You are on page 1of 19

REFERAT

ANTENATAL CARE PADA KEHAMILAN TRIMESTER III

DISUSUN OLEH:
OKTARITA GRACIA NENOBAIS

PEMBIMBING:
dr. OBED PAUL ANDRE SIMATUPANG, M.ked.OG, Sp.OG

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT KANDUNGAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
RUMAH SAKIT MARDI WALUYO METRO
LAMPUNG
2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas segala berkat yang telah diberikan-Nya,
sehingga referat ini dapat diselesaikan. Referat dengan judul “ANTENATAL CARE PADA
KEHAMILAN TRIMESTER III” ini ditujukan untuk memenuhi sebagian dari persyaratan
akademik guna menyelesaikan kepaniteraan klinik Obstetri dan Ginekologi di Rumah Sakit
Mardi Waluyo Metro Lampung. Penulis menyadari bahwa tanpa bimbingan, bantuan dan doa
dari berbagai pihak, referat ini tidak akan dapat diselesaikan. Oleh karena itu, penulis
mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada semua pihak yang telah membantu
dalam proses pengerjaan referat ini, yaitu kepada :

1. dr. Obed Paul Andre Simatupang, M.Ked.OG,Sp.OG selaku SMF Ilmu Obstetrik dan
Ginekologi RS. Mardi Waluyo Metro Lampung yang telah membimbing saya dalam
menyelesaikan tugas ini

2. Para bidan dan pegawai di bagian SMF Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Mardi
Waluyo Metro Lampung

3. Rekan-rekan sejawat dokter muda di bagian SMF Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit
Mardi Waluyo Metro Lampung

4. Semua pihak yang namanya tidak dapat disebutkan satu per satu

Akhir kata, penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam penulisan
referat ini. Oleh karena itu, kritik dan saran dari pembaca akan sangat bermanfaat bagi penulis.
Semoga referat ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membacanya.

Metro, 12 Juni 2018

Penulis

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ……………………………………………………………....................1


KATA PENGANTAR…………………………………………………………......................2
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………....................4
1.1 Latar Belakang ..............................................................................................................4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................................... 7
2.1. Definisi Antenatal care ................................................................................................ 7
2.2. Tujuan Antenatal care ................................................................................................. 7
2.3. Pemeriksaan yang Dilakukan Pada Trimester III .........................................................8
2.4. Kebutuhan Nutrisi Ibu Hamil Pada Kehamilan Trimester III ................................... 11
2.5. Ketidaknyamanan Yang Terjadi Pada Ibu Hamil Pada Trimester III ........................ 12
2.6. Efek Perjalanan Udara pada Kehamilan Trimester III .............................................. 15
2.7. Efek Radiasi Pada Kehamilan Trimester III................................................................16
BAB III KESIMPULAN........................................................................................................ 17
3.1 Kesimpulan .................................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 18

3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia saat ini telah berhasil diturunkan dari
307/100.000 kelahiran hidup (KH) pada tahun 2002 menjadi 228/ 100.000 KH pada tahun
2007. Namun demikian, masih diperlukan upaya keras untuk mencapai target RPJMN 2010-
2014 yaitu 118/100.000 KH pada tahun 2014 dan Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium
Development Goals), yaitu AKI 102/100.000 KH pada tahun 2015.1 Faktor yang berkontribusi
terhadap kematian ibu, secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi penyebab langsung
dan penyebab tidak langsung. Penyebab langsung kematian ibu adalah faktor yang
berhubungan dengan komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas seperti perdarahan, pre
eklampsia/eklampsia, infeksi, persalinan macet dan abortus. Penyebab tidak langsung kematian
ibu adalah faktor-faktor yang memperberat keadaan ibu hamil seperti empat terlalu dan tiga
terlambat. Empat terlalu yaitu:2
1. Terlalu muda untuk hamil. Pada usia < 20 tahun kondisi panggul belum berkembang
secar optimal dan kondisi menta yang belum siap menghadapi kehamilan dan
menjalankan peran sebagai ibu sehingga resiko dapat terjadi adalah bayi lahir belum
cukup bulan, perdarahan sebelum bayi lahir, perdarahan setelah bayi lahir.
2. Terlalu Tua adalah ibu hamil pertama pada usia ≥ 35 tahun. Pada usia ini organ
kandungan menua, jalan lahir tambah kaku, ada kemungkinan besar ibu hamil
mendapat anak cacat, terjadi persalinan macet dan perdarahan. Resiko yang dapat
terjadi pada kehamilan terlalu tua adalah Hipertensi/tekanan darah tinggi, Pre-
eklamspsi, ketuban pecah dini, Persalinan macet, perdarahan setelah bayi lahir, bayi
lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) < 2500gr.
3. Terlalu dekat atau rapat jarak kehamilannya (kurang dari 2 tahun)
jarak antara kehamilan satu dengan berikutnya kurang dari 2 tahun (24 bulan). Kondisi
rahim ibu belum pulih, waktu ibu untuk menyusui dan merawat bayi kurang. Resiko
yang dapat terjadi adalah Keguguran, anemia, bayi lahir belum waktunya, berat badan
lahir rendah (BBLR), cacat bawaan dan tidak optimalnya tumbuh kembang balita.
4. Terlalu Banyak Anak adalah ibu pernah hamil atau melahirkan lebih dari 4 kali atau
lebih. Kemungkinan akan di temui kesehatan yang terganggu, kelemahan pada dinding
perut, tampak pada ibu dengan perut yang menggantung. Resiko yang dapat terjadi
pada kehamilan terlalu banyak anak adalah robekan rahim pada kelainan letak lintang,
persalinan lama dan perdarahan pasca persalinan.

