You are on page 1of 31

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA ORGANIK

Acara: IV
Protein
Disusun oleh:
Nama : Yunisha Febriani

No. Mhs : 140801460

Hari/Tanggal : Jumat, 30 April 2015

Asisten : Florencia Grace Ferdiana

LABORATORIUM TEKNOBIO PANGAN
FAKULTAS TEKNOBIOLOGI
UNIVERSITAS ATMA JAYA
YOGYAKARTA

KREDIT NILAI LAPORAN
PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK
Judul Acara: Protein

NILAI NILAI NILAI
NO KRITERIA
STANDART REVISI I ACC

Cover - - -

Lembar Pengesahan - - -

PENDAHULUAN

JUDUL PERCOBAAN 2

TUJUAN PRAKTIKUM 3

II TINJAUAN PUSTAKA 10

III METODE

ALAT DAN BAHAN 5

CARA KERJA 5

III HASIL DAN PEMBAHASAN 40

IV KESIMPULAN 10

V DAFTAR PUSTAKA 5

*** Lampiran - - -

*** Format - - -

JUMLAH 80

Nama Mahasiswa : Yunisha Febriani
No Mhs : 140801460
Mengetahui,
Asisten

I. PENDAHULUAN

A. Judul
Protein

B. Tujuan
1. Mengenal beberapa sifat protein.
2. Mengetahui percobaan yang digunakan untuk menguji sifat protein
serta hasil reaksinya.

Struktur Umum Asam Amino (Elrod dan Stansfield. Protein Protein adalah polimer panjang yang tersusun atas asam-asam amino. 2007). lingkungan yang semakin asam cenderung menetralisasi gugus-gugus amino yang basa (Elrod dan Stansfield. Semua asam amino yang terionisasi secara biologis dengan sempurna. TINJAUAN PUSTAKA 1. Struktur Protein Menurut Chang (2008). kecuali prolin. terdapat dua puluh jenis asam amino berbeda pada protein. Struktur primer Struktur primer adalah sebutan untuk urutan asam amino khas dari rantai polipeptida. II. yang seringkali disebut sebagai “residu” (terutama selama degradasi protein untuk memastikan sekuens-sekuens asam aminonya) yang terikat secara kovalen oleh ikatan-ikatan peptida. Gambar 1. . yaitu: . memiliki struktur umum seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1. Seiring meningkatnya pH melebihi kenetralan (pH 7). 2007) 2. Karbon-α adalah atom sentral tempat sebuah gugus amino (NH3+) dan sebuah gugus karboksil (COO–) melekat. dan seiring menurunnya pH di bawah kenetralan. struktur protein biasanya dibagi menjadi empat tingkat organisasi. lingkungan yang semakin basa cenderung menetralisasi gugus- gugus karboksil yang asam dari protein. Secara alamiah.

Struktur Kuartener Molekul protein dapat terdiri atas lebih dari satu rantai polipeptida. Protein globular berbentuk bulat dan pada umumnya dapat larut dalam air. . Protein sederhana dibedakan menjadi dua. larutan asam atau basa. Struktur sekunder Struktur sekunder meliputi bagian-bagian dari rantai polipeptida yang distabilkan oleh suatu pola teratur dari ikatan-ikatan hidrogen antara gugus CO dan gugus NH dari tulang punggung. . 3. Mukoprotein adalah gabungan antara protein dan karbohidrat yang terdapat dalam bagian putih telur. berdasarkan strukturnya. Bagian yang bukan protein ini disebut gugus prostetik. Struktur Tersier Struktur tersier berbeda dari struktur sekunder karena asam amino yang mengambil bagian dalam interaksi ini mungkin jaraknya berjauhan dalam rantai polipeptida. Penggolongan Protein Menurut Marzuki. Protein gabungan Protein gabungan adalah protein yang berikatan dengan senyawa bukan protein. dan nucleoprotein. Jenis protein gabungan antara lain mukoprotein. (2010). dan protamina. α-heliks. globumin. . histon. Jadi. Susunan keseluruhan rantai polipeptida dinamakan struktur kuartener. dkk. Contoh protein serat adalah keratin sutera alam. lipoprotein. . misalnya. Protein serat mempunyai bentuk molekul panjang dan mempunyai sifat tidak larut dalam air serta sukar diuraikan enzim. selain berbagai interaksi di dalam rantai yang menghasilkan struktur sekunder dan tersier. yaitu: . serum darah. yaitu protein serat dan protein globular. dan urine wanita hamil. Protein sederhana Protein sederhana adalah protein yang hanya terdiri atas molekul-molekul asam amino. protein dapat dibedakan menjadi dua golongan besar. serta etanol. Beberapa jenis protein globular di antaranya adalah albumin. kita juga harus mempertimbangkan interaksi di antara rantai. Lipoprotein . dan kolagen.

