You are on page 1of 35

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN J (21 THN) DENGAN GANGGUAN


PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI DI RUANG MERAK RUMAH SAKIT JIWA
CISARUA PROVINSI JAWA BARAT

OLEH :
Dessy Permatasari 220112170532

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN XXXV


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2018
ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN J (21 THN) DENGAN GANGGUAN
PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI DI RUANG MERAK RUMAH SAKIT JIWA
CISARUA PROVINSI JAWA BARAT

I. Identitas Klien
Nama : Tn J
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 21 Tahun
Tanggal Lahir : Bandung, 25 April 1997
Tanggal Masuk RS : 10 Juni 2018
Alamat : KP Cicangkudu RT/RW 01/12 Rancamulya
Pameungpeuk Bandung
Status Perkawinan : Belum Kawin
Sumber Data : Primer (wawancara) dan sekunder (Rekam medis)
Bentuk Tubuh : Normal
No Rekam Media : 068124
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Tidak Bekerja
Suku : Sunda
Nama Ayah Kandung : Tn. A

II. Alasan Masuk


Klien Mengamuk, marah-marah, memberontak, mengganggu, membawa batu, dan
berbicara sendiri.

III. Faktor Predisposisi


Klien pernah masuk rumah sakit jiwa pada awal tahun 2018, klien tidak pernah
mengalami trauma, tidak ada keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Waktu klien
SD, klien sering diejek-ejek oleh teman sebayanya.

IV. Faktor Presipitasi


Klien pernah putus obat selama 3 bulan dan tidak pernah kontrol ulang kembali
V. Persepsi dan Harapan Klien
Klien mengakui bahwa klien masuk rumah sakit ini karena mengalami halusinasi,
klien menyatakan ingin cepat sembuh ketika dirawat di rumah sakit dan ketika klien
marah klien dapat mengontrol emosi.

VI. Koping Klien


Jika klien menghadapi masalah, klien biasanya cerita ke ibunya. Klien biasanya
dapat mengontrol emosi jika klien marah atau tersinggung dengan tarik nafas
dalam, istigfar.

VII. Pemeriksaan Fisik


- TTV :
Tekanan Darah : 132/83 mmHg
Nadi : 88 x/mnt
Pernafasan : 20 x/mnt
Suhu : 37,4 C
- Antropometri
Berat Badan : 68 kg
Tinggi Badan : 178 cm
IMT : 21,46 kg/m2 (Normal)

VIII. Genogram

Klien
Klien tinggal bersama kedua orang tua dan kakak perempuannya. Klien lebih dekat
dengan ibunya dibanding ayahnya.

IX. Psikososial
1. Konsep diri
a. Citra tubuh/Gambaran diri
Klien menyukai seluruh tubuhnya
b. Identitas diri
Klien berperilaku sebagai seorang laki-laki
c. Peran
Klien menjalani perannya di keluarga sebagai anak dari 2 bersaudara
d. Ideal diri
Klien berharap ingin cepat sembuh dan pulang kerumah berkumpul bersama
keluarganya ayah, ibu dan kakak.
e. Harga diri
Klien tidak minder berhubungan dengan orang lain

2. Hubungan sosial
Klien paling dekat dengan ibunya dari kecil hingga sekarang, klien suka
bercerita tentang apapun ke ibunya jika ada masalah. Klien mengatakan klien
dulunya takut untuk bercerita kepada ayahnya dan sekarang klien mulai untuk
bercerita juga kepada ayahnya selain ibunya.

3. Pendidikan dan pekerjaan


Pendidikan terakhir klien SMP dan klien sekarang pengangguran/tidak bekerja.
Klien dulu pernah bekerja sebagi CS namun tidak sampai 1 hari berhenti karena
klien lelah.

4. Gaya Hidup
Klien memiliki riwayat penyalahgunaan obat-obatan Dextro dan minum-
minuman berakohol tuak. Selama sakit jika pulang kerumah klien lebih banyak
berdiam diri dirumah.

5. Budaya
Klien tinggal di bandung dari kecil hingga sekarang. Klien tinggal di lingkungan
sunda. Klien tidak memiliki masalah terkait kebudayaannya di lingkungannya.

6. Spiritual
Klien beragama islam. Klien mengganggap masyarakat ada yang sedang
melakukan guna-guna terhadapnya sehingga dia merasa sering kerasukan dan
mendengar suara-suara yang tidak ada objeknya. Klien sering sholat sendiri
maupun berjamaah.
X. Status Mental
1. Penampilan
Penampilan klien rapi, rambut rapi, baju sesuai, ganti baju setelah mandi,
pakaian klien sesuai degan situasi dan kondisinya.

2. Pembicaraan
Klien berbicara cepat, biasanya berbicara keras.

3. Aktivitas motorik
Klien biasanya terlihat gaduh gelisah karena mendengar suara-suara yang tidak
ada objeknya.

4. Alam perasaan
Klien merasa khawatir dan ketakutan jika suara-suara tersebut terus muncul dan
klien merasa kerasukan. Klien takut mencelakakan orang lain jika terus
berhalusinasi.
Masalah keperawatan sesuai dengan data yaitu halusinasi dengar dan resiko
perilaku kekerasaan.

5. Afek
Klien mempunyai afek tumpul. Klien hanya bereaksi jika ada stimulus yang
kuat. Jika tidak ada stimulus atau halusinasi klien biasanya pendiam.

6. Interaksi selama wawancara


Klien mau mengungkapkan perasaanya, ada kontak mata, klien kooperatif jika
ditanya ataupun menjawab.

7. Persepsi
Klien memiliki halusinasi lihat dan dengar. Halusinasi lihat biasanya muncul
pada waktu jam 6 sore (magrib), sedangkan halusinasi dengar tidak tentu
waktunya. Biasanya klien lebih banyak mendengar suara-suara ketika siang
hari. Klien berhalusinasi melihat ada bayangan hitam yang selalu mengikuti
dirinya dan berhalusinasi mendengar “pergi kamu”, mendengar suara yang tidak
suka terhapa dirinya. Ketika halusinasi muncul klien tampak gaduh gelisah.
Masalah keperawatan sesuai dengan data yaitu halusinasi dengar dan halusinasi
lihat.

8. Proses Pikir
Klien ketika berbicara sering diulang berkali-kali, menceritakan bahwa ada
yang iri kepadanya dan menceritakan keluarganya.
9. Isi Pikir
Klien menceritakan bahwa dulu ada orang-orang yang iri kepadanya sehingga
orang tersebut melakukan guna-guna terhadap dirinya. Namun sekarang klien
berpikir klien kerasukan jika mendengar suara dan melihat bayangan hitam
yang objeknya tidak ada.

