Sirosis Hepatis

A. Definisi
Sirosis hepatis merupakan penyakit kronis yang ditandai oleh obstruksi
difus dan degenerasi fibrotic sel-sel hepar. Jaringan yang nekrotik
menghasilkan fibrosis, maka penyakit ini akan merusak jaringan hati serta
pembuluh darah yang normal, mengganggu aliran darah serta cairan limfe
dan pada akhirnya menyebabkan insufusiensi hati (Kowalak, 2011). Sirosis
adalah suatu keadaan patologis yang menggambarkan stadium akhir fibrosis
hepatic yang berlangsung progresi yang ditandai dengan distorsi dari
arsitektur hepar dan pembentukan nodulus regeneative (Sudoyo, 2009).
Sirosis hati adalah penyakit kronis progresif dicirikan dengan fibrosis luas
(jaringan parut) dan pembentukan nodul. Sirosis terjadi ketika aliran normal
darah, empedu dan metabolisme hepatic diubah oleh fibrosus dan
perubahan di dalam hepatosit, duktus empedu, jalur vaskules dan sel
retikuler (McPhee & Ganong, 2010).

B. Etilogi

Menurut (Kowalak, 2011),sirosis hati dapat terjadi karena berbagai
macam penyakit. Tipe klinis sirosis berikut ini mencerminkan etiologinya
yang beragam
1. Penyakit hepatoseluler. Kelompok ini meliputi gangguan berikut :
Sirosis pasca nekrotik terdapat pada 10% hingga 30% pasien sirosis
dan berasal dari berbagai tipe hepatis (seperti hepatis virus tipe A, B, C,
D) atau terjasi karena intoksikasi.
Sirosis Laennec yang juga dinamakan sirosis portal, sirosis nutrisional,
atau sirosis alcoholic merupakan tipe yang paling sering ditemukan dan
terutama disebabkan oleh hepatitis C serta alkoholisme. Kerusakan hati
terjadi karena malnutrisi (khususnya kekurangan protein dari makanan)
dan kebiasaan minum alcohol yang menahun. Jaringan fibrosis terbentuk
di daerah porta dan di sekitar vena sentralis.
Penyakit autoimun, sesperti sarkoidosis atau penyakit usus
inflamatorik, yang kronis dapat menyebabkan sirosis hepatis
2. Penyakit kolestalik.
Kelompok ini meliputi penyakit pada percabangan bilier (sirosis bilier
terjadi karena penyakit pada saluran empedu yang menekan aliran
empedu) dan kolangitis sklerosis
3. Penyakit metabolic.
Kelompok ini meliputi gangguan seperti penyakit Wilson, alfa,
-antitripsin, dan hemokromatosis (sirosis pigmen)
4. Tipe sirosi lain.
Tipe sirosis hepatis yang meliputi sindrom Budd-Chiari (nyeri
epigastrium, pembesaran hati, dan asites akibat obstruksi vena hepatika)

ekspansi toraks yang terbatas karena terdapat asites dalam rongga perut. 2011) 1. D. Ada empat macam sirosis yaitu: 1. bicara pelo. Mual dan mutah akibat respons inflamasi dan efek sistemik inflamasi hati 3. asteriksi. hepar membesar dan mengeras. System saraf pusat-tanda dan gejala ensafalopati hepatic yang berlangsung progresif dan meliputi letargi perubahan mental. Sirosis jantung. Respirasi-efusi pleura. Alkoholisme dan malnutrisi adalah dua factor pencetus utama untuk sirosis Laennec. Sirosis Laennec. 2008). Kriptogenik berarti sirosis dengan etiologi yang tidak diketahui. Sirosis ini disebabkan oleh alkoholisme dan malnutrisi. dan hepatotolsin. Nyeri tumpul abdomen akibat inflamasi hati Berikut ini merupakan tanda dan gejala stadium lanjut : 1. hepatitis virus. paranoia. Penyebabnya adalah gagal jantung sisi kanan (gagal jantung kongestif) (Mary Baradero. Pada tahap awal sirosis ini. Sirosis jantung merupakan penyakit yang langka. neuritis perifer. Sirosis pascanekrotik akibat hepatotoksin adalah sirosis yang paling sering dijumpai. Penyebabnya adalah obstruksi empedu dalam hepar dan duktus koledukus komunis (duktus sistikus) 4. halusinasi. gangguan pada efisiensi pertukaran gas sehingga terjadi hipoksia 2. Terjadi nekrosis yang berat pada sirosis ini karena hepatotoksin biasanya berasal dari hepatitis virus. Anoreksia akibat perubahan citarasa terhadap makanan tertentu 2. Namun. sirosis jantung dan sirosis kriptogenik. Manifestasi Klinis Berikut ini merupakan tanda dan gejala menurut (Kowalak. Sirosis pascanekrotik. Hepar mengecil dengan banyak nocul dan jaringan fibrosa 3. Sirosis bilier. kolestasis. pada tahap akhir. kerusakan hai terjadikarena gagal jantung kanan. Diare akibat malabsorbsi 4. C. Mary Wilfrid Dayrit. & Yakobus Siswadi. hepar mengecil dan nodular 2. somnolensia berat . Klasifikasi Sirosis hepatis dapat disebabkan oleh intrahepatik dan ekstrahepatik.

