You are on page 1of 35

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KONDISI

EFUSI PLEURA
Makalah ini diajukan untuk Tugas Praktik Komprehensif

Disusun Oleh :

Rina Hapsari 109115008

PROGRAM STUDI D III FISIOTERAPI
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH CILACAP
TAHUN 2018

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang telah memberikan
rahmat beserta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini
yang berjudul “Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kondisi Efusi Pleura”. Makalah
ini disusun guna memenuhi salah satu tugas Praktik Klinis Fisioterapi.
Tidak lupa penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan dan pembuatan makalah
ini. Semoga segala bantuan yang telah diberikan mendapat balasan dari Allah
SWT.
Penulis menyadari makalah ini masih banyak kekurangan, baik dari segi
isi maupun sistematika. Oleh karena itu, penulis sangat berterima kasih apabila
ada kritik dan saran untuk perbaikan dan kesalahan makalah ini.
Harapan penulis, semoga makalah ini bermanfaat bagi siapapun yang
membacanya dalam upaya peningkatan wawasan wacana kesehatan.
Akhir kata penulis hanya dapat mengucapkan terimakasih dan semoga
Allah selalu melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya kepada kita semua. Aamiin.

Cilacap, April 2018

Penulis

iii

.....Status Klinis...Saran ................................................Latar Belakang . 20 Daftar Pustaka. iv BAB I PENDAHULUAN 1...............................1....................................................... 21 iv ................................................................1 Definisi ............................................................................ 20 4..4 Etiologi .......1................................................................. 19 BAB IV SIMPULAN DAN SARAN 4........................................................... 8 2.... 6 2..................................................... 3 2..................................................2.........................1........................1..... iii Daftar Isi..............1........Problematika Fisioterapi .............................................1..................................................... ii Kata Pengantar ............................................Manfaat Penulisan .......................Simpulan ......................................................................................3................................Tujuan Penulisan .......... ......................................................5 Patofisiologi ......................................................................................................6 Tanda dan Gejala .................1....................... 2 1...........3...2.............................Kajian Teori .................. 7 2... 10 3.......................... 2 1......................................... ........1........3 Klasifikasi .......2............. 8 BAB III PEMBAHASAN 3....................................................... 3 2.............1...Pembahasan Kasus ................................................... 7 2......................................................4......................... 1 1....... DAFTAR ISI Lembar Pengesahan ..... .........................................................................................................................2 Anatomi dan Fisiologi .........Penatalaksanaan Fisioterapi ........................................................................ 2 BAB II KAJIAN TEORI 2.....................................2................................................ 6 2. 4 2.....................................................Rumusan Masalah ..1....................................... ......................

Efusi pleura merupakan keadaan di mana terjadinya penumpukan cairan yang berlebih di dalam kavum pleura (Simanjuntak. Rongga atau ruang antara dinding dada dan paru-paru. 2006 dalam Iswandi. Insiden efusi pleura yang tinggi terdapat pada beberapa data di rumah sakit Indonesia. Kondisi ini dikenal sebagai efusi pleura (Bram. Prevalensi efusi pleura di Indonesia mencapai 2. seperti penyakit pernafasan. Hal ini membatasi kemampuan paru-paru dalam berkembang dan mengempis serta karenanya manusia kesulitan untuk bernafas. 2014 dalam Permana. dalam tubuh manusia. Cairan ini sangat penting karena bertindak sebagai pelumas antara dinding dada dan paru-paru ketika kita bernapas. penulis tertarik untuk menulis makalah dengan judul “Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kondisi Efusi Pleura” 1 .2012). disebut pleura dan cairan tersebut dinamakan cairan pleura. Salah satu penyakit pernafasan yang terjadi di masyarakat adalah efusi pleura. Maka dari itu. 2016).7 % dari penyakit infeksi saluran napas lainnya (Depkes RI. Ada lapisan tipis cairan di antara paru-paru dan dinding dada. pengurangan spasme dan pengurangan sputum pada pasien dengan kondisi efusi pleura. Meskipun begitu masih banyak penyakit yang timbul di masyarakat. BAB I PENDAHULUAN 1. peningkatan ekspansi sangkar thorax. 2014 dalam Iswandi. dimana cairan ini terakumulasi.1 Latar Belakang Kesehatan merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan manusia.000 penduduk di negara-negara industri dengan penyebarannya tergantung dari etiologi penyakit yang mendasarinya.2012). Fisioterapi berperan dalam penurunan nyeri. Prevalensi efusi pleura di dunia diperkirakan sebanyak 320 kasus per 100. Peningkatan abnormal dalam jumlah cairan pleura menyebabkan dinding dada terpisah dari paru-paru.

