You are on page 1of 33

Optimalisasi Pengawasan Syariah di BMT

( Tinjauan Regulasi & Analisa )

Disusun oleh :

Hatta Syamsuddin, Lc

( Pengawas Syariah KJKS Bina Insan Mandiri, Karanganyar Jawa Tengah)

Oktober 2011

1

Optimalisasi Pengawasan Syariah di BMT

Hatta Syamsuddin, Lc

I. PENDAHULUAN / LATAR BELAKANG

Salah satu hal utama yang membedakan antara lembaga keuangan syariah dan
konvensional adalah adanya sistem pengawasan syariah (riqobah syar’iyyah) . Maka
baik lembaga keuangan syariah (LKS) yang berbentuk bank maupun non-bank pun
diwajibkan memiliki Dewan Pengawas Syariah dalam struktur kelembagaannya.
Kewajiban keberadaan DPS ini bahkan diisyaratkan secara jelas dan legal dalam
beberapa Undang-Undang, diantaranya Undang-undang Nomer 21 tahun 2008
tentang Perbankan Syari’ah, yang menyebutkan : Dewan Pengawas Syariah wajib
dibentuk di Bank Syariah dan Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS.
Sementara untuk Lembaga Keuangan Syariah non Bank, kewajiban ini diantaranya
disebutkan dalam Undang-undang Nomer 40 tahun 2007 pasal 109 tentang Perseroan
Terbatas, pasal 1 tersebutkan : Perseroan yang menjalankan kegiatan usaha
berdasarkan prinsip syariah selain mempunyai Dewan Komisaris wajib mempunyai
Dewan Pengawas Syariah.

Baitul Maal wa Tamwil (BMT) sebagai Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS),
yang berbentuk dalam payung hukum Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS), juga
mempunyai kewajiban yang sama dalam pembentukan Pengawas Syariah. Keputusan
Menkop & UKM no 91 tahun 2004 yang mengatur tentang Juklak Kegiatan KJKS
juga menyebutkan secara umum dalam pasal-pasalnya tentang kedudukan DPS
dalam kelembagaan KJKS, beserta beberapa wewenang terkait operasional KJKS.

Meskipun ada persamaan antara semua LKS dalam kewajiban pembentukan DPS,

namun dalam tataran operasional dan optimalisasinya sungguh jauh berbeda.

Perbedaan ini secara umum ada antara LKS Bank dan Non Bank, dan secara khusus

antara BMT dan LKS yang lainnya. Pengawasan Syariah untuk Bank Syariah relatif

berjalan lebih dinamis sekalipun tetap tercatat banyak permasalahan di dalamnya,

dibanding dengan Pengawasan Syariah di LKS non Bank seperti Asuransi Syariah,

Pasar Modal Syariah, Reksadana Syariah, Pegadaian Syariah yang terlihat damai-

damai saja tanpa banyak pembahasan dan penggalian. Hal ini

2

Meskipun dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) KJKS telah diatur tentang jabaran Tugas Pokok . Secara sederhana. Sementara LKS non Bank relatif hanya menggunakan akad terbatas dalam operasionalnya. karena Bank Syariah menggunakan lebih banyak ragam akad syariah sehingga model pengawasan Syariahnya pun terasa lebih dinamis. BMT yang secara fungsi mediasi mempunyai kemiripan dengan Bank Syariah (BPRS/BUS) dibandingkan dengan LKS non Bank lainnya. sehingga Pengawasan Syariahnya pun terkesan tidak banyak gejolak dan dinamisasi. Namun realita di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. namun banyak sisi diluar akad dan produk yang juga membutuhkan perhatian yang sama. Menjadi pion dalam sistem ‘tata surya’ ekonomi syariah.sebenarnya bisa dikaitkan dengan ragam akad syariah yang digunakan. Bahkan tidak jarang di beberapa tempat menunjukkan keberadaan DPS di BMT tersebut hanya sebatas nama. bahkan terkesan mendiamkan dan membiarkan. adalah alasan yang wajar mengapa BMT dan Pengawasan Syariahnya tidak terlampau banyak diperhatikan. Fungsi dan Wewenang DPS dalam KJKS namun belum banyak Pengurus BMT/KJKS yang secara sungguh-sungguh menjalankannya untuk optimalisasi pengawasan Syariah di lembaganya tersebut. simbol atau hanya sebagai kelengkapan syarat di awal pengajuan pendirian BMT. . masih teramat kecil. namun dari sisi pendekatan top-down. kita juga bisa menemukan bahwa baik DSN –MUI (Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia) maupun ABISINDO (Asosiasi Baitul Maal wa Tamwil Seluruh Indonesia) belum memberikan porsi yang cukup untuk menjalankan usaha-usaha optimalisasi DPS pada BMT. seharusnya juga memiliki perhatian yang sama tentang optimalisasi DPS di dalam struktur kelembagaannya. hal ini tentu bisa dipahami mengingat porsi BMT dalam total perputaran aset perbankan syariah di Indonesia. di dalam ‘galaksi’ sistem ekonomi konvensional di Indonesia. Tentu hal ini tidak selamanya tepat karena fungsi Pengawasan Syariah sendiri sebenarnya tidak terbatas pada jenis akad saja. Tidak optimalnya DPS bukan hanya dari sisi BMT/KJKS semata.

