You are on page 1of 33

PENGARUH PIJAT OKSITOKSIN TERHADAP PENINGKATAN

PRODUKSI ASI PADA IBU POST PARTUM DI RUANG
FLAMBOYAN RSUD MARDI WALUYO BLITAR

MINI RISET

Disusun Oleh:
Kelompok B
Dodi Harianto NIM. 1712B0014 Tahun Angkatan 2017
Emilinda Seuk NIM. 1712B0019 Tahun Angkatan 2017
Sella Windayani NIM. 1712B0049 Tahun Angkatan 2017
Yunikma Amin Linambar NIM. 1712B0063 Tahun Angkatan 2017

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
SURYA MITRA HUSADA KEDIRI
2018

STIKES SURYA MITRA HUSADA KEDIRI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
DEPARTEMENT MATERNITAS

HALAMAN PENGESAHAN

1. Judul Kegiatan : Pengaruh Pijat Oksitoksin Terhadap Peningkatan Produksi
ASI Pada Ibu Post Partum
2. Bidang Kegiatan : Departemen Keperawatan Maternitas
3. Bidang Ilmu : Pendidikan Profesi Ners
4. Anggota Kelompok :
a) Dodi Harianto NIM. 1712B0014/ 2017
b) Emilinda Seuk NIM. 1712B0019/ 2017
c) Sella Windayani NIM. 1712B0049/ 2017
d) Yunikma Amin Linambar NIM. 1712B0063/ 2017
5. Tempat Pelaksanaan : Ruang Melati RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar
6. Waktu Pelaksanaan : 5 April2018

Blitar, April 2018
Di Setujui Oleh:

Pembimbing Klinik Pembimbing Akademik

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
rahmat-Nya yang telah dilimpahkan kepada peneliti sehingga Mini Riset dengan
judul “Pengaruh Pijat Oksitoksin Terhadap Peningkatan Produksi ASI Pada
Ibu Post Partum Di Rsud Mardi Waluyo Blitar” dapat terselesaikan dengan
baik. Mini Riset ini merupakan salah satu persyaratan Profesi Ners Departemen
Maternitas pada Program Studi Pendidikan Ners di STIKes Surya Mitra Husada
Kediri.
Dalam penyusunan mini riset ini, kami banyak mendapatkan bimbingan dan
dorongan dari berbagai pihak. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada :
1. Dr. H. Sandu Siyoto, S.Sos., SKM, M.Kes, selaku Ketua STIKes Surya Mitra
Husada Kediri.
2. Agusta Dian Ellina, S.Kep.Ns., M.Kep, selaku Ketua Program Studi
Pendidikan Ners STIKes Surya Mitra Husada Kediri.
3. Suci Anggraeni, S.Kep.,Ns., M.Kep, selaku pembimbing Departemen
Maternitas yang telah memberikan bimbingan pembuatan mini riset ini
sehingga dapat terselesaikan dengan baik.
4. Sri Handayani, S.ST. Keb, sebagai Kepala Ruang Flamboyan RSUD Mardi
Waluyo Blitar yang telah membimbing dan mengizinkan untuk melakukan
penelitian sehingga mini riset ini dapat terselesaikan.

Mini riset ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kami menerima kritik dan
saran yang sifatnya membangun guna menyempurnakan mini riset ini.Harapan
kami semoga mini riset ini dapat memberikan manfaat dan menambah
pengetahuan terutama bagi kami serta bermanfaat bagi semua pembacanya.

Blitar, 5 April 2018
Peneliti

.............. Populasi................................................ Variabel Dependen ...... ii KATA PENGANTAR ....................... ...................................................................................................... Populasi .. Konsep pijat oksitoksin ............................................................................... b) Refleks Oksitoksin ........................................................................ d) Factor-faktor yang mempengaruhi pengeluaran ASI .......................... 1....................................................................................................................... I.................................. Tujuan Khusus ....................................................... F..... 2.................. Etika Penelitian ................................................................................................. E...................................................................... Analisa Data ............................... Konsep Air Susu Ibu (ASI) .................................... Bagi masyarakat ....................... 2.................................... Tujuan Penelitian ............................................................. iii DAFTAR ISI .................... Tujuan Umum ....... i LEMBAR PENGESAHAN .......................................................................... B......................................................... J........................ 4................................... Pengolahan Data .......................................... Manfaat Penelitian .................................................. H......... 3...................................... e) Faktor fisiologi ibu ............................................. Pengumpulan Data ................... Sampel ....... Bagi peneliti ........................... e) Cara merangsang pijat oksitoksin ................................................................................................................................................................ 2....................................................................... Definisi Operasional .. a) Peran hormonal dalam pengeluaran ASI ................ Bagi Ilmu Keperawatan . 1....................................... BAB II TINJAUAN PUSTAKA A...................................................................................................................................................................................................................... iv BAB I PENDAHULUAN A........................................................................... c) Hormon dan reflex yang menghasilkan ASI ............ G.............. D............................................................................................................................................................................................. d) Tanda tanda reflex pijat oksitoksin .................. Variabel Independen ........... C...................................................................... Kerangka Kerja ................................................................................................... D.......................... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... b) Komposisi ASI .............................................. c) Tujuan pijat oksitoksin ................................................. 2........ Latar Belakang ........................................................... 1........... K........................................................... Bahan Dan Instrumen / Alat Penelitian ...... 3....... a) Pengetian ASI........ B........................ 1............................................................. Variabel Penelitian .... Sampling Dan Sampel .................................................................................................................................................................................................................... L................................ C........ Rumusan Masalah ............................................................................ BAB III Metode Penelitian A............................................................................................................... Sampling ...... B. Desain Penelitian . Bagi institusi pelayanan kesehatan ....................................... Lokasi Dan Waktu Penelitian .................................................................................................................................................... Keterbatasan Penelitian .....................................

