You are on page 1of 13

A.

PENDAHULUAN
Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang perubahan
perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. ). Anak usia pra sekolah adalah anak
dimana terjadi perubahan yang signifikan untuk mempersiapkan gaya hidup baru yaitu
masuk sekolah dengan mengkombinasikan antara perkembangan biologi, psikososial
kognitif, spiritual dan prestasi sosial (Hokbenberry & Wilson, 2009,18).Tumbuh kembang
anak meliputi rentang cepat dan lambat. Dalam proses perkembangan anak meliputi
pertumbuhan fisik, kognitif, konsep diri, pola koping dan perilaku sosial (Hidayat, 2005,
hlm.54). Respon hospitalisasi pada anak bermacammacam. Pada anak usia pra sekolah
biasanya ditunjukkan dengan anak menolak makanan, sering bertanya, menangis walaupun
secara perlahan, dan tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan (Supartini, 2004,
hlm.190-191). Dampak hospitalisasi yang sering timbul adalah kecemasan yang dapat
dipengaruhi dari faktor tenaga kesehatan, lingkungan yang baru, maupun keluarga yang
mendampingi anak selama sakit (Nursalam, 2005,33). Kecemasan itu sendiri adalah
kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, yang berkaitan dengan perasaan yang tidak
pasti dan tidak berdaya.Kecemasan dialami secara subyektif dan dikomunikasikan secara
interpersonal (Stuart, 2006, hlm.144).
Menurut Sumaryoko (2008) dalam Wijayanti (2009), prevalensi kesakitan anak di
Indonesia yang dirawat dirumah sakit cukup tinggi yaitu sekitar 35 per 100 anak, yang
ditunjukkan dengan selalu penuh ruangan anak baik dirumah sakit pemerintah maupun
rumah sakit swasta.
Salah satu yang menyebabkan anak mengalami kecemasan di rumah sakit yaitu
pemberian obat oral. Memberikan obat oral adalah suatu tindakan membantu proses
penyembuhan dengan cara memberikan obat-obatan melalui mulut sesuai dengan program
pengobatan dari dokter. Bentuk obat oral ini adalah tablet, sirup, kapsul dan obat hisap.
Dan pemberian obat sesuai dengan dosis yang diperlukan (Tambayong, 2001, hlm.5).
Sering kali anak menolak untuk meminum obatnya sambil menangis.Ada beberapa hal
yang tidak boleh dilakukan saat memberikan obat untuk anak, antara lain pemaksaan dan
berbohong. Pemaksaan saat pemberian obat dapat membuat anak trauma sehingga anak
takut dengan obat (Hapsari, 2012, 4). Pada penelitian Isle of Wightyang dilaporkan oleh
Rutter et al (dalam Nelson, 2000) menemukan prevalensi gangguan kecemasan pada anak
usia pra sekolah dengan hospitalisasi adalah 6,8%. Sekitar sepertiga anak ini adalah cemas
berlebihan, dan sepertiga lainnya menderita ketakutan spesifik atau fobia yang merupakan
cacat (Anonim, 2009, 4).

TUJUAN 1. RUMUSAN MASALAH Rumusan masalah berdasarkan latar belakang. motorik kasar dan halus. hlm. kertas untuk melipat. Untuk mengetahui pengertian terapi bermain 2. Sehingga jenis permainan yang dapat digunakan pada anak usia ini seperti benda-benda seperti rumah.21). 2009. Melalui bermain anak dapat mengekspresikan pikiran. mengembangkan kecerdasan. fantasi serta daya kreasi dengan tetap mengembangkan kreatifitasnya dan beradaptasi lebih efektif terhadap berbagai sumber stress (Riyadi & Sukarmin.mengembangkan dalam mengontrol emosi. Untuk mengetahui permainan yang sesuai pada anak usia prasekolah yang dirawat dirumah sakit 4. perasaan. 1983. B.royong. Untuk mengetahui pengaruh terapi bermainRoleplay terhadap kecemasan anak pra sekolah saat pemberian obat dirumah sakit . 2009. dalam Riyadi & Sukarmin. C. majalah anak-anak.62). air dan roleplay/drama (Hidayat. Pada usia prasekolah (4-6 tahun) anak sudah mulai mampu mengembangkan kreativitasnya dan sosialisasi sehingga sangat diperlukan permainan yang dapat mengembangkan kemampuanberbahasa.21). hlm. hlm. menumbuhkan sportifitas. gunting. maka rumusan masalah penelitian adalah adakah pengaruh terapi bermainRole play terhadap kecemasan anak usia pra sekolah saat pemberian obat oral di rumah sakit. Untuk menegtahui bagaimana skenario bermain pada anak usia prasekolah dirumah sakit 3. Bermain merupakan cara ilmiah bagi seorang anak untuk mengungkapkan konflik yang ada dalam dirinya yang pada awalnya anak belum sadar bahwa dirinya sedang mengalami konflik (Miller. alat gambar. 2009. buku gambar. memperkenalkan pengertian yang bersifat ilmu pengetahuan dan memperkenalkan suasana kompetisi serta gotong.