Padahal secara wewenang Kementrian Koperasi dalam hal ini Dinas Koperasi bisa membubarkan sebuah BMT/KJKS jika 3 .Pada saat yang sama Kementrian Koperasi sebagai payung hukum formal BMT juga tidak terlampau peduli dengan Pengawasan syariah di BMT.

Jika kita melihat perkembangan BMT yang begitu cepat. sehingga tidak banyak melibatkan Dewan Pengawas Syariah dalam menjalankan BMTnya. Dari semua gambaran kondisi itulah. dengan mengenal ‘medan’ pengawasan syariah di . Dinas Koperasi selama ini sudah cukup sibuk dengan mengurusi koperasi-koperasi yang tidak sehat secara modal dan keuangan. Sementara pada saat yang sama. dengan wewenang yang ada. semestinya Kementrian/Dinas Koperasi juga berkepentingan untuk mewujudkan optimalisasi DPS di KJKS yang ada dalam koordinasinya. hingga operasional mekanisme pengawasan yang semestinya. Dewan Pengawas Syariah yang ada pada BMT-BMT tersebut. dari mulai fungsi dan kedudukannya. bahkan BMT yang besar seperti Bina Usaha Mandiri di Lasem dan BMT Sidogiri di Jawa Timur yang asetnya masing-masing mencapai 300 M. Harapan sederhana adalah.000 LKMS/BMT dengan aset total sekitar Rp3 triliun rupiah. dimana saat ini secara kelembagaan sudah mencapai 4. Tulisan ini adalah sebuah gagasan. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan. belum menyentuh koperasi yang tidak sehat secara kepatuhan syariah. maka sudah sewajarnya Pengawasan Syariah di BMT ini memerlukan perhatian khusus. maka perlu panduan atau gambaran yang lebih jelas tentang tugas dan fungsi Dewan Pengawas Syariah di BMT. Berdasarkan aturan tersebut. menyebutkan wewenang ini secara jelas dalam Pasar 42 yang berbunyi : Pejabat berwenang membubarkan Koperasi Jasa Keuangan Syariah atau koperasi yang mempunyai Unit Jasa Keuangan Syariah jika Koperasi yang bersangkutan. sebagian besar belum memahami sepenuhnya tugas dan fungsi yang harus dijalankan. usulan. Salah satu hambatan dalam berjalannya Pengawasan Syariah di BMT adalah kurangnya kesadaran Pengurus BMT/KJKS akan pentingnya pengawasan syariah. Keputusan Menkop & UKM no 91 tahun 2004 yang mengatur tentang Juklak Kegiatan KJKS. terkait tugas pokok dan fungsi Pengawasan Syariah di BMT. untuk mempertajam pasal-pasal yang sudah ada dalam regulasi. berdasarkan penilaian Dewan Pengawas Syariah telah terbukti melanggar prinsip-prinsip syariah dalam melaksanakan kegiatan usahanya.dipandang tidak menjalankan prinsip-prinsip syariah berdasarkan penilaian DPS.

maka kesadaran semua pihak akan semakin meningkat secara bertahap.BMT secara lebih jelas. menuju optimalisasinya Pengawasan Syariah di BMT/KJKS. 4 .

maupun pihak pengelola dan pengurus yang menjalankan operasional BMT. sehingga tidak mempunyai alur kontrol dan pengawasan yang ketat sebagaimana Bank Syariah atau BPRS. diantaranya disebabkan hal sebagai berikut : 1) BMT adalah LKS yang bernaung di bawah Kementrian Koperasi. membutuhkan penyikapan yang cepat dan tepat untuk memastikan sisi legalitas syariahnya. maka secara psikologis akan menumbuhkan kenyamanan beraktifitas dan bertransaksi. Dengan pengawasan syariah yang berjalan optimal. . baik masyarakat yang akan berhubungan dengan BMT. masyarakat maupun perkembangan ekonomi syariah secara umum. maka yang terjadi adalah ekonomi syariah akan dilekatkan dengan citra ketinggalan jaman karena produk-produknya tidak berkembang dan tidak mampu menjawab kebutuhan zaman. Tanpa adanya fatwa-fatwa kontemporer yang dikeluarkan DSN-MUI. maka pengawasan syariah di dalamnya mempunyai beberapa nilai urgensi. URGENSI PENGAWASAN SYARIAH DI BMT & OPTIMALISASINYA Sebagaimana pada Lembaga Keuangan Syariah lainnya. Bagi perkembangan ekonomi syariah. pengawasan syariah bagi LKS mempunyai nilai urgensi yang tinggi. dimana disana ada Bank Indonesia yang secara rutin mengawasi. Produk- produk pengembangan yang dihasilkan dari Fatwa-fatwa tersebut diharapkan bisa kompetitif bahkan lebih unggul dibanding produk semisal di bank konvensional. pengawasan syariah mempunyai urgensi yang penting baik bagi kepentingan internal lembaga. Adapun secara khusus terkait pada BMT/KJKS.II. optimalisasi Pengawasan Syariah di BMT akan meminimalisir kesalahan dan penyimpangan yang selama ini terjadi. Lembaga Pengawasan Syariah tertinggi yang dalam hal ini DSN-MUI bertugas mengeluarkan Fatwa-Fatwa untuk memberikan solusi alternatif akad-akad syariah yang paling memungkinkan dilakukan. dan sedikit banyak akan memperbarui optimisme masyarakat dalam menyambut perkembangan ekonomi syariah. karena perkembangan jenis transaksi keuangan dan aktifitas perdagangan yang begitu cepat dan beragam. Secara umum.

