You are on page 1of 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) merupakan penyakit yang umum yang
menyerang sistem reproduksi pada pria dewasa karena penyakit ini di pengaruhi oleh
faktor umur seseorang. Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) terjadi sekitar 50% pada pria
umur 50 tahun ke atas dan sekitar 90% pria pada usia 80 tahun keatas. Kurang lebih 25%
membutuhkan terapi ketika mencapai umur 80 keatas.
Menurut WHO (2004) penderita Benigna Prostat Hiperplasia diseluruh dunia
mencapai 2.466.000 jiwa, sedangkan untuk benua asia mencapai 764.000 jiwa.
Sedangkan menurut badan pusat statistik indonesia penderita Benigna Prostat Hiperplasia
mencapai dan berdasarkan hasil rekam medik rumah sakit pandanarang boyolali pada
tahun 2012 adalah sebanyak 90 kasus dan awal tahun 2012 sampai april 2013 tercatat 131
kasus. Melihat jumlah penderita Benigna Prostat Hiperplasia cukup banyak dan
penatalaksanaan nya juga bervariasi maka penulis tertarik untuk mempelajari lebih dalam
tentang Benigna Prostat Hiperplasia.
1.2 Tujuan Penulisan
1.2.1. Tujuan Umum
Memahami gambaran asuhan keperawatan dengan Benigna Prostat Hiperplasia. Dan
mampu menggambarkan asuhan keperawatan pada pasien Benigna Prostat
Hiperplasia.
1.2.2. Tujuan Khusus
1. Memahami pengkajian pada klien dengan Benigna Prostat Hiperplasia.
2. Memahami diagnosa keperawatan pada klien dengan Benigna Prostat Hiperplasia.
3. Memahami rencana keperawatan pada klien dengan Benigna Prostat Hiperplasia.
4. Memahami tindakan keperawatan pada klien dengan Benigna Prostat Hiperplasia.
5. Memahami evaluasi asuhan keperawatan pada klien dengan Benigna Prostat
Hiperplasia.
6. Memahami pendokumentasian asuhan keperawatan dengan klien dengan Benigna
Prostat Hiperplasia.

1

2015). atau menjadi semakin buruk secara spontan. Peningkatan BUN dan kreatinim serum 2 .2011). (Wim de jong).1 Definisi Benign prostatic hyperplasia (BPH) adalah suatu kondisi yang sering terjadi sebagai hasil dari pertumbuhan dan pengembalian hormon prostat (Yuliana elin. 2011).BAB II TINJAUAN TEORITIS 2. 2.2 Etiologi Dengan bertambahnya usia. Gejala BPH berganti-ganti dari waktu ke waktu dan mungkin dapat semakin parah.3 Manifestasi Klinis 1. 2. Testosteron dianggap mempengaruhi bagia tepi prostat. sedangkan estrogen (dibuat oleh kelenjar adrenal) mempengauhi bagian tengah prostat (M Clevo Rendy dan Margareth TH. BPH (Benign Prostat Hyperplasia) adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat yang dapat menyebabkan obstruksi dan ristriksi pada jalan urine (urethra) (M Clevo Rendy dan Margareth TH. akan terjadi perubahan keseimbangan testosteron esterogen karena produksi testosterone menurun dan terjadi konversi testosterone menjadi esterogen pada jaringan adiposa diperifer. Sebagai etiologi sekarang dianggap bahwa ketidakseimbangan endrokin. Kategori keparahan BPH berdasarkan gejala dan tanda Keparahan penyakit Kekhasan gejala dan tanda Ringan Asimtomatik Kecepatan urinari puncak <10mL/s Volume urin residual setelah pengosongan >25-50Ml. 2015). efek perubahan juga terjadi perlahan-lahan. 2. Pasien BPH dapat menunjukan berbagai macam tanda dan gejala. Berbagai tanda dan gejala dapat dibagi menjadi 2 kategori : obstruktif (terjadi ketika faktor dinamik dan/faktor static mengurangi pengosongan kandung kemih) dan iritatif (hasil dari obstruksi yang sudah berjalan lama pada leher kandung kemih). (Yuliana Elin. menjadi stabil. Karena proses pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan.