4
Tiga terlambat yaitu:2
1. Terlambat mengambil keputusan untuk mencari upaya medis kedaruratan
2. Terlambat tiba di fasilitas kesehatan
3. Terlambat mendapat pertolongan medis.
Penyebab langsung adalah ibu hamil yang menderita penyakit menular seperti Malaria,
HIV/AIDS, Tuberkulosis, Sifilis; penyakit tidak menular seperti Hipertensi, Diabetes Mellitus,
gangguan jiwa; maupun yang mengalami kekurangan gizi. Selain itu masih terdapat masalah
dalam penggunaan kontrasepsi. Menurut data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
(SDKI) Tahun 2007, angka unmet-need 9,1%. Kondisi ini merupakan salah satu faktor
penyebab terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan dan aborsi yang tidak aman, yang pada
akhirnya dapat menyebabkan kesakitan dan kematian ibu.1
Malaria pada kehamilan seringkali menimbulkan komplikasi yang berbahaya bagi ibu,
janin dan bayinya. Menurut laporan SDKI Malaria periode tahun 2008 - 2010, di daerah
endemis, prevalensi ibu hamil positif Malaria 38,2%, dan menurut data SDKI 2007, di daerah
endemis malaria, ibu hamil yang memakai kelambu hanya 29,0%. Masalah lain adalah HIV
pada ibu hamil, selain mengancam keselamatan ibu juga dapat menular kepada bayinya
(mother-to-child transmission). Menurut data Kementerian Kesehatan tahun 2009, dari 10.026
ibu hamil yang menjalani test HIV, sebanyak 289 (2,9%) ibu hamil dinyatakan positif HIV.
Sifilis merupakan salah satu infeksi menular seksual yang juga perlu mendapat perhatian. Ibu
hamil yang menderita Sifilis berpotensi untuk melahirkan bayi dengan Sifilis kongenital. Data
terbatas dari tiga kabupaten model, dari 2.640 ibu hamil yang diperiksa, yang positif 52 ibu
hamil (1,97%). Penyakit menular lain yang masih merupakan masalah utama kesehatan
masyarakat adalah Tuberkulosis (TB). Pada ibu hamil TB dapat memperburuk kesehatan dan
status gizi ibu, serta mempengaruhi tumbuh kembang janin dan risiko tertular pada bayinya.
Penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes mellitus, jantung, asma berat, dan gangguan jiwa
sangat mempengaruhi kondisi kesehatan ibu, janin dan bayi baru lahir. Penanganan penyakit
kronis pada ibu hamil masih belum seperti yang diharapkan dan datanya juga belum terekam
dengan baik. Kekurangan gizi pada ibu hamil juga masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat yang perlu mendapat perhatian khusus. Kurang asupan zat besi pada perempuan
khususnya ibu hamil dapat menyebabkan anemia yang akan menambah risiko perdarahan dan
melahirkan bayi dengan berat lahir rendah, prevalensi anemia pada pada ibu hamil sekitar
40,1%. Di samping kekurangan asupan zat besi, anemia juga dapat disebabkan karena
kecacingan dan Malaria.1,3,4

5
Masalah gizi yang lain adalah kurang energi kronik (KEK) dan konsumsi garam
beryodium yang masih rendah. Wanita usia subur (WUS) yang berisiko KEK sekitar 13,6%
dan 62,3% rumah tangga yang mengkonsumsi garam beryodium cukup menurut Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) selain penanganan masalah kehamilan dan komplikasi yang
menyertainya, perlu diupayakan peningkatan kualitas bayi yang akan dilahirkan, melalui
kegiatan brain boos termeliputi stimulasi otak janin dan asupan gizi seimbang pada ibu hamil.
Masalah Kekerasan terhadap Perempuan (KtP) merupakan masalah global yang terkait dengan
kesehatan dan hak asasi manusia. Ibu hamil yang mendapat kekerasan secara fisik dan psikis
baik dari suami maupun orang-orang terdekatnya dapat mempengaruhi kehamilan dan
perkembangan janin.1,3,4
Untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas, maka pelayanan antenatal di fasilitas
kesehatan pemerintah maupun swasta dan praktik perorangan/kelompok perlu dilaksanakan
secara komprehensif dan terpadu.

