You are on page 1of 8

PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT

NOMOR : 412//Dir-SK/XII/2016
TENTANG
PANDUAN PEMBERIAN INFORMASI DAN EDUKASI RUMAH SAKIT
DIREKTUR RUMAH SAKIT

ANG : 1. Bahwa dalam pemberian informasi dan edukasi kepada pasien dan Keluarga dapat meningkatkan pengetahuan
dan perilaku kesehatan untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal
2. Bahwa penyelenggaraan pendidikan pasien dan pemberian informasi di Rumah Sakit diperlukan adanya Panduan
Pemberian Informasi dan Edukasi.

MENGINGAT : 1. Undang-Undang RI Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit.
2. Undang-Undang RI Nomor 72 tahun 1963 tentang Farmasi.
3. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 72 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit.
4. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 11 tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien.
5. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1197 tahun 2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit.

MEMUTUSKAN
MENETAPKAN :
U : Panduan pemberian informasi dan edukasi Rumah Sakit sebagaimana terlampir dalam keputusan ini

A : Panduan berlaku sejak ditetapkan dan akan dilakukan evaluasi minimal 1 (satu) tahun sekali

A : Apabila hasil evaluasi mensyaratkan adanya perubahan, maka akan dilakukan perubahan dan perbaikan
sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Tangerang
Tanggal : 30 Desember 2016
RUMAH SAKIT TANGERANG

Direktur

Sensasi yang telah dipersepsikan oleh individu direkam oleh memori. persepsi. Proses pengolahan informasi ini akan dapat menimbulkan suatu perubahan . atau pun hubungan-hubungan yang diperoleh. proses informasi meliputi empat tahap. Tahap sensasi merupakan tahap yang paling awal dalam penerimaan informasi melalui alat indera. Instalasi Farmasi 7. Memori berperan penting dalam mempengaruhi baik persepsi maupun berpikir. Berpikir dilakukan untuk memahami realitas dalam rangka mengambil keputusan. Komite Medis 3. Informasi Informasi adalah pesan yang disampaikan seseorang komunikator kepada komunikan. yang mempengaruhi penafsiran individu terhadap stimuli. yakni tahap sensasi. memori dan berpikir. Selanjutnya individu mempersepsikan objek. jika diperlukan. Seluruh Kepala Ruang Keperawatan 6. Dengan memori inilah informasi dapat direkam. dan menghasilkan pengetahuan baru. Menurut Rakhmat (1986). peristiwa. Arsip SURAT PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT NOMOR : 412//Dir-SK/XII/2016 TANGGAL : 30 Desember 2016 BAB I DEFINISI A. Kepala Bagian Keperawatan 5. Seluruh Dokter di Rumah Sakit 4. disimpan. Wadir Pelayanan Medis 2.TEMBUSAN Yth : 1. sehinnga individu dapat memahami kualitas fisik lingkungannya. dan kemudian digunakan kembali. memecahkan persoalan. Tahap terakhir proses pengolahan informasi adalah berpikir. kemudian menyimpulkan atau menafsirkan informasi tersebut.

