You are on page 1of 38

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Tuberkulosis pada anak mencapai 15%- 40% dari setiap kasus TB. Angka
penularan yang tinggi pada daerah endemik TB disebabkan oleh densitas kasus
yang tinggi dan tingginya keterlambatan diagnostik. Karena TB pada anak
menggambarkan adanya penularan yang terus berlangsung, anak sering terkena
TB pada daerah dimana epidemik orang dewasa sulit dikontrol. TB pada anak
masih sering diabaikan karena berbagai alasan, seperti kesulitan mendiagnosis TB
pulmonal, kurangnya penelitian ilmiah mengenai TB anak, banyak yang tidak
diketahui mengenai akibat terhadap anak dengan TB dan kepercayaan bahwa TB
pada anak bukan merupakan faktor penting dalam mengontrol TB.1
Di negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika Serikat, Tuberkulosis
paru boleh dikatakan relatif mulai langka. Dalam urutan penyakit-penyakit yang
disusun menurut frekuensi, baik morbiditas maupun mortalitas, tuberkulosis paru
menduduki tempat yang jauh lebih rendah dibanding penyakit-penyakit seperti
kanker dan kelainan-kelainan kardiovaskular. Hal ini adalah berkat tingginya
standar hidup (kondisi perumahan, gizi, dan sebagainya) dan kemajuan-kemajuan
dalam cara pengobatan.1
Di Indonesia faktor-faktor tersebut diatas masih banyak memerlukan
perbaikan dan frekuensi penyakit tuberkulosis paru masih cukup tinggi. Hasil
penelitian FKUI pada tahun tujuh puluhan terhadap ribuan buruh perusahaan,
pegawai kantor, mahasiswa dan pelajar, yang menjalani pemeriksaan roentgen
(check-up) secara massal menunjukkan angka yang masih cukup tinggi, yaitu
sekitar 3% ditemui adanya kelainan yang didiagnosis sebagai proses spesifik
(tuberkulosis). Penelitian yang dilakukan oleh suatu tim dari WHO di daerah
Yogyakarta dalam kurun waktu yang sama, dengan disertai pemeriksaan
bakteriologik, menunjukkan hasil yang kurang lebih sama.2

1

2

Menurut WHO, sepertiga dari populasi dunia diperkirakan terinfeksi
dengan Mycobacterium Tuberculosis. Pada tahun 2009, terdapat 9,4 juta kasus
baru dengan 1,7 juta kematian secara global. Sebagian besar kematian terdapat
pada negara berkembang yang memiliki keterbatasan sumber daya. Di Asia Afrika
ditemukan kasus TB Paru 2 kali lebih besar dari Asia Tenggara yaitu 350 per
100.000 penduduk. Diperkirakan angka kematian akibat TB Paru adalah 8.000
setiap hari dan 2,3 juta setiap bulan. Laporan WHO tahun 2004 menyebutkan
bahwa jumlah terbesar kematian akibat TB Paru terdapat di AsiaTenggara yaitu
625.000 orang. Tiga negara dinyatakan sebagai negara dengan“disease burden”
tertinggi, yaitu Cina, India, dan salah satunya ialah Indonesia.3
WHO melaporkan adanya 3 juta orang mati akibat TB paru setiap tahun
dan diperkirakan 5000 orang setiap harinya. Tiap tahun ada 9 juta penderita TB
paru baru dari 25% kasus kematian dan kesakitan. Masyarakat yang menderita TB
paru ialah orang-orang pada usia produktif yaitu dari 15-54 tahun.3
Di Indonesia terdapat 583.000 kasus TB paru, dengan kematian 140.000
dan 13/100.000 penduduk merupakan penderita baru. Prevalensi TB paru pada
tahun 2002 mencapai 555.000 kasus (256 kasus/ 100.000 penduduk), dan 46%
diantaranya merupakan kasus baru atau kasus baru meningkat 104/100.000
penduduk.Menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga tahun 1995 (SKRT 1995)
TB paru merupakan penyebab kematian nomor satu untuk penyakit infeksi di
Indonesia. Prevalensi nasional Tuberkulosis Paru (berdasarkan diagnosis tenaga
kesehatan dan keluhan responden) menyatakan bahwa prevalensi TB paru klinis
0,99% dari seluruh penyakit di Indonesia.2
Oleh karena itu pencegahan merupakan kunci utama untuk mengurangi
sumber penularan serta penurunan angka morbiditas dan mortilitas akibat penyakit
Tuberkulosis. Pencegahan ini dapat dilakukan sedini mungkin pada bayi dan
balita melalui pemberian imunisasi BCG . Pemerintah Indonesia melalui Program
Pengembangan Imunisasi (PPI) sejalan dengan komitmen internasional Universal
Child Immunization (UCI), telah menerangkan Universal Child Immunization
sebagai target cakupan imunisasi untuk BCG, DPT, polio, campak, dan hepatitis

3

B, harus mencapai cakupan 80 % baik di tingkat nasional, provinsi, kabupaten,
bahkan di setiap desa.4
Bila program imunisasi ini berhasil, diharapkan tuberkulosis bisa
4
diberantas dan bukan merupakan persoalan kesehatan masyarakat lagi. Secara
umum cakupan imunisasi di Provinsi Jambi cukup tinggi, tetapi tidak merata di
setiap puskesmas, ada di antaranya di bawah 80%.5
Tercapai cakupan imunisasi yang tinggi, tentunya sangat diharapakan
dalam usaha melindungi kesehatan bayi. Imunisasi merupakan suatu cara yang
efektif untuk memberikan kekebalan khusus terhadap bayi, dengan tujuan utama
untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian karena berbagai penyakit yang
dapat dicegah dengan imunisasi. Disisi lain terdapat berbagai hambatan dan
rintangan yang memungkinkan cakupan imunisasi rendah, ketidak lengkapan
dosis imunisasi, bahkan tidak adanyan imunisasi sama sekali pada bayi-bayi
tersebut.
1.2 Tujuan
1.2.1 Umum : mengindentifikasi masalah dan mencari pemecahan masalah dalam
pelayanan Imunisasi BCG di Puskesmas Putri Ayu
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengidentifikasi masalah – masalah dalam pelayanan imunisasi
BCG di Puskesmas Putri Ayu periode Januari – November 2017
2. Untuk mengetahui prioritas masalah-masalah dalam pelayanan
Imunisasi BCG di puskesmas Putri Ayu periode Januari – November
2017
3. Untuk mengetahui penyebab timbulnya masalah dalam pelayanan
Imunisasi BCG di puskesmas Putri Ayu periode Januari – November
2017
4. Untuk mengetahui alternatif pemecahan masalah dalam pelayanan
Imunisasi BCG di puskesmas Putri Ayu periode Januari – November
2017

Untuk menentukan monitoring dan evaluasi kegiatan pelaksanaan imunisasi bcg di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi . Untuk menganalisis bagaimana pemecahan masalah terbaik dari masalah dalam pelayanan Imunisasi BCG di puskesmas Putri Ayu periode Januari – November 2017. Untuk menentukan usulan rencana kegiatan pada pemecahan masalah yang terpilih 7. 4 5. 6.