............... Saran ............................................ Kesimpulan ......................................BAB IV Hasil Penelitian BAB V Pembahasan BAB VI Kesimpulan Dan Saran A.......................................... DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN ................................ B....................................

Latar Belakang Masalah Perempuan merupakan salah satu makhuk yang mendapat anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa untuk dapat mengandung. BAB I PENDAHULUAN A. Air susu ibu bisa mencerdaskan dan meningkatkan kualitas generasi muda bangsa. Sering diartikan bahwa ASInya tidak cukup atau ASI nya tidak enak. zat kekebalan aktif yang akan melawan masuknya infeksi ke dalam tubuh bayi. Selain itu ibu sering benar mengeluhkan bayinya sering menangis atau menolak menyusu. 2009). Masalah dari ibu yang timbul selama menyusui dapat dimulai sejak sebelum persalinan (periode antenatal). Masalah menyusui dapat pula diakibatkan karena keadaan khusus. Menyusui juga membantu melindungi kesehatan ibu (Perinasia. sehingga sering menyebabkan diambilnya keputusan untuk menghentikan menyusui (Maliha. Ada lebih banyak lagi anak yang menderita penyakit yang tidak perlu diderita jika mereka disusui. melahirkan dan menyusui. Saat ini . Menyusui memberi anak awal terbaik dalam hidupnya. Diperkirakan lebih dari satu juta anak meninggal tiap tahun akibat diare. pada masa post partum dini dan masa post partum lanjut. setiap bayi yang diberi ASI akan mempunyai kekebalan alami terhadap penyakit karena ASI banyak mengandung antibodi. penyakit saluran napas dan infeksi lainnya karena mereka tidak disusui secara memadai. 2011).

Angka kematian bayi di Indonesia masih tinggi. masalah hematologi (6%). Pengeluaran hormon oksitosin selain dipengaruh oleh isapan bayi juga dipengaruhi oleh reseptor yang terletak pada sistem duktus. 2012).sekitar 40 % kematian balita terjadi pada satu bulan pertama kehidupan bayi. 2008). saraf dan bermacam-macam hormon yang berpengaruh terhadap pengeluaran oksitosin. asfiksia (27%). antara lain bayi berat lahir rendah (29%). Kemenkes RI mengungkapkan penyebab kematian bayi di Indonesia. 32 per 1. dengan demikian kematian bayi dan balita dapat dicegah melalui pemberian ASI Eklslusif secara dini dari sejak bayi dilahirkan di awal kehidupannya (Roesli. Pengeluaran ASI dapat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu produksi dan pengeluaran. dengan pemberian ASI akan mengurangi 22 % kematian bayi dibawah 28 hari. diare serta pneumonia (13%) (Depkes RI. Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) angka kematian bayi (AKB) juga masih tinggi. Tidak semua ibu postpartum langsung mengeluarkan ASI karena pengeluaran ASI merupakan suatu interaksi yang sangat komplek antara rangsangan mekanik. masalah pemberian minum (10%). tetanus dan infeksi (15%). 2014). Produksi ASI dipengaruhi oleh hormon prolaktin sedangkan .000 kelahiran hidup (SDKI. 2008). oleh karena itu perlu adanya upaya mengeluarkan ASI untuk beberapa ibu postpartum. Angka itu hanya turun sedikit dari AKB SDKI 2007 yang 34 per 1.000 kelahiran hidup. bila duktus melebar atau menjadi lunak maka secara reflektoris dikeluarkan oksitosin oleh hipofise yang berperan untuk memeras air susu dari alveoli (Soetjiningsih.

maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah: “Apakah pijat oksitosin efektif dalam membantu pengeluaran ASI pada ibu Ibu Postpartum di Ruang Nifas RSUD Mardi Waluyo Blitar?” . Pijat merupakan salah satu solusi untuk mengatasi ketidaklancaran produksi ASI. pengeluaran dipengaruhi oleh hormon oksitosin. meningkatkan ambang rasa nyeri dan mencintai bayinya. 2008). Pijatan di daerah tulang belakang ini juga akan merileksasi ketegangan dan menghilangkan stress dan dengan begitu hormon oksitosoin keluar dan akan membantu pengeluaran air susu ibu. 2009). Pijat adalah pemijatan pada sepanjang tulang belakang (vertebrae) sampai tulang costae kelima-keenam dan merupakan usaha untuk merangsang hormon prolaktin dan oksitosin setelah melahirkan (Yohmi & Roesli. dengan dilakukan pijatan pada tulang belakang ibu akan merasa tenang. Rumusan Masalah Berdasarkan pada latar belakang masalah di atas. B. Hormon oksitosin akan keluar melalui rangsangan ke puting susu melalui isapan mulut bayi atau melalui pijatan pada tulang belakang ibu bayi. rileks. Pijatan ini berfungsi untuk meningkatkan hormon oksitosin yang Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Efektifitas Pijat Oksitosin terhadap pengeluaran ASI pada Ibu Postpartum di Ruang Nifas RSUD Mardi Waluyo Blitar”. sehingga dengan begitu hormon oksitosin keluar dan ASI pun cepat keluar . dibantu dengan isapan bayi pada puting susu pada saat segera setelah bayi lahir dengan keadaan bayi normal (Guyton.