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Definisi Antenatal care


Pemeriksaan Antenatal care (ANC) adalah pemeriksaan kehamilan untuk
mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil sehingga mampu menghadapi
persalinan, kala nifas, persiapan pemberiaan air susu ibu (ASI) dan kembalinya kesehatan
reproduksi secara wajar. Kunjungan ANC adalah kunjungan ibu hamil ke bidan atau dokter
sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan/asuhan
antenatal. Pelayanan antenatal ialah untuk mencegah adanya komplikasi obstetri bila mungkin
dan memastikan bahwa komplikasi dideteksi sedini mungkin serta ditangani secara memadai.5
Pemeriksaan kehamilan atau ANC merupakan pemeriksaan ibu hamil baik fisik dan
mental serta menyelamatkan ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan dan masa nifas,
sehingga keadaan mereka post partum sehat dan normal, tidak hanya fisik tetapi juga mental.
Pelayanan antenatal terintegrasi merupakan integrasi pelayanan antenatal rutin dengan
beberapa program lain yang sasarannya pada ibu hamil, sesuai prioritas Departemen
Kesehatan, yang diperlukan guna meningkatkan kualitas pelayanan antenatal.5
Delapan Program-program yang di integrasikan dalam pelayanan antenatal terintegrasi
meliputi:6
a.Maternal Neonatal Tetanus Elimination (MNTE)
b.Antisipasi Defisiensi Gizi dalam Kehamilan (Andika)
c.Pencegahan dan Pengobatan IMS/ISR dalam Kehamilan (PIDK)
d.Eliminasi Sifilis Kongenital (ESK) dan Frambusia
e.Pencegahan dan Penularan HIV dari Ibu ke Bayi (PMTCT)
f.Pencegahan Malaria dalam Kehamilan (PMDK)
g.Penatalaksanaan TB dalam Kehamilan (TB-ANC) dan Kusta
h.Pencegahan Kecacingan dalam Kehamilan (PKDK)
i.Penanggulangan Gangguan Intelegensia pada Kehamilan (PAGIN)
2.2.Tujuan Antenatal care
Tujuan Umum:7
1. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang
janin.
2. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, maternal dan sosial ibu dan bayi.

7
3. Mengenal secara dini adanya komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk
riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan.
4. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat ibu maupun
bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
5. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI eksklusif.
6. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat
tumbuh kembang secara normal.
7. Menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan perinatal.
Tujuan ANC adalah untuk menjaga agar ibu hamil dapat melalui masa kehamilannya,
persalinan dan nifas dengan baik dan selamat, serta menghasilkan bayi yang sehat.
Tujuan Khusus:7
1. Mengenali dan mengobati penyulit-penyulit yang mungkin diderita sedini mungkin.
2. Menurunkan angka morbilitas ibu dan anak.
3. Memberikan nasihat-nasihat tentang cara hidup sehari-hari dan keluarga berencana,
kehamilan, persalinan, nifas dan laktasi.
2.3 Pemeriksaan yang Dilakukan Pada Trimester III
Pemeriksaan kehamilan keempat. Ini merupakan pemeriksaan kehamilan terakhir dan
dilakukan pada usia kehamilan antara 32-36 minggu. Pada pemeriksaan ini akan dilakukan
pemeriksaan:8
1. Anamnesa, akan ditanayakan mengenai kondisi selama kehamilan, keluhan-
keluhan yang muncul, pergerakan janin, dan tanda kontraksi Rahim.
2. Pemeriksaan fisik berupa pemeriksaan tekanan darah, berat badan, tinggi fundus
uteri (puncak Rahim), detak denyut janin, pemeriksaan Leopold (menentukan letak
janin dalam kandungan), dan pemeriksaan fisik menyeluruh.
3. Pemeriksaan ultrasonografi
Standard pemeriksaan USG pada kehamilan trimester II dan III:9
1. Kehidupan janin, jumlah, presentasi, dan aktivitas janin harus dicatat. 
 Adanya frekuensi

dan irama jantung yang abnormal harus dilaporkan.
 Pada kehamilan multipel perlu

dilaporkan informasi tambahan mengenai jumlah kantung gestasi, jumlah plasenta, ada-
tidaknya sekat pemisah, genitalia janin (jika terlihat), perbandingan ukuran-ukuran janin,

dan perbandingan volume cairan amnion pada masing-masing kantung amnion. 


2. Prakiraan volume cairan amnion (normal, banyak, sedikit) harus dilaporkan.
 Variasi

8
fisiologik volume cairan amnion harus dipertimbangkan di dalam penilaian volume cairan

amnion pada usia kehamilan tertentu. 


3. Lokasi plasenta, gambaran, dan hubungannya dengan ostium uteri internum harus dicatat.

Tali pusat juga harus diperiksa.
 Lokasi plasenta pada kehamilan muda seringkali berbeda

dengan lokasi pada saat persalinan. 
 Kandung kemih yang terlampau penuh atau

kontraksi segmen bawah uterus dapat memberikan gambaran yang salah dari plasenta

previa.
 Pemeriksaan transabdominal, transperineal, atau transvaginal dapat membantu

dalam mengidentifikasi ostium uteri internum dan hubungannya dengan letak plasenta. 


