pelaporan standar mutu komoditas
berjenjang.
(2) 2) pertanian.
Berkewajiban menindaklanjuti laporan
31. 69 (1) Mendorong
hasil dan dengan
pengawasan sesuai memfasilitasi
ketentuan
terbentuknya kelembagaan petani dan
peraturan perundang-undangan.
kelembagaan ekonomi petani.
32. 94 1) Melakukan pemantauan dan evaluasi dari
Tabel (1)dan hasil pelaporan
3. Kewajiban secara berjenjang.
Pemerintah/Pemda Serta Partisipasi Masyarakat dalam Undang-
undang(2)Nomor
2) Berkewajiban menindaklanjuti
1 Tahun 2014 Tentang Perubahan laporan
Atas Undang-undang Nomor 27 Tahun
Tabel 3. hasil pengawasan
2007 Tentang Pengelolaan Wilayahsesuai dengan
Pesisir danketentuan
Pula-pulau Kecil
Kewajiban Pemerintah/Pemda
peraturan perundang-undangan. Serta Partisipasi Masyarakat dalam
No Pasal Kewajiban Pemerintah/Pemda Partisipasi Masyarakat
Undang-undang
1 6 Nomor
Mengelola Wilayah Pesisir1 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas
Tabel 3. Kewajiban Pemerintah/Pemda Serta Partisipasi Masyarakat dalam Undang-
Undang-undang Nomor 27Perubahan
Tahun Atas 2007 Tentang Pengelolaan
2undang
7 Nomor 1 Tahun
Membuat 2014 Tentang
perencanaan Wilayah Pesisir Undang-undang Nomor 27 Tahun
Wilayah
32007 Tentang
8 Pesisir danpembangunan
Pengelolaan
Perencanaan Pula-pulau
Wilayah Pesisir Kecil
dan
jangka Pula-pulau
panjang Kecil
Pemda yang berhubungan dengan
No Pasal penyusunan Kewajiban Pemerintah/Pemda
Rencana Strategis Wilayah Pesisir Partisipasi Masyarakat
1 6 Mengelola Wilayah
dan Pulau-pulau Pesisir
Kecil

24 79-14 Membuat perencanaan
Zonasi Wilayah Wilayah
Pesisir dan Pesisir
Pulau-pulau
3 8 Perencanaan
Terluar pembangunan jangka panjang
5 15 Pemda
MemberikanyangData danberhubungan
Informasi dengan
6 20 penyusunan
Memberi izin Rencana
lokasiStrategis
dan izinWilayah Pesisir
pengelolaan
dan Pulau-pulau
kepada Kecil lokal dan masyarakat
masyarakat
tradisional
47 9-14
26 Zonasi Wilayah
Memberikan Pesisir dan
rekomendasi bagi Pulau-pulau
penanaman
Terluar
5 15 Memberikan Data dan Informasi 99
6 20 Memberi izin lokasi dan izin pengelolaan
kepada masyarakat lokal dan masyarakat
tradisional
7 26 Memberikan rekomendasi bagi penanaman
modal asing
8 50 Memberikan izin bagi setiap orang 99 yang
melakukan pemanfaatan ruang dari sebagaian
perairan pesisir dan pemanfaatan sebagaian
pulau-pulau kecil secara menetap

9 25 Mengelola Kawasan Konservasi
10 63 Memberdayakan Masyarakat dalam
n Lampiranmeningkatkan kesejahteraannya dan 147
mendorong kegiatan usaha masyarakat
11 60 Memperoleh akses Wilayah Pesisir
dan Pulau-pulau Kecil, mengusulkan
8 50 Memberikan izin bagi setiap orang yang
melakukan pemanfaatan ruang dari sebagaian
perairan pesisir dan pemanfaatan sebagaian
pulau-pulau kecil secara menetap

9 25 Mengelola Kawasan Konservasi
10 63 Memberdayakan Masyarakat dalam
meningkatkan kesejahteraannya dan
mendorong kegiatan usaha masyarakat
11 60 Memperoleh akses Wilayah Pesisir
dan Pulau-pulau Kecil, mengusulkan
wilayah penangkapan ikan secara
tradisional secara ke dalam RZWP-3-
K, mengusulkan wilayah masyarakat
Hukum Adat ke dalam RZWP-3-K,
memperoleh manfaat atas pelaksanaan
dan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil, memperoleh
informasi berkenaan dengan
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil, mengajukan
laporan dan pengaduan kepada pihak
yang berwenang atas kerugian yang
menimpa dirinya yang berkaitan
dengan pelaksanaan Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil,
menyatakan keberatan terhadap
rencana pengelolaan yang sudah
diumumkan dalam jangka waktu
tertentu, melaporkan kepada penegak
hukum akibat dugaan pencemaran,
atau perusakan Wilayah Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil yang merugikan
kehidupannya, memperoleh ganti rugi,
dan mendapat pendampingan dan
bantuan hukum terhadap
permasalahan yang dihadapi dalam
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Memberikan informasi berkenaan
dengan Pengelolaan Wilayah Pesisir
dan Pulau-pulau Kecil, menjaga,
melindungi, dan memelihara
kelestarian Wilayah Pesisir dan Pulau-
pulau Kecil, menyampaikan laporan
terjadinya bahaya, pencemaran, atau
kerusakan lingkungan di Wilayah
100
Pesisir dan Pulau-pulau Kecil,
memantau pelaksanaan rencana
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil, melaksanakan
program Pengelolaan Wilayah Pesisir
dan Pulau-pulau Kecil

Tabel 4. Kewajiban Pemerintah/Pemda dan Partisipasi Masyarakat dalam Undang-undang
No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa

No. Pasal Kewajiban Pemerintah/ Partisipasi Masyarakat
148 Pemda Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
1. 54 (1) dan 1) Memusyawarahkan hal yang bersifat
(2) strategis dalam penyelenggaraan
pemerintahan desa
2) Hal yang bersifat strategis, meliputi:
memantau pelaksanaan rencana
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil, melaksanakan
program Pengelolaan Wilayah Pesisir
dan Pulau-pulau Kecil
Tabel 4.
Kewajiban Pemerintah/Pemda dan Partisipasi Masyarakat dalam
Tabel 4. Kewajiban Pemerintah/Pemda dan Partisipasi Masyarakat dalam Undang-undang
Undang-undang
No. No.
6 Tahun 2014 Tentang 6 Tahun 2014 Tentang Desa
Desa

No. Pasal Kewajiban Pemerintah/ Partisipasi Masyarakat
Pemda
1. 54 (1) dan 1) Memusyawarahkan hal yang bersifat
(2) strategis dalam penyelenggaraan
pemerintahan desa
2) Hal yang bersifat strategis, meliputi:
Penataan Desa, Perencanaan Desa,
Kerjasama Desa, Rencana investasi
yang masuk ke Desa, Pembentukan
BUM Desa, Penambahan dan
Pelepasan aset Desa, Kejadian luar
biasa.
2. Pasal 68 (1) Masyarakat Desa, berhak:
Meminta dan mendapatkan informasi
dari Pemerintah Desa serta mengawasi
kegiatan penyelenggaraan
Pemerintahan Desa, pelaksanaan
Pembangunan Desa, pembinaan
kemasyarakatan Desa, dan
pemberdayaan masyarakat desa

Memperoleh pelayanan yang sama dan
adil;

Menyampaikan aspirasi, saran, dan
pendapat lisan atau tertulis secara
bertanggung jawab tentang kegiatan
penyelenggaraan Pemerintahan Desa,
pelaksanaan Pembangunan Desa,
pembinaan kemasyarakatan Desa, dan
pemberdayaan masyarakat desa;

Memilih, dipilih, dan/atau ditetapkan
menjadi: Kepala Desa; Perangkat
Desa; Anggota Badan
Permusyawaratan Desa; atau Anggota
101
lembaga kemasyarakatan desa.

Mendapatkan pengayoman dan
perlindungan dari gangguan
ketenteraman dan ketertiban di desa.
3. 69 Mengevaluasi Rancangan
Peraturan Desa tentang Anggaran
Pendapatan dan Belanja Desa,
pungutan, tata ruang, dan
organisasi Pemerintahan Desa.
4. 72 (3) dan 1) Mengalokasikan paling sedikit
(4) 10% (sepuluh perseratus) dari
n Lampiran 149
pajak dan retribusi daerah
2) Mengalokasikan Dana Desa
paling sedikit 10% (sepuluh
perseratus) dari dana
3. 69 Mengevaluasi Rancangan
Peraturan Desa tentang Anggaran
Pendapatan dan Belanja Desa,
pungutan, tata ruang, dan
organisasi Pemerintahan Desa.
4. 72 (3) dan 1) Mengalokasikan paling sedikit
(4) 10% (sepuluh perseratus) dari
pajak dan retribusi daerah
2) Mengalokasikan Dana Desa
paling sedikit 10% (sepuluh
perseratus) dari dana
perimbangan yang diterima
Kabupaten/Kota dalam Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah
setelah dikurangi Dana Alokasi
Khusus
5. 79 (6) dan 1) Mengkoordinasikan dan/atau
(7) mendelegasikan pelaksanaan
Program Pemerintah dan/atau
Pemerintah Daerah yang berskala
lokal desa kepada Kepala Desa.
2) Memasukkan Perencanaan
Pembangunan Desa dalam
Perencanaan Pembangunan
Kabupaten/Kota
6. 80 ( 1) Ikut serta dalam Perencanaan
Pembangunan Desa
7. 82 Masyarakat Desa berhak: mendapat
informasi, melakukan pemantauan,
melaporkan hasil pemantauan
Pelaksanaan Pembangunan Desa
dalam Musyawarah Desa
8. 83 (4) dan 1) Membahahas rancangan
(5) pembangunan kawasan perdesaan
bersama Pemerintah, Pemerintah
Daerah Provinsi, Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota, dan
Pemerintah Desa.
2) Menetapkan rencana
pembangunan kawasan perdesaan
sesuai dengan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah
102
Daerah.
9. 84 (1) dan 1) Pembangunan kawasan Perdesaan
(3) oleh Pemerintah, Pemerintah
Daerah Provinsi, Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota, dan/
atau pihak ketiga yang terkait
dengan pemanfaatan aset desa
dan tata ruang desa wajib
melibatkan Pemerintah Desa.
2) Mengatur lebih lanjut mengenai
perencanaan, pelaksaanaan
pembangunan kawasan perdesaan,
pemanfaatan dan pendayagunaan
aset desa
10. 85 (1) dan Mengikutsertakan Pemerintah Ikut serta dalam pembangunan
(2) Desa dan Masyarakat desa dalam kawasan perdesaan yang dilakukan
150 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
pendayagunaan potensi sumber oleh Pemerintah
daya alam dan sumber daya
manusia
11. 86 1) Memberikan akses informasi Mengakses sistem informasi desa
2) Mengatur lebih lanjut mengenai
perencanaan, pelaksaanaan
pembangunan kawasan perdesaan,
pemanfaatan dan pendayagunaan
aset desa
10. 85 (1) dan Mengikutsertakan Pemerintah Ikut serta dalam pembangunan
(2) Desa dan Masyarakat desa dalam kawasan perdesaan yang dilakukan
pendayagunaan potensi sumber oleh Pemerintah
daya alam dan sumber daya
manusia
11. 86 1) Memberikan akses informasi Mengakses sistem informasi desa
melalui Sistem Informasi Desa.
2) mengembangkan Sistem
Informasi Desa dan
Pembangunan kawasan
perdesaan, yang meliputi: fasilitas
perangkat keras dan perangkat
lunak, jaringan serta sumber daya
manusia.
12. 90 Mendorong perkembangan BUM
Desa dengan: memberikan hibah,
dan/atau akses permodalan,
melakukan pendampingan teknis
dan akses ke pasar,
memprioritaskan BUM Desa
dalam pengelolaan sumber daya
alam di desa
13. 94 Memberdayakan dan Mitra Pemerintah Desa dalam
mendayagunakan Lembaga lembaga Kemasyarakatan Desa
Kemasyarakatan Desa yang sudah
ada di desa.
14. 96 Melakukan penataan kesatuan
masyarakat hukum Adat dan
ditetapkan menjadi Desa Adat.
15. 101 Melakukan penataan Desa Adat
dalam Peraturan Daerah yang
disertai lampiran peta batas
wilayah 103
16. 106 Memberikan penugasan kepada
Desa Adat meliputi:
Penyelenggaraan Pemerintahan
Desa Adat, Pelaksanaan
Pembangunan Desa Adat,
Pembinaan kemasyarakatan Desa
Adat, dan Pemberdayaan
masyarakat desa Adat
disertai lampiran yang
peta batas
disertai dengan pembiayaanya.
wilayah
17.
16. 112
106 1). Membina penugasan
Memberikan dan mengawasi
kepada
penyelenggaraan
Desa Adat pemerintahan
meliputi:
desa
Penyelenggaraan Pemerintahan
2).
DesaMemberdayakan
Adat, masyarakat
Pelaksanaan
desa dengan: a. menerapkan
Pembangunan Desa hasil
Adat,
pengembangan ilmu pengetahuan
Pembinaan kemasyarakatan Desa
dan teknologi,
Adat, dan teknologi tepat
Pemberdayaan
guna, dan temuan
masyarakat desa Adatbaru untuk
yang
kemajuan ekonomi
disertai dengan dan pertanian
pembiayaanya.
17. 112 masyarakat
1). Membina dan Desa;mengawasi b).
meningkatkan
penyelenggaraan kualitas
pemerintahan
n Lampiran pemerintahan dan masyarakat 151
desa
DesaMemberdayakan
2). melalui pendidikan,
masyarakat
pelatihan,
desa dengan:dan penyuluhan; hasil
a. menerapkan c).
mengakui danilmumemfungsikan
pengembangan pengetahuan
desa dengan: a. menerapkan
Pembangunan Desa hasil
Adat,
pengembangan
Pembinaan ilmu pengetahuan
kemasyarakatan Desa
dan teknologi,
Adat, dan teknologi
Pemberdayaantepat
guna, dan temuan
masyarakat desa Adat baru untuk
yang
kemajuan ekonomi
disertai dengan dan pertanian
pembiayaanya.
17. 112 masyarakat
1). Membina dan Desa;mengawasi b).
meningkatkan
penyelenggaraan kualitas
pemerintahan
pemerintahan dan masyarakat
desa
DesaMemberdayakan
2). melalui pendidikan,
masyarakat
pelatihan,
desa dengan:dan penyuluhan; hasil
a. menerapkan c).
mengakui danilmumemfungsikan
pengembangan pengetahuan
institusi
dan asli dan/atau
teknologi, yang sudah
teknologi tepat
ada di masyarakat
guna, dan temuan desabaru untuk
3). Pemberdayaan
kemajuan ekonomi danmasyarakat
pertanian
dilakukan
masyarakatdengan Desa; pendampingan b).
dalam perencanaan, pelaksanaan,
meningkatkan kualitas
dan pemantauan
pemerintahan danpembangunan
masyarakat
desa dan kawasan
Desa melalui Perdesaan
pendidikan,
18. 115 Memberikandan penyuluhan;
pelatihan, pedoman c).
pelaksanaan dan
mengakui penugasan urusan
memfungsikan
Kabupaten/Kota
institusi asli dan/atau yang sudah yang
dilaksanakan
ada di masyarakat desaoleh desa;
memberikan
3). Pemberdayaan masyarakatpedoman
penyusunandengan
dilakukan Peraturan Desa dan
pendampingan
Peraturan
dalam perencanaan, Kepalapelaksanaan,
Desa;
memberikan
dan pemantauan pembangunan pedoman
penyusunan
desa perencanaan
dan kawasan Perdesaan
18. 115 pembangunan
Memberikan partisipatif;
pedoman
melakukan penugasan fasilitasi
pelaksanaan urusan
penyelenggaraan
Kabupaten/Kota Pemerintahan yang
Desa; melakukan oleh
dilaksanakan evaluasi desa;
dan
pengawasan Peraturanpedoman
memberikan Desa;
menetapkan pembiayaan
penyusunan Peraturan Desa alokasi
dan
dana perimbangan
Peraturan Kepalauntuk Desa;desa;
104
mengawasi
memberikanpengelolaan Keuanganpedoman
Desa pendayagunaan perencanaan
penyusunan Aset Desa;
melakukan
pembangunan pembinaan dan
partisipatif;
pengawasan
melakukan penyelenggaraan
fasilitasi
Pemerintahan
penyelenggaraan Desa;
Pemerintahan
menyelenggarakan
Desa; melakukan evaluasi pendidikandan
dan pelatihan Peraturan
pengawasan bagi PemerintahDesa;
Desa, Badan Permusyawaratan
Desa, lembaga kemasyarakatan,
dan lembaga adat; memberikan 104
penghargaan atas prestasi yang
dilaksanakan
disertai lampiran peta dalam batas
penyelenggaraan
wilayah Pemerintahan
16. 106 Desa, Badan penugasan
Memberikan Permusyawaratan
kepada
Desa, lembaga
Desa Adat kemasyarakatan,
meliputi:
dan lembaga adat;Pemerintahan
Penyelenggaraan melakukan
upaya percepatan
Desa Adat, pembangunan
Pelaksanaan
perdesaan; melakukan
Pembangunan Desa upaya
Adat,
percepatan kemasyarakatan
Pembinaan Pembangunan Desa
melalui dan
Adat, bantuanPemberdayaan
keuangan,
bantuan
masyarakat pendampingan,
desa Adat yang dan
bantuandengan
disertai teknis; melakukan
pembiayaanya.
17. 112 peningkatan
1). Membina kapasitas
dan BUM Desa
mengawasi
dan lembaga kerja pemerintahan
penyelenggaraan sama antar-
152 Desa; dan memberikan sanksi atas
desa Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
penyimpangan yang
2). Memberdayakan masyarakat dilakukan
oleh dengan:
desa Kepala Desa sesuai dengan
a. menerapkan hasil
ketentuan peraturan
pengembangan perundang-
ilmu pengetahuan
perdesaan;
Pembangunanmelakukan Desa upaya
Adat,
percepatan Pembangunan Desa
Pembinaan kemasyarakatan
melalui
Adat, bantuanPemberdayaan
dan keuangan,
bantuan
masyarakat pendampingan,
desa Adat yang dan
bantuan
disertai dengan teknis; melakukan
pembiayaanya.
17. 112 peningkatan
1). Membina kapasitas
dan BUM Desa
mengawasi
dan lembaga kerja pemerintahan
penyelenggaraan sama antar-
Desa;
desa dan memberikan sanksi atas
penyimpangan
2). Memberdayakan yang masyarakat
dilakukan
oleh Kepala Desa
desa dengan: sesuai dengan
a. menerapkan hasil
ketentuan
pengembangan peraturan perundang-
ilmu pengetahuan
undangan.
dan teknologi, teknologi tepat
guna, dan temuan baru untuk
19. 116 1) Menetapkan
kemajuan ekonomi Peraturan Daerah
dan pertanian
tentang
masyarakatPenetapanDesa;Desa dan Desa b).
Adat di wilayahnya p[aling kualitas
meningkatkan lama 1
(satu) tahun dan
pemerintahan sejak masyarakat
UU ini
diundangkan.
Desa melalui pendidikan,
2) Paling lamadan
pelatihan, 2 (dua) tahun sejak
penyuluhan; c).
UU
mengakuiini berlaku, Pemerintah
dan memfungsikan
Daerah
institusi Kabupaten/Kota
asli dan/atau yang bersama
sudah
Pemerintah
ada di masyarakat Desadesa melakukan
inventarisasi
3). Pemberdayaanaset desa. masyarakat
dilakukan dengan pendampingan
dalam perencanaan, pelaksanaan,
dan pemantauan pembangunan
desa dan kawasan Perdesaan
Tabel
18. 115
5. Memberikan pedoman
Kewajiban Pemerintah/Pemda
pelaksanaan penugasandan Partisipasi Masyarakat dalam
urusan
Kabupaten/Kota yang
Undang-undang No. 41 Tahun
Tabel 5. Kewajiban dilaksanakan
Pemerintah/Pemda
2009
olehdan
105
desa;
partisipasi masyarakat dalam Undang-undang
Tentang Perlindungan
No. 41 Tahun memberikan Lahan Pertanian
2009 Tentang Perlindungan pedoman
Lahan Pertanian Pangan
PanganBerkelanjutan
Berkelanjutan
penyusunan Peraturan Desa dan
No. Pasal Peraturan Kepala
Kewajiban Pemerintah/ Desa; Partisipasi Masyarakat
memberikanPemda pedoman
1. penyusunan Lahan Pertanian
11 (1) dan 2 Perencanaan perencanaan
pembangunan
Pangan partisipatif;
Berkelanjutan disusun
melakukan
baik fasilitasi
di tingkat nasional, provinsi,
penyelenggaraan
maupun kabupaten/kota. Pemerintahan
Perencanaan
Desa; melakukantersebut terdiri
evaluasiatas:dan
Perencanaan
pengawasan Jangka Panjang, Desa;
Peraturan
Perencanaan Jangka Menengah,
dan Perencanaan Tahunan.
2. 12 Perencanaan Lahan Pertanian 104
Pangan Berkelanjutan di
Kabupaten/Kota mengacu pada
Perencanaan Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan di tingkat
Nasional dan Provinsi.
3. 15 Memberi tanggapan dan saran perbaikan
terkait usulan Perencanaan Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan untuk
menjadi pertimbangan bersama
pemerintah desa, kecamatan, dan
Kabupaten/Kota.
4. 16 Menginventarisasi pendataan penguasaan,
pemilikan, penggunaan, pemanfaatan atau
pengelolaan ha katas tanah pertanian
n Lampiran pangan 153
5. 17 Penetapan Rencana Perlindungan
Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan dimuat dalam
Rencana Pembangunan Jangka
terkait usulan Perencanaan Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan untuk
menjadi pertimbangan bersama
pemerintah desa, kecamatan, dan
Kabupaten/Kota.
4. 16 Menginventarisasi pendataan penguasaan,
pemilikan, penggunaan, pemanfaatan atau
pengelolaan ha katas tanah pertanian
pangan
5. 17 Penetapan Rencana Perlindungan
Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan dimuat dalam
Rencana Pembangunan Jangka
Panjang (RPJP), Rencana
Pembangunan Jangka Menengah
(RPJM), dan Rencana Tahunan
baik nasional melalui Rencana
Kerja Pemerintah (RKP),
provinsi, maupun
kabupaten/kota.
6. Pasal 18 Perlindungan lahan pertanian
pangan berkelanjutan dilakukan
dengan penetapan:
a) Kawasan pertanian pangan
106
berkelanjutan

Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan di dalam dan di luar
Kawasan Pertanian Pangan
Berkelanjutan;

Lahan Cadangan Pertanian
Pangan Berkelanjutan di dalam
dan di luar Kawasan Pertanian
Pangan Berkelanjutan.

7. 23 (3) Penetapan Kawasan Pertanian
Pangan Berkelanjutan
kabupaten/kota diatur dalam
Peraturan Daerah mengenai
rencana tata ruang wilayah
kabupaten/kota.
8. 25 (2) Penetapan Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan pada
wilayah kota menjadi dasar
peraturan zonasi untuk
pengendalian pemanfaatan ruang
wilayah kota.
9. 27 Pengembangan terhadap
Kawasan Pertanian Pangan
Berkelanjutan dan Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan
meliputi intensifikasi dan
ekstensifikasi lahan.
Pengembangan dilakukan oleh
Pemerintah, pemerintah daerah
provinsi, dan pemerintah daerah
kabupaten/kota, masyarakat
dan/atau korporasi yang kegiatan
pokoknya di bidang agribisnis
154 tanaman pangan.
Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Dalam hal pengembangan,
Pemerintah, pemerintah daerah
provinsi, dan pemerintah daerah
ekstensifikasi lahan.
Pemerintah, pemerintah daerah
Pengembangan
provinsi, dilakukan daerah
dan pemerintah oleh
Pemerintah, pemerintah
kabupaten/kota daerah
melakukan
provinsi, dandan
inventarisasi pemerintah
identifikasidaerah
kabupaten/kota, masyarakat
10. 28 dan/atau korporasi
Intensifikasi kawasan yangpertanian
kegiatan
pokoknya
pangan di bidang dan
berkelanjutan agribisnis
Lahan
tanaman pangan.
Dalam hal pengembangan,
Pemerintah, pemerintah 107 daerah
provinsi, dan pemerintah daerah
kabupaten/kota melakukan
inventarisasi dan identifikasi
dengan penetapan:
10. 28 a) Intensifikasi pertanian
Kawasan kawasan pertanian
pangan
pangan berkelanjutan dan Lahan
berkelanjutan
Pertanian Pangan Berkelanjutan
dilakukan
Lahan dengan:
Pertanian Pangan
107
a) Peningkatan
Berkelanjutankesuburan
di dalam dantanahdi luar
b) Peningkatan
Kawasan kualitas
Pertanian benih/bibit
Pangan
c) Pendiversifikasian
Berkelanjutan; tanaman
pangan
d) Pencegahan
Lahan dan Penanggulangan
Cadangan Pertanian
hama
Pangan tanaman
Berkelanjutan di dalam
e) Pengembangan
dan di luar Kawasanirigasi Pertanian
f) Pemanfaatan teknologi pertanian
Pangan Berkelanjutan.
g) Pengembangan inovasi pertanian
7. 23 (3) h) Penyuluhan
Penetapan Pertanian
Kawasan Pertanian
i) Jaminan
Pangan akses permodalan Berkelanjutan
11. 29 1). Ekstensifikasi
kabupaten/kota diatur Kawasan
dalam
Pertanian
Peraturan PanganDaerahBerkelanjutan
mengenai
dan
rencanaLahan tata Pertanian Pangan
ruang wilayah
Berkelanjutan
kabupaten/kota. dilakukan dengan:
8. 25 (2) a) Pencetakan
Penetapan lahan
Lahan Pertanian
Pertanian
Pangan
Pangan Berkelanjutan
Berkelanjutan pada
b) Penetapan
wilayah kotaLahan menjadiPertanian
dasar
Pangan
peraturanmenjadizonasi
Lahan Pertanian
untuk
Pangan Berkelanjutan
pengendalian pemanfaatan ruang
c) Pengalihan
wilayah kota. fungsi lahan
9. 27 nonpertanian
Pengembangan menjadi terhadap Lahan
Pertanian
Kawasan Pangan Berkelanjutan
Pertanian Pangan
Berkelanjutan dan Lahan
2). Ekstensifikasi
Pertanian Pangan Berkelanjutan Kawasan
Pertanian
meliputi Pangan Berkelanjutan
intensifikasi dan
dan Lahan lahan.
ekstensifikasi Pertanian Pangan
Berkelanjutan
Pengembangan dilakukandilakukanmelalui
oleh
pengembangan usaha agribisnis
Pemerintah, pemerintah daerah
tanaman
provinsi, pangan.
dan pemerintah daerah
kabupaten/kota, masyarakat
3). Pengalihan
dan/atau korporasi fungsi lahan
yang kegiatan
nonpertanian
pokoknya di bidang pangan agribisnis
menjadi
Lahan Pertanian
tanaman pangan. Pangan
Berkelanjutan
Dalam hal terutama dilakukan
pengembangan,
terhadap
Pemerintah,Tanah Telantardaerah
pemerintah dan
tanah bekas
provinsi, dankawasan
pemerintahhutandaerah
yang
belum diberikan hak melakukan
kabupaten/kota atas tanah
sesuai dengan
inventarisasi dan identifikasiketentuan
peraturan perundang-undangan.
10. 28 Intensifikasi kawasan pertanian
4).
panganTanah Telantar
berkelanjutan dapat
dan Lahan
n Lampiran dialihfungsikan menjadi Lahan 155
Pertanian Pangan Berkelanjutan
apabila: 107
Pemerintah, pemerintah
tanah bekas kawasan hutandaerah
yang
provinsi, dan pemerintah
belum diberikan hak atas daerah
tanah
kabupaten/kota
sesuai dengan melakukan
ketentuan
inventarisasi dan identifikasi
peraturan perundang-undangan.

10. 28 Intensifikasi
4). Tanah kawasan
Telantarpertanian
dapat
pangan berkelanjutan
dialihfungsikan menjadidan Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan
apabila: 107
d) tanah tersebut telah diberikan hak
atas tanahnya, tetapi sebagian atau
seluruhnya tidak diusahakan,108tidak
dipergunakan, dan tidak
dimanfaatkan sesuai dengan sifat
dan tujuan pemberian hak; atau
e) tanah tersebut selama 3 (tiga)
tahun atau lebih tidak
dimanfaatkan sejak tanggal
pemberian hak diterbitkan.

5). Tanah bekas kawasan hutan
dapat dialihfungsikan menjadi
Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan apabila:
a) tanah tersebut telah diberikan
dasar penguasaan atas tanah,
tetapi sebagian atau seluruhnya
tidak dimanfaatkan sesuai dengan
izin/keputusan/surat dari yang
berwenang dan tidak
ditindaklanjuti dengan
permohonan hak atas tanah; atau
b) tanah tersebut selama 1 (satu)
tahun atau lebih tidak
dimanfaatkan sesuai dengan
izin/keputusan/surat dari yang
berwenang.

6). Tanah Telantar dan tanah
bekas kawasan hutan
diadministrasikan oleh Pusat
Informasi Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan pada
lembaga yang tugas dan tanggung
jawabnya di bidang pertanahan.

7). Kriteria penetapan, tata cara,
dan mekanisme pengambilalihan
serta pendistribusian Tanah
Telantar untuk pengembangan
Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan diatur dengan
Peraturan Pemerintah.
12. 30 1) Perlindungan Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan dilakukan
dengan dukungan penelitian,

109

156 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
2)
3) Penelitian dilakukan oleh
Pemerintah, Pemerintah Provinsi,
dan Pemerintah Kabupaten/Kota
4)
5) Penelitian Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan meliputi:
pengembangan
dengan penetapan:
penganekaragaman pangan;
a) Kawasan
identifikasi pertanian
dan pangan
pemetaan
berkelanjutan
kesesuaian lahan; pemetaan
zonasi Lahan Pertanian Pangan
Lahan Pertanian
Berkelanjutan; Pangan
inovasi pertanian;
Berkelanjutan
Fungsi di dalam dan di luar
agroklimatologi dan
Kawasan Pertanian
hidrologi; fungsi ekosistem;Pangan
dan
Berkelanjutan;
sosial budaya dan kearifan lokal.
13. 33 (2) Pemerintah dan pemerintah
Lahan
daerah Cadangan
bertanggung Pertanian jawab
Pangan
terhadap Berkelanjutan di dalam
pelaksanaan konservasi
dan
tanahdi dan
luar air,
Kawasanyang Pertanian
meliputi:
Pangan Berkelanjutan.
perlindungan sumber daya lahan
dan air; pelestarian sumber daya
7. 23 (3) Penetapan
lahan dan air;Kawasan
pengelolaan Pertanian
kualitas
Pangandan air; dan Berkelanjutan
lahan pengendalian
kabupaten/kota diatur dalam
pencemaran.
14. 34 Peraturan Daerah mengenai Yang memiliki hak atas tanah yang
rencana tata ruang wilayah ditetapkan sebagai lahan pertanian
kabupaten/kota. pangan berkelanjutan berkewajiban
8. 25 (2) Penetapan Lahan Pertanian memanfaatkan tanah sesuai peruntukan
Pangan Berkelanjutan pada dan mencegah kerusakan irigasi serta
wilayah kota menjadi dasar berperan dalam menjaga dan
peraturan zonasi untuk meningkatkan kesuburan tanah,
pengendalian pemanfaatan ruang mencegah kerusakan lahan, dan
wilayah kota. memelihara kelestarian lingkungan.
9.
15. 27
35 Pengembangan
1). Pemerintah dan Pemerintah terhadap
Kawasan Pertanian Melakukan
Daerah berkewajiban: Pangan
Berkelanjutan
pembinaan setiapdanorang Lahan yang
Pertanian
terikat Pangan Berkelanjutan
dengan pemanfaatan
meliputi
Lahan intensifikasi Pangan
Pertanian dan
ekstensifikasi
Berkelanjutan;lahan.dan Melakukan
Pengembangan
perlindungan terhadap dilakukan Lahanoleh
Pemerintah,
Pertanian Panganpemerintah daerah
Berkelanjutan.
provinsi, dan pemerintah daerah
kabupaten/kota,
2). Pembinaan masyarakat meliputi:
dan/atau
koordinasikorporasi yang kegiatan
perlindungan;
pokoknya di bidangperundang-
sosialisasi peraturan agribisnis
tanaman
undangan;pangan.
pemberian bimbingan,
supervisi, hal dan pengembangan,
Dalam konsultasi;
pendidikan, pemerintah
Pemerintah, pelatihan daerah dan
110
penyuluhan
provinsi, dankepada
pemerintahmasyarakat;
daerah
penyebarluasan
kabupaten/kota informasi
melakukan
Kawasan
inventarisasi Pertanian
dan identifikasiPangan
Berkelanjutan dan Lahan
10. 28 Pertanian Pangan
Intensifikasi kawasan Berkelanjutan;
pertanian
dan/atauberkelanjutan
pangan peningkatan dan kesadaran
Lahan
n Lampiran dan tanggung jawab masyarakat. 157
16. 37 Pengendalian Lahan Pertanian
107
Pangan Berkelanjutan dilakukan
oleh Pemerintah dan Pemerintah
Pemerintah, pemerintah daerah
provinsi, dan pemerintah daerah
kabupaten/kota melakukan
inventarisasi dan identifikasi

