You are on page 1of 52

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Usia lanjut merupakan tahap perkembangan normal yang akan dialami
oleh setiap individu yang mencapai usia lanjut dan merupakan kenyataan yang
tidak dapat dihindari (Notoatmodjo, 2007).
Data demografi lansia di dunia di beberapa negara mengalami
perubahan jumlah yang sangat signifikan terhadap perkembangan jumlah
penduduk. The United Nation telah memprediksikan bahwa jumlah populasi ini
akan terus mengalami peningkatan hingga mencapai 10% pada tahun 2050.
Peningkatan ini bisa mencapai 828 juta pada 2050. Perhatian tentang usia
lanjut mulai tampak setelah terdapat peningkatan jumlah orang berusia lanjut
yang masih aktif. Para lansia dapat tetap aktif dengan berbagai cara sesuai
dengan tingkat pendidikan dan latar belakang sosialnya.
Jumlah penduduk lansia di Indonesia pada tahun 2006 sebesar kurang
lebih 19 juta (8,9%) dengan usia haraan hidup 66,2 tahun, tahun 2010 sebesar
23,9 juta (9,77%) dengan usia harapan hidup 67,4 tahun dan pada tahun 2020
diperkirakan sebesar 28,8 juta (11,34%) dengan usia harapan hidup 71,1 tahun
(Badan Pusat Statistika, 2010). Jumlah tersebut termausk terbesar keempat
setelah China, India dan Jepang di wilayah Asia Pasifik, jumlah lanjut usia
akan meningkat dengan pesat dari 410 juta tahun 2007 menjadi 733 juta pada
2025 dan diperkirakan menjadi 1,3 miliar pada tahun 2050 (Murwani, 2011)
Menurut UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009 pasal 138, Lansia
merupakan seseorang yang karena usianya yang lanjut mengalami perubahan
biologis, fisik, kejiwaan dan social. Perubahan ini akan memberikan pengaruhh
pada seluruh aspek kehidupan, termasuk kesehatannya. Oleh karena itu,
kesehatan pada lanjut usia perlu mendapat perhatian khusus dengan tetap
memeberikan motivasi agar lansia dapat hidup secara produktif sesuai dengan
kemampuannya. Namun tidak semua lansia mendapatkan pelayanan social
untuk hidup secara produktf, lansia yang mendapatkan pelayanan hanya
mereka yang memenuhi persyaratan unit pelayanan terpadu diantaranya harus

1

berusia 60 tahun keatas, Terlantar secara sosial / ekonomi, Potensial dan tidak
potensial. atas kemauan sendiri dan tidak ada unsur paksaan, berbadan sehat
tidak mempunyai penyakit menular yang dinyatakan dengan surat keterangan
sehat dari Dokter, direkomendasi dari Kantor Dinas Sosial / Pemda setempat,
harus dinyatakan lulus seleksi oleh petugas UPT.
Asam urat adalah penyakit dari sisa metabolisme zat purin yang berasal
dari sisa makanan yang kita konsumsi. Purin sendiri adalah zat yang terdapat
dalam setiap bahan makanan yang berasal dari tubuh makhluk hidup. Dengan
kata lain, dalam tubuh makhluk hidup terdapat zat purin ini, lalu karena kita
memakan makhluk hidup tersebut, maka zat purin tersebut berpindah ke dalam
tubuh kita. Berbagai sayuran dan buah-buahan juga terdapat purin. Purin juga
dihasilkan dari hasil perusakan sel-sel tubuh yang terjadi secara normal atau
karena penyakit tertentu.
Gout Artritis pada usia lanjut mempunyai prevalensi yang tinggi, pada
usia di atas 65 tahun didapatkan antara 60 – 80% (Gitahafas, 2010).
Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan di wisma Anggrek UPT
Pelayanan Sosial Tresna Werdha Pasuruan dari 9 lansian terdapat 7 orang
mengalami Gout Artritis. Oleh karena itu penyusun ingin megambil judul
Asuhan Keperawatan pada pasien lansia degan Gout Artritis.

1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengkajian pada klien dengan Gout Artritis ?
2. Bagaimana analisa data pada klien dengan Gout Artritis ?
3. Bagaimana intervensi keperawatan pada klien Gout Artritis ?
4. Bagaimana implementasi keperawatan pada klien dengan Gout Artritis ?
5. Bagaimana konsep lansia dan Gout Artritis ?
6. Bagaimana trend dan issue berdasarkan jurnal tentang Gout Artritis ?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum

2

Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada lansia dengan
Gout Artritis dan memberi pengetahuan kepada pembaca tentang
asuhan keperawatan lansia dengan Gout Artritis
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan Gout
Artritis
b. Mampu membuat analisa data pada klien dengan Gout
Artritis
c. Mampu membuat intervensi keperawatan pada klien
dengan Gout Artritis
d. Mampu melakukan implementasi keperawatan pada klien
dengan Gout Artritis
e. Mengetahui konsep lansia dan Gout Artritis

3

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Lansia
2.1.1 Definisi
Lansia atau lanjut usia adalah tahap akhir pada perkembangan dari
kehidupan manusia (Budi anma keliari 1999 dalam Maryam, R, siti, dkk
2008). Lansia adalah keadaan kegagalan seseorang untuk mempertahankan
keseimbangan terhadap kondisi stressfsiologis yang di tandai oleh
penurunan daya kemampuan dan kepekaan untuk hidup secara individual
(Hawari 2001 dalam handonis konsep lansia Umamah, 2014)
Menurut Undang Undang RI No 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan
Pasal 19 Ayat Bahwa Manusia Lanjut Usia Adalah Seseorang Yang Karena
Usianya Mengalami Perubahan Biologis, Fisik, Kejiwaan Dan Sosial.
Perubahan Ini Akan Memberikan Pengaruh Pad Seluruh Aspek Kehidupan
(Khoiriyah, 2011).
Usia lanjut adalah kelompok orang yang sedang mengalami suatu
proses perubahan yang bertahap dalam jangka waktu beberapa dekade.
Usia lanjut merupakan tahap perkembangan normal yang akan dialami
oleh setiap individu yang mencapai usia lanjut dan merupakan kenyataan
yang tidak dapat dihindari (Notoatmodjo, 2007).

2.1.2 Klasifikasi Lansia
Berdasarkan usia lansia di Indonesia adalah 60 tahun yang di jelaskan
dalam pasal 1 ayat (2), (3), (4) Undang-Undang nomor 13 tahun 1998
tentang kesehatan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai
usia lebih dari 60 tahun (Maryam, R, Siti, dkk, 2008) yaitu:
a. Pra lansia: Seseorang yang berusia 45-59 tahun
b. Lansia: Seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih
c. Lansia resiko tinggi: Seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih/
seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan

4

d. Lansia potensial: Lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan
dan/atau kegiatan yang masih dapat menghasilkan barang/ jasa
e. Lansia tidak potensial: Lansia yang tidak berdaya mencari nafkah,
sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain

2.1.3 Karakteristik Lansia
Menurut Santrock J, W (2012), lansia memiliki karakteristik sebagain
berikut.
a. Berusia lebih dari 60 tahun
b. Kebutuhan dan masalah yang bervariasi dari rentang sehat sampai
sakit, dari kebutuhan biopsikososial sampai dengan spiritual, serta dari
kondisi adaptif sampai maladaptif.
c. Lingkungan tempat tinggal yang bervariasi.

2.1.4 Tipe Lansia
Menurut John (2012), beberapa tipe lansia bergantung pada karakter,
pengalaman hidup, lingkungan, kondisi fisik, mental, sosial dan
ekonominya. Tipe tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:
a. Tipe arif bijaksana: Kaya dengan hikmah, pengalaman
menyesuaikan diri dengan perubahan jaman, mempunyai kesibukan,
bersikap ramah, rendah hati, sederhana, dermawan, memenuhi
undangan, dan menjadi panutan
b. Tipe mandiri: Mengganti kegiatan yang hilang dengan yang baru
dan selektif dalam mencari pekerjaan, bergaul dengan teman dan
memenuhi undangan
c. Tipe tidak puas: Konflik lahir batin menentang proses penuaan
sehingga menjadi pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, sulit
dilayani, pengkritik dan banyak menuntut
d. Tipe pasrah: Menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti
kegiatan agama dan melakukan pekerjaan apa saja
e. Tipe bingung: Kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri,
minder, menyesal, pasif dan acuh tidak acuh

5

Tiap spesies di dalam inti selnya mempunyai suatu jam genetik yang telah diputar menurut suatu replikasi tertentu dan akan menghitung mitosis. 2) Teori Mutasi Somatik (Error Catastrophe Theory) Penuaan disebabkan oleh kesalahan yang beruntun dalam jangka waktu yang lama melalui transkripsi dan translasi. Jika jam ini berhenti. sehingga mengurangi fungsional sel. 4) Teori Radikal Bebas Menurut teori ini penuaan disebabkan adanya radikal bebas dalam tubuh. 3) Teori Autoimun (Auto Immune Theory) Menurut teori ini proses metabolisme tubuh suatu saat akan memproduksi zat khusus. Lansia yang Dirawat di Rumah Sakit 2.1. Lansia Mandiri Sepenuhnya b. para lansia dapat digolongkan dari beberapa tipe. yaitu : a. Intrinsik berarti perubahan yang timbul akibat penyebab di dalam sel sendiri. maka spesies akan meninggal dunia.5 Proses Penuaan a. Ada jaringan tubuh tertentu yang tidak tahan terhadap suatu zat. 1) Teori Genetik Clock Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk spesies tertentu. d. 5) Teori Pemakaian dan Rusak Kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah (rusak). Kesalahan tersebut menyebabkan terbentuknya enzim yang salah dan berakibat pada metabolisme yang salah. Lansia Mandiri dengan Bantuan Langsung Keluarganya c. Lansia di Panti Werda f. Sedangkan dilihat dari tingkat kemandiriannya yang dilihat berdasarkan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Lansia Mandiri dengan Bantuan Secara Tidak Langsung Keluarganya. Lansia dengan Bantuan Badan Sosial e. sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit. Teori Biologis Teori biologis tentang penuaan dapat dibagi menjadi teori intrinsik dan ekstrinsik. sedang teori ekstrinsik menjelaskan bahwa penuaan yang terjadi diakibatkan pengaruh lingkungan. 6 .

