You are on page 1of 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anak merupakan anugrah yang sangat berarti yang sangat berarti yang

di karuniakan Tuhan kepada kedua orang tua. Mempunyai anak yang sehat

dan cerdas tentu menjadi harapan setiap orang tua. Untuk mendapatkan anak

yang sehat dan cerdas, orang tua harus mengetahui tahap-tahap perkembangan

anak karena selain anak masih dalam tahap pertumbuhan yang membutuhkan

nutrisi yang tinggi,anak juga sangat rentan terhadap penyakit. Pada tahun 2008

ini banyak dijumpai berbagai penyakit yang menyerang anak-anak yang dapat

meningkatkan kematian pada anak,salah satunya yaitu penyakit sindroma

nefrotik (Pikiran Rakyat, 2008).

Anak sakit yang dilakukan perawatan dirumah, diharapkan keluarga

memberikan mot ivasi dan dukungan yang optimal pada anak. Sementara itu

perawatan yang terbaik seharusnya keluarga dapat mempertimbangkan agar

anak dihospitalisasi. Hospitalisasi merupakan suatu proses yang karena suatu

alasan yang berencana atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di

Rumah sakit, menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya kembali

kerumah (Wong, 2009).

Sindroma nefrotik (SN) adalah keadaan klinis yang disebabkan

oleh peningkatan permeabilitas glomerulus terhadap protein plasma yang

ditandai dengan edema anasarka, proteinuria masif, hipoalbuminemia,

hiperkolesterolemia, dan lipiduria (Prodjosudjadi, 2007). Sindroma nefrotik

(SN) merupakan manifestasi glomerulopati yang sering dijumpai pada

anak. Sindroma nefrotik merupakan keadaan klinis yang ditandai dengan

proteinuria masif, hipoalbuminemia, edema dan hiperkolesterolemia

(Vogt dan Avner, 2007).

Hingga saat ini belum ada penanda diagnostik lain selain gambaran

histopatologis yang dapat digunakan sebagai prediktor responsif atau resisten

terhadap terapi steroid pada anak dengan sindrom nefrotik (Hoyer et al.,

2008).

Namun sampai saat ini belum ada laporan tentang keterkaitannya

dengan kejadian resistesi steroid. Usia yang lebih tua dan gangguan fungsi

gambaran ginjal dinilai dari peningkaan kadar kreatinin (Zagury et al., 2013).

Penyebab primer sindrom nefrotik biasanya digambarkan oleh

histologi, yaitu sindroma nefrotik kelainan minimal (SNKM) yang merupakan

penyebab paling umum dari sindrom nefrotik pada anak dengan umur rata-rata

2,5 tahun. Data penyakit ginjal anak di Indonesia yang dikumpulkan dari tujuh

Pusat Pendidikan Dokter Spesialis Anak memperlihatkan bahwa SN

merupakan penyakit yang paling sering dijumpai (35%) di poliklinik nefrologi

(UKK Nefrologi, 2008).

Meskipun sindrom nefrotik dapat menyerang siapa saja namun

penyakit ini banyak ditemukan pada anak- anak usia 1 sampai 5 tahun. Selain

itu kecenderungan penyakit ini menyerang anak laki-laki dua kali lebih besar

dibandingkan anak perempuan. (Gunawan, 2006).

Faktor risiko terjadinya penyakit ginjal kronik dangagal ginjal terminal

yang sering terjadi pada perjalanan penyakit SNRS.Sementara kejadian

hematuria dan hipertensi banyak dijumpai pada pada pasiendengan gambaran

glomerulosklerosis fokal segmental yang secara klinis sebagianbesar adalah

SNRS (Zagury et al., 2013).

Angka kejadian SN pada anak tidak diketaui pasti, namun laporan dari

negara Amerika diperkirakan pada anak usia dibawah 16 tahun berkisar antara

2 sampai 7 kasus per tahun pada setiap 100.000 anak (Pardede, 2002).

Sedangkan kejadian di Indonesia pada sindroma nefrotik mencapai 6

kasus pertahun dari 100.000 anak berusia kurang dari 14 tahun (Alatas, 2002).

Untuk kejadian di Jawa Tengah sendiri mencapai 4 kasus terhitung mulai dari

tahun 2006. (Israr, 2008).

Berdasarkan pengamatan penulis pada saat melakukan praktek di

RSUD Gunung Jati Cirebon di Ruang kemuning terlihat bahwa penanganan

anak dengan (Nefrotik Sindrom) dan cara pemberian cairan infus (pembatasan

pemberian cairan, pemberian kompres hangat, pemberian obat-obatan dan

pemeriksaan hasil laboratorium urine. Hasil pemberian penatalaksanaan

tersebut, kondisi kesehatan kesehatan lebih membaik, dan dari keterangan

perawat ruangan belum ada kejadian angka kematian akibat (Nefrotik

Sindrom).

Peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan sangatlah

penting,hal ini dikarenakan pasien (Nefrotik Sindrom) memerlukan

pengobata, dan penanganan masalah. Yang difokuskan pada nefrotik sindrom,

menyebabkan pasien kehilangan kemampuannya untuk bergerak. Berdasarkan data tersebut diatas maka penulis tertarik membuat Karya Tulis Ilmiah dengan judul Asuhan Keperawatan pada An.2 Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan Karya Tuliah Ilmiah ini adalah sebagai sebagai berikut : 1. Mampu menganalisa dan menegakan diagnosa atau masalah 2keperawatan pada An. . I Usia 4 tahun 10 (Pre scool) bulan dengan Gangguan Sistem Perkemihan.2 Tujuan Khusus 1. I usia 4 tahun 10 bulan (pre scool) dengan Gangguan Sistem Perkemihan: Nefrotik Sindrom di RSUD Gunung Jati Cirebon. I dengan gangguan sistem perkemihan. yaitu adanya edema yg berat. 2. 1. nefrotik sindrom. Mampu melakukan pengkajian data pada pasien dengan gangguan gangguan sistem perkemihan.1 Tujuan Umum Penulis mampu memberikan asuhan keperawatan kepada kliendengan Gangguan Asuhan Keperawatan Anak pada An.selama edema masih berat semua keperluan harus di tolong di atas tempat tidur.2. Pasien sindrom nefrotik dengan anasarka perlu istirahat di tempat tidur karena keadaan edema yang berat. nefrotik sindrom Asuhan Keperawatan Anak pada An. Nefrotik Sindrom di RSUD Gunung Jati Cirebon. i dengan Gangguan Mahasiswa mampu mempelajari. 1.2.

3. i dengan Gangguan Gangguansistem perkemihan. 5. Mampu Mendokumentasikan sebagai tolak ukur guna menerapkan asuhan keperawatan pada An. . i dengan Gangguan Gangguansistem perkemihan. nefrotik sindrom.2 Bagi Rumah Sakit Dapat mengembangkan proses asuhan keperawatan pada pasien dengan Gangguan sistem perkemihan: nefrotik sindrom dan menjadi informasi bahan dan evaluasi untuk peningkatan mutu pelayanan. Mampu menentukan intervensi keperawatan secara menyeluruh pada An. 3. nefrotik sindrom. I dengan Gangguan Gangguansistem perkemihan. ilmu dan teori yang dimiliki penulis untuk melakukan asuhan keperawatan pada pasien denganGangguan Gangguansistem perkemihan. Mampu mengimplementasikan rencana tindakan keperawatan yang nyata pada An. 1. Mampu mengidentifikasi adanya kesenjangan antara teori kasus pada An. nefrotik sindrom.1 Bagi penulis Dapat mengembangkan pengetahuan. i dengan Gangguansistem perkemihan.3. nefrotik sindrom. nefrotik sindrom. 1. 4. 7.3 Manfaat Penelitian 1. Mampu mengevaluasi pemberian asuhan keperawatan pada anak usia 4 tahun 10 bulan (nefrotik sindrom) 6.

1. 1.4 Metode Penulisan dan Teknik Pengumpulan Data Metode penulisan dalam karya tulis ilmiah ini adalah deskriptif dan dalam mengumpulkan data penulis menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan melalui proses keperawatan konprehensif. perawat ruangan sesuai dengan masalah yang dibahas sebagai landasan untuk membuat interpretasi data (Arikunto.1 Teknik Pengumpulan Data 1) Wawancara yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan cara komunikasi langsung dengan klien. diagnosa.4 Bagi profesi Sebagai referensi tentang pemenuhan asuhan keperawatan pada pasien (Anak) dengan Gangguan Gangguan sistem perkemihan. Metode ilmiah yang meliputi pengkajian. dan evaluasi. . 2006).3. nefrotik sindrom. 2009). 2) Observasi yaitu pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan langsung dan pemeriksaan pada klien terhadap masalah yang dibahas secara kesinambungan (Zaidin Ali.4. 1.3 Bagi Pasien Sebagai informasi bagi pasien mengetahui implementasi perawatan pada anak nefrotik sindrom bagi keluarga pasien atas asuhan keperawatan yang dilakukan.3. 1. tindakan. perencanaan.

