You are on page 1of 14

APD DI LABORATORIUM

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya untuk
menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat
mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya
dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.

Baru pada tahun 1908 di New York, merupakan konpensasi pertama bagi pekerja yang mengalami
kecelakaan. Kemudian setelah tahun 1911, menurut Dan Petersen (1971) bahwa pekerja mendapat
konpensasi Penyakit Akibat Kerja (PAK) bila disebabkan tekanan panas (atmosfer) dan harusnya
panas dalam industri diberi pelindung (safety).

Dengan demikian tenaga kerja mulai mendapatkan perlindungan secara hukum.
Namun demikian angka kematian akibat kecelakaan kerja di Amerika Serikat pada tahun 1912 sekitar
18.000 hingga 21000 jiwa dan tahun1933 sejumlah 14500 jiwa (Dan Peterson 1971).Pada
peraturan 7 dari COSHH Secara khusus menyatakan bahwa pengendalian harus dilakukan melalui
upaya-upaya selain penyedian alat pelindung diri , tetapi jika upaya lain tidak dapat melindungi atau
memberikan pengendalian yang cukup, disamping upaya itu, harus disediakan alat pelindung diri
yang sesuai dengan tujuannya dan sesuai dengan standar yang disahkan oleh pejabat kesehatan dan
keselamatan kerja.

Undang-undang Eropa (1989), Dewan Masyarakat Eropa menerbitkan dua intruksi penting mengenai
alat pelindung diri. Pertama, (89/656/EEC) menyatakan persyaratan Kesehatan dan keselamatan
minimum untuk pemakaian alat pelindung diri pekerja ditempat kerja dan mengharuskan Negara
anggota untuk menerapakan mulai 31 Desember 1992. Rincihan dari arahan ini dapat dilihat pada
official Journal (OJ) of the European Communities No. L dapat dilihat pada 393/19. Instruksi Kedua
(89/686/EEC) adaalah menyeragamkan standar alat pelindung diri Eropa melaui Komisi Eropa untuk
Standardisasi (CEN),instruksi ini dapat dilihat pada OJ No. L 399/19 dan harus diteraapkan mulai 31
desember 1991.

Diperkirakan hampir 20% dari seluruh kecelakaan yang menyebabkan cacat adalah tangan. Tanpa
jari atau tangan, kemampuan bekerja akan sangat berkurang. Kontak dengan bahan kimia Kaustik
atau beracun, bahan-bahan biologis, sumber listrik, atau benda dengan suhu yang sangat dingin atau
sangat panas dapat menyebabkan iritasi atau membakar tangan.Karena Bahan beracun dapat
terabsorbsi melalui kulit dan masuk ke badan. Khusus di laboratorium hematologi, proporsi petugas
yang berisiko tinggi berdasarkan penggunaan APD sampai 75%; padahal laboratorium ini lebih
banyak menangani sample yang bersifat infeksius bila dibandingkan dengan laboratorium lainnya.

Prosedur kerja yang sistematis dalam pelaksanaan tugas di dalam laboratorium.00788 tahun 1995 tentang pelaksanaan akreditasi Rumah Sakit (termasuk di dalamnya adalah pelayanan laboratorium klinik) untuk mengukur mutu pelayanan kesehatan di Rumah Sakit. Pasal 9 ayat (1) butir c: Pengurus diwajibkan menunjukkan dan menjelaskan pada tiap tenaga kerja baru tentang APD. d.1. Dasar Hukum 1. sering terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan kualitas serta keterampilan pekerja yang kurang memadai. Banyak pekerja yang meremehkan risiko kerja. Pasal 12 butir b: Dengan peraturan perundangan diatur kewajiban dan atau hak tenaga kerja untuk memakai APD. UU No. Sebagai faktor penyebab. Angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja di beberapa negara maju menunjukan kecenderungan peningkatan prevalensi.1 tahun 1970. termasuk pengolahan spesimen merupakan faktor yang terpenting dalam system manajemen laboratorium secara menyeluruh.06.5. sehingga tidak menggunakan alat-alat pengaman walaupun sudah tersedia. Pasal 3 ayat (1) butir f: Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat untuk memberikan APD b. . 75% petugas di laboratorium ini juga berisiko terinfeksi penyakit berbahaya.Risiko akan semakin tinggi apabila petugas selain mempunyai kebiasaan menggunakan APD juga tidak mencuci tangan sesudah menangani sampel. Undang-undang No.3. Sebagai penjabaran dari undang-undang tersebut salah satunya adalah Surat Keputusan Direktur Jendral Pelayanan Medik Nomor HK 006. salah satu persyaratan tersebut adalah pada pemakaian alat pelindung diri berupa sarung tangan. 23 / 1992 tentang kesehatan menjadi landasan hukum yang kuat untuk pelaksanaan peningkatan mutu pelayanan kesehatan. jas laboratorium dan masker. a. Selain itu aspek prilaku petugas sendiri terhadap disiplin pemakaian alat pelindung diri (APD) dan higiene petugas sehabis penanganan sampel berupa pencucian tangan tidak boleh diabaikan.1 . BAB II PEMBAHASAN 2. c. Seharusnya Penerapan budaya “aman dan sehat dalam bekerja” hendaknya dilaksanakan pada semua Institusi di Sektor Kesehatan termasuk Laboratorium Kesehatan. Hal ini terjadi di laboratorium hematologi karena berdasarkan hygiene perorangan. Pasal 14 butir c: Pengurus diwajibkan menyediakan APD secara cuma-Cuma.1 Alat Pelindung Diri (APD) 2. Untuk menjamin keselamatan dirinya.

