You are on page 1of 17

LEMBAR PENGESAHAN

JOURNAL READING

STUDY OF THERAPEUTIC EFFECTS OF NEBULIZED
ADRENALINE ALONE, NEBULIZED ADRENALINE PLUS
INJECTABLE DEXAMETHASONE (IN COMBINATION) AND
NEBULIZED 3% HYPERTONIC SALINE ALONE IN
CLINICALLY DIAGNOSED CASES OF BRONCHIOLITIS

Disusun dan diajukan untuk memenuhi persyaratan tugas
Kepaniteraan Klinik Departemen Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Tentara Tk.II dr. Soedjono Magelang

Oleh :
Retno Puteri Setiawan 1620221227

Magelang, Januari 2018
Telah dibimbing dan disahkan oleh,

Pembimbing,

(Letkol CKM dr. Roedi Djatmiko, Sp.A)

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya lah penulis dapat menyelesaikan Journal Reading yang berjudul “Study Of Therapeutic Effects Of Nebulized Adrenaline Alone. Sp.A selaku pembimbing dan seluruh teman kepaniteraan klinik Ilmu Kesehatan Anak atas kerjasamanya selama penyusunan tugas ini. Penyusunan tugas ini terselesaikan atas bantuan dari banyak pihak yang turut membantu terselesaikannya laporan ini. Nebulized Adrenaline Plus Injectable Dexamethasone (In Combination) And Nebulized 3% Hypertonic Saline Alone In Clinically Diagnosed Cases Of Bronchiolitis”. Penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca guna perbaikan yang lebih baik. pembaca maupun bagi semua pihak-pihak yang berkepentingan. Untuk itu. Roedi Djatmiko. Januari 2018 Penulis . Semoga makalah ini dapat bermanfaat baik bagi penulis sendiri. dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Letkol CKM dr. Magelang.

30 menit kemudian. Pengobatan biasanya hanya bersifat suportif. 120 kasus bronkiolitis yang didiagnosis secara klinis disertakan. Respiratory Syncytial Virus (RSV) merupakan agen penyebab paling sering dengan insiden tertinggi terjadi antara Desember dan Maret. hidrasi dan obat-obatan rumahan/obat batuk. 60 menit kemudian dan selanjutnya diberikan 4 jam sekali sampai adanya perbaikan gejala. 90% anak-anak terinfeksi pada dua tahun pertama kehidupan. cairan parenteral untuk menjaga hidrasi dan nebulisasi dengan bronkodilator.24% . Hasil : Dari total 120 kasus.3%) ditemukan hiperinflasi paru pada X-ray. Metode : Penelitian prospektif ini dilakukan selama satu tahun mulai Mei 2015 dan seterusnya. Kasus dibagi ke dalam dua kelompok berdasarkan skor RDAI. Nebulisasi dengan adrenalin dan deksametason IV lebih efektif dalam mengurangi durasi penyakit dan lama perawatan di rumah sakit.15:1.80 selama 24 jam pemberian dengan pengurangan 26.37±0. Kasus ringan biasanya diberikan antipiretik. terutama mengi berulang. Kasus berat biasanya diberi oksigen dengan kelembaban tinggi. Semua kasus dibagi dalam 3 kelompok terapeutik. Laki-laki lebih berpengaruh daripada perempuan dengan rasio 2.66%) masuk dalam kelompok usia 2-6 bulan. Rata-rata skor RDAI ditemukan paling tinggi pada kelompok kombinasi adrenalin dan deksametason 2. Bayi yang dirawat di rumah sakit lebih berisiko terkena penyakit pernapasan. Nebulisasi dilakukan dengan interval 0. C-nebulisasi dengan larutan salin hipertonik 3% saja. 74 (61. Anak dengan kelahiran prematur memiliki penyakit yang lebih berat. kasus ringan dengan skor 4—15 dan kasus berat dengan skor >15. Kombinasi Nebulisasi Adrenalin dengan Deksametason Injeksi dan Nebulisasi Larutan Salin Hipertonik 3% pada Kasus Bronkiolitis yang Didiagnosis Secara Klinis Abstrak Pendahuluan : Bronkiolitis adalah infeksi saluran napas yang umumnya terjadi pada anak-anak.Studi Efek Terapeutik Nebulisasi Adrenalin. B- deksametason IV dosis tunggal dan nebulisasi adrenalin. Sebagian besar pasien (83. A-nebulisasi dengan adrenalin saja.

