You are on page 1of 16

Revitalisasi Program Demam Berdarah Dengue oleh Puskesmas

Dewi Kusuma Wangsa

102015170 / A6
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Alamat Korespondensi: Jalan Terusan Arjuna No. 6, Jakarta Barat 11510
E-mail: dewi.2015fk170@civitas.ukrida.ac.id

Abstrak
Demam berdarah dengue (DBD) masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat dan menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi. Penyakit DBD sampai
saat ini masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang
cenderung meningkat jumlah pasien serta semakin luas penyebarannya. Demam
berdarah dengue (DBD) adalah infeksi akut yang disebabkan oleh Arbovirus dan
ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Puskesmas
adalah suatu kesatuan organisasi kesehatan fungsional yang merupakan pusat
pengembangan kese¬hatan masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat.
Dalam menanggulangi penyakit DBD, program kerja puskesmas untuk pencegahan
DBD ialah pemberantasan nyamuk dewasa, Pemberantasan jentik nyamuk, dengan
melakukan 3M, penggunaan bubuk ABATE dan penyuluhan bagi masyarakat.
Kata kunci : DBD, Puskesmas, 3M, Abatisasi
Abstract
Dengue hemorrhagic fever (DHF) is still a public health problem and has both social
and economic impacts. Dengue disease is still one of the public health problems in
Indonesia which tends to increase the number of patients as well as the wider spread.
Dengue hemorrhagic fever (DHF) is an acute infection caused by Arbovirus and is
transmitted through the bite of Aedes aegypti and Aedes albopictus mosquitoes.
Puskesmas is a functional health organization unity which is the center of community
health development that also foster community participation. In tackling dengue fever,
the work program of puskesmas for prevention of DHF is eradication of mosquito
adult, eradication of mosquito larvae, by doing 3M, use of powder of ABATE and
counseling for society.
Key words : DBD, Puskesmas, 3M, Abatisasi

Pendahuluan

1 Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) terutama menyerang anak-anak. dan berkurangnya usia harapan penduduk.3 Demam Berdarah Dengue Demam berdarah dengue (DBD) adalah infeksi akut yang disebabkan oleh Arbovirus dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes . Upaya memotivasi masyarakat untuk melaksanakan 3M secara terus menerus telah dan akan dilakukan Pemerintah melalui kerjasama lintas program dan lintas sektoral termasuk tokoh masyarakat dan swasta. Hal ini karena masih tersebarnya nyamuk Aedes aegypti (penular penyakit DBD) di seluruh pelosok tanah air. dapat mengakibatkan kematian serta menimbulkan wabah. kematian anggota keluarga.1-2 Untuk memberantas penyakit ini diperlukan pembinaan peran serta masyarakat yang terus menerus dalam memberantas nyamuk penularnya dengan cara 3 M yaitu : menguras tempat penampungan air (TPA). Demam berdarah dengue (DBD) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dan menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi. Dampak ekonomi langsung pada penderita DBD adalah biaya pengobatan. kecuali pada daerah dengan ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut.2. Namun demikian penyakit ini masih terus endemis dan angka kesakitan cenderung meningkat di berbagai daerah. Cara pencegahan tersebut juga dikenal dengan istilah PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk). sedangkan dampak ekonomi tidak langsung adalah kehilangan waktu kerja. namun dalam beberapa tahun terakhir cenderung semakin banyak dilaporkan kasus DBD pada orang dewasa. waktu sekolah dan biaya lain yang dikeluarkan selain untuk pengobatan seperti transportasi dan akomodasi selama perawatan penderita. Jumlah kasus yang dilaporkan cenderung meningkat dan daerah penyebarannya bertambah luas. Oleh karena itu upaya untuk membatasi angka kematian penyakit ini sangat penting. Penyakit ini ditandai dengan panas tinggi mendadak disertai kebocoran plasma dan pendarahan.1 Penyakit DBD sampai saat ini masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang cenderung meningkat jumlah pasien serta semakin luas penyebarannya. Kerugian sosial yang terjadi antara lain karena menimbulkan kepanikan dalam keluarga. menutup TPA dan mengubur/menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan.