Jika jas laboratorium terkontaminasi oleh tumpahan bahan kimia. 2.03/MEN/1982 Pasal 2 butir I menyebutkan memberikan nasehat mengenai perencanaan dan pembuatan tempat kerja. Permenakertrans No. APD merupakan solusi pencegahan yang paling mendasar dari segala macam kontaminasi dan bahaya akibat bahan kimia. Goggle. Dengan melihat kata "personal" pada kata PPE terebut. Permenakertrans No. yang berbentuk seperti celemek terbuat dari karet atau plastik. 2. maka setiap peralatan yang dikenakan harus mampu memperoteksi si pemakainya.3 Jenis-jenis APD a. bahwa tidak dikenakan pada area larutan yang mudah terbakar dan bahan-bahan kimia yang dapat terbakar yang . dan radiasi.Per. Apron digunakan untuk memproteksi diri dari cairan yang bersifat korosif dan mengiritasi. tunggu apa lagi. perlindungan badan lainnya adalah Apron dan Jumpsuits. sepatu lars tinggi.03/Men/1986 Pasal 2 ayat (2) menyebutkan tenaga kerja yang mengelola Pestisida harus memakai alat-alat pelindung diri yg berupa pakaian kerja. Permenakertrans No. pemilihan alat pelindung diri yang diperlukan dan gizi serta penyelenggaraan makanan ditempat kerja 4.01/MEN/1981 Pasal 4 ayat (3) menyebutkan kewajiban pengurus menyediakan alat pelindung diri dan wajib bagi tenaga kerja untuk menggunakannya untuk pencegahan penyakit akibat kerja.Per. Gunakanlah APD sebelum bekerja dengan bahan kimia. b. APD dalam bahasa Inggris dikenal dengan sebutan Personal Protective Equipment (PPE). APD dapat berkisar dari yang sederhana hingga relatif lengkap. Jadi. Secara umum perlindungan mata terdiri dari Kacamata pelindung. Hal ini dimaksud untuk melindungi mata dan wajah dari kecelakaan sebagai akibat dari tumpahan bahan kimia.1.Pelindung wajah. sarung tangan.1. Pelindung mata special (goggle yang menyatu dengan masker khusus untuk melindungi mata dan wajah dari radiasi dan bahaya laser). kacamata pelindung atau pelindung muka dan pelindung pernafasan. Perlindungan Badan Baju yang dikenakan selama bekerja di laboratorium. merupakan suatu perlengkapan yang wajib dikenakan sebelum memasuki laboratorium. Jas laboratorium dikenal oleh masyarakat pengguna bahan kimia ini terbuat dari katun dan bahan sintetik.2. lepaslah jas secepatnya. Jas laboratorium merupakan pelindung badan dari tumpahan bahan kimia dan api sebelum mengenai kulit pemakainya. 3. uap kimia.Untuk apron yang terbuat dari plastik. Hal yang perlu diperhatikan ketika menggunakan jas laboratorium yaitu kancing jas laboratorium tidak boleh dikenakan dalam kondisi tidak terpasang dan ukuran dari jas laboratorium pas dengan ukuran badan pemakainya. Perlindungan Mata Dan Wajah Proteksi mata dan wajah merupakan persyaratan yang mutlak yang harus dikenakan oleh pemakai dikala bekerja dengan bahan kimia.Per. Selain jas laboratorium.2 Pengertian APD Alat Pelindung Diri (APD) merupakan peralatan pelindung yang digunakan oleh seorang pekerja untuk melindungi dirinya dari kontaminasi lingkungan.