Teori Kejiwaan Sosial 1) Aktivitas atau Kegiatan (Activity Theory) Menurut Havigusrst dan Albrecht (1953) berpendapat bahwa sangat penting bagi lansia untuk tetap beraktifitas dan mencapai kepuasan. Teori Psikologi Teori-teori psikologi dipengaruhi juga oleh biologi dan sosiologi salah satu teori yang ada. Tugas perkembangan yang spesifik ini bergantung pada maturasi fisik. masyarakat. 3) Teori Pembebasan (Disengagement Theory) Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia. 9) Teori Program Menurut teori ini penuaan terjadi karena kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang membelah sel-sel tersebut mati. Menurut teori ini penuaan terjadi sebagai akibat dari sistem imun yang kurang efektif seiring dengan bertambahnya usia. Tugas 7 . khususnya jaringan kolagen. seseorang berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya c. penghargaan kultural. Teori tugas perkembangan yang diungkapkan oleh Hanghurst (1972) adalah bahwa setiap tugas perkembangan yang spesifik pada tiap tahap kehidupan yang akan memberikan persaan bahagia dan sukses. 2) Teori Kepribadian Berlanjut (Continuity Theory) Perubahan yang terjadi pada lansia sangat dipengaruhi oleh tipe kepribadian yang dimiliki. 7) Teori Stres Menurut teori ini penuaan terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan oleh tubuh. 6) Teori Virus Perlahan-Lahan Menyerang Sistem Sistem Kekebalan Tubuh (Immunology Slow Virus Theory). nilai aspirasi individu. b. 8) Teori Rantai Silang Menurut teori ini penuaan terjadi sebagai akibat adanya reaksi kimia sel-sel yang tua atau yang telah usang menghasilkan ikatan yang kuat.

Teori Rusaknya Sistem Imun Tubuh Mutasi yang terjadi secara berulang mengakibatkan kemampuan sistem imun untuk mengenali dirinya berkurang (self recognition). psikologis. Pengalaman hidup e. 2. ukuran membesar. Perubahan fisik 1) Sel: Jumlah berkurang. dan cairan intraseluler menurun. sehingga mengakibatkan kematian sel. 8 . cairan tubuh menurun. respon penerimaan adanya kematian pasangan. penerimaan masa pensiun dan penurunan pendapatan. e. Lingkungan f. sehingga mengakibatkan kelainan pada sel karena dianggap sel asing yang membuat hancurnya kekebalan tubuh. Hereditas atau genetic b.7 Perubahan-perubahan yang Terjadi pada Lansia Perubahan yang terjadi pada lansia meliputi perubahan fisik. serta mempertahankan kehidupan yang memuaskan. Status kesehatan d.1. 2) Kardiovaskuler: Katub jantung tebal dan kaku. Teori Kesalahan Genetik Proses menjadi tua ditentukan oleh kesalahan sel genetik DNA di mana sel genetik memperbanyak diri sehingga mengakibatkan kesalahan-kesalahan yang berakibat pula pada terhambatnya pembentukan sel berikutnya. sosial.6 Faktor yang Mempengaruhi Penuaan a. Nutrisi : makanan c. a. Stress 2. perkembangan pada dewasa tua meliputi penerimaan adanya penurunan kekuatan fisik dan kesehatan. Pada saat sel mengalami kematian orang akan tampak menjadi tua.1. kemampuan memompa darah menurun (menurunnya kontraksi dan volume). d.

serta terjadi penyempitan pada bronkus. aliran derah ke ginjal menurun. kapasitasnya menurun. kekerasan berbentuk verbal (dibentak) dan nonverbal (dicubit. b. persendian membesar dan menjadi kaku (atrofi otot). serta meningkatnya resistensi pembuluh darah perifersehingga tekanan darah meningkat. post power syndrome . 8) Vesika urinaria: Otot-otot melemah. Berada di rumah terus – menerus akan cepat pikun (tidak berkembang). Berkurangnya atau hilangnya mielin akson. Kalau tidak. 2) Keluarga. single woman . 6) Pensiun 7) Kalau menjadi PNS akan ada tabungan (dana pensiunan). kapasitas residu meningkat sehingga menarik napas lebih berat. elastisitas paru menurun. asam lambung menurun. dan single parent. 3) Teman: Ketika lansia lansia meninggal. anak dan cucu yang akan memberi uang 9 . tremor. elastisitas pembuluh darah menurun. dan tendon mengerut. 5) Masalah Hukum. sehingga menyababkan berkurangnya respons motorik dan reflek. dan retensi urine. bungkuk (kifosis). 7) Genitourinaria: Ginjal : mengecil. kram. 3) Respirasi: Otot-otot pernapasan kekuatannya menurun dan kaku. Perubahan Sosial 1) Peran. tidak diberi makan). 4) Abuse. penyaringan glomerulus menurun. emptiness. 4) Persyarafan: Saraf panca indra mengecil sehingga fungsinya menurun serta lambat dalam merespon dan waktu bereaksi khususnyayang berhubungan dengan stres.Ukuran lambung mengecil serta fungsi organ aksesori menurun sehingga menyebabkan berkurangnya produksi hormon dan enzim pencernaan. kehampaan. 6) Gastrointestinal: Esofagus melebar. maka muncul perasaan kapan akan meninggal. Berkaitan dengan perlindungan aset dan kekayaan pribadi yang dikumpulkan sejak masih muda. dan fungsi tubulus menurun sehingga kemampuan mengonsentrasikan urine ikut menurun. kesendirian. lapar menurun. 5) Muskuloskeletal: Cairan tulang menurun sehingga mudah rapuh (osteoporosis). dan peristaltik menurun sehingga daya absorbsi juga ikut menurun. Prostat: hipertrofi pada 75% lansia. alveoli melebar dan jumlahnya menurun.

Menurut pengalaman. Berkaitan dengan pengentasan buta aksara dan berkesempatan untuk tetap belajar sesuai dengan hak asasi manusia. Jatuh. kesepian. Merasa dibuang / diasingkan. Dalam psikologi perkembangan. Perubahan Psikologis: Perubahan psikologis pada lansia meliputi short term memory. 13) Pendidikan. c. 9) Rekreasi. frustasi. lansia dan perubahan yang dialaminya akibat proses penuaan. 12) Politik. d. 15) Panti Jompo. 8) Ekonomi: Kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang cocok bagi lansia dan income security. Orang berusia lanjut pada umumnya menderita presbiop atau tidak dapat melihat jarak jauh dengan jelas yang terjadi karena elastisitas lensa mata berkurang Sistem pendengaran: orang berusia lanjut kehilangan kemampuan mendengar bunyi dengan nada yang sangat tinggi sebagai akibat dari berhentinya pertumbuhan saraf dan berakhirnya pertumbuhan organ basal yang mengakibatkan matinya rumah siput dalam telinga. Mereka pada umumnya tetap dapat mendengar pada suara rendah daripada nada C sejelas orang yang lebih muda. perubahan keinginan. Kebutuhan akan sistem transportasi yang cocok bagi lansia. 11) Transportasi. 14) Agama. terpeleset. Sistem perasa : perubahan penting dalam alat perasa pada usia lanjut adalah sebagai akibat dari berhentinyapertumbuhan tunas perasa yang terletak di lidah dan di permukaan bagian dalam pipi. Saraf perasa yang berhenti tunbuh ini semakin bertambah banyak sejalan dengan 10 . Untuk ketenangan batin. takut kehilangan kebebasan. Perubahan umum panca indera lansia Sistem penglihatan: ada penurunan yang konsisten dalam kemampuan untuk melihat objek pada tingkat penerangan yang rendah serta menurunnya sesitivitas terhadap warna. 10) Keamanan. Kesempatan yang sama untuk terlibat dan memberikan masukan dalam sistem politik yang berlaku. depresi dan kecemasan. pria cenderung lebih banyak kehilangan pendengaran pada masa tuanya dibandingkan wanita. Melaksanakan ibadah. takut menghadapi kematian.

Perubahan umum kemampuan motorik pada lansia Kekuatan motorik : penurunan kekuatan yang paling nyata adalah pada kelenturan otot –otot tangan bagian depan dan otot – otot yang menopang tegaknya tubuh. maka indera peraba di kulit semakin peka. Mudah Lelah: Disebabkan oleh: 1) Faktor psikologis (perasaan bosan.Kerusakan dalam keterampilan yang telah dipelajari. sebagaian karena pertumbuhan sel di dalam hidung berhenti dan sebagaian lagi karena semakin lebatnya bulu rambut di lubang hidung. Menurut Azizah (2011). Bagian tubuh yang ketahanannya sangat menurun. keletihan atau perasaan depresi) 2) Gangguan organis 11 . Sistem peraba: kulit menjadi semakin kering dan keras. Sistem penciuman: daya penciuman menjadi kurang tajam sejalan dengan bertambahnya usia.Rasa sakit tersebut berbeda untuk setiap bagian tubuh. terjadi penurunan sensitivitas papil – papil pengecap terutama terhadap rasa manis dan asin. Keterampilan yang lebih dulu dipelajari justru lebih sulit dilupakan dan keterampilan yang baru dipelajari lebih cepat dilupakan (Stanley 2007). sedangkan pada kaki tidak seburuk kedua organ tersebut. Selain itu.Lansia melakukan sesuatu dengan tidak hati – hati dan dikerjakan secara tidak teratur. Kekakuan motorik: lansia cenderung menjadi canggung dan kaku. Orang berusia lanjut lebih cepat merasa lelah dan memerlukan waktu yang lebih lama untuk memulihkan diri dari keletihan dibanding orang yang lebih muda. Mudah Jatuh: Jatuh adalah suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata yang melihat kejadian yang mengakibatkan seseorang mendadak terbaring/terduduk di lantai atau tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka b.bertambahnya usia. masalah fisik yang sering ditemukan pada lansia adalah: a. Hal ini menyebabkan sesuatu yang dibawa dan dipegangnya tertumpah dan terjatuh. Sensitivitas terhadap sakit dapat terjadi akibat penurunan ketahanan terhadap rasa sakit. antara lain adalah bagian dahi dan tangan. e.

gangguan pembuluh darah di otak (koroner) dan ginjal b. dan ketidakseimbangan tiroid c. 3) Pengaruh obat-obat c. seperti: diabetes mellitus.1. gout arthritis. Gangguan sirkulasi darah. seperti : hipertensi. kelainan pembuluh darah. ganggua pada persendian. Berat Badan Menurun: Disebabkan oleh: 1) Pada umumnya nafsu makan menurun karena kurang gairah hidup atau kelesuan 2) Adanya penyakit kronis 3) Gangguan pada saluran pencernaan sehingga penyerapan makanan terganggu 4) Faktor-faktor sosioekonomis (pensiun) d. Sukar Menahan Buang Air Besar: Disebabkan oleh: 1) Obat-obat pencahar perut 2) Keadaan diare 3) Kelainan pada usus besar 4) Kelainan pada ujung saluran pencernaan (pada rektum usus) e. klimakterium. atau penyakit kolagen lainnya d. Berbagai macam neoplasma 12 . dikemukakan adanya empat penyakit yang sangat erat hubungannya dengan proses menua yakni: a. 12 Penyakit yang Sering Dijumpai pada Lansia Menurut Azizah (2011). seperti osteoartitis. Gangguan metabolisme hormonal. Gangguan pada Ketajaman Penglihatan: Disebabkan oleh: 1) Presbiop 2) Kelainan lensa mata (refleksi lensa mata kurang) 3) Kekeruhan pada lensa (katarak) 4) Tekanan dalam mata yang meninggi (glaukoma) 2.