10. 28 supervisi,
Intensifikasi dan
kawasan konsultasi;
pertanian
pendidikan,
pangan pelatihan
berkelanjutan dan
dan Lahan
penyuluhan kepada masyarakat;
penyebarluasan informasi
107
Kawasan Pertanian Pangan
Berkelanjutan dan Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan;
dan/atau peningkatan kesadaran
dan tanggung jawab masyarakat.
16. 37 Pengendalian Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan dilakukan
oleh Pemerintah dan Pemerintah
Daerah melalui pemberian: a.
insentif; b. disinsentif; c.
mekanisme perizinan; d. proteksi;
dan e. penyuluhan.
17. 41 Pemerintah, pemerintah daerah
provinsi, dan/atau pemerintah
daerah kabupaten/kota dapat
memberikan insentif lainnya
sesuai dengan kewenanga
18. 42 Melakukan disinsentif berupa
pencabutan insentif dikenakan
kepada petani yang tidak
memenuhi kewajibannya
19. 48 Dalam hal terjadi keadaan
memaksa yang mengakibatkan
musnahnya dan/atau rusaknya
Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan secara permanen,
Pemerintah dan/atau pemerintah
daerah melakukan penggantian
Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan sesuai kebutuhan.
20. 49 Lahan pengganti Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan ditetapkan
dengan Peraturan Daerah
Kabupaten/Kota dalam hal lahan
pengganti terletak di dalam satu
Kabupaten/Kota pada satu
Provinsi.
21. Pasal 50 1) Setiap orang yang melakukan alih fungsi
tanah Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan di luar ketentuan wajib
mengembalikan keadaan tanah Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan ke
keadaan semula.
Setiap orang yang memiliki Lahan
111Pertanian Pangan Berkelanjutan dapat
mengalihkan kepemilikan lahannya
kepada pihak lain dengan tidak
mengubah fungsi lahan tersebut sebagai
Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.
22. 51 (2) Setiap orang yang melakukan kegiatan
158 yang Advokasi
Panduan mengakibatkan kerusakan
Pertanian wajibn
Keluarga
melakukan rehabilitasi.
23. 54 (1) dan 1). Untuk menjamin tercapainya
(2) Perlindungan Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan dilakukan
Pertanian Pangan Berkelanjutan dapat
mengalihkan kepemilikan lahannya
kepada pihak lain dengan tidak
mengubah fungsi lahan tersebut sebagai
Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.
22. 51 (2) Setiap orang yang melakukan kegiatan
yang mengakibatkan kerusakan wajib
melakukan rehabilitasi.
23. 54 (1) dan 1). Untuk menjamin tercapainya
(2) Perlindungan Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan dilakukan
pengawasan terhadap kinerja:
perencanaan dan penetapan;
pengembangan pemanfaatan;
pembinaan; dan pengendalian.

2). Pengawasan dilaksanakan
secara berjenjang oleh
Pemerintah, pemerintah daerah
provinsi, dan pemerintah daerah
kabupaten/kota sesuai
kewenangannya.
24. 55 Pengawasan meliputi: Pelaporan,
Pemantauan, dan Evaluasi.
25. 56 (5) Laporan disampaikan kepada
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
provinsi dalam laporan tahunan.
26. 58 1) Pemerintah, pemerintah daerah
provinsi, dan pemerintah daerah
kabupaten/kota
menyelenggarakan Sistem
Informasi Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan yang dapat
diakses oleh masyarakat secara
terpadu dan terkoordinasi.

Sistem informasi Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan sekurang-
kurangnya memuat data lahan
tentang: Kawasan Pertanian
Pangan Berkelanjutan; Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan;
Lahan Cadangan Pertanian
Pangan Berkelanjutan; dan Tanah
Telantar dan subyek haknya.
2) .
Data Lahan dalam sistem
112
informasi Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan
sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) sekurang-kurangnya memuat
informasi tentang: fisik alamiah;
fisik buatan; kondisi sumber daya
manusia dan sosial ekonomi;
status kepemilikan dan/atau
penguasaan; luas dan lokasi
lahan; jenis komoditas tertentu
yang bersifat pangan pokok.
27. 61 Pemerintah dan pemerintah
daerah wajib melindungi dan
n Lampiran memberdayakan petani, 159
kelompok petani, koperasi petani,
serta asosiasi petani.
28. 62 Perlindungan Petani berupa:
manusia dan sosial ekonomi;
status kepemilikan dan/atau
penguasaan; luas dan lokasi
lahan; jenis komoditas tertentu
yang bersifat pangan pokok.
27. 61 Pemerintah dan pemerintah
daerah wajib melindungi dan
memberdayakan petani,
kelompok petani, koperasi petani,
serta asosiasi petani.
28. 62 Perlindungan Petani berupa:
harga komoditas pangan pokok
yang menguntungkan;
memperoleh
dengan sarana produksi dan
penetapan:
prasarana pertanian;
a) Kawasan pertanian pemasaran
pangan
hasil pertanian pangan pokok;
berkelanjutan
pengutamaan hasil pertanian
pangan dalam
Lahan Pertanian negeri Pangan
untuk
memenuhi kebutuhan
Berkelanjutan di dalam danpangandi luar
nasional;
Kawasan dan/atauPertanian gantiPangan rugi
akibat gagal panen.
Berkelanjutan;
29. 63 Pemberdayaan Petani, meliputi:
penguatan
Lahan kelembagaanPertanian
Cadangan petani;
penyuluhan
Pangan dan pelatihan
Berkelanjutan untuk
di dalam
peningkatan
dan di luar kualitas
Kawasan sumber daya
Pertanian
manusia;Berkelanjutan.
Pangan pemberian fasilitas
sumber pembiayaan/permodalan;
7. 23 (3) a) Penetapan
pemberian Kawasan bantuan Pertanian kredit
kepemilikan
Pangan lahanBerkelanjutan
pertanian;
pembentukan Bankdiatur
kabupaten/kota Bagi Petani;
dalam
pemberian fasilitas
Peraturan Daerah pendidikan
mengenai
dan kesehatan
rencana tata ruangrumah wilayah
tangga
petani; dan/atau
kabupaten/kota. pemberian
8. 25 (2) fasilitas untukLahan
Penetapan mengakses ilmu
Pertanian
pengetahuan,
Pangan teknologi, pada
Berkelanjutan dan
informasi. kota menjadi dasar
wilayah
30. Pasal 65 1). Sejalan dengan
peraturan pendirian untuk
zonasi Bank
Bagi Petani, pemanfaatan
pengendalian dibentuk lembaga ruang
pembiayaan
wilayah kota. mikro di bidang
9. 27 pertanian
Pengembangan baik berbentuk
terhadap
konvensionalPertanian
Kawasan maupun syariah Pangandi
113
tingkat kabupaten/kota
Berkelanjutan dan dan/atauLahan
provinsi. Pangan Berkelanjutan
Pertanian
2). Sumber intensifikasi
meliputi pembiayaan untuk dan
pembentukan
ekstensifikasi lahan. lembaga
pembiayaan
Pengembangan dilakukan mikro oleh
memanfaatkan:pemerintah
Pemerintah, dana daerah dari
Pemerintah dan pemerintah
provinsi, dan pemerintah daerah
daerahsebagai stimulan;
kabupaten/kota, dana
masyarakat
tanggung korporasi
dan/atau jawab yang sosialkegiatan
dan
lingkungan
pokoknya didari bidangbadanagribisnis
usaha
sesuai pangan.
tanaman dengan ketentuan
peraturan hal
Dalam perundang-undangan;
pengembangan,
dan/atau danapemerintah
Pemerintah, masyarakat. daerah
31. 66 Pembiayaan
provinsi, danPerlindungan
pemerintah daerahLahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan
kabupaten/kota melakukan
dibebankan danpada
inventarisasi Anggaran
identifikasi
Pendapatan dan Belanja Negara,
10. 28 Anggaran Pendapatan
Intensifikasi kawasandan Belanja
pertanian
Daerah berkelanjutan
pangan provinsi, sertadan Anggaran
Lahan
160 Pendapatan dan Belanja Daerah Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
kabupaten/kota yang dapat
diperoleh dari dana tanggung 107
jawab sosial dan lingkungan dari
dan/atau danapemerintah
Pemerintah, masyarakat. daerah
31. 66 provinsi,
PembiayaandanPerlindungan
pemerintah daerah
Lahan
kabupaten/kota melakukan
Pertanian Pangan Berkelanjutan
inventarisasi
dibebankan danpadaidentifikasi
Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara,
10. 28 Anggaran Pendapatan
Intensifikasi kawasandan Belanja
pertanian
Daerah berkelanjutan
pangan provinsi, sertadan
Anggaran
Lahan
Pendapatan dan Belanja Daerah
kabupaten/kota yang dapat
107
diperoleh dari dana tanggung
jawab sosial dan lingkungan dari
badan usaha.
32. Pasal 67 (1) Masyarakat berperan serta dalam
perlindungan Kawasan dan Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan.
(2) Peran serta masyarakat sebagaimana
dapat dilakukan secara perorangan
dan/atau berkelompok.
(3) Peran serta dilakukan dalam tahapan:
perencanaan; pengembangan; penelitian;
pengawasan; pemberdayaan petani;
pembiayaan.
33. 68 Peran serta masyarakat dilakukan melalui:
pemberian usulan perencanaan,
tanggapan, dan saran perbaikan atas
usulan perencanaan Pemerintah dan
pemerintah daerah provinsi dan
kabupaten/kota.
a)
b) Pelaksanaan kegiatan intensifikasi dan
ekstensifikasi lahan dalam pengembangan
Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
c)
d) Penelitian
e)
114
f) Penyampaian laporan dan pemantauan
terhadap kinerja
g)
h) Pemberdayaan petani

Pembiayaan dapat dilakukan dalam
pengembangan Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan;

Pengajuan keberatan kepada pejabat
berwenang terhadap pembangunan yang
tidak sesuai dengan rencana Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan di
wilayahnya; dan

Pengajuan tuntutan pembatalan izin dan
penghentian pembangunan yang tidak
sesuai dengan rencana Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan.
34. 69 Dalam hal perlindungan Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan, masyarakat
berhak: mengajukan keberatan kepada
pejabat berwenang terhadap
pembangunan yang tidak sesuai dengan
rencana Lahan Pertanian Pangan
n Lampiran 161
Berkelanjutan di wilayahnya; mengajukan
tuntutan pembatalan izin dan
penghentian pembangunan yang tidak
sesuai dengan rencana Lahan Pertanian
Pengajuan tuntutan pembatalan izin dan
penghentian pembangunan yang tidak
sesuai dengan rencana Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan.
34. 69 Dalam hal perlindungan Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan, masyarakat
berhak: mengajukan keberatan kepada
pejabat berwenang terhadap
pembangunan yang tidak sesuai dengan
rencana Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan di wilayahnya; mengajukan
tuntutan pembatalan izin dan
penghentian pembangunan yang tidak
sesuai dengan rencana Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan.
37. 75 (1) (2) 1) Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten/Kota yang belum
menetapkan Kawasan Pertanian
Pangan Berkelanjutan, Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan
dan Lahan Cadangan Pertanian
Pangan Berkelanjutan disesuaikan
paling lama dalam waktu 2 (dua)
tahun terhitung sejak Undang-
undang ini diundangkan.
Pada saat Undang-undang ini
berlaku, sedangkan Rencana Tata
Ruang Wilayah Kabupaten/Kota
sudah ditetapkan, penetapan
Kawasan Pertanian Pangan
Berkelanjutan, Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan dan Lahan
115
Cadangan Pertanian Pangan
Berkelanjutan dilakukan oleh
bupati/walikota sampai diadakan
perubahan atas Peraturan Daerah
Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten/Kota.

Lampiran 2

Tabel 6. Kewajiban Pemerintah/Pemda dan partisipasi masyarakat dalam Undang-undang
No. 7 Tahun 2016Tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan
dan Petambak Garam

No. Pasal Kewajiban Pemerintah/ Partisipasi Masyarakat
Pemda
1. 9-15 Perencanaan Perlindungan dan
Pemberdayaan Nelayan, Pembudi
Daya Ikan, dan Petambak Garam
dilakukan secara sistematis,
terpadu, terarah, menyeluruh,
transparan, dan akuntabel.

Perencanaan harus dilakukan
dengan berdasarkan pada: a. daya
dukung sumber daya alam dan
162 lingkungan; b. potensi sumber
Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
daya Ikan di wilayah pengelolaan
perikanan negara Republik
Indonesia; c. potensi lahan dan
Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten/Kota.

Tabel 6. 2
Lampiran
Kewajiban Pemerintah/Pemda dan Partisipasi Masyarakat dalam
Tabel 6. Kewajiban Pemerintah/Pemda dan partisipasi masyarakat dalam Undang-undang
Undang-undang No.Perlindungan
No. 7 Tahun 2016Tentang 7 Tahun dan
2016 TentangNelayan,
Pemberdayaan Perlindungan
Pembudidayadan
Ikan
dan Petambak Garam
Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan dan Petambak Garam
No. Pasal Kewajiban Pemerintah/ Partisipasi Masyarakat
Pemda
1. 9-15 dengan penetapan:
Perencanaan Perlindungan dan
a) Kawasan
Pemberdayaanpertanian
Nelayan, Pembudipangan
berkelanjutan
Daya Ikan, dan Petambak Garam
dilakukan secara sistematis,
Lahan Pertanian
terpadu, terarah, menyeluruh, Pangan
Berkelanjutan
transparan, dandiakuntabel.
dalam dan di luar
Kawasan Pertanian Pangan
Berkelanjutan;
Perencanaan harus dilakukan
dengan berdasarkan pada: a. daya
Lahan
dukung sumberCadangan
daya alam Pertanian
dan
Pangan
lingkungan; Berkelanjutan
b. potensi sumberdi dalam
dan di luar Kawasan
daya Ikan di wilayah pengelolaanPertanian
Pangan
perikanan Berkelanjutan.
negara Republik
Indonesia; c. potensi lahan dan
7. 23 (3) Penetapan
air; d. rencanaKawasan
tata ruang Pertanian
wilayah;
Pangan
e. rencana zonasi wilayah Berkelanjutan
pesisir
kabupaten/kota
dan pulau-pulau kecil, diatur
rencanadalam
Peraturan
tata ruang lautDaerah
nasional, danmengenai
rencana
rencana zonasitata kawasan
ruang laut; wilayah
f.
kabupaten/kota.
perkembangan ilmu pengetahuan
8. 25 (2) Penetapan
dan teknologi; Lahan Pertanian
6 g. kebutuhan
Pangan Berkelanjutan
sarana dan prasarana; pada
h. kelayakan
wilayah
teknis dan kota
ekonomismenjadi
serta dasar
peraturan
kesesuaian dengan zonasi
Kelembagaan untuk
pengendalian pemanfaatan
dan budaya setempat; ruang
i. tingkat
wilayah kota. ekonomi; dan j.
pertumbuhan
9. 27 Pengembangan
jumlah Nelayan, Pembuditerhadap Daya
Kawasan Pertanian
Ikan, dan Petambak Garam.Pangan
Berkelanjutan dan Lahan
PemerintahPangan
Pertanian Daerah sesuai dengan
Berkelanjutan
kewenangannya
meliputi berkewajiban
intensifikasi 116dan
mencantumkan
ekstensifikasi pekerjaan
lahan.
Nelayan, Pembudidilakukan
Pengembangan Daya Ikan,oleh
dan/atau Petambak
Pemerintah, Garam daerah
pemerintah di
dalam pencatatan
provinsi, administrasi
dan pemerintah daerah
kependudukan.
kabupaten/kota, masyarakat
dan/atau korporasi yang kegiatan
Perencanaandimerupakan
pokoknya bagian
bidang agribisnis
yang integral
tanaman dari: a. rencana
pangan.
pembangunan
Dalam hal nasional; b.
pengembangan,
rencana pembangunan
Pemerintah, pemerintah daerah;
daerahc.
rencana anggaran
provinsi, pendapatan
dan pemerintah dan
daerah
belanja negara; dan d. rencana
kabupaten/kota melakukan
anggaran pendapatan
inventarisasi dan belanja
dan identifikasi
daerah.
10. 28 Intensifikasi kawasan pertanian
Perencanaan
pangan perlindungan
berkelanjutan dan dan
Lahan
n Lampiran 163
pemberdayaan paling sedikit
memuat kebijakan dan strategi
107
yang ditetapkan oleh Pemerintah
Pusat dan Pemerintah Daerah
Pemerintah, pemerintah
rencana anggaran pendapatandaerah
dan
provinsi, dan pemerintah
belanja negara; daerah
dan d. rencana
kabupaten/kota
anggaran pendapatan dan melakukan
belanja
inventarisasi
daerah. dan identifikasi

10. 28 Intensifikasi kawasan pertanian
Perencanaan perlindungan dan
pangan berkelanjutan
pemberdayaan dan Lahan
paling sedikit
memuat kebijakan dan strategi
yang ditetapkan oleh Pemerintah
107
Pusat dan Pemerintah Daerah
sesuai dengan kewenangannya.