protein yang larut dalam air akan membentuk ion yang mempunyai muatan positif dan negatif. Ionisasi Seperti asam amino. dkk. protein mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: . eter. Titik isoelektrik mempunyai arti penting karena berhubungan erat dengan sifat fisik dan sifat kimia. sedangkan di bawah titik isoelektrik protein bermuatan positif. Pada pH di atas titik isoelektrik protein bermuatan negatif. berikut adalah gambaran umum dari fungsi dan jenis protein: . Viskositas larutan protein tergantung pada jenis protein. Nukleoprotein terdiri atas protein yang bergabung dengan asam nukleat. Protein struktural (fungsi pendukung) Contohnya serangga dan laba-laba menggunakan serat sutera. Denaturasi Denaturasi merupakan perubahan konformasi alamiah menjadi suatu konformasi yang tidak menentu. gerakan mekanik. Kolgaen dan elastin menyediakan suatu struktur serat dalam jaringan ikat hewan. . 4. Sifat-sifat Protein Menurut Marzuki. Viskositas Viskositas adalah tahanan yang timbul oleh adanya gesekan antara molekul-molekul di dalam zat cair yang mengalir. seperti tendon . adanya alkohol. dan detergen. . bentuk molekul. masing- masing untuk membentuk kokon dan sarangnya. Pada umumnya penggumpalan protein didahului oleh proses denaturasi yang berlangsung baik pada titik isoelektrik protein tersebut. Proses denaturasi ini dapat berlangsung secara reversible maupun tidak. aseton. Larutan protein dalam air mempunyai viskositas atau kekentalan yang relatif lebih besar daripada viskositas air sebagai pelarutnya. kemolaran. dan suhu larutan. (2010). Protein mempunyai titik isoelektrik. adalah gabungan antara protein yang larut dalam air dengan lipid. (2002). Denaturasai dapat terjadi karena pengaruh pH. Jenis-jenis Protein Menurut Campbell. 5. dkk.

Protein kontraktil (fungsi pergerakan) Aktin dan miosin bertanggung jawab atas pergerakan otot. Asam Amino Asam amino karboksilat. ternyata hanya dua puluh asam amino yang secara alami merupakan bahan pembangun protein. Protein transpor (fungsi mengangkut substansi lain) Hemoglobin. Namun. tanduk. . Protein reseptor (fungsi respons sel terhadap rangsangan kimiawi) Reseptor yang ada di dalam membran sel-sel syaraf akan mendeteksi sinyal kimiawi yang dilepaskan oleh sel-sel syaraf lainnya. adalah asam alkanoat yang sebuah atom H atau lebih dari gugus alkilnya diganti dengan gugus amino (–NH2). Kasein. protein susu. Protein transpor lainnya mengangkut molekul melalui membran sel. dan ligament. mengangkut oksigen dari paru-paru ke bagian tubuh lain. merupakan sumber utama asam amino untuk bayi mamalia. Antibodi menyerang bakteri dan virus. Keratin adalah protein rambut. bulu. Protein hormonal (fungsi koordinasi aktivitas organisme) Insulin. protein yang mengandung besi dalam darah vertebrata. Di alam terdapat sekitar 300 jenis asam amino. . untuk selanjutnya kita sebut “asam amino” saja (tanpa akhiran karboksilat). suatu hormon yang disekresi oleh pankreas. yang menggerakkan banyak sel. dan tempelan lain pada kulit. Protein simpanan/cadangan (fungsi cadangan asam amino) Ovalbumin adalah protein pada putih telur. . 6. Protein enzimatik (fungsi percepatan reaksi-reaksi kimiawi secara selektif). Protein kontraktil bertanggung jawab atas pergerakan atau getaran silia dan flagela. . Tumbuhan memiliki protein cadangan dalam bijinya. Beberapa asam amino yang bukan . . . Protein pertahanan (fungsi perlindungan terhadap penyakit). . membantu mengatur konsentrasi gula dalam darah vertebrata. Enzim pencernaan menghidrolisis polimer dalam makanan. yang digunakan sebagai sumber asam amino bagi embrio yang sedang berkembang.

2009). terbentuk molekul yang memiliki dua jenis muatan. Molekul seperti ini. mempunyai peranan penting dalam proses metabolisme (Sumardjo. Akibatnya.merupakan satuan pembentuk protein. gugus amino harus ditulis di kanan. Apabila tidak ada tanda apa-apa. Struktur Asam Amino Menurut Syabana (2011). 2009). . ada gugus yang dapat melepaskan ion H+ dan ada gugus yang dapat menerima ion H+. untuk konfigurasi L. dikenal sebagai ion zwitter atau kadang-kadang disebut juga sebagai ion dipolar seperti pada Gambar 2: Gambar 2. yang berarti gugus-gugus di sekeliling atom karbon alfa mempunyai konfigurasi yang sama seperti konfigurasi L-gliseraldehida. baik yang terdapat dalam keadaan bebas atau yang terikat pada sel jaringan. gugus amino harus ditulis di kiri. 7. (2) Ion zwitter (Syabana. apabila gugus karboksil ditulis di atas. sedangkan untuk konfigurasi D. Struktur Asam Amino: (1) Tidak terionisasi. 2011) Semua asam amino yang berasal dari hidrolisis protein mempunyai konfigurasi L. yaitu muatan positif dan muatan negatif. pada asam amino. asam amino yang dimaksud adalah konfigurasi L (Sumardjo. Seperti yang terdapat pada gambar 3. Bentuk konfigurasi D atau L jarang dicantumkan di awal nama asam amino.