Beberapa jenis perlindungan pernafasan dilengkapi dengan filter pernafasan yang berfungsi untuk menyaring udara yang masuk. pecahan gelas. para pekerjanya harus memakai perlindungan pernafasan. nitril. dingin. Sarung tangan yang terbuat dari kulit ini akan Melindungi tangan dari permukaan kasar. sarung tangan juga dapat memberi perlindungan dari peralatan gelas yang pecan atau rusak. panas. atau yang lebih dikenal dengan sebutan masker. debu. Oleh karena itu. kulit dan pengisolasi (asbestos) untuk temperatur tinggi. APD tangan dikenal dengan Safety Glove dengan berbagai jenispenggunaanya. neoprene. Sarung tangan Heat resistant Mencegah terkena panas dan api. Sarung tangan Vinyl dan neoprene Melindungi tangan terhadap bahan kimia beracun. Sarung tangan Latex disposable Melindungi tangan dari Germ dan bakteri. permukaan benda yang kasar atau tajam. Sarung tangan karet Melindungi saat bekerja disekitar arus listrik karena karet merupakan isolator (bukan penghantar listrik). Jenis karet yang digunakan pada sarung tangan. 2. Banyak sekali partikel-partikel udara. dan material yang panas atau dingin. karena apron jenis ini dapat mengakumulasi loncatan listrik statis. uap dan gas yang dapat membahayakan pernafasan.2 Masalah Umum APD(Alat Pelindung Diri) . dan batas paparan. d. kosentrasi. Jumpsuits atau dikenal dengan sebutan baju parasut ini direkomendasikan untuk dipakai pada kondisi beresiko tinggi Bahan dari peralatan perlindungan badan ini haruslah mampu memberi perlindungan kepada pekerja laboratorium dari percikan bahan kimia. Pemilihan masker yang sesuai didasarkan pada jenis kontaminasi. Filter masker tersebut memiliki masa pakai. maka filter tersebut harus diganti. dan PVC (Polivinil klorida).dipicu oleh elektrik statis. kotoran dan Vibrasi. Perlindungan Pernafasan Kontaminasi bahan kimia yang paling sering masuk ke dalam tubuh manusia adalah lewat pernafasan. sarung tangan ini hanya untuk sekali pakai. Laboratorium merupakan salah satu tempat kerja dengan bahan kimia yang memberikan efek kontaminasi tersebut.Jenis-Jenis Safety Glove antara lain : Sarung Tangan Metak Mesh. yang sesuai. Berikut ini adalah jenis-jenis sarung tangan dengan penggunaan yang tidak terbatas hanya untuk melindungi dari bahan kimia. c. Apabila tidak dapat menyaring udara yang terkontaminasi lagi. Perlindungan Tangan Kontak pada kulit tangan merupakan permasalahan yang sangat penting apabila terpapar bahan kimia yang korosif dan beracun. Semua jenis sarung tangan tersebut dipilih berdasarkan bahan kimia yang akan ditangani. Sarung tangan Kulit. diantaranya. dan radiasi. Jenis sarung tangan yang sering dipakai di laboratorium. diantaranya adalah karet butil atau alam. terbuat dari bahan karet. uap lembab.Sarung tangan lead lined Digunakan untuk melindungi tangan dari sumber radiasi. Sarung tangan Padded Cloth Melindungi tangan dari ujung yang tajam. Sarung metal mesh tahan terhadap ujung yang lancip dan menjaga terpotong. Sarung tangan harus secara periodik diganti berdasarkan frekuensi pemakaian dan permeabilitas bahan kimia yang ditangani. Sarung tangan menjadi solusi tidak hanya melindungi tangan terhadap karakteristik bahaya bahan kimia tersebut.

a. Pekerja tidak mau memakai dengan alasan:  Tidak sadar/tidak menerti  Panas  Sesask  Tidak enak dipakai  Tidak enak dipandang  Berat  Mengganggu pekerjaan  Tidak sesuai dengan bahaya yang ada  Tidak ada sangsi  Atasan juga tidak memakai 2. Tidak disediakan oleh perusahaan  Ketidakmengertian  Pura-pura tidak mengerti  Alasan bahaya  Dianggap sia-sia . Tidak semua APD melalui pengujian labotoris sehingga tidak diketahui derajat perlindungannya. Kepercayaan pada APD akan menghambat pengembangan kontrol teknologi yang baru 2. b. APD dapat menciptakan bahaya baru d. Perlindungan yang diberikan APD sulit untuk dimonitor e. Efekctivitas APD sering tergantung “ GOOD FIT “ pada pekerja g. Kewajiban pemeliharaan APD dialihkan dari pihak manajemen ke pekerja f.3 Masalah Pemakaaian APD(Alat Pelindung Diri) 1. Tidak nyaman dan kadang-kadang membuat si pemakai sulit bekerja c.

