Agama Islam

Kelompok 5

LATAR BELAKANG Hukum Islam diperoleh dari sumbernya yaitu Al-Quran dan As-Sunnah, sekurangkurangnya dilakukan dengan dua cara. Pertama, diperoleh secara langsung berdasarkan hukum yang terdapat pada ayat AlQuran atau As-Sunnah. Cara ini dilakukan terhadap ayat Al-Quran atau As-Sunah yang sudah jelas menunjukkan suatu hukum tertentu secaara qat¶iy. Kedua, dilakukan dengan mengambil makna yang terkandung dalam suatu ayat AlQuran atau As-Sunah. Hal ini dilakukan terhadap ayat Al-Quran atau As-Sunnah yang bersifat dzanny dengan jalan ijtihad. Ijtihad dilakukan oleh para ulama yang memenuhi persyaratan tertentu, dengan mengerahkan segenap kemampuan berfikir yang ditunjang oleh kekuatan dzikir dan doa, oleh sebab itu ijtihad menjadi sumber hukum pelengkap bagi ummat Islam. Hukum Islam senantiasa berkembang sesuai dengan perkembangan zaman atau waktu. Dengan demikian Hukum Islam tidak bersifat statis dan tidak kaku, akan tetapi senantiasa diterapkan dalam segala keadaan dan kondisi masyarakat, kapanpun dan dimanapun mereka berada. Para Ulama sejak dahulu selalu berusaha mendalami hukum hukum yang terkandung dalam Al-Quran dan As-Sunah yang kadang-kadang di antara mereka terdapat perbedaan paham dan pendapat dalam menetapkan hukum yang mereka istimbatkan dari Al-Quran dan As-Sunah tersebut. Hal ini dikarenakan di antara ayat Al-Quran ataupun Hadits Nabi itu ada yang bersifat dzanni, sehingga memerlukan pemikiran dan usaha yang sungguh sungguh untuk dapat memahami nash-nash yang demikian. Di samping itu seringkali para Ulama menghadapi masalah-masalah dalam masyarakat yang belum pernah terjadi pada zaman Nabi dan belum ada ketetapan hukumnya. Dengan demikian mereka harus berusaha dengan segala daya serta kemampuannya untuk menetapkan hukum terhadap masalah-masalah baru tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip hukum yang ada dalam sumber-sumber pokoknya yaitu Al-Quran dan As-Sunah. Usaha dan pemikiran yang sungguh-sungguh dari para Ulama untuk menetapkan hukum Islam inilah yang dikenal dengan sebutan ³Ijtihad´, sedangkan para Ulama yang melakukannya disebut ³Mujtahid´.

Sumber Kebenaran

Ijtihad 1

Berusaha mendalami hukum Islam memang merupakan sesuatu keharusan dalam ajaran Islam, dan orang yang melakukannya sudah barang tentu memperoleh derajat yang lebih tinggi disbanding kelompok lainnya. 


Fi

n All

:

Artinya :´Tidak sepatutnya bagi orang orang mukmin pergi semuanya (ke medan perang) mengapa tidak pergi tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang Agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (At-Taubah : 122)

© ¥ ¨§

¤¥£¥¤

S

e Ke e 

¡
Ij

Agama Is am

Ke

5

¦ 

¢

£ ¡  ¢

2

Agama Islam

Kelompok 5

PENGERTIAN IJTIHAD Dari segi bahasa, Ijtihad berarti berusaha dengan sungguh-sungguh; mengerjakan sesuatu dengan segala keteguhan. Menurut ilmu ushul fiqh, ijtihad identik dengan kata ³istimbath´ yang secara bahasa berarti mengeluarkan sesuatu dari persembunyiannya. Ijtihad menurut istilah telah dirumuskan secara bervariasi oleh beberapa ulama. Antara lain ada yang menyatakan bahwa ijtihad adalah segala upaya yang dicurahkan mujtahid dalam berbagai bidang ilmu, seperti fiqih, teologi, filsafat, tasawuf dan sebagainya (Kasuwi Saiban, 2005 : 42). Ada pula yang menyatakan bahwa ijtihad adalah mengerahkan semua potensi dan kemampuan semaksimal mungkin untuk menetapkan hukum hukum syari¶ah berdasarkan dalil-dalil syara (Depag RI, 1996 : 23). Adapun menurut Ibrahim Hose (1988 : 23) yang mendasarkan pengertian ijtihad pada praktek sahabat, menyatakan bahwa ijtihad adalah penelitian dan pemikiran untuk mendapatkan sesuatu yang terdekat dengan Kitab Allah dan Sunnah Rosulullah SAW, baik melalui suatu nash maupun melalui maksud dan tujuan umum hikmah syari¶ah yang disebut maslahat. Sedangkan menurut mayoritas ulama ahli ushul, ijtihad ialah mengerahkan segenap kemampuan oleh seorang ahli fiqih atau mujtahid untuk memperoleh pengertian tingkat dzani mengenai hukum syara. Definisi tersebut memiliki relevansi dengan yang dikemukakan oleh Ahmad Azhar Basyir (1988 : 46) yang menyatakan bahwa Ijtihad adalah penggunaan akal fikiran semaksimal mungkin untuk memperoleh ketentuan hukum syara. Karena yang dicari adalah hukum syara¶ maka yang melakukan ijtihad harus benarbenar muslim, kukuh aqidahnya, baik ibadahnya, dan mulia akhlaknya. 

