You are on page 1of 7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sekam Padi


Padi merupakan tanaman pangan utama di Indonesia. Tingat produksi
maupun konsumsi padi menempati urutan pertama dibanding tanaman pangan
[15]
lainnya .

Gambar 2. 1 Sekam Padi


(sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Sekam )
Sekam padi merupakan bagian pelindung terluar dari padi (Oryza sativa).
Dari proses penggilingan dihasilkan sekam sebanyak 20-30%, dedak 8-12% dan
beras giling 52% bobot awal gabah . Pada proses penggilingan padi, sekam akan
terpisah dari butiran beras dan menjadi bahan sisa atau limbah penggilingan.
Karena bersifat abrasif, nilai nutrisi rendah, bulk density rendah, serta kandungan
abu yang tinggi membuat penggunaan sekam padi terbatas. Diperlukan tempat
penyimpanan sekam padi yang luas sehingga biasanya sekam padi dibakar untuk
mengurangi volumenya. Jika hasil pembakaran sekam padi ini tidak digunakan,
akan menimbukan masalah lingkungan (Hsu dan Luh, 1980 dalam S. R. Hidayah,
2016). Sekam padi terususun dari jaringan serat-serat selulosa yang mengandung
banyak silika dalam bentuk serabut-serabut yang sangat keras pada keadaan
[15]
normal .
Menurut Hattotuwa, et al. (2002), komposisi sekam padi terdiri dari selulosa
[16]
(35%), hemiselulosa (25%), lignin (20%), dan lain-lain (20%) . Ditinjau dari
komposisi kimia sekam padi mengandung beberapa unsur kimia penting seperti
pada tabel 2.1.
Tabel 2.1. Komposisi sekam padi
[17]
Komponen Kandungan (%)
Kadar Air 9,02
Protein Kasar 3,03
Lemak 1,18
Serat Kasar 35,68
Abu 12,71
Karbohidrat Kasar 22,71
Karbon (C) 1,33
Hidrogen (H) 1,54
Oksigen (O) 33,64
Silika (SiO2) 16,98

Kandungan unsur kimia dalam sekam padi dapat dimanfaatkan untuk


berbagai keperluan di antaranya sebagai bahan baku pada industri kimia, terutama

1
kandungan zat kimia pentosa yang dapat digunakan sebagai bahan baku dalam
berbagai industri kimia antara lain furfural. Disamping itu, karena kandungan
selulosa dan karbohidrat yang cukup tinggi, sehingga sekam padi dapat
[17]
dimanfaatkan sebagai arang aktif .

2.2. Pencemaran Limbah Industri Tekstil


Limbah dari industri tekstil merupakan salah satu sumber pencemar logam
berat terutama Pb, Cr, dan Cd yang dihasilkan dari proses pencelupan dan
pewarnaan. Industri tekstil seringkali membuang limbahnya langsung ke perairan
[18]
tanpa dilakukan pengolahan yang memadai .
Pencemaran logam berat terhadap lingkungan merupakan suatu proses yang
erat hubungannya dengan penggunaan logam dalam kehidupan manusia. Secara
sengaja maupun tidak sengaja membuang berbagai limbah yang mengandung
logam berat ke lingkungan. Dalam konsentrasi tinggi, logam-logam tertentu akan
[6]
sangat berbahaya bila ditemukan di dalam lingkungan (air, tanah, dan udara) .
Logam berat yang masuk ke dalam perairan akan mengakibatkan perubahan
[19]
kualitasnya dan dapat mengganggu kehidupan , jika keberadaannya melampaui
[6]
ambang batas . Logam berat berbahaya karena umumnya memiliki rapat massa
tinggi dan sejumlah konsentrasi kecil dapat bersifat racun dan berbahaya bila
terakumulasi dalam tubuh sehingga mengakibatkan keracunan, bahkan lebih fatal
[20]
hingga berakibat kematian (Alloway, 2013 dalam Nur, 2013) .
Industri elektroplating merupakan salah satu industri yang menghasilkan
limbah logam berat Limbah yang dihasilkan tergolong limbah berbahaya. Di
[7]
dalam limbah tersebut terkandung logam kadmium . Logam Cd mempunyai
penyebaran yang sangat luas di alam. Adapun dampak negatif logam Cd dalam
tubuh manusia yaitu dapat menghambat kerja paru-paru, bahkan mengakibatkan
kanker paru-paru, mual, muntah, diare, kram, anemia, kerusakan ginjal dan hati
[16]
(Palar, 2008 dalam I. Suhud dkk.,2012) .
[21]
Berdasarkan sifat racunnya logam berat dapat dibagi menjadi 3 golongan :
1. Sangat beracun, dapat mengakibatkan kematian atau gangguan kesehatan
yang tidak pulih dalam jangka waktu singkat, logam tersebut antara lain :
Pb, Hg, Cd, Cr, As, Sb, Ti dan U.
2. Moderat, mengakibatkan gangguan kesehatan baik yang dapat pulih
maupun yang tidak dapat pulih dalam jangka waktu yang relatif lama,
logam tersebut antara lain : Ba, Be, Au, Li, Mn, Sc, Te, Va, Co dan Rb.
3. Kurang beracun, namun dalam jumlah yang besar logam ini dapat
menimbulkan gangguan kesehatan antara lain :Bi, Fe, Mg, Ni, Ag, Ti dan
Zn.

