You are on page 1of 12

LAPORAN PENDAHULUAN OSTEOARTHRITIS

1. DEFINISI
Osteoartritis yang dikenal sebagai penyakit sendi degeneratif atau osteoartrosis
(sekalipun terdapat inflamasi) merupakan kelainan sendi yang paling sering ditemukan dan
kerapkali menimbulkan ketidakmampuan (disabilitas). (Smeltzer , C Suzanne, 2012 hal
1087).
Osteoartritis (OA) yang dalam bahasa awam masyarakat kita sering dinamakan
pekapuran sendi, adalah proses degenerasi atau penuaan sendi (Ahmad Aby, 2014).
Osteoarthritis adalah penyakit tulang degeneratif yang ditandai oleh pengeroposan
kartilago artikular (sendi). Tanpa adanya kartilago sebagai penyangga, maka tulang
dibawahnya akan mengalami iritasi, yang menyebabkan degenerasi sendi (Elizabeth
J.Corwin, 2009).
Osteoartritis diklasifikasikan menjadi :
a. Tipe primer (idiopatik) tanpa kejadian atau penyakit sebelumnya yang berhubungan
dengan osteoartritis
b. Tipe sekunder seperti akibat trauma, infeksi dan pernah fraktur (Long, C Barbara,
1996 hal 336)

2. ETIOLOGI
Penyebab dari osteoartritis hingga saat ini masih belum terungkap, namun beberapa
faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis antara lain adalah :
a. Umur.
Dari semua faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis, faktor ketuaan adalah yang
terkuat. Prevalensi dan beratnya orteoartritis semakin meningkat dengan
bertambahnya umur. Osteoartritis hampir tak pernah pada anak-anak, jarang pada
umur dibawah 40 tahun dan sering pada umur diatas 60 tahun.
Perubahan fisis dan biokimia yang terjadi sejalan dengan bertambahnya umur
dengan penurunan jumlah kolagen dan kadar air, dan endapannya berbentuk
pigmen yang berwarna kuning.
b. Jenis Kelamin.
Wanita lebih sering terkena osteoartritis lutut dan sendi , dan lelaki lebih sering
terkena osteoartritis paha, pergelangan tangan dan leher. Secara keeluruhan
dibawah 45 tahun frekuensi osteoartritis kurang lebih sama pada laki dan wanita
tetapi diatas 50 tahun frekuensi oeteoartritis lebih banyak pada wanita dari pada pria
hal ini menunjukkan adanya peran hormonal pada patogenesisosteoartritis.

Osteoartritis lebih sering dijumpai pada orang – orang Amerika asli dari pada orang kulit putih. hanya salah satu dari orang tuanya yang terkena. d. maka rawan sendi akan membal dan menyebabkan sendi menjadi tidak stabil / seimbang sehingga mempercepat proses degenerasi. sedangkan wanita. Joint Mallignment Pada akromegali karena pengaruh hormon pertumbuhan. infeksi kronis) menimbulkan reaksi peradangan dan pengeluaran enzim perusak matriks rawan sendi oleh membran sinovial dan sel-sel radang. Hal ini mungkin berkaitan dengan perbedaan cara hidup maupun perbedaan pada frekuensi kelainan kongenital dan pertumbuhan. h. Cedera sendi. dan anak-anaknya perempuan cenderung mempunyai tiga kali lebih sering dari pada ibu dan anak perempuan dari wanita tanpa osteoarthritis. Akibat penyakit radang sendi lain Infeksi (artritis rematord. Kepadatan tulang dan pengausan (wear and tear) Pemakaian sendi yang berlebihan secara teoritis dapat merusak rawan sendi melalui dua mekanisme yaitu pengikisan dan proses degenerasi karena bahan yang harus dikandungnya. g. Genetic Faktor herediter juga berperan pada timbulnya osteoartritis missal. pada ibu dari seorang wanita dengan osteoartritis pada sendi-sendi inter falang distal terdapat dua kali lebih sering osteoartritis pada sendi-sendi tersebut. Heberden node merupakan salah satu bentuk osteoartritis yang biasanya ditemukan pada pria yang kedua orang tuanya terkena osteoartritis. i.c. j. f. Suku Prevalensi dan pola terkenanya sendi pada osteoartritis nampaknya terdapat perbedaan diantara masing-masing suku bangsa. e. infeksi akut. Penyakit endokrin . tapi juga dengan osteoartritis sendi lain (tangan atau sternoklavikula). pekerjaan dan olah raga (trauma) Kegiatan fisik yang dapat menyebabkan osteoartritis adalah trauma yang menimbulkan kerusakan pada integritas struktur dan biomekanik sendi tersebut. Kegemukan ternyata tak hanya berkaitan dengan osteoartritis pada sendi yang menanggung beban. misalnya osteoartritis paha lebih jarang diantara orang-orang kulit hitam dan usia dari pada kaukasia. Kegemukan (obesitas) Berat badan yang berlebihan nyata berkaitan dengan meningkatnya resiko untuk timbulnya osteoartritis baik pada wanita maupun pada pria.