yang meliputi Konsep Nefrotik sindrom yaitu pengertian. diagnosa keperawatan. 2009). 2. fatofisiologi (klasifikasi proses perjalanan penyakit dan manifestasi klinis). tujuan penelitian. perencanaan. dan evaluasi keverawatan 3. 3) Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik adalah upaya memeriksa fisik dalam keperawatan dipergunakan untuk memperoleh data tentang masalah kesehatan dan keperawatan klien. 1. perencanaan keperawatan. BAB I : PENDAHULUAN Meliputi latar belakang. manfaat penelitian. diagnosa keperawatan. konsep askep meliputi pengkajian keperawatan. BAB III : TINJAUAN KASUS Meliputi pengkajian. 2009). .(Zaidin Ali. (Zaidin Ali. implementasi dan evaluasi keperawatan. metode penulisan dan sistematika penulisan.5 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan makalah ilmiah ini yang terdiri dari lima bab yaitu: 1. 4) Studi dokumentasi yaitu pengumpulan data dilakukan dengan cara mempelajari catatan medik dan keperawatan yang ada pada reka medik klien sesuai dengan masalah yang dibahas. etiologi. pelaksanaan keperawatan. BAB II : TINJAUAN TEORI Yaitu tinjauan teori.

perencanaan. BAB IV : PEMBAHASAN Yaitu meliputi kesenjangan antara teori dan kasus serta faktor pendukung.4. 5. penghambat dan solusi diantaranya : pengkajian. pelaksaan dan evaluasi. BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN Meliputi kesimpulan dan saran. diagnosa keperawatan. DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN .

.

proteinnuria. . 2. Reni A .2 Etiologi Penyebab pasti sydrom nefrotik belum di ketahui. kolesterol dan protein nuri.1 Konsep Penyakit 2. secara umum penyebabnya di bagi menjadi dua yaitu: 1) Syndrom Nefrotik Bawaan Adanya reaksi fetomatrenal terhadap jenin ataupun karena gen resesif autosom menyebabkan syndrom nefrotik. serum.1. Edema dan serum kolesterol yang tinggi dan lipoprotein densitas rendah (hiperlipdemia) (Yuli. hipoalbubuminemia dan penurunan fungsi ginjal (Ngastyiah.1 Pengertain Syndrom Nefrotik merupakan gangguan klinis yang di tandai oleh peningkatan protein yang bermakna dalam urine (proteinurial). Dari definisi-definisi di atas dapat di simpulkan bahwa nefrotik sindrom adalah penurunan hipoalbunemia dan di tandai dengan gejala edema. BAB II TINJAUAN TEORTIS 2.2015).1. Sindrom Nefrotik ialah penyakit dengan gejala Edema. 2012). penurunan albumin dalam darah (hipoalbunemia).

keganasan.Mararia. 4) Efek obat dan toksin : obat antiinflamasi non steroid.2) Syndrom Nefrotik Sekunder Syndrom nefrotik disebabkan oleh adanya penyakit lain seperti:parasit malaria.lepra 2) Limfoma Hodgkin. TBC.preeklamsia. probenesid. glomerulonefritis membranoproliferatif. obat atau toksin dan akibat penyakit sistemik seperti: a. glomerulonefritis proliferatif lain. penyakit kolagen. pemajanan bahan kimia (trimetadion. Skisotoma. preparat emas. Virus b dan c. glomerulonefritis membranosa. glomerulonefritis fokal. Arthritis rheumatoid. Glomerulonefritis primer: glomerulonefritis lesi minimal. 5) Lain-lain: amilodosis.penisilamin.Sifilis. . mieloma multiple dan karsinoma ginjal. Penyebab Sydrom nefrotik sekunder paling sering adalah glomerulonefritis primer dan sekunder akibat infeksi. Hipatitis. garam emas raksa. amilodosis dan lain-lain). air raks. b. trombosis vena renalis.paradion.DM. captopril. 3) Penyakit jaringan penghubung: SLE.heroin. Glomerulonefritis sekunder: 1) Infeksi : Hiv. penisilamin. penyakit jaringan penghubung.refluks vesikoureter atau sengatan lebah.

proteinuri. Kelainan ini sering di temukan pada nefritis yang timbul setelah infeksi dengan Streptococcus yang berjalan progresif dan pada sindrom nefrotik. oedema.terdapat proliferasi sel mesangial dan infiltrasi sel polimorfonukleus. c. sedangkan dengan mikroskop elektro tampak foot prossus sel epitel berpadu. Dengan cara imunoflioresensi ternyata tidak terdapat IgG atau imunoglobulin beta-1c pada dinding kapiler glomerulus. b. Golongan ini lebih banyak terdapat pada anak dari pada orang dewasa.3) Merupakan suatu kondisi dimana terrjadi perubahan fungsi ginjal yang bercirikan hipoproteinemia. prognosis lebih baik dibandingkan dengan golongan lain. Glomerulonefritis proliferatif 1) Glomerulonefritis proliferatifeksudatif eksudatif difus. Kelainan minimal. ascites dan penurunan keluaran urine a. Pembengkakan sitoplasma endotel yang menyebabkan kapiler tersumbat. Semua glomerulus menunjukan penebalan Dinding kapiler yang tersebar tanpa proliferasi sel. Tidak sering di temukan pada anak. Prognosis kurang baik. Prognosis jarang baik tetapi . Dengan mikroskop biasa glomerulus tampak normal. hiperlipidemia. Nefropati membranosa.