10. Tingkat kesadaran


Klien terlihat tampak kacau ketika mendengar suara-suara yang tidak jelas
objeknya. Ketika diwawancara klien mau menceritakan tentang keluarga,
berapa kali masuk RSJ, dulunya klien seperti apa.

11. Memori
Klien memiliki ingatan yang jelas tentang keluarganya, bagaimana dirinya
masuk ke RSJ ini.

12. Tingkat konsentrasi dan berhitung


Klien biasanya mudah dialihkan dari topik sekarang ke topik yang lain, namun
kembali ke topik sebelumnya.

13. Kemampuan penilaian


Klien dapat mengambil keputusan yang sederhana dengan bantuan orang lain.
Misalnya setiap klien lagi tidur dan dibangunkan untuk melakukan aktivitas
klien disuruh untuk membasuh mukanya dan klien melakukannya.

14. Daya tilik diri


Klien menyalahkan orang lain yang iri kepadanya melakukan guna-guna
terhadap dirinya sehingga klien beranggapan ada yang merasuki tubuhnya.

XI. Kebutuhan Persiapan Pulang


1. Makan
Klien biasanya makan 2 kali makan nasi, sayur, daging, dan buah, 2 kali snack.
Klien mampu menyiapkan dan membersihkan alat makan.

2. BAB/BAK
Klien pergi menggunakan WC untuk mandi, BAB, dan BAK, dan berpakaian

3. Mandi
Klien mandi 1-2 kali sehari, mengetahui cara mandi, menyikat gigi, mencuci
rambut, gunting kuku, bercukur. Kebersihan tubuhnya bagus dan tidak bau
badan.

4. Berpakaian
Klien mampu berpakaian, klien sering berdandan di depan kaca. Klien ganti
baju setelah mandi.
5. Istirahat dan tidur
Klien biasanya lebih banyak tidur jika di dalam kamar. Klien jarang melakukan
persiapan tidur, seperi menyikat gigi, mecuci kaki dan berdoa. Setelah bangun
tidur klien jarang membersihkan tempat tidurnya hanya mencuci muka saja.

6. Penggunaan Obat
Klien menggunakan obat Clozapine dan resperidon 2 kali sehari yaitu pagi
setelah sarapan dan malam setelah makan.

7. Pemeliharaan Kesehatan
Klien tinggal dengan ayah, ibu dan kakaknya. Yang merawatnya dirumah ada
ibunya. Namun jika klien kondisinya tidak stabil lagi klien di rawat lagi di RSJ.

8. Aktivitas di dalam rumah


Klien biasanya lebih banyak berdiam diri dirumah. Klien melakukan aktivitas
dirumah seperti mononton TV.

9. Aktivitas di luar rumah


Klien jarang keluar rumah, kecuali diajak keluarga untuk berekreasi.

XII. Aspek Medik


Diagnosa medik Skizofrenia hebefrenik. Obat yang diberikan pada klien ada
clozapine dan respenson.

XIII. Daftar Masalah Keperawatan


1. Gangguan persepsi sensori : Halusinasi dengar dan lihat
2. Resiko perilaku kekerasan

XIV. Daftar Diagnosa Keperawatan


Permasalahan Etiologi Tanggal Pengkajian
Gangguan persepsi Traumatik, 22 Juni 2018
sensori : Halusinasi penyalahgunaan obat-
dengar obatan

Skizofrenia

Kerusakan ada di otak
perlahan-lahan

Halusinasi
Resiko perilaku Traumatik, 22 Juni 2018
kekerasan penyalahgunaan obat-
obatan

Skizofrenia

Kerusakan ada di otak
perlahan-lahan

Halusinasi

Tidak dapat
mengendalikan

Resiko Perilaku
kekerasan
XV. Rencana Tindakan Keperawatan
Klien : Tn J Nama Mahasiswa : Dessy Permatasari
No.RM/Diagnosa medik : 068124/Skizofrenia hebefrenik NPM : 220112170532
No Diagnosa Keperawatan Perencanaan

Tujuan Intervensi Rasional

1 Gangguan persepsi sensori : 1. Pasien mengenali SP 1 Klien Dengan mengenal halusinasi


Halusinasi dengar dan lihat halusinasi yang 1. Membina trust klien, perawat dapat
dialaminya 2. Mengenali halusinasi : menentukan intervensi
2. Pasien dapat Jenis, isi, waktu, selanjutnya yaitu mengajarkan
mengontrol
halusinasinya frekuensi, situasi yang cara mengontrol halusinasi
3. Pasien mengikuti menimbulkan, respon yang muncul sehingga klien
program pengobatan klien terhadap halusinasi. dapat beradaptasi dengan
secara optimal 3. Mengajarkan cara lingkungannya dan percaya
mengontrol halusinasi : bahwa sebenarnya suara-suara
menghardik halusinasi yang bayangan-bayangan
4. Menganjurkan klien tersebut tidak ada. Setelah
memasukkan cara mengenal halusinasi klien,
menghardik ke jadwal klien diajarkan menghardik
kegiatan harian. agar klien yakin dan percaya
bahwa sebenarnya objek itu
tidak nyata

