You are on page 1of 33

LAPORAN MINI PROJECT

“Hubungan Pemberian ASI EKSKLUSIF Terhadap Kejadian Infeksi


Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Pada BAYI di Puskesmas Cikarang”

Di Susun Oleh :
Dr.Dewi Kurnianingsih

Penbimbing :
Dr.Waluya Jati

PROGRAM DOKTER INTERNSIP


PUSKESMAS CIKARANG,KAB BEKASI
PERIODE JANUARI –MEI 2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmatNya sehingga
penulis dapat menyelesaikan penyusunan mini project penelitian ini dalam bentuk maupun
isinya yang sangat sederhana. Semoga mini project dengan judul “Hubungan Pemberian
ASI EKSKLUSIF Terhadap Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Pada
BAYI di Puskesmas Cikarang” ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan,
petunjuk maupun pedoman bagi puskesmas untuk mengevaluasi hal-hal yang berkaitan
dengan kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut pada Bayi di Puskesmas Cikarang
.
Penulis menyadari bahwa mini project ini masih banyak kekurangan. Oleh karena
itu, penulis berharap kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang
bersifat membangun untuk kesempurnaan mini project penelitian ini.

Cikarang, April 2018


Penulis

dr. Dewi Kurnianingsih

2
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...........................................................................................................1
KATA PENGANTAR .........................................................................................................2
DAFTAR ISI ........................................................................................................................3

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................4


1.1. Latar Belakang .......................................................................................................4
1.2. Rumusan Masalah ..................................................................................................5
1.3. Tujuan Penelitian ...................................................................................................5
1.4. Manfaat Penelitian .................................................................................................5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA…………………………………………………………6

BAB III METODE PENELITIAN……………………………………………………....16

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN………………………………………………..19

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN……………………….………………………..23

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………24

LAMPIRAN……………………………………………………………………………...25
Soal Pre/Post Test……………………………………………………………………..25
Dokumentasi Kegiatan………………………………………………………………..30
Media Penyuluhan…………………………………………………………………….32

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah infeksi saluran pernapasan yang
disebabkan oleh virus atau bakteri dan berlangsung selama 14 hari. ISPA merupakan penyakit
infeksi akut yang menyerang saluran pernapasan bagian atas dan bagian bawah. ISPA dapat
menimbulkan gejala ringan (batuk, pilek), gejala sedang (sesak, mengi) bahkan sampai gejala berat
(sianosis, pernapasan cuping hidung).

Pada umumnya anak-anak lebih sering mengalami ISPA baik di negara


berkembang maupun di negara maju. Kejadian ISPA lebih sering terjadi di negara yang
sedang berkembang. Insidensi kejadian ISPA bila dikelompokkan menurut kelompok
umur balita diperkirakan sebesar 0,29 episode per anak/tahun di negara berkembang dan
0,05 episode per anak/tahun di negara maju. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat 156 juta
episode baru di dunia per tahun dimana 151 juta episode (96,7%) terjadi di negara
berkembang. Kasus terbanyak terjadi di India (43 juta), China (21 juta), dan Pakistan (10
juta). Di Bangladesh, Indonesia dan Nigeria masing-masing sekitar 6 juta episode.

Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) masih menjadi masalah kesehatan utama di
Indonesia. Prevalensi ISPA di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 25,0%, tidak jauh
berbeda dengan prevalensi pada tahun 2007 sebesar 25,5%. Prevalensi ISPA tertinggi
terjadi pada kelompok umur 1-4 tahun sebesar 25,8%, diikuti kelompok umur kurang dari
1 tahun sebesar 22,0%. ISPA mengakibatkan sekitar 20-30% kematian pada balita.

Pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif mempunyai peranan penting untuk
menunjang pertumbuhan, perkembangan, kesehatan, dan pemenuhan nutrisi pada bayi.
ASI eksklusif diberikan kepada bayi sejak lahir hingga usia 6 bulan tanpa diberikan
makanan tambahan apapun. Setelah itu, baru kemudian bayi harus diberi makanan
pendamping yang bergizi dan tetap menyusu sampai bayi berusia dua tahun atau lebih.
Menyusui sejak dini mempunyai dampak yang positif, baik bagi ibu maupun bayinya.
Bagi ibu, memberikan ASI tidak hanya bermanfaat untuk menjalin kasih sayang , tetapi
juga dapat mengurangi perdarahan setelah melahirkan, mempercepat pemuihan kesehatan
ibu, menunda kehamilan, hingga mengurangi risiko terkena kanker payudara. ASI sendiri
mengandung banyak faktor kekebalan yang bermanfaat terhadap pencegahan dari berbagai
macam penyakit.

4
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang tersebut, terdapat rumusan masalah yaitu
apakah terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian ASI eksklusif terhadap
kejadian ISPA pada bayi.

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui adanya hubungan pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian
ISPA pada bayi di Puskesmas Cikarang.
1.3.2 Tujuan Khusus

a. Mengetahui distribusi frekuensi kejadian ISPA pada bayi di Puskesmas


Cikarang tahun 2018.

b. Mengetahui distribusi frekuensi pemberian ASI eksklusif pada bayi di


Puskesmas Cikarang tahun 2018.

c. Menganalisis hubungan pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian ISPA


pada bayi di Puskesmas Cikarang tahun 2018.

