You are on page 1of 3

Nama: Christantio B. R.

Legoh
NIM: 1708010080
Penguji: dr. Anselma Dyah Kartikahadi, Sp.KK

1. Definisi pelembab

Pelembab adalah campuran kompleks senyawa kimia yang dibuat dengan tujuan membuat

kulit menjadi lebih lembut dan elastis dengan meningkatkan hidrasi kulit. Mekanisme kerja

pelembab dibagi menjadi 3 yaitu, oklusif, humektan dan emolien.

Oklusif

Oklusif adalah mekanisme kerja pelembab dengan membentuk lapisan film di permukaan

kulit dengan tujuan mencegah hilangnya air dari stratum korneum. Pada umumnya yang

tergolong oklusif adalah lemak dan minyak lemak. Bahan-bahan yang meiliki mekanisme

oklusif merupakan bahan pelembab terbaik tetapi kurang dapat diterima karena berminyak

Contoh: petrolatum, paraffin dan skualen.

Humektan

Humektan adalah mekanisme pelembab dengan cara menarik atau menyerap air. Humektan

dapat membantu menjerat air dari udara yang kemudian dapat berpenetrasi ke dalam kulit,

bila kelembaban termasuk rendah. Humektan dapat juga menarik air dari bagian epidermis

dan dermis yang dapat menyebabkan kulit menjadi kering. Maka sebaiknya penggunaan

humektan dikombinasikan dengan bahan oklusif. Mekanisme humektan yang menarik air

penetrasi ke dalam kulit, menyebabkan pengembangan stratum korneum yang memberikan

persepsi kulit halus dengan sedikit kering. Contoh: gliserin, sorbitol dan urea.

Emolien Mekanisme kerja dari emolien adalah mengisi ruang antara desquamating keratinosit untuk membentuk permukaan halus. Pada paparan pertama terjadi sensitisasi. ada beberapa bahan dengan mekanisme kerja emolien yang juga memiliki mekanisme kerja sebagai humektan dan oklusif. Selain itu. Patogensis Dermatitis Atopik Imunopatogenesis dermatitis atopik dimulai dengan paparan imunogen atau alergen dari luar yang mencapai kulit. Emolien dapat meningkatkan kohesi sel-sel keratinosit sehingga ujung-ujung sel tidak menggulung. Perbedaan DKA dan DKI DKI DKA Etiologi Iritan primer sensitiser Permulaan Penyakit Paparan pertama Paparan ulang Penderita semua orang Penderita yang sensitive/alergik Eflorosensi Batas jelas Batas tak jelas Uji tempel Eritem batas jelas Batas tak jelas Reaksi menurun uji Batas tak jelas reaksi tempel dilepas tetap/bertambah setelah uji tempel dilepas 3. 2. Contoh: lanolin. petrolatum. dimana alergen akan .

sehingga terjadi ikatan antara alergen dengan IgE. sel T akan berdeferensiasi menjadi subpopulasi sel Th2 karena mensekresi IL-4 dan sitokin ini merangsang aktivitas sel B untuk menjadi sel plasma dan memproduksi IgE. prostaglandin D2. Efek kortikosteroid terhadap ekspresi gen ini akan mengurangi pembentukan prostaglandin dan leukotrien.Pada paparan alergen berikutnya IgE telah bersedia pada permukaan sel mast. ditangkap oleh antigen presenting cell untuk kemudian disajikan kepada sel limfosit T untuk kemudian diproses dan disajikan kepada sel limfosit T dengan bantuan molekul MHC kelas II. ataupun mediator baru yang dibentuk seperti leukotrien C4. Hal ini menyebabkan sel T menjadi aktif dan mengenai alergen tersebut melalui T cell reseptor. 4.Ikatan ini akan menyebabkan degranulasi sel mast. Setelah ada di sirkulasi IgE segera berikatan dengan sel mast dan basofil. yang kemudian akan memengaruhi ekspresi gen pada inti sel. . Kortikosteroid juga dapat bekerja langsung tanpa memengaruhi ekspresi gen. Degranulasi sel mast akan mengeluarkan mediator baik yang telah tersedia seperti histamine yang akan menyebabkan reaksi segera. molekul adesi dan protease. Fungsi Kortikosteroid Efek dari kortikosteroid terjadi melalui ikatan dengan reseptor glukokortikoid yang terdapat yang terdapat di dalam sitoplasma. Setelah paparan. termasuk sitokin. interleukin. mengurangi sintesis berbagai molekul peradangan. yaitu melalui reseptor pada membran sel dan atau interaksi fisiokimia dengan membrane sel.