You are on page 1of 14

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TRAUMA KEPALA DI RUANG BEDAH

SYARAF RSUP Dr. SARDJITO YOGYAKARTA

A. Prinsip - Prinsip pada Trauma Kepala
 Tulang tengkorak sebagai pelindung jaringan otak, mempunyai daya elastisitas untuk
mengatasi adanya pukulan.
 Bila daya/toleransi elastisitas terlampau akan terjadi fraktur.
 Berat/ringannya cedera tergantung pada :
1. Lokasi yang terpengaruh :
 Cedera kulit.
 Cedera jaringan tulang.
 Cedera jaringan otak.
2. Keadaan kepala saat terjadi benturan.
 Masalah utama adalah terjadinya peningkatan tekanan intrakranial (PTIK)
 TIK dipertahankan oleh 3 komponen :
1. Volume darah /Pembuluh darah ( 75 - 150 ml).
2. Volume Jaringan Otak (. 1200 - 1400 ml).
3. Volume LCS ( 75 - 150 ml).

Trauma kepala

Kulit Tulang kepala Jaringan
otak

Fraktur - Komusio
 Fraktur linear. - Edema
 Fraktur comnunited - Kontusio
 Fraktur depressed - Hematom
 Fraktur basis

TIK meningkat
 Gangguan kesadaran
 Gangguan tanda-tanda
vital

GEW/Com.. C Gaguk/PSIK/2001 1

6. 2. 7. 8. Tekanan darah menurun. Papil edema. An isokor. Patofisiologi Cidera Kepala Cidera otak primer Cidera otak sekunder  Kontosio  Laserasi Kerusakan sel otak Respon biologik Sembuh Gangguan aliran darah otak TIK meningkat :  Edema  Hematom  Metabolisme anaerobik  Hipoximia Respon biologik Gejala : 1. Kesadaran makin menurun. 3. Muntah proyektil.sakit kepala hebat. Trauma akibat persalinan. C. Jatuh 3. Etiologi 1.  Kelainan neurologis B. C Gaguk/PSIK/2001 2 .. Suhu tubuh yang sulit dikendalikan. bradikardia. GEW/Com. Jika klien sadar ----. 5. 4. Perubahan tipe kesadaran. Kecelakaan 2.

2. Trauma kepala terbuka : Kerusakan otak dapat terjadi bila tulang tengkorak masuk kedalam jaringan otak dan melukai :  Merobek duramater -----LCS merembes.  Brill hematom. Trauma Kepala Tertutup : GEW/Com. Trauma Kepala Gangguan auto regulasi TIK meningkat Aliran darah otak menurun Edema otak Gangguan metabolisme  O2 menurun..  Rhinorrhoe. Asam laktat meningkat Metabolik anaerobik Tipe Trauma kepala : 1. Gejala fraktur basis :  Battle sign. Trauma kepala terbuka. Trauma kepala tertutup.  Orthorrhoe.  Periorbital echymosis. C Gaguk/PSIK/2001 3 .  Saraf otak  Jaringan otak.  CO2 meningkat.  Hemotympanum.

Kontosio Cerebri / memar otak :  Ada memar otak. diet cukup.20 menit. Hematom Epidural :  Perdarahan anatara tulang tengkorak dan duramater.  Gejala : .  Katagori talk and die. GEW/Com.  Tidak ada terapi khusus. 3.  Perdarahan kecil lokal/difus ---. Hematom epidural. muntah.  Lokasi tersering temporal dan frontal.  Disorientasi sementara.berdiri -- pulang. 4. konvulsi. reflek patologik positip. C Gaguk/PSIK/2001 4 . Hematom intrakranial. Kelainan neurologik positip. . Gejala TIK meningkat. observasi tanda-tanda vital. Hematom subdural.setelah keluhan hilang coba mobilisasi bertahap.gangguan lokal --.  Setelah pulang ---. Kontosio.  Gejala : (manifestasi adanya proses desak ruang). Gangguan kesadaran lebih lama. duduk --.  MRS kurang 48 jam ---.  Muncul gejala nyeri kepala.kontrol..  Tanpa kerusakan otak permanen. aktivitas sesuai. pusing.  Sumber : pecahnya pembuluh darah meningen dan sinus venosus. Komosio / gegar otak :  Cidera kepala ringan  Disfungsi neurologis sementara dan dapat pulih kembali. Amnesia retrograd lebih nyata. Komosio 2.  Tidak ada gejala sisa. . 5. lumpuh. istirahat cukup. kurang dari 10 .perdarahan.  Istirahat mutlak ---.  Hilang kesadaran sementara .1. .kontrol 24 jam I .