Respiratory syncytial virus Pendahuluan Bronkiolitis adalah penyakit infeksi saluran napas yang tersering pada anak-anak. Gejala dan tanda umumnya dimulai batuk dan pilek. Kesimpulan : Kombinasi nebulisasi adrenalin dan deksametason lebih baik dalam mengurangi beratnya gejala. dan bronkospasme.masa perawatan dibandingkan dengan kelompok A dan 20. Diestimasikan sekitar 600.61% dibandingkan dengan kelompok C. Respiratory Syncytial Virus (RSV) merupakan agen penyebab tersering lebih dari 50% kasus. edema. masa perawatan yang lama pada anak- anak dengan bronkiolitis akut dibandingkan dengan adrenalin dan larutan salin hipertonik 3% saja. Kata kunci: Respiratory Distress Assessment Instrument.2 Banyak virus menyebabkan kumpulan dengan gejala dan tanda yang sama.000 bayi dan anak-anak meninggal akibat RSV setiap tahun. Infeksi berulang sering terjadi dan mungkin terjadi seumur hidup. dan hampir 40% dengan infeksi saluran napas bawah. Kebanyakan infeksi saluran pernapasan bawah mengenai kelompok usia ini.3 90% anak-anak yang terinfeksi RSV adalah usia dua tahun pertama kehidupan. Selain morbiditas dan mortalitas pada penyakit akut. dan Parainfluenza. dapat berlanjut ke takipnea. Influenza. Virus lain yang teridentifikasi sebagai penyebab bronkiolitis adalah Human metapneumo virus. Adenovirus. Etiologi terbanyak adalah Respiratory Syncytial Virus (RSV).1 Bronkiolitis menyebabkan infeksi saluran pernapasan bawah pada bayi. meskipun banyak virus lain yang dapat menginfeksi. mengi. Ditandai dengan gejala peradangan akut. dengan insiden tertinggi terjadi antara Desember dan Maret. ronkhi. bayi yang dirawat di . Pola variabel ini menunjukkan kurangnya konsensus diantara para klinisi mengenai praktik yang baik. nekrosis dinding sel epitel saluran napas kecil disertai peningkatan produksi mukus.4-6 Infeksi RSV tidak memberikan kekebalan permanen atau jangka panjang. penggunaan otot bantu napas dan/atau napas cuping hidung.

rumah sakit dengan bronkiolitis lebih cenderung memiliki masalah pernafasan saat usia lebih tua.14 Beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa nebulisasi dengan adrenalin disertai steroid (deksametason intravena) lebih efektif dalam mengurangi durasi penyakit dan lamanya perawatan di rumah sakit.13 Agen antiviral (ribavirin) digunakan hanya pada kelompok khusus anak-anak yang berisiko terkena penyakit berat (penyakit paru- paru kronis. Tidak ada peran antibiotik. Pengobatan bronkiolitis bersifat suportif. comparative open label clinical trial dilakukan oleh Departemen Anak Fakultas Kedokteran Jawaharlal Nehru. Kasus ringan ditangani di rumah dengan antipiretik. cairan parenteral untuk menjaga hidrasi dan nebulisasi dengan bronkodilator. Penelitian dilakukan selama 1 tahun mulai Mei 2015 dan seterusnya. terutama mengi berulang.11 Nebulisasi dengan bronkodilator yang diencerkan dengan normal salin telah digunakan dengan tingkat keberhasilan yang bervariasi. Rajasthan. Bronkiolitis . Ajmer. Kasus sedang mungkin perlu ke rumah sakit dan diberikan oksigen. namun perlu dipertimbangkan bila dicurigai adanya pneumonia bakterial sekunder. atau ventilasi mekanik. Menurut pengetahuan kami. 120 kasus bronkiolitis yang didiagnosis secara klinis disertakan dalam penelitian ini.12 Peran steroid dalam pengobatan bronkiolitis tidak dianjurkan. Tidak jelas apakah penyakit infeksi virus yang berat pada awal kehidupan mempengaruhi anak-anak untuk berkembangnya mengi berulang atau jika bayi yang mengalami bronkiolitis berat memiliki kecenderungan yang mendasari mengi berulang. tidak ada konsensus dalam pengobatan bronkiolitis dan tidak ada studi klinis serupa yang dilaporkan di India dan oleh karena itu kami melakukan penelitian ini di rumah sakit kami. penyakit jantung kongenital. oksigen. Metode Studi prospektif. dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki penyakit berat.8-10 Penyakit berat ditandai dengan upaya napas yang terus-menerus meningkat.16 Pengamatan terbaru tampaknya efektif dan lebih menjanjikan. apnea atau kebutuhan akan hidrasi intravena. dll). hidrasi dan obat-obatan rumahan/obat batuk formula.15.