Bagaimana pengaruh Deep Breathing Exercise dan Myofascial Release terhadap penurunan nyeri? b. Menjelaskan pengaruh pengaruh Deep Breathing Exercise dan Myofascial Release terhadap penurunan nyeri b.4 Manfaat Penulisan Dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai Efusi Pleura dan proses penatalaksanaan tindakan Fisioterapi pada kasus Efusi Pleura dengan modalitas Deep Breathing Exercise. Mobilisasi sangkar thorax dan Latihan meniup balon terhadap peningkatan ekspansi sangkar thorax dan mengurangi sesak nafas c.1. Bagaimana pengaruh Chest Therapy dan postural drainage terhadap pengurangan sputum ? 1. Menjelaskan pengaruh Deep Breathing Exercise. Menjelaskan pengaruh Chest Therapy dan postural drainage terhadap pengurangan sputum 1. Chest Therapy dan Postural Drainage.3 Tujuan Penulisan a. Menjelaskan pengaruh Myofascial Release terhadap penurunan derajat spasme d. 2 . Bagaimana pengaruh Deep Breathing Exercise . Bagaimana pengaruh Myofascial Release terhadap penurunan derajat spasme ? d. Mobilisasi sangkar thorax dan Latihan meniup balon terhadap peningkatan ekspansi sangkar thorax dan mengurangi sesak nafas ? c.2 Rumusan Masalah a. Mobilisasi Sangkar Thorax. Myofascial Release.

2012).1 Kajian Teori 2.1 Paru dengan efusi pleura (sumber : mesothelioma uk. Gambar 2. darah. Efusi pleura adalah kondisi yang ditandai oleh penumpukan cairan di antara dua lapisan pleura. 2014) Water Seal Drainage (WSD) adalah Suatu sistem drainage yang menggunakan water seal untuk mengalirkan udara atau cairan dari cavum pleura atau rongga pleura. Pleura merupakan membran yang memisahkan paru-paru dengan dinding dada bagian dalam. yaitu efusion yang berarti ekstravasasi cairan kedalam jaringan atau rongga tubuh. eksudat. dan pus (Diane. transudat. 2000 dalam Iswandi.2012). Namun ketika cairan tersebut berlebihan dan menumpuk. Cairan yang diproduksi pleura ini sebenarnya berfungsi sebagai pelumas yang membantu kelancaran pergerakan paru-paru ketika bernapas. Sehingga dapat disimpulkan efusi pleura merupakan ekstravasasi cairan yang terjadi diantara lapisan viseralis dan parientalis. maka bisa menimbulkan gejala-gejala tertentu (Iswandi.1 Definisi Efusi pleura berasal dari dua kata.1. Rongga pleura dalam keadaan normal berisi sekitar 10-20 ml cairan yang berfungsi sebagai pelumas agar paru-paru dapat 3 . Efusi pleura dapat berupa cairan jernih. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. sedangkan pleura yang berarti membran tipis yang terdiri dari dua lapisan yaitu pleura viseralis dan pleura parietalis.

2012). Paru-paru dibungkus oeh selaput selaput yang bernama pleura. Pleura dibagi menjadi dua : 1. terdiri dari 3 lobus (belah paru). Pleura merupakan membran tipis. Pada mediastinum depan terletak jantung. Permukaan datar paru menghadap ke tengah rongga dada atau kavum mediastinum. Paru kiri dibagi oleh sebuah tisuda ke dalam dua lobus atas dan bawah. lobus superior. dan lobus inferior. Masing-masing paru berbentuk kerucut. lobus pulmo dekstra superior.1. sedangkan paru-paru kiri sekitar 560 gram. Kapasitas paru-paru dapat dibedakan sebagai berikut: 4 . 2009 dalam Iswandi. terdiri dari. datarannya menghadap ke tengah rongga dada/kavum mediastinum. yang dekat dengan permukaan paru dan lapisan parietal menutupi permukaan dalam dari dinding dada paru. Kapasitas paru-paru merupakan kesanggupan paru-paru dalam menampung udara didalamnya.belahan yang lebih kecil bernama segment. 2.2 Anatomi Dan Fisiologi Paru-paru terletak pada rongga dada. Pada bagian tengah terdapat tampak paru-paru atau hillus paru-paru dibungkus oleh selaput yang tipis disebut Pleura. bergerak dengan lancar saat bernapas. Paru kanan dibagi oleh dua buah fisura kedalam tiga lobus atas. pulmo sinester. Berat paru-paru kanan sekitar 620 gram. yaitu selaput paru yang melapisi bagian dalam dinding dada. Pleura viseral (selaput dada pembungkus). transparan yang menutupi paru dalam dua lapisan : Lapisan viseral. 2. lobus medialis. Pleura parietal.paru yaitu: paru-pau kanan. tiap lobus tersusun oleh lobulus. yaitu selaput paru yang langsung membungkus paru-paru. Cairan yang melebihi normal akan menimbulkan gangguan jika tidak bisa diserap oleh pembuluh darah dan pembuluh limfe (Syahruddinet al. dua buah segment pada lobus medialis tiga buah segmen pada lobus inferior. Pada bagian tengah itu terdapat tampuk paru-paru atau hilus. Paru-paru kiri mempunyai 10 segment yaitu: lima buah segment pada lobus superior. tiap-tiap lobus terdiri dari belahan. tengah dan bawah. Paru-paru kiri. dan lobus inferior.

