You are on page 1of 20

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA PASIEN DENGAN HARGA DIRI RENDAH

OLEH :
EMA ATMAWATI

070117A017

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS NGUDI WALUYO
2017
LAPORAN PENDAHULUAN
HARGA DIRI RENDAH

A. Definisi
Harga diri rendah merupakan perasaan negative terhadap diri sendiri termasuk
kehilangan rasa percaya diri, tidak berharga, tidak berguna, tidak berdaya, pesimis, tidak
ada harapan dan putusasa (Maryam et.al, 2007).
Harga diri rendah adalah evaluasi diri atau perasaan negative tentangdirisendiri yang
mungkin diekspresikan secara langsung atau tidak langsung (Kim, 2006).
Harga diri rendah adalah perasaan tidak berdaya, tidak berarti dan rendah diri
berkepanjangan akibat evaluasi negative terhadap diri sendiri dan kemampuan diri (WHO
Perwakilan Indonesia, 2006).
Rentang respon
Respon perilaku klien harga diri rendah dapat diidentifikasikan sepanjang rentang
respon adaptif dan rentang inaladaptif yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
(rentangresponneurobiologik Stuart, 1998 )

B. Rentan Respon
Respon adaptif Respon maladapfif

1. Pikiran logis 1. Distorsi pikiran 1. Gangguan Pikir


A.
2. Persepsi akurat 2. Ilusi (waham / halusinasi)
3. Emosi konsisten 3. Reaksi emosi 2. Sulit berespon
dengan pengalaman berlebihan atau kurang 3. Perilaku disorganisasi
4.B.Perilaku
Pathwaysesuai 4. Perilaku aneh 4. Isolasi sosial
5. Berhubungan sosial 5. Menarik diri

C. Etiologi
Harga diri sering disebabkan karena koping individu yang tidak efektif akibat
kurang adanya umpan balik positif, kurangnya system pendukung, kemuduran
perkembangan ego, pengulangan umpan balik yang negative, disfungsi system keluarga
serta terfiksasi pada tahap perkembangan awal (Townsend, 2008).
Faktor – factor yang mempengaruhi konseo diri adalah sebagai berikut :
1. Faktor Predisposisi
a. Faktor biologis
Faktor yang mempengaruhi harga diri meliputi penolakan orang tua, harapan
orang tua yang tidak realistis, keggalan yang berulang kali, kurang mempunyai
tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang tua, dan ideal diri yang tidak
realistic.
b. Faktor sosial budaya
Faktor yang mempengaruhi performa peran adalah streotipik peran gender,
tuntutan peran kerja, dan harapan peran budaya.
c. Faktor psikologis
Faktor yang mempengaruhi identitas pribadi meliputi ketidakpercayaan orangtua,
tekanan dari kelompok sebaya, dan perubahan struktur sosial (Stuart, 2006).
d. Faktor Presipitasi
1) Ketegangan adalah stres yang berhubungan dengan frustasi yang dialami
individu dalam peran atau posisi yang diharapkan.
2) Konflik peran adalah ketidaksesuaian peran antara yang dijalankan dengan
yang diinginkan.
3) Peran yang tidak jelas adalah kurangnya pengetahuan individu tentang peran
yang dilakukannya.
4) Transisi peran situasi terjadi dengan bertambah atau berkurangnya anggota
keluarga melalui kelahiran atau kematian.
5) Transisi peran sehat-sakit sebagai pergeseran dari keadaan sehat ke keadaan
sakit. Transisi ini mungkin dicetuskan oleh :
a) Kehilangan bagian tubuh
b) Perubahan ukuran, bentuk, penampilan dan fungsi tubuh.
c) Perubahan fisik berhubungan dengan tumbuh kembang normal.
d) Prosedur medis dan keperawatan.