gangguan jantung. Skor RDAI setiap anak diukur berdasarkan kriteria Lowell et al yang ditabulasi pada tabel 1. Semua pasien didaftarkan dalam waktu 24 jam setelah masuk rumah sakit. rhinorrhea dan distres pernapasan). Pasien diperiksa saat pendaftaran dan setiap hari. saturasi) diukur dan dicatat. Data klinis dan demografi yang relevan diperoleh seperti gejala klinis (batuk. Semua kasus dibagi dalam tiga kelompok terapeutik secara berurutan pada pasien yang dirawat di bangsal. aspirasi benda asing. dan adanya retraksi dinding dada. Ekokardiografi. yang mana dapat berkembang menjadi dyspnea pada usia 2 bulan—2 tahun. Dikatakan takipnea jika anak menunjukkan laju pernapasan sebagai berikut :  60x/menit atau lebih pada usia <2 bulan  50x/ menit atau lebih pada usia 2-12 bulan  40x/ menit atau lebih pada usia >12 bulan Dikatakan distres pernapasan jika anak menunjukan retraksi subcostae. usia gestasi. laju pernafasan. X- ray Chest. batuk. EKG. dan ABG juga dilakukan sesuai kebutuhan untuk memasukkan/mengecualikan dalam penelitian ini. Pasien diperiksa apakah sianosis. dan terkadang demam. intercostae. dan jenis persalinan. riwayat episode mengi sebelumnya. demam.18 Semua kasus dikelompokkan ke dalam dua kelompok berdasarkan skor RDAI :  Kasus ringan dengan skor 4—15  Kasus berat dengan skor >15 Pada setiap kasus yang relevan. pemeriksaan penunjang seperti CBC.diakui sebagai episode pertama dari wheezing disertai gejala prodormal infeksi saluran pernapasan atas seperti rhinorrhea. pucat. Tanda vital (nadi. Ketika pemeriksaan sistemik. supraclavicula atau napas cuping hidung. suprasternal. difokuskan pada suara napas dan adanya ronkhi halus atau ronkhi basah.  Kelompok A: Pasien diberi nebulisasi adrenalin saja  Kelompok B: Pasien diberi kombinasi deksametason intravena dosis tunggal dan nebulisasi adrenalin  Kelompok C: Pasien diberi nebulisasi larutan salin hipertonik 3% saja .