1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat bagi Penulis
Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan penulis lebih
mendalam tentang hubungan faktor risiko ISPA terhadap kejadian ISPA pada
pemberian ASI eksklusif.
1.4.2 Manfaat bagi Puskesmas
Laporan ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan pertimbangan
bagi perumusan program baru di Puskesmas Cikarang yang bisa meningkatkan
angka frekuensi pemberian ASI eksklusif pada bayi, sehingga dapat menurunkan
angka kejadian ISPA.
1.4.3 Manfaat bagi Masyarakat

Memberikan informasi kepada masyarakat khususnya bagi ibu-ibu tentang


ISPA dan manfaat pemberian ASI eksklusif pada bayi, dan menambah
pengetahuan masyarakat tentang hubungan pemberian ASI eksklusif terhadap
kejadian ISPA pada bayi.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)


2.1. Definisi
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan suatu penyakit infeksi akut
yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran napas mulai dari hidung sampai
alveoli termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah, dan pleura yang
berlangsung selama 14 hari. Menurut WHO, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah
penyakit saluran pernapasan atas atau bawah, , yang dapat menimbulkan berbagai spektrum
penyakit mulai dari penyakit tanpa gejala atau infeksi ringan sampai penyakit yang parah dan
mematikan, tergantung pada patogen penyebabnya, faktor lingkungan, dan faktor pejamu.

2.2 Epidemiologi

ISPA merupakan salah satu masalah kesehatan utama di dunia, baik di negara
maju maupun di negara berkembang. ISPA banyak terjadi di negara berkembang dan
sering menyerang anak-anak terutama bayi dan balita. Di Bangladesh, ISPA
merupakan penyakit infeksi yang menyebabkan kematian sebesar dua per tiga dari
total kematian anak berusia di bawah satu tahun. Insidens kejadian ISPA menurut
kelompok umur balita diperkirakan 0,29 episode per anak/tahun di negara berkembang
dan 0,05 episode per anak/tahun di negara maju. Di Indonesia, angka kejadian ISPA
pada tahun 2013 sebesar 25,0%. Lima provinsi dengan prevalensi ISPA tertinggi yaitu
Nusa Tenggara Timur (41,7%), Papua (31,1%), Aceh (30,0%), Nusa Tenggara Barat
(28,3%) dan Jawa Timur (28,3%). ISPA paling banyak diderita oleh kelompok usia 1-
4 tahun (25,8%). Tidak ada perbedaan angka kejadian ISPA pada laki-laki maupun
perempuan. Penyakit ini lebih banyak dialami pada kelompok penduduk dengan
ekonomi menengah ke bawah.

2.3 Etiologi
ISPA merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri atau virus. Etiologi
ISPA meliputi lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri penyebab ISPA
terbanyak dari genus Streptococcus, Staphylococcus, Pneumococcus, Haemophylus,
Bordetella, dan Corinebacterium. Virus penyebab ISPA antara lain dari golongan
Myxovirus, Adenovirus, Coronavirus, Picornavirus, dan lain-lain. Kebanyakan ISPA
disebabkan oleh virus.
6
2.4. Klasifikasi
Berasarkan lokasi anatomi terkena infeksi, ISPA dibagi menjadi:
a. ISPA bagian atas

Yang termasuk ISPA bagian atas adalah nasofaringitis atau common cold,
faringitis akut, rhinitis akut, dan sinusitis akut.
b. ISPA bagian bawah

Berdasarkan kelompok umur, ISPA diklasifikasikan lagi menjadi:


1. Kelompok umur 2 bulan – di bawah 5 tahun

- Pneumonia berat, apabila terdapat gejala batuk dan/atau sukar bernapas


disertai adanya tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam (chest
indrawing).

- Pneumonia, apabila terdapat gejala batuk dan/atau sukar bernapas


disertasi napas cepat sesuai golongan umur, yaitu bila umur 2 bulan
hingga <1 tahun sebanyak 50 kali atau lebih/menit; dan bila umur 1
hingga <5 tahun 40 kali atau lebih/menit.

- Bukan pneumonia, apabila hanya terdapat gejala batuk dan/atau sukar


bernapas.

2. Kelompok umur kurang dari 2 bulan

- Pneumonia berat, apabila terdapat gejala batuk dan/atau sukar bernapas


disertai napas cepat >60 kali per menit, atau adanya tarikan dinding dada
bagian bawah ke dalam (chest indrawing).

- Bukan pneumonia, apabila hanya teradpat gejala batuk dan/atau sukar


bernapas.

2.5. Faktor Risiko


1. Mikroorganisme penyebab
Penyebab tersering ISPA adalah virus, karena sifatnya yang mudah menular
sehingga angka kejadian ISPA di masyarakat menjadi tinggi. Tetapi, ISPA yang
disebabkan virus tidak memerlukan tatalaksana khusus karena bersifat self-
limiting.