termasuk IL-1. berkat adanya cairan sinovium. Kadar molekul perantara tertentu. tendo. tulang ini mengalami pertukaran. Meskipun perbaikan ini pada mulanya mampu mengimbangi kemerosotan tulang rawan. glukosa akan menyebabkan produksi proteaglikan menurun. Osteoarthritis ditandai dengan perubahan signifiikan baik dalam komposisi maupun sifat mekanis tulang rawan. Pada osteoarthritis. tampaknya terjadi perlemahan jaringan kolagen. Pada diabetes melitus. kalsium pirofosfat dapat mengendapkan hemosiderin. terjadi produksi air dan garam-garam proteglikan yang berlebihan pada seluruh jaringan penyokong sehingga merusak sifat fisik rawan sendi. mungkin karena penurunan sintesis lokal kolagen tipe II. tulang rawan yang mengalami degenerasi memperlihatkan peningkatan kandungan air dan penurunan konsentrasi proteoglikan dibandingkan dengan tulang rawan sehat. Pada awal perjalanan penyakit. ligamen. akronotis. Selain itu. kristal monosodium urat/pirofosfat dalam rawan sendi 3. nitrat oksida meningkat pada tulang rawan osteoarthritis dan tampaknya berperan dalam perubahan komposisi tulang rawan. kondrosit pada lapisan yang lebih dalam berproliferasi dan berupaya memperbaiki kerusakan dengan menghasilkan kolagen dan proteoglikan baru. TNF. yang mungkin menyebabkan penurunan jumlah kondrosit fungsional. Apoptosis juga meningkat. penyakit Wilson. Tulang rawan sendi memiliki letak strategis yaitu diujung –ujung tulang untuk melaksanakan 2 fungsi. Keseimbangan ini dipertahankan oleh kondrosit. yang tidak hanya menyintesis matriks tetapi juga mengeluarkan enzim yang menguraikan matriks. komponen matriks tulang tersebut yang aus diuraikan dan diganti. sinyal molekular yang menyebabkan . tembaga polimer. Deposit pada rawan sendi Hemokromatosis. k. dan 2) disendi sebagai penerima beban. perubahan ini cenderung menurunkan daya regang dan kelenturan tulang rawan sendi. yaitu 1) menjamin gerakan yang hampir tanpa gesekan didalam sendi. asam hemogentisis. tulang rawan sendi tidak statis. Seperti pada tulang orang dewasa. sinovia. proses ini terganggu oleh beragam sebab. dan kulit. Kedua fungsi ini mengharuskan tulang rawan elastis (yaitu memperoleh kembali arsitektur normalnya setelah tertekan) dan memiliki daya regang (tensile streghth) yang tinggi. Sebagai respons terhadap perubahan regresif ini. dan peningkatan pemecahan kolagen yang sudah ada. PATOFISIOLOGI Tulang rawan sendi merupakan sasaran utama perubahan degeneratif pada osteoarthritis. Secara keseluruhan. Pada hipertiroidisme. menebarkan beban keseluruh permukaan sendi sedemikian sehingga tulang dibawahnya dapat menerima benturan dan berat tanpa mengalami kerusakan.