4. Penentuan usia gestasi harus dilakukan pada saat pemeriksaan ultrasonografi pertama kali,
dengan menggunakan kombinasi ukuran kepala seperti DBP atau lingkar kepala, dan

ukuran ekstremitas seperti panjang femur.
 Pengukuran pada kehamilan trimester III tidak

akurat untuk menetukan usia gestasi. Jika sebelumnya sudah dilakukan 1 kali atau lebih
pemeriksaan ultrasonografi, maka usia gestasi pada pemeriksaan sekarang harus
didasarkan atas hasil pemeriksaan CRL, DBP, lingkar kepala, dan/atau panjang femur yang
paling awal dilakukan sebelumnya, oleh karena hasilnya akan lebih akurat. Dengan
demikian usia gestasi sekarang = usia gestasi pada pemeriksaan pertama + interval waktu

(minggu) sampai pemeriksaan sekarang. 
 Pengukuran bagian-bagian struktur tubuh janin

yang abnormal (seperti kepala pada janin hidrosefalus atau ekstremitas pada janin dengan

displasia skeletal) tidak boleh digunakan untuk penghitungan usia kehamilan. 


A. Standard pengukuran DBP dilakukan pada bidang aksial kepala melalui thalamus

(transthalamik).
 Jika bentuk kepala dolikosefalus atau brakhisefalus, pengukuran

DBP akan tidak akurat. Bentuk kepala yang demikian dapat diketahui melalui
pengukuran indeks sefalik, yaitu rasio DBP dengan diameter fronto-oksipital. Pada

keadaan tersebut ukuran kepala yang digunakan sebaiknya adalah lingkar kepala. 


B. Pengukuran lingkar kepala dilakukan pada bidang yang sama seperti pada pengukuran

DBP. Pengukuran dilakukan melalui permukaan luar tulang kepala. 


C. Panjang femur harus diukur dan dicatat secara rutin setelah kehamil-an 14 minggu
Seperti halnya ukuran kepala, panjang femur juga mempunyai variasi biologik tertentu
pada kehamilan lanjut.
5. Perkiraan berat janin harus ditentukan pada akhir trimester II dan trimester III, dan
memerlukan pengkuran lingkar abdomen.

9
A. Pengukuran lingkar abdomen dilakukan melalui bidang transversal abdomen pada

daerah pertemuan vena porta kiri dan kanan.
 Pengukuran lingkar abdomen diperlukan

untuk memprakirakan berat janin, dan untuk mendeteksi pertumbuhan janin terhambat

dan makrosomia. 


B. Jika sebelumnya sudah dilakukan pengukuran biometri janin, maka prakiraan laju

pertumbuhan janin harus ditentukan. 


6. Evaluasi uterus (termasuk serviks) dan struktur adneksa harus dilakukan. Pemeriksaan ini
berguna untuk memperoleh temuan tambahan yang mempunyai arti klinis penting. Jika
terlihat suatu mioma uteri atau massa adneksa, catat lokasi dan ukurannya. Ovarium ibu
seringkali tidak bisa ditemukan dalam pemeriksaan ultrasonografi pada trimester II dan
III. Pemeriksaan cara transvaginal atau transperineal berguna untuk mengevaluasi serviks,
bila pada cara pemeriksaan transabdominal letak kepala janin menghalangi pemeriksaan

serviks. 


7. Meskipun tidak perlu dibatasi, pemeriksaan ultrasonografi paling tidak harus meliputi
penilaian anatomi janin seperti: ventrikel serebri, fossa posterior (termasuk hemisfer
serebri dan sisterna magna), four-chamber view jantung (termasuk posisinya di dalam
toraks), spina, lambung, ginjal, kandung kemih, insersi tali pusat janin dan keutuhan
dinding depan abdomen. Jika posisi janin memungkinkan, lakukan juga pemeriksaan

terhadap bagian-bagian janin lainnya. 
 Dalam prakteknya tidak semua kelainan sistem

organ tersebut di atas dapat dideteksi melalui pemeriksaan ultrasonografi.
 Pemeriksaan

tersebut di atas dianjurkan sebagai standar minimal untuk mempelajari anatomi janin.
Kadang-kadang beberapa bagian struktur janin tidak bisa dilihat, karena posisi janin,
volume cairan amnion yang berkurang, dan habitus tubuh ibu akan membatasi
pemeriksaan ultrasonografi. Jika hal ini terjadi, maka struktur janin yang tidak bisa terlihat

dengan baik harus dicantumkan di dalam laporan pemeriksaan ultrasonografi. 


Pemeriksaan yang lebih seksama harus dilakukan terhadap suatu organ yang diduga
mempunyai kelainan.
4. Pemeriksaan laboratorium. Urinalisis, cek protein dalam urin bila tekanan darah
tinggi, gula darah dan hemoglobin terutama bila kunjungan pertama anda
dinyatakan anemia.
Saat pemeriksaan kehamilan keempat inilah akan mulai mendisukusikan pilihan
persalinan yang aman sesuai dengan kondisi kehamilan. Tapi bila anda bisa melakukan
pemeriksaan kehamilan lebih sering, maka World Health Organitation (WHO) sangat