1 Imunisasi Imunisasi adalah suatu upaya untuk mendapatkan kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit. 3.2 Jenis Imunisasi Pemberian imunisasi pada anak biasanya dilakukan dengan cara imunisasi aktif.9 2.9 1. polio. Eradikasi penyakit (final goat).1. Imunisasi pasif merupakan suatu proses peningkatan kekebalan tubuh dengan cara pemberian zat imonoglobulin yaitu zat yang dihasilkan melalui suatu proses infeksi yang dapat berasal dari plasma manusia (kekebalan bayi dari ibu melalui plasenta). campak dan Hepatitis B. DPT. Imunisasi aktif merupakan pemberian suatu bibit penyakit yang telah di lemahkan (vaksin) agar nantinya sistem imun tubuh berespon spesifik yang memberikan suatu ingatan terhadap antigen ini.1 Tujuan Imunisasi 1. Menurunkan prevalensi penyakit (mengubah epidemiologi penyakit).8 2. karena imunisasi aktif akan memberikan kekebalan yang lebih lama (bertahan selama bertahun-tahun). dengan memasukan kuman atau produk kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan. yaitu BCG. Mencegah penyakit pada individu atau kelompok (immediate goal). Digunakan untuk mengatasi mikroba yang sudah masuk . Contoh imunisasi aktif adalah imunisasi polio atau campak. sehingga ketika terpapar lagi tubuh dapat mengenali dan meresponnya. sedangkan imunisasi pasif hanya bertahan untuk beberapa bulan.6 Imunisasi merupakan suatu upaya pencegahan yang paling efektif untuk mencegah penularan penyakit BCG. 7 2.1. 2. 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Word Health Organization (WHO) dan UNICEF melalui program The Expanded Program on Immunisation (EPI) merekomendasikan pemberian vaksinasi terhadap 7 jenis antigen penyakit sebagai imunisasi rutin di Negara berkembang.

2 Imunisasi BCG 2. Unsur lain yang terdapat pada dinding sel bakteri tersebut adalah polisakarida seperti arabinogalaktan dan arabinomanan. Bakteri ini berukuran lebar 0. terdiri dari lapisan lemak cukup tinggi (60%). tuberculosis sangat kompleks. tuberculosis ialah asam mikolat. trehalosa dimikolat yang disebut cord factor. dan mycobacterial sulfolipids yang berperan dalam virulensi.6 mm dan panjang 1 – 4 mm.2 Etiologi Tuberculosis Tuberkulosis (TB) disebabkan oleh virus Mycobacterium Tuberculosis. Struktur dinding sel yang kompleks tersebut menyebabkan bakteri M.2. Asam mikolat merupakan asam lemak berantai panjang (C60 – C90) yang dihubungkan dengan arabinogalaktan oleh ikatan glikolipid dan dengan peptidoglikan oleh jembatan fosfodiester. Dinding M. lilin kompleks (complex-waxes).2. tidak berspora dan tidak berkapsul.3 – 0. Contoh imunisasi pasif adalah penyuntikan ATS (anti tetanus serum) pada orang yang mengalami luka kecelakaan.3 Program imunisasi BCG di Indonesia Pemberian imunisasi BCG sesuai dengan jadwal imunisasi rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia antara lain:9 . 6 ke dalam tubuh dan terinfeksi. Mycobacterium tuberculosis berbentuk batang lurus atau sedikit melengkung. Penyusun utama dinding sel M.9 2.1 Definisi Imunisasi BCG Imunisasi BCG merupakan upaya untuk menimbulkan / meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap penyakit tuberkulosis dengan cara memasukkan vaksin BCG ke dalam tubuh sehingga tubuh dapat menghasilkan zat antibodi terhadap penyakit Tuberkulosis (TB) dan apabila suatu saat nanti terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan menjadi sakit atau hanya mengalami sakit ringan.10 2.2. tuberculosis bersifat tahan asam. yaitu apabila sekali diwarnai akan tetap tahan terhadap upaya penghilangan zat warna tersebut dengan larutan asam – alkohol.9 2.

Apabila terdapat reaksi lokal cepat di lokasi penyuntikan (accelerated local reaction). Apabila bcg diberikan setelah umur 3 bulan. paha). Vaksin bcg dosis 0. untuk mecapai cakupan yang luas.05 mL diberikan secara intrakutan di daerah lengan kanan atas pada insersio M. Apabila uji tubekulin tidak memungkinkan. Imunisasi bcg ulangan tidak dianjurkan. 7 1. saat ini WHO sedang mengembangkan vaksin bcg baru yang lebih efektif. Hal ini mengingat penyuntikan secara intradermal didaerah deltoid lebih mudah dilakukan (jaringan lemak subkutis tipis). 3. maka tidak diberikan pada pasien immunokompromais ( leukimia. Vaksin bcg tidak dapat mencegah infeksi tuberkulosis. 6. Vaksin bcg diberikan apabila uji tuberkulin negatif. Oleh karena itu. Namun. Imunisai bcg optimal diberikan pada umur 2 sampai 3 bulan. sekitar 70% kasus TB berat (meningitis) ternyata mempunyai parut bcg. perlu dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu. Kementerian Kesehatan menganjurkan pemberian imunisasi bcg pada umur 1 bulan 2. 4. atau bayi yang telah diketahui atau dicurigai menderita infeksi HIV). . perlu tindakan lebih lanjut.anak yang sedang mendapatkan pengobatan steroid jangka panjang. Vaksin bcg merupakan vaksin hidup. 5. ulkus yang terbentuk tidak mengganggu strukutur otot setempat (dibandingkan pemberian di daerah gluteal lateral atau paha anterior) dan sebagai tanda baku untuk keperluan diagnosis apabila diperlukan. Para pakar menyatakan bahwa effektivitas vaksin untuk perlindungan penyakit hanya 40%. namun dapat mencegah komplikasinya. Deltoideuss sesuai anjuran WHO. bcg dapat diberikan namun perlu idobservasi dalam waktu 7 hari. tidak ditempat lain (misalnya bokong. dan kasus dewasa dengan BTA positif di Indonesia cukup tinggi (25%-36%) walaupun mereka telah mendapat bcg pada masa kanak-kanak.