2009). Kecuali glisin. Oleh karena itu. Titik lebur yang tinggi ini menggambarkan besarnya energi yang diperlukan untuk merusak kekuatan ionik yang mempertahankan kisi- kisi kristal. Pada umumnya. dan serin mempunyai rasa manis. hidroksiprolin. semua larutan asam amino. Pada umumnya. . dapat menunjukkan kegiatan optis (Sumardjo. Walaupun kelarutannya tidak sama. sebagian besar asam amino dapat larut dalam larutan alkali sehingga membentuk garam. tetapi tidak dapat larut dalam pelarut-pelarut nonpolar. Glisin. alanin. asam-asam amino dapat larut dalam pelarut-pelarut polar. Gambar 3. valin. Struktur Asam Amino Bentuk D dan L (Sumardjo. dan ada yang tidak mempunyai rasa. sedangkan leusin tidak mempunyai rasa. 2009) 8. Di antara sekian banyak asam amino yang menyusun protein. semua asam amino mempunyai sebuah atau lebih atom karbon simetris. rasa pahit. prolin. Sifat Asam Amino Menurut Sumardjo (2009). Sebagian besar asam amino mengalami sedikit peruraian apabila dipanaskan mendekati titik lebur atau titik lelehnya. Isoleusin dan arginin mempunyai rasa pahit. titik lebur asam amino di atas 200OC. Asam amino mempunyai titik lebur yang tinggi. beberapa mempunyai rasa manis. kecuali glisin.

Terdapat dua jenis asam amino yang menyusun protein yaitu asam amino esensial dan asam amino non esensial. Reaksi biuret positif untuk semua jenis protein dan hasil-hasil antara hidrolisisnya jika masih mempunyai dua atau lebih ikatan peptida. misalnya gelatin. Jenis Asam Amino Kualitas suatu protein dapat dinilai dari perbandingan asam-asam amino yang menyusun protein tersebut. sedangkan asam amino non esensial adalah asam amino yang dapat disintesis oleh tubuh manusia dengan bahan baku asam amino lainnya (Sitompul. Reaksi ini berjalan dengan sempurna pada pH 5-7 dan sedikit pemanasan. Warna merah muda atau merah jambu terbentuk apabila larutan protein yang diselidiki mempunyai molekul yang kecil. Asam amino esensial merupakan asam amino yang tidak dapat disintesa oleh tubuh sehingga harus dimasukkan dari luar tubuh manusia. 2004). 10. 2009). misalnya proteosa dan pepton. 2009). hasil antara hidrolisisnya. dan hasil akhir hidrolisisnya. Reaksi ini berlaku untuk semua protein. Uji Biuret Jika larutan protein encer yang dibuat basa dengan larutan natrium hidroksida ditambah dengan beberapa tetes larutan tembaga sulfat encer. . Warna violet terbentuk apabila larutan protein yang diselidiki mempunyai molekul yang besar. . Uji Ninhidrin Zat pengoksidasi ninhidrin dengan larutan protein membentuk larutan berwarna ungu sampai biru. Uji Protein Beberapa cara yang dapat digunakan dalam reaksi pengujian protein yaitu: . larutan tersebut akan terbentuk warna merah muda sampai violet. dan negatif untuk asam amino (Sumardjo. yaitu asam amino. Khusus untuk asam amino prolin dan hidroksi prolin akan terbentuk warna kuning (Sumardjo. Reaksi ini disebut reaksi biuret sebab warna senyawa yang terbentuk sama dengan warna senyawa biuret bila ditambah larutan natrium hidroksida dan tembaga sulfat.9.

. Pada beberapa percobaan. Adamkiewicz menerbitkan sebuah deskripsi tetang fenomena perubahan warna sebagai akibat dari reaksi kuat asam belerang pada albumin dalam telur. Karbohidrat yang terbentuk dengan alfanaftol dalam alkohol dan asam sulfat pekat memberikan warna violet (Sumardjo. . yang akhirnya berubah menjadi jingga jika ditambah dengan larutan basa. Uji Belerang Uji belerang ini memberikan hasil positif terhadap protein yang mengandung asam amino yang memiliki gugus belerang. Apabila asam belerang dicampurkan dengan campuran protein dari asam glioksalik. Proses ini dapat terjadi jika kulit terkena asam nitrat pekat. dan metionin. pada penggojlokannya secara hati-hati dengan larutan alfanaftol dalam alkohol dan asam sulfat pekat akan membentuk larutan berwarna violet. yang segera menjadi kuning karena terjadinya proses nitrasi ini benzena pada asam amino penyusun kulit (Sumardjo. dan ia meneliti pada beberapa kasus bahwa warna ungu dihasilkan oleh penambahan asam belerang. ia menggunakan asam asetat sebagai pelarut. Pada pemanasan. Uji Molisch Larutan protein majemuk yang mempunyai radikal prostetik karbohidrat. maka akan terbentuk warna merah atau ungu (Fearon. sistin. glikoprotein atau mukoprotein akan mengalami hidrolisis menjadi protein sederhana dan karbohidrat. warna gumpalan putih tersebut akan berubah menjadi kuning. 1920).. Reaksi ini kemudian digunakan untuk mendeteksi keberadaan asam amino triptofan dalam protein melalui warnanya. 2009). proses ini adalah proses nitrasi inti benzena pada asam amino penyusun protein tersebut. Sebenarnya. yaitu glikoprotein atau mukoprotein. . Cara pengujiannya sebagai berikut: larutan protein dan larutan . Uji Adamkiewicz Pada tahun 1874. Pada proses ini. seperti sistein. 2009). Uji Xantoprotein Protein yang mengandung residu asam amino dengan radikal fenil dalam struktur kimianya (protein yang mengandung asam amino fenilalanin atau tirosin) jika ditambahkan dengan asam nitrat pekat akan terbentuk gumpalan warna putih.