Bagi Peneliti Penelitian diharapkan dapat memberikan tambahan data baru yang relevan terkait dengan pijat oksitosin terhadap produksi ASI pada ibu. 2. Mengetahui gambaran pelaksanaan pijat oksitosin pada ibu postpartum di Ruang Nifas RSUD Mardi Waluyo Blitar. Tujuan Umum Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas pijat oksitosin terhadap pengeluaran ASI pada ibu postpartum di Ruang Nifas RSUD Mardi Waluyo Blitar” 2. Tujuan Khusus a. Mengidentifikasi pengeluaran ASI pada ibu postpartum di Ruang Nifas RSUD Mardi Waluyo Blitar c. Tujuan Penelitian Tujuan yang hendak dicapai dengan adanya penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. b.C. . D. Menganalisis efektifitas pijat oksitosin terhadap pengeluaran ASI pada ibu postpartum di Ruang Nifas RSUD Mardi Waluyo Blitar. Bagi Ilmu Keperawatan Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi salah satu contoh intervensi mandiri tenaga medis dalam penatalaksanaan untuk merangsang produksi ASI pada ibu dengan menggunakan pijat. Manfaat Penelitian 1.

Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi kepada tenaga kesehatan atau instansi kesehatan lainnya sebagai salah satu bekal dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan khususnya produksi ASI pada ibu dengan memberikan pijat oksitosin. 4. 3. Bagi Ilmu Keperawatan Bagi Peneliti Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan Bagi Masyarakat . sehingga dapat meningkatkan pengetahuan peneliti tentang produksi ASI pada ibu dan penggunaan pijat ASI. Bagi Masyarakat Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan masyarakat dalam upaya peningkatan produksi ASI serta dapat menginformasikan dampak dari kegagalan proses menyusui.

Tingkat estrogenmenurun saat melahirkan dan tetap rendah untuk beberapa bulan selama tetap menyusui. berfungsi menstimulasi sistem saluran ASI untuk membesar. Landasan Teori 1. Selain itu. adapun hormon-hormon yang berperan adalah : 1) Progesteron. Tingkat progesterondan estrogenmenurun sesaat setelah melahirkan. oksitosin juga mengencangkan otothalus di sekitar alveoli untuk memeras . Hal ini menstimulasi produksi secara besar-besaran. Sebaiknya ibu menyusui menghindari KB hormonal berbasis hormonestrogen. berperan dalam membesarnya alveoil dalam 6) Oksitosin. berfungsi mempengaruhi pertumbuhandan ukuran alveoli. pasca melahirkan. berfungsi mengencangkan otothalus dalam Rahim pada saat melahirkan dan setelahnya. 3) Follicle stimulating hormone (FSH) 4) Luteinizing hormone (LH) 5) Prolaktin. 2) Estrogen. Pijat Oksitosin a) Peran Hormonal dalam Pengeluaran ASI Pengeluaran ASI tidak terlepas dari pengaruh hormonal. seperti halnya juga dalam orgasme. karena dapat mengurangi jumlah produksi ASI. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.

mendengar suara bayi. ASI menuju saluran susu. yang berperan dalam pertumbuhan payudara. Dan sebaliknya. stress.(Dijen PelayananMedik DEPKES RI dan PERINASIA. atau mendengar suara bayi. 7) Human placental lactogen (HPL): Sejak bulan kedua kehamilan. Oksitosin berperan dalam proses turunnya susu let-down/milk ejection reflex. reflek oksitosin akan terhambat pada saat ada rasa khawatir. 1991) Keluarnya hormon oksitosin menstimulasi turunnya susu (milk ejection/ let-down reflex). Sering pula . b) Reflek Oksitosin Dalam proses menyusui. melihat bayi dan rasa percaya diri. sehingga terjadi kebocoran. puting. reflek oksitosin bekerja sebelum atau pada proses menyusui yang menyebabkan aliran ASI. dan ragu – ragu untuk menyusui. beberapa merasakan geli di payudara dan ada juga yang merasakan sakit sedikit. Reflek oksitosin bisa meningkat pada saat relaksasi antaralain dengan berpikir dengan kasih sayang tentang bayi. tetapi ada juga yang tidak merasakan apa-apa. Oksitosin menstimulasi otot di sekitar payudara untuk memeras ASI keluar. Tetapi refleks ini bisa juga distimulasi dengan hanya memikirkan tentang bayi. Plasenta mengeluarkan banyak HPL. Para ibu mendeskripsikan sensasi turunnya susu dengan berbeda-beda. Refleks turunnya susu tidak selalu konsisten khususnya pada masa-masa awal. dan areola sebelum melahirkan.

