You are on page 1of 7

ASUHAN KEPERAWATAN

4.1. PENGKAJIAN

a. Biodata : Nama ,umur, jenis kelamin, alamat, suku, bangsa, pendidikan, pekerjaan, dan
penanggung jawabnya.
Usia: Penyakit epilepsi dapat menyerang segala umur.
Pekerjaan: Seseorang dengan pekerjaan yang sering kali menimbulkan stress dapat memicu
terjadinya epilepsi.
Kebiasaan yang mempengaruhi: peminum alcohol (alcoholic).
b. Keluhan utama: Untuk keluhan utama, pasien atau keluarga biasanya ketempat
pelayanan kesehatan karena klien yang mengalami penurunan kesadaran secara tiba-tiba
disertai mulut berbuih. Kadang-kadang klien / keluarga mengeluh anaknya prestasinya tidak
baik dan sering tidak mencatat. Klien atau keluarga mengeluh anaknya atau anggota
keluarganya sering berhenti mendadak bila diajak bicara.
c. Riwayat penyakit sekarang: kejang, terjadi aura,dan tidak sadarkan diri.
Dapatkan riwayat kejang. Pasien mungkin tidak dapat memberikan infrmasi tentang
perilakunya selama atau setelah kejang kecuali ada saksi yang memberitahu pasien. Bila
mungkin bicaralah dengan orang yang menyaksikan. Tanya pasien hal-hal berikut :
 Beerkaitan dengan kejang :
- Pernahkah anda mengalami kejang ? jika Ya apa yang terjadi selama kejang dan berapa
lama berakhir?
- Apakah anda mengalami aura (sensasi atau tingkah laku yang tidak biasa) sebelum
kejang?
- Apa yang terjadi setelah kejang ?
- Seberapa seringkah Anda mengalami kejang ?
- Adkah sesuatu yang khusus yang menyebabkan kejang ?
- Kapan kejang terakhir yang Anda alami ?
- Apakah setelah kejang berakhir , anda menyadari kalau baru saja mengalami kejang ?
- Apa yang anda rasakan setelah kejang ?
 Berkaitan dengan obat-obatan :
- Obat apakah yang Anda gunakan untuk mengontrol aktifitas kejang ?
- Kapan obat terakhir digunakan untuk engontrol aktivitas kejang ?
- Apakah Anda juga menggunakan obat-obat yang lain ?

d. Riwayat penyakit dahulu atau adanya factor-faktor penyebab:
a. Idiopatik : tidak ada penyebab yang dapat diidentifikasi
b. Adanya riwayat :
 Trauma lahir, Asphyxia neonatorum.
 Cedera Kepala, Infeksi sistem syaraf.
 Ganguan metabolik (hipoglikemia, hipokalsemia, hiponatremia)
 Tumor Otak, hematoma
 Kelainan pembuluh darah
 Demam tinggi,

Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan sumbatan lidah di endotrakea. Isolasi sosial berhubungan dengan rendah diri terhadap keadaan penyakit dan stigma buruk penyakit epilepsi dalam masyarakat. Interpersonal : gangguan konsep diri dan hambatan interaksi sosial yang berhubungan dengan penyakit epilepsi (atau “ayan” yang lebih umum di masyarakat). . CT scan atau MRI. B2 (blood): Terjadi takikardia. Gali informasi tentang perubahan gaya hidup yang mungkin mencetuskan kejang/serangan j. berat badan turun. B5 (bowel): nafsu makan menurun. stroke  gangguan tidur  penggunaan obat  hiperventilasi  stress emosional. 4. B4 (bladder): oliguria atau dapat terjadi inkontinensia urin 5.2. dan peeriksaan metabolisme menggambarkan kondisi patologis  Kadar antikonvulsan serum (bila digunakan) diperiksa untuk menentukan adekuat- tidaknya terapi obat. peningkatan sekresi saliva.d penurunan kardiac output. Riwayat psikososial Intrapersonal : klien merasa cemas dengan kondisi penyakit yang diderita. B1 (breath): RR biasanya meningkat (takipnea) atau dapat terjadi apnea. 2. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan dispnea dan apnea. e. Risiko tinggi terhadap kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan dirumah berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kondisi dan rencana penanganannya. 1. pengobatan dan kemandiriannya setelah pulang. Intoleransi aktivitas b. B3 (brain): penurunan kesadaran 4. f. dapat terjadi tremor saat menggerakkan anggota tubuh. Risiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan aktivitas kejang yang tidak terkontrol (gangguan keseimbangan). aspirasi 2. B6 (bone): klien terlihat lemas. mengeluh meriang. sebab terdapat dugaan terdapat 4-8% penyandang ayan diakibatkan oleh faktor keturunan. inkontinensia alfi 6. g. k. 6. 7.d gangguan pada nervus organ sensori persepsi. Gangguan persepsi sensori b. Kaji pemahamannya tentang kondisi. i. Pemeriksaan diagnostik  EEG. Pemeriksaan fisik (ROS). 5. Riwayat penyakit keluarga: Pandangan yang mengatakan penyakit ayan merupakan penyakit keturunan memang tidak semuanya keliru. tidak efektifnya koping terhadap kondisi kroniknya. takikardia. cianosis 3. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. h. 4. 3. Kaji perasaan pasien tentang kondisinya dan dampaknya terhadap gaya hidup.

Batasan karakteristik : laporan jatuh pada saat kejang terjai. Pasang infuse untuk sarana pengobatan R/ tindakan-tindakan khusus menbantu mengenali jenis kejang dan melindungi pasien dari cedera fisik. tidak ada memar. Resiko penurunan perfusi serebral b.barang di sekitar pasien dapat membahayakan saat terjadi kejang c. menghindari jatuh.benda yang dapat mengakibatkan terjadinya cedera pada pasien saat terjadi kejang R/Mengurangi terjadinya cedera seperti akibat aktivitas kejang yang tidak terkontrol Pasang penghalang tempat tidur pasien Penjagaan untuk keamanan. Gunakan ambu-bag bila perlu sebagai ventilasi. menghindari adanya cedera fisik. Ansietas b.3. tidak jatuh INTERVENSI RASIONAL Observasi: a. memar. Masukan alat untuk pernapsan mulut hanya bila serangan dengan status epileptikus reda sejenak.d kurang pengetahuan mengenai penyakit 9. Tinggal bersama pasien dalam waktu beberapa lama setelah kejang. Pantau status neurologis setiap 8 jam R/Mengidentifikasi perkembangan atau penyimpangan hasil yang diharapkan d. Identivikasi factor lingkungan yang memungkinkan resiko terjadinya cedera R/Barang. Tujuan : Klien dapat mengidentifikasi faktor presipitasi serangan dan dapat meminimalkan/menghindarinya. menciptakan keadaan yang aman untuk klien. b. h. Keutuhan jalan napas dapat terganggu dengan aktivitas kejang yang berkepanjangan. Pantau : Hasil darah menunjukkan terapi anti konvulsan R/ untuk mengidentifikasi perkembangan atau penyimpangan hasil yang diharapkan. untuk mencegah cidera atau jatuh. Risiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan aktivitas kejang yang tidak terkontrol (gangguan keseimbangan). Menyiapkan kain lunak/mayo untuk mencegah terjadinya tergigitnya lidah saat terjadi . Mandiri Jauhkan benda. yang mngurangi supali oksigen ke otak. INTERVENSI DAN RASIONAL 1. g. Letakkan pasien di tempat yang rendah dan datar R/Area yang rendah dan datar dapat mencegah terjadinya cedera pada pasien f.8. R/Memberi penjagaan untuk keamanan pasien untuk kemungkinan terjadi kejang kembali. Lakukan penghisapan bila perlu. Untuk mengnrol aktivitas kejang. Kaji fungsi saluran pernapasan.d penurunan suplai oksigen ke otak 4. aktifitas jejal keras saat kejang Kriteria hasil : tidak terjadi cedera fisik pada klien. e. Lakukan kewaspadaan yang tepat bila terjadi kejang. klien dalam kondisi aman.