D. Manifestasi Klinis
Menurut Capernito (2008), tanda dan gejala perilaku yang berhubungan dengan
harga diri rendah adalah:
1. Data subjektif
a) Mengkritik diri sendiri dan orang lain
b) Perasaan dirinya sangat penting yang berlebih-lebihan
c) Perasaan tidak mampu
d) Rasa bersalah
e) Sikap negatif pada diri sendiri
f) Sikap pesimis pada kehidupan
g) Keluhan sakit fisik
h) Pandangan hidup yang terpolarisasi.
i) Menolak kemampuan diri sendiri
j) Pengurangan diri sendiri atau mengejek diri sendiri
k) Perasaan cemas dan takut
l) Merasionalisasi penolakan atau menjauh dari umpan balik positif
m) Mengungkapkan kegagalan pribadi
n) Ketidakmampuan menetukan tujuan
2. Data objektif
a) Produktifitas menurun
b) Perilaku destruktif pada diri sendiri
c) Perilaku destruktif pada orang lain
d) Penyalahgunaan zat
e) Menarik diri dari hubungan sosial
f) Ekspresi wajah malu dan bersalah
g) Menunjukkan tanda depresi (sukar tidur dan sukar makan)
h) Tampak mudah tersinggung atau mudah marah
E. Psikopatologi

Faktor predisposisi (biologis, Faktor presipitasi (lingkungan, Faktor perilaku


psikologis, sosiokultural) interaksi dengan orang lain)

Ketidak mampuan menyesuaikan


diri terhadap adaptif dan situasi

Koping individu tidak efektif (malu)

Merasa bersalah pada diri sendiri

Merasa tidak berguna/ketidakberdayaan

Mengasingkan diri

Kurang percaya diri

Sukar mengambil keputusan

Gangguan Gangguan Gangguan peran Gangguan pada Gangguan pada


gambaran diri identitas diri diri ideal diri Harga diri

Gangguan Konsep Diri

Harga Diri Rendah


F. Pengkajian Fokus
1. Isolasi sosial : menarik diri (Kusumawati, 2010)
a. Data Obyektif: Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul, menyendiri, berdiam diri di
kamar, banyak diam.
b. Data Subyektif: Ekspresi wajah kosong, tidak ada kontak mata, suara pelan dan
tidak jelas.
2. Gangguan konsep diri : harga diri rendah
a. Data Subyektif: Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-
apa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri
sendiri
b. Data Obyektif: Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih
alternatif tindakan, ingin mencederai diri/ingin mengakhiri hidup.
3. Gangguan citra tubuh
a. Data subyektif : Mengungkapkan tidak ingin hidup lagi, Mengungkapkan sedih
karena keadaan tubuhnya, Klien malu bertemu dan berhadapan dengan orang lain,
karena keadaan tubuhnya yang cacat
b. Data obyektif : Ekspresi wajah sedih, Tidak ada kontak mata ketika diajak bicara,
Suara pelan dan tidak jelas, Tampak menangis