Satu bagian melekat kuat pada paru dan bagian lainnya pada dinding rongga toraks. proses ekspirasi merupakan proses pasif. Sedangkan pada fase ekspirasi. otot interkostalis sebelah dalam. Kapasitas total yaitu jumlah udara yang dapat megisi paru-paru pada inspirasi sedalam dalamnya.paru akan menurun.1. otot pektoralis minor. Pada proses tersebut. sedangkan proses inspirasi merupakan proses aktif (yaitu terjadi kontraksi otot). Kapasitas vital yaitu jumlah udara yang dapat dikeluarkan setelah ekspirasi maksimal. Pada saat istirahat. Fungsi paru secara umum yaitu untuk memfasilitasi proses pertukaran oksigen dan karbondioksida. Secara normal. Pleura merupakan kantung tertutup yang terbuat dari membran serosa yang di dalamnya mengandung cairan serosa. paru- paru dilapisi oleh pleura. Saat inspirasi. Otot-otot pernapasan merupakan sumber kekuatan untuk menghembuskan udara. otot sternokleidomastoides. tekanan di sekitar paru. Dengan adanya peningkatan rongga toraks. Otot-otot di sekitar paru-paru seperti otot interkostal dan diafragma mengalami kontraksi saat terjadi inspirasi. dan otot interkostalis sebelah luar mengalami kontraksi sehingga menekan diafragma ke bawah dan mengangkat rongga dada untuk membantu masuknya udara ke dalam paru. Bagian pleura yang melekat kuat pada paru disebut pleura viseralis dan lapisan paru yang membatasi rongga toraks disebut pleura parietalis. sehingga membentuk dua lapisan penutup. Paru terinvaginasi (tertekan masuk ke dalam) lapisan ini. Pertukaran udara masuk dan keluar akan menyebabkan peningkatan dan penurunan volume rongga toraks. paru-paru tidak mengalami kontraksi tetapi mengalami peningkatan dan penurunan volume. Untuk menjalankan fungsinya dengan baik. 5 . dan otot abdominal mengalami kontraksi. Diafragma merupakan otot utama yang ikut berperan meningkatkan volume paru. dan selanjutnya paru-paru akan mengembang dan udara dari luar akan masuk atau terhisap ke dalam paru-paru. otot skalenes. 2. otot serratus anterior. otot-otot tranversal dada. sehingga mengangkat diafragma dan menarik rongga dada untuk mengeluarkan udara dari paru. otot-otot pernapasan mengalami relaksasi.

Efusi pleura Eksudat Eksudat ini terbentuk karena penyakit dari pleura itu sendiri yang berkaitan dengan peningkatan permaebilitas kapiler atau drainase limfatik yang kurang. Sedangkan efusi pelura 6 . Efusi pleura transudatif disebabkan oleh meningkatnya tekanan dalam pembuluh darah atau rendahnya kadar protein dalam darah. Paru-paru memerlukan kekuatan setempat yang sebanding dengan tegangan permukaannya untuk mendapatkan luas permukaan difusi yang besar. Tegangan permukaan ini merupakan daya tarik yang lebih besar molekul cairan jika dibandingkan dengan molekul cairan dan udara. a. sindroma nefrotik. penurunan onkotik (hipoalbumin) dan tekanan negatif intra pleura yang meningkat. tergantung dari mekanisme terbentuknya serta profil kimia cairan efusi tersebut.1. dan pleuritis.3 Klasifikasi Efusi Pleura Secara umum diklasifikasikan sebagai transudat dan eksudat.hipoalbuminemia.4 Etiologi Efusi pleura umumnya dibagi menjadi dua. Proses kembang kempis paru (kembali ke bentuk semula) dikarenakan adanya elastic recoil. yang terdiri dari dua komponen jaringan yaitu komponen elastis yang menjaga elastisitas jaringan dan menjaga kekuatan yang dapat merubah bentuk permukaan udara-air alveoli. 2. Efusi pleura Transudat Pada efusi pleura jenis transudat ini keseimbangan kekuatan menyebabkan pengeluaran cairan dari pembuluh darah. b. yaitu transudatif dan eksudatif. karsinoma. Komponen yang berfungsi mendukung kerja paru yaitu serat saraf penghubung (diatur oleh kolagen dan elastin) dan surfaktan. Biasa terjadi pada penderita gagal jantung. Biasa terjadi pada penderita pneumonia bakterialis. Hal ini mengakibatkan cairan merembes ke lapisan pleura. Mekanisme terbentuknya transudat karena peningkatan tekanan hidrostatik (CHF). 2.1. infark paru. dan sirosis hepatis.