Pengadaan oleh perusahaan  Tidak sesuai dengan bahaya yang ada  Asal beli (terutama memilih yang murah) Beberapa Contoh Masalah APD antara lain : . Respirator  Penutup muka yang buruk  Sumbatan kerusakan/cacat pada filter  Pemeliharaan yang tidak baik  Tali pengikat longgar/lepas  Tidak nyaman  Psikologis dan kecemasan  Meningkatkan beban kerja pada jantung dan hati  Menghirup kembali udara yang dihembuskan  Kesulitan komunikasi .3. Sarung Tangan  Mungin dapat menangkap bahan kimia  Mengurangi kepekaan tangan dan jari  Kebocoran dari lubang yang tidak diketahui  Mungkin menyebabkan dermatitis (keringat yang berlebihan) .Alat Pelindung Telinga  Resiko infeksi  Kesulitan komunikasi  Merasa terisolasi  Sakit kepala karena jepitan terlalu kuat  Tidak nyaman  Menguranggi kemampuan menduga jarak  Iritasi kulit .

Alat Pelindung Mata  Dapat membatasi pandangan  Timbul kabut. salah satunya pekerja tidak menggunakan APD. Virus yang menyebar melalui kontak dengan darah dan sekreta (misalnya HIV dan Hep. Sebagai contoh antara lain debu silika dan Silikosis. Kecelakaan menyebabkan kerugian material dan penderitaan dari yang paling ringan sampai pada yang paling berat. bacilli dan staphylococci yang bersumber dari pasien. misalnya karena tergores atau tertusuk jarum yang terkontaminasi virus. B) dapat menginfeksi pekerja hanya akibat kecelakaan kecil dipekerjaan.  Bahan kimia tertentu . dengan kemungkinan besar berhubungan dengan pekerjaan dan kondisi tempat kerja. Pajanan di tempat kerja tersebut memperberat. Faktor Lingkungan kerja sangat berpengaruh dan berperan sebagai penyebab timbulnya Penyakit Akibat Kerja. debu beracun mempunyai peluang terkena infeksi . mempercepat terjadinya serta menyebabkan kekambuhan penyakit. Sebagai contoh dokter di RS mempunyai risiko terkena infeksi 2 sampai 3 kali lebih besar dari pada dokter yang praktek pribadi atau swasta. 1996/97). noda dan goresan kecil  Tidak dapat melihat serusakan secara visual  Beberapa kaca mata pengaman memungkinkan benda masuk dari samping 2. Penyakit akibat kerja di laboratorium kesehatan umumnya berkaitan dengan faktor –faktor yaitu : a. Untuk menghindari risiko dari kecelakaan dan terinfeksinya petugas laboratorium khususnya pada laboratorium kesehatan sebaiknya dilakukan tindakan pencegahan seperti pemakaian APD. benda-benda yang terkontaminasi dan udara. apabila petugas laboratorium tidak menggunakan alat pengaman. akan semakin besar kemungkinan petugas laboratorium terinfeksi bahan berbahaya. dan bagi petugas Kebersihan menangani limbah yang infeksius senantiasa kontak dengan bahan yang tercemar kuman patogen. khususnya berbagai jenis virus(Depkes RI. Penyakit Akibat Hubungan Kerja adalah penyakit dengan penyebab multifaktorial. Faktor Biologis Lingkungan kerja pada Pelayanan Kesehatan terutama kuman-kuman pyogenic. uap timah dan keracunan timah. Akan tetapi penyebab terjadinya akibat kesalahan factor manusia juga (WHO). Angka kejadian infeksi nosokomial di unit Pelayanan Kesehatan cukup tinggi.4 Risiko Pemakaian APD Penyebab Penyakit Akibat Kerja di Laboratorium Kesehatan Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan.colli.

