You are on page 1of 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyakit infeksi masih merupakan masalah kesehatan di negara

berkembang, termasuk Indonesia. Salah satu penyakit infeksi yang belum

W
mengalami penurunan jumlah kasus secara signifikan antara lain Infeksi

Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Karakteristik penduduk dengan ISPA

D
tertinggi terjadi pada kelompok usia 1-4 tahun. (Kemenkes RI, 2013).

Penyakit infeksi saluran pernapasan merupakan salah satu dari

K
penyebab kematian terbanyak di Yogyakarta. Penyakit penyebab kematian

U
terbanyak adalah bronkitis dan pneumonia. (Dinkes DIY, 2013).

Jumlah kasus pneumonia balita di DIY tahun 2010 sebanyak 1.813.

©
Jumlah kasus menurun pada tahun 2011 menjadi 1.739 kasus, namun

diperkirakan jumlah kasus total sebanyak 34.575. Hal ini menunjukkan tidak

semua balita yang mengalami pneumonia dilaporkan dan ditangani oleh

sarana pelayanan kesehatan. (Dinkes DIY, 2013).

Riset Kesehatan Dasar 2007 memaparkan pneumonia merupakan

penyebab kematian pada balita urutan kedua setelah diare. Jumlah kematian

balita akibat pneumonia tahun 2007 sebanyak 30.470. (Kemenkes RI, 2007).

Angka kematian balita di DIY menurut Survei Demografi dan Kesehatan

Indonesia tahun 2012 mencapai 30 per 1000 kelahiran hidup. (BkkbN, 2013).

1

Lama rawat inap dipengaruhi oleh faktor klinis pasien. . bahkan pada anak-anak W dapat berujung pada kematian. Hal ini menunjukkan prevalensi balita dengan gizi kurang telah mencapai target. Masalah gizi berperan dalam menimbulkan suatu penyakit. 2014). berat badan lahir rendah. namun balita dengan gizi buruk masih dijumpai di U wilayah DIY. Berdasarkan rincian hal-hal di atas. Prevalensi balita di DIY dengan gizi kurang tahun 2014 sebesar 8. tidak ada atau tidak diberikan ASI. 2 Faktor risiko yang mempengaruhi insidensi pneumonia pada balita antara lain gizi kurang. © dan faktor pelayanan kesehatan. (Almatsier. Dengan mengetahui faktor yang berkaitan dengan lama rawat inap. akibatnya orang mudah terserang infeksi. Sistem imunitas dan antibodi menurun. 2011). (Perwira. 2008). (Pemda DIY. Kekurangan gizi menyebabkan gangguan pada pertahanan tubuh.55% D dengan target MDGs tahun 2015 yaitu <10%. maka peneliti akan melakukan penelitian mengenai hubungan antara status gizi dengan lama rawat inap pasien pneumonia balita di RS Bethesda Yogyakarta. polusi udara dalam ruang. (Rudan dkk. 2001). dan pemukiman padat. Meskipun telah jauh K melampaui target MDGs. maka hal ini dapat dijadikan acuan bagi sarana pelayanan kesehatan untuk meningkatkan kinerja terutama dalam penanganan balita dengan penyakit infeksi yang disertai oleh masalah gizi. faktor individu.

Apakah terdapat hubungan antara berat ringannya penyakit dengan lama rawat inap pasien pneumonia balita di RS Bethesda Yogyakarta? D d.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan lama rawat inap pasien pneumonia balita di RS Bethesda Yogyakarta. Apakah terdapat hubungan antara adanya komplikasi dengan lama rawat K inap pasien pneumonia balita di RS Bethesda Yogyakarta? e. 3 1. Apakah terdapat hubungan antara status gizi dengan lama rawat inap pasien pneumonia balita di RS Bethesda Yogyakarta? b.3. Apakah terdapat hubungan antara Berat Badan Lahir Rendah dengan lama rawat inap pasien pneumonia balita di RS Bethesda Yogyakarta? 1. . Apakah terdapat hubungan antara usia dengan lama rawat inap pasien pneumonia balita di RS Bethesda Yogyakarta? W c. Apakah terdapat hubungan antara status imunisasi dengan lama rawat inap U pasien pneumonia balita di RS Bethesda Yogyakarta? f.2 Masalah Penelitian Berdasarkan latar belakang di atas maka masalah yang akan diteliti yaitu: a.3 Tujuan Penelitian 1. Apakah terdapat hubungan antara ASI eksklusif dengan lama rawat inap © pasien pneumonia balita di RS Bethesda Yogyakarta? g.

