You are on page 1of 20

A.

Definisi
Keadaan penyakit terminal merupakan kondisi penyakit yang berat dan tidak
dapat disembuhkan lagi. Keadaan Terminal adalah suatu keadaan sakit dimana
menurut akal sehat tidak ada harapan lagi bagi penderita untuk sembuh. Keadaan
sakit itu bisa disebabkan oleh suatu penyakit atau kecelakaan. Keadaan terminal
merupakan suatu keadaan yang progresif menuju kematian berjalan melalui suatu
tahapan proses penurunan fisik, psikososial, dan spiritual bagi individu (Kubler-
Rosa, 1969. Dalam Charles Kemp).
Kondisi Terminal adalah suatu keadaan yang progresif menuju kematian
berjalan melalui suatu tahapan proses penurunan fisik, psikososisal, dan spiritual
bagi individu (Carpenito, 1999. Dalam Charles Kemp).
Kehilangan ( loss ) adalah suatu situasi aktual maupun potensial yang dapat
di alami individu ketika berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, baik
sebagian atau keseluruhan, atau terjadi perubahan dalam hidup sehingga terjadi
perasaan kehilangan. Kehilangan merupakan pengalaman yang pernah dialami oleh
setiap individu selama rentang kehidupannya. Sejak lahir, individu sudah mengalami
kehilangan dan cenderung akan mengalaminya kembali walaupun dalam bentuk yang
berbeda. Setiap individu akan bereaksi terhadap kehilangan. Respon terakhir
terhadap kehilangan sangat dipengaruhi oleh respon individu terhadap kehilangan
sebelumnya (Potter dan Perry, 1997).
Kehilangan dapat memiliki beragam bentuk, sesuai nilai dan prioritas yang
dipengaruhi oleh lingkungan seseorang yang meliputi keluarga, teman, masyarakat,
dan budaya. Kehilangan bisa berupa kehilangan yang nyata atau kehilangan yang
dirasakan. Kehilangan yang nyata ( actual loss ) adalah kehilangan orang atau objek
yang tidak lagi bisa dirasakan, dilihat, diraba, atau dialami oleh seseorang, misalnya
anggota tubuh, anak, hubungan, dan peran di tempat kerja. Kehilangan yang
dirasakan ( perceived loss ) merupakan kehilangan yang sifatnya unik menurut orang
yang mengalami kedukaan, misalnya kehilanga harga diri atau rasa percaya diri.

1
B. Jenis-Jenis Penyakit Terminal
Menurut Charles Kemp,2010 kategori penyakit terminal adalah
1. Penyakit-penyakit kanker.
2. Congestif Renal Falure (CRF).
3. Stroke Multiple Sklerosis.
4. AIDS.

C. Jenis Kehilangan
1. Kehilanga objek eksternal ( misalnya kecurian atau kehancuran akibat bencana
alam)
2. Kehilangan lingkungan yang dikenal (misalnya berpindah rumah, dirawat di
rumah sakit, atau berpindah pekerjaan)
3. Sesuatu atau seseorang yang berarti (misalnya pekerjaan, kepergian anggota
keluarga atau teman dekat, perawat yang dipercaya, atau binatang peliharaan)
4. Kehilangan suatu aspek diri (misalnya anggota tubuh dan fungsi psikologis atau
fisik)
5. Kehilangan hidup (misalnya kematian anggota keluarga, teman dekat, atau diri
sendiri)

D. Dampak Kehilangan
1. Pada masa anak – anak , kehilangan dapat mengancam kemampuan untuk
berkembang, kadang – kadang akan timbul regresi serta takut untuk ditinggalkan
atau dibiarkan kesepian.
2. Pada masa remaja atau dewasa muda, kehilangan dapat menyebabkan desintegrasi
dalam keluarga.
3. Pada masa dewasa tua, kehilangan khususnya kematian pasangan hidup, dapat
menjadi pukulan yang sangat berat dan menghilangkan semangat hidup orang
yang ditinggalkan.

