You are on page 1of 42

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman yang sulit
bagi hampir semua pasien. Berbagai kemungkinan buruk bisa saja terjadi
yang akan membahayakan bagi pasien. Maka tak heran jika seringkali pasien
dan keluarganya menunjukkan sikap yang agak berlebihan dengan kecemasan
yang mereka alami. Kecemasan yang mereka alami biasanya terkait dengan
segala macam prosedur asing yang harus dijalani pasien dan juga ancaman
terhadap keselamatan jiwa akibat segala macam prosedur pembedahan dan
tindakan pembiusan. Perawat mempunyai peranan yang sangat penting dalam
setiap tindakan pembedahan baik pada masa sebelum, selama maupun setelah
operasi. Intervensi keperawatan yang tepat diperlukan untuk mempersiapkan
klien baik secara fisik maupun psikis. Tingkat keberhasilan pembedahan
sangat tergantung pada setiap tahapan yang dialami dan saling ketergantungan
antara tim kesehatan yang terkait (dokter bedah, dokter anstesi dan perawat)
di samping peranan pasien yang kooperatif selama proses perioperative.
Ada tiga faktor penting yang terkait dalam pembedahan, yaitu
penyakit pasien, jenis pembedahan yang dilakukan dan pasien sendiri. Dari
ketiga faktor tersebut faktor pasien merupakan hal yang paling penting,
karena bagi penyakit tersebut tidakan pembedahan adalah hal yang
baik/benar. Tetapi bagi pasien sendiri pembedahan mungkin merupakan hal
yang paling mengerikan yang pernah mereka alami. Mastoiditis terjadi
sebagai komplikasi otitis media akut yang diobati secara tidak memadai dan
merupakan perluasan infeksi ke dalam sistem sel udara mastoid yang berisi
udara dengan osteoporosis hiperemik, nekrosis karena tekanan dinding-
dinding sel tulang dan pembentukan empiema.
Munculnya mastoiditis biasanya terjadi pada anak yang mengalami
pemecahan membran timpani secara spontan selama otitis media dan yang
kemudian mengalami nyeri telinga yang makin mendenyut dengan
bertambahnya volume cairan purulen yang keluar dari telinga. Demam dapat

MASTOIDEKTOMI | 1

berlangsung terus menerus meskipun telah mendapat antibiotik.
Mastoiditis dapat terjadi pada pasien-pasien imunosupresi atau mereka
yang menelantarkan otitis media akut yang dideritanya. Penyakit ini agaknya
berkaitan dengan virulensi dari organisme penyebab yang hampir sama
dengan penyebab otitis media akut. Bila tidak segera tertangani akan terjadi
komplikasi serius seperti meningitis dan abses otot. Dari catatan medis di
salah satu rumah sakit di Jakarta Pusat sepanjang Januari 2004 sampai
Desember 2005 didapatkan 95 pasien dengan mastoiditis akut. Hanya pasien
yang belum mendapatkan pengobatan baik topikal ataupun sistemik
sekurangnya 5 hari terakhir yang dilakukan dalam penelitian. Angka kejadian
mastoiditis rata-rata 27 tahun termuda 5 tahun dan tertua 70 tahun terbanyak
antara 21-30 tahun (36,8%) terhadap kesamaan distribusi gender dalam
penelitian ini (laki-laki 53,7% dan wanita 46,3%).

Berdasarkan keterangan di atas, kami mengambil asuhan keperawatan
klien dengan Mastoiditis guna melakukan berbagai penatalaksanaan dan
intervensi mengenai mastoiditis yang biasa terjadi. dari berbagai macam
penatalaksanaan mastoiditis salah satunya adalah dengan cara pembedahan.
B. Tujuan
a. Tujuan Umum
1. Mengetahui konsep dasar keperawatan perioperati dengan klien
yang menjalani proses pembedahan yaitu mastoidektomi.
b. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mampu untuk menyebutkan definisi mastoiditis
2. Mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan perioperatif
pada pasien mastoditis

MASTOIDEKTOMI | 2

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. DEFINISI
Mastoiditis adalah inflamasi mastoid yang diakibatkan oleh suatu
infeksi pada telinga tengah, jika tak diobati dapat terjadi osteomielitis.
Mastoiditis adalah segala proses peradangan pada sel- selmastoid yang
terletak pada tulang temporal. Mastoiditis adalah inflamasi mastoid yang
diakibatkan oleh suatu infeksi pada telinga tengah, jika tak diobati dapat
terjadi osteomielitis.( Brunner dan Suddarth, 2000).

B. ETIOLOGI MASTOIDITIS
Mastoiditis terjadi karena Streptococcus ß hemoliticus / pneumococcus.
Selain itu kurang dalam menjaga kebersihan pada telinga seperti masuknya air
ke dalam telinga serta bakteri yang masuk dan bersarang yang dapat
menyebabkan infeksi. Menyebarnya infeksi dari telinga bagian tengah, infeksi
dan nanah mengumpul di sel-sel udara mastoid
Penyebab lain dari Mastoiditis antara lain:
1. Terjadi 2-3 minggu setelah otitis media akut
2. Klien imunosupresi atau orang yang menelantarkan otitis media akut
yang dideritanya. Berkaitan dengan virulensi dari organisme penyebab
otitis media akut yaitu streptococcus pnemonieae.
3. Bakteri lain yang sering ditemukan adalah adalah branhamella
catarrhalis, streptococcus group-A dan staphylococcus aureus
,streptococcus aureus. Bakteri yang biasanya muncul pada penderita
mastoiditis anak-anak adalah streptococcus pnemonieae.
C. KLASIFIKASI
Klasifikasi dari mastoiditis antara lain:
1. Akut mastoiditis, biasa terjadi pada anak-anak, sebagai komplikasi dari
otitis media akut suppurative.
2. Kronik mastoiditis, biasanya berkaitan dengan cholesteatome dan
penyakit telinga kronis.

MASTOIDEKTOMI | 3

3. Incipient mastoiditis, inflamasi yang terjadi akibat langsung di bagian
mastoid.
4. Coalescent mastoiditis, inflamasi yang terjadi akibat komplikasi dari
infeksi di organ tubuh yang lain.
D. PATOFISIOLOGI
Penyakit mastoiditis pada umumnya diawali dengan otitis media
yang tidak ditangani dengan baik. Biasanya otitis terjadi 2-3 minggu setelah
otitis media akut infeksi dan nanah menggumpal disel-sel udara mastoid.
Mastoiditis kronik dapat mengakibatkan pembentukan
kolesteatoma yang merupakan pertumbuhan kulit ke dalam
(epitelskuamosa) dari lapisan luar membran timpani ke tengah. Kulit dari
membran timpani lateral membentuk kantung luar yang akan berisi kulit
yang telah rusak dan baha sebaseur. Kantung dapat melekat kestruktur
telinga tengah dan mastoid. Bila tidak ditangani, kolesteatoma dapat
tumbuh terus dan menyebabkan paralisis nervus fasialis. Kehilangan
pendengaran sensori neural dan atau gangguan keseimbangan (akibat erusi
telinga dalam) dan abses otak .
Mastoiditis terjadi sebagai lanjutan dari otitis media supuratik
kronik, peradangan dari rongga telinga tengah menjalar ke tulang mastoid
melalui saluran aditus adantrum. Mastoiditis dibagi menjadi 2 macam, yaitu
bentuk jinak (benigna) dan bentuk ganas (maligna). Pada bentuk maligna
peradangan berlanjut ke dalam tulang tengkorak (intrakranial) sehingga
dapat terjadi meningitis, absissubdural, abses otak, tromboflebitis sinus,
lateralis, serta mungkin juga terjadi hidrosefalus.
Mastoiditis dapat terjadi pada pasien-pasien imunosupresi atau
mereka yang menelantarkan otitis media akut yang dideritanya. Penyakit
ini berkaitan dengan virulensi dari organisme penyebab. Organisme
penyebab yang lazim adalah sama dengan penyebab otitis media akut
yaitu streptococcus hemlytiens, pneumococcus, sthapilococcus aureus
lalbus, streptococcusviridans. Bakteri ini menyerang telinga bagian luar
kemudian menjalar ke cavum tympani. Cavum tympani mengalami
peradangan. Eksudat mulai terakumulasi. Kemudian infeksi menjalar ke

