You are on page 1of 8

J.G.S.M. Vol. 15 No. 2 Mei 2014 hal.

81 - 87 81

POLA KELURUSAN TOPOGRAFI DI WILAYAH MAJALENGKA, JAWA BARAT
TOPOGRAPHIC LINEAMENT PATTERN IN THE MAJALENGKA AREA, WEST JAVA

Oleh : Zufialdi Zakaria
Fakultas Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran
Jl. Raya Bandung Sumedang KM 21, Jatinangor 45363

Abstrak
Penelitian ini mencakup wilayah Kabupaten Majalengka, Sumedang, dan Kuningan, Jawa Barat. Penelitian bertujuan
untuk mengetahui peran tektonik serta menguji pengaruh tektonik aktif terhadap kelurusan morfologi di wilayah tersebut.
Hasil uji beda dengan T-test pada semua pola kelurusan topografi di batuan Tersier dan batuan Kuarter menunjukkan
tidak terdapatnya perbedaan yang signifikan dengan thit= - 0,301, dan ttabel =1,971 (a=0.05). Tektonik aktif ditunjukkan
oleh kesamaan pola kelurusan pada dua batuan yang berbeda umur, yaitu pada batuan berumur Kuarter dan Tersier.
Kedua batuan sama-sama terkena proses deformasi, dan sama-sama mengalami pengangkatan. Jika pola kelurusan
dibagi secara khusus menjadi empat pola, yaitu Pola Meratus, Pola Jawa, Pola Sumatera dan Pola Sunda, maka hasil uji
beda kelurusan topografi pada batuan Tersier dan Kuarter (T-test, dengan a=5%) adalah sebagai berikut: Kelurusan
topografi dari pola Meratus menunjukkan perbedaan nyata, dengan thit=-3,117, dan ttabel =2,011 (a =0,05). Kelurusan
topografi berpola Jawa, menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan dengan thit=-0,980, dan ttabel =2,024
(a=0.05). Kelurusan topografi berpola Sumatera menunjukkan perbedaan nyata, dengan thit=2,567, dan ttabel =1,983
(a=0.05). Kelurusan topografi berpola Sunda tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan, dengan thit=0,473, dan
ttabel =1,998 (a=0.05). Tektonik yang menyebabkan perbedaan pada Pola Meratus dan Pola Sumatera adalah tektonik
masakini (neotektonik) yang diperlihatkan melalui reaktivasi sesar-sesar yang ada, terutama melalui keberadaan sesar
aktif misalnya Sesar Baribis.
SM
Kata kunci: kelurusan topografi, neotektonik.

Abstract
The research area covers an area of Majalengka, Sumedang, and Kuningan regencies, West Java. The research aims to
JG

determine the role of tectonics, and examine the effect of the active tectonic to the lineaments of morphology in the area.
The result of different test via T-test with a= 5% on all topographic lineament patterns in Tertiary and Quaternary rocks
showed significant differences with tstat= -0.301, and tCritical two-tail is 1.971 (a=0.05). The active tectonic is indicated by the
similarity of lineament pattern in the two rocks of different ages, the Quaternary and Tertiary rocks. Both are equally
exposed by deformation process, and equally experienced the uplift. If liniament patterns are divided into four patterns
in particular, that are Meratus, Java, Sumatera, and Sunda Patterns, then the result of different test of topographic
lineaments in the Tertiary and Quaternary rocks (t-Test with a= 5%) are as follows: Topographic lineaments of Meratus
pattern showed significant differences, with tstat= -3.117, and tCritical two-tail is 2.011 (a=0.05). Topographic lineaments of
Java pattern do not show significant differences, with tstat= -0.980, and tCritical two-tail is 2.024 (a=0.05). Topographic
lineaments of Sumatera pattern show significant differences, with tstat= -2.567, and tCritical two-tail is 1.983 (a=0.05).
Topographic lineaments of Sunda pattern do not show significant differences, with tstat= 0.473, and tCritical two-tail is 1.998
(a=0.05). Tectonics that cause differences in the pattern of Meratus and Sumatra are modern tectonics (neotectonics)
as shown through fault reactivation of existing faults, mainly through the presence of active faults : Baribis Faults.
Keywords: topographic liniament, neotectonics