Maka keberadaan DPS pada BMT/KJKS secara tidak langsung menjadi sarana audit internal kelembagaan tersebut. selaian pembinaan yang dilakukan oleh Pemerintah 5 .meminta laporan dan mencari-cari celah penyimpangan yang dilakukan pihak Bank atau BPRS.

tentunya. dan tentu saja kenyamanan dari sisi syariahnya. Untuk menterjemahkan dan memperinci Fatwa DSN –MUI dalam bentuk akad produk itulah mutlak keberadaan DPS BMT yang optimal diperlukan. kedekatan dengan pengurus. dimana masih sebagian kecil yang diaplikasikan di BMT. BMT mempunyai ruang gerak yang lebih luas karena cukup dengan mendasarkan dalam perancangan produknya pada fatwa-fatwa yang telah dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional. Dalam Kepmen no 91 tentang Juklak KJKS. aplikasi maupun pengelolaannya. masyarakat menuntut BMT benar-benar berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai syariah. 2) Karena tidak terikat dan tidak terkait dengan Peraturan Bank Indonesia. hidup dan tumbuh berkembang di tengah masyarakat. Lebih lanjut tentang inovasi produk dan peran DPS di dalamnya akan dibahas secara terpisah. Anggota KJKS BMT biasanya kalangan menengah ke bawah yang tinggal di pedesaan maupun pojok perkotaan. fungsi pengawasan internal DPS ini disebutkan dalam pasal 32 yang berbunyi : Dewan Pengawas Syariah bertugas melakukan pengawasan pelaksanaan kegiatan usaha Koperasi Jasa Keuangan Syariah / Unit Jasa Keuangan Syariah berdasarkan prinsip-prinsip syariah dan melaporkan hasil pengawasannya kepada Pejabat. Sebagai loyalis syariah. Masyarakat yang menyimpan uang di BMT lebih disebabkan faktor ‘loyalis syariah’ bukan faktor mencari keuntungan dari Return On Investment. propinsi dan kabupaten/kota. Kepercayaan dan kecintaan masyarakat akan . maka dalam pengembangan dan inovasi produknya. baik dari sisi akad. Sampai saat ini DSN MUI telah mengeluarkan 82 Fatwa tentang akad dan transaksi syariah. perubahan AD dan pembubaran koperasi di pusat. Mereka menitipkan dana pada BMT sebagian besar karena alasan kedekatan lokasi.Majelis Ulama Indonesia. Yang dimaksudkan dengan Pejabat ini sebagaimana disebutkan dalam Bab Ketentuan Umum adalah : aparatur pemerintah yang ditetapkan Menteri dan berwenang mengesahkan akta pendirian. 3) BMT lahir.

6 .terpelihara selama pihak BMT mampu membuktikan berjalannya pengawasan syariah dengan baik dan optimal.

Selain memberikan laporan pada Rapat Anggota KJKS BMT. Kedudukan DPS menjadi kuat di hadapan internal pengelolaan KJKS/BMT karena pada perkembangan berikutnya. atau memilih dari beberapa yang diajukan. DPS juga secara legal mempunyai kedudukan tersendiri untuk melaporkan hasil pengawasannya kepada Pemerintahan dalam hal ini Kementrian Koperasi. PROFIL PENGAWASAN SYARIAH DI BMT Optimalisasi Pengawasan Syariah di BMT dimulai dengan mewujudkan Profil Pengawasan Syariah yang ideal dan legal. Keputusan Rapat Anggota ini bisa berarti mengesahkan nama yang diajukan. Secara legalitas. atau juga merekomendasikan kepada Pengurus untuk memilih seseorang untuk diangkat sebagai Dewan Pengawas Syariah. Disebutkan secara jelas dalam Pasal 32 KepMenKop no 91 tahun 2004 . disebutkan pengertian : Dewan Pengawas Syariah adalah dewan yang dipilih oleh koperasi yang bersangkutan berdasarkan keputusan rapat anggota dan beranggotakan alim ulama yang ahli dalam syariah yang menjalankan fungsi dan tugas sebagai pengawas syariah pada koperasi yang bersangkutan dan berwenang memberikan tanggapan atau penafsiran terhadap fatwa yang dikeluarkan Dewan Syariah Nasional. kapasitas dan otoritas DPS KJKS/BMT. yaitu : sisi legalitas. kedudukan Pengawas Syariah dalam BMT/KJKS menjadi kuat melalui mekanisme keputusan rapat anggota. Setidaknya ada tiga unsur pokok yang harus mendasarinya.III. Atas dasar inilah. laporan Dewan Pengawas Syariah KJKS BMT bisa menjadi pertimbangan utama bagi pejabat yang berwenang untuk menjatuhkan sanksi atau . sebagai bentuk pertanggungjawaban maka di dalam Rapat Anggota Tahunan KJKS/BMT perlu adanya laporan tahunan dari sisi Pengawasan Syariah untuk memberikan catatan dan penilaian secara umum tentang kesesuaian operasional KJKS BMT dengan prinsip-prinsip dan nilai syariah. Pertama : Legalitas Kedudukan Dewan Pengawas Syariah BMT Dalam Ketentuan Umum Kepmenkop dan UKM no 91 tahun 2004 tentang KJKS. bahwa : Dewan Pengawas Syariah bertugas melakukan pengawasan pelaksanaan kegiatan usaha Koperasi Jasa Keuangan Syariah / Unit Jasa Keuangan Syariah berdasarkan prinsip-prinsip syariah dan melaporkan hasil pengawasannya kepada Pejabat.