5 Patofisiologi Didalam rongga pleura teradapat ± 5 ml cairan yang cukup untuk membasahi seluruh permukaan pleura parietalis dan pleura visceralis. dan penyumbatan pembuluh darah atau pembuluh getah bening. Sebagian cairan ini diserap kembali oleh kapiler paru dan pleura visceralis. Apabila antara produk dan reabsorpsinya tidak seimbang (produksinya meningkat atau reabsorpsinya menurun) maka akan timbul efusi pleura. tumor. Di antaranya adalah memiliki riwayat tekanan darah tinggi (hipertensi). Sejumlah faktor risiko dapat meningkatkan risiko seseorang untuk menderita efusi pleura. sehingga terjadi keseimbangan antara produksi dan reabsorpsi. cedera pada paru-paru. demam. Dalam keadaan normal. 2. atau terjadi 7 .  Emboli paru.  Pneumonia.6 Tanda dan Gejala Gejala-gejala efusi pleura antara lain adalah nyeri dada saat menarik dan membuang napas. seperti:  Kanker paru-paru. merokok. Cairan ini dihasilkan oleh kapiler pleura parietalis karena adanya tekanan hidrostatis. selalu terjadi filtrasi cairan ke dalam rongga pleura melalui kapiler pada pleura parietalis tetapi cairan ini segera direabsorpsi oleh saluran limfe. mengonsumsi minuman beralkohol.  Sirosis atau penurunan fungsi hati.1.1. dan daya tarik elastis. Efusi pleura sering kali terjadi sebagai komplikasi dari beberapa jenis penyakit lainnya. dan sesak napas.  Tuberkulosis (TBC). sebagian kecil lainya (10-20 %) mengalir ke dalam pembuluh limfe sehingga pasase cairan ini mencapai 1 liter seharinya. 2. eksudatif disebabkan oleh peradangan. tekanan koloid. batuk. dan terkena paparan debu. Gejala biasanya terasa jika efusi pleura sudah memasuki level menengah hingga parah.

3 Penatalaksanaan Fisioterapi 1) Deep Breathing Exercise Deep breathing exercise atau bisa disebut juga Thoracic Expansion Exercise (TEE) merupakan program treatment yang dapat membantu meningkatkan expansi thorax . 2. dapat dilakukan bersamaan dengan 8 . m. 3. Permasalahan yang timbul dapat di uraikan sebagai berikut: 1.rhomboid. Disability Kemampuan pasien untuk berinteraksi atau bersosialisasi dengan masyarakat berkurang. Inspirasi bisa dengan penahanan nafas selama 3 detik pada waktu inspirasi sebelum dilakukan ekspirasi. Impairment Adanya spasme atau ketegangan otot bantu pernafasan yaitu pada m. 2. Jika penumpukan cairan masih tergolong ringan biasanya penderita tidak akan merasakan gejala apa-apa. dan m. Deep breathing exercise atau bisa disebut juga Thoracic Expansion Exercise (TEE) berfungsi untuk mengurangi sesak nafas karena mengefektifkan kerja dari otot-otot pernapasan sehingga dapat memperbaiki ventilasi paru yang menurun. pectoralis mayor.2 Problematika Fisioterapi Pada kondisi efusi pleura terdapat beberapa macam problematik-problematik yang timbul. latihan nafas dalam yang menekan pada fase inspirasi. 2) Mobilisasi Thoraks Mobilisasi sangkar thoraks adalah latihan yang meliputi gerakan-gerakan pada trunk dan anggota gerak atas. adanya nyeri pada luka bekas incisi pemasangan water seal drainage (WSD). m. peradangan. intercostalis externus. m. sternocleidomastoideus. adanya sesak nafas. Functional limitation Pasien mengalami penurunan aktivitas fungsional dan aktifitas sehari-hari. pectoralis minor. m. 2. serta adanya penurunan ekspansi sangkar thorak. diafragma.

Breathing exercise bertujuan untuk meningkatkan fungsi paru dan menambah jumlah udara yang dapat dipompakan oleh paru sehingga dapat menjaga kinerja otot-otot bantu pernapasan dan dapat menjaga serta meningkatkan mobilitas sangkar thorax. Sehingga otot-otot bantu pernafasan yang mengalami ketegangan menjadi relaks. 5) Postural Drainage Postural drainage adalah salah satu intervensi untuk melepaskan sekresi dari berbagai bidang segmen paru dengan menggunakan pengaruh gaya gravitasi. 9 . membantu mengurangi kerja otot pernapasan dan membetulkan pertukaran gas serta oksigen yang menurun. Aplikasi MRT ini berupa kontrol dan fokus pada tekanan. Chest therapy adalah teknik yang bertujuan untuk mengelurakan secret yang berlebihan atau material yang teraspirasi dari dalam saluran pernafasan. Breathing exercise dibuat untuk melatih otot-otot pernapasan dan mengembalikan distribusi ventilasi. material atau benda-benda yang masuk ke saluran pernafasan menyebabkan kerusakan pada saluran pernafasan yang diakibatkan oleh resistensi saluran pernafasan dan usaha dalam bernafas sehingga menjadi hiperinflasi. 4) Chest therapy Chest therapy adalah sekumpulan tehnik fisioterapi sebagai usaha untuk membersihkan jalannya nafas akibat menurunnya fungsi mucocilliary clearance atau batuk. mengurangi spasme. mobilitas jaringan dan fungsi normal sendi. PD dilakukan untuk mencegah terkumpulnya secret dalam saluran nafas. memulihkan jaringan fasia. breathing exercise. Tetapi juga mempercepat pengeluran secret sehingga tidak terjadi atelektasis. mengurangi nyeri. 6) Myofascial Release Myofascial release technique (MRT) yaitu merupakan prosedur yang mengkombinasikan tekanan manual terhadap bagian otot yang spesifik dan penggunaan stretching secara simultan.berperan untuk meregangkan atau memajangkan struktur miofasia dan otot dengan tujuan melepas adhesion atau perlengketan.