G. Diagnosa Keperawatan
1. Harga diri rendah

H. Rencana Tindakan Keperawatan


Diagnosa : Harga diri rendah.
Tujuan umum : Kien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal.
Tujuan khusus :
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Kriteria hasil : Klien dapat menjawab salam, kilen mau bersalaman, klien mau
menyebutkan nama, kontak mata tidak mudah teralih, klien kooperatif.
Intervensi :
Bina hubungan saling percaya dengan menerapkan prinsip komunikasi terapeutik :
- Sapa klien dengan ramah secara verbal dan nonverbal
- Perkenalkan diri dengan sopan
- Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien
- Jelaskan tujuan pertemuan
- Jujur dan menepati janji
- Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
- Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien
Rasional : Komunikasi teraupetik akan memberikan kenyamanan pada klien,
sehingga klien dapat mengutarakan segala permasalahannya.
b. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Kriteria hasil : klien mengungkapkan aspek positif yang dimilikinya dan melakukan
kemampuan yang masih dapat digunakan.
Intervensi :
- Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.
- Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien.
- Utamakan memberi pujian yang realistik.
Rasional : Pengetahuan klien tentang kemampuan dan aspek positif yang klien miliki
dapat meningkatkan harga diri klien.
c. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan.
Kriteria hasil : adanya kemampuan yang masih dapat dilakukan oleh klien serta
adanya kepercayaan klien atas kemampuan tersebut
Intervensi :
- Diskusikan kemampuan yang masih dapat dilakukan
- Bantu klien menyebutkan dan memberi penguatan terhadap kemampuan diri
yang diungkapkan klien
- Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya
- Perlihatkan respon yang kondusif dan menjadi pendengar yang aktif
Rasional : Mengidentifikasi kemampuan yang masih dapat dilakukan oleh klien akan
memotivasi klien dalam melakukan aktivitas sesuai kemampuan.
d. Klien dapat merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Kriteria hasil : klien dapat beraktivitas sehari-hari sesuai kemampuan yang
dimilikinya.
Intervensi :
- Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari.
- Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien.
- Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang dapat klien lakukan.
Rasional : Perencanaan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki klien
dengan tujuan untuk membangkitkan harga diri klien kembali.
e. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kemampuannya.
Kriteria hasil : klien mencoba melakukan kegiatan yang telah direncanakan, kegiatan
dirumah sudah terencanakan.
Intervensi :
- Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan.
- Diskusikan pelaksanaan kegiatan dirumah
Rasional : Memberikan kesempatan pada klien dalam melakukan aktivitas sesuai
kemampuan dan disesuaikan dengan perencanaan yang telah dibuat.
f. Keluarga : Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
Kriteria hasil : keluarga mampu merawat klien memberikan dukungan penuh untuk
klien.
Intervensi :
- Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan
harga diri rendah.
- Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat.
- Bantu keluarga menyiapkan lingkungan rumah.
Rasional : Memberi informasi kepada pasien tentang sistem pendukung agar klien
dapat memanfaatkannya.
STRATEGI PELAKSANAAN
HARGA DIRI RENDAH

A. Tindakan keperawatan untuk pasien


1. Kondisi Pasien
Ds : Pasien mengatakan tidak berguna
Do : Pasien tampak berbicara sendiri, tampak senang / sedih, menyendiri, tatapan
mata kosong

2. Diagnosa Keperawatan
Gangguan konsep diri : harga diri rendah

3. Tujuan
a. Pasien dapat menilai aspek positf
b. Pasien dapat meningkatkan harga dirinya
c. Pasien dapat berorientasi kepada realitas secara bertahap
d. Pasien dapat memenuhi kebutuhan dasar
e. Pasien mampu berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan

4. Tindakan
a. Bina Hubungan Saling Percaya, salam terapeutik, perkenalkan diri dengan sopan,
jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang dan buat kontrak yang
jelas (waktu, tempat, topic).
b. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaannya
c. Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
d. Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seorang yang berharga dan
bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri
B. Strategi Tindakan Pelaksanaan
SP 1 Klien
Mendiskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien, membantu klien
menilai kemampuan yang masih dapat digunakan, membantu klien
memilih/menetapkan kemampuan yang akan dilatih, melatih kemampuan yang
sudah dipilih dan menyusun jadwal pelaksanaan kemampuan yang telah dilatih
dalam rencana harian
Fase Orientasi :
“Selamat pagi, Perkenalkan nama saya Ema Atmawati, saya biasa dipanggil Ema , saya
mahasiswa keperawattan UNW yang sedang praktik diruangan ini., Bagaimana keadaan
mbak hari ini ?
”Bagaimana, kalau kita bercakap-cakap tentang kemampuan dan kegiatan yang pernah mbak
lakukan? Setelah itu kita akan nilai kegiatan mana yang masih dapat mbakdilakukan. Setelah
kita nilai, kita akan pilih satu kegiatan untuk kita latih”
”Dimana kita duduk ? Bagaimana kalau di ruang tamu ? Berapa lama ? Bagaimana kalau 20
menit ?