tampaknya pendekatan edukasi (pendidikan kesehatan) lebih tepat dibandingkan dengan pendekatan koersi. misalnya: a. Tempat Pelaksanaan Pendidikan Kesehatan Menurut dimensi tempat pelaksanaannya. 2007). dan sebagainya. Namun demikian bila perilaku tersebut berhasil diadopsi masyarakat. B. Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat 2. dilakukan di sekolah dengan sasaran murid. Dengan sendirinya sasarannya berbeda pula. Pendidikan kesehatan individual. Melalui informasi individu mendapatkan pengetahuan. pengunjung. Pendidikan kesehatan di Rumah Sakit. 2007). sikap dan perilaku. sikap dan perilaku. Pendidikan kesehatan di Posyandu atau Desa Binaan dengan sasaran masyarakat sekitar . Upaya agar masyarakat berperilaku atau mengadopsi perilaku kesehatan dengan cara persuasi. ajakan. Memang dampak yang timbul dari cara ini terhadap perubahan perilaku masyarakat memakan waktu yang lama. Edukasi Edukasi Kesehatan adalah kegiatan upaya meningkatkan pengetahuan kesehatan perorangan paling sedikit mengenai pengelolaan faktor risiko penyakit dan perilaku hidup bersih dan sehat dalam upaya meningkatkan status kesehatan peserta. lebih penting dibandingkan hanya sekedar memberikan informasi tanpa disertai usaha pembentukan sikap dan perubahan perilaku nyata. Haloran (1970) menyatakan bahwa interaksi dengan tatap muka langsung antara pihak penerima pesan dan pihak penyampai pesan merupakan intervensi dua arah yang lebih memungkinkan untuk menghasilkan perubahan. Dengan perkataan lain pendidikan kesehatan mengupayakan perilaku individu. 1986). pendidikan yang berusaha mengubah pengetahuan. BAB II RUANG LINGKUP Ruang lingkup pemberian informasi dan edukasi dapat dilihat dari berbagai dimensi. pendidikan yang berusaha mengubah pengetahuan. pada sikap atau tindakan individu. 2007). memberikan informasi. dengan sasaran individu b. Informasi dapat digunakan untuk membujuk dan mempengaruhi perilaku manusia. Menurut Aristoteles (dalam fisher. Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok c. Pendidikan kesehatan di sekolah. atau untuk mengubah perilaku manusia. Haloran (1970) menyatakan bahwa interaksi dengan tatap muka langsung antara pihak penerima pesan dan pihak penyampai pesan merupakan intervensi dua arah yang lebih memungkinkan untuk menghasilkan perubahan. atau masyarakat mempunyai pengaruh positf terhadap pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. kelompok. antara lain dimensi sasaran pendidikan. yaitu: a. Sasaran Pendidikan Kesehatan dapat dikelompokkan menjadi 3. dilakukan di rumah sakit dengan sasaran pasien. Menurut Ross (1998) dalam (Afiatin. Dalam rangka pembinaan dan peningkatan perilaku kesehatan masyarakat. Dengan demikian peningkatan pengetahuan yang bertujuan untuk mengubah sikap akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara tatap muka langsung. Dengan demikian peningkatan pengetahuan yang bertujuan untuk mengubah sikap akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara tatap muka langsung. dimensi tempat pelaksanaan atau aplikasinya. dan dimensi tingkat pelayanan kesehatan. petugas Rumah Sakit. himbauan. agar perilaku tersebut kondusif untuk kesehatan. maka akan langgeng. (dalam Tina Afianti. sesuai yang diinginkan pemberi informasi. bujukan. bahkan selama hidup dilakukan. dibanding dengan cara koersi. dan masyarakat sekitar Rumah Sakit c. memberikan kesadaran. Menurut Ross (1998) dalam (Afiatin. Dapat disimpulkan bahwa pendidikan kesehatan adalah suatu bentuk intervensi atau upaya yang ditujukan kepada perilaku. keluarga pasien. pendidikan kesehatan dapat berlangsung di berbagai tempat. melalui kegiatan yang disebut pendidikan atau penyuluhan kesehatan. guru b. lebih penting dibandingkan hanya sekedar memberikan informasi tanpa disertai usaha pembentukan sikap dan perubahan perilaku nyata. informasi dapat digunakan sebagai alat persuasi. 1. mencegah timbulnya kembali penyakit dan memulihkan penyakit.