1 Status Klinis Tanggal Pembuatan Laporan : 21 April 2018 Kondisi : Efusi Pleura I. BAB III PEMBAHASAN 3. DIAGNOSA MEDIS : Efusi Pleura Post WSD H1 dengan riwayat Post Laparatomy H7 B.950 %  Eosinofil 2.36 10^3/ µL  Trombosit 400 10^3/ µL  MCV 79. DATA MEDIS RUMAH SAKIT A.92 %  Limfosit 13.583 %  USG: 1. Mofifloxacin 400 mg / 24 jam 10 . TERAPI UMUM :  Inf.9 %  Neutrofil 75.9 pg  MCHC 33.65 %  Monosit 6.5 g/dL  Hemoglobin 12.3 fL  MCH 26. KETERANGAN UMUM PENDERITA Nama : Ny. Cholecystitis dengan cholelithiasis C. R Umur : 33 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Agama : Islam Alamat : Purwokerto II.902 %  Basofil 0. CATATAN KLINIS :  Albumin 2.46 10^6/ µL  Leukosit 20. Massa cystic intra abdominal belum jelas 2.0 / µL  Eritrosit 4.

RIWAYAT PRIBADI : Pasien adalah ibu rumah tangga dengan dua anak e. PEMERIKSAAN SUBYEKTIF 1. Nyeri leher 2) SISTEM KARDIOVASKULAR : tidak ada keluhan nyeri dada. Ketorolac 30 mg / 8 jam  Inj. Nyeri di rasakan saat pasien batuk dan bergerak. adanya nyeri dibagian dada kiri karena pemasangan WSD. batuk dan sulit mengeluarkan dahak. RUJUKAN FISIOTERAPI DARI DOKTER : Pasien mendapat rujukan dari dokter untuk mendapatkan tindakan fisioterapi III. Tanggal 20 April 2018 pasien dipasang WSD karena adanya penumpukan cairan di paru kiri. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU :  Batuk lama  Post Laparatomy di DKT Purwokerto d. Ranitidin 50 mg / 12 jam D.  Inj. SEGI FISIOTERAPI A. KELUHAN UTAMA : pasien mengeluhkan adanya nyeri dibagian perut karena luka bekas operasi. adanya sesak nafas. batuk dan sulit mengeluarkan dahak. Nyeri berkurang saat pasien diam atau saat pasien beristirahat. Saat ini pasien mengeluhkan adanya nyeri di dada kiri karena pemasangan WSD. b. tidak ada keluhan jantung berdebar-debar dan keringat dingin 3) SISTEM RESPIRASI : adanya batuk berdahak 4) SISTEM GASTROINSTESTINAL : BAB pasien tidak lancar 5) SISTEM UROGENITAL : BAK pasien menggunakan kateter 6) SISTEM MUSKULOSKELETAL : adanya nyeri di daerah pemasangan WSD 11 . ANAMNESIS a. RIWAYAT KELUARGA :  Tuberculosis (-)  Jantung (-)  Diabetes Melitus (+)  Hipertensi (+) f. Kemudian pada tanggal 16 April pasien di rujuk ke RSUD Banyumas untuk menjalani operasi laparatomy di RSUD Banyumas dan menjalani rawat inap. Omz 40 mg / 12 jam  Inj. ANAMNESA SISTEM 1) KEPALA DAN LEHER : tidak ada keluhan pusing. c. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG : Pada tanggal 15 maret 2018 pasien menjalani operasi laparatomy batu empedu di DKT Purwokerto.

Raut wajah pasien tampak pucat dan menahan nyeri 2. TANDA VITAL 1) TEKANAN DARAH : 147/103 mmHg 2) DENYUT NADI : 141 kali per menit 3) FREK. Tampak sianosis pada kuku. PEMERIKSAAN FISIK a. Nafas pasien terengah – engah. AUSKULTASI : Ronki positif pada paru sinistra lobus apikal segmen anterior f. kelopak mata 3. PERKUSI : Hipersonor e. pola nafas cepat dan pendek 4. Terlihat dipasang infus. dan selang WSD disebelah kiri  Dinamis 1. 7) SISTEM NERVORUM : tidak ada keluhan kesemutan. kateter. PERNAFASAN : 38 kali per menit 4) TEMPERATUR :- 5) TINGGI BADAN :- 6) BERAT BADAN :- b. tebal dan nyeri menjalar 2. nyeri (+) 12 . Pasien terlihat menahan nyeri saat pergerak anggota gerak atau pindah posisi. Tampak luka post OP Leparatomy terbalut kasa 5. INSPEKSI :  Statis 1. c. full ROM. bibir. PALPASI :  Suhu pasien normal  Tidak ada pitting oedem  Pengembangan paru sisi kanan lebih dominan  Adanya spasme otot dada  Adanya nyeri tekan di daerah pemasangan WSD d. GERAKAN DASAR 1) GERAKAN AKTIF :  Pasien mampu menggerakkan anggota gerak atas secara aktif.