serangan artritis akut yang biasanya mono-artikuler.1 Definisi Gout Artritis Asam urat merupakan kelainan metabolik yang disebabkan karena penumpukan purin atau eksresi asam urat yang kurang dari ginjal. Diantaranya golongan obat jenis diuretik. 5.2 Konsep Gout Artritis 2.2. Makan makanan yang tinggi purin dapat menyebabkan atau memperburuk gout. parenkim ginjal dan dapat menimbulkan batu saluran kemih (Edu S. Terjadi deposisi kristal urat di dalam dan sekitar sendi. Prosentase Pria : Wanita yaitu 2 : 1 pria lebih beresiko terjadinya asam urat yaitu umur (30 tahun keatas). levodova. siklosporin. rempelo dll. Konsumsi alkohol. Tehupeiory. karena alkohol mengganggu dengan penghapusan asam urat dari tubuh. 4. Faktor genetik dan faktor hormonal yang menyebabkan gangguan metabolisme yang dapat mengakibatkan meningkatnya produksi asam urat. 2. niasin. Asam urat merupakan penyakit heterogen meliputi hiperurikemia.2 Etiologi 1. 6. sedangkan wanita terjadi pada usia menopouse (50-60 tahun). 2015) 2. Respon leukosit polimorfonuklear (PMN) dan selanjutnya akan terjadi fagositosis kristal 13 . Obat-Obatan Tertentu. Berat badan. yang menyebabkan kelebihan produksi asam urat.2. Jenis kelamin dan umur. Sejumlah obat dapat menempatkan orang pada risiko untuk mengembangkan hiperurisemia dan gout. 2. Diet. dapat terjadi di jaringan jika konsentrasi dalam plasma lebih dari 9 mg/dl. Minum terlalu banyak alkohol dapat menyebabkan hiperurisemia. Kelebihan berat badan meningkatkan risiko hiperurisemia dan gout berkembang karena ada jaringan yang tersedia untuk omset atau kerusakan. Misalnya makanan yang tinggi purin : kacang- kacangan.3 Patofisiologi Presipitasi kristal monosodium urat. 2. 3. salisilat.2.

3. Kerusakan sel. rempelo dll). Hal lain yang dapat meningkatkan kadar asam urat adalah kita terlalu banyak mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung banyak purin. bengkak. Tofus ini akan mengakibatkan kerusakan pada sendi dan tulang di sekitarnya. merah dengan gejala sistemik berupa demam. Stadium Arthritis Gout Menahun Stadium ini umumnya pada pasien yang mengobati sendiri sehingga dalam waktu lama tidak berobat secara teratur pada dokter. terasa hangat. terjadi respon inflamasi dan kerusakan jaringan. diet tinggi purin (kacang- kacangan. timbul sangat cepat dalam waktu singkat. Stadium Arthritis Gout Akut a. Penurunan asam urat secara mendadak dengan allopurinol atau obat urikosurik dapat menyebabkan kekambuhan. b. Kerusakan lisosom. Sangat akut. Asam urat yang berlebih selanjutnya akan terkumpul pada persendian sehingga menyebabkan rasa nyeri atau bengkak. Setiap orang memiliki asam urat di dalam tubuh. tetapi karena ginjal tidak mampu mengeluarkan asam urat yang ada menyebabkan kadarnya meningkat dalam tubuh. Pada tahap ini akan terjadi benjolan-benjolan di sekitar sendi yang sering meradang yang disebut sebagai tofus. Tofus ini berupa benjolan keras yang berisi serbuk seperti kapur yang merupakan deposit dari kristal monosodium urat. stres. Tofus pada kaki bila ukurannya 14 . diuretic. menggigil dan merasa lelah.2. Stadium Interkritikal Stadium ini merupakan kelanjutan dari stadium akut dimana terjadi periode interkritikal asimptomatik. d. oleh leukosit.4 Manifestasi Klinis 1. terbentuk fagolisosom dan akhirnya membran vakuol disekeliling kristal bersatu dengan membran leukositik lisosom. c. terjadi robekan membram lisosom dan pelepasan enzim dan oksida radikal ke dalam sitoplasma. 2. karena pada setiap metabolisme normal dihasilkan asam urat. kelelahan fisik. Keluhan utama: nyeri. Normalnya. Faktor pencetus: trauma lokal. asam urat ini akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui feses (kotoran) dan urin. 2. Fagositosis.

teh. kreatinin. 2. Cairan sinovial sendi menunjukkan adanya kristal urat monosodium. menampakkan perkembangan jaringan lunak. b. Peningkatan kecepatan waktu pengendapan 2. Cukup kalori sesuai kebutuhan yang didasarkan pada TB n BB. g. Peningkatan asam urat pada urine 24 jam. Tinggi cairan. Tinggi karbohidrat kompleks (nasi.2. f. Rendah protein yang bersumber hewani. Pembatasan makanan tinggi purin (± 100-150 mg purin/hari. ubi) disarankan tidak kurang dari 100 g/hari. singkong. roti. d. Usahakan dapat menghabiskan minuman sebanyak 2. Farmakologi 15 ..6 Penatalaksanaan 1. Pemeriksaan Laboraturium LED .5 Pemeriksaan Penunjang 1. c. Rendah lemak. e. Alkohol dapat meningkatkan asam laktat plasma yang akan menghambat pengeluaran asam urat 2.2. Pemeriksaan X-Ray Pada pemeriksaan x-ray. Tanpa alkohol. 2. besar dan banyak akan mengakibatkan penderita tidak dapat menggunakan sepatu lagi. CRP analisis cairan sendi asam urat darah dan urine 24 jam ureum. baik dari nabati atau hewani. Non farmakologi a.5 ltr atau sekitar 10 gelas sehari dapat berupa air putih masak. Peningkatan kadar asam urat serum (hyperuricemia). sirop atau kopi. termasuk tape dan brem perlu dihindari juga.

Apakah seperti terbakar. no. golongan darah. benzbromaron) dan Inhibitor xantin (alopurinol ). a. umur. Keberhasilan proses keperawatan sangat bergantuang pada tahap ini. azapropazon. asuransi. 2) Keluhan Utama Pada umumnya keluhan utama pada Goat artritis adalah rasa nyeri.3 Konsep Asuhan Keperawatan Atritis Gout 2. untuk itu diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalah-masalah klien sehingga dapat memberikan arah terhadap tindakan keperawatan. register. 2. 16 . tanggal MRS. obat yang digunakan untuk mengatasi nyeri dan inflamasi (colchicine. Pengumpulan Data a. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan: a) Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang menjadi faktor presipitasi nyeri. agama. Anamnesa 1) Identitas Klien Meliputi nama. yaitu : Golongan urikosurik (probenesid. diagnosa medis. berdenyut. Tahap ini terbagi atas: 1. alamat. atau menusuk. indometasin. terbagi dua golongan. pendidikan. fenilbutazon.3. b) Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien. sulfinpirazon. kortikostropin) b. pekerjaan. Pengobatan hiperurisemia. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan. bahasa yang dipakai. Pengobatan fase akut.1 Pengkajian Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan. jenis kelamin. status perkawinan.

4) Riwayat Penyakit Dahulu Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab terjadinya linu . 3) Riwayat Penyakit Sekarang Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari nyeri. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang dan penyakit paget’s yang menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit untuk menyambung. apakah bertambah buruk pada malam hari atau siang hari. c) Region : radiation. e) Time: berapa lama nyeri berlangsung. dan dimana rasa sakit terjadi. penyakit diabetes dengan luka di kaki sanagt beresiko terjadinya osteomyelitis akut maupun kronik dan juga diabetes menghambat proses penyembuhan tulang 5) Riwayat Penyakit Keluarga Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya linu = . Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena.inu pada tulang terutama pada persendian. osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan. yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. bisa berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya. dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik 6) Riwayat Psikososial 17 . Selain itu. d) Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien. apakah rasa sakit menjalar atau menyebar.linu dan memberi petunjuk berapa lamaakan sembuh. seperti diabetes. kapan. relief: apakah rasa sakit bisa reda.

vit. Selain itu juga obesitas juga menghambat degenerasi dan mobilitas klien. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari yang kurang merupakan faktor predisposisi masalah muskuloskeletal terutama pada lansia. zat besi. pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu metabolisme kalsium. Selain itu. pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu keseimbangannya dan apakah klien melakukan olahraga atau tidak b) Pola Nutrisi dan Metabolisme Pada klien Goat Artitis harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium. c) Pola Eliminasi Untuk kasus asam urat tidak ada gangguan pada pola eliminasi. warna serta bau feces pada pola eliminasi alvi. Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat 7) Pola-Pola Fungsi Kesehatan a) Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat Pada kasus fraktur akan timbul ketidakutan akan terjadinya kecacatan pada dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu penyembuhan tulangnya. C dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan tulang. tapi walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi. konsistensi. Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi. 18 . protein.

suasana lingkungan. dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan body image) g) Pola Sensori dan Kognitif Pada klien Goat Artritis daya rabanya berkurang terutama pada bagian distal fraktur. Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan atau tidak. f) Pola Persepsi dan Konsep Diri Dampak yang timbul pada klien asam urat yaitu timbul ketidakutan akan linu – linu yang di alami. bau. Hal lain yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan klien. d) Pola Aktivitas Karena timbulnya nyeri. sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien. kebiasaan tidur. keterbatasan gerak. Selain itu juga. dan jumlah.linu yang hebat dibanding pekerjaan yang lain e) Pola Hubungan dan Peran Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat. sedang pada indera yang lain tidak timbul gangguan. Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko untuk terjadinya linu n. Pola Tidur dan Istirahat Semua klien asam urat timbul rasa nyeri. maka semua bentuk kegiatan klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain. pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur. kepekatannya. Selain itu juga. rasa cemas. dan kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur. rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal. timbul rasa nyeri akibat peningkatan kadar asam urat. keterbatasan gerak. 19 . warna. begitu juga pada kognitifnya tidak mengalami gangguan.