2
E. Manifestasi Klinik Fisik
Menurut Charles Kemp,2010 menjelaskan bahwa manifestasi klinik penyakit
terminal, yaitu :
1. Gerakan penghindaran menghilang secara berangsur-angsur dimulai dari ujung
kaki dan ujung jari .
2. Aktifitas mulai berkurang.
3. Reflek mulai berkurang.
4. Suhu klien biasanya tinggi tapi merasa dingin dan lembab terutama pada kaki,
tangan, dan ujung-ujung ekstrimitas.
5. Kulit kelihatan kebiruan dan pucat.
6. Denyut nadi tidak teratur dan lemah.
7. Nafas berbunyi dan cepat.
8. Penglihatan mulai kabur.
9. Klien kadang-kadang merasa nyeri.
10. Klien dapat tidak sadarkan diri.

3
F. WOC

Penyakit Terminal

Pengobatan dokter

Penantian hasil pengobatan

Ketakutan dan ansietas

Gejala kembali muncul

Klien merasa lelah, jenuh, putus asa

Harapan menurun

Penderitaan meningkat

gejala dan tanda pasien terminal : pasien pada keadaan hipotensi,denyut


nadi melemah, nafas berbunyi, mata melolok, penglihatan kabur, dan Suhu
klien tinggi tapi merasa dingin dan lembab terutama pada kaki dan tangan
dan ujung-ujung ekstremitas.

4
Respon duka cita

Duka cita adaptif Duka cita maladaptif

Kematian / Kehilangan

Klien dalam kondisi Terminal akan mengalami berbagai masalah baik fisik,
psikologis, maupun social-spiritual. Gambaran problem yang dihadapi pada kondisi
terminal antara lain :
1. Problem Oksigenisasi ; respirasi irregular, cepat atau lambat, pernafasan cheyne
stokes, sirkulasi perifer menurun, perubahan mental; agitasi-gelisah, tekanan
darah menurun, hypoksia, akumulasi secret, nadi ireguler.
2. Problem Eliminasi; Konstipasi, medikasi atau imobilitas memperlambat
peristaltic, kurang diet serat dan asupan makanan jugas mempengaruhi
konstipasi, inkontinensia fekal bisa terjadi oleh karena pengobatan atau kondisi
penyakit(mis Ca Colon), retensi urin, inkopntinensia urin terjadi akibat
penurunan kesadaran atau kondisi penyakit mis trauma medulla spinalis, oliguri
terjadi seiring penurunan intake cairan atau kondisi penyakit mis gagal ginjal
3. Problem Nutrisi dan Cairan; asupan makanan dan cairan menurun, peristaltic
menurun, distensi abdomen, kehilangan BB, bibir kering dan pecah-pecah, lidah
kering dan membengkak, mual, muntah, cegukan, dehidrasi terjadi karena
asupan cairan menurun
4. Problem suhu; ekstremitas dingin, kedinginan sehingga harus memakai selimut

5
5. Problem Sensori ; Penglihatan menjadi kabur, refleks berkedip hilang saat
mendekati kematian, menyebabkan kekeringan pada kornea, Pendengaran
menurun, kemampuan berkonsentrasi menjadi menurun.
6. penglihatan kabur,pendengaran berkurang, sensasi menurun.
7. Problem nyeri ; ambang nyeri menurun, pengobatan nyeri dilakukan secara intra
vena, klien harus selalu didampingi untuk menurunkan kecemasan dan
meningkatkan kenyamanan
8. Problem Kulit dan Mobilitas ; seringkali tirah baring lama menimbulkan
masalah pada kulit sehingga pasien terminal memerlukan perubahan posisi yang
sering.
9. Masalah Psikologis ; klien terminal dan orang terdekat biasanya mengalami
banyak respon emosi, perasaaan marah dan putus asa seringkali ditunjukan.
Problem psikologis lain yang muncul pada pasien terminal antara lain
ketergantungan, hilang control diri, tidak mampu lagi produktif dalam hidup,
kehilangan harga diri dan harapan, kesenjangan komunikasi / barrier
komunikasi.
10. Perubahan Sosial-Spiritual, klien mulai merasa hidup sendiri, terisolasi akibat
kondisi terminal dan menderita penyakit kronis yang lama dapat memaknai
kematian sebagai kondisi peredaan terhadap penderitaan. Sebagian beranggapan
bahwa kematian sebagai jalan menuju kehidupan kekal yang akan
mempersatukannya dengan orang-orang yang dicintai. Sedangkan yang lain
beranggapan takut akan perpisahan, dikuncilkan, ditelantarkan, kesepian, atau
mengalami penderitaan sepanjang hidup

