You are on page 1of 17

LAPORAN PENDAHULUAN

A. DEFINISI

Asfiksia berarti hipoksia yang progresif, penimbunan CO2 dan asidosis, bila
proses ini berlangsug terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak atau kematian.
Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya. ( Saiffudin, 2009 ).

Asfiksia neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas
secara spontan dan teratur setelah lahir. (Sarwono, 2007).
Asfiksia neonatus adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan
teratur, sehingga dapat meurunkan O2 dan makin meningkatkan CO2 yang menimbulkan
akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut. (Manuaba, 2008).
Asfiksia Neonatus adalah suatua keadaan bayi baru lahir yang tidak segera
bernafas secara spontan dan teratur setelah dilahirkan. (Mochtar, 2008).

B. ANATOMI FISIOLOGI
a. Rongga Hidung (Cavum Nasalis)
Udara dari luar akan masuk lewat rongga hidung (cavum nasalis). Rongga hidung
berlapis selaput lendir, di dalamnya terdapat kelenjar minyak (kelenjar sebasea) dan
kelenjar keringat (kelenjar sudorifera). Selaput lendir berfungsi menangkap benda
asing yang masuk lewat saluran pernapasan. Selain itu, terdapat juga rambut pendek
dan tebal yang berfungsi menyaring partikel kotoran yang masuk bersama udara. Juga
terdapat konka yang mempunyai banyak kapiler darah yang berfungsi menghangatkan
udara yang masuk. Di sebelah belakang rongga hidung terhubung dengan nasofaring
melalui dua lubang yang disebut choanae.
b. Faring (Tenggorokan)
Udara dari rongga hidung masuk ke faring. Faring merupakan percabangan 2 saluran,
yaitu saluran pernapasan (nasofarings) pada bagian depan dan saluran
pencernaan (orofarings) pada bagian belakang. Pada bagian belakang faring
(posterior) terdapat laring (tekak) tempat terletaknya pita suara (pita
vocalis).Masuknya udara melalui faring akan menyebabkan pita suara bergetar dan
terdengar sebagai suara.

1

faring juga menyediakan ruang dengung(resonansi) untuk suara percakapan. terletak sebagian di leher dan sebagian di rongga dada (torak). e. dan pada bagian dalam rongga bersilia. Pangkal Tenggorokan (laring) Laring merupakan suatu saluran yang dikelilingi oleh tulang rawan. cabang tenggorok bercabang-cabang lagi menjadi saluran yang sangat kecil disebut bronkiolus. yaitu bronkus kanan dan bronkus kiri. Salah satu tulang rawan pada laring disebut epiglotis. bronkus bercabang lagi menjadi bronkiolus. Fungsi utama bronkus adalah menyediakan jalan bagi udara yang masuk dan keluar paru-paru. Kedua bronkus menuju paru-paru. Batang tenggorokan bercabang menjadi dua bronkus. Laring diselaputi oleh membrane mukosa yang terdiri dari epitel berlapis pipih yang cukup tebal sehingga kuat untuk menahan getaran-getaran suara pada laring. sedangkan bronkus sebelah kiri bercabang menjadi dua bronkiolus. Dinding tenggorokan tipis dan kaku. Struktur lapisan mukosa bronkus sama dengan trakea. Bronkus bercabang- cabang lagi menjadi bronkiolus. Di dalam paru-paru. Fungsi utama laring adalah menghasilkan suara dan juga sebagai tempat keluar masuknya udara. Epiglotis terletak di ujung bagian pangkal laring. yaitu bronkus sebelah kiri dan sebelah kanan. Dinding alveolus mengandung kapiler darah. d. Silia-silia ini berfungsi menyaring benda-benda asing yang masuk ke saluran pernapasan. c. Cabang-cabang yang paling kecil masuk ke dalam gelembung paru-paru atau alveolus. Batang Tenggorokan (Trakea) Tenggorokan berupa pipa yang panjangnya ± 10 cm. batang tenggorok bercabang menjadi dua cabang tenggorok (bronkus). 2 . Ujung bronkiolus berupa gelembung kecil yang disebut gelembung paru-paru (alveolus). hanya tulang rawan bronkus bentuknya tidak teratur dan pada bagian bronkus yang lebih besar cincin tulang rawannya melingkari lumen dengan sempurna. Batang tenggorok (trakea) terletak di sebelah depan kerongkongan. Bronkus sebelah kanan(bronkus primer) bercabang menjadi tiga bronkus lobaris (bronkus sekunder). dikelilingi oleh cincin tulang rawan. Laring berada diantara orofaring dan trakea. didepan lariofaring. Di dalam rongga dada. melalui kapiler-kapiler darah dalam alveolus inilah oksigen dan udara berdifusi ke dalam darah. Cabang Batang Tenggorokan (Bronkus) Tenggorokan (trakea) bercabang menjadi dua bagian. Fungsi utama faring adalah menyediakan saluran bagi udara yang keluar masuk dan juga sebagi jalan makanan dan minuman yang ditelan.