Fase Kerja :
”Mbak, apa saja kemampuan yang mbak miliki? Bagus, apa lagi? Saya buat daftarnya ya!
Apa pula kegiatan rumah tangga yang biasa mbak lakukan? Bagaimana dengan merapihkan
kamar? Menyapu ? “ Wah, bagus sekali ada lima kemampuan dan kegiatan yang mbakmiliki
“.
”Mbak dari lima kegiatan/kemampuan ini, yang mana yang masih dapat dikerjakan di rumah
sakit ? Coba kita lihat, yang pertama bisakah, yang kedua.......sampai 5 (misalnya ada 3 yang
masih bisa dilakukan). Bagus sekali ada 3 kegiatan yang masih bisa dikerjakan di rumah sakit
ini.
”Sekarang, coba mbak pilih satu kegiatan yang masih bisa dikerjakan di rumah sakit ini”.
”O yang nomor satu, merapihkan tempat tidur? Kalau begitu, bagaimana kalau sekarang kita
latihan merapikan tempat tidur mbak”. Mari kita lihat tempat tidur mbak Coba lihat, sudah
rapikah tempat tidurnya?”
“Nah kalau kita mau merapikan tempat tidur, mari kita pindahkan dulu bantal dan
selimutnya. Bagus! Sekarang kita angkat spreinya, dan kasurnya kita balik. ”Nah, sekarang
kita pasang lagi spreinya, kita mulai dari arah atas, ya bagus !. Sekarang sebelah kaki, tarik
dan masukkan, lalu sebelah pinggir masukkan. Sekarang ambil bantal, rapihkan, dan letakkan
di sebelah atas/kepala. Mari kita lipat selimut, nah letakkan sebelah bawah/kaki. Bagus !”
“mbak sudah bisa merapihkan tempat tidur dengan baik sekali. Coba perhatikan bedakah
dengan sebelum dirapikan? Bagus ” “ Coba mas lakukan dan jangan lupa memberi tanda
MMM (mandiri) kalau mbak lakukan tanpa disuruh, tulis B (bantuan) jika diingatkan bisa
melakukan, dan mbak(tidak) melakukan.

Fase Terminasi :
“Bagaimana perasaan mbak setelah kita bercakap-cakap dan latihan merapikan tempat tidur
? Yah, ternyata mbak banyak memiliki kemampuan yang dapat dilakukan di rumah sakit ini.
Salah satunya, merapikan tempat tidur, yang sudah mbakpraktekkan dengan baik sekali. Nah
kemampuan ini dapat dilakukan juga di rumah setelah pulang.”
”Sekarang, mari kita masukkan pada jadwal harian. Mbak mau berapa kali sehari merapikan
tempat tidur? Bagus, dua kali yaitu pagi-pagi jam berapa ? Lalu sehabis istirahat, jam 16.00”
”Besok pagi kita latihan lagi kemampuan yang kedua. mbak masih ingat kegiatan apa lagi
yang mampu dilakukan di rumah selain merapihkan tempat tidur? Ya bagus, cuci piring.. kalu
begitu kita akan latihan mencuci piring besok jam 8 pagi di dapur ruangan ini sehabis makan
pagi Sampai jumpa ya”

SP 2 PASIEN:
Melatih pasien melakukan kegiatan lain yang sesuai dengan kemampuan pasien.

A. Orientasi :

“Selamat pagi, bagaimana perasaan T pagi ini ? Wah, tampak cerah ”

”Bagaimana T, sudah dicoba merapikan tempat tidur sore kemarin/ Tadi pag? Bagus
(kalau sudah dilakukan, kalau belum bantu lagi, sekarang kita akan latihan
kemampuan kedua. Masih ingat apa kegiatan itu T?”