Terdapat profilerasi sel mesangial yang tersebbar penebalan batanng lobular. . 3) dengan bulan sabit (crescent). kadang kadang terdapat penyembuhan setelah pengobatan yang lama.prognosis buruk 4) Glomerulonefritis membranoproliferatif. Perubahan proliferasi yang tidak khas. Ploliferasi sel mesangial dan penepatan fibrin yang menyerupai membran basalis di mesangium. 2) Dengan penebalan batang lobular(lobular stalk thickening). Pada kelainan ini yang mencolok Sklerosis glomerulus. Sering di sertai atrofi tubulus. Berbagai fungsi ginjal untuk mempertahankan homeostatik dengan mengatur volume cairan. 5) Lain-lain. Ginjal Ginjal mcrupakan organ terpenting dalam mempertahankan homeostasis cairan tubuh secara baik.1.prognosis buruk. (Ngastiyah. Prognosis tidak baik.3 Anatomy 1. 4) Glomerulosklerosis fokal segmental. Titer globulin beta-1C atau beta -1A rendah. 2012) 2. Didapatkan profilerasi sel mesangial dan proliferasi sel evitel sampai (kapsular) dan viseral.

retroperitoneal primer kiri dan kanan koiumna vertebra Ginjal terletak pada dinding posterior abdomen di belakang peritoneum pada kedua sisi vertebra thorakalis ke 12 sampai vertebra lumbalis ke-3. Kandung kemih dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet terletak pada rongga pelvis.5 cm. Piala ginjal berhubungan dengan ureter. sistem pengaturan hormonal dan metabolisme. Ginjal terletak di rongga abdomen.5 cm. keseimbangan osmotik dan asam basa. di kedua sisi koiumna vertebrate daerah lumbal. Terletak retroperitoneal. panjang 11. mempunyai 3 jepi-tan di sepanjang jalan. dengan penampang 0. pada laki-laki kandung . berat 130 gram. ekskresi sisa metabolisme. Kandung Kem1h (Vesika Ur1naria) Kandung kemih (vesika urinaria) merupakan organ berongga dan berotot yang berfungsi menampung urine sebelum dikelu-arkan melalui urethra. 3. menjadi kaku ketika melewati tepi pelvis dan ureter menembus kandung kemih. Ginjal merupakan organ yang berbentuk seperti kacang tanah. Panjangnya ± 25-30 cm. lebar 3.5 cm. Ureter Ureter terdiri dari dua buah saluran. dikelilingi oleh lamak dan jaringan ikat di belakang peritoneum. 2. masing-masing bersam- bung dari ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria).

Urethra Merupakan saluran sempit yang berpangkal pada vesika urinaria yang berfungsi menyalurkan air kemih ke luar. berhubungan dengan ligamentum vesika umbilikalis medisu. panjangnya 3 cm. 2) Urethra pars membranosa (terdapat spinchter urethra extema) Saluran urethra ini paling pendek dan paling dangkal. kemih berada dibelakang simpisis pubis dan di depan rektum. terdiri dari: 1) Urethra pars Prostatica Merupakan saluran terlebar. berjalan mengarah ke bawah dan ke depan diantara apeks glandula prostat dan bulbus urethra. Bentuk kandung kemih seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat. pada wanita kandung kemih berada di bawah uterus dan didepan vagina.5- 20 cm. berjalan hampir vertikal melalui glandula prostat. panjangnya kira-kira 17. mulai dari basis sampai apeks dan lebih dekat ke permukaan anterior. panjangnya kira-kira 2. Urethra laki-laki Pada laki-laki urethra berjalan berkelok-kelok melalui tengah-tengah prostat kemudian menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang pubis kebagian penis.5 cm di bawah . Pars Membranosa menembus diafragma urogenitalis. 5. 4.

Ke dalam urethra bermuara glandula urethralis dan bagian dalam dalam 2 bagian ya. panjangnya kira-kira 15 cm mulai dari pars Membranosa sampai diafragma urogenitalis. Di depan saluran ini terdapat vena dorsalis penis yang mencapai pelvis antara ligamentum transversal pelvis dan ligamentum arquarta pubis. Pada keadaan penis berkontraksi. terdapat di- dalam korpus kavernosus urethra ke orifisium superfisialis. belakang simpisis pubis. .tu : a. Glandula yang terdapat di dalam tunika mukosa di dalam korpus kavernosa uretra (glandula pars uretralis). Kedua sisi ditutup oleh dua bibir kecil. diliputi oleh jaringan spinkter urethra membranosa. 4) Orifisium Urethra Eksterna Merupakan bagian erektor yang aling berkontraksi.. urethra bagian ini akan membelok ke bawah dan ke depan. 3) Urethra pars spongiosa Merupakan saluran terpanjang dari urethra. panjangnya 6 m. Pars kavernosa yrethra ber- jalan ke depan dan ke atas menuju bagian depan simpisis pubis. Bagian depan berdilatasi di dalam glans penis yang akan membentuk fossa navikularis urethra. berupa sebuah celah vertikal. Pars Kavernosus ini dangkaJ sesuai dengan korpus penis (6 mm) dan berdi-latasi ke belakang.