MASTOIDEKTOMI | 4

MANIFESTASI KLINIS Adapun manifestasi dari penyakit mastoiditis antara lain: 1. Demam biasanya hilang dan timbul. 2. hal ini disebabkan infeksi telinga tengah sebelumnya dan pemberian antibiotik pada awal-awal perjalanan penyakit. Akibat selanjutnya eksudat dan nanah menekan pembuluh darah dan penekanan ini menyebabkan nekrosis dan granulasi ruang abses. Tulang bagian dalam juga bisa mengalami peradangan (osteitis). E. mastoid menjadi meradang. terdapat demam. Peradangan mastoid ini bisa menjadi 4 macam yaitu jenis I yaitu mastoiditis disertai nanah dan jaringan granulasi. kemudian dapat menimbulkan edema dan ulserasi dibeberapa tempat. nyeri . Peningkatan akumulasi eksudat di telinga bagian dalam. jenis II mastoiditis dan kolesteatom. tulang mastoid. Nyeri cenderung menetap dan berdenyut. Hilangnya pendengaran dapat timbul atau tidak bergantung pada besarnya kompleks mastoid akibat infeksi. Gejala dari keluhan penyakit didapatkan keluarnya cairan dari dalam telinga yang selama lebih dari tiga minggu. hal ini menandakan bahwa pada infeksi telinga tengah sudah melibatkan organ mastoid. Komplikasi selanjutnya abses subperiosteum. terletak di sekitar dan di dalam telinga. Rasa nyeri biasanya dirasakan dibagian belakang telinga dan dirasakan lebih parah pada malam hari. 4. tetapi hal ini sulit didapatkan pada pasien- pasien yang masih bayi dan belum dapat berkomunikasi. mastoiditis campuran (campuran jenis 1 dan 2). dan gangguan pendengaran menyertai ottitis media akut. Mastoiditis yang sklerotik . Membrana timpani menonjol keluar. dinding posterior kanalis menggantung. dan mengalami nyeri tekan pada mastoid. Mastoiditis Koalesens Akut Pada kasus mastoiditis yang tidak terobati. Jika demam tetap dirasakan setelah pemberian antibiotik maka kecurigaan pada infeksi mastoid lebih besar. Eksudat bercampur nanah mencoba mencari jalan keluar. MASTOIDEKTOMI | 5 . 3. Bila mastoiditis ini terus berlanjut maka akumulasi eksudat dan nanah semakin meningkat.

MASTOIDEKTOMI | 6 . karena organisme penyebabnya mungkin Streptococcus β-hemoliticus atau Pneumococcus. Mastoiditis dapat terjadi pada pasien imunosupresi atau penderita yang mtidak mengobati otitis media akut yang dideritanya. dan pemberian antibiotik secara IV dan per oral dalam dosis besar. Penatalaksanaan awal berupa miringotomi yang cukup lebar. F. Infeksi Kronik Pada Telinga Tengah dan Mastoid Karena telinga tengah berhubungan dengan mastoid. biakan dan antibiotik yang sesuai diberikan secara intravena. maka otitis media kronik seringkali disertai dengan mastoiditis kronik. Terapi Harus segera dilakukan. H . pembengkakakn postaurikula mendorong pinna keluar dan kedepan. harus dilakukan mastoidektomi lengkap dengan segera untuk mencegah komplikasi serius seperti petrositis. dan nyeri tekan mastoid terutama di posterior dan sedikit diatas liang telinga ( segitiga Macewen) . PENATALAKSANAAN  Penatalaksanaan Medis 1. Hilangnya kontur dari masing-masing sel.influenza. meningitis dan abses otak. Tetapi harus juga sesuai dengan hasil test kultur dan hasil resistensi. Kedua peradangan ini dapat dianggap aktif dan inaktif. Pemeriksaan radiologis pada mastoiditis koalesens menunjukkan adanya opasifikasi sel-sel udara mastoid oleh cairan dan hilangnya trabekulasi normal dari sel-sel tersebut. membedakannya dengan hasil radiologis otitis media serosa dimana kontur sel tetap utuh. Organisme yang lazim menyebabkan mastoiditis sama halnya dengan penyebab otitis media akut.Penyakit ini berkaitan dengan virulensi dari organisme penyebab. labirintitis. Bila gambaran radiologis menunjukkan hilangnya pola trabekuler atau adanya progresi penyakit.

Pada mastoidektomi simple untuk OMSK. Masteidoktomi simple yang lengkap harus membuang seluruh sel-sel mastoid termasuk yang di sudut sinodura. sel mastoid di tegmen mastoid. a. menemukan antrum dan membuka aditus ad-antrum bila tersumbat. apakah enaural atau retroartikuler. Mastoidektomi 1) Mastoidektomi Sederhana Masteidoktomi sederhana adalah tindakan membuka kortek mastoid dari arah permukaan luarnya. cukup hanya membuang jaringan patologik dan membuka aditus ad antrum bila tersumbat. Seluruh jaringan yang terinfeksi harus dibuang sehingga infeksi tidak menyebar ke bagian yang lain. 2) Mastoidektomi Superfisial MASTOIDEKTOMI | 7 . dan sampai seluruh sel-sel mastoid di mastoid tip. membuang jaringan patologis seperti pembusukan tulang atau jaringan lunak. b) Operasi pada bagian tulang Mastoidektomi simple adalah tindakan membuang seluruh sel- sel mastoid dengan tetap memperetahankan keutuhan tulang dinding belakang liang telinga. Mastoidektomi dibedakan menjadi : a) Operasi pada jaringan lunak Operasi pada jaringan lunak tergantung pendekatan yang akan dipakai. jarang sekali dibutuhkan mastoidektomi simple lengkap. sedangkan sel pneumatisasi mastoid yang masih utuh tidak perlu dibuang. Pembedahan Tindakan pembedahan untuk membuang jaringan yang terinfeksi diperlukan jika tidak ada respon terhadap pengobatan antibiotik selama beberapa hari.2. Mastoidektomy radikal/total yang sederhana atau yang dimodifikasi dengan tympanoplasty dilaksanakan untuk memu-lihkan ossicles dan membran timpani sebagai suatu usaha untuk memulihkan pendengaran.