Pendahuluan bagian Barat dipenagruhi oleh tumbukan Lempeng
Benua Eurasia dan Lempeng Samudera Hindia, dan
Kondisi geologi wilayah Indonesia dipengaruhi oleh
di wilayah bagian Timur dipengaruhi oleh Lempeng
interaksi tiga lempeng utama dunia, yaitu Lempeng
Eurasia, Lempeng Hindia-Australia dan Lempeng
Samudera Hindia, Lempeng Samudera Pasifik dan
Pasifik (Hall. 1995). Dalam suatu sistim tumbukan
Lempeng Benua Eurasia. Di wilayah Indonesia
lempeng t zona gempa, zona magmatisme, zona
mineralisasi, zona endapan hidrokarbon, dan zona
Naskah diterima : 10 Januari 2014
gerakan tanah, yang zona-zona tersebut bergantung
Revisi terakhir : 16 Mei 2014 pada letaknya (Zakaria, 2008).

Pola Sunda dan Pola Jawa. Oleh Beberapa sesar di pulau ini masih aktif yang karena itu zona sesar pada peta topografi atau pada berpotensi menimbulkan terjadinya gempa merusak data inderaan jauh dicirikan oleh kelurusan lembah. 81 . aktif Baribis. Vol. pola Jawa relatif berarah barat-timur. M. dan M = material (batuan dan lapukannya yang terkena dalam sistim tektoniknya terletak di bagian utara. Trench) yang membentuk palung sangat dalam di Sesar didefinisikan sebagai retakan yang telah Samudera Hindia. dan baratdaya-timurlaut.G. 2007). t) dan pola Sumatera relatif berarah baratlaut-tenggara. sehingga mudah tererosi. pola Sunda relatif berarah memformulakan sebagai: utara-selatan. G = ¦ (Pn. 2004). G = geomorfologi ( unit /satuan geomorfologi) Daerah penelitian termasuk dalam wilayah Kabupaten Majalengka. 2 Mei 2014 hal. Pola Meratus berarah relatif sepanjang waktu (Zakaria. yang posisinya relatif di bagian timur Jawa Barat. dan sebagian wilayah Kabupaten Px = proses eksogen (pelapukan dan erosi) Sumedang. dan di dalam zona sesar morfologi pegunungan. Menurut Abidin drr.87 Gambar 1.82 J.S. Menurut Pulunggono & Martodjojo (1994) bahwa pola struktur Jawa Barat terdiri atas Kajian topografi merupakan bagian dari kajian Pola Meratus. sedangkan di Pulau Jawa terdapat JG mengalami pergeseran. sebagian wilayah Kabupaten Pn = proses endogen (terutama proses tektonik) Kuningan. menurut geomorfologi. Daerah penelitian SM Sekarang ini. Px. 15 No. tumbukan Lempeng Eurasia dan Sejauhmana pengaruh tektonik tersebut terhadap Lempeng Hindia membentuk Parit Jawa (Java pembentukan arah sesar. 2) . (Natawidjaja. proses tersebut) Permasalahannya adalah: 1) apakah di wilayah t = waktu (sepanjang proses terjadi) penelitian masih dipengaruhi oleh tetonik aktif. Propinsi Jawa Barat (Gambar 1). dan terjadi pensesaran. batuannya hancur. Penampakan sesar lajur gunung api yang padaumumnya membentuk padaumumnya lurus.M. Satuan geomorfologi merupakan hasil Haryanto (1999) dan Zakaria ( 2004) terdapat pula dari proses endogen dan eksogen yang terjadi di Pola Sumatera. (2009) di Daerah penelitian secara stratigrafi tersusun oleh wilayah Majalengka dan sekitanya terdapat Sesar batuan Kuarter dan batuan berumur Tersier.