3) Lapisan mukosa sebelah dalam. Diafragma urogenitalis dan orifisium eksterna langsung di depan permukaan vagina 2. Urethra ini terdapat di belakang simpisis pada dinding anterior vagina. (Ngastiyah. Apabila tidak berdilatasi diameternya 6 cm. yang terbesar diantaranya adalah giandula pars urethralis (Skenej yang bermuara di orifisium urethra dan hanya berfungsi sebagai saluran ekskresi.5 cm di belakang gland klitoris. 6. b. Glandula urethra bermuara ke urethra. Lakuna bagian dalam epitelium. 2012) 2. Lapisan urethra pada wanita terdiri dari: 1) Tunika muskularis. Salurannya dangkal. panjangnya kira- kira 4 cm mulai dari orificium urethra interna sampai ke orificium urethra eksterna.4 Pathofisiologi Meningkatnya permeabilitas dinding kapiler glomerulus Akan berakibat pada Kehilangan protein plasma dan kemudian akan terjadi . berjalan sedikit miring ke arah atas. menjurus obliq ke bawah dan menghadap depan.1. 2) Lapisan spongiosa. Urethra ini me- nembus fasia oris. Urethra Wanita Urethra pada wanita terletak di belakang simpisis.

2015) 2. Kelanjutan dari proteinuria menyebabkan hipoalbuminemia. (Reni. Dengan menurunnya albumin. Perpindahan cairan tersebut menjadikan volume cairan intravaskuler berkurang. Yuli Aspiani.menurunnya respon imun karena sel imun tertekan. Menurunnya aliran darah ke renal. 2015) Terjadinya peningkatan kolesterol dan trigliserida serum akibat dari peningkatan stimulus produksi lipoprotein karena penurunan plasma albumin albumin atau penurunan tekanan onkotikplasma. Yuli Aspiani. sehingga menurunkan Jumlah aliran darah ke renal menurun karena hipovolume.5 Prognosis Terapi anti bakteri dampak mengurangi kematian akibat infeksi tetapi Tidak berdaya terhadap kelainan ginjal sehingga akhirnya terjadi .maka ginjal akan melakukan kompensasidengan merangsang produksi Renin-Angiotensin.kemungkinan di sebabkan oleh karena hipoalbuminemia hiperlipidemia dan defesiensi sang.tekanan osmotik plasma menurun sehingga cairan intravaskuler berpindah ke dalam interstisial.1.peningkatan sekresi ADH dan aldosteron dan kemudian akan menyebabkan retensi Natrium dan air yang akan menyebkan terjadinya edema (Reni. proteinuria. Adanya hiperlipidemia juga akibat dari meningkatnya produksi lipoprotein dalam hati yang timbul karena konvensasi hilangnya protein dan lemak yang banyak dalam urine (lipiduria).

Selama beberap minggu mungkin terdapat hematuria. Di dapat kan pula hiperkolesterlemia.Terdapat proteinuria terutama albumin (85-95%) sebanyak 10-15 gram/hari. Penyembuhan klinik kadang-kadang terdapat setelah pengobatan bertahun-tahun dengan kortikosteroid (Ngastiyah.anak dapat pula menderita anemia defisiensi besi karena transferin banyak keluar dengan urine. berat jenis urine meninggi. Pada 10% kasus terdapat defisiensi . Selama edema masih banyak biasanya produksi urine berkurang. 2012) 2. dalam urine mungkin dapat di temukan pula double refractil bodies.pasien sangat rentan terhadap infeksi sekunder (Ngastiyah. terdapat pula sel darah putih. 2012).ini dapat ditentukan dengan pemeriksaan Esbach. gagal ginjal.6 Gambaran klinis Edema merupakan gejala klinis yang menonjol.Kadang-kadang mencapai 40% dari pada berat badan dan di dapatkan anasarka. Kimia darah menunjukan hipoalbuminemia. 2012). sedimen dapat normal atau berupa torak hialin. kadar fibrinogen meninggi sedangkann kadar ureum normal. Kadar globulin normal atau meninggi sehingga terdapat perbandingan albumin- globulin yang terbalik. Kadang –kadang di dapat kan protein bound iodine rendah tanpa adanya hipotiroid.1.azotemia dan hipertensi ringan.dengan perubahan yang frogresif di glomerulus terdapat penurunan fungsi ginjal pada fase nefrotik (Ngastiyah. Pada fasenon –nefritis uji pungsi ginjal tetap normal atau meninggi. lipoid. granula.