terjadi. 1991) c) Tujuan Menurut Dijen Pelayanan Medik DEPKES RI dan PERINASIA (1991). Lama kelamaan. biasanya setelah dua minggu. atau mendengar tangisnya 3) ASI menetes dari payudara sebelah lain. bila bayi lepas dari payudara saat menetek 5) Nyeri karena kontraksi rahim. kadang dengan aliran darah. payudara yang tidak menyusui bayi mengeluarkan ASI pada saat bayi menghisap payudara yang satunya lagi. selama meneteki dalam minggu pertama . bila bayi menetek 4) ASI mengalir dalam pancaran halus. refleks turunnya susu menjadi lebih stabil. d) Tanda – Tanda Refleks Oksitosin Aktif Tanda – Tanda Refleks Oksitosin Aktif Antara Lain : 1) Rasa diperas atau tajam pada payudara saat sebelum meneteki bayi atau selama meneteki 2) ASI mengalir dari dari payudara bila ibu memikirkan bayinya.(DijenPelayananMedik DEPKES RI dan PERINASIA. tujuan dari pijat oksitosin adalah untuk Mengurangi bengkak Mengurangi sumbatan ASI Merangsang pelepasan hormon oksitosin (hormon yang berperan dalam pengeluaran ASI) Mempertahankan produksi ASI ketika ibu dan bayi sakit.

b. jika tidak memungkinkan ibu dapat memandangi bayinya. Duduk tenang dan sendirian atau dengan teman yang mendukung. Minum – minuman hangat yang menenagkan. dengan memandang foto bayinyapun ini dapat membantu. yang menunjukkan bahwa ASI mengalir dalam mulut bayi. Tidak dianjurkan Ibu untuk minum kopi karena mengandung kofein . Jika ini tidak memungkinkan. 6) Isapan pelan dan dalam bayi serta ia menelan. e) Cara Merangsang Reflek Oksitosin Menurut Dijen Pelayanan Medik DEPKES RI dan PERINASIA (1991). Beberapa ibu dapat memerah dengan mudah dalam kelompok ibu ibu yang memerah susu. Mendekap bayi dengan kontak kulit jika memungkinkan ibu dapat mendekap bayi dipangkuannya sambil memerah. cara untuk merangsang reflek oksitosin adalah sebagai berikut : 1) Bangkitkan rasa percaya diri 2) Kurangi sumber – sumber nyeri dan kecemasan 3) Bantu mengembangkan pikiran dan perasaan positif tentang bayinya 4) Bantu ibu secara praktis untuk : a. c.

f. Merangsang puting susunya. Menggunakan dua kepalan tangan dengan ibu jari menunjuk ke depan. g. melipat lengan diatas meja didepannya dan meletakkan kepala di atas lengannya. Ibu dapat memutar dan menarik puting susunya secara perlahan dengan jarinya. Sebagai contoh ibu dapat menempelkan kompres hangat. Payudara tergantung lepas tanpa pakaian. Meminta seorang untuk memijat punggungnya. ”pembantu memijat disepanjang kedua sisi tulang belakang ibu. Beberapa ibu merasa terbantu dengan mengurut payudaranya dengan ringan dengan ujung jari atau dengan sisir. Pada saat bersamaan ia memijat ke arah bawah pada ke dua sisi tulang belakang dari leher ke arah tulang belikat selama 2 atau 3 menit. Menghangatkan payudara. atau air hangat atau mandi pancuran air hangat. Memijat atau mengurut payudaranya dengan ringan. e. Ibu duduk bersandar kedepan. .d. Tekan kuat – kuat membentuk gerakan lingkaran – lingkaran kecil dengan kedua ibu jarinya.

World Health Organization (WHO). pada akhir menyusui kadar lemak 4-5 kali dan kadar protein 1.2. Keberhasilan laktasi dipengaruhi oleh kondisi sebelum dan saat kehamilan. (Dijen Pelayanan Medik DEPKES RI dan PERINASIA. Kondisi sebelum kehamilan ditentukan oleh perkembangan payudara saat lahir dan saat pubertas. serta zat yang dapat membunuh bakteri dan virus. 1991).5 kali lebih tinggi daripada awal menyusui. United Nations Children's Fund. ASI terdiri dari berbagai komponen gizi dan non gizi. enzim. UNICEF. hormon. Pada saat kehamilan yaitu trimester II payudara mengalami pembesaran karena pertumbuhan dan difrensiasi dari lobuloalveolar dan sel epitel payudara. dan organisasi kesehatan lainnya . ASI (Air Susu Ibu) merupakan cairan putih yang dihasilkan oleh kelenjar payudara wanita melalui proses laktasi. tetapi juga sebagai suatu cairan yang terdiri dari sel-sel yang hidup seperti sel darah putih. Komposisi ASI tidak sama selama periode menyusui. Air Susu Ibu (ASI) a) Pengertian ASI ASI (air susu ibu) adalah air susu yang keluar dari seorang ibu pasca melahirkan bukan sekedar sebagai makanan. Juga terjadi variasi dari hari ke hari selama periode laktasi. Pada saat pembesaran payudara ini hormon prolaktin dan laktogen placenta aktif bekerja yang berperan dalam produksi ASI (Suharyono. antibodi.faktor-faktor pertumbuhan. 1990).

