You are on page 1of 14

PERUBAHAN ADAPTASI PSIKOLOGI PADA IBU HAMIL

Ada beberapa anggapan terhadap perubahan psikologi yang terjadi selama


kehamilan, hal ini berkaitan dengan beberapa perubahan biologik. Kejadian dan
proses psikologi ini diidentifikasi pada trimester kehamilan yang akan dibahas
dibawah ini.

A. PERUBAHAN PERILAKU PADA IBU HAMIL


Kabar kehamilan akan memberikan kebahagiaan bagi pasangan yang
mengharapkan kehadiran sang buah hati. Kehadiran bayi mungil, lucu dan
menggemaskan tentunya akan membuat rumah anda semakin ceria, yang tadinya
tidak ada jeritan dan tangisan sang buah hati, tiba-tiba rumah anda ada keceeriaan
tersendiri. Tak heran jika berbagi upaya dilakukan oleh pasangan demi kehamilan
dan kelahiran serta kehadiran sang buah hati yang didambakan. Kehadiran sang
buah hati akan semakin anda bersemangat dalam mengarungi bahtera kehidupan
dalam mengasuh dan mendidik titipan Illahi.
Setiap ibu yang mengalami kehamilan pasti ada perubahan perilaku pada si
ibu ini semua di perngaruhi oleh perubahan hormonal. Saat memutuskan untuk
hamil suami dan istri harus benar-benar siap dengan segala perubahan yang akan
terjadi nanti pada si ibu baik perubahan fisik dan perilaku, agar suami maupun istri
siap menghadapinya. Jangan sampai perubahan ini membuat pasangan jadi tidak
harmonis.
1. Cenderung malas
Para suami perlu memahami bahwa kemalasan ini bukan timbul begitu
saja, melainkan pengaruh perubahan hormonal yang sedang dialami istrinya.
Jadi tidak ada salahnya bila suami menggantikan peran istri untuk beberapa
waktu. Misalnya dengan menggantikannya membereskan tempat tidur,
membuat kopi sendiri.
2. Lebih sensitive
Biasanya, wanita yang hamil juga berubah jadi lebih sensitif. Sedikit-
sedikit tersinggung lalu marah. apa pun perilaku ibu hamil yang dianggap
kurang menyenangkan, hadapi saja dengan santai. Ingatlah bahwa dampak
perubahan psikis ini nantinya bakal hilang. Bukan apa-apa, bila suami
membalas kembali dengan kemarahan, bisa-bisa istri semakin tertekan
sehingga mempengaruhi pertumbuhan janinnya.
3. Minta perhatian lebih
Perilaku lain yang kerap “mengganggu” adalah istri tiba-tiba lebih
manja dan selalu ingin diperhatikan. Meskipun baru pulang kerja dan sangat
letih, usahakan untuk menanyakan keadaannya saat itu. Perhatian yang
diberikan suami, walau sedikit, bisa memicu tumbuhnya rasa aman yang baik
untuk pertumbuhan janin. Demikian pula ketika istri merasakan pegal-pegal
dan linu pada tubuhnya. Istri sering meminta suami untuk mengusap
tubuhnya. Sebaiknya lakukan sambil memberikan perhatian dengan
mengatakan bahwa hal ini memang sering dialami wanita yang sedang hamil
dan diperlukan kesabaran untuk menghadapinya.
4. Gampang cemburu
Tak jarang, sifat cemburu istri terhadap suami pun muncul tanpa
alasan. Pulang telat sedikit saja, istri akan menanyakan hal macam-macam.
Mungkin, selain perubahan hormonal, istri pun mulai tidak percaya diri
dengan penampilan fisiknya. Ia takut bila suaminya pergi dengan wanita lain.
Untuk menenangkannya, suami perlu menjelaskan dengan bijaksana bahwa
keterlambatannya dikarenakan hal-hal yang memang sangat penting dan
bukan karena perselingkuhan. Bila perlu, ceritakan dengan terperinci
aktivitas.
5. Akibat hormon progesterone
Perubahan perilaku pada ibu hamil merupakan hal wajar karena
produksi hormon progesteronnya sedang tinggi. Hal inilah yang
mempengaruhi banyak hal, termasuk psikis ibu. Perubahan hormon yang
terjadi pada ibu hamil sebenarnya sama persis dengan perubahan hormon
pada wanita yang sedang mengalami siklus haid, perubahan hormon yang
terjadi tidak selamanya akan mempengaruhi psikis ibu hamil. Ada juga yang
perilakunya tidak berubah. Hal ini, disebabkan kerentanan psikis setiap orang
yang berbeda-beda. Nah, daya tahan psikis dipengaruhi oleh kepribadian,
pola asuh sewaktu kecil, atau kemauan ibu untuk belajar menyesuaikan diri
dengan perubahan tersebut. Biasanya ibu yang menerima atau bahkan
sangat mengharapkan kehamilan akan lebih mudah menyesuaikan diri
dengan berbagai perubahan. Secara fisik dan psikis, mereka lebih siap.
Berbeda dari ibu yang tidak siap, umpamanya karena kehamilannya tidak
diinginkan, umumnya merasakan hal-hal yang lebih berat. Begitu pula dengan
ibu yang sangat memperhatikan estetika tubuh. Dia akan merasa terganggu
dengan perubahan fisik yang terjadi selama kehamilan. Seringkali ibu sangat
