You are on page 1of 15

PROGRAM GERAKAN LITERASI

SMK KARYA PEMBANGUNAN PADALARANG

TAHUN PELAJARAN 2017/2018

SMK KARYA PEMBANGUNAN PADALARANG
Jl. U. Suryadi No. 17 Desa. Kertajaya Kec. Padalarang Kab. Bandung
Barat. Telp (022) 6809727
e-mail: smkkaryapembangunan@gmail.com

NUPTK.Pd. S.Mulyanah Chorry Sari Mutilawati. . NIP. LEMBAR PENGESAHAN PROGRAM GERAKAN LITERASI SMK KARYA PEMBANGUNAN PADALARANG TAHUN 2017/2018 Program gerakan literasi ini telah disetujui dan disahkan oleh Mengetahui. Juli 2018 Kepala SMK Karya Pembangunan Padalarang Penanggung Jawab Dra. Padalarang.

Salah satu pembiasaan yang harus dilakukan adalah menggunakan 15 menit sebelum waktu pembelajaran untuk membaca buku selain buku pelajaran serta adanya penghargaan terhadap peserta didik yang gemar membaca. bulanan dan semesteran. Kegiatan gemar membaca sangat terkait dengan literasi sekolah. memahami. Literasi menjadi sarana siswa dalam mengenal. Padalarang.Semoga segala amal baik yang telah diberikan dapat diganti dan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Seiring hal tersebut maka disusunlah program gerakan literasi ini sebagai acuan dan pedoman yang harus dilaksanakan pada tahun ajaran 2017/2018. Juli 2017 Penyusun. Mudah-mudahan dengan adanya program gerakan literasi ini dapat meningkatkan minat baca seluruh peseserta didik.Amiin. mingguan. . tetapi juga sebagai sarana mengingkatkan kemampuan literasi. Penyusun menyadari bahwa program gerakan literasi ini masih belum sempurna dari harapan. Akhirnya. oleh karena itu Penyusun mengharapkan saran dan kritikan yang bersifat membangun dari semua pihak untuk perbaikan program gerakan literasi ini pada masa-masa yang akan datang. Kata Pengantar Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti mengamanatkan pelaksanaan kegiatan pembiasaan harian. kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan gerakan literasi ini. Dengan kemajuan teknologi informasi mengakibatkan arus informasi begitu cepat dan menjadi tantangan bagi sekolah untuk memanfaatkan internet bukan hanya sebagai sumber informasi. dan menerapkan ilmu yang didapatkannya di bangku sekolah.

pendidikan berbasis budaya literasi. menggunakan internet lebih banyak sebagai sarana hiburan. Hal ini tergambar bahwa di sekolah. penguasaan literasi yang tinggi tentunya tidak boleh mengabaikan aspek sosiokultural. atau HOTS (Higher Order Thinking Skills) yang meliputi kemampuan analitis. Siswa SMK yang terlahir di era teknologi informasi (digital natives) membaca dan menulis dilakukan dengan cara yang berbeda dari generasi sebelum mereka. A. dan spiritual. visual. khususnya di bidang digital. Walaupun demikian. yang terjadi saat ini. S.Pd. terutama di mata pelajaran non-bahasa. Kegiatan membaca belum mendapatkan perhatian yang mendalam. Kecakapan ini harus terakomodasi di ruang kelas maupun di lingkungan SMK. Ketika mempelajari konten mata pelajaran normatif.1. . sintesis. Latar Belakang Masalah Kemajuan suatu bangsa tidak hanya dibangun dengan bermodalkan kekayaan alam yang melimpah. termasuk literasi digital. sehingga harus dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan kecakapan kognitif. karena literasi merupakan bagian dari kultur atau budaya manusia. kritis. melainkan berawal dari peradaban buku atau penguasaan literasi yang berkelanjutan dari satu generasi ke generasi berikutnya. ditengarai belum mengembangkan kemampuan berpikir tinggi. sosial. Kegiatan masyarakat. maupun pengelolaan tata negara yang mapan. bahasa. BAB 1 PENDAHULUAN 1. terdapat dikotomi antara belajar membaca (learning to read) dan membaca untuk belajar (reading to learn). evaluatif. guru kurang menggunakan teks materi pelajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir tinggi tersebut. budaya literasi sudah semakin ditinggalkan oleh generasi muda Indonesia. adaptif dan produktif. Chorry Sari Mutilawati. imajinatif. dan kreatif. khususnya kaum muda. Padahal. seiring dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi. Namun. merupakan salah satu aspek penting yang harus diterapkan di sekolah guna memupuk minat dan bakat yang terpendam dalam diri mereka. Pendidikan literasi yang dilakukan di Indonesia.