Retensi urin akut atau ketidakmampuan berkemih. Terapi yang di tawarkan pada pasien tergantung pada derajat keluhan. tetapi tidak mempengaruhi proses hiperplasi prostat.5 Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan 2. Penyakit batu kandung kemih. Keuntungan obat ini adalah efek positif segera terhadap keluhan. parah Semua yang diatas ditambah satu atau dua lebih komplikasi BPH 2. 1. Komplikasi-komplikasi tersebut dapat muncul apabila pembesaran prostat jinak yang terjadi tidak diobati secara efektif. diberikan pengobatan konservatif. hydronefrosis dan gangguan fungsi ginjal. maupun kondisi obyektif kesehatan pasien yang di akibatkan oleh penyakitnya. Obstruksi dengan dilatasi uretra. Sedikitpun kekurangannya adalah obat ini tidak dianjurkan untuk pemakaian lama. 4. 5. 2. 2. misalnya menghambat adrenoresptor alfa seperti alfazosin dan terazosin. 3.sedang Semua tanda diatas ditambah obstruktif penghilangan gejala dan iritatif penghilangan gejala (tanda dari desrusor yang tidak stabil). keadaan pasien.1 Medis Tujuan terapi pada pasien BPH adalah mengembalikan kualitas hidup pasien. Stadium III 3 . Beberapa komplikasi yang mungkin dapat timbul antara lain: 1. Infeksi saluran kemih. 2.5. Kerusakan kandung kemih dan ginjal. Stadium I Pada stadium ini biasanya belum memerlukan tindakan bedah.4 Komplikasi Pembesaran prostat jinak (BPH) kadang-kadang dapat mengarah pada komplikasi akibat ketidakmampuan kandung kemih dalam mengosongkan urin. Stadium II Pada stadium II merupakan indikasi untuk melakukan pembedahan biasanya dianjurkan reseksi endoskopi melalui uretra (trans uretra) 3.

2. sisa kencing dan colok dubur. tiap 3 bulan kontrol keluhan. TURP (Trans Uretral Resection Prostatectomy) Yaitu pengangkatan sebagian atau keseluruhan kelenjar prostat melalui sitoskopi atau resektoskop yang dimasukkan malalui uretra. penurunan fungsi ginjal. retropubik dan perineal. kurangi kopi. hidronefrosis jenis pembedahan: a. Menurut Mansjoer dan Purnomo. hematuria. hindari obat dekongestan. infeksi saluran kemih berulang. Terapi Bedah Indikasinya adalah bila retensi urin berulang. Obat anti androgen c. penatalaksanaan pada BPH dapat dilakukan dengan: 1. Pembedahan terbuka dapat dilakukan melalui trans vesika. Mengharnbat adrenoreseptor α b. Prostatektomi retropubis 4 . b. dilakukan pemeriksaan lebih lanjut amok melengkapi diagnosis. Stadium IV Pada stadium IV yang harus dilakukan adalah membebaskan penderita dari retensi urin total dengan memasang kateter atau sistotomi. c. Pada penderita yang keadaan umumnya tidak memungkinkan dilakukan pembedahan dapat dilakukan pengobatan konservatif dengan memberikan obat penghambat adrenoreseptor alfa. Setelah itu. divertikel batu saluran kemih. Fisioterapi 3. hindari alkohol. hidroureter. kemudian terapi definitive dengan TUR atau pembedahan terbuka. 4. Prostatektomi Suprapubis Yaitu pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi yang dibuat pada kandung kemih. Penghambat enzim α -2 reduktase d. Sebaiknya dilakukan pembedahan terbuka. Pengobatan konservatif adalah dengan memberikan obat anti androgen yang menekan produksi LH. Medikamentosa a. Pada stadium II reseksi endoskopi dapat dikerjakan dan apabila diperkirakan prostat sudah cukup besar. Observasi Kurangi minum setelah makan malam. sehinga reseksi tidak akan selesai dalam 1 jam.