”Ya benar, kita akan latihan mencuci piring di dapur”

”Waktunya sekitar 15 menit. Mari kita ke dapur!”


B. Kerja :
“ T, sebelum kita mencuci piring kita perlu siapkan dulu perlengkapannya, yaitu
sabut/tapes untuk membersihkan piring, sabun khusus untuk mencuci piring, dan air
untuk membilas., T bisa menggunakan air yang mengalir dari kran ini. Oh ya jangan
lupa sediakan tempat sampah untuk membuang sisa-makanan.

“Sekarang saya perlihatkan dulu ya caranya”

“Setelah semuanya perlengkapan tersedia, T ambil satu piring kotor, lalu buang dulu
sisa kotoran yang ada di piring tersebut ke tempat sampah. Kemudian T bersihkan
piring tersebut dengan menggunakan sabut/tapes yang sudah diberikan sabun pencuci
piring. Setelah selesai disabuni, bilas dengan air bersih sampai tidak ada busa sabun
sedikitpun di piring tersebut. Setelah itu T bisa mengeringkan piring yang sudah
bersih tadi di rak yang sudah tersedia di dapur. Nah selesai…

“Sekarang coba T yang melakukan…”

“Bagus sekali, T dapat mempraktekkan cuci pring dengan baik. Sekarang dilap
tangannya

C. Terminasi :
”Bagaimana perasaan T setelah latihan cuci piring ?”

“Bagaimana jika kegiatan cuci piring ini dimasukkan menjadi kegiatan sehari-hari

T. Mau berapa kali T mencuci piring? Bagus sekali T mencuci piring tiga kali setelah
makan.”

”Besok kita akan latihan untuk kemampuan ketiga, setelah merapihkan tempat tidur
dan cuci piring. Masih ingat kegiatan apakah itu? Ya benar kita akan latihan
mengepel”

”Mau jam berapa ? Sama dengan sekarang ? Sampai jumpa ”

Latihan dapat dilanjutkan untuk kemampuan lain sampai semua kemampuan


dilatih. Setiap kemampuan yang dimiliki akan menambah harga diri pasien.
1. Tindakan keperawatan pada keluarga
Keluarga diharapkan dapat merawat pasien dengan harga diri rendah di rumah dan
menjadi sistem pendukung yang efektif bagi pasien.
a. Tujuan :

1) Keluarga membantu pasien mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki


pasien
2) Keluarga memfasilitasi pelaksanaan kemampuan yang masih dimiliki
pasien
3) Keluarga memotivasi pasien untuk melakukan kegiatan yang sudah dilatih
dan memberikan pujian atas keberhasilan pasien
4) Keluarga mampu menilai perkembangan perubahan kemampuan pasien
b. Tindakan keperawatan :

1) Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien


2) Jelaskan kepada keluarga tentang harga diri rendah yang ada pada pasien
3) Diskusi dengan keluarga kemampuan yang dimiliki pasien dan memuji
pasien atas kemampuannya
4) Jelaskan cara-cara merawat pasien dengan harga diri rendah
5) Demontrasikan cara merawat pasien dengan harga diri rendah
6) Beri kesempatan kepada keluarga untuk mempraktekkan caramerawat
pasien dengan harga diri rendah seperti yang telah perawat demonstrasikan
sebelumnya
7) Bantu keluarga menyusun rencana kegiatan pasien di rumah
SP 1 KELUARGA
Mendiskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien di rumah,
menjelaskan tentang pengertian, tanda dan gejala harga diri rendah, menjelaskan
cara merawat pasien dengan harga diri rendah, mendemonstrasikan cara merawat
pasien dengan harga diri rendah, dan memberi kesempatan kepada keluarga untuk
mempraktekkan cara merawat.

A. Orientasi :
“Selamat pagi !”perkenalkan nama saya Ema Atmawati yang merawat pasien T.

“Bagaimana keadaan Bapak/Ibu pagi ini ?”