perkembangan kreativitas. 2000) Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian atau memberikan informasi. 1995). Misalnya. perkembangan social. Dengan bermain anak akan menemukan kekuatan serta kelemahannya sendiri. intelektual. perkembangan kesadaran diri. Fungsi Bermain Fungsi utama bermain adalah merangsang perkembangan sensoris-motorik. dan social dan bermain merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan bermain. 2001) Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan secara sukarela untuk memperoleh kesenangan/kepuasan. Bermain tidak sekedar mengisi waktu tetapi merupakan kebutuhan anak seperti halnya makanan.(Supartini. aktivitas sensoris-motorik merupakan komponen terbesar yang digunakan anak dan bermain aktif sangat penting untuk perkembangan fungsi otot. tanpa ada tujuan atau sasaran yang hendak dicapai (Suhendi et al. belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan. memberi kesenangan maupun mengembangkan imajinasi anak (Anggani Sudono. Perkembangan Sensoris – Motorik Pada saat melakukan permainan. dan penting untuk kesejahteraan mental dan emosional anak (Champbell dan Glaser. cara menyelesaikan tugas- tugas dalam bermain (Soetjiningsih. minatnya. Definisi bermain Bermain merupakan cerminan kemampuan fisik. 2004) Bermain sama dengan bekerja pada orang dewasa. 2000) Bermain adalah kegiatan yang dilakukan berulang-ulang demi kesenangan. emosional. dan mengenal waktu. 1995) 2. jarak serta suara (Wong. dan merupakan aspek terpenting dalam kehidupan anak serta merupakan satu cara yang paling efektif untuk menurunkan stress pada anak. melakukan apa yang dapat dilakukannya. BAB II PEMBAHASAN 1. perkembangan intelektual. anak-anak akan berkata-kata (berkomunikasi). alat permainan yang digunakan untuk bayi yang mengembangkan kemampuan sensoris-motorik dan alat permainan untuk anak usia toddler dan prasekolah yang banyak membantu perkembangan aktivitas motorik baik kasar maupun halus. perawatan dan cinta kasih. . perkembangan moral dan bermain sebagai terapi.