orang tua.2. Tujuan Khusus a. b. sehingga dalam melaksanakan pembelajaran.2. 1.1. Tujuan Gerakan Literasi Sekolah Gerakan Literasi Sekolah mempunyai dua tujuan.3. yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Hal ini akan berhasil jika guru mampu mengembangkan pembelajaran yang tepat sehingga pembelajaran yang dilaksanakan dapat meningkatkan kemampuan literasi dan potensi siswa seutuhnya. Tujuan Umum Menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi Sekolah Menengah Kejuruan yang diwujudkan dalam gerakan literasi di SMK Karya Pembangunan Padalarang agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat. Gerakan literasi adalah salah satu cara untuk menanamkan budi pekerti luhur tersebut. guru juga harus mampu memilih dan memanfaatkan bahan ajar. guru harus menggunakan pendekatan yang komprehensif serta progresif agar bisa memotivasi rasa ingin tahu siswa dan memicu mereka untuk berpikir kritis. Gerakan literasi akan berhasil jika berjalan secara holistik. c. Lingkungan sekolah (dilaksanakan oleh seluruh warga SMK Karya Pembangunan Padalarang. Menjadikan SMK sebagai organisasi pembelajaran (learning organization) (Senge.1. . Ruang Lingkup 1. Mempraktikkan kegiatan pengelolaan pengetahuan (knowledge management) di SMK Karya Pembangunan Padalarang. Menjaga keberlanjutan budaya literasi di SMK Karya Pembangunan Padalarang. 1. karena membaca sejalan dengan proses berpikir kritis yang memungkinkan siswa untuk kreatif dan berdaya cipta.2. Membangun ekosistem literasi sekolah di SMK Karya Pembangunan Padalarang. dan pihak swasta pun harus bersama-sama mendukung mewujudkan gerakan literasi.3. 1. 1990). pemerintah.2. Dalam pengembangan pembelajaran. Menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik SMK Karya Pembangunan Padalarang. seperti mendorong siswa untuk membaca buku-buku yang berkualitas. Guru memiliki peran penting dalam merangsang siswa untuk belajar. e. 1. Selain guru di sekolah. d. perpustakaan.

dll. menyimak. guru. menulis. literasi teknologi. tenaga kependidikan. literasi dasar. kepala sekolah. memahami. Gerakan Literasi Sekolah merupakan merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah (peserta didik. Komite Sekolah. Variasi kegiatan dapat berupa perpaduan pengembangan keterampilan reseptif maupun produktif. literasi dini diperlukan sebagai dasar pemerolehan berliterasi tahap selanjutnya. Lingkungan ocial dan afektif (dukungan dan partisipasi aktif semua warga sekolah) dalam melaksanakan kegiatan literasi SMK. yang disesuaikan dengan konteks atau target sekolah). dan pembelajaran (disertai tagihan berdasarkan Kurikulum 2013). Komponen literasi tersebut dijelaskan sebagai berikut: . Komponen Literasi Clay (2001) dan Ferguson menjabarkan bahwa komponen literasi informasi terdiri atas literasi dini. 2. Pembiasaan ini dilakukan dengan kegiatan 15 menit membaca (guru membacakan buku dan warga sekolah membaca dalam hati. Gerakan Literasi Sekolah adalah gerakan sosial dengan dukungan kolaboratif berbagai elemen. BAB II LITERASI DI SMK KARYA PEMBANGUNAN PADALARANG 2. dan pemangku kepentingan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam konteks Indonesia. Pengertian Literasi Sekolah Literasi Sekolah dalam konteks Gerakan Literasi Sekolah adalah kemampuan mengakses. 1. orang tua/wali murid peserta didik). melihat. Ketika pembiasaan membaca terbentuk. media massa. antara lain membaca. literasi media.). penerbit. pengawas sekolah. selanjutnya akan diarahkan ke tahap pengembangan. dunia usaha.2. dan/atau berbicara. masyarakat (tokoh masyarakat yang dapat merepresentasikan keteladanan. dan literasi visual. Upaya yang ditempuh untuk mewujudkannya berupa pembiasaan membaca peserta didik.3. literasi perpustakaan. dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas. akademisi.2.1.