7
2. Faktor host (pejamu)
a. Usia
ISPA lebih sering terjadi pada kelompok umur 1-4 tahun. Anak berusia kurang
dari 2 tahun mempunyai risiko terkena ISPA lebih besra daripada anak yang
lebih tua karena pada usia kurang dari 2 tahun anak tersebut belum memiliki
imunitas yang sempurna dan lumen saluran napas yang relatif sempit.
b. Jenis kelamin
Suatu studi menyebutkan laki-laki lebih banyak mengalami ISPA daripada
perempuan.18 Tetapi dalam Riskesdas disebutkan tidak terdapat perbedaan
angka kejadian ISPA pada laki-laki maupun perempuan.Terdapat sedikit
perbedaan anatomi saluran napas antara anak laki-laki maupun perempuan,
namun hal ini tidak mempengaruhi kejadian ISPA.
c. Berat lahir
ISPA cenderung terjadi pada balita dengan riwayat berat badan lahir rendah
(BBLR) dibandingkan dengan balita tanpa riwayat BBLR.22 Bayi BBLR
memiliki sistem pertahanan tubuh yang belum sempurna yang mengakibatkan
bayi BBLR memiliki daya tahan tubuh yang rendah. Selain itu, bayi BBLR juga
memiliki pusat pengaturan pernapasan yang belum sempurna, surfaktan paru
yang masih kurang jumlahnya, otot-otot pernapasan dan tulang iga yang masih
lemah. Bayi BBLR juga mudah mengalami infeksi paru dan gagal napas.
d. Status gizi
Status gizi menggambarkan baik atau buruknya konsumsi zat gizi seseorang.
Zat gizi diperlukan untuk pembentukan sistem kekebalan tubuh seperti antibodi.
Semakin baik status gizi seseorang, maka semakin baik sistem kekebalan
tubuhnya. Infeksi saluran pernapasan akut yang disebabkan virus sangat
dipengaruhi oleh sistem kekebalan tubuh. Bila sistem kekebalan tubuh baik,
maka seseorang akan kebal terhadap serangan virus. Selain itu, kesembuhan dari
penyakit akibat serangan virus juga akan lebih cepat. Anak dengan malnutrisi
juga lebih sering mengalami ISPA dibandingkan dengan anak dengan gizi yang
baik.
e. Status Imunisasi
Anak yang tidak mendapatkan imunisasi secara lengkap cenderung lebih sering
mengalami ISPA. Kebanyakan kasus ISPA pada anak terjadi akibat komplikasi
dari campak yang merupakan faktor risiko yang dapat dicegah dengan
imunisasi. Namun, kemampuan tubuh untuk menangkal suatu penyit masih
dipengaruhi oleh beberapa faktor yang lain seperti faktor genetik dan kualitas
8
vaksin.
f. Pendidikan
Kurangnya pengetahuan di masyarakat akan gejala dan upaya penanggulangan
ISPA dan bagaimana pencegahan agar tidak mudah terserang penyakit ISPA
menyebabkan masih banyak kasus ISPA yang dapat ke sarana pelayanan
kesehatan sudah dalam keadaan berat.
g. Pemberian ASI eksklusif
Pemberian ASI secara eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan merupakan
langkah yang efektif dan efisien dalam memenuhi kebutuhan gizi dan
memberikan perlindungan bagi bayi dari serangan infeksi khususnya ISPA.21
ASI mengandung banyak faktor kekebalan dan bermanfaat terhadap pencegahan
ISPA terutama sejak pemberian ASI di awal kehidupan bayi hingga bayi berusia
6 bulan, salah satunya adalah imunoglobulin. Imunoglobulin yang banyak
ditemukan pada saluran cerna dan saluran napas adalah imunoglobulin A (IgA).
Selama minggu pertama kehidupan (4-6 hari) payudara ibu akan menghasilkan
kolostrum, yaitu ASI awal yang banyak mengandung zat-zat kekebalan tubuh
(imunoglobulin, komplemen, lisozim, laktoferin, dan sel-sel leukosit) yang
sangat penting untuk melindungi bayi dari serangan infeksi.
Bayi yang diberi ASI eksklusif cenderung tidak pernah mengalami ISPA
sedangkan bayi yang mendapatkan ASI non-eksklusif cenderung lebih sering
mengalami ISPA.21 Risiko anak yang diberi ASI tidak secara eksklusif lebih
besar dibandingkan dengan anak yang diberi ASI secara eksklusif.21 Kematian
akibat penyakit saluran pernapasan 2-6 kali lebih banyak pada bayi yang diberi
susu formula dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASI.

3. Faktor lingkungan
Keadaan fisik sekita rmanusia berpengaruh terhadap kesehatan manusia, baik
secara langsung maupun tidak langsung. Ada beberapa faktor dari lingkungan yang
berpengaruh terhadap kesehatan, meliputi udara, kelembapan, air, dan pencemaran
udara. ISPA termasuk air-borne disease yang merupakan penyakit yang
penularannya melalui udara yang tercemar dan masuk ke dalam tubuh melalui
saluran pernapasan. Karena itu, secara epidemiologi, udara mempunyai peranan
yang besar pada transmisi penyakit infeksi saluran pernapasan. Selain itu, faktor
dari lingkungan yang meningkatkan risiko terjadinya kejadian ISPA adalah asap
yang dihasilkan pabrik, asap kendaraan bermotor, asap dari perokok, asap dari
bahan bakar yang digunakan untuk memasak, kurangnya ventilasi di rumah, suhu
9
ruangan rumah di bawah 18°C atau di atas 30°C, kepadatan hunian rumah,
penggunaan antinyamuk, dan partikel debu di sekitar tempat tinggal.