C). DBD adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam. satu protein penyelubung (envelope. Semua spesies tersebut. Virionnya mengandung nukleokapsid berbentuk kubus yang terbungkus selubung lipoprotein.2 1. albopictus. Agent (penyebab penyakit) Virus dengue termasuk genus Flavivirus dari keluarga Flaviviridae. kecuali Ae. nyeri otot atau nyeri sendi yang disertai lekopenia. angka kematiannya cukup tinggi. Virus yang berukuran kecil (50 nm) ini mengandung RNA berantai tunggal. anggota kelompok Ae. satu protein terikat membrane (membrane. Selubung glikoprotein berhubungan dengan hemaglutinasi virus dan aktivitas netralisasi. E). dan terdiri dari tiga gen protein struktural yang mengodekan nukleokapsid atau protein into (core. 1. polynesiensis. Ae. Walaupun secara antigentik serupa.4 Virus dengue membentuk kompleks yang khas di dalam genus Flavivirus berdasarkan karakteristik antigenik dan biologisnya. Scutellaris. dan Ae.) dari subgenus Stegomyia. fenomena pendarahan. aegypti merupakan vektor epidemik yang paling penting.1 DBD adalah penyakit yang ditandai oleh empat manifestasi klinis utama yaitu demam tinggi. 2 DBD adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan tipe I-IV dengan manifestasi klinis 5-7 hari disertai gejala pendarahan dan jika timbul tengatan. walaupun mereka merupakan vektor yang sangat baik untuk . Vektor Virus dengue ditularkan dari satu orang ke orang lain oleh nyamuk Aedes (Ae. sering disertai oleh hepatomegali dan pada keadaan berat terjadi tanda-tanda kegagalan sirkulasi. aegypti memiliki wilayah penyebarannya sendiri. sementara spesies lain seperti Ae. keempat serotipe tersebut cukup berbeda di dalam menghasilkan perlindungan silang selama beberapa bulan setelah terinfeksi salah satunya. dan tujuh gen protein nonstructural (nonstructural. M). Genome virus dengue berukuran panjang sekitar 11. limfadenopati.albopictus. DEN-3 dan DEN-4. Ada empat serotipe virus yang kemudian dinyatakan sebagai DEN-1. trombositopenia dan hemoragik.000 pasangan basa. (Finlaya) niveus juga diputuskan sebagai vektor sekunder. Infeksi yang terjadi dengan serotipe manapun akan memicu imunitas seumur hidup terhadap serotype tersebut.3 2. NS). ruam. Ae. DEN-2.

Strain virus dengue dapat tumbuh dengan baik pada kultur jaringan serangga dan sel mamalia setelah Gambar 1. Terakhir. usia pasien dan genetik pejamu juga termasuk faktor risiko terhadap DHF.virus dengue. epidemi yang ditimbulkannya tidak separah yang diakibatkan oleh Ae. tidak semua tipe liar virus berpotensi menimbulkan epidemi atau mengakibatkan kasus yang parah. dan bukti tidak langsung memperlihatkan bahwa beberapa kelompok di masyarakat mungkin justru lebih rentan terhadap sindrom pecahnya pembuluh darah daripada kelompok lainnya.3 3. termasuk juga antibodi-pasif pada bayi. Walaupun DHF dapat dan memang menyerang orang dewasa.4 4. aegypti. Proses perkembangan biakan Aedes aegypti diadaptasikan. kebanyakan kasusnya ditemukan pada anak-anak yang berusia kurang dari 15 tahun. Transmisi Nyamuk Aedes (Stegomyia) betina biasanya akan terinfeksi virus dengue saat menghisap darah dari penderita yang berada dalam fase demam (viremik) akut penyakit. Host (Pejamu) Virus dengue menginfeksi manusia dan beberapa spesies primata yang lebih rendah. Setelah masa inkubasi pada tubuh manusia selama 3-14 hari (rata-rata 4-6 hari). Manusia merupakan reservoir utama virus di wilayah perkotaan. Penelitian yang dilakukan di Malaysia dan Afrika menunjukkan bahwa bangsa kera juga dapat terinfeksi dan kemungkinan merupakan pejamu reservoir walaupun signifikansi epidemiologik dari observasi tersebut tetap dibuktikan. Setelah masa inkubasi ekstrinsik selama 8 sampai 10 hari.1 Infeksi sekunder dengue merupakan faktor risiko untuk DHF. 1. Strain virus juga merupakan faktor risiko untuk terkena DHF. sering kali terjadi . kelenjar air liur nyamuk menjadi terinfeksi dan virus disebarkan ketika nyamuk yang infektif menggigit dan menginjeksikan air liur ke luka gigitan pada orang lain.