tulang menjadi tebal dan terjadi penyempitan rongga sendi yang menyebabkan nyeri. pergelangan tangan. kaki. panggul. Sendi interfalanga distal dan proksimasi. Hal ini disebabkan oleh adanya rasa nyeri yang dialami atau diakibatkan penyempitan ruang sendi atau kurang digunakannya sendi tersebut. biasanya pada tangan. spina bagian atas dan bawah. seperti panggul lutut dan kolumna vertebralis. adanya hipertropi atau nodulus. terutama pada malam hari b. Nyeri dapat berkaitan dengan rasa kesemutan atau kebas. ( Soeparman . kaki kripitasi. pertumbuhan tulang di sendi interfalangeal distal pada jari tangan. Sendi yang paling sering terkena adalah sendi yang harus menanggung berat badan. Sendi tampak mengalami deformitas c. PEMERIKSAAN PENUNJANG a. Nyeri dan kekakuan pada satu atau lebih sendi. deformitas. tetapi pemeriksan laboratorium yang spesifik dapat membantu mengetahui penyakit yang mendasari pada OA sekunder. MANIFESTASI KLINIK a.kondrosit lenyap dan matriks ekstrasel berubah akhirnya menjadi predominan. Dengan uji serologik dengan pendeteksian di dalam cairan sinovium dan/ serum adanya makromolekul (mis. glikosaminoglikan) yang dilepas oleh tulang rawan / tulang yang mengalami degenerasi. Faktor yang menyebabkan pergeseran dari gambaran reparatif menjadi generatif ini masih belum diketahui. dan bahu. lutut. dan penurunan rentang gerak. Osteoartritis pada beberapa kejadian akan mengakibatkan terbatasnya gerakan.2005). Untuk OA tidak ada pemeriksaan laboratorium yang diagnostik. Pembengkakan sendi yang terkena. . Perubahan-perubahan degeneratif yang mengakibatkan karena peristiwa-peristiwa tertentu misalnya cedera sendi infeksi sendi deformitas congenital dan penyakit peradangan sendi lainnya akan menyebabkan trauma pada kartilago yang bersifat intrinsik dan ekstrinsik sehingga menyebabkan fraktur pada ligamen atau adanya perubahan metabolisme sendi yang pada akhirnya mengakibatkan tulang rawan mengalami erosi dan kehancuran. 4. Kehilangan fungsi secara progresif 5. Nodus Heberden. Pemeriksaan menunjukkan adanya daerah nyeri tekan krepitus. dapat terbentuk d. dan tanda- tanda inflamasi pada saat-saat tertentu e.

