You are on page 1of 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sistem perkemihan merupakan suatu sistem dimana terjadinya proses
penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh
tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak
dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih)
(Speakman, 2008). Susunan sistem perkemihan terdiri dari: a) dua ginjal (ren) yang
menghasilkan urin, b) dua ureter yang membawa urin dari ginjal ke vesica urinaria
(kandung kemih), c) satu vesica urinaria tempat urin dikumpulkan, dan d) satu uretra
urin dikeluarkan dari vesica urinaria (Panahi, 2010).
Vesica urinaria atau yang lebih dikenal dengan kantong kemih
merupakan salah satu organ dalam saluran ekskresi yang berbentuk seperti kantung.
Vesica urinaria merupakan organ muskuler berongga yang ukuran dan posisinya
tergantung pada jumlah urin didalamnya. Pada keadaan kosong vesika urinaria
mempunyai struktur berdinding tebal,berbentuk seperti buah pir yang terletak diatas
pelvis. Peritoneum menutup bagian cranial dari vasika urinaria dan bagian caudal
ditutupi oleh fascia pelvis (Frandson,2002).
Cystotomy merupakan prosedur pembedahan dimana menginsisi pada vesica
urinaria (Diamond,2012). Cystotomy penting dipelajari karena merupakan
penanganan gangguan pada vasika urinaria. Penanganan operasi pada pasien biasanya
dilakukan pembedahan cystotomy untuk mengeluarkan kalkuli yang ada pada vesika
urinaria dan uretra,tumor pada vesika urinaria dan trauma akibat kecelakaan atau
tertusuk oleh benda yang tajam.

Berdasarkan uraian di atas maka makalah ini akan membahas “Teknik


Pembedahan Cysterotomy”.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui ‘Teknik
Pembedahan Cystotomy pada Hewan dan Penanganannya’.

BAB II

1
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
Cystotomy merupakan prosedur pembedahan dimana menginsisi pada vesica
urinaria (Diamond,2012). Dengan kata lain,cystotomy adalah penyayatan pada
dinding vesika urinaria sehingga dapat diketahui bagian dalam dari vesika urinaria.
Keperluan medis mengindikasikan dilakukan cystotomy diantaranya adalah untuk
penanganan didaerah vesica urunaria,seperti kalkuli pada vesika
urinaria,neoplasia,memperbaiki kerusakan pada saluran urin atau untuk terapi
traumatik. Adapun sebelum tindakan cystotomy disarankan,hewan harus terlebih
dahulu dilakukan pemeriksaan ultrasonografi atau radiografi untuk meneguhkan
diagnosa penyakit tersebut ( Maria 2007).

Gambar 1. X-Ray pada Anjing menunjukan adanya kalkuli.


Gangguan terhadap vesica urinaria dapat terjadi karena adanya endapan garam
– garam fosfat,oksalat,cystin dan urat pada vesica urinaria. Pertumbuhan jaringan
yang abnormal pada dinding vesica urinaria juga akan merangsang terbentuknya
tumor atau neoplasma yang akan mengganggu fungsi vesica urinaria sebagai
penampungan urin. Kondisi seperti itulah yang mendorong terbentuknya cystotomy.
Komplikasi yang umum terjadi biasanya berupa pendarahan, infeksi post operasi,
keluarnya urin yang tidak dapat terkontrol,dan dehisensi ( terbukanya luka). Secara
keseluruhan komplikasi jarang terjadi, akan tetapi komplikasi yang serius dapat
menyebabkan kematian sehingga diperlukan tindakan lebih lanjut.
Dalam kasus yang jarang terjadi, kandung kemih mungkin tidak sembuh
dengan baik setelah cystotomy dan urin mungkin mulai bocor ke perut. Jika hal ini
terjadi pada hewan peliharaan mungkin merasa kurang nyaman dan menunjukan tanda
– tanda berupa perut yang buncit. Jika hewan tidak membaik setelah operasi atau
mulai memburuk ( anoreksia dan lesu) segera lakukan pemeriksaan untuk menguatkan

2
diagnosa penyebab infeksi atau gangguan. Jika sudah bisa dipastikan bahwa kandung
kemih bocor, maka bisa segera dilakukan operasi untuk memperbaiki (Martin,2007)

2.2 Indikasi
Indikasi melakukan cystotomy adalah untuk mengambil sistik
kalkuli,neoplasia dan untuk mengesplorasi ruptur vesika urinaria yang merupakan
abnormalitas yang paling sering terjadi pada hewan kecil. Hasil akhir dari ruptur
vesika urinaria juga mengakibatkan terjadinya kebocoran urin ke dalam rongga
abdomen (Fossum,2002).