Kebisingan. d. Faktor Fisik Faktor fisik di laboratorium kesehatan yang dapat menimbulkan masalah kesehatan kerja meliputi : 1. Pencahayaan yang kurang di ruang kamar pemeriksaan. Semua bahan cepat atau lambat ini dapat memberi dampak negative terhadap kesehatan mereka.b. Terkena radiasi Khusus untuk radiasi. nyaman dan tercapai efisiensi yang setinggi-tingginya. penggunaannya meningkat sangat tajam dan jika tidak dikontrol dapat membahayakan petugas yang menangani. Terimbas kecelakaan/kebakaran akibat lingkungan sekitar. laboratorium. kebolehan dan batasan manusia untuk terwujudnya kondisi dan lingkungan kerja yang sehat. dioksan) dan hanya sedikit saja oleh karena alergi (keton). proses dan lingkungan kerja terhadap kemampuan. desinfektan dikenal sebagai zat yang paling karsinogen. ruang perawatan dan kantor administrasi dapat menyebabkan gangguan penglihatan dan kecelakaan kerja. Sebagian besar pekerja di perkantoran atau Pelayanan Kesehatan pemerintah. cara. bekerja dalam posisi yang kurang ergonomis. 5. misalnya tenaga operator peralatan. e. Bahan korosif (asam dan basa) akan mengakibatkan kerusakan jaringan yang irreversible pada daerah yang terpapar. hal ini disebabkan peralatan yang digunakan pada umumnya barang impor yang disainnya tidak sesuai dengan ukuran pekerja Indonesia. Suhu dan kelembaban yang tinggi di tempat kerja 4. terhirup atau terserap melalui kulit dapat menyebabkan penyakit akut atau kronik. Bahan toksik ( trichloroethane. aman. Faktor Kimia Petugas di laboratorium kesehatan yang sering kali kontak dengan bahan kimia dan obat-obatan seperti antibiotika. Pendekatan ergonomi bersifat konseptual dan kuratif. getaran akibat mesin dapat menyebabkan stress dan ketulian 2. bahkan kematian. teknologi dan seni berupaya menyerasikan alat. Gangguan kesehatan yang paling sering adalah dermatosis kontak akibat kerja yang pada umumnya disebabkan oleh iritasi (amoniak. dengan berkembangnya teknologi pemeriksaan. Posisi kerja yang salah dan dipaksakan dapat menyebabkan mudah lelah sehingga kerja menjadi kurang efisien dan dalam jangka panjang dapat menyebakan gangguan fisik dan psikologis (stress) dengan keluhan yang paling sering adalah nyeri pinggang kerja. 3. Faktor Psikososial . dengan solvent yang digunakan dalam komponen antiseptik. tetrachloromethane) jika tertelan. c. Faktor Ergonomi Ergonomi sebagai ilmu.

3. Beban mental karena menjadi panutan bagi mitra kerja di sector formal ataupun informal. dan simulasikan pada pekerja untuk mengikat tali sepatu mereka dengan satu tangan sebagai ilustrasi jika mereka kehilangan satu tangan akibat kecelakaan kerja.Beberapa contoh faktor psikososial di laboratorium kesehatan yang dapat menyebabkan stress : 1. 2. Tapi keselamatan kerja tidak mempuyai alasan untuk dilupakan walau sesaat. c. dan lakukan uji coba ukuran dan kenyamanan APD terhadap pekerja sebelum melakukan pengadaan APD b. komunikasikan alasan ini dengan supervisor produksi agar dapat bersinergi antara K3 dengan watu produksi. Tidak punya waktu untuk memakai APD/ Memakai APD menghabiskan waktu saya (18% alasan pekerja). Tidak tahu kalau sekarang harus memakai APD (10% alasan pekerja). d. pastikan pekerja tersebut sudah mendapatkan training mengenai APD. Pelayanan kesehatan sering kali bersifat emergency dan menyangkut hidup mati seseorang. Ini tidak cocok / tidak nyaman (alasan 30% pekerja) Solusi: Biarkan pekerja memilih APD yang cocok. selalu tanyakan apakah ada masalah dengan ukuran atau kenyamanan APD yang mereka gunakan.5 Beberapa alasan Tidak menggunakan APD Sudah tidak asing apabila menghadapi kondisi para pekerja yang tidak melengkapi dirinya dengan APD saat bekerja. dan masukan keharusan memakai APD kedalam aturan disiplin waktu saat produksi. Pekerjaan pada unit-unit tertentu yang sangat monoton. 4. Tidak akan celaka (8 % alasan para manager dan pekerja). Untuk itu pekerja di laboratorium kesehatan di tuntut untuk memberikan pelayanan yang tepat dan cepat disertai dengan kewibawaan dan keramahan-tamahan 2. Hubungan kerja yang kurang serasi antara pimpinan dan bawahan atau sesama teman kerja. dan biarkan ia bercerita tentang bagaimana kecelakaan kerja ini sangat berdampak pada kehidupan pribadinya. . Berikut ini adalah hasil wawancara Safety News Alert dengan 290 orang Safety Officer mengenai cara mereka mengatasi berbagai alasan pekerja yang tidak memakai APD saat bekerja: a. Solusi: Selalu buat pernyataan dengan tanda tangan pekerja bahwa mereka sudah menerima dan paham terhadap materi training APD dan lakuan tindakan disiplin yang tegas oleh supervisor terhadap pekerja yang tidak memakai APD saat bekerja di lapangan. Solusi: undang pembicara dari korban kecelakaan kerja. Solusi: komunikasikan dengan pekerja tersebut mengenai alasan mereka lebih dalam lagi.