2.3. Kadmium (Cd)


Kadmium adalah logam berwarna putih perak, lunak, mengkilap, tidak larut
dalam basa, mudah bereaksi, serta menghasilkan Kadmium Oksida bila
dipanaskan. Cd memiliki nomor atom 40, berat atom 112,4, titik leleh 321°C, titik
3 [22]
didih 767°C dan memiliki masa jenis 8,65 g/cm .
Logam kadmium digunakan untuk elektrolisis, bahan pigmen untuk industri
cat, enamel dan plastik. Logam kadmium masuk ke dalam jaringan tubuh makhluk

2
hidup melalui beberapa cara seperti pernafasan, pencernaan dan penetrasi melalui
[7]
kulit (Darmono, 1999 dalam Krisnawati dkk.,2013) .
Kadmium dapat menyebabkan pengaruh negatif atau bersifat toksik
terhadap organisme air dan manusia pada batas konsentrasi tertentu. Logam
kadmium juga bersifat neurotoksin yang menimbulkan dampak kerusakan indera
penciuman. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No 82 tahun 2001 tentang
Pengolahan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, konsentrasi kadmium
[7]
yang aman untuk air minum manusia tidak boleh lebih dari 0,01 ppm .
Berbagai organ tubuh dapat terpengaruh setelah paparan jangka panjang
terhadap kadmium. Organ yang akan mengalami g angguan fungsional dini adalah
ginjal. Keracunan Cd mempengaruhi otot polos pembuluh darah pada manusia
sehingga tekanan darah menjadi tinggi menyebabkan gagal jantung dan kerusakan
[19,23]
ginjal .

2.4. Adsorpsi
Adsorpsi umumnya dijelaskan melalui isoterm, yaitu jumlah adsorbat pada
adsorben sebagai fungsi tekanan (untuk gas) atau konsentrasi (untuk cairan) pada
[24]
suhu konstan . Adsorpsi merupakan suatu proses satu atau lebih unsur-unsur
pokok dari suatu larutan fluida akan terkonsentrasi pada permukaan suatu padatan
tertentu (adsorben), komponen dari suatu larutan baik gas ataupun cairan dapat
[25]
dipisahkan . Proses adsorpsi dapat digambarkan sebagai suatu proses dimana
subtansi molekul meninggalkan larutan dan menempel pada permukaan zat padat
akibat adanya ikatan kimia dan fisika. Subtansi molekul atau bahan yang diserap
[1]
disebut adsorbat, sedangkan zat padat penyerap disebut adsorban .
Gambar 2.3 menunjukkan ilustrasi proses adsorpsi.

