You are on page 1of 3

ANAK SHOLEH

Sewaktu bahtera rumah tangga pertama kali diarungi, maka pikiran pertama yang terlintas dalam
benak suami istri adalah mempunyai anak / keturunan. kemana anak akan kita arahkan setelah
mereka terlahir. Umumnya orang tua menginginkan agar kelak anak-anaknya dapat menjadi anak
yang shalih, agar setelah dewasa mereka dapat membalas jasa kedua orang tuanya. Namun
obsesi orang tua kadang tidak sejalan dengan usaha yang dilakukannya. Padahal usaha
merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan bagi terbentuknya watak dan karakter
anak. Obsesi tanpa usaha adalah hayalan semu yang tak akan mungkin dapat menjadi kenyataan.

Nabi pernah bersabda bahwa ada empat sumber kebahagiaan manusia, yaitu: Pertama memiliki
istri yang shalihah. Kedua, memiliki anak yang shalih. Ketiga, mempunyai teman sepergaulan yang
saling harga menghargai dan hormat menghormati, dan keempat, mempunyai sumber mata
pencaharian di dalam negerinya sendiri.

Orang tua berjuang siang malam membanting tulang bukan untuk din sendiri akan tetapi untuk
kebahagiaan masa depan anak yang merupakan buah jantung orang tua. Oleh karena itu tidak
berlebihan kalau dikatakan bahwa anak adalah merupakan investasi orang tua dunia dan akhirat.
Karena antara anak dan orang tua akan selalu ber hubungan walau di akhirat nanti.

Anak yang sholeh selalu taat kepada Alloh dan rasul “ atiulloha wa atiu rossul wa ulil amri minkum
“ taat kepada Alloh dan rasul dan para pemimpin, birr…i dain “ berbakti kepada orang tua

َ٧٤َ‫ٱج َع ۡلنَاَ ِل ۡل ُمت َّ ِقينَ َ ِإ َما ًما‬ََ ‫َاَوذُ ِر َٰيَّتِنَاَقُ َّرة ََأ َ ۡعيُ ٖن‬
ۡ ‫َو‬ ِ ‫َوٱلَّذِينَََيَقُولُونَََ َربَّنَاَه َۡبَلَن‬
َ ‫َاَم ۡنَأ َ ۡز َٰ َو ِجن‬
Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dan keturunan
kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang orang yang bertaqwa
“. (Al-Furqan 74).

Dari Abu Hurairah (ra), berkata:

‫اريَ ٍة أ َ إو ِع إل ٍم يُ إنتَفَ ُع بِ ِه أ َ إو‬ َ ‫ط َع َع إنهُ َع َملُهُ إِ اَّل ِم إن ث َ ََلث َ ٍة ِإ اَّل ِم إن‬


ِ ‫ص َدقَ ٍة َج‬ َ َ‫ان ا إنق‬
ُ ‫س‬ ِ ‫ات إ‬
َ ‫اْل إن‬ َ ‫ِإ َذا َم‬
ُ‫عو لَه‬ ُ ‫صا ِلحٍ يَ إد‬ َ ‫َولَ ٍد‬
Telah bersabda Rasulullah SAW: Apabila wafat seorang hamba (manusia) maka terputuslah segala
amalannya kecuali 3 perkara: shodaqah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang salih yg
mendoakannya. (HR Muslim)

Kemudian bagaimana cara membentuk anak yang baik, taat terhadap perintah dan larangan Allah
dan berbakti kepada orang tua. Karena anak adalah merupakan hasil produk kasih sayang, maka
dia akan menjadi baik kalau kita persiapkan iklim yang baik. Dan tidak jarang anak menjadi korban
kesibukan orang tua sehingga dia tidak mendapatkan kebahagiaan, kasih dan sayang dan orang
tuanya yang akhirnya berakibat pada terjerumusnya anak kejurang kesesatan. Ada beberapa cara
untuk membentuk anak yang baik, yaitu:
Pertama, menurut konsep Islam, Kalau Engkau berikan amanah kepada kami hindarkanlah anak-
anak kami dan godaan syaithan”. dan senantiasa berdoa kepada Allah swt. Hal ini sesuai dengan
amalan para nabi dan rasul yang selalu memohon kepada Allah swt untuk diberikan keturunan
yang baik. Firman Allah swt,

َ َ‫ُنكَذُ ِري َّٗة‬


َ َ‫ط ِيبَةًَ ِإنَّ َك‬
َ٣٨َ‫س ِمي ُعَٱلدُّ َعا ٓ َِء‬ َ ‫يَمنَلَّد‬
ِ ‫بَه َۡبَ ِل‬ َ ‫َّاَربَّهۥََُقَا َل‬
ِ ‫َر‬ َ ‫كَدَ َعاَزَ َك ِري‬
ََ ‫ُهنَا ِل‬
“Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi
Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (QS. Ali Imran:38)

Kedua, begitu istri hamil, calon ayah dan calon ibu harus banyak mendekatkan diri kepada Allah
dengan membaca Al-Qur’an, baik Juga tetap dibarengi dengan selalu berdo’a agar di jauhkan dari
godaan syaithan.