dll) harus menggunakan komunikasi yang efektif agar tepat. higiene perorangan. Hal ini akan menyebabkan masyarakat tidak memperoleh pelayanan kesehatan yang layak. Oleh karena itu pendidikan kesehatan juga diperlukan pada tahap ini. Pengobatan yang tidak layak dan sempurna dapat mengakibatkan orang yang bersangkutan menjadi cacat atau memiliki ketidakmampuan untuk melakukan sesuatu. Hal ini karena kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi sebagai cara perlindungan terhadap penyakit pada orang dewasa maupun pada anak-anaknya masih rendah. Perlindungan Khusus (Specifik Protection) Dalam program imunisasi sebagai bentuk pelayanan perlindungan khusus ini pendidikan kesehatan sangat diperlukan terutama di negara-negara berkembang. Dengan kata lain mereka tidak melakukan pemeriksaan dan pengobatan yang komplit terhadap penyakitnya. Untuk memulihkan cacatnya tersebut kadang-kadang diperlukan latihan-latihan tertentu. e. akurat. pendidikan kesehatan dapat dilakukan berdasarkan lima tingkat pencegahan (five levels of prevention) dari Leavel and Clark. d. seringkali mengakibatkan masyarakat tidak melanjutkan pengobatannya sampai tuntas. Promosi Kesehatan (Health Promotion). Rumah Sakit dalam memberikan materi dan proses edukasi pada pasien dan keluarga minimal berupa topik sebagai berikut : 1. Oleh sebab itu pendidikan kesehatan sangat diperlukan pada tahap ini. dan mudah dipahami oleh sasaran. kadang-kadang orang menjadi cacat. dan sebagainya. Bahkan kadang-kadang masyarakat sulit atau tidak mau diperiksa dan diobati penyakitnya. termasuk potensi efek samping obat 2. Penggunaan peralatan medis secara efektif & aman 3. sehingga dapat mengurangi tingkat kesalahan (kesalahpahaman). Manajemen nyeri dan teknik rehabilitasi BAB III TATA LAKSANA Dalam memberikan pelayanan informasi dan edukasi pada sasaran (pasien. Sering terjadi pula masyarakat tidak mau menerima mereka sebagai anggota masyarakat yang normal. Dalam tingkat ini pendidikan kesehatan diperlukan misalnya dalam peningkatan gizi. Tingkat Pelayanan Pendidikan Kesehatan Dimensi tingkat pelayanan kesehatan. Pengobatan Segera (Early Diagnosis and Prompt Treatment) Dikarenakan rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan penyakit. pengunjung. Komunikasi itu bisa bersifat informasi (asuhan) dan edukasi (pelayanan promosi) . c. serta makanan 4. b. kadang-kadang malu untuk kembali ke masyarakat. Rehabilitasi (rehabilitation) Setelah sembuh dari suatu penyakit tertentu. perbaikan sanitasi lingkungan. Oleh karena kurangnya pengertian dan kesadaran orang tersebut. jelas. 3. kebiasaan hidup. sebagai berikut: a.obatan yang didapat pasien secara efektif & aman. Penggunaan obat . keluarga. Oleh sebab itu jelas pendidikan kesehatan diperlukan bukan saja untuk orang yang cacat tersebut. Potensi interaksi antara obat yang diresepkan dengan obat lainnya. maka sering sulit mendeteksi penyakit-penyakit yang terjadi di dalam masyarakat. Diet dan nutrisi 5. tetapi juga perlu pendidikan kesehatan kepada masyarakat. Pembatasan Cacat (Disability Limitation) Oleh karena kurangnya pengertian dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan dan penyakit. Di samping itu orang yang cacat setelah sembuh dari penyakit. ia tidak atau segan melakukan latihan-latihan yang dianjurkan.