suara berderak akibat permukaan yang terpajan saling bergesekan. 7.6-4. Pemakaian sendi berulang-ulang cenderung menambah nyeri. d. Dokter akan mengamati ketidaknormalan yang terjadi. Obat-obat anti inflamasinon steroid (OAINS) bekerja sebagai analgetik dan sekaligus mengurangi sinovitis. b. Artroskopi Artroskopi adalah alat kecil berupa kamera yang diletakkan dalan engsel tulang. Dubia. Foto Rontgent menunjukkan penurunan progresif massa kartilago sendi sebagai penyempitan rongga sendi 6. meningkatkan mobilitas dan mengurangi ketidak mampuan. c. Medikamentosa Sampai sekarang belum ada obat yang spesifik yang khas untuk osteoartritis. dan mungkin terjadi efusi ringan. Tes darah akan membantu memberi informasi untuk memeriksa rematik. Analisa cairan engsel Dokter akan mengambil contoh sampel cairan pada engsel untuk kemudian diketahui apakah nyeri/ngilu tersebut disebabkan oleh encok atau infeksi. f. obat yang diberikan bertujuan untuk mengurangi rasa sakit. Krepitus. PROGNOSIS Umumnya baik.9 g/hari atau profoksifen HCL. Hanya kasus-kasus berat yang memerlukan operasi. terutama pada pagi hari.  Analgesic yang dapatdipakai adalah asetaminofen dosis 2. sebagian besar nyeri dapat diatasi dengan obat-obat konservatif. sering terdengar pada kasus yang berat. PENATALAKSANAAN a. e. Progresif lambat. Gambar sinar X pada engsel akan menunjukkan perubahan yang terjadi pada tulang seperti pecahnya tulang rawan. Biasanya sendi agak bengkak. Asam salisilat juga cukup efektif namun perhatikan efek samping pada saluran cerna dan ginjal . Tes darah. meskipun tak dapat memperbaiki atau menghentikan proses patologis osteoartritis. Sinar-X. KOMPLIKASI Komplikasi yang umum adalah kekakuan sendi dan nyeri tumpul yang dalam. tergantung sendi yang terlibat dan tingkat keparahan 8. oleh karena patogenesisnya yang belum jelas.

Tindakan ini berupa injeksi turunan asam hyluronik yang akan mengurangi nyeri pada pangkal tulang.ibuprofen dapat digunakan. seperti fenofrofin. atau tidak dapat peradangan maka OAINS. d. Jika tidak berpengaruh. piroksikam. Penurunan berat badan seringkali dapat mengurangi timbulnya keluhan dan peradangan. paha dan lutut. Disatu pihak pasien ingin menyembunyikan ketidakmampuannya. Pemakaian panas yang sedang diberikan sebelum latihan untk mengurangi rasa nyeri dan kekakuan. Tindakan ini hanya dilakukan jika osteoarhtritis pada lutut.  Injeksi cortisone. Perlu dihindari aktivitas yang berlebihan pada sendi yang sakit. inframerah. Diet Diet untuk menurunkan berat badan pasien osteoartritis yang gemuk harus menjadi program utama pengobatan osteoartritis. f. Pasien osteoartritis sering kali keberatan untuk memakai alat-alat pembantu karena faktor-faktor psikologis. Berbagai sumber panas dapat dipakai seperti Hidrokolator. Sering kali diskusi karena ini harus dimulai dari dokter karena biasanya pasien enggan mengutarakannya. mandi paraffin dan mandi . Beban pada lutut berlebihan karena kakai yang tertekuk (pronatio). Perlindungan sendi Osteoartritis mungkin timbul atau diperkuat karena mekanisme tubuh yang kurang baik. c. Dokter akan menyuntikkan cortocosteroid pada engsel yang mempu mengurangi nyeri/ngilu  Suplementasi-visco. e. Persoalan Seksual. ultrasonic. yang meliputi pemakaian panas dan dingin dan program latihan ynag tepat. Dukungan psikososial Dukungan psikososial diperlukan pasien osteoartritis oleh karena sifatnya yang menahun dan ketidakmampuannya yang ditimbulkannya. bantalan elektrik. Pemakaian tongkat. Pada sendi yang masih aktif sebaiknya diberi dingin dan obat-obat gosok jangan dipakai sebelum pamanasan. b. efek samping utama adalahganggauan mukosa lambung dan gangguan faal ginjal. dipihak lain dia ingin orang lain turut memikirkan penyakitnya. Fisioterapi Fisioterapi berperan penting pada penatalaksanaan osteoartritis. Dosis untuk osteoarthritis biasanya ½-1/3 dosis penuh untuk arthritis rematoid. alat-alat listrik yang dapat memperingan kerja sendi juga perlu diperhatikan. Karena pemakaian biasanya untuk jangka panjang. Gangguan seksual dapat dijumpai pada pasien osteoartritis terutama pada tulang belakang.