SP 2 Klien Klien diajarkan cara minum


1. Mengevaluasi jadwal obat yang teratur untuk
kegiatan harian klien mengatasi secara medikasi
2. Mengajarkan cara
mengontrol halusinasi :
minum obat secara gejala-gejala halusinasi yang
teratur. kambuh
3. Menganjurkan klien
memasukkan minum
obat ke jadwal kegiatan
harian.
SP 3 Klien Setelah klien diajarkan cara
1. Mengevaluasi jadwal minum obat yang teratur untuk
kegiatan harian klien mengontrol halusinasinya,
2. Mengajarkan cara klien diajarkan untuk
mengontrol halusinasi : bercakap-cakap dengan orang
bercakap-cakap dengan lain agar klien dapat
orang lain menhindari halusinasinya.
3. Menganjurkan klien
memasukkan bercakap-
cakap ke jadwal
kegiatan harian.
SP 4 Klien Setelah klien diajarkan cara
1. Mengevaluasi jadwal bercakap-cakap untuk
kegiatan harian klien mengontrol halusinasinya,
2. Mengajarkan cara klien diajarkan untuk
mengontrol halusinasi :
berkegiatan agar klien
melakukan kegiatan
(kegiatan yang biasa mengacuhkan halusinasinya.
klien lakukan dirumah)
3. Menganjurkan klien
memasukkan kegiatan
ke jadwal kegiatan
harian.
2 Resiko perilaku kekerasan 1. Pasien dapat SP 1 Klien Perilaku kekerasan yang klien
mengidentifikasi 1. Mengidentifikasi lakukan merupaka gejala dari
penyebab perilaku penyebab terjadinya PK halusinasi, klien merasa
kekerasan 2. Mengidentifikasi tanda seperti ad roh jahat yang
2. Pasien dapat dan gejala PK
mengidentifikasi tanda- merasuki tubunya. Dengan
3. Mengidentifikasi perilaku
tanda perilaku kekerasan yang dilakukan mengetahui penyebab klien
kekerasan 4. Mengidentifikasi akibat melakukan PK, perawat dapat
3. Pasien dapat perilaku kekerasan mengontrol perilaku
menyebutkan jenis 5. Menyebutkan cara kekerasan klien agar tidak
perilaku kekerasan yang mengontrol perilaku melukai dirinya sendiri
pernah dilakukannya kekerasan maupun orang lain. Setelah
4. Pasien dapat 6. Membantu klien
menyebutkan akibat mengetahui hal-hal yang
mempraktikkan latihan
dari perilaku kekerasan cara mengontrol fisik; terkait perilaku kekerasan
yang dilakukannya dengan cara meluapkan klien, klien diajarkan cara
5. Pasien dapat emosi dengan bantal dan mngontrol halusinasi dengan
menyebutkan cara tarik napas dalam cara fisik yaitu tarik nafas
mencegah/mengontrol 7. Menganjurkan klien dalam. Tarik nafas dalam
perilaku kekerasannya memasukkan dalam dapat merilekskan tubuh kita
6. Pasien dapat jadwal kegiatan sehari
mencegah/mengontrol dan memukul-mukul bantal
hari
perilaku kekerasannya dapat meluapkan emosi
secara fisik, spiritual, tanpda melukai diri sendiri
sosial, dan dengan terapi maupun orang lain.
psikofarmaka.
SP 2 Klien Setelah diajarkan cara
1. Mengevaluasi jadwal mengontrol PK dengan cara
kegiatan sehari hari fisik, klien diajarkan untuk
2. Melatih klien mengontrol minum obat secara teratur
perilaku kekerasan
untuk menenangkan klien,
dengan cara minum obat
3. Menganjurkan klien menghilangkan tanda dan
memasukkan dalam gejala perilaku kekerasan.
jadwal sehari hari
SP 3 Klien Setelah klien diajarkan minum
1. Mengevaluasi jadwal obat, klien diajarkan
kegiatan harian klien mengontrol PK dengan cara
2. Melatih klien mengontrol
verbal. Cara verbal diajarkan
prilaku kekerasan dengan
cara verbal agar klien mengontrol emosi
3. Menganjurkan klien tanpa kekerasan dan diajarkan
memasukkan dalam bersabar.
jadwal kegiatan harian
SP 4 Klien Setelah diajarkan mengontrol
1. Mengevaluasi kegiatan PK dengan cara verbal, klien
sehari hari diajarkan dengan cara spiritual
2. Melatih klien mengontrol
secara pasif maupun aktif
perilaku kekerasan
dengan cara spiritual karena spiritual mengajarkan
3. Menganjurkan klien setiap masalah itu diselesaikan
memasukkan dalam dengan cara baik-baik tanpa
jadwal kegiatan sehari menyakiti diri sendiri maupun
hari orang lain
XVI. Implementasi Tindakan Keperawatan
Klien : Tn J Nama Mahasiswa : Dessy Permatasari
No.RM/Diagnosa medik : 068124/Skizofrenia hebefrenik NPM : 220112170532
No Tanggal Diagnosa Keperawatan Implementasi Evaluasi (SOAP)

1 22 Juni 2018 Gangguan persepsi SP 1 Klien S : Klien mengatakan bisa mendengar suara
sensori : Halusinasi dengar 1. Bina trust yang menakutkan seperi “pergi kamu J”, “pergi
dan lihat 2. Kenali halusinasi : kamu dari sini”, “dumm..dumm” dan melihat
Jenis, isi, waktu, bayangan-bayangan hitam, klien merasa
frekuensi, situasi yang dirinya kerasukan roh jahat. Halusinasi dengar
menimbulkan, respon
klien. bisa terjadi pada waktu-waktu tertentu
sedangkan halusinasi lihat pada saat sore hari.
O : gaduh gelisah, bingung, bicara sendiri, mata
melotot muka merah
A : Halusinasi dengar dan lihat
P : Masalah teratasi sebagian, lanjutkan
intervensi
- Ajarkan klien mengontrol halusinasi
dengan cara menghardik halusinasi dan
minum obat secara teratur.

2 25 Juni 2018 Gangguan persepsi SP 1 dan SP 2 Klien S : klien mengatakan jika ada halusinasi dengar
sensori : Halusinasi dengar 1. Ajarkan cara mengontrol muncul klien menutup telinga dan mengatakan
dan lihat halusinasi : mengahardik “jangan ganggu saya”, “kamu sebenarnya tidak
halusinasi nyata”.
2. Ajarkan cara mengontrol O : gelisah, gaduh, berbicara sendiri, dan
halusinasi : dengan berbicara kasar serta mengamuk. Klien minum
minum obat teratur obat 2 kali sehari pagi dan malam hari.
3 22 Juni 2018 Resiko Perilaku SP 1 Klien S : klien mengatakan ada roh jahat yang
kekerasaan 1. Identifikasi penyebab merasuki tubuhnya
terjadinya PK O : Klien gaduh gelisah, mata melotot, muka
2. Identifikasi tanda dan
merah, mengamuk, berbicara kasar. Klien
gejala PK
3. Identifikasi perilaku menunjuk-nunjuk orang lain. klien diajarkan
kekerasan yang tarik nafas dalam untuk mengontrol amarah.
dilakukan A : resiko perilaku kekerasaan
4. Identifikasi akibat P : masalah teratasi sebagian, lanjutkan
perilaku kekerasan intervensi
5. Sebutkan cara - Mengajarkan klien mengontrol emosi
mengontrol perilaku
dengan cara teknik nafas dalam
kekerasan
6. Bantu klien - Mengajarkan klien untuk mengontrol
mempraktikkan latihan perilaku kekerasaan dengan minum obat
cara mengontrol fisik; yang benar
dengan cara meluapkan
emosi dengan bantal dan
tarik napas dalam.
7. Menganjurkan klien
mamasukkan kegiatan
ke dalam jadwal
kegiatan hariannya.
4 26 Juni 2018 Gangguan persepsi SP 2 Klien S : Klien mengatakan akan minum obat dengan
sensori : Halusinasi dengar 1. Evaluasi jadwal teratur, jika obat habis klien akan kontrol ulang
dan lihat kegiatan harian klien untuk mendapatkan obat kembali
2. Ajarkan cara
O : klien minum obat 3 kali sehari, pagi jam 7,
mengontrol halusinasi :
dengan minum obat siang jam 12, dan sore jam 5.
teratur dengan A : Halusinasi dengar dan lihat
memberikan P : masalah teratasi, lanjutkan intervensi
pendidikan kesehatan - Mengevaluai jadwal kegiatan harian klien
3. Anjurkan klien - Mengajarkan klien teknik mengontrol
mamasukkan kegiatan halusinasi dengan cara bercakap-cakap
ke dalam jadwal dengan orang lain
kegiatan hariannya.
- Menganjurkan klien memasukkan jadwal
ke kegiatan hariannya.