10
menyarankan agar anda melakukan pemeriksaan kehamilan setiap 4 minggu sekali dari saat
pemeriksaan kehamilan pertama kali hingga usia kehamilan 28 minggu, setiap 2 minggu sekali
dari usia kehamilan 28-36 minggu dan setiap satu minggu sekali dari usia kehamilan 36 minggu
hingga waktunya melahirkan. Pemeriksaan kehamilan yang tidak normal bila ditemukan:
1. Memiliki riwayat penyakit jantung, ginjal, diabetes, dan epilepsi sebelum kehamilan.
2. Memiliki riwayat kelainan genetic dalam keluarga.
3. Tanda anemia berat (hemoglobin < 7g/dl)
4. Riwayat lahir mati, berat badan lahir rendah (BBLR), preeclampsia atau eklampsia,
section caesar pada riwayat kehamilan sebelumnya.
5. Munculnya tekanan darah tinggi atau proteinuria (adanya protein dalam urin)
6. Gula darah meninggi ( > 200mg/dl) selama kehamilan
7. Perdarahan per vagina atau munculnya bercak-bercak darah selama kehamilan.
8. Sakit kepala yang hebat, penglihatan kabur atau bengkak seluruh tubuh.
9. Adanya infeksi saat kehamilan.
2.4. Kebutuhan Nutrisi Ibu Hamil Trimester III
Nutrisi adalah faktor penting yang mempengaruhi tumbuh kembang bayi di awal
kehidupan, karena nutrisi yang tepat dan seimbang mendukung perkembangan otak, sistem
daya tahan tubuh dan perkembangan bayi dalam kandungan.10
Berbagai nutrisi penting yang perlu diperhatikan di masa kehamilan:10
1. Kalsium (ca), manfaat bagi bayi untuk pembentukan tulang dan gigi serta pembentukan
jantung, saraf dan otot. Manfaat bagi ibu untuk menurangi resiko osteoporosis,
mengurangi resiko preeklamsi selama kehamilan.
2. Zat Besi (Fe), manfaat bagi bayi untuk perkembangan dan fungsi otak dan tumbuh
kembang yang optimal. Manfaat bagi ibu untuk menjaga kualitas sel darah merah,
mencegah anemia, dan mengurangi resiko kelahiran prematur.
3. Asam folat, manfaat bagi bayi untuk mengurangi resiko neural tube defect. Manfaat
bagi ibu untuk mencegah kelahiran prematur, membentu produksi DNA dan sel-sel
tubuh, mencegah resiko penyakit jantung dan stroke.
4. Seng (Zn), manfaat bagi bayi dan untuk menjaga kualitas sel darah merah, mecegah
anemia, dan mengurangi resiko kelahiran prematur.
5. Docosa hexaenoic acid (DHA), dibutuhkan dalam periode tumbuh kembang otak
terutama pada trimester tiga hingga usia 2-3 tahun.11

11
Asupan nutrisi yang dibutuh tiap trimester berbeda-beda karena tergantung pada
perkembangan tubuh ibu dan janin sendiri. Pada trimester tiga terjadi proses persiapan
organ, peningkatan lemak otot, dan penyimpanan cadangan nutrisi sehingga nutrisi yang
dibutuhkan adalah energi, DHA, kalsium dan vitamin D.10
Kenaikan berat badan ini tergantung dari berat badan sebelum kehamilan karena
penting dari segi kesehatan bagi ibu dan bayi. Berikut perkiraan kenaikan berat badan ibu
hamil yang normal menurut IMT:12
 IMT di bawah 18,5 (berat badan di bawah normal), maka kamu disarankan untuk
menaikkan bobot sekitar 12,7 – 18,1 kg.
 IMT sekitar 18,5–22,9 (berat badan normal), maka kamu disarankan untuk menaikkan
bobot sekitar 11,3 – 15,9 kg.
 IMT di atas sekitar 23 (kelebihan berat badan), maka kamu disarankan untuk
menaikkan bobot sekitar 6,8 – 11,3 kg.
 IMT di atas 25 (obesitas), maka kamu disarankan untuk menaikkan bobot sekitar 5,0 –
9,1 kg.
Diperkirakan, kenaikan berat badan pada trimester pertama berkisar antara 0,5 – 2
kg. Setelah itu, berat badan kamu diperkirakan bertambah tiap minggunya pada trimester
kedua dan ketiga sekitar 0,4 – 0,59 kg (untuk berat badan di bawah normal), 0,36 – 0,45 kg
(untuk berat badan normal), 0,23 – 0,32 kg (untuk berat badan berlebih), dan 0,18 – 0,27
kg (untuk berat badan obesitas).12
Apabila terjadi asupan gizi yang kurang baik akan menghambat pertumbuhan janin
dalam kandungan seperti BBLR, diabetes gestasional, preeklamsi yang dapat mengganggu
kehamilannnya. Berat badan ibu sebelum hamil dan kenaikan berat badannya selama hamil
ternyata dapat berpengaruh terhadap kesehatan serta pertumbuhan janin dalam
kandungannya. Kesehatan dan pertumbuhan janin sangat dipengaruhi oleh kesehatan
ibunya.12
Penggunaan aspirin dosis rendah pada kehamilan untuk mencegah morbiditas dan
mortalitas pada preeklamsi yang dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas ibu hamil,
persalinan prematur, kematian perinatal, dan pertumbuhan janin terhambat. Karena bayi
prematur lebih sering mengalami masalah repirasi dan neurologi, seperti distres pernafasan,
kejang dan infeksi. Dosis aspirin yang dianjurkan adalah 65 mg-150 mg.13
2.5. Ketidaknyamanan Yang Terjadi Pada Ibu Hamil Trimester III
Menurut Romauli (2011:149) Ketidaknyamanan ibu hamil pada Trimester III, adalah
sebagai berikut:14