yang mana protein bermuatan negatif. Pengendapan akan terjadi apabila protein berada pada daerah alkalis terhadap titik isoelektriknya. sehingga saling menetralkan) kelarutan protein sangat menurun atau mengendap (Simanjuntak dan Silalahi. Uji Pengendapan dengan Asam Senyawa-senyawa asam mempunyai muatan negatif yang besar dapat menetralkan protein yang bermuatan positif. misalnya. . Adanya ion positif dari logam berat. 2003). 2009).NaOH pekat dipanaskan. . . akan terbentuk endapan hitam timbal sulfida (PbS) (Syabana. kemudian ditambahkan larutan timbal asetat. Dasar reaksi ini adalah penetralan muatan. 2009). merkuri klorida atau plumbo asetat dapat menggumpalkan larutan protein encer. Jika protein tersebut mengandung belerang. 2011).5 dimana protein mempunyai muatan positif dan negatif sama. Pada pH iso-elektrik (pH larutan tertentu biasanya berkisar 4 – 4. maka terjadi penetralan dan terjadi garam netral proteinat yang mengendap (Budiman. Gumpalan perak proteinat. membentuk garam yang tidak larut. dapat terjadi apabila larutan protein encer ditambah dengan larutan perak nitrat (Sumardjo. Uji Pengendapan dengan Garam Logam Larutan garam logam berat seperti larutan perak nitrat.

Bahan 1. Reagen Biuret 4. Larutan Pb Asetat 1% 8. Tabung reaksi 4. Bunsen 8. lalu dipanaskan. diamati perubahan setiap sampelnya. Pipet ukur 2. 2. lalu divortex. Larutan HNO3 pekat 10. Pipet tetes 1. III. Larutan CH3COOH glasial 11. Cara Kerja 1. Kertas saring 6. Pemantik 9. Sampel kemudian ditambahkan dengan reagen biuret masing-masing sebanyak 2ml. Cara Kerja Uji Biuret Sampel A (albumin) dan sampel B (triptofan) masing-masing diambil sebanyak 2ml dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Rak tabung reaksi 5. Sampel kemudian ditambahkan dengan reagen Biuret masing-masing sebanyak 2ml. 3. METODE A. Larutan FeCl3 1% 15. Cara Kerja Uji Xantoprotein Sampel A (albumin) dan sampel B (triptofan) masing-masing diambil sebanyak 2ml dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Setelah divortex. Kertas label C. Penjepit 10. Reagen Molisch 5. Larutan CH3COOH 5% 12. Cara Kerja Uji Belerang . Alat B. Larutan ZnSO4 1% 14. Larutan H2SO4 pekat 13. Reagen Ninhidrin 6. Larutan HNO3 5% 9. Larutan NaOH 10% 7. Sampel A (albumin) 2. Setelah dipanaskan. diamati perubahan setiap sampelnya. Sampel B (triptofan) 3. Vortex 7. Pro pipet 3.

lalu ditambah dengan larutan H2SO4 pekat secara hati-hati melalui dinding tabung hingga terbentuk cincin. diamati perubahan setiap sampelnya. . Sampel kemudian ditambahkan dengan reagen Ninhidrin masing-masing sebanyak 2ml. diamati perubahan yang terjadi pada sampel. Setelah dipanaskan. Cara Kerja Uji Molisch Sampel A (albumin) dan sampel B (triptofan) masing-masing diambil sebanyak 2ml dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Sampel A (albumin) dan sampel B (triptofan) masing-masing diambil sebanyak 2ml dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Sampel ditambahkan dengan larutan CH3COOH glasial masing-masing sebanyak 2ml. Sampel kemudian ditambahkan dengan larutan NaOH 10% masing-masing sebanyak 2ml. setiap sampel yang telah dipanaskan kemudian diteteskan ke kertas saring yang sebelumnya sudah diberi 3 tetes larutan Pb Asetat 1% . Cara Kerja Uji Ninhidrin Sampel A (albumin) dan sampel B (triptofan) masing-masing diambil sebanyak 2ml dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. lalu diamati perubahannya. lalu dipanaskan. Sampel kemudian ditambahkan dengan larutan HNO3 5% masing-masing sebanyak 2ml. Diamati perubahan yang terjadi pada kertas saring. Setelah itu. 5. diamati perubahan yang terjadi pada sampel. Sampel ditambahkan dengan reagen Molisch masing-masing sebanyak 2ml. 6. Cara Kerja Uji Adamkiewicz Sampel A (albumin) dan sampel B (triptofan) masing-masing diambil sebanyak 2ml dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. 7. Cara Kerja Uji Pengendapan dengan Asam Sampel A (albumin) dan sampel B (triptofan) masing-masing diambil sebanyak 2ml dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. 4. lalu dipanaskan. Setelah itu. Setelah itu. lalu ditambah dengan larutan H2SO4 pekat sebanyak 2ml.