Ewen akan ditemukan antrum mastoid. yaitu pembersihan total sel-sel mastoid di sudut sino-dura. muara tuba eustachius MASTOIDEKTOMI | 8 . spina Henle. di daerah segitiga Trautman. Sebelum pengeboran. modified radical mastoidectomy. c) Fosa Indikus paling mudah dicapai dengan mengebor bagian tulang prosesus zigomatikus yang menutupi antrum. Irigasi juga berguna untuk meredam panas yang ditimbulkan gesekan mata bor dengan tulang.Ewen. Mastoidektomi radikal yang klasik adalah tindakan membuang seluruh sel-sel mastoid di rongga mastoid. linea temporalis. Mukosa kavum timpani juga dibuang seluruhnya. permukaan tulang diirigasi lebih dahulu agar serbuk tulang tidak bertebangan. 4) Mastoidektomi Radikal dan Timpanoplasti dinding runtuh Timpanoplasti dinding runtuh (canal wall down tympanoplasty. 3) Mastoidektomi dalam a) Antrum mastoid adalah ruang di rongga mastoid yang harus dituju pada setiap mastoidektomi karena ruangan ini berhubungan langsung dengan aditus ad antrum yang menghubungkan rongga mastoid dengan kavum timpani. meruntuhkan dinding belakang liang telinga. segitiga Mc. b) Aditus ad Antrum dapat ditemukan dengan menyusuri bagian anterior-superior pertemuan dinding belakang liang telinga dengan tegmen mastoid. juga dengan melakukan pengeboran di rongga mastoid bertepatan dengan tegmen mastoid. open method tympanoplasty) adalah modifikasi dari mastoidektomi radilkal. prosesus mastoid. Dengan melanjutkan pengeboran langsung di belakang liang telinga dengan menjaga dinding liang telinga tetap utuh tetapi tipis. maka di sebelah dalam segitiga imajiner Mc.pada tahap ini mata bor yang dipakai adalah mata bor yang paling besar. Patokan pada tahap ini adalah dinding belakang liang telinga. pembersihan seluruh sel mastoid yang mempunyai drainage ke kavum timpani.

temporalis baik berupa tandur (free fascia graft) ataupun sebagai jabir fasia m. dibalut didalam kanal auditori. Sampai saat itu. pertahankan sedikitnya selama 12 jam post operasi. dressing luar ditempatkan diatas tempat operasi. Kemudian kavitas operasi ditutup dengan fasila m. Umumnya klien melaporkan mengalami kemajuan setelah balutan pada kanal dilepaskan. Bedanya adalah mukosa kavum timpani dan sisa tulang-tulang pendengaran dipertahankan setelah proses patologis dibersihkan sebersih-bersihnya. Perawatan Pre-operasi Perawat mengajarkan secara khusus pada klien yang dijadwalkan untuk menjalani tympanoplasty. Maksud tindakan ini adalah untuk membuang seluruh jaringan patologis dan meninggalkan kavitas operasi yang kering. Dilakukan juga rekonstruksi tulang-tulang pendengaran. Tuba eustachius tetap dipertahankan. Post operasi Rendaman antiseptik gauze (An Antiseptic-Soaked Gauze). bahkan dibersihkan agar terbuka bila tertutup jaringan patologis. Mukosa sel-sel mastoid atau kavum timpani yang tertinggal akan meninggalkan kavitas operasi yang basah yang rentan terhadap peradangan. Pada timpanoplasti dinding runtuh. maka diusahakan pembersihan total sel-sel mastoid. seperti pada mastoidektomi radikal. Dressing dijaga/dipertahankan kebersih-an dan kekeringannya. Klien tetap dalam posisi datar dengan telinga diatas. ditutup dengan tandur jaringan lunak. Apabila dilakukan insisi postauricular atau endaural.temporalis. Perawat menggunakan teknik steril ketika mengganti dressing. Terapi antibiotik profilaksis digunakan untuk mencegah kekambuhan. 2. perawat menggunakan teknik komunikasi khusus karena adanya gangguan pendengaran pada klien dan melakukan MASTOIDEKTOMI | 9 . seperti Iodoform gauze (Nuga-uze).  Penatalaksanaan Keperawatan Penatalaksanaan keperawatan pada klien dengan mastoiditis antara lain: 1.

2000). Mastoiditis adalah segala proses peradangan pada sel. Mastoiditis marupakan peradangan kronik yang mengenai rongga mastoid dan komplikasi dari otitis media kronis. jika tak diobati dapat terjadi osteomielitis. namun demikian hubungannnya dengan rongga telinga tengah juga bisa mengakibatkan perluasan infeksi dari telinga tengah ke tulang mastoid yang disebut sebagai mastoid itis Struktur didalam tulang Mastoid. ( Reeves. Indikasi Pembedahan Tulang mastoid adalah tulang keras yang terletak di belakang telinga.( Brunner dan Suddarth. Rongga-rongga udara ini ( air cells ) terhubung dengan rongga besar yang disebut antrum mastoid. Aditus ad antrum adalah saluran yang menghubungkan antrum dengan epitimpani. percakapan langsung pada telinga yang tidak terganggu. 3. Mastoiditis adalah inflamasi mastoid yang diakibatkan oleh suatu infeksi pada telinga tengah. Mastoiditis adalah inflamasi mastoid yang diakibatkan oleh suatu infeksi pada telinga tengah. 2001 ) MASTOIDEKTOMI | 10 . didalamnya terdapat rongga seperti sarang lebah yang berisi udara. yaitu antrum mastoid ( rongga di belakang epitimpani/ atik). Kegunaan air cells ini adalah sebagai udara cadangan yang membantu pergerakan normal dari gendang telinga. Perawat melatih klien mengenai perawatan post operasi. Lempeng dura (dura plate) adalah lempeng tips yang keras dibanding tulang sekitarnya yang membatasi rongga mastoid dengan sinus lateralis.selmastoid yang terletak pada tulang temporal. Pemberian bubuk atau obat tetes yang biasanya mengandung antibiotik dan steroid. G. Mastoiditis kronis adalah suatu infeksi bakteri pada prosesus mastoideus (tulang yang menonjol dibelakang telinga)yang berlangsung cukup lama. Lapisan epitel dari telinga tengah adalah sambungan dari lapisan epitel sel – sel mastoid udara yang melekat ditulang temporal. jika tak diobati dapat terjadi osteomielitis.

2. Tujuan mastoidektomi adalah menghindari kerusakan lebih lanjut terhadap organ telinga dan sekitarnya. Mencegah komplikasi lebih lanjut dari mastoiditis yaitu meningitis. 4. Untuk mengobati mastoiditis yang sudah tidak respon terhadap antibiotika. Melakukan operasi pada keganasan disekitar telinga. dalam rangka memperbaiki trauma pada n. Mastoiditis adalah sel-sel udara mastoid sering kali terlibat. Mastoidektomi Mastoidektomi adalah prosedur pembedahan untuk menghilangkan proses infeksi pada tulang mastoid. abses otak. 2006) a. trombosis pada vena otak. Indikasi Mastoidektomi 1. VII MASTOIDEKTOMI | 11 .menimbulkan peradangan dan nekrosis tulang yang terlokalisasi dan ekstensif (osteomyelitis). b. Kolesteatoma 5. (Parakrama. 3.