2.6. Manifestasi Klinis


Gejala ISPA dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:
1. Gejala ISPA Ringan
Seorang bayi/balita dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan satu atau
lebih gejala-gejala berikut:
a. Batuk
b. Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara seperti pada
waktu berbicara atau menangis
c. Pilek, yaiut mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung
d. Demam, dengan suhu badan lebih dari 37°C
2. Gejala ISPA Sedang
Seorang bayi/balita dinyatakan menderita ISPA sedang jika ditemukan gejala
ISPA ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala berikut:
a. Pernapasan cepat sesuai umur yaitu pada kelompok umur <2 bulan dengan
frekuensi napas 60 kali per menit atau lebih, pada kelompok umur 2 - <12
bulan dengan frekuensi napas 50 kali per menit atau lebih, dan pada kelompok
umur 12 bulan - <5 tahun dengan frekuensi napas 40 kali per menit atau lebih.
b. Suhu badan lebih dari 39°C
c. Tenggorokan berwarna merah
d. Telinga sakit atau mengeluarkan cairan dari lubang telinga
e. Pernapasan berbunyi seperti mengorok / mendengkur
3. Gejala ISPA Berat
4. Seorang bayi/balita dinyatakan menderita ISPA berat jika ditemukan gejala ISPA
ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala berikut:
a. Bibir atau kulit membiru
b. Kesadaran anak menurun
c. Pernapasan berbunyi seperti mengorok dan anak tampak gelisah
d. Sela iga tertarik ke dalam saat bernapas
e. Nadi lebih cepat dari 160 kali per menit atau tidak teraba
f. Pernapasan cuping hidung

2.7. Diagnosis
Diagnosis etiologi ISPA pada bayi/balita cukup sulit ditegkkan karena
10
pengambilan dahak sulit dilakukan. Prosedur pemeriksaan imunologi pun belum bisa
memberikan hasil yang memuaskan untuk menentukan penyebab ISPA. Pemeriksaan
darah dan pembiakan spesimen fungsi atau aspirasi paru bisa dilakukan untuk
diagnosis penyebab ISPA. Cara ini cukup efektif untuk menentukan etiologi ISPA.
Namun cara ini dianggap prosedur yang berbahaya dan bertentangan dengan etika.
Dengan pertimbangan ini, diagnosis etiologi penyebab ISPA di Indonesia didasarkan
pada hasil penelitian asing (melalui publikasi WHO) bahwa Streptococcus
pneumoniae dan Haemophylus influenza merupakan bakteri yang selalu ditemukan
pada penelitian etiologi di negara berkembang, sedangkan di negar amaju seringkali
disebabkan oleh virus. Diagnosis ISPA ditegakkan berdasarkan gejala yang timbul
pada bayi/balita seperti yang telah dijelaskan pada uraian manifestasi klinis di atas.

2.8. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan ISPA dikembangkan melalui suatu Manajemen Terpadu
Balita Sakit (MTBS). Melalui MTBS ini msemua penderita ISPA langsung ditangani
di unit yang menemukan. Namun, bila kondisi bayi/balita sudah berada dalam
pneumonia berat, sedangkan peralatan tidak mencukupi maka penderita langsung
dirujuk ke unit dengan fasilitas yang lebih lengkap. Pengobatan ISPA dilaksanakan
berdasarkan klasifikasi ISPA sebagaimana diuraikan secara ringkas pada bagan
berikut.

Gambar 1. Tatalaksana ISPA pada bayi kurang dari 2 bulan

11
Gambar 2. Tatalaksana ISPA pada bayi/balita usia 2 bulan - <5 tahun

Antibiotika yang dapat digunakan adalah kotrimoksazol atau amoksisilin


selama 3 hari, dan dapat juga diberikan penurun panas seperti parasetamol. Setelah
mendapat antibiotika, penderita ditindaklanjuti pada kunjungan ulang setiap dua hari
di fasilitas pelayanan kesehatan. Bila pasien menderita pneumonia berat, pasien harus
segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.

2.9. Pencegahan
1. Penyuluhan, dilakukan oleh tenaga kesehatan dimana melalui kegiatan ini
diharapkan dapat mengubah sikap dan perilaku masyarakat terhadap hal-hal yang
dapat meningkatkan faktor risiko ISPA. Penyuluhan dapat berupa penyuluhan
penyakit ISPA, penyuluhan ASI eksklusif, penyuluhan imunisasi, penyuluhan gizi
seimbang pada ibu dan anak, penyuluhan kesehatan lingkungan rumah, atau
penyuluhan bahaya rokok.
2. Imunisasi lengkap
3. Usaha di bidang gizi dengan tujuan mengurangi malnutrisi.
4. Program KIA yang menangani kesehatan ibu dan bayi BBLR.
5. Program Penyehatan Lingkungan Pemukiman (PLP) yang menangani masalah
12
polusi di dalam maupun di luar rumah.

B. Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif

ASI eksklusif merupakan pemberian ASI pada 6 bulan pertama kelahiran


tanpa disertai pemberian makanan atau minuman apapun.Setelah bayi berusia 6
bulan, barulah bayi mulai diperkenalkan dengan makanan pendamping atau
makanan padat secara benar dan tepat, sedangkan ASI tetap diberikan kepada bayi
sampai berusia 2 tahun atau bahkan lebih dari 2 tahun.
Bayi sehat umumnya tidak memerlukan makanan tambahan apapun sampai
berusia 6 bulan kecuali terdapat keadaan-keadaan khusus yang membuat bayi perlu
diberi makanan tambahan sebelum berusia 6 bulan. Misalnya terjadi peningkatan
berat badan bayi yang tidak sesuai standar atau terdapat tanda-tanda lain yang
menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif tidak berjalan dengan baik. Namun,
sebelum diberikan makanan tambahan, ibu sebaiknya memperbaiki terlebih dahulu
cara pemberian ASI kepada bayi. Apabila setelah 1-2 minggu usaha tersebut telah
dilakukan tetapi belum terjadi peningkatan berat badan, barulah ibu dapat
memikirkan untuk memberikan makanan tambahan bagi bayi berusia di atas 4 bulan
namun belum mencapai 6 bulan.
ASI merupakan suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan
garam-garam organik yang disekresikan oleh kelenjar mammae. Berdasarkan
stadium laktasinya, komposisi ASI dapat dibagi sebagai berikut:

a. Kolostrum
Kolostrum merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar
mammae, mengandung tissue debris dan residual material yang terdapat dalam
alveoli dan duktus dari kelenjar mammae. Kolostrum mulai disekresikan dari hari
ke-1 sampai hari ke-4 setelah melahirkan. Kolostrum bersifat viscous dengan
warna kekuning-kuningan, lebih kuning daripada ASI matur. Kolostrum juga
merupakan pencahar yang ideal untuk membersihkan mekonium dari usus bayi
yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan bayi terhadap makanan
yang akan datang.
Kolostrum mengandung lebih banyak protein serta antibodi (untuk
memberikan perlindungan pada bayi sampai umur 6 bulan) daripada ASI matur,
kadar karbohidrat dan lemak yang lebih rendah daripada ASI matur. Mineral,
terutama natrium, kalium dan klorida lebih tinggi daripada ASI matur. Total
13
energi yang lebih rendah daripada ASI matur, yaitu hanya 58 Kal / 100 mL.
Vitamin yang larut dalam lemak lebih tinggi dan vitamin yang larut dalam air
lebih rendah daripada ASI matur. ASI yang mengandung kolostrum akan
menggumpal jika dipanaskan serta pH lebih alkalis daripada ASI matur.
Kolostrum mengandung tripsin inhibitor, sehingga hidrolisis protein dalam usus
bayi menjadi kurang sempurna agar kadar antibodi lebih banyak pada bayi.
Volumenya berkisar 150-300 mL / 24 jam.
b. ASI masa peralihan
ASI ini merupakan peralihan dari kolostrum sampai menjadi ASI matur
yang disekresikan dari hari ke-4 sampai hari ke-10 pada masa laktasi. Kadar
protein makin rendah sedangkan kadar karbohidrat dan lemak makin tinggi.
Volume ASI pada masa peralihan semakin meningkat.
c. ASI matur
ASI matur merupakan ASI yang disekresikan pada hari ke-10 dan
seterusnya. Komposisinya relatif konstan. Ibu yang sehat dengan produksi ASI
cukup dapat memberikan ASI sebagai satu-satunya makanan yang paling baik
dan cukup untuk bayi sampai usia 6 bulan. ASI matur berwarna putih kekuning-
kuningan karena mengandung garam Ca-caseinat, riboflavin, dan karoten. ASI
matur tidak menggumpal jika dipanaskan dan mengandung antimikrobial lain,
seperti:
- Antibodi terhadap bakteri dan virus

- Sel (fagosit, granulosit, makrofag, dan limfosit T)

- Enzim (lisozim, laktoperoksidase, lipase, katalase, fosfatase, amilase,


fosfodiesterase, alkalinfosfatase)

- Protein (laktoferin, B12 binding protein)

- Resistance factor terhadap stafilokokus

- Komplemen

- Interferron producing cell

- Sifat biokimia yang khas, kapasitas buffer yang rendah dan adanya faktor
bifidus.4

d. Hormon-hormon
Laktoferin merupakan suatu iron binding protein yang bersifat
bakteriostatik kuat terhadap Escherichia coli serta Candida Albicans.
14
Lactobacillus bifidus merupakan koloni kuman yang memetabolisir laktosa
menjadi asam laktat yang menyebabkan rendahnya pH sehingga pertumbuhan
kuman patogen akan terhambat. Imunoglobulin memberikan mekanisme
pertahanan yang efektif terhadap bakteri dan virus (terutama IgA) dan bila
bergabung dengan komplemen dan lisozim merupakan suatu antibakterial yang
langsung terhadap Escherichia coli. Faktor lisozim dan komplemen ini adalah
suatu antibakterial nonspesifik yang mengatur pertumbuhan flora di usus.

15
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Desain penelitian


Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik untuk mengetahui
hubungan pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian ISPA pada bayi. Desain
penelitian yang digunakan adalah studi cross sectional.
3.2. Tempat dan waktu penelitian
Tempat penelitian dilakukan di Puskesmas Cikarang.Waktu penelitian
adalah bulan Maret 2018 .
3.3. Subject
 Populasi Target :

seluruh bayi yang dibawa oleh ibunya yang datang berobat ke Puskesmas

 Populasi Terjangkau :

seluruh bayi yang dibawa oleh ibunya yang datang berobat ke Puskesmas

 Sampel :

populasi terjangkau yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memiliki kriteria eksklusi.

3.4. Kriteria inklusi dan ekslusi


 Kriteria inklusi :

- Bayi berusia 0-12 bulan datang ke Puskesmas Cikarang baik yang


didiagnosis ISPA maupun bukan ISPA.

- Ibu yang membawa bayi tersebut bersedia menjadi responden.


 Kriteria eksklusi :

- Ibu tidak mengisi kuosioner secara lengkap

- Bayi yang bukan dibawa oleh ibunya

3.5. Sampel
Sampel dilakukan dengan metode non-probability sampling jenis
consecutive sampling. Semua subjek yang datang secara berurutan dan memenuhi
kriteria pemilihan dimasukkan sebagai sampel penelitian sampai subjek yang
diperlukan terpenuhi.

