You are on page 1of 37

BAB III

HASIL KAJIAN & PERENCANAAN

3.1. Gambaran Umum Rumah Sakit

Awal berdirinya RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu, pada tahun 1922 dimana
pada waktu itu masih dalam penjajahan pemerintah Hindia Belanda yang berlokasi
disamping kantor pos dan giro lama (Kota Bengkulu), barulah pada tahun 1925
didirikan tersendiri dengan bangunan semi permanen berlokasi di jalan Ratu Agung
(Anggut Atas) yang saat ini menjadi jalan Soekarno Hatta, dan Pimpinan Rumash
Sakit pada saat itu adalah seorang dokter dari Belanda bernama dr. Briounkop dan
dibantu dokter Indonesia bernama dr. Asikin dan empat orang tenaga antara lain
Zickken Opasser (I orang perawat), satu orang tenaga administrasi dan dua orang
pembantu atau pelayan.

Pada saat itu Rumah Sakit ini didirikan, status Provinsi Bengkulu masih
dalam bentuk keresidenan Bengkulu terbagi menjadi beberapa kabupaten yang
merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Selatan, kemudian dengan adanya
perubahan beberapa daerah tingkat II menjadi daerah tingkat I akibat pemekaran dari
beberapa Provinsi di Indonesia, maka pada tanggal 18 November 1968 Provinsi
Bengkulu disahkan menjadi daerah tingkat I dengan kedudukan ibukota Provinsi di
Bengkulu. Upaya yang tak mengenal lelah dari penyelenggara Rumah sakit serta
pihak-pihak lain yang terkait aakhirnya membuahkan hasil dengan berdirinya
komplek Rumah Sakit di Padang Harapan. Rumah Sakit ini diresmikan oleh Menteri
Kesehatan Republik Kesehatan Prof. G.A. Slwabessy pada tanggal 7 Maret 1978,
sekaligus hari jadinya RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu dengan berklasifikasi C
berdasarkan SK Menkes Nomor 51/Menkes/SK/II/79 tahun 1979 kemudian menjadi
kelas B Non Pendidikan berdasarkan keputusan Menkes No
1065/Menkes/SK/XI/1992 dan surat keputusan Gubernur No.51 tahun 1993. RSUD
Dr. M. Yunus menjadi Rumah Sakit Swadana daerah uji coba berdasarkan SK
Gubernur No.145 tahun 1993.

Berdasarkan hasil penelitian KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit) yang
merupakan lembaga resmi yang ditunjuk dan berwenang untuk melakukan survey

verifikasi dan survey akreditasi, pada tahun 2016 RSUD Dr. M. Yunus meraih
Akreditasi Paripurna (Bintang lima).

3.2.1. Profil dan Gambaran Umum Ruang Bougenvile RSUD M. Yunus BKL

Ruangan Bougenvile merupakan salah satu ruangan rawat inap di
RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu yang merawat dan memberikan asuhan
Keperawatan kepada pasien, baik pasien dengan penyakit dalam, bedah,
anak dan dewasa. Lokasi ruangan Bougenvile bersebelahan dengan ruangan
Mawar dan Bank Darah.

Ruangan Bougenvile terdiri dari 12 kamar, terbagi menjadi 10
kamar untuk VIP dan 2 kamar untuk super VIP. Setiap kamar memiliki 2
tempat tidur. Ruangan Bougenvile memiliki kelengkapan fasilitas seperti
ruang perawat, ruang logistic, ruang karu merangkap ruang ADM, ruang
PAPDI, pantry serta toilet.

Ruang Bougenvile RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu dipimpin oleh
seorang kepala ruangan yang dibantu oleh 2 (dua) orang ketua tim dan
masing-masing tim terdiri dari 6 (enam) perawat pelaksana. Untuk
kelancaran administrasi dan logistik di ruang bougenvile, ada 1 orang di
bagian logistik dan 1 orang di bagian administrasi. Jumlah seluruh tenaga
kesehatan yang ada di ruang Bougenvile adalah berjumlah 17 orang, dengan
tingkat pendidikan terbanyak adalah D3 Keperawatan sebanyak 7 orang,
kemudian Ners sebanyak 5 orang, S1 keperawatan sebanyak 3 orang, S1
kesmas sebanyak 1 orang dan D3 kebidanan sebanyak 1 orang.

3.2.2. Struktur Organisasi

Metode MAKP yang digunakan Ruang Bougenvile RSUD Dr. M.
Yunus adalah MAKP metode TIM Metode ini menggunakan tim yang
terdiri atas anggota yang berbeda-beda dalam memberikan asuhan
keperawatan terhadap sekelompok pasien. Perawat ruangan dibagi menjadi
2–3 tim/grup yang terdiri atas tenaga profesional, teknikal, dan pembantu
dalam satu kelompok kecil yang saling membantu. Untuk memperjelas
metode MAKP yang digunakan di ruang Bougenvile RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu dapat dilihat pada struktur organisasi sebagai berikut :

3.2. Kajian Situasi

Pengkajian dilakukan pada tanggal 25 Juni sampai dengan 29 Juni 2018
dengan sumber data terdiri dari perawat ruangan dan pejabat struktural keperawatan
dengan menggunakan teknik pengambilan data melalui data primer dan sekunder.
Data primer didapat dengan cara quesioner, observasi dan wawancara terhadap
sumber data. Sedangkan data sekunder didapat melalui status pasien, buku register,
dan buku obat, buku inventaris dan buku laporan.