mempersepsikan informasi (perceiving). hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan. serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi. Sejalan dengan membanjirnya . 2. Dalam praktiknya. yaitu kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda. membaca. yaitu kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware). 3. menyimpan dan mengelola data. penelitian.1. dan memahami tujuan penggunaannya. juga pemahaman menggunakan komputer (Computer Literacy) yang di dalamnya mencakup menghidupkan dan mematikan komputer. memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan perpustakaan. antara lain. memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi. atau mengatasi masalah. berbicara. Literasi Dasar (Basic Literacy). Berikutnya. media digital (media internet). Literasi Perpustakaan (Library Literacy). Literasi Dini (Early Literacy). Literasi Teknologi (Technology Literacy). kemampuan dalam memahami teknologi untuk mencetak. Literasi Media (Media Literacy). seperti media cetak. serta menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi. dan berkomunikasi melalui gambar dan lisan yang dibentuk oleh pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan sosialnya di rumah. menulis. serta mengoperasikan program perangkat lunak. pekerjaan. media televisi). dan mengakses internet. mempresentasikan. media elektronik (media radio. memahami bahasa lisan. 5. Pengalaman peserta didik dalam berkomunikasi dengan bahasa ibu menjadi fondasi perkembangan literasi dasar. yaitu kemampuan untuk menyimak. mengomunikasikan. dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating). yaitu kemampuan untuk mendengarkan. peranti lunak (software). memahami penggunaan katalog dan pengindeksan. 4. memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal.

Memahami tahap perkembangan literasi peserta didik dapat membantu sekolah untuk memilih strategi pembiasaan dan pembelajaran literasi yang tepat sesuai kebutuhan perkembangan mereka. 2. praktik-praktik yang baik dalam gerakan literasi sekolah menekankan prinsip-prinsip sebagai berikut. 3. baik dalam bentuk cetak. 1.3. pengembangan profesional guru dalam hal literasi perlu diberikan kepada guru semua mata pelajaran. yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audiovisual secara kritis dan bermartabat. 6. 4. Program literasi yang bermakna dapat dilakukan dengan memanfaatkan bahan bacaan kaya ragam teks. informasi karena perkembangan teknologi saat ini. diperlukan pemahaman yang baik dalam mengelola informasi yang dibutuhkan masyarakat. Perkembangan literasi berjalan sesuai tahap perkembangan yang dapat diprediksi Tahap perkembangan anak dalam belajar membaca dan menulis saling beririsan antartahap perkembangan. Tafsir terhadap materi visual yang tidak terbendung. Kegiatan membaca dan menulis dilakukan kapanpun . seperti karya sastra untuk anak dan remaja. terutama membaca dan menulis. Bagaimanapun di dalamnya banyak manipulasi dan hiburan yang benarbenar perlu disaring berdasarkan etika dan kepatutan. strategi membaca dan jenis teks yang dibaca perlu divariasikan dan disesuaikan dengan jenjang pendidikan. adalah pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi. Program literasi yang baik bersifat berimbang Sekolah yang menerapkan program literasi berimbang menyadari bahwa tiap peserta didik memiliki kebutuhan yang berbeda. perlu dikelola dengan baik. Program literasi terintegrasi dengan kurikulum Pembiasaan dan pembelajaran literasi di sekolah adalah tanggung jawab semua guru di semua mata pelajaran sebab pembelajaran mata pelajaran apapun membutuhkan bahasa. auditori. Literasi Visual (Visual Literacy). Dengan demikian. 2. Prinsip-prinsip Gerakan Literasi Sekolah Menurut Beers (2009). maupun digital (perpaduan ketiganya disebut teks multimodal). Oleh karena itu.

