You are on page 1of 2

f) Pemeriksaan fisik

Pada pengkaian fisik secara umum sering didapatkan pada awal pascakejang klien mengalami
konfusi dan sulit untuk bangun. Pada kondisi yang lebih berat sering dijumpai adanya penuruna
kesadaran.
Pengkajian untuk peristiwa kejang perlu dikaji tentang: Bagaimana kejang sering terjadi pada
klien, tipe pergerakan atau aktifitas, berapa lama kejang berlangsung, diskripsi aura yang
menimbulkan peristiwa, status poskial, lamanya waktu klien untuk kembali kejang, adanya
inkontinen selama kejang.

Selain itu juga dilakukan pemeriksaan 6B, yaitu:


1) B1 (Breathing)
Inspeksi apakah klien batuk, produksi sputum, sesak napas dan peningkatan frekuensi
pernapasan yang sering didapatkan pada klien epilepsi disertai adanya gangguan pada sistem
pernapasan.
2) B2 (Blood)
Pengkajian pad asitem kardiovaskuler terutama dilakukan pada klien epilepsi tahap lanjut apabila
klien sudah mengalami syok.
3) B3 (Brain)
Peningkatan B3 (Brain) merupakan pemeriksaan fokus dan lebih lengkap dibandingkan
pengkaian pada sistem lainnya.
Tingkat kesadaran: Tingkat kesadaran klien dan respons terhadap lingkungan adalah indikator
paling sensitif untuk disfungsi sistem persarafan.
Fungsi serebral, Status mental: observasi penampilan dan tingkah laku klien, nilai gaya bicara
dan observasi ekspresi wajah, aktifitas motorik pada klien epilepsi tahap lanjut biasanya
mengalami perubahan status mental seperti adanya gangguan perilaku, alam perasaan, dan
persepsi.

Pemeriksaan saraf kranial:


Nervus Olfaktorius: biasanya pada klien epilepsi tidak ad kelainan dan fungsi penciuman tidak
ada kelainan.
Nervus Optikus: tes ketajaman penglihatanpada kondisi normal.
Nervus Okulomotorius, Trocklearis, Trigeminus: dengan alasan yang tidak diketahui klien
epilepsi mengeluh mengalami fotofobia (sensitif yang berlebihan terhadap cahaya).
Nervus Abdusen: pada klien epilepsi pada umumnya tidak didapatkan paralis pada otot wajah
dan refleks kornea biasanya tidk ada keluhan.
Nervus Fasialis: persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah simetris.
Nervus Vestibulokoklearis: tidak ditemukan adanya tuli konduktif dan tuli persepsi.
Nervus Glosofaringeus dan vagus: kemampuan menelan baik.
Nervus Aksesorius: tidak ada atrofi oto sternokleidomastoideus dan trapezius.
Nervus Hipoglosus: lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada fasikulasi,
indra pengecapan normal.
4) B4 (Bladder)
Pemeriksaan pada sitem kemih biasanya didapatkan berkurangnya volume output urine, hal ini
berhubungan dengan penurunan perfusi dan penurunan curah jantung keginjal.
5) B5 (Bowel)
Mual sampai muntah dihubungkan dengan peningkatan produksi asam lambung. Pemenuhan
nutrisi pada klien epilepsi menurun karena anoreksia dan adanya kejang.
6) B6 (Bone)
Pada fase akut setelah kejang sering didapatkan adanya penurunan kekuatan oto dan kelemahan
fisik secara umum sehingga mengganggu aktifitas perawatan diri.