7 : (6) Bila keadaan penyakit menjadi parah. perut atau dada.40°) (2) Badan lemah dan lesu b. (5) Kadang-kadang terjadi perdarahan hidung (mimisan). Tanda-tanda dan gejala di atas disebabkan karena pecahnya pembuluh darah kapiler yang terjadi di semua organ tubuh. berkeringat banyak. sebagai tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti. sakit kepala. denyut nadi cepat atau sukar diraba). (7) Bila keadaan (pre-shock) ini berlanjut. Hari ke-1 : (1) Mula-mula timbul panas mendadak (suhu badan 38°. 4-7 Gejala Klinis2.000 meter diatas permukaan laut tidak ditemukan nyamuk Aedes aegypti. dan ruam kulit. Lingkungan Lingkungan yang terkait dalam penularan penyakit DBD adalah tempat penampungan air / keberadaan kontainer. maka penderita dapat mengalami shock (lemah tak berdaya. c. mulut atau gusi dan muntah darah atau berak darah. dan bila tidak segera ditolong dapat meninggal. curah hujan pada musim hujan yang di atas normal merupakan tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti yang pada musim kemarau tidak terisi air.6 5. . hilang nafsu makan. Kadang-kadang bintik-bintik merah inihanya sedikit sehingga sering perlu pemeriksaan yang teliti. lengan. ketinggian tempat suatu daerah mempunyai pengaruh terhadap perkembangbiakan nyamuk dan virus DBD. Hari ke-4 . mulai terisi air.Bintik-bintik merah ini mirip dengan bekas gigitan nyamuk. paha. dan berbagai tanda serta gejala nonspesifik lain termasuk mual.4.4 a. atau disebut dengan Dengue Shock Syndrome (DSS). Di wilayah dengan ketinggian lebih dari 1.awitan mendadak penyakit ini. ujung-ujung tangan dankaki dingin (pre shock). Hari ke-2 atau ke-3 : (3) Perut (ulu hati) terasa nyeri (4) Petechiae (bintik-bintik merah di kulit) pada muka. yang ditandai dengan demam. mialgia. penderita gelisah. muntah.

yang keduanya jika ditinjau dari sistem kesehatan nasional merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama.3 Puskesmas Puskesmas adalah suatu kesatuan organisasi kesehatan fungsional yang merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat disamping memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok. Biasanya terjadi pada hari ke 3 atau 4. Upaya kesehatan wajib ini harus diselenggarakan oleh setiap puskesmas yang ada di wilayah Indonesia. Dalam praktek untuk pasien-pasien luar. Upaya Kesehatan Wajib Upaya kesehatan wajib puskesmas adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan komitmen nasional.  Hemokonsentrasi. Upaya kesehatan tersebut dikelompokkan menjadi dua yakni:2.000).Pemeriksaan laboratorium Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya :4.6  Trombositopenia (100. Pada orang normal 4 .1 0 thrombocyt/LP (dengan rata-rata 10/LP) menunjukkan jumlah thrombosit yang cukup. regional dan global serta yang mempunyai daya ungkit tinggi untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat. puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat. yakni terwujudnya Kecamatan Sehat Menuju Indonesia Sehat. perhitungan kwalitatif dari sediaan darah perifer dapat dilakukan.2 Upaya kesehatan puskesmas Untuk tercapainya visi pembangunan kesehatan melalui puskesmas.5 1. Biasanya baru terjadi pada hari ke-3 atau ke-4. hematokrit meningkat 20% atau lebih dari nilai sebelumnya. Rata-rata kurang dari 2-3/LP dianggap rendah (kurang dari 100.000/mm3 atau kurang). Upaya kesehatan wajib tersebut adalah: a) Upaya Promosi Kesehatan b) Upaya Kesehatan Lingkungan c) Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana d) Upaya Perbaikan Gizi e) Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular f) Upaya Pengobatan .