debridement sendi untuk menghilangkan fragmen tulang rawan sendi. Konsumsi makanan sehat seperti buah-buahan. Engsel yang rusak akan diangkat dan diganti dengan alat yang terbuat dari plastik atau metal yang disebut prostesis. Tindakan yang dilakukan adalah osteotomy untuk mengoreksi ketidaklurusan atau ketidaksesuaian. pebersihan osteofit. Terapi konservatif mencakup penggunaan kompres hangat. dari pancuran panas. c. Operasi Operasi perlu dipertimbangkan pada pasien osteoartritis dengan kerusakan sendi yang nyata dengan nyari yang menetap dan kelemahan fungsi.  Penggantian engsel (artroplasti). g. Opsi ini diambil untuk osteoatritis pada anak dan remaja. penurunan berat badan.  Pembersihan sambungan (debridemen). PENCEGAHAN Untuk mencegah osteoarthritis. Terapi okupasioanl dan fisioterapi dapat membantu pasien untuk mengadopsi strategi penangan mandiri. Dokter bedah tulang akan mengangkat serpihan tulang rawan yang rusak dan mengganggu pergerakan yang menyebabkan nyeri saat tulang bergerak. upaya untuk menhistirahatkan sendi serta menghindari penggunaan sendi yang berlebihan pemakaian alat-alat ortotail. lakukan hal-hal berikut: a. Atropi rawan sendi dan tulang yang timbul pada tungkai yang lumpuh timbul karena berkurangnya beban ke sendi oleh karena kontraksi otot. Jaga gerakan yang dapat menyebabkan cidera tulang. sayur dan kacang-kacangan b. h. Minum obat yang direkomendasikan dokter. Untuk menyangga sendi yang mengalami inflamasi ( bidai penopang) dan latihan isometric serta postural. d. Latihan isometrik lebih baik dari pada isotonik karena mengurangi tegangan pada sendi. Penataan dilakukan agar sambungan/engsel tidak menerima beban saat bergerak. maka penguatan otot-otot tersebut adalah penting. 9.  Penataan tulang. Oleh karena otot- otot periartikular memegang peran penting terhadap perlindungan rawan senadi dari beban. Program latihan bertujuan untuk memperbaiki gerak sendi dan memperkuat otot yang biasanya atropik pada sekitar sendi osteoartritis. Pertimbangkan untuk menggunakan alat bantu saat beraktivitas untuk mengurangi bahaya. .

Teknik relaksasi juga dapat membantu. Perasaan tidak nyaman dalam beberapa periode/waktu sebelum pasien mengetahui dan merasakan adanya perubahan pada sendi. identitas diri missal ketergantungan pada orang lain. missal pucat intermitten. ketidakmampuan. anoreksia. atrofi otot. dan perubahan bentuk anggota tubuh 4) Makanan / cairan Gejala : ketidakmampuan untuk menghasilkan atau mengonsumsi makanan atau cairan adekuat : mual. Jika mengangkat benda. Riwayat Kesehatan . dan kesulitan untuk mengunyah. Ketahui batas kemampuan gerakan dan kemampuan mengangkat beban. pekerjaan. citra tubuh. atau pada tungkai. dan membrane mukosa kering. kekakuan senda pada pagi hari. biasanya terjadi secara bilateral dan simetris. nyeri tekan. g. yang memburuk dengan stress dengan sendi. b. ketergantungan pada orang lain. Adanya keluhan sakit dan kekakuan pada tangan. usahakan beban terbagi merata pada seluruh sambungan tulang. factor-faktor hubungan social. kulit kontraktur atau kelainan pada sendi dan otot. keterbatasan ruang gerak. f. Tanda : penurunan berat badan. seperti mengambil napas dalam dan hipnosis. sianotik kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal 3) Integritas ego Gejala : factor-faktor stress akut/kronis missal finansial. h. Pemeriksaan Fisik 1) Aktivitas/istirahat Gejala : nyeri sendi karena pergerakan. Pilih sepatu yang tepat. Pengkajian a. . keputusan dan ketidakberdayaan. Ancaman pada konsep diri. e. Tanda : malaise. 2) Kardiovaskur Gejala : fenomena Raynaud jari tangan/kaki. B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN 1. 5) Hygiene Gejala : berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan pribadi secara mandiri. 6) Neurosensory .