(2) Kesakitan. j) Pola Tata Nilai dan Keyakinan Untuk klien Goat Artritis tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi. seperti: (1) Kesadaran penderita: apatis. Pemeriksaan Fisik Dibagi menjadi dua. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan keterbatasan gerak klien b. h) Pola Reproduksi Seksual perlu dikaji status perkawinannya termasuk jumlah anak. komposmentis tergantung pada keadaan klien. lama perkawinannya. sedang. berat dan pada kasus fraktur biasanya akut. koma. keadaan penyakit: akut. Hal ini perlu untuk dapat melaksanakan total care karena ada kecenderungan dimana spesialisasi hanya memperlihatkan daerah yang lebih sempit tetapi lebih mendalam. 1) Gambaran Umum 2) Perlu menyebutkan: a) Keadaan umum: baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda- tanda. b) Secara sistemik dari kepala sampai kelamin (1) Sistem Integumen 20 . ringan. sopor. yaitu pemeriksaan umum (status generalisata) untuk mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat (lokalis). gelisah. (3) Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun bentuk. Mekanisme koping yang ditempuh klien bisa tidak efektif. kronik. i) Pola Penanggulangan Stress Pada klien Goat Artritis timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya.

reguler atau tidaknya tergantung pada riwayat penyakit klien yang berhubungan dengan paru. Tidak ada lesi atau nyeri tekan. tidak ada nyeri kepala. suhu sekitar daerah trauma meningkat. nyeri tekan. 21 . (10) Paru (a) Inspeksi Pernafasan meningkat. (7) Hidung Tidak ada deformitas. (4) Muka Wajah terlihat menahan sakit. Tak ada lesi. tidak ada penonjolan. tak oedema. Terdapat erytema. simetris. reflek menelan ada. tidak ada penonjolan. (5) Mata Terdapat gangguan seperti konjungtiva anemis (jika terjadi perdarahan) (6) Telinga Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. gerakan dada simetris. bengkak. gusi tidak terjadi perdarahan. lain-lain tidak ada perubahan fungsi maupun bentuk. (3) Leher Tidak ada gangguan yaitu simetris. mukosa mulut tidak pucat. normo cephalik. tak ada pernafasan cuping hidung. (2) Kepala Tidak ada gangguan yaitu. (8) Mulut dan Faring Tak ada pembesaran tonsil. (9) Thoraks Tak ada pergerakan otot intercostae. oedema. simetris.

tidak ada hernia. simetris. tak ada mur-mur. (b) Palpasi Pergerakan sama atau simetris. (b) Palpasi Tugor baik. iktus tidak teraba. tak ada kesulitan BAB. (b) Palpasi Nadi meningkat. (d) Auskultasi Peristaltik usus normal ± 20 kali/menit. fermitus raba sama. (13) Inguinal-Genetalia-Anus Tak ada hernia. tak ada pembesaran lymphe. atau suara tambahan lainnya seperti stridor dan ronchi. ada pantulan gelombang cairan. hepar tidak teraba. (d) Auskultasi Suara nafas normal. tak ada erdup atau suara tambahan lainnya. (12) Abdomen (a) Inspeksi Bentuk datar. tak ada wheezing. (c) Perkusi Suara thympani. 2) Keadaan Lokal Harus diperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal terutama mengenai status neurovaskuler (untuk status 22 . (c) Perkusi Suara ketok sonor. tidak ada defands muskuler. (11) Jantung (a) Inspeksi Tidak tampak iktus jantung. (c) Auskultasi Suara S1 dan S2 tunggal.

c) Move (pergerakan terutama lingkup gerak) 23 . terlebih dahulu posisi penderita diperbaiki mulai dari posisi netral (posisi anatomi). (2) Cape au lait spot (birth mark). catat letak kelainan (1/3 proksimal. tengah. Pulse.neurovaskuler à 5 P yaitu Pain. Pada dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang memberikan informasi dua arah. Parestesia. (6) Posisi dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas) (7) Posisi jalan (gait. Selain itu juga diperiksa status neurovaskuler. Otot: tonus pada waktu relaksasi atau konttraksi. pergerakan terhadap dasar atau permukaannya. Capillary refill time à Normal > 3 detik (2) Apabila ada pembengkakan. Pergerakan). apakah terdapat fluktuasi atau oedema terutama disekitar persendian. (3) Nyeri tekan (tenderness). benjolan yang terdapat di permukaan atau melekat pada tulang. Yang perlu dicatat adalah: (1) Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban kulit. baik pemeriksa maupun klien. maka sifat benjolan perlu dideskripsikan permukaannya. pembengkakan. dan ukurannya. Palor. Pemeriksaan pada sistem muskuloskeletal adalah: a) Look (inspeksi) Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain: (1) Cicatriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan seperti bekas operasi). konsistensinya. Apabila ada benjolan. nyeri atau tidak. (3) Fistulae. atau distal). krepitasi. atau cekungan dengan hal-hal yang tidak biasa (abnormal). waktu masuk ke kamar periksa) b) Feel (palpasi) Pada waktu akan palpasi. (5) Benjolan. (4) Warna kemerahan atau kebiruan (livide) atau hyperpigmentasi.

Setelah melakukan pemeriksaan feel. 2. Pemeriksaan ini menentukan apakah ada gangguan gerak (mobilitas) atau tidak. nyeri restriktif (timobilisasi). 2. Kurang pengetahuan tentang kondisi. agar dapat mengevaluasi keadaan sebelum dan sesudahnya. kurang akurat/lengkapnya ini. Pergerakan yang dilihat adalah gerakan aktif dan pasif. kemudian diteruskan dengan menggerakan ekstrimitas dan dicatat apakah terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. Nyeri akut berdasarkan spasme otot.3. dari tiap arah pergerakan mulai dari titik 0 (posisi netral) atau dalam ukuran metrik.2 Diagnosa Keperawatan 1. Gerakan sendi dicatat dengan ukuran derajat. 3. Pencatatan lingkup gerak ini perlu. Hambatan mobiitas fisik berdasarkan kerusakan rangka neuromuskuler. meningkatan kadar asam urat. 24 . keterbatasan kognitif. prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi.

38 tahun 2007 tentang pembagian urusan pemerintahan antara pemerintahan. 5 tahun 2008 tentang Pembentukan Perda 10. UU No. uraian tugas dan fungsi serta tata kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur. pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota 7. 3. No.2 Landasan Hukum 1. UU No. PP No. UU No. 7 Tahun 2008 Tentang Urusan Pemerintahan Daerah Provinsi Jawa Timur. Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah Junto PP No.22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah No.13 Tahun 1998 Tentang kesejahteraan Lanjut Usia. 2. Provinsi Jatim. berdasarkan pada Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor : 108 tahun 2016 tentang nomenklatur. Perda Provinsi Jatim No. 11 Th 2009 Tentang kesejahteraan sosial. UU No. 3. 25 Tahun 1999 Tentang. 6. 41 tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah 8. Perda. PP No. Pancasila dan UUD 1945 Pasal 27 ayat 2 dan Pasal 34.1 Pengertian UPT Unit Pelaksana Teknis Pelayanan Sosial Tresna Werdha merupakan unsur pelaksana teknis Dinas Sosial Provinsi JawaTimur yang melaksanakan kegiatan teknis operasional dan/atau kegiatan teknis penunjang tertentu. 2000. susunan organisasi. 4. 25 . 25 Th. 57 tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penataan Organisasi Perangkat Daerah 9. Permendagri No. BAB III PEMBAHASAN 3.32 Th 2004 5.

b. No. Unit Pelaksana Teknis Pelayanan Sosial Tresna Werdha Pasuruan ini didirikan pada tanggal 1 Oktober 1979 dengan nama Sasana Tresna Werdha (Stw) "Sejahtera" Pandaan yang pada awalnya dengan kapasitas tampung 30 orang 2. Uraian Tugas Dan Fungsi Serta Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur. 3. 12. Visi : Terwujudnya peningkatan taraf kesejahteraan sosial bagi lanjut usia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. Prov.4 Sejarah Berdirinya UPT 1. 26 .3 Visi dan Misi 1. Pergub. Peningkatan peran serta masyarakat dalam penanganan lanjut usia terlantar.454 M² 3. sehingga dapat mandiri dan dapat menjalankan fungsi sosial secara wajar. 11. Jatim. Pada tanggal 17 Mei 1982 diresmikan pemakaiannya oleh Menteri Sosial Bapak Saparjo dengan dasar KEP. Melaksanakan tugas pelayanan dan rehabilitasi bagi lanjut usia dalam upaya memenuhi kebutuhan rohani. 13. Uraian Tugas Dan Fungsi Serta Tata Kerja Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur. 32/HUK/KEP/VI/82 di bawah pengendalian Kanwil Depsos Provinsi Jawa Timur dengan kapasitas tampung 107 orang dan menempati area seluas 16. Peraturan gubernur Provinsi Jatim. Pada tahun 1994 mengalami pembakuan penamaan UPT Pusat /Panti/ Sasana dilingkungan Departemen Sosial dengan SK. No. Mengembangkan sumber potensi bagi lanjut usia potensial. No. Susunan Organisasi. 119 tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas Sosial Provinsi Jatim. 71 tahun 2016 tentang Kedudukan. Peraturan gubernur Provinsi Jatim. 3. jasmani dan sosial sehingga dapat menikmati hari tua yang diliputi kebahagiaan dan ketenteraman lahir batin. Misi : a. 108 tahun 2016 tentang Nomenklatur. Susunan Organisasi.MENSOS RI NO. c.

12 Tahun 2000 tentang Dinas Sosial. 5. 71 Tahun 2016 tentang Kedudukan. Uraian Tugas Dan Fungsi Serta Tata Kerja Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur . 119 tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan pada Peraturan Gubernur No. panti ini sempat di kelola melalui Badan Kesejahteraan Sosial Nasional Pusat. No. Sejalan dengan perkembangan jangkauan pelayanan pada lanjut usia melalui Perda No. yang jangkauan pelayanannya bertambah untuk wilayah Madura dengan penambahan Unit Pelayanan Sosial lanjut Usia di Bangkalan 7. 6. 8. Susunan Organisasi. Bangkalan berubah menjadi Unit Pelaksana Teknis Pelayanan Sosial Lanjut Usia Pasuruan dengan jangkauan pelayanan wilayah Kabupaten Pasuruan dan Kab. bahwa Panti Sosial Tresna Werdha Pandaan berubah nama menjadi Panti Sosial Tresna Werdha Pandaan. Panti Sosial Tresna Werdha Pandaan. merupakan Unit Pelaksana Tehnis Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan Peraturan Gubernur No. Susunan Organisasi. Bangkalan. 4.108 Tahun 2016 tentang Nomenklatur. Uraian Tugas Dan Fungsi Serta Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas Sosial Provinsi Jawa 27 .Mensos RI.14/HUK/1994 dengan nama Panti Sosial Tresna Werdha “Sejahtera" Pandaan. Dalam perkembangan waktu dan perkembangan kebutuhan akan pelayanan lanjut usia terjadi perubahan dengan Melalui SK./Kota sekitarnya ditambah pelayanan sosial lanjut usia di Lamongan dengan jangkauan pelayanan wilayah Kabupaten Lamongan dan Kabupaten sekitarnya. 12 Tahun 2000.8/HUK/1998 ditetapkan menjadi Panti percontohan Tingkat Provinsi dengan kapasitas 107 orang.14 Tahun 2002 tentang perubahan atas Perda No. Dan pada tahun 2000 pada saat pelaksanaan otonomi daerah diberlakukan maka semua perangkat pusat termasuk aset-asetnya diserahkan pada Pemerintah Provinsi Jawa Timur. tentang Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur bahwa Panti Sosial Tresna Werdha “ Sejahtera “ Pandaan. melalui Peraturan Daerah No. dan Peraturan Gubernur No. Pada tahun 1999 ketika Departemen Sosial RI Dihapus.Mensos RI No.