dan pembuluh darah. jaringan elastik. Fungsi jantung terganggu akibat peningkatan beban kerja jantung b. Paru-paru tersusun oleh bronkiolus. Paru-paru (Pulmo) Paru-paru terletak di dalam rongga dada bagian atas. f. kemudian menjadi duktus alveolaris. Setiap bronkiolus terminalis bercabang-cabang lagi menjadi bronkiolus respirasi. MANIFESTASI KLINIS Pada asfiksia tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskuler yang disebabkan oleh keadaan diantaranya : a.Pada dinding duktus alveolaris mangandung gelembung-gelembung yang disebut alveolus. bukan untuk memulai resusitasi karena resusitasi dimulai 30 detik setelah lahir bila bayi tidak menangis. Bronkiolus tidak mempunyai tulang rawan. Nilai APGAR berguna untuk menilai keberhasilan resusitasi bayi baru lahir dan menentukan prognosis. (bukan 1 menit seperti penilaian skor APGAR) 3 . Pengisian udara alveolus yang kurang adekuat akan menyebabkan tetap tingginya resistensi darah paru sehingga sirkulasi darah mengalami gangguan.tetapi ronga bronkus masih bersilia dan dibagian ujungnya mempunyai epitelium berbentuk kubus bersilia. di bagian samping dibatasi oleh otot dan rusuk dan di bagian bawah dibatasi oleh diafragma yang berotot kuat. disebut pleura. Selaput bagian dalam yang langsung menyelaputi paru-paru disebut pleura dalam (pleura visceralis) dan selaput yang menyelaputi rongga dada yang bersebelahan dengan tulang rusuk disebut pleura luar (pleura parietalis). Paru- paru ada dua bagian yaitu paru-paru kanan (pulmo dekster) yang terdiri atas 3 lobus dan paru-paru kiri (pulmo sinister) yang terdiri atas 2 lobus. Ada 2 macam kriteria : Perbedaan Asfiksia Pallida Asfiksia Livida Warna kulit Pucat Kebiru-biruan Tonus otot Sudah berkurang Masih baik Reaksi rangsangan Negatif Positif Bunyi jantung Tidak teratur Masih teratur Prognosis Jelek Lebih baik Dilakukan pemantauan nilai APGAR pada menit ke-1 dan menit ke-5. Paru-paru dibungkus oleh dua selaput yang tipis. C. alveolus. bila nilai APGAR 5 menit masih kurang dari 7 penilaian dilanjutkan tiap 5 menit sampai skor mencapai 7.