Pemerintah Pusat dan Pemerintah
dengan
Daerah penetapan:
dilarang membuat
a) Kawasan
kebijakan yang pertanian
bertentangan pangan
berkelanjutan
dengan upaya Perlindungan dan
Pemberdayaan Nelayan, Pembudi
Lahan
Daya Ikan, danPertanian Pangan
Petambak Garam.
Berkelanjutan di dalam dan di luar
Kawasan
Perencanaan Pertanian
Perlindungan Pangan
dan
Berkelanjutan;
Pemberdayaan Nelayan, Pembudi
Daya Ikan, dan Petambak Garam,
Lahan Cadangan
termasuk keluarga NelayanPertanian
dan
Pangan
Pembudi Berkelanjutan
Daya Ikan yangdi dalam
dan di luarpengolahan
melakukan Kawasan dan Pertanian
Pangan
pemasaranBerkelanjutan.
disusun oleh
Pemerintah Pusat dan Pemerintah
7. 23 (3) Penetapan
Daerah sesuaiKawasan
dengan Pertanian
Pangan
kewenangannya. Berkelanjutan
kabupaten/kota diatur dalam
Peraturan Daerah mengenai
Perencanaan Perlindungan dan
rencana
Pemberdayaan tata disusun
ruangpada wilayah
kabupaten/kota.
tingkat nasional, provinsi, dan
8. 25 (2) Penetapan
kabupaten/kota. Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan pada
wilayah
Perencanaan kota menjadi dan
perlindungan dasar
peraturan zonasi
pemberdayaan ditetapkan 117
untuk
oleh
pengendalian
Pemerintah Pusat,pemanfaatan
pemerintah ruang
wilayah
provinsi,kota.
dan pemerintah
9. 27 kabupaten/kota untuk terhadap
Pengembangan
menghasilkanPertanian
Kawasan rencana Pangan
Perlindungan dan Pemberdayaan
Berkelanjutan dan Lahan
Nelayan,
PertanianPembudi
Pangan Daya Ikan, dan
Berkelanjutan
Petambak Garam,
meliputi baik jangka dan
intensifikasi
pendek, jangkalahan.
ekstensifikasi menengah,
maupun jangka panjang.
Pengembangan dilakukan oleh
Pemerintah, pemerintah daerah
Rencana perlindungan
provinsi, dan pemerintah dan daerah
pemberdayaan s) terdirimasyarakat
kabupaten/kota, atas: a.
rencana Perlindungan
dan/atau korporasi yang dankegiatan
Pemberdayaan
pokoknya di Nelayan,
bidang Pembudi
agribisnis
Daya Ikan,
tanaman dan Petambak Garam
pangan.
nasional; b.hal
Dalam rencanapengembangan,
Perlindungan
dan Pemberdayaan
Pemerintah, Nelayan,daerah
pemerintah
Pembudi Daya
provinsi, Ikan, dan daerah
dan pemerintah
Petambak Garam provinsi;
kabupaten/kota dan c.
melakukan
rencana Perlindungan
inventarisasi dan
dan identifikasi
Pemberdayaan Nelayan, Pembudi
10. 28 Daya Ikan, dankawasan
Intensifikasi Petambakpertanian
Garam
kabupaten/kota.
pangan berkelanjutan dan Lahan
164 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Rencana Perlindungan dan
107
Pemberdayaan Nelayan, Pembudi
Daya Ikan, dan Petambak Garam
Pemerintah,
dan pemerintah
Pemberdayaan Nelayan,daerah
provinsi, Daya
Pembudi dan pemerintah
Ikan, dan daerah
kabupaten/kota
Petambak melakukan
Garam provinsi; dan c.
inventarisasi
rencana dan identifikasi
Perlindungan dan
Pemberdayaan Nelayan, Pembudi
10. 28 Daya Ikan, dankawasan
Intensifikasi Petambakpertanian
Garam
kabupaten/kota.
pangan berkelanjutan dan Lahan

Rencana Perlindungan dan
107
Pemberdayaan Nelayan, Pembudi
Daya Ikan, dan Petambak Garam
nasional menjadi pedoman untuk
menyusun perencanaan
perlindungan dan pemberdayaan
dengan penetapan:
pada tingkat provinsi.
a) Kawasan pertanian pangan
berkelanjutan
Rencana Perlindungan dan
Pemberdayaan Nelayan, Pembudi
Lahan Pertanian Pangan
Daya Ikan, dan Petambak Garam
Berkelanjutan di dalam dan di luar
provinsi menjadi pedoman untuk
Kawasan Pertanian Pangan
menyusun perencanaan
Berkelanjutan;
perlindungan dan pemberdayaan
pada tingkat kabupaten/kota.
Lahan Cadangan Pertanian
Pangan Berkelanjutan di dalam
Rencana Perlindungan dan
dan di luar Kawasan Pertanian
Pemberdayaan Nelayan, Pembudi
Pangan Berkelanjutan.
Daya Ikan, dan Petambak Garam
nasional, provinsi, dan
7. 23 (3) Penetapan Kawasan Pertanian
kabupaten/kota menjadi
Pangan Berkelanjutan
pedoman untuk merencanakan
kabupaten/kota diatur 118 dalam
dan melaksanakan kegiatan
Peraturan Daerah mengenai
Perlindungan dan Pemberdayaan
rencana tata ruang wilayah
Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan
kabupaten/kota.
Petambak Garam.
8. 25 (2) Penetapan Lahan Pertanian
2. 18 menyediakan prasarana Usaha
Pangan Berkelanjutan pada
Perikanan dan Usaha Pergaraman.
wilayah kota menjadi dasar
peraturan zonasi untuk
Prasarana Usaha Perikanan
pengendalian pemanfaatan ruang
meliputi: a. prasarana
wilayah kota.
Penangkapan Ikan; b. prasarana
9. 27 Pengembangan
Pembudidayaan Ikan; danterhadapc.
Kawasan Pertaniandan Pangan
prasarana pengolahan
Berkelanjutan
pemasaran. dan Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan
meliputi intensifikasiIkan dan
Prasarana Penangkapan
ekstensifikasi lahan.pengisian
meliputi: a. stasiun
Pengembangan
bahan bakar minyak dilakukan
dan sumber oleh
Pemerintah,
energi lainnya pemerintah
untuk Nelayan; daerah
b.
provinsi,
pelabuhandan pemerintah
Perikanan yang daerah
kabupaten/kota,
terintegrasi dengan tempatmasyarakat
dan/atau
pelelangankorporasi yang kegiatan
Ikan; c. jalan
pokoknya
pelabuhan dandi jalan
bidang
aksesagribisnis
ke
tanaman pangan.
pelabuhan; d. alur sungai dan
Dalam hal
muara; e. jaringan pengembangan,
listrik, jaringan
Pemerintah,
telekomunikasi, pemerintah daerah
dan air bersih;
provinsi,
dan f. tempat penyimpanan daerah
dan pemerintah
kabupaten/kota
berpendingin dan/atau melakukan
inventarisasi
pembekuan. dan identifikasi
10. 28 Intensifikasi kawasan pertanian
Prasarana Pembudidayaan Ikan
n Lampiran pangan
meliputi:berkelanjutan danb. Lahan
a. lahan dan air; 165
stasiun pengisian bahan bakar
minyak dan sumber energi lainnya
107
untuk Pembudi Daya Ikan; c.
Pemerintah, pemerintah
telekomunikasi, daerah
dan air bersih;
provinsi, dan penyimpanan
dan f. tempat pemerintah daerah
kabupaten/kota
berpendingin dan/atau melakukan
inventarisasi
pembekuan. dan identifikasi
10. 28 Intensifikasi kawasan pertanian
Prasarana Pembudidayaan Ikan
pangan
meliputi:berkelanjutan
a. lahan dan air; danb. Lahan
stasiun pengisian bahan bakar
minyak dan sumber energi lainnya 107
untuk Pembudi Daya Ikan; c.
saluran pengairan; d. jalan
produksi; e. jaringan listrik dan
jaringan telekomunikasi; f.
instalasipenetapan:
dengan penanganan limbah; dan
a) g. tempat penyimpanan,
Kawasan pertanian pangan
penyimpanan berpendingin,
berkelanjutan
dan/atau pembekuan.
Lahan Pertanian Pangan
Prasarana pengolahan
Berkelanjutan di dalamdan dan di luar
pemasaran meliputi:
Kawasan Pertanian a. tempatPangan
pengolahan
Berkelanjutan; Ikan; b. tempat
penjualan hasil Perikanan; c. jalan
distribusi; dan
Lahan d. instalasiPertanian
Cadangan
penanganan limbah. 119
Pangan Berkelanjutan di dalam
dan di luar Kawasan Pertanian
Prasarana
Pangan Usaha Pergaraman
Berkelanjutan.
meliputi: a. lahan; b. saluran
7. 23 (3) pengairan; c. Kawasan
Penetapan jalan produksi; d.
Pertanian
tempat penyimpananBerkelanjutan
Pangan Garam; dan
e. kolam penampung
kabupaten/kota air.. dalam
diatur
3. 21 memberikan kemudahan
Peraturan Daerah mengenai dalam .
memperoleh
rencana sarana
tata Usaha wilayah
ruang
Perikanan dan sarana Usaha
kabupaten/kota.
8. 25 (2) Pergaraman melalui:
Penetapan Lahan a. Pertanian
penjaminanBerkelanjutan
Pangan ketersediaan sarana pada
Usaha Perikanan
wilayah kota dan Usaha dasar
menjadi
Pergaraman;
peraturan danzonasi b. pengendalianuntuk
harga sarana Usaha
pengendalian Perikananruang
pemanfaatan dan
Usaha Pergaraman.
wilayah kota.
9. 27 Pengembangan terhadap
Sarana UsahaPertanian
Kawasan Perikanan a. sarana
Pangan
Penangkapan Ikan;dan
Berkelanjutan b. saranaLahan
Pembudidayaan
Pertanian Pangan Ikan;Berkelanjutan
dan c.
sarana pengolahan
meliputi dan
intensifikasi dan
pemasaran. lahan.
ekstensifikasi
Pengembangan dilakukan oleh
Sarana Penangkapan
Pemerintah, pemerintahIkan daerah
meliputi: a.dan
provinsi, kapal penangkapdaerah
pemerintah Ikan
yang laik laut, laik tangkap
kabupaten/kota, Ikan,
masyarakat
dan laik simpan
dan/atau Ikan;yang
korporasi b. alat
kegiatan
penangkapandiIkan
pokoknya dan alat
bidang bantu
agribisnis
penangkapan
tanaman Ikan; c. bahan bakar
pangan.
minyak danhal
Dalam sumberpengembangan,
energi
lainnya; dan d.pemerintah
Pemerintah, air bersih dandaerah
es.
provinsi, dan pemerintah daerah
Sarana Pembudidayaan melakukan
kabupaten/kota Ikan
meliputi: a. induk,
inventarisasi benih, dan
dan identifikasi
bibit; b. pakan; c. obat ikan; d.
10. 28 geoisolator;
Intensifikasie. kawasan
air bersih; pertanian
f.
laboratorium
pangan kesehatandan
berkelanjutan ikan;Lahan
g. Panduan Advokasi Pertanian Keluarga
166 n
pupuk; h. alat pemanen; i. kapal
pengangkut ikan hidup; j. bahan
bakar minyak dan sumber energi 107
lainnya; k. pompa air; l. kincir;
Pemerintah,
lainnya; dan d.pemerintah
air bersih dandaerah
es.
provinsi, dan pemerintah daerah
kabupaten/kota
Sarana Pembudidayaan melakukan
Ikan
inventarisasi
meliputi: dan identifikasi
a. induk, benih, dan
bibit; b. pakan; c. obat ikan; d.
10. 28 geoisolator;
Intensifikasie. kawasan
air bersih; pertanian
f.
laboratorium kesehatandan
pangan berkelanjutan ikan;Lahan
g.
pupuk; h. alat pemanen; i. kapal
pengangkut ikan hidup; j. bahan
107
bakar minyak dan sumber energi
lainnya; k. pompa air; l. kincir;
dan m. keramba jaring apung.

Sarana
denganpengolahan
penetapan: dan
pemasaran meliputi:
a) Kawasan pertanian a. peralatan
pangan
penampungan ikan hidup; b.
berkelanjutan
peralatan penanganan ikan; c.
peralatan pengolahan 120
Lahan Pertanian hasil Pangan
Perikanan; d. peralatan
Berkelanjutan di dalam rantai
dan di luar
dingin;
Kawasan e. peralatan
Pertanian pemasaranPangan
hasil perikanan; f. alat angkut
Berkelanjutan;
berpendingin; g. es dan/atau
garam; danCadangan
Lahan h. kemasan produk Pertanian
dan/atauBerkelanjutan
Pangan peralatan pengemasan.di dalam
dan di luar Kawasan Pertanian
Sarana Usaha
Pangan Pergaraman
Berkelanjutan.
meliputi: a. bahan bakar minyak
7. 23 (3) dan sumber energi
Penetapan Kawasan lainnya; b.
Pertanian
pompa air; c. kincir angin;
Pangan d.
Berkelanjutan
geoisolator;
kabupaten/kota e. alat ukur
diatursalinitas;
dalam
f. mesin pemurnian
Peraturan Daerahatau mengenai
pencucian garam;
rencana tata ruangg. alat angkut
wilayah
sederhana;
kabupaten/kota.h. alat iodisasi; i. alat
8. 25 (2) pengemas; j. alat
Penetapan perata tanah;
Lahan k.
Pertanian
alat ukur suhu
Pangan atau termometer;
Berkelanjutan pada
dan l. alat ukur
wilayah kota kekentalan
menjadi airdasarlaut
(boume-hydro-meter).
peraturan zonasi untuk
4. 24 memberikan subsidi:
pengendalian pemanfaatana. bahanruang
bakar
wilayahminyak
kota. atau sumber energi
9. 27 lainnya, air bersih, dan es terhadap
Pengembangan kepada
nelayan; b. bahan
Kawasan bakar minyak
Pertanian Pangan
atau sumber energi dan
Berkelanjutan lainnya, induk,
Lahan
benih, bibit,Pangan
Pertanian pakan, dan obat Ikan
Berkelanjutan
kepada Pembudi
meliputi Daya Ikan Kecil;
intensifikasi dan
dan c. bahan bakar
ekstensifikasi lahan.minyak atau
sumber energi lainnya
Pengembangan kepada oleh
dilakukan
Petambak Garam
Pemerintah, Kecil. daerah
pemerintah
provinsi, dan pemerintah daerah
Pemberian
kabupaten/kota,subsidi harusmasyarakat
tepat
guna, tepatkorporasi
dan/atau sasaran, tepat
yang waktu,
kegiatan
tepat kualitas,
pokoknya di dan tepat jumlah.
bidang agribisnis
5. 25-29 Penetapanpangan.
tanaman Rencana Perlindungan
Lahan
Dalam Pertanian
hal Pangan
pengembangan,
Berkelanjutan pemerintah
Pemerintah, dimuat daerah dalam
Rencana
provinsi, dan Pembangunan
pemerintah daerahJangka
Panjang
kabupaten/kota (RPJP), melakukan Rencana
Pembangunan
inventarisasi danJangka Menengah
identifikasi
(RPJM), dan Rencana Tahunan
10. 28 baik nasionalkawasan
Intensifikasi melalui pertanian
Rencana
Kerja berkelanjutan
pangan Pemerintah dan (RKP), Lahan
n Lampiran provinsi, maupun 167
kabupaten/kota.
107

121
Pemerintah,
Berkelanjutan pemerintah
dimuat daerahdalam
provinsi,
Rencana dan pemerintah daerah
Pembangunan Jangka
kabupaten/kota
Panjang (RPJP), melakukan
Rencana
inventarisasi
Pembangunan danJangka
identifikasi
Menengah
(RPJM), dan Rencana Tahunan
10. 28 baik nasionalkawasan
Intensifikasi melalui pertanian
Rencana
Kerja berkelanjutan
pangan Pemerintah dan (RKP),
Lahan
provinsi, maupun
kabupaten/kota.
107
6. Pasal 18 Menjamin kepastian usaha, a.
menciptakan kondisi yang
121
menghasilkan harga ikan atau
harga garam yang
menguntungkan bagi Nelayan dan
Pembudi Daya Ikan atau
Petambak Garam; b. melakukan
pengendalian kualitas lingkungan
perairan, perairan pesisir, dan laut;
c. melakukan pengendalian
kualitas lingkungan pengolahan;
dan d. memastikan adanya
perjanjian tertulis dalam
hubungan Usaha Penangkapan
Ikan, Pembudidayaan Ikan, dan
Pergaraman.