Dan menentukkan jadwal pengosongan kandung kemih: bokong pasien diletakkan di atas stekpan / pispot atau pasien diminta ke toilet selama 30 menit – 2 jam untuk berkemih. Pemeriksaan darah lengkap (Hb minimal 10g/dl. Rongen thorax 4. 4. rubor. fungsilasea) 5 .5. BT. IVP. f. Pemeriksaan EKG. Sebelum pemeriksaan IVP pasien diberikan diet bubur kecap 2 hari. Monitor timbul tanda-tanda infeksi (kalor. cloting. Golongan Darah. Terapi Invasif Minimal Trans Uretral Mikrowave Thermotherapy (TUMT) Yaitu pemasangan prostat dengan gelombang mikro yang disalurkan ke kelenjar prostat melalui antena yang dipasang melalui/pada ujung kateter. Yaitu pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi pada abdomen bagian bawah melalui fosa prostat anterior tanpa memasuki kandung kemih. AL) 2. 5. 6. CT. GDS mengingat penderita BPh kebanyakan lansia 3. Drainase urin. warna. dilakukan 4 kali sehari. Trans Uretral Ballon Dilatation (TUBD) 2. dolor. d. meliputi : kelancaran. Pemeriksaan Radiologi: BNO. Prostatektomi Peritoneal Yaitu pengangkatan kelenjar prostat radikal melalui sebuah insisi diantara skrotum dan rektum. tumor. g. Persiapan sebelum pemeriksaan BNO puasa minimal 8 jam. Kebutuhan cairan: minum adekuat (±3 liter/hari) 3. vesikula seminalis dan jaringan yang berdekatan melalui sebuah insisi pada abdomen bagian bawah.2 Keperawatan Pre operasi 1. uretra dianastomosiskan ke leher kandung kemih pada kanker prostat. dan mengurangi bicara untuk meminimalkan masuknya udara Post operasi 1. e. Program “Bladder Treaining” yaitu latihan kontraksi otot-otot parineal selama 10 menit. Trans Uretral Ultrasound Guided Laser Induced Prostatectomy (TULIP) h. 2. lavemen puasa minimal 8 jam. Diskusikan pemakaian kateter intermiten. jumlah. Prostatektomi retropubis radikal Yaitu pengangkatan kelenjar prostat termasuk kapsula.

Dalam kelenjar sering terdapat sekret granuler. berkonsistensi lemak dan terbatas tegas dengan jaringan prostat yang terdesak. tonjolan itu jelas dapat dibedakan dengan jaringan prostat yang masih sangat baik. maka terjadi gambaran yang terjadi atas jaringan ikat atau jaringan otot dengan kelenjar-kelenjar yang letaknya saling 6 . Biasanya yang lebih banyak berproliferasi ialah unsur kelenjar sehingga terjadi penambahan kelenjar dan terbentuk kista-kista yang dilapisi oleh epitel torak atau koboid selapis yang pada beberapa tempat membentuk papil-papil kedalam lumen. maka warnanya kuning kemerahan. Rawat kateter secara sterilsetiap hari pertahankan posisi kateter. 7. epitel yang terlepas dan corpora anylacea. Apabila unsur fibromuskuler yang bertambah. Warnanya bermacam- macam tergantung kepada unsur yang bertambah. Apabila unsur fibromuskuler yang bertambah. Kadang-kadang terjadi penambahan kelenjar yang kecil- kecil sehingga menyerupai adenokarsinoma.6 Patofisiologi BPH terjadi pada umur yang semakin tua (>45 tahun) dimana fungsi testis sudah menurun. Membran basalis masih utuh. yang berwarna putih keabu-abuan dan padat. Jelaskana perubahan pola eliminasi dan pola seksual. Makrokospik dapat mencapai 60-100gram dan kadang-kadang lebih besar lagi hingga 200 gram atau lebih. yaitu bagian yang dikenal sebai lobus posterior. tetapi tidak mengenai bagian posterior dari pada lobus medialis. Apabila tonjolan itu ditekan maka akan keluar cairan seperti susu. Apabila yang bertambah terutama unsur kelenjar. Pada penampang. 8. 9. Akibat penurunan fungsi testis ini menyebabkan ketidakseimbangan hormon testosteron dan dehidrostesteoteron sehingga memacu pertumbuhan/pembesaran prostat. atau menekan dari bagian tengah. jangan sampai tertekuk. namun dapat juga sampai 8 bulan yang perlu diikuti dengan latihan perineal/Kegel Exercise 2. Fungsi normal kandung kemih akan kembali dalam waktu 2-3 minggu. Gambaran mikroskopik juga bermacam-macam tergantung pada unsur yang berproliferasi. Kadang-kadang tonjolan itu merupakan suatu pilip yang sewaktu-waktu dapat menutup lumen uretrha. maka tonjolan berwarna abu-abu padat dan tidak mengeluarkan cairan seperti halnya jaringan prostat yang terdesak sehingga batasnya tidak jelas. Tonjolan ini dapat menekan uretrha dari lateral sehingga lumen uretrha menyerupai celah. Tonjolan biasanya terdapat pada lobus lateralis dan lobus medius. yang sering merupakan tempat berkembangnya karsinoma (Moore).

