You are on page 1of 6

52

4.2. Pembahasan
Dari hasil pemeriksaan visus dua mata dengan kartu snellen chart,
uji pinhole dan Koreksi kelainan refraksi dengan alat bantu lensa spheris
dan ditambah dengan trial frame pada mahasiswa di Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Palembang, didapatkan data mengenai faktor-
faktor yang mempengaruhi kelainan refraksi pada 89 mahasiswa
angakatan 2014, 2015 dan 2016 di Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Palembang.

4.2.1. Prevalensi Kelainan Refraksi
Pada penelitian ini prevalensi kelainan refraksi berdasarkan hasil
pengambilan data primer dan sekunder pada 89 mahasiswa Fakultas
Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang adalah sebanyak 71
(79,8%) responden. Hal ini sesuai dengan Penelitian yang dilakukan pada
mahasiswa kedokteran oleh Saw dkk (2004) di Singapura mendapati
bahwa mahasiswa kedokteran merupakan populasi yang terbesar untuk
terjadinya kelainan refraksi, hal ini kemungkinan disebabkan
kecenderungan dalam waktu lama dan intensif untuk aktivitas visual dekat,
misalnya membaca buku dan menulis.
Sedangkan menurut Morgan dkk 2003, tingkat pendidikan yang di
ukur dari lamanya pendidikan formal dan prestasi yang dicapai memiliki
hubungan dengan seberapa lama waktu yang dihabiskan untuk membaca
dan menulis dimana kebiasaan membaca dan menulis itu termasuk faktor
risiko kelainan refraksi.

4.2.2. Riwayat Orang Tua
Riwayat orang tua yang dimaksudkan pada penelitian ini adalah
apabila responden mempunyai orang tua yang mengalami kelainan refraksi
baik kedua orang tua atau salah satu orang tua saja yang mengalami
kelainan refraksi.
Dari hasil penelitian, secara statistik diketahui terdapat hubungan
antara kejadian kelainan refraksi dengan riwayat orang tua dengan nilai p-

Universitas Muhammadiyah Palembang

3.002 (p-value < 0.3. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan Melita (2012) yang menyatakan bahwa ada hubungan jarak pandang aktivitas Universitas Muhammadiyah Palembang . Hal ini sesuai dengan teori bahwa aktivitas jarak dekat yang dilakukan terus menerus setiap hari dalam jangka waktu lama 2 jam atau lebih dapat memicu terjadinya kelainan refraksi seperti miopia. secara statistik diketahui terdapat hubungan antara kejadian kelainan refraksi dengan kebiasaan membaca dengan jarak dekat dan lama sebab p-value 0. Hal ini sesuai dengan pernyataan faktor genetik dapat menurunkan sifat kelainan refraksi ke keturunannya. Kebiasaan Membaca dengan Jarak Dekat dan Lama Kebiasaan membaca dengan jarak dekat dan lama yang dimaksudkan pada penelitian ini adalah apabila responden mempunyai kebiasaan membaca dengan jarak < 30 cm dan lama waktunya > 2 jam.000 (p-value < 0. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara riwayat orang tua terhadap kejadian kelainan refraksi pada anaknya.0001). baik secara autosomal maupun resesif. Sedangkan menurut Jones dkk (2007) dalam penelitiannya juga mengungkapkan adanya hubungan antara kejadian kelainan refraksi miopia dengan riwayat orang tua p-value 0.2. Menurut penelitian Sowka dkk (2001).001 disebutkan bahwa anak dengan aktivitas melihat dekat rutin setiap harinya memiliki risiko tinggi untuk mengalami kelainan refraksi dari pada anak yang lebih jarang melakukan aktivitas melihat dekat. Dari hasil penelitian.05).0001 (p-value < 0. yang membawa sifat kelainan refraksi terutama miopia. Anak dengan orang tua yang mengalami kelainan refraksi cenderung mengalami kelainan refraksi lebih tinggi (Komariah. 2014). 53 value 0. 4. bahwa adanya keterlibatan gen 18p11. Penelitian ini menyatakan kelainan refraksi lebih banyak dialami oleh anak dengan aktivitas membaca buku selama 2 jam atau lebih. Hasil temuan penelitian ini diperkuat oleh Zhong Lin et all di Cina (2014) yang menyatakan ada hubungan antara waktu yang dihabiskan untuk aktivitas melihat dekat setiap harinya dengan p-value 0.05).