Masih dalam peraturan yang sama.bahkan membubarkan sebuah KJKS. pada pasal 42 disebutkan : 7 .

DPS setidaknya memiliki kualifikasi keilmuan yang integral. secara legal merupakan wakil DSN MUI yang juga berkewajiban melaporkan kegiatan usaha serta perkembangan lembaga keuangan syariah yang diawasinya kepada DSN sekurang-kurangnya satu kali dalam setahun. karenanya beberapa regulasi menyebutkan kriteria alim-ulama sebagai syarat personil DPS. berdasarkan penilaian Dewan Pengawas Syariah telah terbukti melanggar prinsip-prinsip syariah dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Selain laporan pada Rapat Anggota dan Pejabat Pemerintahan. (Pedoman Rumah Tangga DSN-MUI). bukan karena penguasaan keilmuannya di bidang-bidang tersebut. Persyaratan lebih lanjut mempertimbangkan ketentuan Dewan Syariah Nasional (DSN). “ Untuk optimalnya pengawasan syariah di BMT. antara fiqh dan ushul fiqh muamalah dengan ilmu ekonomi keuangan Islam modern. kecuali nanti pada saat porsi fokus dan perhatian DSN MUI pada BMT atau KJKS meningkat lebih besar dari sebelumnya. Kemungkinan penyimpangan bisa terjadi pada dua kutub yang berbeda. Pada . Dalam Standar Operasional Prosedur (KJKS) disebutkan : “Dewan Pengawas Syariah (DPS) harus terdiri dari para alim-ulama di bidang syariah muamalah yang juga memiliki pengetahuan umum di bidang “baytut tamwiil” (keuangan bank dan atau koperasi). Tidak optimalnya pengawasan syariah dimulai dari kurangnya kapasitas personil DPS yang ada. Kedua : Kapasitas Dewan Pengawas Syariah BMT Profil ideal yang perlu diwujudkan dalam pemilihan DPS adalah kapasitas yang mumpuni untuk melakukan pengawasan syariah. Ini adalah hal ideal yang pada tataran realita masih sangat sulit diwujudkan. Hal yang menjadi permasalahan terbesar saat ini adalah. Dewan Pengawas Syariah KJKS BMT pada tataran ideal. Kedudukan DPS KJKS BMT sebagai wakil DSN MUI tentu diawali dengan syarat bahwa sebelumnya nama DPS tersebut diajukan oleh KJKS untuk kemudian disahkan atau direkomendasikan oleh DSN-MUI.Pejabat berwenang membubarkan Koperasi Jasa Keuangan Syariah atau koperasi yang mempunyai Unit Jasa Keuangan Syariah jika Koperasi yang bersangkutan. banyaknya KJKS BMT yang mengangkat DPS karena ketokohan dan kepopuleran di tengah masyarakat.

satu sisi mungkin terlampau bebas dengan membolehkan semua jenis akad dan transaksi tanpa meneliti lebih lanjut dasar syariah dan aplikasinya. atau pada sisi yang lain justru menghambat gerak laju KJKS BMT karena masih 8 .

Dengan demikian. Meskipun Sertifikasi tersebut secara umum diperuntukkan oleh DPS BPRS. kecuali pada masanya nanti dimana DSN-MUI sudah digelar di daerah-daerah untuk melayani pengawasan syariah di skala yang lebih kecil. Maka hal yang paling memungkinkan saat ini adalah : 1) DPS KJKS BMT mengikuti sertifikasi Dewan Pengawas Syariah yang secara rutin digelar oleh DSN-MUI dua kali pertahun. Maupun secara formal dengan mengikuti pelatihan- pelatihan ekonomi syariah yang digelar asosiasi atau organisasi pegiat ekonomi syariah. yang mulai marak di berbagai Universitas di Indonesia. Setiap calon anggota DPS dipilih dari para ulama. sekurang-kurangnya satu orang disertai rekomendasi dari Majelis Ulama Indonesia untuk mendapat pengukuhan DSN. Dalam klausul “Persyaratan lebih lanjut mempertimbangkan ketentuan Dewan Syariah Nasional (DSN) “. . Untuk konteks KJKS dan BMT yang berjumlah ribuan. Secara formal dengan mengikuti perkuliahan paska sarjana ekonomi syariah misalnya. secara aplikatif bisa berupa rekomendasi secara khusus dari DSN- MUI ataupun mengikuti sertifikasi Dewan Pengawas Syariah yang juga secara rutin digelar oleh DSN MUI. bukan tidak mungkin jika KJKS BMT bisa menembusnya mengingat Sertifikasi tersebut dilakukan secara terbuka. Dalam Pedoman Rumah Tangga DSN-MUI syarat pengangkatan DPS diperjelas dalam pasal yang menyebutkan : . Calon DPS dapat diajukan oleh lembaga keuangan syariah bersangkutan. Kedua permasalahan ini sama berpotensinya mengurangi kepercayaan masyarakat pada sisi kesyariahan BMT. . basic keilmuan yang sudah dimiliki bisa terus dikembangkan untuk menyesuaikan problematika dan perkembangan ekonomi syariah terkini. praktisi dan pakar di bidangnya masing-masing yang berdomisili dan tidak berjauhan dengan lokasi lembaga keuangan syari'ah yang bersangkutan. 2) DPS KJKS BMT diharapkan meningkatkan kapasitas keilmuannya baik melalui pendidikan formal maupun non formal. maka syarat pengangkatan DPS melalui mekanisme rekomendasi MUI untuk mendapatkan pengukuhan DSN tentunya akan sangat sulit.terpaku pada akad-akad klassik tanpa mencoba menelaah Fatwa-Fatwa terbaru dari DSN MUI misalnya.