kronis.Gejala 24 .  Kronis : -Ringan .Sakit kepala. dekortisasi. letargi. reflek patologik positip. . deserebrasi. adanya bekuan darah.4 bulan. Pengaruh Trauma Kepala :  Sistem pernapasan  Sistem kardiovaskuler.deselerasi mendadak.Sering berhubungan dnegan cidera otak & medulla oblongata.Penurunan kesadaran ringan saat kejadian ----. .  Biasanya pecah vena --.periode Lucid (beberapa menit - beberapa jam) ---. Hematom Subdural :  Perdarahan antara duramater dan arachnoid. gerakan akselerasi . nyeri kepala hebat.penurunan kesadaran hebat --.koma. bingung. sub akut. -Perdarahan kecil-kecil terkumpul pelan dan meluas. C Gaguk/PSIK/2001 5 .10 hari. pupil an isokor. kantuk.akut. Berkembang 7 .  Herniasi merupakan ancaman nyata.  Sistem Metabolisme. -Gejala sakit kepala.48 jam. 2 minggu . disfagia.  Akut : . edema lokal. . adanya gejal TIK meningkat --- kesadaran menurun. reflek melambat. kontosio agak berat. kacau mental.  Sub Akut : . kejang.  Selalu diikuti oleh kontosio.  Penyebab : Fraktur depresi. reflek pupil lambat.PTIK meningkat. penetrasi peluru.. Hematom Intrakranial :  Perdarahan intraserebral ± 25 cc atau lebih. Sistem Pernapasan : GEW/Com. .3 .

-Takikardia. rendah. Vaskuler. sistemik dan tek darah Meningkatkan tek. Karena adanya kompresi langsung pada batang otak ---. Sistem Metabolisme :  Trauma kepala --. hidrostatik Kebocoran cairan kapiler Sistem pembuluh darah pulmonal tek. Sistem Kardivaskuler :  Trauma kepala --.cenderung terjadi retensi Na.curah jantung menurun --. TIK meningkat Hipoksemia. tek.gejala pernapasan abnormal :  Chyne stokes.. C Gaguk/PSIK/2001 6 .perubahan fungsi jantung : kontraksi.  Apneu. ---. Trauma GEW/Com. air.  Perubahan saraf otonoom pada fungsi ventrikel : -Disritmia. edema paru. hiperkapnia Meningkatkan rangsang simpatis Peningkatan hambatan difusi O2 .terjadi penurunan kontraktilitas ventrikel.Co2. dan hilangnya sejumlah nitrogen.  Tidak adanya stimulus endogen saraf simpatis --. -Fibrilasi.  Dalam keadaan stress fisiologis.  Hiperventilasi.edema paru. Edema paru Meningkatkan tahanan vask.menigkatkan tahanan ventrikel kiri --.

2 hari. Trauma Tubuh perlu energi untuk perbaikan Nutrisi berkurang Penghancuran protein otot sebagai sumber nitrogen utama.  Pada keadaan lain : Fraktur Tengkorak Kerusakan hipofisis Atau hipotalamus Penurunan ADH Diabetes Mellitus Ginjal Ekskresi air Dehidrasi Hilang nitrogen meningkat -----------. ] Pengaruh Pada G.I Tract. ADH dilepas Retensi Na dan air Out put urine menurun Konsentrasi elektrolit meningkat  Normal kembali setelah 1 .. Lambung hiperacidi Hipotalamus -----.respon tubuh merangsang hipotalamus dan stimulus vagal.respon metabolik terhadap trauma. : 3 hari pasca trauma --. C Gaguk/PSIK/2001 7 .hipofisis anterior Adrenal Steroid Peningkatan sekresi asam lambung Hiperacidi GEW/Com.