Selain gambaran di atas sering terdapat perubahan lain berupa : 1. 7 .berjauhan. Pada jaringan ikat atau jaringan otot biasanya terdapat serbukan limfosit. Gambaran ini juga dinamai hiperplasi fibrimatosa atau hiperplasi leiomymatosa. Metaplasia skwamosa epitel kelenjar dekat uretra. Daerah infark yang biasanya kecil-kecil dan kadang-kadang terlihat dibawah mikroskop. Tanda dan gejala dari BPH adalah dihasilkan oleh adanya obstruksi jalan keluar urin dari kandung kemih. 2.

7 Pathway Peningkatan hormon DHT Peningkatan hormone estrogen memicu Pertumbuhan sel-sel kelenjar prostat menyebabkan Hiperplasi pada jaringan klenjar prostat akibatnya Peningkatan ukuran klenjar prostat hidroureter hidronefrosis sehingga memicu Menekan saluran Membuat obstruksi Meningkatkan Resiko infeksi uretra pada jalan urin resistensi saluran kemih akibatnya Pengeluaran urin terhambat Beberapa urin tertahan di dalam kandng kemih kompensansi menyebabkan Otot kandung kemih bekerja lebih keras Kerusakan Peningkatan keinginan mendoro urin keluar struktur dinding berkemih malam hari kandung kemih (nokturia) sehingga Hipertropi kandung kemih 8 .2.

hubungan dengan klien dan alamat. P (Paliatif dan profokatif) : segala sesuatu yang memperberat atau yang memperingan keluhan . diagnosa medis . 5.kadang atau terus menerus 4. setatus perkawinan . pendidikan .1. Keluhan Utama Pada pasien BPH keluhan yang di rasakan sebelum oprasi di antaranya nyeri pada saat BAK. 3. maupun yang tidak. Identitas Identitas klien meliputi : Nama lengkap . juga riwayat pembedahan yang pernah di alami saat dahulu. terapi / oprasi yang pernah di lakukan . ap\akah kadang. cara masuk rumah sakit . No RM . pekerjaan . alamat . S (Severity / Scale) : apakah keluhan tersebut mengganggu aktifitas klien. baik yang berhubungan dengan timbulnya BPH. tanggal masuk rumah sakit . jenis kelamin . agama. urin keluar dengan menetes. Riwayat Kesehatan Keluarga 9 . golongan darah . agama . pendidikan . ginjal. T ( Timing ) : kapan keluhan tersebut di rasakan kelien . Riwayat Penyakit Dahulu Dikaji tentang penyakit yang pernah di derita klien seperti penyakit jantung.1 Pengkajian 3. jenis kelamin . BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 3. R (Regio / Radiasi) : keluhan tersebut tempatnya di mana dan apakah terjadi penyebaran . dan hipertensi. seberapa besar gangguannya. Q (Quality / Quantity) : bagai mana keluhan di rasakan oleh klien . Sedangkan keluhan yang mungkin di rasakan setelah oprasi di antaranya nyeri pada luka oprasi. Identitas penanggung jawab : Nama . upaya yang di lakukan. tanggal pengkajian . alasan di rawat. Riwayat Kesehatan Sekarang Merupakan pengembangan dari keluhan utama yang di rasakan klien melalui metode PQRST dalam bentuk narasi. 2.1 Anamnesa 1. umur . pekerjaan . pancaran urin lemah dan sulit saat memulai BAK. umur . suku/ bangsa .