Untuk melaksanakan fungsi rumah sakit sebagai tempat penyelenggaraan
pelayanan medis, penunjang medis, administrasi dan manajemen, juga dapat
digunakan sebagai tempat pendidikan/pelatihan dan pengembangan, pada dasarnya
tugas rumah sakit adalah melaksanakan pelayanan kesehatan dengan mengutamakan
kegiatan penyembuhan penderita dan pemulihan keadaan cacat badan dan jiwa yang
dilaksanakan secara terpadu dengan upaya peningkatan (promotif), pencegahaan
(preventif), pengobatan (kuratif), dan pemulihan (rehabilitatif) serta melaksanakan
upaya rujukan.

3.2.1. Tujuan

3.2.1.1. Menjadikan Rumah sakit yang dapat memberikan pelayanan prima
dan mampu :

a. Menyelenggarakan pelayanan yang bermutu, memuaskan dan
profesional berdasarkan standar yang ditetapkan

b. Mengembangkan pendidikan dan penelitian disegala bidang
khususnya bidang kesehatan.

c. Menggalang dan mengembangkan kemitraan dengan berbagai
pihak untuk menjalin jaringan kerjasama yang saling
menguntungkan

d. Mewujudkan keselamatan dan kepuasan pelanggan.

3.2.1.2. Menjadikan rumah sakit yang mampu mewujudkan fungsinya
sebagai rumah sakit rujukan, pendidikan dan penelitian yang
terpercaya dan mempunyai daya saing se-Sumatera

Mempermudah dalam pengurusan asuransi dan adminitrasi pasien pulang. Penataan kembali jenis TT & menyusun kembali ruangan rawat inap berkoordinasi dengan kepala Sub bagian perencanaan dan keuangan dan instalasi terkait dalam menetapkan anggaran untuk merenovasi sarana & prasarana untuk melengkapi fasilitas pelayanan. kasubag kepegawaian serta instalasi terkait. kasubag umum dan perlengkapan.2. Tercapainya perbandingan perawat dan dokter di rawat inap sesuai standar pelayanan c.2. Menambah fasilitas.2. 3.2. b. Pelatihan SDM baik inhouse maupun ekshouse training d. Evaluasi kinerja SDM . Kebijakan a. Pengkajian ulang secara periodik tentang sistem penilaian kinerja dan sistem kompensasi SDM c.2. b.3.2. c. Tecapainya target nilai BOR b. Sasaran a.2.2. Berkoordinasi dengan direktur. Sasaran Startegis 3. sarana dan prasarana pasien. Tercapainya peningkatan pelayanan instansi gawat darurat 5-10 % per tahun 3. Program Kerja a. Tercapainya peningkatan jumlah kunjungan rawat jalan sebesar 10 % per tahun d.3.1.2.

Ketenagaan (Man / M1) 3. 22 – 55 tahun 17 100 % 3. 3.1. Ada teori yang mengemukakan tentang emansipasi merupakan suatu proses dalam perkembangan.9 % 2. Memanfaatkan se-efektif dan se-efisien mungkin tenaga yang ada. Namun bila kelompok ini tidak .2. e. Perempuan 16 94. Bila kelompok penduduk usia produktif ini berkualitas tinggi dan produktif.3. < 21 tahun 0 0 2. Analisa Data Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan dapat dikelompokan data dan masalah sebagai berikut : 3. Laki-laki 1 5. Badan Pusat Statistik (BPS) mendefinisikan kelompok usia produktif adalah mereka yang berada dalam rentang usia 15 sampai dengan 64 tahun. Umur No Umur Jumlah Persentase 1. 3.1. 2004). Beberapa teori dan penelitian lain yang menunjukkan bahwa jenis kelamin pria dan wanita tidak ada perbedaan yang hakiki dalam hak dan kewajiban (Wahyuni.1 % Jumlah 17 100 % Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa jenis kelamin yang terbanyak adalah perempuan dengan jumlah 16 orang dan persentase 94.1.1 %.3.3.1. maka negara akan diuntungkan karena produktivitas tinggi. Jenis Kelamin No Jenis Kelamin Jumlah Persentase 1. yaitu untuk belajar mengaktualisasikan diri bersama-sama dengan orang lain yang ada dalam situasi yang sama.3. > 55 tahun 0 0 Jumlah 17 100 % Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa semua (100%) perawat di ruang bougenvile berumur diantara 22 – 55 tahun.