status perkawinan. karena gangguan koordinasi. Data-data ini sangat berarti karena dapat mempengaruhi pronosa pasien. adanya refleks babinski yang positif. 3. muntah. luka di kepala. datang ke rumah sakit dengan penurunan tingkat kesadaran (GCS di bawah 15). dispnea/takipnea. lemah. raba. suhu dan getaran. jenis kelamin. perubahan nilai tanda- tanda vital. perubahan ukuran pupil.menurun. disorentasi orang/tempat dan waktu. Identitas pasien dan keluarga (penanggung jawab) : nama. Riwayat penyakit dahulu : Haruslah diketahui baik yang berhubungan dnegan sistem persarafan maupun penyakit sistem sistemik lainnya. kerusakannya akan menyebabkan penurunan lapang pandang. Kerusakan nervus I (Olfaktorius) : memperlihatkan gejala penurunan daya penciuman dan anosmia bilateral. kejang dan ataksia. Adanya hemiparese. bola mata tidak dapat mengikuti perintah. pada trauma frontalis : memperlihatkan gejala berupa penurunan gejala penglihatan. Gangguan keseimbangan dimana pasien sadar. Nervus II (Optikus). wajah tidak simestris. paralise. adanya gerakan decebrasi atau dekortikasi dan kemungkinan didapatkan kaku kuduk dengan brudzinski positif. agama/suku bangsa. umur. anisokor. Terjadi gerakan-gerakan involunter. Pasien juga tidak dapat mengingat kejadian sebelum dan sesuadah trauma. Riwayat Kesehatan : Pada umumnya pasien dengan trauma kepala. Demikian pula riwayat penyakit keluarga. dapat terlihat limbung atau tidak dapat mempertajhankana keseimabangan tubuh. GEW/Com. hemiparise.Trauma Stress Perdarahan lambung Katekolamin meningkat. biasanya GCS kurang dari 15. 2. golongan darah. Nervus kranialis dapat terganggu bila trauma kepala meluas sampai batang otak karena edema otak atau pendarahan otak. dia tidak dapat membedakan berbagai rangsangan/stimulus rasa.. Pada pasien sadar. dan adanya kejang. sakit kepala. Pemeriksaan Fisik : Aspek Neurologis : Yang dikaji adalah Tingkat kesadaran. penghasilan. C Gaguk/PSIK/2001 8 . Pengkajian Pengumpulan data pasien baik subyektif atau obyektif pada gangguan sistem persyarafan sehubungan dengan trauma kepala adalah sebagi berikut : 1. terutama yang mempunyai penyakit menular. adanya liquor dari hidung dan telinga. hubungan pasien dengan penagnggung jawab. dll. akumulasi spuntum pada saluran nafas. Riwayat kesehatan tersebut dapat dikaji dari pasien atau keluarga sebagai data subyektif. Nervus IV (Trokhlearis) dan Nervus VI (Abducens). alamat. refleks cahaya . bingung. Nervus III (Okulomotorius).

Komunikasi verbal baik. Nervus VIII (Akustikus). Hal ini menjadi dasar dalam pemberian makanan. mata. disorentasi waktu. kecuali apabila terjadi peningkatan intrakranial maka tekanan darah meningkat. Hal ini menyebabkan adanya kesulitan menelan. Aspek sistem pernapasan : Terjadi perubahan pola napas. II. pada pasien sadar gejalanya berupa menurunnya daya pendengaran dan kesimbangan tubuh. Buka mata spontan. pada trauma kapitis yang mengenai neuron motorik atas unilateral dapat menurunkan fungsinya. gejala yang biasa timbul. Selain itu pengkajian lain yang perlu dikumpulkan adalah adanya perdarahan atau cairan yang keluar dari mulut. Adanya Hiccuping (cekungan) karena kompresi pada nervus vagus. dimana terdapat hiponatremia atau hipokalemia. atau iramanya tidak teratur. Bingung. adanya anestesi daerah dahi. Pada sistem gastro-intestinal perlu dikaji tanda-tanda penurunan fungsi saluran pencernaan seperti bising usus yang tidak terdengar/lemah. Adanya hipereskresi pada rongga mulut.. Hal ini terjadi karena kompresi batang otak.Tidak reaksi dengan rangsangan apapun. Aspek sistem eliminasi : Akan didapatkan retensi/inkontinen dalam hal buang air besar atau kecil. 2 2. wheezing atau stridor. hidung. yang menyebabkan kompresi spasmodik dan diafragma. melemahnya penutupan kelopak mata dan hilangnya rasa pada 2/3 bagian lidah anterior lidah. Aspek Kardiovaskuler : Didapat perubahan tekanan darah menurun. irama tidak teratur (chyne stokes. 3. Nervus X (Vagus). bunyi napas ronchi. dan Nervus XI (Assesorius). Terdapat ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Adanya perdarahan terbuka/hematoma pada bagian tubuh lainnya. Nervus V (Trigeminus). Glasgow Coma Scale : I. Reaksi Berbicara 4. Cekungan yang terjadi. kedalaman maupun frekuensi yaitu cepat dan dangkal. adalah jatuhnya lidah kesalah satu sisi. kemudian takhikardia. Nervus XII (hipoglosus). gejala jarang ditemukan karena penderita akan meninggal apabila trauma mengenai saraf tersebut. 1. 3. Buka mata bila dipanggil/rangsangan suara. gangguannya ditandai . Adanya sekret pada tracheo brokhiolus. Nervus IX (Glosofaringeus). Nervus VII (Fasialis). denyut nadi bradikardi. telinga. Buka mata bila dirangsang nyeri. 4. GEW/Com. tempat dan person. baik irama. disfagia dan disartria. Reaksi Membuka Mata. Peningkatan suhu tubuh dapat terjadi karena adanya infeksi atau rangsangan terhadap hipotalamus sebagai pusat pengatur suhu tubuh. Hal ini perlu pengkajian dari kepalal hingga kaki. aanya mual dan muntah. biasanya yang berisiko peningkatan tekanan intrakranial. C Gaguk/PSIK/2001 9 . jawaban tepat. ataxia brething). tidak adanya lipatan nasolabial.