3. Pola eliminasi a.minuman yang harus dihindari pada klien BPH yaitu minuman yang mengandung kafein dan alkohol. Pola nutrisi metabolik a. dan penyakit keturunan seerti DM. karena dapat meningkatkan diuresis sehingga kemungkinan sisa urine dapat bertambah banyak dalam kandung kemih (restensi urine) 3. Buang air besar (BAB) Frekuensi BAB. jantung dan asma. warna. keadaan sehat dan bagiamana memelihara kondisi kesehetan.konsistensi feses dan keluahan klien yang berkaitan dengan BAB. Jika ada riwayat penyakit keturunan maka di buat genogram. Sedangkan pada post oprasi dapat terjadi mual karena afek anestesi sehingga timbul anoreksia. porsi makan. BPH dapat menimbulkan gejala anoreksia.2 Pola Fungsional Gordon 1. bau. mual muntah dan rasa tidak nyaman pada epigastrik. Pola persepsi kesehatan dan manajement kesehatan Menggambarkan pola fikir kesehatan pasien. penyakit menular seperti TBC. riawayat alergi terhadap sesuatu makan jenis makananan tertentu. Buang air keci (BAK) 10 . pada klien BPH biasanya terjadi penurunan nafsu makan akibat mual. Dikaji apakah anggota dalam keluarga klien ada yang menderita penyakit seperti klien. b. Hal ini munkin disebabkan karena tekanan intravesika yang meningkan sehingga menekan pada lambung dan ulu hati. Pada klien BPH biasanya terjadi konstipasi akibat protusi p\rostat kedalam rektum. Minum Dikaji tentang jumlah dan jenis minuman setiap hari. Termasuk persepsi individu tentang status dan riwayat kesehatan hubungannya dan rencan yang akan datang serta usaha usaha preventif yang dilakukan pasien untuk memjaga kesehatannya. hipertensi. b. Makan Dikaji tentang frekuensi makan jenis diit.1. pada klien BPH dengan preoprasi dapat terjadi konstipasi dan kebiasaan mengadan saat BAK akan menyebabkan hernia dan hemoroid. 2.

11. pendengaran. hematuria. Pola koping toleransi stres Yang menggambarkan : penyebab stres. bau. Pola aktivitas Dikaji tentang kegiatan dalam pekerjaan. nukturia. 10. ingatan. Pola seksual dan reproduksi Pada klien BPH dengan post oprasi dapat terjadi disfungsi seksualbahkan sampau terjadi impotensi. harga diri. kemampuan membuat keputusan. hal ini merupakan bentuk informasi bentuk kompensasi dari nyeri 11 . Pola peran – hubungan sosial yang menggambarkan : pola hubungan keluarga dan masyarakat. 6. urine keluar dengan menetes sulit saat BAK dan terjadi retensi urine. Pada klien BPH terjadi peningkatan BAK. lamanya tidur setiap hari. perilaku dan keyakinan realiasasi dalam kesehariannya 3. Pola istirahat-tidur Watu tidur. sentuhan. Pola persepsi dan konsep diri Yang menggambarkan : body image. ketidaknyamanan dan kenyamanan. olahraga. kemampuan bahasa. peran diri.3 Pemriksaan Fisik Adanya peningkatan nadi dan terkanan darah (tidak signifikan. Pada saat ejakulasi cairan sperma dapat bercampur dengan urine sehingga dapat terjadi infeksi tetapi hal ini tidak menggangu fungsi seksual. Pola kognitif. identitas diri. 8. 7. 4. kegiatan diwaktu ruang dan apakah keluhan yang dirasakan klien menggangu aktivitas klien tersebut. pengertahuan tentang tolerasi stres. nyeri saat BAK. Pada klien BPH terjadi nokturia dan hal ini mungkin akan menggangu istirahta tidur klien. ideal diri. rasa. apakah ada kesulitan dalam tidur. masalah keluarga dan masyarakat. kempuan mengendalikan stres. Pola nilai dan kepercayaan Yang menggambarkan : perkembangan moral.perseptual Penglihatan. terdapat nyeri tekan pada arean CVA serta terjadi pembesaran ginjal jika sudah dapat kerusakan ginjal. strategi menghadapi stress.1. 9. kecuali ada penyakit penyerta). 5. peran tanggung jawab. mobilisasi.