G. Respon klien terhadap penyakit terminal


Penyakit terminal dapat menimbulkan respon BIO-PSIKO-SOSIAL-
SPIRITUAL ini akan meliputi respon kehilangan antara lain :
1. Kehilangan kesehatan
Klien merasa takut, cemas , dan pandangan tidak realitis , aktivitasnya terbatas.
2. Kehilangan kemandirian

6
Ditunjukan melalui berbagai perilaku , bersifat kekanak – kanakan ,
ketergantungan.
3. Kehilangan situasi
Klien merasa kehilangan situasi yang dinikmati sehari – hari bersama keluarga
atau kelompoknya
4. Kehilangan rasa nyaman
Gangguan rasa nyaman muncul sebagai akibat gangguan fungsi tubuh seperti :
panas , nyeri ,dll.
5. Kehilangan fungsi fisik
Contoh klien gagal ginjal harus dibantu melalui haoinodialisa.
6. Kehilangan fungsi mental
Klien mengalami kecemasan dan depresi, tidak dapat berkonsentrasi dan berfikir
efisiek sehingga klien tidak dapat berfikir secara rasional.
7. Kehilangan konsep diri
Klien dengan penyakit kronik merasa dirinya berubah mencangkup bentuk dan
fungsi tubuh sehingga klien tidak dapat berfikir secara rasional ( body image )
peran serta identitasnya. Hal ini akan mempengaruhi idealisme diri dan harga diri
menjadi rendah.
8. Kehilangan peran dalam kelompok dalam keluarga

H. Psikodinamika penyakit terminal


1. Dinamika individu
a. Protes dan pengingkaran
Pada fase ini klien mengeskpresikan rasa tidak percaya pada kenyataan.
“mengapa kejadian ini menimpa saya?”
Pada fase ini terjadi proses perubahan konsep diri, ini terjadi selama kondisi
klien dalam keadan setres tapi setelah keadaan ini berlalu klien mulai masuk
kedalam fase berikutnya.
b. Depresi cemas dan marah
Pada fase ini emosi klien mulai meningkat. Depresi, cemas dan marah muncul
ketika klien tidak mampu mengatasi masalahnya dan merasa tidak berdaya