Kegiatan diskusi ini juga perlu membuka kemungkinan untuk perbedaan pendapat agar kemampuan berpikir kritis dapat diasah. Kegiatan literasi perlu mengembangkan kesadaran terhadap keberagaman Warga sekolah perlu menghargai perbedaan melalui kegiatan literasi di sekolah. 5. saling mendengarkan. . 6. Bahan bacaan untuk peserta didik perlu merefleksikan kekayaan budaya Indonesia agar mereka dapat terpajan pada pengalaman multikultural. Kegiatan literasi mengembangkan budaya lisan Kelas berbasis literasi yang kuat diharapkan memunculkan berbagai kegiatan lisan berupa diskusi tentang buku selama pembelajaran di kelas. Misalnya. Peserta didik perlu belajar untuk menyampaikan perasaan dan pendapatnya. ‘menulis surat kepada presiden’ atau ‘membaca untuk ibu’ merupakan contoh- contoh kegiatan literasi yang bermakna. dan menghormati perbedaan pandangan.

dll. Kegiatan Literasi di SMK Karya Pembangunan Padalarang Dalam mengimplementasikan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). dilakukan berbagai intervensi dan pembiasaan untuk keluarga. d. sebagai berikut ini. Membuat karya atau menuliskan kesan atau rangkuman setelah selesai membaca. puisi. Peserta didik dibimbing. dan warga sekolah lainnya sebagai langkah awal pembiasaan. . Gerakan membaca adalah suatu gerakan yang bertujuan untuk pembiasaan membaca bagi semua warga sekolah. Membiasakan membaca dalam hati selama 15 menit sebelum kegiatan pembelajaran. dilakukan melalui berbagai pelatihan dan seminar. Intervensi dilakukan dengan pemberlakuan Permendikbud No. Mendokumentasikan karya peserta didik (cerpen. sedangkan pembiasaan dilakukan dengan pendemonstrasian berbagai contoh teladan dari kepala sekolah. melalui kegiatan-kegiatan berikut ini. b. didampingi dan diarahkan untuk melakukan kegiatan membaca mandiri. 3. Bab III Pelaksanaan Kegiatan Literasi Sekolah 3. c.2. 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. sekolah.1.). guru. dan masyarakat. yaitu membaca buku atau sumber lain nonpelajaran. Gerakan Literasi Sekolah GLS yang dimaksud meliputi berbagai kegiatan yang praktis dan dapat diimplementasikan di SMK Karya Pembangunan Padalarang. Membudayakan membaca bersama-sama bagi guru dan peserta didik (guru menjadi contoh). a.