5 26 Juni 2018 Resiko Perilaku SP 1 Klien S : Klien mengatakan akan minum obat dengan
Kekerasaan 1. Ajarkan klien teratur, jika obat habis klien akan kontrol ulang
mengontrol emosi untuk mendapatkan obat kembali.
dengan cara teknik nafas
O : Klien mengetahui salah satu caranya yakni
dalam
teknik nafas dalam namun klien lupa
mengaplikasikannya.
A : Resiko Perilaku kekerasan
P : Masalah belum terasi, Lanjutkan intervensi
- Mengajarkan klien mengontrol emosi
dengan cara teknik nafas dalam

6 28 Juni 2018 Resiko Perilaku SP 1 Klien S : Klien mempraktekkan teknik nafas dalam
Kekerasaan 1. Ajarkan klien dengan berdiri “Tarik nafas dari hidung, tahan
mengontrol emosi 3 detik, kemudian hembuskan melalui mulut
dengan cara teknik nafas
perlahan-lahan”.
dalam
2. Anjurkan klien untuk O : klien akan memasukkan ke jadwal kegiatan
memasukkan cara teknik hariannya latihan teknik nafas dalam setiap
nafas dalam ke jadwal pagi hari
kegiatan harian A : Resiko Perilaku Kekerasan
P : Masalah belum terasi, Lanjutkan intervensi
- Mengajarkan klien mengontrol emosi
dengan cara memukul-mukul bantal atau
kasur.

7 30 Juni 2018 Resiko Perilaku SP 1 Klien S : Klien mengatakan lupa jika sedang marah
kekerasaan 1. Evaluasi kegiatan atau kesal untuk teknik nafas dalam, namun
harian klien akan latihan terus ingat.
2. Ajarkan klien
O : klien terlihat tenang, tidak ada tanda dan
mengontrol emosi
dengan cara gejala PK
memukul-mukul A : Resiko Perilaku Kekerasan
bantal atau kasur P : Masalah belum terasi, Lanjutkan intervensi
3. Anjurkan klien untuk - Mengajarkan klien mengontrol emosi
memasukkan cara dengan cara memukul-mukul bantal atau
memukul-mukul kasur.
bantal atau kasur ke
jadwal kegiatan
harian
LAMPIRAN
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

Nama Mahasiswa : Dessy Permatasari

Nama Pasien : Tn J (21 tahun)

Hari/Tanggal : Jumat, 22 Juni 2018

Hari ke/Pertemuan ke : 4/2

I. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
Data Objektif : Ketika berbicara suaranya keras, klien marah-marah,
menunjuk-nunjuk, muka merah mata melotot, berbicara sendiri, mengamuk.
Data Subjektif : Klien mengatakan bahwa dia mendengar suara-suara
yang tidak ada objeknya dan melihat bayangan hitam
2. Diagnosa Keperawatan
Gangguan Persepsi Sensori Halusinasi
Strategi pelaksanaan 1 untuk Klien dengan Halusinasi
3. Tujuan Keperawatan
1. Membantu pasien mengenal halusinasi
2. Menjelaskan cara-cara mengontrol halusinasi
3. Mengajarkan pasien mengontrol halusinasi dengan cara pertama:
menghardik halusinasi
4. Tindakan Keperawatan
1. Membantu pasien mengenali halusinasi.
Untuk membantu pasien mengenali halusinasi Saudara dapat
melakukannya dengan cara berdiskusi dengan pasien tentang isi halusinasi
(apa yang didengar/dilihat), waktu terjadi halusinasi, frekuensi terjadinya
halusinasi, situasi yang menyebabkan halusinasi muncul dan respon pasien
saat halusinasi muncul
2. Melatih pasien mengontrol halusinasi
Untuk membantu pasien agar mampu mengontrol halusinasi Saudara dapat
melatih pasien empat cara yang sudah terbukti dapat mengendalikan
halusinasi. Cara yang pertama dan kedua untuk mengatasi halusinasi yaitu
a. Menghardik halusinasi
Menghardik halusinasi adalah upaya mengendalikan diri terhadap
halusinasi dengan cara menolak halusinasi yang muncul. Pasien dilatih
untuk mengatakan tidak terhadap halusinasi yang muncul atau tidak
mempedulikan halusinasinya. Kalau ini dapat dilakukan, pasien akan
mampu mengendalikan diri dan tidak mengikuti halusinasi yang muncul.
Mungkin halusinasi tetap ada namun dengan kemampuan ini pasien tidak
akan larut untuk menuruti apa yang ada dalam halusinasinya.
Tahapan tindakan meliputi:
 Menjelaskan cara menghardik halusinasi
 Memperagakan cara menghardik
 Meminta pasien memperagakan ulang
 Memantau penerapan cara ini, menguatkan perilaku pasien