dan terdiri atas Formasi Halang Anggota kelurusan yang hampir sama untuk masing-masing Bawah (breksi gunungapi yang bersifat andesit dan pola kelurusan. Hasil Penelitian dan Pembahasan Pola kelurusan pada batuan Tersier dan batuan Kuarter akan berbeda pula. 1995) dan terdiri atas breksi gunung api dan adalah untuk mengetahui aktivitas tektonik di daerah tuf menindih secara tidak selaras formasi-formasi di penyebaran massa batuan Kuarter dan Tersier atas. dan konglomerat. menyerpih. Menumpang secara selaras di atas Formasi Dalam menentukan ada atau tidak-adanya Cinambo adalah Formasi Halang yang berumur perbedaan arah kelurusan topografi dalam diagram Miosen Tengah-Miosen Akhir bagian Bawah (Djuri. Metode Penelitian 1995). Berdasarkan Haryanto. yang (batuan Miosen . Kemudian. Uji statistik yang Kelurusan topografi (tunjukkan diagram mawar dilakukan adalah probabilistik uji beda rata-rata atau keseluruhan) T-test Kelurusan topografi didapat berdasarkan hasil penafsiran peta DEM (Gambar 2). Variabel data yang dapat dianalisis adalah morfologi pedataran dan perbukitan landai JG arah kelurusan topografi pada batuan Tersier dan (Haryanto. 1989) menindih secara selaras Formasi Halang dan Jika salah satu komponen tersebut berbeda. tujuan penelitian ini (Djuri. terdiri atas material pada kedua satuan batuan. 1989. Formasi Kaliwangu yang geomorfologi berbeda. batupasir morfometri batuan Tersier akan berbeda dengan gampingan dan batugamping. material penyusun dan waktu) adalah sama. dan batulanau dan topografi yang terlihat dalam diagram mawar hampir berumur Oligosen Akhir sampai Miosen Tengah. 1995) dan selaras di oleh batuan Tersier dan Kuarter yang mempunyai atas Formasi Subang (Djuhaeni & Martodjojo. Di diinterpretasi melalui data penginderaan-jauh. azimut. Jawa Barat 83 Jika komponen pembentuk unit geomorfologi Formasi Subang yang berumur Miosen Atas (Djuri. konglomerat). terdiri atas batulempung dengan fakta ini dapat dibangun suatu deduksi bahwa sisipan batubasir tufaan. sama (Tabel 2). yang merupakan hasil erupsi gunungapi. beberapa tempat endapan aluvial ini telah dalam hal ini digunakan peta DEM (Digital Elevation membentuk undak topografi yang membentuk Model). terdapat berbeda pula. Proses eksogen dan endogen terhadap nodul batulempung gampingan dan mengandung material yang berbeda akan menghasilkan bentuk mineral besi hasil oksidasi. komposisi batuan dan umur berbeda. Jadi objek penelitian ini adalah kelurusan topografi 1995) atau Plistosen Bawah (Djuhaeni & pada batuan Tersier dan Kuarter. Pola Kelurusan Topografi di Wilayah Majalengka. mawar sangat subjektif. lempung tufaan Tersier terdapat pola kelurusan topografi berbeda. Cara pendekatan melalui random sampling. 1999). 1995) atau Pliosen Bawah (Djuhaeni & Martodjojo. 1989). yang terdiri atas batupasir tufaan. Martodjojo. batuan Kuarter. berumur Plistosen hingga Holosen Berdasarkan uraian diatas. 1999). bersisipan batupasir tufaan. Pendekatan dengan Stratigrafi diagram mawar ini adalah awal jawaban untuk Batuan paling tua di daerah penelitian adalah mengetahui perkiraan kecenderungan arah dominan Formasi Cinambo. Formasi-formasi di atas diterobos oleh andesit yang berumur Kuarter (Djuri. .Pliosen). arah kelurusan batulempung gampingan. satuan geomorfologi yang terbentuk akan sama pula. satuan geomorfologinya yang terbentuk akan berlapis tebal. karena arah azimut 1995). batulempung. dan berumur Pliosen Atas (Djuri. konglomerat. hipotesis bahwa pada endapan Kuarter dan batuan yang terdiri atas batupasir tufaan. Satuan termuda adalah endapan aluvial. Metode yang dilakukan merupakan endapan hasil rombakan batuan yang SM adalah dengan mengukur arah kelurusan topografi lebih tua dan berumur Holosen. Maka dapat dibuat suatu selaras Formasi Kaliwangu adalah Formasi Citalang. Kelurusan Geologi Regional topografi ini dibuat diagram mawar (roset diagram) untuk setiap pola struktur. Berdasarkan perhitungan matematis basalt) dan Formasi Halang Anggota Atas (batupasir memperlihatkan kecenderungan arah kelurusan tufa. Batuan gunungapi. Menindih secara morfometri batuan Kuarter. Daerah penelitian tersusun berumur Pliosen Bawah (Djuri. (proses. Berdasarkan kajian ini. maka terdiri atas batulempung gampingan. Morfografi dapat lepas berukuran bongkah hingga lempung.