Upaya Kesehatan Pengembangan Upaya kesehatan pengembangan puskesmas adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan di masyarakat serta yang disesuaikan dengan kemampuan puskesmas. 2. Upaya kesehatan pengembangan dipilih dari daftar upaya kesehatan pokok puskesmas yang telah ada. yakni: a) Upaya Kesehatan Sekolah b) Upaya Kesehatan Olah Raga c) Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat d) Upaya Kesehatan Kerja e) Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut f) Upaya Kesehatan Jiwa g) Upaya Kesehatan Mata h) Upaya Kesehatan Usia Lanjut i) Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional .

6 . Pencegahan Primer (Primary Prevention) Sasaran pencegahan primer dapat ditujukan pada faktor penyebab terjadinya DBD. Pengembangan dan pelaksanaan upaya inovasi ini adalah dalam rangka mempercepat tercapainya visi puskesmas.4. Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) minimal seminggu sekali di tatanan rumah tangga. tatanan sekolah. 5.4 1. tatanan tempat-tempat umum.5 3. tatanan tempat kerja.8 Promosi Kesehatan untuk DBD Pemberdayaan dan Penggerakan Masyarakat2. Mengajak masyarakat untuk melakukan PHBS. Pencegahan Tersier (Tertiary Prevention) Peran perawat komunitas dalam pencegahan tersier adalah mencegah bertambah parahnya suatu penyakit. lingkungan serta faktor pejamu. Prevention 1. dan mencegah penderita DBD mengalami komplikasi yang dapat menyebabkan kematian. Pencegahan primer yang dapat dilakukan oleh seorang perawat komunitas adalah dengan cara memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga tentang pencegahan penyakit DBD. Tujuan dari pencegahan primer adalah agar tidak terjadi penyakit DBD di masyarakat. Menjadikan anak sekolah sebagai agent of change. Perawat juga berperan dalam proses rehabilitasi untuk mencegah terjadinya efek samping dari proses penyembuhan penyakit DBD. yakni upaya lain di luar upaya puskesmas tersebut di atas yang sesuai dengan kebutuhan. Mengaktifkan Poskesdes. Melakukan mobilisasi massa untuk bersama-sama mencegah dan menanggulangi DBD. Upaya kesehatan pengembangan puskesmas dapat bersifat upaya inovasi. 2. Pencegahan Sekunder (Secondary Prevention) Peran perawat komunitas dalam pencegahan sekunder adalah melakukan diagnosis dini pada penderita DBD dan memberikan pengobatan yang tepat agar dapat dicegah meluasnya penyakit atau untuk mencegah timbulnya wabah DBD dan agar tidak timbul komplikasi pada penderita yang ditimbulkan oleh penyebab DBD.4 2. Mengajak masyarakat untuk melakukan pemeriksaan jentik nyamuk di lingkungan sekitar rumah maksimal 3 hari sekali.4. dan tatanan institusi kesehatan. 3. 6. 4.