Menganalisis apakah terdapat perbedaan lama rawat inap pada U pneumonia balita dengan atau tanpa komplikasi. g. Menganalisis apakah terdapat perbedaan lama rawat inap pada W pasien pneumonia balita dengan usia yang berbeda.2 Tujuan Khusus a. dan pneumonia sangat berat pada balita. d. b. c. . K e. h. Mengidentifikasi status gizi pasien pneumonia balita di RS Bethesda Yogyakarta. Menganalisis apakah terdapat perbedaan lama rawat inap pada pasien pneumonia balita dengan status gizi yang berbeda. 4 1. Menganalisis apakah terdapat perbedaan lama rawat inap pada D pneumonia. Menganalisis apakah terdapat perbedaan lama rawat inap pada pasien pneumonia balita dengan BBLR dan tanpa BBLR. Menganalisis apakah terdapat perbedaan lama rawat inap pada © pneumonia balita dengan imunisasi dasar lengkap dan tidak lengkap. f.3. pneumonia berat. Menganalisis apakah terdapat perbedaan lama rawat inap pada pneumonia balita dengan ASI eksklusif dan ASI tidak eksklusif.

serta U dapat meningkatkan kesiapan tenaga kesehatan dalam menangani pneumonia pada balita yang disertai dengan masalah gizi. 1.2 Manfaat Praktis Manfaat bagi peneliti adalah menjadi sarana belajar dan berlatih dalam D meneliti. agar program yang dilaksanakan dapat meminimalkan kejadian pneumonia pada balita.1 Manfaat Teoritis Memberikan informasi mengenai status gizi pasien pneumonia balita dan mengetahui bagaimana hubungan status gizi tersebut dengan lama rawat inap di RS Bethesda Yogyakarta.4. Manfaat bagi rumah sakit adalah sebagai evaluasi dalam pelayanan kesehatan terutama dalam pencatatan rekam medis. serta memperdalam pengetahuan mengenai pneumonia pada K balita. 5 1.5 Keaslian Penelitian Berikut ini merupakan beberapa penelitian yang berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan sebagai perbandingan terhadap keaslian penelitian: .4. W 1. Selain itu © penelitian ini juga dapat dijadikan masukan kepada pemangku kebijakan terkait kesehatan balita dan gizi. serta dapat dijadikan sebagai referensi atau acuan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut.4 Manfaat Penelitian 1.

I Gusti Insidensi Kohort 103 anak Insidens Lanang Malnutrisi retrospektif malnutrisi Sidiartha.1 Keaslian Penelitian No. Judul Desain Jumlah Kesimpulan Tahun penelitian sampel 1. umur.1%). Hubungan malnutrisi U rawat inap dengan jenis kelamin. Rawat Inap rawat inap 2008 pada Anak dijumpai Balita di pada 31 dari Rumah Sakit 103 anak Umum Pusat (30. jenis © penyakit. dan tipe malnutrisi tidak bermakna (masing- masing nilai p>0.05) . Sanglah risiko Denpasar malnutrisi W rawat inap meningkat 3. 6 Tabel 1.69 kali D apabila anak dirawat lebih dari K seminggu. Peneliti.

Lama Moewardi rawat inap Surakarta balita pneumonia © dengan gizi kurang dan baik didapatkan nilai p value 0. balita. Barat serta sebagian W besar bergizi normal. Pada gizi buruk dan baik p value 0. Yudhi Karakteristik Kohort 245 anak Pasien Kurniawan. 7 2. sedangkan pada penelitian pertama dan kedua mengambil sampel dengan . Pasien retrospektif pneumonia 2012 Pneumonia selama tahun di Ruang 2010 lebih Rawat Inap banyak Anak Rumah berusia 0-1 Sakit Umum tahun Provinsi dengan rata- Nusa rata lama Tenggara rawat 7 hari. 3. Azis Hubungan Observasio 118 anak Ada D Muktasim.019. Penelitian ini mengambil sampel dengan rentang usia 0 – 59 bulan. Pada gizi buruk dan kurang p value 0.465 Perbedaan penelitian yang akan dilakukan dengan penelitian sebelumnya: 1. Antara Status nal analitik hubungan 2012 Gizi dengan dengan antara status Lama Rawat pendekatan gizi dengan K Inap Pasien cross lama rawat Pneumonia sectional inap pasien Balita di pneumonia U RSUD Dr.024.

sedangkan pada penelitian pertama menganalisis K lama rawat inap terhadap tingkat malnutrisi yaitu mengamati perubahan U status gizi saat mulai dirawat dan saat pulang. 5. © 4. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. 8 rentang usia 1-59 bulan. Pada penelitian kedua tidak dilakukan analisis hubungan antara status gizi dengan lama rawat inap. serta penelitian kedua pengukuran status gizi berdasarkan kriteria Waterlow. 2. D 3. serta pada penelitian ketiga mengambil sampel dengan rentang usia 0-5 tahun kurang 1 hari. Penelitian ini mengambil data dari rekam medis yaitu status gizi berdasarkan perbandingan berat badan dan usia saat mulai dirawat mengacu pada standar WHO 2005. Penelitian ini menganalisis hubungan status gizi balita saat mulai dirawat dengan lama rawat inap. sedangkan penelitian pertama dan kedua menggunakan metode kohort retrospektif. . Penelitian ini akan dilakukan di RS Bethesda Yogyakarta. sedangkan pada penelitian pertama dan ketiga pengukuran status gizi berdasarkan perbandingan berat badan dan W panjang/tinggi badan.