II. Strategi Komunikasi Terapeutik


Orientasi
”Assalamualaikum J. Saya perawat yang akan merawat J. Nama Saya Dessy,
senang dipanggil Dessy. Nama J siapa? Senang dipanggil apa?”
”Bagaimana perasaan J hari ini? Apa keluhan J saat ini”
”Baiklah, bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang suara yang selama ini
J dengar tetapi tak tampak wujudnya? Di mana kita duduk disini aja? Berapa
lama? Bagaimana kalau 30 menit”
Kerja
”Apakah J mendengar suara tanpa ada wujudnya? Apa yang dikatakan suara
itu?”
” Apakah terus-menerus terdengar atau sewaktu-waktu? Kapan yang paling
sering J dengar suara? Berapa kali sehari J alami? Pada keadaan apa suara
itu terdengar? Apakah pada waktu sendiri?”
” Apa yang J rasakan pada saat mendengar suara itu?”
”Apa yang J lakukan saat mendengar suara itu? Apakah dengan cara itu
suara-suara itu hilang? Bagaimana kalau kita belajar cara-cara untuk
mencegah suara-suara itu muncul?
” J , ada empat cara untuk mencegah suara-suara itu muncul. Pertama, dengan
menghardik suara tersebut. Kedua, dengan cara bercakap-cakap dengan orang
lain. Ketiga, melakukan kegiatan yang sudah terjadwal, dan yang ke empat
minum obat dengan teratur.”
”Bagaimana kalau kita belajar satu cara dulu, yaitu dengan menghardik”.
”Caranya sebagai berikut: saat suara-suara itu muncul, langsung J bilang,
pergi saya tidak mau dengar, … Saya tidak mau dengar. Kamu suara palsu.
Begitu diulang-ulang sampai suara itu tak terdengar lagi. Coba J peragakan!
Nah begitu, … bagus! Coba lagi! Ya bagus J sudah bisa”
Terminasi
”Bagaimana perasaan J setelah peragaan latihan tadi?” Kalau suara-suara
itu muncul lagi, silakan coba cara tersebut J bagaimana kalu kita buat jadwal
latihannya. Mau jam berapa saja latihannya? (Saudara masukkan kegiatan
latihan menghardik halusinasi dalam jadwal kegiatan harian pasien).
“Bagaimana kalau kita bertemu lagi untuk belajar dan latihan mengendalikan
suara-suara dengan cara yang ketiga dan keempat? Jam berapa J? Bagaimana
kalau dua jam lagi? Berapa lama kita akan berlatih? Dimana tempatnya”
”Baiklah, sampai jumpa. Assalamu’alaikum”
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

Nama Mahasiswa : Dessy Permatasari

Nama Pasien : Tn J (21 tahun)

Hari/Tanggal : Jumat, 22 Juni 2018

Hari ke/Pertemuan ke : 2/1

I. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
Data Objektif : Klien terlihat pendiam awalnya, ketika berbicara
suaranya keras, klien marah-marah, menunjuk-nunjuk, muka merah mata
melotot, berbicara sendiri
Data Subjektif : Klien mengatakan bahwa dia melihat ada bayangan
hitam dan akan merasuki dirinya.
2. Diagnosa Keperawatan
Gangguan Persepsi
Strategi pelaksanaan 1 untuk Klien Perilaku kekerasan
3. Tujuan Keperawatan
1. Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan
2. Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan
3. Klien dapat menyebutkan jenis perilaku kekerasan yang pernah
dilakukannya
4. Pasien dapat menyebutkan akibat dari perilaku kekerasan yang
dilakukannya
5. Pasien dapat menyebutkan cara mencegah/mengontrol perilaku
kekerasannya
6. Pasien dapat mencegah/mengontrol perilaku kekerasannya secara fisik,
spiritual, sosial, dan dengan terapi psikofarmaka.
4. Tindakan Keperawatan
1. Bina hubungan saling percaya
Dalam membina hubungan saling percaya perlu dipertimbangkan agar
pasien merasa aman dan nyaman saat berinteraksi dengan saudara. Tindakan
yang harus saudara lakukan dalam rangka membina hubungan saling
percaya adalah
a. Mengucapkan salam terapeutik
b. Berjabat tangan
c. Menjelaskan tujuan interaksi
d. Membuat kontrak topik, waktu dan tempat setiap kali bertemu pasien
2. Diskusikan bersama pasien penyebab perilaku kekerasan saat ini dan yang
lalu
3. Diskusikan perasaan pasien jika terjadi penyebab perilaku kekerasan
a. Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara fisik
b. Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara psikologis
c. Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara sosial
d. Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara spiritual
e. Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara intelektual
4. Diskusikan bersama pasien perilaku kekerasan yang biasa dilakukan pada
saat marah secara :
a. Verbal
b. Terhadap orang lain
c. Terhadap diri sendiri
d. Terhadap lingkungan
5. Diskusikan bersama pasien akibat perilakunya
6. Diskusikan bersama pasien cara mengontrol perilaku kekerasan secara :
a. Fisik: pukul kasur dan batal, tarik nafas dalam
b. Obat
c. Social/verbal: menyatakan secara asertif rasa marahnya
d. Spiritual: sholat/berdoa sesuai keyakinan pasien
7. Latih pasien mengontrol perilaku kekerasan secara fisik :
a. Latihan nafas dalam dan pukul kasur – bantal
b. Susun jadwal latihan dalam dan pukul kasur – bantal
II. Strategi Komunikasi Terapeutik
Orientasi
“Assalamualaikum J saya Dessy perawat yang akan merawat J selama
seminggu. Saya mau obrol-obrol sama J. J, senangnya dipanggil apa?”
“Bagaimana perasaan J saat ini? Masih ada perasaan kesal atau marah?”
“Baiklah kita akan berbincang-bincang sekarang tentang perasaan marah J”
“Berapa lama J mau kita berbincang-bincang?” Bagaimana kalau 10 menit?
“Dimana enaknya kita duduk untuk berbincang-bincang, J? Bagaimana kalau
di sini saja?”
Kerja
“Apa yang menyebabkan J marah?, Apakah sebelumnya J pernah marah?
Terus, penyebabnya apa? Samakah dengan yang sekarang?. O..iya, jadi ada 1
penyebab marah J”
“Pada saat penyebab marah itu ada, karena J merasa ada roh jahat yang
merasuki tubuh J”
“Apakah J merasakan kesal kemudian dada J berdebar-debar, mata melotot,
rahang terkatup rapat, dan tangan mengepal?”
“Setelah itu apa yang J lakukan? O..iya, jadi J mengamuk-ngamuk, apakah
dengan cara ini keadaan J akan berubah? Iya, tentu tidak. Apa kerugian cara
yang J lakukan? Betul, semua orang menjadi takut untuk berinteraksi dengan
J, jika J mengamuk seperti itu. Menurut J adakah cara lain yang lebih baik?
Maukah J belajar cara mengungkapkan kemarahan dengan baik tanpa
menimbulkan kerugian?”
”Ada beberapa cara untuk mengontrol kemarahan, J. Salah satunya adalah
dengan cara fisik. Jadi melalui kegiatan fisik disalurkan rasa marah.”
”Ada beberapa cara, bagaimana kalau kita belajar satu cara dulu?”
”Begini J, kalau tanda-tanda marah tadi sudah J rasakan maka J berdiri, lalu
tarik napas dari hidung, tahan sebentar, lalu keluarkan/tiup perlahan-lahan
melalui mulut seperti mengeluarkan kemarahan. Ayo coba lagi, tarik dari
hidung, bagus.., tahan, dan tiup melalui mulut. Nah, lakukan 5 kali. Bagus
sekali, J sudah bisa melakukannya. Bagaimana perasaannya?”
“Nah, sebaiknya latihan ini J lakukan secara rutin, sehingga bila sewaktu-
waktu rasa marah itu muncul J sudah terbiasa melakukannya”
Terminasi
“Bagaimana perasaan J setelah berbincang-bincang tentang kemarahan J?”
”Iya jadi ada 1 penyebab J marah yaitu J merasa diri J kerasukan roh jahat”
”Coba selama saya tidak ada, ingat-ingat lagi penyebab marah J yang lalu,
apa yang J lakukan kalau marah yang belum kita bahas dan jangan lupa latihan
napas dalamnya ya J. ‘Sekarang kita buat jadwal latihannya ya J, berapa kali
sehari J mau latihan napas dalam?, jam berapa saja J?”
”Baik, bagaimana besok saya datang dan kita latihan cara yang lain untuk
mencegah/mengontrol marah. Tempatnya disini saja ya J, assalamualaikum”
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