4 Fogging (pengasapan). di rumah sakit. masyarakat dapat mengubah perilaku hidup sehat terutama meningkatkan kebersihan lingkungan. memutus daur hidup nyamuk dengan menggunakan ikan cupang di tempat penampungan air. dan tempat-tempat umum seperti tempat ibadah. baik di rumah.Penatalaksanaan Ikterus Fisiologis pada Neonatorum Program Kerja Puskesmas Pencegahan DBD yang mencakup :1-3 1. dll. makan. tutup tempat penyimpanan air rapat-rapat. 4. di sekolah. Pemberantasan nyamuk dewasa Upayakan membersihkan tempat-tempat yang disukai oleh nyamuk (misal: menggantung baju bekas pakai). Melakukan pengasapan saja tidak cukup. Dengan demikian. Nyamuk Aedes aegypti dapat diberantas dengan fogging (pengasapan) racun serangga. ban bekas. Pedoman penggunaan bubuk ABATE (abatisasi) : 1 sendok makan peres (10 gram) untuk 100 liter air. Bubuk abate tetap efektif sampai 3 bulan. pasang kasa nyamuk pada ventilasi dan jendela rumah. penyemprotan dengan zat kimia. Menutup. maka upaya untuk pencegahan DBD sangatlah penting. Terdapat beberapa jenis fogging. setiap hari akan muncul nyamuk yang baru menetas dari tempat perkembang biakannya Karena itu cara yang tepat adalah memberantas jentiknya yang dikenal dengan istilah PSN DBD yaitu singkatan dari Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue. 3. kubur kaleng. Penyuluhan bagi masyarakat Karena DBD belum ada obat yang dapat membunuh virus dengue ataupun vaksin DBD. dan Mengubur) artinya kuras bak mandi seminggu sekali. Cara memberantas nyamuk dewasa3. Pada kolam atau tempat penampungan air yang sulit dikuras dapat ditaburkan bubuk ABATE. bubuk abate akan menempel di dinding bak / tempayan / kolam. Gerakan PSN harus dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh lapisan masyarakat. yaitu : 2 . 2. Pemberantasan jentik nyamuk Dengan melakukan 3 M (Menguras. Selama jentiknya tidak dibasmi. karena dengan pengasapan itu yang mati hanya nyamuk (dewasa) saja. Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) sangatlah penting untuk pencegahan DBD. pengasapan dengan insektisida (fogging). dll. Dinding jangan disikat setelah ditaburi abate.

Fogging fokus dilakukan setelah penyelidikan epidemiologi positif. Dilakukan sekitar jam 7. 2. diikuti abatisasi.00 dan jam 15. Perlindungan perseorangan Memberikan anjuran untuk mencegah gigitan nyamuk Aedes aegypti yaitu dengan meniadakan sarang nyamuknya di dalam rumah. Menguburkan.7 1.lebar. Fogging terbuka adalah pada saat fogging dilakukan semua pintu dan jendela dibuka lebar . dan lain-lain. Dalam radius 100 m dari rumah penderita DBD ditemukan ada kasus demam tanpa sebab jelas 3.00.00. Fogging fokus adalah fogging yang dilakukan dititik fokus dan sekitarnya dengan jarak radius 100 m atau ± 20 rumah sekitarnya. 2. Pemberantasan vektor jangka panjang (pencegahan) Satu cara pokok untuk pemberantasan vektor jangka panjang ialah usaha peniadaan sarang nyamuk. Dilakukan sekitar jam 7. atau menyingkirkan barang- barang bekas yang dapat menampung air hujan seperti kaleng bekas. Dalam radius 100 m dari rumah penderita DBD ada 2 kasus DBD lainnya 2. 3. plastik bekas. menguras bak 3 . vas bunga dikosongkan tiap minggu. Dilakukan dua siklus dengan jarak seminggu.00 dan jam 15.00 – 18. Yaitu dengan melakukan penyemprotan dengan obat anti serangga yang dapat dibeli di toko-toko seperti baygon. raid dan lain lain.00 – 10. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air 3. memanfaatkan. Fogging tertutup adalah pada saat fogging dilakukan semua pintu dan jendela ditutup rapat – rapat. yaitu:4 1. Dalam radius 100 m dari rumah penderita DBD ditemukan 1 kasus meninggal karena sakit DBD Cara memberantas jentik Aedes aegypti PSN DBD dilakukan dengan cara 3M. mengumpulkan.Penatalaksanaan Ikterus Fisiologis pada Neonatorum 1.00 – 18. Syarat PE /penyelidikan epidemiologi (+):4 1. Menguras tempat-tempat penampungan air sekurang-kurangnya seminggu sekali.00 – 10.