dkk. 1.18. Setelah bayi berumur 6 bulan. sedangkan ASI dapat diberikan sampai bayi berusia 2 tahun atau bahkan lebih dari 2tahun (Mardiyaningsih. Volume tiap menyusui bervariasi ant 90% lemak. Enzim lipase di dalam mulut (lingual lipase) mencerna zat lemak sebesar 50-70% 24. lebih banyak mengandung protein dan vitamin seperti vitamin A. ia harus mulai diperkenalkan dengan makanan padat. Kolostrum merupakan pencahar yang ideal untuk membersihkan zat yang tidak terpakai dari usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan makanan bayi bagi makanan yang akan datang.12. 2010) b) Komposisi ASI Menurut Soetjiningsih (1997) komposisi ASI terdiri dari : 1) Kolostrum Kolostrum Adalah ASI yang keluar pada hari pertama dan kedua setelah melahirkan. berwarna kekuning-kuningan dan lebih kental. E dan K dan mineral seperti natrium dan Zn serta mengandung zat kekebalan yang penting untuk melindungi bayi dari penyakit infeksi. Berat jenis kolostrum berkisar antara 1040 sampai 1060 dan rata rata energi 67 kcal/100 ml. merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama. 2) Lemak Utama ASI .

Kolesterol juga meningkatkan pertumbuhan otak bayi. sedangkan dalam susu sapi hanya sedikit. Lemak utama ASI adalah lemak ikatan panjang tak jenuh/LCPUFAs(long chain polyunsaturated fatty acids (omega 3. padahal amat penting untuk pertumbuhan otak. DHA. Penelitian menunjukkan bahwa bayi yang diberi ASI eksklusif mempunyai kadar kolesterol lebih tinggi yang sangat dibutuhkan pada saat pertumbuhan otak. Komponen lemak berikutnya yang penting adalah kolesterol. Lemak ini sedikit atau tidak ada pada susu sapi. d) Zat kekebalan Sebagian zat kekebalan terhadap beragam mikro organisme diperoleh bayi baru lahir dari ibunya melalui plasenta. Kandungan kolesterol ASI tergolong tinggi. Arachidonic acid/AA) suatu asam lemak esensial yang merupakan komponen penting untuk myelinisasi. Telah diketahui bahwa bayi yang diberi . Selain itu kolesterol juga diperkirakan berfungsi dalam pembentukan enzim untuk metabolisme kolesterol yang akan mengendalikan kadar kolesterol di kemudian hari sehingga dapat mencegah serangan jantung dan penebalan pembuluh darah (arteriosclerosis)pada usia muda. omega 6. Myelinisasi adalah pembentukanselaput isolasi yang mengelilingi serabut syaraf yang akan membantu rangsangan menjalar lebih cepat. yang ara 2 sampai 20 ml pada 3 membantu melindungi bayi dari serangan penyakit antara lain yang penting adalah penyakit campak selama 4-6 bulan pertama sejak bayi lahir.

Coli dan Salmonella. Immunoglobulin. Secretory Ig A tidak diserap. Lysosim terdapat dalam jumlah 300 kali lebih banyak pada ASI daripada susu sapi.ASI lebih terlindungi terhadap penyakit infeksi terutama diare dan mempunyai kesempatan hidup lebih besar dibandingkan dengan bayi-bayi yang diberi susu formula. c. Selain membunuh kuman. terutama Immunoglobulin A (Ig. Enzim ini aktif mengatasi bakteri E. kadarnya sangat tinggi terutama dalam kolostrum. b. suatu enzim yang juga melindungi bayi terhadap bakteri dan virus yang merugikan. Setelah sistem kekebalan bayi matang maka jumlah sel sel ini berangsur-angsur berkurang. Laktoferin. walaupun tetap akan ada dalam ASI sampai setidaknya 6 bulan setelah melahirkan. sejenis protein yang merupakan komponen zat kekebalan dalam ASI yang mengikat zat besi (ferum) di saluran pencernaan. Hal ini karena adanya zat-zat imunologik antara lain : a. d. tetapi melumpuhkan bakteri patogen E. sel-sel ini akan menyimpan dan menyalurkan zat-zat penting . Sel yang sangat protektif ini jumlahnya sangat banyak pada minggu-minggu pertama kehidupan kurang lebih 4000 sel/mil. Sel darah putih. Lysosim. Coli dan berbagai virus pada saluran pencernaan. saat sistem kekebalan tubuh bayi belum mampu membentuk antibodi yang protektif dalam jumlah yang cukup.A).

faktor pertumbuhan. Selama kehamilan. Pada waktu bayi mulai menghisap ASI. Oksitosin memacu sel-sel myoepithel yang mengelilingi alveoli dan duktuli untuk berkontraksi. menunjang pertumbuhan bakteri lactobacilus bifidus. Bakteri ini menjaga keasaman flora usus bayi dan berguna untuk menghambat pertumbuhan bakteri yang merugikan. e. . Faktor bifidus. terjadilah perubahan pada hormon yang berfungsi mempersiapkan jaringan kelenjar susu untuk memproduksi ASI. seperti enzim. E dalam Soetjiningsih 1997. c) Hormon dan Refleks yang MenghasilkanASI Menurut Rohde J. dan protein yang melawan kuman dan imunoglobulin. Dua refleks tersebut adalah : serabut syaraf memacu hipofise posterioruntuk melepas hormon oksitosin dalam darah. sehingga kotoran bayi menjadi bersifat asam yang berbeda dari kotoran bayi yang mendapat susu formula. sehingga mengalirkan ASI dari alveoli ke duktuli menuju sinus dan puting. akan terjadi dua refleks yang akan menyebabkan ASI keluar pada saat yang tepat dengan jumlah yang tepat pula. Segera setelah melahirkan bahkan kadang- kadang mulai pada usia kehamilan 6 bulan akan terjadi perubahan pada hormon yang menyebabkan payudara mulai memproduksi ASI. sejenis karbohidrat yang mengandung nitrogen. ASI diproduksi atas hasil kerja gabungan antara hormon dan refleks.