Terkait dengan penggunaan laptop. 54 melihat dekat dengan kejadian kelainan refraksi. mata berair. 2009 jarak pandang yang kurang dari standar ukur dalam waktu yang lama dapat menimbulkan kelelahan mata (astenopia) seperti mata merah. dan intensitas durasi paparan. Induvidu tanpa faktor predisposisi kelainan refraksi jika terpajan oleh faktor miopigenik dapat meningkat seiring berjalannya waktu (Komariah. CVS merupakan Universitas Muhammadiyah Palembang . 2014). mata pegal. Dampak pada mata tergantung dari panjang cahaya. Hal ini sesuai dengan teori bahwa kebiasaan melakukan aktivitas melihat dekat dapat menyebabkan tonus otot siliaris menjadi tinggi sehingga lensa menjadi cembung yang mengakibatkan bayangan objek jatuh didepan retina dan menimbulkan miopia (Komariah. secara statistik diketahui terdapat hubungan antara kejadian kelainan refraksi dengan kebiasaan menggunakan komputer atau laptop dengan jarak dekat dan lama sebab p-value 0. mata pedih dan penglihatan kabur. Sinar biru adalah sinar dengan panjang gelombang 400–500 nm (nanometer).2.4.019 (p- value < 0.05). Dimana menurut Fachrian dkk. layar televisi serta komputer. anak dengan aktivitas didepan komputer dengan waktu > 4 jam berisiko tinggi mengalami kelainan refraksi seperti miopia. 4. keluhan yang paling sering muncul ialah Computer Vision Sindrome (CVS). Kebiasaan Menggunakan Komputer atau Laptop dengan Jarak Dekat dan Lama Kebiasaan menggunakan komputer/laptop dengan jarak dekat dan lama yang dimaksudkan pada penelitian ini adalah apabila responden mempunyai kebiasaan menggunakan komputer/laptop dengan jarak < 50 cm dan lama waktunya > 2 jam. Dari hasil penelitian. Kejadian kelainan refraksi lebih banyak didapatkan pada anak yang membaca buku dengan jarak < 30 cm. Sinar biru yang dihasilkan oleh layar komputer bersifat miopigenik. 2014). Sumbu terdekatnya adalah lampu neon. Hasil temuan penelitian ini sesuai dengan pernyataan. Kebiasaan melihat dekat dan lama dalam jarak yang kurang dari standar ukur merupakan faktor risiko terjadinya kelainan refraksi.

016 (p-value < 0. 2011). Hal ini terjadi karena upaya berlebihan dari sistem penglihatan yang berada dalam kondisi kurang sempurna untuk memperoleh ketajaman penglihatan dalam waktu yang lama ini akan mengurangi kemampuan akomodasi mata sehingga berakibat terjadinya kelainan refraksi (Juneti dkk. Menurut Ilyas (2006) bahwa kemampuan akomodasi tergantung pada elastisitass lensa mata. Jarak yang terlalu dekat (kurang dari 30 cm) menyebabkan mata menjadi cepat lelah. Lensa mata bila dalam keadaan normal bentuknya agak pipih dan kaku oleh karena pengaruh dari ligamentum suspensorium lentis (zonula zin). Hal ini berpengaruh terhadap daya akomodasi mata sehingga menyebabkan melemahnya otot siliaris mata yang mengakibatkan gangguan melihat jauh (Muhammad. Kebiasaan Menggunakan Smartphone dengan Jarak Dekat dan Lama Kebiasaan menggunakan smartphone dengan jarak dekat dan lama yang dimaksudkan pada penelitian ini adalah apabila responden mempunyai kebiasaan menggunakan smartphone dengan jarak < 30 cm dan lama waktunya > 3 jam. 55 kelelahan mata yang dapat mengakibatkan sakit kepala. Hal ini sesuai dengan teori bahwa melihat gadget dengan jarak kurang dari 30 cm dapat meningkatkan risiko 3 kali lipat terjadinya penurunan ketajaman penglihatan. penglihatan seolah ganda.5. Dari hasil penelitian. 2015). penglihatan silau terhadap cahaya diwaktu malam.05). menonton televisi. secara statistik diketahui terdapat hubungan antara kejadian kelainan refraksi dengan kebiasaan menggunakan smartphone dengan jarak dekat dan lama sebab p-value 0. Bila terjadi akomodasi maka otot siliaris akan berkontraksi sehingga zonula zin kendor. Universitas Muhammadiyah Palembang . 4. melakukan aktivitas seperti membaca. menatap layar gadget yang terlalu dekat dan frekuensi yang cukup sering membuat mata dipaksa untuk melihat.2. lensa bertambah tebal. dan berbagai masalah penglihatan lainnya (Ningsih dkk. 2015).