Perkembangan Kreativitas Berkreasi adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu dan mewujudkannya kedalam bentuk objek dan/atau kegiatan yang dilakukannya. anak akan belajar dan mencoba untuk merealisasikan ide-idenya. Misalnya. bentuk. Anak juga akan belajar mengenal kemampuannya dan membandingkannya dengan orang lain dan menguji kemampuannya dengan mencoba peran-peran baru dan mengetahui dampak tingkah lakunya terhadap orang lain. memahami bahasa lawan bicara. anak akan belajar memberi dan menerima.Perkembangan Intelektual Pada saat bermain. Perkembangan Kesadaran Diri Melalui bermain. anak menggunakan daya pikir dan imajinasinya semaksimal mungkin. terutama mengenal warna. tekstur dan membedakan objek. Melalui kegiatan bermain. Dalam hal ini penting peran orang tua untuk menanamkan nilai moral dan etika. anak belajar berinteraksi dengan teman. anak usia toddler dan prasekolah adalah tahapan awal bagi anak untuk meluaskan aktivitas sosialnya dilingkungan keluarga. . jika anak mengambil mainan temannya sehingga temannya menangis. kemudian bannya terlepas dan anak dapat memperbaikinya maka ia telah belajar memecahkan masalahnya melalui eksplorasi alat mainannya dan untuk mencapai kemampuan ini. Meskipun demikian. Pada saat bermain pula anak akan melatih diri untuk memecahkan masalah. Semakin sering anak melakukan eksplorasi seperti ini akan semakin terlatih kemampuan intelektualnya. Pada saat melakukan aktivitas bermain. dengan membongkar dan memasang satu alat permainan akan merangsang kreativitasnya untuk semakin berkembang. anak mengembangkan kemampuannya dalam mengatur mengatur tingkah laku. Perkembangan Social Perkembangan social ditandai dengan kemampuan berinteraksi dengan lingkungannya. anak melakukan eksplorasi dan manipulasi terhadap segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitarnya. Misalnya. anak akan belajar mengembangkan diri bahwa perilakunya menyakiti teman. Melalui kegiatan bermain. terutama dalam kaitannya dengan kemampuan untuk memahami dampak positif dan negatif dari perilakunya terhadap orang lain. Pada saat anak bermain mobil-mobilan. Hal ini terjadi terutama pada anak usia sekolah dan remaja. dan belajar tentang nilai social yang ada pada kelompoknya. ukuran. Bermain dengan orang lain akan membantu anak untuk mengembangkan hubungan social dan belajar memecahkan masalah dari hubungan tersebut.

anak akan mendapatkan kesempatan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut sehingga dapat diterima di lingkungannya dan dapat menyesuaikan diri dengan aturan-aturan kelompok yang ada dalam lingkungannya. Sesuai dengan kemampuan kognitifnya. 3. Perawat dapat mengkaji perasaan dan pikiran anak melalui ekspresi nonverbal yang ditunjukkan selama melakukan permainan atau melalui interaksi yang ditunjukkan anak dengan orang tua dan teman kelompok bermainnya. pada prinsipnya bermain mempunyai tujuan sebagai berikut : . Perkembangan Moral Anak mempelajari nilai benar dan salah dari lingkungannya. dengan melakukan permainan anak akan terlepas dari ketegangan dan stress yang dialaminya karena dengan melakukan permainan anak akan depat mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya (distraksi) dan relaksasi melalui kesenangannya melakukan permainan. permainan adalah media yang efektif untuk mengembangkan nilai moral dibandingkan dengan memberikan nasihat. Bermain Sebagai Terapi Pada saat dirawat di rumah sakit. cemas. Untuk itu. Hal tersebut terutama terjadi pada anak yang belum mampu mengekspresikannya secra verbal. terutama dari orang tua dan guru. serta belajar bertanggung-jawab atas segala tindakan yang telah dilakukannya. anak akan mengalami berbagai perasaan yang sangat tidak menyenangkan. Dengan melakukan aktivitas bermain. Misalnya. permainan adalah media komunikasi antar anak dengan orang lain. Oleh karena itu. Tujuan Bermain Melalui fungsi yang terurai diatas. merebut mainan teman merupakan perbuatan yang tidak baik dan membereskan alat permainan sesudah bermain adalah membelajarkan anak untuk bertanggung-jawab terhadap tindakan serta barang yang dimilikinya. sedih. Perasaan tersebut merupakan dampak dari hospitalisasi yang dialami anak karena menghadapi beberapa stressor yang ada dilingkungan rumah sakit. Melalui kegiatan bermain anak juga akan belajar nilai moral dan etika. termasuk dengan perawat atau petugas kesehatan dirumah sakit. belajar membedakan mana yang benar dan mana yang salah. seperti baik/buruk atau benar/salah. takut. Dengan demikian. bagi anak usia toddler dan prasekolah. penting peran orang tua untuk mengawasi anak saat anak melakukan aktivitas bermain dan mengajarkan nilai moral. seperti marah. dan nyeri.