7
“bagaimana mengatasi masalah ini?”
Manifestasi depresi : sedih , kadang kadang menangis , bingung ketergantungan
, tidak dapat mengambil keputusan , tidak punya harapan.
Kecemasan yang dialami pasien dialihkan menjadi kemarahan yang di
proyeksikan pada diri sendiri, keluarga dan petugas.
c. Pelepasan dan reinvestasi
Klien mulai mengidentifikasi peningkatan keadaan cemas , depresi dan perasaan
maranya. Klien mulai mengumpulkan kekuatan yang dimiliki untuk mengurangi
respon yang memperberat keadaan setres, apabila penyakit ini terjadi progresif
fase ini akan berlangsung siklik. Disini klien mulai ada kerja sama. Klien mulai
melepaskan dari objek yang hilang, mulai membina hubungan dan penyesuain
diri terhadap relita.
2. Dinamika Keluarga
Respon keluarga bersama dengan respon emosi klien : pengingkaran , marah ,
cemas dan depresi.
3. Dinamika lingkungan
Dengan kesadaran bervariasi menimbulkan dinamika bagi klien STIGMA
SOSIAL ketidakmampuan melakukan aktivitas sosial perubahan peran dalam
kelompok sosial merupakan hambatan dalam melaksanakan fungsi sosial secara
normal
Respon Perawat
Dalam meberikan asuhan keperawatan perawat harus menunjukan sikap
profesional dan tulus dengan pendekatan yang baik pada saat pasien mengalami
fase pengingkaran perawat harus dapat menghadirkan fakta.
Analisa Diri Perawat
Kesadaran diri yang kuat dan perilaku yang ideal diperluka perawat dalam terapi.
Contoh :
Bagaimana perasaan saya pada saat melihat orang mengalami kesulitan.
Bagaiman perasaan saya tentang penyakit klien dalam keadaan kritis.
Apakah keyakinan saya tentang penyakit kronik sama atau berbeda dengan klien
atau keluarga.

8
I. Tipe-Tipe Perjalanan Menjelang Kematian
Ada 4 tipe dari perjalanan proses kematian,yaitu
1. Kematian yang pasti dengan waktu yang diketahui, yaitu adanya perubahan yang
cepat dari fase akut ke kronik.
2. Kematian yang pasti dengan waktu tidak bisa diketahui, biasanya terjadi pada
kondisi penyakit yang kronik.
3. Kematian yang belum pasti, kemungkinan sembuh belum pasti, biasanya terjadi
pada pasien dengan operasi radikal karena adanya kanker.
4. Kemungkinan mati dan sembuh yang tidak tentu terjadi pada pasien dengan sakit
kronik dan telah berjalan lama.

J. Koping Terhadap Kehilangan, Kematian Dan Dukacita


Kehilangan dan kematian adalah peristiwa dari pengalaman manusia yang
bersifat universal dan unik secara individual. Perawat bekerja sama dengan klien
yang mengalami berbagai tipe kehilangan. Mekanisme koping mempengaruhi
kemampuan seseorang untuk menghadapi dan menerima kehilangan. Dukacita
adalah respon alamiah terhadap kehilangan. Penting artinya untuk diperhatikan
bahwa apapun yang dikatakan di sini tentang proses dukacita dan kehilangan yang
terdapat dalam perspektif social dan historis mungkin berubah sepanjang waktu dan
situasi.
Kehilangan Hidup
Seseorang yang menghadapi kematian menjalani hidup, merasakan, berpikir
dan merespons terhadap kejadian dan orang sekitarnya sampai terjadinya kematian.
Doka (1993) menggambarkan respon terhadap penyakit yang mengancam
hidup ke dalam empat fase yaitu:
1. Fase Prediagnostik terjadi ketika diketahui ada gejala klien atau faktor risiko
penyakit.
2. Fase Akut berpusat pada krisis diagnosis. Klien dihadapkan pada serangkaian
keputusan, termasuk medis, interpersonal, psikologis, seperti halnya cara
menghadapi awal krisis penyakit.

9
3. Fase Kronis klien bertempur dengan penyakit dan pengobatannya, yang sering
melibatkan serangkaian krisis yang diakibatkan.;;
4. Fase Pemulihan atau Terminal kadang dalam fase akut atau kronis seseorang
dapat mengalami pemulihan. Klien yang mencapai fase terminal kematian bukan
lagi hanya kemungkinan, tetapi pasti terjadi. Pada setiap hal dari penyakit ini
klien dan keluarga dihadapkan dengan kehilangan yang beragam dan terus
berubah.