12
a. Peningkatan Frekuensi berkemih. Frekuensi kemih meningkat pada trimester ketiga
sering dialami wanita primigravida setelah lightening terjadi efek lightaning yaitu
bagian presentasi akan menurun masuk kedalam panggul dan menimbulkan tekanan
langsung pada kandung kemih. Peningkatan frekuensi berkemih disebabkan oleh
tekanan uterus karena turunnya bagian bawah janin sehingga kandung kemih tertekan,
kapasitas kandung kemih berkurang dan mengakibatkan frekuensi berkemih
meningkat.
Sering buang air kecil merupakan suatu perubahan fisiologisdimana terjadi
peningkatam sensitivitas kandung kemih dan pada tahap selanjutnya merupakan akibat
kompresi pada kandung kemih. Pada trimester III kandung kemih tertarik keatas dan
keluar dari panggul sejati ke arah abdomen. Uretra memanjang sampai 7,5 cm karena
kandung kemih bergeser kearah atas. Kongesti panggul pada masa hamil ditunjukan
oleh hiperemia kandung kemih dan uretra. Peningkatan vaskularisasi ini membuat
mukosa kandung kemih menjadi mudah luka dan berdarah. Tonus kandung kemih dapat
menurun. Hal ini memungkinkan distensi kandung kemih sampai sekitar 1500 ml. Pada
saat yang sama pembesaran uterus menekan kandung kemih, menimbulkan rasa ingin
berkemih meskipun kandung kemih hanya berisi sedikit urin. Untuk mengatas hal
tersebut maka ibu dianjurkan minum air putih yang cukup (± 8-12 gelas/hari) dan
menjaga kebersihan disekitar alat kelamin. Ibu hamil perlu mempelajari cara
membersihkan alat kelamin yaitu dengan gerakan dari depan kebelakang setiap kali
selesai berkemih dan harus menggunakan tissue atau handuk yang bersih serta selalu
mengganti celana dalam apabila terasa basah.Penatalaksanaan yang dapat diberikan
pada ibu hamil trimester III dengan keluhan sering kencing yaitu KIE tentang penyebab
sering kencing, kosongkan kadung kemih ketika ada dorongan, perbanyak minum pada
siang hari dan kurangi minum di malam haru jika mengganggu tidur, hindari minum
kopi atau teh sebagai diuresis, berbaring miring kiri saat tidur untuk meningkatkan
diuresis dan tidak perlu menggunakan obat farmakologis.15
b. Sakit punggung karena tekanan terhadap akar syaraf dan perubahan sikap badan pada
kehamilan lanjut karena titik berat badan berpindah kedepan disebabkan perut yang
membesar. Ini diimbangi dengan lordosis yang berlebihan dan sikap ini dapat
menimbulkan spasme, hindari membungkuk berlebihan, mengangkat beban, dan
berjalan tanpa istirahat, gunakan sepatu bertumit rendah; sepatu tumit tinggi tidak stabil
dan memperberat masalah pada pusat gravitasi dan lordosisdan jika masalah bertambah
parah, pergunakan penyokong abdomen eksternal dianjurkan.15

13
c. Hiperventilasi dan sesak nafas, peningkatan aktivitas metabolis selama kehamilan akan
meningkatkan karbondioksida. Hiperventilasi akan menurunkan karbon dioksida.
Sesak nafas terjadi pada trimester III karena pembesaran uterus yang menekan
diafragma. Selain itu diafragma mengalami elevasi kurang lebih 4 cm selama
kehamilan.14
d. Edema Dependen Terjadi karena gangguan sirkulasi vena dan peningkatan tekanan
vena pada ekstrimitas bawah karena tekanan uterus membesar pada vena panggul pada
saat duduk/ berdiri dan pada vena cava inferior saat tidur terlentang. Edema pada kaki
yang menggantung terlihat pada pergelangankaki dan harus dibedakan dengan edema
karena preeklamsi.15
e. Nyeri ulu hati. Ketidaknyamanan ini mulai timbul menjelang akhir trimester II dan
bertahan hingga trimester III. Penyebab: 1) Relaksasi sfingter jantung pada lambung
akibat pengaruh yang ditimbulkan pe ningkatan jumlah progesteron. 2) Penurunan
motilitas gastrointestinal yang terjadi akibat relaksasi otot halus yang kemungkinan
disebabkan peningkatan jumlah progesteron dan tekanan uterus membedakan antara
flatus, cairan atau feses. Akibatnya feses yang cair akan merembes keluar. skibala juga
mengiritasi mukosa rectum, kemudian terjadi produksi cairan dan mukus yang keluar
melalui sela-sela dari feses yang impaksi.Perencanaan yang dapat diberikan pada ibu
hamil dengan keluhan konstipasi adalah tingkatkan intake cairan minimum 8 gelas air
putih setiap hari dan serat dalam diet misalnya buah, sayuran dan minum air hangat,
istirahat yang cukup, melakukan olahraga ringan ataupun senam hamil, buang air besar
secara teratus dan segera setelah ada dorongan.14-15
f. Kesemutan dan baal pada jari terjadi karena perubahan pusat gravitasi menyebabkan
wanita mengambil postur dengan posisi bahu terlalu jauh kebelakang sehingga
menyebabkan penekanan pada saraf median dan aliran lengan yang akan menyebabkan
kesemutan dan baal pada jari-jari.14
g. Insomnia gangguan ini terjadi karena ibu hamil sering kencing. Gangguan ini juga
disebabkan oleh rasa tidak nyaman yang dirasakan ibu hamil seperti bertambahnya
ukuran rahim yang mengganggu gerak ibu. Cara mengatasinya dengan ibu hamil
diharapkan menghindari rokok dan minuman beralkohol. Menghindari merokok dan
mengkonsumsi alcohol pada saat hamil. Selain membahayakan janin, rokok dan
alkohol juga membuat ibu hamil sulit tidur, ibu hamil diharapkan menghindari kafein.
Menghindari kafein dapat membuat seseorang susah tidur dan membuat jantung
berdebar. Selain, selain terdapat pada kopi, kafein juga terdapat pada teh soda, dan