Berikan informasi pada keluarga tentang tindakan yang harus dilakukan selama pasien kejang R/Melibatkan keluarga untuk mengurangi resiko cedera 2. atau mengalami sesuatu yang tidak biasa sebagai permulaan terjadinya kejang. .Catat lamanya kejang. . Edukasi: Anjurkan pasien untuk memberi tahu jika merasa ada sesuatu yang tidak nyaman. peningkatan sekresi saliva.kejang. uraikan pergerakan tubuh selama kejang. Individu juga kehilangan kesadaran dan tidak dapat mengingat serangan yang dialami. dan perilaku pasien setelah kejang.Berikan kesempatan pada pasien untuk beristirahat. R/ dokumentasi merupakan catatan tetap dari riwayat kondisi kesehatan pasien sebagai rujukan untuk masa depan. tidak ada dispnea INTERVENSI RASIONAL a. Selama ejang pasien menghabiskan energy dan menyebabkan kelelahan. n. R/Lidah berpotensi tergigit saat kejang karena menjulur keluar i. l. tidak terjadi aspirasi. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan sumbatan lidah di endotrakea. R/Untuk mengidentifikasi manifestasi awal sebelum terjadinya kejang pada pasien j.Ukur tanda vital . Apabila kejang berakhir : .Tanyakan pasien bila ada perasaan yang tidak biasa yang dialami beberapa saat sebelum kejang.Beri tahu pasien tentang kejadian kejang. Mandiri Anjurkan klien untuk mengosongkan mulut dari benda / zat tertentu / gigi palsu atau alat yang lain jika fase aura terjadi dan untuk menghindari rahang mengatup jika kejang terjadi tanpa ditandai gejala awal. yang dapat mengurangi suplai oksigen ke otak. Tanyakan pasien bila ada perasaan yang tidak biasa yang dialami beberapa saat sebelum kejang. khususnya setelah kejang umum. . . Tujuan : jalan nafas menjadi efektif Kriteria hasil : nafas normal (16-20 kali/ menit). m. R/Sebagai informasi pada perawat untuk segera melakukan tindakan sebelum terjadinya kejang berkelanjutan. R/ temuan ini merupakan indikasi status epileptikus k. Segera beri tahu dokter bila kejang melebihi 10 menit dan individu tidak sadar. Kolaborasi: Berikan obat anti konvulsan sesuai advice dokter R/Mengurangi aktivitas kejang yang berkepanjangan.

R/Memberikan kesempatan untuk mendapatkan informasi. permukaan datar Tanggalkan pakaian pada daerah leher / dada dan abdomen R/ meningkatkan aliran (drainase) sekret. Mandiri Memberikan dukungan psikologis dan motivasi pada pasien R/Dukungan psikologis dan motivasi dapat membuat pasien lebih percaya diri Kolaborasi: c. R/Menghilangkan stigma buruk terhadap penderita epilepsi (bahwa penyakit epilepsi dapat menular). seperti yayasan epilepsi dan sebagainya. Isolasi sosial berhubungan dengan rendah diri terhadap keadaan penyakit dan stigma buruk penyakit epilepsi dalam masyarakat. R/Keluarga sebagai orang terdekat pasien. d. Kolaborasi Berikan oksigen sesuai program terapi R/Membantu memenuhi kebutuhan oksigen agar tetap adekuat.adanya interaksi pasien dengan lingkungan sekitar . e. R/Memberi informasi pada perawat tentang factor yang menyebabkan isolasi sosial pasien b. Edukasi: Anjurkan keluarga untuk memberi motivasi kepada pasien. Memberi informasi pada keluarga dan teman dekat pasien bahwa penyakit epilepsi tidak menular. d. menurunkan resiko aspirasi atau asfiksia. factor.menunjukkan adanya partisipasi pasien dalam lingkungan masyarakat INTERVENSI RASIONAL a. c. dapat menurunkan hipoksia serebral sebagai akibat dari sirkulasi yang menurun atau oksigen sekunder terhadap spasme vaskuler selama serangan kejang 3. Letakkan pasien dalam posisi miring.factor yang berpengaruh pada perasaan isolasi sosial pasien. dukungan ide-ide untuk mengatasi masalah dari orang lain yang telah mempunyai pengalaman yang sama. b. Tujuan: mengurangi rendah diri pasien Kriteria hasil: . Rujuk pasien/ orang terdekat pada kelompok penyokong. . ObservasI : Identifikasi dengan pasien. Melakukan suction sesuai indikasi R/ Mengeluarkan mukus yang berlebih.R/ menurunkan resiko aspirasi atau masuknya sesuatu benda asing ke faring. mencegah lidah jatuh dan menyumbat jalan nafas untuk memfasilitasi usaha bernafas / ekspansi dada. sangat mempunyai pengaruh besar dalam keadaan psikologis pasien f. Kolaborasi dengan tim psikiater R/Konseling dapat membantu mengatasi perasaan terhadap kesadaran diri sendiri.