Gambar 2. 2 Ilustrasi proses adsorpsi


(sumber : http://gunarman.blogspot.co.id/2015/02/Adsorben.html)
Ketika adsorbat berinteraksi dengan adsorben setelah beberapa saat, proses
adsorpsi mencapai keadaan kesetimbangan.
Adsorpsi dapat dikelompokan menjadi dua berdasarkan interaksi molekular
antara permukaan adsorben dan adsorbat, yaitu :
1. Adsorpsi Fisika
Adsorpsi fisika adalah adsorpsi yang terjadi akibat gaya interaksi tarik-menarik
antara molekul adsorben dengan molekul adsorbat. Adsorpsi ini melibatkan gaya-
[1,25]
gaya Van der Wals (sebagai kondensasi uap) dan bersifat reversible . Gaya
Van der Wals merupakan jumlah gaya tarik-menarik anatar molekul

3
[1]
akibat dipol permanen atau dipol terinduksi . Adsorbat terikat lemah pada
permukaan adsorben, sehingga dapat bergerak dari satu bagian permukaan ke
permukaan lainnya. Permukaan yang ditinggalkan oleh adsorbat dapat diganti oleh
[25]
adsorbat lainnya . Pada adsorpsi fisik tidak memerlukan energi aktivasi,
[1]
sehingga membentuk lapisan jamak (multilayer) pada permukaan adsorben .

2. Adsorpsi Kimia
Adsorpsi kimia atau kemisorpsi adalah adsorpsi yang terjadi akibat interaksi
kimia antara molekul adsorben dengan molekul adsorbat. Proses ini pada
umumnya menurunkan kapasitas dari adsorben karena gaya adhesinya yang
kuat sehingga proses ini tidak reversibel. Ikatan yang terbentuk merupakan
ikatan yang kuat sehingga sulit dilepaskan dan lapisan yang terbentuk adalah
[25]
lapisan monolayer .
Proses adsorpsi dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya luas
permukaan, jenis adsorbat, struktur molekul adsorbat, temperatur, kecepatan
pengadukan, pH sistem, rasio massa adsorben dengan adsorbat, suhu adsorpsi,
[4]
waktu adsorpsi, dan konsentrasi adsorbat .
Porositas adsorben juga mempengaruhi daya adsorbsi dari suatu adsorben.
Adsorben dengan porositas yang besar mempunyai kemampuan menyerap yang
lebih tinggi dibandingkan dengan adsorben yang memiliki porositas kecil. Untuk
meningkatkan porositas dapat dilakukan dengan mengaktivasi secara fisika seperti
mengalirkan uap air panas ke dalam pori-pori adsorben atau mengaktivasi secara
kimia[10,26].

2.5. Arang Aktif


Arang merupakan padatan berwarna hitam yang berpori-pori. Arang
umunya diperoleh dari hasil pembakaran atau pengarangan bahan yang
mengandung karbon (C), seperti kayu, serbuk gergaji, sekam padi, tongkol
jagung, tempurung kelapa, dan sebagainya(Agustina, 2004). Pengarangan
o
biasanya dilakukan pada suhu 300-500 C, suhu pengarangan tanpa udara
o
dilakukan pad suhu 600-700 C. Pengarangan sempurna jika asap tidak terbentuk
lagi dan arang yang bermutu baik adalah arang yang mengandung kadar karbon
[9]
tinggi (Kirk dan Othmer, 1964 dalam Agustina, 2004) .
Arang aktif atau karbon aktif merupakan arang yang telah mengalami proses
aktivasi, sehingga menyebabkan pori-porinya terbuka. Dengan demikian arang
tersebut memiliki pororitas tinggi dan luas permukaan lebih besar sehingga
mempunyai daya serap yang tinggi. Setiap jenis arang aktif memiliki pori dengan
ukuran, bentuk dan jumlah yang berbeda tergantung pada bahan baku serta proses
[9]
pembuatannya .

[10]
Gambar 2. 3 Arang Aktif .

