You are on page 1of 30

PROPOSAL PENELITIAN

EFEKTIVITAS PENYALURAN KUR (KREDIT USAHA RAKYAT)


PADA PT. BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK. UNIT
TANAH LEMO KECAMATAN BONTO BAHARI
KABUPATEN BULUKUMBA

ARIF MUDASSIR
105610441812

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2018

i
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama Mahasiswa : Arif Mudassir

Nomor Stambuk : 105610441812

Program Studi : Ilmu Administrasi Negara

Menyatakan bahwa benar karya ilmiah ini adalah penelitian saya sendiri

tanpa bantuan dari pihak lain atau telah ditulis/dipublikasikan orang lain atau

melakukan plagiat. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila di

kemudian hari pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi

akademik sesuai aturan yang berlaku, sekalipun itu pencabutan gelar akademik.

Makassar, …………………… 2018

Yang menyatakan,

Arif Mudassir

ii
KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha

Penyayang, penulis panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah

melimpahkan rahmat, hidayah, dan Inayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis

dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Seminar Pendidikan yaitu proposal

penelitian dengan judul “Efektivitas Penyaluran Kredit Usaha Rakyat Pada Pt.

Bank Rakyat Indonesia Tbk. Unit Tanah Lemo Kecamatan Bonto Bahari

Kabupaten Bulukumba Adapun proposal penelitian telah penulis usahakan

semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat

memperlancar pembuatan proposal ini. penulis mengucapkan terima kasih kepada

semua pihak yang telah membantu sehingga proposal ini dapat diselesaikan tepat

pada waktunya. proposal ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan

saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi sempurnanya

proposal ini.

Semoga proposal ini memberikan informasi bagi masyarakat dan

bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi

kita semua.

Wassalamu Alaikum Wr. Wb

Makassar, Maret 2018

Penulis

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL .................................................................................. i

HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING ........................................... ii

KATA PENGANTAR .................................................................................... iii

DAFTAR ISI .................................................................................................. iv

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1

A. Latar Belakang Masalah ................................................................ 1

B. Rumusan Masalah .......................................................................... 3

C. Tujuan Penelitian .......................................................................... 4

D. Manfaat Penelitian Kegunaan Penelitian ...................................... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 6

A. Pengertian Efektivitas .................................................................... 6

B. Kerangka Pikir .............................................................................. 11

C. Fokus Penelitian ............................................................................ 13

D. Deskripsi Fokus Penelitian ............................................................ 13

BAB III METODE PENELITIAN .............................................................. 16

A. Waktu dan Lokasi Penelitian ........................................................ 16

B. Jenis dan Tipe Penelitian................................................................ 16

C. Sumber Data ................................................................................... 17

D. Informan Penelitian ........................................................................ 17

E. Teknik Pengumpulan Data ............................................................ 18

F. Teknik Analisa Data ...................................................................... 19

G. Keabsahan Data ............................................................................. 24

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 25

iv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pertumbuhan dan pemerataan ekonomi merupakan indikator dalam

proses pembangunan sebuah Negara, terlebih bagi Negara-negara yang sedang

berkembang dimana pembangunan diarahkan untuk mencapai tingkat

kemakmuran bagi rakyatnya. Di Indonesia, tujuantersebut tercantum dalam

Pembukaan Undang- Undang Dasar 1945 yaitu untuk memejukan kesejahteraan

umum. Tujuan ini memliki maksud bahwa kesejahteraan masyarakat Indonesia

adalah prioritas terpentung dalam proses pembangunan Indonesia.

Indonesia mengalami krisis ekonomi pada tahun 1997-1998 yang

mengakibatkan menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar dan situasi pada

sektor riil menunjukan banyak usaha-usaha besar yang gulung tikar

(Sugiyono,2003). Hal ini merupakan pelajaran yang sangat penting untuk

kembali mencermati suatu pembangunan ekonomi yang benar-benar harus

memiliki struktur yang kuat dan dapat bertahan dalam situasi apapun.

Kontribusi yang diberikan oleh pelaku usaha mikro kecil dan menengah

(UMKM) pada kondisi krisis ekonomi dapat dinilai sebagai penopang dalam

proses pemulihan perekonomian nasional, dipandang dari laju pertumbuhan

ekonomi nasional maupun dalam peningkatan kesempatan kerja.