4. maka negara akan dirugikan karena harus menanggung kelompok ini.3.8% Jumlah 17 100% Berdasarkan tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan terbanyak adalah D3 Keperawatan dengan jumlah 7 orang dan persentase 41. S1 Kesmas 1 5. 3. Status Pendidikan No Pendidikan Jumlah Persentase 1. 2007). Salah satu indikator keberhasilan RS dalam memberikan pelayanan kesehatan ditentukan oleh pemberian asuhan keperawatan yang berkualitas. S1 Keperawatan 3 17.1.1. total. dan perawatan total dengan waktu 5-6 jam / 24 jam. Menurut standar pelayanan minimal rumah sakit (2008). Parsial dan minimal care (Nursalam. Menurut Douglas (Nursalam.6% 4.1 %.1% 2. Klasifikasi ketergantungan pasien dibagi menjadi tiga kategori.3. 2007) jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan pada suatu ruang rawat berdasarkan klasifikasi kebutuhan pasien adalah sebagai berikut : . yaitu perawatan minimal yang memerlukan waktu 1-2 jam/24 jam. D3 Kebidanan 1 5. pemberi pelayanan di rawat inap adalah dokter spesialis dan perawat minimal berpendidikan DIII.8% 3. 3. Analisis Kebutuhan Tenaga Perawat Penilaian ketergantungan menurut Douglas untuk pasien rawat inap standar waktu pelayanan yakni.4% 5. perawatan parsial dengan waktu 3-4 jam / 24 jam. D3 Keperawatan 7 41. berkualitas dan tidak produktif. Asuhan keperawatan yang berkualitas didukung oleh sumber daya yang berkualitas dan profesional dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. S1 Keperawatan + Ners 5 29.3.

72 0.30 0.15x 2 = 0.36x 0 = 0 0.14x 6= 0.20 x 0 = 0 Jumlah 6 1. Klasifikasi Pasien Jumlah Minimal Parsial Total Pasien Pagi Sore Malam Pagi Sore Malam Pagi Sore Malam 0.08 0.42 0.56 (2) 1.10x2=0.30 0. Pagi : 2 orang Sore : 1 orang Malam : 1 orang Realita tenaga perawat di Ruang Bougenvile : Pagi : 6 orang Sore : 2 orang Malam : 2 orang Hari/Tanggal : Selasa.14 0.36 x 0 = 0 0.14 (2) 0.07 0.07x6=0.40 0.3 0.27 0.81 0.27x 2 = 0.15x 2= 0.34 0.54 0.30 0.60 0.51 0.2 Total 0 0.20 0.54 0.02 0.86 (1) 0.60 Berdasarkan hasil pengkajian dari tanggal 25 Juni sampai dengan 29 Juni 2018. Pagi : 2 orang Sore : 2 orang Malam : 1 orang .14 0.20 0.27 x 2 = 0.17 0. 26 Juni 2018 Tingkat Ketergantungan Jumlah kebutuhan tenaga perawat Tingkat Jumlah Pagi Sore Malam Ketergantungan pasien Minimal 6 0.3 0.2 Total 0 0.22 (2) 0.42 Parsial 2 0.68 0.36 0.14 x 4= 0.30x 0= 0 0.28 0.17x 6 = 1.15 0.45 0.90 0.10 0.07x4=0.56 0.84 0.48 (1) Total tenaga perawat .28 Parsial 2 0.30 x 0 = 0 0.21 1.54 0.10x2 = 0.17 x 4 = 0. ditemukan jumlah pasien dengan kebutuhan tenaga perawat sebagai berikut : Hari/Tanggal : Senin. 25 Juni 2018 Tingkat Ketergantungan Jumlah kebutuhan tenaga perawat Tingkat Jumlah Pagi Sore Malam Ketergantungan pasien Minimal 4 0.62 (1) Total tenaga perawat .20x0 = 0 Jumlah 8 1.

20x0= 0 Jumlah 7 1. Yunus Bengkulu.84 0.02 0.07x6= 0. M.10x0= 0 Total 0 0.02 (2) 0.15x0= 0 0.27x 0 = 0 0.15x1= 0.17x 6 = 1.30x 0= 0 0.42 (1) Total tenaga perawat . Pagi : 2 orang Sore : 1 orang Malam : 1 orang Realita tenaga perawat di Ruang Bougenvile : Pagi : 6 orang Sore : 2 orang Malam : 2 orang Dari hasil kajian data di atas tersebut dengan jumlah perawat yang ada di ruang Bougenvile didapatkan ketidaksesuaian jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan di ruang Bougenvile RSUD Dr.14x6= 0.30x 0= 0 0. yang mana . 28 Juni 2018 Tingkat Ketergantungan Jumlah kebutuhan tenaga perawat Tingkat Jumlah Pagi Sore Malam Ketergantungan pasien Minimal 6 0.27 0.84 (1) 0.84 0.02 0. 29 Juni 2018 Tingkat Ketergantungan Jumlah kebutuhan tenaga perawat Tingkat Jumlah Pagi Sore Malam Ketergantungan pasien Minimal 6 0.99 (1) 0.20x0= 0 Jumlah 6 1.27x 1 = 0.10x1= 0.07x6= 0.36x 0 = 0 0.42 Parsial 0 0. Pagi : 2 orang Sore : 1 orang Malam : 1 orang Realita tenaga perawat di Ruang Bougenvile : Pagi : 6 orang Sore : 2 orang Malam : 2 orang Hari/Tanggal : Jumat.36x 0 = 0 0.15 0.52 (1) Total tenaga perawat .14x6= 0.10 Total 0 0.29 (2) 0.17x 6 = 1.Realita tenaga perawat di Ruang Bougenvile : Pagi : 6 orang Sore : 3 orang Malam : 2 orang Hari/Tanggal : Kamis.42 Parsial 1 0.