kesulitan dalam menangani tugas/pemeliharaan rumah tangga. rasa nyeri kronis dan kekakuan ( terutama pada pagi hari ). Intoleransi Aktivitas b/d tirah baring dan imobilitas. 8) Keamanan Gejala : kulit mengkilat. Defisit perawatan diri b/d gangguan muskuloskeletal. ulkus kaki. Diagnosa Keperawatan a. Riwayat Psiko Sosial Pasien dengan RA mungkin merasakan adanya kecemasan yang cukup tinggi apalagi pada pasien yang mengalami deformitas pada sendi-sendi karean ia merasakan adanya kelemahan-kelemahan pada dirinya dan merasakan kegiatan sehari-hari menjadi berubah. c. Intervensi Keperawatan a. Tanda : pembengkakan sendi simetri 7) Nyeri/kenyamanan Gejala : fase akut dari nyeri ( disertai / tidak disertai pembengkakan jaringan lunak pada sendi ). kebutuhan yang tidak terpenuhi c. kekeringan pada mata. Ansietas b/d ancaman atau perubahan pada kesehatan. 9) Interaksi social Gejala : kerusakan interaksi dengan keluarga/orang lain. kelemahan 3. kelemahan umum. nodus subkutaneus. Lesi kulit. Gangguan citra tubuh b/d penyakit. gaya hidup kurang gerak b. Nyeri b/d penyempitan rongga sendi g. Intoleransi Aktivitas b/d tirah baring dan imobilitas. Perawat dapat melakukan pengkajian terhadap konsep diri klien khususnya aspek body image dan harga diri klien. kurang familier dengan sumber-sumber informasi f. Gejala : kebas/ kesemutan pada tangan dan kaki. gaya hidup kurang gerak Kriteria Hasil :  Menoleransi aktivitas yang biasa dilakukan  Menunjukkan toleransi aktivitas . dan membrane mukosa. hilangnya sensasi pada jari tangan. Resiko jatuh b/d penurunan kekuatan ekstremitas bawah. kelemahan umum. demam ringan menetap. 2. tegang. perubahan peran. kelemahan umum e. ditandai dengan deformitas sendi d. isolasi. Defisiensi pengetahuan tentang proses penyakit b/d keterbatasan kognitif.

kebutuhan yang tidak terpenuhi Kriteria hasil : Ansietas berkurang. kadang-kadang. 2) Evaluasi motivasi dan keinginan pasien untuk meningkatkan aktivitas 3) Tentukan penyebab keletihan 4) Pantau asupan nutrisi untuk memastikan sumber-sumber energi yang adekuat b.  Mendemonstrasikan penghematan energi Intervensi : 1) Kaji tingkat kemampuan klien berpindah dari tempat tidur. Ansietas b/d ancaman atau perubahan pada kesehatan. atau selalu) Intervensi : 1) Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien 2) Gali bersama pasien tentang teknik yang berhasil dan tidak berhasil menurunkan ansietas 3) Bantu pengalihan ansietas melalui radio. berdiri. kelemahan umum Kriteria Hasil : . TV. Resiko jatuh b/d penurunan kekuatan ekstremitas bawah. Gangguan citra tubuh b/d penyakit. dibuktikan oleh tingkat ansietas hanya ringan hingga sedang Menunjukkan pengendalian diri terhadap ansietas yang dibuktikan oleh indikator 1-5 (tidak pernah. ambulasi. jarang. sering. ditandai dengan deformitas sendi Kriteria Hasil :  Gangguan citra tubuh berkurang yang dibuktikan oleh selalu menunjukkan adaptasi dengan ketunadayaan fisik  Menunjukkan citra tubuh Intervensi : 1) Kaji dan dokumentasikan respons verbal dan nonverbal pasien terhadap tubuh klien 2) Identifikasi mekanisme koping yang biasa digunakan klien 3) Tentukan harapan klien tentang citra tubuh berdasarkan tahap perkembangan d. permainan untuk menurunkan ansietas dan memperluas fokus 4) Kolaborasi pemberian obat untuk menurunkan ansietas c.