Nebulisasi dihentikan saat skor RDAI mencapai 4 dan kemudian durasi perbaikan dihitung dari hari pertama masuk. .5 ml/kg atau maksimal 2. 30 menit kemudian. pola makan. 60 menit kemudian dan selanjutnya diberikan 4 jam sekali sampai adanya perbaikan gejala.5 ml setiap nebulisasi dengan 3 ml pengenceran normal salin.. larutan salin hipertonik 3% (yakni Nacl per 100 ml) digunakan dosis 4 ml per nebulisasi di luar dari berat badan dan umur. Microsoft word dan Microsof Excel juga digunakan untuk membuat grafik. Dosis deksametason 0. Injeksi deksametason 8mg/2ml ampul yang tersedia di rumah sakit digunakan dalam penelitian ini.Penggunaan obat Injeksi adrenalin 1 ml/amp (pengenceran 1:1000) yang tersedia di rumah sakit untuk penelitian ini. Nebulisasi diberikan selama interval 0. Software statistik yang digunakan adalah SPSS dan beberapa metode statistik lainnya digunakan dalam menganalisis data. tabel. Parameter hasil utamanya adalah mengetahui efikasi dari pengobatan berupa perbaikan distres pernapasan (skor klinis) dan lama perawatan di rumah sakit Setiap hari anak tersebut dinilai apakah demam. skor RDAI dan diberi perawatan sampai perbaikan. Dosis adrenalin yang digunakan adalah 0. kebutuhan oksigen.15 mg/kg dosis tunggal IV. dll. takipnea. SpO2. distres pernapasan.

Dalam penelitian ini.80 selama pemberian 24 jam. 2 Lapang paru Tidak ada <2 dari >3 dari . . Sebagian besar pasien (83.94 pada kelompok larutan salin hipertonik 3%. . Batuk dan napas cepat adalah gejala yang paling umum terjadi pada semua pasien saat masuk.3%) ditemukan hiperinflasi paru pada hasil X-Ray. Rata-rata Skor RDAI ditemukan paling tinggi pada kelompok kombinasi adrenalin dan deksametason yaitu 2. 74 (61.66%) dari 120 pasien bronkiolitis pada kelompok usia 2—6 bulan. Laki-laki lebih sering daripada wanita dengan rasio 2. sedangkan rata-rata skor RDAI hanya berkurang 1. .85 pada kelompok adrenalin saja dan 1. 3 Total 17 Hasil Dalam penelitian ini. 3 Subcostae Tidak ada Ringan Sedang Berat . 3 Intercostae Tidak ada Ringan Sedang Berat .675 ± 0. Perbedaan ini signifikan secara statistik (p = 0.15:1.37 ± 0. Tabel 1. kami menemukan bahwa anak yang lahir prematur memiliki penyakit yang berat.0001). 2 4 4 Retraksi Supraklavikula Tidak ada Ringan Sedang Berat .325 ± 0. Respiratory Distress Assessment Instrument (RDAI) Gejala Skor Skor 0 1 2 3 4 maksimal *Adaptasi dari Lowell et al18 Mengi/ronkhi Selama ekspirasi Tidak ada Akhir ½ ¾ Semua 4 Selama inspirasi Tidak ada Parsial Semua .

81 hari) dan kelompok larutan saline hipertonik 3% (4.36 hari. kami menemukan 26. . Pengurangan skor keparahan klinis Rerata durasi lama perawatan di rumah sakit dihitung sebagai waktu yang dibutuhkan pasien rawat inap dalam memenuhi kriteria. Perbedaan secara stastistik signifikan (p-0.00±0. Gambar 1. Pada penelitian ini.44 hari) bila dibandingkan dengan kombinasi adrenalin dan deksametason (3.310). Tidak ada anak-anak pada kelompok kombinasi adrenalin dan deksametason yang tinggal lebih lama dibandingkan dengan kelompok kedua lainnya. Perbedaan rata-rata antara kelompok A dan B adalah 1.85±1.22±1.24% pengurangan lama rawat pada kelompok B dibandingkan kelompok A dan 20.85±1.61% pengurangan lama rawat pada kelompok B dibandingkan kelompok C. Perbedaan antara kelompok A dan C secara statistik tidak signifikan (p-0.40 hari).0001). Sedikit lebih tinggi pada kelompok adrenalin saja (5.412 hari. sedangkan perbedaan rata-rata antara kelompok B dan C adalah 1.37±0.