Rekapitulasi kunjungan pasien di ruang bougenvile Bulan No Uraian Total Maret April Mei 1.3. Menurut Nursalam 2007 .3.1. Yunus Bengkulu.0 2.2. Pasien keluar Hidup 66 60 64 190 Mati 1 1 2 4 Jumlah 67 61 66 194 Sumber : Buku Laporan Katim 3. Idealnya 60 -85 % (Nursalam.2.2.3. jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan melebihi jumlah kebutuhan tenaga perawat di ruang Bougenvile RSUD Dr. 3. M.7 Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa rata-rata penggunaan tempat tidur di ruangan bougenvile 3 bulan terakhir adalah 56. Total dirawat 72 67 79 218 2. Hari dirawat 216 206 205 627 3. Efisiensi pelayanan di ruang bougenvile 1) Cara menghitung Bed Occupancy Rate (BOR) BOR yaitu persentase pemakaian tempat tidur pada satu satuan waktu tertentu. Maret 12 31 216 58.7 % (57%).2 3. Pasien (Man / M1) 3.1 Rata-rata BOR/3 bulan 56. 2002) Rumus : Jumlah hari perawatan RS X 100 % Jumlah tempat tidur X jumlah hari Jumlah Jumlah Jumlah BOR No Bulan Tempat hari 1 hari (%) Tidur periode perawatan 1. Indikator ini menggambarkan tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan dari tempat tidur rumah sakit.2. April 12 30 206 57. Lama dirawat 31 30 31 92 4. Mei 12 31 205 55.

Rumus : Jumlah pasien keluar (hidup+mati) Jumlah tempat tidur .3 3. 2002). tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali (Nursalam. Apabila nilai AVLOS dibawah 6. ideal penggunaan tempat tidur di ruang rawat inap RS adalah 60 – 85 %. ada kemungkinan pelayanan yang kurang baik atau faktor lokasi RS yang berdekatan dengan RS lain.2 (4 hari) Menurut Depkes 2005 idealnya 6-9 hari. Rumus : Jumlah hari perawatan Jumlah pasien keluar (hidup atau mati) Jumlah Jumlah pasien No Bulan hari keluar LOS perawatan Hidup Mati 1. Idealnya selama satu tahun.2 2.2 Jadi rata-rata lama rawat pasien di ruang bougenvile adalah 3.1 Rata-rata LOS/3 bulan 3. Indikator ini menggambarkan tingkat efisiensi dan mutu pelayanan. Jadi penggunaan tempat tidur di ruangan bougenvile 3 bulan terakhir ini belum ideal. 2002). April 206 60 1 3. 3) Cara menghitung Bed Turn Over (BTO) BTO yaitu pemakaian frekuensi tempat tidur dalam satu satuan waktu tertentu. Maret 216 66 1 3. Mei 205 64 2 3. Idealnya 6-9 hari (Nursalam. 2) Cara menghitung Average Length Of Stay (AVLOS) AVLOS yaitu rata-rata lama dirawat seorang pasien.

4 hari atau dibulatkan jadi 3 hari. Menurut Nursalam 2002 Idealnya tempat tidur kosong hanya dalam waktu 1-3 hari.5 Rata-rata BTO/3 bulan 5.0 3.5 3. April 12 61 5. Jadi nilai BTO di ruang bougenvile adalah 24 kali pemakaian. Idealnya tempat tidur kosong hanya dalam waktu 1-3 hari (Nursalam.3 atau dibulatkan jadi 6.5 2. Rumus : (Jumlah TT X Hari) – Hari perawatan Jumlah pasien keluar (hidup+mati) Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah tempat pasien No Bulan hari 1 hari TOI tidur keluar periode perawatan Hidup Mati 1. frekuensi efisiensi penggunaan tempat tidur adalah 2. April 12 30 206 60 1 2. 4) Cara menghitung Turn Over Internal (TOI) TOI yaitu rata-rata hari tempat tidur tidak ditempati dari saat pasien pulang sampai dengan saat terisi berikutnya. Maret 12 31 216 66 1 2. Mei 12 66 5. 2002). Jumlah Jumlah BTO No Bulan Tempat pasien Tidur keluar 1. .3 2. Maret 12 67 5.4 Berdasarkan perhitungan di atas. maka dalam setahun nilainya 6 x 4 = 24 kali pemakaian. Indikator ini menggambarkan tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur. Menurut Nursalam 2002 idealnya 40 – 50 kali pemakaian.5 Rata-rata TOI / 3 Bulan 2.3 Jika rata2 BTO / 3 bulan adalah 5. Mei 12 31 205 64 2 2.

4. Diagnosis Penyakit Terbanyak Jumlah No Dx Medis Total Maret April Mei 1. Anemia 3 2 5 5. Beban Kerja Objektif Shift Persentase Kategori Pagi 70. CHF 2 2 2 6 9.2. Pengukuran beban kerja objektif dilakukan untuk mengetahui penggunaan waktu tenaga keperawatan melaksanakan kegiatan produktif dan non produktif pada setiap shift kerja. sore.9% Rendah Sore 52.2% Rendah Sumber : Data Sekunder (Askep. DM 5 3 7 15 2. Vertigo 4 4 3.2010). Typhoid 3 4 7 Jumlah 85 Sumber : Buku Laporan Katim Berdasarkan tabel diatas didapat diagnosis penyakit terbanyak selama 3 bulan terakhir ini di ruang bougenvile adalah DM dengan jumlah 15 kasus 17. yaitu shift pagi. Febris 5 1 6 8. dan malam (Marquis.3. BP 3 3 6 6. TB paru 8 8 10.2.3. Perhitungan beban kerja perawat (Time and Motion Study) Beban kerja perawat adalah seluruh kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh seorang perawat selama bertugas di suatu unit pelayanan keperawatan.6 %. GEA 4 4 5 13 4.3% Rendah Malam 31.3. Quesioner. 3.3. Dyspepsia 3 5 6 14 7. Wawancara) .