UPT Pelayanan Sosial Tresna Werdha mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Dinas dalam pelayanan sosial lanjut usia terlantar 2. e.2 Tujuan a. lembaga. b. Penyusunan rencana. 3. 28 . d. f.5. pemenuhan kebutuhan rekreatif untuk mengisi waktu luang c. Terpenuhinya kebutuhan rohani meliputi: Ibadah sesuai dengan Agama masing-masing. perorangan dalam rangka pengembangan program UPT.1 Maksud Memberikan tempat pelayanan sosial serta kasih sayang terhadap para Lanjut Usia. kebutuhan kasih sayang. Pelaksanaan kegiatan pelayanan dan bimbingan.6 Tugas Pokok dan Fungsi Sesuai Peraturan Gubernur No. Pelayanan Sosial Lanjut Usia Pasuruan berubah menjadi Unit Pelaksana Teknis Pelayanan Sosial Tresna Werdha Pasuruan. terutama bimbingan sosial antar penghuni panti. nama UPT. pengembalian kepada keluarga. Pelaksanaan tugas-tugas ketatausahaan. pembinaan lanjut berbasis praktik pekerjaan sosial. peningkatan semangat hidup dan rasa percaya diri. Terpenuhinya kebutuhan sosial. b. Pelaksanaan koordinasi dan/atau kerjasama dengan instansi. Pelaksanaan program kerja UPT.5. c. 108 Tahun 2016: 1. evaluasi dan pelaporan program pelayanan lanjut usia terlantar. 3. pangan dan papan). terlantar ( potensial dan tidak potensial ) dalam memenuhi kebutuhan hidupnya 3. pemeliharaan kesehatan. monitoring.5 Maksud dan Tujuan 3. Timur. Untuk melaksanakan tugas UPT mempunyai fungsi : a. Pelaksanaan pengembangan pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia berbasis keluarga dan masyarakat. Terpenuhinya kebutuhan jasmani meliputi : Kebutuhan pokok secara layak (Sandang. pembina maupun dengan masyarakat.

serta akuntabel 3. Menghormati harkat & martabat klien 3. 3. 3. efisien dan efektif.9 Jenis Pelayanan yang diberikan kepada klien di UPT 1. 3. Pakaian Pakaian diberikan terhadap klien sesuai dengan kebutuhan 4. Pengasramaan Proses kegiatan penempatan klien ke masing-masing wisma yang disesuaikan dengan kondisi dan kapasitas yang ada 2. dan j. 6. g. seleksi. Pemenuhan kebutuhan secara tepat & komprehensif. Tidak mengucilkan 6. Menghindari sikap sensitive 7. Direkomendasi dari Kantor Dinas Sosial / Pemda setempat. Tidak memberikan stigma 5. h. pengungkapan dan pemahaman masalah serta rujukan. Menjaga kerahasiaan data 4. Pelaksanaan penjangkauan. i. Penyebarluasan informasi tentang program pelayanan UPT. Laki / perempuan usia 60 tahun keatas 2.8 Persyaratan Masuk UPT 1. 29 . observasi. Penyelenggaraan konsultasi bagi individu.7 Prinsip Pelayanan 1. Pelayanan yang cepat dan tepat. 4. Menerima klien apa adanya 2. Permakanan Pemberian makan klien yang sesuai dengan menu dan standart gizi yang direkomendasi oleh ahli gizi/dokter Puskesmas setempat. Berbadan sehat tidak mempunyai penyakit menular yang dinyatakan dengan surat keterangan sehat dari Dokter. Kesehatan / obat-obatan. bermutu. Terlantar secara sosial / ekonomi 3. 8. Calon klien dinyatakan lulus seleksi oleh petugas UPT. Atas kemauan sendiri dan tidak ada unsur paksaan 5. Potensial dan tidak potensial. keluarga atau masyarakat dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial. 7. Menghindari sikap belas kasihan 9. Pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas.

Tahap Pengungkapan dan Pemahaman Masalah (Assesment) Proses untuk menilai situasi dan kondisi. pakaian. Pemenuhan kebutuhan fisik. Bimbingan fisik dan kesehatan. Identifikasi dan seleksi proses menemukenali. Melakukan rujukan ke Puskesmas dan Rumah Sakit. kebutuhan dan permasalahan klien. Pelayanan kesehatan bagi klien diberikan sewaktu-waktu pada saat klien membutuhkan perawatan. 4. pemenuhan kebutuhan yang berkaitan dengan makan. Tahap Pendekatan Awal a. Bimbingan social. Penerimaan dan registrasi penerimaan calon klien dari pihak keluarga atau pihak-pihak lain kepada pihak UPT 2. sesuai kebutuhan 6. Tahap Perencanaan Program Pelayanan Merupakkan proses penelaahan dan penyusun rencana program pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan dan permasalah klien. Pemberian Alat kebersihan dan obat-obatan. dan tempat tinggal b. social yang positif dan menjalankan peranan sosialnya dalam panti dan dalam lingkungan masyarakat.10 Proses Pelayanan 1. Tahap Pelaksanaan Pelayanan a. Merupakan proses pelayanan yang ditujukan menjaga atau meningkatkan kondisi fisik dan kerehatan lanjut usia sehingga dapat melaksanakan peran sosialnya 30 . apabila klien memerlukan perawatan lanjutan/rawat inap (opname) 3. serta situasi dan kondisi obyektif dari keluarga dan lingkungan social untuk dijadikan dalam dasar proses penyusunan rencana pelayanan yang akan diberikan kepada usia lanjut 3. Pemeriksaan seluruh klien dilakukan setiap hari Rabu bekerja sama dengan Puskesmas Pandaan (posyandu lansia) 5. c. bimbingan social adalah proses pelayanan yang ditujuakan kepada lanjut usia agar mampu mengembangkan relasi. Sosialisasi kegiatan ini merupakan penyampaian informasi tentang program pelayanan social dalam panti kepada pihak-pihak yang terlihat agar terdapat kesamaan persepsi dan tindakan dalam pelayanan social bagi lanjut usia b. menginfentarisasi memilih dan menetapkan calon klien c.

Tahap Pasca Pelayanan a. Merupakan suatu kegiatan untuk menilai sejauh mana keberhasilan atau kegagalan program pelayanan yang telah diberikan sebagai salah satu bentuk pertanggung jawaban pihak panti kepada klien. Merupakan proses pengakhiran pelayanan setelah klien meninggalkan dunia atau kembali ke keluarga karena sesuatu yang harus dilakukan. Bimbingan ketrampilan. Merupakan upaya yang dilaksanakan untuk memelihara dan menngkatkan kondisi mental spiritual dan kerohanan klien. Rujukan adalah proses penghubungan klien dengan pelayanan lain yang dibutuhkan sesuai masalah dan kebutuhan.11 Jumlah pegawai. Sarana dan Prasarana di UPT 1. Pandaan : PNS: 20 orang PTT: 6 orang b. Bimbingan psikososial. Kapasitas tampung Pelayanan di Pasuruan : 107 orang Pelayanan di Lamongan : 55 orang 31 . Merupakan upaya yang dlakukan untuk menciptakan situasi social. d. Lamongan PNS: 7 orang PTT: 5 orang c. keluarganya atau pemerintah. tentram dan damai e. c. Pembinaan lanjut merupakan kegiatan yang dilakukan setelah klien kembal ke keluarga. psikososial seperti adanya perasaan rasa nyaman. Jumlah pegawai a. atau ketika klien sudah dimakamkan karena klien tidak memiliki keluarga 3. Merupakan kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka mengembangkan bakat. b. Merupakan upaya yang dilaksanakan dalam rangka mengembangkan kreatifitas untuk meningkatkan semangat hidup klien agar bahagia dalam menjalankan kehidupan 5. Bimbingan mental spiritual dan kerohanian. f. Evaluasi. Bimbingan rekreasi dan hiburan. minat dam potensi klien untuk mengisi waktu luangnya sehingga merasa betah dan nyaman tinggal didalam panti g. Terminasi dan rujukan.

Wisma Klien : 9 unit e. Sepeda Motor : 2 unit aa. Keranda Jenazah : 1 buah x. rsud) membantu bidang Kesehatan d.1 Hubungan Lintas Program a.12 Hubungan Lintas Program dan Lintas Sektoral 3. Wisma Dua Lantai : 16 kamar l. Kandang Ternak : 2 unit t. Pemerintah kabupaten/kota madya khususnya di wilayah kerja UPT. Gazebo : 1 buah w. Ruang Genset : 1 unit p.968 m2 b.2 Hubungan Lintas Sektoral a. Mobil Dinas Kepala : 1 unit y.12. Kolam Ikan : 7 petak u. Daya listrik terpasang : 16. Pelayanan Sosial Tresna Werdha Pasuruan b. Tokoh masyarakat / LSM 32 . Rumah Dinas Kepala : 1 unit n. Electone (Keyboard) : 1 unit cc. Perabot Karawitan : 1 set bb. Sarana dan prasana a. 3. Luas Lahan / Tanah : 13. Sekolah / perguruan tinggi / akademisi dalam rangka Pengembangan ilmu pengetahuan dan sebagai pusat informasi di Masyarakat. Gedung Kantor : 2 unit i. Tandon Air Besar : 2 unit r. Departemen agama dalam bimbingan mental agama b. Gedung Poliklinik : 1 unit g. Pos Keamanan : 1 unit o.12. Tempat Pemandian Jenazah : 1 unit v. Gedung Serba Guna : 1 unit j. Wisma Perawatan Khusus : 2 unit f.222 m2 c. Muspika kecamatan c. Masjid : 1 unit m. Sound System : 1 set 3. Mobil Ambulance : 1 unit z. 2. Sumur Bor : 1 unit q. Dinas kesehatan (puskesmas. Water Tower : 8 unit s. Gedung Dapur Umum : 1 unit h. Gedung Lokal Kerja : 1 unit k. Tanah makam : 3. Dinas kebudayaan & pariwisata dalam bimbingan keterampilan Kesenian c.000 Kwh d.