Tes nyeri dengan VAS  Nyeri diam : 0 cm  Nyeri tekan : 7.2 cm b. INTRA PERSONAL & INTER PERSONAL :  Kognitif : pasien mampu melakukan perintah dari terapis  Intrapersonal : pasien memiliki semangat untuk latihan  Interpersonal : pasien mampu berkomunikasi dengan baik dengan terapis maupun dengan keluarga h.  Pasien mampu menggerakkan anggota gerak bawah secara aktif. belum mampu transfer ambulasi dan ADL secara mandiri  Lingkungan aktifitas : lingkungan aktifitas pasien mendukung untuk kesembuhan pasien. nyeri (+) 2) GERAKAN PASIF :  Anggota gerak atas pasien mampu di gerakkan secara pasif  Anggota gerak bawah pasien mampu di gerakkan secara pasif 3) GERAKAN AKTIF MELAWAN TAHANAN : pasien belum mampu melawan tahanan yang diberikan oleh terapis. Tes Derajat Sesak Nafas dengan Skala Borg : 3 (sedang) Keterangan :  0 : tidak ada  0. full ROM. PEMERIKSAAN SPESIFIK a.5 : tidak nyata  1 : sangat ringan  2 : ringan 13 . KOGNITIF. KEMAMPUAN FUNGSIONAL & LINGKUNGAN AKTIFITAS :  Kemampuan fungsional : saat ini pasien hanya mampu tiduran di bed.8 cm  Nyeri gerak : 6. 3. Tes pengukuran sangkar thorax dengan midline Inspirasi Ekspirasi Selisih Axilla 83 cm 81 cm 2 cm Intercosta 5 85 cm 83 cm 2 cm Processus 82 cm 80 cm 2 cm Xyphoideus c. g.

 Vigorous Actiity (aktifitas berat) 15-16 : dalam bernafas tidak nyaman. nafas pendek dan dapat berbicara 1 kalimat.  Moderate activity (aktifitas sedang) 13-14 : dapat melakukan latihan beberapa jam. Mudah bernafas dan mudah di ajak berbicara  Very Light Activity (aktif sangat ringan) 6-11 : dapat melakukan aktiftas seperti biasa seperti tidur. tidak bisa berbicara  Very Hard actiity (aktifitas sangat berat) 17-18 : sangat sulit untuk latihan pemeliharaan. DIAGNOSIS FISIOTERAPI 1. nafas berat dapat melakukan pembicaraan pendek/singkat.  Light activity (aktif ringan) 9-12 : terasa mampu melakukan pemeliharaan beberapa jam. sangat berat d. Frekuensi bernafas sedikit dan hanya mampu berbicara 1 kata.  3 : sedang  4 : sedikit berat  5 : berat  6  7 : sangat berat  8  9  10 : sangat. menonton tv. Tes Rate of Perecieved Exertion (RPE) : 15 (aktifitas berat) Keterangan :  Max Effort Activity 19-20 : terasa hampir tidak memungkinkan untuk bepergian. B. IMPAIRMENT :  Adanya nyeri pada area pemasangan WSD  Adanya penurunan ekspansi sangkar thorax  Adanya spasme pada otot pernapasan  Adanya sesak nafas  Adanya dahak 14 . susah bernafas. mengendarai mobil dan lain-lain.

EDUKASI : pasien diberi edukasi untuk melakukan latihan seperti yang diajarkan oleh terapis j. PERENCANAAN EVALUASI :  Evaluasi nyeri dengan VAS  Evaluasi sangkar thorax dengan midline  Evaluasi sesak nafas dengan skala borg  Evaluasi kemampuan aktifitas fungisonal dengan RPE 15 . TUJUAN JANGKA PANJANG :  Mengembalikan aktifitas fungsional pasien tanpa disertai rasa nyeri  Melanjutkan tujuan jangka pendek b. TEKNOLOGI ALTERNATIF :  Infra Red  Nebulizer c. TEKNOLOGI YANG DILAKSANAKAN :  Deep Breathing Exercise  Mobilisasi sangkar thorax  Myofacial release  Chest therapy  Postural Drainage  Latihan meniup balon  Mobilisasi sendi (aktif exercise) b. TUJUAN TERAPI a. FUNCTIONAL LIMITATION :  Pasien belum mampu melakukan aktifitas fungsional seperti transfer ambulasi dan ADL secara mandiri. TINDAKAN FISIOTERAPI a. DISABILITY :  Kemampuan pasien untuk berinteraksi atau bersosialisasi dengan masyarakat berkurang 3. TUJUAN JANGKA PENDEK :  Mengurangi nyeri pada area pemasangan WSD  Meningkatkan ekspansi sangkar thorax  Mengurangi spasme otot pernafasan  Mengurangi sesak nafas  Mengeluarkan sputum 2. i. 2. PERENCANAAN TINDAKAN FISIOTERAPI 1.