gusar dengan perutnya yang semakin gendut, pinggul lebih besar, payudara
membesar, rambut menjadi kusam, dan sebagainya. Tentu hal ini akan
semakin membuat psikis ibu menjadi tidak stabil. Perubahan psikis umumnya
lebih terasa di trimester pertama kehamilan. Kala itu pula, ibu masih harus
menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan hormon yang terjadi. Lalu
berangsur hilang di trimester kedua dan ketiga karena ibu sudah bisa
menyesuaikan dirinya.
B. WASPADAI PERUBAHAN BERLEBIHAN
Perubahan perilaku pada ibu hamil, jika kadarnya masih normal, tidak
akan mengganggu proses tumbuh kembang janin. Namun, ada batasan yang
mesti diwaspadai, yakni saat perilaku ibu sudah “keterlaluan”. Kriteria
keterlaluan memang terkesan rancu, tapi yang pasti waspadai jika ibu terlihat
dilanda kecemasan berlebih atau stres sehingga perilakunya bisa
“membahayakan” janin. Misalnya, kemalasan ibu sampai membuatnya masa
bodoh dengan kehamilannya. Atau kemarahan yang terjadi sudah sering
berubah menjadi amukan. kondisi psikis yang terganggu akan berdampak
buruk pada aktivitas fisiologis dalam diri ibu. Umpamanya, suasana hati yang
kelam dan emosi yang meledak-ledak dapat mempengaruhi detak jantung,
tekanan darah, produksi adrenalin, aktivitas kelenjar keringat dan sekresi
asam lambung. Di samping itu, dapat pula memunculkan gejala fisik seperti
letih, lesu, gelisah, pening, dan mual.
Semua dampak ini akhirnya akan merugikan pertumbuhan janin
karena si kecil sudah dapat merasakan dan menunjukkan reaksi terhadap
stimulasi yang berasal dari luar dirinya. Apalagi masa trimester pertama
merupakan masa kritis menyangkut pembentukan organ tubuh janin. Oleh
karena itu, walaupun sifat pemalas, pemarah, sensitif, dan manja wajar muncul
di masa hamil, Banyak hal yang bisa dilakukan. Jika perubahan ini ditanggapi
secara positif, baik ibu maupun janin akan lebih sehat kondisinya.
Inilah hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi kemungkinan
munculnya dampak psikis yang negative.
1. Menyimak informasi seputar kehamilan
Berbagai informasi mengenai kehamilan bisa didapat dari buku,
majalah, koran, tabloid, atau situs kehamilan di internet. Dengan
mengetahui akar masalah yang terjadi maka ibu bisa lebih tenang
menghadapi kehamilan. Ibu pun jadi tahu mana yang boleh dan mana
yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, jika tidak berusaha mencari
tahu terhadap perubahan pada dirinya, tak mustahil akan timbul
berbagai perasaan yang mungkin saja sangat mengganggu kondisi
psikis.
2. Kontrol teratur
Kontrol bisa dilakukan pada dokter kandungan atau bidan. Saat
konsultasi, ibu bisa menanyakan tentang perubahan psikis yang
dialami. Biasanya, bila ibu perlu penanganan lebih serius, dokter atau
bidan akan menganjurkan ibu untuk menemui psikolog atau psikiater
yang dapat membantu kestabilan emosi.
3. Perhatian suami
Perhatian yang diberikan oleh suami bisa membangun
kestabilan emosi ibu. Misalnya, ibu bisa saja meminta suami untuk
menemaninya berkonsultasi ke dokter atau bidan agar merasa lebih
nyaman karena ada perhatian dari pasangan.
4. Jalin komunikasi
Jangan pernah menutupi perubahan psikis yang terjadi, tetapi
komunikasikanlah hal itu kepada suami. Dengan begitu diharapkan
suami bisa berempati dan mampu memberi dukungan psikologis yang
dibutuhkan. Dukungan dari lingkungan, terutama suami, sangat
berpengaruh terhadap kestabilan emosi ibu hamil. Sebaliknya,
perasaan ibu hamil yang dipendam sendiri tidak akan membawa
perubahan. Suami tetap tidak acuh dan masalah ibu jadi
berkepanjangan.
5. Beraktivitas
Sangat dianjurkan agar ibu mencari aktivitas apa pun yang
dapat meredakan gejolak perubahan psikis. Bisa dengan menjahit,
melukis, bermain musik, atau apa pun. Umumnya, ibu yang aktif di luar
rumah bisa mengatasi berbagai perubahan psikisnya tersebut dengan
lebih baik.
6. Perhatikan kesehatan
Tubuh yang sehat akan lebih kuat menghadapi berbagai
perubahan, termasuk perubahan psikis. Kondisi ini bisa terwujud
dengan berolahraga ringan dan memperhatikan asupan gizi. Hindari
mengonsumsi makanan yang dapat membahayakan janin, seperti
makanan yang mengandung zat-zat aditif, alkohol, rokok, atau obat-
obatan yang tidak dianjurkan bagi kehamilan.
7. Relaksasi
Bila ingin mendapatkan perasaan yang lebih relaks, ibu bisa
mengatasinya dengan mendengarkan musik lembut, belajar
memusatkan perhatian sambil mengatur napas, senam yoga, dan
bentuk relaksasi lainnya.