2016 menunjukan terdapat hubungan antara lama penggunaan smartphone dengan fungsi penglihatan pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado (p = 0.065) dan riwayat orang tua (OR = 0. Tujuannya untuk melihat hubungan beberapa variabel independen dengan satu variabel dependen. Sinar biru adalah sinar dengan panjang gelombang 400-500 nm (nanometer). 56 diameter lensa berkurang serta lensa bertambah cembung. Universitas Muhammadiyah Palembang . Analisis Multivariat Analisis multivariat untuk mengetahui faktor yang berpengaruh paling dominan pada kejadian kelainan refraksi menggunakan analisis multivariat regresi logistik.786). Sinar biru yang dihasilkan oleh komputer/laptop bersifat miopigenik. Hal ini karena anak dengan aktivitas didepan komputer/laptop dengan waktu > 4 jam berisiko tinggi mengalami miopia. kebiasaan membaca (OR = 0.033) dan tidak terdapat hubungan antara intensitas penggunaan smartphone dengan fungsi penglihatan pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado (p = 0. Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa variabel yang berpengaruh paling dominan terhadap kejadian kelainan refraksi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang yaitu variabel kebiasaan menggunakan komputer/laptop dengan jarak dekat dan lama karena variabel ini mempunyai nilai OR paling tinggi (OR = 0.092). kebiasaan menggunakan smartphone (OR = 0.2. layar televisi serta komputer (Komariah. Sedangkan penelitian yang dilakukan Bawelle.082). 4. Kelelahan mata disebut sebagai tegang mata atau astenopia yaitu kelelahan atau ketegangan pada organ visual dimana terjadi gangguan pada mata dan sakit kepala sehubungan dengan penggunaan mata secara terus menerus. 2014).6.092). Sumbu terdekatnya lampu neon.024). Berdasarkan hasil analisis multivariat yang telah dilakukan didapatkan variabel yang bermakna dengan kejadian kelainan refraksi adalah kebiasaan menggunakan komputer/laptop (OR = 0.

penglihatan seolah ganda. 57 Sedangkan terkait dengan penggunaan komputer/laptop. mata berair dan penglihatan kabur (Fachrian dkk. Hal ini juga sesuai dengan teori bahwa kebiasaan melakukan aktivitas melihat dekat dapat menyebabkan tonus otot siliaris menjadi tinggi sehingga lensa menjadi cembung yang mengakibatkan bayangan objek jatuh didepan retina dan menimbulkan miopia (Komariah. CVS merupakan kelelahan mata yang dapat mengakibatkan sakit kepala. 2009). hal ini akan mengurangi kemampuan akomodasi mata sehingga berakibat terjadinya kelainan refraksi (Juneti dkk. keluhan yang paling sering muncul ialah Computer Vision Sindrome (CVS). 2015). dan berbagai masalah penglihatan lainnya (Ningsih dkk.2014). mata lelah. Hal ini terjadi karena upaya berlebihan dari sistem penglihatan yang berada dalam kondisi yang kurang sempurna untuk memperoleh ketajaman penglihatan dalam waktu yang lama. 2015). Universitas Muhammadiyah Palembang . mata pedih. penglihatan silau terhadap cahaya diwaktu malam. 2013 bahwa responden yang menggunakan laptop rata-rata 2-3 jam dalam sehari mulai mengeluhkan keluhan CVS dengan keluhan paling banyak mata tegang dan mata kering. Kebiasaan melihat dekat dan lama dan kurang dari standar ukur merupakan faktor risiko terjadinya kelainan refraksi. Hal ini sejalan dengan penelitian Kurmasela dkk. dimana jarak pandang yang kurang dari standar ukur dalam waktu yang lama dapat menimbulkan kelelahan mata (astenopia) seperti mata merah.