mendapat tatalaksana radiasi.9 2.2.2. 8 2. akan sembuh dalam`2-3 bulan dan meninggalkan parut bulat dengan diameter 4-8 mm.2. Kehamilan. 4. Menderita demam tinggi. Menderita HIV. namun apabiIa penyuntikan terlalu dalam maka parut yang terjadi tertarik ke dalam (retracted).9 2. Vaksinasi BCG menimbulkan sensitivitas terhadap tuberkulin. BCG diberikan pada bayi < 3 bulan 2. 2. Menderita infeksi kulit yang luas 6. Reaksi uji tuberkulin > 5 mm 2. 5. . penyakit keganasan yang mengenai sumsum tulang / limfe 3.7 Rekomendasi 1. Bacille Calmette-Guerin adalah vaksin hidup yang dibuat dari Mycobacterium boviti yang dibiak berulang selama 1-3 tahun sehingga didapatkan basil yang tidak virulen tetapi masih mempunyai imunogenitas.4 Vaksin BCG Vaksinasi dimaksudkan untuk mendapatkan kekebalan aktif terhadap penyakit Tuberkulosis. obat imunosupresif. Menderita gizi buruk. Apabila dosis terlalu tinggi maka ulkus yang timbul lebih besar.6 Kontra Indikasi Imunisasi BCG 1.2. Pada bayi_yang kontak erat dengan pasien TB dengan bakteri tahan asam (BTA) +3 sebaiknya diberikan lNH profilaksis dulu. apabila pasien kontak sudah tenang bayi dapat diberi BCG jika hasil uji tuberkulin negatif. imunokompromais akibat tatalaksana steroid jangka panjang.5 Reaksi Imunisasi BCG Penyuntikan BCG secara intradermal akan menimbulkan ulkus local yang superficial 3 minggu setelah penyuntikan. Masih banyak perbedaan pendapat mengenai sensitivitas terhadap tuberkulin yang terjadi berkaitan dengan imunitas yang terjadi. Ulkus tertutup krusta.

Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya dari pada orang yang belum cukup tinggi kedewasaannya. Karakteristik Ibu a. Tingkat pendidikan masyarakat yang semakin baik mampu menyerap informasi yang diberikan dengan baik. Umur ibu Umur adalah lama hidup individu terhitung saat mulai dilahirkan sampai berulang tahun. Masyarakat yang sibuk akan memiliki waktu yang sedikit untuk memperoleh informasi. 11 c. Peran seseorang ibu pada program imunisasi sangatlah penting karena suatu pemahaman tentang program ini amat diperlukan untuk kalangan tersebut. Pemahaman ibu atau pengetahuan ibu terhadap imunisasi sangat dipengaruhi oleh pendidikan ibu.11 b. Pekerjaan ibu Bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu bagi ibu-ibu yang mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga. Pendidikan ibu Pendidikan seseorang merupakan salah satu proses perubahan tingkah laku. sehingga . Semakin cukup umur. Hal ini sebagai akibat dari pengalaman dan kematangan jiwa. sehingga tingkat pendidikan yang mereka peroleh juga berkurang. khususnya imunisasi BCG kepada anaknya. 9 2. Seorang yang memerlukan banyak waktu dan tenaga untuk menyeleseikan pekerjaan yang dianggap penting dan memerlukan perhatian dengan adanya pekerjaan. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin membutuhkan pusat – pusat pelayanan kesehatan sebagai tempat berobat.semakin tinggi pendidikan seseorang semakin dalam memilih tempat – tempat pelayanan kesehatan semakin di perhitungkan. tingkat kematangan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja.3 Faktor yang mempengaruhi rendahnya cakupan imunisasi BCG pada bayi usia dibawah 3 bulan 1.

900.028. Berdasarkan data upah minimum regional 2011 dari Dirgen Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Kementrian Tenaga Kerja menyebutkan bahwa upah minimum provinsi (UMP) mengalami peningkatan dan untuk provinsi jambi sendiri meningkat dari sebelumnya Rp. menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan utuk bertindak. ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat.11 2. bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka.11 d.000 menjadi Rp. Newcomb. Pengetahuan Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu. dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu.11 3. 10 tidak ada waktu untuk ke puskesmas dalam rangka pemberian imunisasi BCG pada bayinya. tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui dari penglihatan dan pendengaran. Sikap itu masih merupakan reaksi tertutup.000. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari- hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus social. Sikap Sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas. Sikap merupakan kesiapan . salah seorang ahli psikologis sosial. 1. Pendapatan Yang sering dilakukan adalah menilai hubungan antara tingkat pendapatan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan yang ada`mungkin oleh karena tidak mempunyai cukup uang untuk membeli obat membayar transport dan sebagainya. akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku.

Unsur-unsur budaya mampu menciptakan suatu kebiasaan untuk tidak memberikan imunisasi pada bayi. termasuk jalan masuk ke pelayanan imunisasi tidak adekuat.11 5. petugas kesehatan harus mempunyai sikap yang positif terhadap pemberian imunisasi dini. Budaya (Masyarakat) Banyak masyarakat yang mengartikan salah bahwa imunisasi dapat mengganggu kesehatan bayi dan sebagian beranggapan bahwa pemberian imunisasi merupakan perilaku yang kuno. Sarana dan Tempat Tempat pelayanan kesehatan pada pemberian imunisasi biasa diadakan disuatu tempat di Rumah Sakit bagian anak. Petugas kesehatan di puskesmas harus memahami tatalaksana imunisasi yang baik dan benar. Poskesdes yang diselenggarakan oleh kelompok ibu-ibu rumah tangga di Puskesmas terdekat. Petugas kesehatan diharapkan meluangkan waktu untuk memotivasi dan membantu ibu. Keluarga Seorang ibu yang tidak pernah mendapat nasehat atau penyuluhan tentang imunisasi BCG dari keluarga dapat mempengaruhi sikapnya. perawat atau dokter adalah orang yang membantu pertama di tempat pelayanan kesehatan ataupun di rumah sakit. bila tempat tersebut mudah dijangkau maka cakupan imunisasi bisa adekuat namun jika tempat sulit dijangkau.11 6. 11 untuk bereaksi terhadap objek dilingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. pantangan dan takhayul.11 Budaya sangat berperan dalam proses terjadinya masalah pemberian imunisasi diberbagai kalangan masyarakat. maka cakupan imunisasi akan rendah. 11 4. hal ini sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip yang ada. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengaruh budaya antara lain sikap terhadap pemberian imunisasi. Peran Petugas Peran petugas sangat berpengaruh dalam proses pemberian imunisasi BCG pada bayi. Bidan.11 7. . Posyandu.