C. PERUBAHAN DAN ADAPTASI PSIKOLOGI PADA KEHAMILAN


Ada beberapa anggapan terhadap perubahan psikologi yang terjadi
selama ini berkaitan dengan beberapa perubahan biologik. Kejadian dan
proses psikologi ini diidentifikasi pada trimester kehamilan yang akan dibahas
dibawah ini.
1. Perubahan dan adaptasi psikologi pada kehamilan trimester I
Trimester pertama ini sering dirujuk kepada masa penentuan.
Penentuan membuat fakta wanita bahwa ia hamil.Trimester pertama juga
sering merupakan masa kekhawatiran dari penantian. Segera setelah
konsepsi kadar hormon progesteron dan estrogen dalam tubuh akan
meningkat dan ini menyebabkan timbulnya mual dan muntah pada pagi
hari, lemah, lelah dan membesarnya payudara. Ibu merasa tidak sehat
dan seringkali membenci kehamilannya.
Banyak ibu yang merasakan kekecewaan, penolakan, kecemasan dan
kesedihan. Seringkali, biasanya pada awal kehamilannya, ibu berharap
untuk tidak hamil. Hampir 80% kecewa, menolak, gelisah, depresi dan
murung.
Kejadian gangguan jiwa sebesar 15% pada trimester I yang kebanyakan
pada kehamilan pertama.
Menurut kumar dan robson (1978) 12% wanita yang mendatangi klinik
menderita depresi terutama pada mereka yang ingin menggugurkan
kandungannya.
Perubahan psikologis yang terjadi pada kehamilan trimester I didasari
pada teori Revarubin. Teori ini menekankan pada pencapaian peran
sebagai ibu, dimana untuk mencapai peran ini seorang wanita
memerlukan proses belajar melalui serangkaian aktifitas.
Beberapa tahapan aktifitas penting seseorang menjadi ibu :
a) Taking on
Seorang wanita dalam pencapaian peran sebagai ibu akan
memulainya dengan meniru dan melakukan peran ibu.
b) Taking in
Seorang wanita sudah mulai membayangkan peran yang
dilakukan.
c) Letting go
Wanita mengingat kembali proses dan aktifitas yang sudah
dilakukannya.
Kehamilan pada trimester I ini cenderung terjadi pada tahapan aktifitas
yang dilalui seorang ibu dalam mencapai perannya yaitu pada tahap
taking on. Pada trimester pertama seorang ibu akan selalu mencari tanda
- tanda untuk lebih meyakinkan bahwa dirinya memang hamil. Setiap
perubahan yang terjadi pada tubuhnya akan selalu diperhatikan dengan
seksama. Karena perutnya masih kecil, kehamilan merupakan rahasia
seorang ibu yang mungkin diberitahukannya kepada orang lain atau
dirahasiakannya.
Para wanita juga mungkin akan mengalami ketakutan dan fantasi
selama kehamilan, khususnya tentang perubahan pada tubuhnya. Mereka
khawatir terhadap perubahan fisik dan psikologisnya, jika mereka
multigravida, kecemasan berhubungan dengan pengalaman yang lalu.
Banyak wanita hamil yang mimpi seperti nyata, dimana hal ini sangat
menggangu. Mimpinya seringkali tentang bayinya yang bisa diartikan oleh
ibu apalagi bila tidak menyenangkan.
Bentuk motivasi:
1) Motivasi suami
Reaksi pertama seorang pria ketika mengetahui bahwa dirinya akan
menjadi seorang ayah adalah timbulnya kebanggaan atas kemampuannya
mempunyai keturunan bercampur dengan keprihatinan akan kesiapannya
menjadi seorang ayah dan menjadi pencari nafkah untuk keluarganya.
Seorang calon ayah mungkin akan sangat memperhatikan keadaan ibu yang
mulai hamil dan menghindari hubungan seks karena takut akan mencederai
bayinya. Ada pula pria yang hasrat seksualnya terhadap wanita hamil relatif
lebih besar. Disamping respon yang diperlihatkannya, seorang ayah dapat
memahami keadaan ini dan menerimanya.
Zaman dahulu seorang suami ikut mendukung kehamilan istrinya
dengan ritual-ritual keagamaan. Berbeda dengan dukungan yang diberikan
oleh suami pada saat ini, bentuk dukungan yang diberikan oleh suami lebih
pada :
a) Untuk saling berkomunikasi dari sejak awal
b) Menempatkan nilai – nilai penting dalam keluarga untuk
mempersiapkan menjadi orang tua.