Nama Mahasiswa : Dessy Permatasari

Nama Pasien : Tn J (21 tahun)

Hari/Tanggal : Jumat, 22 Juni 2018

Hari ke/Pertemuan ke : 4/2

I. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
Data Objektif : Ketika berbicara suaranya keras, klien marah-marah,
menunjuk-nunjuk, muka merah mata melotot, berbicara sendiri, mengamuk.
Data Subjektif : Klien mengatakan bahwa dia mendengar suara-suara
yang mengusir dirinya jangan disana dan mengatakan “saya kerasukan”.
2. Diagnosa Keperawatan
Gangguan Persepsi Sensori Halusinasi
Strategi pelaksanaan 2 untuk Klien dengan Halusinasi
3. Tujuan Keperawatan
 Membantu pasien mengenal halusinasi
 Menjelaskan cara-cara mengontrol halusinasi
 Mengajarkan pasien mengontrol halusinasi dengan cara pertama:
menghardik halusinasi
4. Tindakan Keperawatan
1. Melatih pasien mengontrol halusinasi
Untuk membantu pasien agar mampu mengontrol halusinasi Saudara dapat
melatih pasien empat cara yang sudah terbukti dapat mengendalikan
halusinasi. Cara yang pertama dan kedua untuk mengatasi halusinasi yaitu
a. Menghardik halusinasi
Menghardik halusinasi adalah upaya mengendalikan diri terhadap
halusinasi dengan cara menolak halusinasi yang muncul. Pasien dilatih
untuk mengatakan tidak terhadap halusinasi yang muncul atau tidak
mempedulikan halusinasinya. Kalau ini dapat dilakukan, pasien akan
mampu mengendalikan diri dan tidak mengikuti halusinasi yang
muncul. Mungkin halusinasi tetap ada namun dengan kemampuan ini
pasien tidak akan larut untuk menuruti apa yang ada dalam
halusinasinya.
Tahapan tindakan meliputi:
 Menjelaskan cara menghardik halusinasi
 Memperagakan cara menghardik
 Meminta pasien memperagakan ulang
 Memantau penerapan cara ini, menguatkan perilaku pasien
b. Menggunakan obat secara teratur
Untuk mampu mengontrol halusinasi pasien juga harus dilatih untuk
menggunakan obat secara teratur sesuai dengan program. Pasien
gangguan jiwa yang dirawat di rumah seringkali mengalami putus obat
sehingga akibatnya pasien mengalami kekambuhan. Bila kekambuhan
terjadi maka untuk mencapai kondisi seperti semula akan lebih sulit.
Untuk itu pasien perlu dilatih menggunakan obat sesuai program dan
berkelanjutan.
Berikut ini tindakan keperawatan agar pasien patuh menggunakan obat:
 Jelaskan guna obat
 Jelaskan akibat bila putus obat
 Jelaskan cara mendapatkan obat/berobat
 Jelaskan cara menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar
obat, benar
 pasien, benar cara, benar waktu, benar dosis)

II. Strategi Komunikasi Terapeutik


Orientasi
”Assalamualaikum J. Saya perawat yang akan merawat J. Nama Saya Dessy,
senang dipanggil Dessy. Nama J siapa? Senang dipanggil apa?”
”Bagaimana perasaan J hari ini? Apa keluhan J saat ini”
”Baiklah, bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang suara yang selama ini
J dengar tetapi tak tampak wujudnya? Di mana kita duduk disini aja? Berapa
lama? Bagaimana kalau 30 menit”
Kerja
”Apakah J mendengar suara tanpa ada wujudnya? Apa yang dikatakan suara
itu?”
” Apakah terus-menerus terdengar atau sewaktu-waktu? Kapan yang paling
sering J dengar suara? Berapa kali sehari J alami? Pada keadaan apa suara
itu terdengar? Apakah pada waktu sendiri?”
” Apa yang J rasakan pada saat mendengar suara itu?”
”Apa yang J lakukan saat mendengar suara itu? Apakah dengan cara itu
suara-suara itu hilang? Bagaimana kalau kita belajar cara-cara untuk
mencegah suara-suara itu muncul?
” J , ada empat cara untuk mencegah suara-suara itu muncul. Pertama, dengan
menghardik suara tersebut. Kedua, dengan cara bercakap-cakap dengan orang
lain. Ketiga, melakukan kegiatan yang sudah terjadwal, dan yang ke empat
minum obat dengan teratur.”
”Bagaimana kalau kita belajar satu cara dulu, yaitu dengan menghardik”.
”Caranya sebagai berikut: saat suara-suara itu muncul, langsung J bilang,
pergi saya tidak mau dengar, … Saya tidak mau dengar. Kamu suara palsu.
Begitu diulang-ulang sampai suara itu tak terdengar lagi. Coba J peragakan!
Nah begitu, … bagus! Coba lagi! Ya bagus J sudah bisa”
“Tadi kan sudah diajarkan cara yang pertama dan sekarang J, mau ga
diajarkan cara yang kedua?”
“J adakah bedanya setelah minum obat secara teratur. Apakah suara-suara
berkurang/hilang ? Minum obat sangat penting supaya suara-suara yang J
dengar dan mengganggu selama ini tidak muncul lagi. Berapa macam obat
yang J minum ? (Perawat menyiapkan obat pasien) Ini obat Clozapine 2 kali
sehari jam 7 pagi dan jam 7 malam gunanya untuk menghilangkan suara-suara.
Ini obat Risperidon 2 kali sehari jam nya sama gunanya untuk rileks dan tidak
kaku. Nanti konsultasikan dengan dokter, sebab kalau putus obat, J akan
kambuh dan sulit untuk mengembalikan ke keadaan semula. Kalau obat habis
D bisa minta ke dokter untuk mendapatkan obat lagi. J juga harus teliti saat
menggunakan obat-obatan ini. Pastikan obatnya benar, artinya J harus
memastikan bahwa itu obat yang benar-benar punya J. Jangan keliru dengan
obat milik orang lain. Baca nama kemasannya. Pastikan obat diminum pada
waktunya, dengan cara yang benar. Yaitu diminum sesudah makan dan tepat
jamnya. J juga harus perhatikan berapa jumlah obat sekali minum, dan harus
cukup minum 10 gelas per hari”
Terminasi
”Bagaimana perasaan J setelah peragaan latihan tadi?” Kalau suara-suara
itu muncul lagi, silakan coba cara tersebut J bagaimana kalu kita buat jadwal
latihannya. Mau jam berapa saja latihannya? (Saudara masukkan kegiatan
latihan menghardik halusinasi dalam jadwal kegiatan harian pasien).
“Bagaimana perasaan J setelah kita bercakap-cakap tentang obat? Sudah
berapa cara yang kita latih untuk mencegah suara-suara? Coba sebutkan!
Bagus! (jika jawaban benar). Mari kita masukkan jadwal minum obatnya pada
jadwal kegiatanJD. Jangan lupa pada waktunya minta obat pada perawat atau
pada keluarga kalau di rumah. Bagaimana kalau kita bertemu lagi untuk
belajar dan latihan mengendalikan suara-suara dengan cara yang ketiga dan
keempat? Jam berapa J? Bagaimana kalau dua jam lagi? Berapa lama kita
akan berlatih? Dimana tempatnya”
”Baiklah, sampai jumpa. Assalamu’alaikum”
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