2.3 Diagnosa
2.3.1 Sinyalemen
cystotomy pada seekor anjing jantan lokal ( Canis
domesticus),bernama Tom,berwarna coklat,berumur ± 4 bulan,dengan berat
badan 4,2 kg ( Airi,2017).
2.3.2 Pemeriksaan Fisik
Sebelum dilakukan tindakan operasi, dilakukan pemeriksaan
ultrasonografi atau radiografi untuk meneguhkan diagnosa penyakit tersebut
terlebih dahulu pasien diperiksa keadaan fisik secara umum. Pemeriksaan fisik
pada pasien meliputi pemeriksaan suhu,frekuensi napas, dan pulsus. Hasil
yang diperoleh yaitu suhu 38,7 0C,frekuensi napas 28x/menit dan pulsus
105x/menit dan selaput mukosa terlihat normal,lalu dilakukan pemeriksaan
kimia darah dan didapatkan nilai Hb normal yaitu 12,3g/dL (Airi,2017). Kadar
hemoglobin normal pada anjing berkisar 12- 18 g/dl (Smit dan
Mangkoewidjojo,1988).
2.4 Prosedur Operasi
2.4.1 Pre Operasi
 Persiapan Alat dan bahan
 Alat – alat :
Meja operasi, pisau cukur, scalpel, blade, arteri klem,
gunting tumpul – tumpul, gunting bengkok, spuit, allis tissue
forceps, needle holder, pinset anatomi, cirugis, drape, towel
klem, termometer, dan stetoskop.
 Bahan :
Vicryl 3,0, benang non absorbable, tampon, alkohol
70%,iodin tincture 3%, aquades, NaCl, amoxcillin, ketamin,
xylazine, atropin sulfat, chloramfecort-H salep, dan vitamin C.

 Persiapan Hewan,Ruang dan Tempat operasi

3
Sebelum operasi dilaksanakan, ruang dan tempat operasi
dibersihkan, peralatan bedah disterilkan menggunakan autoclave ,serta
dipersiapkan obat – obatan yang diperlukan. Pasien dipuasakan selama
8 jam dan puasa minum selama 2 jam dengan tujuan untuk
membersihkan saluran cerna dan mencegah pasien muntah,urinasi dan
defekasi saat operasi. Kemudian dilakukan pencukuran rambut pada
bagian ventral abdomen hingga bersih .
2.4.2 Premedikasi dan Anastesi
Premedikasi dilakukan untuk mempersiapkan hewan sebelum
pemberian obat anastesi. Tujuan dari pemberian premedikasi adalah
untuk membuat hewan lebih tenang dan terkendali,mengurangi dosis
anastesi, mengurangi efek – efek otonomik yang tidak digunakan,
mengurangi nyeri pre – operasi (Sardjana,2011).
Pada operasi ini digunakan Atropin sulfat sebagai premedikasi
dengan dosis 0,02 – 0,04 mg/kg BB secara subkutan, hal ini dilakukan
untuk mencegah terjadinya muntah,hipersalivasi dan sedatif.selain itu
salah satu tujuan dari obat premedikasi adalah mempercepat induksi
anastesi umum.
Setelah 10 menit kemudian pasien diberikan anastesi. Tujuan
dari pemberian anastesi adalah mengurangi atau menghilangkan rasa
nyeri dengan meminimalkan kerusakan beberapa organ tubuh
terutama pada pasien dengan kondisi khusus.(Sardjana dan
Kusumawati,2004). Anastesi yang digunakan adalah kombinasi
ketamin dengan dosis 10-40mg/kg BB IM dan xylazin dengan dosis
1,1-2,2mg/kg BB IM (Airi,2017).

Gambar 2. Dosis yang digunakan pada pasien. (Airi, 2017)

4
2.4.3 Teknik Operasi
Pasien yang telah teranastesi diletakan di meja operasi dengan
posisi dorsal recumbency. Daerah yang diinsisi didesinfeksi dengan
alkohol 70% dan iodium tincture 3%, kemudian dilakukan
pemasangan drapping steril. Dilakukan insisi dengan membuat sayatan
pada daerah umbilikus ke pubis tepat disamping penis ± 4cm, insisi
dilakukan pada kulit lalu di preparir dengan menggunakan gunting,lalu
insisi dilanjutkan pada fascia,muskulus dan peritoneum. Setelah semua
lapisan terinsisi maka kedua tepi yang telah disayat ditarik dengan Alis
tissue forcep untuk memudahkan mencari vesika urinaria.

Gambar 3. Insisi pada bagian umbilikus ke pubis tepat disamping penis. (Airi,2017)

Gambar 4. Mengekspos vesika urinari dengan membuat sayatan dari umbilikus ke pubis.
(Fosum, 2013)

Setelah vesika urinari terlihat lalu di keluarkan perlahan – lahan.