Penciptaan kondisi dilakukan
dengan: a. mengembangkan
sistem pemasaran Komoditas
Perikanan dan Komoditas
Pergaraman; b. memberikan
jaminan pemasaran ikan melalui
pasar lelang; c. memberikan
jaminan pemasaran ikan dan
garam melalui resi gudang; d.
mewujudkan fasilitas pendukung
pasar ikan; e. menyediakan sistem
informasi terhadap harga ikan dan
harga garam secara nasional
maupun internasional; dan f.
mengembangkan sistem rantai
dingin.

Untuk menjamin kepastian usaha
dilakukan dengan: a. Pemerintah
Pusat menetapkan rencana tata
ruang laut nasional untuk
Penangkapan Ikan dan
Pembudidayaan Ikan; b.
Pemerintah Daerah menetapkan
rencana zonasi serta rencana
zonasi rinci wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil untuk
Penangkapan Ikan dan
Pembudidayaan Ikan; dan/atau c.
Pemerintah Pusat dan Pemerintah

122

168 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Daerah sesuai dengan
kewenangannya menetapkan
rencana tata ruang wilayah untuk
Pembudidayaan Ikan, pengolahan
dan pemasaran, serta Usaha
Pergaraman.

Penetapan rencana wajib
dilakukan dengan memberikan
ruang penghidupan dan akses
kepada Nelayan Kecil, Nelayan
Tradisional, Pembudi Daya Ikan
Kecil, dan Petambak Garam
Kecil.

Untuk menjamin kepastian usaha
Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan
Petambak Garam, Pemerintah
Pusat menugasi badan atau
lembaga yang menangani
Komoditas Perikanan dan/atau
Komoditas Pergaraman.

Badan atau lembaga berfungsi: a.
menjamin ketersediaan Ikan dan
Garam; b. mendukung sistem
logistik Ikan dan Garam; dan c.
mewujudkan harga ikan dan harga
garam yang menguntungkan bagi
Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan
Petambak Garam.

Pemerintah Pusat dan Pemerintah
Daerah mengembangkan sistem
pemasaran Komoditas Perikanan
dan Komoditas Pergaraman

Pengembangan sistem pemasaran
Komoditas Perikanan dan
Komoditas Pergaraman dilakukan
melalui: a. penyimpanan; b.
transportasi; c. pendistribusian;
dan d. promosi.

Pemilik dan penyewa kapal atau
Pemilik Lahan Budi Daya dan
penyewa lahan budi daya yang

123

n Lampiran 169
melakukan kegiatan Penangkapan
Ikan atau Pembudidayaan Ikan
dengan melibatkan Nelayan Kecil,
Nelayan Tradisional, Nelayan
Buruh, atau Penggarap Lahan
Budi Daya harus membuat
perjanjian kerja atau perjanjian
bagi hasil secara tertulis.

Pemilik Tambak Garam atau
penyewa tambak Garam yang
melakukan kegiatan produksi
Garam dengan melibatkan
Penggarap Tambak Garam harus
membuat perjanjian kerja atau
perjanjian bagi hasil secara
tertulis.

Pemerintah Daerah berkewajiban
memberikan pendampingan
kepada Nelayan Kecil, Nelayan
Tradisional, Nelayan Buruh,
Penggarap Lahan Budi Daya, dan
Penggarap Tambak Garam dalam
membuat perjanjian kerja atau
perjanjian bagi hasil

Perjanjian berdasarkan prinsip
adil, menguntungkan bagi kedua
belah pihak, dan
mempertimbangkan kearifan
lokal.

Perjanjian kerja untuk melakukan
Penangkapan Ikan dan
Pembudidayaan Ikan atau
kegiatan produksi garam paling
sedikit harus memuat hak dan
kewajiban, jangka waktu
perjanjian, dan pilihan
penyelesaian sengketa.

Perjanjian bagi hasil Penangkapan
Ikan dan Pembudidayaan Ikan
atau Usaha Pergaraman paling
sedikit harus memuat jangka
waktu perjanjian, pilihan

124

170 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
penyelesaian sengketa, dan
kemitraan usaha.

7. 30-35 memberikan Perlindungan kepada
Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan
Petambak Garam atas risiko yang
dihadapi saat melakukan
Penangkapan Ikan,
Pembudidayaan Ikan, dan Usaha
Pergaraman.

Risiko yang dihadapi Nelayan,
Pembudi Daya Ikan, dan
Petambak Garam meliputi: a.
hilang atau rusaknya sarana
Penangkapan Ikan,
Pembudidayaan Ikan, dan Usaha
Pergaraman; b. kecelakaan kerja
atau kehilangan jiwa bagi Nelayan,
Pembudi Daya Ikan, dan
Petambak Garam; dan c. jenis
risiko lain yang diatur dengan
Peraturan Menteri.

Penyebab risiko meliputi: a.
bencana alam; b. wabah penyakit
Ikan; c. dampak perubahan iklim;
dan/atau d. pencemaran.

Perlindungan atas risiko untuk
sarana Penangkapan Ikan dan
Pembudidayaan Ikan dan untuk
jenis risiko lain diberikan dalam
bentuk Asuransi Perikanan.

Perlindungan atas risiko untuk
Usaha Pergaraman diberikan
dalam bentuk Asuransi
Pergaraman.
Perlindungan atas risiko dalam
bentuk: a. Asuransi Perikanan
atau Asuransi Pergaraman untuk
kecelakaan kerja; atau b. asuransi
jiwa untuk kehilangan jiwa sesuai
dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

125

n Lampiran 171
Memberikan fasilitas akses
Penjaminan kepada Nelayan,
Pembudi Daya Ikan, dan
Petambak Garam guna
meningkatkan kapasitas Usaha
Perikanan dan Usaha Pergaraman
melalui perusahaan Penjaminan.

Pemerintah Pusat dan Pemerintah
Daerah dapat menugasi badan
usaha milik negara atau badan
usaha milik daerah di bidang
asuransi untuk melaksanakan
Asuransi Perikanan dan Asuransi
Pergaraman.

Memfasilitasi setiap Nelayan,
Pembudi Daya Ikan, dan
Petambak Garam menjadi peserta
Asuransi Perikanan atau peserta
Asuransi Pergaraman.

Fasilitasi meliputi: a. kemudahan
pendaftaran untuk menjadi
peserta; b. kemudahan akses
terhadap perusahaan asuransi; c.
sosialisasi program asuransi
terhadap Nelayan, Pembudi Daya
Ikan, dan Petambak Garam, dan
perusahaan asuransi; dan/atau d.
bantuan pembayaran premi
asuransi jiwa, Asuransi Perikanan,
atau Asuransi Pergaraman bagi
Nelayan Kecil, Nelayan
Tradisional, Pembudi Daya Ikan
Kecil, dan Petambak Garam
Kecil, sesuai dengan kemampuan
keuangan negara. .
8. 36 Penghapusan praktik ekonomi
biaya tinggi dilakukan dengan: a.
membebaskan biaya penerbitan
perizinan yang terkait dengan
Penangkapan Ikan,
Pembudidayaan Ikan,
pengolahan, dan pemasaran, dan
Usaha Pergaraman bagi Nelayan

126

172 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Kecil, Pembudi Daya Ikan Kecil,
atau Petambak Garam Kecil,
termasuk keluarga Nelayan dan
Pembudi Daya Ikan yang
melakukan pengolahan dan
pemasaran; dan b. membebaskan
pungutan Usaha Perikanan atau
Usaha Pergaraman, baik berupa
pajak maupun retribusi bagi
Nelayan Kecil, Pembudi Daya
Ikan Kecil, atau Petambak Garam
Kecil, termasuk keluarga Nelayan
dan Pembudi Daya Ikan yang
melakukan pengolahan dan
pemasaran.

Untuk menghapus praktik
ekonomi biaya tinggi, Pemerintah
Pusat dan Pemerintah Daerah
sesuai dengan kewenangannya
berkewajiban membangun sistem
perizinan terpadu yang efektif dan
efisien.
9. 37 Pemerintah Pusat mengendalikan
impor Komoditas Perikanan dan
Komoditas Pergaraman.

Pengendalian impor Komoditas
Perikanan dan Komoditas
Pergaraman dilakukan melalui
penetapan tempat pemasukan,
jenis dan volume, waktu
pemasukan, serta pemenuhan
persyaratan administratif dan
standar mutu.
10. 39-40 j) Pemerintah Pusat bertanggung
jawab memberikan jaminan
keamanan bagi nelayan dalam
melakukan penangkapan ikan di
wilayah pengelolaan perikanan
negara Republik Indonesia.
k)
l) Pemerintah Pusat dan Pemerintah
Daerah bertanggung jawab
memberikan jaminan keamanan
bagi Pembudidayaan Ikan dan
Usaha Pergaraman.

127

n Lampiran 173
m)
n) Pemerintah Pusat dan Pemerintah
Daerah bertanggung jawab
terhadap jaminan keselamatan
Nelayan dalam melakukan
Penangkapan Ikan.
o)
p) Tanggung jawab dilakukan
dengan: a. memastikan
perlengkapan keselamatan bagi
nelayan dalam melakukan
penangkapan ikan; dan b.
memberikan bantuan pencarian
dan pertolongan bagi nelayan
yang mengalami kecelakaan dalam
melakukan penangkapan ikan
secara cepat, tepat, aman, terpadu,
dan terkoordinasi.
11. 41-42 Fasilitasi dan memberikan
bantuan hukum kepada Nelayan,
Pembudi Daya Ikan, dan
Petambak Garam, termasuk
keluarga Nelayan dan Pembudi
Daya Ikan yang melakukan
pengolahan dan pemasaran yang
mengalami permasalahan dalam
menjalankan usahanya.

Pemerintah Pusat memberikan
bantuan hukum dan perlindungan
bagi Nelayan yang mengalami
permasalahan Penangkapan Ikan
di wilayah negara lain.
12. 46 6) Menyelenggarakan pendidikan
dan pelatihan kepada Nelayan,
Pembudi Daya Ikan, dan
Petambak Garam termasuk
keluarganya.
7)
8) Pendidikan dan pelatihan berupa:
a. pemberian pelatihan dan
pemagangan di bidang Perikanan
atau Pergaraman; b. pemberian
beasiswa dan/atau bantuan biaya
pendidikan untuk mendapatkan
pendidikan di bidang Perikanan
atau Pergaraman; atau c.

128

174 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
pengembangan pelatihan
kewirausahaan di bidang Usaha
Perikanan atau Usaha
Pergaraman.
9)
10) Pemberian beasiswa dan/atau
bantuan biaya pendidikan
diberikan kepada Nelayan Kecil,
Nelayan Tradisional, Nelayan
Buruh, Pembudi Daya Ikan Kecil,
Penggarap Lahan Budi Daya,
Petambak Garam Kecil, dan
Penggarap Tambak Garam,
termasuk keluarganya.
13. 49 Pemerintah Pusat memberi
fasilitas penyuluhan dan
pendampingan kepada Nelayan,
Pembudi Daya Ikan, dan
Petambak Garam, termasuk
keluarganya.

Pemberian fasilitas penyuluhan
berupa pembentukan lembaga
penyuluhan dan penyediaan
penyuluh.

Penyediaan penyuluh paling
sedikit terdiri atas 3 (tiga) orang
penyuluh dalam 1 (satu) kawasan
potensi kelautan dan Perikanan.

Pendampingan dapat dilakukan
oleh penyuluh.
14. 50 Memfasilitasi kemitraan Usaha
Perikanan atau Usaha Pergaraman
15. 52-53 Memberikan kemudahan akses
ilmu pengetahuan, teknologi, dan
informasi.

Kemudahan akses meliputi: a.
penyebarluasan ilmu pengetahuan
dan teknologi; b. kerja sama alih
teknologi; dan c. penyediaan
fasilitas bagi Nelayan, Pembudi
Daya Ikan, dan Petambak Garam
untuk mengakses ilmu
pengetahuan, teknologi, dan

129

n Lampiran 175
informasi.

Penyediaan informasi memuat
informasi tentang: a. potensi
sumber daya ikan dan migrasi
ikan; b. potensi lahan dan air; c.
sarana produksi; d. ketersediaan
bahan baku; e. harga ikan; f. harga
garam; g. peluang dan tantangan
pasar; h. prakiraan iklim, cuaca,
dan tinggi gelombang laut; i.
wabah penyakit ikan; j.
pendidikan, pelatihan,
penyuluhan, dan pendampingan;
dan k. pemberian subsidi dan
bantuan modal.

(2) Kementerian dan/atau
lembaga Pemerintah non-
Kementerian yang berwenang
terhadap informasi berkewajiban
menyampaikan kepada pusat data
dan informasi Perikanan dan
Pergaraman.

Penyediaan informasi dilakukan
oleh pusat data dan informasi
Perikanan dan Pergaraman.

Informasi harus akurat dan cepat
berdasarkan data yang mutakhir.

Pusat data dan informasi
Perikanan dan Pergaraman
berkewajiban menyajikan
informasi secara akurat, mutakhir,
dan dapat diakses dengan mudah
dan cepat oleh Nelayan, Pembudi
Daya Ikan, Petambak Garam,
termasuk keluarga Nelayan dan
Pembudi Daya Ikan yang
melakukan pengolahan dan
pemasaran serta Pelaku Usaha
dan/atau masyarakat.
16. 54 Melakukan pembinaan untuk
pengembangan Kelembagaan
yang telah terbentuk.

130

176 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Dalam hal Kelembagaan belum
terbentuk, Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah berkewajiban
mendorong dan memfasilitasi
terbentuknya Kelembagaan.

Pengembangan dan pembentukan
Kelembagaan dilaksanakan
dengan mempertimbangkan
budaya, norma, nilai, potensi, dan
kearifan lokal.
17. 59-68 Pendanaan untuk kegiatan
Perlindungan dan Pemberdayaan
Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan
Petambak Garam bersumber dari:
a. anggaran pendapatan dan
belanja negara; b. anggaran
pendapatan dan belanja daerah;
dan/atau c. dana lainnya yang sah
sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Pembiayaan dilakukan untuk
mengembangkan Usaha
Perikanan atau Usaha Pergaraman
melalui: a. lembaga perbankan; b.
lembaga pembiayaan; dan/atau c.
lembaga penjaminan.

Pembiayaan dapat dilakukan
penjaminan oleh Pemerintah
Pusat dan Pemerintah Daerah.

Pemerintah Pusat dan Pemerintah
Daerah berkewajiban
memfasilitasi bantuan pendanaan
dan bantuan pembiayaan bagi
Nelayan Kecil, Nelayan
Tradisional, Nelayan Buruh,
Pembudi Daya Ikan Kecil,
Penggarap Lahan Budi Daya,
Petambak Garam Kecil, dan
Penggarap Tambak Garam,
termasuk keluarga Nelayan dan
Pembudi Daya Ikan yang
melakukan pengolahan dan

131

n Lampiran 177
pemasaran.

Fasilitasi bantuan pendanaan dan
bantuan pembiayaan dilakukan
dengan: a. pinjaman modal untuk
sarana dan prasarana Usaha
Perikanan atau Usaha
Pergaraman; b. pemberian subsidi
bunga kredit dan/atau imbal jasa
Penjaminan; dan/atau c.
pemanfaatan dana tanggung
jawab sosial serta dana program
kemitraan dan bina lingkungan
dari badan usaha

Dalam melaksanakan
Perlindungan dan Pemberdayaan
Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan
Petambak Garam, Pemerintah
Pusat dan Pemerintah Daerah
menugasi badan usaha milik
negara atau badan usaha milik
daerah bidang perbankan, baik
dengan prinsip konvensional
maupun syariah untuk melayani
kebutuhan pembiayaan Usaha
Perikanan dan Usaha Pergaraman.

Dalam rangka melayani
kebutuhan pembiayaan Usaha
Perikanan dan Usaha Pergaraman
badan usaha milik negara atau
badan usaha milik daerah bidang
perbankan dapat membentuk unit
kerja yang mengelola kredit usaha
mikro, kecil, dan menengah,
termasuk Usaha Perikanan dan
Usaha Pergaraman.

Pelayanan kebutuhan pembiayaan
oleh unit kerja dilaksanakan
dengan prosedur yang sederhana,
mudah, dan persyaratan yang
lunak serta dengan
memperhatikan prinsip kehati-
hatian.