K. Bantuan yang Dapat Diberikan Saat Tahap Berduka


Bantuan terpenting berupa emosional.
1. Pada Fase Menyangkal
Perawat perlu waspada terhadap isyarat pasien dengan penyangkalan dengan
cara mananyakan tentang kondisinya atau prognosisnya dan pasien dapat
mengekspresikan perasaan-perasaannya.
2. Pada Fase Marah
Biasansya pasien akan merasa berdosa telah mengekspresikan perasaannya yang
marah. Perawat perlu membantunya agar mengerti bahwa masih me rupakan hal
yang normal dalam merespon perasaan kehilangan menjelang kamatian. Akan
lebih baik bila kemarahan ditujukan kepada perawat sebagai orang yang dapat
dipercaya, memberikan ras aman dan akan menerima kemarahan tersebut, serta
meneruskan asuhan sehingga membantu pasien dalam menumbuhkan rasa aman.
3. Pada Fase Menawar
Pada fase ini perawat perlu mendengarkan segala keluhannya dan mendorong
pasien untuk dapat berbicara karena akan mengurangi rasa bersalah dan takut
yang tidak masuk akal.
4. Pada Fase Depresi
Pada fase ini perawat selalu hadir di dekatnya dan mendengarkan apa yang
dikeluhkan oleh pasien. Akan lebih baik jika berkomunikasi secara non verbal
yaitu duduk dengan tenang disampingnya dan mengamati reaksi-reaksi non
verbal dari pasien sehingga menumbuhkan rasa aman bagi pasien.
5. Pada Fase Penerimaan

10
Fase ini ditandai pasien dengan perasaan tenang, damai. Kepada keluarga dan
teman-temannya dibutuhkan pengertian bahwa pasien telah menerima keadaanya
dan perlu dilibatkan seoptimal mungkin dalam program pengobatan dan mampu
untuk menolong dirinya sendiri sebatas kemampuannya.

L. Karakteristik Dukacita
Dukacita setelah kematian orang yang dicintai dapat diungkapkan dengan
menyangkal, terkejut, berdiam diri, kerinduan yang kuat, kemarahan, rasa bersalah,
kesedihan, depresi dan keputusasaan spiritual serta kehilangan kendali (Parkes, 1998;
Jacob, 1996).
1. Dukacita adaptif adalah dukacita yang berhubungan dengan persiapan menjelang
kematian.
2. Dukacita maladaptive adalah keadaan terdapat perasaan actual atau potensial
tentang objek yang hilang (objek yang hilang digunakn dalam kesan yang lebih
luas). Objek yang hilang tersebut termasuk orang, kepemilikan, pekerjaan,
status, rumah dan proses dari tubuh.

M. Keyakinan Spiritual dan Budaya


Nilai, sikap,keyakinan dan kebiasaan adalah aspek kultural yang
mempengaruhi reaksi terhadap kehilangan, dukacita dan kematian. Latar belakang
budaya dan dinamika keluarga mempengaruhi pengekspresian berduka. Kultur
mempengaruhi setiap orang secara berbeda. Keyakinan spiritual mencakup praktik,
ibadah dan ritual. Seseorang mungkin akan menemukan dukungan, ketenangan dan
makna dalam kehilangan melalui keyakinan-keyakinan spiritual. Seringkali orang
yang mengalami dukacita berbalik pada agama formal untuk mendapatkan kekuatan
dan dukungan. Perawat harus waspada terhadap makna praktik keagamaan, tidak
hanya kepada klien tetapi juga kepada keluarganya. Melalui respon keterbukaan,
perawat dapat menentukan mekanisme koping yang digunakan dan merencanakan
intervensi yang sesuai.