Ketiga, begitu anak kita lahir, setelah dibersihkan, maka adzankanlah di telinga kanan dan
iqomatkan di telinga kiri si anak dan, sebab Nabi menganjurkan “Barang siapa yang anaknya lahir,
maka adzankanlah di telinga kanannya dan iqomatkan di telinga kirinya, maka Allah akan
memelihara anak tersebut dan godaan syaithan”.

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

َ ‫ص َرانِ ِه أ َ ْو يُ َم ِ ِّج‬
.‫سانِ ِه‬ ِّ ِ َ‫ فَأَبَ َواهُ يُ َه ِّ ِودَانِ ِه أ َ ْو يُن‬،‫علَى ا ْل ِف ْط َر ِة‬
َ ‫ُك ُّل َم ْولُ ْو ٍد يُ ْولَ ُد‬
"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan yang fitrah (Islam), maka orang tuanya yg menyebabkan
dia menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi." (HR Bukhari)

Keempat, berikanlah seorang anak sebuah nama yang mengandung do’a yang baik. Nabi
menganjurkan agar nama anak itu mengandung do’a, karena dengan nama itu dia akan terpanggil
sesuai dengan do’a yang terkandung dalam nama tersebut.

Kelima, orang tua menjadi guru, berikanlah kepada anak pendidikan agama juga pendidikan
umum, sehingga akan terjadi keseimbangan hidup. lngatkanlah kepada mereka bahwa tidak ada
halangan untuk mengejar ilmu pengetahuan setinggi langit, akan tetapi jangan sampai lepas dan
kendali agama, karena agama akan menyelamatkan kita dan bahaya. berikanlah suri tauladan
kepada anak-anak kita suatu iklim agama dalam keluarga.

Keenam, hindarkan anak dan pengaruh lingkungan yang negatif. anak harus selalu disiapkan
dirinya untuk sehat, baik sehat jasmaniah (fisik) maupun sehat rohaniah (batin). Antara jasmani
dan rohani harus seimbang kesehatannya.

Ketujuh, amalan yang paling penting dalam membesarkan anak-anak yaitu memberi mereka
makan dari sumber yang halal. Firman Allah swt:
ٌ ِ‫ُّوَ ُّمب‬ٞ ‫نَإِنَّ َهۥَُلَ ُك ۡمَ َعد‬
َ‫ين‬ َ َٰ ‫ش ۡي‬
َِ ‫ط‬ ُ ‫اَو ََلَتَتَّبِعُواَْ ُخ‬
َّ ‫ط َٰ َوتَِٱل‬ َ َ‫ضَ َح َٰلَ ٗٗل‬
َ ٗ‫طيِب‬ َ ِ ‫َم َّماَفِيَ ۡٱۡل َ ۡر‬ َُ َّ‫َٰ ٓيَأَيُّ َهاَٱلن‬
ِ ْ‫اسَ ُكلُوا‬
َ١٦٨
“Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan
janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan; karena sesungguhnya syaithan itu adalah
musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah:168)

Saat Rasulullah SAW sedang thawaf, Rasulullah SAW bertemu dg seorang anak muda yg
pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf, Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu:
"Kenapa pundakmu itu?" Jawab anak muda itu: "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai
seorang ibu yg sudah udzur. Saya sangat mencintai dia & saya tidak pernah melepaskan dia. Saya
melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu
sisanya saya selalu menggendongnya". Lalu anak muda itu bertanya: "Ya Rasulullah, apakah aku
sudah termasuk ke dalam orang yg sudah berbakti kepada orang tua?" Nabi SAW sambil memeluk
anak muda itu & mengatakan: "Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yg soleh, anak yg
berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu".

Berbakti kepada Ibu-bapa setelah mereka wafat, Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Saa’idi (ra)
berkata: Ketika kami sdg duduk-duduk dgn Rasulullah SAW tiba-tiba datang seorang lelaki dari
Bani Salamah, lalu berkata: “Ya Rasulullah, adakah masih ada lagi bakti yg dapat aku lakukan
kepada ibu-bapaku setelah mereka berdua wafat?” Jawab Rasulullah SAW: “Ada, yaitu:
Mendoakan mereka, memohon ampunan untuk mereka, melaksanakan wasiat mereka,
menghubungkan silaturrahmi yg tidak mungkin sampai kepadamu kecuali dgn mereka,
memuliakan sahabat karib mereka.” [HR Abu Daud, Ibnu Majah & Ibnu Hibban]

َ َ‫َوأ َ ۡه ِلي ُك ۡم‬ َ ُ‫َٰ ٓيَأَيُّ َهاَٱلَّذِينَََ َءا َمنُواَْقُ ٓواَْأَنف‬


َ ‫س ُك ۡم‬
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka

“Rabbighfirli wali walidayya warhamhuma kama robbayani shogira (Wahai Tuhanku, ampunilah
dosa-dosaku dan kedua orangtuaku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua
telah mendidik aku waktu kecil).”