You are on page 1of 14

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIANOMOR 3 TAHUN

2014 TENTANGSANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKATDENGAN RAHMAT TUHAN
YANG MAHA ESAMENTERI KESEHATAN REPUBLIK
INDONESIA,Menimbang : a. bahwa dalam rangka memperkuat upaya perilakuhidup bersih dan sehat,
mencegah penyebaran penyakitberbasis lingkungan, meningkatkan kemampuanmasyarakat, serta
meningkatkan akses air minum dansanitasi dasar, perlu menyelenggarakan sanitasi totalberbasis
masyarakat;
b. bahwa Keputusan Menteri Kesehatan Nomor852/Menkes/SK/IX/2008 tentang Strategi
NasionalSanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dipandangsudah tidak sesuai dengan
perkembangan dankebutuhan masyarakat;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimanadimaksud dalam huruf a dan huruf b,
perlumenetapkan Peraturan Menteri Kesehatan tentangSanitasi Total Berbasis
Masyarakat;Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentangPemerintahan Daerah
(Lembaran Negara RepublikIndonesia Tahun 2004 Nomor 125, TambahanLembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhirdengan Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 2008(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008Nomor 59, Tambahan
Lembaran Negara RepublikIndonesia Nomor 4844);2. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008
tentangPengelolaan Sampah (Lembaran Negara RepublikIndonesia Tahun 2008 Nomor 69, Tambahan
LembaranNegara Republik Indonesia Nomor 4851);3. Undang-Undang...

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492/Menkes/Per/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Tambahan Lembaran NegaraRepublik Indonesia Nomor 5063). dan PemerintahanDaerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara RepublikIndonesia Tahun 2007 Nomor 82. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor2269/Menkes/Per/XI/2011 tentang PedomanPembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (BeritaNegara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 755).. Tambahan Lembaran Negara RepublikIndonesia Nomor 4161).9. -2- 3.10. Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2012 tentangSistem Kesehatan Nasional (Lembaran Negara RepublikIndonesia Tahun 2012 Nomor 193). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 876/Menkes/SK/VIII/2001 tentang Pedoman Teknis Analisis DampakKesehatan Lingkungan.MEMUTUSKAN.4.Pemerintahan Daerah Provinsi. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5059).. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009Nomor 140. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor1144/Menkes/Per/VIII/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan (Berita NegaraRepublik Indonesia Tahun 2010 Nomor 585)sebagaimana telah diubah dengan Peraturan MenteriKesehatan Nomor 35 Tahun 2013 (Berita NegaraRepublik Indonesia Tahun 2013 Nomor 741). .8. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentangKesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentangPengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian PencemaranAir (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001Nomor 153.5. Tambahan LembaranNegara Republik Indonesia Nomor 4737).6.7.11. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentangPembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah.

8. dan kebiasaan individu ataumasyarakat. Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga adalah melakukan kegiatan mengelola air minum dan makanan di rumah tangga untuk memperbaiki dan menjaga kualitas air dari sumber air yang akan digunakan untuk air minum. 9. pola pikir. dan mendaur ulang . Cuci Tangan Pakai Sabun adalah perilaku cuci tangan dengan menggunakan air bersih yang mengalir dan sabun . kamar mandi dan dapur yang memenuhi standar baku mutu kesehatan lingkungan dan persyaratan kesehatan yang mampu memutus mata rantai penularan penyakit. Stop Buang Air Besar Sembarangan adalah kondisi ketika setiapindividu dalam suatu komunitas tidak lagi melakukan perilaku buang air besar sembarangan yang berpotensi menyebarkan penyakit. Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah adalahPresiden Republik Indonesia yang . Pengamanan Limbah Cair Rumah Tangga adalah melakukan limbah cair di rumah tangga yang berasal dari sisakegiatan mencuci.BAB IKETENTUAN UMUM Pasal 1Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. serta untuk menerapkan prinsip higiene sanitasi pangan dalam proses pengelolaan makanan dirumah tangga. 3.Sanitasi Total Berbasis Masyarakat yang selanjutnya disingkat STBM adalah pendekatan untuk mengubah perilaku higienis dan sanite rmelalui pemberdayaan masyarakat dengan cara pemicuan. -4- 9. 4.6... 5. perilaku. Pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat yang selanjutnya disebut Pilar STBM adalah perilaku higienis dan saniter yang digunakansebagai acuan dalam penyelenggaraan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. memakai ulang. Pemerintah. 7. 2. Pemicuan adalah cara untuk mendorong perubahan perilaku higienedan sanitasi individu atau masyarakat atas kesadaran sendiri denganmenyentuh perasaan. -3- MEMUTUSKAN :Menetapkan : PERATURAN MENTERI KESEHATAN TENTANG SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT. Pengamanan Sampah Rumah Tangga adalah melakukan kegiatan pengolahan sampah di rumah tangga dengan mengedepankan prinsipmengurangi.