PELAKSANAAN TERAPI 1. siku. lalu melakukan ekspirasi melalui mulut dengan cara meniup balon  Lakukan sampai balon itu mengembang dan lakukan sesuai kemampuan pasien secara bertahap f. dan hip secara bergantian  Lakukan 8 kali pengulangan tiap regio 2. kemudian tahan 2 detik lalu lakukan ekspirasi secara perlahan melalui mulut  Lakukan sebanyak 3 kali pengulangan b. Myofacial Release  Posisikan pasien dengan nyaman  Lakukan release pada otot-otot pernafasan d. Mobilisasi Sangkar Thorax  Instruksikan pasien untuk menarik nafas sambil melakukan gerakan fleksi shoulder (mengangkat kedua lengan keatas) lalu turunkan lengan sambil menghembuskan nafas secara perlahan  Lakukan sebanyak 5 kali pengulangan c. lalu latihan duduk tegak tanpa bersandar 16 .k. Mobilisasi sendi  Lakukan mobilsasi sendi dengan cara memberikan instruksi kepada pasien untuk menggerakan anggota gerak atas dan anggota gerak bawah secara aktif dari mulai kepala. TERAPI KE 3 Latihan sama seperti terapi ke 2 Positoning tidur miring kanan dan miring kiri. TERAPI KE 2 Latihan sama seperti terapi ke 1 a. e. bahu. Chest Therapy dan Postural Drainage  Posisikan pasien dengan nyaman  Lakukan clapping pada dada pasien  Pada saat clapping posisikan pasien untuk miring ke arah kanan. Positioning  Lakukan positioning tidur miring ke kanan lalu miring ke kiri  Kemudian posisikan pasien untuk duduk tegak bersandar pada bed 3. ankle. knee. TERAPI KE 1 a. Deep Breathing Exercise  Posisikan pasien dengan nyaman  Instruksikan pasien untuk melakukan inpirasi dalam. wrist. Latihan meniup balon  Instruksikan pasien untuk melakukan inspirasi dalam.

8 7.4 4.5 : tidak nyata  1 : sangat ringan  2 : ringan  3 : sedang  4 : sedikit berat  5 : berat  6  7 : sangat berat  8 17 .3 6.2 5. TERAPI KE 4 Latihan sama seperti terapi ke 2 a. Evaluasi pengembangan sangkar thoraks dengan mitline (selisih) T1 T2 T3 T3 Axilla 2 cm 2 cm 3 cm 3 cm ICS 5 2cm 2 cm 3 cm 3 cm Processus 2 cm 2 cm 3 cm 3 cm xypoideus 3. Skala BORG T1 T2 T3 T4 3 3 2 2 Keterangan :  0 : tidak ada  0.2 Nyeri Gerak 6.2 EVALUASI TERAPI : 1.4.7 2.7 5. Transfer Ambulasi  Setelah pasien diposisikan duduk tegak di atas bed lalu latih pasien untuk duduk ongkang-ongkang ditepi bed l. PROGNOSIS :  Quo ad sanam : baik  Quo ad vitam : baik  Quo ad cosmeticam : baik  Quo ad fungsionam : sedang 3.6 5. Nyeri dengan VAS (dalam cm ) T1 T2 T3 T4 Nyeri Diam 0 0 0 0 Nyeri Tekan 7.

mengendarai mobil dan lain-lain. nafas pendek dan dapat berbicara 1 kalimat. 18 . sangat berat 4. Mudah bernafas dan mudah di ajak berbicara  Very Light Activity (aktif sangat ringan) 6-11 : dapat melakukan aktiftas seperti biasa seperti tidur. Frekuensi bernafas sedikit dan hanya mampu berbicara 1 kata. menonton tv. nafas berat dapat melakukan pembicaraan pendek atau singkat  Light activity (aktif ringan) 9-12 : terasa mampu melakukan pemeliharaan beberapa jam.  9  10 : sangat. susah bernafas. tidak bisa berbicara  Very Hard actiity (aktifitas sangat berat) 17-18 : sangat sulit untuk latihan pemeliharaan. Skala RPE (Rate of Perceived Exertion) T1 T2 T3 T4 15 13 13 9 Keterangan :  Max Effort Activity 19-20 : terasa hampir tidak memungkinkan untuk bepergian.  Vigorous Actiity (aktifitas berat) 15-16 : dalam bernafas tidak nyaman.  Moderate activity (aktifitas sedang) 13-14 : dapat melakukan latihan beberapa jam.