“Bagaimana kalau pagi ini kita bercakap-cakap tentang cara merawat T? Berapa lama
waktu Bp/Ibu?30 menit? Baik, mari duduk di ruangan wawancara!”

B. Kerja :
“Apa yang bapak/Ibu ketahui tentang masalah T”

“Ya memang benar sekali Pak/Bu, T itu memang terlihat tidak

percaya diri dan sering menyalahkan dirinya sendiri. Misalnya pada

T, sering menyalahkan dirinya dan mengatakan dirinya adalah orang

paling bodoh sedunia. Dengan kata lain, anak Bapak/Ibu memiliki

masalah harga diri rendah yang ditandai dengan munculnya pikiran

pikiran yang selalu negatif terhadap diri sendiri. Bila keadaan T ini

terus menerus seperti itu, T bisa mengalami masalah yang lebih berat

lagi, misalnya T jadi malu bertemu dengan orang lain dan memilih

mengurung diri”

“Sampai disini, bapak/Ibu mengerti apa yang dimaksud harga diri

rendah?”
“Bagus sekali bapak/Ibu sudah mengerti”

“Setelah kita mengerti bahwa masalah T dapat menjadi masalah

serius, maka kita perlu memberikan perawatan yang baik untuk T”

”Bpk/Ibu, apa saja kemampuan yang dimiliki T? Ya benar, dia juga

mengatakan hal yang sama(kalau sama dengan kemampuan yang

dikatakan T)

” T itu telah berlatih dua kegiatan yaitu merapihkan tempat tidur dan

cuci piring. Serta telah dibuat jadual untuk melakukannya. Untuk itu,

Bapak/Ibu dapat mengingatkan T untuk melakukan kegiatan tersebut

sesuai jadual. Tolong bantu menyiapkan alat-alatnya, ya Pak/Bu. Dan

jangan lupa memberikan pujian agar harga dirinya meningkat. Ajak

pula memberi tanda cek list pada jadual yang kegiatannya”.

”Selain itu, bila T sudah tidak lagi dirawat di Rumah sakit, bapak/Ibu

tetap perlu memantau perkembangan T. Jika masalah harga dirinya

kembali muncul dan tidak tertangani lagi, bapak/Ibu dapat membawa

T ke puskesmas”

”Nah bagaimana kalau sekarang kita praktekkan cara memberikan

pujian kepada T”

”Temui T dan tanyakan kegiatan yang sudah dia lakukan lalu berikan

pujian yang yang mengatakan: Bagus sekali T, kamu sudah semakin

terampil mencuci piring”

”Coba Bapak/Ibu praktekkan sekarang. Bagus”


C. Terminasi :
”Bagaimana perasaan Bapak/bu setelah percakapan kita ini?”

“Dapatkah Bapak/Ibu jelaskan kembali maasalah yang dihadapi T

dan bagaimana cara merawatnya?”

“Bagus sekali bapak/Ibu dapat menjelaskan dengan baik. Nah setiap

kali Bapak/Ibu kemari lakukan seperti itu. Nanti di rumah juga

demikian.”

“Bagaimana kalau kita bertemu lagi dua hari mendatang untuk

latihan cara memberi pujian langsung kepada T”

“Jam berapa Bp/Ibu dating? Baik saya tunggu.Sampai jumpa.”

SP 2 Keluarga :Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan


masalah harga diri rendah langsung kepada pasien

A. Orientasi:
“Selamat pagi Pak/Bu”

” Bagaimana perasaan Bapak/Ibu hari ini?”

”Bapak/IBu masih ingat latihan merawat anak BapakIbu seperti

yang kita pelajari dua hari yang lalu?”

“Baik, hari ini kita akan mampraktekkannya langsung kepada T.”

”Waktunya 20 menit”.