Setelah divortex. lalu diamati perubahan yang terjadi pada sampel. dan tabung ketiga berisi 4ml sampel ditambah larutan FeCl3 1%. . masing-masing sekitar 4ml. setiap larutan sampel kemudian dibagi rata dalam 3 tabung reaksi. tabung kedua berisi 4ml sampel ditambah larutan Pb Asetat 1%. Cara Kerja Uji Pengendapan dengan Garam Logam Sampel A (albumin) dan sampel B (triptofan) masing-masing diambil sebanyak 10ml dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi.8. lalu divortex. Setiap tabung kemudian dipanaskan di atas bunsen. Tabung pertama berisi 4ml sampel dan ditambah larutan ZnSO4 1%. Sampel kemudian ditambahkan dengan larutan CH3COOH 5% masing-masing sebanyak 2ml.

Hasil Pengujian Triptofan Keterangan Gumpalan / No. Hasil Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan. HASIL DAN PEMBAHASAN A. berikut adalah tabel hasil uji triptofan pada tabel 1. IV. uji pengendapan asam dengan sampel albumin pada tabel 6: Tabel 1. Pengendapan Garam Logam (Sampel Triptofan) Keterangan Gumpalan / No. uji albumin pada tabel 4. Uji Warna Awal Warna Akhir (+ / –) endapan 1 Biuret Putih bening Biru muda – Tidak ada 2 Xantoprotein Putih bening Kuning + Tidak ada 3 Belerang Putih bening Bening – Tidak ada Tabel 2. uji pengendapan asam dengan sampel triptofan pada tabel 3. uji pengendapan garam logam dengan sampel triptofan pada tabel 2. Uji Warna Awal Warna Akhir (+ / –) endapan 1 + ZnSO4 1% Putih bening Putih bening – Tidak ada 2 + Pb Asetat 1% Putih bening Bening + Tidak ada 3 + FeCl3 1% Putih bening Kuning – Tidak ada . uji pengendapan garam logam dengan sampel albumin pada tabel 5.

Hasil Uji Albumin Keterangan Gumpalan / No. Uji Warna Awal Warna Akhir (+ / –) endapan 1 + HNO3 5% Putih bening Putih bening – Tidak ada Cincin 2 Adamkiewicz Putih bening Putih bening + kuning 3 Molisch Putih bening Putih keruh – Tidak ada 4 Ninhidrin Putih bening Biru + Tidak ada Tabel 4. Pengendapan Asam (Sampel Triptofan) Keterangan Gumpalan / No. Pengendapan Garam Logam (Sampel Albumin) Keterangan Gumpalan / No. Tabel 3. Uji Warna Awal Warna Akhir (+ / –) endapan Gumpalan 1 + ZnSO4 1% Putih keruh Putih bening + putih Endapan 2 + Pb Asetat 1% Putih keruh Bening + putih Gumpalan 3 + FeCl3 1% Putih keruh Kuning + putih . Uji Warna Awal Warna Akhir (+ / –) endapan 1 Biuret Putih keruh Ungu + Tidak ada Gumpalan 2 Xantoprotein Putih keruh Putih bening + kuning 3 Belerang Putih keruh Cokelat + Tidak ada Tabel 5.

endapan putih 3 Molisch Putih keruh Putih keruh + Endapan merah 4 Ninhidrin Putih keruh Biru + Ada busa B. dan seiring menurunnya pH di bawah kenetralan. lingkungan yang semakin basa cenderung menetralisasi gugus-gugus karboksil yang asam dari protein. kecuali prolin. lingkungan yang semakin asam cenderung menetralisasi gugus-gugus amino yang basa (Elrod dan Stansfield. yang seringkali disebut sebagai “residu” (terutama selama degradasi protein untuk memastikan sekuens-sekuens asam aminonya) yang terikat secara kovalen oleh ikatan-ikatan peptida. Karbon-α adalah atom sentral tempat sebuah gugus amino (NH3+) dan sebuah gugus karboksil (COO–) melekat. Pengendapan Asam (Sampel Albumin) Keterangan Gumpalan / No. . memiliki struktur umum seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1. Uji Warna Awal Warna Akhir (+ / –) endapan 1 + HNO3 5% Putih keruh Putih keruh + Ada Ada cincin 2 Adamkiewicz Putih keruh Putih keruh + kuning. Seiring meningkatnya pH melebihi kenetralan (pH 7). Pembahasan Protein adalah polimer panjang yang tersusun atas asam-asam amino. 2007). Secara alamiah. terdapat dua puluh jenis asam amino berbeda pada protein. Tabel 6. Semua asam amino yang terionisasi secara biologis dengan sempurna.