sternocleidomastoideus. dan m. 2010). pectoralis mayor. Penurunan nyeri dengan menggunakan modalitas deep breathing exercise dan Myofascial Release digunakan untuk general rileksasi. 2012). yaitu :  Adanya nyeri pada area pemasangan WSD  Adanya penurunan ekspansi sangkar thoraks  Adanya spasme pada otot pernapasan  Adanya sesak nafas  Adanya sputum Modalitas yang digunakan untuk menurunkan nyeri pada area pemasangan WSD adalah Deep Breathing Exercise dan Myofascial Release. 19 . 2010). Pada saat melakukan pernapasan otot-otot bantu napas mengeluarkan energi yang lebih sehingga terjadi spasme pada otot bantu napas khususnya m.2 Pembahasan Kasus Permasalahan yang timbul pada kasus ini .3. Lalu modalitas yang digunakan untuk meningkatkan ekspansi sangkar thoraks dan mengurangi sesak nafas adalah Deep Breathing Exercise. maka dengan bantuan modalitas breathing exercise maka otot bantu napas dapat berkurang karena terjadinya rileksasi otot-otot bantu pernapasan yang dilakukan secara rutin dan teratur. mengurangi nyeri luka karena incisi pemasangan water seal drainage (WSD) karena dapat memperlancar peredaran darah maka nyeri dapat berkurang (Iswandi. serta karena sifat otot yang digunakan secara terus-menerus akan membantu mempercepat menghilangkan spasme otot sehingga sesak napas dapat berkurang (Rab. m. Kemudian Chest Therapy dan Postural Drainage bertujuan untuk memudahkan pengeluaran secret atau sputum. Mobilisasi sangkar thoraks dan latihan meniup balon yang bertujuan untuk meningkatkan fungsi paru dan menambah jumlah udara yang dapat dipompakan oleh paru sehingga dapat menjaga kinerja otot-otot bantu pernafasan dan dapat menjaga serta meningkatkan ekspansi sangkar thorak (Rab. Apabila otot rileks maka spasme juga akan berkurang. pectoralis minor.

Myofascial Release. penurunan derajat spasme. Bagi pasien Dalam hal ini pasien disarankan untuk tetap semangat melakukan latihan rutin seperti yang diajarkan terapis. 4. penurunan derajat sesak nafas. Chest Therapy dan Postural Drainage sebanyak 4 kali terapi hasilnya adanya perubahan seperti penurunan nyeri. pengurangan sputum serta peningkatan kemampuan fungsional. peningkatan ekspansi sangkar thoraks. Setelah mendapatkan penanganan Fisioterapis dengan menggunakan modalitas Deep Breathing Exercise. adanya sesak nafas. Mobilisasi Sangkar Thorax. Kepada keluarga pasien disarankan untuk tetap memberikan dukungan dan motivasi kepada pasien. serta pasien itu sendiri) agar dapat tercapai hasil yang optimal dalam proses penyembuhan. spasme pada otot pernafasan. 2. Bagi Masyarakat Diharapkan dalam hal ini masyarakat mengetahui apa itu Efusi Pleura dan memahami upaya penanganannya. keluarga pasien. dan adanya sputum. 20 . BAB IV SIMPULAN DAN SARAN 4. penurunan ekspansi sangkar thoraks.R berusia 33 tahun dengan kondisi Efusi Pleura memiliki masalah adanya nyeri pada area pemasangan WSD.2 Saran Mengenai permasalahan pada pasien Efusi Pleura sangat diperlukan kerja sama dari berbagai pihak (tim medis.1 Simpulan Seorang pasien yang bernama Ny. 1.

Penyebab Efusi Pleura di Kota Metro pada tahun 2015.2014. Djamil pada tahun 2015. Tabrani. 2018. Padang : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Permana. 2017. Padang : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Iswandi. Lampung : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung Rab. Kadar Interferon Gamma (IFN-Γ) Cairan Pleura Pada Efusi Pleura Tuberkulosis Dan Non-Tuberkulosis (Tesis). Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Efusi Pleura di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta. F. Ilmu Penyakit Paru. Karakteristik dari pasien efusi pleura di RSUP Dr. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Mesothelioma uk. dkk. 2012. 2015. Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta Khairani. Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta Puspita. 2010. Ario Wirawan Salatiga. M. Available at : http://www.mesothelioma. 2016. 2012.Shortness of Breath-Pleural Effusion. 2016. Nofriandi.com/information-and-support/about- mesothelioma/symptoms/shortness-of-breath-pleural-effusion/ accessed on May 7th . Penatalaksanaan Fisioterapi pada efusi pleura di RS Paru dr.uk. Karakteristik Efusi Pleura di Rumah Sakit Persahabatan. Jakarta: Trans Info Media 21 . DAFTAR PUSTAKA Anonim. dkk.

22 .

23 .

24 .

25 .

26 .

27 .

28 .

29 .

30 .

31 .