gusi yang mudah berdarah). dan hipertensi porta 4. dan gejala ikterus yang berhubungan dennga kerusakan fungsi hati. Endokrin-atrofi testis. alkalosis. Biopsy hepar dapat memastikan diagnosis bila pemeriksaan serum dan pemeriksaan radiologis tidak dapat menyimpulkan 3. yang semua terjadi sekunder karena terganggunya proses perubahan ammonia menjadi ureum dan sebagai akibatnya. TDL menunjukkan penurunan SDM. pruritus hebat yang terjadi sekunder karena ikterus akibat hiperbilirubinemia.Peningkatan alkalin fosfat serum. Urinalisis menunjukkan bilirubinuria 7. dan SDP (hasil dari depresi sumsum sekunder terhadap kegagalan ginjal dan kerusakan metabolisme nutrient) 6. spider angioma (spider naevi). hematokrit. gejala mudah memar. SGOT. Scan CT. Kulit-pigmentasi yang abnormal. Hematologic-kecenderungan berdarah (epistaksis. ALT. ketidakteraturan haid. senyawa ammonia yang toksik itu akan terbawa kedalam otak 3.Peningkatan kadar ammonia darah (akibat dari kerusakan metabolism protein) .PT memanjang (akibat kerusakan sintesis protombin dan faktor pembekuan) 2. splenomegali. Patofisiologi (Terlampir) F. dan hiponatremia (disebabkan oleh peningkatan skresi aldosteron pada respons terhadap kekurangan volume cairan ekstraseluler sekunder terhadap asites) 5. Endoskopi retrograde kolangiopankreatografi (ERCP) obstruksi duktus koledukus 9. LDH (meningkat) 8. anemia yan gdisebabkan oleh trombositopenia (terjadi sekunder karena splenomegali serta penrunan absorbs vitamin K). ginekomastia dan bulu dada serta ketiak rontok akibat penurunan metabolism hormone 5. Pemeriksaan Penunjang 1. hemoglobin. atau MRT di lakukan untuk mengkaji ukuran hepar. yang semua ini berhubungan dengan malnutrisi E. derajat obstruksi dari aliran darah hepatic 4. kekeringan kulit yang ekstrem dan turgor jaringan yang buruk. eritema palmarum. SGPT. dan koma. Esofagoskopi (varises) dengan barium esofagografi . dan AST (akibat dari destruksi jaringan hepar) . trombosit. Pemeriksaan fungsi hepar abnormal: . Elektrolit serum menunjukkan hipokalemia.