8 Penatalaksanaan a) Istirahat sampai edema tinggal sedikit. terutama albumin (Reni.batasi asupan natrium sampai kurang lebih 1 gram/hari. c) Pemberian Kortikosteroid . alkalosis metabolik atau kehilangan cairan intravaskuler. b) Bila edema tidak berkurang dengan pembatasan gram. . Pada keadaan lanjut kadang-kadang terdapat glukosuria tanpa hiperglikemia (Ngastiyah.biasanya furosemid 1 mg/kgBB/hari.7 Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Urinalisis di dapatkan hematuria mikroskopik.1. prednison dosis penuh 60 mg/m2 luas permukaan badan/kgBB/hari) selama 4 minggu di lanjutkan kemudian dihentikan tanpa tapperinf off lagi.tergantung beratnya edema dan respon pengobatan.bila terjadi relaps sering atau resisten steroid lakukan biopsi ginjal. Kadar kalsium dalam darah sering rendah. Selama pengobatan diuretik perlu di pantau kemungkinan hipokalema.dapat di gunakandiuretik. kemudian dosis di turunkan menjadi 2/3 dosis penuh. Bila edema refrakter dapat digunakan hidroklortiazid (25-50 mg/hari). Bila terjadi relaps di berikan prednison dosis penuh seperti terapi awal sampai terjadi remisi (maksimal 4 minggu). menghindari makanan yang di asin kan. 2. Yuli Aspiani. faktor IX. 2012). proteinuia. 2015) 2.1. Diet protein 2-3gram/kgbb/hari. Laju endap darah meninggi.

Yuli Aspiani.1 Pengkajian 1. 3. Keluhan utama Badan bengkak. . Aterosklerosis (Reny. 2. Hipovolemia. 2. Yuli Aspiani.2. Dehidrasi. 8. Trombosis vena. (Reni. Identitas Biasanya ditemukan 90% pada anak-anak. e) Pungsi asites ataupun hidrotorak dilakukan bila ada indikasi viral.1. 7. 2015) 2. Gagal ginjal akut.9 Komplikasi Infeksi sekunder. 2.terutama infeksi kulit yang di sebabkan oleh streptococcus: bronkopneumonia dan tuberkulosis (Ngastiyah.2 Konsep Asuhan Keperawatan 2. 5. 6. 2015).Muka sembab dan nafsumakan menurun. d) Cegah infeksi dengan pemberian antibiotik. sesak nafas. Embolu pulmoner 4. 2012) 1. Peritonitis. Infeksi Pneumococus.

sesak nafas. terpapar bahan kimia. Status neurologis mengalami perubahan sesuai dengan tingkat parahnya azotemia pada sistem saraf pusat . Pada fase lanjut sering di dapat kan gangguan pola nafas yang merupakan responterhadap adanya edema pulmoner dan efusi pleura. 4. riwayat glomerulonefritis akut atau kronis. Riwayat penyakit terdahulu Edema pada masa neonatus.sklera tidak ikterik. urine menurun. B) B2 (Blood) Sering didapatkan adanya penurunan curah jantung akibat peningkatan beban volume. Riwayat Kesehatan lingkungan Daerah Edemik malaria 7. 6.3. riwayat malaria. konsifasi.muka sembab dan nafsu makan menurun. Riwayat penyakit keluarga Riwayat adanya kelainan gen autosom resesif. C) B3 (Brain) Terdapat edema periolbital. Pemeriksaan fisik A) B1 (Breathing) Biasanya tidak di dapatkan adanya gangguan pola nafas dan jalan nafas meskipun Frekuensi nafas meningkat terutama fase akut. Riwayat Penyakit Sekarang Badan bengkak. 5.

Yuli Aspiani. kelemahan fisik secara umum. muntah. akibat edema tungkai dan kelelahan fisik secara umum. D) B4 (Bladder) Terdapat perubahan warna urine output seperti urine berwarna cola E) B5 (Bowel) Didapatkan adanya mual. b) Ketidakseimbangan Nutrisi kurang dari kebutuhan. ancaman.berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat. 2. sehingga sering mengalami penurunan intake nutrisi. . d) Kecemasan berhubungan dengan prognosis penyakit. Yuli Aspiani. Terdapat asites pada abdomen F) B6 (Bone) Didapatkan adanya kelemahan fisik secara umum. 2015). anoreksia. (Reni. 2015). kondisi sakit dan ancaman kesehatan.2. c) Intoleransi aktifitasberhubungan dengan edema ekstremitas. (Reni.retensi cairan dan natrium.2 Diagnosa keperawatan a) Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan volume urine.

