You are on page 1of 3

I.

Pengertian Degenerasi sel

Degenerasi sel atau kemunduran sel adalah kelainan yang terjadi akibat cidera
ringan. Cidera ringan yang mengenai struktur dalam sel seperti mitokondria dan
sitoplasma akan mengganggu proses metabolisme sel. Kerusakan ini sifatnya
reversibel artinya bisa diperbaiki apabila penyebabnya segera dihilangkan. Apabila
tidak dihilangkan atau bertambah berat maka kerusakan menjadi ireversibel dan sel
akan mati. Kelainan sel pada cidera ringan yang bersifat reversibel inilah yang
dinamakan kelainan degenerasi. Degenerasi ini akan menimbulkan tertimbunya
berbagai macam bahan di dalam maupun diluar sel. (Pringgoutomo, 2006)

Degenerasi dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu pembengkakan sel dan
perubahan perlemakan. Pembengkakan sel timbul jika sel tidak dapat mengatur
keseimbangan ion dan cairan yang menyebabkan dehidrasi sel. Sedangkan perubahan
perlemakan bermanifestasi sebagai vakuola-vakuola lemak didalam sitoplasma dan
terjadi karena hipoksia atau bahan toksik. Perubahan parlemen dijumpai pada sel yang
tergantung pada metabolisme lemak seperti sel hepatosit dan sel miokard.
(Pringgoutomo, 2006)

II. Jenis-jenis degenerasi

Apabila sebuah stimulus menyebabkan cidera sel, maka perubahan yang pertama
kali terjadi adalah terjadinya kerusakan biokimiawi yang mengganggu proses
metabolisme. Sel bisa tetap normal atau menunjukan kelainan fungsi yang diikuti
perubahan morfologis. Gangguan fungsi tersebut bisa bersifat reversibel dan
ireversibel sel tergantung dari mekanisme adaptasi sel. Cidera reversibel disebut juga
cidera subletal dan cidera ireversibel disebut juga cedera letal. (Pringgoutomo, 2006)

a. Cidera subletal
Terjadi bila sebuah stimulus menyebabkan sel cidera dan menunjukan
perubahan morfologis tetapi sel tidak mati. Perubahan subletal ini bersifat
reversibel dimana bila stimulasinya dihentikan maka sel akan kembali pulih
seperti sebelumnya. Cidera subletal ini disebut juga proses degeneratif.
Perubahan degeneratif lebih sering mengenai sitoplasma, sedangkan nukleus tetap
dapat mempertahankan integritasnya. Bentuk perubahan degeneratif yang paling
sering terjadi adalah akumulasi cairan didalam sel akibat gangguan mekanisme

pengaturan cairan. Misalnya. 2006) . Jaringan kan bengkak dan bertambah berat dan terlihat kekuning-kuningan. perlemakan hati (fatty liver) pada keadaan malnutrisi dan alkoholik. (Pringgoutomo. Biasanya disebabkan karena kurangnya energi yang digunakan pompa natrium untuk mengeluarkan natrium dari intrasel. (Pringgoutomo. Dapat juga terjadi degenerasi lebih berat yaitu degenerasi lemak atau infiltrasi lemak dimana terjadi penumpukan lemak intrasel sehingga inti terdesak kepinggir. Sitoplasma akan terlihat keruh dan kasar (degenerasi bengkak keruh). Cidera letal Bila stimulus yang menyebabkan sel cidera cukup berat dan berlangsung lama serta melebihi kemampuan sel untuk beradaptasi maka akan menyebabkan kerusakan sel yang bersifat ireversibel (cidera sel) yang berlanjut pada kematian. 2006) b.

tjarta (2006) Patologi Umum Edisi 1.Gambar 1: mekanisme cidera yang menyebabkan degenerasi sel dan nekrosis (Chandrasoma. EGC . 2005) Daftar pustaka Pringgoutomo. Jakarta. Taylor (2005) Ringkasan Patologi Anatomi Edisi 2. Sagung Seto Chandrasoma. Jakarta. himawan.