7917±0.310) Antara kelompok B dan A: 1.80 1.0001 Rerata Rerata perbedaan antara kelompok A dan C adalah perbedaan 0. Lama Perawatan di Rumah Sakit Lama Adrenalin Adrenalin + Larutan Total perawatan di (n=40) dexamethason salin (n=120) Rumah sakit (n=40) hipertonik 3% (n=40) 1-2 hari 2 7 1 10 3-4 hari 12 25 19 56 >4 hari 28 8 20 56 Rata-rata±SD 5.36 hari Persentase Kelompok B menunjukkan pengurangan 26.22±1.61% lama perawatan dibandingkan dengan kelompok C .412 hari dan antara kelompok B dan C: 1.96 (Pengurangan) p-value 0.64±1. Pengurangan Skor Keparahan Klinis Adrenalin Adrenalin + Larutan salin Rerata dexamethason hipertonik 3% total Mean ± SD 1.37±0.375±0.85±1.65 (hari) p-value 0.37±0.85 2.00±0.24% bila pengurangan dibandingkan dengan kelompok A dan pengurangan 20.0001 Tabel 3.40 4.8 3.3250±0.376 hari yang secara statistik tidak signifikan (p=0. Tabel 2.94 1.44 4.6750±0.85±1.

120 pasien diobati dengan diagnosis klinis bronkiolitis yang disertakan dalam penelitian ini. Bronkiolitis biasanya banyak mengenai laki-laki daripada perempuan.22. sekitar 8650 pasien dirawat di bangsal anak di JLN Hospital Ajmer Rajasthan (India). Ini lebih dibandingkan dengan penelitian retrospektif berbasis populasi yang dilakukan oleh Fjaerli et al.6:1. dengan rasio laki-laki : perempuan adalah 1.3% dan demam pada 84.Diskusi Bronkiolitis merupakan penyakit pada kelompok usia muda. kami juga menemukan bahwa laki-laki lebih dominan 68.15:1. Fjaerli et al juga menunjukkan lebih dominan laki-laki di Norway. Biasanya anak-anak berusia <2 tahun. Dalam penelitian kami.0042 ± 5.7%) dan napas cepat (90% dan 100 %) merupakan gejala utama. batuk dan napas cepat ditemukan pada semua anak (100%).19 Selama penelitian yang dimulai dari Mei 2015 hingga Mei 2016.54 bulan (kisaran 2—24 bulan) dan anak-anak <6 bulan 61.19 Pada penelitian kami. dan anak-anak <6 bulan terkena penyakit yang lebih parah. mengi. Penelitian pada seluruh anak-anak yang dirawat di rumah sakit pada pertama kehidupan dengan usia rata-rata di rumah sakit adalah 7. untuk mengetahui kejadian dan faktor risiko penyakit RSV. . Rasio laki-laki : perempuan pada penelitian ini adalah 2. lalu secara acak dibagi menjadi tiga kelompok. batuk (98% dan 100%). 20-21 Mengi merupakan temuan utama pada bronkiolitis.3% dari semua yang ada.20 Rata-rata usia dalam penelitian mereka adalah 6 bulan dan anak- anak <6 bulan sekitar 45% dari populasi penelitian.66% dari semua yang masuk. Hal ini dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kabra SK et al dan Kumar N et al. 1830 pasien telah didiagnosis sebagai penyakit pernapasan.23 Dalam penelitian mereka. demam (75% dan 67.1% anak-anak. Observasi ini meningkatkan insidens pada laki-laki dalam penelitian kami dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan Jone TJ et al pada anak di India Selatan. Gejala flu biasa (running nose) dan gejala infeksi pernafasan bagian atas terjadi pada 93. 120 pasien yang terdaftar dipulangkan jika sudah memenuhi penelitian. Takipnea pada penyakit virus seperti nasal catarrh dan pada auskultasi ditemukan ronkhi merupakan temuan utama.