Edukasi tentang penyakit c. risiko. senang dan marah) 7. keluarga. Admission. Sebelum melakukan edukasi. jika kondisi dan situasinya memungkinkan 4. Cara mendapatkan pelayanan d. Edukasi pasien tentang apa yang harus di hindari d. Keyakinan dan nilai-nilai pasien dan keluarga 5. Kemampuan membaca. langkah awal petugas harus menilai kebutuhan edukasi pasien dan keluarga (asesmen) berdasarkan: (data ini didapatkan dari RM): 1. Bangsal/ruangan tempat pasien dirawat . Kemampuan berbicara 3. Jam pelayanan b. serta kemungkinan efek samping/komplikasi d. Edukasi tentang apa yang harus dilakukan pasien untuk meningkatkan kualitas hidupnya pasca dari rumah sakit e. termasuk manfaat. Ruang praktik dokter b. pengunjung. Edukasi tentang Gizi Akses untuk mendapatkan materi edukasi melalui unit PKRS (Promosi Kesehatan Rumah Sakit). Keterbatasan fisik dan kognitif 8. Keluarganya atau orang lain yang ditunjuk oleh pasien c. Pemberian edukasi dan informasi diberikan oleh semua petugas yang ada di Rumah Sakit baik petugas medis maupun non medis. Komunikasi yang bersifat infomasi asuhan didalam rumah sakit adalah : a. Berbagai tindakan medis yang akan dilakukan untuk menentukan diagnosis. Edukasi tentang obat b. Komunikasi yang bersifat Edukasi (Pelayanan Promosi) : a. Kapan menyampaikan informasi Segera. Pelayanan yang tersedia c. Identitas dasar pasien 2. Dalam pemberian materi atau pesan yang akan diberikan kepada sasaran harus disesuaikan dengan kebutuhan kesehatan pasien keluarga dan masyarakat. pedagang. tingkat pendidikan dan bahasa yang digunakan 6. Dukungan (support) yang tersedia 2. Tujuan anamnesis dan pemeriksaan fisik (kemungkinan rasa tidak nyaman/sakit saat pemeriksaan) b. Siapa yang diberi informasi a. 1. Sumber alternatif mengenai asuhan dan pelayanan yang diberikan ketika kebutuhan asuhan pasien melebihi kemampuan rumah sakit. Di mana menyampaikannya a. Hasil dan interpretasi dari tindakan medis yang telah dilakukan untuk menegakkan diagnosis e. Perlu penerjemah atau tidak 4. Materi informasi apa yang disampaikan a. Akses informasi ini dapat diperoleh melalui Customer Service. Pasien. dan Website. Keluarganya atau pihak lain yang menjadi wali/pengampu dan bertanggung jawab atas pasien jika kondisi pasien tidak memungkinkan untuk berkomunikasi sendiri secara langsung 3. sehingga dapat dirasakan langsung manfaatnya. Hambatan emosional dan motivasi (emosional: depresi. 2. yaitu: 1. petugas Rumah Sakit dan keluarga) dan pelanggan ekstern (pasien. Edukasi dapat diberikan kepada siapa saja yang berada di lingkungan Rumah Sakit maupun di luar Rumah Sakit. Prognosis f. Kondisi saat ini dan berbagai kemungkinan diagnosis c. apabila dia menghendaki dan kondisinya memungkinkan b. misalnya pelanggan intern (Yayasan Badan Wakaf Rumah Sakir. masyarakat). Ketersediaan pasien untuk menerima informasi Secara ringkas ada 6 (enam) hal yang penting diperhatikan agar efektif dalam berkomunikasi dengan pasien.