”Sekarang mari kita temui T”


B. Kerja:
”Selamat pagi T. Bagaimana perasaan T hari ini?”

”Hari ini saya datang bersama orang tua T. Seperti yang sudah

saya katakan sebelumnya, orang tua T juga ingin merawat T agar

T cepat pulih.”

(kemudian saudara berbicara kepada keluarga sebagai berikut)

”Nah Pak/Bu, sekarang Bapak/Ibu bisa mempraktekkan apa yang

sudah kita latihkan beberapa hari lalu, yaitu memberikan pujian

terhadap perkembangan anak Bapak/Ibu”

(Saudara mengobservasi keluarga mempraktekkan cara merawat

pasien seperti yang telah dilatihkan pada pertemuan sebelumnya).

”Bagaimana perasaan T setelah berbincang-bincang dengan

Orang tua T?”

”Baiklah, sekarang saya dan orang tua T ke ruang perawat dulu”

(Saudara dan keluarga meninggalkan pasien untuk melakukan

terminasi dengan keluarga)

C. Terminasi:
“ Bagaimana perasaan Bapak/Ibu setelah kita latihan tadi?”

« «Mulai sekarang Bapak/Ibu sudah bisa melakukan cara merawat

tadi kepada T »

« Tiga hari lagi kita akan bertemu untuk mendiskusikan

pengalaman Bapak/Ibu melakukan cara merawat yang sudah kita

pelajari. Waktu dan tempatnya sama seperti sekarang Pak/Bu »


« Sampai jumpa »

SP 3 KELUARGA : Membuat perencanaan pulang bersama keluarga

A. Orientasi:
“Selamat pagi Pak/Bu”

”Karena hari ini hari terakhir kunjungan saya, maka kita akan

membicarakan jadwal Tselama di rumah”

”Berapa lama Bpk/Ibu ada waktu? Mari kita bicarakan di kantor

B. Kerja:
”Pak/Bu ini jadwal kegiatan T selama di rumah sakit. Coba

diperhatikan, apakah semua dapat dilaksanakan di

rumah?”Pak/Bu, jadwal yang telah dibuat selama T dirawat

dirumah sakit tolong dilanjutkan dirumah, baik jadwal kegiatan

maupun jadwal minum obatnya”

”Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku

yang ditampilkan oleh T selama di rumah. Misalnya kalau T terus

menerus menyalahkan diri sendiri dan berpikiran negatif terhadap

diri sendiri, menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku

membahayakan orang lain. Jika hal ini terjadi lagi maka bawa

segera ke Rs untuk pengobatan lanjut

”Selanjutnya perawat K tersebut yang akan memantau

perkembangan T selama di rumah


C. Terminasi:
”Bagaimana Pak/Bu? Ada yang belum jelas? Ini jadwal kegiatan

harian . Ini surat rujukan untuk perawat K di PKM Inderapuri.

Jangan lupa kontrol ke PKM sebelum obat habis atau ada gejala

yang tampak. Silakan selesaikan administrasinya!”


DAFTAR PUSTAKA

Dalami e. suliswati, rochimah, suryati, KR danlestari W. (2009). Asuhan Keperawatan Klien


Dengan Gangguan Jiwa. Cetakan1. Jakarta : Tras Info Media

FKUI dan WHO (2006). Modul Praktek Keperawatan Professional Jiwa (MPKP Jiwa).
Cetakan 1. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan WHO.

Hartono, y. (2010). Buku ajar keperawata njiwa.cetakan1. Jakarta : Salemba Medika

Kim et.al.(2006). Diagnose keperawatan (terjemahan). Edisi 7. Jakarta : EGC

Maryam et.al, (2007). Kebutuhan Dasar Manusia Berdasarkan Hierarki Maslow Dan
Penerapannya Dalam Keperawatan. Cetakan1. Jakarta : Semesta Medika

Stuart.G.W. (2007). Buku saku keperawatan jiwa (terjemahan). Edisi 5. Jakarta : EGC