132

178 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Untuk melaksanakan penyaluran
kredit dan/atau pembiayaan
Usaha Perikanan dan Usaha
Pergaraman, pihak bank berperan
aktif membantu Nelayan,
Pembudi Daya Ikan, dan
Petambak Garam agar: a.
memenuhi persyaratan
memperoleh kredit dan/atau
pembiayaan; dan b. mudah
mengakses fasilitas perbankan.

Dalam melaksanakan
Perlindungan dan Pemberdayaan
Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan
Petambak Garam, Pemerintah
Pusat dan Pemerintah Daerah
dapat menugasi lembaga
pembiayaan Pemerintah Pusat
atau lembaga pembiayaan
Pemerintah Daerah untuk
melayani Nelayan, Pembudi Daya
Ikan, dan Petambak Garam dalam
memperoleh pembiayaan Usaha
Perikanan dan Usaha Pergaraman,
baik dengan prinsip konvensional
maupun syariah sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-
undangan.

Untuk melaksanakan penyaluran
kredit dan/atau pembiayaan bagi
Nelayan, Pembudi Daya Ikan, dan
Petambak Garam, pihak Lembaga
Pembiayaan berperan aktif
membantu Nelayan, Pembudi
Daya Ikan, dan Petambak Garam
agar: a. memenuhi persyaratan
memperoleh kredit dan/atau
pembiayaan; dan b. memperoleh
fasilitas kredit dan/atau
pembiayaan.
18. 71-72 Masyarakat dapat berpartisipasi dalam
penyelenggaraan Perlindungan dan
Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya
Ikan, dan Petambak Garam.

133

n Lampiran 179
Partisipasi masyarakat dapat dilakukan
secara perseorangan dan/atau
berkelompok.

Partisipasi masyarakat dapat dilakukan
terhadap: a. penyusunan perencanaan; b.
Perlindungan Nelayan, Pembudi Daya
Ikan, dan Petambak Garam; c.
Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya
Ikan, dan Petambak Garam; d.
pendanaan dan pembiayaan; dan e.
pengawasan.

Lampiran 3

Deklarasi Hak Asasi Petani – Perempuan dan Laki-laki
La Via Campesina
Jakarta, Indonesia

Petani di Seluruh Dunia Membutuhkan Konvensi Internasional Hak Asasi Petani

I. Pendahuluan

Hampir setengah dari populasi dunia adalah petani. Bahkan di era teknologi tinggi, manusia
memakan pangan yang dihasilkan oleh petani. Pertanian skala kecil bukan hanya sekedar kegiatan
ekonomi; tapi juga kehidupan bagi kita semua. Keamanan dunia bergantung pada kehidupan petani
dan keberlangsungan pertanian. Untuk melindungi kehidupan umat manusia sangatlah penting untuk
menghormati, melindungi dan memenuhi hak asasi petani. Kenyataannya, sejumlah pelanggaran
terhadap hak-hak petani terus mengancam kehidupan umat manusia.

II. Pelanggaran Hak-Hak Petani
 Jutaan petani telah dipaksa untuk meninggalkan lahan pertanian mereka karena pengambilan
lahan yang difasilitasi oleh kebijakan nasional dan/atau militer. Lahan diambil dari petani untuk
pembangunan industri skala besar atau proyek-proyek infrastruktur, industri ekstraksi seperti
pertambangan, kawasan wisata, kawasan ekonomi khusus, supermarket dan perkebunan untuk
menghasilkan cash crops. Hasilnya, jumlah lahan hanya terkonsentrasi pada beberapa pihak.
 Negara-negara mengabaikan keadaan dimana sektor pertanian dan petani menerima pendapatan
yang tak layak dari hasil produksi pertaniannya.
 Tanaman monokultur untuk menghasilkan bahan bakar nabati dan untuk kegunaan industri
lainnya didorong demi keuntungan modal agribisnis dan transnasional; hal ini menyebabkan
kerusakan hutan, air, lingkungan, dan kehidupan sosial ekonomi petani.
 Terjadi peningkatan militerisasi dan konflik bersenjata di daerah pedesaan dengan dampak
terburuk terhadap pemenuhan hak-hak sipil dari para petani.
 Karena kehilangan tanah, masyarakat petani juga kehilangan bentuk-bentuk pemerintahan
sendiri, kedaulatan, dan identitas kebudayaannya.

134

180 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Lampiran 3.
Lampiran 3

Deklarasi Hak Asasi Petani – Perempuan dan Laki-laki
La Via Campesina
Jakarta, Indonesia

Petani di Seluruh Dunia Membutuhkan Konvensi Internasional Hak Asasi Petani

I. Pendahuluan

Hampir setengah dari populasi dunia adalah petani. Bahkan di era teknologi tinggi, manusia
memakan pangan yang dihasilkan oleh petani. Pertanian skala kecil bukan hanya sekedar kegiatan
ekonomi; tapi juga kehidupan bagi kita semua. Keamanan dunia bergantung pada kehidupan petani
dan keberlangsungan pertanian. Untuk melindungi kehidupan umat manusia sangatlah penting
untuk menghormati, melindungi dan memenuhi hak asasi petani. Kenyataannya, sejumlah
pelanggaran terhadap hak-hak petani terus mengancam kehidupan umat manusia.

II. Pelanggaran Hak-Hak Petani
 Jutaan petani telah dipaksa untuk meninggalkan lahan pertanian mereka karena pengambilan
lahan yang difasilitasi oleh kebijakan nasional dan/atau militer. Lahan diambil dari petani untuk
pembangunan industri skala besar atau proyek-proyek infrastruktur, industri ekstraksi seperti
pertambangan, kawasan wisata, kawasan ekonomi khusus, supermarket dan perkebunan untuk
menghasilkan cash crops. Hasilnya, jumlah lahan hanya terkonsentrasi pada beberapa pihak.
 Negara-negara mengabaikan keadaan dimana sektor pertanian dan petani menerima
pendapatan yang tak layak dari hasil produksi pertaniannya.
 Tanaman monokultur untuk menghasilkan bahan bakar nabati dan untuk kegunaan industri
lainnya didorong demi keuntungan modal agribisnis dan transnasional; hal ini menyebabkan
kerusakan hutan, air, lingkungan, dan kehidupan sosial ekonomi petani.
 Terjadi peningkatan militerisasi dan konflik bersenjata di daerah pedesaan dengan dampak
terburuk terhadap pemenuhan hak-hak sipil dari para petani.
 Karena kehilangan tanah, masyarakat petani juga kehilangan bentuk-bentuk pemerintahan
sendiri, kedaulatan, dan identitas kebudayaannya.
 Meningkatnya penggunaan pangan untuk tujuan-tujuan spekulasi.
 Kriminalisasi perjuangan petani.
 Perbudakan, kerja paksa, dan tenaga kerja anak masih terjadi di daerah pedesaan.
 Hak-hak perempuan dan anak-anak adalah yang paling terkena dampak. Perempuan adalah
korban kekerasan psikologis, fisik dan ekonomi. Mereka didiskriminasi dari akses terhadap
tanah dan sumber-sumber produktif, serta dipinggirkan dalam proses pembuatan keputusan.
 Petani telah kehilangan banyak benih-benih lokal. Keanekaragaman hayati dihancurkan oleh
penggunaan pupuk kimia, benih-benih hibrida dan organisme-organisme yang dimodifikasi
secara genetika (transgenik atau GMOs), yang dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan
transnasional.
 Berkurangnya akses terhadap pelayanan kesehatan dan pendidikan di daerah pedesaan serta
peran petani dalam politik dikurangi.
 Sebagai akibat dari pelanggaran hak-hak petani, saat ini jutaan petani hidup dalam kelaparan
dan malnutrisi. Hal ini bukan karena jumlah pangan yang ada di dunia tidak cukup, tapi karena
sumber-sumber pangan didominasi oleh perusahaan-perusahaan transnasional. Petani dipaksa
untuk menghasilkan pangan untuk ekspor daripada menghasilkan pangan untuk
masyarakatnya.
 Krisis dalam sektor pertanian menyebabkan perpindahan (migrasi) dan terusir serta hilangnya
petani dan masyarakat adat dalam jumlah besar.

n Lampiran 181
III. Kebijakan Neoliberalisme Memperburuk Pelanggaran Hak Asasi Petani

Pelanggaran hak asasi petani sedang meningkat dikarenakan penerapan kebijakan neoliberalisme
yang didorong oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), berbagai kesepakatan perdagangan
bebas (FTAs), lembaga-lembaga lain, dan banyak pemerintahan negara-negara Utara dan Selatan.
WTO dan FTAs memaksa pembukaan pasar dan mencegah negara-negara untuk memberikan
proteksi dan dukungan terhadap pertanian domestiknya. Mereka mendorong deregulasi dalam
sektor pertanian.

Pemerintah negara-negara maju dan perusahaan-perusahaan transnasional bertanggung jawab atas
praktek-praktek perdagangan dumping. Pangan murah bersubsidi membanjiri pasar lokal yang
selanjutnya menyebabkan petani bangkrut.

WTO dan lembaga-lembaga lainnya memaksakan pengenalan pangan seperti organisme yang telah
dimodifikasi secara genetik (GMOs) dan penggunaan hormon pertumbuhan yang tidak aman
dalam produksi daging. Sementara itu, mereka melarang pemasaran produk-produk sehat yang
dihasilkan oleh petani melalui hambatan-hambatan kesehatan (sanitary barriers).

Dana Moneter Internasional (IMF) telah menerapkan program penyesuaian struktural (Structural
Adjustment Programs-SAPs) yang membawa pada pemotongan besar-besaran subsidi untuk
pertanian dan pelayanan sosial. Negara-negara telah dipaksa untuk memprivatisasi perusahaan-
perusahaan negara dan untuk melepaskan mekanisme dukungan pemerintah dalam sektor
pertanian.

Kebijakan-kebijakan nasional dan internasional, secara langsung maupun tidak, memberikan
prioritas bagi peru sahaan-perusahaan transnasional atau produksi pangan dan perdagangan.
Perusahaan-perusahaan transnasional juga melakukan pembajakan makhluk hidup (biopiracy) dan
menghancurkan sumber-sumber genetika serta keanekaragaman hayati yang diolah oleh petani.
Logika kapitalis tentang akumulasi modal telah mengacaukan pertanian yang umumnya berskala
kecil.

IV. Perjuangan Petani untuk Menegakkan dan Melindungi Hak-hak Mereka

Menghadapi kenyataan ini, petani di seluruh dunia terus berjuang untuk hidup. Di seluruh dunia
ribuan pemimpin petani ditangkap karena memperjuangkan hak-hak dan kehidupan mereka.
Mereka dibawa ke pengadilan dengan sistem peradilan yang tidak adil, pembunuhan massal,
pembunuhan ekstrayudisial, penangkapan dan penahanan yang sewenang-wenang, serta
penganiayaan dan pelecehan—keseluruhannya merupakan hal yang dialami petani.

Krisis pangan global pada tahun 2008 yang dipercepat dan diperburuk oleh kebijakan-kebijakan
dan perusahaan transasional (yang secara unilateral bertindak menurut kepentingannya sendiri)
jelas-jelas menunjukkan kegagalan dalam mendorong, menghormati, melindungi, dan memenuhi
hak asasi petani. Hal ini mempengaruhi semua orang di seluruh dunia, baik di negara maju maupun
di negara berkembang. Sementara petani bekerja keras untuk menjamin keberlangsungan benih
dan pangan, pelanggaran terhadap hak asasi petani menghancurkan kemampuan dunia untuk
memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.

Perjuangan petani berlaku sepenuhnya pada kerangka Hak Asasi Manusia (HAM) internasional
yang mencakup instrumen dan mekanisme tematik Dewan HAM PBB, yang mengatur tentang hak
atas pangan, hak atas tempat tinggal, akses terhadap air bersih, hak atas kesehatan, pembela hak

182 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
asasi manusia, masyarakat adat, rasisme dan diskriminasi rasial, dan hak-hak perempuan. Instrumen
internasional PBB ini tidak secara menyeluruh mencakup atau mencegah pelanggaran hak asasi
manusia terutama hak asasi petani. Kita melihat beberapa keterbatasan Kovenan Internasional
Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (ICESCR) sebagai alat untuk melindungi hak petani. Selain
itu, Piagam Petani yang dibuat oleh FAO pada tahun 1979, tidak dapat melindungi para petani dari
kebijakan liberalisasi internasional. Konvensi internasional lain yang berhubungan dengan hak asasi
petani juga tidak dapat diterapkan. Konvensi-konvensi tersebut termasuk: Konvensi ILO 169,
Klausul 8-J Konvensi Keanekaragaman Hayati, Poin 14.60 Agenda 21, dan Protokol Cartagena.

V. Petani membutuhkan Konvensi International Hak Asasi Petani

Dikarenakan keterbatasan dari konvensi dan resolusi tersebut, adalah penting untuk menciptakan
instrumen internasional untuk menghormati, melindungi, memenuhi dan menegakan hak asasi
petani—sebuah Konvensi Internasional Hak Asasi Petani. Telah terdapat konvensi-konvensi untuk
melindungi kelompok-kelompok yang rentan seperti masyarakat adat, perempuan, anak-anak atau
pekerja migran. Konvensi Internasional Hak Asasi Petani akan berisikan nilai-nilai dari hak para
petani yang akan dihormati, dilindungi, dan dipenuhi oleh pemerintah dan lembaga internasional.
Konvensi Internasional Hak Asasi Petani ini di masa depan akan didukung dengan protokol-
protokol pilihan (optional protocols) untuk memastikan implementasinya.

Pada Konferensi Regional Hak Asasi Petani pada April 2002, La Via Campesina telah
memformulasikan Deklarasi Hak Asasi Petani melalui serangkaian aktifitas termasuk workshop
tentang Hak Asasi Petani di Medan, Sumatera Utara, tahun 2000, Konferensi Reforma Agraria dan
Hak Asasi Petani di Jakarta pada April 2001, Konferensi Regional Hak Asasi Petani di Jakarta pada
April 2002 dan Konferensi Internasional Hak Asasi Petani yang juga dilaksanakan di Jakarta pada
Juni 2008. Jadi Teks deklarasi disertakan dalam dokumen ini, merupakan inisiatif petani dan
organisasi tani di Indonesia yang kemudian menjadi milik bersama petani didunia. Hal ini akan
membentuk dasar dari Konvensi Internasional Hak Asasi Petani, untuk dielaborasi lebih lanjut
dengan PBB dengan partisipasi penuh La Via Campesina dan wakil-wakil lainnya dari masyarakat
sipil.

Kita menantikan dukungan dari masyarakat yang peduli terhadap perjuangan petani dan
mempromosikan serta melindungi hak asasi petani.