WOC MASTOIDITIS Otitis media akut Bakteri Tidak ditangani (Streptococcus aureus. Streptococcus dengan baik Masuk cavum mastoid Perluasan infeksi ke dalam sistim sel udara Mastoiditis Tindakan operatif Mastoiditis benigna Mastoiditis maligna Pre operasi mastoidektomi Post operasi mastoidektomi Kurang pengetahuan Luka insisi Infeksi telinga tengah Infeksi terjadi berulang Kerusakan jaringan Terjadi inflamasi jaringan Mukosa menebal Ansietas Penekanan Produk infeksi Risiko infeksi Nyeri pembuluh darah menyebar ke tulang Produksi infeksi menyebar Menyebar ke labirin Terjadi ke telinga dalam peradangan Labyrintitis Ketulian sensori neural Bakteri berkembang Keseimbangan biak dan toksin Perubahan tubuh terganggu Metabolisme persepsi sensori Defisiensi efektor tubuh meningkat auditorius Risiko cidera Hipertermi MASTOIDEKTOMI | 12 .

Kemudian dipasang duk berlubang plastik steril dengan daun telinga terlihat melalui lubang. Untuk insisi pascaoperatif dan endaural. Menghindari orang-orang yang terinfeksi saluran pernafasan atas. Perawat menerangkan pentingnya bernafas dalam setelah operasi. mempertahankan intake cairan yang adekuat.H. b. Mengenai cara batuk yang benar juga perlu diterangkan dan hindari batuk yang kuat. karena dapat meningkatkan tekanan di telinga tengah. Perawat meyakinkan klien bahwa prosedur yang dilaksanakan bertujuan untuk memperbaiki pendengaran. Dianjurkan disekitar telinga dipasang duk plastic yang melekat sebelum persiapan pembedahan. Bagian belakang telinga atau daerah mastoid dibersihkan dengan larutan antimikroba topical selama beberapa saat setelah anjuran. Rambut lebih baik di gunting daripada dicukur. diet yang seimbang dan 4. MASTOIDEKTOMI | 13 . Persiapan Pre Operasi a. 3. 2. 5 cm rambut didepan.5 cm diatas dan di depan telinga supaya pemasangan duk dan pembalut pascaoperatif menjadi lebih mudah. Perawat Perawat mengajarkan secara khusus pada klien yang dijadwalkan untuk menjalani mastoidektomi. di atas dan dibelakang telinga harus digunting. Beristirahat yang cukup. Hal-hal yang harus dilakukan klien agar tidak terjadi infeksi pre-operasi seperti: 1. Telinga dipersiapkan dalam keadaan bersih. Klien Untuk insisi ahli bedah mungkin meminta untuk mengambil rambut 2. meskipun pada awalnya pendengarannya akan berkurang karena adanya balutan di kanal. karena pencukuran dapat menimbulkan trauma pada kulit dan meningkatkan risiko infeksi.

Banyak instrument sangat halus yang memerlukan penanganan dan perawatan yang khusus. yaitu straight and angel 15. Resparatorium Perios 13. Kuret besar memiliki risiko menimbulkan cedera dura dan saraf fasialis yang lebih kecil. gigi 2) 2. rongeur dan instrument pembedahan mikro.  Set alat : 1. Cauter dan kabelnya serta power suplaynya 10.I. ada 3 macam (cutting buur/ kasar untuk mengikis tulang dengan cepat. pisau. Kuret tajam lebih disukai dibandingkan dengan kuret tumpul karena alat tersebut dapat memotong tanpa memerlukan banyak tekanan dan lebih efektif. Scalpel handle 3. Spuit 3 ml dan 5 ml dengan jarum 6. dengan fokus lensa obyektif 25 cm sehingga tangan operator leluasa untuk operasi. Spekulum telinga 7. Mata Bor. elevator periosteum. (gigi 3. Handpiece. Mosquito forcep 9. Klem arteri 5. Instrument yang sering digunakan untuk pembedahan telinga :  Mikroskop operasi. kuret. Needle holder 13 cm 8. Blade scalpel no 15 dan 11 4. Prosedur Operasi a. Macam Hak (hook) 14. Wullstein Retraktor minimal 2 buah. Berbagai macam Forcep mikro 12. Instrumen Intrumentasi untuk pembedahan otologik mencakup forsep alligator. polizing burr/ lebih halus permukaannya dan diamond buur/ lebih halus dan tajam MASTOIDEKTOMI | 14 . Setiap isntrumen harus diperiksa praoperatif untuk memastikan bahwa instrument tersebut bekerja dengan baik. Gunting 11.

disesuaikan dengan kondisi dan tingkat keparahan penyakit pasien. Dibawah kepala pasien dapat diletakkan sebuah bantal busa kenyamanan dan mencegah tekanan pada daun telinga yang terletak dibwah. Elevator freer b. dan tenggorokan. jika dinding lorong di bagian belakang dan depan telinga ikut dibuang. Prosedur dikatakan sederhana apabila hanya mengangkat sel berpenyakit pada tulang mastoid. serta memerlukan pelaksanaan mentoplasti MASTOIDEKTOMI | 15 . Prosedur bedah pengangkatan sel udara mastoid dapat dilaksanakan menggunakan metode yang berbeda. Kuret 20. 16. Langkah Operasi Mastoidektomi dilakukan oleh dokter bedah spesialis THT. Pahat dan Palu 19. Meja Mayo diletakkan diatas kepala pasien dan duk diletakkan pada posisi tertentu agar pasien dapat melihat dan perawat dapat melihat pasien serta menenangkan pasien selama prosedur. yang memiliki spesialisasi menangani penyakit telinga. Dinamo Injakan kaki 17. Apabila prosedur dilakukan dibawah anastesi local. Namun. maka kepala dapat diikat pada posisinya dengan plester 2 inci yang ditempelkan melalui dahi pasien dan dihubungkan ketempat tidur ruang operasi . Sucction dan sucction tip 21. 3mm (sedang ) dan 6 mm ( besar ). hidung. Bisa disediakan berbagai ukuran dengan diameter 1mm (kecil). untuk bekerja di tempat-tempat rentan). Mesin pengebor 18. Posisi Klien Saat Operasi Sebagian besar pasien diletakkan dalam posisi terlentang (supine/dorsal) dengan telinga yang sakit diatas. c. Ukuran kecil sedang dan besar sebaiknya disediakan.