11
N. Asuhan keperawatan pada klien dengan penyakit terminal
a. Pengkajian
1) Pengkajian terhadap klien
Hal – hal yang perlu di kaji antara lain :
a) Respon emosi klien terhadap diagnosa
b) Kemampuan mengeskpresikan perasaan sedih terhadap situasi.
c) Upaya klien dalam mengatasi situasi
d) Kemampuan dalam mengambil dan memilih pengobatan.
e) Persepsi dan harapan klien
f) Kemampuan mengingat masa lalu.
2) Pengkajian keluarga
Hal – hal yang perlu dikaji antara lain :
a) Respon keluarga terhadap klien
b) Ekspresi emosi keluarga dan toleransinya
c) Kemampuan dan kekuatan keluarga yang diketahui
d) Kapasitas dan sistem pendukung yang ada
e) Pengertian oleh pasangan sehubungan dengan gangguan fungsional
f) Proses pengambilan keputusan
g) Identifikasi keluarga terhadap perasaan sedih akibat kehilangan dan
perubahan yang ada
3) Pengkajian lingkungan
a) Sumber daya yang ada.
b) Stigma masyarakat terhadap keadaan normal dan penyakit.
c) Kesediaan untuk membantu memenuhi kebutuhan.
d) ketersediaan fasilitas
e) partisipasi dalam asuhan keperawatan
f) kesempatan kerja

b. Diagnosa Keperawatan
1) Respon pengingkaran yang tidak kuat berhubungan dengan kehilangan
dan perubahan

12
2) Kecemasan yang meningkat berhubungan dengan ketidakmampuan
mengekspresikan perasaan.
3) Gangguang berhubungan ( menarik diri ) berhubungan dengan
ketidakmampuan melakukan aktivitas hidup sehari – hari ( ADL )
4) Gangguan body image berhubungan dengan dampak penyakit yang
dialami
5) Resiko tinggi terjadinya gangguan identitas berhubungan dengan adanya
hambatan dalam fungsi seksual

c. Perencanaan
Tujuan
1) Klien dapat mengidentifikasi respon pengingkaran terhadap kenyataan
2) Klien dapat mengidentifikasi perasaan cemas
3) Klien mau membina hubungan dengan keluarga dan petugas
4) Klien dapat menerima realitas atau keadaan dirinya saat ini
5) Klien tidak mengalami gangguan fungsi seksual

d. Intervensi terhadap klien


1) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan cemas ,
marah , frustasi dan depresi.
2) Bantu klien menggunakan koping yang konstruktif
3) Berikan informasi secara benar dan jujur.
4) Bantu klien untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan
5) Beri penjelasan mengenai perubahan fungsi seksual yang dialami
terhadap penyakitnya
6) Ciptakan lingkungan yang mendukung penyembuhan

e. Intervensi terhadap keluarga


1) Bantu keluarga untuk mengidentifikasi keluraganya
2) Beri informasi tentang klien tentang keluarga secara jelas
3) Bantu keluarga untuk mengenali kebutuhan

13
4) Berikan motivasi kepada keluarga untuk memberikan perhatikan kepada
klien
5) Tingkatkan harapan keluarga terhadap keadaan klien
6) Optimalkan sumber daya yang ada
7) Beri informasi tentang penyakit yang jelas
8) Beri motivasi kepada lingkungan untuk membantu klien dalam proses
penyembuhan
9) Upaya fasilitas kesehatan yang memadai sesuai dengan kondisi

14
O. Asuhan keperawatan pada masalah kehilangan
1. Pengkajian keperawatan
Pengkajian masalah ini adalah adanya faktor predisposisi yang mempengaruhi
respon seseorang terhadap perasaan kehilangan yang di hadapi ,antara lain :
a. Faktor genetik
Individu yang di lahirkan dan di besarkan dalam keluarga dengan riwayat
depresi akan sulit mengembangkan sikap optimis dalam menghadapi suatu
permasalahan termasuk dalam menghadapi perasaan kehilangan.
b. Kesehatan fisik
Individu dengan fisik, mental, serta pola hidup yang teratur cenderung
mempunyai kemampuan dalam mengatasi strees yang lebih tinggi di
bandingkan dengan individu yang mengalami gangguan jasmani.
c. Kesehatan mental
Individu mengalami gangguan jiwa, terutama yang mempunyai riwayat
depresi yang ditandai dengan perasaan tidak berdaya dan pesimis, selalu di
bayangi masa depan peka dalam menghadapi situasi kehilangan.
d. Pengalaman kehilangan di masa lalu
Kehilangan atau perpisahan dengan orang yang di cintai pada masa kanak-
kanak akan mempengaruhi kemampuan individu dalam mengatasi perasaan
kehilangan pada masa dewasa.
e. Struktur kepribadian
Individu dengan konsep diri yang negatif dan perasaan rendah diri akan
menyebabkan rasa percaya diri yang rendah dan tidak obyektif terhadap
stress yang di hadapi
f. Adanya stressor perasaan kehilangan
Stresor ini dapat berupa stresor yang nyata ataupun imajinasi individu itu
sendiri seperti kehilangan biopsikososial yang meliputi kehilangan harga
diri ,pekerjaan , seksualitas, posisi dalam masyarakat , milik pribadi
(kehilangan harta benda atau yang di cintai, kehilangan
kewarganegaraan,dll). Mekanisme koping yang sering di pakai oleh
individu dengan respon kehilangan. Dalam keadaan patologi , mekanisme