Pasal 4(1) Perilaku stop buang air besar sembarangan sebagaimana dimaksuddalam Pasal 3 ayat (2) huruf a diwujudkan melalui kegiatan paling sedikit terdiri atas :a. d.11. atau walikota danperangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. dan b. c. Stop Buang Air Besar Sembarangan. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahandi bidang kesehatan. menyediakan dan memelihara sarana buang air besar yangmemenuhi standar dan persyaratan kesehatan. (3) Pilar STBM sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditujukan untuk memutus mata rantai penularan penyakit dan keracunan. Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga. Cuci Tangan Pakai Sabun. Pengamanan Sampah Rumah Tangga. bupati.BAB IIPENYELENGGARAAN Pasal 3(1) Masyarakat menyelenggarakan STBM secara mandiri pada Pilar STBM . (2) Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf b diwujudkan melalui kegiatan paling sedikitterdiri atas . memegang kekuasaan pemerintahanNegara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.10. membudayakan perilaku buang air besar sehat yang dapat memutus alur kontaminasi kotoran manusia sebagai sumber penyakit secara berkelanjutan. b. menyediakan. dane.(2) Pilar STBM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas perilaku: a. -5 b. Pengamanan Limbah Cair Rumah Tangga. Pasal 2Penyelenggaraan STBM bertujuan untuk mewujudkan perilaku masyarakat yang higienis dan saniter secara mandiri dalam rangkameningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi- tingginya ... Pemerintah Daerah adalah gubernur.

memelihara saluran pembuangan dan penampungan limbah cairrumah tangga. penggunaan kembali (reuse) . dan c. sabun.dan pengolahan kembali (recycle).(6) Ketentuan. dan saluran pembuangan air limbah.. (5) Perilaku Pengamanan Limbah Cair Rumah Tangga sebagaimana dimaksud dalam 3 ayat (2) huruf e diwujudkan melalui kegiatan paling sedikit terdiri atas: a. . membudayakan perilaku cuci tangan dengan air bersih yangmengalir dan sabun secara berkelanjutan. menyediakan dan memelihara sarana cuci tangan yang dilengkapidengan air mengalir.b. membudayakan perilaku pengolahan air layak minum danmakanan yang aman dan bersih secara berkelanjutan. menyediakan dan memelihara tempat pengolahan air minum danmakanan rumah tangga yang sehat. membudayakan perilaku memilah sampah rumah tangga sesuaidengan jenisnya dan membuang sampah rumah tangga di luarrumah secara rutin. Dan c. b. . melakukan pemisahan saluran limbah cair rumah tangga melaluisumur resapan dan saluran pembuangan air limbah. melakukan pengurangan (reduce). dan b. (3) Perilaku Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tanggasebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf c diwujudkanmelalui kegiatan paling sedikit terdiri atas :a.menyediakan dan menggunakan penampungan limbah cair rumahtangga. (4) Perilaku Pengamanan Sampah Rumah Tangga sebagaimana dimaksuddalam Pasal 3 ayat (2) huruf d diwujudkan melalui kegiatan palingsedikit terdiri atas: a.:a.. dan b. menyediakan dan memelihara sarana pembuangan sampah rumahtangga di luar rumah.