penurunan rata-rata keparahan klinis adalah 1. usia muda.80 pada kelompok kombiansi adrenalin dan deksametason dan 1. Simoes EAF mengkaji ulang literatur secara kritis dengan meneliti faktor risiko pengembangan infeksi RSV pada saluran pernafasan bawah (RSV LRI). lama perawatan di rumah sakit dihitung dengan durasi yang dibutuhkan untuk memenuhi kriteria penelitian. tempat penitipan anak.67 ± 0. Kombinasi adrenalin dan deksametason menunjukkan penurunan 23.32±0. menghasilkan klinis yang lebih baik daripada pengobatan dengan bronkodilator saja. Perbedaan ini secara statistik signifikan (p = <0.85 pada kelompok adrenalin saja. kelahiran pada paruh pertama musim RSV. kami menemukan bahwa sebagian besar hasil radiologi konsisten dengan bronkiolitis 83. prematuritas. 2. dan kepadatan adalah faktor risiko independen untuk pengembangan infeksi bronkiolitis RSV berat pada anak-anak Amerika.3% dan 16. Pada bronkiolitis.01).37±0.6% hasilnya normal. Berdasarkan penelitian. pada hari ke-5 setelah pengobatan bronkiolitis ringan sampai sedang.26 Mereka menemukan bahwa terdapat penurunan yang signifikan pada skor keparahan klinis dengan nebulisasi kombinasi adrenalin dan deksametason dibandingkan dengan nebulisasi adrenalin saja (p value = 0.0001). bahwa pada bronkiolitis akut dilakukan rontgen thoraks secara rutin pada sebagian besar bayi (72%) dan temuannya konsisten dengan bronkiolitis pada sebagian besar kasus (90%).19 Pada penelitian kami. Durasi rata-rata . Penelitian ini menyimpulkan bahwa deksametason dosis tunggal yang ditambahkan pada pengobatan nebul L-epinephrine. Hasil ini serupa dengan hasil penelitian Kyuncu et al yang mengkaji kombinasi adrenalin dan deksametason pada bronkiolitis akut bayi. adrenalin saja menunjukkan penurunan 16.7% dan larutan salin hipertonik 3% menunjukkan penurunan sebesar 13.24 Faktor perancu pada penyakit berat seperti jenis kelamin laki-laki.7%. kurang gizi dan kepadatan penduduk. Pengamatan kami sesuai dengan Schuh et al.2% antara hari ke-1 dan 2.94 pada kelompok larutan salin hipertonik 3%. dan menemukan bahwa jenis kelamin laki-laki. hasil rontgen thoraks ditemukan hiperinflasi paru.26 Dalam penelitian ini.25 Prinsip yang dipelajari dalam penelitian ini berupa penurunan tingkat keparahan klinis yang diukur adalah perbedaan antara skor klinis pada hari ke-1 dan hari ke-2.

Perbedaannya secara statistik adalah signifikan.2 hari (26%) dibandingkan dengan kelompok nebulasi adrenalin saja.310).6 ± 0. menemukan bahwa kombinasi adrenalin dan deksametason memiliki penurunan rata-rata 2.65 hari pada penelitian kami.412 hari (26.2%) dibandingkan kelompok adrenalin saja dan 1.37 ± 0.64 ± 1. Dengan menggunakan kombinasi adrenalin dan deksametason.61%) dibandingkan dengan larutan normal salin hipertonik 3% saja. lama perawatan di rumah sakit sedikit lebih rendah bila dibandingkan dengan adrenalin saja dan larutan normal salin hipertonik 3%. lama perawatan di rumah sakit pada bronkiolitis akut sedang hingga berat dibandingkan dengan adrenalin saja dan atau larutan salin hipertonik 3% saja.perawatan di rumah sakit adalah 4. dari hasil studi kami bahwa kombinasi nebul adrenalin dan deksametason lebih baik dalam mengurangi keparahan gejala klinis. kami menemukan bahwa terjadi pengurangan lama perawatan di rumah sakit sebesar 1. Pengamatan ini serupa dengan temuan Bentur et al.27 Kesimpulan Sebagai kesimpulan.00 ± 0. Pada kelompok kombinasi adrenalin dan deksametason.36 hari (20. Perbedaannya secara statistik adalah signifikan Perbedaan antara kelompok A dan kelompok C secara statistik tidak signifikan (p=0. .