Infeksi : penonjolan pada daerah supra pubik : retensi urin b. 2. Radiologis a. tujuan nya untuk menentukan konsistensi persarafan unit vesiko urettra dan besarnya prostat. kecuali adanya penyakit penyerta seperti steonosis meotus .1. Pemeriksaan blass nier overzicht (BNO) 12 . Laboratorium Analisis urin di lakukan untuk mengetahui adanya silinder . 5. echymosis menunjukan isufiensi dari obstruksi yang lama 2. sratnya buli buli kosong / di kosongkan . 3. kristal – kristal . striktur uretralis . pada palpasi supa simvisis akan teraba distensi bledder ( ballottement ) 1. Jika retensi urin langsung lama sering di temukan adanya rabaan pada ginjal . Setelah penyuntikan PSP lebih dari 30 menit . Kandung kemih : a. Ca penis . selain itu untuk mengetahui fungsi ginjal dapat di lakukan dengan pemeriksaan phenol sulfo phtalein (PSP) test. Perkusi : redup (residual urin ) 4. kultur urin juga dapat di lakukan untuk memeriksa ada tidaknya ifeksi . Untuk mengetahui fungsi ginjal di lakukan pemeriksaan BUN dan kreatin . Jika retensi urine berlangsung lama sering ditemukan adanya tanda dan gejala urosepsis ( peningkatan suhu tubuh )sampai pada shok septik Obstruksi kronis pada saluran kemih akibat BPH menimbulkan retensi urin pada bladder. yang timbul akibat intruksi meatusuretralis dan adanya distensi blader. uretra dan skrotum tidak adanya di temukan klainan .4 Pemeriksaan Diagnostik 1. sel darah pada hiper tropi prostat yang di sertai infeksi maka pada urin ditemukan adanya leukosit dan adanya bakteri. urethalisis . c. Palpasi : terasa adanya balotment dan ini akan membuat pasien akan merasa ingin buang air kecil . Pemeriksaan penis . Adanya distensi kandung kemih . maupun epididymis . Pemeriksaan rektal toucher (colok dubur ) adalah pemeriksaan sederhana yang paling mudah untuk menegakan BPH . Perhatikan pada abdomen : edema prufitus . 3. jika PSP yang di keluarkan melalui urin ± 50% berati normal tetapi jika PSP yang keluar hanya 25% kemungkinan terdapat sisa urin dalam kandung kemih / fungsi ginjal menurun .

d penyumbatan uretra oleh prostat 2. Pada pemeriksaan IVP di temukan lekukan pada dasar kandung kemih yang di sebabkan karena desakan kelenjar prostat yang membesar .d spasme kandung kemih. volume residu urin juga harus di ukur . Retensi Urin b. 3. misalnya hidronephrosis. pembedahan 3. Ansietas b. Nyeri akut b. Pasang kateter urine sesuai indikasi Tujuan pemasangan kateter urine dapat membantu 13 .d prosedure invasive tramua. makan akan terukur pancaran urin. Tujuan nya untuk melihat ada tidak komplikasi dari BPH yang berupa batu dalam kandung kemih.d penyumbatan uretra oleh prostat Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kandung kemih kosong secara penuh. Pada obstruksi dini seringkali pancaran elemah bahkan meningkat. pembedahan 3. Uroflowmetri Dengan menggunakan alat pengukur .2 Diagnosa 1. Monitor intake dan output Menentukan status keseimbangan cairan tubuh 2. No Intervensi Rasional 1. Pemeriksaan Cytoscopy/Panendoscopy) Cystoscopy adalah pemeriksaan langsung pada kandung kemih dengan menggunakan alat yang di sebut cystoscop. Halini di sebabkan obstruksi dari kelenjar prostat pada struktur urinarius . 4. batu atau tumor. selain itu. infeksi. Namun . normal residu urin < 100 ml. Resiko infeksi b. Retensi Urin b. misalnya trabekulasi . b.3 Intervensi 1. residual yang tinggi membuktikan bahwa vesika urinaria tidak mampu mengeluarkan urin secara baik karena adanya obstruksi . 3. Sedangkan USG pada vesika urinaria akan memperlihatkan gambaran pembesaran kelenjar prostat. Dengan pemeriksaan ini kita dapat melihat derajat pembesaran dari kelenjar prostat dan perubahan sekunder pada dingding kandung kemih .d perasaan takut terhadap tindakan pembedahan 4. USG ginjal dan vesika urinaria USG ginjal bertujuan untuk melihat adanya komplikasi penyerta dari BPH .