Untuk melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yang normal pada saat sakit anak mengalami gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Dapat beradaptasi secara efektif terhadap stress karena sakit dan dirawat dirumah sakit 4. Perasaan dari orang yang terlibat dalam kegiatan bermain diwarnai oleh emosi- emosi yang positif c. Fleksibilitas yang ditandai mudahnya kegiatan beralih dari satu aktivitas ke aktivitas lain d. seperti ayah. Mengembangkan kreativitas dan kemampuannya memecahkan masalah d. Lebih menekankan pada proses yang berlangsung dibandingkan hasil akhir e. anak usia prasekolah mempunyai kemampuan motorik kasar dan halus yang lebih matang dari pada anak usia toddler. Permainan Pada Anak Usia Prasekolah Anak usia prasekolah (>3 tahun sampai 6 tahun) Sejalan dengan pertumbuhan dan oerkembangannya. selam anak dirawat di rumah sakit. jenis alat permainan yang tepat diberikan pada . dramatic play dan skill play”. Mengekspresikan perasaan. Rubin. dan ciri ini merupakan elemen yang sangat penting bagi konsep bermain pada anak-anak kecil. 1999) diungkapkan adanya beberapa cirri kegiatan bermain yaitu : a. Anak juga sudah mampu memainkan peran orang tua tertentu yang diidentifikasinya. kegiatan sitimulasi pertumbuhan dan perkembangan masih harus tetap dilanjutkan untuk menjaga kesinambungannya b. keinginan. Bebas memilih. Untuk itu. Ciri-Ciri Kegiatan Bermain Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Smith et al. kreatif dan imajinatif. Fein dan Vandenberg (Johnson et al. dan fantasi serta ide-idenya. Demikian juga kemampuan berbicara dan berhubungan social dengan temannya semakin meningkat. a. Anak sudah lebih aktif. Oleh kerena itu jenis permainan yang sesuai adalah “associative play. Walaupun demikian. Anak melakukan permainan bersama-sama dengan temannya dengan komunikasi yang sesuai dengan kemampuan bahasanya. 5. maksud muncul atas keinginan pribadi serta untuk kepentingan sendiri b. c. Permainan yang menggunakan kemampuan motorik (skill paly) banyak dipilih anak usia prasekolah. Garvev. ibu dan bapak atau ibu gurunya. Dilakukan berdasarkan motivasi intrinsic.

Tahap Pra Interaksi 1. Cara alamiah bagi anak untuk mengungkapkan konflik dirinya yang tidak disadari (Wong: 1991) 2. Melakukan kontrak waktu PROSEDUR 2. Poli rawat jalan KEBIJAKAN dan Tempat penitipan anak PETUGAS Perawat 1. berenang dan permainan balok- balok besar 6. Meminimalisir tindakan perawatan yang traumatis 2. Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkannya tanpa mempertimbangkan hasil akhirnya (Hurlock: 1978) PENGERTIAN 3. Kegiatan yang dilakukan sesuai dengan keinginan dalam mengatasi konflik dari dalam dirinya yang tidak disadari serta dengan keinginan sendiri untuk memperoleh kesenangan (Roster: 1987) 1. mobil-mobilan. Mengurangi kecemasan 3. sesuai kondisi klien 1. Tahap Orientasi . Tidak rewel PASIEN 5. Rancangan program bermain yang lengkap dan sistematis PERALATAN 2. sepeda. Membantu mempercepat penyembuhan TUJUAN 4. Sebagai fasilitas komunikasi 5. Persiapan untuk hospitalisasi atau surgery 6. Tidak ngantuk PERSIAPAN 4. Menyaiapkan alat 2. Poli tumbuh kembang. Melakukan kontrak waktu 3. Alat bermain sesuai dengan umur / jenis kelamin dan tujuan 1. Pasien bias dengan tiduran atau duduk. Keadaan umum mulai membaik 6. Mengecek kesiapan anak (tidak ngantuk. tidak rewel. anak misalnya. Pasien dan keluarga diberitahu tujuan bermain 2. SOP ( STANDAR OPRASIONAL PROSEDUR ) TERAPI BERMAIN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR 1. Sarana untuk mengekspresikan perasaan Dilakukan di Ruang rawat inap. PELAKSANAAN keadaan umum membaik/kondisi yang memungkinkan) 3. alat olah raga.