9 .

Ini sangat bersesuai dengan definis DPS dalam Ketentuan Umum KepMenkop & UKM no 91 tahun 2004 yang menyebutkan : Dewan . Dalam pelaksanaan tugas sehari-hari. Oleh karena itu badan ini bekerja sesuai dengan pedoman-pedoman yang telah ditetapkan oleh Majelis Ulama Indonesia. DPS wajib mengikuti fatwa DSN dalam rangka kesesuaian produk atau jasa KJKS dan UJKS Koperasi dengan ketentuan dan prinsip syariah Islam.Ketiga : Otoritas Dewan Pengawas Syariah BMT Meskipun DPS dipilih dengan persyaratan kapasitas keilmuan yang baik. namun itu tidak berarti DPS KJKS BMT mempunyai otoritas dan kewenangan dalam berfatwa. yang nantinya akan merugikan dan membingungkan masyarakat. Kewenangan dan otoritas DPS KJKS BMT diperjelas dalam Peraturan Menteri Negara Koperasi Dan Usaha Kecil Dan Menengah Republik Indonesia Nomor : 35. bukan memutuskan fatwa tersendiri. Maka DPS KJKS BMT tidak mempunyai otoritas untuk berfatwa dalam pengesahan sebuah produk atau akad baru. Karena fungsi mengeluarkan fatwa telah ditangani olehh DSN-MUI sejak awal. Hamzah Abdul Karim Hamad dalam Makalahnya “ Riqobah Syar’iyyah fil Mashorif Islamiyah” menyebutkan. namun hanya menterjemahkan Fatwa-fatwa DSN MUI dalam aplikasi akad syariah di LKSnya. Sehingga bisa disimpulkan bahwa otoritas dan kewenangan pengawasan syariah tidak boleh keluar dari fatwa-fatwa yang sudah ada oleh pihak yang berwenang.Kukm/X/2007 Tentang Standar Operasional Prosedur KJKS. dalam hal ini Dewan Syariah Nasional (DSN) . yang menyebutkan identitas Jabatan DPS antara lain : .2/Per/M. bahwa Pengawasan Syariah adalah: “Proses memastikan sejauh mana kesesuaian operasional Lembaga Keuangan Syariah dengan hukum-hukum syar’i sesuai Fatwa-fatwa dan Keputusan yang telah dikeluarkan pihak yang berwenang “. Pihak berwenang di Indonesia untuk masalah fatwa ekonomi syariah ada pada DSN- MUI. untuk mencegah terjadinya perbedaan fatwa yang ada antara DPS lembaga keuangan syariah. Dewan Pengawas Syariah (DPS) adalah badan yang dibentuk untuk melakukan fungsi pengawasan kesyariahan.

Pengawas Syariah adalah dewan yang dipilih oleh koperasi yang bersangkutan berdasarkan keputusan rapat anggota 10 .

