You are on page 1of 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan suatu kesatuan aspek fisik,
sosial dan ekosistem yang di dalamnya mengandung berbagai permasalahan yang
komplek, seperti degradasi lahan yang berdampak pada beberapa bahaya dan
bencana seperti banjir, erosi, sedimentasi, kekeringan dan masih banyak lagi.
Pertumbuhan penduduk dan pengelolaan lahan merupakan isu utama yang
menyebabkan permasalahan pada suatu DAS. Di abad sebelumnya, perubahan
lahan umumnya terjadi pada aspek perubahan hutan berubah menjadi pertanian,
namun beberapa dekade terakhir pola perubahan tersebut berubah dari lahan
pertanian menjadi non pertanian (Tanaka, 2008). Pola perubahan yang terakhir
tentu mempengaruhi keseimbangan daur hidrologi atau water cycle di dalam DAS
sehingga menyebabkan beberapa permasalahan di dalam DAS.
Dalam mengatasi permasalahan tersebut suatu manajemen dan
pengelolaan suatu DAS mutlak dilakukan, karena dari tahun ke tahun jumlah DAS
kritis di Indonesia semakin bertambah. Menurut Keputusan Menteri Kehutanan
Republik Indonesia (SK. 328/Menhut-II/2009) Tentang Penetapan DAS Prioritas,
jumlah DAS kritis di Indonesia mencapai 108 DAS yang perlu ditangani secara
serius. Rekam jejak menggambarkan bahwa pada tahun 1998 DAS kritis meningkat
sejumlah 60 DAS dengan luas areal 43 juta hektar dan meningkat lagi tahun 2005
seluas 59 juta hektar (Tanaka, 2008). Sebenarnya pengelolaan DAS sebagai akibat
langsung dari degradasi lahan sudah mendapat perhatian serius dari pemerintah
sejak tahun 1970. Bentuk kepedulian pemerintah terhadap DAS kritis tahun 1973
dilakukan pada Proyek Solo Upper Watershed Management and Upland
Development di DAS Bengawan Solo bantuan FAO/UNDP (Junaidi dan Tarigan,
2012), namun baru pada dekade terakhir ini yaitu pada tahun 2003 melaui GNRHL-
Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan (Junaidi dan Tarigan, 2012) pendekatan DAS
secara holistik atau terpadu mulai dilakukan (Direktorat Kehutanan dan Konservasi
Sumberdaya Air, 2011).

1
Salah satu DAS kritis di Indonesia adalah DAS Serang di Kabupaten
Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta. DAS ini menurut Keputusan Menteri
Kehutanan Republik Indonesia (SK. 328/Menhut-II/2009) Tentang Penetapan DAS
Prioritas dan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum (Nomor:590/KPTS/M/2010)
merupakan 1 dari 4 DAS kritis di Daerah Istimewa Yogyakarta selain Progo,
Bogowonto dan Bribin. Contoh permasalahan fisik utama di DAS ini adalah
besarnya water yield/ hasil air berupa limpasan permukaan atau runoff yang
mempengaruhi besarnya debit sungai (Gambar 1.1). Besarnya limpasan permukaan
berakibat pada tingginya proses erosi (Tabel 1.1) dan beberapa kejadian bencana
banjir yang terjadi di Serang Hulu dan SubDAS Serang hilir pada tahun 2007
(BPDAS Serayu Opak Progo, 2009).

Debit (m3/ detik)

Gambar 1.1. Pola perubahan limpasan di DAS Serang pada SPAS Pekik Jamal
(Sumber: Pengolahan data Balai PSDA Progo-Opak-Oyo DISKIMPRASWIL DIY)

Debit sungai di DAS Serang pada 10 tahun terakhir dari tahun 2004
sampai tahun 2013 telah mengalami perubahan pola dengan kecenderungan debit
rerata bulanan semakin tinggi. Pada puncak musim penghujan (bulan Januari) tahun
2003, debit sungai teridentifikasi sebesar 9,2 m3/det. Kemudian pada tahun 2009
dan 2013 pada bulan yang sama nilai debit naik berturut-turut menjadi 12,5 m3/det
dan 24,883 m3/det.