Sumber Kebenaran

Ijtihad 3

Agama Islam

Kelompok 5

MEDAN (LAPANGAN) IJTIHAD Ulama telah bersepakat bahwa ijtihad dibenarkan, serta perbedaan yang terjadi sebagai akibat ijtihad ditolerir, dan akan membawa rahmat manakala ijtihad dilakukan oleh yang memenuhi persyaratan dan dilakukan di medannya (majalul ijtihad). Lapangan atau medan dimana ijtihad dapat memainkan peranannya adalah: 1. Masalah-masalah baru yang hukumnya belum ditegaskan oleh nash al-Qur'an atau Sunnah secara jelas. 2. Masalah-masalah baru yang hukumnya belum diijma'i oleh ulama atau aimamatu 'l-mujtahidin. 3. Nash-nash Dhanny dan dalil-dalil hukum yang diperselisihkan. 4. 4. Hukum Islam yang ma'qulu 'l-ma'na/ta'aqquly (kausalitas hukumnya/'illat-nya dapat diketahui mujtahid). Jadi, kalau kita akan melakukan reaktualisasi hukum Islam, disinilah seharusnya kita melakukan terobosan-terobosan baru. Apabila ini yang kita lakukan dan kita memang telah memenuhi persyaratannya maka pantaslah kita dianggap sebagai mujtahid di abad modern ini yang akan didukung semua pihak. Sebaliknya ulama telah bersepakat bahwa ijtihad tidak berlaku atau tidak dibenarkan pada: 1. Hukum Islam yang telah ditegaskan nash al-Qur'an atau Sunnah yang statusnya qath'iy (ahkamun manshushah), yang dalam istilah ushul fiqih dikenal dengan syari'ah atau "ma'ulima min al-din bi al-dlarurah." Atas dasar itu maka muncullah ketentuan, "Tidak berlaku ijtihad pada masalah-masalah hukum yang ditentukan berdasarkan nash yang status dalalah-nya qath'i dan tegas." Bila kita telaah, kaidah itulah yang menghambat aspirasi sementara kalangan yang hendak merombak hukum-hukum Islam qath'i seperti hukum kewarisan al-Qur'an. 2. Hukum Islam yang telah diijma'i ulama.

Sumber Kebenaran

Ijtihad 4

Agama Islam

Kelompok 5

3.

Hukum Islam yang bersifat ta'abbudy/ghairu ma'quli 'lma'na (yang kausalitas hukumnya/'illat-nya tidak dapat dicerna dan diketahui mujtahid). Disamping ijtihad tidak berlaku atau tidak mungkin dilakukan pada ketiga macam hukum Islam di atas, demikian juga ijtihad akan gugur dengan sendirinya apabila hasil ijtihad itu berlawanan dengan nash. Hal ini sejalan dengan kaidah, "Tidak ada ijtihad dalam melawan nash."

Sumber Kebenaran

Ijtihad 5

Agama Islam

Kelompok 5

HUKUM IJTIHAD 

1.

Wajib µai , yaitu bagi seseorang mujtahid yang ditanya tentang masalah, sedang masalah tersebut akan segera hilang (habis) bila tidak segera dijawab/diselesaikan. Demikian pula wajib µain apabila masalah tersebut dialami sendiri oleh seseorang dan ia ingin mengetahui hukumnya. Wajib kifayah, yaitu bagi seseorang mujtahid yang ditanya tentang sesuatu masalah dan tidak dikhawatirkan habisnya atau hilangnya masalah tersebut, sedang selain dia sendiri masih ada mujtahid lain. Dalam situasi yang demikian apabila semuanya meninggalkan ijtihad, mereka berdosa. Su at, yaitu ijtihad terhadap sesuatu masalah atau peristiwa yang belum terjadi baik dinyatakan atau tidak.

2.

3.