Secara keseluruhan informatif + 3. Jenis dan rancangan penelitian + 2. Didukung oleh penelitian relevan - 5. Kriteria inklusi - 6. CRITICAL APPRAISAL No. Kurang dari 1 halaman + No. Jumlah kata dalam judul <12 kata (27 kata) 2. penelitian 4. Populasi sumber + 4. Tempat dan waktu penelitian dalam judul - No. Tanpa singkatan selain yang baku + + 4. Judul & Pengarang +/- - 1. Bahan & Metode Penelitian +/- 1. Daftar penulis sesuai aturan jurnal + 4. Teknik sampling - 5. Paragraf pertama mengemukakan alasan - Paragraf kedua menyatakan hipotesis/tujuan - 3. Deskripsi judul + 3. Waktu dan tempat penelitian + 3. Pendahuluan +/- 1. Abstrak +/- 1. Terdiri dari 2 bagian /2 paragraf - 2. Kurang dari 250 kata (235 kata) No. Abstrak 1 paragraf - 2. Kriteria eksklusi - . Korespodensi penulis + 5.

Simpulan utama + 7. Pembahasan. Simpulan berdasarkan penelitian + 8. Penulisan daftar pustaka sesuai aturan + . sebelumnya 4. Saran penelitian - 9. Tabel analisis data dan uji + No. Jumlah subjek + 2. kesimpulan. Uji statistik - 10. Tabel karakteristik subjek - 3. Perkiraan dan perhitungan besar sampel - 8. Pembahasan sesuai dengan landasan teori + 5. Perincian cara penelitian - 9. Keterbatasan penelitian - 6.7. dengan jelas Pembahasan mengacu pada penelitian + 3. hasil 5. Program komputer + 11. Persetujuan subjektif - No. daftar pustaka +/- 1. Hasil penelitian + Komentar dan pendapat hasil penulis tentang + 4. Hasil +/- 1. Pembahasan dan kesimpulan terpisah + Pembahasan dan kesimpulan dipaparkan + 2.

2007. Patel H. Anderson LJ.2016:2044-8. Cochrane Database of Syst Rev. Wang EEL.2006:456-9. Stein RT. race and sex. Respiratory syncytial virus in early life and risk of wheeze and allergy by age 13 years.22:857-62. 2001. Pediatr Infect Dis J. Respiratory syncytial virus bronchiolitis and the pathogenesis of childhood asthma. 1973. 2001. New Delhi.98:289-300. New Delhi: Jaypee brother medical publishers (P) Ltd. Kliegman RM. 6. 10. Glucocorticoids for acute viral bronchiolitis in infants and young children. Roosevelt GE. 13.(3):CD001266. Acute bronchiolitis. DAFTAR PUSTAKA 1. Eur Respir J. Lancet. In: Parthasarathy A. Lamonte AC. 2002.354:541-5. Pediatr Infect Dis J. Holman RC. FonsekaK.183:16-22. 2006. 2004. 2003. 14.2003. Epidemiology of RSV infection in Washington DC II: infection and disease with respect to age. Hoffjan S. eds. Morgan WJ. et al. Nelson Textbook of Pediatrics. Bronchodilators for bronchiolitis. Bittscheidt J. 12. 3rd ed.85:463-8. 3. ed-inchief. 1999. Anderson LJ. Pediatr Infect Dis J. 8. Am J Epidemiol. Greenough A. Schauer U. MD: Agency for Healthcare Research and Quality. Meissner HC. Bronchiolitis- associated mortality and estimates of respiratory syncytial virus-associated deaths among US children. Rockville. 7. 2003. Mullins JA. Agency for Healthcare Research and Quality. Inflammatory disorder of small airways. immunologic status. Lozano JM. Management of Bronchiolitis in Infants and Children. Sherrill D.(1):CD005189. 1979-1997. Cochrane Database of Syst Rev. 22(2 suppl):S76-S82. Jenson HB. Parrott RH. Martinez FD. Cox S. Evidence Report/Technology Assessment No. Alexander J. 4. Clarke MJ.22(2 suppl):S40-S44. Arch Dis Child. . Platt R. J Infect Dis. et al. 11. 2. 20th ed.20:1277-83. Antibiotics for bronchiolitis in children.(3):CD004878. related to hospitalisation for RSV infection.S44-S45. Health care utilisation of infants with chronic lung disease. India:Elsevier. In Behrman RE. 5. RSV bronchiolitis and risk of wheeze and allergic sensitization in the first year of life. Del Mar C. Arrobio JO.E014. Godamski AM. Cochrane Database of Syst Rev. Spurlinug G K P. Bhasale AL. AHRQ Publication No. 03. Shay DK. IAP Textbook of Peadiatrics. Kim HW. Goodman D. Nandkarni UB. Substantial variability in community respiratory syncytial virus season timing. 9. 69. et al. Selected populations at increased risk from respiratory syncytial virus infection. 2003. Bresee JS. Doust J. et al.