dan/atau masyarakat yang telah berhasil mengembangkan STBM . kader. relawan. dan c.Pasal 8. Pasal 5(1) Dalam menyelenggarakan STBM sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dan Pasal 4. setelah Pemicuan dilakukan pendampingan kepada masyarakat. merencanakan perubahan perilaku. dilakukan Pemicuan kepada masyarakat. relawan. . (2) Pemicuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh tenaga kesehatan. d. dan/atau masyarakat dalampelaksanaan rencana kerja masyarakat sebagaimana dimaksud dalamPasal 6. -6-(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai perilaku sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5) tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.Pasal 6 Dalam rangka penyelenggaraan STBM masyarakat membentuk kelompok dan membuat rencana kerja pelaksanaan STBM sesuai kebutuhan. memantau terjadinya perubahan perilaku. b. kader... (2) Pendampingan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan olehtenaga kesehatan.(3) Pemicuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diarahkan untukmemberikan kemampuan dalam: a.Pasal 7(1) Untuk mencapai kondisi sanitasi total yang mencakup 5 (lima) Pilar STBM sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2). (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara Pemicuan tercantum dalamLampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari PeraturanMenteri ini. mengevaluasi hasil perubahan perilaku.

Anggaran Pendapatan dan BelanjaDaerah. BAB VII. pengelolaan sumber daya manusia dalam rangka mendukung penyelenggaraan STBM. Gubernur. dan sumber lain yang tidak mengikat sesuai ketentuanperaturan perundang-undangan.dan Bupati/Walikota. dan Bupati/Walikota dalam pelaksanaanpembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)dapat melimpahkan kewenangannya kepada satuan kerja yangmemiliki tugas dan fungsi terkait penyelenggaraan STBM. penyelenggaraan STBM oleh masyarakat. . dan c. Gubernur. b. (2) Pendanaan untuk mendukung penyelenggaraan STBM olehPemerintah dan Pemerintah Daerah bersumber dari AnggaranPendapatan dan Belanja Negara.. pelaksanaan dukungan penyelenggaraan STBM.Pasal 18Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17terutama diarahkan terhadap:a. -10- BAB V PENDANAAN Pasal 16(1) Pendanaan penyelenggaraan STBM bersumber dari masyarakat. BAB VI PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 17(1) Pembinaan dan pengawasan dilaksanakan oleh Menteri. (2) Menteri..

ttdNAFSIAH MBOIDiundangkan di Jakartapada tanggal 10 Februari 2014 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIAREPUBLIK INDONESIA.ttdAMIR SYAMSUDINBERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2014 NOMOR 193 -12- LAMPIRANPERATURAN MENTERI KESEHATANNOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANGSANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKATI.Ditetapkan di Jakartapada tanggal 27 Januari 2014MENTERI KESEHATANREPUBLIK INDONESIA . -11- BAB VII KETENTUAN PENUTUP Pasal 19Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku. .Pasal 20Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Keputusan MenteriKesehatan Nomor 852/Menkes/SK/IX/2008 tentang Strategi NasionalSanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dicabut dan dinyatakan tidakberlaku.Agar setiap orang mengetahuinya. memerintahkan pengundanganPeraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita NegaraRepublik Indonesia.