Deklarasi Hak Asasi Petani - Laki-laki dan Perempuan

Petani di Seluruh Dunia Membutuhkan Konvensi Internasional Hak Asasi Petani

n Lampiran 183
Deklarasi

Menyatakan bahwa petani, laki-laki dan perempuan, adalah setara seperti rakyat pada umumnya dan
dalam melaksanakan hak-hak mereka secara bebas dari segala bentuk diskriminasi berdasarkan ras,
warna kulit, jenis kelamin, agama, pendapat politik atau pendapat lainnya, asal negara atau sosial,
kepemilikan, kekayaan, kelahiran dan status lainnya;

Mengakui bahwa Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM), Kovenan Internasional
tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, dan Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil
dan Politk sekaligus Deklarasi Vienna dan Program Aksinya menyatakan universalitas, kesatuan
dan saling keterkaitan antara hak asasi, sipil, budaya, ekonomi, politik dan sosial;

Menekankan bahwa di dalam Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya,
negara telah berusaha untuk memastikan realisasi hak untuk pemenuhan standar kehidupan kita
dan keluarga kita, termasuk hak atas pangan dan hak untuk merdeka dari kelaparan melalui reforma
agraria sejati;

Menekankan bahwa berdasarkan Deklarasi PBB tentang Hak-Hak Masyarakat Adat, semua
masyarakat adat, termasuk petani, memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri dan berdasarkan
hak tersebut mereka bebas untuk menentukan status politik dan bebas mengembangkan ekonomi,
sosial dan budaya mereka, juga mempunyai hak otonom berkaitan dengan hubungan internal dan
lokal, serta cara-cara dan alat untuk mendukung fungsi-fungsi otonom mereka;

Menyerukan kembali bahwa banyak petani diseluruh dunia telah berjuang selama ini untuk
pengakuan atas hak-hak mereka dan demi masyarakat yang adil dan merdeka;

Menimbang bahwa kondisi pertanian saat ini mengancam kehidupan petani, memperburuk
lingkungan, menurunkan produktivitas petani dan menurunnya mata pencaharian dari para petani;

Menimbang bahwa kondisi petani yang memburuk dikarenakan pengecualian atas petani dari
keputusan pembuatan kebijakan, dikarenakan penggunaan militer dan/atau kelompok paramiliter
untuk menggusur petani dan memperbolehkan perusahaan transnasional untuk mengeksploitasi
kekayaan alam;

Menimbang bahwa gobalisasi kapitalisme yang dibingkai dalam perjanjian internasional telah
berakibat negatif dalam kehidupan petani;

Menimbang bahwa para petani berjuang dengan sumber daya mereka sendiri dan dengan kelompok-
kelompok lain yang mendukung tuntutan petani demi kehidupan, perlindungan lingkungan dan
kenaikan produksi;

Menimbang bahwa meningkatnya konsentrasi sistem pangan di dunia di tangan segelintir perusahaan
transnasional;

Menimbang bahwa para petani dari kelompok sosial yang spesifik serta rentan sehingga realisasi hak
asasi petani membutuhkan ukuran khusus untuk menghormati, melindungi dan memenuhi secara
utuh hak asasi manusia yang dimiliki petani yang terabadikan dalam hukum hak asasi internasional;

Mengakui bahwa petani berskala kecil, perikanan, peternak dapat berkontribusi untuk mitigasi krisis
iklim dan melindungi produksi pangan yang berkelanjutan bagi semua;

184 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Mengingatkan negara untuk menyepakati dengan dan menerapkan implementasi seluruh kewajiban
yang akan diaplikasikan kepada para petani di bawah instrumen internasional, terutama yang
berhubungan dengan hak asasi, berkonsultasi dan bekerjasama dengan para petani;

Mempercayai bahwa deklarasi ini merupakan langkah penting ke depan untuk mengakui,
mempromosikan dan melindungi hak dan kebebasan dari para petani, termasuk mengelaborasi dan
mengadopsi Konvensi Internasional Hak Asasi Petani;

Mengakui dan menyatakan kembali bahwa para petani diakui tanpa diskriminasi terhadap seluruh
hak asasi yang diakui hukum internasional;
Secara sungguh-sungguh mengadopsi Deklarasi Hak Asasi Petani di bawah ini:

Pasal I
Definisi Petani: Pemegang Hak

Seorang petani ialah laki-laki atau perempuan yang memiliki hubungan langsung dan khusus
dengan tanah dan alam melalui produksi pangan dan/atau hasil pertanian lainnya. Para petani
menggarap tanah sendiri terutama mengandalkan tenaga kerja dari keluarga dan pengorganisasian
tenaga kerja berskala kecil lainnya. Petani secara tradisional melekat erat di dalam komunitas lokal
mereka dan mereka merawat bentangan lokal dan dengan sistem agroekologi.

Istilah petani dapat diterapkan kepada siapapun yang berhubungan dengan pertanian,
peternakan, penggembalaan, kerajinan tangan atau pekerjaan-pekerjaan terkait di wilayah pedesaan,
termasuk juga masyarakat adat yang mengolah lahan.

Istilah petani juga dapat diterapkan kepada masyarakat tak bertanah. Menurut FAO (1984)
definisi (1) kategori orang-orang berikut ini dipertimbangkan sebagai tak bertanah dan memiliki
kecenderungan untuk menghadapi kesulitan dalam penghidupan mereka: 1. Rumah tangga pekerja
pertanian / buruh tani dengan sedikit lahan atau tanpa lahan sama sekali; 2. Rumah tangga non-
pertanian di wilayah pedesaan, dengan kepemilikan kecil lahan atau tanpa lahan sama sekali yang
para anggota keluarganya terlibat dalam berbagai kegiatan seperti menangkap ikan, membuat
kerajinan tangan untuk pasar lokal, atau menyediakan jasa; 3. Rumah tangga pedesaan lainnya
seperti rumah tangga penggembala, masyarakat nomaden/berpindah, petani yang berpindah setiap
panen, pemburu dan peramu, dan orang-orang dengan penghidupan yang serupa.

Pasal II
Hak Asasi Petani

1. Petani perempuan dan laki-laki memiliki kesetaraan hak.
2. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk menikmati secara penuh, secara
kolektif atau individual, seluruh hak asasi manusia dan kebebasan fundamental
sebagaimana yang diakui dalam Piagam PBB, yaitu DUHAM dan hukum HAM
internasional.
3. Petani (laki-laki dan perempuan) bebas dan setara dengan semua orang dan individu lain
serta memiliki hak untuk bebas dari semua jenis diskriminasi dalam penerapan hak mereka,
khususnya bebas dari diskriminasi berdasarkan status ekonomi dan sosial budaya mereka.
4. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk turut serta secara aktif dalam
merancang kebijakan, pengambilan keputusan, penerapannya, dan pengawasan proyek,
program, atau kebijakan yang berpengaruh terhadap wilayah mereka.

n Lampiran 185
Pasal III
Hak Atas Kehidupan dan atas Standar Kehidupan yang Layak

1. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak atas integritas fisik dan hak untuk tidak
dilecehkan, diusir, dianiaya, ditahan dengan sewenang-wenang dan dibunuh karena
mempertahankan hak mereka.
2. Petani perempuan memiliki hak untuk dilindungi dari kekerasan dalam rumah tangga
(kekerasan fisik, seksual, verbal, dan psikologis).
3. Perempuan memiliki hak untuk mengendalikan tubuhnya dan untuk menolak penggunaan
tubuhnya untuk tujuan komersial. Semua jenis perdagangan manusia (terutama
perempuan) adalah tindakan yang tidak berperikemanusiaan dan harus dikutuk.
4. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak atas kehidupan yang bermartabat.
5. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak atas pangan yang layak, sehat, bergizi, dan
terjangkau, serta untuk mempertahankan budaya-budaya pangan tradisionalnya.
6. Petani (laki-laki dan perempuan) memliki hak atas standar kesehatan fisik dan mental
tertinggi yang dapat dicapai. Selanjutnya, mereka juga memiliki hak atas akses terhadap
pelayanan kesehatan dan obat-obatan, bahkan ketika mereka tinggal di daerah terpencil.
Mereka juga memiliki hak untuk menggunakan dan mengembangkan obat-obatan
tradisional.
7. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak atas kehidupan yang sehat, dan tidak
dipengaruhi oleh kontaminasi agrokimia (seperti pestisida dan pupuk kimia yang
menimbulkan masalah kesuburan dan terkontaminasinya air susu ibu).
8. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk menentukan berapa jumlah anak yang
ingin mereka miliki, dan tentang metode kontrasepsi yang ingin mereka gunakan.
9. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk realisasi penuh atas hak-hak seksual
dan reproduksinya.
10. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk mendapatkan air bersih, fasilitas
transportasi, listrik, komunikasi dan hiburan.
11. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan
pelatihan.
12. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak atas pendapatan yang layak untuk memenuhi
kebutuhan dasar mereka dan keluarganya.
13. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak atas sandang dan papan yang layak.
14. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk mengonsumsi hasil pertanian mereka
sendiri dan untuk menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga mereka,
dan petani juga memiliki hak untuk mendistribusikan hasil pertanian mereka kepada orang-
orang lain.
15. Hak petani (laki-laki dan perempuan) terhadap kehidupan dan pemenuhan dasar petani
harus dilindungi oleh hukum dan oleh negara, dengan bantuan dan kerjasama pihak-pihak
lain, tanpa diskriminasi apapun.

Pasal IV
Hak atas Tanah dan Teritori

1. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk memiliki lahan secara kolektif atau
individual, untuk tempat tinggal dan pertanian mereka.
2. Petani (laki-laki dan perempuan) dan keluarga mereka memiliki hak untuk menggarap lahan
mereka sendiri dan untuk memproduksi hasil pertanian, untuk beternak, berburu dan
meramu dan untuk menangkap ikan di teritori mereka.

186 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
3. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk menggarap dan memiliki tanah negara
yang tidak produktif yang mana mereka bergantung padanya untuk penghidupan mereka.
4. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak atas air bersih dan sanitasi yang layak.
5. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak atas air untuk irigasi dan produksi pertanian
mereka dalam sistem produksi berkelanjutan yang dikendalikan oleh komunitas lokal.
6. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk mengatur sumber air di teritori
mereka.
7. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak atas dukungan, dengan cara fasilitasi,
teknologi dan pendanaan dari negara untuk pengaturan sumber air.
8. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk mengatur, melestarikan dan
mendapatkan manfaat dari hutan.
9. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk menolak segala jenis pengambilalihan
dan pengalihfungsian lahan, khususnya untuk tujuan ekonomi.
10. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki memiliki keamanan untuk hak milik atas lahan
dan teritori mereka dan dan untuk tidak diusir secara paksa dari lahan dan teritori tersebut.
11. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak atas tanah pertanian yang dapat diirigasi
untuk memastikan kedaulatan pangan rakyat.
12. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk mendapatkan manfaat dari land reform.
Kepemilikan lahan yang sangat besar tidak boleh diizinkan. Tanah harus digunakan untuk
memenuhi fungsi sosial. Batas tertinggi kepemilikan lahan harus diberlakukan kapanpun
dibutuhkan untuk memastikan akses yang adil terhadap tanah.
13. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk mempertahankan dan memperkuat
lembaga-lembaga politik, hukum, ekonomi, sosial dan budaya mereka yang khas, sementara
memelihara hak mereka untuk turut serta secara penuh, jika mereka memilih demikian,
dalam kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya dalam negara.

Pasal V
Hak atas Benih serta Pengetahuan dan Praktek Pertanian Tradisional

1. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk menentukan varietas benih apa yang
akan mereka tanam.
2. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk menolak varietas-varietas tanaman
yang mereka anggap berbahaya secara ekonomi, lingkungan dan budaya.
3. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk menolak model pertanian industrial.
4. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk melestarikan dan mengembangkan
pengetahuan lokal mereka dalam pertanian, perikanan, dan peternakan.
5. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk menggunakan fasilitas pertanian,
perikanan, dan peternakan.
6. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk memilih sendiri produk, varietas,
jumlah, kualitas dan juga untuk memilih cara bertani, penangkapan ikan, dan beternak
mereka; secara individual maupun kolektif.
7. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk menggunakan teknologi mereka
sendiri ataupun teknologi lain yang mereka pilih berdasarkan prinsip perlindungan atas
kesehatan manusia dan pelestarian lingkungan.
8. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk menanam dan mengembangkan
varietas lokal mereka, serta untuk saling menukar, memberi atau menjual benih mereka.
9. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak atas kedaulatan pangan.

n Lampiran 187
Pasal VI
Hak atas Permodalan dan Sarana Produksi Pertanian

1. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk mendapatkan dana dari pemerintah
untuk mengembangkan pertanian.
2. Petani (laki-laki dan perempuan) harus memiliki akses atas kredit untuk kegiatan pertanian
mereka.
3. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk mendapatkan bahan-bahan dan alat-
alat yang mereka gunakan untuk kegiatan pertanian.
4. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak atas air untuk irigasi dan untuk produksi
pertanian dengan sistem yang berkelanjutan yang dikendalikan oleh komunitas lokal.
5. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak atas fasilitas transportasi, pengeringan, dan
penyimpanan dalam memasarkan produk mereka.
6. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki memiliki hak untuk berpartisipasi aktif dalam
perencanaan, penyusunan, pengambilan keputusan atas anggaran untuk pertanian lokal dan
nasional.

Pasal VII
Hak atas Informasi dan Teknologi Pertanian

1. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk mendapatkan informasi yang
menyeluruh dan imparsial mengenai permodalan, pasar, kebijakan, harga, teknologi, dan
lain-lain, yang berkaitan dengan kebutuhan petani.
2. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk mendapatkan informasi mengenai
kebijakan-kebijakan nasional dan internasional.
3. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk mendapatkan bantuan teknis, alat-alat
produsi dan teknologi lain yang sesuai dalam rangka meningkatkan produktivitas mereka,
dengan cara yang menghormati nilai-nilai sosial, kebudayaan dan etis mereka.
4. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak atas informasi yang penuh dan imparsial
tentang barang dan jasa, untuk memutuskan bagaimana mereka akan melakukan kegiatan
produksi dan konsumsi mereka.
5. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk mendapatkan informasi yang
memadai mengenai pelestarian sumber daya genetik di tingkatan nasional dan
internasional.

Pasal VIII
Kebebasan untuk Menentukan Harga dan Pasar untuk Produksi Pertanian

1. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk memprioritaskan produksi pertanian
mereka untuk keluarga mereka dan kebutuhan masyarakat.
2. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk menyimpan produksi mereka untuk
memastikan terpenuhinya kebutuhan dasar mereka dan keluarga mereka.
3. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk memelihara pasar-pasar tradisional
lokal.
4. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk mendapatkan harga yang
menguntungkan untuk produksi mereka.
5. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk menentukan harga secara individual
atau kolektif.
6. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk mendapatkan pembayaran yang
setimpal dari pekerjaan mereka, dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar mereka dan

188 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
keluarga mereka.
7. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk mendapatkan harga yang setimpal
untuk produksi mereka.
8. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak atas suatu sistem evaluasi yang adil atas
kualitas produk mereka secara nasional dan/atau internasional.
9. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk mengembangkan sistem
komersialisasi yang berlandaskan komunitas untuk menjamin kedaulatan pangan.

Pasal IX
Hak atas Perlindungan Nilai-nilai Pertanian

1. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak atas pengakuan dan perlindungan
kebudayaan dan nilai-nilai pertanian lokal mereka.
2. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk mengembangkan dan melestarikan
pengetahuan lokal mereka dalam pertanian.
3. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk menolak intervensi yang dapat
menghancurkan nilai-nilai pertanian lokal.
4. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk dihormati spiritualitasnya sebagai
individu dan sebagai masyarakat.

Pasal X
Hak atas Keanekaragaman Hayati

1. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak atas perlindungan dan pemeliharaan
keanekaragaman hayati.
2. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk menanam, mengembangkan dan
melestarikan keanekaragaman hayati secara individual maupun kolektif.
3. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk menolak hak paten yang mengancam
keanekaragaman hayati termasuk dalam tanaman, pangan dan obat-obatan.
4. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk menolak hak kekayaan intelektual atas
barang, jasa, sumber daya, dan pengetahuan yang dimiliki, dipertahankan, ditemukan,
dikembangkan atau diproduksi oleh komunitas lokal. Petani tidak boleh dipaksa untuk
menerapkan hak atas kekayaan intelektual tersebut.
5. Petani (laki-laki dan perempuan), secara individual ataupun kolektif memiliki hak untuk
mempertahankan, mempertukarkan dan melestarikan keanekaragaman hayati dan genetis
sebagai kekayaan sumber daya dari masyarakat lokal dan masyarakat adat.
6. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk menolak mekanisme-mekanisme
sertifikasi yang diciptakan oleh perusahaan transnasional. Skema-skema penjaminan lokal
yang dijalankan oleh organisasi-organisasi petani dengan dukungan negara harus
dipromosikan dan dilindungi.

Pasal XI
Hak atas Pelestarian Lingkungan

1. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak atas lingkungan yang bersih dan sehat.
2. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk melestarikan lingkungan berdasarkan
pengetahuan mereka.
3. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk menolak segala bentuk eksploitasi
yang menyebabkan kerusakan lingkungan.
4. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk menuntut dan mengklaim kompensasi

n Lampiran 189
untuk kerusakan lingkungan.
5. Petani(laki-laki dan perempuan) memiliki hak atas ganti rugi dari utang ekologis dan
perampasan teritori mereka secara historis maupun yang sedang terjadi.

Pasal XII
Kebebasan Berkumpul, Beropini dan Berekspresi

1. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak atas kebebasan berkumpul dengan orang-
orang lainnya, dan untuk mengekspresikan pendapat mereka, sesuai dengan tradisi dan
kebudayaan mereka, termasuk melalui klaim, petisi dan mobilisasi di tingkat lokal, regional,
nasional dan internasional.
2. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk membentuk dan mengikuti
organisasi-organisasi petani independen, serikat buruh, koperasi, atau organisasi dan
asosiasi lainnya, untuk perlindungan kepentingan mereka.
3. Petani (laki-laki dan perempuan), secara individu maupun kolektif, memiliki hak untuk
berekspresi dalam bahasa lokal dan adat mereka, dalam budaya lokal, agama, literatur
budaya dan seni lokal mereka.
4. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk tidak dikriminalisasikan atas klaim
dan perjuangan mereka.
5. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk melawan opresi dan melakukan aksi
damai untuk melindungi hak mereka.

Pasal XIII
Hak untuk Mendapatkan Akses Terhadap Keadilan

1. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak atas perbaikan dan tindak lanjut (remedy)
yang efektif jika hak-hak mereka dilanggar. Petani memiliki hak terhadap suatu sistem
peradilan yang adil, untuk dapat mendapatkan akses yang efektif dan tidak diskriminatif
terhadap peradilan dan untuk mendapatkan bantuan hukum.
2. Petani (laki-laki danperempuan) memiliki hak untuk tidak dikriminalisasikan atas klaim-
klaim dan perjuangan-perjuangan mereka.
3. Petani (laki-laki dan perempuan) memiliki hak untuk mendapatkan informasi dan bantuan
hukum.