2) Menggunakan Altosid 1.25 gram bubuk Sumilarv 0.5 G (DBD) adalah sebagai berikut: Untuk 100 liter air cukup dengan 0.5 gram bubuk Altosid 1. Selanjutnya tinggal membagikan atau menambahkannya sesuai dengan banyaknya air.3 G atau 5 gram untuk 200 liter air. Pemberantasan vektor dalam keadaan wabah. 3) Menggunakan Sumilarv 0. Kegiatan Puskesmas adalah membantu : a) Tim Propinsi/Dati II untuk survai larva dan nyamuk. dan 2) Fogging dengan malathion atau fonitrothion. Gunakan takaran khusus yang tersedia (sendok kecil ukuran kurang lebih 0.3%) – Takaran penggunaan Altosid 1.5 gram untuk 200 liter air. Maksudnya agar larva-larva dapat disingkirkan. tempat-tempat persediaan air agar dikosongkan lebih dahulu sebelum diisi kembali.5%) – Takaran penggunaan Sumilarv 0.3 G (bahan aktif: Metopren 1.6 1) Menggunakan bubuk Abate 1 G (bahan aktif: Temephos 1%) – Takaran penggunaan bubuk Abate 1 G adalah sebagai berikut: Untuk 100 liter cukup dengan 10 gram bubuk Abate 1 G dan seterusnya.5 G (DBD) (bahan aktif:piriproksifen 0.5 gram).3 G. satu sendok teh peres (yang diratakan atasnya) berisi 5 gram Altosid 1.Penatalaksanaan Ikterus Fisiologis pada Neonatorum mandi seminggu sekali yaitu dengan menggosok dinding bagian dalam dari bak mandi tersebut. Bila tidak ada alat untuk menakar. Selanjutnya tinggal membagikan atau menambahkannya sesuai dengan banyaknya air yang akan diabatisasi.3 G adalah sebagai berikut: Untuk 100 liter air cukup dengan 2. satu sendok makan peres (yang diratakan di atasnya) berisi 10 gram Abate 1 G. Bila menggunakan Abate disebut Abatisasi.Dalam usaha jangka panjang untuk daerah dengan vektor tinggi dan riwayat wabah DBD maka kegiatan Puskesmas lebih lanjut yaitu: 1) Abatesasi untuk membunuh larva dan nyamuk. 4 . b) Membantu penyiapan rumah penduduk untuk di-fogging. Takaran tidak perlu tepat betul.5 G (DBD) atau 0. Cara melakukan larvasidasi:2-4. gunakan sendok makan.3 G. Takaran tidak perlu tepat betul. gunakan sendok teh. Gunakan takaran khusus yang sudah tersedia dalam setiap kantong Altosid 1. 2. Bila tidak ada .alat penakar. Takaran tidak perlu tepat betul. Larvasidasi Larvasidasi adalah menaburkan bubuk pembunuh jentik ke dalam tempat- tempat penampungan air.

usaha/kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) demam berdarah ini seyogyanya diintegrasikan dalam program Sanitasi Lingkungan. (3) Adanya peningkatan kejadian kesakitan terus menerus selama 3 kurun waktu (jam. guru. Bila dicurigai adanya wabah perlu dilakukan penelitian di lapangan. pengelola tempat umum/instansi. II. Kegiatan PSN oleh masyarakat ini seyogyanya diintegrasikan ke dalam kegiatan di wilayah dalam rangka program Kebersihan dan Keindahan Kota. Penyuluhan/informasi tentang demam berdarah dan pencegahannya dilakukan melalui jalur. dll. Menggerakkan masyarakat untuk PSN penting terutama sebelum musim penularan (musim hujan) yang pelaksanaannya dikoordinasikan oleh kepala Wilayah setempat. radio. Penyuluhan perorangan: (1) Kepada ibu-ibu pengunjung Posyandu (2) Kepada penderita/keluarganya di Puskesmas (3) Kunjungan rumah oleh Kader/petugas Puskesmas 3. (2) Adanya peningkatan kejadian kesakitan/kematian yang dua kali atau lebih dibandingkan dengan jumlah kesakitan/kematian yang biasa terjadi pada kurun waktu sebelumnya (jam. minggu) berturut-turut menurut jenis penyakitnya. Penatalaksanaan Ikterus Fisiologis pada Neonatorum Penyuluhan Penyuluhan dan penggerakan masyarakat untuk PSN (pemberantasan sarang nyamuk). kelompok agama.5 5 . hari.7 Kejadian Luar Biasa KLB adalah timbulnya suatu kejadian kesakitan/kematian dan atau meningkatnya suatu kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu kelompok penduduk dalam kurun waktu tertentu. maksudnya ialah:3. hari. minggu) tergantung dari jenis penyakitnya.4 (1) Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada/tidak dikenal di suatu daerah. murid sekolah.jalur informasi yang ada:7 1. dll (oleh Dinas Kesehatan Tk. I dan pusat). organisasi sosial masyarakat lain. Kriteria KLB (kriteria kerja) antara lain:3. 2. Di tingkat Puskesmas. Penyuluhan kelompok: PKK. Penyuluhan melalui media massa: TV.