3) Sebelah barat merupakan arah belakang ruangan berseberangan dengan bank Darah .3. Lokasi dan Denah ruangan Lokasi penerapan proses manajerial keperawatan ini dilakukan pada Ruang X Rumah Sakit Y dengan uraian denah sebagai berikut. Tabel diatas menunjukan beban kerja perawat di ruang bougenvile termasuk kategori beban kerja rendah (kurang dari 80%) 3.1. 4) Sebelah timur merupakan arah pintu masuk ke dalam ruangan. Material (Sarana dan Prasarana / M2) 3.3. 2) Sebelah selatan berbatasan dengan Ruang VCT. . 1) Sebelah utara berbatasan dengan Ruang Anggrek.3.3.

EKG 1 Baik 5. Kulkas mini / sedang 4 Cukup baik 4. AC 13 Cukup baik 3. Lemari obat di counter 3 Cukup baik 5. Selimut vip 50 Cukup baik 3. Regulator O2 8 Baik dinding 3. 2/ruangan 4. Temperatur 2 Baik manual 7. Kasur / matras 13 Cukup baik 10.3.3. Lampu emergency 1 Baik 2/ruangan Ditamb ah 1 6.3. Hukna 1 Baik 8. Gunting verban 3 Baik 2/ruangan Dikura ngi . Regulator O2 1 Baik tabung kecil 2.3. Tempat tidur manual 24 Cukup baik 2. Perlak 8 Cukup baik 9. Alat-alat kesehatan Kondi Ideal Usulan No Nama barang Jumlah si 1.3. - besar/sedang/kecil 2/ruangan. Loker perawat 1 Cukup baik 6. Fasilitas No Nama Barang Jumlah Kondisi 1.2. Laken vip 120 Cukup baik 8.3. Bed cover set 8 Cukup baik 7. Bak instrumen 6 Baik 2/ruangan.

Penerapan MAKP Metode TIM. dan evaluasi. a.Tanggung jawab Anggota Tim. . . Stetoskop 3 Baik 2/ruangan Dikura ngi 10. Metode (M3) No Metode Data Fokus Yang dinilai 1. b. Reflek hummer 2 Baik 16. e. Tensimeter 3/1 Baik 2/ruangan dewasa + anak 13. Anggota Tim harus menghargai kepemimpinan ketua tim. .3. - 3/ruangan 12. d. Membuat penugasan.Mekanisme pelaksanaan. Suction / nebulizer 4/2 Baik 2/ruangan 14. supervisi. 9.4. Mengenal atau mengetahui kondisi pasien dan dapat menilai tingkat kebutuhan pasien. a. Kursi roda 2 Baik 2. c. Buli buli panas 1 Baik 15. Troly instrumen 4 Baik 1/ruangan dikura ngi 11. Memberikan asuhan keperawatan pada pasien di bawah tanggung jawabnya. Ketua Tim sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan berbagai teknik kepemimpinan. Lampu Rontgen 1 Baik 3. Komunikasi efektif agar kontunuitas rencana keperawatan terjamin. Menyelenggarakan konferensi. Mengembangkan kemampuan anggota. c. b. MAKP . Membuat perencanaan.Tupoksi (Tanggung jawab Ketua Tim). a.

f. Ronde .Persiapan (Pra) terima a. Kepala ruang membuka acara timbang terima. Semua sarana prasarana terkait pelayanan keperawatan dilaporkan dan dioperkan. Timbang terima dilaksanakan setiap pergantian shift/operan. b. c. b. . Perawat sif dapat melakukan klarifikasi. . Pengarahan. Pengawasan. a. . c. Semua pasien baru masuk dan pasien yang dilakukan timbang terima khususnya pasien baru masuk dan pasien yang memiliki permasalahan yang belum teratasi. Perencanaan.Pasca. 2. Pelaporan untuk timbang terima dituliskan secara langsung tanda tangan pergantian shift serta penyerahan laporan.Persiapan (Pra). a. Kelompok yang akan bertugas menyiapkan buku catatan. tanya jawab. Diskusi/klarifikasi. Ditutup oleh kepala ruangan. a. Perawat yang sedang jaga menyampaikan timbang terima kepada perawat berikutnya.Tanggung jawab Kepala Ruang. Timbang . Kerja sama dengan anggota tim dan antar tim. b. Kedua kelompok dinas sudah siap. d. c. b. c. c. Memberikan laporan. e. Melakukan validasi keliling ke bed pasien. d. Pengorganisasian.Pelaksanaan di nurse station dan di bed pasien. b. 3. . dan validasi.