Tulang ini kemudian dipotong terbuka menggunakan alat bor. Pasien boleh mandi asalkan sebelumnya liang telinga ditutup baik-baik dengan kapas yang diberi salep. sehingga sel udara mastoid dapat terlihat jelas dan diangkat. (prosedur untuk membesarkan kartigo lateral pada kanal auditori telinga luar). Antibiotika tergantung tergantung tanda-tanda infeksi yang ditemukan. sementara area bedah akan diberi pengairan untuk memastikan tidak ada penumpukan debu tulang. Dressing dijaga/dipertahankan kebersihan dan kekeringannya. biasanya di belakang telinga. Bila bedah telah selesai. Perawatan Pasca Operasi Infus dengan cairan antibiotika tetap terpasang dalam rangka mengatasi dehidrasi apabila pasien muntah-muntah hebat karena terangsangnya labirin atau post narkose. dokter memberi antiseptik pada area sayatan untuk mencegah infeksi. namun dapat juga langsung ke dalam telinga. Setelah itu pasien diinstruksikan untuk menetes obat tetes telinga pada malam hari. maka disebut mastoidektomi radikal. Dokter bedah akan menandai area yang perlu disayat. Dokter akan membuat sayatan untuk mengakses tulang mastoid. Kemudian. Pasien ini idealnya diikuti sampai bertahun-tahun paska operasi. sayatan akan dijahit dan area pembedahan akan ditutup dengan kain gauze. Cairan telinga dalam perlu dibersihkan. Perban dibuka sekitar 3 hari. Jika infeksi telah menjalar pada hampir seluruh bagian tulang mastoid. Gelfoam/spongostan dapat diangkat pada minggu ke 2 atau 3. maka tulang harus diangkat. Audiometri nada murni dilakukan setelah 3-4 bulan pasca operasi. Klien tetap dalam posisi datar dengan telinga diatas. d.VII karena narkose sering menyebabkan parese tidak jelas. Prosedur dimulai dengan memberi bius total pada pasien yang berbaring telentang dan telinga yang sakit dibiarkan terbuka. Perawat menggunakan teknik steril ketika mengganti dressing. pertahankan sedikitnya MASTOIDEKTOMI | 16 . tampon liang telinga bagian luar sebaiknya diangkat sekalian dan pada hari ketujuh lepas jahitan. Observasi fungsi motorik N.

Terapi antibiotik profilaksis digunakan untuk mencegah kekambuhan. Dapat muncul atau keluar cairan yang berbau dari telinga. c. B2 (Blood) Tidak ada keluhan/masalah. Riwayat penyakit keluarga Sejak kapan klien menderita masalah penyakit tersebut dan apakah ada keluarga klien yang menderita penyakit yang sama. suku bangsa. jenis kelamin. diagnosa medis b. febris (demam). MASTOIDEKTOMI | 17 . adanya nyeri dan rasa penuh di belakang telinga. e. J. Konsep dasar Asuhan Keperawatan Perioperatif a) Pengkajian a. Keluhan utama Keluhan yang spesifik biasanya dirasakan dapat berupa. Biodata Biodata pasien yang harus dikaji meliputi nama. alamat. pendengaran berkurang c. Riwayat penyakit sekarang. Biasanya diawali adanya otitis media akut setelah 2-3 minggu tanpa penanganan yang baik nanah dan infeksi menyebar ke sel udara mastoid. pekerjaan. B1 (Breathing) Tidak ada keluhan/masalah b. pusing. nomor register. B3 (Brain) Sakit kepala. timbul nyeri di telinga dan demam hilang timbul. Riwayat penyakit dahulu Penderita mastoiditis seringkali diawali atau mempunyai riwayat penyakit dahulu berupa adanya otitis media kronik karena adanya episode berulang. b) Pemeriksaan fisik a. pendidikan. d. agama. umur. selama 12 jam post operasi.

limphadonitis retroauricularis ataupun athoroma yang mengalami infokasi d) Diagnosa Keperawatan a. Gangguan persepsi sensori auditori b/d perubahan sensori persepsi 2. c) Pemeriksaan diagnostik Pada X foto mastoid Schuller tampak kerusakan sel – sel mastoid (Rongga Empiema). Cemas berhubungan dengan prosedur tindakan pembedahan b. Post Operasi 1. Pre Operasi 1. B5 (Bowel) Mual. B6 (Bone) Nyeri tulang Mastoid. B4 (Blader) Tidak ada keluhan/masalah e. Anoreksi f. d. Nyeri akut berhubungan dengan peradangan pada tulang mastoid akibat infeksi 3. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan adanya luka post operasi MASTOIDEKTOMI | 18 . Nyeri berhubungan dengan tindakan pasca pembedahan mastoidektomi 2. Resiko terjadi injuri / trauma berhubungan dengan ketidakseimbangan labirin : vertigo 4.

5. ngaran yang sudah ada. Kolaborasi dengan dokter untuk 2. Pre Operasi NO TUJUAN DAN KRITERIA INTERVENSI RASIONAL DX HASIL Setelah dilakukan tindakan 1. 3. rr. purulent pada pasien. memungkinkan pemberian intervensi teratasi dengan kriteria hasil : 4. sehingga menambah masalah pende-  Telinga tampak bersih. Lakukan irigasi telinga dengan air masalah pendengaran yang ada (audiotory) pada pasien dapat hangat. td ) tiap 8 jam. Kaji tanda awal kehilangan pendengaran 1. Penghentian terapi antibiotika sebelum waktunya dapat menyebabkan organisme sisa berkembang biak sehingga infeksi akan berlanjut MASTOIDEKTOMI | 19 . Monitor ttv ( s. telinga atau terhadap masalah- Gangguan persepsi sensori 3. permanen. Serumen yang letaknya tersembunyi 1  Tidak terdapat cairan dari pemberian antibiotika. Kolaborasi dengan dokter untuk sebelum pendengaran rusak secara  Tidak terdapat otorrhea yg pemberian obat tetes telinga. dapat menyebabkan tuli konduktif dan di telinga pasien. n.e) Perencanaan Keperawatan a. Diagnosa awal terhadap keadaan keperawatan selama 3×24 jam 2.

sedangkan relaksasi untuk c. Setelah dilakukan tindakan 1. MASTOIDEKTOMI | 20 . hasil : mengurangi pusing 3. Untuk mencegah pasien jatuh dapat teratasi dengan kriteria 4. dan ati mengurangi intensitas nyeri. Kolaborasi dengan tim medis lain dalam akan meningkatkan relaks yang dpat a. Observasi tanda vital pendengaran. Skala nyeri turun (1-3) oksigen. dan mnegurangi peradangan sehingga mempercepat penyembuhan 3 Setelah dilakukan tindakan 1. Mengurangi nyeri kepala sehingga . 4. Kaji ketidakseimbangan tubuh pasien 1. diharapkan resiko injuri/trauma 3. antibiotik. nyeri teratasi dengan kriteria 3. TD normal (120/80 mmHg) 5. Distraksi untuk meningkatkan suplai 2 b. Menentukan langkah yang tepat keperawatan selama 3x24 jam 2. berkurang inflamasi sesuai indikasi 3. Berikan posisi yang nyaman dalam melakukan penanganan nyeri. intensitas 1. Pasien mengatakan nyeri pemberian analgesik. Kolaborasi pemberian analgetik terhindar . Beri lingkungan yang aman dan nyaman 2. Ajarkan teknik distraksi dan relaksas 2. Kaji ulang skala nyeri. Dapat mengurangi nyeri. membubuh kuman. Wajah pasien tampak tidak mengalihkan perhatian klien meringis sehingga nyeri dapat berkurang. lokasi. Pemberikan posisi yang nyaman hasil 4. Berhubungan dengan kehilangan keperawatan selama 24 jam 2. Anjurkan teknik relaksasi untuk akibat gangguan keseimbangan.