karena agen yang belakangan lebih peka sampai tindakan. kadar virus dalam darah dan cairan tubuh sangat tinggi mencapai 108 – 109 infeksi unit/ml. Konsep pencegahan secara umum diterapkan pada seluruh darah dan jaringan manusia. Sarung tangan latex atau vinyl digunakan dan diganti secara periodik. Pengendalian perancangan. dan Cytomegallo Virus. Selama Hepatitis B akut. Pekerja harus hati-hati dengan permukaan. Tindakan Pencegahan Secara Umum Sebagian besar laboratorium klinik membutuhkan penanganan darah dan cairan tubuh. infeksi arbovirus. Label peringatan bahaya biologi harus ditempelkan pada semua wadah yang berisi zat kontaminan. virus demam berdarah. Pemilihan teknologi untuk alternatif mengurangi bahaya ( seperti menghindari penggunaan barang yang tajam atau penggantian metode manual ke automatis. Semua yang tajam harus ditangani secara hati-hati dan dibuang pada tempat yang tahan terhadap tusukan. Beberapa prosedur yang ditunjukkan oleh EPA sebagai sterilisasi atau desinfektan tingkat tinggi dapat menginaktifkan HBV. Sering cuci tangan ( terutama saat sarung tangan dicopot) adalah hal yang mendasar yang harus dilakukan. feses. The CDC dan The National Committee for Clinical Laboratory Standards (NCCLS) telah mengembangkan sistem untuk perlindungan pekerja secara umum yang disebut Pencegahan secara umum (Universal Precaution / UP). amnion. . Juga teknik untuk menghindarkan bentuk percikan atau droplet merupakan bagian yang terus menerus dilakukan pada pelatihan tenaga kerja baru dan program pendidikan yang terus menerus. Pakaian yang tahan air. keringat. Beberapa desinfektan yang mampu menginak tivasikan HBV akan efektif melawan HIV. brucellosis.2. Seluruh spesimen klinik lain (seperti sputum. isi lambung dan saliva) kurang diperhatikan. Perhatian agen yang primer adalah Hepatitis dan HIV. Satu persen atau lebih pasien yang dirawat akan menjadi kronik dan pembawa virus. sifilis. UP diterapkan hanya jika substansi terdiri dari darah yang terlihat. airmata. permintaan dan pelaporan yang terkontaminasi. Pengecatan darah yang tampak dan tumpah sesegera mungkin didekontaminasi atau ditutupi. celemek atau baju luar dan pelindung wajah sebaiknya dipakai saat ada kemungkinan terpercik dan tercelup. wadah yang mempunyai potensi terkontaminasi dari luar harus dikirim dengan wadah kedua anti bocor seperti kantong plastik. peritoneal. Termasuk cairan serous seperti cairan pleura. urin. Virus inaktif dalam permukaan kering dalam waktu yang lama. Agen lain yang dapat ditularkan melalui spesimen darah termasuk malaria.000 infeksi pada pekerja pelayanan kesehatan per tahun. HBV (Hepatitis B Virus) merupakan virus DNA yang menyebabkan sekitar 12. perikardial. Elemen dari keselamatan secara umum laboratorium yang baik adalah bagian dari UP. leptospirosis. serebrospinal dan sendi. pengendalian praktek kerja dan penggunaan alat pelindung diri pada pekerja laboratorium dari potensi paparan agen infeksius dalam darah. wadah. Semua pekerjaan pipetasi harus menggunakan alat. Pekerja harus menggunakan pelindung yang baik ketika menangani spesimen klinik. Permukaan untuk bekerja harus didekontaminasi setiap pergantian. Creutzfeld-Jacob disease. juga bagian dari kewaspaan umum. Semen dan sekret vagina mempunyai bahaya yang sama. Semua spesimen darah dan cairan tubuh seharusnya dikumpulkan dan dikirim dengan wadah yang terhindar dari kebocoran. Limbah infeksius harus dikemas dan dihancurkan dengan baik.6 Tindakan Pencegahan a. T.limfositik virus pada manusia tipe I. Virus dapat bertahan pada permukaan yang kering. babesiosis.