16
3.6. Instrumen
Mini project ini menggunakan instrumen berupa kuesioner. Kuesioner Mini project ini
memberikan data yang mencakup identitas seperti nama, usia, jenis kelamin, tempat
tinggal, tingkat pendidikan orangtua, pekerjaan orangtua,riwayat persalinan. Pengambilan
data kuesioner dilakukan dengan melakukan wawancara langsung pada orangtua.

3.7. Cara pengambilan data

Penentuan Judul

Pelaksanaan

Populasi terjangkau

Seleksi berdasarkan kriteria inklusi


dan kriteria eksklusi

Sampel

Penyuluhan & mengisi kuesioner

Pengolahan dan analisis data

Pelaporan hasil

Gambar 1. Alur Penelitian

3.8. Cara Pengambilan data


Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer yang
diperoleh secara langsung dari subjek penelitian dengan cara wawancara.
Instrumen yang digunakan untuk pengambilan data adalah dengan pembagian
kuesioner.

17
3.9. Pengelolaan dan Teknik analisa data
- Verifikasi Data
Kelengkapan dan kesesuaian data yang didapat dari kuesioner diperiksa setelah
selesai dikumpulkan.
- Entry Data

Data yang telah diverifikasi akan diklasifikasikan berdasarkan jenis data (ordinal
atau nominal).
- Analisis Data

Data yang telah melalui tahap verifikasi dan entry dianalisis secara deskriptif.

18
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Demografi Puskesmas Cikarang

Kabupaten Bekasi memiliki 44 Puskesmas yang tersebar di beberapa kecamatan.


Salah satunya adalah UPTD Puskesmas Cikarang yang terletak di Desa Karang Asih
Kecamatan Cikarang Utara Kabupaten Bekasi Provinsi Jawa Barat. UPTD Puskesmas
Cikarang berdiri sejak 1 April tahun 1969 masa pemerintahan orde baru meliputi wilayah
kerja 13 desa dan pada tahun 1990 di pisah menjadi 2 wilayah yaitu UPTD Puskesmas
Cikarang dan Puskesmas Karang Bahagia dimana UPTD Puskesmas Cikarang meliputi 5
desa dan Puskesmas Karang Bahagia meliputi 6 desa.
Setelah otonomi daerah UPTD Puskesmas Cikarang dirampingkan menjadi 5 desa
terdiri dari :
1. Desa Cikarang Kota
2. Desa Karang Baru
3. Desa Karang Asih
4. Desa Waluya
5. Desa Karang Raharja

4.2 Deskripsi Karakteristik Sampel


Karakteristik Frekuensi (n) Persentase (%)
Jenis Kelamin Bayi
Laki-laki 12 71%
Perempuan 5 29%
Usia Bayi
0-6 Bulan 9 52%
7- 12 Bulan 8 48%
Pemberian ASI Ekslusif
Ya 8 48%
Tidak 9 52%
Pemberian Kolostrum
Ya 8 48%
Tidak 9 52%

19
Menderita ISPA
Ya 10 58%
Tidak 7 42%
Frekuensi ISPA
<2 x 5 36%
>2 x 11 64%
Riwayat Batuk > 2 minggu
dalam keluarga
Ya 2 12%
Tidak 15 88%
Total 17 100%

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden

Dari tabel tersebut diketahui bahwa jumlah responden pada penelitian ini
sebanyak 17 orang. Kebanyakan responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 12
orang (71%), dan kebanyakan responden berusia 0-6 bulan. Sebagian kecil responden
tidak diberikan ASI eksklusif, yaitu sebanyak 1 orang (6%), sedangkan yang
diberikan ASI eksklusif berjumlah 16 orang (94%). Responden yang menderita ISPA
didapatkan sebanyak 14 orang (82%), dan kebanyakan menderita ISPA lebih dari 2
kali yaitu sebanyak 11orang (64%) dari responden.

4.3 Distribusi Kejadian ISPA berdasarkan Pemberian ASI Eksklusif

Pada penelitian ini dapat diketahui besar kejadian ISPA berdasarkan pemberian
ASI eksklusif kepada bayi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

ASI Menderita ISPA Total


Eksklusif Ya Tidak
N % N % N %
Ya 3 37,5 5 62,5 8 100
Tidak 7 77,8 2 22,2 9 100
Tabel 2. Distribusi Kejadian ISPA berdasarkan Pemberian ASI Eksklusif

Dari tabel tersebut didapatkan bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif
lebih banyak menderita ISPA dibandingkan bayi yang diberikan ASI eksklusif.
20
4.4 Hubungan Pemberian ASI Eksklusif terhadap Kejadian ISPA
Penelitian ini bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya hubungan antara
pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian ISPA pada bayi berusia 0-12 bulan. Data
hasil penelitian dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Kejadian ISPA P
Ya Tidak
N % N %
ASI Ya 3 37,5 5 62,5 0,008
Eksklusif Tidak 7 77,8 2 22,2
Total 10 100 7 100
Tabel 3. Hubungan antara Pemberian ASI Eksklusif terhadap Kejadian ISPA

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa secara keseluruhan terdapat 10 orang
bayi yang menderita ISPA dan 7 orang bayi yang tidak menderita ISPA. Dari 10 bayi
yang menderita ISPA, hanya 3 bayi yang diberikan ASI eksklusif, sedangkan 7 bayi
sisanya tidak diberikan ASI eksklusif. Setelah dilakukan uji hipotesis dengan metode
Chi Square dengan derajat tingkat kemaknaan 0,05 (α=5%), diperoleh nilai p sebesar
0,008 (p<0,05). Dengan demikian terdapat hubungan yang bermakna antara
pemberian ASI eksklusif dengan kejadian ISPA pada bayi di Puskesmas Cikarang.