Perubahan perilaku dalam STBM dilakukan melalui metodePemicuan yang mendorong perubahan perilaku masyarakatsasaran secara kolektif dan mampu membangun sarana sanitasisecara mandiri sesuai kemampuan. Pemerintah merubah pendekatanpembangunan sanitasi nasional dari pendekatan sektoral denganpenyediaan subsidi perangkat keras yang selama ini tidakmemberi daya ungkit terjadinya perubahan perilaku higienis danpeningkatan akses sanitasi.Pelaksanaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) denganlima pilar akan mempermudah upaya meningkatkan aksessanitasi masyarakat yang lebih baik serta mengubah danmempertahankan keberlanjutan budaya hidup bersih dan sehat.B. LIMA PILAR STBMLima Pilar STBM terdiri dari: 1. Anggaran Pendapatan dan BelanjaDaerah. dan sumber lain yang tidak mengikat sesuai ketentuanperaturan perundang-undangan. Untuk itu perlu dilakukan intervensi terpadu melaluipendekatan sanitasi total.(2) Pendanaan untuk mendukung penyelenggaraan STBM olehPemerintah dan Pemerintah Daerah bersumber dari AnggaranPendapatan dan Belanja Negara. Stop Buang air besar Sembarangan (SBS)Suatu kondisi ketika setiap individu dalam komunitas tidakbuang air besar sembarangan. PENDAHULUAN Tantangan yang dihadapi Indonesia terkait pembangunankesehatan. higiene dan sanitasi masih sangatbesar.Perilaku SBS diikuti dengan pemanfaatan sarana sanitasi yangsaniter berupa jamban sehat.PERILAKU HIGIENIS DAN SANITER DALAM SANITASI TOTALBERBASIS MASYARAKATA.Pelaksanaan STBM dalam jangka panjang dapat menurunkanangka kesakitan dan kematian yang diakibatkan oleh sanitasi yang kurang baik. dan dapat mendorong tewujudnya masyarakatsehat yang mandiri dan berkeadilan. Saniter merupakan kondisifasilitas sanitasi yang memenuhi standar dan persyaratankesehatan yaitu: -13 -10-BAB V PENDANAAN Pasal 16(1) Pendanaan penyelenggaraan STBM bersumber dari masyarakat. . khususnya bidang. menjadi pendekatan sanitasi totalberbasis masyarakat yang menekankan pada 5 (lima) perubahanperilaku higienis.

penyelenggaraan STBM oleh masyarakat. Keputusan MenteriKesehatan Nomor 852/Menkes/SK/IX/2008 tentang Strategi NasionalSanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dicabut dan dinyatakan tidakberlaku..b.. dan Bupati/Walikota dalam pelaksanaanpembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)dapat melimpahkan kewenangannya kepada satuan kerja yangmemiliki tugas dan fungsi terkait penyelenggaraan STBM.BAB VII.Agar setiap orang mengetahuinya. memerintahkan pengundanganPeraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita NegaraRepublik Indonesia.Ditetapkan di Jakartapada tanggal 27 Januari 2014MENTERI KESEHATANREPUBLIK INDONESIA.ttdAMIR SYAMSUDINBERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2014 NOMOR 193 -12- . pengelolaan sumber daya manusia dalam rangka mendukungpenyelenggaraan STBM.(2) Menteri. -11-BAB VIIKETENTUAN PENUTUPPasal 19Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku. pelaksanaan dukungan penyelenggaraan STBM. Gubernur.Pasal 20Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. danc.Pasal 18Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17terutama diarahkan terhadap:a.ttdNAFSIAH MBOIDiundangkan di Jakartapada tanggal 10 Februari 2014MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIAREPUBLIK INDONESIA.dan Bupati/Walikota.BAB VIPEMBINAAN DAN PENGAWASANPasal 17(1) Pembinaan dan pengawasan dilaksanakan oleh Menteri. Gubernur.