Ingatkan: Pemberian informasi dan edukasi yang dilakukan bersama pasien mungkin memasukkan berbagai materi secara luas. demonstrasi. dan pemberian leaflet. S = Salam A = Ajak Bicara J = Jelaskan I = Ingatkan Secara rinci penjelasan mengenai SAJI adalah sebagai berikut : Salam: Beri salam dan sapa. Sedangkan pemberian edukasi dan informasi untuk pasien rawat jalan dapat melalui tatap muka. ceramah. informasi yang diinginkan dan amati kesiapan pasien/keluarga menerima informasi yang akan diberikan. Jangan bicara sendiri. Pada tahap selanjutnya diperlukan proses verifikasi bahwa pasien dan . faksimile. yaitu secara langsung (tanya jawab. internet. suara gaduh dari tv/radio. telepon. maupun klarifikasi terhadap hal-hal yang masih belum jelas bagi kedua belah pihak serta mengulang kembali akan pesan-pesan kesehatan yang penting. Metode yang diberikan untuk pasien rawat inap dapat menggunakan teknik secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan teknik tanya jawab. pemasangan poster. papan pengumuman. Di bagian akhir percakapan. 4) Media yang digunakan. Tanyakan kepada pasien/keluarga. tidak melalui telepon. Dengan diberikannya informasi dan edukasi kepada sasaran diharapkan komunikasi yang disampaikan dapat dimengerti dan diterapkan oleh pasien. Dorong agar pasien/keluarga mau dan dapat mengemukakan pikiran dan perasaannya. Luruskan persepsi yang keliru. media elektronik. Pendukung dalam pelaksanaan pemberian materi edukasi dengan menggunakan 2 metoda. Tunjukkan bahwa petugas kesehatan menghargai pendapatnya. 2) Ruangan yang nyaman. memperhatikan privasi. yaitu SAJI (Poernomo. majalah. lembar balik. tidak terganggu orang lalu lalang. yang ingin diketahuinya. Depkes RI. Ruang diskusi 5. Jelaskan: Beri penjelasan mengenai hal-hal yang menjadi perhatiannya. terapi. sejauh mana pengertian pasien/keluarga tentang hal yang akan dibicarakan. Persiapan meliputi: 1) Materi yang akan disampaikan (bila diagnosis. Selalu melakukan klarifikasi apakah pasien telah mengerti benar. sms. lembar balik. dll. atau apapun secara jelas. prognosis sudah disepakati oleh tim). Ieda SS. dan yang akan dijalani/dihadapinya agar ia tidak terjebak oleh pikirannya sendiri. tunjukkan bahwa petugas kesehatan bersedia meluangkan waktu untuk berbicara dengan pasien/keluarga Ajak Bicara: Usahakan berkomunikasi secara dua arah. 1999). Bagaimana menyampaikannya a. tindakan medis. dapat memahami kecemasannya. serta mengerti perasaannya. b. seminar. 3) Waktu yang cukup. demonstrasi) dan tidak langsung (leaflet. ingatkan pasien/keluarga untuk hal-hal yang penting dan koreksi untuk persepsi yang keliru. Berikan penjelasan mengenai penyakit. papan pengumuman. ceramah. juga tidak diberikan dalam bentuk tulisan yang dikirim melalui pos. yang tidak mudah diingatnya kembali.c. c. Program Family Health Nutrition. dan media elektronik. Petugas kesehatan dapat menggunakan pertanyaan terbuka maupun tertutup dalam usaha menggali informasi. pemberian leaflet. dll). seperti leaflet. Informasi penting sebaiknya dikomunikasikan secara langsung. Ada empat langkah yang terangkum dalam satu kata untuk melakukan komunikasi. pemasangan poster.

dan ditandatangani kedua belah pihak antara dokter dan pasien atau keluarga pasien. kira-kira apa yang bpk/ibu bisa pelajari ?”. Dokumentasi asuhan pada pasien dibuat untuk menunjang tertibnya administrasi dalam rangka upaya peningkatan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit. ada hambatan emosional (marah atau depresi). Tujuan Tujuan dari kegiatan pendokumentasian asuhan. serta kalangan perawat sendiri (A. Dokumentasi dalam Bahasa Inggris berarti satu atau lebih lembar kertas resmi dengan tulisan diatasnya. 3. Apabila pasien pada tahap cara memberikan edukasi dan informasi. Aziz Alimul). Hal ini dilakukan sebagai bukti bahwa pasien dan keluarga pasien sudah diberikan edukasi dan informasi yang benar. Apabila pasien pada tahap cara memberikan edukasi dan informasi. Mendemonstrasikan/memperagakan ketrampilan yang diajarkan 3. Dokumentasi yang dikomunikasikan secara akurat dan lengkap dapat berguna untuk membantu koordinasi asuhan yang diberikan oleh tim kesehatan. Setiap petugas kesehatan dalam memberikan informasi dan edukasi kepada pasien wajib untuk mengisi formulir edukasi dan informsi. video. Pemberian informasi dan edukasi kepada pasien dan keluarga perlu didokumentasikan oleh tim kesehatan yang telah memberikan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan pasien. mencegah informasi yang berulang terhadap pasien atau anggota tim kesehatan atau mencegah tumpang tindih. maka verifikasi yang dilakukan dengan menanyakan kembali edukasi yang telah diberikan. pasien dapat menggunakan bahasa isyarat atau dengan melibatkan keluarganya. Dokumentasi Pelaksanaan Pemberian Informasi dan Edukasi di Rumah Sakit . Pengertian Dokumentasi keperawatan merupakan bukti pencatatan dan pelaporan berdasarkan komunikasi tertulis yang akurat dan lengkap yang dimiliki oleh perawat dalam melakukan asuhan keperawatan dan berguna untuk kepentingan klien. maka verifikasinya adalah dengan tanyakan kembali sejauh mana pasiennya mengerti tentang materi edukasi yang diberikan dan pahami. kira-kira apa yang bpk/ibu bisa pelajari ?”. film. pasiennya mengalami hambatan fisik. tim kesehatan. Pemahaman yang ditunjukkan oleh pasien dan atau keluarga dapat diwujudkan dalam bentuk : 1. gambar dan foto (Suyono trimo 1987. Bila kesulitan dengan bahasa. Dokumentasi berasal dari kata dokumen yang berarti bahan pustaka. Proses pertanyaan ini bisa via telepon atau datang langsung ke kamar pasien setelah pasien tenang. antara lain sebagai sarana komunikasi. maka verifikasinya adalah dengan pihak keluarganya dengan pertanyaan yang sama: “Dari materi edukasi yang telah disampaikan. Pertanyaannya adalah: “ Dari materi edukasi yang telah disampaikan. Mampu menunjukkan perubahan perilaku sesuai yang diajarkan 4. BAB IV DOKUMENTASI A. keluarga menerima dan memahami edukasi yang diberikan. kondisi pasien baik dan senang. bahkan sama sekali tidak dilakukan untuk mengurangi kesalahan dan meningkatkan ketelitian dalam memberikan asuhan pada pasien. 2. C. Apabila pasien pada tahap cara memberikan edukasi dan informasi. hal 7). Berikut ini contoh petugas kesehatan melakukan verifikasi tentang edukasi dan informasi kepada pasien dan keluarga : 1. baik berbentuk tulisan maupun berbentuk rekaman lainnya seperti pita suara/kaset. Mengulangi materi yang diberikan 2. B.