15
koping sering di pakai secara berlebihan atau tidak memadai. Pengkajian
tanda klinis berupa adanya disress somatis seperti gangguan lambung, rasa
sesak , nafas pendek, sering mengeluh, dan merasakan lemah. Pengkajian
terhadap masalah psikologis adalah tidak ada atau kurangnya pengetahuan
dan pemahaman kondisi yang terjadi ,penghindaran pembicaraan tentang
kondisi penyakit, serta kemampuan pemahaman sepenuhnya terhadap
prognosis dan usaha menghadapinya.

2. Diagnosis keperawatan
a. Berduka berhubungan dengan kehilangan aktual atau kehilangan yang di
rasakan.
b. Berduka antisipatif berhubungan dengan perpisahan atau kehilangan.
c. Berduka disfungsional berhubungan dengan kehilangan orang atau benda
yang di cintai atau memiliki arti besar.

3. Perencanaan dan tindakan keperawatan


a. Membina dan meningkatkan hubungan saling percaya dengan cara :
1) Mendengarkan pasien berbicara.
2) Memberi dorongan agar pasien mau mengungkapkan perasaannya.
3) Menjawab pertanyaan pasien secara langsung, menunjukkan sikap
menerima dan empati.
b. Mengenali faktor-faktor yang mugkin menghambat dengan cara :
1) Bersama pasien mendiskusikan hubungan pasien dengan orang atau
obyek yang pergi atau hilang.
2) Menggali pola hubungan pasien dengan orang yang berarti.
c. Mengurangi atau menghilangkan faktor penghambat dengan cara :
1) Bersama pasien mengingat kembali cara mengatasi perasaan berduka di
masa lalu.
2) Memperkuat dukungan serta kekuatan yang di miliki pasien dan
keluarga.

16
3) Mengenali dan menghargai sosial budaya ,agama serta kepercayaan
yang di anut oleh pasien dan keluarga dalam mengatasi perasaan
kehilangan.
d. Memberi dukungan terhadap respon kehilangan pasien dengan cara:
1) Menjelaskan kepada pasien atau keluarga bahwa sikap mengingkari,
marah, tawar-menawar , depresi, dan menerima adalah wajar dalam
menghadapi kehilangan.
2) Memberi gambaran tentang cara mengungkapkan perasaan yang bisa di
terima.
3) Menguatkan dukugan keluarga atau orang yang berarti.
e. Meningkatkan rasa kebersamaan antar anggota keluarga dengan cara:
1) Menguatkan dukungan keluarga atau orang yang berarti.
2) Mendorong pasien untuk menggali perasaan nya bersama anggota
keluarga lainnya, mengenali masing-masing anggota keluarga.
3) Menjelaskan manfaat hubungan dengan orang lain.
4) Mendorong keluarga untuk mengevaluasi perasaan dan saling
mendukung satu salam lain.
f. Menentukan tahap keberadaan pasien dengan cara:
1) Mengamati perilaku pasien.
2) Menggali pikiran perasaan pasien yang selalu timbul dalam dirinya.