Berpamitan dengan pasien 3. Menanyakan persetujuan dan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan 3. Memotivasi keterlibatan klien dan keluarga 4. mengembangkan aktifitas dan kreatifitas melalui pengalaman bermain dan beradaptasi efektif terhadap stress karena penyakit dan dirawat II. Membereskan dan kembalikan alat ke tempat semula 4. Memberi petunjuk pada anak cara bermain 2. Menanyakan perasaan dan pendapat keluarga tentang permainan 4. Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan 3. hubungan inter-personal. Mencatat jenis permainan dan respon pasien serta keluarga kegiatan dalam lembar catatan keperawatan dan kesimpulan hasil bermain meliputi emosional. Mengobservasi emosi. psikomotor dan anjuran untuk anak dan keluarga Contoh Topik: Terapi bermain Sub Topik: Mewarnai gambar Sasaran: Anak Pra Sekolah Tempat: Ruang perawatan anak Waktu : 35 menit 1. TIK (Tujuan Instruksional Khusus) Setelah diajak bermain selama 35 menit. Meminta anak menceritakan apa yang dilakukan/dibuatnya 7. TUJUAN I. psikomotor anak saat bermain 6. hubungan inter-personal. 1. Gerakan motorik halusnya lebih terarah . Menanyakan perasaan anak setelah bermain 8. diharapkan anak dapat melanjutkan tumbuh kembangnya. anak diharapkan : a. Tahap Kerja 1. Memberi pujian pada anak bila dapat melakukan 5. TIU (Tujuan Instruksional Umum) Setelah diajak bermain. Memberikan salam kepada pasien dan menyapa nama pasien 2. Melakukan evaluasi sesuai dengan tujuan 2. Mencuci tangan 5. Mempersilahkan anak untuk melakukan permainan sendiri atau dibantu 3. Tahap Terminasi 1.

Dapat mewarnai gambar yang disukainya d. PERENCANAAN I. Jenis Program Bermain Mewarnai gambar dengan pensil warna/spidol/pantel pada kertas gambar yang telah tersedia II. Karakteristik peserta a. Kertas gambar yang siap diwarnai b. Melatih motorik halus b. Penggaris e. Benang d. Menyiapkan alat c. b. STRATEGI PELAKSANAAN I. Alat untuk melubangi kertas (Perforator) 3. Dapat bersosialisasi dan berkomunikasi dengan teman sebaya yang dirawat di ruang yang sama e. Alat untuk menggambar (Pensil warna/spidol/pantel) c. Metode: Demontrasi V. Kejenuhan selama dirawat di RS berkurang 2. Karakteristik bermain a. Keadaan umum mulai membaik d. Perkenalan dengan anak dan keluarga . Peserta kooperatif IV. Alat-alat yang digunakan (Media) a. Persiapan: 5 Menit a. Menyiapkan ruangan b. Menyiapkan peserta II. Jumalah peserta: 2 – 4 anak dan didampingi orang tua c. Usia 3 – 6 tahun b. Melatik kesabaran dan ketelitian III. Berkembang kognitifnya c. Klien dapat duduk e. Pembukaan: 5 Menit a.

Menjelaskan maksud dan tujuan III. Kemudian anak dianjurkan untuk mewarnai gambar dengan warna yang disukai c. Anak tidak takut lagi dengan perawat e. anak dibantu untuk melubangi bagian atas kertas gambar d. Orang tua dapat mendampingi kegiatan anak sampai selesai f. Dipasang benang sepanjang ± 10 cm pada bagian atas yang dilubangi e. Anak diminta untuk memilih gambar yang ingin diwarnai yang sudah tersedia b. Anak dapat mengembangkan motorik halus dengan menghasilkan satu gambar yang diwarnai. Setelah selesai mewarnai gambar. EVALUASI YANG DIHARAPKAN a. b. Anak merasa senang d. Kegiatan: 20 Menit a. Anak yang akan bermain saling berkenalan c. Gantungkan hasil mewarnai gambar di dekat tempat tidur anak IV. kemudian digantung b. Orang tua mengungkapkan manfaat yang dirasakan dengan aktifitas bermain . Anak dapat mengikuti kegiatan dengan baik c. Penutup: 5 menit Memberikan reward pada anak atas hasil karyanya 4.