Fungsinya. Reaksi protein dengan Cu2+ pada kondisi basa akan menghasilkan senyawa kompleks berwarna ungu. 2007) Uji biuret ini bertujuan untuk mengetahui adanya ikatan peptida dalam suatu larutan. reagen biuret akan menunjukkan ada tidaknya senyawa dengan gugus amnida (-CONH2) dalam larutan. Hal ini dikarenakan biuret bereaksi negatif terhadap asam amino. sedangkan albumin bereaksi positif karena berwarna ungu. Gambar 1. . Perubahan yang terjadi pada sampel triptofan adalah terbentuknya warna biru muda dan tidak ada endapan (sebelumnya berwarna putih bening). dan negatif untuk asam amino (Sumardjo. reagen biuret merupakan larutan hasil dari kondensasi urea (C2H5O2N3. Reaksi biuret positif untuk semua jenis protein dan hasil-hasil antara hidrolisisnya jika masih mempunyai dua atau lebih ikatan peptida. sedangkan pada albumin terbentuk warna ungu dan tidak ada endapan (sebelumnya berwarna putih keruh). Struktur Umum Asam Amino (Elrod dan Stansfield. Perlakuan vortex dilakukan untuk menghomogenkan. Menurut Pudjaatmaka (2002). dan larutan triptofan hanya merupakan asam amino saja dan terdapat sedikit gugus amnida asam. Jika ditinjau dengan teori. sehingga tidak bereaksi. 2009).H2O). hal ini menunjukkan bahwa triptofan bereaksi negatif dengan biuret karena tidak berwarna ungu / merah. sehingga sampel dengan reagen biuret dapat bercampur sempurna.

proses ini adalah proses nitrasi inti benzena pada asam amino penyusun protein tersebut (Sumardjo. Sebenarnya. 2009). protein yang mengandung residu asam amino dengan radikal fenil dalam struktur kimianya (protein yang mengandung asam amino fenilalanin atau tirosin) jika ditambahkan dengan asam nitrat pekat akan terbentuk gumpalan warna putih. Hal ini menunjukkan bahwa kedua sampel bereaksi positif karena keduanya memiliki gugus fenil. yang akhirnya berubah menjadi jingga jika ditambah dengan larutan basa. Fungsi penambahan larutan HNO3 pekat adalah untuk mempercepat proses reaksi larutan triptofan. sedangkan pemanasan berfungsi untuk mempercepat proses reaksi larutan serta memicu terbentuknya warna kuning. terdapat perubahan warna pada kedua sampel.. Berikut adalah gambar reaksi kimia yang terjadi pada Gambar 3: . 2003) Pada uji xantoprotein. Berdasarkan percobaan yang dilakukan. warna gumpalan putih tersebut akan berubah menjadi kuning. Gambar 2. sedangkan pada albumin yang semula berwarna putih keruh berubah menjadi putih bening disertai dengan terbentuknya gumpalan berwarna kuning. Pada triptofan yang semula berwarna putih bening akan berubah menjadi kuning dan tidak ada endapan. Reaksi Reagen Biuret dengan Protein (Hart dkk. Pada pemanasan.

Pemanasan dengan bunsen bertujuan untuk mempercepat reaksi. Reaksi Uji Xantoproteat (Bintang. Triptofan bereaksi negatif karena di dalamnya tidak mengandung unsur belerang. dan pada sampel albumin bereaksi positif sebab saat diteteskan ke kertas saring. kemudian ditambahkan larutan timbal asetat. Berikut adalah reaksi Pb asetat dengan protein: Pb(CH3COO)2  Pb2+ + 2CH3COO– Pb2+ + S2. sedangkan fungsi kertas saring yang ditetesi Pb asetat adalah untuk memberikan ion Pb2+ yang akan mengindikasi adanya sulfur. akan terbentuk endapan hitam timbal sulfida (PbS) (Syabana. larutan garam logam berat seperti larutan perak nitrat. warna kertas saring menjadi cokelat. sistin. Gambar 3. PbS Atau secara keseluruhan reaksinya: SH – CH2 – CH(NH3) – COO + NaOH  Na2S Na2S + Pb(CH3COO)2  PbS Pada uji pengendapan dengan garam logam. 2010) Uji belerang ini memberikan hasil positif terhadap protein yang mengandung asam amino yang memiliki gugus belerang. karena larutan saat diteteskan ke kertas saring semula berwarna putih bening tetap bening. Cara pengujiannya sebagai berikut: larutan protein dan larutan NaOH pekat dipanaskan. Jika protein tersebut mengandung belerang. Fungsi penambahan NaOH 10% adalah mengubah sulfur organik menjadi non organik dan untuk mengoksidasi sintesis larutan. seperti sistein. Albumin dapat bereaksi positif karena mengandung unsur belerang. tidak ada perubahan yang terjadi pada sampel triptofan. dan metionin. 2011). merkuri klorida atau plumbo asetat dapat . Pada percobaan.