kebudayaan dan jauhnya fasilitas pelayanan kesehatan serta sulitnya vaksin yang didapat didaerah terpencil. kurangnya informasi dan penyuluhan yang diberikan kepada ibu yang mempunyai bayi dan balita tentang imunisasi. namun masih terdapat beberapa cakupan imunisasi yang tidak tercapai. dengan kematian 140. telah menargetkan “Universal Child Immunization sebagai target cakupan imunisasi untuk BCG. sosial ekonomi. harus mencapai cakupan 100% baik ditingkat nasional. kabupaten bahkan di setiap desa.000 kasus TB paru.4 Pencegahan terhadap penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi telah menampakan hasilnya. Peran Pemerintah Pemerintah Indonesia melalui Program Pengembangan Imunisasinya (PPI) sejalan dengan komitmen internasional Universal Child Immunization (UCI). Saat ini data infeksi TB masih tinggi yaitu angka kejadiannya di Indonesia mencapai 583. diharapkan BCG bisa diberantas dan bukan merupakan persoalan kesehatan masyarakat lagi. kurangnya pengetahuan ibu tentang imunisasi.11 . terutama untuk imunisasi BCG.000 jiwa. Meskipun program pemberian imunisasi sudah dijalankan dengan baik. HB0-7 HARI. campak. dan Hepatitis B. propinsi. polio. 12 Selain itu dukungan ayah sangat penting dalam suksesnya imunisasi.11 8. Masalah rendahnya cakupan imunisasi kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah. Bila program imunisasi ini berhasil.

Pendidikan 2. Pekerjaan 3. Peran petugas budaya 4. Umur 1. Sarana dan 2. Keluarga tempat 3. 13 Bagan 2. Pengetahuan Pendorong 2. Sikap 1. Masyarakat/ 3.1 faktor yang mempengaruhi cakupan imunisasi Imunisasi Virus Cakupan Imunisasi BCG Pada Bayi Dibawah 3 bulan Karakteristik Faktor pendukung Faktor 1. Pendapatan 4. Pemerintah .

pertanyaan sebagai berikut. lalu menentukan prioritas masalah dengan menggunakan metode MCUA (Multiple Criteria Utility Assesment) serta teknik PAHO (Pan American Health Organization). akan diidentifikasi penyebab masalahnya dalam diagram fish bone. 14 BAB III METODE PENGUMPULAN DATA Pengambilan Data Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. data yang telah terkumpul diolah secara manual kemudian dianalisa untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang ada. Prioritas masalah yang terpilih. 3. Sedangkan data sekunder yang di ambil dari laporan Imunisasi BCG bulanan Puskesmas dari bulan Januari 2017 – November 2017 kemudian Data tersebut dilakukan pengolahan dan di masukan dalam tabel. Setelah didapatkan kemungkinan penyebab masalah yang paling dominan. 14 . Pengambilan data dilaksanakan pada tanggal 8 sampai 9 Desember 2017. sumber dana dan sumber vaksin. Berapa target bayi yang akan diimunisasi BCG. Kemudian membuat rencana usulan pemecahan masalah dan selanjutnya kegiatan di monitoring dengan hasil akhir yang dievaluasi untuk menentukan tingkat keberhasilan. serta sebagian bidan yang ada di wilayah kerja puskesmas Putri Ayu tentang pemberian imunisasi BCG. alur perjalanan pemberian vaksin dan laporannya. lalu di selidiki penyebab masalah dan penyelesaiannya. Data primer dengan cara mewawancarai Petugas Imunisasi.2 Pengolahan Data Setelah proses pengumpulan data selesai. kendala di lapangan serta kenapa tidak di berikan Imunisasi tersebut kepada bayi tersebut.

Perbaikan Gizi Masyarakat 5. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam upaya kesehatan. hal ini dikarenakan perilaku masyarakat yang belum mencerminkan pola hidup sehat serta sikap dan budaya kerja tenaga kesehatan yang belum optimal. Visi Puskesmas : Terwujudnya Puskesmas Putri Ayu dengan pelayanan. masyarakat yang berperilaku hidup bersih dan sehat pada tahun 2018. masih banyak mengalami kendala dan hasil pencapaian yang belum optimal. Memberikan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan standar. Kesehatan Ibu dan Anak dan Keluarga Berencana 4. Promosi Kesehatan 2. 15 BAB IV HASIL KEGIATAN PUSKESMAS 4.1 Gambaran Singkat Puskesmas Putri Ayu Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi sebagai salah satu unit pelayanan teknis (UPT) Dinas Kesehatan Kota Jambi dituntut menjadi ujung tombak pembangunan kesehatan khususnya memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang bersifat promotif. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular 6. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat. Upaya Pengobatan Dalam melaksanakan fungsinya Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi. Kesehatan Lingkungan 3. 2. preventif. 15 . kuratif dan rehabilitatif untuk meningkatkan derajat kesehatan dengan memberikan prioritas pada upaya peningkatan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Putri Ayu. 3. Misi Puskesmas : 1. pelayanan kesehatan ini tertuang dalam 6 program pokok Puskesmas dan juga program pengembangan Puskesmas yaitu : 1.

poli umum. Fasilitas Puskesmas PutriAyu Puskesmas PutriAyu dengan fasilitas puskesmas rawat jalan yang cukup lengkap seperti alat dan ruang UGD. laboratorium sederhana. poli gigi. poli anak sakit dan sehat (MTBS). Kelurahan Sungai Putri 5. 16 4. Kelurahan Legok 2. Peta Wilayah Kerja Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi . kesehatan lingkungan. Selain itu puskesmas juga memiliki mobil ambulans.1. wilayah kerja Puskesmas Putri Ayu meliputi 5 kelurahan yaitu : 1. P2M (TB paru). apotik dan gudang obat. imunisasi. Kelurahan Murni 3. Kelurahan Selamat Gambar 4. poli KIA. konsultasi kesehatan reproduksi. poli Usila. Puskesmas Putri Ayu secara administrasi terletak di wilayah Kecamatan Danau Sipin yang merupakan bagian wilayah kerja Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi. KB. Meningkatkan kerjasama lintas sektoral dalam pembangunan kesehatan. dan konsultasi gizi. Kelurahan Solok Sipin 4.