dan menayanyakan. masalah pasien.Pelaksanaan.3. Menentukan tim ronde. Keperawatan a. rencana.5. . b. b. 3. Pemberian justifikasi oleh perawat tentang data. c. Keselamatan Pasien (Patient Safety) 1) Sasaran I : Ketetapan identifikasi pasien a. Mempersiapkan pasien: informed consent. tindakan yang akan dilakukan dan kriteria evaluasi. Diskusi antar anggota tim tentang kasus tersebut. . a. Ke bed pasien. b. membaca status/dokumen lainnya. Menentukan kasus dan topik. . Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien. a. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat. tidak boleh menggunakan nomor kamar atau lokasi pasien. b. Membuat proposal (Studi Kasus/resume keperawatan). Penjelasan/penyajian tentang pasien oleh perawat yang mengelola pasien.Pasca di nurse station. Kesimpulan dan rekomendasi untuk asuhan keperawatan selanjutnya oleh Kepala Ruang/pimpinan ronde.1. Mencari sumber atau literatur. Mutu (M5) 3. c.3. d.5. darah. perawat lain/konselor/tim kesehatan lainnya melakukan pemeriksaan/validasi dengan cara observasi. e. c. atau produk darah. Pasien diidentifikasi sebelum pengambilan darah dan spesimen lain untuk pemeriksaan klinis.

b. Perintah lisan dan melalui telepon atau hasil pemeriksaan secara lengkap dibacakan kembali oleh penerima perintah atau hasil pemeriksaan tersebut. 2) Sasaran II : Peningkatan komunikasi yang efektif a. tepat- prosedur. tepat pasien a. 4) Sasaran IV : Kepastian tepat lokasi. lokasi. Rumah sakit menggunakan suatu tanda yang segera dikenali untuk identifikasi lokasi operasi dan melibatkan pasien dalam proses penandaan/pemberian tanda. tepat/benar. tepat prosedur. Perintah lisan dan yang melalui telepon ataupun hasil pemeriksaan dituliskan secara lengkap oleh penerima perintah atau hasil pemeriksaan tersebut. b. Rumah sakit menggunakan suatu checklist atau proses lain untuk melakukan verifikasi praoperasi tepat-lokasi. dan tepat-pasien dan semua dokumen serta peralatan yang diperlukan tersedia. Kebijakan dan prosedur diimplementasikan. 5) Sasaran V : Pengurangan resiko infeksi terkait pelayanan Kesehatan a. c. Perintah atau hasil pemeriksaan dikonfirmasi oleh individu yang memberi perintah atau hasil pemeriksaan tersebut. b. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mengatur identifikasi. Rumah sakit menerapkan program hand hygiene yang efektif. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian pengobatan dan tindakan/prosedur. pemberian label. d. . dan penyimpanan obat- obat yang perlu diwaspadai. dan fungsional. 3) Sasaran III : Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai a.

Langkah-langkah diterapkan untuk mengurangi risiko jatuh bagi mereka yang pada hasil asesmen dianggap berisiko. Sebanyak 1 orang (56−75%) menyatakan pelayanan perawat di Ruang Bougenvile cukup puas. c. b. 3. Rumah sakit menerapkan proses asesmen awal risiko pasien jatuh dan melakukan pengkajian ulang terhadap pasien bila diindikasikan terjadi perubahan kondisi atau pengobatan.5. 6) Sasaran VI : Pengurangan resiko pasien jatuh a. Pelaksanaan evaluasi menggunakan kuesioner yang berisi 20 soal berbentuk pertanyaan pilihan.2. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mendukung pengurangan secara berkelanjutan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan. Kepuasan Berikut akan dipaparkan mengenai kepuasan pasien terhadap kinerja perawat. baik tentang keberhasilan pengurangan cedera akibat jatuh maupun dampak yang berkaitan secara tidak disengaja. b. Dari hasil kuesioner tentang Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Perawat yang dibagikan kepada 6 responsden secara umum menyatakan bahwa pelayanan perawat di Ruang Bougenvile puas yaitu sebanyak 5 orang (76−100%). dan sikap perawat selama memberikan asuhan keperawatan. Pertanyaan pilihan mencakup pemberian penjelasan setiap prosedur tindakan. .3. Langkah-langkah dimonitor hasilnya.

SRI ELYANA.Kep Ns. Ns. Amd. S. EVI GUSTINA. Amd.KEP KETUA TIM I KETUA TIM I EKA SUSANTI.Kep 2. S. ASMAI RINDAYANI.KEP BAGIAN ADMINISTRASI BAGIAN LOGISTIK SRI MURTI HANDAYANI. STRUKTUR ORGANISASI RUANG BOUGENVILE (VIP C) RSUD DR. YUNUS BENGKULU KEPALA RUANGAN HERMI SURYATI. Hj. S. DEMPI. Kep . S.Kep 2.KM Ns.Kep 1.Kep PERAWAT PELAKSANA PERAWAT PELAKSANA 1. YURMAWATI. S. ELLEN CAROLENA. Amd. S. M.

.

.

Strength (kekuatan) 1. Analisa SWOT No Analisi SWOT Bobot Rating Bobot x Rating 1.4.9 . Adanya pelatihan perawat 0. Weakness (kelemahan) 1.8 TOTAL 1.0 3 3 sertifikat pelatihan BTCLS 3.S1 Kesmas : 1 orang .D3 Kebidanan : 1 orang 2. Terdapat perawat yang belum 0.3 3 0. 0.D3 Keperawatan : 7 orang .7 b.3 3 0. Jenis ketenagaan 0. Kurang nya tenaga perawat laki. 99% perawat telah memiliki 1.7 – 1. Man (M1) S–W= I.Ners : 5 orang .9 laki .S1 Keperawatan : 3 orang . Internal Faktor (IFAS) 4.3 3 0.5 4.8 = 2.3.2 4 0.9 a.9 mengikuti pelatihan MAKP 2.