4
Sebuah partikel arang aktif tersusun dari suatu jaringan pori-pori yang rumit
[9]
(Samuel, 1983 dalam Agustina, 2004) . Ukuran pori dari kristalit-kristalit arang
[27]
aktif selain tergantung pada suhu karbonisasi juga bahan baku yang digunakan .
[24]
Arang aktif dikelompokkan menjadi tiga jenis berdasarkan ukurannya, yaitu .
a. Makropori > 50 nm
b. Mesopori 2-50 nm
c. Mikropori <2 nm
Umumnya ukuran pori dari arang aktif berhubungan dengan luar dari
partikel. Mikropori merupakan cabang transisi dan dapat menyerap pelarut dan
adsorbat dengan ukuran lebih kecil. Sebagian besar pori-porinya masih tertutup
dengan hidrokarbon, tar, dan senyawa organik lain. Komponen utama arang terdiri
[9]
atas karbon terikat (fixed carbon), volatile mater, dan sejumlah kecil abu .
Distribusi ukuran pori merupakan parameter yang penting dalam hal
kemampuan daya serap arang aktif terhadap molekul yang ukurannya bervariasi.
Disamping distribusi pori, bentuk pori merupakan parameter yang khusus untuk
daya serap arang aktif yang terjadi. Pori-pori dengan bentuk silinder lebih mudah
tertutup yang menyebabkan tidak aktifnya bagian permukaan dari arang aktif
tersebut. Bila arang aktif digunakan untuk penjernihan air, lebih banyak
dibutuhkan pori-pori yang terbuka karena air sebagian besar mengandung macam-
[27]
macam partikel .

2.5.1 Sifat-sifat Arang Aktif


a. Sifat Kimia
Kandungan arang aktif tidak hanya karbon, tetapi terdapat sejumlah kecil
oksigen dan hirdrogen yang terikat secara kimia dalam bentuk gugus-gugus
fungsi yang bervariasi, misalnya gugus karbonil (CO), karboksil (COO), fenol,
[27,28]
lakton, dan beberapa gugus eter .
Oksigen pada permukaan arang aktif, kadang-kadang berasal dari bahan
baku atau terbentuk selama dan setelah proses aktivasi dengan uap air (H 2O)
atau udara. Keadaan ini biasanya dapat menyebabkan arang bersifat asam atau
basa. Pada umumnya bahan baku arang aktif mengandung komponen mineral
yang menjadi lebih pekat selama proses aktivasi arang. Di samping itu, bahan-
bahan kimia yang digunakan pada proses aktivasi sering kali menyebabkan
[27]
perubahan sifat kimia arang yang dihasilkan .
b. Sifat Fisika
Beberapa karakteristik arang aktif, antara lain berupa padatan yang
berwarna hitam, tidak berasa, tidak berbau, bersifat higroskopis, tidak larut
dalam air, asam, basa ataupun pelarut-pelarut organik (Hassler, 1974 dalam
Lempang, 2014). Di samping itu, arang aktif juga tidak rusak akibat pengaruh
[27]
suhu maupun penambahan pH selama proses aktivasi .
c. Struktur
Arang aktif mempunyai struktur berupa jaringan berpilin dari lapisan-
lapisan karbon yang tidak sempurna, yang dihubungsilangkan oleh suatu
jembatan alifatik. Luas permukaan, dimensi dan distribusi atom-atom karbon
penyusun struktur arang aktif sangat tergantung pada bahan baku, kondisi

5
karbonasi dan proses aktivasinya (Kyotani, 2000 dalam Lempang, 2014).
Susunan atom-atom karbon pada arang aktif terdiri atas pelat-pelat
[27]
heksagonal .

d. Daya Serap
Daya serap arang aktif merupakan terkonsentrasinya komponen di
permukaan/antar muka dalam dua fasa. Jika kedua fasa saling berinteraksi,
maka akan terbentuk suatu fasa baru yang berbeda dengan masing-masing fasa
sebelumnya. Hal ini disebabkan karena adanya gaya tarik-menarik antar
molekul, ion atau atom dalam ke dua fasa tersebut. Gaya tarik-menarik ini
[27]
dikenal sebagai gaya Van der Walls .
[9]
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi daya serap arang aktif , yaitu
sifat arang aktif, sifat komponen yang diserapnya, sifat larutan dan sistem
kontak. Daya serap arang aktif terhadap komponen-komponen yang berada
dalam larutan atau gas disebabkan oleh kondisi permukaan dan struktur
[27]
porinya (Guo et al., 2007 dalam Lempang, 2014) .