Gejala dan tanda asfiksia neonatorum yang khas antara lain meliputi pernafasan cepat. tonus otot buruk. sianosis.3 ) Skor APGAR 0-3. Pada asfiksia dengan henti jantung yaitu bunyi jantung fetus menghilang tidak lebih dari 10 menit sebelum lahir lengkap atau bunyi jantung menghilang post partum. Bayi terlihat lemas (flaccid) e. pernafasan cuping hidung. denyut jantung juga menurun. reflek iritabilitas tidak ada. gerakan pernafasan akan berhenti. bayi dianggap sehat dan tidak memerlukan tindakan istimewa 4. Asfiksia berat ( nilai APGAR 0 . 3. pemeriksaan fisik sama pada asfiksia berat. Asfiksia ringan sedang ( nilai APGAR 4 – 6 ) Skor APGAR 4-6. Asfiksia normal atau sedikit asfiksia ( nilai APGAR 7 – 9 ) Skor APGAR 7-10. Menurunnya PH (akibat acidosis respiratorik dan metabolik) h. Asfiksia normal dengan nilai APGAR 10 Bayi yang mengalami kekurangan O2 akan terjadi pernafasan yang cepat dalam periode yang singkat apabila asfiksia berlanjut. Tekanan darah mulai menurun d. Menurunnya tekanan O2 anaerob (PaO2) f. Dipakainya sumber glikogen tubuh anak metabolisme anaerob i. sianosis. reflek iritabilitas tidak ada. Gejala lanjut pada asfiksia : a. sianosis berat. Pernafasan megap-magap dalam b. tonus otot kurang baik atau baik. Pernafasan terganggu 4 . pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung kurang dari 100 x permenit. 2. Meningginya tekanan CO2 darah (PaO2) g. Terjadinya perubahan sistem kardiovaskular j. sedangkan tonus neuromuskular berkurang secara barangsur- angsur dan memasuki periode apneu primer. nadi cepat. dan kadang-kadang pucat.Klasifikasi klinik berdasarkan nilai APGAR : 1. Denyut jantung terus menurun c. pada pemeriksaan fisik akan terlihat frekuensi jantung lebih dari 100/menit.

Gangguan aliran darah uterus. ini terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian obat analgetik atau anestesi dalam. Reflek / respon bayi melemah m. Hampir sebagian besar asfiksia bayi baru lahir ini merupakan kelanjutan asfiksia janin. k. misal : solusio placenta. persalinan memegang peranan yang sangat penting untuk keselamatan bayi. Faktor Placenta. Hipoksia ibu. Warna kulit biru atau pucat D. Faktor Fetus kompresi umbilkalis akan mengakibatkan terganggunya aliran darah dan pembuluh darah umbilikus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin. akan terjadi asfiksia janin atau neonatus. Faktor Ibu 1. c. Bila terdapat gangguan pertukaran gas atau pengangkutan oksigen dari ibu ke janin. ETIOLOGI Pengembangan paru bayi baru lahir terjadi pada menit-menit pertama kelahiran dan kemudian disusul dengan pernafasan teratur. Hal ini sering ditemukan pada keadaan :  Gangguan kontraksi uterus : hipertoni. persalinan atau segera setelah lahir. hipotoni. karena itu penilaian janin selama masa kehamilan. Tonus otot menurun n. Detik jantung berkurang l. Gangguan ini dapat timbul pada masa kehamilan. Chamberlain (1997) mengemukakan bahwa gangguan yang timbul pada akhir kehamilan atau persalinan hampir selalu disertai dengan anoksia / hipoksia janin dan berakhir dengan aspiksia neonatus. 2. Towell (1996) mengajukan penggolongan penyebab kegagalan pernafasan pada bayi terdiri dari : a. mengurangnya aliran darah pada uterus akan menyebabkan berkurangnya pengaliran O2 ke placenta dan demikian pula ke janin. Gangguan yang timbul pada akhir kehamilan atau persalinan hampir selalu disertai anoksia/hipoksia janin dan berakhir dengan asfiksia neonatus dan bayi mendapat perawatan yang adekuat dan maksimal pada saat lahir. 5 . atau tetani uterus karena obat  Hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan  Hipertensi pada eklamasia b.

