You are on page 1of 26

1

SMF/BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK LAPSUS RAWAT INAP


FAKULTAS KEDOKTERAN JUNI 2018
UNIVERSITAS NUSA CENDANA

BRONKOPNEUMONIA

Disusun Oleh :
Dea Caroline Larasati Lumban Gaol
1308012029

Pembimbing Klinik I
dr. Regina M. Manubulu, Sp.A,M.Kes
Pembimbing Klinik II
dr. Woro Indri Padmosiwi, Sp.A

SMF/BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA
RSUD PROF. DR. W. Z. JOHANNES
KUPANG
2018
2

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan kasus ini diajukan oleh :


Nama : Dea Caroline Larasati Lumban Gaol, S.ked
NIM : 1308012029
Telah berhasil dibacakan dan dipertahankan di hadapan para pembimbing klinik
sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk mengikuti ujian komprehensif di
bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUD. Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang

Pembimbing Klinik

1. dr. Regina M. Manubulu, Sp.A,M.Kes 1. ………………….


Pembimbing Klinik I
2. dr. Woro Indri Padmosiwi, Sp.A 2. ………………….
Pembimbing Klinik II

Ditetapkan di : Kupang

Tanggal : Juni 2018


3

Laporan Kasus Rawat Inap


BRONKOPNEUMONIA
Dea Caroline Larasati Lumban Gaol, S.Ked
SMF ILMU KESEHATAN ANAK
RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang
Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana Kupang
dr. Regina M. Manubulu, Sp.A,M.Kes ; dr. Woro Indri Padmosiwi, Sp.A

I. PENDAHULUAN

Bronkopneumonia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas

anak berusia di bawah lima tahun (balita). Diperkirakan hampir seperlima kematian

anak di seluruh dunia, lebih kurang 2 juta anak balita, meninggal setiap tahun akibat

bronkopneumonia, sebagian besar terjadi di Afrika dan Asia Tenggara.1 Insiden

penyakit ini pada negara berkembang hampir 30% pada anak-anak di bawah umur 5

tahun dengan resiko kematian yang tinggi. Insiden dan prevalensi bronkopneumonia

Indonesia tahun 2013 adalah 1,8 % dan 4,5 %, sedangkan untuk Provinsi NTT

diperkirakan terdapat 4,28% kasus.2

Bronkopneumonia adalah infeksi paru-paru yang mengenai satu atau beberapa

lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrat yang disebabkan

oleh bakteri, virus, jamur dan benda asing.1 Bronkopneumonia mengacu pada

inflamasi paru yang terfokus pada aera bronkiolus dan memicu produksi eksudat

mukopurulen yang dapat mengakibatkan obstruksi saluran respiratori berkaliber kecil

dan menyebabkan konsolidasi yang merata ke lobulus yang berdekatan.2

Bronkopneumonia merupakan salah satu bagian dari klasifikasi pneumonia dan

merupakan penyakit saluran pernafasan bagian bawah yang biasanya didahului


4

dengan infeksi saluran pernafasaan bagian atas.3 Bronkopneumonia lebih sering

menyerang bayi dan anak kecil. Tercatat bakteri sebagai penyebab tersering

bronkopneumonia pada bayi dan anak adalah Streptococcus pneumoniae dan

Haemophilus influenzae. 7
5

II. LAPORAN KASUS

Pasien masuk rumah sakit tanggal 06 Mei 2018. Diambil sebagai laporan rawat

inap pada tanggal 07 Mei 2018.

IDENTITAS

Nama : An. RL

Jenis Kelamin : Laki-laki

Tanggal lahir/Usia : 04 – 03 – 2017 / 1 tahun 2 bulan

Jumlah bersaudara : Anak tunggal

Agama : Kristen Protestan

No. MR : 49-07-62

Orang Tua

Ayah : Tn. YL

Usia : 29 tahun

Pekerjaan : Petani

Ibu : Ny. SM

Usia : 26 tahun

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Alamat : Semau
6

ANAMNESIS

(Heteroanamnesis dengan ibu dan bapak kandung pasien tanggal 07 Mei 2018)

Keluhan Utama :

Sesak napas

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien sesak napas disertai batuk lendir ± 1 minggu SMRS. Sejak ± 3 hari sebelum

sesak napas pasien mengalami demam, batuk kering disertai pilek. Demam hingga

sekarang, tidak disertai kejang, kesadaran pasien baik. Muntah (-), BAB normal ±3

kali sehari, konsistensi lunak, warna kekuningan. BAK normal ± 4 kali, warna kuning

muda.

Riwayat penyakit dahulu :

Tidak pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya. Riwayat asma (-)

Riwayat penyakit keluarga :

Tidak ada anggota keluarga yang mengeluhkan keluhan yang sama.

Riwayat pengobatan :

Pasien sudah minum obat paracetamol, demam turun lalu naik kembali. Pada hari ke

3 sesak napas, pasien sempat dibawa berobat ke dokter namun keluhan sesak dan

batuk tidak membaik. Pasien diuap dan disarankan masuk rumah sakit

Riwayat Imunisasi :

Pasien telah mendapat imunisasi Hepatitis B sebanyak 3x, BCG sebanyak 1x, Polio

sebanyak 4x, DPT sebanyak 3x, Campak sebanyak 1x.


7

Riwayat ASI :

Pasien diberikan ASI sejak lahir sampai sekarang di tambah dengan susu formula

mulai bulan ke 6.

Riwayat makanan :

Makanan bubur halus dengan sayur pada saat awal makan, daging, telur jarang.

Riwayat perkembangan :

Sesuai dengan KPSP usia 12 bulan perkembangan anak sesuai dengan tahapan

perkembangan. Mulai bisa membalik sejak -+ 3, duduk -+ 7 bulan, berbicara usia -+

9 bulan (2 kata), belajar berdiri -+ 1 tahun.

Riwayat kebiasaan pasien dan keluarga :

Riwayat kontak dengan penderita batuk lama (-)

Bapak dari pasien sering merokok dekat dengan pasien

Riwayat kehamilan :

Selama hamil ibu rutin memeriksakan kehamilan di puskesmas dan tidak pernah sakit

atau pun minum obat-obatan, hanya dapat obat penambah darah dan vitamin, nafsu

makan bagus seperti saat tidak hamil.

Riwayat persalinan :

Ibu melahirkan secara spontan di RS, bayi cukup bulan 39 minggu, lahir langsung

menangis, BBL 3000 gram, PB(-).


8

PEMERIKSAAN FISIK (07 Mei 2018)

Keadaan Umum: Tampak sakit sedang

Kesadaran: Compos mentis

Antropometri:

BB = 9 kg PB = 71 cm LK = 43cm

Status Gizi menurut Z-Score

BB/U : antara 0 dan– 2 SD : normal

PB/U : dibawah - 2 SD : pendek

BB/PB : antara 0 dan 2 SD : normal

Kesimpulan : Status gizi baik

Tanda vital :

 HR : 132 x/menit

 RR : 52x/menit

 Suhu : 38,1oC

 SpO2 : 88%

Kulit : Pucat (-), ikterik (-), sianosis(-)

Kepala : Normocephal, simetris

Rambut : Hitam, lurus, tumbuh merata tidak mudah tercabut

Wajah : Simetris, udem (-)

Mata : sekret (-/-), cekung (-/-), udem (-/-), pupil isokor, refleks cahaya

(+/+) konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

Hidung : Rhinore (-/-), deviasi septum (-), pernapasan cuping hidung (+/+)
9

Telinga : Otore (-), deformitas (-/-)

Mulut : Mukosa bibir kering, uvula di tengah, T1/T1 hiperemis (- ), faring

hiperemis (-)

Lidah : atrofi (-)

Leher : pembesaran kelenjar getah bening (-),

Thoraks : Jantung

 Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat

 Palpasi : Iktus kordis teraba di ICS 5 linea midclavicula

sinistra

 Auskultasi : S1 S2 tunggal, regular, murmur (-), gallop (-)

Paru

 Inspeksi : pengembangan simetris, retraksi subcosta (+)

 Palpasi : nyeri tekan (-), krepitasi (-), massa(-),

 Auskultasi : vesikular (-/-), Ronchi basah halus (+/+), Wheezing

(-/-)

Abdomen :

Inspeksi : Tampak datar, tanda-tanda radang (-)

Auskultasi : Bising usus (+) kesan normal

Palpasi : Distensi (-), , turgor kulit kembali cepat < 2 detik

Ekstremitas : akral hangat, deformitas (-), edema (-/-) , CRT < 3 detik

Genital : Edema (-), scrotum dan penis


10

PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Hasil Laboratorium (06-05-2018)

Nama Pemeriksaan 06/05/2018 Satuan Rujukan


Hemoglobin 11,9 g/dL 9,0-16,6
Eritrosit 3,73 10^6/uL 3,10-5,10
Hematokrit 36,9 % 30,0-54,0
MCV 76,9 fL 85,0-125,0
MCH 24,8 Pg 25,0-37,0
MCHC 32,3 g/L 26,0-34,0
Leukosit 21,03 10^3/uL 5,50-18,0
Eosinofil 0,00 10^3/uL 0,00-0,40
Basofil 0,00 10^3/uL 0,00-0,10
Trombosit 451 10^3/uL 217-497
 Hasil Foto Rontgen
11

Hasil ditemukan:
• Cor tidak membesar, bentuk normal
• Tampak infiltrat di kedua lapangan paru.
• Sinus costophrenic dan diafragma normal
• Tulang-tulang intak
Kesan :
Bronkopneumonia

RESUME
Pasien sesak napas disertai batuk lendir ± 1 minggu SMRS. Sejak ± 3 hari sebelum

sesak napas pasien mengalami demam, batuk kering disertai pilek. Demam hingga

sekarang, tidak disertai kejang, kesadaran pasien baik. Muntah (-), BAB normal ±3

kali sehari, konsistensi lunak, warna kekuningan. BAK normal ± 4 kali, warna kuning

muda.

Keadaan Umum: Tampak sakit sedang

Kesadaran: Compos mentis

Antropometri:

BB = 9 kg PB = 71 cm LK = 43cm

Status Gizi menurut Z-Score

BB/U : antara 0 dan– 2 SD : normal

PB/U : dibawah - 2 SD : pendek

BB/PB : antara 0 dan 2 SD : normal Kesimpulan : Status gizi baik


12

Tanda vital :

 HR : 132 x/menit

 RR : 52x/menit

 Suhu : 38,1oC

 SpO2 : 88%

Pemeriksaan fisik :Pernafasan Cuping Hidung (+/+), Retraksi Subcostal(+) dan


Ronchi basah halus (+/+) pada lapangan paru
Pemeriksaan penunjang :
Hasil laboratorium

Nama Pemeriksaan 06/05/2018 Satuan Rujukan


Hemoglobin 11,9 g/dL 9,0-16,6
Eritrosit 3,73 10^6/uL 3,10-5,10
Hematokrit 36,9 % 30,0-54,0
MCV 76,9 fL 85,0-125,0
MCH 24,8 Pg 25,0-37,0
MCHC 32,3 g/L 26,0-34,0
Leukosit 21,03 10^3/uL 5,50-18,0
Eosinofil 0,0 10^3/uL 0,00-0,40
Basofil 0,0 10^3/uL 0,00-0,10
Trombosit 451 10^3/uL 217-497

Hasil foto rontgen : Tampak infiltrat di kedua lapangan paru


: Kesan: Bronchopneumonia

DIAGNOSIS KERJA
Bronkopneumonia
13

TERAPI
02 masker 6 Lpm
IVFD D5 1/4 900 cc/ 24 jam

Inj Cefotaxim 3x 300 mg IV

Inj Gentamicin 1x 45 mg IV

Inj. Dexametason 2x 4,5 mg IV

Inj Metamizole 3x 100mg IV

Paracetamol Syrp 3x 1 cth

Nebu Ventolin 1/3 respules + NaCl 0,9% 2cc/ 4 jam

PROGNOSIS

Ad vitam : Bonam

Ad funtctionam : Bonam

Ad sanationam : Bonam

III. DISKUSI

Berdasarkan anamnesis dari ibu kandung pasien, diketahui bahwa anak sesak

napas disertai batuk lendir ± 1 minggu SMRS. Sejak ± 3 hari sebelum sesak napas

pasien mengalami demam, batuk kering disertai pilek. Demam hingga sekarang,

tidak disertai kejang, kesadaran pasien baik. Muntah (-), BAB normal ±3 kali sehari,

konsistensi lunak, warna kekuningan. BAK normal ± 4 kali, warna kuning muda.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan, takipneu, pernapasan cuping hidung, retraksi

subcosta dan ronchi basah halus.


14

Pneumonia masih merupakan penyebab kesakitan dan kematian yang tinggi pada

anak di bawah usia 5 tahun di Negara-negara berkembang. Usia rata-rata kasus

pneumonia yang didapatkan adalah 15 bulan, sedangkan presentase pneumonia pada

anak laki-laki lebih besar dibandingkan perempuan. Laporan penelitian yang

dilakukan di beberapa Negara seperti Amerika dan Thailand melaporkan hal yang

sama. Manifestasi klinis pneumonia sesuai dengan kriteria WHO adalah batuk,

demam, takipnea, peningkatan usaha nafas, nafas cuping hidung dan hipoksia

didukung dengan peeriksaan penunjang. Batuk yang awalnya kering kemudian

menjadi produktif dengan dahak purulen.9,10

Pemeriksaan penunjang pada pasien ini adalah pemeriksaan laboratorium darah

lengkap dan foto toraks. Pemeriksaan laboratorium dilakukan pada 06 Mei 2018.

Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan peningkatan leukosit 23,08x103/uL.

Pada pasien bronkopneumonia biasanya didapatkan peningkatan leukosit dengan

limfosit dominan sebagai penanda adanya infeksi virus. Peningkatan leukosit dengan

neutrofil dominan sebagai penanda adanya infeksi bakteri.

Pemeriksaan foto toraks dilakukan pada 06 mei 2018. Pada gambaran foto toraks

didapatkan tampak infiltrat di kedua lapangan paru. Gambaran foto toraks pada

bronkopneumonia dapat dijumpai gambaran difus merata pada kedua paru, berupa

bercak-bercak infiltrat yang dapat meluas hingga daerah perifer paru, disertai dengan

peningkatan corakan peribronkial.


15

Pada kasus ini juga dilakukan pemeriksaan pulse oxymetry dan didaptkan kadar

SpO2 88%. Setiap anak yang dirawat inap karena bronkopneumonia harus dilakukan

pemeriksan pulse oxymetry. Kadar SpO2 ≤ 92% merupakan salah satu kriteria rawat

inap.

Pada kasus ini pasien termasuk dalam bronkopneumonia berat karena ditemukan

napas cepat, retraksi dan saturasi oksigen 88%.

Klasifikasi

1. Menurut WHO1

a. Batuk bukan pneumonia.

Hanya batuk saja, tanpa ada tanda pneumonia

b. Pneumonia

Diagnosis pneumonia jika didapatkan batuk atau kesulitan bernapas

dan diikuti dengan:

 Napas cepat

 Tarikan dinding dada ke dalam

 Bisa juga di dapatkan crackle (ronki) atau pleural rub.

c. Pneumonia Berat atau Penyakit Sangat Berat

Diagnosis jika didapatkan batuk atau kesulitan bernapas ditambah

dengan:

 Sianosis sentral atau saturasi oksigen < 90%


16

 Respiratory distress berat (ada gejala grunting dan retraksi

tarik dinding dada ke dalam yang berat)

 Ada tanda bahaya pada anak berupa tidak bisa atau tidak mau

minum, muntah yang persisten, letargis atau penurunan

kesadaran, kejang, stridor pada saat anak tenang atau malnutrisi

berat.

 Adanya tanda pneumonia dan perubahan bunyi napas

(penurunan bunyi napas, bunyi napas bronkial, crackles,

resonansi vokal menurun karena ada efusi pleura/empiema atau

meningkat karena ada konsolidasi lobaris serta pleural rub.

2. Berdasarkan Modul Tatalaksana Standar Pneumonia3

a. Bayi kurang dari 2 bulan

 Pneumonia berat: tarikan dinding dada bagian bawah ke

dalam yang kuat atau adanya napas cepat.

 Batuk bukan pneumonia: hanya batuk, tidak ada tarikan

dinding dada bagian bawah ke dalam yang kuat dan tidak

ada napas cepat.

b. Anak 2 bulan – 5 tahun

 Penyakit sangat berat jika ditemukan adanya tanda bahaya

yaitu kurang bisa minum, kejang, kesadaran menurun,

stridor, dan gizi buruk.


17

 Pneumonia berat: tarikan dinding dada bagian bawah ke

dalam.

3. Berdasarkan Kuala Lumpur Clinical Practice Guidelines Committee

a. Derajat Pneumonia pada bayi dibawah 2 bulan

 Pneumonia berat : retraksi dada atau bernapas cepat

 Pneumonia sangat berat : Gangguan makan, kejang,

somnolen, demam atau hipotermi, hipopnue dengan napas

ireguler

b. Derajat pneumonia kelompok umur 2 bulan sampai 5 tahun

 Pneumonia ringan : bernapas cepat

 Pneumonia berat : retraksi dinding dada

 Pneumonia sangat berat : Tak bisa minum, kejang,

malnutrisi

4. Berdasarkan PPM.9

Dibagi menjadi bayi kurang dari 2 bulan dan anak 2 bulan – 5 tahun.

a. Bayi kurang dari 2 bulan

 Pneumonia berat: napas cepat atau retraksi yang berat

 Pneumonia sangat berat: tidak mau menetek/minum,

kejang, letargis, demam atau hipotermia, bradipneu atau

pernapasan ireguler.

b. Anak umur 2 bulan – 5 tahun


18

 Pneumonia ringan: napas cepat

 Pneumonia berat: retraksi

 Pneumonia sangat berat: tidak dapat makan/minum,

kejang, letargis dan malnutrisi.

5. Berdasarkan MTBS10

Pasien yang datang dengan batuk dan kesukaran bernapas harus dicurigai

sebagai pneumonia. Klasifikasi pasien datang dengan batuk dan

kesukaran bernapas sebagai berikut:

a. Pneumonia berat berupa tarikan dinding dada ke dalam atau

saturasi oksigen <90% serta ada tanda bahaya pada anak.

b. Pneumonia terdapat pernapasan cepat

c. Batuk bukan pneumonia tandanya yakni tidak terdapat tarikan

dinding ataupun saturasi oksigen >90% serta pernapasan cepat.

6. Kriteria rawat inap7,8

 Anak < 3 bulan tanpa memandang derajat pneumonia

 Demam (>38,5 C), gangguan makan atau muntah

 Takipnue dengan atau tanpa sianosis

 Manifestasi sistemik

 Gagal dengan terapi antibiotik sebelumnya

 Pneumonia berulang
19

 Adanya penyakit mendasari yang berat (imunodefisiensi, penyakit

paru kronik)

Tatalaksan awal pada kasus ini diberikan

02 masker 6 Lpm

IVFD D5 1/4 900 cc/ 24 jam

Inj Cefotaxim 3x 300 mg IV

Inj Gentamicin 1x 45 mg IV

Inj. Dexametason 2x 4,5 mg IV

Inj Metamizole 3x 100mg IV

Paracetamol Syrp 3x 1 cth

Nebu Ventolin 1/3 respules + NaCl 0,9% 2cc/ 4 jam

Pasien dengan saturasi oksigen ≤92% dan kesulitan bernapas harus diberikan

terapi oksigen dengan nasal kanul untuk mempertahankan saturasi oksigen >92 %.

Pada pneumonia berat atau asupan peroral kurang diberikan cairan intravena dan

balans cairan ketat. Nebulisasi dengan β2 agonis atau Nacl dapat diberikan untuk

memperbaiki mucocilliary clearance. Pilihan antibiotik pada usia <2bulan dapat

diberikan ampisilin + gentamisin. Pada usia >2 bulan dapat diberikan ampisilin

sebagai lini pertama, bila dalam 3 hari tidak ada perbaikan dapat ditambahkan

kloramfenikol dan lini kedua seftriakson.

Status gizi pasien ini adalah baik. Menurut teori yang ada, status gizi pada saat
20

seseorang terkena bronkopneumonia memberikan pengaruh pada prognosis dari

pasien itu sendiri. Status gizi dan keadaan pasien yang terinfeksi memberikan

interaksi sinergis. Infeksi berat dapat memperjelek keadaan pasien melalui asupan

makanan dan peningkatan hilangnya zat-zat gizi esensial tubuh. Pasien tidak

mengalami penurunan nafsu makan, status gizi baik, fungsi dari pada organ lainnya

juga baik. Oleh karena itu untuk prognosis pada pasien ini adalah dubia ad bonam

untuk vitam, functionam dan sanationam. 11


21

Tabel 1.1 Pilihan antibiotik intravena untuk bronkopneumonia

Antibiotik Dosis Frekuensi Relative Cost Keterangan


Penisilin G 50.000 Tiap 4 jam rendah S.pneumonia
unit/kg/kali.
Dosis tunggal
maks.4.000.000
unit
Ampisilin 100 mg/kg/hari Tiap 6 jam Rendah
Kloramfenikol 100 mg/kg/hari Tiap 6 jam Rendah
Ceftriaxone 50 mg/kg/kali 1x/hari Tinggi S.pneumonia,
dosis tunggal H. Influenza
maks 2 gram
Cefuroxime 50 mg/kg/kali Tiap 8 jam Tinggi S.pneumonia,
H. Influenza
Dosis tunggal
maks 2 gram
Clindamycin 10 mg/kg/kali Tiap 6 jam Rendah Grup A.
Streptococcus,
Dosis tunggal S. Aureus, S.
maks 1,2 gram Pneumonia
(alternatif
untuk anak
alergi beta
lactam, lebih
jarang
menimbulkan
flebitis pada
pemberian IV
daripada
eritromisin)
Eritromisin 10 mg/kg/kali. Tiap 6 jam Rendah S.Pneumonia,
Dosis tunggal Chlamidya
maks 1 gram pneumonia,
Mycoplasma
pneumonia
22

FOLLOW UP PASIEN

c 07/05/2018 08/05/2018 09/05/2018 10/05/2018 11/05/18


S Batuk, pilek (+) , Batuk, pilek Batuk berkurang , Batuk berkurang , Batuk berkurang,
sesak (+). berkurang, sesak(-). sesak (-) sesak (-) sesak (-)
O KU: Tampak sakit KU: Tampak sakit KU: Tampak sakit KU: Tampak sakit KU: Baik
sedang sedang sedang sedang HR: 118x/menit
HR:128x/menit HR: 118x/ menit HR: 109x/menit HR: 118x/menit RR: 28x/menit
RR: 49x/menit RR: 36x/ menit RR: 26x/menit RR: 28x/menit Suhu: 36,50C
S:37,50C S: 36,70C Suhu: 36,50C Suhu: 36,50C Sp02:98%
SpO2: 94% SpO2: 96% SpO2:98% Sp02:98%
Thorax: retraksi Pulmo: ronkhi Pulmo: ronkhi Pulmo: ronkhi
subcosta (+). basah halus (+/+) berkurang berkurang
Pulmo: ronkhi basah
halus (+/+)
Lab:
Leukosit:
17,0810^3/uL
Rontgen Thorax:
Tampak infiltrat di
kedua lapangan paru
Kesan:
Bronchopneumonie.

A Bronkopneumonia Bronkopneumonia Bronkopneumonia Bronkopneumonia Bronkopneumonia


P O2 nasal kanul 1 IVFD D5 1/4 900 IVFD D5 1/4 900 IVFD D5 1/4 900 Cefadroxil 3 cth1/2
Lpm cc/ 24 jam cc/ 24 jam cc/ 24 jam Panmol 3cth 1
IVFD D5 1/4 900 Inj Cefotaxim 3x Inj Cefotaxim 3x Inj Cefotaxim 3x Ambroksol 3x1
cc/ 24 jam 300 mg IV 300 mg IV 300 mg IV
Inj Cefotaxim 3x Inj Gentamicin 1x Inj Gentamicin 1x Inj Gentamicin 1x
300 mg IV 45 mg IV 45 mg IV 45 mg IV
Inj Gentamicin 1x Inj Dexametason 2x Inj Dexametason Inj Dexametason
45 mg IV 4,5 mg IV 1x4,5mg IV 1x4,5mg IV
Inj Dexametason 2x Inj Metamizole 3x PCT Syrp 3x 1 cth PCT Syrp 3x 1 cth
4,5mg IV 100mg IV Ambroksol 3x1 Ambroksol 3x1
Inj Metamizole 3x PCT Syrp 3x 1 cth Nebu Ventolin 1/3 Nebu Ventolin 1/3
100mg IV Ambroksol 3x1 respules + NaCl respules + NaCl
Nebu Ventolin 1/3 Nebu Ventolin 1/3 0,9% 3cc/12 jam 0,9% 3cc/12 jam
respules + NaCl respules + NaCl
0,9% 3cc/ 6 jam 0,9% 3cc/6 jam
23

Gambar 1.1. Pathway Bronkopneumonia7


24

IV Kesimpulan
Telah dilaporkan satu kasus bronkopneumonia pada anak laki-laki dengan usia 1
tahun 2 bulan hari. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis,
pemeriksaan penunjang. Prognosis pasien adalah bonam karena pada akhir perawatan
gejala dan tanda pneumonia menghilang dan pemberian ASI dan makanan oral
adekuat.
25

DAFTAR PUSTAKA

1. Rahajoe NN, Supriyatno B, Setyanto DB, editors. Buku ajar respirologi anak.
ed 1. Jakarta: Badan Penerbit IDAI; 2008.
2. Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W, editors. Kapita selekta
kedokteran jilid 2. Ed 3. Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 2000.
3. Pudjiadi AH, Hegar B, Handryastuti S, Idris NS, Gandaputra EP, Harmoniati
ED. Pedoman pelayanan medis jilid 1. Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2010.
4. Symptoms of bronchial pneumonia. Diakses dari:
http://www.ehow.com/about_5079434_symptoms-bronchial-pneumonia.html
5. Symptoms of bronchial pneumonia. Diakses dari:
http://www.livestrong.com/article/16061-symptoms-bronchial-pneumonia/
6. Kartasasmita CB, Duddy HM, Sudigdo S, Agustian D, Setiowati I, Ahmad
TH, et al. Nasopharyngeal bacterial carriage and antimicrobial resistance in
under five children with community acquired pneumonia. Paediatr Indones
2001; 41:292-5.
7. Bronchial pneumonia. Diakses dari:
http://www.pneumoniasymptoms.org/bronchial-pneumonia/bronchial-
pneumonia.html
8. Bronchopneumonia. Diakses dari:
http://en.wikipedia.org/wiki/Bronchopneumonia
9. Bronchopneumonia. Diakses dari: www.bronchopneumonia.org
10. Abdoerachman MH. Open Comparison Study between Augmentin and
Ampicillin – Chloramphenicol in the Treatment of Bronchopneumonia in
Children. Paediatr Indones 2001; 35: 222 – 226.
11. Diagnosis dan tatalaksana Bronkopneumonia. Diakses dari:
juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/agro/article/download/1214/pdf
26