masing-masing telah diperjelas dalam point rincian sebagai berikut : . Disebutkan dalam Pedoman Rumah Tangga DSN MUI.2/Per/M. TUGAS POKOK DEWAN PENGAWAS SYARIAH KJKS BMT Salah satu yang masih menjadi tanda tanya di lapangan adalah Tugas Pokok DPS pada KJKS BMT.Kukm/X/2007 .dan beranggotakan alim ulama yang ahli dalam syariah yang menjalankan fungsi dan tugas sebagai pengawas syariah pada koperasi yang bersangkutan dan berwenang memberikan tanggapan atau penafsiran terhadap fatwa yang dikeluarkan Dewan Syariah Nasional. Tugas Pokok DPS KJKS BMT sebenarnya telah disebutkan secara jelas dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) KJKS yang tertuang dalam Peraturan Menteri Negara Koperasi Dan Usaha Kecil Dan Menengah Republik Indonesia Nomor : 35. Ada empat tugas pokok yang harus dijalankan oleh DPS KJKS BMT. Kebingungan dan ketidakjelasan ini menjadikan sebagian besar DPS memilih pasif dan memposisikan diri hanya sebagai konsultan syariah. (dan) merumuskan permasalahan yang memerlukan pengesahan DSN. padahal tentu saja berbeda tugas pokok Konsultan Syariah ( Shariah advisor) dengan pengawas Syariah ( Shariah Supervisor ). (Pedoman Rumah Tangga DSN-MUI) IV. Yang dimaksud pengesahan ini tidak harus selalu berwujud Fatwa Pleno DSN namun juga pemberian Opini dari DSN-MUI. salah satu tugas pokok DPS Lembaga Keuangan Syariah adalah : sebagai mediator antara lembaga keuangan syariah dengan DSN dalam mengkomunikasikan usul dan saran pengembangan produk dan jasa dari lembaga keuangan syariah yang memerlukan kajian dan fatwa dari DSN. maka dalam hal DPS KJKS BMT wajib untuk mengangkat rumusan tersebut agar mendapatkan pengesahan dari DSN. Adapun jika dalam temuan permasalahan di lapangan DPS KJKS BMT merasa perlu membuat sebuah produk baru yang bersifat benar-benar baru yang belum ada landasan fatwa dari DSN-MUI. DSN-MUI juga menegaskan kewajiban DPS Lembaga keuangan syariah antara lain : DPS berfungsi sebagai perwakilan DSN yang ditempatkan pada lembaga keuangan syari’ah wajib mengikuti fatwa DSN.

11 .

materi dan penyelenggaraannya – sehingga diyakini telah memenuhi unsur tarbiyah (pendidikan) yang sesuai dengan kaidah Islam. Penjelasan itu dapat disampaikan di dalam maupun di luar Rapat Pengurus. a) Membantu pengurus dengan memberikan penjelasan dan atau nasehat – diminta atau tidak diminta – tentang keadaan anggota pada khususnya dan KJKS atau UJKS Koperasi pada umumnya ditinjau dari aspek kesyariahan. c) Mengidentifikasi berbagai bentuk pelanggaran syariah dalam interaksi (antara sesama manajemen dengan staf dan antara manajemen dan atau staf dengan anggota dan masyarakat luas) dalam transaksi bisnis serta melaporkannya kepada Badan Pengurus KJKS atau Koperasi yang memiliki UJKS. Ketiga : Terselenggaranya pembinaan anggota yang dapat mencerahkan dan membangun kesadaran bersama sehingga anggota siap dan konsisten bermuamalah secara Islam melalui wadah KJKS atau UJKS Koperasi. b) Menelaah sistem pembinaan anggota – kurikulum. b) Membantu manajemen dalam pembinaan aqidah. syariah dan akhlaq anggota.Pertama : Memastikan produk dan jasa KJKS atau UJKS Koperasi sesuai dengan syariah a) Menelaah dan mensahkan setiap spesifikasi produk penghimpunan (funding) maupun produk penyaluran dana (financing) b) Mengkomunikasikan kepada DSN usul dan saran pengembangan produk dan jasa Koperasi yang memerlukan kajian dan fatwa DSN c) Memberikan penjelasan kepada Pengurus dan Manajemen KJKS dan UJKS Koperasi tentang berbagai fatwa DSN yang relevan dengan bisnis KJKS atau UJKS Koperasi. Keempat : Membantu terlaksananya pendidikan anggota yang dapat meningkatkan kualitas aqidah. syariah dan akhlaq manajemen dan staf KJKS dan UJKS Koperasi. Kedua : Memastikan tata laksana manajemen dan pelayanan sesuai dengan syariah a) Menelaah dan mensahkan tata laksana manajemen dan pelayanan KJKS dan UJKS Koperasi ditinjau dari kesesuaiannya dengan prinsip muamalah dan akhlaq Islam. .

12 .

pengelola maupun pihak luar yang berhubungan dengan BMT KJKS. Tugas ini menuntut dibukanya ruang yang lebih luas bagi DPS untuk masuk mengawasi sisi pengelolaan dan aplikasi akad di BMT. manajemen dan aplikasi akad. namun yang menjadi penting bagi nasabah dan masyarakat adalah adanya kejelasan dan indokator berjalannya prinsip-prinsip syariah pada BMT tersebut. V. namun pada sisi yang lain akan lebih menjanjikan dinamisnya perkembangan produk KJKS BMT. training. rapat pengurus. Begitu pula dengan mengkaji dan mempelajari fatwa DSN-MUI untuk melihat kemungkinan penterjamahannya menjadi produk baru di BMT.Dengan mencermati Tugas Pokok DPS KJKS BMT sebagaimana disebutkan dalam SOP KJKS diatas. Karenanya setiap DPS KJKS BMT harus tetap fokus dalam objek pengawasan untuk kemudian bisa dibuat laporan pandangan umum secara tahunan untuk memberikan nilai sejauh mana keselarasan aktifitas bank dengan prinsip syariah. maka bisa disimpulkan ada tiga bidang tugas pengawasan syariah pada KJKS BMT. DPS juga bisa mengusulkan pada pengurus untuk mengirimkan pengelola dan karyawan dalam pelatihan. maupun seminar yang berhubungan dengan peningkatan karakter pengelola dan karyawan. baik antar pengurus. Laporan tersebut harus bisa menggambarkan adanya Jaminan kepatuhan syariah (shari’a compliance assurance) atas keseluruhan aktivitas KJKS/BMT dalam setahun . Tugas ini menuntut kajian mendalam dan kecermatan analisa. masing-masing : 1) Pengesahan dan Pengembangan Produk : yaitu melalui telaah kritis terhadap akad yang telah dipergunakan. 2) Pengawasan Manajemen & Aplikasi Akad : yaitu dengan pengawasan operasional kerja. maupun secara formal dan rutin dalam kajian tausiyah yang memberikan bekal dan pemahaman keislaman yang menyeluruh. 3) Pembinaan Pengurus & Pengelola : yaitu secara informal melalui interaksi keseharian. RUANG LINGKUP & OBJEK PENGAWASAN Meskipun DPS KJKS BMT memiliki fungsi penting lain diluar pengawasan yaitu pembinaan dan pengembangan produk. memperbaikinya agar sesuai dengan prinsip syariah.