2) Motivasi keluarga
Wanita hamil sering kali merasakan ketergantungan terhadap orang
lain. Tapi mungkin bisa menjadi lebih kuat sesudah bayinya lahir hal ini bisa
dipahami karena pada waktu itu wanita memerlukan keamanan dan perhatian
dari seseorang yang sangat dominan baginya. Keluarga dalam hal ini harus
menjadi bagian dalam mempersiapkan pasangan menjadi orang tua.
Stress yang Terjadi Pada Kehamilan Trimester I. Ada 2 tipe stress
yaitu yang negatif dan positif, kedua stress ini dapat mempengaruhi reaksi
individu. Ada pula yang bersifat intrinsik dan ekstrinsik.
Stress intrinsik berhubungan dengan tujuan pribadi dari individu, yang
mana individu berusaha untuk membuat sesempurna mungkin baik dalam
kehidupan pribadinya maupun dalam kehidupan sosialnya secara profesional.
Stress ekstrinsik timbul karena faktor eksternal seperti rasa sakit,kehilangan,
kesendirian dan masa reproduksi.
Menurut Burnard (1991) stress selama masa reproduksi dapat
dihubungkan dengan 3 aspek utama yaitu :
a. Stress di dalam individu
b. Stress yang disebakan oleh pihak lain
c. Stress yang disebabkan penyesuaian terhadap tekanan social
Stress dari dalam diri dapat terjadi berkenaan dengan kegelisahan
terhadap kemampuan beradaptasi dengan kejadian kehamilannya.
3) Memperkuat Ikatan
Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan kehamilan memberikan
kesempatan pada seorang ibu untuk saling memperkuat hubungan. Dan
hubungan yang kuat lebih penting dari yang lainnya. Masa-masa kehamilan,
persalinan dan bulan-bulan sesudahnya merupakan saat – saat yang sulit.
Semakin dekat pada awalnya, akan semakin baik akhirnya. Jadi, pada saat
hidup masih relatif normal, luangkan waktu untuk berdua, berbicara tentang
perasaan pasangannya. Betapapun bahagianya atau sibuknya pasangan
suami istri, kegelisahan yang timbul karena kondisi baru merupakan suatu
yang normal.
4) Kehamilan dan Libido
Hasrat untuk melakukan hubungan seks, pada wanita pada trimester
pertama ini berbeda- beda. Walaupun pada beberapa wanita mengalami
gairah seks yang lebih tinggi, kebanyakan mereka mengalami penurunan
libido selama periode ini. Keadaan ini menciptakan kebutuhan untuk
berkomunikasi secara terbuka dan jujur dengan suami. Banyak wanita
merasa butuh untuk dicintai dan merasakan kuat untuk mencintai namun
tanpa hubungan seks. Libido sangat dipengaruhi oleh kelelahan, rasa mual,
pembesaran payudara, keprihatinan dan kekhawatiran. Semua ini merupakan
bagian normal dari proses kehamilan pada trimester pertama.
5) Kehamilan dan Olahraga
Setelah hamil, mayoritas wanita dapat melanjutkan aktivitas biasa
mereka. Tidak ada bukti bahwa aktivitas yang teratur, seperti jogging,
bermain tennis, berenang, atau melakukan hubungan seks, dapat
menimbulkan masalah seperti keguguran atau fetal malformation (janin yang
cacat) pada kebanyakan wanita normal dan sehat. Kebanyakan dokter
melarang program olahraga baru yang dimulai pada saat hamil, kecuali
latihan-latihan prenatal yang dirancang khusus untuk wanita hamil.
Latihan-latihan yang paling menguntungkan bagi wanita hamil adalah latihan
dengan gerakan yang menguatkan dinding perut untuk membantu menopang
uterus dan otot pinggul yang akan anda butuhkan untuk mendorong. Latihan
kaki juga penting untuk meningkatkan sirkulasi dan menghindari kram otot
yang merupakan sesuatu yang biasa dalam kehamilan.