Ia harus dibantu refleks oksitosin.Hal penting adalah bahwa bayi tidak akan mendapatkan ASI cukup bila hanya mengandalkan refleks pembentukan ASI atau refleks prolaktin saja. 2) Memikirkan bayinya dengan perasaan penuh kasih sayang. 4) Mencium bayi. a.Selain itu oksitosin berperan juga memacu kontraksi otot rahim. sehingga mempercepat keluarnya plasenta dan mengurangi perdarahan setelah persalinan. 3) Mendengar bayinya menangis. Bila refleks ini tidak bekerja maka bayi tidak akan mendapatkan ASI yang memadai. walaupun produksi ASI cukup. b. perasaan dan sensasi seorang ibu akan sangat mempengaruhi refleks ini. Pikiran. antara lain : 1) Ibu yang sedang bingung atau pikirannya sedang kacau 2) Apabila ibu khawatir atau takut ASI nya tidak cukup . tetapi justru memperlancar pengaliran ASI. Perasaan ibu yang dapat meningkatkan ASI antara lain: 1) Bila melihat bayi. Adapun perasaan ibu yang dapat menghambat pengeluaran ASI adalah semua pikiran negatif. 5) Ibu dalam keadaan tenang. Refleks oksitosin lebih rumit dibanding refleks prolaktin.Dengan demikian sering menyusui penting untuk pengosongan payudara agar tidak terjadi engorgement (payudara bengkak). Perasaan ibu dapat meningkatkan dan juga menghambat pengeluaran oksitosin.

Bagian luar terdiri dari : a) Sepasang buah dada yang terletak di dada. 5) Apabila ibu malu menyusui c. Hormon ini akan menyebabkan sel-sel otot yang mengelilingi pabrik susu mengerut/berkontraksi sehingga ASI terdorong keluar dari pabrik ASI dan mengalir melalui saluran susu ke dalam gudang susu yang terdapat di bawah daerah yang berwarna coklat. jadi agar pembentukan ASI banyak. gudang susu perlu dikosongkan dengan baik Selain itu. terutama saat menyusui 4) Apabila ibu merasa sedih. isapan bayi juga akan merangsang bagian kelenjar hipofise untuk membuat hormon oksitosin. cemas. Rangsangan ini akan mengirimkan sinyal ke bagian depan kelenjar hipofise di otak untuk mengeluarkan hormon prolaktin. 3) Apabila ibu merasa kesakitan. Isapan bayi akan merangsang ujung syaraf di daerah putting susu dan dibawah daerah yang berwarna kecoklatan. d) Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengeluaran ASI 1) Faktor Internal a. Prolaktin ini akan merangsang sel-sel di pabrik susu untuk membuat ASI. marah atau kesal. Anatomi Payudara Ibu Payudara terdiri dari bagian luar (eksternal) dan bagian dalam. Rangsangan dibentuknya prolaktin adalah pengosongan gudang susu yang terletak dibawah daerah yang berwarna coklat. .

Air susu ibu diproduksi/dibuat oleh jaringan kelenjar susu atau pabrik ASI. serta kurangnya dukungan dari keluarga dan lingkungan. Pemberian ASI sendiri sesungguhnya merupakan proses alamiah yang memerlukan persiapan. seperti jaringan ikat dan sel lemak yangmelindungi. b) Kantong susu (sinus lactiferous) yang berfungsi menampung ASI. c) Saluran susu (duktus lactiferous) yang mengalirkan susu dari pabrik susu ke gudang susu. dan persiapan tersebut harus dimulai selagi hamil. terletak dibawah daerah kecoklatan di sekitar puting susu. c) Daerah kecoklatan di sekitar puting susu (areola mammae) b. dan isu-isu dari teman sebaya dan produsen susu formula.Pengaruh ini akansemakin besar jika ibu masih . e) Faktor Psikologi Ibu Menurut Partiwi IG (1999) Gangguan proses pemberian ASI pada prinsipnya berakar pada kurangnya pengetahuan. Bagian dalam terdiri dari empat jaringan utama : a) Kelenjar susu (mammary alveoli) merupakan pabrik susu.Ketidaktahuan manfaat ASI. d) Jaringan penunjang dan pelindung. b) Puting susu. rasa percaya diri. membuat sebagian ibu enggan menyusuianaknya.

Masa persiapan menyusui sudah harus dimulai ketika hamil. 3) Takut badan tetap gemuk. . upaya yang perlu dilakukan untuk memperbanyak ASI.remaja dan kelahiran anak tidak diinginkan. Di samping itu kebersihan dan kelembaban payudara harus dijaga agar tidak terjangkit infeksi. Jika puting mengalami inversi. kondisi yang dapat menyusahkan bayi untuk menyusui dan dapat memfrustasikan ibu diupayakan agar kembali menonjol. Adapun beberapa faktor psikologi lain yang menjadi alasan ibu untuk tidak menyusui terutama eksklusif antara lain : 1) ASI tidak cukup. 2) takut ditinggal suami. Puting susu harus diperiksa terutama selama satu atau dua bulan sebelum melahirkan. serta cara perawatan payudara selama menyusui. Kepada calon ibu perlu diajarkan cara memberikan air susu pertama.