Menurut Noven Suprayogi dalam makalahnya “ DPS dan Pengawasan Internal Syariah Pada 13 .perjalanannya.

yaitu : menjadikan pakar-pakar syariah sebagai penasihat semata dan kedudukannya dalam organisasi adalah sebagai tenaga part time yang datang ke kantor jika diperlukan . Sekertaris Jendral IFSB.Bank Syariah”. Prof. Rifaat Karim. pengarahan dan memberikan penilaian kualitatif terhadap tujuh indikator di atas. maupun DSN-MUI. menyebutkan ada tiga model pengawasan syariah oleh DPS yang diwujudkan dalam bentuk organisasi DPS yaitu : a. Pejabat Pemerintahan. Terdapat dewan pengawas syariah sebagai pengarah syariah atas keseluruhan aktivitas operasional bank syariah 7. khususnya terkait laporan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. VI. dimana semakin intensif keterlibatan DPS pada BMT maka hasil dan optimalisasi pengawasan syariah juga akan berbeda. Akad atau kontrak yang digunakan untuk pengumpulan dan penyaluran dana sesuai dengan prinsip-prinsip dan aturan syariah yang berlaku 2. setiap BMT bisa menyesuaikan model mekanisme dan operasional kerja DPS. Dana zakat dihitung dan dibayar serta dikelola sesuai dengan aturan dan prinsip- prinsip syariah 3. baik Rapat Anggota. MEKANISME & OPERASIONAL KERJA DPS Meskipun tugas pokok DPS KJKS BMT telah diatur dalam regulasi yang ada (SOP). Lingkungan kerja dan corporate culture sesuai dengan syariah 5. Sumber dana berasal dari sumber dana yang sah dan halal menurut syariah Dengan demikian. namun dalam aplikasi bentuk mekanisme pengawasan dan kerjanya. Seluruh transaksi dan aktivitas ekonomi dilaporkan secara wajar sesuai dengan standar akuntansi syariah yang berlaku 4. ada beberapa indikator yang dapat digunakan sebagai ukuran secara kualitatif untuk menilai kepatuhan syariah dalam lembaga keuangan syariah antara lain : 1. Bisnis dan usaha yang dibiayai tidak bertentangan dengan syariah 6. Model penasihat. ruang lingkup dan objek pengawasan DPS KJKS BMT bisa lebih fokus dengan memberikan pengawasan.

14 .

Model departemen syariah. yaitu : model pengawasan syariah yang dilakukan oleh departemen syariah. yaitu : adanya pengawasan syariah yang dilakukan oleh beberapa pakar syariah terhadap bank syariah dengan secara rutin mendiskusikan masalah- masalah syariah dengan para pengambil keputusan operasional maupun keuangan organisasi c. Model pengawasan. khususnya pada KJKS BMT yang telah mempunyai aset besar. didukung oleh staf teknis yang membantu tugas-tugas pengawasan syariah yang telah digariskan oleh ahli syariah departemen tersebut. dan jenis transaksi yang begitu beragam dan dinamis. maka model pengawasan syariah bentuk ketiga. Hambatan Teknis dalam Operasional & Mekanisme Pengawasan Syariah Sertifikasi Dewan Pengawas Syariah angkatan ke VII yang digelar DSN MUI pada Juni 2011 yang lalu. yaitu semacam model divisi audit syariah menjadi satu hal yang wajar untuk diwujudkan. banyak cabang.b. antara lain : a) Tidak mengerti aplikasi fiqih muamalah di dunia perbankan b) Kekurangan ilmu dan kemampuan dalam memeriksa bank syariah c) Tidak bisa sharing dengan DPS lainnya karena kurangnya ilmu d) Pengetahuan kurang memadai tentang pemeriksaan tentang angka-angka karena pengetahuannya hanya terbatas pada hukum (Islam) e) Belum tahu apa yang harus diteliti (secara spesifik) f) Karena masih belum memahami penuh tentang perbankan syariah g) Anggota DPS kurang mengerti tentang operasional perbankan secara ilmiah h) Sulit melakukan pemeriksaan neraca dalam rangka mencari dana yang tidak syariah i) Belum memiliki pengetahuan/instrumen yang praktis dalam pengawasan . salah satu bagian agendanya adalah menginventaris beberapa hambatan dan kelemahan yang dialami oleh DPS dalam menjalankan mekanisme kerjanya. Hambatan tersebut bisa berawal dari internal (kapasitas). Untuk tercapainya optimalisasi pengawasan syariah. Berikut beberapa point hambatan internal yang paling sering mengemuka. Dengan model ini para ahli syariah bertugas full time. maupun juga dari eksternal ( pengurus dan pengelola).