tetapi hanya asam amino saja. Reaksinya adalah sebagai berikut: Protein + CH3COOH  protein asetat + H+ Protein asetat + H+ + ZnSO4  Zinc proteinat (endapan) + H2SO4 Protein asetat + H+ + Pb Asetat  Pb proteinat (endapan) + CH3COOH Protein asetat + H+ + FeCl3  Fe proteinat (endapan) + HCl Pada uji pengendapan dengan asam. Adanya ion positif dari logam berat. pada tabung 3 (ditambah FeCl3 1%) juga tidak terjadi perubahan warna dan tidak ada endapan. Dasar reaksi ini adalah penetralan muatan. pada tabung 3 (ditambah FeCl3 1%) juga tidak terjadi perubahan warna dan terbentuk gumpalan putih. dan FeCl3 adalah untuk menetralkan muatan protein dengan ion positif yang dimiliki oleh tiap larutan logam. Triptofan tidak bereaksi karena triptofan bukan protein. Larutan divortex dengan tujuan agar larutan CH3COOH menetralkan secara sempurna larutan yang bersifat basa lemah tersebut. pada tabung 2 (ditambah Pb Asetat 1%) tidak terjadi perubahan warna dan tidak ada endapan. sedangkan albumin dapat bereaksi karena albumin merupakan protein. maka terjadi penetralan dan terjadi garam netral proteinat yang mengendap (Budiman. Pb asetat. uji ini digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya protein dalam larutan triptofan. Pemansan di atas bunsen berfungsi untuk mempercepat proses reaksi.menggumpalkan larutan protein encer. sehingga dapat terjadi endapan. Fungsi penambahan larutan ZnSO4. Saat percobaan dengan sampel triptofan. Gumpalan perak proteinat. Pengendapan akan terjadi apabila protein berada pada daerah alkalis terhadap titik isoelektriknya. pada tabung 2 (ditambah Pb Asetat 1%) tidak terjadi perubahan warna dan terbentuk endapan putih. misalnya. 2009). yang mana protein bermuatan negatif. Pada percobaan dengan sampel albumin. 2009). dapat terjadi apabila larutan protein encer ditambah dengan larutan perak nitrat (Sumardjo. Fungsi dari penambahan larutan HNO3 5% . pada tabung 1 (ditambah ZnSO4 1%) tidak terjadi perubahan warna dan tidak ada endapan. pada tabung 1 (ditambah ZnSO4 1%) tidak terjadi perubahan warna dan terbentuk gumpalan putih. Fungsi penambahan CH3COOH 5% adalah untuk menetralkan larutan yang bersifat basa lemah.

sedangkan albumin bereaksi positif karena terbentuk endapan. larutan protein majemuk yang mempunyai radikal prostetik karbohidrat. Pada saat percobaan. sampel triptofan bereaksi negatif karena tidak menunjukkan perubahan warna serta tidak terbentuk endapan. Tidak ada . Prinsipnya. sementara triptofan hanya asam amino saja. maka larutannya mengendap. Jika disesuaikan dengan teori. yaitu glikoprotein atau mukoprotein. Hal ini disebabkan saat meneteskan larutan H2SO4 tidak hati-hati. Fungsi penambahan H2SO4 pekat dalam reaksi Molisch (dapat digantikan asam kuat lainnya) adalah untuk menghidrolisis ikatan pada sakarida sehingga menghasilkan cincin furfural. Fungsi penambahan larutan CH3COOH glasial adalah sebagai reagen yang akan membentuk asam glioksalat dan untuk mengikat atom-atom pada larutan sehingga larutan dalam suasana asam.adalah untuk mendenaturasi protein atau mengendapkan protein dengan cara perlakuan perubahan pH secara drastis dan juga untuk memurnikan protein (mendapatkan jenis protein dari suatu bahan) atau mengidentifikasi sifat protein. 2009). Bahan utama dalam reaksi molisch adalah peraksi Molisch atau reagen molisch. keduanya bereaksi negatif sebab larutan yang terbentuk tidak berwarna ungu/violet. pada penggojlokannya secara hati-hati dengan larutan alfanaftol dalam alkohol dan asam sulfat pekat akan membentuk larutan berwarna violet (Sumardjo. Uji Molisch digunakan untuk mendeteksi adanya karbohidrat dalam larutan. Penambahan larutan H2SO4 pekat berfungsi sebagai katalis untuk mempercepat kondensasi dan diteteskan perlahan lewat dinding tabung agar terbentuk cincin. Hal ini menjelaskan bahwa albumin adalah protein. Pada percobaan ini. Reaksi kimia yang terjadi adalah sebagai berikut: 2R – CH(NH2) – COOH + HNO3  2R – CH(NH3) – COOH + NO2 + H2O Uji Adamkiewicz digunakan untuk mengetahui terjadinya asam glioksilat. Furfural ini kemudian akan bereaksi dengan reagen Molisch. Reaksi molisch ini didasari oleh reaksi dehidrasi karbohidrat oleh asam sulfat sehingga terbentuk cincin furfural yang berwarna ungu. α-naphthol akan membentuk cincin yang berwarna ungu. kedua sampel menghasilkan cincin berwarna kuning dan pada albumin terdapat gumpalan.

tetapi karena tidak hati-hati saat menambahkan H2SO4 maka mengendap. Reaksinya adalah sebagai berikut: Gambar 4. Perubahan ini menunjukkan reaksi positif karena triptofan dan albumin adalah asam amino. Fungsi dari penambahan reagen ninhidrin adalah sebagai oksidator yang beraksi dengan semua asam amino alpha yang menghasilkan senyawa berwarna biru. Perubahan yang terjadi pada sampel triptofan dan albumin adalah warna awal larutan adalah bening kemudian berubah menjadi biru. sedangkan albumin yang bereaksi positif seharusnya terbentuk cincin ungu. pada albumin dari warna awal larutan bening berubah menjadi adanya endapan cokelat di dasar tabung. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut: . Hal ini menjelaskan bahwa triptofan bereaksi negatif.perubahan yang terjadi pada sampel triptofan. Pemanasan dilakukan untuk memutuskan ikatan peptida. Reaksi Uji Molisch pada Protein Uji Ninhidrin digunakan untuk mengetahui adanya asam amino secara kumulatif dan menetapkan konsentrasinya dalam larutan.