Sebelah utara berbatasan dengan sungai Batang hari b. Ahli Gizi : 1 orang . Asisten Apoteker : 4 orang . Dokter Umum : 4 orang . Sebelah timur berbatasan dengan kecamatan Pasar Jambi c. secara geografis batas-batas wilayah kerja Puskesmas Putri Ayu adalah sebagai berikut : a. Sebelah selatan berbatasan dengan kecamatan Jelutung. Legok : 19. Sungai Putri : 14.129 jiwa c. Bidan : 26 orang . 17 Letak dan luas wilayah kerja Puskesmas Putri Ayu ± 962 ha atau ± 61 km2 yang terdiri dari daerah dataran tinggi sebelah selatan dan dataran rendah disebelah utara.300 jiwa dengan perincian : a. SKM : 2 orang .503 jiwa b. Perawat : 15 orang . Dokter Gigi : 2 orang . Sanitarian : 2 orang . Murni : 7. Solok Sipin : 15. Sebelah barat berbatasan dengan kelurahan Selamat dan kecamatan Telanaipura d.181 jiwa Ketenagakerjaan 1. Perawat Gigi : 5 orang . Jenis dan Jumlah Tenaga Kesehatan . Analis Laboratorium : 2 orang . Jumlah Penduduk Wilayah kerja Puskesmas Putri Ayu berdasarkan data akhir adalah 72.608 jiwa d.876 jiwa e. Apoteker : 1 orang . Selamat : 15.

1 Jumlah target imunisasi BCG yang ada berdasarkan di wilayah kerja Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi Tahun 2017 No. Administrasi umum : 5 orang . Hasil ini didapat melalui wawancara dengan petugas Imunisasi Puskesmas dan data laporan Imunisasi BCG pada bayi di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi. 18 2. Jenis dan Jumlah Tenaga Non Kesehatan .1 didapat jumlah target pemberian imunisasi BCG di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi Kota Jambi. Target dan Hasil Laporan Kegiatan Imunisasi BCG di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi 4. Tabel 4. Sopir : 0 orang - 4. jumlah totalnya adalah 1401 bayi. Pekarya : 0 orang .2. Keuangan : 0 orang . dimana target tersebut di tentukan oleh Dinas Kesehatan Kota Jambi.1 Target Dalam menentukan keberhasilan imunisasi BCG harus ada target imunisasi BCG di puskesmas Putri Ayu Kota Jambi. Pengelola Data : 0 orang .2. . Pesuruh : 0 orang . Kelurahan BCG 1 Legok 378 2 Solok Sipin 293 3 Murni 153 4 Sungai Putri 283 5 Selamet 294 JUMLAH 1401 Berdasarkan tabel 4.

19 Maka target pemberian Imunisasi BCG di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi Kota Jambi Tahun 2017 sebanyak 1401 bayi dengan target pencapaian 95 % dan target sampai November 2017 sebanyak 1284 bayi dengan target pencapaian 92 %.2 Hasil kegiatan Imunisasi BCG di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi Sasaran BCG Sasaran No Bulan Kelurahan Jan s/d Nov usia <3 Tahunaan 2017 bulan 1 Januari – Murni 153 140 156 November 2017 Legok 378 346 329 Solok Sipin 293 269 261 Sungai Putri 283 259 254 Selamet 294 270 259 Jumlah 1401 1284 1259 Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah vaksinasi BCG terhadap bayi usia kurang dari 3 bulan periode januari – november 2017 sebanyak 1259 bayi dan target harapan sasaran seharusnya 1284 bayi.2.8 %. Target dalam presentase untuk periode Januari – November 2017 dimana sasaran Januari – November dibagi dengan sasaran tahunan seharus nya sebesar 92 % namun capaian yang didapat 89. .. 4.2 Laporan Hasil Kegiatan Hasil Kegiatan Imunisasi BCG periode Januari – November 2017 dapat kita lihat sebagai berikut: Tabel 4.

apakah data bayi yang diimunisasi dilaporkan ke puskesmas putri ayu dan bagaimana mekanisme pelaporannya? “Bayi yang berada di wilayah puskesmas putri ayu seharusnya di imunisasi di puskesmas putri ayu .3 Hasil Wawancara tentang kegiatan Imunisasi BCG di Puskesmas Putri Ayu Wawancara dengan petugas imunisasi ( Ibu Yetty ) a. Apakah pelaksanaan imunisasi BCG di berikan di Puskesmas ? “pemberian imunisasi BCG pada bayi dilakukan di puskesmas setiap hari rabu sebanyak 2 kali sebulan yang awalnya diberikan pada minggu pertama tiap bulan dengan interval 2 minggu. d. jadi sayang vaksin nya nanti terbuang karena vaksin hanya bisa bertahan selama 3 jam. Pernahkah vaksinasi terlambat di berikan oleh Dinkes ? “sekarang keterlambatan tersebut jarang sekali terjadi bahkan tidak pernah lagi. Bu.” e.” c. Apakah penyimpanan vaksin sesuai aturan ? “ya penyimpanan vaksin sesuai aturan. kita melaporkan setiap bulan dan meminta vaksin tersebut setiap bulan” b. mengapa imunisasi bcg tidak dilakukan di posyandu? Dan mengapa imunisasi hanya dilakukan dua kali dalam sebulan? “imunisasi bcg tidak diberikan hanya dua kali dalam sebulan dan tidak diberikan di posyandu dikareanakan 1 ampul vaksin bcg itu untuk 45 bayi. vaksin BCG bisa di simpan di suhu lemari atau di pendingin dan jangan terkena sinar matahari” . Bayi yang diimunisai di luar puskesmas. jika ada bayi yang diimunisasi di puskesmas lain ataupun di RS lain maka kakak cuma melihat data yang ada di dinas kesehatan kota. 20 4.