Nama Mahasiswa : Dessy Permatasari

Nama Pasien : Tn J (21 tahun)

Hari/Tanggal : Kamis, 28 Juni 2018

Hari ke/Pertemuan ke : 7/2

I. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
Data Objektif : Klien sudah tidak mengamuk lagi, sudah tidak di
restrain lagi.
Data Subjektif : Klien mengatakan lupa bagaimana cara mengontrol
emosi.
2. Diagnosa Keperawatan
Resiko Perilaku Kekerasan
Strategi pelaksanaan 1 untuk Klien Perilaku kekerasan
3. Tujuan Keperawatan
1. Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan
2. Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan
3. Klien dapat menyebutkan jenis perilaku kekerasan yang pernah
dilakukannya
4. Pasien dapat menyebutkan akibat dari perilaku kekerasan yang
dilakukannya
5. Pasien dapat menyebutkan cara mencegah/mengontrol perilaku
kekerasannya
6. Pasien dapat mencegah/mengontrol perilaku kekerasannya secara fisik,
spiritual, sosial, dan dengan terapi psikofarmaka.
4. Tindakan Keperawatan
1. Bina hubungan saling percaya
Dalam membina hubungan saling percaya perlu dipertimbangkan agar
pasien merasa aman dan nyaman saat berinteraksi dengan saudara.
Tindakan yang harus saudara lakukan dalam rangka membina hubungan
saling percaya adalah
 Mengucapkan salam terapeutik
 Berjabat tangan
 Menjelaskan tujuan interaksi
 Membuat kontrak topik, waktu dan tempat setiap kali bertemu
pasien
2. Diskusikan bersama pasien penyebab perilaku kekerasan saat ini dan
yang lalu
3. Diskusikan perasaan pasien jika terjadi penyebab perilaku kekerasan
 Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara fisik
 Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara psikologis
 Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara sosial
 Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara spiritual
 Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara
intelektual
4. Diskusikan bersama pasien perilaku kekerasan yang biasa dilakukan
pada saat marah secara :
 Verbal
 Terhadap orang lain
 Terhadap diri sendiri
 Terhadap lingkungan
5. Diskusikan bersama pasien akibat perilakunya
6. Diskusikan bersama pasien cara mengontrol perilaku kekerasan secara :
 Fisik: pukul kasur dan batal, tarik nafas dalam
 Obat
 Social/verbal: menyatakan secara asertif rasa marahnya
 Spiritual: sholat/berdoa sesuai keyakinan pasien
7. Latih pasien mengontrol perilaku kekerasan secara fisik :
 Latihan nafas dalam dan pukul kasur – bantal
 Susun jadwal latihan dalam dan pukul kasur – bantal

II. Strategi Komunikasi Terapeutik


Orientasi
“Assalamualaikum J saya Perawat Dessy.. Saya mau obrol-obrol sama J.
Melanjutkan tentang obrolan kita yang kemaren.
“Bagaimana perasaan J saat ini? Masih ada perasaan kesal atau marah?”
“Baiklah kita akan berbincang-bincang sekarang tentang perasaan marah J”
“Berapa lama J mau kita berbincang-bincang?” Bagaimana kalau 10 menit?
“Dimana enaknya kita duduk untuk berbincang-bincang, J? Bagaimana kalau
di sini saja?”
Kerja
“Kemarin, penyebab marah itu karena J merasa ada roh jahat yang merasuki
tubuh J dan juga J mengatakan teman J mengajak J berkelahi lewat batin”
“Apakah J merasakan kesal kemudian dada J berdebar-debar, mata melotot,
rahang terkatup rapat, dan tangan mengepal?”
“Setelah itu apa yang J lakukan? O..iya, jadi J mengamuk-ngamuk, apakah
dengan cara ini keadaan J akan berubah? Iya, tentu tidak. Apa kerugian cara
yang J lakukan? Betul, semua orang menjadi takut untuk berinteraksi dengan
J, jika J mengamuk seperti itu. Menurut J adakah cara lain yang lebih baik?
Maukah J belajar cara mengungkapkan kemarahan dengan baik tanpa
menimbulkan kerugian?”
”Ada beberapa cara untuk mengontrol kemarahan, J. Kemarin saya sudah
menyebutkan yaitu cara fisik dengan memukul-mukul bantal dan tarik nafas
dalam, dengan cara verbal, dan cara spiritual.
“Kemarin kan saya sudah menjelaskan cara-cara mengontrol kemarahan
dengan cara memukul-mukul bantal dan teknik tarik nafas dalam. Oh iya
kemarin saya belum menjelaskan bagaimana teknik tarik nafas dalam yang
benar. Hari ini saya akan mengajarkan kepada J cara tarik nafas yang benar”.
”Begini J, kalau tanda-tanda marah tadi sudah J rasakan maka J berdiri, lalu
tarik napas dari hidung, tahan sebentar, lalu keluarkan/tiup perlahan-lahan
melalui mulut seperti mengeluarkan kemarahan. Ayo coba lagi, tarik dari
hidung, bagus.., tahan, dan tiup melalui mulut. Nah, lakukan 5 kali. Bagus
sekali, J sudah bisa melakukannya. Bagaimana perasaannya?”
“Nah, sebaiknya latihan ini J lakukan secara rutin, sehingga bila sewaktu-
waktu rasa marah itu muncul J sudah terbiasa melakukannya”
Terminasi
“Bagaimana perasaan J setelah berbincang-bincang tentang kemarahan J?”
”Iya jadi ada 1 penyebab J marah yaitu J merasa diri J kerasukan roh jahat”
”Coba selama saya tidak ada, ingat-ingat lagi penyebab marah J yang lalu,
apa yang J lakukan kalau marah yang belum kita bahas dan jangan lupa latihan
napas dalamnya ya J. ‘Sekarang kita buat jadwal latihannya ya J, berapa kali
sehari J mau latihan napas dalam?, jam berapa saja J?”
”Baik, bagaimana besok saya datang dan kita latihan cara yang lain untuk
mencegah/mengontrol marah. Tempatnya disini saja ya J, assalamualaikum”
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