Secara khusus tahap/rentang respon individual terhadap kedudukan adalah :


a. Tahap pengingkaran
1. Memberi kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan
perasaannya dengan cara :
a) Mendorong pasien mengungkapkan perasaan berdukanya.
b) Meningkatkan kesabaran pasien secara bertahap tentang kenyataan
dan kehilangan apabila sudah siap secara emosional.
2. Menunjukkan sikap menerima dan ikhlas dan mendorong pasien untuk
berbagi rasa dengan cara :

17
a) Mendengarkan dengan penuh perhatian dan minat mengenai hal
yang dikatakan pasien tanpa menghukum atau menghakimi.
b) Menjelaskan pada pasien jika sikap tersebut biasa terjadi pada orang
yang mengalami kehilangan
3. Memberi jawaban yang jujur terhadap pertanyaan pasien tentang sakit,
pengobatan,dan kematian dengan cara :
a) Menjawab pertanyaan pasien dengan bahasa yang mudah di
mengerti ,jelas, dan tidak berbelit-belit.
b) Mengamati dengan cermat respon pasien selama berbicara.
c) Meningkatkan kesadaran secara bertahap.
b. Tahap marah
Mengizinkan dan mendorong pasien mengungkapkan rasa marah secara
verbal tanpa melawan kemarahan tersebut dengan cara :
1. Menjelaskan kepada keluarga bahwa kemarahan pasien tidak di tujukan
kepada mereka.
2. Membiarkan pasien menangis.
3. Mendorong pasien untuk membicarakan kemarahannya.
c. Tahap tawar menawar.
Membantu pasien mengungkapkan rasa bersalah dan takut dengan cara :
1. Mendengarkan ungkapan dengan penuh perhatian.
2. Mendorong pasien untuk membicarakan rasa takut atau rasa
bersalahnya.
3. Bila pasien selalu mengungkapkan kata ‘’kalau’’ atau ‘’seandainya...,’’
beritahu pasien bahwa perawat hanya dapat melakukan sesuatu yang
nyata.
4. Membahas bersama pasien mengenai penyebab rasa bersalah atau rasa
takutnya.
d. Tahap depresi
1. Membantu pasien mengidentifikasi rasa bersalah dan takut dengan cara
a) Mengamati perilaku pasien dan bersama dengannya membahas
perasaannya.

18
b) Mencegah tindakan bunuh diri atau merusak diri sesuai derajat
resikonya.
2. Membantu pasien mengurangi rasa bersalah dengan cara :
a) Menghargai perasaan pasien.
b) Membantu pasien menemukan dukungan yang positif dengan
mengaitkan terhadap kenyataan.
c) Memberi kesempatan untuk menangis dan mengungkapkan
perasaannya.
d) Bersama pasien membahas pikiran negatif yang selalu timbul.
e. Tahap penerimaan
1. Membantu keluarga mengunjungi pasien secara teratur.
2. Membantu keluarga berbagi rasa ,karena setiap anggota keluarga tidak
berada pada tahap yang sama pada saat yang bersamaan.
3. Membahas rencana setelah masa berkabung terlewati.
4. Memberi informasi akurat tentang kebutuhan pasien dan keluarga.

4. Evaluasi keperawatan
Evaluasi terhadap masalah kehilangan dan berduka secara umum dapat di nilai
dari kemampuan untuk menghadapi atau memaknai arti kehilangan, reaksi
terhadap kehilangan, dan perubahan perilaku yang menerima arti kehilangan.

19
DAFTAR PUSTAKA

Kemp,charles.2010.Klien Sakit Terminal.Jakarta:Buku Kedokteran EGC


Purwaningsih,wahyu.2012.Asuhan Keperawatan Jiwa.Yogjakarta:Nuha Medika
Alimul,aziz.2013.Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia Aplikasi Konsep dan
Proses Keperawatan.Jakarta:Salemba Medika

20