Dukungan dari bebarapa orang yang 2. Kaji tingkat kecemasan pasien dan 1. Jelaskan pada pasien tentang apa yang potensial dari pembalikan reaksi criteria hasil : harus dilakukan sebelum dan sesudah terhadap prosedur/ zat-zat anestesi. Berikan reinforcement positif atas memiliki pengalaman yang sama akan sangat membantu klien. Libatkan keluarga untuk memberikan semangat pada pasien MASTOIDEKTOMI | 21 . . Rasa takut yang berlebihan/ terus- keperawatan selama 24 jam keluarga tentang prosedur tindakan menerus akan mengakibatkan reaksi diharapkan Kecemasan pasien pembedahan stress yang berlebihan. Pasien dan keluarga tidak cemas tindakan pembedahan 2. Pasien tidak mengalami injuri Setelah dilakukan tindakan 1. HR : 80-100x/mnt 1. risiko berkurang / hilang dengan 2. Keluarga mau menemani pasien 3. Pusing berkurang . 4 1. kemampuan pasien 4. .

Pemberikan posisi yang nyaman akan kriteria hasil : 3. Menentukan langkah yang tepat keperawatan selama 3×24 jam 2. Beri posisi yang nyaman mengalihkan perhatian klien sehingga 2. nyeri pasien teratasi dengan memperingan nyeri 2. 4. terjadi dengan kriteria hasil : 3. Observasi pasien bakteri. b. Distraksi untuk meningkatkan suplai berkurang istirahat baring oksigen. Post Operasi NO TUJUAN DAN KRITERIA INTERVENSI RASIONAL DX HASIL 1 setelah dilakukan tindakan 1. membubuh kuman. Kaji tingkat nyeri pasien 1. Anjarkan pada pasien untuk banyak 3. Memberikan deteksi dini terjadinya MASTOIDEKTOMI | 22 . skala nyeri berkurang (1-3) 5. Menurunkan resiko penyebaran diharapkan Resiko infeksi tidak 2. sedangkan relaksasi untuk 2. Kaji faktor yang memperberat dan dalam melakukan penanganan nyeri. Dapat mengurangi nyeri. Dugaan adanya infeksi. Lakukan perawatan ganti balutan 3. verbal bahwa nyeri telah 4. keperawatan selama 3 x 24 jam tanda-tanda infeksi 2. Kolaborasi pemberian analgetik nyeri dapat berkurang. 6. Kaji kemungkinan terjadi infeksi / 1. klien mengungkapkan secara menghilangkan nyeri mengurangi intensitas nyeri. Ajarkan teknik relaksasi untuk meningkatkan relaks yang dpat 1. dan mnegurangi peradangan sehingga mempercepat penyembuhan 2 Setelah dilakukan tindakan 1.

Anjurkan pasien untuk control 9. Pasang pembalut tekan bila dilakukan 4. Infeksi tidak terjadi dengan teknik steril proses infeksi dan / atau pengawasan 2. 6. Bersihkan daerah operasi setelah 2 – 3 untuk menurunkan penyebaran dan minggu pertumbuhan mikroorganisme/bakteri 8. Ganti tampon setiap hari sebelumnya. Kaji keadaan daerah operasi penyembuhan yang telah ada 5.1. Luka operasi dalam kondisi baik 4. Mungkin diberikan secara prifilaktik insisi mastoid atau menurunkan jumlah organisme 7. Kolaborasi pemeberian antibiotik MASTOIDEKTOMI | 23 .

RR. berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat tetes telinga 5. berkolaborasi dengan tim medis lain dalam pemberian analgesik. 3. Wajah pasien tampak tidak meringis 4. 1. lokasi. TD ) tiap 8 jam. Pasien mengatakan nyeri berkurang 2. HR : 80-100x/mnt 3. melakukan irigasi telinga dengan air hangat. menganjurkan teknik relaksasi untuk mengurangi pusing 4. Tidak terdapat otorrhoe yang purulent pada pasien. intensitas 1. mengkaji ulang skala nyeri. 2. berkolaborasi pemberian analgetik MASTOIDEKTOMI | 24 . mengajarkan teknik distraksi dan relaksai 3. 2. dan ati inflamasi sesuai indikasi 1. memberikan lingkungan yang aman dan nyaman 3. Pre Operatif No Pelaksanaan Evaluasi 1. Pasien tidak mengalami injuri 5. mengkaji ketidakseimbangan tubuh pasien 1. Tidak terdapat cairan dari dan di telinga pasien 3. Memonitor TTV ( S. Telinga tampak bersih. f) Pelaksanaan dan Evaluasi Keperawatan a. TD normal (120/80 mmHg) 2. memberikan posisi yang nyaman 2. mengkaji tanda awal kehilangan pendengaran 1. Skala nyeri turun (1-3) 3. N. berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotika. 4. antibiotik. Pusing berkurang 4. mengobservasi tanda vital 2.

Infeksi tidak terjadi 2. Keluarga mau menemani pasien 2. mengkaji keadaan daerah operasi 5. lokasi. berkolaborasi dengan tim medis lain dalam pemberian analgesik. mengajarkan teknik distraksi dan relaksai 3. antibiotik. mengkaji tingkat kecemasan pasien dan keluarga tentang 1. Wajah pasien tampak tidak meringis 4. Pasien mengatakan nyeri berkurang 2. mengkaji kemungkinan terjadi infeksi / tanda-tanda infeksi 1. dan ati inflamasi sesuai indikasi 2 1. melakukan perawatan ganti balutan dengan teknik steril 4. memberikan posisi yang nyaman 2. 1. Post Operatif No Pelaksanaan Evaluasi 1 1. Pasien dan keluarga tidak cemas prosedur tindakan pembedahan 2. intensitas 1. Skala nyeri turun (1-3) 3. mengganti tampon setiap hari MASTOIDEKTOMI | 25 . menjelaskan pada pasien tentang apa yang harus dilakukan sebelum dan sesudah tindakan pembedahan 3. mengbbservasi pasien 2. memberikan reinforcement positif atas kemampuan pasien Libatkan keluarga untuk memberikan semangat pada pasien b. Luka operasi dalam kondisi baik 3. mengkaji ulang skala nyeri.

membersihkan daerah operasi setelah 2 – 3 minggu 8. memasang pembalut tekan bila dilakukan insisi mastoid 7.6. menganjurkan pasien untuk control 9. berkolaborasi pemeberian antibiotik MASTOIDEKTOMI | 26 .

Kemerahan pada kompleks mastoid. skala nyeri 6. klien juga mengatakan terasa nyeri pada kedua tulang telinga bagian belakang. Biodata Nama Pasien :Ny. keluarnya cairan baik bening maupun berupa lendir dan pus. Klien mengeluh 1 bulan terakhir telinga kanan dan kiri sering basah karena keluar cairan dari dalam telinga. S Umur : 45 tahun Agama : Islam Suku : Jawa Pendidikan : SD Pekerjaan :Ibu Rumah Tangga Status pernikahan :Menikah Alamat :Jl. BAB III CONTOH ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN SISTEM PENDENGARAN “MASTOIDITIS” Contoh Kasus Ny.45 WIB Tanggal Pengkajian : 18 agustus 2011 Jam Pengkajian : 09:00 1. Diagnosa Medis :Mastoiditis MASTOIDEKTOMI | 27 . suhu 38.8oC. klien mengatakan badannya terasa demam dan kepalanya kadang. klien datang dengan keluhan pendengaran telinga kiri dan kanan menurun atau tidak mendengar sejak 2 tahun yang lalu. dari hasil pengkajian didapatkan tanda-tanda vital sebagai berikut TD 130/80 mmHg. nadi 84x/mnt.patimura no 64 B sleman. S berusia 40 tahun dirawat di RS Respati Yogyakarta sejak 1 hari yang lalu.kadang pusing. RR 24x/menit. A. Pengkajian Tanggal Masuk : 18 agustus 2011 Jam : 8.