penyelidikan KLB. masyarakat diminta melakukan pemberantasan sarang nyamuk (Pada umumnya Penyemprotan/fogging. pengumpulan dan 6 . = Menentukan luas daerah yang terkena dan luas daerah yang perlu ditanggulangi.  Penilaian sumber-sumber (inventory) mengenai keadaan umum setempat. seperti: pembentukan posko pengobatan dan posko penanggulangan. PSN DBD. Kegiatan Bila terjadi KLB/wabah.Penatalaksanaan Ikterus Fisiologis pada Neonatorum  Untuk mengetahui adanya penderita-penderita lain atau penderita-penderita tersangka DHF yang perlu dikonfirmasi laboratorium. Tujuan Membatasi penularan DBD.7 A. Bila terdapat jentik. pemberantasan vektor penular DBD. Pengertian Penanggulangan kejadian luar biasa (KLB) adalah upaya penanggulangan yang meliputi: pengobatan/perawatan penderita.4 Perencanaan penanggulangan KLB jika terjadi KLB4. penyuluhan kepada masyarakat dan evaluasi/penilaian penanggulangan yang dilakukan di seluruh wilayah yang terjadi KLB. dan kegiatan penaggulangan lainnya yang diperlukan. B. penyuluhan di seluruh wilayah terjangkit. dilakukan penyemprotan insektisida (2 siklus dengan interval I minggu). Iarvasidasi.  Setiap kasus demam berdarah/tersangka demam berdarah perlu dilakukan kunjungan rumah oleh petugas Puskesmas untuk penyuluhan dan pemeriksaan jentik di rumah kasus tersebut dan 20 rumah di sekelilingnya. dan yang meninggal). Prioritas fogging adalah pada areal dengan kasus-kasus demam berdarah yang mengelompok. sehingga KLB yang terjadi di suatu wilayah tidak meluas ke wilayah lainnya. mengenai fasilitas dan faktor-faktor yang berperanan penting pada timbulnya wabah. C. dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Dati II.

 Cara : melakukan kegiatan 3M plus c. 1. dan lain-lain. tempat minum burung dan sebagainya. di rumah/bangunan dan tempat umum. 2. barang bekas. Penyuluhan kesehatan masyarakat. Dinas kesehatan kabupaten/kota bersama puskesmas menyusun rencana kegiatan penyuluhan. Pengobatan/perawatan penderita Penderita DBD yang berat dirawat di rumah sakit atau puskesmas yang mempunyai fasilitas perawatan. Pemberantasan vektor a. tempat penampungan air. Larvasidasi  pelaksana : tenaga dari masyarakat dengan bimbingan petugas puskesmas/dinas kesehata kabupaten/kota  lokasi : meliputi seluruh wilayah terjangkit  sasaran : tempat penampungan air(TPA) di rumah dan tempat-tempat umum  Larvasida : sesuai dengan dosis  Cara : larvasidasi dilaksanakan di seluruh wilayah KLB 3.Penatalaksanaan Ikterus Fisiologis pada Neonatorum pemeriksaan spesimen serta peningkatan kegiatan surveilans kasus dan vektor. Pelaksanaannya dikoordinasikan oleh Bupati/ Walikota setempat. Pengasapan (fogging/ ULV)  pelaksana : petugas kesehatan dinas kabupaten/kota. 7 . Pemberantasan sarang nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD)  pelaksana : masyarakat di lingkungan masing-masing  lokasi : meliputi seluruh wilayah terjangkit dan wilayah sekitarnya dan merupakan satu kesatuan epidemiologis. Puskesmas dan tenaga lain yang telah dilatih  lokasi : meliputi seluruh wilayah terjangkit  sasaran : rumah dan tempat-tempat umum  insektisida : sesuai dengan dosis  alat : mesin fog atau ULV  cara pengasapan/ULV dilaksanakan 2 siklus dengan inerval 1 minggu b.  Sasaran : semua tempat potensial bagi perindukan nyamuk. lubang pohon/tiang pagar.