Turgorkulit ormal. dengan posisi kepala di tinggikan 30 sampai .Tidak ada oliguria 45 derajat. MONITOR CAIRAN (FLUID MONITORING) . Dan tentukan adanya oortopneu dan .bunyi crakles pada paru. Dengan kriteria : status respirasi . .No DX.Monitor hasil laboratorium yang sesuai dengan bernafas. .Monitor intake dan output.Monitor vital sigh sesuai kebutuhan.Monitor adanya disentesi vena jugularis .Monitor lokasi dan perluaran edema. .albumin dan berat jenis urine).. kep Tujuan (NOC) Intervensi (NIC) (1) (2) (3) (4) 1 Kelebihan volume cairan 1) Setelah dilakukan asuhan keperawatan Selama Manajemen cairan (fluid Management): berhubungan dengan produksi .Monitor tekanan darah.Monitor peningkatan berat badan tiba-tiba. BB stabil.Monitoradanya distensi vena jugulari.Klien bebas dari edema.x24 jam klien dapat mempertahankan . balance) .Monitor kadar elektrolit serum abnormal.Klien dapat mempertahankan bunyi paru paru keparahannya. .Monitor tanda dan gejalan retensi cairan. . .Monitor serum albumin dan total protein. . .edema peripher dan penambahan berat badan.Klien melaporkan adanya kemudahan dalam .Monitor membrane mukosa dan tugor kulit. . keseimbangan cairan (hemaktokrit.denyut nadi dan status resfirasi . penurunan filtrasi ginjal. . urine yang menurun akibat dari keseimbangan cairan dalam tubuh (fluid . bersih.Monitor bunyi paru: adanya bunyi crakles.Bun.Pertahankan kecepatan pemberian obat-obatan yang meningkatkan urine output sesuai .Batasi intake cairan sesuai kebutuhan.

Monitor status rongga mulut (gusi. .Dan cairan adekuat makanan. .Monitor efek samping pemberian deuretic.Asupan makanan. . kurang.Monitor berat badan 2 Ketidak seimbangan nutrisi 2) Setelah dilakukan tindakan keperawatan MANAJEMEN NUTRISI kurang darikebutuhan selama .Asupan nutrisi. .mukosa dan gigi). .Kolaborasi denganahli gizi tentang jumlah . MONITOR NUTRISI . hemoglobin. .Anjurkan peningkatan masukan protein. Tanyakan makanan kesukaan klien.tinggi kalori. . .ortoctactik dan ketidak seimbangan metabolic. lidah.Monitor intake makanan.Monitor turgor kulit sesuai kebutuhan .Pertahankan berat badan yang ideal sesuai berhubungan dengan intake yang Status nutrisi. . kelelahan dan kelemahan.observasi kemampuan klien untuk makan. . dengan usia dan tinggi badan. . kalori dan tipe nutrisi yang di butuhkan.Monitor tingkat energi. . .Anjurkan masukan kalori yang tepat yang sesuai dengan gay hidup. kebutuhan .Energi.Evaluasi hasil lab (albumin serum. .x24 jam klien dapat meningkatkan . . vitamin dan mineral) .Monitor intake kalori dan nutrisi .tanyakan pada klien tentang alergi terhadap .Berikan klien diit tinggi protein. hemaktokrit.Monitor keadaan lingkungandimana klie makan.Berat badan dalam rentang normal. dengan kriteria.. total protein serum.Monitor respon emosional Klien saat di beri makanan.

bedrest selama .Dorong pasien untuk mengungkap kan . dyspneu.Dorong untuk melakukan periode istirahat dan aktifitas. . .Bantu klien untuk mengidentifikasi .Instruksikan klien untuk keluarga untuk mengenal tanda dan gejala kelelahan yang memerlukan pengurangan aktifitas. .x24 jam klien dapat menunjukan .Monitor adanya mual dan muntah.Berikan lingkungan yang optimal pada waktu makan.Dorong klien untuk melakukan aktifitas harian sesuai sumber energi. Dengan kriteria : .Tentukan penyebab lain dari kelelahan. pucat dan frekuensi pernafasan).Monitor respon cardiorespiratory aktifitas ( batas normal misalnya: takhikardi.EKG dalam batasnormal pencahayaan dan kegaduhan). .Rencanakan periode aktifitas saat klien memiliki banyak tenaga.Bantu klien untuk bangun dari tempat tidur atau duduk di samping tempat tidur atau berjalan. sesuai dengan peningkatan denyut jantung .Catat status perubahan nutrisi yang penting dan lakukan tindakan sesuai kebutuhan .Klien dafat menentukan aktifitas yang perasaan tentang keterbatasannya.Tentukan keterbatasan klien terhadap aktifitas toleransi terhadap aktifitas (actifity Tolerance) . kulit dengan aktifitas .Monitor intake nutrisi sebagai energi yang tekanan darah dan Frekuensi nafas: adekuat. .Klien mempertahankan irama nafasdengan ..Mempertahankan warna dan kehangatan diaporesis. . . .Hindari aktifitas selama periode aktifitas. .Batasi stimulus lingkungan (misalnya: .Melaporkan peningkatan aktifitas harian . disritmia. . . 3 Intoleransi aktifitas berhubungan 3) Setelah dilakukan tindakan keperawatan Manajemnet nutrisi (energy manajement) : dengan kelemahan fisik.Berikan makanan dan cairan sesuai kebutuhan .