5 3 1.9 dari masyarakat untuk pelayanan yang lebih profesional 2. Ada tuntutan yang lebih tinggi 0. Threatened (ancaman) 1.3 3 0. Persaingan antar RS yang 0.4 3 1.9 masyarakat akan pentingnya kesehatan 4.9 semakin kuat . Makin tingginya kesadaran 0.8 II. Eksternal Faktor (EFAS) c.9 masyarakat akan hukum 3.5 tentang profesionalisasi perawat 3.6 1.3 3 0.3 3 0.6 = 3.7 d.7 – 3.1 2. Adanya program akreditasi RS 1 4 4 TOTAL 1. Makin tingginya kesadaran 0. Opportunity (Peluang) 1. TOTAL 0.2 melanjutkan pendidikan O–T= kejenjang yang lebih tinggi 6.9 6. Adanya kesempatan 0.3 3 0. Adanya kebijakan pemerintah 0.

6 3 1.3 3 0.2 3. Material (M2) S–W= I.9 rusak sehingga tidak bisa digunakan 2. Weakness (kelemahan) 1.8 8.8 prasarana yang memadai 2. Terdapat nurse station 0. Strength (kekuatan) 1. Terdapat administrasi penunjang 0. Mempunyai sarana dan 0.6 a.6 2.9 dari sarana dan prasarana kesehatan yang sudah ada TOTAL 2.4 – 1.3 3 0.4 b.9 kamar tentang tata tertib . Pemeliharaan dan perawatan 0.7 3 2.4 3 1.4 5. Merupakan RS pendidikan dan 0.2 yang memadai 4.8 = 6.3 3 0. Belum terdapat stiker ditiap 0.8 3 2. TOTAL 1. Terdapat beberapa kamar yang 0.1 rujukan 3. Internal Faktor (IFAS) 8.

9 2. pengunjung TOTAL 0.4 = 0. Threatened (ancaman) 1.9 1. Adanya pelatihan / seminar 0.5 khusus tentang pengoperasian alat TOTAL 1.5 3 1.1 3.8 prasaran yang rusak dari bagian O–T= logistik 3.4 .8 II.5 3 1.5 masyarakat tentang pentingnya kesehatan 2.3 d.9 masyarakat untuk melengkapi sarana dan prasarana TOTAL 0. Opportunity (keuntungan) 1.3 3 0. Ada tuntutan tinggi dari 0. Eksternal Faktor (EFAS) c.6 3 1. Adanya pengadaan sarana dan 0.8 2. Makin tinggi kesadaran 0.3 – 2.

Weakness (kelemahan) 1. Sudah ada model MAKP yang 0.5 5.9 acuan melaksanakan kegiatan pelayanan 2.7 b. dan motto sebagai 0.5 4 2. misi.8 digunakan yaitu MAKP Tim 3.7 3 2.4 a.3 = 2. Pelaksanaan model MAKP 0.4 3 1.7 4 2.1 sudah dilaksanakan tetapi sosialisasi kepada semua tim masih kurang 2.3 3 0.7 – 3. RS visi.0 memenuhi syarat untuk MAKP (S1 keperawatan sebanyak 7 orang dan Ners sebanyak 5 orang) TOTAL 1. Ketenagaan keperawatan sudah 0.3. Strength (kekuatan) 1. Ronde keperawatan sudah 0. Metode (M3) S–W= I. Internal Faktor (IFAS) 5.2 dilaksanakan tetapi kurang .

3 3 0.5 d. Persaingan dengan RS lain yang 0.2 – 2. Threatened (ancaman) 1.9 semakin ketat 2.9 masyarakat akan pentingnya kesehatan TOTAL 0.6 4. Makin tinggi kesadaran 0. efektif dalam pelaksanaannya TOTAL 1.9 2.1 tentang profesionalisasi perawat 2.3 II.7 3 2.2 4. Makin tinggi kesadaran 0.7 = 1.3 3 0. Opportunity (peluang) 1.1 pelaksanaan MAKP O–T= TOTAL 0.9 masyarakat akan hukum 3.3 3 0. Adanya kebijakan RS tentang 0. Eksternal Faktor (EFAS) c.7 .7 3 2.1 3. Ada kebijakan pemerintah 0.

1.5. Material (M2) Data Masalah 1. Belum terdapat stiker ditiap kamar tentang tata tertib pengunjung 3. Metode (M3) Data Masalah 1. Terdapatnya perawat yang belum mengikuti Kurang terpapar terhadap keterampilan MAKP pelatihan MAKP 2.2. Man (M1) Data Masalah 1. Kurangnya tenaga perawat laki-laki 3.3. Terdapat beberapa kamar yang rusak sehingga Kurang efektif nya pemanfaatan sarana dan prasarana yang memadai tidak bisa digunakan 2. Identifikasi Masalah 3. Kebutuhan tenaga perawat yang belum ideal dengan jumlah pasien 3.3.5. Pelaksanaan model MAKP sudah dilaksanakan Belum terlaksananya MAKP secara optimal .5.5.