Vesika urinari diangkat ke permukaan dan direflesikan ke caudal. Sebelum

5
dilakukan insisi pada vesika urinari, urin diaspirasi terlebih dahulu,dengan
cara menekan vesika urinari dan dapat juga dilakukan dengan menggunakan
spuit. Setelah itu dilakukan jahitan penyangga atau jahitan bantu pada
vesika urinari yang akan di insisi untuk memudahkan dalam penyayatan.
Vesika urinari disayat pada daerah yang minim pembulu darah, sayatan
dilakukan sampai lapisan submukosa.

Gambar 5. Vesika urinari dikeluarkan dari abdomen. Gambar 6. Jahitan bantu pada vesika urinari.

Gambar 7. Insisi pada VU hingga lapisan sub mukosa. Gambar 8. Batu (urolits) dikeluarkan dari VU.

Jika terdapat batu atau (uroliths) maka harus dikeluarkan dari vesika
urinari, dan dilakukan teknik swab pada bagian mukosa pada vesika urinari
yang bertujuan untuk mengeluarkan sisa-sisa kalkuli, kemudian dilakukan
pembilasan pada vesika urinari sampai bersih menggunakan Nacl.

6
Gambar 9. Teknik jahitan pada vesika urinari.

Vesika urinari ditutup kembali dengan jahitan simple continous


pada lapisan sub mukosa dan mukosa menggunakan benang chromic
cutgut 3,0, lapisan serosa dijahit dengan pola simple interupted
menggunakan benang chomic cutgut 3,0. Selama kegiatan operasi vesika
urinari selalu diteteskan Nacl, kemudian dilakukan tes kebocoran dengan
memasukan cairan Nacl kedalam vesika urinari yang telah selesai dijahit.

Gambar 10. Uji kebocoran.

Uji kebocoran dilakukan untuk memastikan bahwa vesika


urinari telah tertutup kembali dengan rapat, namun apabila terjadi
kebocoran amati bagian yang bocor dan lakukan penjahitan ulang
pada bagian yang bocor.
Setelah vesika urinari selesai maka dilanjutkan penjahitan
pada peritoneum ditutup dengan pola simple interupted
menggunakan benang vicryl, muskulus dan fascia dijahit dengan
pola simple continous menggunakan benang vicryl, kulit luar dijahit
dengan benang non absorbable dengan pola simple interupted.
Selanjutnya bagian kulit yang telah terjahit dibersihkan iodin tinture

7
3%, diinjeksikan amoxcillin dan kemudian dioleskan chloramfecort-
H salep.
2.5 Post Operasi
Dilakukan pemberian antibiotik yang diberikan sehari 3 kali selama 5 hari
sampai tidak terjadi infeksi. Seringkali dilakukan pemasangan kateter selama
1-3 hari dan hewan tersebut diberikan makanan yang lunak sehingga mudah
dicerna dan diserap. Luka jahitan dilepas pada 7 hari post operasi.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Cystotomy merupakan prosedur pembedahan dimana menginsisi pada vesika
urinaria. Indikasikan dilakukan cystotomy diantaranya adalah untuk penanganan
didaerah vesika urunaria,seperti kalkuli pada vesika urinaria,neoplasia,memperbaiki
kerusakan pada saluran urin atau untuk terapi traumatik. Cystotomy dilakukan untuk
mengeluarkan batu didalam vesika urinaria yang menyumbat pada saluran urinaria .
Resiko dilakukan cystotomy antara lain perdarahan,infeksi post operasi,dan
kebocoran urin.

8
DAFTAR PUSTAKA

Speakman M. J. 2008. Lower Urinary Tract Symptom Suggestive of Benign Prostate


Hyperplasia (LUTS/BPH) : More Than Treating Symptoms. European Urology
Supplements 7th Edition. 680-589.

Martin, Corole. 2007. Texbook of Veterinary Surgical Nursing. Elsiver

Panahi A., Bidaki R., Rezahosseini O. 2010. Validity and Realibility of Persian Version
of IPSS. Iran: Galen Medical.

Frandson, R. D. 2002. Anatomy and Physiology of Farm Animals. Seventh edition.


Willey-Blackwell. Colorado.

Diamond, D. 2012. Cystotomy in Dogs. Diakses pada tanggal 13 Desmber 2012


<http://www.petplace.com/dogs/cystotomy-in-dogs>

Naira, Arini.2017.”Cystotomy pada Anjing Jantan”,


https://www.scribd.com/document/354088768/Cystotomy-Pada-Anjing-Jantan,diakses
pada 18 Juli 2017.

Fossum, Theresa Welch. 2013. Small Animal Surgery Fourth Edition. St. Louis: Elsevier.

9
10