Tahapan Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah memiliki tiga tahapan yaitu. 2. 6. Prinsip-prinsip kegiatan membaca di dalam tahap pembiasaan dipaparkan berikut ini. poster-poster tentang motivasi pentingnya membaca. pengembangan. Meningkatkan kemampuan memahami bacaan. 23 Tahun 2015). Sekolah bisa memilih menjadwalkan waktu membaca di awal. 3. tanggapan peserta didik bersifat opsional dan tidak dinilai. seperti: 1. Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap ini tidak diikuti oleh tugastugas yang bersifat tagihan/penilaian. Guru menetapkan waktu 15 menit membaca setiap hari. bergantung pada jadwal dan kondisi sekolah masing-masing.1. buku-buku nonpelajaran (novel. kumpulan cerpen. 3. Kegiatan membaca dalam waktu pendek. 3.). Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap ini dapat diikuti oleh diskusi informal tentang buku yang dibaca/dibacakan. 2. tengah.3. 3. pembiasaan. dan 4. iklim literasi sekolah diarahkan pada pengadaan dan pengembangan lingkungan fisik. 2. sudut baca kelas untuk tempat koleksi bahan bacaan. dan pembelajaran. Peserta didik dapat diminta membawa bukunya sendiri dari rumah. Meskipun begitu. Pembiasaan. namun sering dan berkala lebih efektif daripada satu waktu yang panjang namun jarang (misalnya 1 jam/ minggu pada hari tertentu). Menumbuhkembangkan penggunaan berbagai sumber bacaan. Meningkatkan rasa percaya diri sebagai pembaca yang baik. dsb. Buku yang dibaca/dibacakan adalah pilihan peserta didik sesuai minat dan kesenangannya. majalah. Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku nonpelajaran. 1. dan 3. komik. Meningkatkan rasa cinta baca di luar jam pelajaran.3. 4. 5. atau akhir pelajaran. Kegiatan membaca ini didukung oleh penumbuhan iklim literasi sekolah yang baik. Tujuan kegiatan literasi di tahap pembiasaan adalah sebagai berikut. . 1. Penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca (Permendikbud No. buku ilmiah populer. Dalam tahap pembiasaan.

dan durasi pelaksanaan kegiatan tindak lanjut disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah. 7. Dalam melaksanakan kegiatan tindak lanjut. Sebagai tindak lanjut dari kegiatan di tahap pembiasaan. kreatif. dan 4. Pada prinsipnya. frekuensi. Yang membedakan adalah bahwa kegiatan 15 menit membaca diikuti oleh kegiatan tindak lanjut pada tahap pengembangan. Mengasah kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis. peserta didik didorong untuk menunjukkan keterlibatan pikiran dan emosinya dengan proses membaca melalui kegiatan produktif secara lisan maupun tulisan. Membangun interaksi antarpeserta didik dan antara peserta didik dengan guru tentang buku yang dibaca. 3. poster-poster tentang pentingnya membaca. Mengingat kegiatan tindak lanjut memerlukan waktu tambahan di luar 15 menit membaca. Suasana ini dapat dibangun melalui pengaturan tempat duduk. analitis. Dalam tahap pengembangan. beberapa prinsip yang perlu dipertimbangkan dipaparkan sebagai berikut. . Peserta didik diperkenankan untuk membaca buku yang dibawa dari rumah. tenang. 8.3. Perlu dipahami bahwa kegiatan produktif ini tidak dinilai secara akademik. Dalam kegiatan membaca dalam hati. pencahayaan yang cukup terang dan nyaman untuk membaca. dan inovatif. guru sebagai pendidik juga ikut membaca buku selama 15 menit. Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku selain buku teks pelajaran. Mendorong peserta didik untuk selalu mencari keterkaitan antara buku yang dibaca dengan diri sendiri dan lingkungan sekitarnya.2. Pengembangan Meningkatkan kemampuan literasi melalui kegiatan menanggapi buku pengayaan. 2. Bentuk. Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap ini berlangsung dalam suasana yang santai. kegiatan literasi pada tahap pengembangan sama dengan kegiatan pada tahap pembiasaan. kegiatan 15 menit membaca di tahap pengembangan diperkuat oleh berbagai kegiatan tindak lanjut yang bertujuan untuk: 1. Buku yang dibaca/dibacakan adalah buku yang diminati oleh peserta didik. 3. Mengasah kemampuan peserta didik dalam menanggapi buku pengayaan secara lisan dan tulisan. 1. dan menyenangkan. sekolah didorong untuk memasukkan waktu literasi dalam jadwal pelajaran sebagai kegiatan membaca mandiri atau sebagai bagian dari kegiatan kokurikuler.