2
Tabel 1.1. Data erosi di SWP DAS Progo-Opak-Serang

Erosi yang terjadi Erosi yang


SWP LUAS DAS
NO. diperkenankan
DAS/DAS HA Ton/Ha/Th mm/Th (mm/Th)
1. 2. 3. 4. 5.
1. Progo 246.057,45 91,396 7,616 4,434
2. Opak 140.400,13 58,088 4,841 3,491
3. Serang 23.938,65 49,680 4,140 2,856
Sumber: Narjan, 2013

Dari tabel 1.1 dapat diketahui bahwa di DAS Serang telah terjadi
kejadian erosi yang melebihi nilai yang diperkenankan. Pada sekitar tahun 2013
nilai erosi yang terjadi mencapai 4,140 mm/th dan 1,284 mm/th lebih besar dari
nilai erosi yang diperkenankan yaitu sebesar 2,856 mm/th.
Selain erosi dan limpasan permukaan, kekritisan di DAS Serang
menurut Keputusan Menteri Pekerjaan Umum (Nomor:590/KPTS/M/2010) dapat
dilihat dari aspek lain diantaranya adalah pemanfaatan lahan yang kurang sesuai
dengan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah), belum optimalnya perlindungan
sumber air, belum optimalnya pemberdayaan masyarakat, menurunnya kualitas air,
belum tercukupinya IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) dan terjadi beberapa
bahaya dan bencana seperti longsor dan banjir di sebagian DAS Serang.
Beberapa permasalahan yang terjadi sehingga mengakibatkan DAS
Serang berada dalam daftar DAS Kritis prioritas I (dipulihkan) perlu untuk
diidentifikasi untuk mengetahui aspek-aspek fisik melalui besaran kuantitas yang
dihasilkan. Nilai-nilai fisik ini diantaranya dapat ditinjau dari segi hasil air. Melalui
perkembangan teknologi Penginderaan Jauh, SIG (Sistem Informasi Gegrafis) dan
model ArcSWAT yang akan diterapkan pada penelitian ini, nantinya tahap evaluasi
dapat dilakukan. Evaluasi mempunyai tujuan untuk menghasilkan arahan
manajemen penggunaan lahan dilihat dari optimalisasi hasil air.

1.2. Perumusan Masalah


Secara umum suatu konsep pengelolaan dimulai dari kegiatan
identifikasi masalah, perencanaan, realisasi atau implementasi dan evaluasi. Dalam
tahap identifikasi dan evaluasi dengan studi area berupa DAS akan lebih efisien