Jakarta: Departeman Kesehatan RI. limfadenopati. tempat ibadah. Pedoman Kerja Puskesmas. yang didukung oleh (2) bina suasana dan (3) advokasi.  Penyuluhan melalui Ketua RT/RW (misalnya dengan membagikan leaflet kepada warga) Kesimpulan Demam berdarah dengue (DBD) adalah infeksi akut yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam.h. maka perlu dilaksanakan strategi promosi kesehatan yang terdiri dari (1) pemberdayaan.tempat umum lainnya. pemasangan spanduk. nyeri otot atau nyeri sendi yang disertai lekopenia. Kabupaten/Kota. Puskesmas. Daftar Pustaka 1. Dimana program kerja puskesmas terdiri dari pemberantasan nyamuk dewasa. tempat pemukiman (melalui organisasi wanita PKK dan organisasi lainnya). Jilid I. serta dilandasi oleh semangat (4) kemitraan. Pemerintah Daerah Propinsi. Revisi Buku Pedoman Kerja Puskesmas Tim. dengan melakukan 3 M (Menguras. pasar. dan lain-lain)  Penyuluhan melalui media elektronik (seperti: telavisi. pemberantasan jentik nyamuk. bioskop).  Penyuluhan dilaksanakan di sekolah (melalui guru UKS). 1991. Kelurahan/Desa.Penatalaksanaan Ikterus Fisiologis pada Neonatorum Kegiatan Penyuluhan Kesehatan Masyarakat (PKM) meliputi:3  Pertemuan dengan lintas sektor terkait (Departemen Pendidikan Nasional. abatisasi dan penyuluhan bagi masyarakat. poster. dan Mengubur).G1-80 8 . Menyadari rumitnya hakikat dari perilaku. stiker) dan lain-lain. Kecamatan. media cetak (surat kabar. radio Pemda/swasta lokal. ruam. Menutup. tempat. Departeman Agama. trombositopenia dan hemoragik.

20-31 3. Pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue oleh jumantik.h.Penyakit tropis. Widoyono. 2008.5. 7. Demam berdarah dengue.59 9 . Departemen Kesehatan RI.7 5. 2004.2007. Azwar A. Departemen Kesehatan. Jakarta: Depkes RI. Keputusan MenKes RI.3:1-3. edisi ke-3.h.h. Departemen Kesehatan RI. Jilid 3.hal 200-06. 2005 8. 15-8. Katalog Dalam Terbitan Departemen Kesehatan RI. 1997.7. 1991. Binarupa Aksara. Perencanaan program kesehatan.pencegahan dan pemberantasan. Pencegahan dan pemberantasan demam berdarah dengue di Indonesia. Pengantar administrasi kesehatan. Revisi Buku Pedoman Kerja Puskesmas Tim. Jakarta. Jakarta. Pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Kerja Puskesmas. Edisi ke-3 Jakarta.hal. Jakarta: Departeman Kesehatan RI. 6. Departemen Kesehatan RI.Penatalaksanaan Ikterus Fisiologis pada Neonatorum 2.epidemiologi. Kesehatan Lingkungan Pemukiman.G1-80 4. Jakarta. Kebijakan dasar pusat kesehatan masyarakat.penularan. 2007. Erlangga.