Untuk menunjang keterlaksanaan berbagai kegiatan tindak lanjut GLS di tahap pengembangan ini. Adapun TLS beranggotakan guru (sebaiknya guru bahasa atau guru yang tertarik dan berlibat dengan masalah literasi) serta tenaga kependidikan atau pustakawan sekolah. Mengembangkan kemampuan memahami teks dan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi sehingga terbentuk pribadi pembelajar sepanjang hayat. atau seni peran untuk menanggapi bacaan. antara lain: 1. Kegiatan pada tahap ini dilakukan untuk mendukung pelaksanaan Kurikulum 2013 yang mensyaratkan peserta didik membaca buku nonteks pelajaran. tulisan. sekolah sebaiknya membentuk TLS. Untuk memberikan motivasi kepada peserta didik. atau teks multimodal. 2. dan 2. buku yang dibaca berupa buku tentang pengetahuan umum. mengelola. menulis. 3. . Kegiatan membaca/membacakan buku berlangsung dalam suasana yang menyenangkan. Kegiatan membaca/membacakan buku di tahap ini dapat diikuti oleh tugas-tugas presentasi singkat. menulis sederhana. presentasi sederhana. visual. Pembelajaran Meningkatkan kemampuan literasi di semua mata pelajaran menggunakan buku pengayaan dan strategi membaca di semua mata pelajaran. ada tagihan yang sifatnya akademis (terkait dengan mata pelajaran). Kegiatan berliterasi pada tahap pembelajaran bertujuan: 1. kriya. 2. minat khusus. 5. kriya. Tugas-tugas presentasi. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Tugas-tugas yang sama nantinya dapat dikembangkan menjadi bagian dari penilaian akademik bila kelas/sekolah sudah siap mengembangkan kegiatan literasi ke tahap pembelajaran. Pembentukan TLS dapat dilakukan oleh kepala sekolah. digital) melalui kegiatan menanggapi teks buku bacaan dan buku pelajaran. Mengolah dan mengelola kemampuan komunikasi secara kreatif (verbal. Beberapa prinsip yang perlu dipertimbangkan dalam tahap pembelajaran ini. guru sebaiknya memberikan masukan dan komentar sebagai bentuk apresiasi. Terbentuknya Tim Literasi Sekolah (TLS). kegemaran. dan mengevaluasi program literasi sekolah.3. atau seni peran dapat dinilai secara nonakademik dengan fokus pada sikap peserta didik selama kegiatan. 3. yang bertugas untuk merancang. dan 3.3. 4. yang disesuaikan dengan jenjang dan kemampuan peserta didik. dan juga dapat dikaitkan dengan mata pelajaran tertentu.

Pendidikan literasi yang dilakukan di Indonesia. evaluatif. ditengarai belum mengembangkan kemampuan berpikir tinggi. menulis dan berhitung. terutama di mata pelajaran non-bahasa. bukan hanya sebagai aktivitas membaca. Hal ini tergambar bahwa di sekolah. terdapat dikotomi antara belajar membaca (learning to read) dan membaca untuk belajar (reading to learn). Oleh karena itu. sintesis. evaluatif. Ketika mempelajari konten mata pelajaran normatif. atau HOTS (Higher Order Thinking Skills) yang meliputi kemampuan analitis. kritis. . sintesis. imajinatif. GLS menjadi penting untuk mencapai kesadaran semua pemangku kepentingan dalam memandang kemampuan literasi sebagai ukuran kemajuan sebuah bangsa. Literasi seharusnya menjadi sarana untuk membentuk kemampuan peserta didik dalam berpikir secara analitis. guru kurang menggunakan teks materi pelajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir tinggi tersebut. kritis. imajinatif. adaptif dan produktif. sedangkan internet bukan hanya untuk mencari informasi atau memperoleh hiburan. dan kreatif. dan kreatif. Kegiatan membaca belum mendapatkan perhatian yang mendalam. BAB IV PENUTUP Gerakan Literasi di SMK.

go. Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah.blogspot.id/wp-content/uploads/2016/04/Panduan- Gerakan-Literasi-Sekolah-di-SMA. Rahmarizqy.com . tersedia dari: http://dikdas. 2016. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.pdf.kemdikbud. DAFTAR PUSTAKA Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Panduan Gerakan Literasi di Sekolah Menengah Atas.