2. Perubahan dan adaptasi psikologi pada kehamilan trimester II


Trimester kedua sering dikatakan periode pancaran kesehatan.
Ini disebabkan selama trimester ini wanita umumnya merasa baik dan
terbebas dari ketidaknyamanan kehamilan. Pembagian perubahan
psikologis pada trimester II . Trimester kedua dapat dibagi menjadi dua
fase yaitu prequickeckening (sebelum adanya pergerakan janin yang
dirasakan ibu) dan postquickening (setelah adanya pergerakan janin yang
dirasakan oleh ibu), yang dapat dilihat pada penjelasan berikut :
a) Fase prequickening
Selama akhir trimester pertama dan masa preqiuckening pada
trimester kedua, ibu hamil mengevaluasi lagi hubungannya dan segala
aspek di dalammya dengan ibunya yang telah terjadi selama ini. Ibu
menganalisa dan mengevaluasi kembali segala hubungan
interpersonal yang telah terjadi dan akan menjadi dasar bagaimana ia
mengembangkan hubungan dengan anak yang akan dilahirkannya. Ia
akan menerima segala nilai dengan rasa hormat yang telah diberikan
ibunya, namun bila ia menemukan adanya sikap yang negatif, maka ia
akan menolaknya. Perasaan menolak terhadap sikap negatif ibunya
akan menyebabkan rasa bersalah pada dirinya. Kecuali bila ibu hamil
menyadari bahwa hal tersebut normal karena ia sedang
mengembangkan identitas keibuannya.
Proses yang terjadi dalam masa pengevaluasian kembali ini
adalah perubahan identitas dari penerima kasih sayang (dari ibunya)
menjadi pemberi kasih sayang (persiapan menjadi seorang ibu).
Transisi ini memberikan pengertian yang jelas bagi ibu hamil untuk
mempersiapkan dirinya sebagai ibu yang memberikan kasih saying
kepada anak yang akan dilahirkannya.
2) Fase postquickening
Setelah ibu hamil merasakan quickening, identitas keibuan yang
jelas akan muncul. Ibu hamil akan fokus pada kehamilannya dan
persiapan menghadapi peran baru sebagai seorang ibu. Perubahan
ini bisa menyebabkan kesedihan meninggalkan peran lamanya
sebelum kehamilan, terutama pada ibu yang mengalami hamil
pertama kali dan wanita karir. Ibu harus diberikan pengertian bahwa ia
tidak harus membuang segala peran yang ia terima sebelum
kehamilannya. Pada wanita multigravida, peran baru artinya
bagaimana ia menjelaskan hubungan dengan anaknya yang lain dan
bagaimana bila nanti ia harus meninggalkan rumahnya untuk
sementara pada proses persalinan.
Pergerakan bayi yang dirasakan membantu ibu membangun
konsep bahwa bayinya adalah individu yang terpisah dari dirinya. Hal
ini menyebabkan perubahan fokus pada bayinya. Pada saat ini, jenis
kelamin bayi tidak begitu dipikirkan karena perhatian utama adalah
kesejahteraan janin (kecuali beberapa suku yang menganut system
patrilineal/matrilineal).
a) Menjaga agar ikatan tetap kuat
Ketika kehamilan telah terlihat, ibu dan pasangannya harus lebih
sensitif terhadap pengaruh kondisi ini pada mereka berdua. Ibu
hamil sering merasa takut jika pasangannya mendapati dirinya
tidak menarik atau gendut, tapi masalah yang muncul lebih rumit
lagi. Komunikasi adalah kunci untuk menghadapi masalah ini.
Tetap cara ini dapat digunakan bila ibu dan pasangannya tetap
terbuka dan memulainya sedini dan sesering mungkin. Bila salah
satu tidak membicarakan latar belakang masalah yang