5. Data sosial yang diperlukan adalah bagaimana psien berhubungan dnegan orang-orang terdekat dan yang lainnya. Tentu saja data yang dikumpulkan bila tidak ada penurunan kesadaran. tidak ada reaksi 4. maka untuk data psikologisnya tidak dapat dinilai. III. Dengan rangsangan nyeri.. Dengan rangsangan nyeri. Reaksi Gerakan Lengan / Tungkai 6. apatis. 5 3. Tidak ada reaksi dengan rangsangan apapun. perubahan tingkah laku. Dengan rangsangan. sedangkan pada pasien yang tingkat kesadarannya agak normal akan terlihat adanya gangguan emosi. C Gaguk/PSIK/2001 10 . emosi yang labil. timbul reaksi extensi abnormal. Mengikuti perintah.  Terapi hiperventilasi (trauma kepala berat).  Angiografi. menarik anggota badan. kemampuan berkomunikasi dan peranannya dalam keluarga. reaksi hanya berupa kata tidak membentuk kalimat. dan kebingungan keluarga pasien karena mengalami kecemasan sehubungan dengan penyakitnya. 1. 7. Dengan rangsangan nyeri.3 2. Pengkajian Psikologis : Dimana pasien dnegan tingkat kesadarannya menurun. 4 4. untuk mengurnagi vasodilatasi. GEW/Com. Serta pandangan pasien terhadap dirinya setelah mengalami trauma kepala dan rasa aman. 5. 2. timbul reaksi fleksi abnormal. 6. dosis sesuai dengan berat ringanya trauma. iritabel. delirium. Dengan rangsangan nyeri. 1. Dengan rangsangan nyeri dapat mengetahui tempat rangsangan. semangat dan falsafah hidup pasien serta ke-Tuhanan yang diyakininya. Pemeriksaan Diagnostik : Pemeriksaan diagnostik yang dilakukan dalam menegakkan diagnosa medis adalah :  X-Ray tengkorak. Data spiritual : Diperlukan adalah ketaatan terhadap agamanya.  CT-Scan. Penatalaksanaan Medis Pada Trauma Kepala : Obat-obatan :  Dexamethason/kalmethason sebagai pengobatan anti edema serebral.