15 .

Ruang ini dibuka lebar dalam regulasi Kepmen 91 pasal 23 tentang Pembiayaan. Menghadapi alasan-alasan pihak direktur e) Data bank tidak terbuka untuk DPS f) Direksi tidak mengikutkan DPS dalam rapat pengurus dan kurangnya konsultasi direksi dengan DPS g) Ingin turun pemeriksaan ke lapangan. VII. dimungkinkan sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan memiliki landasan syariah yang jelas serta telah mendapatkan fatwa dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia. bahwa : Dewan Pengawas Syariah adalah dewan yang dipilih oleh . jumlah kantor cabang) banyak sekali d) Pihak direksi kurang cooperatif.Hambatan yang muncul dari pihak Pengurus/Pengelola. Hal ini tersebutkan dengan jelas dalam pengertian DPS dalam Ketentuan Umum Kepmen no 91. INOVASI PRODUK & AKAD-AKAD SYARIAH DI BMT Inovasi Produk BMT & Peran DPS Salah satu ciri khas KJKS BMT dibandingkan dengan BPRS adalah mempunyai peluang yang besar untuk inovasi produk. antara lain : a) Ruang kerja tidak memadai (di sebagian bank malah tidak ada ruangan sama sekali) b) Belum ada staf khusus untuk DPS untuk DPS yang membantu melakukan uji petik. Padahal program kerja sudah disampaikan kepada pengurus dan pengelola. h) Banyak kesalahan syariah karena minimnya pengetahuan syariah pengelola i) Teguran yang tidak diperhatikan Inventarisasi permasalahan dan hambatan di atas menjadi penting untuk melakukan upaya preventif (pencegahan) agar tidak berulang pada KJKS BMT dan bisa segera dicarikan solusi permasalahannya. namun yang dimaksud adalah setiap produk pengembangan haruslah berlandaskan fatwa yang sudah ditetapkan DSN-MUI. Yang dimaksud dengan kalimat ‘telah mendapatkan fatwa dari DSN-MUI’ pada pasal tersebut tentunya bukan selalu berarti setiap rancangan produk BMT harus difatwakan dahulu secara khusus oleh DSN-MUI. ayat yang ke-3 yang menyebutkan : Pengembangan layanan pembiayaan dalam bentuk lain. tapi belum terealisasi. c) Obyek pengawasan (jumlah akad. karena secara aplikasi tentu akan sangat rumit dan menyulitkan.

16 .

pengelola dan juga pihak luar yang berwenang seperti pejabat pemerintahan dan DSN-MUI. 3 Dzulqoidah 1432 H / 1 Oktober 2011 Hatta Syamsuddin +6281329078636 . pengelola. Semoga kita semua terhindar dari hal yang demikian. Wallahu a’lam bisshowab Solo.koperasi yang bersangkutan berdasarkan keputusan rapat anggota dan beranggotakan alim ulama yang ahli dalam syariah yang menjalankan fungsi dan tugas sebagai pengawas syariah pada koperasi yang bersangkutan dan berwenang memberikan tanggapan atau penafsiran terhadap fatwa yang dikeluarkan Dewan Syariah Nasional. dan akan berubah menjadi bencana jika menjadi suatu hal yang dimaklumi atau bahkan di nikmati. penyimpangan kecil akan terus beranjak menjadi semakin besar dan susah terkendali. maka DPS KJKS BMT hendaknya tidak ikut melibatkan dalam perdebatan wacana yang ada. Tanpa pengawasan syariah. Tidak jarang ada perbedaan pendapat dalam sebuah permasalahan fiqih muamalah. VIII. bukan berijtihad secara mandiri apalagi menyalahi fatwa yang sudah disahkan oleh DSN-MUI. solutif dan tentu saja tetap mempunyai legalitas syar’i yang mumpuni. baik oleh pengurus. namun mengikuti hasil yang sudah disepakati dalam Fatwa DSN-MUI. maupun nasabahnya. Sebagaimana tertuang dalam pembahasan sebelumnya tentang Otoritas Dewan Pengawas Syariah. dengan optimalnya Pengawasan Syariah pada sebuah BMT/KJKS maka hal tersebut juga akan membuka ruang lebih lebar untuk terciptanya produk dan inovasi baru yang menarik. maka kecermatan analisa dan kemampuan DPS lebih difokuskan dalam menterjemahkan fatwa-fatwa DSN MUI dalam aplikasi akad yang solutif dan menarik bagi masyarakat. namun juga dukungan penuh dari pengurus. Kesimpulan sederhana yang bisa ditarik adalah. Perkembangan KJKS BMT yang begitu cepat menyebar sudah seharusnya memompa semangat untuk mengoptimalkan pengawasan syariah. PENUTUP Optimalisasi Pengawasan Syariah pada BMT bukan murni inisiatif dari DPS KJKS BMT yang telah ada.

indonesiaoptimis.com www.com 17 .sirohcenter@gmail.