2.5.2 Jenis-jenis Arang Aktif


Secara umum, ada dua jenis karbon aktif yaitu karbon aktif fasa cair dan
[27,28]
karbon aktif fasa gas .
a. Arang Aktif Penyerap Gas (Gas adsorbent activated carbon)
Jenis arang aktif ini digunakan untuk menyerap material dalam bentuk uap atau
gas. Pori-pori yang terdapat pada arang jenis ini adalah mikropori yang
menyebabkan molekul gas akan dapat melewatinya, tetapi molekul dari cairan
tidak dapat melewatinya. Karbon jenis ini dihasilkan dari material dengan berat
[27,28]
jenis tinggi dan dapat ditemui pada karbon tempurung kelapa .
b. Arang Aktif Fasa Cair (Liquid-phase activated carbon)
Arang aktif jenis ini digunakan untuk menyerap kotoran/zat yang tidak
diinginkan dari cairan atau larutan. Jenis pori-pori dari karbon ini adalah
makropori yang memungkinkan molekul besar untuk masuk. Arang jenis ini
[27]
biasanya berasal dari batubara dan selulosa . Arang aktif fasa cair dihasilkan
dari material dengan berat jenis rendah, seperti arang dari bambu kuning yang
mempunyai bentuk butiran (powder), rapuh (mudah hancur), mempunyai kadar
abu yang tinggi berupa silika dan biasanya digunakan untuk menghilangkan
[28]
bau, rasa, warna, dan kontaminan organik lainnya .

2.6. Proses Aktivasi


Arang yang dihasilkan melalui proses karbonisasi bahan baku, sebagian
besar pori-porinya masih tertutup oleh hidrokarbon, ter, dan komponen lain,
seperti abu, air, nitrogen, dan sulfur, sehingga keaktifannya atau daya serapnya
rendah. Untuk meningkatkan daya serap arang, maka bahan tersebut dapat diubah
[27]
menjadi arang aktif melalui proses aktivasi . Proses aktivasi arang bertujuan
untuk memperbesar luas permukaan arang dengan membuka pori-pori yang
tertutup, sehingga dapat memperbesar kapasitas adsorpsi terhadap zat warna (Mc
[9]
Cabe, 1993 dalam Agustina, 2004) . Kualitas arang aktif yang dihasilkan sangat

6
tergantung dari bahan baku yang digunakan, bahan pengaktif, suhu dan cara
pengaktifannya. Pada prinsipnya arang aktif dapat dibuat dengan dua cara, yaitu
[27]
cara kimia dan cara fisika .
a. Aktivasi cara kimia
Aktivasi cara kimia pada prinsipnya adalah perendaman arang dengan
senyawa kimia sebelum dipanaskan. Pada proses pengaktifan secara kimia, arang
direndam dalam larutan pengaktifasi selama 24 jam. Bahan kimia yang dapat
digunakan yaitu H3PO4, NH4Cl, AlCl3, HNO3, KOH, NaOH, KMnO4, SO3,
[27]
H2SO4 dan K2S (Kienle, 1986 dalam Lempang, 2014) .
b. Aktivasi cara fisika
Aktivasi arang secara fisika menggunakan oksidator lemah, misalnya uap
air, gas CO2, N2, O2 dan gas pengoksidasi lainnya. Oleh karena itu, pada proses
ini tidak terjadi oksidasi terhadap atom-atom karbon penyusun arang, akan tetapi
oksidator tersebut hanya mengoksidasi komponen yang menutupi permukaan pori
arang. Prinsip aktivasi ini dimulai dengan mengaliri gas-gas ringan, seperti uap
air, CO2, atau udara ke dalam retort yang berisi arang dan dipanaskan pada suhu
800-1000 °C. Pada suhu di bawah 800 °C, proses aktivasi dengan uap air atau gas
CO2 berlangsung sangat lambat, sedangkan pada suhu di atas 1000 °C, akan
menyebabkan kerusakan struktur kisi-kisi heksagonal arang (Manocha, 2003
[27]
dalam Lempang, 2014) .
Pemakaian bahan kimia sebagai bahan pengaktif sering mengakibatkan
pengotoran pada arang aktif yang dihasilkan. Umumnya aktivator meninggalkan
sisa-sisa berupa oksida yang tidak larut dalam air pada waktu pencucian. Oleh
karena itu, dalam beberapa proses sering dilakukan pelarutan dengan HCl untuk
mengikat kembali sisa-sisa bahan kimia yang menempel pada permukaan arang
[27]
aktif dan kandungan abu yang terdapat dalam arang aktif .