Nama Mahasiswa : Dessy Permatasari

Nama Pasien : Tn J (21 tahun)

Hari/Tanggal : Sabtu, 30 Juni 2018

Hari ke/Pertemuan ke : 10/6

I. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
Data Objektif : Klien bisa mengobrol dengan orang disekitarnya, klien
dalam keadaan tenang, klien tidak ada tanda dan gejala PK.
Data Subjektif : Klien mengatakan keadaanya baik-baik saja
“alhamdulillah baik”.
2. Diagnosa Keperawatan
Resiko Perilaku Kekerasan
Strategi pelaksanaan 1 untuk Klien Perilaku kekerasan
3. Tujuan Keperawatan
1. Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan
2. Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan
3. Klien dapat menyebutkan jenis perilaku kekerasan yang pernah
dilakukannya
4. Pasien dapat menyebutkan akibat dari perilaku kekerasan yang
dilakukannya
5. Pasien dapat menyebutkan cara mencegah/mengontrol perilaku
kekerasannya
6. Pasien dapat mencegah/mengontrol perilaku kekerasannya secara fisik,
spiritual, sosial, dan dengan terapi psikofarmaka.

4. Tindakan Keperawatan
1. Bina hubungan saling percaya
Dalam membina hubungan saling percaya perlu dipertimbangkan agar pasien
merasa aman dan nyaman saat berinteraksi dengan saudara. Tindakan yang
harus saudara lakukan dalam rangka membina hubungan saling percaya
adalah
 Mengucapkan salam terapeutik
 Berjabat tangan
 Menjelaskan tujuan interaksi
 Membuat kontrak topik, waktu dan tempat setiap kali bertemu
pasien
2. Diskusikan bersama pasien penyebab perilaku kekerasan saat ini dan yang
lalu
3. Diskusikan perasaan pasien jika terjadi penyebab perilaku kekerasan
 Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara fisik
 Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara psikologis
 Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara sosial
 Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara spiritual
 Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara intelektual
4. Diskusikan bersama pasien perilaku kekerasan yang biasa dilakukan pada
saat marah secara :
 Verbal
 Terhadap orang lain
 Terhadap diri sendiri
 Terhadap lingkungan
5. Diskusikan bersama pasien akibat perilakunya
6. Diskusikan bersama pasien cara mengontrol perilaku kekerasan secara :
 Fisik: pukul kasur dan batal, tarik nafas dalam
 Obat
 Social/verbal: menyatakan secara asertif rasa marahnya
 Spiritual: sholat/berdoa sesuai keyakinan pasien
7. Latih pasien mengontrol perilaku kekerasan secara fisik :
 Latihan nafas dalam dan pukul kasur – bantal
 Susun jadwal latihan dalam dan pukul kasur – bantal
II. Strategi Komunikasi Terapeutik
Orientasi
“Assalamualaikum J saya Perawat Dessy.. Saya mau obrol-obrol sama J.
Melanjutkan tentang obrolan kita yang kemaren.
“Bagaimana perasaan J saat ini? Masih ada perasaan kesal atau marah?”
“Baiklah kita akan berbincang-bincang sekarang tentang perasaan marah J”
“Berapa lama J mau kita berbincang-bincang?” Bagaimana kalau 10 menit?
“Dimana enaknya kita duduk untuk berbincang-bincang, J? Bagaimana kalau
di sini saja?”
Kerja
“Kemarin, kita sudah belajar cara mengontrol emosi dengan cara nafas
dalam, Apakah J sering menerapkannya dalam kegiatan J sehari-hari?
”Bagus, kemarin J sudah belajar teknik nafas dalam, sekarang J saya akan
mengajarkan J cara mengontrol kemarahan dengan memukul-mukul bantal
atau kasur.
”Begini J, jadi jika tanda dan gejala marah atau kesal J muncul seperti jantung
berdebar-debar, bahkan sampai J mengamuk, mata melotot serta tangan
mengepal. Semua perasaan J benar-benar J salurkan ke gengaman J kemudian
salurkan emosi J itu dengan memukul bantal atau kasur. Sekarang coba J
praktekkan. Bagus. Bagaimana perasaannya sekarang?”
“Nah, sebaiknya latihan ini J lakukan secara rutin, sehingga bila sewaktu-
waktu rasa marah itu muncul J sudah terbiasa melakukannya”
Terminasi
“Bagaimana perasaan J setelah berbincang-bincang tentang kemarahan J?”
”Coba selama saya tidak ada, ingat-ingat lagi penyebab marah J yang lalu,
apa yang J lakukan kalau marah yang belum kita bahas dan jangan lupa latihan
napas dalamnya ya J. ‘Sekarang kita buat jadwal latihannya ya J, berapa kali
sehari J mau latihan napas dalam?, jam berapa saja J?”
”Baik, bagaimana besok saya datang dan kita latihan cara yang lain untuk
mencegah/mengontrol marah. Tempatnya disini saja ya J, assalamualaikum”