Riwayat Penyakit Dahulu Tuli konduksi. bentuk kepala simetris.2. Hidung Bentuk hidung simetris. tidak ada lesi. c. Klien tidak memiliki riwayat alergi. Riwayat penyakit keluarga Keluarga klien tidak mempunyai riwayat penyakit keluarga seperti hipertensi. konjungtiva tampak anemis. Keluhan Utama Klien mengatakan pendengaran telinga kanan dan kiri menurun atau tidak mendengar sejak 2 tahun. asma. tidak ada nyeri tekan sinus MASTOIDEKTOMI | 28 . 4. Kesadaran : Composmetis c. Kepala dan kulit Kulit tampak bersih. Riwayat Penyakit Sekarang Nyeri pada kedua telinga bagian belakang dengan skala nyeri yaitu 6 dan 1 bulan ini telinga kanan dan kiri sering basah akibat keluarnya cairan dari dalam telinga. Keadaan umum : klien tampak sakit ringan b. terdapat reflek cahaya pada pupil.80C e. sklera terlihat putih. perforasi membran timpani/perforasi sub total. Vital Sign :TD :130/80 mmHg Nadi : 84x/mnit Respirasi : 24x/mnit Suhu : 38. b. penyakit jantung koroner. tidak ada lesi f. tidak ada nyeri tekan. tidak sianosis. tidak ada benjolan. bentuk muka simetris. tidak ada kotoran. GCS : 15 (E4 V5 M6) d. tidak ada benjolan. pupil isokor. Riwayat Kesehatan a. g. Pemeriksaan fisik a. DM. 3. Mata Bentuk mata simetris.

Abdomen Bentuk abdomen datar/simetris. m. tidak tampak ictus kordis. tidak ada karies gigi i. Rektum Tidak terkaji o. Mulut Bentuk mulut simetris. CRT <2 detik. terdapat pembengkakan pada kedua telinga bagian belakang. Dada Bentuk simetris. tidak ada kesulitan menelan k. tidak sianosis. tampak kemerahan. tidak ada benjolan. tidak ada pembesaran hepar. perkusi terdengan redup pada area jantung. akral teraba hangat. tidak ada suara napas tambahan. MASTOIDEKTOMI | 29 . tidak ada pembesran kelenjar tiroid maupun pembesaran JVP. pengembangan dan taktil fremitus antara dada kiri dan kanan sama. tidak ada lesi. perkusi terdengar timpani. tidak tampak ada kelemahan otot.h. ada benjolan di perut bagian bawah saat di palpasi benjolan teraba padat benjolan menetap. tidak ada lesi. diameter 1cm. Ekstremitas Bentuk ekstremitas simetris atas dan bawah. Telinga Bentuk simetris. tidak ada bunyi jantung tambahan l. mukosa bibir lembap. bunyi napas vesikuler. peristaltik usus 15x/menit. bunyi jantung reguler. terdapat nyeri tekan pada tulang mastoid j. tampak cairan/serumen/pus. Genitalia Tidak terkaji n. perkusi dada terdengar sonor. Leher Bentuk simetris.

Ct-scan. mastoid dan telinga dalam. b. Terapi atau Pengobatan a. Mefenamat acid 3x500 mg ANALISA DATA TGL/ PROBLE DATA FOKUS ETIOLOGI JAM M DS 1. c. Klien mengatakan nyeri pada bagian 18 belakang telinga kiri dan kanan agust 3. mastoiditis bilateral tipe sklerotik. TTV: TD 130/80 mmHg. Terdapat kemerahan di telinga bagian wib belakang 2. tampak infeksi telinga tengah 7. Otoskopi. yang memperlihatkan penebalan mukosa dalam rongga telinga tengah di samping dalam rongga mastoid. Foto Rotgen. Klindamycin 3x300 mg. Psikososio a. Klien mudah tersinggung b. jarak harus dekat dengan klien. Psikologi Perilaku verbal pasien kurang komunikatif. bicara dengan klien harus keras dan menggunakan isyarat dengan tangan. Klien mengatakan nyeri terjadi saat klien beraktivitas dan berkurang saat klien duduk dan istrahat 2. Sosio Klien kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang di sekitarnya. keadaan emosi pasien tidak stabil karena ia merasa cemas dengan kondisinya. Terdapat nyeri tekan tulang mastoid 3. c. N 84x/mnt. Infus RL 20 tts/mnt. RR 24x/mnt 18 Perubahan Gangguan DS agust presepsi sensori/pe MASTOIDEKTOMI | 30 .15 1. b. 5. 6. ada kelainan telinga tengah. Klien mengatakan skala nyeri 6 Agen injuri Nyeri 2011 DO biologis kronis 09. Pemeriksaan Penunjang a.

nyeri terjadi saat klien beraktivitas dan berkurang saat klien duduk dan istrahat. 4.15 (auditoris) dan kanan menurun/tidak mendengar wib sejak 2 tahun yang lalu dan klien mengeluh telinga kanan dan kiri 1 bulan terakhir sering basah karena keluar cairan dari dalam telinga DO 1. terdapat nyeri pada bagian belakang telinga kiri dan kanan.8oC 3.RR 24x/menit. Ct-scan. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan berdasarkan prioritas 1.d Perubahan presepsi sensori ditandai dengan Klien mengeluh pendengaran telinga kiri dan kanan menurun/tidak mendengar sejak 2 tahun yang lalu dan klien mengeluh telinga kanan dan kiri 1 bulan terakhir sering basah karena keluar cairan dari dalam telinga. MASTOIDEKTOMI | 31 .15 1. TTV: TD 130/80mmHg. ada kelainan telinga tengah. suhu 38. 5. Nyeri berhubungan dengan agen injuri biologis ditandai dengan. akral teraba hangat wib 2. Foto Rotgen Mastoiditis bilateral tipe sklerotik. Otoskopi terlihat infeksi telinga tengah DS 18 klien mengatakan badannya terasa agust demam proses 2011 DO Hipertermi inflamasi 09. nadi 84x/mnt. Gangguan sensori/persepsi (auditoris) b. Yang memperlihatkan penebalan mukosa dalam rongga telinga tengah di samping dalam rongga mastoid.2011 Klien mengeluh pendengaran telinga kiri sensori rsepsi 09. skala nyeri 6 2. Suhu 38.cairan di lubang telinga 2. mastoid dan telinga dalam. N 110x/mnt. Tampak serumen/pus. TTV: TD 130/80 mmHg.8oC B.