Pada kedua kelompok perlakuan diawali dengan observasi pertama (pra-test) dan setelah perlakuan dilakukan observasi kembali untuk menetahui adanya perubahan (post-test). : Tidak diberikan perlakuan sesuai dengan program 02 : Observasi ibu post partum setelah diberikan pijat oksitoksin . memungkinkan pengontrolan maksimal beberapa faktor yang dapat mempengaruhi akurasi suatu hasil. kelompok eksperimental diberi perlakuan sedangkan kelompok kontrol tidak. O2 Keterangan: E: Kelompok eksperimental K : Kelompok kontrol 01 : Observasi ibu post partum sebelum diberikan pijat oksitoksin X : Intervensi pemberian pijat oksitoksin . 2013). BAB III METODE PENELITIAN 1. Dalam rancangan ini. Bentuk rancangan ini adalah sebagai berikut: Subjek Pra-test Perlakuan Post-test E O1 X O2 K O1 . tapi pemilihan kelompok ini tidak menggunakan tekhnik acak (Nursalam. Penelitian ini menggunakan bentuk rancangan quasy eksperiment yaitu rancangan yang berupaya untuk mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan kelompok kontrol disamping kelompok eksperimental.1 Design Penelitian Rancangan atau desain penelitian adalah sesuatu yang sangat penting dalam penelitian.

tabulasi Analisa Data Analisa statistik un-paired t-test Kesimpulan H1. diterima jika p value < α. entry. ditolak jika p value ≥ α. dengan tingkat signifikan 0. coding.01 H1.1. dengan tingkat signifikan 0.2 Kerangka Kerja Pengaruh Pijat Oksitoksin Terhadap Peningktan Produksi Asi Pada Ibu Post Partum Di Ruang Flamboyan RSUD Mardi Waluyo Blitar Populasi Ibu post partum diruang flamboyan RSUD Mardi Waluyo Blitarsejumlah 24 responden Teknik Sampling Teknik pengambilan sampling dengan Purposive Sampling Sampel Ibu post partum diruang flamboyan RSUD Mardi Waluyo Blitarsejumlah 24 responden Desain Penelitian Quasy experimental Pengumpulan Data Lembar Observasi Pengolahan Data Editing.01 .

Teknik sampling merupakan cara–cara yang ditempuh dalam pengambilan sampel. Sehingga sampel pada penelitian ini adalah semua populasi yaitu 12 responden. .1 Kerangka Kerja Penelitian Pengaruh Pijat Oksitoksin Terhadap Peningktan Produksi Asi Pada Ibu Post Partum Di Ruang Flamboyan RSUD Mardi Waluyo Blitar 1. dan Sampel 1. 2013).3.Bagan 4. Sedangkan menurut Nursalam (2013) populasi dalam pengertian adalah subjek yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan.1 Populasi Populasi adalah keseluruhan subjek dalam penelitian (Arikunto.2 Sampling Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat mewakili populasi.3 Sampel Sampel adalah sebagian dari populasi terjangkau yang dapat dipergunakan sebagai subjek penelitian yang didapat melalui sampling (Nursalam. Purposive sampling adalah suatu teknik penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi yang sesuai dengan yang dikehendaki peneliti (tujuan /masalah dalam penelitian) (Nursalam. 1. agar memperoleh sampel yang benar–benar sesuai dengan keseluruhan subjek penelitian (Nursalam.3. 2013). Metode pengambilan sampel/sampling dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan purposive sampling. 2013). 2010).3. Populasi dalam penelitian ini adalah Ibu Post Partum Di Ruang Flamboyan RSUD Mardi Waluyo Blitar 1.3 Populasi. Sampling.

Dalam penelitian ini memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi.4 Variabel Penelitian Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut. 1. 2013). Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah: a. Bersedia menjadi responden b. 2013). yaitu: 1. Dalam penelitian ini variabel independent (bebas/X) yaitu pijat oksitoksin. . Ibu dengan post partum diruang nifas Flamboyan 1. Suatu kegiatan stimulus yang dimanipulasi oleh peneliti untuk menciptakan suatu dampak pada variabel dependent (Nursalam.2 Kriteria Ekslusi Kriteria ekslusi adalah menghilangkan/mengeluarkan subjek yang memenuhi kriteria inklusi dari studi karena suatu hal.1 Kriteria Inklusi Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau dan akan diteliti. Variabel Independent (bebas/X) Variabel Independent adalah variabel yang mempengaruhi atau nilainya mempengaruhi variabel lain.3. Tidak bersedia menjadi responden b. 1. kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono. Kriteria inklusi adalah kriteria dimana subjek penelitian dapat mewakili dalam sampel penelitian (Nursalam.3. Tidak kooperatif.3. Kriteria ekslusi adalah kriteria yang tidak layak untuk menjadi sampel (Nursalam. Kriteria ekslusi dalam penelitian ini adalah: a. 2015).3. 2013).