Mengaji.30 . tangan. peternakan peternakan dan n.30 Makan pagi Makan pagi Makan pagi Makan pagi Mak Kegiatan Senam "LING Senam Ke 07.09.06. peternakan dan perikanan perikanan dan perikanan 10.05.00 -11.30 Sosial/Kemas tangan.08. Kea 33 .30 .00 berjama'ah berjama'ah berjama'ah berjama'ah ber Kebersihan Keb 05.07.00 . 3. Ceramah Keagamaan.30 diri dan Kerja bakti Kerja bakti Kerja bakti di lingkungan ling 06.13 Kegiatan Pelayanan dalam UPT (Jadwal Harian) JADWAL KEGIATAN KLIEN UPT PELAYANAN SOSIAL TRESNA WERDHA PASURUAN TAHUN 2017 JAM/ SENIN SELASA RABU KAMIS JU HARI Sholat Subuh Sholat Subuh Sholat Subuh Sholat Subuh Shol 04. Keagamaan.pertania tangan.30 Sholat Dhuha Sholat Dhuha Sholat Dhuha Sholat Dhuha Shol berjama'ah & berjama'ah & berjama'ah & berjama'ah & berja Bimbingan Bimbingan Bimbingan Sosial Bimbingan Bim Sosial Sosial Keagamaan.00 .pertanian. Sosial S Keagamaan.00 Senam "TERA" Individu TIEN KUNG" "TERA" In Pembinaan Pembinaan Pembinaan Bimbingan Ketrampilan Ketrampilan Ketrampilan Shol 08.00 .pertania Ber yarakatan n.

00 Istirahat Tidur Istirahat Tidur Istirahat Tidur Istirahat Tidur Istira 3.00 Dhuhur Dhuhur Dhuhur Jum'a *PEMERIKSAAN berjama'ah berjama'ah berjama'ah ber KESEHATAN 12. Sholat Sholat Isya' Sholat Isya' Sholat Isya' Sho Isya' berjama'ah berjama'ah berjama'ah berjama'ah ber Nonton TV Nonton TV Nonton TV Non bersama di Nonton TV bersama bersama di bersama di ber 19.30 . Ce Ceramah. T 62 th P Islam 3 Ny. J 63 th P Islam 2 Ny. berjama'ah.30 Rhokhani bagi yang beragama Kristen Kebersihan Kebersihan Kebersihan Keb Kebersihan diri dan 15. Y 70 th P Islam 5 Ny.00 Istirahat siang Istirahat siang Istirahat siang Istirahat siang Istira Kegiatan Kegiatan Kegiatan Ke 14.30 Ceramah.00 Makan siang Makan siang Makan siang Makan siang Mak 13.1 Data Identitas Bulan ini di Wisma Anggrek No Nama Usia Jenis Kelamin Agama 1 Ny.04.30 .00 .14 Data kesehatan bulan ini per wisma Tabel 3. Ceramah. Ceramah. Mengaji.00 diri dan diri dan diri dan di lingkungan lingkungan lingkungan lingkungan ling Makan 17. berj berjama'ah.14. wism masing.00 wisma di wisma masing- wisma masing.15. Mengaji. M Ceramah dan Ceramah dan dan Belajar Sholat Ceramah dan Cera Belajar Sholat Belajar Sholat Belajar Sholat Belaj *Sholat Dhuhur Sholat *Sholat *Sholat S berjama'ah 11. wisma masing.00 .30 . 17.00 .00 .19.00 .13.12.17.30 .21.00 Kegiatan Individu Individu Individu Individu In Sholat Ashar Sholat Ashar Sholat Ashar Sholat Ashar Shol 15.30 berjama'ah berjama'ah berjama'ah berjama'ah ber Bimbingan 15.30 Makan Malam Makan Malam Makan Malam Maka Malam Sholat Magrib Sholat Magrib Sholat Magrib Shola Sholat Magrib berjama'ah.15. M 89 th P Islam 34 .00 .17. berjama'ah.00-16. Mengaji. SH 69 th P Islam 4 Ny. masing masing masing m masing 21.

S Asam Urat 8 Ny.3 Keluhan lansia di Wisma Anggrek No Nama Keluhan 1 Ny. selain itu hampir sebagian klien menderita Hipertensi yaitu sebanyak 2 orang. S Klien mengatakan nyeri pada lutut 35 . menderita Osteoartritis sebanyak 1 orang. Riwayat HT 3 Ny. M Asam Urat Sumber : Data Poli UPT Pelayanan Sosial Tresna Werdha Pasuruan Juni 2017 Keterangan : Berdasarkan data yang di peroleh dari didapatkan UPT Pelayanan Sosial Tresna Werdha Pasuruan yaitu hampir sebagian klien menderita Asam urat sebanya 7 orang. M 77 th P Islam Sumber : Pengkajian Mahasiswa profesi Ners STIKES Hafshawaty Juni 2017 Tabel 3. SM Asam Urat 7 Ny. S 70 th P Kristen 8 Ny. J Klien mengatakan 2 Ny. Tabel 3. SH Klien mengatakan Batuk dan Magh 4 Ny. SM 78 th P Islam 7 Ny. R Asam Urat 9 Ny. Riwatay Post CVA 5 Ny. T Asam Urat. Y Hipertensi. Dengan ini dapat disimpulkan bahwa klien di wisma Anggrek hampir sebagian menderita Asam Urat dan hipertensi. SH Asam Urat 4 Ny. M Osteoatritis 6 Ny.2 Data Penyakit yang dirasakan sebulan terakhir di Wisma Mawar Jenis Penyakit No Nama Berdasarkan data yang ada di poli 1 Ny. T Klien mengatakan linu-linu pada ke dua lutut 3 Ny. 6 Ny. Y Klien mengatakan Tangan Kiri susah di gerakkan dan pelow 5 Ny. SM Klien mengatakan nyeri lutut (kanan dan kiri) 7 Ny. J Asam Urat 2 Ny. M Klien mengatakan nyeri pada kaki kanan 6 Ny.R 71 th P Islam 9 Ny.

berpakaian dan fungsi satu tambaahan E Kemandirian dalam semua aktivitas hidup . 9 100% berpindah. - sehari-hari.5% Fungsi intelektual kerusakan ringan (salah 4-5) 1 12. kecuali mandi dan fungsi tambahan D Kemandirian dalam semua aktivitas hidup . kekamar kecil dan satu fungsi tambahan F Kemandirian dalam semua aktivitas hidup . kecuali mandi. R Klien mengeluh nyeri pada lutut dan mata 9 Tn. M Klien mengatakan nyeri pada kaki Tabel 3.Ketergantungan pada sedkitnya 2 fungsi.D. tetapi . - Lain.5% Fungsi intelektual kerusakan sedang (salah 6-8) 1 12.4 Fungsi Kemandirian (biologis) pada Lansia di Wisma Anggrek Indeks Kartz Score Kriteria Jumlah Presentase A Kemandirian dalam hal makan.5 Fungsi Intelektual (psikologis) pada Lansia di Wisma Anggrek Tingkat kerusakan intelektual (SPMSQ) Jumlah Presentase Fungsi intelektual utuh (salah 0-3) 3 37. kecuali mandi.5% Fungsi intelektual kerusakan berat (salah 9-10) 3 37. - sehari-hari. berpakaian dan mandi. berpakaian. kecuali mandi. - sehari-hari. ke kamar kecil. - sehari-hari.F dan G Tabel 3. 8 Ny.5% AQQ51 Tabel pengkajian staus Jumlah Presentase sosial APGAR keluarga Disfungsi berat <3 2 25% Disfungsi sedang 4-6 0 0% Fungsi baik >6 6 75% Tabel 3. berpakaian. B Kemandirian dalam semua aktivitas hidup . berpindah dan satu fungsi tambahan G Ketergantungan pada fungsi 6 fungsi tersebut . kecuali satu dari fungsi tersebut C Kemandirian dalam semua akitivitas hidup . - lain tidak dapat di klasifikasikan sebagai C.7 Fungsi Kognitf pada Lansia di Wisma Anggrek Fungsi kognitif Jumlah Presentase Tidak ada gangguan kognitif 3 37.E. kontinen. - sehari-hari.5% 36 .

21-30 Gangguan kognitif sedang 18 – 2 25% 23 Gangguan kognitif berat 0 – 17 3 37. M 48 kg 100/60 Ny. T 50 kg 130/90 6. R 34 kg 110/70 17. M 48 kg 120/80 Sumber : Data Mahasiswa Selasa.8 Ny.3 Ny. J 64 kg 140/90 7. SH 44 kg 90/60 9.2 Ny. 23-04-1939 Jenis kelamin : Perempuan ( P ) 37 . M Tempat/tgl lahir : Banyuwangi.5% Tekanan Darah Asam Urat (mg/dL) Nama BB (Kg) (mmHg) Ny. S 54 kg 100/60 6.0 Ny.8 Tn.1 Ny. S. Karakteristik Demografi 1. 13 Juni 2017 FORMAT PENGKAJIAN ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK A. SM 42 kg 100/70 15. Y 58 kg 150/100 8.9 Ny. Identitas Diri Klien Nama lengkap : Ny.

telepon :- Hubungan dengan klien : - 3. Aktivitas rekreasi Hobi : Berkebun Berpergian/wisata :- Keanggotaan organisasi : - Lain-lain :- 5. Sayur. Status perkawinan : Janda Agama : Islam Suku bangsa : Jawa Pendidikan terakhir : SD Diagnose medis (bila ada) : Alamat : Aceh 2. Keluaraga atau orang lain yang penting/dekat yang dapat dihubungi : Nama : TIDAK ADA Alamat :- No. Pola kebiasaan setiap hari 1. Nutrisi Frekuensi makan : 3x Dalam Satu Hari dalam hal menjalankan puasa Nafsu makan : Baik satu porsi habis Jenis makanan : Nasi. Riwayat pekerjaan dan status ekonomi Pekerjaan saat ini : Tidak Bekerja Pekerjaan sebelumnya : Tukang Pijet Sumber pendapatan :- Kecukupan pendapatan : Cukup ( Tidak Terbilang ) 4. Riwayat keluarga a. Saudara kandung Nama Keadaan saat ini keterangan Subaidah Jawariyah Meninggal Salwati Halim hadi b. Snack 38 . Buah. Riwayat kematian dalam keluarga ( 1 tahun terakhir ) Nama : Umur : Penyebab kematian : Semua Anggota Keluarga Meninggal Akibat Bencana Tsunami aceh B.