g. h. padahal mereka ada di wilayah kerja puskesmas putri ayu. pada bayi-bayi yang berusia 3 bulan atau lebih juga tidak diberikan imunisasi BCG langsung. maka diwajibkan untuk uji tuberkulin terlebih dahulu. 21 f. apabila bayi tersebut belum terkena virus mycobacterium tb maka akan dilakukan vaksinasi bcg. padahal imunisasi bcg hanya bisa dilakukan sebelum bayi berusia 3 bulan dan hanya dilakukan 2x dalam sebulan” “masih ada warga dari kelurahan Selamat yang belum tahu kalau mereka sekarang sudah masuk ke dalam wilayah puskesmas putri ayu. Selain itu. sehingga mereka masih melakukan imunisasi di puskesmas yang lama. akan tetapi harus dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu. Permasalahan apa yang sering terjadi dalam penyuntikan vaksin BCG ? “Ibu tidak bersedia di berikan BCG takut anaknya di suntik.” “terus untuk ibu-ibu yang melahirkan di RS lain sering mengimunisasi anaknya di RS tempat ia melahirkan.“ i. Apakah seluruh bayi harus mendapatkan vaksin BCG ? Seluruh bayi harus mendapatkan imunisasi BCG sebelum usia 3 bulan. Bagaimana tindakan anda apabila bayi datang berusia lebih dari 3 bulan namun belum diimunisasi bcg? “akan dilakukan test tuberkulin terlebih dahulu. selain itu biasanya ibu lupa untuk membawa anaknya ke puskesmas untuk diimunisasi bcg. tapi pada bayi-bayi yang dicurigai sistem imunnya lemah (dicurigai terinfeksi HIV) maka tidak dilakukan penyuntikan vaksin bcg. Apakah ada bayi yang tidak di lakukan pemberian penyuntikan BCG? “umumnya hampir semua bayi dilakukan penyuntikan vaksin bcg. Tetapi jika hasil tuberkulin positif dan . Jika bayi tersebut sudah berusia 3 bulan atau lebih.

22 skoring tb pada anak tersebut mencukupi maka bayi itu akan diberikan pengobatan tb sesuai dengan usianya dan tidak diberikan imunisasi bcg. .

Orang tua tidak datang ke puskesmas membawa anaknya imunisasi (Proses) 23 . Ketidaktahuan masyarakat tentang pembagian wilayah kerja puskesmas (Input) 3. Belum semua bayi berusia dibawah 3 bulan di wilayah kerja puskesmas putri ayu menerima imunisasi bcg. Yang terakhir membandingkan antara keadaan nyata yang terjadi. menyatakan hubungan dua atau lebih variabel. setelah dilakukan pembahasan maka masalah yang diprioritaskan adalah : 1.1 INDENTIFIKASI MASALAH Masalah adalah kesenjengan antara keadaan spesifik yang dicapai dengan yang diharapkan. dengan keadaaan tertentu yang menginginkan atau indikator tertentu yang sudah ditetapkan. Curah Pendapat (Brainsorming) Berdasarkan hasil wawancara (meminta curah pendapat) dari petugas imunisasi. Pemberian Imunisasi bcg tidak mencapai target (outcome) Dari hasil curah pendapat didapatkan 5 masalah. Ciri-ciri masalah yaitu. yang menimbulkan rasa tidak puas. Ibu melarang pemberian BCG kepada anaknya (input) 2. dan teman-teman maka di temukan beberapa masalah dalam pelaksanaan Imunisasi BCG pada bayi di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi yaitu: 1. Orang tua tidak datang ke puskesmas membawa anaknya imunisasi (Proses) 4. 23 BAB V MASALAH KESEHATAN 5. dan keinginan untuk memecahkannya. Menetapkan keadaan spesifik yang merupakan kesenjangan antara keadaan yang diharapkan dengan kenyataan. misalnya dengan memepelajari keadaan yang terjadi dengan menghitung atau mengukur hasil Pencapaian. (output) 5. pencapaian. a. dapat diukur dan diatasi. menetapkan indikator tertentu sebagai dasar pengukuran kinerja.

dan tim pelaksana secara langsung. sehingga ibunya tidak membawa bayi ke puskesmas untuk imunisasi bcg. koordinator program.” 2. Pemberian imunisasi bcg tidak mencapai target Dapat kita lihat dari data pemberian bcg Periode Januari – November 2017 hanya terdapat 1259 bayi yang mendapatkan bcg dari 1284 target yang diharapkan dalam periode yang sama. Belum semua bayi berusia dibawah 3 bulan di wilayah kerja puskesmas putri ayu menerima imunisasi bcg. Orang tua tidak datang ke puskesmas membawa anaknya imunisasi Wawancara dengan Petugas Imunisasi Puskesmas “ada beberapa ibu yang tidak mendapatkan informasi. Data sekunder berupa data yang sudah ada pada buku agenda puskesmas keliling. Pemberian imunisasi BCG tidak mencapai target (outcome) b. Atau ada beberapa ibu yang mengimunisasi anaknya di RS lain. . 3. Konfirmasi masalah dengan dukungan data primer dan sekunder Hasil identifikasi masalah kemudian dibuktikan dengan data otentik berupa data primer ataupun data sekunder. Adapun konfirmasi data yang diperoleh sbb : 1. (output) 3. untuk melengkapi dapat ditambah dengan data primer yang diperoleh melalui observasi dan wawancara dengan dokter. Belum semua bayi berusia dibawah 2 bulan di wilayah kerja puskesmas putri ayu menerima imunisasi bcg. 24 2. Bayi-bayi yang dicurigai sistem imun nya lemah tidak diberikan imunisasi bcg.

2 PENENTUAN PRIORITAS MASALAH Tabel 5. . 25 5. Masalah kesehatan masyarakat pasien Bobot 5 4 3 2 Belum semua bayi di N 6 5 3 2 wilayah kerja BN 30 20 9 4 63 1 puskesmas putri ayu menerima imunisasi bcg Orang tua tidak datang N 7 5 3 4 ke puskesmas BN 35 20 9 8 72 2 membawa anaknya imunisasi imunisasi N 8 5 4 3 Pemberian 3 bcg tidak mencapai BN 40 20 12 6 78 target Keterangan B = Bobot (1-5) N = Nilai (1-10) BN = Bobot x Nilai = Skor Dari hasil penentuan prioritas masalah dengan menggunakan MCUA maka prioritas masalah sesuai dengan skor penilaian adalah pada “Pemberian imunisasi BCG tidak mencapai target”.1 tabel MCUA N Pengaruh Kriteria Pengaruh o terhadap Besarnya Keseriusan terhadap kesehatan JUMLAH Masalah Masalah.

1 Alur pelayanan Imunisasi BCG di Puskesmas Putri Ayu Puskesmas Melaporkan Diberikan Datang Meminta Bidan Bayi <3 bulan Tidak Diberikan . 26 Sedangkan prioritas masalah dengan menggunakan teknik PAHO adalah : Tabel 5.1.1 Diagram Alur (Flow Chart) Gambar 5.3 Identifikasi Faktor-Faktor Penyebab dan Penyebab Masalah Dominan 5.2 PAHO (Pan American Health Organization) Masalah M S V C Total Belum semua bayi di wilayah kerja puskesmas 4 4 3 3 144 putri ayu menerima imunisasi bcg Orang tua tidak datang ke puskesmas 3 3 4 3 108 membawa anaknya imunisasi 4 4 4 4 256 Pemberian imunisasi bcg tidak mencapai target Keterangan : M (Magnitude) : luasnya masalah S (Severity) : beratnya kerugian yang timbul V (Vulnerability) : ketersediaan teknologi C (Community Concern) : perhatian masyarakat dan politisi Nilai 1 = tidak ada hubungan Nilai 4 = hubungan erat Nilai 2 = hubungan lemah Nilai 5 = hubungan sangat erat Nilai 3 = hubungan cukup 5.