2013). Dilaksanakan selama 2 minggu yaitu pada tanggal 12 – 23 Maret 2018 C. Pengukuran observasi pada penelitian yang digunakan adalah berdasarkan dari hasil peningkatan produksi ASI pada ibu post partum. Dalam penelitian ini variablen dependent (terikat/Y) yaitu peningkatan produksi ASI pada ibu post partum. Lokasi Dan Waktu Penelitian Penelitian Penelitian ini dilakukan di Ruang flamboyant RSUD Mardi Waluyo Blitar . dimanapengamatan atau observasi dipergunakan sebagai fakta yang nyata dan akurat dalam membuat suatu kesimpulan (Nursalam. Variabel Dependent (terikat/Y) Variabel Dependent adalah variabel yang nilainya ditentukan oleh variabel lain. Variabel respon akan muncul sebagai akibat dari manipulasi variabel – variabel lain (Nursalam. Bahan dan Alat/Instrumen Penelitian Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subjek dan proses pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan dalam suatu penelitian. D. B. Meminta ijin kepada DirekturRSUD Mardi Waluyo Kota Blitar selanjutnya peneliti melakukan pendekatan dan wawancara dengan calon responden untuk dijadikan sebagai sampel dalam penelitian.langkah sebagai berikut : 1. Pengumpulan Data Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan langkah . 2. 2013). Memberikan informed consent kepada responden dan menerangkan maksud dan tujuan penelitian. . 2. Alat pengumpul data pada penelitian ini adalah observasi.

Pada peneltian ini. . Setelah memahami tujuan penelitian responden yang setuju diminta menandatangani surat pernyataan ketersediaan menjadi responden. Peneliti mengukur tingkat kecemasaan menggunakan lembar observasi dan SOP pijat oksitoksin E. editing dilakukan dengan cara memeriksa kembali kelengkapan data dan menjumlah data dan melakukan koreksi.Bertujuan meneliti kembali data diperbaiki jika masih terdapat hal-hal yang salah atau merugikan. Lembar observasi yang telah diisi oleh ibu bersalin dan dikumpulkan. 4.Editing dapat dilakukan pada tahap pengumpulan data atau setelah data terkumpul. selanjutnya masing-masing item observasi dinilai berdasarkan jawaban yang telah ditulis. 2. Responden diberikan penjelasan dan perlakuan tentang pijat oksitoksin 5. Pengelolahan Data 1. Pemeriksaan data (Editing) Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran semua data yang telah diperoleh atau dikumpulkan. Pemberian skor (Scoring) Scoring adalah memberikan scorterhadap jawaban. 3. Penjumlahan ialah menghitung banyaknya lembar daftar pertanyaan kuesioner yang telah diisi untuk mengetahui apakah sesuai dengan jumlah yang telah dtentukan.

Informed Consent Lembar persetujuan ini diberikan kepada subyek yang akan diteliti. disaring. maka mereka harus menandatangani lembar persetujuan tersebut. Jika calon responden bersedia untuk diteliti. 2. F. Peneliti menjelaskan maksud dan tujuan yang akan dilakukan serta dampak yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengumpulan data. Penyusunan data (Tabulasi data) Tabulasi data merupakan lanjutan dari pengkodean pada proses pengolahan dengan sedemikian rupa agar dengan mudah dapat di jumlah. Pemberian kode (Coding) Coding merupakan kegiatan yang mengubah data dalam bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode-kode yang dirumuskan untuk mempermudah dalam melaksanakan tabulasi dan analisis data. 4. . Jika calon responden menolak untuk diteliti maka peneliti tidak boleh memaksa dan tetap menghormati hak-haknya. Etika Penelitian 1. Anonimity Untuk menjaga kerahasiaan responden maka peneliti tidak akan menentukan nama responden pada lembar pengumpulan data. yaitu memasukan data untuk diolah menggunakan komputer. 3. 5. Cukup dengan memberi nomer kode pada masing-masing lembar tersebut. dan ditata untuk disajikan dan dianalis. Entry.

05 dengan menggunakan progam SPSS versi 16. di Rumah Sakit Umum Daerah Mardi Waluyo Blitar Blitar. Sedangkan untuk signifikan digunakan α ≤ 0.0 untuk mengetahui pengaruh pijat oksitoksin terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu post partum. sehingga hasil analisa data dapat digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan. 2010). . G. Keterbatasan Penelitian Keterbatasan penelitian merupakan bagian dari riset yang menjelaskan tentang kelemahan/keterbatasan dalam penulisan riset (Hidayat. sehingga proses memerlukan waktu lebih. 3. Confidentiality Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti karena hanya kelompok data tertentu saja yang disajikan atau dilaporkan sebagai hasil riset. Analisis data Data yang telah diolah akan di analisis. Untuk menganalisa pengaruh pijat oksitoksin terhadap peningkatan produksi ASi pada ibu post partum. di Rumah Sakit Umum Daerah Mardi Waluyo Blitar menggunakan analisis statistik dengan uji wilcoxon match pair test. H. Dari beberapa responden mengalami geli selama diberikan peralakuan karna belum terbiasa. Dari beberapa responden mengalami malu selama proses perlakuan sehingga proses kurang berjalan dengan baik 2. Dalam penelitian ini keterbatasan yang dihadapi peneliti adalah : 1.

BAB IV HASIL PENELITIAN .