14
cokelat, usahakan tidur sebentar di siang hari. Tidur di siang hari dapat membantu ibu
mengusir rasa lelah. Sebaiknya tidur di siang hari cukup dilakukan 30 sampai 60 menit
saja, biasakan tidur miring kiri mulai trimester pertama sampai akhir kehamilan. Posisi
tidur miring ke kiri juga akan membantu darah dan nutrisi mengalir lancar ke janin dan
rahim, serta membantu ginjal untuk sedikit memperlambat produksi urine.
Membiasakan tidur dalam posisi ini juga bermanfaat untuk membantu ibu tidur lebih
optimal ketika perut semakin membesar pada trimester III dan urangi minum pada
malam hari. Sebaiknya ibu lebih banyak minum pada pagi dan siang hari untuk
mengurangi frekuensi buang air kecil pada malam hari yang berakibat juga ibu sering
kencing pada malam hari.16
2.6 Efek Perjalanan Udara Terhadap Kehamilan Trimester III
Perjalanan udara selama kehamilan untuk wanita yang memiliki kondisi medis atau
obstetrik yang mungkin diperberat oleh penerbangan atau yang memerlukan perawatan darurat.
Durasi penerbangan juga harus dipertimbangkan ketika merencanakan perjalanan. Ibu hamil
harus diberitahu bahwa keadaan darurat obstetrik yang paling umum terjadi pada trimester
pertama dan ketiga.17

Kondisi lingkungan seperti perubahan dalam tekanan kabin dan kelembaban rendah,
ditambah dengan perubahan fisiologis kehamilan, menghasilkan adaptasi, termasuk
peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, dan penurunan tekanan udara yang signifikan.
Risiko yang terkait dengan perjalanan dalam waktu yang panjang dan kelembaban kabin yang
rendah, seperti edema ekstremitas bawah dan trombotik vena. Meskipun kurangnya bukti
peristiwa seperti itu selama kehamilan, langkah-langkah pencegahan tertentu dapat digunakan
untuk meminimalkan risiko ini, misalnya, penggunaan stoking dukungan dan gerakan periodik
ekstremitas bawah, menghindari pakaian restriktif, ambulasi sesekali, dan pemeliharaan hidrasi
yang adekuat. Karena turbulensi udara yang parah tidak dapat diprediksi dan risiko berikutnya
untuk trauma adalah signifikan jika hal ini terjadi, ibu hamil harus diinstruksikan untuk
menggunakan sabuk pengaman mereka secara terus menerus saat duduk. Sabuk pengaman
harus diikat rendah pada tulang panggul, di antara perut dan panggul. Beberapa tindakan
pencegahan dapat mengurangi ketidaknyamanan bagi ibu hamil. Misalnya, makanan atau
minuman penghasil gas harus dihindari sebelum penerbangan terjadwal karena gas yang
terperangkap meluas di ketinggian Obat antiemetik pencegahan harus dipertimbangkan untuk
wanita dengan peningkatan mual dan juga kebisingan, getaran, dan radiasi kosmik
menghadirkan risiko yang dapat diabaikan bagi ibu hamil hamil sesekali. Baik Dewan Nasional

15
Perlindungan Radiasi dan Pengukuran dan Komisi Internasional tentang Perlindungan
Radiologi merekomendasikan batas paparan radiasi tahunan maksimum 1 millisievert (mSv)
(100 rem) untuk anggota masyarakat umum dan 1 mSv selama 40 minggu kehamilan. Bahkan
penerbangan antarbenua terpanjang akan mengekspos penumpang tidak lebih dari 15% dari
batas ini; oleh karena itu, tidak mungkin bahwa wisatawan kadang-kadang akan melebihi batas
paparan saat ini selama kehamilan. Namun, aircrew atau frequent flyer dapat melebihi batas
ini. Federal Aviation Administration dan Komisi Internasional tentang Perlindungan Radiologi
menganggap aircrew terkena radiasi pengion dan merekomendasikan bahwa mereka diberitahu
tentang paparan radiasi dan risiko kesehatan.17
2.7 Efek Radiasi Terhadap Kehamilan Trimester III
Potensi efek radiasi telah diteliti secara luas, sehingga menghasilkan pengetahuan yang
luas dan kuat. Seperti halnya pengetahuan, ada ketidak pastian. Tujuan meninjau penelitian
radiasi dan ketidakpastian yang mendasari adalah untuk membangun basis pengetahuan dari
mana keputusan klinis yang cukup dapat diraih dapat dicapai tentang risiko pemeriksaan
radiologi pada ibu hamil atau berpotensi hamil. Dua jenis risiko harus diatasi: kemungkinan
hasil yang merugikan, dan tingkat keparahan hasilnya. Ini harus ditimbang terhadap manfaat
potensial untuk ibu hamil dan anak. Informasi berikut (Tabel 1) dapat digunakan untuk
membangun perspektif dan untuk mengembangkan kebijakan, prosedur, dan pedoman klinis
dalam pengelolaan pasien hamil atau berpotensi hamil.18
Tabel 1. Efek Radiasi Terhadap Kehamilan.

16
Sumber: acr practice guideline For imaging pregnant or Potentially pregnant adolescents
and women with ionizing Radiation. 2008.Diunduh dari: www.who.int.
Risiko Stochastic dicurigai, tetapi data tidak konsisten untuk paparan pada bayi baru
lahir, reiko seumur hidup untuk perkembangan kanker diperkirakan pada skala 0 hingga 0,4%
per 10 mGy (1 rad) dosis untuk bayi. Ini kemungkinan juga mencerminkan potensi risiko in-
utero untuk trimester kedua dan trimester ketiga dan bagian dari trimester pertama.19

BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Deteksi dini pada pemeriksaan Antenatal care adalah upaya preventif untuk mengenali
faktor resiko sehingga dapat merencanakan rujukan dini berencana. Semakin awal resiko
diketahui semakin baik pula prognosis atas tindakannya. Diagnosis dini dan penanganan
adekuat dapat mencegah perkembangan buruk atas resiko yang ada.
Mengingat pentingnya AKI sebagai salah satu indikator pembangunan Negara, maka
sudah sewajarnya program-program kesehatan perempuan ditingkatkan sebagai upaya
mencegah terjadinya kematian ibu salah satunya dengan pelaksanaan ANC yang optimal.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Angka Kematian Ibu, hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia. Diunduh dari
www.Litbang.depkes.go.id.2012. Diakses pada 5 Juni 2018.
2. Memelihara kesehatan kehamilan. Diunduh dari: http://www.depkes.go.id. 2012.
Diakses 12 Juni 2018
3. Data dan Informasi untuk Pimpinan, diunduh dari www.depkes.go.id, Diakses 5 Juni
2018.
4. Pedoman Pelayanan Antenatal Terpadu; Kementerian Kesehatan Direktur Jenderal
Bina Kesehatan Masyarakat 2010. Diunduh dari www.kesehatanibu.depkes.go.id,
diakses pada 5 Juni 2018.
5. Saifuddin AB, Adriaansz G, Wiknjosastro GH, Waspodo D. Buku Acuan Nasional
Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. Jakarta. 2006.
6. R I D. Standar Pelayanan Kebidanan. Jakarta:Depkes RI. 2009
7. Kementrian Kesehatan RI. Pedoman Pelayanan Antenatal Terpadu. Edisi Pertama.
Jakarta: Ditjen Bina Gizi dan KIA. 2010
8. Mintarsih S. Perawatan Pada Kehamilan. Surakarta. 2012
9. Hariadi R. Ilmu Kedokteran Fetomaternal Edisi Perdana. Surabaya:Himpunan
Kedokteran Fetomaternal Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia.2004
10. Nutrisi Penting Dimasa Kehamilan. Diunduh dari: www.nutriclub.co.id. 2008 Diakses
12 Juni 2018.
11. Arisman M B. Buku Ajar Ilmu Gizi. Jakarta:EGC.2003
12. Parti D D. Pengaruh Pemberian Suplemen DHA pada Ibu Hamil terhadap Berat Badan
dan Lingkar Kepala Bayi Baru Lahir. Stomatognatic.1(12).2015
13. Iskandar F, Limardi S, Padang F A. Aspirin Dosis Rendah untuk Pencegahan
Preeklamsia dan Komplikasinya. CDK-252.5(44).2017
14. Romauli S. Buku Ajar Kebidanan Konsep Dasar Asuhan Kehamilan. Yogyakarta: Nuha
Medika.2011
15. Hanni, ummi. Asuhan Kebidanan pada Kehamilan Fisiologis. Jakarta:Salemba Medika.
2011
16. Mauaba, Gede I B. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana.
Jakarta:EGC. 2012.
17. Committee on Obstetric. Air Travel During Pregnancy. ACOG.443.2009

18
18. acr practice guideline For imaging pregnant or Potentially pregnant adolescents and
women with ionizing Radiation. 2008.Diunduh dari: www.who.int.

19