Istirahat dan tidur Lama tidur malam : 20. Minuman keras ( ya/tidak ) : Tidak c. Kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan ( jenis/frekuensi/jumlah/lama pakai ) a. Kuku dan tangan Frekuensi gunting kuku : Tidak tentu. Nonton TV : Kadang-kadang nonton Tv c. Cuci rambut Frekuensi : 1x dalam Satu hari Penggunaan shampoo ( ya/tidak ) : Menggunakan Sampo d.30 WIB Tidur siang : Tidak tentu. kadang 1x/ Minggu Kebiasaan mencuci tangan pakai sabun : Menggunakan Sabun 4. Tidur jika merasa capek setelah berkebun Keluhan yang berhubungan dengan tidur : Tidak Ada 5. Mandi Frekuesi dan waktu mandi : 2x/ Hari Pemakaian sabun ( ya/tidak ) : Menggunakan Sabun b. Berkebun/memasak : Paling suka berkebun d. Eliminasi a. Uraian kronologis kegiatan sehari-hari Jenis kegiatan Lama waktu untuk setiap kegiatan 39 . Kebiasaan mengisi waktu luang a. Ketergantungan terhadap obat ( ya/tidak ) : Tidak 7. Lain-lain : Selalu sholat 5 waktu 6.00 – 03. Oral hygiene Frekuensi dan gosok gigi : 2x/ Hari Menggunakan pasta gigi : Menggunakan Pasta Gigi c. Olahraga : Senam b. Kebiasaan sebelum makan :- Makanan yang tidakdisukai : Tidak Ada Alergi terhadapmakanan : Tidak Ada Pantangan makanan : Tidak Ada Keluhan yang berhubungan dengan makan : Tidak Ada 2. Personal hygiene a. BAB Frekuensi dan waktu : Tidak tentu terkadang 1x dalam satu hari Konsistensi : Lunak Keluhan yang berhubungan dengan BAB : Tidak ada Pengalaman memakai laxantif/pencahar : Tidak ada 3. Merokok ( ya/tidak ) : Tidak b. BAK Frekuensi dan waktu : 3-4x Dalam Sehari Kebiasaan BAK pada malam hari : 1x Sebelum Tidur Keluhan yang berhubungan dengan BAK : Tidak Ada b.

Riwayat kesehatan masa lalu a.00 Shalat Isyak 21. Riwatyat pemakaian Obat : Pernah ketika di rawat di RS 3.00 Ambil Takjil 17. Faktor pencetus : Sering naik turun tangga d.00 Istirahat Tidur Malam 03.30 Buka Puasa 17. dan lain-lain ) : Tidak ada c. Timbul keluhan : ( ) mandadak (√ ) bartahap e. sebutkan : di beri obat dari Perawat Poli Panti 2.30 Nyapu Halaman 09. Waktu mulai timbulnya keluhan : Semenjak masuk panti f. perkusi dan palpasi ) I.00 Istirahat/ Sholat Ashar 16. Upaya mengatasi : Periksa ke poli klinik dan mengkonsumsi obat dari klinik ( ) Pergi ke RS/klinik pengobatan ( ) Pergi kebidan atau perawat ( ) Mengonsumsi obat-obatan sendiri ( ) Mengonsumsi obat-obatan tradisional ( ) Lain-lain. Penyakit yang pernah diderita : Tidak ada b. makanan.00 Pergi berkebun 15.00 Berkebun 12.00 Sholat Dhuhur 13. Status kesehatan 1. Pengkajian/pemeriksaan fisik ( observasi. Keluhan utama dalam 1 tahun terakhir : Linu-linu pada kedua lutut/ Asam urat b.00 Sahur 04. Riwayat alergi ( obat. auskultasi. Status kesehatan saat ini a. 05.00 Istirahat/ Duduk 14. Riwayat kecelakaan : Jatuh dari sepeda d. debu. pengukuran.45 Sholat Maghrib 19.30 Sholat Subuh dan bersih-bersih C. Riwayat dirawat di RS : Pernah masuk RS karena kecelakaan e. Gejala yang dirasakan : Linu-linu/ Nyeri pada kedua lutut c. Keadaan umum ( TTV ) : Keadaan Umum : Baik / Cukup / Buruk 40 .

Warna : hitam / beruban / campuran . Strabismus : ya / tidak . 2 C BB: 42 Kg Naik: Kg Turun: kg TB: cm II. Keluhan lain : ya / tidak 4. Kesadaran : CM / Apatis / delirium / Somnolen / sopor / semi koma / koma Tanda-tanda vital: . Bentuk : simetris/ asimetris . Penglihatan : kabur / tidak . Pemeriksaan Fisik 1. Peradangan : ya / tidak . Riwayat katarak : ya / tidak 3. Mulut dan tenggorokan .Keluhan : ya / tidak 2.Kerontokan : ya / tidak . Peradangan : ya / tidak . Suhu : 36. Bentuk : simetris/ asimetris . Kebersihan : baik / buruk / sedang 41 . Nadi : 82 x/menit . Hidung . Pernafasan : 20 x/menit o . Mata . Penciuman : terganggu / tidak . TD : 110/ 70 mmHg . Kepala .Kebersihan : kotor / bersih .Distribusi : jarang / lebat / sedang . Selera : ikterik / tidak . Konjungtiva : anemis / tidak .

Dada . Supel : ya / tidak . Bising usus : ada / tidak. Kebersihan : baik / sedang / buruk 42 . Kembung : ya / tidak . Ictrus Cordis : ICS Linea 8. JVD : ya / tidak . Peradangan : ya / tidak . Gigi / geligi : caries / tidak : Caries Pada gigi geraham 5. Retraksi : ya / tidak . Suara jantung tambahan: ada / tidak . Keluhan lain : ya / tidak 6. Leher . Kebersihan : baik / buruk / sedang . Pendengaran : terganggu / tidak . Bentuk : simetris / asimetris . Ronchi : ya / tidak . Peradangan / Stomatis: ya / tidak . Genetalia / anus . . frekuensi: x/menit . Posisi trachea : simetris / asimetris . Massa : ya / tidak. Mukosa : kering / lembab . Pembesaran kelenjar tiroid : ya / tidak . Abdomen . Telinga . Wheezing : ya / tidak . Nyeri tekan : ya / tidak . Bentuk : distented / flat / lainnya . Bentuk dada : normal chest / barrel chest / pigeon chest / lainnya . region 9. Kaku kuduk : ya / tidak 7.

Penataan halaman ( kalau ada ) : Tempat taman bunga depan ruanagan dan penataan halaman baik 10. 43 . Pembuangan air kotor : Selokan 6. Kelembaban : kering / lembab . Kebersihan : baik / buruk / sedang . Integumen . Privasi : Baik dan terjaga 11. Udara masuk Maksimal 4. Rentang gerak : maksimal / terbatas . Massa / tonus otot : Atas: 5/ 5 Bawah: 5/ 5 (skala 1. pitting / non pitting . Resiko injuri : Tidak ada Resume :. Deformitas : ya / tidak .5) . Sirkulasi darah : Baik. Keadaan kamar mandi dan WC : Cukup bersih. Hernia : ya / tidak 10. Tremor : ya / tidak . Kebersihan dan kerapian ruangan : Baik tertata rapi dan bersih 2. Kludikasi : ya / tidak 11. Sampah di buang ke tempat pembuangan sampah 8. Gangguan pada kulit : panu / kadas / kurap / scabies / acozema / gatal D. Sumber pencemaran : Baik dan terjaga 9. Warna : pucat / tidak . Ekstremitas . Pembuangan sampah : Baik. tidak bau dan penataan baik 5. Penchayaan normal 3. Penerangan : Baik. Gaya berjalan : gait / normal . Hemoroid : ya / tidak . Flebitis : ya / tidak . . Lingkungan tempat tinggal 1. Edema kaki : ya / tidak. Sumber air minum : Menggunakan air galon 7. Postur tubuh : skoliosis / lordosis / kifosis .

Pengkajian Psikososial 2.2 Identitas Masalah Emosional PERTANYAAN TAHAP 1  Apakah klien mengalami sukar tidur ?  Apakah klien sering merasa gelisah ?  Apakah klien sering murung atau menangis sendiri ?  Apakah klien sering was – was atau kuatir ? Lanjutkan ke pertanyaan tahap 2 jika lebih dari atau sama dengan 1 jawaban “Ya” 44 . Pengkajian Psikososial Spiritual 1. sikap klien pada orang lain. 1. Pengkajian Fungsional Klien 3. sikap klien pada orang lain juga baik. Catatan : 1. Hasil pengkajian disajikan dalam bentuk narasi 2. harapan – harapan klien dalam melakukan sosialisasi. harapannya klien bisa bersilaturrahmi dengan baik dengan sesama teman yang ada di wisma anggrek. Klien mampu bersosialisasi dengan baik. mengikuti pola asuhan keperawat secara umum E. Pengkajian Keseimbangan untuk Klien Lansia 1. kepuasan klien dalam sosialisasi.1 Psikososial Kemampuan sosialisasi klien pada saat sekarang. Format selanjutnya. klien merasa puas dengan bersosialisasi karna mampu memperbanyak teman dan hubungannya dengan temannya semakin erat. Hasil pengkajian khusus ( format terlampir ) 1. dll. Pengkajian Status Mental Gerontik 4.

bila mandi yang dimaksudkan menggunakan sarana tersebut) D : Menerima bantuan saat mandi hanya pada bagian tubuh tertentu (seperti punggung atau tungkai) T : Memerlukan bantuan terhadap lebih dari satu bagian tubuhnya (atau tidak mandi sama sekali ) 2. serta dia berharap dengan dia beribadah semua urusannya akan lancar. pancuran. 2. konsep / keyakinan klien tentang kematian. dll. kegiatan keagamaan. harapan – harapan klien.3 Spiritual Agama. BERPAKAIAN (M) : Mampu mengambil dan mengenakan pakaian secara lengkap tanpa memerlukan bantuan D : Berpakaian lengkap tanpa memerlukan bantuan kecuali saat menalikan sepatu T : Memerlukan bantuan mengambil dan mengenakan pakaian atau bila tidak pasien tidak akan berpakaian lengkap atau tidak berpakaian sama sekali 45 .PERTANYAAN TAHAP 2  Keluhan lebih dari 3 bulan atau lebih dari 1 kali dalam 1 bulan ?  Ada masalah atau banyak pikiran ?  Ada gangguan / masalah dengan keluarga lain ?  Menggunakan obat tidur / penenang atau anjuran dokter ?  Cenderung mengurung diri ? Bila lebih dari atau sama dengan 1 jawaban “Ya” MASALAH EMOSIONAL POSITIF ( + ) 1. dan persiapan untuk menghadap allah SWT. Pengkajian Fungsional Klien 2.1 KATZ Indeks : 1. Klien beragama islam dan melakukan sholat lima waktu serta berpuasa. MANDI (dengan spon. atau bak rendam) (M) : Tidak membutuhkan bantuan (keluar dan masuk ke dalam bak rendam..