3
dikaji menggunakan sebuah model. Hal ini dikarenakan DAS mempunyai aspek
spasial (posisi dan geometri) dan juga proses di dalamnya dan model mampu
merepresentasikan aspek keruangan dan besaran proses fisik tersebut. Identifikasi
dan evaluasi perlu dilakukan melalui pemodelan karena bentuk pengelolaan yang
baik adalah menggambarkan secara spasial dan sederhana melalui model. Dalam
aspek spasial khusunya terkait dalam hal evaluasi permasalahan DAS, model yang
paling relevan digunakan adalah model yang bersiat dinamis/ dynamic model yang
memperhatikan faktor waktu dalam analisis proses simulasi model.
Perkembangan teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi
Geografis (SIG) sangat mendukung dalam pembuatan, pengolahan dan analisis data
masukan ataupun keluaran dari model yang akan dibuat. Pengambilan informasi
fenomena terutama dipermukaan bumi dengan pendekatan penginderaan jauh dapat
dikaitkan dengan pengambilan informasi melalui respon spektral yang dimiliki oleh
masing-masing jenis citra penginderaan jauh yang digunakan, maupun pengenalan
medan yang mampu diinterpretasi dari citra secara visual. Sedangkan SIG mampu
memberikan kontribusi dalam pengolahan data yang bersifat grafis maupun atribut
terkait beberapa parameter lahan yang mampu diambil dari citra penginderaan jauh.
Kekritisan DAS Serang dapat diidentifikasi dan dievaluasi
permasalahannya terkait proses hidrologi di dalamnya yang dipengaruhi oleh
pengelolaan penggunaan lahan. Permasalahan tersebut dapat diidentifikasi melalui
pemodelan sehingga nilai dari proses hidrologi berupa limpasan dapat dijadikan
bahan evaluasi melalui skenario pengelolaan penggunaan lahan. Skenario
pengelolaan yang dibuat merupakan sebuah input data yang nantinya akan
menghasilkan sebuah strategi arahan pengelolaan penggunaan lahan secara optimal
dalam mendukung pengelolaan DAS dilihat dari optimalisasi water yield/ hasil air.
Salah satu metode atau tool dalam pembuatan model yang akhir-akhir
ini sedang berkembang di Indonesia melalui banyak penelitian adalah SWAT (Soil
and Water Assessment Tool). Hasil dari proses daur hidrologi atau Water Cycle
yang menggambarkan proses pergerakan air di suatu DAS mampu disimulasikan
oleh model ini secara efektif. SWAT dikembangkan oleh Dr. Jeff Arnold dari
USDA-ARS (Agricultural Research Service) untuk memprediksi pengaruh dari

4
pengelolaan lahan terhadap hasil air, sedimen dan unsur kimia pertanian. Melalui
model yang dibuat dalam kerangka ArcSWAT (Ekstensi SWAT di dalam software
ArcGIS) diharapkan permasalahan yang terjadi di DAS Serang mampu untuk
diidentifikasi dan dievaluasi untuk menghasilkan arahan pengelolaan DAS Serang
terbaik.
Dari perumusan masalah yang telah diuraikan diatas dapat
dirumuskan berbagai pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimanakah efisiensi penggunaan model ArcSWAT untuk
simulasi proses hidrologi di DAS Serang tahun 2014 melalui
informasi nilai kalibrasi model?
2. Bagaimana kondisi kekritisan DAS Serang dilihat dari besarnya
koefisien limpasan pada setiap subDAS?
3. Bagaimana bentuk skenario terbaik pengelolaan penggunaan
lahan DAS Serang melalui pengolahan data model ArcSWAT
untuk optimalisasi water yield/ hasil air?

Berdasarkan perumusan masalah dan pertanyaan penelitian yang telah


diuraikan, maka penulis akan melakukan penelitian terkait dengan manajemen
Daerah Aliran Sungai dengan tema "EVALUASI WATER YIELD (HASIL AIR)
MELALUI PEMODELAN HIDROLOGI DAN SKENARIO PENGGUNAAN
LAHAN (KASUS DI DAS SERANG, KULON PROGO)"

1.3. Tujuan Penelitian


Tujuan penelitian ini adalah
1. Menguji efisiensi penggunaan model ArcSWAT dalam mensimulasikan
proses hidrologi di DAS Serang tahun 2014.
2. Mengidentifikasi setiap subDAS melalui informasi koefisien limpasan.
3. Mengetahui bentuk skenario terbaik pengelolaan DAS Serang melalui
pengolahan model SWAT untuk optimalisasi water yield/ hasil air.

5
1.4. Kegunaan Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi akademisi,
praktisi dan pihak terkait lainnya yang mempunyai peran dalam pengelolaan DAS.
Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran lebih lanjut (khusunya
untuk akademisi) karena masih banyak aspek-aspek yang perlu dikembangkan
dalam penelitian ini guna diterapkan untuk penelitian selanjutnya. Aspek-aspek
yang perlu dikembangkan terkait dengan optimalisasi pemodelan hasil air
menggunakan model ArcSWAT.