aturan terapi untuk tirah baring. 8. Potensial terjadinya infeksi berhubungan dnegan masuknya kuman melalui jaringan atau kontinuitas yang rusak. 10. Gangguan persepsi sensoris berhubungan dengan penurunan daya penangkapan sensoris. 9.3 hari kemudian diberikan makanan lunak. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dnegan penurunan produksi anti diuretik hormon (ADH) akibat terfiksasinya hipotalamus. Pada trauma ringan bila muntah-muntah tidak dapat diberikan apa-apa.  Makanan atau cairan. Gangguan rasa nyaman : Nyeri kepala berhubunagn dnegan kerusakan jaringan otak dan perdarahan otak/peningkatan tekanan intrakranial. 2. Gangguan rasa aman : Cemas dari keluarga berhubungan dengan ketidakpastian terhadap pengobatan dan perawatan serta adanya perubahan situasi dan krisis. hanya cairan infus dextrosa 5 %. C Gaguk/PSIK/2001 11 . Dextosa 5 % 8 jam pertama. Karena hari-hari pertama didapat penderita mengalami penurunan kesadaran dan cenderung terjadi retensi natrium dan elektrolit maka hari-hari pertama (2-3 hari) tidak terlalu banyak cairan. 3. Aktual/Potensial terjadi gangguan kebutuhannutrisi : Kurang dari kebutuhan berhubungan dengan berkurangnya kemampuan menerima nutrisi akibat menurunnya kesadaran. Pada hari selanjutnya bila kesadaran rendah makanan diberikan melalui nasogastric tube (2500 . Pemberian protein tergantung nilai ure nitrogennya. Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan imobilisasi.  Pembedahan. 5..  Pada trauma berat. berhubungan dengan kerusakan pusat pernapasan di medulla oblongata. hematoma). 6.3000 TKTP). amnifusin.  Pengobatan anti edema dnegan larutan hipertonis yaitu manitol 20 % atau glukosa 40 % atau gliserol 10 %.  Antibiotika yang mengandung barrier darah otak (penisillin) atau untuk infeksi anaerob diberikan metronidasol. aminofel (18 jam pertama dari terjadinya kecelakaan). 7. 2 . ringer dextrosa 8 jam kedua dan dextrosa 5 % 8 jam ketiga. Potensial atau aktual tidak efektinya pola pernapasan. GEW/Com. Gangguan perfusi jaringan otak berhubungan dengan gangguan peredaran darah karena adanya penekanan dari lesi (perdarahan. 4. Potensial terjadinya peningkatan tekanan intrakranial berhubungan dengan adanya proses desak ruang akibat penumpukan cairan darah di dalam otak. Prioritas Diagnosa Keperawatan : 1.

7. Batuk dan cekukan merupakan reflek dari gangguan medulla. C Gaguk/PSIK/2001 12 . Hipovolumik/hipotensi merupakan manifestasi dari multiple trauma yang dapat menyebabkan ischemia serebral. sentuhan yang ramah dan suasana/pembicaraan yang tidak gaduh. penurunan dari outoregulator kebanyakan merupakan tanda penurun difusi lokal vaskularisasi darah serebral. lingkungan yang tenang. 2. 5. mengkaji status neurologi/tanda-tanda kegagalan untuk menentukan perawatan kegawatan atau tindakan pembedahan. Keseimbangan saraf antara simpatik dan parasimpatik merupakan respon reflek nervus kranial. R. R/ Reaksi pupil dan pergerakan kembali dari bola mata merupakan tanda dari gangguan nervus/saraf jika batang otak terkoyak. R/ Kemungkinan injuri pada otak besar atau batang otak. R/ Panas merupakan reflek dari hipotalamus. keadaa membran mukosa.Adanya babinski reflek indikasi adanya injuri pada otak piramidal. Evaluasi pupil. Peningkatan kebutuhan metabolisme dan O2 akan menunjang peningkatan ICP. R/ Menganalisa tingkat kesadaran dan kemungkinan dari peningkatan TIK dan menentukan lokasi dari lesi. 6. R/ Deteksi dini untuk memprioritaskan intervensi. 10. dan output : catat turgor kulit. Kaji penglihatan. Tindakan yang terus-menerus dapat meningkatkan ICP oleh efek rangsangan komulatif. Hindari penggunaan bantal yang banyak pada kepala.Intervensi : 1. Monitor GCS dan mencatatnya. Berikan periode istirahat anatara tindakan perawatan dan batasi lamanya prosedur. Monitor temperatur dan pengaturan suhu lingkungan. R/ Suatu kedaan normal bila sirkulasi serebral terpelihara dengan baik atau fluktuasi ditandai dengan tekanan darah sistemik. Monitor intake. pergerakan mata dan reaksi reflek babinski. 8. HR dan disrhytmia merupakan perkembangan dari gangguan batang otak. Penurunan reflek penglihatan merupakan tanda dari trauma pons dan medulla. R/ Arahkan kepala ke salah datu sisi vena jugularis dan menghambat drainage pada vena cerebral dan meningkatkan ICP. R/ Indikasi dari gangguan perfusi jaringan trauma kepala dapat menyebabkan diabetes insipedus atau syndroma peningkatan sekresi ADH. Memonitor tanda-tanda vital. 4. Kaji faktor penyebab dari situasi/keadaan individu/penyebab coma/penurunan perfusi jaringan dan kemungkinan penyebab peningkatan TIK. Pertahankan kepala/leher pada posisi yang netral. daya ingat. usahakan dnegan sedikit bantal. Kurangi rangsangan esktra dan berikan rasa nyaman seperti massage punggung. 3. Dengan peningkatan tekanan darah (diatolik) maka dibarengi dengan peningkatan tekanan darah intra kranial.. 9. GEW/Com.