Taati peraturan mengemudi. Hindari pekerjaan yang berada ditempat ketinggian atau air. Berikan kesempatan pada pasien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaanya tentang perawatan kejang. EVALUASI 1. Tidak ada obstruksi lidah. Dibanyak daerah mengharuskan seseorang bebas dari seranga kejang paling tidak dalam 2 tahun terakhir untuk mendapatkan SIM. Pasien tidak mengalami cedera. Kadar antikonvulsan didalam serum danpemeriksaan neurologis. mengungkapkan rencana yang realistis. 2. R/ perubahan dalam pola serangan metupakan peringatan untuk evaluasi secara teliti. tidak ada memar. Ajarkan pada pasien untuk perawatan mandiri terhadap kejang. 4. . Jelaskan bahwa perlu untuk encari bantuan darurat setiap serangan karena polanya selalu sama.Pekerjaan tetap dilakukan apabila keamanannya terjamin. . . Anjurkan untuk menghubungi dokter bila kejang menjadi lebih kuat dan sering. tidak efektifnya koping terhadap kondisi kroniknya. . . .Hindari konsumsi alcohol. . jadwal. Ajarkan kepada anggota keluarga apa yang harus dilakukan bila terjadi kejang. . Berikan informasi tentang : .Mekanisme patologi yang engkibatkan aktivitas kejang.Pemeriksaan diagnostic.Tujuan dari program penanganan. pasien tidak mengalami apnea dan aspirasi.Program pengobatan termasuk nama. INTERVENSI RASIONAL a. tujuan dan kemungkinan efek samping. pasien tidak menarik diri (minder). mengungkapkan kepuasannya dengan rencana terapi.4. R/ pasien lebih mungkin mentaati bila mereka memahami kondisi mereka dan bagaiman tindakan yang ditentukan akan membantu mereka. tidak jatuh. persiapan sebelum pemeriksaaan.Pada saat akan terjadi serangan cari tempat yang aman dan berbaring. R/ mengungkapkan perasaan membantu memudahkan koping dan memungkinkan pemberi bantuan untuk mengenali dan mengoreksi adanya kekeliruan konsep. R/ Instruksi-instruksi ini dirancang untuk menjamin keselamatan pasien. tujuan pemeriksaan. b. Sementara sedang dalam pengobatan antikonvulsan. 3. termasuk : Uraian singkat. dosis. Hasil yang diharapkan : mengungkapkan pemahaman terhadap kondisinya. . Pasien dapat berinteraksi kembali dengan lingkungan sekitar. d. c. Koreksi bila ada kekeliruan konsep.Gunakan obat sesuai program. . Risiko tinggi terhadap kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan dirumah berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kondisi dan rencana penanganannya. pengobatan. perawatan sebelum pemeriksaan.4.Paki gelang atau kalung wapada medis. tindakan pencegahan.

4. 6. Pola napas normal. TTV dalam batas normal. 5. pasien dapat melakukan aktifitas sehari. Ansietas pasien dan keluarga berkurang. 7. 8. Status kesadaran pasien membaik . Organ sensori dapat menerima stimulus dan menginterpretasikan dengan normal.hari secara normal. pasien tampak tenang. Pasien toleran dengan aktifitasnya.