4.5 Pembahasan

Jumlah responden pada penelitian ini ada 17 orang. Mayoritas responden tidak
diberikan ASI eksklusif, yaitu sebanyak 8 bayi (48%), dan 9 bayi (52%) yang tidak
diberikan ASI eksklusif tersebut menderita ISPA. Dengan demikian, pemberian ASI
eksklusif pada bayi lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak diberi ASI
eksklusif. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi alasan ibu tidak memberikan ASI
eksklusif (diberikan susu formula sebagai pengganti ASI), antara lain sedikitnya
produksi ASI atau ASI tidak ada keluar sama sekali dari payudara ibu, ibu sibuk
bekerja, ibu memiliki kegiatan sosial lain, kurangnya pengetahuan ibu, faktor
makanan, psikologis, dan perawatan payudara oleh ibu.
Penelitian ini juga menunjukkan terdapat 64% bayi yang menderita ISPA
hingga lebih dari 2 kali dalam 1 tahun, dan hanya 36% bayi saja yang tidak pernah
21
mengalami ISPA. Dengan demikian angka kejadian ISPA pada bayi di wilaya
Puskesmas Cikarang cukup tinggi. Penyebab tingginya kejadian ISPA dipengaruhi
oleh banyak faktor, yaitu pemberian ASI eksklusif, usia anak di bawah 5 tahun, tidak
diberikannya imunisasi, berat badan lahir rendah, malnutrisi, kurangnya pendidikan
orangtua, rendahnya status sosioekonomi, dan lingkungan yang kurang memadai.
Hubungan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian ISPA pada bayi diuji
dengan uji statistik Chi square didapatkan nilai p=0,008 yang berarti terdapat
hubungan yang bemakna antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian ISPA pada
bayi.
Telah diketahui sebelumnya bahwa ASI mengandung komponen-komponen
bioaktif yang dapat mencegah bayi mengalami ISPA. Beberapa komponen-komponen
tersebut adalah komponen-komponen imun sepert imunoglobulin A (IgA) dan
interferon yang mampu memberikan perlindungan kepada bayi dari serangan
infeksi.IgA dapat mengaktifkan sistem komplemen melalui jalur alternatif dan
bersama-sama dengan makrofag memfagositosis berbagai kuman yang masuk. Selain
itu Bronchus Associated Lymphocyte Tissue (BALT) yang dikandung Asi merupakan
antibodi alami di saluran pernapasan.
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan signifikan antara
pemberian ASI eksklusif dengan kejadian ISPA pada bayi. Penanganan penurunan
prevalensi ISPA tentu tidak hanya dengan upaya kuratif tetapi perlu ditingkatkan
upaya promotif dan preventif termasuk di dalamnya upaya peningkatan pemberian
ASI eksklusif kepada bayi sampai usia 6 bulan.

22
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab IV, maka dapat ditarik
beberapa simpulan sebagai berikut :

1. Ada hubungan antara pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian ISPA pada
bayi (p<0,08).
2. Pemberian ASI eksklusif pada bayi di Puskesmas Cikarang, sebesar 48%,
sedangkan yang tidak diberi ASI eksklusif sebesar 52%.
3. Kejadian ISPA pada bayi di Puskesmas Cikarang, sebesar 58% (30%
mengalami ISPA sebanyak ≤ 2 kali dalam setahun dan 36% mengalami
ISPA ≥ 2 kali dalam setahun) sedangkan yang tidak mengalami ISPA
sebesar 64%.

5.2 Saran
1. Perlu dilakukan pembuatan leaflet mengenai pentingnya pemberian ASI eksklusif
dan hubungannya dengan ISPA pada bayi untuk menambah wawasan masyarakat
sekitar Puskesmas Cikarang.
2. Perlu dilakukan pembinaan peran serta masyarakat dan kerja sama dengan kader-
kader PKK dan posyandu untuk lebih memotivasi ibu menyusui dalam
memberikan ASI eksklusif kepada bayinya.
3. Perlu digalakkan lagi tentang perilaku hidup bersih sehat (PHBS) melalui
penyuluhan mengenai pencegahan ISPA dan faktor-faktor risiko kejadian ISPA.

23
DAFTAR PUSTAKA

1. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Riset


Kesehatan Dasar. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI, 2013.
2. World Health Organization (WHO). Penanganan ISPA pada Anak di Rumah Sakit
Kecil Negara Berkembang. Alih Bahasa: C. Anton Widjaja. Jakarta: Penerbit
Kedokteran EGC, 2003.
3. Harahap, Okto M F. Riwayat ASI Eksklusif pada Balita ISPA di Puskesmas Sering.
Medan: Universitas Sumatera Utara, 2010.
4. Roesli, Utami. Mengenal ASI Eksklusif. Jakarta: Tubulus Agriwidya, 2001.
5. Fuadi, Mirzal. Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Pasca Melahirkan terhadap
Pentingnya Pemberian ASI Eksklusif di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2010.
Medan: Universitas Sumatera Utara, 2010.
6. Kristiyansari, W. ASI, Menyusui, dan SADARI. Yogyakarta: Nuha Medika, 2009.
7. Elfia, Yunita. Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dan ASI Non Eksklusif dengan
Kejadian ISPA pada bayi Usia 0-6 Bulan di Puskesmas Ngesrep Semarang.
Undergradute Theses from JTPTUNIMUS. Diambil pada tanggal 10 Januari 2016
dari http://digilib.unimus.ac.id.
8. Ariefuddin, Y., Priyantini, S. dan Desanti, O.L. Hubungan Pemberian ASI Eksklusif
terhadap Kejadian INFeksi Saluran Pernapasan Akut pada Bayi 0-12 Bulan.
Semarang: Universitas Islam Sultan Agung, 2010.
9. Widarini dan Sumasari. Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian ISPA
pada Bayi. Jurnal Ilmu Gizi (JIG), 1(1): 28-41, 2010.
10. Rustam, Musfardi. Hubungan Pemberian ASI Eksklusif terhadap Kejadian ISPA
pada Bayi usia 6-12 Bulan di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Jakarta: FKM UI,
2010.
11. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Lingkungan. Pedoman
Pengendalian Infeksi Saluran Pernapasan Akut. Jakarta: Kementerian Kesehatan
RI, 2012.