pengeluaran urine 3. Ansietas b. Observasi tanda verbal dan nonverbal dari Untuk mengetahui tingkat kecemasan klien kecemasan yang klien alami 2. menggunakan teknik relaksasi) nonfarmakologi dalam menagement nyeri yang dirasakan 4. Nyeri akut b. Observasi reaksi ketidaknyamanan secara Untuk mengetahui tingkat nonverbal ketidaknyamanan dirasakan klien 3. pasien dan untuk menentukkan kualitas tindakkan selanjutnya 2. kecemasan dan tegang berkurang. guide imagery. Kolaborasi pemberian analgetik Pemberian analgetik dapat mengurangi rasa nyeri pasien 3. pasien tampak rileks. karakteristik.d spasme kandung kemih. Berikan informasi tentang tanda/prosedur dan Bertujuan untuk meningkatkan 14 . Kolaborasi pemberian antispasmodik Menghilangkan spasme kandung kemih sehubung dengan iritasi kateter 2. Kaji nyeri secara komprehensif termasuk Untuk mengetahui tingkat nyeri lokasi. No Intervensi Rasional 1.d perasaan takut terhadap tindakan pembedahan Tujuan : setelah dilakukan tindakkan keperawatan diharapkan rasa takut. durasi. pembedahan Tujuan : setelah dilakuakn tindakan keperawatan diharapkan rasa nyeri berkurang dan menghilang No Intervensi Rasional 1. menurunkan edema dan merangsang untuk berkemih 4. Ajarkan cara penggunaan terapi non Agar klien mampu farmakologi (distraksi. Ajarkan pada atau klien untuk melakukan Untuk meningkatkan relaksasi kompres hangat atau rendam duduk otot. frekuensi.

Kolaborasi dengan dokter pemberian obat Untuk mengurangi rasa nyeri keterolac dan antibiotik 15 . sehingga dapat mengurangi rasa takut dan kecemasan 3. Ajarkan keluargan untuk menjaga kebersihan Dalam kebersihan kateter urine kateter akan mengurangi terjadinya infeksi 4. bau Untuk mengetahui apakah ada tanda-tanda infeksi 3.d prosedure invasive. Intruksikan paisen menggunakan teknik Untuk mengurangi kecemasan relaksasi 4. Monitor tanda dan gejala infeksi Untuk menentukkan tindakan selanjutnya yang akan dilakukan 2. No Intervensi Rasional 1. Resiko infeksi b. pembedahan. jumlah. Anjurkan kepada pasien untuk Untuk mengurangi kecemasan mengungkapkan perasaannya kepada orang terdekat 4. kateter Tujuan : setelah dilakukan tindakkan keperawatan diharapkan tidak terjadi infeksi dengan kriteria hasil mencapai penyembuhan pada waktunya dan tidak ada tanda- tanda infeksi. Observasi urine yaitu warna. apa yang dirasakan selama prosedur pemahaman pasien tentang tujuan apa yang dilakukan.

BAB IV PENUTUP 4.2 Saran 16 .1 Kesimpulan 4.

Nuha Medika. 17 . DAFTAR PUSTAKA Hardhi Kusuma dan Amin Huda Nuralif.Clevo Rendy. Yogyakarta. Hal 116. Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Penyakit Dalam. 2012. Mediaction Jogja. Hal 91. Margareth TH dan M. Edisi revisi jilid 1. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan Nanda nic-noc. Jogjakarta. 2015.