cacat bawaan. kecanduan obat pada ibu. dismatur. kehamilan ganda. perdarahan trimester II / III. kompres tali pusat pada persalinan sungsang antara janin dan jalan lahir. sehingga aliran darah ke otak pun akan menurun. Pada saat bayi bernafas alveoli akan mengembang sehingga cairan paru-paru akan berganti dengan udara. anemia. Pada saat kelahiran diperlukan tekanan yang besar untuk mengeluarkan cairan tersebut sehingga paru-paru dapat berkembang untuk pertama kalinya. E. kontraksi uterus dapat mempercepat pengeluaran cairan. oligohidramnion. g. KPD > 24 jam. pemakaian anastesi umum. sebagian cairan paru masuk rongga perivaskuler dan diabsorbsi ke dalam aliran darah dan limfe paru-paru. ibu dengan DM. Dalam keadaan hamil. KOMPLIKASI Komplikasi yang muncul pada asfiksia neonatus antara lain : a. Faktor Intra partum Sectio caesaria. dapat terjadi pada keadaan tali pusat menumbung. alveoli janin berisi cairan yang dibentuk dalam paru-paru. PATOFISIOLOGI Dalam kehidupan intrauterin paru-paru tidak berperan dalam pertukaran gas. Faktor neonatus Depresi pusat pernafasan pada BBL dapat terjadi karena pemakaian obat anestesia yang berlebihan pada ibu. Bayi yang tidak pernah bernafas dapat diasumsi bahwa pangembangan alveoli tidak terjadi dan tetap terisi cairan. d. Masalah pengeluaran cairan paru terjadi pada bayi yang paru-parunya tidak berkembang dengan baik saat pernafasan pertama. Faktor antepartum Umur ibu > 35 tahun. Melakukan pernafasan buatan pada bayi seperti ini diperlukan tekanan tambahan. persalinan kurang bulan. e. Pernafasan pertama memerlukan tekanan 2-3 kali lebih tinggi daripada pernafasan selanjutnya. riwayat IUFD infeksi pada ibu. keadaaan 6 . kehamilan kurang bulan. F. Pada saat proses persalinan. Ini dapat dilihat pada bayi lahir dengan apnea. Edema otak & Perdarahan otak Pada penderita asfiksia dengan gangguan fungsi jantung yang telah berlarut sehingga terjadi renjatan neonatus. tali pusat melilit leher.

tetapi di luar his kembali lagi kepada keadaan semula. ini akan menyebabkan hipoksia dan iskemik otak yang berakibat terjadinya edema otak. akan tetapi apabila frekuensi turun sampai di bawah 100 kali permenit di luar his. dan lebih-lebih jika tidak teratur. Denyut jantung janin Frekuensi normal ialah antara 120 dan 160 denyutan/menit. akan tetapi pada presentasi kepala mungkin menunjukkan gangguan oksigenisasi dan harus diwaspadai. Koma Apabila pada pasien asfiksia berat segera tidak ditangani akan menyebabkan koma karena beberapa hal diantaranya hipoksemia dan perdarahan pada otak. b. Anuria atau oliguria Disfungsi ventrikel jantung dapat pula terjadi pada penderita asfiksia. Peningkatan kecepatan denyut jantung umumnya tidak banyak artinya. Di beberapa klinik elektrokardigraf janin digunakan untuk terus-menerus menghadapi keadaan denyut jantung dalam persalinan. Adanya 7 . Kejang Pada bayi yang mengalami asfiksia akan mengalami gangguan pertukaran gas dan transport O2 sehingga penderita kekurangan persediaan O2 dan kesulitan pengeluaran CO2 hal ini dapat menyebabkan kejang pada anak tersebut karena perfusi jaringan tak efektif. selama his frekuensi ini bisa turun. Diagnosis hipoksia janin dapat dibuat dalam persalinan dengan ditemukannya tanda-tanda gawat janin. d. yang disertai dengan perubahan sirkulasi. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya hipoksemia pada pembuluh darah mesentrium dan ginjal yang menyebabkan pengeluaran urine sedikit. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Asfiksia yang terjadi pada bayi biasanya merupakan kelanjutan dari hipoksia janin. Tiga hal yang perlu mendapat perhatian yaitu : 1. c. hal ini juga dapat menimbulkan perdarahan otak. hal itu merupakan tanda bahaya. Mekonium dalam air ketuban Mekonium pada presentasi sungsang tidak ada artinya. 2. Pada keadaan ini curah jantung akan lebih banyak mengalir ke organ seperti mesentrium dan ginjal. G. keadaan ini dikenal istilah disfungsi miokardium pada saat terjadinya.