87 SM JG Gambar 2. dilakukan pengujian asumsi normalitas dan berumur Tersier homogenitas terhadap data arah azimut kelurusan topografi di dalam batuan berumur Kuarter dan H1: m1 ≠m2 Terdapat perbedaan pola kelurusan Tersier. jumlah topografi dari batuan berumur Kuarter sampel data yang cukup banyak (>200).4 %). 2 Mei 2014 hal. maka .84 J. Hipotesis Ho Hipotesis yang dibangun berdasarkan deduksi bahwa disusun sebagai berikut: keberadaan batuan Kuarter dan Tersier merupakan H0: m1 = m2 Tidak terdapat perbedaan pola sistem berbeda. 81 . Berdasarkan hal di atas. 15 No. 6. dengan n besar atau menuju N populasi. 1982). dan akan membentuk kelurusan kelurusan topografi dari batuan topografi berbeda. Untuk mencapai pengujian berumur Kuarter dengan batuan tersebut.972). Pengujian normalitas bisa dilakukan.G.M. Perhitungan menggunakan Pengujian hipotesis software Excell MS Word 2007. Data dengan batuan berumur Tersier memperlihatkan berdistribusi normal (Tabel 2). Vol. dianggap berbeda (t-test Two-Sample Assuming Unequal Varians). untuk mengetahui Untuk menguji hipotesis ini digunakan uji beda ada atau tidak ada perbedaan signifikan dikajian dengan uji beda rata-rata varians tak diketahui tetapi pendekatan secara kuantitatif.691) lebih kecil dari nilai ttabel (1.S. Kelurusan topografi pada batuan Tersier dan Kuarter topografi yang dihasilkan oleh diagram mawar distribusi bisa pula dianggap mendekati distribusi memperlihatkan perbedaan arah kecil (0 % sampai normal (Johnson & Wichern. Jika Nilai thitung (0.

4% o Baratdaya- 46.5 Utara-selatan Kuarter o 4 Sunda 0 0% o 8. Umur Batuan Azimut Perbedaan kelurusan o Baratdaya- 43. Pola No.5 tenggara Kuarter o 3 Sumatera 2 4.5 Barat-timur Kuarter o 2 Java 2 5.5 Utara-selatan Tersier Tabel 2.5 timurlaut Tersier o 88.5 tenggara Tersier o 8. Jawa Barat 85 Tabel 2. Hasil uji normalitas Liliefors kelurusan topografi di batuan Kuarter dan Tersier . Pola Kelurusan Topografi di Wilayah Majalengka.4% o 90.5 timurlaut Kuarter o 1 Meratus 3 6.4% JG Baratlaut- o 134.5 Barat-timur Tersier SM o Baratlaut- 136. Kecenderungan arah dan perbedaan arah kelurusan topografi berdasarkan diagram mawar.