27 5.1 Diagram Fishbone LINGKUNGAN MANUSIA Orang tua tidak datang ke puskesmas membawa anaknya imunisasi Ibu takut anaknya disuntik Petugas kurang Kurangnya minat dan kepedulian komunikasi dan aktif terhadap program imunisasi BCG mengkoordinasi praktek bidan dan RS Tingkat pengetahuan ibu yang rendah Budaya Yang salah Tidak adanya Kurangnya penyuluhan petugas Pengetahuan Ibu pendataan dan Keluarga yang kurang Pemberian Imunisasi BCG Ibu tidak mengetahui tidak mencapai informasi dan tidak target membawa anaknya imunisasi Petugas kurang aktif Tidak adanya alat promosi Kurangnya tentang BCG perencanaan Pasien tidak Kurangnya sarana dan prasarana datang ke penyuluhan BCG puskesmas Dana Operasional Pengetahuan yang Kurang ibu yang kurang PROSES MATERIAL .4 Identifikasi Penyebab Masalah Dengan Diagram Tulang Ikan (Fish Bone) Gambar 5.

Dari akar penyebab tersebut. sebagian besar masalah sudah dapat dipecahkan.6 Menentukan Penyebab yang Paling Dominan Dari beberapa akar penyebab. 28 5. Sesuai dengan diagram tulang ikan diatas. dicari penyebab yang paling dominan dengan adu argumentasi sehingga diperoleh penyebab yang paling dominan yaitu “Pengetahuan ibu yang kurang” . dicari penyebab yang paling dominan. artinya dengan menanggulangi penyebab yang paling dominan. penyebab yang paling mungkin yang telah dibuktikan dengan data dan menjadi akar penyebab masalah adalah: Pada Proses  Pengetahuan ibu yang kurang Pada Input  Kurangnya petugas pendataan Dana operasional yang kurang efektif 5.5 Mencari Dukungan Data Untuk Membuktikan Penyebab Paling Mungkin Menjadi Akar Penyebab Dari diagram tulang ikan telah ditemukan beberapa penyebab masalah yang paling mungkin setelah dikonfirmasi dengan data menjadi akar penyebab.

1 alternatif pemecahan masalah Alternatif Pemecahan Masalah Masalah Pemberian imunisasi BCG tidak mencapai target Penyebab Pengetahuan ibu yang kurang Kurangnya Petugas pendataan Dana operasional yang kurang efektif Alternatif 1. 4. 29 . agar ibu mengetahui pentingnya imunisasi BCG 3. Memberi petunjuk bagi petugas agar mengkoordinir Pemecahan bidan dan praktek swasta ataupun RS yang menolong Masalah persalinan warga yang ada di wilayah kerja puskesmas putri ayu agar memberitahukan ibu yang melahirkan anaknya di tempat mereka untuk imunisasi di puskesmas putri ayu dengan memberikan nomor telepon agar petugas mudah dihubungi. Pembuatan alat-alat promosi kesehatan imunisasi BCG seperti pamflet.1 Alternatif-alternatif pemecahan masalah Tabel 6. dan baleho. Menjalin kerjasama yang baik antar petugas dalam pendataan mengenai imunisasi BCG. 2. Komunikasi yang efektif dari bidan ke ibu mulai dari kunjungan pertama dan khususnya keempat ibu hamil ke bidan terkait pentingnya imunisasi. 29 BAB VI PEMECAHAN MASALAH PRIORITAS DAN USULAN KEGIATAN UNTUK PEMECAHAN MASALAH 6. sepanduk.

2 tabel MCUA Alternatif pemecahan masalah terbaik N Kriteria mengkoordi Peningkatan O (BOBOT) Cara nir bidan Menjalin Pembuata komunikasi dan praktek kerjasama n promosi efektif swasta yang yang baik kesehatan dengan ibu melakukan antar hamil atau praktek petugas melahirkan persalinan N BN N BN N BN N BN Bobot 1. 4 8 32 7 28 8 32 biayanya 7 28 3. 30 6. Waktunya 2 9 16 5 10 7 14 singkat 5 10 JUMLAH 119 96 100 91 PERINGKAT I III II IV .2 Alternatif pemecahan masalah terbaik Tabel 6. Dapat memecahkan masalah 5 10 50 9 40 8 40 7 35 dengan sempurna Murah 2. Mudah 3 7 21 6 18 7 21 dilaksanakan 6 18 4.

Tidak ada dana khusus untuk ke bidan dan praktek swasta c. . Puskesmas dan tempat praktek swasta mudah terjangkau masyarakat. Kurangnya kerjasama lintas yankes e. 3. Kepala puskesmas dapat meningkatkan kerjasama lintas yankes. Bidan dan praktek swasta yang terbatas jam bukanya. kemungkinan adanya faktor penghambat dan pendorong 1. Keterlambatan pemberian BCG ke bayi umur dibawah 3 bulan 2. Adanya dukungan dari puskesmas berupa tenaga kesehatan d. Pengalokasian dana b. 31 Dari hasil penentuan prioritas dengan menggunakan tabel MCUA diatas. Kita memiliki petugas pemegang program yang dapat menerangkan BCG ke bidan dan rumah bersalin. Upaya mengantisipasi faktor penghambat a. c. b. maka alternatif pemecahan masalah yang terbaik sesuai dengan skor penilaian adalah sebagai berikut :“ Memberi petunjuk bagi petugas agar mengkoordinir bidan dan praktek swasta yang melakukan praktek persalinan” 6.3 Rencana Penerapan a. Sebagian bidan praktek tidak jauh dari lokasi puskesmas b. kemungkinan faktor penghambat a. Tidak efektif komunikasi dengan bidan dan tempat praktek swasta lainnya. d. Kemungkinan Faktor Pendorong a. Petugas memiliki sarana telekomunikasi c.

32 6.3 rencana usulan kegiatan pemecahan penyebab masalah terpilih No Kegiatan Tujuan Sasaran Waktu Pelaksana Biaya target 1 Memberi Mengetahui Bidan dan Setiap Bidan dan Biaya pemberian petunjuk jumlah bidan Praktek swasta. melakukan praktek Mengetahui persalinan jumlah neonatus yang dilahirkan di bidan dan praktek swasta . akhir Praktek dari pelaksanaa bagi petugas dan praktek serta RS bulan swasta Swaday n agar swasta yang a imunisasi mengkoordin yang BCG ir bidan dan melakukan memenuhi praktek praktek target swasta yang persalinan.4 Rencana Usulan Kegiatan Pemecahan Masalah Tabel 6.