USG ( Kepala ) f. Penilaian APGAR score g. mengusap atau mengelus tubuh. b. Gula darah d. Bila perlu lakukan ventilasi tekanan positif. Beberapa pemeriksaan diagnostik yang dilakukan untuk mendiagnosis adanya asfiksia pada bayi (pemeriksaan diagnostik) yaitu: a. Lakukan rangsangan taktil.2 hal itu dianggap sebagai tanda bahaya gawat janin mungkin disertai asfiksia. Pemeriksaan pH darah janin Dengan menggunakan amnioskop yang dimasukkan lewat serviks dibuat sayatan kecil pada kulit kepala janin. Pemeriksaan EGC dan CT. Menghisap mulut kemudian hidung kalau perlu trachea c. tungkai dan kepala bayi. Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan yang dikenal dengan ABC resusitasi : 1. 8 . Berat bayi e. Beri rangsangan taktil dengan menyentil atau menepuk telapak kaki.Lakukan penggosokan punggung bayi secara cepat. Analisa gas darah b. Memastikan saluran nafas terbuka : a. dan diambil contoh (sampel) darah janin. Adanya asidosis menyebabkan turunnya pH.Scan H. mekonium dalam air ketuban pada presentasi kepala dapat merupakan indikasi untuk mengakhiri persalinan bila hal itu dapat dilakukan dengan mudah. Bila perlu masukan ET untuk memastikan pernapasan terbuka 2. Meletakan bayi dalam posisi yang benar b. Apabila pH itu turun sampai di bawah 7. PENATALAKSANAAN MEDIS Tindakan untuk mengatasi asfiksia neonatorum disebut resusitasi bayi baru lahir yang bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup bayi dan membatasi gejala sisa yang mungkin muncul. Darah ini diperiksa pH-nya. Elektrolit darah c. 3. Memulai pernapasan : a.

diberikan pula glukosa 15-20 % dengan dosis 2-4ml/kgBB. koreksi dengan bikarbonat natrium 2-4 mEq/kgBB. cara terbaik dengan intubasi endotrakeal lalu diberikan O2 tidak lebih dari 30 mmHg. Pengawasan suhu b. bila setelah 3 kali inflasi tidak didapatkan perbaikan pernapasan atau frekuensi jantung. sambil diperhatikan gerakan dinding toraks dan abdomen. 9 . Usaha pernapasan biasanya mulai timbul setelah tekanan positif diberikan 1-3 kali. Kedua obat ini disuntikan kedalam intra vena perlahan melalui vena umbilikalis. jika tindakan ini tidak berhasil bayi harus dinilai kembali. maka masase jantung eksternal dikerjakan dengan frekuensi 80- 100/menit. bila dalam waktu 30-60 detik tidak timbul pernapasan spontan. mungkin hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan asam dan basa yang belum dikoreksi. reaksi obat ini akan terlihat jelas jika ventilasi paru sedikit banyak telah berlangsung. ventilasi sederhana dengan kateter O2 intranasal dengan aliran 1-2 lt/mnt. Asfiksia ringan dan sedang Stimulasi agar timbul reflek pernapsan dapat dicoba. Bila bayi memperlihatkan gerakan pernapasan spontan. Tindakan khusus a. Asfiksia berat Resusitasi aktif harus segera dilaksanakan. Rangsang untuk menimbulkan pernafasan 2. Tindakan umum a.3. Kemudian dilakukan gerakan membuka dan menutup nares dan mulut disertai gerakan dagu keatas dan kebawah dengan frekuensi 20 kali/menit. bayi diletakkan dalam posisi dorsofleksi kepala. langkah utama memperbaiki ventilasi paru dengan pemberian O2 dengan tekanan. Tindakan ini diselingi ventilasi tekanan dalam perbandingan 1:3 yaitu setiap kali satu ventilasi tekanan diikuti oleh 3 kali kompresi dinding toraks. ventilasi aktif harus segera dilakukan. b. Asphiksia berat hampir selalu disertai asidosis. Pembersihan jalan nafas c. Mempertahankan sirkulasi darah : Rangsang dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara kompresi dada atau bila perlu menggunakan obat-obatan Cara resusitasi dibagi dalam tindakan umum dan tindakan khusus : 1.