PERILAKU HIGIENIS DAN SANITER DALAM SANITASI TOTALBERBASIS MASYARAKATA. khususnya bidang. Pemerintah merubah pendekatanpembangunan sanitasi nasional dari pendekatan sektoral denganpenyediaan subsidi perangkat keras yang selama ini tidakmemberi daya ungkit terjadinya perubahan perilaku higienis danpeningkatan akses sanitasi. Untuk itu perlu dilakukan intervensi terpadu melaluipendekatan sanitasi total. Stop Buang air besar Sembarangan (SBS)Suatu kondisi ketika setiap individu dalam komunitas tidakbuang air besar sembarangan.Pelaksanaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) denganlima pilar akan mempermudah upaya meningkatkan aksessanitasi masyarakat yang lebih baik serta mengubah danmempertahankan keberlanjutan budaya hidup bersih dan sehat. LIMA PILAR STBMLima Pilar STBM terdiri dari: 1.Perilaku SBS diikuti dengan pemanfaatan sarana sanitasi yangsaniter berupa jamban sehat.Pelaksanaan STBM dalam jangka panjang dapat menurunkanangka kesakitan dan kematian yang diakibatkan oleh sanitasi yang kurang baik. Saniter merupakan kondisifasilitas sanitasi yang memenuhi standar dan persyaratankesehatan yaitu: . LAMPIRANPERATURAN MENTERI KESEHATANNOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANGSANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKATI. dan dapat mendorong tewujudnya masyarakatsehat yang mandiri dan berkeadilan. PENDAHULUAN Tantangan yang dihadapi Indonesia terkait pembangunankesehatan.Perubahan perilaku dalam STBM dilakukan melalui metodePemicuan yang mendorong perubahan perilaku masyarakatsasaran secara kolektif dan mampu membangun sarana sanitasisecara mandiri sesuai kemampuan. menjadi pendekatan sanitasi totalberbasis masyarakat yang menekankan pada 5 (lima) perubahanperilaku higienis. higiene dan sanitasi masih sangatbesar. B.

tetapi harus diberi tutup.Standar dan persyaratan kesehatan bangunan jamban terdiri dari : a) Bangunan atas jamban (dinding dan/atau atap) Bangunan atas jamban harus berfungsi untuk melindungi pemakai dari gangguan cuaca dan gangguan lainnya. yaitu: .Bentutidak mengakibatkan terjadinya penyebaran langsung bahan-bahan yang berbahaya bagi manusia akibat pembuangan kotoran manusia.Contoh perubahan perilaku SBS : Jamban sehat efektif untuk memutus mata rantai penularanpenyakit. .Cubluk.Lantai Jamban terbuat dari bahan kedap air. Bagian padat dari kotoran manusia akan tertinggaldalam tangki septik. dan digunakan oleh keluarga dengan penempatan (di dalam rumah atau di luar rumah) yang mudah dijangkau oleh penghuni rumah. c) Bangunan BawahMerupakan bangunan penampungan. -15.dan mempunyai saluran untuk pembuangan air bekas keSistem Pembuangan Air Limbah (SPAL). merupakan lubang galian yang akan menampunglimbah padat dan cair dari jamban yang masuk setiapharinya dan akan meresapkan cairan limbah tersebut kedalam tanah dengan tidak mencemari air tanah. . baik secara langsung maupun tidak langsung. adalah suatu bak kedap air yang berfungsisebagai penampungan limbah kotoran manusia (tinja danurine). -14 -b) Bangunan tengah jamban Terdapat 2 (dua) bagian bangunan tengah jamban. -13- tidak mengakibatkan terjadinya penyebaran langsungbahan-bahan yang berbahaya bagi manusia akibat pembuangan kotoran manusia. Padakonstruksi sederhana (semi saniter). yaitu: . Jamban sehat harus dibangun. dapat mencegah vektor pembawa untuk menyebar penyakit pada pemakai dan lingkungan sekitarnya. Jika tidak memungkinkan dibuatresapan maka dibuat suatu filter untuk mengelola cairantersebut. Terdapat 2 (dua) macam bentuk bangunan bawah jamban. dan .Tangki Septik. danpengurai kotoran/tinja yang berfungsi mencegah terjadinya pencemaran atau kontaminasi dari tinja melalui vector pembawa penyakit. tidak licin.sedangkan bagian padat dari limbah tersebut akan diuraikan secara biologis.Lubang tempat pembuangan kotoran (tinja dan urine) yang saniter dilengkapi oleh konstruksi leher angsa. lubang dapat dibuattanpa konstruksi leher angsa. dan b. pengolah. sedangkan bagian cairnya akankeluar dari tangki septik dan diresapkan melaluibidang/sumur resapan. dimiliki.