.Gambar 5. Reaksi Uji Ninhidrin pada Protein (Hart dkk. 2003) .

2. albumin bereaksi positif). Uji yang digunakan antara lain uji biuret (triptofan bereaksi negatif. uji belerang (triptofan bereaksi negatif. albumin bereaksi positif). KESIMPULAN Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan. dan uji Ninhidrin (triptofan dan albumin bereaksi positif). albumin bereaksi positif). Sifat protein antara lain jika terlarut dapat menghasilkan ion positif dan negatif. uji Adamkiewicz (triptofan dan albumin bereaksi positif). albumin bereaksi positif). uji pengendapan dengan garam logam (triptofan bereaksi negatif. dapat terdenaturasi. uji pengendapan dengan asam (triptofan bereaksi negatif. albumin bereaksi positif). . uji xantoprotein (triptofan dan albumin bereaksi positif). maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. V. dan mempunyai viskositas yang relatif besar daripada pelarutnya. uji Molisch (triptofan bereaksi negatif.

Erlangga. 2003. Amirullah.txt.B. Diakses tanggal 25 April 2015. S. Campbell. 2007. J. L.. Reece. Chang. Sitompul.E. http://repository.2: The Adamkiewicz Protein Reaction.usu.T. Pustaka As Salam. Schaum’s Outlines: Genetika Edisi Keempat.upi. The Mechanism of The Hopkins-Cole Test for Tryptophan. 2002.. L. Erlangga. I. Sifat Asam Amino. Diakses tanggal 23 April 2015. R.h tml. Syabana. M. 2003.ac. D. Jurnal Teknik Pertanian. J. Jakarta. 2010.. DAFTAR PUSTAKA Bintang. dan Fitriana.D. 9(1): 33-37. Buku Kedokteran EGC. Fearon. Kimia Dasar Jilid 2 Edisi Ketiga. S. A New Colour Test for Glyoxylic Acid. A Study of Some Biochemical Tests No. Erlangga. Jakarta. Analisis Asam Amino Tepung Ikan dan Bungkil Kedelai. Jakarta.F. N. . Elrod.L. 2011.A. dan Mitchell. Simanjuntak. W. Biokimia Teknik Penelitian. Jakarta. 14(5): 548–564. Sumardjo. Marzuki. Erlangga. 2010. Biologi Edisi Kelima Jilid 1.kimia. Craine.G.. dan Stansfield. 2008.. M. 2009. Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran dan Program Strata I Fakultas Bioeksakta. D. Jakarta. dan Silalahi. dan Hart. M.edu/arsipkuliah/web2011/0800521/sifatasamamino. Kimia dalam Keperawatan. Sulawesi Selatan. http://nurul. H.id/bitstream/123456789/3617/3/farmasi- mtsim2.R. Biochemical Journal. Jakarta. 2004.pdf. 1920.J. Erlangga. Kimia Organik: Suatu Kuliah Singkat. W. Penuntun Praktikum Biokimia. Hart.

Pribadi) Uji Biuret (Triptofan) Uji Xantoprotein Uji Xantoprotein (albumin) (Dok.Pribadi) (Dok. Pribadi) (Dok.Pribadi) . Pribadi) Uji Xantoprotein (Triptofan) Uji Belerang Uji Belerang (albumin) (setelah dipanaskan) (ditambah NaOH) (setelah dipanaskan) (Dok. LAMPIRAN Sampel albumin Sampel triptofan Uji Biuret (albumin) (Dok. Pribadi) (Dok. Pribadi) (sebelum dipanaskan) (setelah dipanaskan) (Dok.Pribadi) (Dok.Pribadi) (Dok.

Pribadi) (Dok. Pribadi) (Dok. Pribadi) Uji Adamkiewicz Uji Molisch Uji Molisch (albumin) (albumin) (ditambah H2SO4 pekat) (Dok. Pribadi) (Dok.Pribadi) (Dok. Pribadi) (Dok.Pribadi) (Dok. Pribadi) Uji Pengendapan Uji Pengendapan Uji Adamkiewicz dengan asam (albumin) dengan asam (triptofan) (triptofan) (Dok.Uji Belerang (triptofan) Uji Belerang (albumin) Uji Belerang (triptofan) (setelah dipanaskan) (di kertas saring) (di kertas saring) (Dok.Pribadi) .

Pribadi) (Dok. Pribadi) (Dok. Uji Molisch Uji Ninhidrin (albumin) Uji Ninhidrin (triptofan) (Dok. Pribadi) Uji Pengendapan Uji Pengendapan Uji Pengendapan Garam Logam Garam Logam Garam Logam (albumin + Pb Asetat) (albumin + FeCl3) (triptofan + ZnSO4) (Dok. Pribadi) (Dok. Pribadi) (Dok. Pribadi) Uji Pengendapan Uji Pengendapan Uji Pengendapan Garam Logam Garam Logam Garam Logam (albumin divortex) (triptofan divortex) (albumin + ZnSO4) (Dok. Pribadi) (Dok.Pribadi) (Dok. Pribadi) .

Pribadi) .Uji Pengendapan Garam Logam Uji Pengendapan Garam Logam (triptofan + Pb Asetat) (triptofan + FeCl3) (Dok. Pribadi) (Dok.