Setelah hematemesis selalu disusul dengan melena (Sujono Hadi). 2008). vitamin K. obstruksi bilier. malnutrisi. seperti asam folat. Mary Wilfrid Dayrit. seperti menangani alkoholisme. Sifat perdarahan yang ditimbulkan adalah muntah darah atau hematemesis biasanya mendadak dan massif tanpa didahului rasa nyeri di epigastrium. banyak amoniak yang bebas beredar dalam darah. kemudian oleh sel hati diubah menjadi urea. Pada penderita dengan kerusakan sel hati yang berat. tiamin. 2015). Timbulnya koma hepatikum dapat sebagai akibat dari faal hati sendiri yang sudah sangat rusak. Tindakan medis diarahkan pada faktor-faktor penyebab. sehingga hati tidak dapat melakukan fungsinya sama sekali. Oleh karena sel . Demikian pula proses detoksifikasi berkurang. 18% karena ulkus peptikum dan 5% karena erosi lambung. dan sebagainya. Pada keadaan normal. Darah yang keluar berwarna kehitam-hitaman dan tidak akan membeku. Komplikasi 1. Perdarahan Gastrointestinal Setiap penderita Sirosis Hepatis dekompensata terjadi hipertensi portal. G. Diuretic untuk edema 4. misalnya: 1. masalah jantung. Antihistamin untuk pruritus 2. 10. Kalium untuk hipokalemia 3. dan disebut koma hepatikum sekunder. dan berkurangnya pembentukan asam glukoronat dan sulfat. Penatalaksanaan Tidak ada terapi spesifik untuk sirosis. Koma hepatikum Komplikasi yang terbanyak dari penderita Sirosis Hepatis adalah koma hepatikum. & Yakobus Siswadi. amoniak akan diserap ke dalam sirkulasi portal masuk ke dalam hati. H. gangguan elektrolit. sehingga timbul perdarahan yang massif. 2. dan sebagainya (Mary Baradero. Tindakan medis yang lain disesuaikan pada tanda-tanda yang timbul. Biopsy hepar & ultrasonografi (Nurarif & Kusuma. dan timbul varises esophagus. Vitamin. obat-obatan dan lain-lain. FAINER dan HALSTED pada tahun 1965 melaporkan dari 76 penderita Sirosis Hepatis dengan perdarahan ditemukan 62% disebabkan oleh pecahnya varises esofagii. toksin. Mungkin juga perdarahan pada penderita Sirosis Hepatis tidak hanya disebabkan oleh pecahnya varises esophagus saja. Pada penyakit hati yang kronis timbul gangguan metabolisme protein. karena sudah tercampur dengan asam lambung. parasentese. Varises esophagus yang terjadi pada suatu waktu mudah pecah. Dapat pula koma hepatikum timbul sebagai akibat perdarahan. Ini disebut sebagai koma hepatikum primer.

Menurut Schiff. kondisi badannya menurun.. M. S. dan kemungkinan lain ialah timbulnya defisiensi makanan. S. Patofisiologi Penyakit : Pengantar Menuju Kedokteran Klinis. J. & Ganong. (2006).. A. 2002). glomeluronefritis kronik. J. J. sistitis. Ulkus peptikum Timbulnya ulkus peptikum pada penderita Sirosis Hepatis lebih besar bila dibandingkan dengan penderita normal. M. M. endokarditis. L. Nurarif. pielonefritis. akhirnya amoniak menuju ke otak dan bersifat toksik/iritatif pada otak. Buku Ajar Patofisiologi. perikarditis. Jakarta: Salemba Medika. Infeksi Setiap penurunan kondisi badan akan mudah kena infeksi. A. . & Hawks. Mary Baradero. Mary Wilfrid Dayrit. S. (2009). hati tidak dapat mengubah amoniak menjadi urea lagi. tbc paru-paru. & Kusuma. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. (2011). DAFTAR PUSTAKA Kowalak. A. (2010). H. F. termasuk juga penderita sirosis. M. S. Jakarta: EGC. resistensi yang menurun pada mukosa. Patofisiologi Konsep Klinis Proses- proses Penyakit. & Yakobus Siswadi. J. Jogjakarta: Mediaction Jogja. M. Nurdjanah. Jakarta: Internal Publising.. H. Jakarta: EGC.Black. H. McPhee. bronchopneumonia. & Carty. erysipelas maupun septikemi (Sujono. Jakarta: EGC. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 3. Wilson. Sudoyo. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. (2009). W.. (2015). Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Keperawatan Medikal Bedah. diantaranya adalah peritonitis. (2008). Beberapa kemungkinan disebutkan diantaranya ialah timbulnya hiperemi pada mukosa gaster dan duodenum. (2014). Price. Jakarta: EGC. pneumonia.. S. P. spellberg infeksi yang sering timbul pada penderita sirosis. 4. Klien Gangguan Hati : Seri Asuhan Keperawatan..