dirasakan, atau setelah berdiskusi justru merasa depresi, saat
itulah diperlukan penasihat kehamilan dan orang sekitarnya yang
dapat menolong ibu dan pasangannya.
b) Menjaga kehamilan yang sehat
Ibu hamil mungkin merasa lebih baik pada trimester kedua, tapi
bukan berarti bagian luar yang berubah, bagian dalam tubuh pun
mengalami perubahan sebagai respon terhadap kehamilan yang
terus berkembang. Beberapa perubahan dapat saja terasa
mengganggu, namun ada juga perubahan yang terasa
menyenangkan bagi ibu hamil. Perubahan yang menyebabkan
ketidaknyamanan adalah keadaan yang normal bagi ibu hamil
dan ibu harus diberikan pengertian terhadap kondisi tersebut
sehingga ia lebih merasa nyaman lagi. Beberapa perubahan
yang menyenangkan seperti rasa mual berkurang dibandingkan
yang dialami selama trimester pertama, energi bertambah dan
peningkatan libido.
c) Reaksi orang-orang di sekitar ibu hamil
Tampaknya sang suami juga mengalami perubahan psikologis
seiring perubahan yang dialami istrinya yang hamil. Pada suatu
studi dilaporkan sang suami juga merasakan perubahan nafsu
makan, perubahan berat badan, rasa sakit kepala hingga
kecemasan dan ketakutan dirasakan oleh suami yang istrinya
sedang hamil. Saat ini suami lebih aktif ikut menangani dalam
kehamilan istrinya dan turut merasakan tanggung jawab akan
kelahiran bayinya.
Apabila di dalam keluarga terdapat anak sebelumnya, ia akan
merasa bingung akan perubahan yang dialami ibunya. Anak
perlu diberikan pengertian secara sederhana tentang perubahan
yang terjadi dan hal yang akan dihadapi sehubungan dengan
kehamilan. Ibu dari wanita hamil tampaknya adalah orang yang
sering mengambil peran yang cukup besar selama kehamilan.
Ibu hamil tampaknya merasa tergantung akan bantuan dari
ibunya dalam menghadapi kehamilan dan persiapan penerimaan
bayi yang akan dilahirkan.
d) Berhubungan seks
Ada satu lagi perubahan yang terjadi pada trimester kedua yang
harus diimbangi untuk mengatasi ketidaknyamanan yaitu suatu
peningkatan libido yang pada trimester pertama dihilangkan oleh
rasa mual dan lelah. Kebanyakan calon orang tua khawatir jika
hubungan seks dapat mempengaruhi kehamilan. Kekhawatiran
yang paling sering diajukan adalah kemungkinan bayi diciderai
oleh penis, orgasme ibunya, atau ejakulasi. Ibu hamil dan
pasangannya perlu dijelaskan bahwa tidak ada yang perlu
dikhawatirkan dalam hubungan seks.
Janin tidak akan terpengaruh karena berada di belakang serviks
dan dilindungi cairan amniotik dalam uterus. Namun dalam
beberapa kondisi hubungan seks selama trimester kedua tidak
diperbolehkan, mencakup plasenta previa dan ibu dengan
riwayat persalinan prematur.
Selain itu meknisme fisik untuk saling merapat dalam hubungan
seksual akan menjadi sulit dan kurang nyaman, misalnya
berbaring terlentang dan menahan berat badan suami. Namun
dengan mengkreasi posisi yang menyenangkan maka masalah
ini dapat diatasi.
Walaupun sebagian ibu hamil merasakan seks selama hamil
terasa meningkat, tidak semua libido wanita meroket tinggi pada
trimester kedua. Perubahan tingkat libido disebabkan variasi
perubahan hormone selama hamil. Karena respon terhadap
hormon berbeda, reaksi masing – masing ibu hamil pun
berbeda.