alkohol.25% larutan sodium hipoklorit selama 1 jam atau dengan autoklaf pada 132ºC selama 1 jam. dan beberapa kultur virus dan jamur lebih aman bila dengan tindakan . Tingkat Biosafety The Center for Disease Control (CDC) dan The National Institutes of Health mempunyai sistem pengkodeaan dari peningkatan level keamanan dari laboratorium mikrobiologi dan klinik. tetapi pemurnian dengan kontaminasi minimal dari kultur. Kuman tahan terhadap formalin dan bahan fiksasi lain. Praktek laboratorium yang baik meliputi penggunaan alat pipetasi. BSL II berbeda dengan BSL I pada akses ke tempat kerja yang seharusnya dijaga ketat dari individu yang belum terlatih dan prosedur yang jelas seperti aerosol yang menimbulkan infeksi dilakukan di BSC. Tindakan Pencegahan Secara khusus Pencegahan khusus diterapkan pada penanganan jaringan dari pasien Creutzfeld-Jacob disease. seperti Mycobacterium tuberculosis atau jamur sitemik dan HIV.Wadah dengan bagian luar terkontaminasi harus ditempatkan pada kantong plastik saat dikirim ke laboratorium. Dilarang menyemprot jaringan dengan gas pembeku dengan tekanan karena bahan yang infeksius akan memercik. dan panas (diatas 100ºC ). dan pembuangan limbah yang baik. desinfetan harian. Tingkat biosafety (BSL) I yang dibuat untuk laboratorium yang menggunakan bahan biasanya tidak infeksius terhadap manusia. Dibutuhkan pemberlakuan kewaspadaan umum secara tegas. Bekerja dengan menggunakan benchtop yang terbuka. Kabinet kelas III harus digunakan pada sebagian besar agen yang virulen. Kelas I dan II sama tingkatnya dengan keselamatan personel. Sebagian agen infeksius tidak inaktif pada pembekuan. 2. Potong beku dari jaringan yang tidak padat harus hati-hati. Laboratorium klinik seharusnya mengikuti BSL II. pembersihan tumpahan. Kamar beroperasi pada tekanan negatif dengan ruang yang sama ke depan kabinet kelas I. b. Pembuangan cairan atau alat yang terkontaminasi dengan cara direndam dalam 5. Isi harus diperlakukan dengan sarung tangan lengan panjang yang sesuai. Prosedur bakteriologik secara rutin seperti meletakkan dan mempersiapkan hapusan untuk pengecatan diselenggarakan dalam BSL II. Seluruh bahan yang masuk kabinet BSC kelas III harus sudah di autoklaf atau didekontaminasi.7 Biological Safety Cabinetry Merupakan Pengendalian bahaya mikrobiologi terbaik dengan perancangan Biological Safety Cabinetry ( BSC ) yang sesuai. Pemeriksaan parasit. Kabinet Kelas I dan II biasa ditemukan di laboratorim klinik. penelitian bakteri. Ruang tertutup seluruhnya. BSL II efektif dalam pengendalian bahaya infeksi dari agen yang ada dalam darah pada spesimen laboratorium klinik. 5. Udara dalam kamar dikeluarkan melalui High Effeciency Particulare Air (HEPA) filter / filter efisiensi partikel udara. BSC kelas II merupakan aliran udara vertikal dan udara dalam yang disirkulasi ulang melalui filter HEPA. Kabinet kelas I digunakan pada tekanan negatif dengan kecepatan aliran sekitar 75 kaki / menit.25% larutan sodium hipoklorit atau 1 N sodium hidroksi sangat efektif menginaktifkan agen pada permukaan. Pembekuan jaringan harus dilakukan dengan hati-hati. Bagian depan dari BSC kelas I dapat dibuka atau tertutup dengan sarung tangan lengan panjang. Kelas III BSC dibutuhkan pada fasilitas khusus yang mengkultur.