24
LAMPIRAN

Soal Pretest

KUESIONER PENELITIAN

HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF TERHADAP KEJADIAN INFEKSI


SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) PADA BAYI
DI PUSKESMASCIKARANG

Nomor responden:
Tanggal Pengambilan Data :

Petunjuk pengisian kuesioner.

1. Sebelum menjawab pertanyaan, bacalah terlebih dahulu pertanyaan yang diteliti.

2. Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan memilih salah satu jawaban yang dianggap
benar dengan memberikan tanda (√).

3. Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kuesioner mohon dilakukan dengan


memberikan jawaban yang sejujurnya.

4. Mohon diteliti ulang, agar tidak ada pernyataan yang terlewatkan untuk dijawab.

5. Mohon jawaban diisi sendiri sesuai dengan apa yang diketahui tanpa ada unsur paksaan
maupun rekayasa, demi tercapainya hasil yang diharapkan.

6. Data yang dikumpulkan semata-mata untuk keperluan ilmiah yang saya jamin
kerahasiaannya.

A. Data Ibu

Nama :
Usia :
Pekerjaan :
25
Agama :
Pendidikan terakhir :
Alamat :
Nomor HP :

B. Data Bayi
Nama :
Usia :
Jenis Kelamin :
Riwayat persalinan :a.Normal b. Tidak Normal/SC
Alasan Dibawa ke Puskesmas:

C. Kuesioner penelitian

a. Pemberian ASI Eksklusif

No Pertanyaan Jawaban
Ya Tidak
1 Jika bayi berusia di atas 6 bulan :
a. Apakah ibu memberikan ASI pada bayi sampai
berusia 6 bulan?
b. Selain ASI, apakah ibu memberikan makanan
tambahan atau susu formula sampai berusia 6 bulan?
2 Jika bayi berusia di bawah 6 bulan / berusia 6 bulan :
a. Apakah ibu memberikan ASI kepada bayi?
b. Selain ASI, apakah ibu memberikan makanan
tambahan atau susu formula?
3 Apakah dilakukan IMD saat bayi baru lahir?
IMD adalah proses menyusui segera yang dilakukan
dalam satu jam pertama setelah bayi lahir.
4 Apakah diberikan KOLOSTRUM saat bayi baru
lahir?
Kolostrum adalah cairan yang pertama kali
dikeluarkan oleh kelenjar payudara ibu berwarna
kekuningan.
5 Apakah terdapat hambatan dalam pemberian ASI?
Bila ada jelaskan.
26
Keterangan:
- Bayi diberikan ASI secara eksklusif, apabila pertanyaan nomor 1a atau 2a dijawab
Ya dan pertanyaan nomor 1b atau 2b dijawab Tidak.
- Bayi tidak diberikan ASI secara eksklusif, apabila pertanyaan nomor 1b atau 2b
dijawabYa.

27
b. Kejadian ISPA
Jawaban
No Pertanyaan
Ya Tidak
1 Apakah bayi ibu pernah sakit batuk dan atau pilek?
2 Apakah kejadian sakit batuk/pilek pada bayi ibu disertai demam?
3 Apakah kejadian batuk/pilek tersebut berlangsung lebih dari 14
hari?
4 Apakah bayi ibu mengalami kejadian sakit batuk/pilek lebih dari
2x dalam kurun waktu satu tahun terakhir?
5 Apakah pada keluarga ada yang sedang Batuk > 2 minggu atau
mempunyai penyakit TB Paru?

Keterangan:
Kejadian ISPA ditentukan oleh pertanyaan nomor 1 dan 3.
- Bayi menderita ISPA apabila pertanyaan nomr 1 dijawab Ya dan nomor 3 dijawab Tidak.
- Bayi tidak menderita ISPA apabila pertanyaan nomor 1 dijawab Tidak.

28
LEMBAR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (PSP)
(INFORMED CONSENT)

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama :

Usia :

Alamat :

setelah mendapatkan penjelasan mengenai penelitian tentang “Hubungan Pemberian ASI


Eksklusif terhadap Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Bayi di Puskesmas
Cikarang”, dengan ini menyatakan BERSEDIA/TIDAK BERSEDIA* untuk ikut serta
berpartisipasi dengan menjadi objek penelitian.

*) coret yang tidak perlu

Cikarang, Maret 2018

Peneliti, Yang Membuat Pernyataan,

dr. Dewi Kurnianingsih ..................................................

29
Dokumentasi Penyuluhan

30
Media Penyuluhan

31
32
33