Sumber Kebenaran

Ijtihad 6

Agama Islam

Kelompok 5

SYARAT-SYARAT IJTIHAD Seseorang yang ingin mendudukkan dirinya sebagai mujtahid harus memenuhi beberapa persyaratan. Di antara sekian persyaratan itu yang terpenting ialah: 1. Memiliki ilmu pengetahuan yang luas tentang ayat-ayat al-Qur'an yang berhubungan dengan masalah hukum, dengan pengertian ia mampu membahas ayat-ayat tersebut untuk menggali hukum. 2. Berilmu pengetahuan yang luas tentang hadits-hadits Rasul yang berhubungan dengan masalah hukum, dengan arti ia sanggup untuk membahas hadits-hadits tersebut untuk menggali hukum. 3. Menguasai seluruh masalah yang hukumnya telah ditunjukkan oleh ijma' agar ia tidak berijtihad yang hasilnya bertentangan dengan ijma'. 4. Mengetahui secara mendalam tentang mempergunakannya untuk menggali hukum. masalah qiyas dan dapat

5. Menguasai bahasa Arab secara mendalam. Sebab al-Qur'an dan Sunnah sebagai sumber asasi hukum Islam tersusun dalam bahasa Arab yang sangat tinggi gaya bahasanya dan cukup unik dan ini merupakan kemu'jizatan alQur'an. 6. Mengetahui secara mendalam tentang nasikh-mansukh dalam al-Qur'an dan Hadits. Hal itu agar ia tidak mempergunakan ayat al-Qur'an atau Hadits Nabi yang telah dinasakh (mansukh) untuk menggali hukum. 7. Mengetahui latar belakang turunnya ayat (asbab-u'l-nuzul) dan latar belakang suatu Hadits (asbab-u'l-wurud), agar ia mampu melakukan istinbath hukum secara tepat. 8. Mengetahui sejarah para periwayat hadits, supaya ia dapat menilai sesuatu Hadist, apakah Hadits itu dapat diterima ataukah tidak. Sebab untuk menentukan derajad/nilai suatu Hadits sangat tergantung dengan ihwal perawi yang lazim disebut dengan istilah sanad Hadits. Tanpa mengetahui sejarah perawi Hadits, tidak mungkin kita akan melakukan ta'dil tajrih (screening). 9. Mengetahui ilmu logika/mantiq agar ia dapat menghasilkan deduksi yang benar dalam menyatakan suatu pertimbangan hukum dan sanggup mempertahankannya. 10. Menguasai kaidah-kaidah istinbath hukum/ushul fiqh, agar dengan kaidahkaidah ini ia mampu mengolah dan menganalisa dalil-dalil hukum untuk menghasilkan hukum suatu permasalahan yang akan diketahuinya.

Sumber Kebenaran

Ijtihad 7

Agama Islam

Kelompok 5

CARA MELAKUKAN IJTIHAD Seseorang yang hendak berijtihad haruslah memperhatikan urutan urutan di ba wah ini. Apabila ia tidak mendapatkan sesuatu dalil yang lebih tinggi tingkatannya, barulah ia boleh menggunakan dalil-dalil berikutnya. Urutan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Dalil dalam bentuk : a. Nash-nash Al-Qur¶an b. Hadits mutawattir c. Hadits Ahad d. Zhahir Al-Quran e. Zhahir Hadits 2. Dalil mafhum a. Mafhum Al-Quran b. Mafhum Hadits 3. Perbuatan dan taqrir nabi 4. Qiyas 5. Bara¶ah ashaliyah Kalau ia menghadapi dalil-dalil yang berlawanan, hendaknya ditermpuh beberapa alternatif berikut : 1. Memadukan/mengkompromikan dalil-dalil tersebut 2. Mentarjihkan (menguatkan salah satunya) 3. Menashkan yaitu dicari mana yang lebih dulu dan mana yang kemudian, yang lebih dahulu itulah yang dinashkan (tidak berlaku lagi) 4. Tawaqquf, yakni membiarkan atau tidak menggunakan dalil-dalil yang bertentangan tersebut. 5. Menggunakan dalil yang lebih rendah tingkatannya

Sumber Kebenaran

Ijtihad 8

Agama Islam

Kelompok 5

KEBENARAN HASIL IJTIHAD Segolongan Ulama berpendapat bahwa semua mujtahid mencapai kebenaran dalam hasil berijtihadnya, menurut Abu Hanifah, Malik dan Syafi¶i. Tidak semua mujtahid mencapai kebenaran dalam ijtihadnya tetapi ada yang mencapai kebenaran dan ada yang tidak. Sabda Rasulullah SAW. Artinya : ³seorang hakim apabila berijtihad kemudian ternyata ijtihadnya benar, maka ia mendapat dua pahala apabila ia ber-ijtihad dan ternyata keliru (tidak mencapai kebenaran) maka ia mendapat satu pahala (HR. Bukhari ) Hadits tersebut menunjukan, bahwa kebenaran itu hanya satu. Sebagian mujtahid dapat mencapainya, maka ia dikatakan yang mencapai kebenaran dan ia akan mendapat dua pahala. Sebagian lagi tidak dapat mencapai kebenaran dan ia akan mendapat satu pahala; pahala ini karena ijtihadnya, bukan karena kekeliruannya.

Sumber Kebenaran

Ijtihad 9

Agama Islam

Kelompok 5

DAFTAR PUSTAKA http://www.scribd.comdoc7738153Ijtihad http://bdmalhikmah.com/index.php/pdf/Artikel/ijtihad-fil-islam.pdf http://my.opera.com/zuaddin/blog/show.dml/3146916

Sumber Kebenaran

Ijtihad 10

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful