You are on page 1of 172

Resusitasi Neonatus

Penyunting:
Rinawati Rohsiswatmo
Lily Rundjan

UKK Neonatologi
Ikatan Dokter Anak Indonesia
2014

Hak Cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini, dalam bentuk
apapun dan dengan cara apapun, tanpa izin tertulis dari Penerbit

Diterbitkan oleh:
Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia
Tahun 2014

Kata Pengantar
Ketua Ukk Neonatologi Idai

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Segala puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan
Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya,
sehingga pada saat KONIKA XVI di Palembang, Buku Panduan
Resusitasi Neonatus yang disusun oleh UKK Neonatologi terwujud.

Banyak buku panduan resusitasi yang saat ini beredar dan
digunakan untuk panduan pelatihan resusitasi neonatus masih
menggunakan teori lama yang mengutamakan pemberian Ventilasi
Tekanan Positif (VTP). Panduan resusitasi neonatus dengan konsep
pemberian VTP umumnya digunakan pada bayi yang mengalami
apnea atau megap-megap Untuk bayi baru lahir dengan tonus
otot baik, dapat bernapas spontan tetapi mengalami sesak napas
(merintih, retraksi, dan atau napas cuping hidung) seyogyanya
diberikan bantuan napas berupa CPAP (Continous Positive Airway
Pressure). Pemberian VTP dengan menggunakan balon resusitasi
yang mengembang sendiri ternyata tidak dapat menghasilkan CPAP,
sedangkan T-Piece resuscitator dapat menghasilkan CPAP maupun
pemberian VTP dengan tekanan yang terukur. Memang ada beberapa
kekurangan dalam penggunaan alat ini yaitu harganya relaitf
mahal, disamping diperlukan pemberian gas campuran (oksigen
dan medical air) untuk menghasilkan tekanan. Dengan bantuan
berbagai pihak, kedua kendala ini dapat diatasi dengan dibuatnya
alat T-piece resuscitator di dalam negeri sehingga harganya menjadi
murah dan penggunaannya menjadi lebih mudah. Buku panduan ini
juga membahas peran penting tindakan stabilisasi pasca resusitasi.
Tujuannya agar bayi yang lahir atau dirujuk dapat sampai di ruang

iii

Akhirnya seperti kata pepatah. perawatan atau rumah sakit rujukan dalam keadaan baik sehingga prognosis bayi tersebut menjadi baik juga. tenaga dan pikiran untuk membantu terbitnya buku panduan ini. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan dari semua pihak demi kesempurnaan isi buku ini di masa mendatang. Rinawati Rohsiswatmo. Dr. Ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya saya ucapkan kepada seluruh pihak yang telah meluangkan waktu. Sp. tak ada gading yang tak retak. Kami menyadari masih banyak kekurangan dari buku ini. Semoga buku ini bermanfaat sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap penurunan angka asfiksia neonatorum di Indonesia.A(K) Ketua UKK Neonatologi IDAI iv . dr.

Buku ini kami dedikasikan untuk segenap anggota IDAI dan tenaga kesehatan Indonesia untuk menjadi panduan dalam menangani bayi asfiksia yang membutuhkan tindakan resusitasi. Terima kasih dan penghargaan juga kami sampaikan kepada seluruh kontributor dan tim editor yang telah meluangkan segenap waktu. Pemerintah bersama IDAI berusaha menurunkan angka kematian neonatus di Indonesia yang masih tinggi. Tidak v . Sebuah prestasi yang patut disyukuri dan dibanggakan. Buku ini berisi panduan praktis resusitasi neonatus secara detail mulai dari ikhtisar fisiologi adaptasi neonatus sampai transport resusitasi neonatus.Kata Pengantar Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia Ucapan selamat kami sampaikan kepada Unit Kerja Koordinasi (UKK) Neonatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang telah menerbitkan Buku Resusitasi Neonatus. sehingga diharapkan para pembaca bukan hanya mampu melakukan tindakan resusitasi namun mampu juga memastikan bayi tiba di pelayanan rujukan neonatus dengan selamat. tenaga dan pikiran utnuk menyiapkan buku ini. Dalam buku ini juga dibahas bagaimana melakukan resusitasi neonatus yang optimal baik di fasilitas kesehatan primer/ terbatas maupun di fasilitas kesehatan tersier/lengkap. Salah satu titik berat usaha tersebut adalah dengan memerbaiki kualitas penangaan asfiksia neonatus yang merupakan penyumbang terbesar kematian bayi di Indonesia.

Badriul Hegar. lupa pada buku ini juga dibahas mengenai etika dalam resusitasi sehingga dapat menjawab keraguan terkait masalah etika resusitasi neonatus.A(K) Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia vi . Sp.D. Kami berharap buku panduan resusitasi IDAI ini dapat melengkapi berbagai buku panduan resusitasi lain yang telah terbit sebelumnya sehingga dapat memerkaya wawasan tenaga kesehatan Indonesia khususnya dokter spesialis anak dalam melakukan resusitasi neonatus. Dr. Ph.

Daftar Kontributor • Adhi Teguh Perma Iskandar • Ari Yunanto • Aris Primadi • Chrissela Anindita Oeswadi • Era Nurissama • Eriyati Indrasanto • Gatot Irawan Sarosa • Indra Sugiarno • Ismail Sangadji • Kartika Darma Handayani • Naomi Esthernita • Nani Dharmasetiawani • Pustika Efar • Risa Etika • Rizalya Dewi • Setya Wandita • TB. Firmansyah B. Rifai • Tiara Nien Paramita • Yanti Susianti vii .

viii .

.................................................................... 9 Penilaian dan Langkah Awal................... 61 Stabilisasi dan Transportasi Pasca Resusitasi..................................... iii Kata Pengantar Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI.......... 155 Megacode....v Daftar Kontributor ................................................. 159 ix ...vi Periode Transisi dan Alur Resusitasi........... 129 Aspek Etika dalam Resusitasi.................Daftar Isi Kata Pengantar Ketua UKK Neonatologi IDAI.................................... 1 Persiapan Resusitasi .................................. ............................................................................................................................................................ 45 Resusitasi Terintegrasi................................................................................................

.

1 Periode Transisi dan Alur Resusitasi Tujuan Pembelajaran 1. Selama kehidupan janin. Memahami perubahan fisiologi sistem pernapasan dan sirkulasi selama periode transisi pada bayi baru lahir. Transisi Sistem Pernapasan dan Sirkulasi pada Bayi Baru Lahir Setiap bayi baru lahir senantiasa mengalami proses transisi dari kehidupan intrauterin menuju ekstrauterin yang melibatkan hampir semua sistem organ tubuh. perubahan sistem pernapasan dan sirkulasi segera setelah lahir memainkan peranan penting agar bayi dapat beradaptasi pada lingkungan ekstrauterin. Di antara berbagai sistem organ tersebut. Cairan tersebut diperlukan untuk memertahankan volume 1 . plasenta memegang peranan penting dalam pertukaran gas dan sisa metabolisme. 2. Alveolus paru janin belum berfungsi dan masih terisi cairan yang disekresi oleh sel epitel paru. Mengenal berbagai hambatan proses transisi sistem pernapasan dan sirkulasi pada bayi baru lahir.1 Perubahan fisiologis tersebut penting untuk dipahami oleh setiap penolong resusitasi bayi baru lahir agar dapat menentukan tindakan yang tepat apabila terjadi gangguan selama masa transisi.

dan bagian atas tubuh. lalu dipompa menuju otak. Pada awal persalinan kala 1 sekresi cairan paru akan berhenti karena stimulasi katekolamin yang beredar dalam sirkulasi janin sedangkan kontraksi uterus akan meningkatkan tekanan rongga dada janin dan mendorong cairan paru keluar sehingga membantu pengosongan cairan paru.3-6 MUTIARA BERNAS Segera setelah lahir. Darah dari ventrikel kanan juga memasuki sirkulasi paru namun hanya dalam jumlah kecil (± 12%) akibat tahanan pembuluh darah paru yang tinggi. adanya duktus arteriosus. dan proprioseptif) akan merangsang bayi melakukan 2 . Pirau terjadi di intrakardiak (foramen ovale) maupun ekstrakardiak (duktus venosus dan duktus arteriosus).Resusitasi Neonatus paru mendekati kapasitas residu fungsional (KRF) yaitu sekitar 30 mL/kgBB guna mencapai pertumbuhan paru yang normal pada saat bayi dilahirkan. atrium kanan. Sirkulasi ini memungkinkan sebagian darah kaya oksigen dari vena umbilikalis melewati hati masuk ke vena kava inferior (melalui duktus venosus).1). segera digantikan oleh Cairan dalam alveolus paru akan segera digantikan oleh udara udara. miokardium. cairan Setelah lahir terjadi serangkaian peristiwa fisiologis yang unik dalam paru bayi harus sehingga bayi dapat beradaptasi dengan lingkungan ekstrauterin.1. ventrikel kiri. Sirkulasi janin bersifat paralel dan shunt- dependent yaitu terdapat kombinasi kerja kedua ventrikel jantung untuk memompa darah ke dalam sirkulasi sistemik. atrium kiri (melalui foramen ovale). Sisa darah kaya oksigen dari vena umbilikalis memasuki sirkulasi hati dan bercampur dengan darah yang memiliki tekanan oksigen lebih rendah pada vena kava inferior lalu bercampur dengan darah dari vena kava superior dan sinus koronarius masuk ke atrium kanan. dan tahanan pembuluh darah sistemik yang rendah. perubahan suhu. sehingga paru bayi dapat berfungsi dengan optimal (gambar 1. pH. Sebelum memasuki persalinan kala 2 sebagian besar cairan paru sudah diabsorpsi. audiovisual. serta adanya rangsang taktil.2 Perbedaan fisiologis juga terlihat pada sistem kardiovaskular janin. Berbagai faktor (penurunan pO2. ventrikel kanan dan dipompa menuju bagian bawah tubuh serta arteri umbilikalis untuk mengalami reoksigenasi di plasenta. dan peningkatan pCO2 akibat pemutusan hubungan dengan sirkulasi umbilikal.

Pada bayi cukup bulan dan bugar proses penyerapan berlangsung sampai kurang lebih 2 jam.8 menit) dan bayi cukup bulan sekitar 4. Transisi sistem pernapasan : cairan dalam alveolus digantikan oleh udara11 lahir meliputi perubahan tekanan darah sistemik maupun paru serta tarikan napas pertama. terutama natrium. Bayi prematur umumnya membutuhkan waktu sekitar 6. Tarikan napas tersebut menghasilkan penutupan duktus yang tekanan negatif inspiratori yang tinggi.10 3 .1.7 menit (antara 3.3 hingga 6.9 Di dalam kandungan janin hidup dengan saturasi oksigen kurang lebih 60%. dan setelah lahir bayi bugar memerlukan waktu transisi untuk mencapai tingkat saturasi oksigen 90%. dan gradien osmotik antara cairan paru dan cairan interstitial.5 menit (antara 4.4 menit) untuk mencapai saturasi oksigen di atas 90%. diperlukan selama masa janin untuk mengembangkan paru serta mendorong sebagian besar cairan paru ke dalam ruang perivaskular. mencapai 70-110 cmH2O. Penyerapan cairan paru dipengaruhi oleh sistem transport aktif.1.9 hingga 9. Penyerapan cairan paru juga berlangsung melalui sistem limfatik paru bayi. Periode Transisi dan Alur Resusitasi 1 MUTIARA BERNAS Transisi sirkulasi bayi baru Gambar 1.2.3 Pengembangan paru dan peningkatan kadar oksigen dalam alveoli akan mengurangi tahanan pembuluh darah paru diikuti peningkatan aliran darah paru dan penyerapan cairan paru ke dalam sirkulasi.

Penutupan fungsional organ tubuh mendapat duktus arteriosus terjadi dalam 60 jam pada 93% bayi cukup bulan sirkulasi adekuat sedangkan penutupan secara permanen menjadi ligamentum 4 .2. Duktus venosus akan menutup secara pasif dalam waktu 3-7 hari diikuti penurunan aliran darah ke vena kava inferior.4.Resusitasi Neonatus Gambar 1. Hal ini mengakibatkan peningkatan tahanan pembuluh darah sistemik bayi serta penurunan aliran darah yang melewati duktus venosus. Peningkatan pO2 dalam darah disertai laju denyut jantung penurunan kadar prostaglandin yang beredar segera setelah lahir meningkat. dan semua menyebabkan konstriksi duktus arteriosus. tarikan napas pertama.7 Peningkatan tahanan pembuluh darah sistemik bersamaan dengan penurunan resistensi pembuluh darah paru akan meningkatkan tekanan pada atrium kiri serta menurunkan MUTIARA BERNAS tekanan pada atrium kanan. Perubahan tekanan pada kedua atrium Semua langkah resusitasi tersebut akan diikuti dengan perubahan arah pirau dari kiri ke kanan bertujuan membantu bayi melewati periode transisi dan penutupan foramen ovale secara fungsional dalam beberapa yaitu memulai pernapasan. Perbedaan sirkulasi sebelum lahir (a) dan setelah lahir (b)3 Penjepitan tali pusat setelah bayi lahir akan memutuskan hubungan sirkulasi bayi dari sirkulasi plasenta yang memiliki tahanan rendah.

 dan atau  LDJ < 100x/ menit    Distres napas Sianosis sentral persisten    30 detik  (Takipnu. laju denyut jantung (LDJ). Bayi tetap dapat    distimulasi walaupun dibungkus  Tidak bernapas/ megap‐ Bernapas spontan plastik    megap. laju  denyut  30 detik  Langkah awal:(nyalakan pencatat waktu)  jantung. dan tonus  • Pastikan bayi tetap hangat    • Atur posisi dan bersihkan jalan napas  Keterangan:  • Keringkan        dan stimulasi    Pada bayi dengan berat ≤  • Posisikan kembali  1500 gram. kemudian  dipasang topi. dan tonus otot kecuali wajahnya. bayi langsung    dibungkus plastik bening tanpa  dikeringkan terlebih dahulu    Observasi usaha napas. Periode Transisi dan Alur Resusitasi 1 Ya Perawatan rutin:  Bernapas atau menangis?  Tonus baik?  • Pastikan bayi tetap hangat  • Keringkan bayi  Tidak  • Lanjutkan observasi  PADA SETIAP LANGKAH TANYAKAN: APAKAH ANDA MEMBUTUHKAN BANTUAN?   pernapasan. retraksi. usaha napas dan tonus    Dengan distres napas  Lanjutkan ke perawatan observasi   Pertimbangkan intubasi  • Dengan alat bantu napas Æ  Pengembangan dada adekuat?    Lanjutkan ke perawatan pasca‐ resusitasi  Ya  Tidak   Dada mengembang  Bila dada tidak    Waktu dari  Target SpO2  adekuat namun   mengembang adekuat  LDJ < 60x / menit  Evaluasi:  Lahir  Preduktal      • Posisi kepala bayi  1 menit  60‐70%  VTP (O2 100%) +  • Obstruksi jalan   kompresi dada  2 menit  65‐85%  napas  (3 kompresi tiap 1  • Kebocoran sungkup 3 menit  70‐90%  napas)    • Tekanan puncak  4 menit  75‐90%    inspirasi cukup atau    Pertimbangkan Intubasi  tidak  5 menit  80‐90%    10 menit  85‐90%  Observasi LDJ dan usaha    napas tiap 60 detik      Keterangan: Intubasi endotrakea dapat    LDJ < 60/ menit?  dipertimbangkan pada langkah ini  apabila VTP tidak efektif atau telah    dilakukan selama 2 menit  Pertimbangkan pemberian obat dan cairan intravena 5 . atau  Tanpa distres napas    merintih)    Ventilasi tekanan  positif (VTP)  Pertimbangkan      Continuous positive  suplementasi oksigen  Pemantauan SpO 2  airway pressure (CPAP)      PEEP 5-8 cmH22OO  PEEP 5‐8 cmH Pemantauan SpO2  Pemantauan SpO2      Keterangan: Bila LDJ tetap   Gagal CPAP Apabila LDJ > 100 kali per menit dan   < 100 kali/ menit  30 detik  PEEP 8 cmH22OO  PEEP 8 cmH target saturasi oksigen tercapai:  FiO2> 40%  • Tanpa alat bantu napasÆ  Setiap 60 detik sekali nilai laju denyut jantung.

9. • Hambatan proses transisi pada bayi baru lahir meliputi gangguan penyerapan cairan paru.3-8. kompresi dada (sambil melanjutkan ventilasi).11 • Kelahiran tanpa melalui proses persalinan aktif (contoh : operasi sesar elektif) dan pernapasan yang tidak adekuat pada bayi (contoh: bayi prematur atau bayi berat lahir rendah) mengakibatkan proses penyerapan cairan paru terhambat. Setiap langkah harus senantiasa dievaluasi dan dilakukan tindakan sesuai dengan hasil evaluasi tersebut. bantuan ventilasi.HAL PENTING • Perubahan sistem pernapasan dan sirkulasi berperan penting dalam transisi kehidupan intrauterin ke ekstrauterin pada bayi baru lahir. arteriosum umumnya terjadi dalam 4-6 minggu setelah lahir.8 Sistem kardiovaskular bayi selanjutnya menjadi suatu rangkaian.Resusitasi Neonatus HAL . serta kegagalan dilatasi arteriol paru. 6 . ventrikel kiri memompa darah ke seluruh sirkulasi sistemik dan ventrikel kanan memompa darah ke sirkulasi paru (gambar 1.12 Hambatan Proses Transisi pada Bayi Baru Lahir Tidak semua bayi baru lahir dapat melewati periode transisi dengan sempurna. Beberapa penyulit yang dapat menghambat proses transisi pada bayi baru lahir antara lain :1. dan pemberian obat (sambil melanjutkan ventilasi dan kompresi dada).2). • Langkah-langkah resusitasi meliputi langkah awal. terutama bayi prematur atau bayi dengan kelainan kongenital berat. kegagalan peningkatan tekanan darah sistemik.

Keadaan ini akan berakibat pada kegagalan penutupan duktus arteriosus dan foramen ovale serta hipertensi pulmonal persisten. Periode Transisi dan Alur Resusitasi 1 Cairan yang tersisa dalam alveoli akan menghambat aliran oksigen ke dalam sirkulasi darah. Dengan memahami perubahan fisiologis yang terjadi selama periode transisi serta hambatannya diharapkan penolong resusitasi dapat menilai dan memberi bantuan resusitasi secara optimal dan berkesinambungan guna menurunkan morbiditas dan mortalitas pada bayi baru lahir. penyunting. Masing-masing langkah dilakukan selama 30 detik dan harus senantiasa dinilai serta dilakukan tindakan sesuai hasil penilaian tersebut. Daftar pustaka 1. Fetal and 7 . Proses transisi pada saat lahir merupakan fase yang cukup kompleks. kontraktilitas jantung yang buruk serta bradikardia akibat hipoksia dapat menyebabkan kegagalan peningkatan tekanan darah sistemik sehingga bayi mengalami hipotensi sistemik. Carlton DP. Dalam: Polin RA. • Kehilangan darah dalam jumlah besar. Langkah-langkah untuk melakukan resusitasi pada bayi baru lahir dapat dilihat pada bagan Resusitasi. Alur resusitasi Sebagian bayi baru lahir (10%) memerlukan bantuan untuk memulai pernapasan sedangkan hanya 1% bayi yang memerlukan resusitasi lebih lanjut. Perpindahan langkah baru dapat dilakukan apabila langkah sebelumnya telah dilakukan dengan efektif. Fox WW. Regulation of Liquid Secretion and Absorption by the Fetal and Neonatal Lung. • Hipoksia intra uterin yang tidak teratasi mengakibatkan kadar oksigen tetap rendah sehingga arteriol paru gagal berdilatasi (tetap mengalami konstriksi) dan penghantaran oksigen ke seluruh tubuh terhambat.

3. h. Embryology and development of the cardiovascular system. 12: 85-90. 12. Wu TJ. Norwalk: Appleton & Lange. Friedman AH. 2001. Morley CJ. American Academy of Pediatrics and the American College of Obstetricians and Gynecologists. Edisi ke-4. Milner AD. 2005. 1991. Allison BJ. 10. O’Donnell CPF. Philadelphia: Elsevier Saunders. Adaptation for life: a review of neonatal physiology. MacFarlane PM. J Pediatr. Polglase GR. 2005. 9. AnaesthIntensive Care Med. Edisi ke-19. Sharma A. 106-21. 8. 2009. penyunting. CarloWA. 8 . 5: 107-12. 2007. Greenough A.Resusitasi Neonatus Neonatal Physiology. Dynamic changes in the direction of blood flow through the ductusarteriosus at birth. Ballard RA. Fahey JT. Fetal circulation and cardiovascular adjustments after birth. Hoffman JIE. 2010. The transition from fetal to neonatal circulattion: normal responses and implications for infants with heart disease. Dalam: Rudolph AM.2011. Crossley KJ. Guidelines for perinatal care. Gleason CA.790-9. Frappell PB. J Physiol.445- 50. Dalam: Rennie JM. Edisi ke-8. Morley CJ. Ford S. 2005. Murphy PJ. 2006. h.148:585-9. Respiratory Physiol Neurobiol. 2: 45-50.149:143-54. Davis PG. 5.907. 7. Kamlin CO. Hooper SB. Calvert J. Rudolph’s pediatrics. 2005. Pulmonary disease of the newborn: Physiology. 587: 4695-704. Baldwin HS. 4. penyunting. 6. Maschoff KL. Philadelphia: Elsevier Saunders. 1993: 17. Oxygen saturation in healthy infants immediately after birth. Dalam: Taeusch HW. Avery’s Disease of the Newborn. NeoRev. 2. Davis PG. h. Illinois: American Academy of Pediatrics. Semin Perinatol. penyunting. Rudolph CD. 11. Edisi ke-4. The fetal circulation. Roberton’s Textbook of Neonatology. Philadelphia: Elsevier Saunders. Development of mechanics and pulmonary reflexes. Contin Educ Anaesth Crit Care Pain. Pulmonary physiology of neonatal resuscitation.

Mengenali faktor risiko antepartum dan intrapartum yang meningkatkan kebutuhan resusitasi neonatus 2.1. dan pencegahan penularan infeksi yang mungkin timbul saat melakukan resusitasi.1. Memahami lingkungan dan peralatan yang perlu dipersiapkan untuk melakukan resusitasi neonatus pada fasilitas lengkap atau terbatas 4. Memahami pentingnya pembentukan tim resusitasi neonatus 3. persiapan lingkungan resusitasi. persiapan tim. sehingga harus cepat dikenali untuk mengantisipasi masalah yang mungkin timbul. persiapan perlengkapan alat resusitasi. Memahami upaya pengendalian infeksi saat melakukan resusitasi neonatus P ersiapan resusitasi yang baik akan memengaruhi kelancaran dan efektifitas suatu resusitasi.3 9 .2 Faktor risiko tersebut dapat dilihat pada tabel 2. Persiapan resusitasi mencakup pengenalan faktor risiko. 1. 2 Persiapan Resusitasi Tujuan Pembelajaran 1. Mutiara bernas Persiapan yang baik dan Mengenali Faktor Risiko terencana akan menentukan kelancaran dan efektivitas Berbagai keadaan ibu dan janin selama kehamilan maupun resusitasi persalinan dapat menjadi faktor risiko resusitasi saat lahir.

solusio plasenta. narkotika) • Penyakit hemolitik aloimun (misal anti-D. pengumpulan informasi tentang faktor risiko dan keadaan terakhir ibu maupun janin harus dilakukan secara seksama. magnesium. atau • Kelahiran dengan vakum • Sedasi berat proses transisi lainnya • Penerapan anestesi umum pada • Kematian janin sebelumnya • Infeksi intrauterin ibu • Tidak pernah melakukan • Hidrops fetalis • Bedah kaisar yang bersifat pemeriksaan antenatal • Presentasi bokong3 darurat3 • Distosia bahu 3 Pembentukan Tim Resusitasi Komunikasi dan Informasi Sebagai persiapan menghadapi bayi dengan risiko tinggi. plasenta previa. agar dapat mengurangi kesalahan yang mungkin akan terjadi.4 Pembagian tugas yang jelas pada tiap penolong perlu diingatkan sesaat sebelum melakukan resusitasi (jika waktu memungkinkan). 3 Sebagai contoh: bayi dengan kondisi terakhir ketuban bercampur mekoneum. PJB sianotik) • Polihidramnion dan oligohidramnion • Pemberian obat narkotika untuk • Demam • Gerakan janin berkurang sebelum mengurangi rasa nyeri pada ibu persalinan dalam 4 jam proses persalinan • Infeksi3 • Kelainan kongenital yang memengaruhi • Kelahiran dengan forseps • Korioamnionitis pernapasan. 10 . maka pemimpin menginformasikan hal tersebut sekaligus menginstruksikan untuk memeriksa kembali ketersediaan aspirator mekoneum atau suction ukuran terbesar serta memastikan alat hisap berfungsi dengan baik. terutama jika terdapat anemia/ vasa previa) hidrops fetalis) • Ketuban bercampur mekoneum3 • Penyakit kronik (anemia. fungsi kardiovaskular.1.Resusitasi Neonatus Tabel 2. triplet) 3 • Pola denyut jantung janin yang • Perdarahan pada trimester 2 dan 3 • Prematur (terutama usia gestasi < 35 meragukan pada CTG3 • Hipertensi dalam kehamilan3 minggu) • Presentasi abnormal • Hipertensi kronik • Postmatur (usia gestasi > 41 minggu) • Prolaps tali pusat3 • Penyalahgunaan obat • Besar masa kehamilan (large for • Persalinan/ kala 2 memanjang gestational age) • Persalinan yang sangat cepat • Konsumsi obat (seperti litium. penghambat • Pertumbuhan janin terhambat • Perdarahan antepartum (misal adrenergik.1. Faktor Risiko Resusitasi Saat Lahir Faktor Risiko Faktor Ibu Faktor Janin Faktor Intrapartum • Ketuban pecah dini ≥18 jam 3 • Kehamilan multipel (ganda. • Diabetes melitus anti-Kell.

Hasil pemeriksaan ultrasonografi antenatal iv.6 11 .4. Janin risiko tinggi dan kemungkinan memerlukan resusitasi iv.1 Komunikasi dan informasi tim resusitasi Informasi yang perlu diketahui oleh tim resusitasi karena dapat memengaruhi manajemen resusitasi adalah sebagai berikut:1. Informasi mengenai ibu: i. Informasi mengenai janin yang akan dilahirkan i. terutama pada persalinan risiko tinggi. sebaiknya sudah diketahui tim resusitasi Sebaiknya penolong sudah menguasai pelatihan resusitasi neonatus sebelum bayi lahir.5 namun perlu dipahami bahwa bantuan resusitasi tidak • Semua informasi dapat dilakukan seorang diri. Variasi denyut jantung janin vi. Risiko infeksi ibu (misal: Streptococcus grup B) b. Usia gestasi ii. Kelainan kongenital janin Anggota tim Mutiara bernas Resusitasi pada bayi baru lahir dapat dilakukan oleh dokter spesialis • Tugas tim harus jelas anak konsultan neonatologi/ dokter spesialis anak/ dokter spesialis dan dipahami oleh anestesi/ dokter spesialis kandungan/ dokter umum/ perawat/ masing-masing individu. Riwayat kesehatan dan medikasi ibu iii. Mekoneum pada cairan ketuban v. bidan. kembar) iii.4 a. Riwayat kehamilan (kondisi kesehatan maupun pemakaian obat-obatan) ii. Perkiraan jumlah janin (tunggal. Riwayat pemeriksaan kesehatan janin dalam kandungan v. dasar dengan anggota tim idealnya minimal 3 orang 3. Persiapan Resusitasi 2 •Pembagian  Penyampaian  tugas  tim komunikasi  Mengurangi risiko  dan informasi  •Informasi ibu kesalahan resusitasi  yang efektif •Informasi  bayi Bagan 2.

Anggota tim resusitasi • Penolong pertama = kapten/pemimpin jalannya resusitasi. dibolehkan bertukar posisi antara penolong kedua dan ketiga. • Penolong kedua = asisten sirkulasi - Posisi: sisi kiri bayi (posisi ini tidak terlalu mengikat. Panggil bantuan! Circulation Drugs and Equipment Team Leader Gambar 2.1.Resusitasi Neonatus Mutiara bernas Resusitasi tidak dapat dilakukan seorang diri. -. - Posisi: di atas kepala bayi - Memiliki pengetahuan dan kompetensi resusitasi yang paling tinggi dan lengkap serta dapat menginstruksikan tugas kepada anggota tim lainnya. dengan catatan fungsi tidak tumpang tindih) 12 . Tanggung jawab utama: ventilasi (airway dan breathing).

Posisi tim resusitasi Keterangan gambar: * = boleh bertukar posisi bila perlu 1. Asisten obat dan peralatan - Tanggung jawab: sirkulasi bayi - Meliputi: mendengarkan laju denyut jantung bayi. mengatur kebutuhan tekanan inspirasi positif (positive inspiratory pressure/PIP) dan fraksi oksigen (FiO2).2. memberikan kompresi jantung. Pemimpin 2. memasang kateter umbilikal untuk resusitasi cairan 13 . Persiapan Resusitasi 2 2 = Circulation* 3 = Drugs and Equipment* 1 = Airway- Breathing Gambar 2. Asisten sirkulasi 3.

dibolehkan bertukar posisi antara penolong kedua dan ketiga. penolong pertama merupakan dokter anak. menyiapkan peralatan suction. monitor suhu. - Namun pada pelaksanaan di lapangan. persiapan obat-obatan dan alat-alat lainnya. Apabila pada saat tindakan diperlukan pelaksana dengan kompetensi khusus dan tinggi (misal. sementara penolong kedua dan ketiga merupakan perawat dan/atau bidan. hal ini terkadang tidak terjadi. Sebagai contoh.Resusitasi Neonatus • Penolong ketiga = asisten peralatan dan obat -. tidak saling menunggu dan mengandalkan. pemasangan kateter umbilikal yang seharusnya dilakukan oleh penolong kedua/sirkulasi). memasang monitor saturasi. Posisi: sisi kanan bayi (posisi ini tidak terlalu mengikat. 7 • Persalinan risiko sangat tinggi Dihadiri oleh minimal 1 konsultan neonatologi atau dokter 14 . dengan catatan fungsi tidak tumpang tindih) - Tanggung jawab: menyalakan tombol pencatat waktu. • Urutan pertama hingga ketiga menunjukkan tingkat kompetensi anggota. Tim resusitasi Kompetensi penolong resusitasi dapat dikategorikan menurut risiko persalinan:5. dan penolong kedua merupakan anggota dengan kompetensi yang lebih baik dibandingkan dengan penolong ketiga. penolong kedua dan ketiga dapat memiliki kompetensi yang sama. Penting sekali mencapai kondisi ‘STABLE’ (lihat Bab 5: Stabilisasi dan Transportasi Pasca Resusitasi) dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Penolong pertama memiliki kompetensi tertinggi. penolong kedua dan ketiga boleh bertukar posisi dengan catatan peran setiap penolong harus tetap berjalan dengan baik.

- Bedah kaisar darurat (misalnya: gawat janin. perdarahan antepartum masif) - Persalinan lain yang dianggap sebagai persalinan risiko sangat tinggi melalui diskusi antara dokter spesialis kandungan dan dokter spesialis anak/ konsultan neonatologi. - Inkompatibilitas rhesus ringan-sedang - Pertumbuhan janin terhambat - Tersangka hipoksia intrapartum - Persalinan sungsang Mutiara bernas - Distosia bahu Tim resusitasi sebaiknya - Cairan ketuban bercampur mekoneum memiliki personil yang tetap dan siap kapanpun ada - Bedah kaisar darurat (keadaan yang dapat membahayakan persalinan dengan risiko janin maupun ibu) bayi lahir memerlukan resusitasi 15 . Termasuk persalinan risiko sangat tinggi. Termasuk persalinan risiko tinggi atau sedang. Persiapan Resusitasi 2 spesialis anak. penyakit jantung bawaan - Prolaps tali pusat/ tersangka hipoksia intra partum berat/ perdarahan antepartum berat. contoh hernia diafragmatika. antara lain: - Usia kehamilan < 30 minggu atau < 1500 gram - Usia ≤ 26 minggu  konsultan neonatologi diupayakan hadir - Persalinan multipel usia <32 minggu - Inkompatibilitas rhesus berat/ hidrops fetalis - Malformasi berat yang terdiagnosis antenatal. • Persalinan risiko tinggi atau sedang Dihadiri oleh minimal 1 orang dokter spesialis anak atau dokter umum. antara lain: - Usia kehamilan 30-36 minggu atau persalinan multipel ≥32 minggu.

Pada bayi yang akan mendapatkan perawatan paliatif. maka diperlukan minimal 1 orang dokter spesialis anak konsultan neonatologi atau dokter spesialis anak untuk memastikan bayi mendapatkan perawatan yang sesuai. plasenta previa derajat 3 atau 4) atau jika ada permintaan dari dokter spesialis kandungan. cukup terang untuk dapat menilai status klinis ibu-bayi. letak sungsang.Resusitasi Neonatus -. 16 .8 Hal-hal yang harus diperhatikan pada ruang resusitasi yaitu: ruangan harus cukup hangat untuk mencegah bayi baru lahir kehilangan panas tubuhnya. restriksi pertumbuhan janin. persalinan multipel. dan cukup besar untuk tim resusitasi bergerak. tersangka gangguan pada janin.8 Bila terdapat persalinan multipel maka diperlukan ruangan yang lebih besar dengan pemancar panas (infant warmer) dan set resusitasi sejumlah bayi yang akan lahir. Lingkungan Resusitasi Ruangan Ruang resusitasi harus sangat berdekatan dengan ruang bersalin/ kamar operasi agar tim resusitasi dapat segera melakukan pertolongan. anomali janin. Bila terdapat komplikasi lain pada persalinan multipel dibutuhkan 2 dokter untuk setiap bayi. • Persalinan multipel Jika persalinan ≤35 minggu dibutuhkan 1 tim untuk setiap bayi. maka persalinan ≤30 minggu dibutuhkan tambahan dokter. anestesi umum. Bedah kaisar elektif dengan faktor risiko tambahan (diabetes pada ibu dengan usia kehamilan <37 minggu.

konveksi.4 Mutiara bernas Pastikan suhu ruangan 24- Upaya pengaturan suhu antara lain:4 26⁰ C dan bayi tetap kering • Mengatur suhu ruangan yang hangat (24 . Infant warmer menghangatkan bayi pembungkus dan matras penghangat Suhu Keadaan hipotermi atau hipertermi akibat proses konduksi. Keadaan tersebut dapat dihindari dengan menjaga suhu tubuh bayi antara 36. evaporasi maupun radiasi harus dicegah karena akan memengaruhi efektivitas termoregulasi selama resusitasi.3. plastik Gambar 2. Metode menghangatkan bayi dengan topi.26oC) • Meletakkan bayi tidak di bawah pendingin ruangan • Infant warmer dihangatkan sebelum bayi lahir (untuk menghangatkan matras.5-37. dan selimut bayi) • Menggunakan kain yang hangat dan kering untuk mengeringkan bayi • Menggunakan plastik bening untuk membungkus bayi dengan berat < 1500 gram 17 . topi. kain.4.5 oC. Persiapan Resusitasi 2 Gambar 2.

5 Tahapan metode kangguru Gambar 2.Resusitasi Neonatus Gambar 2.6 Transpor dengan metode kangguru Gambar 2.7 Inkubator transpor • Memakaikan topi pada kepala bayi sesuai dengan ukurannya • Bayi di bawah 1000 gram menggunakan matras penghangat/ blanket roll • Menggunakan inkubator transpor yang sudah dihangatkan atau transportasi dengan kontak kulit dengan kulit (metode kangguru) pada fasilitas terbatas untuk memindahkan bayi ke ruang perawatan 18 .

8 Infant warmer dengan overhead Gambar 2.1.9 Suction unit heater 19 . - Handuk hangat/ pembungkus - Kantung plastik untuk neonatus < 1500 gram - Penghangat kepala (overhead heater) atau infant warmer • Pengisap / Suction - Suction dengan tekanan negatif (tidak boleh melebihi 100 mmHg) - Kateter suction - Aspirator mekoneum Gambar 2. Persiapan Resusitasi 2 Perlengkapan resusitasi Peralatan Tidak semua bayi baru lahir memerlukan tindakan resusitasi.3.4 Mutiara bernas Lakukan pengecekan • Penghangat/ Warmer alat secara berkala untuk - Kain pengering dan topi memastikan alat berfungsi dengan baik. namun peralatan yang lengkap harus tetap disiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk. Kondisi perlengkapan resusitasi harus senantiasa dicatat dan diperiksa agar dapat berfungsi dengan baik ketika diperlukan.

Resusitasi Neonatus

Gambar 2.10 Aspirator mekoneum

Katup PEEP

Gambar 2.11 Balon dan sungkup dengan katup PEEP Gambar 2.12 T-piece resuscitator

• Ventilasi

-- Balon mengembang sendiri/Self-inflating bag (contoh:
balon volume 250 ml) dan sungkup wajah berbagai ukuran
(lihat gambar 2.15), dilengkapi dengan katup tekanan positif
akhir ekspirasi/positive end-expiratory pressure (PEEP) .

-- T-piece resuscitator adalah alat yang dapat memberikan
tekanan inspirasi positif / Positive Inspiratory Pressure
(PIP) dan PEEP terukur secara konstan sehingga bayi dapat
meningkatkan volume paru dan mencapai kapasitas residu
fungsional. T-piece resuscitator dapat memberikan ventilasi
tekanan positif dan tekanan napas positif berkelanjutan/
Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) dini.

-- Balon tidak mengembang sendiri/Flow-inflating bag
(contoh: sungkup anestesi, Jackson-Rees) merupakan alat
yang dapat memberikan PEEP terukur secara konstan,
sehingga dapat memberikan CPAP dini, namun tidak
direkomendasikan untuk pemberian ventilasi tekanan
positif (lihat topik Tekanan).

20

Persiapan Resusitasi 2

Gambar 2.13 Jackson-Rees Gambar 2.14 Sungkup laring

- Peralatan intubasi (laringoskop, pipa endotrakeal, stilet)

- Sungkup laring / Laryngeal Mask Airway (LMA)

- Sungkup wajah

Untuk memberikan hasil resusitasi yang optimal, peralatan
resusitasi harus berfungsi secara baik. Oleh karena itu pengecekan
alat-alat resusitasi, terutama alat ventilasi manual, harus dilakukan
setiap sesaat sebelum melakukan resusitasi.4
Adapun tahapan pengecekan alat ventilasi manual adalah:4

Gambar 2.15 Berbagai ukuran sungkup wajah

21

Resusitasi Neonatus

• Balon mengembang sendiri

- Periksa rangkaian terpasang dengan benar

- Pastikan pipa reservoir tersedia

- Alat ini tetap dapat digunakan tanpa sumber gas. Bila
memerlukan sumber oksigen, maka alirkan 5-10 L/menit

- Tutup lubang terbuka yang mengarah ke sungkup, remas
balon sampai tekanan membuka katup yang mengarah ke
reservoir

- Pada akhir inflasi, periksa balon dapat kembali inflasi dengan
cepat

- Berikan ventilasi pada bayi baru lahir dengan melakukan
kompresi balon selama 40-60 x/menit dengan waktu
inspirasi 0,3-0,5 detik

• Balon tidak mengembang sendiri
Mutiara bernas
Upayakan mencampur - Periksa rangkaian tersusun dengan benar dan pastikan
oksigen + medical air terpasang manometer
sehingga tercapai FiO2 <30%
(kalau perlu 21%) - Alat ini memerlukan sumber gas, diberikan 5-10 L/menit

- Tutup lubang terbuka yang mengarah ke sungkup. Ketika
menutup lubang tersebut sebagian, perhatikan apakah
balon terisi udara dengan cepat.

- Lanjutkan menutup lubang tersebut, berikan kompresi
pada balon dan perhatikan tekanan yang tercapai.

- Perhatikan juga apakah balon dapat kembali inflasi secara
cepat pada akhir inflasi ketika balon tidak sedang dikompresi

- Berikan ventilasi pada bayi baru lahir dengan menekan
balon di antara ibu jari dan telunjuk, lalu peras balon untuk
menghasilkan tekanan positif. Lakukan 40-60x/ menit
dengan waktu inspirasi 0,3-0,5 detik.

• Tekanan

Pada bayi yang memerlukan bantuan ventilasi, terdapat dua
jenis tekanan yaitu PIP dan PEEP.

22

Perbedaan Neopuff® dan Mixsafe®: Neopuff® belum disertai dengan mini kompresor sehingga membutuhkan sumber udara bertekanan dan oksigen. Sungkup. sedangkan PEEP < 3 cmH2O dapat menyebabkan atelektasis pada bayi prematur. 1. T-piece resuscitator yang menggunakan: 1. 23 .9 Peak inspiratory pressure (PIP)/Tekanan Inspirasi Puncak (TIP) adalah tekanan tertinggi yang diberikan kepada paru selama periode inspirasi. Endotracheal (ET) single nasal prong  pada bayi yang dipindahkan / transport ii. Pemberian CPAP dini pada bayi sesak (Penjelasan lebih lanjut dapat dilihat di Bab 4: Resusitasi Terintegrasi) Adapun peralatan yang dapat digunakan. Tekanan ini sangat diperlukan untuk mencegah kolapsnya alveolar. sedangkan umumnya yang diberikan pada bantuan ventilasi saat resusitasi adalah 5-7 cmH2O. yaitu: a. PEEP yang terlalu tinggi dapat menyebabkan overdistensi sehingga menurunkan compliance paru. pengeluaran CO2 dan curah jantung serta meningkatkan tekanan CO2 arteri (PaCO2). Peningkatan PIP akan menurunkan PaCO2 dan meningkatan rerata tekanan pada jalan napas (Mean Airway Pressure/MAP) sehingga meningkatkan tekanan O2 arteri (PaO2). Persiapan Resusitasi 2 Positive end expiratory pressure (PEEP) adalah tekanan positif di akhir ekspirasi (TPAE). PIP ditingkatkan bila paru tidak mengembang dan diturunkan bila paru overventilasi.9 Bagian ini akan membahas peralatan dan cara penggunaannya untuk penerapan tekanan yang tepat saat resusitasi bayi. volum tidal. PIP yang terlalu tinggi dapat menyebabkan barotrauma dan penurunan curah jantung. Fasilitas lengkap i. atau 2. Level PEEP yang normal pada pernapasan fisiologis neonatus adalah 3-5 cmH2O.

24 .Resusitasi Neonatus Single nasal prong Gambar 2. maka manometer O2 diatur menjadi 0 liter per menit.3. Penggunaan T-piece resuscitator 1. sambungkan total campuran gas oksigen dengan udara bertekanan/medical air ke inlet port 8-10 L/menit tergantung dari berapa persen konsentrasi O2 yang diinginkan. iii.18). Atur total flow O2 dan medical air di manometer masing-masing berdasarkan konsentrasi (FiO2) yang diinginkan (lihat tabel 2. Contoh: bila konsentrasi O2 yang diinginkan 21%.16 Sungkup wajah Gambar 2. kemudian nyalakan mesin dengan memencet tombol ON untuk mengaktifkan kompresor yang ada di dalam alat. dan manometer air diatur menjadi 10 liter per menit. Untuk Mixsafe®. Sambungkan tabung oksigen dengan oksigen inlet port yang ada di belakang (lihat gambar 2.3.3. sambungkan kabel ke sumber listrik. (lihat tabel 2.).) 2. Untuk Neopuff®. selanjutnya lihat tabel 2.17 Pemberian CPAP dengan ET single nasal prong Sementara Mixsafe® telah disertai dengan kompresor sehingga hanya membutuhkan sumber oksigen.

Selang oksigen: dihubungkan dengan campuran O2 dan medical air 2. Manometer: untuk mengukur tekanan yang diberikan 4. Outlet port 6. Tutup ujung sirkuit pasien (lubang sungkup) dan tekan PEEP cap) selama 2 tahap berikutnya 5.18 Spesifikasi T-piece resuscitator 3. Sesuaikan tekanan maksimum sampai manometer menunjukkan 50 cm H2O 25 . Tuas pengatur PIP 5. Putar katup tekanan maksimum PIP satu putaran searah jarum jam sampai tekanan yang diinginkan terlihat di manometer. Sirkuit pasien. Sambungkan sirkuit pasien dengan T-piece resuscitator melalui outlet port 4. Sungkup Gambar 2. Persiapan Resusitasi 2 3 3 4 4 Katup udara 2 5 Katup oksigen 1 5 6 7 6 PEEP Cap Spesifikasi T-piece resuscitator: 1. Inlet port 3. termasuk PEEP cap yang dapat diputar untuk mengatur PEEP dan dapat ditekan untuk 2 menghasilkan PIP 7.

Pastikan peralatan berfungsi dengan baik c. Hubungkan selang inspirasi ke campuran gas O2 dan udara tekan 26 . Cuci tangan b. Berikan ventilasi pada bayi baru lahir dengan melakukan penekanan dan melepaskan tekanan pada PEEP cap. tapi lepaskan penekanan PEEP cap dan putar cap hingga manometer menunjukkan angka PEEP yang diinginkan (5-8 cm H20) 8.19 Pemberian CPAP dini dengan T-piece resuscitator 6.3-0. Lakukan sebanyak 40-60x/menit dengan waktu inspirasi sekitar 0. Atur tekanan inspirasi puncak yang diinginkan dengan memutar katup PIP hingga tekanan yang dibutuhkan tampak pada manometer. Tekanan awal yang direkomendasikan adalah 30 cm H2O dan selanjutnya disesuaikan dengan target saturasi oksigen. Fasilitas terbatas Jackson-Rees o Penerapan infant T-piece system pada Jackson-Rees: a. Pertahankan penutupan ujung outlet pasien dari T-piece.Resusitasi Neonatus Gambar 2. Pasang manometer pada ujung infant T-Piece System d. 7. Pilih sungkup wajah yang berukuran tepat 9.5 detik b.

Sungkup wajah neonatus Menghubungkan Jackson-Rees dengan hidung dan mulut bayi 4. T-connector 7.22 Jackson-Rees dengan sungkup atau nasal prong 27 . Pipa hijau Merupakan selang inspirasi yang terhubung dengan sumber oksigen 2. > 30 cm H2O) - 2 L - 3 L Gambar 2. 30 cm H2O) - 1 L (PIP max. Pipa putih Merupakan selang ekspirasi 6. Balon Memiliki fungsi untuk mempertahankan PEEP.5 L (PIP max.21 Manometer dan reservoir bag Gambar 2. Persiapan Resusitasi 2 1 8 Spesifikasi Jackson-Rees: 7 1. Katup PEEP 5 Berfungsi untuk mempertahankan PEEP 8. Manometer 2 6 Berfungsi untuk mengukur tekanan yang diberikan ke bayi (menilai PIP dan PEEP) 3.20 Jackson-Rees 8 2 Reservoir bag dengan berbagai ukuran: - 0. dan dapat memberikan PIP jika diremas Gambar 2. Elbow 5.

Kontrol PEEP 5. maka fungsi PEEP akan hilang karena manometer segera menunjukkan angka nol. Kontrol PIP 4. namun tidak dapat memberikan VTP secara konstan. Oleh karena itu Jackson-Rees tidak direkomendasikan untuk pemberian VTP. Kelemahan dari pemakaian Jackson-Rees adalah ketika akan diberikan PIP dengan menekan balon. Atur PEEP  putar katup ke kanan atau kiri h. Atur PIP sesuai dengan yang diinginkan  atur aliran sambil memompa reservoir bag g.3) f. Adaptor (baterai portabel) 7. Pipa endotrakeal dapat langsung disambungkan ke elbow (bila pasien terintubasi atau saat transpor pasien) o Jackson-Rees dapat memberikan PEEP (karena sudah terpasang katup PEEP). Gambar 2. Outlet port 6. Atur total aliran gas sekitar 5-10 liter per menit tergantung dari konsentrasi O2 yang diinginkan (lihat tabel 2. Inlet port 28 .Resusitasi Neonatus e. Tombol Power 2.23 T-piece resuscitator Mixsafe Portabel tampak depan dan belakang Keterangan: 1. Handle 3.

T-piece Resuscitator Mixsafe Transport Cara penggunaan dapat dilihat pada bagian Penggunaan T-piece resuscitator di halaman sebelumnya. Medical air relatif mahal dan sulit didapat. sumber gas Jackson Rees berasal dari pencampuran oksigen dan medical air. Persiapan Resusitasi 2 o Selain itu. Balon 250 ml Dapat memberikan PIP pada bayi 3. Katup PEEP Berfungsi untuk mempertahankan Gambar 2. i. Selang oksigen Selang yang mengalirkan oksigen dari sumbernya ke balon dan sungkup 2.1) PIP Katup PEEP Gambar 2.24 Balon-sungkup dengan katup PEEP Spesifikasi: 1. Fasilitas terbatas - Jackson-Rees tidak direkomendasikan (lihat penjelasan Tekanan no. Sungkup wajah neonatus 4.1) b.25 Katup PEEP PEEP 29 . Pemberian VTP (PIP dan PEEP) pada kondisi bayi apnu / megap-megap a. 2. Fasilitas lengkap T-piece resuscitator (lihat penjelasan Tekanan no.

Resusitasi Neonatus - Balon mengembang sendiri dan sungkup • Dapat memberikan PEEP (jika sudah terpasang katup PEEP) • Tidak dapat memberikan PIP terukur. Cuci tangan 2. Pasang katup PEEP pada ujung depan balon 5. Penerapan balon dan sungkup dengan PIP + PEEP: 1. kecuali bila dihubungkan dengan manometer ii. Pilih ukuran sungkup yang sesuai dengan pasien 4. Pemakaian dengan O2 21%  tanpa selang O2 maupun reservoir 8. Pasang manometer pada bagian bawah balon (sebelum sungkup) 6. Pemakaian dengan O2 40%  disambungkan dengan sumber O2 tapi tanpa reservoir 30 . Pastikan peralatan berfungsi dengan baik 7. Pilih katup PEEP yang dibutuhkan 3.

Kateter umbilikal -. √ Jackson-Rees+manometer √ √ √ .2 Tabel 2. √ . √ - Balon-sungkup + katup PEEP . atropin). √ • Akses sirkulasi -. PIP akan terbaca pada manometer saat balon ditekan Keunggulan dan kekurangan pemakaian alat pemberi tekanan dapat dilihat pada tabel 2.26 Pulse Oxymeter peralatan metode kanguru Sumber: www. √ Balon-sungkup + katup PEEP dan manometer PIP √ √ .2 Keunggulan dan Kekurangan Alat Pemberi Tekanan Alat PIP terukur PEEP PEEP PIP saja VTP terukur saja (PIP+PEEP) T-piece resuscitator √ √ √ . Persiapan Resusitasi 2 9. Perlengkapan untuk memasang akses vena perifer -.wisconsinshine. Obat-obatan resusitasi (adrenalin. cairan (garam fisiologis dan darah) • Transportasi: inkubator transpor yang telah dihangatkan atau Gambar 2. . Pemakaian dengan O2 100%  disambungkan dengan sumber O2 dan reservoir 10.org 31 . . . . - Balon dan sungkup .

27 Inkubator transpor dengan Oxygen blender • Pelengkap -. pemberian tekanan PIP ataupun PEEP memerlukan sumber gas agar dapat berfungsi optimal. Oksigen konsentrator Gambar 2.Resusitasi Neonatus Inkubator Oxygen blender Gambar 2. yaitu: 1. Pulse oximetry • Sumber gas Pada resusitasi neonatus. Alat yang dapat menjadi sumber gas. Oksigen a. Adapun pada neonatus. Stetoskop bayi -. gas yang digunakan adalah oksigen dan udara. Silinder / tabung b. Alat periksa gula darah -.28 Tabung oksigen 32 .

30 Oksigen konsentrator dengan balon konsentrator dengan t-piece sungkup resuscitator Oksigen konsentrator merupakan alat yang dapat mengkonsentrasikan oksigen dari udara sekitar. Kompresor Kompresor udara merupakan alat yang dapat memampatkan udara sekitar sehingga menciptakan udara bertekanan. 2. sehingga dapat digunakan sebagai sumber oksigen bila fasilitas tidak memiliki sumber oksigen tabung. Persiapan Resusitasi 2 Gambar 2. Gambar 2. Alat ini dapat menjadi sumber udara bertekanan bila tidak terdapat tabung udara bertekanan. Silinder/ tabung b.29 Oksigen Gambar 2.31 Tabung udara 33 . Udara a.

Adapun beberapa metode untuk pencampuran gas tersebut.Resusitasi Neonatus Gambar 2. 2. Tabung oksigen dan udara yang disambungkan dengan Y-connector c.32 Oxygen Blender Gambar 2. Blender b. Fasilitas terbatas a. yang akan dijelaskan lebih lanjut pada BAB 4 Resusitasi 34 . kebutuhan oksigen bervariasi sehingga terkadang memerlukan bantuan untuk mencapai target saturasi oksigen. Fasilitas lengkap a. Tabung oksigen / oksigen konsentrator + mini compressor Pada bayi baru lahir. Tabung udara dan oksigen yang dihubungkan dengan Y-connector • Pencampuran oksigen dan udara Oksigen dan udara tersebut harus dicampur sebelum diberikan ke bayi. yaitu: 1. Oxygen blender Oxygen blender merupakan alat yang dapat mencampur oksigen dan udara sehingga dapat mencapai fraksi oksigen antara 21% (udara bebas) dan 100% (oksigen murni).33.

diberi lampu 40/60/80 watt Penghisap Suction unit Midwifery suction catheter Ventilasi Alat yang dapat memberikan PEEP kontinyu dini pada bayi dengan distres napas T-piece resuscitator Jackson-Rees Alat yang dapat memberikan ventilasi tekanan positif T-piece resuscitator Balon sungkup dengan katup PEEP Alat yang dapat mencampur O2 100% dengan udara bertekanan Oxygen blender Tabung oksigen dan tabung udara tekan yang dihubungkan dengan Y-connector Oxygen concentrator dan kompresor (sumber udara tekan) Tabung oksigen / oksigen konsentrator + mini compressor Sirkulasi Pemasangan jalur umbilikal emergensi (sementara) Dengan kateter umbilikal Dengan Oral Gastric Tube Transportasi Inkubator transpor Metode kanguru Pelengkap Pulse oxymeter Pulse oxymeter harus tetap disediakan 35 .3 Panduan Perbandingan Udara Bertekanan dengan Oksigen Murni untuk Menghasilkan Berbagai Fraksi Oksigen % Udara Bertekanan (Liter/menit) Kons. O2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1     41% 37% 34% 32% 31% 30% 29% 28% 2   61% 53% 47% 44% 41% 38% 37% 35% 34% Oksigen Murni (Liter/ menit)  3 80% 68% 61% 55% 51% 47% 45% 43% 41% 39% 4 84% 74% 66% 61% 56% 52% 50% 47% 45% 44% 5 86% 77% 70% 65% 61% 57% 54% 51% 49% 47% 6 88% 80% 74% 68% 64% 61% 57% 54% 53% 51% 7 90% 82% 76% 71% 67% 64% 61% 58% 56% 54% 8 91% 84% 78% 74% 70% 66% 63% 61% 58% 56% 9 92% 86% 80% 76% 72% 68% 65% 63% 61% 58% 10 93% 87% 82% 77% 74% 70% 67% 65% 63% 61% Tabel 2. Persiapan Resusitasi 2 Tabel 2.4 Modifikasi perlengkapan resusitasi di fasilitas terbatas Komponen resusitasi Ideal Modifikasi di fasilitas terbatas Termoregulasi Infant warmer Meja resusitasi di ruangan bersuhu 26⁰C.

virus atau jamur ke pasien yang dapat bersumber dari darah. Alat yang tersedia di daerah perifer dapat digunakan sebagai alternatif. Kebersihan tangan Gagalnya menjaga kebersihan tangan petugas kesehatan merupakan salah satu mata rantai penyebaran infeksi pada 36 . Pemberian fraksi oksigen selain 21% dan 100% dapat dicapai dengan oxygen blender (pada fasilitas lengkap) atau pencampuran udara bertekanan dengan oksigen murni dengan Y-connector atau T-piece resuscitator (Mixsafe) dengan mini kompresor yang dapat menghasilkan medical air yang diinginkan. Setelah itu. feses.3 Resusitasi harus dilakukan secara optimal untuk menurunkan angka mortalitas dan morbiditas bayi baru lahir. Pencampuran oksigen dan udara bertekanan dilakukan dengan cara menghubungkan kedua tabung dengan Y-connector.10 Implementasi pengendalian infeksi pada petugas rumah sakit dapat menurunkan kejadian infeksi hingga 29%. lakukan pengaturan masing- masing tabung sesuai dengan tabel 2. Pengendalian infeksi saat resusitasi merupakan salah satu langkah penting dalam strategi pengendalian infeksi. dan lain-lain.Resusitasi Neonatus Terintegrasi. (pada fasilitas terbatas). namun ironisnya transmisi infeksi rumah sakit di negara berkembang cukup tinggi.11 Pengendalian infeksi bertujuan untuk mencegah penyebaran bakteri. urin. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel 2. sehingga pada daerah dengan fasilitas terbatas perlu memiliki kelengkapan alat resusitasi dengan standar minimal. kurangnya infrastruktur. Hal tersebut disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan pelatihan tentang dasar pencegahan infeksi.4 Pengendalian infeksi saat resusitasi Sepertiga dari total angka kematian anak adalah kematian neonatus yang terutama diakibatkan oleh infeksi. liur. sistem rumah sakit dan dana.12 Pengendalian infeksi terdiri dari : 1. muntah.

atau handrub antiseptik berbasis alkohol tanpa air (klorheksidin glukonat 2-4%).34 Tahapan mencuci tangan. Cairan handrub di negara berkembang berdasarkan rekomendasi WHO. yaitu membersihkan tangan dengan dengan air mengalir. Cairan antiseptik yang mengandung klorheksidin 2% dan/atau dengan alkohol ii. Ssaat melakukan kontak dengan pasien. Persiapan Resusitasi 2 Gambar 2. lap sekali pakai.13 Kebersihan tangan harus dijaga dengan baik. Setiap penolong resusitasi harus mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan resusitasi untuk memutus rantai transmisi infeksi. Bahan i.13 37 . pemeriksa tidak boleh memakai perhiasan. kuku palsu dan cat kuku. cairan antiseptik.14-16 a. Sumber: WHO pasien.

Resusitasi Neonatus Contoh komposisi dalam 100 mL larutan: o Etanol 96% 84. Lap sekali pakai b. Masker c. Alat pelindung diri yang harus dipakai. Penutup kepala b. dan sirkuit alat bantu napas. Jubah steril e. Desinfeksi tingkat tinggi adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan semua mikroorganisme kecuali endospora bakteri dengan cara direbus atau kimiawi. daun laringoskop. yaitu: a.20 mL o H2O2 3% 4. sabun dan gesekan. Alat Pelindung Diri Setiap penolong resusitasi dalam ruang operasi harus menggunakan alat pelindung diri steril untuk mencegah paparan yang memiliki potensi infeksius. seperti sungkup. Sterilisasi perlengkapan resusitasi Idealnya alat-alat resusitasi hanya dipakai satu kali. Sepatu bot 3. 38 . Beberapa alat dapat dipakai kembali dengan memperhatikan keamanan dan kebersihannya. balon resusitasi. Dekontaminasi adalah tindakan awal membersihkan peralatan medis untuk meminimalisir organisme dengan menggunakan air. Air mengalir iv. Desinfeksi adalah proses penghancuran dan pemusnahan mikroorganisme patogen pada perlengkapan yang ada. Sarung tangan d.34 2. Prosedur Tahapan mencuci tangan dapat dilihat pada gambar 2. Pada fasilitas terbatas sering tidak tersedia alat sterilisasi.17 m o Gliserol 98% qs o Parfum lemon qs o Akuades ad 100 mL iii.

Matras anti-air yang digunakan saat resusitasi bayi dibersihkan setiap selesai resusitasi dengan menggunakan dua cara. Matras yang tidak berisiko tinggi transmisi infeksi dapat dibersihkan menggunakan detergen 2. • Pembersihan balon dan sungkup:  Dekontaminasi dan desinfeksi tingkat tinggi: • Petugas melakukan 7 langkah kebersihan tangan dengan cairan antiseptik dan air mengalir. Matras yang berisiko tinggi terjadi transmisi infeksi dibersihkan dengan detergen dan desinfektan yang disesuaikan dengan organisme multiresisten. ethilen oxide. Sterilisasi dapat dilakukan dengan alat sterilisator seperti plasma. autoclave. komponen patient valve. sterilisator kimia atau radiasi. yaitu: 1. sedangkan peralatan seperti troli resusitasi.37) 39 . IV infusion pump) dapat dibersihkan setiap kali pemakaian dengan menggunakan detergen. alat-alat resusitasi yang tidak terhubung lansung dengan bayi (pulse oximeter. keringkan dengan tissue bersih • Lepaskan sungkup. panas kering (oven). Stetoskop bagian membran dapat dibersihkan dengan lap/ kapas alkohol. Persiapan Resusitasi 2 Sterilisasi adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan semua mikroorganisme termasuk endospora bakteri.17 Pemakaian ulang balon dan sungkup (referensi dari Laerdal Bag®): Prosedur: Pemrosesan alat medis bekas pakai sesuai dengan jenis peralatan non kritikal yang diawali dengan proses dekontaminasi tingkat tinggi. dan komponen intake valve (lihat gambar 2.

Intake valve 8. Patient valve with pressure relief valve 2A.A 6 1 2 3 9 10 4 5 Gambar 2. • Bilas dengan menggunakan air hangat. • Sungkup. Intake membranes 7.6 L • Seluruh komponen dibilas di bawah air mengalir. Preterm ventilation Bag 2. Disk membranes 6. O2 reservoir 0. komponen patient valve. Pressure relief valve 3. komponen intake valve direndam ke dalam larutan enzimatik (waktu perendaman sesuai dengan rekomendasi pabrik) Bilas dengan menggunakan air hangat.36 Komponen Balon Sungkup 1. Intake valve to O2 reservoir 9. • Rendam seluruh komponen kedalam air hangat yang sudah dicampur dengan detergen dan bersihkan seluruh bagian dengan menggunakan sikat gigi. rendam dengan menggunakan air hangat selama ± 2 menit sebelum dibersihkan dengan air yang mengandung detergen. Lip valve 4. Oxygen reservoir valve 10. Patient valve to mask 5. • Rendam kembali kedalam larutan desinfektan sesuai rekomendasi 40 .Resusitasi Neonatus 8 7 2.

dan komponen intake valve dari tempat penyimpanan barang medis steril. dan komponen membersihkannya setiap intake valve dikemas dalam plastik pengepak. komponen patient valve. pemakaian! 41 . dan komponen intake valve di dalam lemari bersuhu 50- 700C sampai kering (minimal 30 menit) Pemakaian:  Cuci tangan 7 langkah dengan cairan antiseptik dan air mengalir. komponen patient valve. komponen patient valve.  Gunakan sarung tangan steril Mutiara bernas  Rakit kembali seluruh komponen Peralatan resusitasi  Lakukan tes fungsi balon dan sungkup merupakan sumber infeksi. Pastikan untuk  Sungkup. Persiapan Resusitasi 2 Patient Valve Intake Valve Gambar 2.37 Komponen patient valve dan intake valve  Pemakaian  Bilas dengan menggunakan air hangat  Keringkan sungkup. ganti dengan sungkup yang baru. dan komponen intake valve berada dalam keadaan utuh. komponen patient valve. letakkan dan buka diatas meja yang sudah disiapkan sebelumnya  Periksa dan pastikan sungkup. Apabila sungkup robek atau rusak. tidak robek atau rusak. keringkan dengan tissue bersih  Keluarkan sungkup.

Gunakan tabel khusus untuk panduannya. • Target FiO2 <30% di daerah terbatas dapat dicapai menggunakan tabung oksigen atau oxygen concentrator yang digabungkan dengan mini kompresor penghasil medical air. • Pastikan suhu ruangan 24-26OC dan bayi tetap kering. pasang infus untuk sirkulasi). • Plastik dapat digunakan untuk menghangatkan bayi. RJP. • Lakukan pengecekan alat secara berkala untuk memastikan alat berfungsi dengan baik. • Tugas tim harus jelas dan dipahami oleh masing-masing individu. • Peralatan resusitasi merupakan sumber infeksi. Pastikan untuk membersihkannya setiap pemakaian. diperlukan set dan tim resusitasi sejumlah bayi yang akan lahir. Bayi dengan berat < 1500 gram membutuhkan infant warmer dengan sistem servo. dan bila memungkinkan gunakan FiO2 21%. • Upayakan mencampur oksigen + medical air sehingga tercapai FiO2 <30%. • Bila terdapat persalinan multipel. Semua informasi sebaiknya sudah diketahui tim resusitasi sebelum bayi lahir. Resusitasi tidak dapat dilakukan sendirian. plastik penghangat dan topi. bila perlu dan tersedia gunakan matras penghangat.Resusitasi Neonatus Hal-Hal Penting • Persiapan yang baik dan terencana akan memengaruhi kelancaran dan efektivitas resusitasi. 42 . • Di setiap persalinan harus tersedia perlengkapan resusitasi yang lengkap serta tim resusitasi yang mampu melakukan resusitasi hingga tingkat aktif (intubasi. • Setiap persalinan harus dianggap berisiko sampai terbukti tidak. Panggil bantuan! • Tim resusitasi sebaiknya memiliki personil yang tetap dan siap kapanpun ada persalinan dengan risiko bayi lahir yang memerlukan resusitasi.

Goldsmith JP. h.328-40. 2013. Diakses pada 13 September 2013. Edisi ke-6. 4. Edisi ke-1. Nosocomial infection in a neonatal intensive care unit in South- Western Saudi Arabia. Melbourne: The Royal Women’s Hospital. Dalam: Fanaroff AA.436. medscape. Mahfouz AA. Diunduh dari http://emedicine. Assisted Ventilation of the Neonate. Bello CS. Kosim MS. Bissinger RL. Leone TA. penyunting.resus. Queensland: State of Queensland. Judith A. Perlman JM. 91-4. Neonatal Resuscitation. Diunduh dari http://www. Care of the High Risk Neonate. Seef S. Royal Children Melbourne Hospital.com/article/977002-overview. Dalam: Karotkin EH. Usman A. penyunting. Prosedur medik bayi baru lahir ventilasi mekanik pada bayi baru lahir. Infection control practices in the NICU: What is evidence-based? NeoReviews. 2011.11:419-25. 2010. Sarosa GI. Persiapan Resusitasi 2 Referensi 1.7- 8. Avery’s Diseases of The Newborn.76-7.122:516-38. Dewi R. Australian Resuscitation Council. Diunduh dari http://www. Edisi ke-5. penyunting. Fanaroff JM. Kattwinkel J.au. 2012. Al-Azraqi TA. 2010. Queensland Maternity and Neonatal Clinical Guidelines Program. The Royal Women’s Hospital Neonatal Service. Leone TA. 2. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia. 10. Clinician’s Handbook. 7. 2011. Part 11 Neonatal resuscitation: 2010 International Consensus on Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care Science With Treatment Recommendations.au/clinicalguide/index. East Mediterr Health J. Missouri: Saunders. Finer NN.rch. Circulation. 9. h. Kaban RK. 6. Edisi ke-9. Chameides L. 5. Yunanto A. Dalam: Kosim MS. h. Goldsmith JP. Neonatal Resuscitation. h. Al-Gamal MN. Buku Ajar Neonatologi.16:40-4. 2013. 8. Section 13: Neonatal Guidelines. Diakses pada 15 Oktober 2013. Diakses pada 15 September 2013. Karlowicz MG. Atkins DL. 2010. Wyllie J.54-64. 43 . h. 11. Resuscitation at birth. 12. Finer NN.cfm. Cotrril G. Philadelphia: Saunders. Dalam: Gleason CA. 2006. Karotkin EH. penyunting.org. Abbag Fl. Clinical Practice Guideline.org. Goldsmith JP. 3. Resuscitation. Philadelphia: Saunders. Devaskar SU. h. Resuscitation in delivery room.

SEA-URCHIN Clinical Educator Manual Infection Control. Polin RA. Jakarta: Komite PPIRS.4-6.13-27. 2012. Best practices for infection prevention and control in perinatology in all health care setting that provide obstetrical and newborn care. Diakses pada 10 September 2013. 2012. 44 .17-31. Strategies for prevention of health care-associated infection in the NICU.Resusitasi Neonatus 13. South East Asia-Using Research for Change in Hospital-Acquired Infection in Neonate. Cipto Mangunkusumo.int/gpsc/5may/ tools/9789241597906/en. Provincial Infectious Diseases Advisory Committee. h. 14. Soemanto RK. Toronto: The Ontario Agency for Health Protection and Promotion. Pediatrics. WHO Guidelines on Hand Hygiene in Health Care. 17. 2011. Buku pedoman pencegahan dan pengendalian infeksi rumah sakit di RSUPN dr. World Health Organization.who. Sydney: National Health & Medical Research Council (NHMRC). Denson S. Diunduh dari http://www. 15. 16.h. h.129:1087-93. Brady MT. 2013.

Tahapan ini akan menentukan langkah serta tindakan resusitasi selanjutnya. Memahami penilaian dan langkah awal yang perlu dilakukan pada resusitasi neonatus Komponen Penilaian pada Resusitasi Neonatus Penilaian merupakan salah satu bagian penting dalam resusitasi neonatus yang perlu dipahami oleh setiap penolong. 3 Penilaian dan Langkah Awal Tujuan Pembelajaran: 1.2 • Pernapasan • Tonus otot • Laju denyut jantung Sedangkan komponen yang dinilai pada evaluasi lanjutan sepanjang resusitasi berlangsung adalah laju denyut jantung bayi. Penilaian harus dilakukan segera setelah bayi lahir dan berlanjut sepanjang resusitasi. tonus otot dan oksigenasi.1. hal ini lebih mudah diterapkan bila terdapat lebih dari satu penolong.1.1 45 . pernapasan.2 Komponen utama yang wajib dinilai saat awal:1.2 Evaluasi dan intervensi dalam resusitasi merupakan suatu proses yang dilakukan secara serentak.

Bayi prematur seringkali memiliki napas yang tidak teratur megap atau apnu.4 Pernapasan mungkin sulit dinilai pada satu atau dua menit pertama setelah lahir. atas 100 kali per menit yang telah mendapat terapi oksigen aliran Berikan VTP (ventilasi bebas namun tidak membaik. dan laju denyut jantung di pada bayi bernapas spontan disertai distres pernapasan. Demikian juga pada bayi positive airway pressure) dengan napas spontan.1 MUTIARA BERNAS Bayi dengan kondisi apnu atau dengan napas megap-megap Berikan CPAP (continuous perlu diberikan ventilasi tekanan positif. atau mengalami periode apnu singkat berulang. merintih saat ekspirasi merupakan tanda-tanda yang harus diwaspadai pada semua bayi. bayi perlu diberikan tekanan positif berkelanjutan pada jalan napas (continuous positive airway pressure/CPAP) atau ventilasi tekanan positif. diikuti oleh pernapasan regular yang cukup untuk memertahankan laju denyut jantung lebih dari 100 kali per menit. Hal di atas menunjukkan kemungkinan bayi mengalami kesulitan mengembangkan paru- paru. yang tentunya harus tetap dilakukan.1. perlu dinilai ada atau tidaknya tanda distres pernapasan. tekanan positif) pada bayi dengan pernapasan megap.3 Bila laju denyut jantung dapat dipertahankan di atas 100 kali per menit biasanya bayi tidak memerlukan intervensi segera selain menjaga jalan napas tetap terbuka. pernapasan bayi dapat berhenti selama beberapa detik. Retraksi atau tarikan ke dalam pada tulang iga dan sternum. Pada kondisi ini bila denyut jantung bayi di atas 100 kali per menit. sianosis sentral. Bila laju denyut jantung tetap di bawah 100 kali per menit.1 Pada bayi yang bernapas spontan. bayi umumnya 46 . Hal ini dikarenakan setelah upaya bernapas awal. maka kemungkinan diperlukan ventilasi tekanan positif.Resusitasi Neonatus Pernapasan Pernapasan sangatlah penting untuk dinilai karena tanda yang pertama kali muncul pada bayi dengan gangguan kardiorespirasi adalah penurunan upaya bernapas. Bila terdapat gangguan pernapasan.

Seorang bayi dengan tonus otot yang baik (menggerak-gerakkan tungkai dengan postur sesuai usia gestasinya) umumnya tidak memerlukan resusitasi.org/sites/www.3 Bayi yang mengalami distres pernapasan dapat segera diberikan CPAP dini.ichrc. Diambil Gambar 3.jpg 47 . maka pada keadaan tersebut diperlukan VTP.ichrc.net/animal_kingdom/humans/babies. Bayi baru lahir dengan tonus otot yang baik.2. memulai upaya untuk bernapas dan denyut Gambar 3. Sebaliknya. Tonus dan Respons terhadap Stimulasi Tonus otot merupakan penilaian yang subyektif dan bergantung pada usia gestasi bayi. dari http://www. Diambil dari http://www.1 Sebagian besar bayi baru lahir akan langsung menggerakkan keempat tungkainya. Bila setelah mendapat stimulasi bayi mengalami penurunan laju denyut jantung (di bawah 100 kali per menit).org/ htm files/c_org_3d_training_tools.solarnavigator.1. Bayi baru lahir dengan tonus otot yang buruk. Apabila saat pemantauan bayi tersebut mengalami sesak yang memberat atau pernapasan yang dangkal disertai penurunan laju denyut jantung. namun cukup akurat dalam memerediksi kebutuhan resusitasi pada bayi. Penilaian dan Langkah Awal 3 membutuhkan stimulasi singkat untuk merangsang pernapasannya. dan pola napasnya menjadi semakin iregular/tidak adekuat. tonus yang buruk. maka bayi membutuhkan ventilasi tekanan positif. bayi dengan tonus otot lemah (tidak bergerak-gerak dan postur tubuh ekstensi) seringkali membutuhkan resusitasi aktif.

1-2. Laju denyut jantung merupakan kunci utama dalam penilaian resusitasi. Denyut nadi perifer dan sentral sebaiknya tidak digunakan untuk menilai laju denyut jantung karena sulit diraba dan hasilnya kurang dapat dipercaya.Resusitasi Neonatus jantungnya akan meningkat di atas 100 kali per menit segera setelah lahir.13 Laju denyut jantung dapat ditentukan dengan mendengarkan jantung menggunakan stetoskop. pada menit-menit awal setelah lahir. terutama bila tonus otot bayi lemah.menggoyang. Menepuk pipi. Sepanjang resusitasi. maka penolong dapat melakukan stimulasi dengan cara mengeringkan bayi dengan handuk secara cepat namun lembut. bervariasi antara 110 hingga 160 kali sensitif dalam menentukan per menit.9.1-3.5-7 48 . posisi bayi harus dijaga agar kepala dan leher tetap dalam posisi netral. namun tidak adanya nadi di lokasi tersebut bukanlah pertanda pasti untuk tidak adanya denyut jantung. dengan meraba pulsasi pada dasar tali pusat. atau menggantung bayi secara terbalik berpotensi bahaya dan tidak boleh dilakukan.1 MUTIARA BERNAS Laju Denyut Jantung Laju denyut jantung Bayi baru lahir normal memiliki laju denyut jantung sekitar 130 kali adalah indikator paling per menit segera setelah lahir.4 Lokasi paling baik untuk pulsasi pada tali pusat adalah bagian dasar. atau dengan menggunakan pulse oximetry. Bayi dengan kondisi ini tidak membutuhkan bantuan resusitasi dan sebaiknya tidak dipisahkan dari ibunya.1 Bila respons bayi tidak ada atau lemah. Tanda pertama dari perbaikan kondisi bayi adalah peningkatan laju denyut jantung. memukul pantat. Laju denyut jantung diharapkan selalu di atas 100 kali per keberhasilan resusitasi menit selama menit pertama kehidupan pada bayi yang sehat.

9 Bila laju denyut jantung bayi terus menerus kurang dari 100 kali per menit. Penelitian yang dilakukan oleh Colm dkk. Gambar 3.3. kompresi dada perlu diberikan.Pulse oximetry yang terpasang pada tangan bayi (Diambil dari http://blog.1 Oksigenasi Salah satu komponen penilaian resusitasi lanjutan adalah derajat oksigenasi. Adapun penilaian warna kulit cenderung bersifat subjektif dan tidak akurat. Penilaian dan Langkah Awal 3 MUTIARA BERNAS Bila laju denyut jantung bayi tetap di bawah 60 kali per menit setelah ventilasi tekanan positif yang adekuat. com/not-all-pulse-ox-machines-are- create-equal/) Di antara berbagai cara di atas. Apabila laju denyut jantung bayi tetap kurang dari 60 kali per menit bahkan setelah diberikan ventilasi tekanan positif yang adekuat.babyheartscreening.1.2. Untuk menilainya dapat dilakukan dengan menggunakan pulse oximetry. maka ventilasi bantuan harus dilakukan. pada tahun 2007 membandingkan pendapat dokter klinisi akan warna kulit bayi dan saturasi oksigen bayi yang dinilai dengan pulse oximetry Dari 27 49 .8-10 Sensor pulse oximetry sebaiknya dipasang terlebih dahulu pada tangan atau pergelangan tangan kanan (preduktal) sebelum disambungkan pada oximeter untuk memperoleh hasil yang lebih akurat. lakukan kompresi dada. pulse oximetry memberikan hasil laju denyut jantung yang paling baik.

pulse oximetry dapat digunakan untuk membantu keputusan menaikkan atau menurunkan kadar oksigen pada bayi.2 Gambar 3.Resusitasi Neonatus dokter yang menilai rekaman video 20 bayi baru lahir. Diambil dari http://blog. 1. didapatkan perbedaan pendapat dalam penilaian warna kulit bayi dan variasi SpO2 yang cukup lebar saat klinisi menyatakan bayi berwarna merah muda. Pulse oximetry. Penelitian ini menunjukkan bahwa penilaian warna kulit seharusnya tidak dijadikan standar untuk derajat oksigenasi.14-15 Untuk bayi yang membutuhkan resusitasi.2. Pulse oximetry dapat menampilkan laju denyut jantung janin secara audiovisual sepanjang resusitasi sehingga para anggota tim dapat melakukan tugasnya masing-masing dan memonitor kondisi bayi pada saat yang bersamaan dan tidak perlu menghentikan tindakan resusitasi.14-15 Pulse oximetry juga dianggap sebagai metode yang lebih cepat dan akurat untuk pengukuran oksigenasi dibanding warna kulit semata.4.12 Pulse Oximetry Penggunaan alat untuk monitoring yang lebih ekstensif dapat memberi banyak kegunaan selama resusitasi berlangsung.com/not-all-pulse-ox- machines-are-create-equal/ 50 .babyheartscreening. dan bahwa penilaian saturasi oksigen dengan pulse oximetry lebih tepat digunakan dalam resusitasi.

Penilaian dan Langkah Awal 3 Tabel 3. Nilai Apgar ditentukan pada menit ke-1 dan 5 serta dilanjutkan setiap 5 menit sampai nilai Apgar mencapai 7.11. Tonus otot baik? 51 . menit kelima belas nilai 7.2. menit kesepuluh aktif dan suplementasi nilai 5. menangis Nilai Apgar Nilai Apgar (tabel 3.15 Penilaian ini menentukan respons bayi baru lahir ketika melewati periode transisi pada beberapa menit awal kehidupan. namun sebaiknya nilai Apgar tidak digunakan untuk menentukan kebutuhan dan intervensi resusitasi pada bayi baru lahir. Menangis atau bernapas? 2. pulse oximetry harus digunakan Pelaporan resusitasi harus ditulis secara lengkap dan meliputi untuk memantau seluruh tahapan resusitasi.4. pada seorang bayi baru lahir didapatkan nilai Apgar Pada bayi yang membutuhkan resusitasi pada menit pertama nilai 2.2) merupakan sebuah metode objektif untuk menilai kondisi bayi baru lahir dan mudah diterapkan pada berbagai kondisi fasilitas kesehatan. Penilaian awal tersebut meliputi: 1. Langkah Awal Setiap penolong resusitasi harus dapat melakukan penilaian awal untuk menentukan kebutuhan resusitasi pada bayi baru lahir. hipoventilasi Baik. tindakan pasca resusitasi. menit kelima nilai 3. Penilaian perbaikan atau perburukan derajat oksigenasi dan klinis harus dicatat setiap kali terdapat perubahan bermakna agar merencanakan pengaturan perjalanan klinis bayi mudah dipahami dan untuk menentukan kadar oksigen.14. MUTIARA BERNAS Sebagai contoh. Nilai Apgar TANDA 0 1 2 Warna kulit Biru atau pucat Akrosianosis Seluruhnya kemerahan Frekuensi jantung Tidak ada < 100/ menit > 100/ menit Refleks rangsangan Tidak ada respons Sedikit Menangis atau aktif Tonus otot Lemas Sedikit fleksi Gerak aktif Pernapasan Tidak ada Menangis lemah. oksigen.

    warna dan laju  denyut jantung    Tidak    30 detik    Langkah Awal:    Bayi bernapas  • Berikan kehangatan  adekuat dan laju  • Posisikan dan bersihkan    jalan napas  denyut jantung >  100 kali per  • Keringkan dan stimulasi    menit • Posisikan kembali        Nilai pernapasan. tonus dan laju  denyut jantung    14      Bila jawaban untuk kedua pertanyaan tersebut adalah “ya”. maka bayi hanya memerlukan perawatan rutin yaitu mengeringkan bayi. Tenaga kesehatan tetap melakukan pemantauan pernapasan. dan menyelimuti bayi dengan linen kering untuk memertahankan suhu. aktivitas dan warna kulit bayi selama perawatan rutin.Resusitasi Neonatus   Bab 3     3. memosisikan bayi kontak kulit dengan kulit (skin-to-skin) dengan ibunya.2 Langkah Awal    LAHIR  Perawatan Rutin:   • Keringkan bayi    Ya • Beri kehangatan  Bernapas atau  • Bersihkan jalan  menangis?    napas bila perlu  Tonus otot baik?  • Observasi    pernapasan. Bila ada jawaban “tidak” dari kedua pertanyaan tersebut. maka dilanjutkan dengan langkah awal stabilisasi meliputi : 52 .

Pastikan Area resusitasi harus area resusitasi terjaga hangat dengan suhu ruangan sekitar 25 dijaga hangat dengan hingga 26oC.5. Penilaian dan Langkah Awal 3 Gambar 3. sehingga infant digunakan untuk bayi < warmer akan menyesuaikan suhunya berdasarkan temperatur bayi 1000 gram yang dinilai dari probe.15 Pasang probe suhu pada bayi dan setel infant warmer pada matras penghangat dapat mode operasional otomatis atau sistem Servo. Diambil dari: http:// ibudankeluarga. meletakkan bayi di bawah radiant warmer dalam suhu ruangan sekitar 25- 26OC. matras penghangat tambahan bila perlu. Kepala bayi tidak terbungkus dan dikeringkan. Pada bayi dengan usia gestasi kurang dari 28 minggu. 53 . keringkan bayi dan ganti kain yang sudah basah dengan yang kering. Untuk bayi cukup bulan atau usia gestasi mendekati cukup bulan. dan menggunakan alas/ bawah radiant warmer.Posisi bayi kontak kulit dengan kulit (skin-to-skin) dengan ibunya.wordpress. terutama pada bayi-bayi Penghangat tambahan serta kecil.com/2011/11/21/keajaiban-inisiasi-menyusu-dini/ Memberi Kehangatan Kondisi hipotermia dapat meningkatkan konsumsi oksigen yang MUTIARA BERNAS pada akhirnya dapat mengganggu resusitasi yang efektif. bayi diletakkan di beberapa menit pertama setelah lahir. disarankan untuk menaikkan suhu ruangan menjadi 26OC dan membungkus bayi dengan plastik polietilen setinggi leher sebelum mengeringkan bayi.

Membuka Jalan Napas Bayi Bayi diposisikan dalam keadaan setengah ekstensi (posisi menghidu) agar jalan napas terbuka. Penggunaan plastik bening pada bayi baru lahir kurang bulan16 sementara bagian tubuh sisanya terbungkus plastik dan tidak dikeringkan sebelumnya.17 Penjelasan lebih lanjut mengenai termoregulasi lingkungan resusitasi dapat dilihat pada Bab 2: Persiapan Resusitasi. 54 .6. dan menurunkan kemungkinan periventrikular leukomalasia dibandingkan bayi yang diresusitasi dengan metode penghangatan tradisional.Resusitasi Neonatus Gambar 3. 2. Pada bayi dengan berat di bawah 1000 gram disarankan untuk membungkus bayi dengan matras penghanghat.15 Penelitian oleh Carroll dkk. pada tahun 2010 menunjukkan bahwa penggunaan plastik polietilen pada resusitasi neonatus dengan berat lahir sangat rendah (BBLSR) berhasil meningkatkan suhu tubuh pada satu jam pertama kehidupan.

Penilaian dan Langkah Awal 3 MUTIARA BERNAS Posisi yang paling baik Gambar 3. Mengeringkan dan Merangsang Taktil Bayi Mengeringkan dan memberi rangsang taktil pada bayi merupakan tindakan penilaian sekaligus resusitatif yang dapat merangsang napas. Beberapa contoh posisi bayi. yaitu setengah ekstensi. denyut jantung di bawah 100 kali per menit) dengan kecurigaan obstruksi jalan napas. napas bayi adalah setengah ekstensi Pada posisi ini tampak kepala bayi terlalu ekstensi sehingga jalan napas tertutup Kesalahan pada posisi ini adalah kepala bayi terlalu fleksi sehingga jalan napas tertutup. Posisi ini menunjukkan posisi yang baik untuk untuk membuka jalan membuka jalan napas secara optimal. tonus otot lemah. Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut pada Bab 4: Resusitasi Terintegrasi. Diambil dari: http://labspace.1 55 .uk Penghisapan trakea hanya dilakukan pada bayi tidak bugar (depresi napas.open.ac.7.

American Academy of Pediatrics Bayi dikeringkan dengan kain linen bersih yang telah dihangatkan mulai dari kepala hingga seluruh tubuh bayi. periode apnu primer akan terjadi. rangsang taktil dapat tetap diberikan melalui kantung plastik.1 Pernapasan merupakan tanda vital pertama yang berhenti jika bayi mengalami kekurangan oksigen.Resusitasi Neonatus Gambar 3. Pengeringan handuk tidak perlu dilakukan pada bayi prematur yang dibungkus dengan plastik polietilen karena bersifat kontra-produktif. berikan rangsang taktil pada bayi berupa gosokan lembut pada punggung bayi atau menyentil/menepuk telapak kaki bayi secara tidak berlebihan. handuk yang basah diganti dengan yang kering. Pada bayi bugar. Sambil mengeringkan.4 56 . hindari mengeringkan telapak tangan sebelum melakukan Inisiasi Menyusui Dini. Diambil dari Buku Panduan Resusitasi Neonatus. Setelah periode awal pernapasan cepat. Proses mengeringkan bayi.8. Setelah mengeringkan bayi. Bila perlu. Kain yang sudah basah harus segera diganti dengan kain baru yang kering dan bersih agar bayi tetap hangat.

American Academy of Pediatrics Gambar 3. 57 . jika bayi diberikan rangsang taktil. Apnu primer dan apnu sekunder. bayi akan berusaha napas megap- megap dan kemudian memasuki periode apnu sekunder. Setelah mengeringkan dan menstimulasi bayi. rangsang taktil berkepanjangan tidak akan berhasil dan bantuan pernapasan harus diberikan. Diambil dari Buku Panduan Resusitasi Neonatus.9.10. kembalikan posisi bayi seperti sebelumnya yaitu setengah ekstensi untuk membuka jalan napas bayi. bayi akan kembali bernapas. Namun jika bayi terus mengalami kekurangan oksigen selama apnu primer. American Academy of Pediatrics Pada periode ini. Pemberian rangsang taktil pada bayi. Selama periode apnu sekunder. Penilaian dan Langkah Awal 3 Gambar 3. Diambil dari Buku Panduan Resusitasi Neonatus.4 Memposisikan kembali bayi pada posisi menghidu (setengah ekstensi).

dan laju denyut jantung. 2. memosisikan kembali bayi dalam posisi setengah ekstensi. mengeringkan dan menstimulasi bayi.Resusitasi Neonatus Menilai Kembali Upaya Napas dan Laju Denyut Jantung Bayi MUTIARA BERNAS Jangan lupa untuk menilai kembali upaya napas dan laju denyut Rangsang taktil efektif jantung bayi untuk memastikan apakah bayi sudah dalam kondisi diberikan bila bayi berada dalam keadaan apnu stabil atau bahkan mengalami perburukan. namun bila bayi pada resusitasi bayi baru lahir akan dijelaskan lebih lanjut pada Bab berada dalam kondisi apnu 4: Resusitasi Terintegrasi. upaya mengeringkan dengan handuk dapat diganti dengan upaya membungkus bayi dengan kantung plastik polietilen. membuka jalan napas bayi. Khusus untuk resusitasi bayi dengan berat lahir kurang dari 1500 gram. Penilaian awal pada resusitasi neonatus akan menentukan langkah dan tindakan resusitasi selanjutnya. Laju denyut jantung merupakan indikator paling sensitif untuk menilai keberhasilan resusitasi 4. tonus dan oksigenasi 3. pernapasan. sekunder. rangsangan apapun tidak akan berhasil dan ventilasi tekanan positif harus segera dimulai Hal-hal penting 1. Langkah selanjutnya primer. upaya napas. 5. Komponen utama yang wajib dinilai diawal resusitasi adalah tonus otot. dan menilai ulang kondisi bayi. Langkah awal resusitasi meliputi memberi kehangatan.sedangkan komponen yang dinilai pada evaluasi lanjutan sepanjang resusitasi berlangsung adalah laju denyut jantung bayi. 58 .

A Comparative Study of the Changes at Birth. Obtaining pulse oximetry data in neonates. Wyllie JP.org.org. Davis PG. Donath SM. Kattwinkel J. Neonatal Resuscitation. 2.9. Sekhon J. Morley CJ. J Pediatr. Feasibility of and delay in obtaining pulse oximetry during neonatal resuscitation. Kamlin CO. Chicago: Year Book Medical Publishers. 1968. Rao R. Clinical assessment of infant colour at delivery. 152: 756-60. h. Section 11 Newborn Life Support. 10. 2005. Edisi ke-5. Goldsmith LJ.122:S516-38 12. Determination of heart rate in the baby at birth. Davis PG. Penilaian dan Langkah Awal 3 Daftar pustaka 1. 3. Neonatal Resuscitation Program – The textbook of neonatal resuscitation. Perlman JM. 4. Foetal and Neonatal Physiology. 1997. 13.4:153-4.38:762-6. Owen CJ. 2004. O’Donnell CP.au. Carlin JB. resus. Morley CJ. Circulation. Resuscitation. Ramji S. Accuracy of pulse oximetry measurement of heart rate of newborn infants in the delivery room. Whitelaw CC. et al. h. O’Donnell CPF. Dawes GS. Arch Dis Child Fetal Neonatal Ed.92:F465-7. Section 13: Neonatal Guidelines. O’Donnell CPF. Kamlin COF. Arch Dis Child Fetal Neonatal Ed. O’Donnell CPF. American Academy of Pediatrics/ American Heart Association. UK Resuscitation Council.90:F84-5. Morley CJ.3 Assessment of the Newborn Infant. et al. Inc. Kamlin COF. Dawson JA. Diunduh dari www. 2008. Davis PG. Diakses pada 15 Oktober 2013. 2011. Kamlin COF. pdf. a randomized crossover study of sensor application techniques. Morley CJ. Elk Grove Village: American Academy of Pediatrics. J Pediatr. Queensland Maternity and Neonatal Clinical Guidelines Program. Guideline 13. 2005. Acad Emerg Med. Part 11: neonatal resuscitation: 2010 International Consensus on Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care Science With Treatment Recommendations. Pulse oximetry in asphyxiated newbornsin the delivery room. Comparison of two techniques for determining the presence of a pulse in an infant.147:698-9. 2007. Australian Resuscitation Council. 7. 2001. 9. Diunduh dari www. 8. Diakses pada 15 Oktober 2013. Queensland: State of Queensland.8-5. 5. Wyllie J.uk/pages/nls. Indian Pediatr. 2010.60:213-7. 2011. 59 .resus. 11. 6. 2010 Resuscitation Guidelines.

Resusitasi Neonatus

14. Milner AD. Care around birth. Dalam: Rennie JM, penyunting.
Roberton’s Textbook of Neonatology. Edisi ke-4. Philadelphia: Elsevier;
2005.h225-6.
15. Leone TA, Finer NN. Resuscitation at birth. Dalam: Fanaroff AA,
Fanaroff JM, penyunting. Klaus and Fanaroff ’s Care of High-Risk
Neonate. Edisi ke-6. Philadelphia: Elsevier; 2013.h57-8.
16. Knobel RB, Wimmer Jr JE, Holbert D. Heat loss prevention for preterm
infants in the delivery room. J Perinatol. 2005; 25: 304-8.
17. Carroll PD, Nankervis CA, Giannone PJ, Cordero L. Use of polyethylene
bags in extremely low birth weight infant resuscitation for the
prevention of hypothermia. J Reprod Med. 2010;55(1-2):9-13.

60

5
Stabilisasi dan
Transportasi Pasca
Resusitasi
TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Memahami hal-hal yang harus diperhatikan dalam
memertahankan stabilitas bayi baru lahir pasca resusitasi.
2. Memahami mekanisme transportasi bayi baru lahir yang
membutuhkan perawatan.

Stabilisasi neonatus

Bayi baru lahir dengan ventilasi dan sirkulasi adekuat pasca
resusitasi tetap memiliki risiko untuk mengalami perburukan.
Kondisi perburukan tersebut dapat menimbulkan gangguan atau
keterlambatan adaptasi berbagai organ tubuh pada masa perinatal,
sehingga bayi harus senantiasa dipertahankan dalam kondisi stabil
selama proses transportasi maupun ketika menjalani perawatan di
ruang rawat. Upaya untuk memertahankan kondisi stabil pada bayi
pasca resusitasi berpegang pada prinsip STABLE, yaitu: MUTIARA BERNAS
• Sugar and Safe Care (kadar gula darah dan perawatan yang Bayi kurang bulan, bayi
kecil masa kehamilan, bayi
aman)
besar masa kehamilan, bayi
• Temperature (suhu tubuh) dari ibu diabetik dan bayi
sakit memiliki risiko tinggi
• Airway (jalan napas)
mengalami hipoglikemia.

61

Resusitasi Neonatus

• Blood Pressure (tekanan darah)

• Lab Work (pemeriksaan laboratorium)

• Emotional Support (dukungan emosi)

Sugar and Safe Care (Kadar Gula Darah dan Perawatan
yang Aman)
Bayi pasca resusitasi rentan mengalami hipoglikemia. Kondisi ini
berkaitan dengan luaran neurodevelopmental yang buruk terutama
pada bayi dengan asfiksia, bayi yang memperoleh resusitasi, serta
bayi prematur.1 Risiko hipoglikemia juga dialami oleh bayi kecil masa
kehamilan, bayi besar masa kehamilan, bayi dengan hipotermia,
bayi dari ibu diabetik, serta bayi dari ibu yang memperoleh
pengobatan propranolol, obat hipoglikemia oral, atau infus glukosa
saat persalinan. Pada kelompok bayi tersebut hipoglikemia dapat
disebabkan oleh cadangan glukosa yang rendah, hiperinsulinemia,
atau peningkatan penggunaan glukosa. Bayi sakit atau tidak stabil
berisiko mengalami hipoglikemia ketika dipuasakan. Bayi sakit
perlu dipuasakan untuk mencegah aspirasi, mengurangi kejadian
cedera iskemik terkait penurunan aliran darah ke usus, serta
adanya obstruksi usus.1,2 Hingga saat ini batasan kadar gula darah
yang berkaitan dengan luaran yang buruk belum dapat ditentukan
namun kadar gula darah pada bayi baru lahir harus senantiasa
diupayakan dalam rentang normal (50-110 mg/dL).1

Pemeriksaan kadar gula darah pada bayi sakit atau bayi dengan
risiko hipoglikemia harus segera dilakukan dalam 30-60 menit
setelah lahir dan jika bayi menunjukkan tanda-tanda hipoglikemia
antara lain jitteriness, iritabilitas, hipotonia, letargi, menangis lemah
atau melengking, hipotermia, refleks hisap buruk, takipnea, sianosis,
apnea, atau kejang. Pemeriksaan dapat diulang dalam 1-3 jam
sesuai hasil pemeriksaan kadar gula darah dan kondisi bayi.1-3 Jika
kadar gula darah menetap dalam rentang normal maka frekuensi
pemeriksaan dapat dikurangi atau dihentikan. Pemeriksaan kadar

62

ulangi bolus D10 2 mL/kg. • Apabila kadar gula darah > 150 mg/dL pada 2 pemeriksaan berurutan. • Untuk maintenance berikan infus D10 sebanyak 60-80 mL/kg/ hari (GIR 4. • Dokumentasi respon terapi.5 mg/kg/menit). • Apabila kadar gula darah tetap < 50 mg/dL. • Evaluasi kadar gula darah setiap 30-60 menit hingga kadar gula darah mencapai > 50 mg/dL minimal 2 kali pemeriksaan berurutan.3 Apabila bayi sakit yang dipuasakan memiliki kadar gula darah <50 mg/dL maka bayi harus diterapi dengan cairan glukosa intravena dengan langkah sebagai berikut: MUTIARA BERNAS Cairan glukosa dengan • Berikan bolus D10 sebanyak 2 mL/kg dengan kecepatan 1 mL konsentrasi lebih dari per menit. Kadar gula darah >250 mg/dL yang 63 . Hindari pemberian bolus D25 atau D50 karena 12. alat analisis gas darah. • Apabila kadar gula darah tetap < 50 mg/dL setelah 2 kali bolus D10. ulangi bolus dan tingkatkan jumlah glukosa intravena hingga 100-120 mL/kg/hari atau tingkatkan konsentrasi glukosa intravena menjadi D12. Periksa kembali kadar gula darah 15-30 menit setelah pemberian bolus glukosa atau peningkatan kecepatan infus glukosa.1. atau melalui pemeriksaan laboratorium. namun terapi tidak boleh ditunda hingga hasil pemeriksaan laboratorium selesai. melalui jalur perifer. pikirkan kemungkinan stres atau prematuritas sebagai penyebab.2-5.5 atau D15. Perlu diperhatikan bahwa pemeriksaan kadar gula darah whole blood akan memberikan hasil 15% lebih rendah dibanding pemeriksaan serum darah.5% tidak boleh diberikan dapat menyebabkan hiperglikemia dan hipoglikemia rebound. Dengan demikian hasil pemeriksaan kadar gula darah yang rendah dengan strip sebaiknya dikonfirmasi dengan pemeriksaan laboratorium. Stabilisasi dan Transportasi Pasca Resusitasi 5 gula darah dapat dilakukan dengan menggunakan strip gula darah.

berat lahir rendah (terutama < 1500 gram) dan kecil masa kehamilan memiliki risiko yang lebih besar. atau anestesi. tonus dan kemampuan fleksi rendah. pemberian minum secara dini dalam 30-60 menit setelah lahir yang dilanjutkan minimal setiap 3 jam atau lebih sering jika bayi mau.3 Temperature (Suhu Tubuh) MUTIARA BERNAS Upaya untuk memertahankan suhu tubuh normal menjadi prioritas Pencegahan hipotermia utama dalam resusitasi maupun stabilisasi bayi baru lahir. jantung.1. Suhu sangat penting untuk aksila normal pada bayi baru lahir berkisar antara 36. dan berat (< 32oC). Risiko hipotermia juga dimiliki oleh bayi yang membutuhkan resusitasi berkepanjangan terutama disertai hipoksia. jumlah lemak yang lebih sedikit. • Cairan dekstrosa >12.4oC). Hipoglikemia dapat dihindari dengan cara mencegah terjadinya hipotermia. bayi dengan penyakit akut (masalah infeksi. neurologi.5-37. paralitik.Resusitasi Neonatus tidak membaik memerlukan pemberian insulin dan perlu dikonsultasikan pada ahli neonatologi atau endokrinologi.5% harus diberikan melalui akses vena sentral yaitu akses umbilikal. Setiap bayi berisiko mengalami hipotermia namun bayi kurang bulan. kemampuan vasokonstriksi rendah.5oC. endokrin. selama resusitasi maupun Pemantauan suhu perlu dilakukan setiap 15-30 menit hingga suhu stabilisasi berada pada rentang normal dan minimal setiap jam sampai bayi dipindahkan. Hal ini disebabkan karena kelompok bayi tersebut memiliki rasio permukaan tubuh dibanding massa tubuh yang lebih luas. serta bayi yang kurang aktif atau hipotoni akibat obat sedatif. serta simpanan lemak coklat sedikit. Bayi dapat mengalami perburukan klinis yang signifikan sebelum 64 .4 Secara umum hipotermia diklasifikasikan menjadi hipotermia ringan (36-36. analgesik. dan mulai pemberian infus dekstrosa 10% sebanyak 60 mL/kg/hari apabila pemberian nutrisi secara enteral tidak memungkinkan. dan memerlukan pembedahan terutama dengan defek dinding tubuh). kulit tipis. sedang (32-35.9oC).

1 Kehilangan panas tubuh dapat terjadi melalui 4 mekanisme yaitu konduksi. • Meletakkan bayi di bawah infant warmer saat dilakukan resusitasi atau tindakan pada bayi. Respons tersebut akan meningkatkan laju metabolisme serta konsumsi oksigen dan glukosa sehingga dapat memicu terjadinya hipoksia dan hipoglikemia. 65 . • Menggunakan inkubator transpor yang telah dihangatkan atau kontak kulit dengan kulit (jika tidak tersedia inkubator transpor) saat memindahkan bayi dari kamar bersalin ke ruang perawatan. stetoskop. • Mengenakan topi pada kepala bayi. • Membungkus bayi berat lahir < 1500 gram dengan plastik bening dari kaki hingga setinggi leher bayi (jangan sampai menutup wajah atau menghambat jalan napas). konveksi.2: • Menaikkan suhu ruangan menjadi 25-28oC dan tidak meletakkan bayi di bawah pendingin ruangan. • Memberikan oksigen yang telah dihangatkan dan dilembabkan. Proses ini dipercepat oleh permukaan kulit yang basah. Risiko hipoglikemia terkait hipotermia lebih besar pada bayi kurang bulan yang memiliki sedikit cadangan glikogen. peningkatan aktivitas dan postur tubuh fleksi. • Menghangatkan inkubator terlebih dahulu sebelum meletakkan bayi di dalamnya. Berbagai upaya pencegahan hipotermia selama stabilisasi dapat dilakukan dengan cara1. dan radiasi (lihat gambar 1). evaporasi. Hipotermia akan menimbulkan respons berupa vasokonstriksi pembuluh darah perifer. dan tangan. selimut. serta metabolisme lemak coklat guna menurunkan kehilangan panas dan meningkatkan produksi panas. • Menghangatkan benda yang akan bersentuhan dengan bayi misal tempat tidur. dan pergerakan udara melewati bayi yang meningkat. suhu ruangan yang dingin. Stabilisasi dan Transportasi Pasca Resusitasi 5 mengalami hipotermia berat.

Mekanisme kehilangan panas pada bayi baru lahir Perlu diperhatikan bahwa upaya pencegahan hipotermia jangan sampai menimbulkan luka dan hipertermia pada bayi terutama pada bayi dengan ensefalopati hipoksik-iskemik. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan rewarming antara lain1: • Rewarming yang terlalu cepat dapat mengakibatkan perburukan klinis. yang ditandai oleh takikardia. 66 . perburukan distres napas. hipotensi. dan perburukan asidosis. Inkubator atau infant warmer yang digunakan sebaiknya memiliki skin probe dengan mode kontrol servo agar suhu bayi terpantau dengan baik.Resusitasi Neonatus Gambar 5. gangguan irama jantung. hipoksemia yang ditandai desaturasi.1. Kecepatan rewarming tidak lebih dari 0. Prosedur rewarming harus dilakukan pada bayi yang mengalami hipotermia.5OC/jam untuk menghindari vasodilatasi mendadak dan hipotensi.

serta kadar gula darah. Titrasi oksigen untuk memertahankan target saturasi oksigen. Komponen yang dievaluasi meliputi1. merintih. Laju napas kurang dari 30 kali per menit disertai penggunaan otot napas tambahan menandakan bayi mengalami kelelahan bernapas. Saat suhu rektal telah mencapai normal. Evaluasi distres napas harus senantiasa dilakukan selama periode stabilisasi. status asam basa (jika memungkinkan). Airway (Jalan Napas) Distres napas merupakan salah satu alasan utama bayi membutuhkan perawatan.2: • Laju napas Laju napas normal pada bayi berkisar antara 40-60 kali per menit. • Saat melakukan rewarming. tekanan darah. • Usaha napas Meliputi penilaian air entry. 67 . Stabilisasi dan Transportasi Pasca Resusitasi 5 • Rewarming dapat dilakukan dengan menggunakan inkubator atau infant warmer. Pemantauan lain yang perlu dilakukan selama rewarming meliputi laju dan irama denyut jantung. retraksi. Napas megap-megap dapat menjadi tanda ancaman henti napas. • Kebutuhan oksigen Kebutuhan oksigen disesuaikan dengan kondisi klinis bayi dan saturasi oksigen. laju dan usaha napas. suhu aksila dapat diukur. Inkubator memungkinkan tenaga kesehatan dapat mengontrol proses rewarming lebih baik dibanding infant warmer. dan apnea. suhu permukaan kulit bayi umumnya lebih tinggi dibanding suhu rektal sehingga pemantauan suhu rektal penting dilakukan sampai mencapai suhu normal. napas cuping hidung. saturasi oksigen.

Jika laju napas > kemungkinan infeksi dapat 60kali/menit disertai pCO2 yang tinggi maka penyebab distres napas disingkirkan dapat dicurigai berasal dari paru seperti sindrom gawat napas. hangatkan kaki/ tumit selama 3-5 menit untuk memerbaiki aliran darah ke area pengambilan sampel. Tabel 5.Resusitasi Neonatus • Saturasi oksigen Saturasi oksigen dipertahankan antara 88-92%. karena penyebab lain sehingga kultur darah Distres napas bukanlah suatu diagnosis melainkan suatu dan pemberian antibiotik manifestasi klinis yang disebabkan oleh berbagai kelainan yang perlu dilakukan sampai melibatkan paru maupun organ selain paru. Perbedaan saturasi preduktal dan postduktal lebih dari 10% menandakan adanya pirau. Hasil analisis gas darah pada bayi Arteri Kapiler* pH 7.45 7. • Gas darah Pemeriksaan ini terutama dilakukan jika bayi membutuhkan oksigen atau kemungkinan mengalami syok. Penilaian analisis gas darah penting untuk menentukan derajat distres napas serta membantu diagnosis dan tatalaksana distres napas.30-7.45 pCO2 35-45 mmHg 35-50 mmHg pO2 (dalam udara ruangan) 50-80 mmHg 35-45 mmHg (tidak dapat digunakan untuk menilai oksigenasi) Bikarbonat (HCO3-) 19-26 mEq/L 19-26 mEq/L Base excess -4 sampai +4 -4 sampai +4 *Sebelum pengambilan darah kapiler.30-7.1 MUTIARA BERNAS Penilaian derajat gangguan napas pada bayi baru lahir dapat Distres napas yang dilakukan menggunakan skor Downe (Downe score). Skor ini dapat disebabkan infeksi sulit dibedakan dengan distres digunakan pada berbagai kondisi dan usia gestasi. 68 . Hasil analisis gas darah yang normal pada bayi baru lahir dapat dilihat pada tabel 5.1.1. Pengukuran saturasi oksigen sebaiknya dilakukan pada pre-duktal (tangan kanan) dan post-duktal (salah satu kaki).

2. Distres napas pada obstruksi jalan napas bagian atas umumnya disertai dengan stridor inspiratori. sedangkan jika pCO2 rendah maka distres napas mungkin disebabkan oleh organ di luar paru seperti penyakit jantung bawaan. sehingga udara dapat masuk dengan mudah. Pada pneumotoraks juga dapat ditemukan kelainan kardiovaskular seperti takikardia atau bradikardia selain distres napas. aspirasi. Hal ini dapat dilakukan dengan mengganjal bahu dengan gulungan kain. pneumonia. Deteksi pneumotoraks dapat dilakukan dengan cara transiluminasi dan dikonfirmasi dengan foto toraks (lihat gambar 5. Posisi telentang ini juga merupakan posisi terbaik untuk melakukan ventilasi dengan balon-sungkup ataupun pemasangan pipa endotrakeal. laring dan trakea dalam satu garis lurus. asidosis metabolik dan syok. Bayi juga dapat diposisikan telentang dengan sedikit tengadah untuk memosisikan faring. Deteksi pneumotoraks dengan transiluminasi Diunduh dari http://www.1 Stabilisasi jalan napas perlu dilakukan untuk memertahankan jalan napas tetap terbuka. serta pneumotoraks. perdarahan paru. terutama pada pneumotoraks tension. atau penyakit otak. Stabilisasi dan Transportasi Pasca Resusitasi 5 Gambar 5.2). carolinacoreconcepts. Syok merupakan suatu keadaan kompleks berupa disfungsi sirkulasi yang mengakibatkan pengangkutan oksigen 69 . Blood pressure (Tekanan Darah) Bayi dapat mengalami gangguan sirkulasi berupa syok selama masa stabilisasi. obstruksi jalan napas.com.

infeksi. Syok septik umumnya memberikan respons lemah terhadap resusitasi cairan sehingga bayi seringkali membutuhkan obat inotropik atau vasopresor untuk mengatasi tekanan darah yang rendah. Syok septik Merupakan disfungsi sirkulasi yang disebabkan oleh reaksi sistemik kompleks sebagai respons terhadap infeksi berat. kelainan metabolik dan/ atau gangguan elektrolit berat. atau napas megap-megap. hipoglikemia berat. Bayi dengan syok cenderung memperlihatkan tanda sebagai berikut1. yang belum matang.Resusitasi Neonatus dan nutrisi tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan jaringan. MUTIARA BERNAS Kondisi ini dapat menimbulkan efek yang sangat merugikan pada Bantuan ventilasi diberikan bayi prematur berupa risiko perdarahan intraventrikular dan secara bertahap sesuai dengan derajat distres leukomalasia periventrikular akibat kemampuan autoregulasi otak napas yang dialami.6 • Peningkatan usaha napas.5 Secara umum syok dibedakan menjadi 3 bentuk yaitu: a. hipoksia dan/ atau asidosis metabolik. Ada kalanya syok yang terjadi merupakan kombinasi dari ketiga bentuk syok di atas. Syok kardiogenik Merupakan disfungsi sirkulasi yang disebabkan oleh fungsi otot-otot jantung yang lemah (gagal jantung). aritmia. apnea.5. Risiko kerusakan organ dan kematian sangat tinggi pada bentuk syok ini. Penyebab syok hipovolemik dapat berupa perdarahan maupun non perdarahan (misal kebocoran kapiler. hipotensi fungsional) b. dan penyakit jantung bawaan. • Pulsasi perifer lemah 70 . c. dehidrasi. Kondisi ini dapat ditemukan pada bayi dengan asfiksia. Syok hipovolemik Merupakan disfungsi sirkulasi yang disebabkan oleh volume sirkulasi darah yang rendah. gangguan napas berat (membutuhkan bantuan ventilasi).

kulit tampak mottled • Sianosis atau pucat • Takikardia atau bradikardia. meningkatkan oksigenasi dan perfusi jaringan. hipoglikemia. tamponade. • Tekanan darah dapat normal atau rendah. Tata laksana syok diawali dengan identifikasi penyebab syok. gagal jantung. dan seterusnya.lihat Gambar 5. sedangkan tekanan nadi yang melebar ditemukan pada aortic runoff seperti duktus arteriosus paten signifikan atau malformasi arteriovena besar • Oliguria. Evaluasi capillary refill time1 71 .3.3. yang diikuti dengan identifikasi dan koreksi masalah yang menimbulkan gangguan fungsi jantung seperti hipovolemia. Stabilisasi dan Transportasi Pasca Resusitasi 5 • Perfusi perifer yang buruk. aritmia. Tekanan nadi yang menyempit ditemukan pada vasokonstriksi perifer. menurunkan pembentukan asam laktat dan metabolisme anaerob. serta meningkatkan Gambar 5. Perlu diperhatikan bahwa produksi urin cenderung rendah dalam 24 jam pasca kelahiran sehingga tidak dapat dijadikan parameter untuk menentukan syok. Tatalaksana syok secara umum bertujuan untuk menormalkan pH. Pada takikardia singkirkan kemungkinan aritmia sedangkan pada bradikardia singkirkan kemungkinan blok pada jantung. atau cardiac output rendah.). Tekanan darah yang rendah merupakan tanda lanjut dari dekompensasi jantung • Tekanan nadi dapat menyempit atau melebar. hipoksemia. kulit dingin. ditandai pemanjangan pengisian kapiler (capillary refill time/ CRT> 3 detik . gangguan elektrolit.

Resusitasi Neonatus

curah jantung. Perawatan suportif harus segera diberikan yaitu
menjaga patensi jalan napas, memberikan terapi oksigen, serta
memasang akses intravaskular atau intraoseus. Tatalaksana
selanjutnya disesuaikan dengan masing-masing bentuk syok yang
terjadi.

Tatalaksana pada syok hipovolemik meliputi pemberian
cairan kristaloid dan/atau produk darah (packed red cell/ PRC atau
whole blood) guna meningkatkan volume intravaskular. Cairan
kristaloid yang umum digunakan adalah larutan salin normal
atau ringer laktat. Apabila tidak terdapat kehilangan darah akut,
cairan kristaloid tersebut diberikan 10 mL/kg/kali secara intravena,
intraoseus, atau melalui kateter vena umbilikal dalam waktu 15-30
menit (pemberian dalam waktu singkat sesuai kondisi bayi). Hati-
hati pemberian bolus pada bayi premature sebaiknya diberikan lebih
dari 20 menit. Bolus cairan dapat diberikan dua kali atau lebih pada
kasus syok berat. Jika terdapat kehilangan darah kronik, beberapa
bayi dalam keadaan syok berat tidak dapat mentoleransi pemberian
cairan penambah volume secara cepat. Pada kehilangan darah akut,
cairan kristaloid dapat diberikan sambil menunggu transfusi produk
darah. Cairan diberikan sebanyak 10 mL/kg/kali secara intravena,
intraoseus, atau melalui kateter vena umbilikal selama 30 menit-2
jam (dapat lebih cepat tergantung kondisi bayi). Dalam keadaan
darurat yang tidak memungkinkan cross match darah bayi, transfusi
produk darah golongan O-Rhesus positif dapat diberikan (untuk
orang Indonesia). Respons bayi (laju denyut jantung, perfusi, dan
tekanan darah) harus senantiasa dinilai pada akhir pemberian bolus
sehingga dapat diputuskan pemberian bolus selanjutnya.

Tatalaksana syok kardiogenik ditujukan untuk mengoreksi
gangguan yang memengaruhi fungsi jantung (hipoksia, hipoglikemia,
hipotermia, hipotensi, asidosis, aritmia, infeksi, serta gangguan
keseimbangan elektrolit). Tatalaksana syok septik merupakan
kombinasi antara syok hipovolemik dan syok kardiogenik. Jumlah
cairan yang diberikan pada syok kardiogenik maupun syok septik

72

Stabilisasi dan Transportasi Pasca Resusitasi 5

sama dengan pada syok hipovolemik namun pada syok septik dapat
diperlukan bolus cairan lebih banyak akibat adanya kebocoran
cairan dari intravaskular ke ekstravaskular atau interstisial. Pada
syok kardiogenik maupun syok septik dapat diberikan terapi:

• Natrium bikarbonat 4,2% (0,5 mEq/mL), dengan dosis 2-4 mL/
kg/kali selama 30-60 menit intravena untuk mengatasi asidosis
metabolik berat (pH < 7,15 dan bayi diventilasi dengan adekuat).
Perlu diperhatikan bahwa natrium bikarbonat merupakan cairan
yang sangat hipertonik sehingga pemberian terlalu cepat dan tanpa
diencerkan dapat menyebabkan perdarahan intraventrikular pada
bayi kurang bulan.

• Dopamin hidroklorida, dengan dosis 5-20 mcg/kg/menit secara
kontinyu melalui pompa intravena untuk meningkatkan
kontraktilitas jantung dan tonus vaskular.

Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
pemberian infus dopamin yaitu:1

1. Pada sebagian besar kasus bolus cairan (ekspansi volume)
diberikan sebelum memutuskan pemberian dopamin.

2. Dosis awal pemberian dopamin disesuaikan dengan status
klinis bayi dan penyebab hipotensi. Dosis dopamin dimulai dari
5 mcg/kg/menit dan dapat dinaikkan (atau diturunkan) sebesar
2,5 mcg/kg/menit.

3. Pantau tekanan darah dan denyut jantung setiap 1-2 menit
selama 15 menit lalu setiap 2-5 menit tergantung respons
pengobatan. Apabila bayi tidak memperlihatkan respons dengan
dosis 20 mcg/kgBB/menit, maka peningkatan dosis lebih lanjut
tidak dianjurkan.
MUTIARA BERNAS
4. Gunakan pompa infus dalam memberikan dopamin.
Kecukupan cairan harus
5. Berikan dopamin melalui vena umbilikal jika posisi kateter telah dipastikan sebelum
dikonfirmasi dengan foto toraks dan ujung kateter terletak di pemberian inotropik.
atas hepar pada percabangan vena cava inferior/ atrium kanan.
Jika tidak terdapat akses vena sentral, dopamin dapat diberikan

73

Resusitasi Neonatus

melalui jalur intravena perifer. Pantau adanya ekstravasasi pada
tempat masuk infus dan ganti bila perlu.

6. Infus dopamin tidak boleh diberikan melalui arteri termasuk
kateter arteri umbilikal.

7. Jangan melakukan flush pada jalur infus yang mengandung
dopamin karena dapat menyebabkan peningkatan tekanan
darah dan penurunan denyut jantung secara mendadak.

Lab Work (Pemeriksaan Laboratorium)
Bayi baru lahir rentan untuk mengalami infeksi akibat sistem imun
yang belum sempurna. Evaluasi dan tatalaksana infeksi merupakan
hal penting dalam masa stabilisasi terutama pada bayi dengan faktor
risiko infeksi (lihat tabel 5.2). Tanda dan gejala infeksi yang tidak
spesifik dan bervariasi pada bayi baru lahir sering menimbulkan
kesulitan dalam memutuskan pemberian antibiotik. Dalam hal ini
pemeriksaan laboratorium memegang peranan penting sebagai
indikator awal terjadinya infeksi. Pemeriksaan laboratorium yang
dianjurkan untuk diperiksa sebelum bayi ditranspor disingkat
dengan 4B yang meliputi:

• Blood count

Darah lengkap termasuk hitung jenis leukosit.

• Blood culture

Darah diambil dengan teknik steril, dalam jumlah cukup, dan
sebelum pemberian antibiotik.

• Blood glucose

Kadar gula darah diperiksa dini dan pantau dengan ketat sesuai
indikasi.

• Blood gas

Pemeriksaan dilakukan pada bayi dengan distres napas atau
dengan riwayat syok.

74

2. antibiotik sebaiknya diberikan sebelum bayi dirujuk. Mengucapkan selamat atas kelahiran bayi dan memanggil bayi dengan nama yang sudah dipersiapkan oleh keluarga. Dukungan emosional sangat diperlukan oleh orangtua/ keluarga dalam situasi ini. takut. Stabilisasi dan Transportasi Pasca Resusitasi 5 Pemeriksaan laboratorium pasca transpor disesuaikan dengan riwayat. 3.7 Dukungan bagi orangtua/ keluarga sebaiknya diberikan sejak awal hingga bayi menjalani perawatan dalam bentuk: 1. 75 .1 Bila bayi dicurigai mengalami infeksi. Mengijinkan ibu untuk melihat bayi.1. terutama ibu. Faktor risiko infeksi pada bayi baru lahir Ketuban pecah dini Kelahiran prematur Korioamnionitis Ibu mengalami infeksi atau sakit Ibu mengalami demam pada masa peripartum (>38oC) Ibu mengalami infeksi saluran kemih Ketuban pecah > 18 jam Prosedur invasif pada bayi setelah lahir atau selama perawatan (misal pemasangan infus atau pipa endotrakeal) Emotional Support (Dukungan Emosional) Orangtua bayi yang menjalani perawatan umumnya akan mengalami krisis emosi. Tabel 5. sedih.4. Mengambil foto dan jejak kaki bayi. faktor risiko. gagal. Orangtua. marah. Perlu diperhatikan bahwa tatalaksana infeksi pada bayi baru lahir tidak hanya tergantung pada hasil pemeriksaan laboratorium saja melainkan harus mempertimbangkan riwayat dan manifestasi klinis. dan manifestasi klinis bayi.2. tidak percaya. hingga depresi. Pada awalnya mungkin mereka tidak menunjukkan ekspresi emosi apapun bahkan tidak memiliki pertanyaan dan cenderung bingung menghadapi situasi yang tidak mereka persiapkan ini. selanjutnya dapat merasa bersalah.

5. menurunkan risiko perdarahan intraventrikular dan enterokolitis nekrotikans. 7.Resusitasi Neonatus 4. Memberikan kesempatan kepada orangtua untuk bertanya mengenai keadaan bayi.10.11 76 . 6. HAL-HAL YANG PERLU DIPIKIRKAN SETELAH RESUSITASI Penundaan pemotongan tali pusat Penundaan pemotongan tali pusat dapat meningkatkan volume darah hingga 8–24% (2-16 mL/kg pasca persalinan sesar dan 10- 28 mL/kg pasca persalinan normal) pada bayi dengan berat lahir sangat rendah (BBLSR) sehingga mencegah gangguan sirkulasi dan perfusi jaringan yang dapat menyebabkan kerusakan otak. Memberikan penjelasan secara sederhana namun akurat kepada orangtua mengenai keadaan bayi dan rencana tatalaksana. menghasilkan stabilitas tekanan darah yang lebih baik. Menawarkan dukungan dari pihak lain seperti kerabat atau pemuka agama. Penundaan pemotongan tali pusat selama 30 detik sampai 120 detik pada bayi yang tidak membutuhkan resusitasi akan menurunkan kebutuhan transfusi.9 Pemberian vitamin K1 (fitomenadion) Vitamin K1 diberikan pada semua bayi baru lahir untuk mencegah perdarahan akibat defisiensi vitamin K. Melibatkan orangtua dalam perawatan bayi serta dalam pengambilan keputusan terkait tatalaksana.8. Penyuntikan vitamin K dilakukan segera setelah lahir (paling lambat 2 jam setelah lahir) sebelum vaksinasi hepatitis B dengan dosis 1 mg intramuskular pada paha kiri.

dengan demikian setiap pelayanan kesehatan yang melayani kelahiran bayi harus memiliki sekurang-kurangnya kemampuan standar resusitasi dan stabilisasi. Mekanisme transportasi yang efektif dapat berada dalam kondisi stabil menghasilkan luaran baik pada bayi yang dirujuk. Penting untuk dipahami bahwa bayi baru boleh dipindahkan/ dirujuk setelah bayi dalam keadaan stabil. penyakit perinatal.4). Gambar 5. dan kelainan kongenital Transportasi hanya tidak dapat diperkirakan dan transportasi harus dilakukan setelah dilakukan apabila bayi bayi dilahirkan.4. termasuk kemampuan merujuk. Transportasi bayi baru lahir sebaiknya dilakukan dengan menggunakan inkubator transpor namun transportasi di fasilitas terbatas juga dapat dilakukan dengan metode kontak kulit dengan kulit (metode kanguru) (lihat Gambar 5. Tindakan merujuk harus dilakukan oleh tim transpor khusus yang terlatih dan berpengalaman dengan sistem terorganisir yang memungkinkan pemantauan dan perawatan setara dengan perawatan tingkat lanjut. Stabilisasi dan Transportasi Pasca Resusitasi 5 MEKANISME RUJUKAN DAN TRANSPORTASI Tenaga kesehatan harus mampu mengenali masalah pada bayi baru lahir yang tidak dapat ditangani di sarana pelayanan kesehatan tempat bayi tersebut dilahirkan dan memutuskan untuk segera merujuk. Metode transportasi bayi baru lahir (a) inkubator transpor (b) metode kontak kulit dengan kulit (metode kanguru) 77 . Pada dasarnya merujuk ketika bayi masih di dalam kandungan merupakan metode rujukan terbaik namun seringkali MUTIARA BERNAS kelahiran prematur.

Anggota tim transpor harus disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi bayi yang ditranspor (lihat tabel 5. Perangkat ventilasi dan sirkulasi yang terpasang pada bayi harus difiksasi dengan baik agar tidak terlepas selama perjalanan.4. Cara melakukan fiksasi pipa endotrakeal dan kateter umbilikal dapat dilihat pada gambar 5.5. perawat neonatus. • Kendaraan dan peralatan Kendaraan yang digunakan dalam merujuk bayi baru lahir harus memenuhi ketentuan tunjangan hidup dasar. Secara umum transpor bayi yang menggunakan peralatan invasif dan diperkirakan akan membutuhkan resusitasi emergensi selama perjalanan harus didampingi oleh dokter dan disupervisi oleh konsultan neonatologi yang selalu siap dihubungi melalui telpon (oncall). mampu mengenali tanda bahaya serta melakukan tatalaksana segera. Kendaraan tersebut harus efisien dan memberikan keamanan bagi pasien serta tenaga medis yang mendampingi. serta dapat memberi ruang bagi tenaga medis untuk melakukan tindakan yang diperlukan (misal memasang pipa endotrakeal). tabung oksigen. Peralatan lain yang dibutuhkan selama transportasi dapat dilihat pada tabel 5.Resusitasi Neonatus Beberapa komponen penting dalam sistem transportasi bayi baru lahir meliputi: • Sumber daya manusia Tim transpor umumnya terdiri dari 2-3 orang tenaga medis (dokter.3). Kendaraan ini juga harus mampu memuat peralatan transportasi bayi seperti inkubator transpor dengan/tanpa ventilator (pada fasilitas lengkap). alat suction. Setiap peralatan yang terdapat dalam kendaraan transpor harus bersifat tahan benturan/ ‘crash stable’ dan difiksasi selama perjalanan sehingga 78 . atau tenaga medis lain) yang terlatih dalam perawatan esensial bayi baru lahir selama transportasi. monitor kardiovaskular.

Bayi yang dirujuk untuk pembedahan. Komunikasi harus senantiasa dilakukan sebelum. Fiksasi pipa endotrakeal 79 . Bayi stabil yang melakukan konsultasi rawat jalan (bukan  intervensi) dan waktu tunggu tidak melebihi 1 jam aman bagi bayi maupun tenaga medis yang menyertai. Anggota tim transpor sesuai kriteria bayi12 Transportasi oleh dokter dan perawat Transportasi oleh perawat saja  Bayi yang memerlukan perawatan intensif Bayi perawatan khusus yang stabil   Bayi dengan berat < 1000 gram Bayi dengan ketergantungan tinggi yang telah stabil selama   Bayi dengan usia gestasi < 28 minggu dan usia postnatal < 48 jam tanpa peningkatan kebutuhan oksigen dan tanpa 48 jam bradikardia atau desaturasi signifikan  Bayi dengan CPAP nasal dalam 2 hari setelah ekstubasi Bayi dengan CPAP nasal yang telah stabil selama 48 jam   Bayi dengan ketergantungan tinggi dan tidak stabil tanpa peningkatan oksigen dan tidak mengalami bradikardia  Bayi dengan masalah jantung kompleks atau atau desaturasi signifikan dalam waktu dekat membutuhkan obat untuk memertahankan lesi duct. faktor risiko antenatal. selama. Beberapa hal yang perlu disampaikan pada unit rujukan mencakup riwayat kelahiran bayi. tindakan yang telah Gambar 5. • Komunikasi dan dukungan keluarga Salah satu kunci keberhasilan transportasi adalah komunikasi yang efektif antara pelayanan kesehatan yang merujuk dan unit rujukan. dalam kondisi stabil  dependent sebelum transpor dan tidak membutuhkan intervensi untuk  Bayi dengan masalah bedah kompleks memertahankan stabilitas  Bayi dengan masalah neurologis yang membutuhkan Bayi dengan kelainan neurologi yang telah stabil selama 48  pemantauan dan terapi untuk memertahankan stabilitas jam  Bayi yang dirujuk untuk intervensi dalam satu hari.3. dan setelah mencapai unit rujukan.5. Stabilisasi dan Transportasi Pasca Resusitasi 5 Tabel 5. misal Bayi yang telah diekstubasi selama 24 jam dari intubasi elektif  terapi retinopati terkait prematuritas atau pemeriksaan untuk pembedahan dan stabil sebelum intervensi jalan napas.

pelindung panas Dukungan respiratori: Tabung oksigen dan udara dengan indikator tekanan dan kandungan gas yang sesuai Flowmeter Sungkup dan kanul nasal neonatus Oxygen analyzer Balon tekanan positif Peralatan continuous positive airway pressure (CPAP): nasal prong dan pipa endotrakeal Ventilator mekanik Pipa endotrakeal ukuran 2. 50 mL) Spalk. Tim perujuk juga perlu memastikan ketersediaan tempat di unit rujukan terlebih dahulu sebelum menghubungi tim transpor.4.5. 26 G) Spuit (2. serta perkembangan kondisi bayi. 0. 12 Fr) Alat suction dengan batas tekanan < 100 mmHg Feeding Tube (8 Fr) dan spuit 20 mL untuk dekompresi oro-gastrik Sarung tangan steril. Tabel 5. pulse oxymeter Alat pantau gula darah Peralatan infus parenteral: Kateter intravena (24. prognosis. Fenobarbital. dan 1 Baterai dan lampu cadangan untuk laringoskop Stilet dan plester untuk fiksasi pipa endotrakeal Perangkat suction: Kateter suction (ukuran 5. sodium bikarbonat Dopamin. 20. 8.Resusitasi Neonatus dilakukan. Midazolam Normal salin. Komunikasi juga perlu dilakukan dengan orangtua meliputi kondisi bayi. Orangtua harus diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan terkait prosedur transportasi dan perawatan bayi mereka. monitor jantung.0.3. selimut insulator.4. dan informasi mengenai sistem transportasi yang digunakan dan unit rujukan.3. 10. set infus (diusahakan kompatibel dengan syringe pump/ infuse pump) Obat-obatan: Kalsium glukonas 10% Epinefrin (1:10000) diisi dalam spuit. dressing transparan atau micropore Three way stopcock. 5. Dobutamin. Morfin.5. Surfaktan 80 . 6. Peralatan yang dibutuhkan selama transportasi bayi baru lahir Dukungan termal: Inkubator transpor (pada fasilitas lengkap)/transpor secara skin to skin (pada fasilitas terbatas) Termometer dan/ atau monitor suhu disertai probes Plastik.0 mm Laringoskop dengan blade ukuran 00. perawatan yang diperlukan. air steril untuk irigasi Perangkat pemantauan: Stetoskop. 10.

• Umpan balik dari unit rujukan Unit rujukan harus memberi informasi kepada pihak yang merujuk terkait kondisi bayi.7. Stabilisasi dan Transportasi Pasca Resusitasi 5 • Dokumentasi dan informed consent Kondisi dan tatalaksana bayi sebelum dan selama transportasi harus selalu didokumentasikan untuk diserahkan pada pada unit rujukan. dan kemungkinan lama rawat.6. diagnosis. Persetujuan keluarga terkait pemindahan bayi ke unit rujukan dinyatakan dalam bentuk tertulis (informed consent). Apabila kondisi bayi membaik dan dikembalikan ke unit perujuk untuk melanjutkan perawatan sebaiknya disertai dengan surat berisi tatalaksana dan lama perawatan bayi di unit rujukan. prognosis. Peranan CPAP dan intubasi dalam transportasi bayi baru lahir Continuous positive airway pressure (CPAP) merupakan suatu metode bantuan ventilasi yang telah digunakan secara luas dalam penanganan distres napas pada bayi kurang bulan maupun cukup Gambar 5. CPAP transportasi dengan T-piece resuscitator Neopuff® terbatas) (fasilitas lengkap) 81 . CPAP transportasi dengan Jackson Rees (fasilitas Gambar 5.

Beberapa studi yang ada memperlihatkan bahwa CPAP dianggap efektif dan aman untuk digunakan dalam transportasi bayi baru lahir melalui darat. CPAP transportasi dengan T-piece resuscitator Mixsafe portabel berbaterai (fasilitas terbatas) bulan di unit perawatan neonatus.Resusitasi Neonatus Gambar 5.15.16 Penggunaan CPAP dalam transportasi udara masih membutuhkan studi lebih lanjut. Penggunaan CPAP cenderung meningkat karena memiliki risiko cedera paru dan kejadian penyakit paru kronik yang lebih rendah dibanding intubasi dan ventilasi mekanik. Transportasi bayi dengan CPAP harus didampingi oleh dokter anak atau residen yang telah terlatih dalam intubasi endotrakea dan resusitasi.8.13. dengan kendaraan yang dilengkapi peralatan resusitasi serta memiliki ruang yang cukup untuk dilakukan tindakan intubasi 82 .14 Hingga saat ini studi mengenai efektivitas dan keamanan penggunaan CPAP dalam transportasi bayi baru lahir masih sangat terbatas.

kemungkinan perburukan kondisi bayi. CPAP sebaiknya diberikan melalui nasal prong yang telah difiksasi dengan baik agar tidak terlepas atau mengalami perubahan posisi selama perjalanan. Stabilisasi dan Transportasi Pasca Resusitasi 5 dan resusitasi. dan keadaan saat transportasi yang dapat menyulitkan untuk dilakukan intubasi (misal malam hari.17 Pada keadaan tertentu ketika CPAP tidak dapat digunakan. T-piece resuscitator. Secara umum intubasi elektif merupakan cara pemberian bantuan napas yang cenderung dipilih untuk transportasi bayi dengan distres napas namun studi yang mendukung hal ini masih terbatas. intubasi perlu dilakukan sebelum transportasi. dan sebagainya). Beberapa indikasi umum untuk dilakukan intubasi sebelum transportasi antara lain: • Perburukan distres napas dengan peningkatan kebutuhan oksigen (FiO2 >70%) • Apnea berulang • Kejang berulang • Penyakit jantung kongenital yang mendapat infus prostaglandin E1 dengan dosis lebih dari 0.17 83 . atau ventilasi dengan balon dan pipa (bila ventilator dan T-piece resuscitator tidak tersedia). jalan yang ditempuh tidak baik. jarak perjalanan.05 mcg/kg/menit (berisiko mengalami apnea) • Hernia diafragmatika kongenital • Ruang dalam kendaraan dan kemampuan tenaga medis yang terbatas untuk melakukan resusitasi Bantuan ventilasi pada bayi terintubasi dapat menggunakan ventilator transpor. Keputusan untuk melakukan intubasi sangat ditentukan oleh patofisiologi penyakit.

L. • Komponen penting dalam sistem transportasi bayi baru lahir meliputi sumber daya manusia. Temperature (suhu tubuh). stabilization.qld. Karlsen K. Diunduh dari: www. Blood Pressure (tekanan darah). 2006.B.ca/cme/programs/perinatal/guidelines. Airway (jalan napas).E Program. Diunduh dari: www. komunikasi dan dukungan keluarga. kendaraan dan peralatan.Resusitasi Neonatus HAL-HAL PENTING • Stabilisasi pasca resusitasi berpegang pada prinsip STABLE yang meliputi Sugar and Safe Care (kadar gula darah dan perawatan aman). 2. 3. Diakses pada 17 Oktober 2013. h. Neonatal post-resuscitation. dan Emotional Support (dukungan emosi) • Setiap bayi harus dalam kondisi stabil sebelum dipindahkan ke ruang rawat atau dirujuk ke fasilitas kesehatan lain.L.php.E Program: Guidelines for Neonatal Healthcare Providers. Perinatal Education Program University of Saskatchewan.A. Queensland maternity and neonatal clinical guidelines program. dokumentasi dan informed consent.5-42.A. Diakses pada 17 Oktober 2013. Lab Work (pemeriksaan laboratorium).usask. Park City: S.health. and preparation for transport. Neonatal hypoglycemia and neonatal clinical guideline.T. • Penggunaan CPAP atau intubasi endotrakea dapat dipertimbangkan dalam transportasi bayi baru lahir dengan distres napas.gov.T. 84 . Daftar pustaka 1. The S.au/qcg. Edisi ke-5.B. serta umpan balik dari unit rujukan.

Neonatal stabilization for retrieval. Bomont RK. 17. Use of nasal continuous positive pressure during neonatal transfer.resus. 2011. 2006. Stewart MJ. controlled trial.117:1235-42.bapm. 2008. Barrington KJ.org. Franchini M. 10. Blood Transfus. Stabilisasi dan Transportasi Pasca Resusitasi 5 4. Reynolds G. Oh M. Diunduh dari www. De Klerk RK.9 After the Resuscitation of the Newborn Infant. Delayed cord clamping in very preterm infants reduces the incidence of intraventricular hemorrhage and late-onset sepsis: A randomized. Semin Fetal Neonatal Med. Guideline 13. Cochrane Database Syst Rev 2000. Prophylactic vitamin K for vitamin K deficiency bleeding in neonates. Nasal continuous positive airway pressure and outcomes of preterm infants. 5.3:157-62. 12. Offringa M. Pediatrics. Curr Opin Pediatr. Vohr BR. Rabe H. 7. British association of perinatal medicine. Hypotension in the neonate. 9. Diakses pada 17 Oktober 2013. Wallach M. LeFlore JL. 15. Hypotension and shock in the preterm infant.121:754-8.91:85-9. Vitamin K in neonates: facts and myths.health. Pediatrics. De Klerk AM. 16. Engle WLD. 2006.4:CD002276. Arch Dis Fetal Neonatal Ed. Diakses pada 15 Oktober 2013. NNF Clinical Practice Guidelines. 14. qld. 85 . Diakses pada 15 Oktober 2013. 2004.nnfpublication. 2008. Section 13: Neonatal Guidelines.37:161-7. 2001. Mercer JS. Early versus delayed umbilical cord clamping in preterm infants. Diaz-Rosello J.org. Australian Resuscitation Council.4: CD003248. Cheema IU.gov. Diunduh dari www. 6. Diunduh dari:http://www. Cochrane Database Syst Rev.9:4-9.au. Lippi G. Diunduh dari www. 2002. 13.au/qcg.org. Use of nasal continuous positive airway pressure during retrieval of neonates with acute respiratory distress. Puckett RM.23:167-72. Neoreviews. The new bronchopulmonary dysplasia. McGrath MM. Standards for Neonatal Hospital Providing of Neonatal Intensive and High Dependency care. Queensland maternity and neonatal clinical guidelines program. 2011. Transport of a sick neonate. Jobe AH. Murray PG. Padbury JF.13:16-23. 8. J Paediatr Child Health. Diakses pada 17 Oktober 2013. 11.

Resusitasi Neonatus 86 .

terutama jika 87 . 2. terutama resusitasi tahap lanjut. Bila penilaian menunjukkan bayi gagal mencapai pernapasan regular yang adekuat.1 Untuk membuka jalan napas. circulation (kompresi dada) dan drugs (pemberian cairan dan obat-obatan). pink. S etelah melakukan penilaian dan langkah awal pada 30 detik pertama. Selimut atau handuk setebal 2 cm ditempatkan di bawah bahu bayi untuk membantu mempertahankan posisi kepala bayi. and sweet”. pertama tempatkan bayi pada posisi telentang dan kepala di tengah (Gambar 4. 1 Kerja sama tim yang baik sangat penting dalam resusitasi bayi baru lahir. penolong resusitasi perlu menilai kembali usaha bernapas dan laju denyut jantung.1).3 Airway (Membuka Jalan Napas) Membuka jalan napas dan memberi ventilasi merupakan tahapan terpenting dalam resusitasi. breathing (ventilasi). lakukan resusitasi dengan mengintegrasikan komponen airway (membuka jalan napas). Kedua langkah tersebut harus dikerjakan secara optimal sebelum menuju ke tahap berikutnya. atau laju denyut jantung di bawah 100 kali per menit. Mengupayakan semua bayi yang lahir mencapai kondisi “warm. 4 Resusitasi Terintegrasi Tujuan Pembelajaran: 1.

1-3 Pada bayi dengan hipotonia. 88 . Bayi baru lahir dengan posisi kepala di tengah. Pertahankan posisi setengah menghidu seperti yang telah dijelaskan pada bab 3. 1 Jika usaha bernapas ada namun tidak menghasilkan ventilasi efektif (ditandai dengan laju denyut jantung tidak meningkat di atas 100 kali per menit). Tindakan yang perlu dilakukan untuk menjaga patensi jalan napas adalah menyokong rahang bawah.2 MUTIARA BERNAS Pertimbangkan pengisapan hanya jika bayi tidak bugar Pengisapan Mulut dan Faring dengan gejala obstruksi yang jelas Selain mengeringkan dan merangsang taktil bayi. atau untuk beberapa kondisi (dijelaskan pada halaman selanjutnya) pertimbangkan untuk mengisap jalan napas atas. jaw thrust atau pemasangan oropharingeal airway dapat membantu membuka jalan napas.1 terjadi moulding yang cukup besar setelah lahir. jalan napas kemungkinan mengalami obstruksi. Pengisapan hanya dilakukan jika jalan napas mengalami obstruksi. pengisapan juga merupakan salah satu tindakan yang dapat merangsang napas. Obstruksi dapat disebabkan oleh partikel mekoneum.Resusitasi Neonatus Gambar 4.1. membuka mulut.

dan tidak boleh lebih lama dari beberapa detik. dan laju denyut jantung di bawah 100 kali per menit. Kateter isap besar harus dimasukkan dengan kedalaman tidak lebih dari 5 cm dari mulut pada bayi cukup bulan.1. Tekanan negatif yang digunakan tidak boleh melebihi 100 mmHg (13 kPa.2 89 . dan bahkan dapat membahayakan bayi.4-7 Pada kondisi air ketuban bercampur mekoneum dan bayi lahir tidak bugar. 1. terdapat suara napas tambahan. dan bradikardia karena refleks vagal. trauma pada jaringan lunak. belum didapatkan cukup bukti mengenai pelaksanaan pengisapan endotrakeal. tonus otot baik).9 Psi. seperti tampaknya mekoneum/darah pada jalan napas. distres napas.1.2 Secara umum pengisapan hanya dilakukan pada bayi tidak bugar dan menunjukkan gejala obstruksi yang jelas.)2 Penanganan Jalan Napas pada Kondisi Air Ketuban Bercampur Mekoneum Beberapa penelitian tidak menyarankan pengisapan mulut. Pengisapan juga dapat memperpanjang durasi sianosis dan awitan napas spontan sehingga pengisapan faring harus dilakukan dengan hati-hati. tidak mencegah sindrom aspirasi mekoneum. mulut atau faring setelah lahir. Klinisi harus mempertimbangkan baik- baik risiko dan manfaat pengisapan endotrakeal karena pengisapan dapat mengakibatkan tertundanya bantuan ventilasi. atau verniks. Tindakan pengisapan tersebut tidak memerbaiki kondisi bayi.2. dalam waktu singkat. 133 cmH2O. Pengisapan faring juga dapat dilakukan selama intubasi agar plika vokalis terlihat lebih jelas. Bayi baru lahir bugar tidak membutuhkan pengisapan hidung.1. faring atau endotrakeal pada kondisi air ketuban bercampur mekoneum jika bayi lahir bugar (bernapas atau menangis. mukus. namun demikian pengisapan faring yang terlalu agresif dapat menyebabkan spasme laring. Resusitasi Terintegrasi 4 bekuan darah.

 retraksi.  laju  ventilasi lakukan denyut  jantung  tekanandan  tonus. dan tonus otot     Tidak bernapas/ megap‐   Bernapas spontan  megap. laju denyut jantung dan tonus. langkah selanjutnya adalah membantu bayi bernapas. dan atau   LDJ < 100x/ menit   Distres napas  Sianosis sentral persisten   (Takipnu. awal.  Tanpa distres napas     atau merintih)  Ventilasi tekanan   positif (VTP)  Pertimbangkan      Continuous positive  suplementasi oksigen    Pemantauan SpO2  airway pressure (CPAP)      PEEP 5‐8 cmH2O  Pemantauan SpO2  Pemantauan SpO2   Keterangan:   Apabila LDJ > 100 kali  per menit dan  target  saturasi oksigen tercapai:   • Tanpa alat Æ Lanjutkan  ke perawatan observasi   • Dengan alat Æ  Lanjutkan ke perawatan     paska‐resusitasi  6    90   . Pertama. Breathing (Ventilasi)  Setelah membuka jalan napas. bedakan apakah bayi bernapas Setelah  melakukan  spontan langkah  atau tidak. Berikut  ini  sedangkan adalah  apabila bayi bernapas bagan resusitasi blok B (breathing):   Observasi usaha napas.  bayi Apabila lakukan  penilaian  tidak usaha  bernapas/megap-megap. lakukan penilaian usaha napas. napas. 2 Breathing (Ventilasi) Setelah melakukan langkah awal. Berikut ini adalah bagan resusitasi blok B (breathing): Resusitasi Terintegrasi Bab 4     4.Resusitasi Neonatus Tindakan mengisap mekoneum dari hidung dan mulut bayi ketika kepala masih di perineum sebelum bahu lahir tidak direkomendasikan.2. laju denyut jantung (LDJ).  positif.

Sungkup paling kiri terlalu kecil karena tidak menutupi ujung dagu. mulut dan hidung seperti terlihat pada gambar 4.2.2 di bawah ini: Gambar 4. Setelah penolong memilih ukuran sungkup yang tepat. Ukuran sungkup wajah. ditentukan dengan ukuran sungkup yang tepat. dan memantau kebocoran udara yang dapat dirasakan di sekeliling sungkup. Pemasangan Sungkup Wajah Ventilasi optimal dapat dicapai apabila sungkup wajah melekat rapat pada wajah bayi. mulut. Resusitasi Terintegrasi 4 spontan namun mengalami distres napas. 91 . menutupi ujung dagu. dan dagu tapi tidak menutupi mata (untuk berbagai ukuran sungkup lihat Bab 2: Persiapan Resusitasi). serta dibuktikan dengan pengembangan dada yang baik. lekatkan sungkup pada wajah bayi menutupi pangkal hidung. Sungkup wajah untuk bayi baru lahir terdiri dari berbagai ukuran (diameter) dan harus disesuaikan dengan ukuran wajah bayi. mulut dan hidung. cara memegang yang benar sesuai dengan jenis sungkup. Sungkup paling kanan berukuran tepat. berikan tekanan positif berkelanjutan pada jalan napas (continuous positive airway pressure/CPAP). sedangkan sungkup di tengah terlalu besar sampai menutupi mata. Sungkup wajah yang baik harus menutupi ujung dagu.

Sungkup wajah tipe Laerdel® (kiri) dan Fisher Paykel ® (kanan). dan OK Rim Hold. “Stem Hold” : titik temu antara ‘batang’ dan sungkup dipegang dengan jari telunjuk dan jempol 2. Dari kiri ke kanan: Stem Hold.3.8 92 . “Two-Point Top Hold”: Jari jempol dan telunjuk menekan sisi atas sungkup yang datar. Terdapat tiga metode anjuran untuk memegang sungkup Laerdel® pada muka.3: 1. Bagian ‘batang’ tidak dipegang dan jari tidak memegang tepi sungkup 3. Sungkup wajah yang sering digunakan adalah sungkup Laerdel® dan sungkup Fisher&Paykel®. seperti ditunjukkan pada Gambar 4.Resusitasi Neonatus Gambar 4. Two-Point Top Hold. “OK Rim Hold”: jempol dan telunjuk membentuk C (seperti tanda OK) Gambar 4.4.8 Setiap tipe sungkup wajah memiliki cara memegang yang berbeda-beda.Cara memegang sungkup wajah tipe Laerdel® dengan benar.

Dengan metode ini.5. berikan ventilasi tekanan positif • Pada bayi yang bernapas spontan. berikan tekanan positif berkelanjutan pada jalan napas (continuous positive airway pressure/CPAP). 9 93 . Prinsip untuk membantu bayi bernapas dapat disimpulkan menjadi dua hal. yaitu: • Pada bayi tidak bernapas spontan atau megap-megap. jangan lakukan ventilasi tekanan positif. sedangkan 3 jari lainnya memegang sambil mengangkat tepi rahang bawah bayi ke atas (jaw thrust). Cara memegang sungkup wajah tipe Fisher&Paykel® dengan benar. Metode CPAP memberikan tekanan positif terhadap jalan napas dari bayi yang bernapas spontan sepanjang siklus ekspirasi.8 Setelah memasang sungkup dengan tepat.8 Gambar 4. bantuan pernapasan pada bayi dapat dimulai. Resusitasi Terintegrasi 4 Cara memegang sungkup wajah Fisher&Paykel® disebut dengan Rim Hold. tangan kiri penolong memegang sungkup dengan jari-jari membentuk huruf C dengan ibu jari dan telunjuk menekan sungkup ke wajah. melainkan berikan CPAP dini Bayi Bernapas Spontan dengan Distres Napas Pada bayi bernapas spontan namun dengan distres napas.

Resusitasi Neonatus Penggunaan CPAP secara dini di kamar bersalin saat resusitasi bayi baru lahir telah terbukti meningkatkan angka kesintasan (survival) bayi secara signifikan. dan meningkatkan oksigenasi. dan Jackson-Rees pada fasilitas terbatas. gunakan skor Downe: Tabel 4. dan memertahankan volume paru. 9 Untuk menilai usaha napas bayi. menurunkan resistensi vaskular paru. CPAP juga menghemat penggunaan surfaktan. Tekanan positif berkelanjutan yang diberikan pada jalan napas sepanjang ekspirasi membantu pernapasan bayi dengan distres pernapasan melalui beberapa cara. meningkatkan volume paru. 94 . Cara penggunaan dan penjelasan lebih lanjut mengenai kedua alat ini Manometer telah dijelaskan pada Bab 2: Persiapan Resusitasi. menurunkan atelektasis. meningkatkan risiko infeksi paru dan hiperkarbia. sehingga CPAP lebih dipilih pada resusitasi bayi baru lahir dengan napas spontan disertai distres napas. memerbaiki kesesuaian ventilasi-perfusi.1 Skor Downe dan Interpretasinya10 0 1 2 Frekuensi Napas < 60 x/menit 60-80 x/menit > 80 x/menit Retraksi Tidak ada retraksi Retraksi ringan Retraksi berat Sianosis Tidak sianosis Sianosis hilang dengan O2 Sianosis menetap walaupun diberi O2 Air Entry Udara masuk Penurunan ringan udara masuk Tidak ada udara masuk Merintih Tidak merintih Dapat didengar dengan Dapat didengar tanpa alat stetoskop bantu Interpretasi Skor Skor < 4 Distres Pernapasan Ringan (CPAP) Skor 4-5 Distres Pernapasan Sedang (CPAP) Skor ≥ 6 Distres Pernapasan Berat (pertimbangkan intubasi) Alat yang dapat memberikan CPAP adalah T-piece resuscitator di fasilitas lengkap. menjaga keberadaan surfaktan pada alveoli. CPAP membantu ekspansi paru. dan kapasitas residu fungsional paru (functional residual capacity/ FRC). Intubasi dan ventilasi tekanan positif seringkali menyebabkan cedera pada jalan napas dan alveoli.

Selang ekspirasi 3.7 Jackson-Rees di fasilitas terbatas 95 . Elbow 4. Reservoir bag 6. T-connector Gambar 4. bawah: Mixsafe®) Keterangan 1. Sungkup wajah dapat digunakan pada saat resusitasi. Paediatric APL (Adjustable Pressure Limiting Valve) 5. saat bayi ditransportasikan menuju ruang perawatan. sedangkan single nasal prong dipasang setelah resusitasi selesai. Selang inspirasi 2.6 T-piece resuscitator di fasilitas lengkap (atas: Neopuff®. Resusitasi Terintegrasi 4 Pemberian CPAP dapat dilakukan dengan sungkup atau single nasal prong (menggunakan pipa endotrakea yang dipotong pendek). Gambar 4.

Kapten tim yang bertanggung jawab atas airway dan breathing melekatkan sungkup berukuran tepat pada wajah bayi.Resusitasi Neonatus Cara memberikan ventilasi dengan CPAP di ruang bersalin adalah sebagai berikut : 1. 3. Sebelum memulai penggunaan katup T-piece resuscitator. Asisten sirkulasi mengamati saturasi oksigen dan laju denyut jantung yang tercatat pada pulse oximetry 96 . 2. penolong harus mengatur tekanan positif akhir ekspirasi/ positive end-expiratory pressure (PEEP) yang akan diberikan antara 5-8 cm H2O (umumnya dimulai dari 7 cm H2O) hingga di manometer angka menunjukkan PEEP yang diinginkan.

Hubungkan sungkup wajah dengan T-piece resuscitator atau Jackson-Rees. Besarnya PEEP diukur dengan menggunakan manometer jarum tambahan dan dapat diatur dengan katup CPAP. 7. Pastikan mulut bayi tidak dalam keadaan terbuka agar tekanan yang diatur pada alat sesuai dengan tekanan yang diperoleh bayi. Pemberian CPAP di fasilitas terbatas dapat menggunakan alat Jackson-Rees. Apabila tekanan berkurang curigai sumber gas berkurang. Resusitasi Terintegrasi 4 4. Kebocoran melalui sungkup dapat dideteksi melalui ada tidaknya udara yang 97 . melalui nasal prong atau melalui sirkuit CPAP. maka jangan terburu-buru menaikkan FiO2. Apabila setelah pemberian CPAP saturasi oksigen masih belum naik. 5. Target pencapaian saturasi oksigen dapat dilihat pada tabel 4. Pemberian oksigen selalu dimulai dari konsentrasi 21% kemudian dinaikkan/dipertahankan berdasarkan target saturasi sesuai usia bayi (lihat tabel 4.2) 6.2 (halaman 59) selama laju denyut jantung > 100 kali per menit. 8. Kunci keberhasilan pemberian CPAP adalah sumber gas cukup dengan memerhatikan tekanan yang tampak pada manometer. Perhatikan tidak ada kebocoran udara melalui sungkup.

Pemberian CPAP dengan menggunakan Jackson-Rees (atas) dengan ukuran sungkup yang sesuai (bawah) 98 . Apabila retraksi masih ada maka PEEP dapat dinaikkan sampai maksimal 8 cmH2O. 9.Resusitasi Neonatus keluar di sekitar sungkup. Kapan CPAP dianggap gagal? Gambar 4. sebelum memutuskan untuk melakukan intubasi. Bila menggunakan pipa endotrakeal.8. pastikan menggunakan ukuran pipa yang tepat menutupi lubang hidung bayi.

Pastikan bahwa tekanan ventilasi yang diberikan sudah adekuat. Resusitasi Terintegrasi 4 Continuous positive airway pressure (CPAP) PEEP 5-8 cmH2O Pemantauan SpO2 Gagal CPAP PEEP 8 cmH2O FiO2> 40% Dengan distres napas Pertimbangkan intubasi Apabila pemberian CPAP telah mencapai tekanan positif akhir ekspirasi sebesar 8 cmH2O dan FiO2 telah di atas 40% namun bayi masih mengalami distres pernapasan. tidak ada obstruksi lendir. pastikan tidak ada kebocoran sungkup dengan merasakan udara yang keluar di sekeliling sungkup. 2 Memulai Ventilasi Tujuan ventilasi adalah untuk mencapai kapasitas residu fungsional yang adekuat. Tanda utama dari ventilasi yang efektif adalah laju denyut jantung membaik dengan segera dan selanjutnya bertahan dalam rentang normal. Gerakan dinding dada harus dinilai jika laju denyut jantung tidak membaik. lakukan ventilasi tekanan positif. Bayi Tidak Bernapas/Megap-Megap Bila bayi gagal mencapai pernapasan spontan yang efektif atau dalam kondisi apnu sekunder. dan posisi kepala bayi harus tepat.2 Pemberian ventilasi tekanan positif di saat awal membutuhkan 99 . atau laju denyut jantung di bawah 100 kali per menit.2 Apabila tidak tampak pergerakan dinding dada.

pemberian tekanan inflasi awal sebesar 30 cmH2O sudah cukup untuk meningkatkan laju denyut jantung dan mengembangkan dinding dada. Hal ini diperlukan untuk mencegah barotrauma di kamar bersalin. maka tekanan ventilasi harus diturunkan. Bayi A mendapat tekanan inflasi awal 50 cmH2O. bayi A gagal mencapai pernapasan spontan dengan laju denyut jantung di bawah 100 kali per menit sehingga memerlukan ventilasi tekanan positif. Tekanan inspirasi negatif yang diperlukan saat lahir untuk mengembangkan alveoli dapat mencapai 70-100 cmH2O.11 Tekanan puncak inflasi/TPI yang diperlukan untuk mencapai peningkatan laju denyut jantung atau pengembangan dada cukup bervariasi dan sulit diprediksi serta harus disesuaikan dengan pasien masing-masing selama pemberian ventilasi tekanan positif. Pemberian tekanan inflasi sebaiknya terukur dengan menggunakan manometer agar tekanan terjaga konsisten dan penolong mampu mengontrol untuk menaikkan atau menurunkannya. pengembangan paru yang berlebihan selama ventilasi harus dihindari. Pada bayi prematur. memandu pemberian tekanan yang konsisten. Apabila pengembangan dada tampak berlebihan dengan tekanan yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi pada ventilasi tekanan positif setelah inflasi pertama dapat diturunkan karena paru telah mengembang sesuai dengan kondisi bayi. 2 Untuk bayi cukup bulan.Resusitasi Neonatus tekanan yang tinggi seperti telah dijelaskan pada Bab 1: Periode Transisi Bayi Baru Lahir. Bila manometer tidak tersedia. Resusitasi sebaiknya dilakukan dengan manometer untuk memantau tekanan inflasi puncak. Setelah 5 kali pompa dada tampak mengembang berlebihan. dan untuk 100 . penolong harus memerhatikan pengembangan dinding dada.2 Sebagai contoh. namun terkadang tekanan yang dibutuhkan lebih besar. Setelah 10 kali pompa tampak dada mengembang berlebihan kembali. sehingga tekanan inflasi diturunkan menjadi 40 cmH2O. sehingga tekanan inflasi dapat diturunkan lagi.

Indikator utama keberhasilan ventilasi tekanan positif adalah pengembangan dada.dua. Cek manometer untuk memastikan apakah tekanan target tercapai. Sesuaikan posisi kepala/leher untuk membuka jalan napas b.... 5. Pergerakan dinding dada harus sesuai dengan yang tampak pada respirasi normal yang tenang. Bersihkan jalan napas dari mekoneum atau darah bila perlu 2. Pastikan jalan napas terbuka: a. Jika menggunakan balon tidak mengembang sendiri.5 detik. Untuk pemberian 60 kali inflasi per menit. Peletakan sungkup yang benar sesuai tipenya 3. Perbaiki lekatan di antara sungkup dan wajah 101 . Irama ini dapat dibantu dengan cara penolong mengucapkan “pompa. Resusitasi Terintegrasi 4 menghindari tekanan serta volume berlebihan.. Jika tidak.3-0.2 Teknik Ventilasi Sungkup Wajah2 1. Bila dada tidak bergerak dengan inflasi: a. TPI awal untuk ventilasi tekanan positif dapat diberikan sebesar 30 cmH2O pada bayi prematur. pompa”).tiga” pada setiap episode pemberian napas untuk pemberian 40 kali inflasi per menit. Mulut sedikit terbuka c. kemungkinan masalahnya adalah kebocoran atau aliran udara tidak adekuat. Apabila pengembangan dada terlihat berlebihan maka tekanan awal inspirasi dapat diturunkan. Kecepatan ventilasi adalah 40 hingga 60 inflasi per menit dengan waktu inspirasi sekitar 0. pompa. hitungannya satu detik satu kali pompa (“pompa.dua.. pastikan aliran udara diaktifkan sebesar 5 L/menit atau 8 L/menit (5-10L/menit) untuk alat T-piece resuscitator ii.pompa. tiga. Pada kondisi demikian: i. Kembangkan paru dengan tekanan dan volume yang cukup sehingga tampak pergerakan dinding dada dan perut atas. 4.

Pertimbangkan penggunaan oral airway. oleh karena itu: i. Jika tekanan target sudah tercapai. Sesuaikan posisi kepala-leher bila perlu dan pastikan rahang bawah disokong ii. Pertimbangkan mengisap jalan napas iii. Observasi kembali usaha napas dan laju denyut jantung setelah periode 30 detik. intubasi atau sungkup laring 6. setelah dipastikan pengembangan dada baik maka lanjutkan ke tahap ventilasi tekanan positif dengan kompresi dada. Tingkatkan tekanan inflasi hingga dada turut mengembang setiap inflasi iv.Resusitasi Neonatus iii. b. Jika tekanan target masih belum tercapai. 102 . Apabila bayi masih tidak bernapas dan laju denyut jantung <60 kali per menit. Menilai Keberhasilan Ventilasi MUTIARA BERNAS • Apabila bayi masih tidak bernapas dan denyut jantung <100 kali per menit maka ventilasi tekanan positif tetap dilanjutkan • Apabila bayi bernapas tidak adekuat dan denyut jantung >100 kali per menit maka lanjutkan dengan pemberian PEEP • Apabila bayi bernapas adekuat dan denyut jantung >100 kali per menit maka lanjutkan dengan perawatan pasca- resusitasi • Apabila bayi masih tidak bernapas dan denyut jantung turun <60 kali per menit maka pastikan ventilasi sudah adekuat dan kompresi dada dapat dimulai. jalan napas kemungkinan tersumbat atau compliance paru sangat rendah. cek apakah terdapat kebocoran pada sirkuit. 7.

sesuai dengan usia bayi tersebut. Pemberian Oksigen Tujuan pemberian oksigen adalah mencapai saturasi oksigen semirip mungkin dengan bayi baru lahir sehat. Pengembangan dinding dada dan perut atas setiap inflasi 3. Peningkatan laju denyut jantung di atas 100 kali per menit 2. 2 Monitor saturasi oksigen di kamar bersalin bertujuan untuk mencegah efek toksik oksigen pada bayi prematur dan cukup bulan serta menghindari pemberian suplementasi oksigen yang tidak perlu.2 Suplementasi Oksigen selama Resusitasi Terdapat berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa kadar oksigen darah pada bayi baru lahir normal membutuhkan waktu hingga 10 menit untuk mencapai kadar di atas 90%. Pada tabel berikut tertera saturasi target untuk bayi baru lahir sepanjang resusitasi. namun oksigenasi yang berlebihan walau sebentar juga dapat membahayakan bayi baru lahir selama dan setelah resusitasi. Perbaikan oksigenasi Intubasi trakea (atau penggunaan sungkup laring) harus dipertimbangkan bila ventilasi melalui sungkup wajah masih tidak efektif walaupun telah melakukan hal-hal di atas. Harus diingat bahwa beberapa bayi dapat mencapai saturasi di 103 . Resusitasi Terintegrasi 4 Efektivitas ventilasi dapat dinilai berdasarkan hal di bawah ini:2 1. dengan target teratas saturasi oksigen 90%.12-15 International Liaison Committee on Resuscitation (ILCOR) merekomendasikan penggunaan pulse oximetry untuk memonitor dan melakukan titrasi penggunaan oksigen di kamar bersalin.12-17 Kurangnya oksigenasi dapat mengganggu fungsi organ atau menyebabkan cedera permanen.

dan perubahan aliran darah otak. 2 Tabel 4.2 Rekomendasi Suplementasi Oksigen saat Resusitasi Untuk bayi cukup bulan.2. terutama pada bayi kurang bulan karena imaturitas sistem antioksidannya.Resusitasi Neonatus atas 90% walaupun tanpa mendapat suplementasi oksigen. berikan konsentrasi oksigen yang lebih tinggi. Penggunaan fraksi oksigen 100% pada ventilasi tekanan positif untuk resusitasi bayi cukup bulan tidak memberikan keuntungan jangka pendek dan bahkan menunda bayi untuk melakukan napas pertamanya. gunakan udara ruangan terlebih dahulu. setelah dipastikan ventilasi 104 . Pada laju denyut jantung di bawah 100 kali per menit. otak. turunkan konsentrasi oksigen. Target Saturasi Sesuai Usia Bayi2 Waktu Setelah Lahir Saturasi Target untuk Bayi Baru Lahir selama Resusitasi (%) 1 menit 60-70 2 menit 65-85 3 menit 70-90 4 menit 75-90 5 menit 80-90 10 menit 85-90 Meta-analisis dari studi acak terkontrol yang membandingkan resusitasi bayi baru lahir yang dimulai pada udara ruangan versus oksigen 100% menunjukkan angka kesintasan lebih tinggi pada bayi yang diresusitasi dengan udara ruangan. mata. Bila setelah ventilasi efektif masih tidak terjadi peningkatan laju denyut jantung atau saturasi oksigen (dinilai dengan pulse oximetry). dan berikan suplementasi oksigen hanya pada bayi dengan saturasi yang tidak mencapai target batas bawah walau telah mendapat bantuan pernapasan adekuat. Pemberian oksigen 100% juga dapat menyebabkan kerusakan oksidatif pada paru. Bila saturasi mencapai 90% setelah pemberian suplementasi oksigen.

Untuk memperoleh konsentrasi fraksi oksigen 105 . maka disarankan untuk memulai bantuan pernapasan dengan menggunakan udara ruangan atau campuran udara ruangan dengan oksigen. penggunaan udara ruangan saja atau oksigen 100% saja meningkatkan risiko hipoksemia atau hiperoksemia dibandingkan resusitasi yang dimulai dengan campuran udara dan oksigen kemudian dititrasi. Campuran udara tekan dan oksigen diberikan secara cermat dan dipandu dengan hasil penilaian saturasi oksigen. Resusitasi Terintegrasi 4 adekuat FiO2 perlu dinaikkan hingga mencapai setingginya 100% (mulai dengan 30%). sementara pada kondisi kurang ideal/fasilitas terbatas. Mulai memberikan kompresi dada Suplementasi oksigen dapat diberikan dalam dua kondisi: ideal dan kurang ideal.18 Penelitian menyebutkan bahwa pada bayi kurang bulan kurang dari 32 minggu. Resusitasi pada bayi kurang bulan dapat dimulai dengan udara kamar atau fraksi oksigen 30-50%.3 Secara keseluruhan. Pada kondisi ideal suplementasi oksigen diberikan dengan blender oksigen.2.19 • Mulai pemberian dengan udara (oksigen 21%) dan berikan oksigen sesuai kebutuhan berdasarkan target saturasi • Berikan oksigen 100% apabila: -. yaitu: • Sumber oksigen dan udara bertekanan dihubungkan dengan Y-connector. pedoman suplementasi oksigen untuk resusitasi bayi baru lahir dapat disimpulkan sebagai berikut:3. terdapat beberapa pilihan dalam pemberian oksigen. 2 Sebagian besar bayi kurang bulan dengan usia gestasi kurang dari 32 minggu gagal mencapai saturasi target dengan udara ruangan.2. Denyut jantung tidak meningkat di atas 100 kali per menit setelah 60 detik dilakukan ventilasi efektif -. Saturasi oksigen masih di bawah 70% saat 5 menit atau di bawah 90% saat usia 10 menit -.

3. Namun bila tidak ada usaha napas dan laju denyut jantung menurun. tetap utamakan resusitasi dasar yaitu hangatkan bayi.3.3. namun turunkan kadar oksigen secepatnya. jaga jalan napas. • Oxygen concentrator (menghasilkan oksigen 95%) atau oxygen cylinder (oksigen 100%) ditambah dengan kompresor silinder/ udara.20.3. Bila usaha respirasi baik dan laju denyut jantung bayi di atas 100 kali per menit. • T-piece resuscitator (Mixsafe) dengan mini kompresor yang dapat menghasilkan medical air yang diinginkan. Tabel konsentrasi oksigen untuk campuran udara bertekanan dan oksigen % Udara Bertekanan (Liter/menit) Kons. dan lakukan pengisapan orofaring bila perlu.Resusitasi Neonatus yang diinginkan dapat dilihat di tabel 4.21 Tabel 4. O2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1     41% 37% 34% 32% 31% 30% 29% 28% 2   61% 53% 47% 44% 41% 38% 37% 35% 34% Oksigen Murni (Liter/ menit)  3 80% 68% 61% 55% 51% 47% 45% 43% 41% 39% 4 84% 74% 66% 61% 56% 52% 50% 47% 45% 44% 5 86% 77% 70% 65% 61% 57% 54% 51% 49% 47% 6 88% 80% 74% 68% 64% 61% 57% 54% 53% 51% 7 90% 82% 76% 71% 67% 64% 61% 58% 56% 54% 8 91% 84% 78% 74% 70% 66% 63% 61% 58% 56% 9 92% 86% 80% 76% 72% 68% 65% 63% 61% 58% Sebagai contoh. berikan ventilasi tekanan positif dengan oksigen 100%. Untuk memperoleh konsentrasi fraksi oksigen yang diinginkan tinggal mengatur aliran oksigen dan aliran medical air Dapat dilihat di tabel 4. Untuk memperoleh konsentrasi fraksi oksigen yang diinginkan dapat dilihat di tabel 4. penolong berniat untuk memberikan oksigen 10 93% 87% 82% 77% 74% 70% 67% 65% 63% 61% 106 . Apabila hanya tersedia udara ruangan atau oksigen 100%. bayi boleh ditunggu 5 sampai 10 menit hingga saturasi mencapai nilai normal sesuai usia bayi.

prioritas utamanya adalah untuk Gambar 4.10. Sumber udara bertekanan dan tabung oksigen 100% yang dihubungkan dengan Y-connector di fasilitas terbatas.3 di atas kemudian mengatur pemberian oksigen sebesar 2 liter per menit dan udara bertekanan sebesar 6 liter per menit. Blender oksigen di fasilitas lengkap. 107 . Dengan demikian. penolong dapat mengacu pada tabel 4. untuk mendapatkan konsentrasi oksigen sebesar 41%. Resusitasi Terintegrasi 4 dengan konsentrasi sebesar 41% pada seorang bayi berusia 5 menit dengan sianosis oral persisten.9. Gambar 4. Pada semua kasus.

• Pada keadaan khusus. dan kemampuan serta pengalaman penolong. memastikan inflasi adekuat pada paru-paru. • Ventilasi melalui sungkup wajah tidak berhasil (laju denyut jantung tetap lambat. diikuti dengan meningkatkan konsentrasi oksigen inspirasi hanya jika diperlukan.Resusitasi Neonatus Gambar 4. 108 . T-piece resuscitator Mixsafe dengan pencampur oksigen sebagai salah satu pilihan pemberian oksigen di fasilitas terbatas. saturasi oksigen gagal naik atau terlalu lama).2 Intubasi Endotrakea Indikasi Keputusan untuk melakukan intubasi bergantung pada usia gestasi bayi.11. derajat distres napas. respons terhadap ventilasi tekanan positif. intubasi harus dilakukan sesegera mungkin setelah lahir.2 Intubasi trakea perlu dilakukan jika2: • Terdapat keputusan mendadak untuk melakukan pengisapan endotrakeal pada bayi tidak bugar terpapar cairan amnion bercampur mekoneum. seperti hernia diafragmatika kongenital atau berat lahir bayi sangat rendah • Bayi lahir tanpa denyut jantung yang jelas.

pipa dengan diameter 3.0 6 atau 8 33-34 1.5 5 atau 6 25-26 0.8 7.5-4. pipa dengan diameter 2.2 Kedalaman insersi yang tepat harus selalu diverifikasi dengan Tabel 4. Resusitasi Terintegrasi 4 Ukuran dan Kedalaman Insersi Laringoskop dan Pipa Endotrakeal Diameter internal pipa endotrakeal (endotracheal tube/ ETT) dalam milimeter dapat dihitung melalui rumus usia gestasi dalam minggu dibagi 10. penggunaan tabel dibawah ini lebih diutamakan karena presisinya yang lebih baik. Penggunaannya juga direkomendasikan untuk bayi dengan berat lahir sangat rendah dan kurang bulan.4 7. 22 Walaupun demikian.0 mm untuk bayi dengan berat di atas 3 kg.5 5 atau 6 30-32 1. Panjang Pipa Endotrakeal yang Direkomendasikan Berdasarkan Usia Gestasi Terkoreksi (Usia Gestasi Saat Lahir + Usia Postnatal) dan Berat Badan Saat Diintubasi.0 6.5 mm untuk bayi dengan berat 2-3 kg.5 5 atau 6 27-29 0.5 cm) sesuai untuk bayi kurang bulan atau 00 (6 cm) untuk bayi dengan berat lahir sangat rendah.5 3.6 5.5 mm sesuai untuk bayi dengan berat badan kurang dari 1 kg.8 6.1-1.5-1.0 2.0 8 atau 10 109 .5 2. Umumnya.0 3. untuk menghitung kedalaman insersi pipa endotrakea di bibir dapat dihitung dengan: berat badan dalam kg ditambah 6 cm.4 8.2. sedangkan ukuran 0 (7. dan pipa dengan diameter 3.2 9.9-2.2-4.5 8 41-43 3. Secara cepat.5-0.7-0.5-4.5 2.0 3. 2 Usia Gestasi Berat Badan Tanda ETT di Bibir Ukuran ETT – Ukuran Kateter Terkoreksi (kg) (cm) Diameter Internal Pengisap ETT (F) (minggu) (mm) 23-24 0.0 6 atau 8 35-37 1.5 3.0 mm untuk bayi dengan berat 1-2 kg.0 3.5 8 38-40 2.2 Laringoskop untuk bayi baru lahir harus memiliki daun lurus/ Miller dengan ukuran 1 (10 cm) sesuai untuk bayi cukup bulan.4.9-1. pipa dengan diameter 3.1 8.5-3.

Forseps Magyll Teknik Intubasi Teknik melakukan intubasi endotrakea : 1. Posisikan kepala bayi berada di tengah dengan leher sedikit ekstensi.2 Untuk intubasi yang dilakukan melalui hidung harus dibantu dengan forseps Magyll. monitor denyut jantung dan saturasi oksigen harus terpasang 5. Ujung pipa endotrakeal harus sejajar dengan tulang belakang torakal pertama atau kedua. tarik dagu dalam posisi menghidu 110 . Selama perawatan intensif bayi baru lahir selanjutnya. Tentukan ukuran pipa endotrakeal 2. Gambar 4. Perhatikan bahwa posisi kepala (di tengah atau menoleh ke samping. leher fleksi atau ekstensi) dapat memengaruhi penilaian ini. jika ventilasi tekanan positif endotrakea dilanjutkan. Gunakan sarung tangan steril 3. maka disarankan pemeriksaan radiografi selalu dilakukan pada posisi yang sama.Resusitasi Neonatus membandingkan tanda pada pipa endotrakeal di mulut dengan rumus atau tabel. maka foto toraks dada harus dilakukan untuk mengkonfirmasi posisi pipa endotrakeal yang optimal. Jangan lupa sebelum tindakan dimulai.12. Posisikan bayi di atas permukaan yang rata 4.

Masukkan laringoskop dari sebelah kanan lidah sampai menyentuh valekula 12. Pegang laringoskop dengan tangan kiri dan nyalakan lampu laringoskop dengan memosisikan daun pada posisi terbuka 9. Buka mulut bayi dan tekan lidah ke arah bawah 11. Asisten memberikan oksigen aliran bebas selama prosedur intubasi 111 . Stabilkan kepala bayi dengan tangan kanan 10. Resusitasi Terintegrasi 4 Gambar 4. Berikan ventilasi awal untuk preoksigenasi sebelum tindakan dengan fraksi oksigen seminimal mungkin untuk mencapai target saturasi 88-92% 8.13 Prosedur Intubasi Endotrakea 6. Bersihkan orofaring (suction bila perlu) sampai epiglottis tampak 7.

segera lakukan kembali ventilasi tekanan positif.Resusitasi Neonatus 13. Kenali dan tentukan lokasi glotis. Menekan krikoid ke bawah dengan jari kelingking.14 Pipa endotrakeal dengan garis batas pita suara 15. dapat membantu visualisasi glotis Garis batas pita suara Gambar 4. Letak pipa endotrakeal yang benar adalah antara pita suara dan karina masukkan pipa sampai garis pedoman pita suara berada sebatas pita suara 14.15 Anatomi faring dan hipofaring yang tampak apabila lidah diangkat 112 . Gambar 4. Setiap tindakan pemasangan pipa endotrakeal dibatasi hanya dalam 20 detik dan apabila pemasangan pipa endotrakeal melebihi 20 detik maka harus dipantau agar denyut jantung selalu di atas 100 kali per menit. Bila denyut jantung di bawah 100 kali per menit.

16 Potongan saluran napas saat intubasi23 16. Resusitasi Terintegrasi 4 Gambar 4. Terdapat beberapa masalah yang umum ditemui selama intubasi bayi baru lahir:2.23 113 . Apabila pipa endotrakeal sudah berada di tempat yang benar. JANGAN LEPASKAN jari dengan alasan apapun sebelum pipa endotrakeal difiksasi. pegang pipa dengan ibu jari dan telunjuk tangan kanan menekan ke arah langit-langit keras supaya tidak mudah tercabut saat fiksasi pipa endotrakeal atau bila bayi bergerak.

lanjutkan ventilasi tekanan positif dengan sungkup wajah sebelum mencoba ulang intubasi. stilet kadang-kadang perlu dimasukkan lebih dekat dengan ujung pipa agar pipa lebih mudah dikontrol. Pada jalan napas yang sangat sulit.17 Berbagai kemungkinan kesalahan saat memasukkan laringoskop23 Jika intubasi gagal dilakukan. sehingga pipa tetap fleksibel dan stilet tidak merusak trakea atau jaringan lainnya.2 114 . 2 Jika stilet digunakan di dalam pipa endotrakeal. ujung stilet harus berada sekitar satu sentimeter dari ujung pipa didalam pipa endotrakeal.Resusitasi Neonatus Gambar 4.

18 Detektor CO2. peningkatan laju denyut jantung segera merupakan indikator terbaik bahwa pipa berada di trakeobronkial dan ventilasi efektif sedang diberikan.2 Tanda-tanda lainnya untuk mengkonfirmasi posisi pipa endotrakeal yang tepat:2 • Dengan inspeksi visual bahwa pipa endotrakeal telah melewati laring • Jika ujung pipa endotrakeal berada di dalam trakea. Penilaian dengan oksimetri lebih akurat dibandingkan inspeksi visual dalam mendeteksi perbaikan oksigenasi.com 115 . Gambar diambil dari http:// www. Dinding dada mengembang seiring inflasi 2. lokasi pipa endotrakeal dan teknik ventilasi perlu dievaluasi ulang.covidien. Peningkatan laju denyut jantung di atas 100 kali per menit. Pada bayi dengan bradikardia. Gambar 4. Reliabilitas tanda ini masih belum dapat dipastikan. Jika dada tidak mengembang dan laju denyut jantung tidak meningkat. 3. Perbaikan oksigenasi. selama beberapa napas pertama. Resusitasi Terintegrasi 4 Memastikan Posisi Pipa Endotrakeal Efektivitas ventilasi melalui pipa endotrakeal dikonfirmasi dengan tiga hal: 2 1. embun dapat terlihat dalam pipa endotrakeal selama ekspirasi.

2 Circulation (Kompresi Dada) Setelah pernapasan regular. Walaupun demikian. hernia diafragmatika). terdapat suara napas asimetris meski peletakan pipa endotrakeal sudah tepat.3 116 . Pada beberapa kondisi khusus (contoh: pneumotoraks. Positif-palsu dapat terjadi jika alat detektor terkontaminasi adrenalin atau surfaktan. Tanda-tanda bahwa pipa endotrakeal tidak berada di trakea: 2 • Tidak ada pengembangan dada seiring inflasi • Laju denyut jantung di bawah 100 kali per menit yang tidak meningkat segera setelah intubasi dan ventilasi diberikan • Tidak terdeteksi CO2 yang terekspirasi • Tidak ada perbaikan dalam oksigenasi • Tidak adanya suara napas di aksila Tidak adanya pengembangan dada yang simetris dengan tekanan ventilasi adekuat dapat menandakan pipa endotrakeal masuk terlalu jauh. Cek kedalaman insersi. Hal ini sulit dinilai pada bayi yang sangat prematur. halus. umumnya dalam satu menit pertama setelah lahir.Resusitasi Neonatus • Metode yang paling dapat diandalkan untuk mengonfirmasi letak pipa endotrakeal adalah dengan cara menghubungkan detektor CO2 dengan adaptor pipa endotrakeal. maka seorang bayi normal akan mencapai laju denyut jantung di atas 100 kali per menit. negatif-palsu dapat terjadi bila aliran darah paru sangat kurang atau tidak ada. Alat ini memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang baik dalam 2 atau 3 inflasi (perubahan warna ungu menjadi kuning). Suara dari ventilasi tekanan positif harus serupa pada kedua hemitoraks. • Dengarkan suara napas di kedua lapang paru (dada atas) dengan stetoskop. Rentang normal denyut jantung bayi adalah 110 hingga 160 kali per menit.2. dan tidak terdengar di bagian perut.

Oksigen yang telah dipompa melalui VTP ke dalam paru tidak dapat dibawa ke seluruh tubuh. 24 Berikut ini adalah bagan resusitasi blok C (circulation): Bila LDJ tetap < 100 kali/ menit Pengembangan dada adekuat? Dada mengembang Bila dada tidak adekuat mengembang adekuat namun LDJ < 60x/ menit Evaluasi: • Posisi kepala bayi VTP (O2 100%) + • Obstruksi jalan kompresi dada napas (3 kompresi tiap 1 napas) • Kebocoran sungkup • Tekanan puncak Pertimbangkan Intubasi inspirasi cukup atau tidak Observasi LDJ dan usaha napas tiap 30 detik Indikasi Memulai Kompresi Dada Kompresi dada diindikasikan jika laju denyut jantung di bawah 60 kali per menit walau ventilasi tekanan positif telah diberikan secara adekuat selama 30 detik (ditandai dengan dinding dada turut bergerak setiap inflasi). kemungkinan memiliki kadar oksigen yang sangat rendah dalam darah. Oleh karena itu. Sebagai akibatnya. Resusitasi Terintegrasi 4 Bayi dengan laju denyut jantung di bawah 60 kali per menit. penolong harus secara bersamaan memompa jantung dan melanjutkan ventilasi paru dengan oksigen 100% hingga miokardium mendapat cukup oksigen dan dapat menyalurkannya sampai ke otak. walaupun sudah diberikan stimulasi serta VTP efektif selama 30 detik.3 117 . terjadi depresi otot miokardium sehingga jantung tidak cukup kuat berkontraksi untuk memompa darah ke paru.2.

19. lakukan penilaian laju denyut jantung dan curah jantung (lebih baik melalui auskultasi. Tanda-tanda perbaikan curah jantung spontan meliputi peningkatan saturasi oksigen.25 Teknik yang direkomendasikan adalah dua ibu jari di sternum.org/article.year=2010.2 Setelah 30 detik melakukan koordinasi antara VTP dan kompresi dada.Resusitasi Neonatus Setelah dimulai. kompresi dada harus dilanjutkan dengan seminimal mungkin interupsi sampai terdapat perbaikan laju denyut jantung.asp?issn=0019-5049.volume=54.epage=438. berdampingan.2. ditambah adanya bukti pulsasi spontan pada oksimetri).1.2 Gambar 4. dengan jari-jari lainnya mengelilingi toraks untuk menyokong punggung. 1-3 Teknik Kompresi Dada Kompresi dada harus dipusatkan di antara xiphoid pada sepertiga bawah sternum (garis di antara puting) dan kedalamannya setidaknya sepertiga dari diameter antero-posterior dada. terdapat gerakan bayi spontan. Jangan menghentikan VTP dan kompresi dada kecuali untuk menilai perlu tidaknya intervensi berikutnya.ijaweb.aulast=Chadha 118 . atau napas spontan.issue=5. Umumnya penolong menghadap kepala bayi. Kompresi dada harus dilanjutkan hingga laju denyut jantung di atas 60 kali per menit. Cara Memberikan Kompresi Dada Diambil dari http://www.spa ge=428. tergantung pada besarnya bayi. namun posisi ini boleh dibalik jika akses terhadap perut bayi diperlukan.

dengan jeda setengah detik setiap setelah kompresi ketiga untuk memberikan napas. Tangan lainnya menyokong punggung.3 Teknik dua jari (dua ujung jari pada sternum) dapat dilakukan jika teknik dua ibu jari dianggap mengganggu akses ke perut atau dada bayi (misalnya untuk kanulasi umbilikal atau torakosentesis). Ventilasi dan kompresi dada pada bayi baru lahir1 119 . namun tangan penolong tidak boleh meninggalkan dada bayi.1-3.2.2.18.3 Dada harus mengembang penuh di antara dua kompresi.18 Gambar 4. Teknik ini juga dianggap lebih mudah dan tidak melelahkan untuk penolong. Resusitasi Terintegrasi 4 Teknik dua ibu jari memiliki keuntungan dibanding teknik dua jari untuk memerbaiki tekanan sistolik puncak dan perfusi koroner sehingga kompresi menjadi lebih konsisten dalam waktu yang lama.25 Kompresi dan inflasi harus dikoordinasikan untuk menghindari pemberian kompresi dan inflasi pada saat yang bersamaan. sehingga rasio yang tepat adalah 3:1 dengan total 90 kali kompresi dan 30 napas setiap menitnya.3. teknik dua ibu jari lebih direkomendasikan jika terdapat dua orang penolong.2 Kompresi dada harus dilakukan masing-masing setengah detik. Oleh karena itu.20.2.

berikan oksigen inspirasi hingga maksimal (100%) jika sebelumnya konsentrasinya masih di bawah 100%. walaupun paru sudah terventilasi dengan baik (melalui ventilasi tekanan positif) dan curah jantung membaik (melalui kompresi dada).Resusitasi Neonatus Kompresi dada yang diberikan secara efektif akan menghasilkan pulsasi yang jelas terlihat pada oksimeter. penolong harus melanjutkan tahap selanjutnya dalam resusitasi. hal ini dimaksudkan agar dalam 60 detik telah didapatkan peningkatan laju denyut jantung yang bermakna dibandingkan penilaian 30 detik yang dianggap terlalu singkat.2. Perbaikan kondisi bayi ditandai dengan:2.3 • Denyut jantung yang terdengar saat auskultasi • Pulsasi spontan pada oksimetri • Peningkatan saturasi oksigen • Pergerakan atau napas spontan Bila laju denyut jantung tetap di bawah 60 kali per menit meski telah diberikan ventilasi dan kompresi dada. 24 Terkadang.3 Penilaian Penilaian laju denyut jantung dilakukan setelah 60 detik koordinasi ventilasi tekanan positif dan kompresi dada.24 Untuk bayi dengan kondisi demikian. yaitu Drugs. sejumlah kecil bayi baru lahir (kurang dari 2 per 1000 kelahiran) masih memiliki laju denyut jantung di bawah 60 kali per menit. Otot jantung bayi dengan kondisi seperti ini telah mengalami hipoksia terlalu lama sehingga gagal berkontraksi secara efektif walau telah mendapat perfusi dengan darah beroksigen. maka tindakan pertama yang wajib dilakukan penolong adalah memastikan ventilasi dan kompresi yang diberikan sudah optimal dan bahwa oksigen yang diberikan sudah 100%. Segera setelah kompresi dada diberikan. 120 .

2 maupun cairan tidak boleh mengurangi atau Pemberian obat tidak ada gunanya dilakukan sebelum menghentikan pemberian memastikan ventilasi dan kompresi dada adekuat. pemberian ventilasi yang adekuat merupakan langkah terpenting untuk meningkatkan laju denyut jantung. Walau demikian. maka pada kondisi demikian adrenalin harus Pemberian obat-obatan diberikan. Resusitasi Terintegrasi 4 Drugs (Pemberian Cairan dan Obat-Obatan) Obat-obatan dan cairan jarang digunakan pada resusitasi bayi baru lahir.2. sambungkan kateter dengan katup three-way. dan pastikan baik kateter maupun three- way diisi cairan garam fisiologis/normal saline (NaCl 0.2.18 Kondisi bradikardia umumnya disebabkan oleh hipoksia dan ventilasi yang tidak adekuat.9%). terkadang laju denyut jantung tetap di bawah 60 kali per menit walau telah diberikan ventilasi adekuat (dada turut mengembang seiring inflasi) MUTIARA BERNAS dan kompresi dada.1. Sebelum dipasang. ventilasi dan kompresi dada Berikut ini adalah bagan resusitasi blok D (Drugs): VTP (O2 100%) + kompresi dada (3 kompresi tiap 1 napas) LDJ < 60/ menit? Pertimbangkan pemberian obat dan cairan intravena Jalur Pemberian Vena Umbilikal Kateter vena umbilikal merupakan jalur intravaskular yang paling cepat didapat untuk pemberian cairan dan obat walau dalam keadaan sirkulasi perifer yang buruk. Oleh karena itu. sedangkan apnu disebabkan oleh oksigenasi yang kurang pada batang otak.1.3 121 .

Resusitasi Neonatus Kateter vena umbilikal dimasukkan sedalam kira-kira 5 cm dan bila darah dapat ditarik maka cairan dan obat dapat segera diberikan.2 Arteri Umbilikal Arteri umbilikal tidak direkomendasikan untuk pemberian obat- obat resusitasi. namun dapat digunakan bila akses umbilikal dan vena tidak tersedia.2. 2.3 Vena Perifer Gambar 4. Adrenalin diberikan dalam dosis yang lebih tinggi (50-100 mcg/kgBB) dibandingkan pemberian melalui intravena. Terdapat kekuatiran akan terjadinya komplikasi bila obat-obatan vasoaktif atau hipertonik (adrenalin atau sodium bikarbonat) diberikan melalui arteri.3 Pipa Endotrakeal Hanya adrenalin dan surfaktan artifisial yang dapat diberikan melalui pipa endotrakeal.2. Jalur vena umbilikal. 23 Jalur vena perifer sangat sulit dipasang pada bayi baru lahir yang mengalami renjatan.21. Adrenalin hanya diberikan melalui pipa endotrakeal bila laju denyut jantung kurang dari 60 kali per menit walau ventilasi dan kompresi dada adekuat telah diberikan dan jalur intravena tidak tersedia.2 122 . Pertimbangkan jalur ini bila penolong cukup berpengalaman dalam memasang jalur intraosseus.3 Jalur Intraosseus Jalur ini jarang dilakukan pada bayi baru lahir.

000).1.5-1 mL/kg dari larutan 1:10.1-0.2.2. Resusitasi Terintegrasi 4 Tipe dan Dosis Obat Adrenalin Indikasi Bila ventilasi dan kompresi dada adekuat masih gagal meningkatkan laju denyut jantung hingga di atas 60 kali per menit dalam waktu satu menit. 1. berikan adrenalin melalui endotrakea.2.2. Asidosis berat dapat menyebabkan gangguan kontraksi miokardium dan konstriksi pembuluh darah paru. Bila dosis intratrakeal tidak efektif. dosis intravena harus diberikan secepat mungkin.1.18 Bila jalur intravena tidak tersedia dan ventilasi serta kompresi dada adekuat masih gagal menaikkan laju denyut jantung hingga melebihi 60 kali per menit. maka adrenalin harus diberikan melalui intravena sesegera mungkin.3 Sodium Bikarbonat Indikasi Apabila bayi baru lahir terlalu lama mengalami hipoksia. maka asidosis metabolik dapat terjadi akibat akumulasi asam laktat. gunakan dosis 50-100 mikrogram/kgBB (0.3 mL/kgBB dari larutan 1:10. Dosis ini dapat diulang setiap beberapa menit sekali bila laju denyut jantung masih di bawah 60 kali per menit meski ventilasi dan kompresi dada yang efektif sudah diberikan. Efektivitas dan keamanan dosis ini masih belum diteliti. dilanjutkan dengan bolus garam fisiologis. Bila curah jantung 123 . Asam laktat terbentuk saat jaringan mengalami insufisiensi oksigen. sehingga aliran darah paru berkurang dan difusi oksigen dari alveol ke kapiler makin sedikit. dilanjutkan dengan ventilasi tekanan positif.000) dengan cara bolus atau dorongan cepat.3 Bila adrenalin diberikan melalui jalur trakea.3 Dosis Dosis intravena yang direkomendasikan adalah 10-30 mikrogram/ kgBB (0.

Namun demikian. 1.24 Kondisi asidosis metabolik umumnya membaik dengan sendirinya saat oksigenasi dan sirkulasi sudah adekuat.25 Nalokson Indikasi Pemberian narkotika pada ibu yang mengalami nyeri saat melahirkan atau dalam anestesi umum dapat menurunkan usaha napas pada bayi yang dilahirkan.1. Cairan sodium bikarbonat bersifat hiperosmolar serta dapat mengganggu fungsi miokardium dan otak apabila diberikan terlalu cepat. Beberapa ahli meyakini pemberian terapi bikarbonat sebaiknya ditunda hingga analisis gas darah mengonfirmasi adanya asidosis metabolik signifikan dan kadar CO2 yang normal. Bikarbonat dalam tubuh akan dimetabolisme menghasilkan karbon dioksida. pemberian nalokson sebagai antagonis narkotika kepada bayi dapat menghilangkan efek narkotika.24 Sejauh ini tidak terdapat cukup data untuk merekomendasikan penggunaan rutin sodium bikarbonat pada resusitasi bayi baru lahir. bukan berarti nalokson langsung 124 .1 Dosis Dosis yang dianjurkan adalah 1-2 mmol/kg (2-4 mL dari larutan bikarbonat 4.24 Jangan berikan sodium bikarbonat terlalu dini.4 Pada kasus demikian.1.2%) diberikan dengan suntikan intravena lambat. Pada kondisi henti jantung berkepanjangan yang tidak responsif terhadap terapi lainnya.Resusitasi Neonatus yang efektif tidak berhasil dicapai walaupun sudah dibantu ventilasi dan kompresi dada yang adekuat. pikirkan pemberian sodium bikarbonat. berikan sodium bikarbonat setelah ventilasi dan sirkulasi adekuat.

19 Nalokson dapat diberikan lebih dari satu kali mengingat durasi efek narkotika yang lebih panjang.19 Dosis 0.2.1 mg/kgBB dari larutan 0.3 Indikasi pemberian nalokson pada bayi baru lahir adalah sebagai berikut:2 • Depresi napas yang berlanjut bahkan setelah pemberian ventilasi tekanan positif berhasil mengembalikan laju denyut jantung menjadi normal dan • Riwayat pemberian narkotika pada ibu selama bersalin Setelah pemberian nalokson.9%. bayi dalam kondisi syok (pucat. Resusitasi Terintegrasi 4 diberikan sebagai tindakan pertama pada bayi yang tidak bernapas. Hal ini dapat menyebabkan withdrawal dan kejang. lanjutkan ventilasi tekanan positif hingga bayi bernapas normal.3.3 Cairan Volume Expanders Indikasi Pertimbangkan pemberian cairan intravaskular bila bayi diduga mengalami kehilangan darah.2. Tindakan pertama yang tepat dan harus didahulukan adalah ventilasi tekanan positif. observasi bayi secara ketat untuk memantau depresi napas berulang yang memerlukan bantuan pernapasan selanjutnya. Nalokson boleh diberikan melalui intramuskular namun waktu awitannya lebih lambat. pulsasi lemah). dan tidak memberi respons secara adekuat terhadap tindakan resusitasi lainnya. Oleh karena itu. Durasi efek narkotika seringkali melebihi nalokson.4 mg/mL diberikan secara intravena bolus diikuti dengan bolus NaCl 0. perfusi buruk.3.3 Jangan berikan nalokson pada bayi lahir dari ibu yang dicurigai mengalami ketergantungan narkoba.3 125 .

Pinset 126 . Hati-hati pada bayi prematur agar jangan dibolus terlalu cepat karena risiko pecahnya pembuluh darah.1.3 Pemasangan Kateter Umbilikal Emergensi Prosedur: Persiapan Bahan dan Alat 1.2. Bila berhasil.3 Dosis Dosis awal adalah 10 mL/kgBB diberikan intravena secara bolus (selama beberapa menit). Tempat bahan dan alat-alat (trolley) dan kain penutup steril 3.Resusitasi Neonatus Kristaloid isotonik (garam fisiologis) dapat digunakan sebagai cairan lini pertama. Benang/tali kasur steril 5. Antiseptik: klorhexidin 2% atau povidon iodine pada fasilitas terbatas. kasa steril.2. Duk berlubang steril 4. namun selanjutnya transfusi darah emergensi dapat diberikan pada kasus kehilangan darah yang masif atau pada bayi yang tidak respons terhadap resusitasi. 2. pemberian cairan dapat diulang untuk mempertahankan sirkulasi.

9% (NS) Pelaksanaan 1.5F atau 5F yang telah disambung dengan semprit dan keran-3-arah (3-way-stopper) steril. Cuci tangan prosedural dengan cairan antiseptik (langkah lihat di Bab 2: Persiapan Resusitasi) 2. Pegang bagian dekat ujung kateter dengan forseps steril dan masukkan kateter ke dalam vena (kateter harus dapat masuk dengan mudah) sepanjang 4–6 cm. Pegang wharton’s jelly terdekat dengan pembuluh vena dengan forseps steril. Ikatan ini dapat dikencangkan bila terjadi perdarahan hebat saat memotong tali pusat. Kateter umbilikal ukuran 3. 7. Memakai sarung tangan steril. 5. Bersihkan umbilikus dan kulit sekelilingnya dengan larutan antiseptik. Isi lebih dahulu kateter ukuran 3. menuju jantung. Resusitasi Terintegrasi 4 6.5F . 9. Tekan ringan bila ada perdarahan. Pastikan kateter tidak menekuk dan darah mengalir balik dengan mudah. 5F / 6F panjang. Potong umbilikus 1 cm dari perbatasan kulit dan wharton’s jelly dengan pisau steril. Alur vena akan menuju ke proksimal. lalu tutup keran untuk mencegah masuknya udara (bahaya emboli udara). Tentukan vena umbilikus (pembuluh yang menganga lebar dengan dinding tipis) dan arteri umbilikus (dua pembuluh berdinding tebal). 8. 6. Spuit 5ml. 4. bersihkan dan asepsis kembali. Lihat kondisi pasien dan keperluan pasien dalam terapi 3. Isi dengan garam fisiologis. 8. Cara memeriksa aliran darah pada kateter adalahmembuka stopcock ke arah semprit dan menghisap 127 . lalu ikat benang steril mengelilingi dasar umbilikus. 10ml dan cairan NaCl 0. Pisau bisturi nomor 11 7.

Resusitasi Neonatus semprit secara perlahan. sehingga perlu ditangani dengan lemah lembut dan hati- hati. Bila penolong hendak memasang jalur vaskular.2. Bila darah tidak mengalir lancar tarik pelan-pelan kateter umbilikal. 11. Kaji jangan sampai ada udara di sepanjang sirkuit. Resusitasi pada Kondisi Khusus Bayi Prematur Proteksi Kulit dan Cara Memegang Bayi baru lahir yang sangat prematur khususnya < 28 minggu mempunyai risiko cedera kulit dan organ dalam yang cukup besar.23 Bantuan Pernapasan Bayi sangat prematur rentan mengalami displasia bronkopulmonar atau penyakit paru kronis sebagai dampak/komplikasi dari tindakan intubasi dan penggunaan ventilasi mekanik > 72 jam. 13. oleskan antiseptik pada tali pusat dan sedikit kulit di sekitarnya. dan masukkan kembali. Asepsis kembali area pemasangan kateter umbilikal. Bila koreksi obat atau cairan masih diperlukan untuk beberapa waktu. 10. 12. Masukkan obat-obatan atau cairan fisiologis. maka kateter perlu difiksasi dengan benang jahit. Penggunaan cairan antiseptik yang berlebihan akan mengalir ke daerah selangkangan dan paha. 14. gunakan larutan antiseptik seperlunya.9% untuk mencegah terjadinya luka bakar di kulit. 128 . sehingga setelah prosedur selesai jangan lupa membilas dengan aquabidest atau larutan NaCl 0. kateter segera dilepas. Larutan yang mengandung alkohol dapat merusak kulit bayi yang sangat prematur. Bila diperlukan pemasangan kateter umbilikal emergensi. Bila sudah didapatkan perbaikan denyut jantung.

dan penggunaan CPAP dini di ruang bersalin. Pemberian CPAP dengan Jackson-Rees yang disambungkan ke sungkup wajah (atas) atau melalui single nasal prong (bawah) 129 .26-31 Gambar 4.22.2. waktu inspirasi diperpanjang antara 10-30 detik). sustained inflation (ventilasi tekanan positif menggunakan T-piece resuscitator. Resusitasi Terintegrasi 4 Berbagai tindakan non invasif dalam upaya mencegah displasia bronkopulmonar yaitu: ventilasi tekanan positif menggunakan balon mengembang sendiri yang dilengkapi dengan katup PEEP. Ketiga cara tersebut di atas telah terbukti lebih baik dalam mencegah displasia bronkopulmonar dibandingkan dengan ventilasi tekanan positif dengan balon mengembang sendiri tanpa PEEP melalui sungkup wajah.

Surfaktan juga melindungi sel epitel paru dan berperan dalam proses pengembangan paru. Surfaktan merupakan zat yang diproduksi oleh sel pneumosit tipe 2 dan berfungsi untuk mengurangi tegangan permukaan alveoli saat udara masuk. menurunnya risiko terjadinya pneumotoraks. emfisema interstitial paru dan displasia bronkopulmonar. maka surfaktan dianjurkan untuk diberikan di kamar bersalin (surfaktan rescue). CPAP dapat dipertahankan dengan menggunakan nasal prong.32-35 Uji klinis menunjukkan bahwa terapi surfaktan sebagai profilaksis maupun rescue dapat meningkatkan fungsi paru. Apabila bayi prematur gagal mempertahankan saturasi oksigen 88-92% walaupun sudah mendapat terapi CPAP dini hingga mencapai PEEP 8 cm H2O dan fraksi oksigen 40%. 36 Salah satu metode pemberian surfaktan adalah teknik INSURE (INtubate. 130 . berikan tekanan PEEP 5-8 cmH2O sambil memantau usaha napas bayi. Untuk CPAP dini. Metode lainnya yang dapat digunakan untuk pemberian surfaktan adalah teknik MIST (Minimally-Invasive Surfactant Therapy) dan NIST (Non-Invasive Surfactant Therapy). Balon mengembang sendiri tidak dapat memberikan CPAP dini. Pada metode ini. Extubate to CPAP). SURfactant. bayi yang mendapat CPAP diintubasi untuk memasukkan surfaktan kemudian dilakukan ekstubasi segera.Resusitasi Neonatus CPAP dini atau intubasi dapat diberikan sejak di kamar bersalin pada bayi prematur dengan berbagai derajat distres napas. CPAP dapat diberikan melalui sungkup wajah yang disambungkan dengan T-piece resuscitator di fasilitas ideal atau Jackson Rees di fasilitas terbatas. menurunkan kebutuhan ventilator mekanik. Saat bayi ditransportasi menuju kamar perawatan. Defisiensi primer surfaktan terutama terjadi pada bayi baru lahir prematur (usia gestasi di bawah 37 minggu). Pernapasan bayi dibantu kembali dengan CPAP. dan secara klinis bermanifestasi sebagai Respiratory Distress Syndrome (RDS)/Sindrom Gawat Napas (SGN). Surfaktan mulai diproduksi pada usia gestasi 24-28 minggu dan produksinya mencapai titik optimal pada usia gestasi 35 minggu.

dengan Forseps Magyll feeding catheter masuk ke endotrakea Laringoskopi Nyeri dan menyebabkan trauma Kateter vaskular Dalam keadaan CPAP terpasang.33. namun dalam beberapa tahun ke depan diharapkan metode ini dapat menjadi pilihan baru yang aman dan efektif dalam pemberian surfaktan untuk bayi baru lahir. Metode tersebut menggunakan kateter vaskular pendek (narrow bore vascular catheter/angiocath 16G). Keuntungan dan Kerugian Metode MIST dan NIST Metode Pemberian Keuntungan Kerugian MIST Melalui nasofaring Tidak nyeri Belum diteliti lebih lanjut Sebagian surfaktan terbuang Sungkup laring Tidak melewati pita suara (supraglotis) Nyeri Feeding catheter Dalam keadaan CPAP terpasang.37. melalui pipa gastrik dengan ukuran kecil (fine gastric tube).36 Adapun cara yang dimaksud antara lain pemberian surfaktan melalui nasofaring. Nyeri dan menyebabkan trauma Mudah dimasukkan karena menggunakan kateter rigid NIST Inhalasi Tidak nyeri Perlu diteliti lebih lanjut Teknik ini mengupayakan pemberian surfaktan melalui cara yang tidak invasif dan tanpa intubasi. Resusitasi Terintegrasi 4 Tabel 4.32.38 Terapi surfaktan profilaksis diberikan pada bayi prematur dengan usia gestasi di bawah 28 minggu tanpa gejala distres napas dengan mempertimbangkan tersedianya penolong resusitasi yang kompeten.28. dan surfaktan.37 Intubasi endotrakeal masih merupakan standar baku dalam pemberian surfaktan. Diharapkan teknik tersebut dapat mengurangi efek samping dari penggunaan intubasi. Sejauh ini masih belum cukup bukti mengenai efektifitas dan keamanan teknik MIST dan NIST dibandingkan teknik intubasi dalam pemberian surfaktan. kateter Laringoskopi dimasukkan ke endotrakea. Sebelum keputusan 131 . alat monitor. dan metode Hobart. Berikut ini adalah keuntungan dan kerugian dari metode MIST dan NIST. melalui inhalasi. melalui sungkup laring (laryngeal mask airway/LMA).5.

Pada saat melakukan resusitasi bayi sangat prematur.28. Bayi prematur membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai saturasi oksigen 90% dibanding bayi cukup bulan. dan enterokolitis nekrotikans. Komplikasi hiperoksia adalah keterlambatan menarik napas pertama. sehingga pemberian fraksi oksigen saat resusitasi perlu dimonitor dengan pulse oxymetry. displasia bronkopulmonar. dianjurkan untuk tidak menggunakan oksigen 100%. ventilasi optimal dan juga tercapainya sirkulasi yang baik.36.Resusitasi Neonatus pemberian surfaktan.39 Berikut ini adalah algoritma tatalaksana bayi baru lahir dengan sindrom distres napas: Oksigen Bayi prematur memiliki risiko lebih besar untuk mengalami cedera hiperoksia dibandingkan bayi cukup bulan. melainkan campuran udara dan oksigen lalu melakukan titrasi fraksi oksigen.2 132 . bayi harus dipastikan telah mendapat manajemen suhu yang baik. retinopati prematuritas.

posisi tengkurap dan/atau pemasangan pipa endotrakea melalui lubang hidung kedalam faring dapat mencegah lidah menutupi jalan napas.23 Atresia koana Hernia Diafragmatika Kongenital Hernia diafragmatika kongenital (HDK) terjadi apabila salah satu dari keempat struktur terpisah yang menyusun diafragma (septum transversum. Pada kasus demikian.19 Penjelasan lebih lanjut mengenai pemberian kehangatan bayi prematur dapat dilihat pada Bab 3: Penilaian dan Langkah Awal. mesenterium dorsal dari 133 .2 Gambar 4. Obstruksi Jalan Napas Atas Kongenital Bayi yang tampak merah muda saat menangis namun sianotik saat diam dengan/atau tanpa gangguan bernapas. harus dicurigai mengalami atresia koana atau obstruksi jalan napas atas lainnya. konsultasikan dengan dokter anak konsultan neonatologi. Bayi tidak boleh dikeringkan sebelum dibungkus dengan plastik. Pada bayi dengan faring pendek. Bayi dengan malformasi kraniofasial kemungkinan membutuhkan intubasi trakea. Resusitasi Terintegrasi 4 Tatalaksana Suhu Bayi prematur berisiko mengalami hipotermia. oleh karena itu semua bayi dengan usia gestasi di bawah 28 minggu atau berat badan di bawah 1500 gram harus dibungkus dengan plastik polietilen segera setelah lahir. membran pleuroperitoneal.

sehingga ventilasi harus diberikan hati-hati dengan volum tidal rendah. Suara udara setelah intubasi trakea dapat terdengar asimetris.19 134 .Resusitasi Neonatus Gambar 4. Intubasi dapat meminimalisasi masuknya udara ke dalam saluran cerna.40 HDK yang telah didiagnosis sejak masa prenatal dapat menjadi indikasi untuk intubasi trakea dini dibandingkan dengan ventilasi balon dan sungkup wajah.19 Pneumotoraks Tension Pneumotoraks adalah akumulasi udara di rongga pleura hingga menyebabkan kolaps paru sebagian atau total pada sisi yang terkena. Tidak jarang bayi dengan HDK hanya memiliki satu paru fungsional.2. organ-organ abdomen mengalami herniasi ke dalam rongga toraks. Sebagai akibatnya.24 Hernia diafragmatika sisi kiri 40 esofagus. dan dinding tubuh) gagal menyatu pada minggu kedelapan setelah konsepsi. dan dianjurkan tekanan puncak inspirasi tidak melebihi 25 cmH2O. Pipa orogastrik besar ukuran 10F harus dipasang dan dilakukan pengisapan segera untuk menghindari pengumpulan udara di usus halus intra toraks dan meminimalisasi kompresi paru. tergantung pada lokasi HDK (dan pipa endotrakea).

penurunan gerakan salah satu sisi dinding dada.2. takipnu.25. penurunan suara napas unilateral. Resusitasi Terintegrasi 4 Gambar 4. 135 .dan penonjolan dinding dada pada satu sisi. namun pada bayi cukup bulan dapat menjadi negatif palsu. kateter intravena/wing needle dan spuit untuk mengeluarkan udara yang terjebak di dalam rongga pleura.2. Diambil dari http://www. Emfisema interstitial paru berat dapat menyerupai pneumotoraks. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah transiluminasi yang cukup sensitif pada bayi kecil.19 Drainase pneumotoraks atau aspirasi jarum pneumotoraks adalah tindakan memasukkan jarum ke dalam rongga pleura yang dihubungkan dengan three-way. yang terjadi setelah resusitasi merupakan petunjuk adanya pneumotoraks. Standar baku dalam mendiagnosis pneumotoraks adalah radiografi dada.carolinascoreconcepts. namun pneumotoraks tension dapat mengancam nyawa akibat kolaps kardiorespirasi sehingga membutuhkan drainase emergensi dengan aspirasi jarum atau pemasangan kateter interkostal.com/ Retraksi dada.19 Tidak semua pneumotoraks membutuhkan drainase. namun pneumotoraks tension memerlukan tatalaksana darurat sehingga tidak cukup waktu untuk melakukan pemeriksaan ini. Uji Transiluminasi pada Bayi Baru Lahir dengan Pneumotoraks.

26 Persiapan alat aspirasi pneumotoraks Prosedur Aspirasi Jarum Efusi Pleura atau Asites (Hidrops Fetalis) Edema berat seluruh tubuh. dan saturasi oksigen membaik. efusi pleura. Berikan tekanan yang lebih tinggi selama ventilasi sampai dada tampak mengembang. disesuaikan dengan besar kecilnya bayi • Spuit 10 dan 50 cc • Three-way • Cairan antiseptik • Sarung tangan steril Wing needle Kateter Spuit 10 cc intravena Three-way Gambar 4.2 Pada kasus hidrops fetalis dokter bedah sebaiknya dilibatkan hadir di ruang bersalin untuk berjaga-jaga seandainya pungsi pleura atau pungsi asites diperlukan. sehingga resusitasi dapat berjalan lebih optimal tanpa merusak paru akibat pemberian tekanan yang tinggi. Torakosentesis dapat dilakukan setelah pemeriksaan radiografi dan/atau ultrasonografi dengan pemantauan kardiorespirasi dan kontrol ventilasi. dan asites saat lahir dapat menyebabkan hipoplasia paru dan mengganggu ekspansi paru awal. 136 .Resusitasi Neonatus Alat-alat yang harus dipersiapkan adalah: • Kateter intravena ukuran 18-21 atau wing needle ukuran 21. denyut jantung meningkat.

Resusitasi Terintegrasi 4 Identifikasi tempat aspirasi jarum: sela iga 2-3 linea mid klavikula. hindari puting susu Bersihkan permukaan kulit dengan cairan antisepsis. sehingga bayi membutuhkan tekanan ventilasi lebih tinggi saat resusitasi untuk membuka alveol paru. Manifestasi klinis pneumonia adalah distres pernapasan berat. oksigenasi dan sirkulasi adekuat kemungkinan memiliki gangguan jantung 137 .2 Gangguan Jantung Kongenital Bayi yang tetap sianotik meski telah mendapat ventilasi. hindari memasukkan stylet dengan terlalu keras Pneumonia/Sepsis Pneumonia kongenital dapat menyebabkan compliance paru buruk. biarkan kering Masukkan kateter beserta stylet ke dalam rongga pleura –di atas tulang rusuk untuk menghindari trauma pada arteri di bawah tulang rusuk Masukkan/dorong kanula ke dalam sambil mencabut stylet keluar.

Prosedur Aspirasi banyak.Resusitasi Neonatus Buka jalur three-way yang menuju ke arah pasien Aspirasi/tarik udara sampai terasa adanya tahanan atau sampai spuit terisi penuh udara Tutup jalur three-way yang menuju ke arah pasien Keluarkan udara yang sudah ditarik ke dalam spuit Lakukan berulang hingga seluruh udara berhasil dikeluarkan Jika udara terlalu Gambar 4. pertimbangkan Pneumotoraks pemasangan chest tube 138 .27.

transfusi darah merupakan pilihan berikutnya dalam resusitasi cairan. Kondisi ini dapat menyebabkan kesulitan dalam resusitasi. Resusitasi Terintegrasi 4 kongenital atau hipertensi pulmoner persisten. Konsultan neonatologi sebaiknya hadir saat kelahiran untuk berjaga-jaga bilamana dibutuhkan saat resusitasi. blokade jantung kongenital dapat menyebabkan bradikardia persisten.2 Kelahiran Gemelli Bayi gemelli seringkali membutuhkan resusitasi karena prematuritas. Seperti yang telah dijelaskan pada bagian Drugs. Diupayakan satu dokter untuk masing-masing bayi. bayi harus dirawat di NICU sejak awal dan menjalani pemeriksaan ekokardiografi. Walaupun jarang. abnormalitas plasenta. cairan kristaloid isotonik (NaCl 0. salah satu bayi dapat memerlukan transfusi darurat setelah resusitasi awal.2 Bayi baru lahir dengan perdarahan umumnya tampak sangat pucat walaupun laju denyut jantung sudah kembali normal.2 139 . Keadaan ini dikenal dengan sindrom transfusi twin-to-twin. namun sedikit saja perdarahan berasal dari janin dapat menyebabkan hipovolemia pada bayi. plasenta previa atau vasa previa. Walaupun sangat jarang terjadi. Sebagai contoh perdarahan transplasenta mayor ke dalam sirkulasi ibu (perdarahan fetomaternal) menyebabkan hipovolemia bayi tanpa perdarahan antenatal yang tampak. gangguan aliran darah tali pusat. Pada kasus demikian.9%) dapat digunakan sebagai pilihan pertama resusitasi cairan. Pada kondisi hipovolemia yang diakibatkan perdarahan. Meski sumber pendarahan paling sering berasal dari ibu.2 Perdarahan Pervaginam Perdarahan pervaginam sebelum persalinan dapat terjadi pada abrupsio plasenta.2 Bayi kembar monozigot dapat mengalami ketidakcocokan volume darah (discrepant blood volumes). dan/atau komplikasi mekanis selama persalinan.

4 Tabel 4. Darah diambil dari sisa tali pusat yang menempel pada plasenta dengan syringe berisi heparin untuk dianalisis segera.5 pH 7. Karena itu. Sebaiknya sampel diambil dari arteri dan vena umbilikal untuk kemudian dibandingkan agar risiko kesalahan identifikasi arteri dapat dihindarkan.38 Kelebihan basa (Base excess) -11 -4 1 pO2 (mmHg) 6 17 30 pCO2 (mmHg) 35 52 74 Ketuban Bercampur Mekoneum Sampai saat ini praktek pengisapan orofaring dan nasofaring intrapartum masih merupakan hal rutin untuk bayi lahir dengan ketuban jernih maupun bercampur mekonium. Tali pusat dijepit di daerah proksimal dan distal.1 7.5 97. Nilai normal darah arteri umbilikal dapat dilihat pada tabel di bawah ini:2. tidak didapatkan cukup bukti untuk melarang pengisapan orofaring dan nasofaring. Pada bayi lahir tidak bugar dan ketuban bercampur mekoneum.6 Nilai Normal Darah Arteri Umbilikal2 Persentil Mean Persentil 2. lalu sampel darah diambil di antara kedua jepitan tersebut.27 7. Rekomendasi saat ini adalah pengisapan tidak dilakukan bila bayi bugar dan bernapas spontan atau menangis.Resusitasi Neonatus Gas Darah Arteri Umbilikal Gas darah tali pusat harus diperiksa pada semua bayi baru lahir yang diresusitasi sebagai metode paling objektif untuk menilai kondisi bayi intranatal. walaupun ketuban bercampur mekoneum. Pemeriksaan ini dapat dipakai untuk menilai apakah terdapat risiko terjadinya palsi serebral di kemudian hari. pengisapan hanya direkomendasikan untuk dilakukan: 2 • Segera setelah lahir • Jika dokter berpengalaman dan semua peralatan bisa segera tersedia 140 .

sementara nomor 0 tidak tersedia di Indonesia.8 kg dan maksimal 5 kg.2.19 Semua bayi lahir dengan ketuban bercampur mekoneum sebaiknya diobservasi selama satu hingga dua hari.2 Pengisapan dengan intubasi dilakukan dari trakea ke arah mulut dengan menyambungkan ETT dengan aspirator mekoneum atau menggunakan kateter isap ukuran 10 atau 12 F untuk sekret kental. Bila bayi mengalami distres napas. Pengisapan hanya dilakukan sekali kemudian tahapan resusitasi selanjutnya harus dimulai sesegera mungkin. jangan lakukan intubasi untuk mengisap mekoneum. atau tonus buruk. Sungkup laring terdiri atas dua ukuran. yaitu nomor 0 dan 1. bibir dan langit-langit mulut sehingga pelaku prosedur mengalami kesulitan melihat laring. lakukan intubasi untuk mengisap mekoneum dari trakea. Apabila bayi bernapas spontan adekuat. 2 Berikut merupakan pertimbangan menggunakan sungkup laring: 2 • Terdapat kelainan kongenital pada mulut. Bila perlu. lakukan laringoskopi direk dan isap mekoneum di faring. Nomor 1 sesuai digunakan untuk bayi dengan berat minimal 1. apnu. Sungkup Laring (Laryngeal Mask Airway/LMA) Sungkup laring harus dipertimbangkan digunakan pada bayi cukup bulan yang tidak berhasil diresusitasi dengan sungkup wajah atau intubasi. Sungkup laring dapat dipertimbangkan sebagai alternatif untuk ventilasi tekanan positif pada bayi baru lahir dengan berat di atas 2000 gram atau usia gestasi di atas atau sama dengan 34 minggu. 141 . Resusitasi Terintegrasi 4 • Sebelum awitan bernapas atau menangis dan pada bayi dengan tonus otot menurun.

Cara pemasangan ini lebih mudah dilakukan dan jalan napas terjaga tetap terbuka.Resusitasi Neonatus • Sindrom Pierre-Robin dan sindrom Down (trisomi 21) • Ventilasi dengan sungkup tidak memberikan respon baik sedangkan tenaga ahli untuk melakukan prosedur intubasi tidak tersedia (atau tenaga ahli tersedia namun intubasi gagal).3: • Pergerakan dinding dada seiring inflasi • Laju denyut jantung meningkat di atas 100 kali per menit • Meningkatnya oksigenasi (oksimetri lebih akurat dibandingkan penilaian visual) 142 . Pemasangan sungkup laring memberikan keuntungan yaitu terbentuknya perlekatan bertekanan rendah antara glottis dan cuff sungkup tanpa harus menutupi faring. Teknik pemasangan sungkup laring :2 Gunakan ukuran sungkup laring yang sesuai untuk pasien Setelah pemasangan sungkup laring. cek ketepatan posisi dengan melihat tanda-tanda berikut ini2.

Peganglah LMA seperti memegang pulpen. masukkan dengan bagian terbuka dari sungkupnya menghadap ke bawah (menyisihkan lidah. Resusitasi Terintegrasi 4 Kempiskan cuff tetapi jaga agar jangan sampai terlipat. Kembangkan cuff dengan spuit berisi 4 mL udara. Hindari pemberian pelumas pada bagian anterior cuff atau sampai ke bagian dalam sungkup. Berikan pelumas pada bagian belakang cuffdan sisi samping LMA dengan pelumas berbasis air atau air liur bayi. Pipa dapat sedikit terangkat dari hipofaring ketika cuff dikembangkan. kemudian tangan sebelahnya sedikit menekan ke bawah sementara jari telunjuk yang digunakan untuk memandu dikeluarkan dari mulut bayi. LMA harus dimasukkan di tengah mulut agar LMA terpasang dengan tepat dan pengembangan paru simetris. 143 .Rasakan adanya sensasi memantul kembali ketika mendorong spuit. Pegang pipa LMA agar posisi tidak bergeser. menyusuri palatum). Dorong sungkup dengan punggung jari telunjuk menyusuri palatum keras ke arah faring sampai terasa adanya tahanan.

28 Teknik pemasangan sungkup laring (LMA) Beberapa tanda lainnya untuk mengkonfirmasi letak sungkup laring yang tepat adalah 2.Resusitasi Neonatus Hubungkan dengan alat ventilasi (T-piece atau balon ventilasi). Negatif palsu dapat terjadi pada bayi dengan aliran darah pulmoner yang sangat rendah atau tidak ada 144 . Posisi LMA yang benar dapat dievaluasi dari sinkronisasi gerakan dada dan auskultasi area leher Gambar 4. Bila LMA berada di tempat yang benar maka dada akan mengembang secara simetris.3: • Perubahan warna yang tampak dengan detektor end-tidal CO2 (metode paling reliabel pada bayi baru lahir yang memiliki sirkulasi spontan) -.

Pertanyaan: Apakah tindakan dokter A tepat? Jawaban: Tidak Dokter A harus menjalankan resusitasi tahap demi-tahap. Prinsip-prinsip dalam resusitasi terintegrasi adalah sebagai berikut: Berurutan Kedua tahapan pertama dalam resusitasi. yaitu Airway dan Breathing. hernia diafragmatika) dapat terdengar asimetris meskipun posisi pipa sudah optimal. merupakan komponen terpenting dan paling awal dijalankan. yaitu Airway. Pada usia 30 detik setelah lahir didapatkan bayi tetap tidak bernapas. Pada beberapa kondisi (contoh: pneumotoraks. Contoh Kasus: Dokter A sedang menangani bayi yang baru saja lahir dari seorang ibu G1P0A0 dengan usia gestasi 35 minggu. Dengan kata lain sebelum memutuskan melakukan komponen Circulation dan Drugs harus dipastikan Airway dan Breathing sudah optimal. Breathing. Tahapan-tahapan ini tidak boleh dilompati untuk menuju ke komponen berikutnya Circulation dan Drugs. Circulation dan Drugs sehingga penolong dapat menjalankan resusitasi dengan baik dan mendapat luaran yang optimal. Resusitasi Terintegrasi 4 • Mendengar suara napas yang simetris di dada bagian atas dengan menggunakankan stetoskop. Dokter A sudah melakukan penilaian dan langkah awal. tonus buruk dan laju denyut jantung 58 kali per menit. Dokter A berniat melakukan kompresi dada dan ventilasi tekanan positif. Resusitasi Terintegrasi Resusitasi terintegrasi adalah resusitasi yang dijalankan dengan menggabungkan keempat komponennya. yaitu: 145 .

Resusitasi Neonatus Bernapas atau menangis? Tonus baik? Tidak Langkah awal: • Pastikan bayi tetap hangat • Atur posisi dan bersihkan jalan napas • Keringkandan stimulasi • Posisikan kembali Observasi usaha napas. Airway dan Breathing wajib dijalankan secara optimal dan adekuat sebelum beralih ke tahap Circulation. Dokter A perlu mengerjakan ventilasi tekanan positif dengan efektif selama 30 detik dan menilai kembali usaha bernapas. Bila laju denyut jantung masih di bawah 60 kali per menit walaupun dengan ventilasi tekanan positif efektif maka dapat kompresi dada dan ventilasi tekanan positif dapat diberikan. dan tonus otot Tidak bernapas/ megap- megap. laju denyut jantung (LDJ). yaitu pada kasus ini. laju denyut jantung dan tonus otot. 146 . tahapan resusitasi harus dijalankan secara berurutan. dan atau LDJ < 100x/ menit Ventilasi tekanan positif (VTP) Pemantauan SpO2 Dalam resusitasi bayi baru lahir. walaupun telah diketahui laju denyut jantung kurang dari 60 kali per menit.

waktu merupakan hal yang sangat penting pada resusitasi bayi baru lahir. Circulation dan Drugs harus dilakukan secara simultan atau bersamaan pada satu waktu. Keterlambatan penanganan di awal akan mengakibatkan keterlambatan perbaikan klinis bayi. Ketepatan Waktu Seperti yang telah disinggung sebelumnya. kompresi dada dan cairan pada saat bersamaan. Prognosis resusitasi bayi baru lahir sangat bergantung pada kecepatan dan ketepatan tindakan penolong. Breathing. Sebagai contoh. apabila bayi terlambat ditangani pada saat penanganan Airway. 147 . penolong harus menerapkan resusitasi simultan. Usaha napas pertama dapat tertunda dan hipoksia lama dapat diakibatkan oleh denyut jantung yang rendah. Resusitasi Terintegrasi 4 Simultan Penilaian usaha napas. Sebagai contoh. penolong dituntut untuk memberikan ventilasi tekanan positif. sehingga pelaksanaan resusitasi dalam tim secara simultan sangat diutamakan. penolong dituntut untuk bekerja dengan sigap dan mampu melaksanakan tahapan-tahapan resusitasi tidak hanya secara tepat. Resusitasi secara simultan paling baik dijalankan dalam bentuk satu tim yang terdiri atas beberapa penolong. namun juga cepat. maka bayi akan lebih lambat mulai bernapas dibandingkan apabila bayi ditangani lebih awal. Pada kondisi demikian. Oleh karena itu. pada beberapa bayi dengan kondisi sangat buruk. laju denyut jantung dan tonus serta tindakan resusitasi berupa Airway. sehingga penolong dapat membagi peran dan tugas masing-masing serta semua tindakan dan penilaian dapat dilakukan secara serentak.

Oleh karena itu. Selalu Bertanya: Sudah Optimalkah Saya? Pada setiap tahapan resusitasi. tidak saling menunggu atau malah menonton penolong lainnya melakukan resusitasi. penilaian komponen resusitasi harus dilakukan berulang kali sepanjang resusitasi. penolong diharapkan dengan segera mengenali tanda-tandanya dan melakukan penilaian kondisi bayi. apakah setiap tahapan yang telah dilalui sudah diberikan secara optimal? 148 .Resusitasi Neonatus Koordinasi Para penolong harus memiliki koordinasi yang baik. Sebagai contoh. Penilaian Berulang Kondisi bayi baru lahir dapat mengalami perubahan sepanjang resusitasi walaupun penolong belum mencapai titik penilaian pada alur resusitasi. Selain berfungsi untuk memandu penolong menentukan tindakan dan perawatan selanjutnya. mampu bekerja sama dan memiliki bahasa medis sama sehingga tidak ada keterlambatan. tidak saling bertabrakan kerjanya. Penilaian disarankan dilakukan setiap 30 detik sekali. penilaian berulang juga membantu penolong untuk memantau apakah ada perbaikan atau perburukan kondisi bayi. namun penolong harus tetap memantau kondisi bayi sepanjang resusitasi. seorang bayi yang lahir tidak bernapas dengan laju denyut jantung di bawah 100 kali per menit dapat mengalami perbaikan usaha napas walau ventilasi tekanan positif yang diberikan masih di bawah 30 detik. penolong harus selalu memastikan pada timnya. kemudian menentukan tindakan selanjutnya. Pada kasus semacam ini.

Pertanyaan: Apakah yang wajib dilakukan dokter B saat ini? Jawaban: Memastikan apakah semua tahapan A. kedalaman kompresi yang diberikan sudah tepat. tonus buruk. Dokter B sudah membersihkan dan membuka jalan napas. apakah sumber gas cukup dan ukuran ETT (bila menggunakan nasal prong) sudah pas hingga menutupi lubang hidung bayi. Resusitasi Terintegrasi 4 Contoh Kasus: Dokter B sedang meresusitasi neonatus yang lahir tidak bernapas. Dokter B berencana untuk mulai memberikan adrenalin kepada bayi. dada mengembang penuh di antara dua kompresi. dan laju denyut jantung 50 kali per menit. Pada tahap Breathing dengan bayi yang diberikan ventilasi tekanan positif. memberikan ventilasi tekanan positif selama 30 detik dan memberikan kompresi dada yang dikoordinasikan dengan ventilasi tekanan positif namun kondisi bayi masih tetap sama. Pada tahap Breathing dengan bayi yang diberikan Continuous Positive Airway Pressure. pastikan lagi apakah tampak pengembangan dinding dada yang adekuat? Apabila tidak. pastikan apakah terdapat kebocoran pada sungkup atau sepanjang sirkuit CPAP. dan posisi kepala bayi harus tepat. Pada tahap Circulation. Pada tahap Airway. pastikan lagi posisi kepala bayi sudah benar (setengah ekstensi) dan tidak ada obstruksi pada jalan napas bayi. pastikan letak jari di tempat yang tepat. pastikan lagi beberapa poin yaitu tidak ada kebocoran sungkup (rasakan apakah terdapat udara yang keluar di sekeliling sungkup). B dan C telah dijalankan secara optimal SEBELUM beralih kepada tahap D. kompresi menghasilkan pulsasi yang 149 . tekanan ventilasi yang diberikan sudah adekuat. tidak ada obstruksi lendir.

Resusitasi bayi baru lahir sangat menekankan optimalisasi setiap langkah sebelum bergerak ke langkah selanjutnya.Resusitasi Neonatus jelas tampak pada oksimeter dan oksigen inspirasi yang diberikan sudah mencapai konsentrasi 100%. 150 . Resusitasi terintegrasi dapat tercapai dengan selalu menerapkan kelima prinsip di atas.

kepala di tengah dan setengah menghidu. Sedangkan apabila pada penilaian didapatkan bayi bernapas spontan namun dengan distres napas. Pada komponen Airway. nilai usaha napas bayi. Pada komponen Breathing. Breathing. 7. Tepat waktu. Apabila bayi tidak bernapas. Breathing dan Circulation telah diberikan secara adekuat 6. lakukan kompresi dada bila laju denyut jantung di bawah 60 kali per menit walau ventilasi tekanan positif telah diberikan secara adekuat selama 30 detik 5. yaitu Airway. Pada komponen Circulation. lakukan ventilasi tekanan positif. 4. Breathing. Penilaian berulang. 3. Pada komponen Drugs. yaitu Airway. Koordinasi. obat baru diberikan hanya bila komponen Airway. dan Selalu bertanya. Komponen resusitasi bayi baru lahir terdiri atas empat hal. Lakukan pengisapan bila perlu. Circulation dan Drugs sehingga penolong dapat menjalankan resusitasi dengan sebaik- baiknya dan mendapat luaran seoptimal mungkin. Circulation dan Drugs 2. Resusitasi terintegrasi adalah resusitasi yang dijalankan dengan menggabungkan keempat komponennya. Simultan. Prinsip-prinsip resusitasi terintegrasi adalah Berurutan. buka jalan napas dengan menempatkan bayi pada posisi telentang. “Sudah optimalkah saya?” 151 . berikan tekanan positif berkelanjutan pada jalan napas (continuous positive airway pressure/CPAP). Resusitasi Terintegrasi 4 Hal-hal penting 1.

Seelbach-Gobel B. Donath S. 2002. randomised controlled trial. Wyllie J. Szyld E.Resusitasi Neonatus Daftar pustaka 1.148:585-9 14. Delivery room management of the apparently vigorous meconium- stained neonate: results of the multicenter. Makwana AM. Diunduh dari www.167:1243-9. Resuscitation. 2010. Oxygen saturation in healthy newborn infants immediately after birth measured by pulse oximetry.167:687-8 13. Usefulness of Downe score as clinical assessment tool and bubble CPAP as primary respiratory support in neonatal respiratory distress syndrome. Pediatr. 2006. et al. Morley CJ.105:1-7. Diakses pada 15 Oktober 2013. Salirrosas A. Neonatal Resuscitation. Owen LS. Prudent LM. 4. Arterial oxygen saturation in healthy infants immediately after birth. Halamek LP. Gannon CM. 12. Wong C. Gonzales GF. J Pediatr. Clin Perinatol. Falciglia HS. 2007. Weiss K. 81: 1389–99 2. Liu WF. 2010. 2010. Helmchen R. Toth B. Dawson JA. Resuscitation of babies at birth.12:85-90. Calvert J. 33: 83– 98.10-7. Arch Dis Child Fetal Neonatal Ed. Lancet. Does DeLee suction at the perineum prevent meconium aspiration syndrome? Am J Obstet Gynecol. Szyld EG. Perez C. Kavuncuoglu S. et al. 10. 11. Topuzoglu A. Donath SM. Altuncu E. Yee W. Rabi Y. J Pediatr. 2006. Am J Perinatol. 6. Pediatrics. J Pediatr. Kamlin CO. 1998. Kamlin CO. Australian Resuscitation Council. Arch Gynecol Obstet. Anaesth Intensive Care Med. Vento M. 2006.5:176-83. Queensland Maternity and Neonatal Clinical Guidelines Program.150:418-21 16. 2008. Mariani G. Buch P. Ford S. international collaboraive trial.148:590-4 17. Richmond S. Goldsmith L. 2011. Wood FE. 7. Cole TJ. Sharma A. Dawson JA. 8. Continuous positive airway pressure during neonatal resuscitation. 3.org. Wiswell TE. Jacob J.125:1340-7 152 . Chudasama RK. Ezquer A. 9. Singhal N. The need for delivery room intubation of thin meconium in the low-risk newborn: a clinical trial. Adaptation for life: a review of neonatal physiology. Becker A. Esteban ML. Vivas NI. Section 13: Neonatal Guidelines. European Resuscitation Council Guidelines for Resuscitation 2010 Section 7. Harrington T.266:105-7 15. et al. Eur J Pediatr. Dik PB. Bilgen H. Vain NE. Morley C. Oxygen saturation trends immediately after birth. Oropharyngeal and nasopharyngeal suctioning of meconium-stained neonates before delivery of their shoulders: multicentre. 2008. Aguirre A. Queensland: State of Queensland. 2000. Aguillar AM. et al.93:230–F4. Improved techniques reduce face mask leak during simulated neonatal resuscitation: study 2. h. J Pediatr Sci.au. Defining the reference range for oxygen saturation for infants after birth.15:675-82. 2013. Wiswell TE. Chen SY. Potter P.resus. Ozek E. 2004. 1992. Pre-ductal and post-ductal O2 saturation in healthy term neonates after birth. 5. Percentiles of oxygen saturations in healthy term newborns in the first minutes of life. Henderschott C.364:597-602.

Resusitasi Terintegrasi 4

18. Perlman JM, Wyllie J, Kattwinkel J, Atkins DL, Chameides L, Goldsmith
JP. Part 11: neonatal resuscitation: 2010 International Consensus
on Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular
Care Science With Treatment Recommendations. Circulation.
2010;122:516-38
19. The Royal Women’s Hospital Neonatal Services. Clinician Handbook.
Melbourne: The Royal Women’s Hospital;2008. h.64-6
20. World Health Organization. Guidelines on basic newborn resuscitation.
Jenewa: World Health Organization; 2012. h.7-9.
21. Kattwinkel J, Niermeyer S, Nadkarni V, Tibballs J, Phillips B, Zideman
D, et al. Resuscitation of the newly born infant: an advisory statement
from the Pediatric Working Group of the International Liaison
Committee on Resuscitation. Resuscitation. 1999;40:71-88.
22. Peterson J, Johnson N, Deakins K, Wilson-Costello D, Jelovsek
JE, Chatburn R. Accuracy of the 7-8-9 Rule of endotracheal tube
placement in the neonate. J Perinatol. 2006;26:333-6
23. American Academy of Pediatrics/ American Heart Association. Neonatal
Resuscitation Program – The textbook of neonatal resuscitation. Edisi
ke-5. Elk Grove Village: American Academy of Pediatrics; 2011. h.5-14
24. American Academy of Pediatrics/ American Heart Association. Neonatal
Resuscitation Program – The textbook of neonatal resuscitation. Edisi
ke-4. Elk Grove Village: American Academy of Pediatrics; 2000. h.4-
1 - 6-12
25. UK Resuscitation Council. Section 11 Newborn Life Support. 2010
Resuscitation Guidelines. Diunduh dari www.resus.org.uk/pages/nls.
pdf‎.Diakses pada 15 Oktober 2013.
26. Morley CJ, Davis PG, Doyle LW, Brion LP, Hascoet JM, Carlin JB. Nasal
CPAP or intubation at birth for very preterm infants. N Engl J Med.
2008;358:700-8
27. Aly H, Massaro AN, Patel K, El-Mohandes AA. Is it safer to intubate
premature infants in the delivery room? Pediatrics. 2005;115:1660-5
28. Stevens TP, Harrington EW, Blennow M, Soll RF. Early surfactant
administration with brief ventilation vs. selective surfactant and
continued mechanical ventilation for preterm infants with or at
risk for respiratory distress syndrome. Cochrane Database Syst Rev.
2007;4:CD003063
29. Ammari A, Suri M, Milisavljevic V, Sahni R, Bateman D, Sanocka U, et
al. Variables associated with the early failure of nasal CPAP in very low
birth weight infants. J Pediatr. 2005;147:341-7
30. Avery ME, Tooley WH, Keller JB, Hurd SS, Bryan MH, Cotton RB, et
al. Is chronic lung disease in low birth weight infants preventable? A
survey of eight centers. Pediatrics. 1987; 79:26-30
31. Poets CF, Sens B. Changes in intubation rates and outcome of very low
birth weight infants: a population-based study. Pediatrics. 1996;98:24-
7
32. Zuo YY, Veldhuizen RAW, Neumann AW, Petersen NO, Possmayer
F. Current perspectives in pulmonary surfactant - inhibition,
enhancement and evaluation. Biochem Biophys Acta. 2008; 1778:
1947 - 77.
33. Cole FS, Nogee LM, Hamvas A. Defects in surfactant synthesis: clinical
implications. Pediatr Clin N Am. 2006; 53: 911-27.
34. Lissauer T, Fanaroff AA. Neonatology at a glance. Edisi ke-2.
Massachusetts: Blackwell Publishing; 2006.

153

Resusitasi Neonatus

35. Goldenberg RL,Culhane JF, Lams JD, Romero R. Epidemiology and
causes of preterm birth. Lancet. 2008; 371: 75-84.
36. Suresh GK, Soll RF. Pharmacologic adjuncts II: exogenous surfactants.
Dalam: Goldsmith JP, Karotkin EH, penyunting. Assisted ventilation of
the neonate. Edisi ke-5. Missouri: Elsevier Saunders; 2011.h371-88.
37. Lopez E, Gascoin G, Flamant C, Merhi M, Tourneux P, Baud O,
et al. Exogenous surfactant therapy in 2013: what is next? Who,
when and how should we treat newborn infants in the future? BMC
Pediatrics. 2013; 13:165
38. Halliday HL. Surfactants: past, present and future. J Perinatol. 2008;
28: 47–56
39. Engle WA, The commitee on fetus and newborn. Surfactant-
replacement therapy for respiratory distress in the preterm and term
neonate. Pediatrics. 2008;121:419-32.
40. Wenstrom KD. Fetal Surgery for Congenital Diaphragmatic Hernia.N
Engl J Med. 2003; 349:1887-8
41. Helwig JT, Parer JT, Kilpatrick SJ, Laros RK, Jr. Umbilical cord blood
acid-base state: what is normal? Am J Obstet Gynecol. 1996;174:1807-
12

154

6
Aspek Etika dalam
Resusitasi
Tujuan Pembelajaran:
1. Memahami aspek etika dalam resusitasi
2. Memahami kapan menghentikan usaha resusitasi

W
alaupun dunia medis di bidang perinatal telah
berkembang dengan baik dan pesat, tetapi hal tersebut
tidak menjamin semua bayi akan lahir hidup atau tetap
hidup dengan/ tanpa melewati masa kritis. Bayi prematur/ berat
lahir rendah khususnya memiliki risiko tinggi untuk komplikasi
jangka panjang dengan biaya pengobatan yang tidak murah, seperti:
penyakit paru kronik, kebutaan, gangguan kognitif, kelainan
neurologis, gagal tumbuh dan gangguan perkembangan.1

Orang tua/ keluarga pasien memiliki hak untuk mengambil
keputusan terhadap tindakan yang akan dilakukan ke bayi mereka,
namun di sisi lain tenaga medis juga mempunyai kewajiban untuk
menolong setiap insan manusia. Hal tersebut menjadi cikal bakal
pro-kontra antara orang tua/ keluarga bayi dengan tenaga medis,1
dan memunculkan pertanyaan, siapakah yang berhak memutuskan
untuk melakukan dan menghentikan resusitasi sebagai upaya
penyelamatan bayi?

155

Menghentikan usaha resusitasi2 Pedoman untuk menghentikan resusitasi mengacu pada denyut jantung bayi yang terdeteksi dalam 10 menit: -. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh: o Diagnosis yang belum pasti o Usia gestasi neonatus o Ada atau tidaknya komplikasi o Harapan orangtua terhadap kehidupan bayinya American Medical Association Code of Medical Ethics menyatakan bahwa untuk menentukan keputusan medis resusitasi untuk bayi kritis meliputi banyak pertimbangan sulit antara lain:3 156 . Pada bayi sakit berat dengan prognosis jangka panjang sangat buruk Perlu diperhatikan bahwa perintah penolakan tindakan seperti Do Not Resuscitate (DNR) harus didokumentasikan secara tertulis dalam rekam medis dan ditandatangani oleh keluarga pasien di dalam rekam medis. Bila dalam 10 menit denyut jantung bayi tidak terdeteksi. Anensefali -. -. maka resusitasi dapat terus dilanjutkan. Penolakan resusitasi2 Beberapa literatur menyebutkan bahwa pada kondisi tertentu tenaga medis dan/atau keluarga dapat menolak tindakan resusitasi. B. Kondisi tersebut antara lain: -. Bila dalam 10 menit denyut jantung bayi sulit ditentukan atau sangat lemah. Pada bayi dengan kelainan kongenital mayor -.Resusitasi Neonatus A. Bayi prematur ekstrim dengan kemungkinan hidup kecil -. maka usaha resusitasi dapat dipertimbangkan untuk dihentikan.

Dalam: Fanaroff AA. 157 .h. penyunting. 2. Queensland: State of Queensland. h. Ethical issues in the perinatal period. Ethical and legal aspects of neonatology. Philadelphia: Saunders.535-42. Dalam: Rennie JM. 3. 2005. 2011. Care of the High-Risk Neonate. Roberton’s Textbook of Neonatology. 2013.19. Hird M.97-100. Edisi ke- 4. Kemungkinan keberhasilan resusitasi -. Rasa sakit dan ketidaknyamanan yang timbul -. Philadelphia: Elsevier. Referensi 1. Kemungkinan tindakan medis akan memperpanjang kehidupan atau tidak -. Larcher VF. Neonatal Resuscitation. namun tenaga medis tidak boleh meremehkan kekuatan bertahan hidup dari seorang bayi. Edisi ke-6. Fanaroff JM. Queensland Maternity and Neonatal Clinical Guidelines Program. Oleh karena itu. h. Fanaroff JM. Aspek Etika dalam Resusitasi 6 -. penyunting. Risiko yang mungkin timbul dengan atau tanpa resusitasi -. usaha untuk memertahankan hidup dengan meresusitasi bayi harus terus dilakukan secara optimal. Nelson LJ. Kemungkinan peningkatan derajat kualitas hidup bayi Setiap intervensi medis memiliki risiko terjadinya komplikasi atau bahkan kematian.

Resusitasi Neonatus 158 .

PERTANYAAN: Langkah apa yang anda lakukan selanjutnya? KASUS 2 Seorang bayi dengan berat 2700 gram dilahirkan dari ibu G3P1A1 secara bedah kaisar pada usia kehamilan 40 minggu. bayi tampak mengalami retraksi interkostal dan supraklavikula disertai napas cuping hidung. PERTANYAAN: Langkah apa yang akan anda lakukan selanjutnya? Pada usia 5 menit. 159 . dan kaki. Sebelumnya ibu mengeluh gerakan janin berkurang disertai hasil pemeriksaan CTG berupa deselerasi lambat. Bayi dibebaskan dari lilitan tali pusat dan diserahkan kepada anda selaku penolong resusitasi. tangan. Bayi masih mengalami sianosis pada tangan dan kaki. Ibu tidak memiliki riwayat penyakit maupun penyulit selama kehamilan. Ibu belum pernah mendapat suntikan kortikosteroid sebelum persalinan. Bayi tampak megap-megap dan lunglai disertai warna kebiruan disekitar mulut. tidak menangis. merintih. dan frekuensi napas 70 kali/ menit. 7 Megacode KASUS 1 Seorang bayi dengan berat 1400 gram dilahirkan dari ibu G2P1A0 dengan preeklamsia berat pada usia kehamilan 31 minggu. Pada saat dilahirkan bayi tampak mengalami lilitan tali pusat erat sebanyak 2 kali. dan tampak kebiruan. Cairan ketuban tampak kehijauan namun tidak berbau. Pada saat dilahirkan bayi menangis kuat disertai pergerakan dan fleksi pada keempat ekstremitas. Tangan dan kaki bayi terlihat sianotik.

merintih. Bayi lahir menangis dengan tonus otot yang cukup. serta tampak kebiruan. tidak bergerak dan lunglai.Resusitasi Neonatus PERTANYAAN: Langkah apa yang anda lakukan selanjutnya? Setelah melakukan langkah di atas. PERTANYAAN: Langkah apa anda lakukan selanjutnya? KASUS 4 Seorang bayi dengan berat 1100 gram dilahirkan dari ibu G1P0A0 melalui bedah kaisar atas indikasi ketuban pecah dini dan oligohidramnion pada usia kehamilan 28 minggu. Laju denyut jantung 90 kali/ menit. PERTANYAAN: Tindakan apa yang akan anda lakukan? Setelah dilakukan tindakan dan dievaluasi. PERTANYAAN: Langkah apa yang akan anda lakukan? 160 . Sekitar mulut bayi masih tampak kebiruan. tidak bergerak dan lunglai. bayi tampak memperlihatkan usaha napas namun disertai dengan retraksi epigastrium dan subcostal. Pada saat persalinan tampak cairan ketuban bercampur mekoneum kental. Laju denyut jantung bayi 130 kali/ menit. Ibu tidak memiliki riwayat penyakit maupun penyulit selama kehamilan. Tangan dan kaki bayi tampak kebiruan. dan frekuensi napas 65 kali/ menit. bayi tetap tidak bernapas. PERTANYAAN: Langkah apa yang anda lakukan selanjutnya? KASUS 3 Seorang bayi dengan berat 3200 gram dilahirkan dari ibu G1P0A0 melalui persalinan normal pada usia kehamilan 42 minggu. Pada saat dilahirkan bayi tidak bernapas. dengan laju denyut jantung 80 kali/ menit. napas cuping hidung.

PERTANYAAN: Langkah apa yang anda lakukan selanjutnya? KASUS 6 Bayi dengan berat 1800 gram dilahirkan dari ibu G2P1A0 melalui bedah kaisar emergensi atas indikasi solusio plasenta pada usia kehamilan 30 minggu. dengan frekuensi napas 65 kali/ menit. PERTANYAAN: Langkah apa yang anda lakukan selanjutnya? Pada usia 5 menit retraksi bertambah dalam dengan frekuensi napas 80 kali/ menit. napas cuping hidung. Megacode 7 KASUS 5 Seorang bayi dengan berat 2400 gram dilahirkan dari ibu G2P0A1 melalui persalinan normal pada usia kehamilan 36 minggu. Bayi tampak pucat dan saat dievaluasi waktu pengisian kapiler 4 detik disertai tangan dan kaki yang dingin. PERTANYAAN: Langkah apa yang anda lakukan selanjutnya? Setelah langkah tersebut dilakukan dan dievaluasi. bayi mulai menangis. Ibu mengaku mengeluarkan cairan seperti air seni sejak 18 jam yang lalu. Laju denyut jantung 120 kali/ menit. Frekuensi napas 40x/ menit dan laju denyut jantung 110x/ menit namun tangan dan kaki masih tampak kebiruan. PERTANYAAN: Langkah apa yang anda lakukan selanjutnya? 161 . merintih. Pada saat dilahirkan bayi tampak menangis lemah. Tangan dan kaki masih tampak kebiruan. Ibu memiliki riwayat infeksi saluran kemih sejak sekitar 1 tahun yang lalu. tonus otot lemah disertai kebiruan. serta tampak kebiruan seluruh tubuh. Pada usia 1 menit bayi tampak mengalami retraksi dalam di epigastrium. Laju denyut jantung 110 kali/ menit. tidak ada retraksi maupun napas cuping hidung dan tidak merintih. Pada saat dilahirkan bayi tidak bernapas dan lunglai. Frekuensi denyut jantung 90 kali/ menit.

Resusitasi Neonatus 162 .