3. Perubahan dan adaptasi psikologi pada kehamilan trimester III


Trimester ketiga sering kali disebut periode menunggu / penantian dan
waspada sebab pada saat itu ibu merasa tidak sabar menunggu kelahiran
bayinya. Trimester III adalah waktu untuk mempersiapkan kelahiran dan
kedudukan sebagai orangtua seperti terpusatnya perhatian pada
kehadiran bayi.
Gerakan bayi dan membesarnya perut merupakan dua hal yang
mengingatkan ibu akan bayinya. Kadang - kadang ibu merasa khawatir
bahwa bayinya akan lahir sewaktu - waktu. Ini menyebabkan ibu
meningkatkan kewaspadaannya akan timbulnya tanda dan gejala akan
terjadinya persalinan.
Ibu seringkali merasa khawatir atau takut kalau - kalau bayi yang akan
dilahirkannya tidak normal. Kebanyakan ibu juga akan bersikap
melindungi bayinya dan akan menghindari orang atau benda apa saja
yang dianggapnya membahayakan bayinya. Seorang ibu mungkin mulai
merasa takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang akan timbul pada
waktu melahirkan.
Rasa tidak nyaman akibat kehamilan timbul kembali pada trimester
ketiga dan banyak ibu yang merasa dirinya aneh dan jelek. Disamping itu
ibu mulai merasa sedih karena akan berpisah dari bayinya dan kehilangan
perhatian khusus yang diterima selama hamil. Pada trimester inilah ibu
memerlukan keterangan dan dukungan dari suami, keluarga dan bidan.
Trimester ketiga merupakan saat persiapan aktif untuk kelahiran bayi
yang akan dilahirkan dan bagaimana rupanya. Mungkin juga nama bayi
yang akan dilahirkan juga sudah dipilih. Trimester ketiga adalah saat
persiapan aktif untuk kelahiran bayi dan menjadi orang tua. Keluarga
mulai menduga - duga tentang jenis kelamin bayinya (apakah laki- laki
atau perempuan dan akan mirip siapa.

D. PERAN BIDAN DALAM PERSIAPAN PSIKOLOGIS IBU HAMIL


TRIMESTER I, II, III
1. Mempelajari keadaan lingkungan penderita
Ibu hamil yang selalu memikirkan mengenai keluarga, keuangan,
perumahan dan pekerjaan dapat juga menimbulkan depresi dan perlu
penanggulangan. Untuk itu bidan harus melakukan pengkajian
termasuk keadaan lingkungan (latar belakang) sehingga
mempermudah dalam melakukan asuhan kebidanan.
2. Informasi dan pendidikan kesehatan
a) Mengurangi pengaruh yang negatif
Kecemasan dan ketakutan sering dipengaruhi oleh cerita – cerita
yang menakutkan mengenai kehamilan dan persalinan,
pengalaman persalinan yang lampau atau karena kurangnya
pengetahuan mengenai proses kehamilan dan persalinan.
Keadaan tersebut perlu diimbangi dengan pendidikan mengenai
anatomi dan fisiologi kehamilan dan persalinan kepada
penderita.
b) Memperkuat pengaruh yang positif
Misalnya dengan memberikan dukungan mental dan penjelasan
tentang kebahagiaan akan mempunyai anak yang diinginkan dan
dinantikan.
c) Menganjurkan latihan – latihan fisik seperti senam hamil untuk
memperkuat otot – otot dasar panggul, melatih pernafasan,
teknik mengedan yang baik dan latihan – latihan relaksasi.
3. Adaptasi pada lingkungan tempat bersalin
4. Dilaksanakan dengan mengadakan orientasi: memperkenalkan ruang
bersalin, alat – alat kebidanan dan tenaga kesehatan.