BMC Pediatrics.122:2015-2020. 2004. 17. 20. Someck E. Nebulized 3% hypertonic saline solution treatment in ambulatory children with viral bronchiolitis decreases symptoms. Witzling M.10:811-813. Lowell DI. Someck E.39:478-83. Mandelberg A. placebo- controlled study. Manson D. 16. UNal S. Singh N. Tal G. Pandey RM et al. Environmental and demographic risk factors for Respiratory syncytial virus lower respiratory tract disease.13:S463-S469. Nature Med. John TJ.143:S118-S126. 22. 1990. Schuh S. Balin A. 26. Ullen U. Stephens D et at. Sarrell EM. Houri S. Gorichovsky Y. 23. Ghosh M. . Maitreyi RS. Evaluation of the Utility of Radiagraphy in Acute Bronchiolitis. garg R. 2003. Lodha R.15. Tal G. Kabra SK. Klugman KP. Indian Pediatr . Additive effects of dexamethasone in nebulized salbutamol or L-epinephrine treated infants with acute bronchiolitis . Mc Carthy P. Von Kloss H.ARI. Acute respiratory infections in children: case management in small hospitals in developing countries. Bentur L. Kuyucu S. pediatr Int. Etiology of acute respiratory infections in children in tropical south India. Bibi H. Kumar N. Acta Paediatr. Pediatrics. Hospitalisations for respiratory syncytial virus bronchiolitis in Akershus.87:939-45. Broor S. John M. Witzling M. et al. Houri S. 2007. Simoes. J Pediatr. Lister G. Cohen HA.WHO. Fjaerli HO. Feigenbaum D. J Pediatr. 2005.123:481-7. Clinical evaluation of acute respiratory distress and chest wheezing in infants. Kuyucu N. A manual for doctors and other senior health workers. 24. 19.150:429- 33. Norway. A Role of Streptococcus pneumonia in virus associated pneumonia. Yilgor E. Simoes EAF.46:539-44. Dexamethasone inhalations in RSV bronchiolitis: a double-blind. 18. Sarwal D. 2004.41:245-49. Shoseyov D. 2004. et al. Vaccine trialist group. Locham KK. Chest 2003. World Health Organisation programme for the control of acute respiratory infections. Rev Infect Dis 1991. Cherian T. 4:25. Lalani A. 94:866-71. Babny P. Chest 2002. 25. 2004. Wheezing infants: the response to epinephrine. Can we identify acute severe viral lower respiratory tract infection clinically? Indian Pediatr. Geneva:WHO. 90-5. Steinhoff MC. Nebulized 3% hypertonic saline solution treatment in hospitalized infants with viral bronchiolitis.1987. Madhi SA. EAF. 27. 21. Farstad T and Bratlid D. 2002. 1993-2000: a population based retrospective study.