Terdapat pada : http://info. BAB III PENUTUP A. (2006). Pengantar Ilmu Keperawatan. Kesimpulan DAFTAR PUSTAKA Hapsari. http:// artikel kesehatan anak. (2014). (2013). (2003).Jurnalkes. Com/tips-dan-trikpemberian-obat-pada-anak. (2005). Alimul. Jakarta: Salemba Medika Nursalam. (2005). Buku Ajar Konsep Dasar keperawatan Anak. Soekidjo. Pendidikan dan Perilaku Supartini. Jakarta: EGC Noname. Pengaruh permaianan pada perkembangan anak. Jakarta: Notoatmojo. S.com. Konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu keperawatan.html diperoleh tanggal 7 Februari 2016 Hidayat. A. Tips dan Trik Pemberian Obat Pada Anak. . Diakses pada tanggal 10 Juli 20017. Yupi.

.) PENILAIAN PENCAPAIAN KOMPETENSI ASPEK KETRAMPILAN TERAPI BERMAIN NILAI No ASPEK YANG DINILAI BOBOT 0 1 2 A ALAT 1 Rancangan program bermain yang lengkap dan sistematis 3 2 Alat bermain sesuai dengan umur/jenis kelamin dan tujuan 2 B Tahap Pra Interaksi 1 Melakukan kontrak waktu 2 Mengecek kesiapan anak (tidak ngantuk. tidak rewel. hubungan inter-personal. psikomotor anak saat 5 3 bermain 6 Meminta anak menceritakan apa yang dilakukan / dibuatnya 3 7 Menanyakan perasaan anak setelah bermain 3 8 Menanyakan perasaan dan pendapat keluarga tentang permainan 2 E Tahap Terminasi 1 Melakukan evaluasi sesuai dengan tujuan 3 2 Berpamitan dengan pasien 1 3 Membereskan dan kembalikan alat ke tempat semula 2 .Mengetahui Nama Mahasiswa Pembimbing Praktek (……………….) (…………………. keadaan umum 2 3 membaik / kondisi yang memungkinkan) 3 Menyaiapkan alat 2 4 Mencuci tangan 1 C Tahap Orientasi 1 Memberikan salam kepada pasien dan menyapa nama pasien 1 2 Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan 3 3 Menanyakan persetujuan dan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan 1 D Tahap Kerja 1 Memberi petunjuk pada anak cara bermain 3 2 Mempersilahkan anak untuk melakukan permainan sendiri atau dibantu 2 3 Memotivasi keterlibatan klien dan keluarga 3 4 Memberi pujian pada anak bila dapat melakukan 3 Mengobservasi emosi.

psikomotor dan anjuran untuk anak dan keluarga TOTAL 50 PENILAIAN PENCAPAIAN KOMPETENSI ASPEK KETRAMPILAN PENILAIAN PERKEMBANGAN ANAK MENGGUNAKAN DENVER II NILAI No ASPEK YANG DINILAI BOBOT 0 1 2 A ALAT 1 Format penialian Denver II 2 2 Kotak berisi alat-alat bantu tes 3 B Tahap Pra Interaksi 1 Melakukan kontrak waktu 1 Menyiapkan alat termasuk mengisi data pemeriksa dank lien / pasien 2 2 pada form. Penilaian Denver II 3 Mencuci tangan 1 C Tahap Orientasi 1 Memberikan salam kepada pasien dan menyapa nama pasien 1 2 Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan 3 3 Menanyakan persetujuan dan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan 3 4 Mempersiapkan lingkungan tempat pemeriksaan 3 D Tahap Kerja Memberi petunjuk pada klien/pasien cara melakukan tes. kemudian 1 8 meminta klien/pasien untuk melakukannya 2 Melakukan tes mulai dari item yang paling mudah 3 3 Melakukan tes secara urut dari item yang menggunakan sedikit energi 3 4 Memberi pujian pada anak bila dapat melakukan tes 3 5 Menuliskan skor pada form. hubungan inter-personal. 4 Mencuci tangan 1 Mencatat jenis permainan dan respon pasien serta keluarga kegiatan dalam lembar catatan keperawatan dan kesimpulan hasil bermain meliputi 5 3 emosional. Denver II setiap satu tindakan tes 3 6 Menyimpulkan hasil tes setelah menyelesaikan minimal 5 tindakan tes 6 E Tahap Terminasi 1 Melakukan evaluasi sesuai dengan tujuan 1 2 Berpamitan dengan pasien/klien 1 3 Membereskan dan kembalikan alat ke tempat semula 1 4 Mencuci tangan 1 5 Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan 1 TOTAL 50 .