siaran radio/televisi yang sudah bekerjasama dengan Rumah Sakit. Semua kegiatan harus terdokumentasikan dalam bentuk laporan kegiatan Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS). dll yang tertuang di form penilaian edukasi. penilaian kebutuhan edukasi harus dikaji terlebih dahulu oleh Dokter dan petugas kesehatan lainnya. Manajemen nyeri 6. . kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap pemeliharaan kesehatan. Kebutuhan edukasi masing-masing pasien tidaklah sama. Kebutuhan edukasi pasien meliputi : 1. metode pembelajaran. Intervensi diit 3. Pencegahan resiko jatuh 5. Vaksinasi 10. kemampuan belajar. Form pemberian informasi dan edukasi diisi oleh semua petugas kesehatan yang melakukan asuhan pada pasien. Tindakan pencegahan 2. nama terang. Transfuse darah 9. Setelah kebutuhan edukasi dikaji. Peralatan khusus 4. Sebelum memberikan edukasi pada pasien/keluarga. Pelayanan rohani. pendidikan kesehatan di sekolah. Sedangkan untuk pemberian informasi dan edukasi di Rawat Jalan hanya menuliskan apa yang telah disampaikan di kolom edukasi. selanjutnya menuliskan tujuan diberikan edukasi tersebut. Pengobatan 8. Dokumentasi Pelaksanaan Pemberian Informasi dan Edukasi di Luar Rumah Sakit Kegiatan yang dilaksanakan oleh Petugas PKRS terkait pemberian informasi dan edukasi di luar Rumah Sakit merupakan salah satu program untuk meningkatkan pengetahuan. Form penilaian edukasi ini wajib diisi oleh Dokter Jaga atau Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) saat menjelaskan penyakit dan disertakan tandatangan. tergantung dengan kondisi pasien saat itu. dan hasil yang dicapai. Materi yang diberikan dapat ditulis di kolom materi edukasi dengan menjabarkannya. Jenis kegiatan yang rutin dilaksanakan Rumah Sakit seperti Posyandu dan pendidikan kesehatan di Daerah Binaan. kemampuan. Apabila materi tersebut di bukukan atau bentuk leaflet dapat menuliskan kode buku atau leaflet tersebut di kolom materi edukasi dengan dibubuhkan tandatangan pemberi edukasi (petugas kesehatan) dan penerima edukasi (pasien /keluarga). hambatan dan intervensi mengatasi hambatan. Penyakit 7. D. kesiapan belajar.