Terdapat 2 (dua) macam bentuk bangunan bawah jamban.Lubang tempat pembuangan kotoran (tinja dan urine) yang saniter dilengkapi oleh konstruksi leher angsa. . - Cubluk. pengolah. Jamban sehat harus dibangun. merupakan lubang galian yang akan menampunglimbah padat dan cair dari jamban yang masuk setiapharinya dan akan meresapkan cairan limbah tersebut kedalam tanah dengan tidak mencemari air tanah. c) Bangunan BawahMerupakan bangunan penampungan. baik secara langsung maupun tidak langsung.Lantai Jamban terbuat dari bahan kedap air. yaitu: . tidak licin. . tetapi harus diberi tutup. lubang dapat dibuat tanpa konstruksi leher angsa.Standar dan persyaratan kesehatan bangunan jamban terdiri dari : a) Bangunan atas jamban (dinding dan/atau atap)Bangunan atas jamban harus berfungsi untuk melindungipemakai dari gangguan cuaca dan gangguan lainnya. yaitu: - Tangki Septik. adalah suatu bak kedap air yang berfungsi sebagai penampungan limbah kotoran manusia (tinja danurine). Jika tidak memungkinkan dibuat resapan maka dibuat suatu filter untuk mengelola cairan tersebut. Pada konstruksi sederhana (semi saniter). dimiliki. danpengurai kotoran/tinja yang berfungsi mencegah terjadinyapencemaran atau kontaminasi dari tinja melalui vektorpembawa penyakit.Contoh perubahan perilaku SBS : Jamban sehat efektif untuk memutus mata rantai penularan penyakit.dan mempunyai saluran untuk pembuangan air bekas ke Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL).sedangkan bagian padat dari limbah tersebut akan diuraikan secara biologis. sedangkan bagian cairnya akan keluar dari tangki septik dan diresapkan melalui bidang/sumur resapan. dan digunakan oleh keluarga dengan penempatan (di dalam rumahatau di luar rumah) yang mudah dijangkau oleh penghuni rumah. dapat mencegah vektor pembawa untuk menyebar penyakitpada pemakai dan lingkungan sekitarnya.b. Bagian padat dari kotoran manusia akan tertinggal dalam tangki septik. -14-b) Bangunan tengah jamban Terdapat 2 (dua) bagian bangunan tengah jamban.

kedua jempol.Bilas dengan air bersih sambil menggosok-gosok keduatangan sampai sisa sabun hilang. . jika diperlukan dinding cubluk diperkuat dengan pasangan bata. penguat kayu. .Keringkan kedua tangan dengan memakai kain. sampai semua permukaan kena busasabun.a. handukbersih. atau kertas tisu. batukali. -16-b. dan sebagainya. Waktu . buis beton. Langkah-langkah CTPS yang benar : . . anyaman bambu. atau mengibas-ibaskan keduatangan sampai kering. Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS)CTPS merupakan perilaku cuci tangan dengan menggunakansabun dan air bersih yang mengalir . . jari jemari.Bersihkan ujung-ujung jari dan sela-sela di bawah kuku.dindingnya harus aman dari longsoran.Basahi kedua tangan dengan air bersih yang mengalir. 2.-15-Bentuk cubluk dapat dibuat bundar atau segi empat.Gosokkan sabun pada kedua telapak tangan sampaiberbusa lalu gosok kedua punggung tangan.