berpindah dan mandi B. pergi ke toilet. BAB). dan satu fungsi yang lain E. dan satu fungsi yang lain D. 3. Juga mungkin mampu menggunakan tampungan selama di tempat tidur atau juga pispot yang akan dikosongkan saat pagi hari) D : Memerlukan bantuan untuk pergi ke toilet. Mandiri. Mandiri . membersihkan diri sendiri atau bahkan dalam dalam memilih atau memperbaiki pakaian yang akan dikenakan. Singkatan : M. T. kecuali mandi. setelah eliminasi baik dengan alat tampung malam hari maupun dengan mempergunakan pispot T : Tidak pergi ke kamar mandi dalam proses eliminasinya 4. Mandiri. berpakaian. 6. Ket. MAKAN (M) : Menyuap sendiri tanpa bantuan D : Makan tanpa memerlukan bantuan kecuali pada saat memotong daging atau mengoles roti dengan mentega T : Memerlukan bantuan saat makan atau makan melalui selang atau cairan baik sebagian menu atau sepenuhnya. TOILETING (M) : Mampu pergi ke toilet. kursi roda. kontibebsia. (BAK. kecuali mandi. kecuali mandi. Tergantung Termasuk kategori yang manakah klien ? A. Mandiri dalam makan. Dibantu. tongkat kaki tiga. BERPINDAH (M) : Bergerak naik turun dari tempat tidur dan kursi tanpa memerlukan bantuan (mungkin mempergunakan objek penopang seperti tongkat atau walker) D : Naik turun dari tempat tidur atau kursi dengan bantuan T : Tidak turun dari tempat tidur sama sekali (bila turun harus dengan bantuan atau pertolongan sepenuhnya) 5. D. berpakaian. Mandiri. menggunakan pakaian. Mandiri semuanya kecuali salah satu saja dari fungsi di atas C. KONTINENSIA (M) : Mengendalikan perkemihan dan defekasi secara mandiri sepenuhnya D : Kadang terjadi “ketaksengajaan” T : Pengawasan yang diberikan merupakan bantuan dalam mengendalikan perkemihan dan defekasi pasien. atau bahkan terjadi inkontinensia sepenuhnya. ke toilet dan satu fungsi yang lain 46 . membersihkan diri sendiri dan mampu memilih baju tanpa bantuan (mungkin menggunakan objek sebagai penopang seperti tongkat. dapat menggunakan kateter.

Buah Frekuensi : Puasa Jumlah : ± 6-7 2. F. Mandiri. gosok gigi) Keluar masuk toilet Klien mampu (mencuci pakaian. berpindah dan satu fungsi yang lain G. Ikan. BANTUAN Frekuensi : 2x/ Hari Jumlah : 1 Piring 1. ke toilet.2 Modifikasi dari Barthel Indeks Termasuk yang manakah klien ? NO DENGAN KRITERIA MANDIRI KETERANGAN . roda ke tempat tidur. Ketergantungan untuk semua fungsi di atas. 0 5 Mampu jalan sendiri datar 8. Mengenakan pakaian 5 10 Mampu dan mandiri 47 . Makan 5 10 Jenis : Nasi. 2. Naik turun tangga 5 10 Mampu dan mandiri 9. muka. 5 10 melakukan aktivitas menyeka tubuh. menyisir 0 5 Frekuensi : 2x/ Hari rambut. Mandi 5 15 Frekuensi : 2x/ hari Jalan di permukaan 7. 5. Minum 5 10 Gelas Jenis : Air putih – Teh Berpindah dari kursi 3. secara mandiri menyiram) 6. 5 – 10 15 sebaliknya Personal toilet (cuci 4. kecuali mandi. sayur. berpakaian.

Hari apa sekarang ? √ 3. Kapan Anda lahir ? (minimal tahun lahir ) 48 .1 Identifikasi tingkat kerusakan intelektual dengan menggunakan Short Portable Mental Status Questioner (SPMSQ) Instruksi :  Ajukan pertanyaan 1 – 10 pada daftar ini dan catat semua jawaban. Di mana alamat Anda ? √ 5. 130 : Mandiri b. 65 – 125 : Ketergantungan sebagian c. Tanggal berapa hari ini ? √ 2. Apa nama tempat ini ? √ 4.  Catat jumlah kesalahan total berdasarkan 10 pertanyaan BENAR SALAH NO. pemanfaatan waktu 5 10 Berkebun luang Frekuensi : Keterangan a. Frekuensi : Tidak Kontrol Bowel tentu 2x/ minggu 10. 5 10 (BAB) Jenis : Lunak Frekuensi : Tidak Kontrol Bladder Tentu 11. 5 10 (BAK) Warna : Kuning jernih Frekuensi : 1x/ 12. PERTANYAAN √ 1. 60 : Ketergantungan total 3. Olah raga / latihan 5 10 Minggu Jenis : Senam Rekreasi / Jenis : 13. Berapa umur Anda ? √ 6. Pengkajian Status Mental Gerontik 3.

. setiap angka baru.. Di mana alamat Anda ? Klien mengatakan Aceh . Seri total = Catatan : Apabila ada suatu kesulitan dari lansia untuk menjawab setiap pertanyaan. ada beberapa alternatif pertanyaan untuk lansia di antaranya : 1.Sekarang jam berapa ? Klien mampu menjawab jam dengan benar . siang.Sekarang malam.Kapan Anda lahir ? Klien lupa pada tanggal dan bulan lahir 49 .. semua secara menurun.Apa nama tempat ini ? Klien menjawab tempat Wisma dengan benar 4.Sekarang tahun berapa ? 2017 ( Mampu menjawab pertanyaan dengan benar) 2. Siapa Presiden Indonesia sebelumnya ? √ 9. √ 7.Hari apa sekarang ? Klien mampu menjawab hari dengan benar .Lahir di mana ? Klien megatakan Banyuwangi 5.. Siapa nama ibu Anda? Kurangi 3 dari 20 dan tetap pengurangan 3 dari √ 10. Siapa Presiden Indonesia sekarang ? √ 8.Berapa umur Anda ? Klien menjawab 79 tahun 6. atau pagi ? Klien menjawab dengan benar 3.Tanggal dan tahun berapa Indonesia merdeka ? Klien Lupa tanggal dan tahun kemerdekaan .

. Salah 4 – 5 : Kerusakan intelektual ringan c.Siapa Presiden Indonesia pertama kali ? Klien menjawab Soekarno 9.Tahun berapa ? 1939 ( klien mampu mengingat dan menjawab dengan benar ) .Sebutkan nama anak – anak Anda ! Interpretasi hasil : a. Jokowi . . SF.Siapa ketua panti sekarang ? .. Klien menjawab dengan benar 7. 1998) 4.Siapa ketua asrama sekarang ? 8.Zaman pemerintahannya siapa ? Sukarno.. Salah 9 – 10 : Kerusakan intelektual berat 4. Salah 6 – 8 : Kerusakan intelektual sedang d.Siapa nama ibu Anda ? . Siapa Presiden Indonesia sekarang ? Klien menjawab Bpk. ME dan Ginser.1 Perubahan Posisi atau Gerakan Keseimbangan 50 . Pengkajian Keseimbangan untuk Klien Lansia (Tinneti. Siapa Presiden Indonesia sebelumnya ? Klien menjawab SBY . Salah 0 – 3 : Fungsi intelektual utuh b.

keluhan vertigo. tidak stabil pada saat berdiri pertama kali. memerlukan usaha – usaha multipel untuk bangun 4.  Duduk ke kursi (Dimasukkan dalam analisis) kursi yang keras tanpa lengan Menjatuhkan diri di kursi. pusing atau keadaan tidak stabil  Gerakan menggapai sesuatu  Tidak mampu untuk menggapai sesuatu dengan bahu fleksi sepenuhnya sementara berdiri pada ujung – ujung jari kanan-kiri. menggenggam obyek untuk dukungan. kaki tidak menyentuh sisi – sisinya  Mata tertutup  Sama seperti di atas (periksa kepercayaan pasien tentang input penglihatan untuk keseimbangan)  Perputaran leher  Menggerakkan kaki. memegang sesuatu untuk dukungan  Membungkuk  Tidak mampu untuk membungkuk untuk mengambil obyek – obyek kecil (misalnya pulpen) dari lantai. kaki tidak menyentuh sisi – sisinya.2 Komponen Gaya Berjalan atau Gerakan 51 . tidak duduk di tengah kursi  Menahan dorongan pada sternum (pemeriksaan mendorong sternum perlahan – lahan sebanyak 3 kali)  Menggerakkan kaki memegang obyek untuk dukungan. memegang suatu obyek untuk bisa berdiri lagi.  Bangun dari kursi (Dimasukkan dan analisis) kursi yang keras tanpa lengan  Tidak bangun dari duduk dengan satu kali gerakan. tetapi mendorong tubuhnya ke atas dengan tangan atau bergerak ke bagian depan kursi terlebih dahulu. tidak stabil.

bergelombang dari sisi ke sisi  Berbalik  Berhenti sebelum mulai berbalik. masalah dapat terdapat pada pinggul. tersandung memegang obyek untuk dukungan  Ketinggian langkah kaki (mengangkat kaki pada saat melangkah)  Kaki tidak naik dari lantai secara konsisten (menggeser atau menyeret kaki). bergoyang. pergelangan kaki. mengangkat kaki terlalu tinggi (> 2 inchi)  Kontinuitas langkah kaki (lebih baik diobservasi dari samping pasien)  Setelah langkah – langkah awal. jalan sempoyongan. memegang obyek untuk dukungan 52 . tidak konsisten memulai mengangkat satu kaki sementara kaki yang lain menyentuh lantai  Kesimetrisan langkah (lebih baik diobservasi dari samping pasien)  Panjangnya langkah yang tidak sama (sisi yang patologis biasanya memiliki langkah yang lebih panjang. Meminta klien untuk berjalan ke tempat yang ditentukan ragu – ragu. atau otot – otot di sekitarnya)  Penyimpangan jalur pada saat berjalan (lebih baik diobservasi dari belakang pasien) Tidak berjalan dalam garis lurus. lutut.