TD 130/80mmHg. MASTOIDEKTOMI | 32 . N 110x/mnt. akral teraba. Suhu 38.3.8oC. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi yang ditandai dengan klien mengatakan badannya terasa demam.

mengetahui keadaan umum telinga Perubahan teratasi dengan kriteria hasil : 2. RR 16-20x/mnt. sehingga nyeri 120/70-80 mmhg. Klien mengatakan sudah dapat telinga cairan sensori mendengar kembali 3. 4. mengetahui keadaan dan kondisi biologis 1. mengurangi rasa nyeri yg dirasakan 2. Kolaborasikan dengan dokter 3. Lakukan pemeriksaan fisik dirasakan klien.5oC 2. dapat berkurang dalam pemberian 100x/mnt. S 36. lakukan pemeriksaan fisik klien dan mengurangi pengeluaran persepsi 1. kolaborasikan untuk 3. C. Klien tampak rileks pemberian analgetik klien 3. TTV dalam batas normal TD:110. Ajarkan tehnik relaksasi telinga klien berkurang (1-3) 4. Gangguan sen Setelah dilakukan tindakan 1. membantu klien untuk mendengar MASTOIDEKTOMI | 33 . mengetahui tingkatan nyeri yg berhubungan 1x24 jam nyeri klien dapat teratasi 2. mengatasi rasa nyeri. agen injuri dengan kriteria hasil: telinga 2. mengetahui adanya perrubahan sori/persepsi keperawatan selama 2 x 24 jam perubahan status neurologis terhadap status neurologis pasien (auditoris) b. Kaji skala nyeri klien 1.d penurunan sensori persepsi dapat pasien 2. Klien mengatakan nyeri 3. pantau dan dokumentasikan 1. N:60. obat 37. RENCANA KEPERAWATAN TUJUAN DAN KRITERIA NO DIAGNOSA INTERVENSI RASIONAL HASIL 1 Nyeri Setelah dilakukan tindakan selama 1.

Lakukan kompres hangat klien penyakit dapat diatasi dengan kriteria hasil: 3. TD normal 110-120/70-80 mmHg N 60-100 MASTOIDEKTOMI | 34 . menurunkan hipertermi 2. Anjurkan klien menggunakan 2. mengetahui penurunan suhu tubuh proses keperawatan 1x24 jam hipertermi 2. Kolaborasihan dengan dokter 3.5oC. suhu 36. Klien mengatakan sudah tidak pakaian yang tipis klien demam lagi 4.d Setelah dilakukan tindakan 1. Agar suhu tubuh klien kembali normal. Hipertermi b. TTV dalam rentang untuk pemberian antipiretik 4.5-37. Monitor suhu tubuh klien 1. Hasil pemeriksaan fisik telinga pemberian alat bantu dalam rentang normal pendengaran 3. 2. Membantu menurunkan suhu tubuh 1.

Mengajarkan tekhnik relaksasi rileks wib WIB HASIL: klien mengatakan mau diajarkan tehnik A: masalah teratasi relaksasi. Mengkaji skla nyeri klien 18 S: Klien mengatakan sudah tidak Agust Agust HASIL: klien mengatakan nyeri berkurang. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI TGL/ TGL/ NAMA/ IMPLEMENTASI EVALUASI NO JAM JAM TTD 1. klien tampak mengerti semua yang P: Intervensi dihentikan diajarkan 3. Memantau dan dokumentasikan perubahan 18 S: Klien sudah dapat mendengar Agust Agust status neurologis pasien walaupun belum bisa mendengar us us 2011 HASIL:status gizi klien baik 2011 secara efektif 09. klien tampak 09.00 2.D. 18 1.30 13.00 2. klien tampak rileks 2011 O: Skala nyeri klien 3.15 13. Berkolaborasikan dengan dokter pemberian analgetik HASIL: klien mau menerima terapi analgesik 2. skala merasa nyeri lagi us us 2011 nyeri 3. 18 1. Melakukan pemeriksaan fisik telinga O: Telinga klien sedikit kemerahan WIB wib O: HASIL: Telinga klien sedikit kemerahan dan dan masih ada oedema masih ada oedema A: masalah teratasi sebagian MASTOIDEKTOMI | 35 .

Menganjurkan klien menggunakan pakaian normal (36. Berkolaborasi untuk pemberian alat bantu P: Intervensi 1. 18 1. Melakukan kompres hangat S: Klien mengatakan sudah tidak WIB wib demam lagi 3.5 – 37. klien menerima kompres hangat O: Suhu tubuh klien sudah kembali 3. Memonitoring suhu tubuh klien 18 Agust Agust HASIL:suhu tubuh klien dalam rentang normal us us o 2011 (37.2 dilanjutkan pendengaran.50 13.00 2. HASIL: klien menerima alat bantu pendengaran 3. HASIL: klien mengatakan mau dikompres hangat.5 C) 2011 09. 3.50 C) yang tipis A: masalah teratasi HASIL: klien melakukan semua yang P: Intervensi dihentikan dikatakan perawat 4. Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian antipiretik HASIL: klien menerima/minum obat analgesik MASTOIDEKTOMI | 36 .

Berkolaborasi untuk pemberian alat bantu A: Tujun tercapai pendengaran HASIL: klien menerima alat bantu P: Intervensi 1. 19 1.00 19.4.45 walaupun belum bisa mendengar 2. Melakukan pemeriksaan fisik telinga secara efektif WIB WIB HASIL: Telinga klien tidak merah dan tidak O: telinga klien sudah tidak ada oedem kemerahan dan oedem 3.2 dihentikan pendengaran MASTOIDEKTOMI | 37 . Memantau dan dokumentasikan perubahan 19 Agust Agust status neurologis pasien us us 2011 HASIL: status gizi klien baik 2011 S: Klien sudah dapat mendengar 13.

B. BAB III PENUTUP A. Saran Dengan terselesaikannya makalah yang kami buat ini. yang merupakan kelanjutan dari proses Otitis media akut supuratif yang tidak teratasi. Biasanya timbul pada anak-anak atau orang dewasa yang sebelumnya telah menderita infeksi akut pada telinga tengah.sel mastoid yang terletak pada tulang temporal. Kesimpulan Mastoiditis adalah segala proses peradangan pada sel. maka kami sebagai penulis menyadari bahwa banyaknya kesalahan dalam pembuatan makalah ini. Untuk itu kami sangat mengarahkan kritik serata saran yang membangun dari para pembaca agar dalam pembuatan makalah kami selanjutnya dapat lebih baik dari sebelumnya MASTOIDEKTOMI | 38 . Mastoiditis akut (MA) merupakan perluasan infeksi telinga tengah ke dalam pneumatic system selulae mastoid melalui antrum mastoid. Infeksi akut dan kronik yang mengenai mukosa dan sel – sel mastoid.

LAMPIRAN Wullstein Retraktor (gigi 3) Scalpel handle Blade scalpel 11 Blade scalpel 15 Klem arteri Spuit 3cc dan 5cc MASTOIDEKTOMI | 39 .

Spekulum telinga Needle holder Mosquito forcep Cauter Forcep mikro Resparatorium Handpiece Mata bor Dinamo injakan kaki Mesin pengebor MASTOIDEKTOMI | 40 .

Pahat dan palu Kuret Sucction dan sucction tip Elevator freer Forceps alligator Rongeur MASTOIDEKTOMI | 41 .

Hidung. Asuhan Keperawatan Klien Mastoiditis.com/2011/06/askep-mastoiditis. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga. Wilkinson. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2007. 2007. DAFTAR PUSTAKA Setiadi. Soepardi. 2007. dkk. Kepala & Leher Edisi Ke-enam. Buku Ajar Diagnosa Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC. http://ahmadtahirk. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Ahmad. 2007. Efiaty Arsyad.blogspot. Yogyakarta: Graha Ilmu. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 volume 3. Tenggorok. (2011). Jakarta: FKUI Suddarth.html. Bruner. Diakses pada tanggal 19 September 2017 MASTOIDEKTOMI | 42 .