Monitoring Setiap akhir bulan bidan dan praktek swasta akan melaporkan jumah persalinan yang mereka lakukan ke petugas imunisasi agar diketahui target yang ingin dicapai.5 Monitoring dan Evaluasi a.4 Monitoring Kegiatan Pemecahan Masalah Kegiatan Indikator Standar Hasil Keterangan Memberi Mengetahui Baik jika Pelaksanaan petunjuk bagi jumlah bidan dan setiap akhir pemberian petugas agar praktek swasta bulan terdapat BCG di mengkoordinir yang yang pelaporan Puskesmas bidan dan praktek melakukan terjalani swasta yang praktek dengan melakukan persalinan. sempurna dan praktek mencapai persalinan. 33 6. Tabel 6. Mengetahui target jumlah neonatus puskesmas yang dilahirkan di bidan dan praktek swasta .

. Mengetahui jumlah neonatus yang dilahirkan di bidan dan praktek swasta . Evaluasi Tabel 6. 34 b. persalinan. dan memenuhi melakukan praktek target pemberian.5 Evaluasi Kegiatan Pemecahan Masalah Kegiatan Indikator Awal Akhir Memberi petunjuk Mengetahui jumlah Tidak Diharapkan bagi petugas agar bidan dan praktek terpenuhinya adanya mengkoordinir swasta yang yang target pemberian Peningkatan bidan dan praktek melakukan praktek Imunisasi BCG pemberian BCG swasta yang persalinan.

3. masalah-masalah dalam pelayanan BCG di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi selama periode Januari – November 2017 yaitu: a. Orang tua tidak datang ke puskesmas membawa anaknya imunisasi d. Alternatif pemecahan masalah yang dapat dilakukan antara lain adalah : a. Memberi petunjuk bagi petugas agar mengkoordinir bidan dan praktek swasta b. dan baleho. kurang efektifnya pengalokasian dana 4. Pembuatan alat-alat promosi kesehatan imunisasi BCG seperti pamflet. e. Prioritas Masalah yang didapat adalah Pemberian imunisasi BCG tidak mencapai target. 35 BAB VII PENUTUP 7. Belum semua bayi berusia dibawah 3 bulan di wilayah kerja puskesmas putri ayu menerima imunisasi bcg. Menjalin kerjasama yang baik antar petugas dalam pendataan mengenai imunisasi BCG .1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan dan pemecahan masalah pada makalah pelaksanaan pemberian BCG. maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Komunikasi yang efektif dari bidan ke ibu mulai dari kunjungan pertama ibu hamil dan khususnya kunjungan terakhir ke bidan tentang manfaat imunisasi terutama imunisasi bcg d. sepanduk. agar ibu mengetahui pentingnya imunisasi BCG c. Pemberian Imunisasi bcg tidak mencapai target 2. Ibu melarang pemberian BCG kepada anaknya. b. Ketidaktahuan masyarakat tentang pembagian wilayah kerja puskesmas c. Pengetahuan ibu yang kurang. kurangnya petugas pendataan imunisasi. Penyebab terjadinya masalah yang didapat.

Sedangkan evaluasi yang diharapkan adanya peningkatan pemberian BCG dan memenuhi target pemberian. Pemecahan masalah yang terpilih adalah memberi petunjuk bagi petugas agar mengkoordinir bidan dan praktek swasta yang melakukan praktek persalinan. Puskesmas Membantu dan mengkontrol bidan dan praktek swasta agar lebih berkomunikasi dengan baik terhadap ibu sehingga pengetahuan ibu dapat meningkat. 36 5.2 Saran Dari hasil laporan penelitian ini yang harus menjadi perhatian yaitu 1. Rencana usulan kegiatan pemecahan masalah yang terpilih Memberi petunjuk bagi petugas agar mengkoordinir bidan dan praktek swasta yang melakukan praktek persalinan. Monitoring yang dilakukan diharapkan pemberian imunisasi bcg mencpai target dan terjalani dengan sempurna. 7. Kepada kepala puskesmas perlunya koordinasi tentang tugas yang di bebankan terhadap petugas imunisasi dan mengevaluasinya secara berkala 3. Kepada Puskesmas perlu meningkatkannya kerja sama antara Puskesmas dengan praktek bidan dan praktek swasta lainnya yang melakukan praktek persalinan. 2. 6. 7. Menyelenggarakan pertemuan untuk meningkatkan pengetahuan bidan dan praktek swasta dalam pelaksanaan imunisasi BCG. 4. . 5. Puskesmas perlu menambah dan membuat alat-alat promosi kesehatan khususnya tentang imunisasi BCG agar pengetahuan ibu dapat bertambah.

Global Laboratory Networks The Pink Book. Soekidjo. dkk. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. 2009. Yogyakarta. Marimbi. Center for Disease Control and Prevention (CDC) National Immunization Program . Departemen Kesehatan RI. Pedoman dan Penatalaksanaan di Indonesia. Suyitno H. Proverawati. Edisi Kelima. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan. Volume 4.Yogyakarta. Hanum. Edition 9. 2016 6. 2010:10 – 1 9. Wahab. 37 DAFTAR PUSTAKA 1.IDAI. Promosi Kesehatan dan Ilmu Prilaku. Wahani A. Januari-Juni 2016 2. WHO Report. Laporan Hasil Imunisasi BCG Propinsi Jambi. Nomor 1. Susanto CK. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Tuberkulosis. Rompis J. 2006 11. strategy. Geneva: World Health Organization. Dinas Kesehatan Provinsi Jambi. 4. 2010 . 2000: 31 8. Hubungan pemberian imunisasi BCG dengan kejadian TB paru pada anak di Puskesmas Tuminting periode Januari 2012 – Juni 2012. 2006. Ismidijanto. Hadinegoro SR. 2010: 108 7. Kartasasmita CB. financing. Global Tuberculosis control. 2014 10. Jakarta: EGC. 5. Nuha Offset. Epidemiology. Nuha medika. Jurnal e-Clinic (eCl). Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Atikah. Jakarta: Rineka Cipta. Ranuh IGN. Imunisasi Dan Vaksinisasi. Edisi I. Notoatmodjo. Tumbuh Kembang dalam Status Gizi dan Imunisasi Dasar Pada Belita. Laporan Riskesdas 2009. 2010 3.

38 LAMPIRAN .