Ronde keperawatan sudah dilaksanakan tetapi kurang efektif dalam pelaksanaannya 3. tetapi sosialisasi kepada semua tim masih kurang 2. 2. Man (M1) Meningkatkan Mengusulkan : Kurang terpapar terhadap kualitas dan 1. Peningkatan 1. Beban kerja ilmu perawat sesuai keperawatan dengan tugasnya oleh tenaga yang .6. Planning Of Action (POA) No Masalah Tujuan Program / Indikator / target Penanggung Waktu Kegiatan keberhasilan jawab 1. Peningkatan keterampilan MAKP kuantitas SDM skill pegawai jenjang melalui pendidikan dan pendidikan dan skill pegawai pelatihan secara tercapai berkala. Penyegaran 2.

Metode (M3) Mampu 1. Terpenuhinya Kurang efektif nya terpenuhinya kebutuhan kebutuhan fasilitas pemanfaatan sarana dan kebutuhan sarana dan sesuai standard prasarana yang memadai fasilitas prasarana pelayanan 2. berkompeten secara periodik 2. Mengusulkan 2. Material (M2) Mengupayakan 1. Merencanakan kebutuhan tenaga perawat . Identifikasi 1. Rasio alat kebutuhan kesehatan dengan sesuai standard pasien sesuai dan pelayanan tersedianya kebutuhan alat habis pakai 3. Mendiskusikan MAKP metode tim Belum terlaksananya MAKP meningkatkan setiap diterapkan secara secara optimal penerapan MAKP hambatan pada baik metode TIM penerapan MAKP metode Tim 2.

Menentukan diskripsi tugas dan tanggung jawab perawat 5. Melakukan pembagian peran perawat 4. Melakukan pembagian jadwal serta pembagian tenaga perawat .3.

M. Tidak ada subsidi dari RS 3. Yunus dalam terhadap pasien. Hanya terdapat 1 tenaga pelayanan pasien. c. keperawatan terbaik SDM. Adanya sistem remunerasi membantu dalam kesehatan yang optimal. a. Adanya kerjasama yang 1. rangka peningkatan dokumentasi yang tidak kepada klien dan keluarga 2. Jika terjadi hal-hal yang perawatan terdepan dalam perawat yang belum baik antar bidang di RSUD tidak diinginkan memberikan pelayanan peduli dalam akurasi Dr. jasa berdasarkan kinerja. M. Terdapatnya SDM yang tanggung gugat. profesi Ners. tanggung jawab dan 2. Masih ada beberapa 1. Misi : 3. Visi : Menjadi ruangan 1. Memberikan pelayanan dalam meningkatkan memadai di RSUD Dr. Membina hubungan . standard pelayanan 4. Kemudahan dari bidang melalui pelatihan keperawatan dalam keperawatan yang melanjutkan study berkesinambungan. keperawatan yang holistic pendokumentasian askep. Mengembangkan sedang mengambil profesi kemampuan dan keperawatan profesionalisme staf 5. Sudah terdapat beberapa keperawatan profesional staf di bougenvile yang b. Yunus terutama di ruang dengan menerapkan Bougenvile. akurat tidak dapat guna mencapai derajat yang menyelesaikan 2. Strength (kekuatan) Weakness (kelemahan) Opportunity (Peluang) Threatness (Ancaman) 1.

Mengutamakan kepuasan dan kenyamanan pasien dalam proses penyembuhan. Karu dan Katim sudah sangat baik dalam memberikan motivasi kerja saat breefing pagi. 3. yang profesional dengan mitra kerja yang lain sehingga mempercepat proses penyembuhan klien. e. Meningkatkan kesejahteraan staf ruangan bougenvile. Karu dan Katim selalu membantu melengkapi dokumentasi . 4. d.

5. Beberapa staf belum akurat menulis intervensi dengan diagnose yang muncul 5.2. Identifikasi Masalah Data Masalah Pendokumentasian askep Adanya kebiasaan beberapa staf yang belum mengaplikasikan 1.4. Pada dokumentasi askep. Karu dan Katim selalu mengingatkan staf dalam pengisian dokumentasi. Belum terpaparnya beberapa staf dengan komunikasi yang efektif 3. Pada dokumentasi askep. tetapi masih ada beberapa staf yang belum peduli akan akurasi pendokumentasian 4. 3. 2. pada penerimaan pasien baru dengan menggunakan sistem checklist. Standard pengendalian infeksi 3. beberapa askep tidak tertera intervensi sesuai dengan diagnosa keperawatan pasien.4. 3. Planning of Action (POA) Masalah I : MAN .6.3. 3. Dari 4 askep pasien terdapat 2 askep yang belum akurat. perawat sudah melakukan pengkajian budaya caring pada dokumentasi keperawatan.

Yunus Kelompok Kelompok 3. Sosialisasi lokmin ke ruangan 02 Juli 2018 Karu Bougenvile Ruangan Mahasiswa Mahasiswa 2. Melakukan role play timbang Juli 2018 terima 5. M. Menyarankan kepada pihak Juli 2018 manajemen untuk melakukan pelatihan MPKP .No Kegiatan Waktu Penanggung Tempat Nara sumber Sumber dana jawab 1. Melakukan timbang terima Juli 2018 Mahasiswa Bougenvile RSUD Profesi Ners UMB Profesi Ners UMB keperawatan Profesi Ners UMB Dr. Melakukan role play pre. post Juli 2018 Bengkulu Bougenvile Bougenvile konferens 4.