gerakan terkoordinasi. Nyeri b/d penyempitan rongga sendi Kriteria Hasil : Melaporkan nyeri dapat dikendalikan Menunjukkan pengurangan tingkat nyeri Intevensi : 1) Kaji tingkat nyeri 2) Ajarkan penggunaan teknik non farmakologis pengendalian nyeri setelah atau selama aktivitas yang menimbulkan nyeri 3) Kolaborasi pemberian analgesik untuk mengurangi nyeri (berat) 4) Kendalikan faktor lingkungan yang memengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan. yang dibuktikan oleh keseimbangan. kurang familier dengan sumber-sumber informasi Kriteria Hasil : Mengidentifikasi kebutuhan terhadap informasi tambahan tentang proses penyakit Intervensi : 1) Kaji tingkat pengetahuan klien saat ini dan pemahaman terhdapa materi 2) Tetapkan tujuan pembelajaran bersama yang realistis dengan klien 3) Pilih metode dan strategi penyuluhan yang sesuai 4) Beri waktu pada klien untuk mengajukan pertanyaan dan mendiskusikan permasalahannya f. Defisiensi pengetahuan tentang proses penyakit b/d keterbatasan kognitif. Resiko jatuh akan menurun atau terbatas. . kejadian jatuh. dan pengetahuan : Pencegahan Jatuh Intervensi : 1) Lakukan pengkajian resiko jatuh pada pasien 2) Identifikasi karakteristik lingkungan yang dapat meningkatkan potensi jatuh 3) Ajarkan klien bagaimana posisi terjatuh yang dapat meminimalkan cedera 4) Bantu pasien saat ambulasi 5) Sediakan alat bantu berjalan e. perilaku pencegahan jatuh.

http://ahmadaby. Alwi. Buku Saku Diagnosis Keperawatan : Diagnosis NANDA. Ningsih lukman. edisi V. Nancy R. Edisi kedua. Buku Ajar Keperawatan Gerontik Edisi 2. 2006. intervensi NIC. Jakarta : Salemba Medika . Judith. Jakarta : Balai Penerbit FK UI Stanley. Diakses tanggal 8 Oktober 2014. A.com.aspx. 2014. http://www. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Musculoskeletal. Suzannne. 2011. Elizabeth J.singhealth. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. kriteria hasil NOC.sg/Patientcare/Overseas- Referral/bh/Conditions/Pages/Osteoarthritis-Knee-Pain. DAFTAR PUSTAKA Aby. Mickey. Patofisiologi : Buku Saku edisi 3. Jakarta : EGC Nurma. 2002. Jakarta : Internal Publishing Muttaqin. Jakarta: Salemba Medika Smeltzer C. Ilmu Penyakit Dalam. 2012. 18:27 WITA Cania. Jakarta : EGC Soeparman. Buku Saku Gangguan Muskuloskeletal : Aplikasi Pada Praktik Klinik Keperawatan.com. Alih Bahasa Andry Hartono.com. Murni. 1995. Osteoarthritis OA atau Pengapuran Sendi.Edisi 9. Noor Helmi. 18:17 WITA Corwin. jilid III. dkk.Ahern. Diakses tanggal 8 Oktober 2014. Ahmad. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Diakses tanggal 8 Oktober 2014. 2009.M. 2009. Osteoarthritis Knee-Pain. Arif. dkk. 2011.blogspot. http://murnicania. 18:15 WITA Anonim. 2014. Jakarta : EGC Zairin. 2009. Jakarta : EGC Idrus. Askep Osteoarthritis. Jakarta : EGC Wilkinson. 2014. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth.blogspot.