 Mata : sklera tak ikterik. Tindakan dinyatakan tidak berhasil jika setelah dilakukan berberapa saat terjadi penurunan frekuensi jantung atau perburukan tonus otot. apabila 3 menit setelah lahir tidak memperlihatkan pernapasan teratur. sehingga ventilasi paru dengan tekanan positif secara tidak langsung segera dilakukan. Pengkajian a) Identitas orang tua b) Identitas bayi baru lahir :  Tanggal lahir……………jam…. I. usahakan mengikuti gerakan tersebut. meskipun ventilasi telah dilakukan dengan adekuat. Perdarahan ………………  Lama persalinan kala II : ………………  Ketuban lama pecah : warna……….. LLA.  Jenis kelamin……………  Kelahiran tunggal / ganda  Lahir hidup / mati  Ukuran : BB.. ubun-ubun besar sudah menutup. sebelumnya mulut penolong diisi dulu dengan O2. LD. konjungtiva tak anemis 10 . ventilasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan dari mulut ke mulut atau dari ventilasi ke kantong masker. bikarbonat natrium dan glukosa dapat segera diberikan. LK. Pada ventilasi dari mulut ke mulut. ventilasi dilakukan dengan frekuensi 20-30 kali permenit dan perhatikan gerakan nafas spontan yang mungkin timbul. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN 1.  Apgar score:………. intubasi endotrakheal harus segera dilakukan. ventilasi dihentikan jika hasil tidak dicapai dalam 1-2 menit. PB.Bau………… d) Pemeriksaan fisik  Tanggal………jam….  Keadaan umum tampak lemah  Kepala : bentuk mesocephal. c) Riwayat Persalinan :  Cara persalinan………ditolong oleh…………atas indikasi……………Persalinan di……………  Lama persalinan kala I : …………….

ada retraksi dada  Frekuensi nafas < 30 kali/menit.d terpapar lingkungan dingin c. Resiko infeksi b. belum napas  Telinga : bentuk simetris. tak ada kotoran  Mulut : bibir sianosis. atau apena (henti napas > 20 detik)  Jantung : denyut jantung < 100 kali/menit  Paru : masih terdengar suara nafas tambahan ( ronkhi basah +)  Abdomen : meteorismus + tali pusat berwarna putih dan masih basah  Kulit : warna kulit sianosis  Ekstremitas : tak ada tonus otot. membran mukosa tak kering  Leher : tak ada pembesaran kelenjar tiroid  Dada : bentuk simetris. tonus otot sedikit / lemah  Refleks : tak ada reflek moro 2.  Hidung : bentuk simetris. nampak megap-megap. Hipotermi b.d kegagalan neurologik 11 . Diagnosa Keperawatan Masalah diagnosa keperawatan yang sering muncul : a. ada cuping hidung.d tindakan infasif d. Pola makan bayi tidak efektif b. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hipoventilasi b.

kesimetrisan dada. diharapkan pola napas bayi  Buka jalan napas Batasan karakteristik : efektif dengan kriteria :  Posisikan bayi untuk memaksimalkan  Bernapas menggunakan otot napas Status Respirasi : Ventilasi (0403) : ventilasi dan mengurangi dispnea tambahan  Pernapasan pasien 30-60X/menit  Auskultasi suara napas. respirasi kusmaul. irama. Intervensi No Diagnosa Keperawatan Tujuan ( NOC ) Intervensi ( NIC ) 1. retraksi dada dan alat bantu pernapasan  Monitor adanya cuping hidung  Monitor pada pernapasan: bradipnea. 12 . catat adanya suara  Dispnea  Pengembangan dada simetris tambahan  Napas pendek  Irama pernapasan teratur  Identifikasi bayi perlunya pemasangan alat  Frekwensi napas < 25 kali / menit  Tidak ada retraksi dada saat bernapas jalan napas buatan atau > 60 kali / menit  Inspirasi dalam tidak ditemukan  Keluarkan sekret dengan suction  Saat bernapas tidak memakai otot napas  Monitor respirasi dan ststus oksigen bila tambahan memungkinkan  Bernapas mudah tidak ada suara napas Monitor Respirasi (3350) : tambahan  Monitor kecepatan.d hipoventilasi. selama…X 24 jam. kedalaman dan upaya bernapas  Monitor pergerakan. Pola napas tidak Setelah dilakukan tindakan keperawatan Manajemen Jalan Napas (3140) : efektif b. hiperventilasi. takipnea. 3.