Untuk mencapai konvensi, perlu memasukkan bagian mengenai “tanggung-gugat negara” dan
“mekanisme monitoring (pemantauan) atau mekanisme yang terkait dengan pengukuran”, dan
provisi-provisi lain yang serupa dengan konvensi-konvensi internasional yang lain.

190 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Lampiran 4.
A/hrc/19/75
Lampiran 4
A/HRC/19/75

Declaration on the rights of peasants and other people working in rural areas
The Advisory Committee of the Human Rights Council,

Affirming that peasants are equal to all other people and, in the exercise of their rights,
should be free from any form of discrimination, including discrimination based on race, color, sex,
language, religion, political or other opinion, national or social origin, property, wealth, birth or
other status,
Acknowledging that the Universal Declaration of Human Rights, the International
Covenant on Economic, Social and Cultural Rights and the International Covenant on Civil and
Political Rights, as well as the Vienna Declaration and Program of Action, affirm the universality,
indivisibility and interdependence of all human rights, civil, cultural, economic, political and social,
Emphasizing that in the International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights, States
have undertaken to take appropriate steps to ensure the realization of the right to an adequate
standard of living, including adequate food, and the fundamental right to be free from hunger,
notably through the development and reform of agrarian systems,
Emphasizing that according to the United Nations Declaration on the Rights of
Indigenous Peoples, indigenous peoples, including indigenous peasants, have the right to self-
determination and that by virtue of that right they freely determine their political status and freely
pursue their economic, social and cultural development, having the right to autonomy or self-
government in matters relating to their internal and local affairs, as well as ways and means for
financing their autonomous functions,
Recalling that many peasants all over the world have fought throughout history for the
recognition of their rights and for just and free societies,
Considering that the current development of agriculture, speculation on food products and
large-scale land acquisitions and leases in many parts of the world threaten the lives of millions of
peasants,
Considering the increasing concentration of the food systems in the world in the hands of
a small number of transnational corporations,
Acknowledging that small-scale peasant agriculture, fishing and livestock rearing can
contribute to secure a sustainable food production for all,
Considering that peasants constitute a specific social group which is so vulnerable that the
protection of their rights require special measures to make sure that States respect, protect and
fulfil their human rights,
Believing that this Declaration is an essential step towards the recognition, promotion and
protection of the rights of peasants,
Recognizing and reaffirming that peasants are entitled without discrimination to all human
rights recognized in international law,
Solemnly adopts the following Declaration on the Rights of Peasants:

Article 1 Definition of peasants

1. A peasant is a man or woman of the land, who has a direct and special relationship with the land
and nature through the production of food or other agricultural products. Peasants work the land
themselves and rely above all on family labour and other small-scale forms of organizing labour.
Peasants are traditionally embedded in their local communities and they take care of local
landscapes and of agro-ecological systems.

n Lampiran 191
2. The term peasant can apply to any person engaged in agriculture, cattle-raising, pastoralism,
handicrafts-related to agriculture or a related occupation in a rural area. This includes indigenous
people working on the land.

3. The term peasant also applies to landless. According to the UN Food and Agriculture
Organization definition, the following categories of people are considered to be landless and are
likely to face difficulties in ensuring their livelihood: 1. Agricultural labour households with little
or no land; 2. Non-agricultural households in rural areas, with little or no land, whose members
are engaged in various activities such as fishing, making crafts for the local market, or providing
services; 3. Other rural households of pastoralists, nomads, peasants practising shifting cultivation,
hunters and gatherers, and people with similar livelihoods.

Article 2 Rights of peasants

1. All peasants, women and men, have equal rights.
2. Peasants have the right to the full enjoyment, individually and collectively, of all human
rights and fundamental freedoms as recognized in the Charter of the United Nations, the
Universal Declaration of Human Rights and other international human rights instruments.
3. Peasants are free and equal to all other peoples and have the right to be free from any kind
of discrimination in the exercise of their rights, in particular to be free from discriminations
based on their economic, social and cultural status.
4. Peasants have the right to participate in the policy design, decision making,
implementation, and monitoring of any project, program or policy affecting their land and
territories.
5. Peasants have the right to food sovereignty, which comprises the right to healthy and
culturally appropriate food produced through ecologically sound and sustainable methods,
and the right to define their own food and agriculture systems.

Article 3 Right to life and to an adequate standard of living

1. Peasants have the right to physical integrity, to not be harassed, evicted, persecuted,
arbitrarily arrested, and killed for defending their rights.
2. Peasants have the right to live in dignity.
3. Peasants have the right to an adequate standard of living, which includes the right to an
adequate income to fulfil their basic needs and those of their families.
4. Peasants have the right to adequate, healthy, nutritious, and affordable food, and to
maintain their traditional food cultures.
5. Peasants have the right to consume their own agricultural production and to use this to
satisfy their families’ basic needs, and the right to distribute their agriculture production to
other people.
6. Peasants have the right to safe drinking water, sanitation, means of transportation,
electricity, communication and leisure.
7. Peasants have the right to adequate housing and clothing.
8. Peasants have the right to education and training.
9. Peasants have the right to the highest attainable standard of physical and mental health.
They have the right to have access to health services and medicine, even when they live in
remote areas. They also have the right to use and develop traditional medicine.
10. Peasants have the right to live a healthy life, and not be affected by the contamination of
agrochemicals, such as chemical pesticides and fertilisers.
11. Peasant women have the right to be protected from domestic violence, physical, sexual,
verbal and psychological.

192 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
12. Peasant women have the right to control their own bodies and to reject the use of their
bodies for commercial purposes.
13. Peasants have the right to decide about the number of children they want to have, and
about the contraceptive methods they want to use.
14. Peasants have the right to the full realization of their sexual and reproductive rights.

Article 4 Right to land and territory

1. Peasants have the right to own land, individually or collectively, for their housing and
farming.
2. Peasants and their families have the right to toil on their own land, and to produce
agricultural products, to rear livestock, to hunt and gather, and to fish in their territories.
3. Peasants have the right to toil and own unused land on which they depend for their
livelihood.
4. Peasants have the right to manage, conserve, and benefit from the forests and fishing
grounds.
5. Peasants have the right to security of tenure and not to be forcibly evicted from their lands
and territories. No relocation should take place without free, prior and informed consent
of the peasants concerned and after agreement on just and fair compensation and, where
possible, with the option of return.
6. Peasants have the right to benefit from land reform. Latifundia must not be allowed. Land
has to fulfil its social function. Land ceilings to land ownership should be introduced
whenever necessary in order to ensure an equitable access to land.

Article 5 Right to seeds and traditional agricultural knowledge and practice

1. Peasants have the right to determine the varieties of the seeds they want to plant.
2. Peasants have the right to reject varieties of plants which they consider to be dangerous
economically, ecologically, and culturally.
2. Peasants have the right to reject the industrial model of agriculture.
3. Peasants have the right to conserve and develop their local knowledge in agriculture,
fishing, livestock rearing.
4. Peasants have the right to use the agriculture, fishing, livestock rearing facilities.
5. Peasants have the right to choose their own products and varieties, and the ways of
farming, fishing, and livestock rearing, individually or collectively.
6. Peasants have the right to use their own technology or the technology they choose guided
by the need to protect human health and environmental conservation.
7. Peasants have the right to grow and develop their own varieties and to exchange, to give
or to sell their seeds.

Article 6 Right to means of agricultural production

1. Peasants have the right to obtain credit and the materials and tools needed for their
agricultural activity.
2. Peasants have the right to obtain technical assistance, production tools and other
appropriate technology to increase their productivity, in ways that respect their social,
cultural and ethical values.
3. Peasants have the right to water for irrigation and agricultural production in sustainable
production systems controlled by local communities. They have the right to use the water
resources in their land and territories.

n Lampiran 193
4. Peasants have the right to the means of transportation, drying, and storage facilities for
selling their products on local markets.
5. Peasants have the right to be involved in the planning, formulation, and adoption of local
and national budgets for agriculture.

Article 7 Right to information

1. Peasants have the right to obtain adequate information related to peasants’ needs, including
about capital, market, policies, prices and technology.
2. Peasants have the right to obtain adequate information about goods and services, and to
decide what and how they want to produce and consume.
3. Peasants have the right to obtain adequate information at the national and international
levels on the preservation of genetic resources.

Article 8 Freedom to determine price and market for agricultural production

1. Peasants have the right to prioritize their agricultural production for their families’ needs.
They have the right to store their production to ensure the satisfaction of their basic needs
and those of their families.
2. Peasants have the right to sell their products on traditional local markets.
4. Peasants have the right to determine the price, individually or collectively.
5. Peasants have the right to get fair price for their production.
6. Peasants have the right to get a fair payment for their work, to fulfil their basic needs and
those of their families.
7. Peasants have the right to a fair and impartial system of evaluation of the quality of their
product, nationally and internationally.
8. Peasants have the right to develop community-based commercialization systems in order
to guarantee food sovereignty.

Article 9 Right to the protection of agriculture values

1. Peasants have the right to the recognition and protection of their culture and local
agriculture values.
2. Peasants have the right to develop and preserve local knowledge in agriculture.
3. Peasants have the right to reject interventions that can destroy local agricultural values.
4. Peasants have the right to be express their spirituality, individually and collectively.

Article 10 Right to biological diversity
1. Peasants have the right to protect, preserve and develop biological diversity, individually
and collectively.
2. Peasants have the right to reject patents threatening biological diversity, including on
plants, food and medicine.
3. Peasants have the right to reject intellectual property rights on goods, services, resources
and knowledge that are owned, maintained, discovered, developed or produced by the local
peasant communities.
4. Peasants have the right to reject certification mechanisms established by transnational
corporations. Local guarantee schemes run by peasants’ organizations with government
support should be promoted and protected.

194 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
Article 11 Right to preserve the environment

1. Peasants have the right to a clean and healthy environment.
2. Peasants have the right to preserve the environment according to their knowledge.
3. Peasants have the right to reject all forms of exploitation which cause environmental
damage.
4. Peasants have the right to sue and claim compensation for environmental damage.
5. Peasants have the right to reparation for ecological debt and the historic and current
dispossession of their land and territories.

Article 12 Freedoms of association, opinion and expression

1. Peasants have the right to freedom of association with others, and to express their opinion,
in accordance with traditions and culture, including through claims, petitions, and
mobilizations, at the local, regional, national and international levels.
2. Peasants have the right to form and join independent peasants’ organizations, trade unions,
cooperatives, or any other organizations or associations, for the protection of their
interests.
3. Peasants, individually or collectively, have the right to expression in their local customs,
languages, local culture, religions, cultural literature and local art.
5. Peasants have the right not to be criminalized for their claims and struggles.
6. Peasants have to right to resist oppression and to resort to peaceful direct action in order
to protect their rights.

Article 13 Right to have access to justice

1. Peasants have the right to effective remedies in case of violations of their rights. They have
the right to a fair justice system, to have effective and non-discriminatory access to courts.
2. Peasants have the right to legal assistance.

n Lampiran 195
B erdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan
Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor.
M.HN-02.HN.03.03 Tahun 2013, IHCS (Indonesian
Human Rights Committee For Social Justice) dinyata-
kan lolos verifikasi sebagai pemberi bantuan hukum
berdasarkan Undang-Undang No. 16 Tahun 2011
tentang Bantuan Hukum.
Sejak pendiriannya pada tahun 2007, IHCS telah
bekerja pada bidang Bantuan Hukum, Pemajuan
dan Pembelaan Hak Asasi Manusia, Pendidikan Pa-
ralegal, Riset Partisipatoris, Pembaruan Hukum dan
Advokasi Kebijakan Publik serta Resolusi Konflik.
IHCS didirikan untuk berperan memajukan dan
membela hak asasi manusia serta mewujudkan
keadilan sosial. Agar perannya berjalan maka fungsi
dari IHCS antara lain:
1. Membela korban pelanggaran hak asasi manu-
sia melalui advokasi litigasi dan non litigasi.
2. Memfasilitasi korban pelanggaran hak asasi
manusia untuk berubah menjadi pejuang hak
asasi.
3. Melakukan advokasi kebijakan publik untuk
menciptakan sistem negara yang demokratis
dan menghormati, memenuhi dan melindungi
hak asasi manusia.

196 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
4. Melakukan inisiatif jalan pemenuhan hak asasi
manusia, keadilan sosial, pembaruan sistem
ekonomi, politik, hukum dan keamanan, serta
penyelesaian konflik kekerasan bersenjata.

Kegiatan IHCS meliputi :
1. Melakukan pemajuan dan pembelaan hak asasi
manusia melalui: Bantuan hukum; Pelaporan;
Investigasi; Pemantauan; Pendokumentasian;
Kampanye; Pendidikan; Kerjasama dan Jaringan;
Aksi hukum dan aksi massa.
2. Mempersiapkan inisiatif-inisiatif melalui: Studi
Hak Asasi Manusia untuk Pemajuan Hak-hak
ekonomi, sosial dan budaya; Studi Kebijakan
untuk Perlindungan Hak-hak ekonomi, sosial
budaya; Studi Transformasi Sosial dengan Pen-
dekatan Hak Asasi Manusia.
3. Menjalankan peranan intelektual menginisiasi
kesadaran Ekonomi-Politik, Sejarah dan Budaya
Masyarakat dalam memperjuangkan hak-hak-
nya (Membangun Massa Aksi) dan Transformasi
Sosial (konsolidasi demokrasi, resolusi konflik,
pembaruan, pembebasan dan lain-lain) dengan
pendekatan Hak Asasi Manusia.

n Profil IHCS (Indonesian Human Rights Committee For Social Justice) 197
S alah satu aksi global untuk mendukung kema-
juan Pertanian Keluarga adalah mendirikan
komite nasional pertanian keluarga di berbagai
negara. Indonesia menjadi salah satu negara yang
telah mendirikan Komite Nasional Pertanian Keluarga
(KNPK) yaitu pada Juli 2014. Saat ini KNPK Indone-
sia beranggotakan 13 organisasi petani, nelayan,
lembaga swadaya masyarakat, pemuda, dan kon-
sumen, yaitu :
1. Aliansi Organis Indonesia (AOI)
2. Aliansi Petani Indonesia (API)
3. Aliansi Perempuan Petani Indonesia (APPI)
4. Bina Desa
5. Field
6. FPPI (Front Perjuangan Pemuda Indonesia)
7. FPSS (Federasi Petani Sulawesi Selatan)
8. IHCS (Indonesian Human Rights Committee for
Social Justice)
9. IPPHTI (Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu)
10. Sains (Sajogyo Institute)
11. Slow Food Jabodetabek

198 Panduan Advokasi Pertanian Keluarga n
12. SNI (Serikat Nelayan Indonesia)
13. SPPQT (Serikat Paguyuban Petani Qaryah
Thayyibah)

Saat ini KNPK Indonesia sedang melakukan ber-
bagai kegiatan, di antaranya advokasi kebijakan
publik mengenai Pertanian Keluarga, dialog kebi-
jakan dengan multi pihak, penelitian, penyadaran
masyarakat, dokumentasi, dan penyebarluasan in-
formasi mengenai Pertanian Keluarga dalam berbagai
bentuk.

Sekretariat Komite Nasional Pertanian Keluarga
(KNPK) Indonesia
Jalan Kelapa Merah No.2 RT 15/RW 12,
Utan Kayu Selatan, Matraman
Jakarta Timur 13120
Telp. 021-8567935
Email : familyfarmingid@gmail.com.

n Profil IHCS (Indonesian Human Rights Committee For Social Justice) 199
Gunawan...
Sebagai penulis, karyanya dapat dijumpai
di beberapa buku, opini media massa,
jurnal dan kertas kerja atau kertas kebijakan.
Saat ini adalah anggota Steering
Committee KNPK –Indonesia. Selain
menjadi Ketua Presidium IHCS (Indonesian
Human Rights Committee for Social Justice),
juga Presidium Bamus Tani (Badan Musya-
wararah Petani Indonesia) dan Presidium
KNPA (Komite Nasional Pembaruan
Agraria), serta Anggota Kelompok Kerja
Khusus Dewan Ketahanan Pangan
Republik Indonesia.

Selain memiliki pengalaman kerja di LSM/
NGO, juga memiliki pengalaman kerja
menjadi Tenaga Ahli, adviser, konsultan
perseorangan, dan master trainer di
lembaga pemerintahan, lembaga donor,
dan kantor hukum.

200 Panduan Advokasi
Panduan Pertanian
Advokasi Keluarga
Pertanian Keluarga n