040 (a=0.993 (a=0.037 (a=0. dan Kelurusan topografi di batuan Kuarter dan batuan Tersier. Hasil uji beda (T-test) dilihat pada Tabel 3. 2 Mei 2014 hal. 81 .05). dengan thit=0.971.05). Vol. Pola Jawa (barat. maka dan ttabel=2. Hasil pola kelurusan pada batuan Tersier dan Kuarter. dengan thit=0. Dengan taraf signifikansi a= 5% Pengujian selanjutnya adalah untuk mengetahui Kesimpulan apakah ada perbedaan antara pola kelurusan Pola Jika pada pengujian berdasarkan diagram rose. Sama-sama terkena deformasi. 15 No. uji beda (T-test.G. dan ttabel=1. Sehingga Sumatera menunjukkan tidak menunjukkan pola kelurusannya sama. dan Melalui uji beda (T-test) yang melibatkan seluruh Pola Sunda (utara-selatan) dalam kedua satuan. Kelurusan topografi pengaruh tektonik kepada dua batuan tersebut berpola Jawa. Ringkasan hasil pengujian statistik terhadap kasus tektonika di daerah Majalengka SM JG yang berarti hipotesis diterima. artinya menunjukkan perbedaan nyata. Maka dapat berpola Sunda tidak menunjukkan perbedaan yang disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan arah azimut signifikan.195.995 kelurusan topografi pada batuan Tersier dan batuan (a=0.S.239.86 J.05). timur). Meratus (baratdaya-timurlaut).M. Kelurusan topografi berpola terkena proses pelapukan hingga saat ini. dan berarti tidak perbedaan nyata. dengan t h i t =0.87 Tabel 3. dan sama terkena pengangkatan. kedua batuan mempunyai pola yang sama. dan terbukti adanya perbedaan arah kelurusan topografi ttabel=2. Hasil uji beda rata-rata pola kelurusan topografi di batuan Kuarter dan Tersier Tabel 3.737. Pola Sumatera (arah baratlaut-tenggara). dengan a=5%) menunjukkan bahwa hasilnya sebagai berikut: Tidak ada perbedaan kelurusan topografi pola Meratus menunjukkan tidak signifikan dari pola kelurusan tersebut. Kuarter. dan sama-sama ttabel=1. . kecenderungan arah pola kelurusan adalah sama. menunjukkan tidak terdapat adalah sama. sama- perbedaan yang signifikan dengan thit= -1.05).

Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. New Jersey. 1999. Jawa Barat. R.000. Jurnal Alami. 2008.A.. Meilano.. I. Soejono.H. D. Djuhaeni. H. 3. vol. Thesis Magister. Yogyakarta: 37-50. Jurnal Geologi Indonesia vol. Natawidjaja. Jawa.. Johnson. F. Proceeding Geologi dan Geoteknik Pulau Jawa. Pulunggono. Zakaria. 2: 77–88. H... T. Z. 1995. Djuri. 642p.. Crustal Deformation Studies in Java (Indonesia) using GPS. lingkungan dan mitigasi bencana. 1994. Geologi Indonesia.Z. Merupakan Peristiwa Tektonik Penting di Jawa. and Harjono.. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.. Daerah Majalengka. Jurnal air. 17 h. Vol.. D. 2007. Haryanto.. dan Martodjojo. SM JG . Andreas.H. Pola Kelurusan Topografi di Wilayah Majalengka. T. 2004. Program Studi Ilmu Kebumian. Nafiri. Kimata. Kato. and Wichern. Prentice-Hall. Natawidjaya. lahan. 76 hal. Journal of Earthquake and Tsunami. Diktat Pelatihan pemodelan run-up tsunami. 3. Perubahan Tektonik Paleogen-Neogen. tidak diterbitkan. Ristek. Tectonic setting Indonesia dan pemodelan sumber gempa dan tsunami. ITB. 1982.. World Scienti? c Publishing Company. no.4: 227-240.. Seismotektonik dan potensi kegempaan wilayah Jawa. I. skala 1:100. S. A. Stratigrafi daerah Majalengka dan hubungan-nya dengan tatanama satuan litostratigrafi di Cekungan Bogor. 9.. Tektonik Sesar Baribis.. D. Jawa Barat 87 Acuan Abidin. No. cetakan kedua. H. 12: 227-252. no.W. Peta Geologi Lembar Arjawinangun. A. Applied Multivariate Statistical Analysis. Kebencanaan Geologi dan Hubungannya dengan Aktivitas Tektonik di Jawa Barat Bagian Selatan. Soehaemi. 1989.. Ito.A. dan Martodjojo.. 2: 60-67. 2009.

JG SM .