apnea  Monitor adanya penggunaan otot diafragma  Auskultasi suara napas. 2. selama…X 24 jam hipotermi teratasi de-ngan  Pindahkan bayi dari lingkungan yang dingin Batasan karakteristik : indicator : ke tempat yang hangat (di dalam incubator  Pucat Termoregulasi Neonatus (0801) : atau di bawah lampu sorot)  Kulit dingin  Suhu axila 36-37˚ C  Bila basah segera ganti pakaian bayi dengan  Suhu tubuh di bawah rentang  RR : 30-60 X/menit yang hangat dan kering.d terpapar lingkungan Setelah dilakukan tindakan keperawatan Pengobatan Hipotermi (3800) : dingin. Resiko infeksi Setelah dilakukan tindakan keperawatan Mengontrol Infeksi (6540) : Faktor Resiko : selama…X 24 jam bayi diharapkan terhin-dar  Bersihkan box / incubator setelah dipakai bayi  Prosedur invasif dari tanda dan gejala infeksi dengan indicator : lain  Ketidak adanya pera-watan imun Status Imun (0702) :  Pertahankan teknik isolasi bagi bayi ber- buatan  RR : 30-60X/menit penyakit menular  Malnutrisi  Irama napas teratur  Batasi pengunjung 13 .  Kuku sianosis  Tidak menggigil apatis.  Pengisian kapiler lambat  Bayi tidak gelisah  Monitor status pernapasan  Bayi tidak letargi  Monitor intake/output 3. lemah. beri selimut normal  Warna kulit merah muda  Monitor suhu bayi  Menggigil  Tidak ada distress respirasi  Monitor gejala hipotermi : fatigue. perubahan warna kulit. Hipotermi b. cheyne stokes. catat area penurunan dan ketidakadanya ventilasi dan bunyi napas.

 Suhu 36-370 C  Instruksikan pada pengunjung untuk cuci  Integritas kulit baik tangan sebelum dan sesudah berkunjung  Integritas mukosa baik  Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci  Leukosit dalam batas normal tangan  Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan keperawatan  Pakai sarung tangan dan baju sebagai pelindung  Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat  Ganti letak IV perifer dan line kontrol dan dressing sesuai ketentuan  Tingkatkan intake nutrisi  Beri antibiotik bila perlu. Mencegah Infeksi (6550)  Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal  Batasi pengunjung  Skrining pengunjung terhadap penyakit menular  Pertahankan teknik aseptik pada bayi beresiko 14 .

dan drainase  Dorong masukan nutrisi yang cukup  Berikan antibiotik sesuai program 4.  Bila perlu pertahankan teknik isolasi  Beri perawatan kulit pada area eritema  Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan. Pola makan bayi tidak efektif b.  Cek peristaltik usus menelan dan bernafas  Monitor terhadap muntah / distensi abdomen  Tidak mampu dalam memulai atau  Cek residu 4-6 jam sebelum pemberian menunjang penghisapan efektif enteral 15 .d Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama Enteral Tube Feeding (1056) : kegagalan neurologik … X 24 jam pola makan bayi efektif  Pasang NGT / OGT Batasan karakteristik :  Monitor ketepatan insersi NGT / OGT  Tidak mampu dalam menghisap. panas.

16 .

IOWA Outcomes Project. Nursing Interventions Clasification (NIC). b. DAFTAR PUSTAKA a. edisi 2. edisi 2. Mosby. 2000. Mosby. IOWA Outcomes Project.K. 17 . 2000. Nursing Outcomes Clasification (NOC).