Sebagian kecil laboratorium klinik yang mengkultur jamur sistemik dan tuberkulosis butuh melanjutkan ke BSL III.25% sodium hipoklorit). Antiseptik adalah bahan kimia pembunuh kuman yang cocok untuk kulit. Personel sebaiknya memakai sarung tangan selama beraktivitas. Germisida adalah istilah umum untuk semua substansi yang dapat membunuh kuman patogen. Desinfektan sangat efektif melawan mikroorganisme yang terseleksi. Frekuensinya tergantung dari penggunaannya. Akses ke laboratorium dan aliran dikendalikan secara cermat. gunakan desinfektan yang sesuai. Formula iodofor merupakan desinfektan kuat yang bisa juga digunakan. Aldehid ( dalam larutan glutaraldehid atau formaldehid) dan fenol juga efektif namun toksik. Semua prosedur dilakukan dalam BSC atau alat yang seusai. Larutan yang baru.. Kerusakan tabung dalam sentrifuse. Kebersihan diri dengan memakai dan menggunakan alat pengaman keselamatan kerja. Sampel darah atau jaringan yang tumpah harus dibersihkan dan didekontaminasi. BAB III PENUTUP 3. BSL III sesuai dengan laboratorium yang bekerja dengan agen yang dapat menyebabkan penyakit yang fatal bila terhirup. Antiseptik sebaiknya tidak digunakan untuk desinfektan laboratorium. jaringan dan membran mukosa.8 Dekontaminasi Beberapa prosedur dan teknik yang mengurangi infektifitas dari substansi atau bahan menjadi tingkat lebih aman (noninfektif) disebut dekontaminasi. Pekerja harus memakai pakaian pelindung yang lengkap. 1:10 larutan pemutih ( 5. Oleh karena itu. Tumpahan pada alat segera dibersihkan dan didesinfektan. rotor harus ditunggu sampai benar-benar berhenti sebelum membuka penutupnya. Setelah semua darah yang terlihat dibersihkan. Protein dan lemak dalam cat dapat menginaktifkan desinfektan kimia atau sebagai barier sekitar agen infeksius. Desinfektan mungkin tidak efektif melawan spora bakteri dan mikobakteria. Bagian luar dibersihkan dengan deterjen dan desinfektan. Sterilisasi penghancuran secara komplet semua kuman infeksius ( termasuk mikobakteria dan spora). Potensi paparan dapat diminimalkan dengan cara yang sederhana. bahan hanya digunakan pada ruang dengan ventilasi yang adekuat atau dengan masker asap kimia. 2. Pecahan kaca diambil dengan forsep. sisanya kemudian dicuci dengan detergen dan air.pencegahan dalam BSL II. EPA membagi germisida menjadi 3 kategori umum. Dekontaminasi pada instrumen laboratorium sebaiknya dilakukan secara teratur. Desinfektan diproduksi tergantung dari spektrum aktivitas tertentu.1 Kesimpulan . Forsep atau sekop digunakan untuk membersihkan pecahan gelas tanpa harus kontak manual. sehingga droplet yang melalui udara mengendap.

Alat Pelindung Diri.blogspot.00..Ensiklopedia Indonesia. jas laboratorium dan masker.com/2010/01/perlengkapan-perlindungan-diri-est-sop.Keamanan kerja di Laboratorium Kesehatan bertujuan agar petugas. Dalam penanganan spesimen perlu diperhatikan cara pemeliharaan/mempertahankan kualitas kerja (perfomance) pada setiap taraf/langkah dalam keseluruhan rantai prosesnya Agar nantinya tidak terjadinya kecelakaan kerja. b. aman.wikipedia. CRC Press. Online pada http://harapan- msystem.wordpress. salah satu persyaratan adalah pada pemakaian alat pelindung diri berupa sarung tangan. masyarakat dan lingkungan laboratorium kesehatan saat bekerja selalu dalam keadaan sehat.2 Saran a.com Anonim. PERLENGKAPAN PERLINDUNGAN DIRI-EST-SOP-EHS. perlu kemauan. dan produktif. 1994. Hall. nyaman. . c. Petugas Kesehatan dan non kesehatan sebaiknya disiplin terhadap pemakaian alat pelindung diri (APD) dan higiene petugas sehabis penanganan sampel berupa pencucian tangan tidak boleh diabaikan. Daftar Pustaka : www. kemampuan dan kerjasama yang baik dari semua pihak.04-R. 3. Penyuluhan tentang APD kepada semua masyarakat agar dapat mengurangi angka kecelakaan pada saat bekerja dan Penggunaan APD sebaiknya sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja.com/2008/04/04/alat pelindung-diri/ diakses pada April 2010 Anonim. Inc. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut. Selain itu aspek prilaku petugas sendiri terhadap disiplin pemakaian alat pelindung diri (APD) dan higiene petugas sehabis penanganan sampel berupa pencucian tangan tidak boleh diabaikan. Untuk menjamin keselamatan diri di laboratorium. Chemical Safety in the Laboratory. Online pada http://hiperkes.html diakses pada April 2010 Stephen K. Penanggung-jawab laboratorium. karyawan yang bekerja didalamnya dan bahkan pelanggan harus mempunyai sikap yang sama dalam pelaksanaan keamanan kerja di laboratorium kesehatan. stake holder laboratorium yang lain seperti pemilik. selamat.

2001.Robert J. Git feffag GmbH. Fundamentals of Laboratory Safety. Handbook of Chemical Health and Safety. Merck KGaA. Alaimo. Oxford University Press. 2001 . American Chemical Society.