Indetifikasi tingkat kecemasan klien. . .Berusaha memahami situasi stres yang di peran. alami klien. .Dorong keluarga untuk menemani klien sesuai . .Gunakan ketenangan dalam mendekatkan penyakitnya cemas (Anxiety Control). .Terapi aktifitas ( actifity therapy) : .. Bantu klien untuk menjadwal kan periode khususnya untuk hiburan di luar aktifitas ruti. Bantu klien untuk memilih aktivitas yang konsisten Dengan kemampuan fisik..Klien dapat mempertahankan penampilan . .Klien melaporkan tidak ada gejala . sosial dan spiritual terhadap aktifitas. 4 Kecemasan berhubungan dengan 4) Setelah dilakukan asuhan keperawatan Menurunkan kecemasan (anxiety reduction) : kurangnya pengetahuan tentang Selama. kecemasan tidak ada Yang di butuhkan .Dorong klien untuk mengungkapkan meskipun ada kecemasan perasaannya. .Berikan informasi tentang Diagnosa. Bantu klien untuk mengidentifikasi pilihan aktivitas yang berarti.dafat meneruskan aktifitas.Klien dapat merencanakan strategi koping . .x24 jam klien mampu mengontrol . . .Klien melaporkan gejala prilaku akibat dengan kebutuhan. . aktifitasyang lebih di sukai . perasaan yang mungkin muncul pada saat .Klien menunjukan kemampuan untuk . fsikologis dan sosial. Bantu klien untuk menyesuiakan lingkungan untuk mengakomodasi ke inginan beraktifitas . dengan kriteria: kepada klien. melakukan tindakan. prognosis persepsi sensori dan tindakan. Monitor respon emosional fisik. ..Jelaskan tindakan prosedur kepada klien dan untuk situasi yang Klien membuat setress.Temani klien untuk memberikan kenyamanan kecemasan secara fisik. Tentukan komitmen klien untuk meningkatkan frekuensi atau rentang untuk aktifitas.Klien melaporkan tidak ada gangguan .

. . Ajarkan klien teknis relaksasi. Sumber: (Reni. Bantu klien untuk mengungkapkan hal-hal yang membuat cemas. Yuli Aspiani. Berikan aktifitas hiburan untuk mengurangi yang baru. Dengarkan dengan penuh perhatian. . ketegangan. Kontrol stimulus sesuai kebutuhan klien. Observasi gejala verbal dan non verbal dari kecemasan. . pokus pada pengetahuan dan keterampilan . Bantu klien untuk mengidentifikasi situasi yang menyebabkan kecemasan. . Tentukan kemampuan klien dalam menentukan keputusan . . 2015) .

2. Diagnosa keperawatan: Intoleransi aktivitas. (Nurdin.tidak ada oliguria. 2. b) Klien dapat menunjukan berat badan dengan batas normal. . Implementasi biasanya dilakukan setelah perencanaan sudah dianggap fix. 2005) Evaluasi keperawatan Diagnosa keperawatan : kelebihan volume cairan a) Klien mengatakan terbebas dari edema. dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan (Purwanto.2. b) Klien dapat mempertahankan bunyi paru bersih dan adanya kemudahan dalam bernafas. 2005). memperoleh. a) Klien dapat meningkatkan toleransi terhadap aktifitas. Selain itu. evaluasi juga dapat dipandang sebagai proses merencanakan. b) Klien mendemonstrasikan penurunan tanda fsikologis intoleransi aktifitas.5 Evaluasi keperawatan Pemberian nilai terhadap kulitas sesuatu. a) Klien menunjukan asupan makanan yang adekuat.4 Implementasi Keperawatan Suatu tindakan atau pelaksana dari sebuah rencana yang sudah disusun secara matang dan terperinci.2. c) Klien dapat mempertahankan turgor kulit normal. BB stabil. Diagnosa keperawatan : ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.

d) Klien dapat menurunkan stimulus lingkungan ketika cemas. yuli aspiani. (Reni.Diagnosa keperawatan : Kecemasan a) Klien melaporkan penggunaan tehnik relaksasiuntuk menurunkan kecemasan b) Klien dapat mempertahankan hubungan sosial. 2015) . c) Klien melaporkan tidur yang adekuat.