16. R/ Memberikan suasana yang tenag (colming efek) dapat mengurangi respon psikologis dan memberikan istirahat untuk mempertahankan/ICP yang rendah. C Gaguk/PSIK/2001 13 . dan mengurangi edema cerebral dan ICP. Berikan cairan intra vena sesuai dengan yang dindikasikan. Naikkan kepala pada tempat tidur/bed 15 . Berikan Steroid contohnya : Dextamethason. 20. furoscide. 18. R/ Untuk menurunkan inflamasi (radang) dan mengurangi edema jaringan. GEW/Com.. peningkatan minimum pada pembuluh darah. Palpasi pada pembesaran/pelebaran blader. 15. Berikan Oksigen. R/ Tingkah non verbal ini dpat merupakan indikasi peningkatan ICP atau memberikan reflek nyeri dimana pasien tidak mampu mengungkapkan keluhan secara verbal. nyeri yang tidak menurun dapat meningkatakan ICP. 17. R/ Mengurangi/mengontrol hari dan pada metabolisme serebral/oksigen yang diinginkan. Bantu pasien jika batuk. mengurangi kongesti cerebral dan edema/resiko terjadi ICP. tekanan darah dan ICP. pertahankan drainage urin secara paten jika digunakan dan juga monitor terdapatnya konstipasi. R/ Dapat meningkatkan respon automatik yang potensial menaikan ICP. contohnya : aseptaminophen. 13. R/ Mungkin diindikasikan untuk mengurangi nyeri dan obat ini berefek negatif pada ICP tetapi dapat digunakan dengan sebab untuk mencegah. R/ Peningkatan drainage/aliran vena dari kepala. R/ Diuretik mungkin digunakan pada pase akut untuk mengalirkan air dari brain cells.45 derajat sesuai dengan tolenransi/indikasi. 19. 11. 12. Kaji peningkatan istirahat dan tingkah laku pada pagi hari. Berikan obat Diuretik contohnya : mannitol. R/ Mungkin digunakan untuk mengontrol kurangnya istirahat dan agitasi. Kolaborasi : 14. dimana dapat meningkatkan vasodilatasi cerebral dan volume darah dan menaikkan ICP. methyl prednisolone. R/ Mengurangi hipoxemia. Berikan analgesik dosis tinggi contoh : Codein. R/ Pemberian cairan mungkin diinginkan untuk menguransi edema cerebral. muntah. R/ Aktivitas ini dapat meningkatkan intra thorak/tekanan dalam torak dan tekanan dalam abdomen dimana akitivitas ini dapat meningkatkan tekanan ICP. Berikan antipiretik. 21. Berikan Sedatif contoh : Benadryl.

1 .M. Jakarta : ECG. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan. Soedono Madiun. Ed. Long.. Perencanaan Asuhan Keperawatan Perioperatif. Jakarta : EGC. (1999). Diagnosa Keperawatan dan Masalah Kolaboratif. (1995). (1999).P. Tidak Dipublikasikan Reksoprodjo.2. Makalah Kegawat daruratan dalam bidang bedah. dkk. L. Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Bandung. (1998).C. J. C Gaguk/PSIK/2001 14 . Makalah Kuliah Medikal bedah PSIK FK Unair Surabaya. Jakarta : EGC. DAFTAR PUSTAKA Carpenito. Tucker. (1999). Penatalaksanaan Pada Kasus Trauma Kepala. B. Rothrock. Standart Perawatan Pasien : Proses Keperawatan.C. Komite Keperawatan RSUD Dr. GEW/Com. S. Jakarta : Bina rupa Aksara. (1996). S. Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Kperawatan). Ed. Tidak dipublikasikan. Diagnosis dan Evaluasi.