Pemerintah mulai merencanakan program kredit usaha rakyat (KUR)

pada tahun 2007 sebagai respon atas Instruksi Presiden No. 6 Tahun 2007

tentang kebijakan percepatan pengembangan sector riil dan pemberdayaan

1
2

usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) khususnya bidang reformasi sector

keuangan. Inpres tersebut ditindak lanjuti dengan ditanda tanganinya Nota

Kesepahaman Bersama (Memorandum of Understanding/MoU) antara

pemerintah, lembaga penjaminan, dan perbankan pada tanggal 9 oktober 2007

sebagaimana kemudian di ubah dengan addendum pada tanggal 14 Mei 2008

tentang penjaminan kredit/pembiayaan kepada UMKM dan koperasi atau yang

lebih popular dengan istilah program kredit Usaha Rakyat (KUR) Pemerintah

mengesahkan UU No. 20 tahun 2008 mengenai Usaha Mikro Kecil dan

Menengah (UMKM) Terbentuknya Undang-undang tersebut bermaksud agar

pemeberdayaan usaha mikro kecil dan menengah dapat ditingkatkan secara

nasional sampai bulan November 2014, bank nasional yang menyalurkan KUR

sebanyak 7 (tujuh) bank yaitu Bank Nasional Indonesia (BNI), Bank Rakyat

Indonesia (BRI), Bank Mandiri, Bank Tabungan Negara (BTN), Bank Bukopin,

Bank Syariah Mandiri (BSM) dan Bank Negara Indonesia Syariah (BNI

Syariah).

Penilaian efektivitas dalam penyaluran kredit usaha rakyat dan

pengaruhnya terhadap peningkatan kinerja usaha mikro kecil dapat di ukur

menggunakan lima aspek, yaitu aspek ketepatan sasaran program, aspek

ketepatan waktu, aspek ketepatan jumlah uang yang diterima oleh nasabah,

aspek ketepatan beban kredit dan aspek ketepatan prosedur. Faktor-faktor

produksi sangat berpengaruh terhadap peningkatan kinerja perusahaan. Faktor

produksi sumber daya alam (SDA) adalah faktor produksi yang dapat diambil

langsung dari alam untuk dimanfaatkan manusia dalam rangka meningkatkan


3

kesejahteraan. Faktor produksi tenaga kerja ialah sesuatu yang mengelola

sumber daya alam tersebut dengan menggunakan tenaga dari manusia atau biasa

disebut dengan sumber daya manusia (SDM). Selain faktor-faktor diatas, modal

pun memiliki peranan penting dalam proses pengadaan barang dan jasa dengan

modal yang memadai akan terjadinya kelancaran dalam menjalankan kegiatan

ekonomi. Tanpa adanya modal yang cukup, tentu akan menghambat proses

pengadaan barang dan jasa. Yang terakhir faktor produksi kewirausahaan

adalah kemampuan intelektual seorang pengusaha untuk menyatukan ketiga

faktor produksi (SDA, SDM, dan modal) dalam suatu proses produksi.

Seperti yang kita ketahui bahwa efektivitas berarti suatu keadaan atau

kegiatan itu mencapai taraf sesuai dengan yang diinginkan, ataupun berhasil.

Berarti diharapkan bahwa penyaluran dana Kredit Usaha Rakyat ini dapat

berhasil membantu rakyat Indonesia yang melakukan UMKM (Usaha mikro,

kecil dan menengah). Tetapi apakah benar bahwa penyaluran dana Kredit Usaha

Rakyat (KUR) yang disalurkan oleh BRI sudah efektif ?

Oleh karena itu hal tersebut diatas, peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian dengan judul: “Efektivitas Penyaluran Kredit Usaha Rakyat

(KUR) Pada Pt. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Unit Tanah Lemo

Kecamatan Bonto Bahari Kabupaten Bulukumba”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah yang telah dikemukakan

di atas maka rumusan masalah yang akan dijawab melalui penelitian ini adalah:

1. Bagaimana Efektivitas Penyaluran Dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) Pada


4

PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Unit Tanah Lemo Kecamatan

Bontobahari Kab. Bulukumba?

2. Faktor-Faktor Apa Yang Menghambat Penyaluran Dana Kredit Usaha

Rakyat (KUR) Pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Unit Tanah

Lemo Kecamatan Bontobahari Kab. Bulukumba

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah :

1. Untuk mengetahui efektivitas penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada

PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Unit Tanah Lemo Kab.

Bulukumba.

2. Untuk mengetahui tahapan-tahapan dalam pemberian Kredit Usaha Rakyat

(KUR) pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Unit Tanah Lemo

Kab. Bulukumba.

D. Manfaat Penelitian Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat atau

kegunaan baik teoritis maupun praktis sebagai berikut:

1. Secara Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan dan

informasi bagi dunia akademik di bidan ilmu pengetahuan, khususnya

mengetahui efektivitas penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada PT.

Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Unit Tanah Lemo Kab. Bulukumba.
5

2. Secara praktis

Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan atau

sumbangan pemikiran bagi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Unit

Tanah Lemo kab. Bulukumba dalam melayani pemberian Kredit Usaha

Rakyat (KUR).
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Efektivitas

1. Efektivitas

Efektivitas merupakan unsur pokok untuk mencapai tujuan atau

sasaran yang telah ditentukan di dalam setiap organisasi, kegiatan ataupun

program. Disebut efektif apabila tercapai tujuan ataupun sasaran seperti

yang telah ditentukan. Sementara menurut Steers (dalam sutrisno, 2011)

pada umumnya efektivitas hanya dikaitkan dengan tujuan organisasi, yaitu

laba, yang cenderung mengabaikan aspek terpenting dari keseluruhan

prosesnya, yaitu sumber daya manusia. Dalam penelitian mengenai

efektivitas organisasi, sumber daya manusia dan perilaku manusia

seharusnya selalu muncul menjadi focus primer, dan usaha-usaha untuk

meningkatkan efektivitas seharusnya selalu dimulai dengan meneliti

perilaku manusia di tempat kerja, pendapat yang dikemukakan oleh Caster

I. Bernard, efektivitas adalah tercapainya sasaran yang telah disepakati

bersama (Bernard,1992). Menurut Effendy mendefinisikan efektivitas

sebagai berikut: “Komunikasi yang prosesnya mencapai tujuan yang

direncanakan sesuai dengan biaya yang dianggarkan, waktu yang ditetapkan

dan jumlah personil yang ditentukan” (Effendy, 1989) sedangkan Menurut

Susanto, “Efektivitas merupakan daya pesan untuk mempengaruhi atau

tingkat kemampuan pesan-pesan untuk mempengaruhi” (Susanto, 1975).

Untuk itu pengukuran efektivitas secara umum dan yang paling

6
7

menonjol adalah:

a. Keberhasilan program

b. Keberhasilan sasaran

c. Kepuasan terhadap program

d. Tingkat input dan output

Dengan demikian efektivitas bisa diartikan sebagai suatu

pengukuran akan tercapainya tujuan yang telah direncanakan sebelumnya

secara matang. Efektivitas (effectiveness) yang didefinisikan secara abstrak

sebagai tingkat pencapaian tujuan, diukur dengan rumus hasil dibagi dengan

tujuan. Tujuan yang bermula pada visi yang bersifat abstrak itu dapat

dideduksi sampai menjadi kongkrit, yaitu sasaran atau strategi. Menurut

Ensiklopedia administrasi, (Liang Gie, 1967) menyampaikan pemahaman

tentang efektifitas sebagai berikut :

Efektifitas adalah suatu keadaan yang mengandung pengertian

mengenai terjadinya suatu efek atau akibat yang dikehendaki, kalau

seseorang melakukan suatu perbuatan dengan maksud tertentu yang

memang dikehendaki. Maka orang itu dikatakan efektif kalau menimbulkan

atau mempunyai maksud sebagaimana yang dikehendaki.

Dari semua penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa

suatu hal dapat dikatakan efektif apabila hal tersebut sesuai dengan yang

dikehendaki, artinya, pencapaian hal yang dimaksud merupakan pencapaian

tujuan dilakukannya tindak-tindakan untuk mencapai hal tersebut.

Efektivitas dapat diartikan sebagai suatu proses pencapaian suatu tujuan


8

yang telah ditetapkan sebelumnya. Suatu usaha atau kegiatan dapat

dikatakan efektif apabila usaha atau kegiatan tersebut telah mencapai

tujuannya. Apabila tujuan yang dimaksud adalah tujuan suatu instansi maka

proses pencapaian tujuan tersebut merupakan keberhasilan dalam

melaksanakan program atau kegiatan menurut wewenang, tugas dan fungsi

instansi tersebut. Jadi dimaksudkan disini yaitu bagaimana penyaluran dana

KUR pada BRI itu mencapai titik berhasil sesuai dengan teori-teori yang

ada tersebut. Untuk mengetahui apakah penyaluran dana KUR tersebut

efektif atau tidak maka dibutuhkan indikator atau alat ukur.

Alat ukur yang digunakan disini untuk mengetahui apakah

penyaluran dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) itu berhasil ataupun tidak

adalah dengan melihat apakah tujuan dari dibentuknya program Kredit

Usaha Rakyat (KUR) ini sudah tercapai dan apakah memberi manfaat bagi

masyarakat khususnya para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM).

2. Kredit Usaha Rakyat (KUR)

Menurut Sofwan (2012) Kredit Usaha Rakyat, yang selanjutnya

disingkat KUR adalah kredit atau pembiayaan kepada Usaha Kecil

Menengah Koperasi (UMKM-K) dalam bentuk pemberian modal kerja dan

investasi yang didukung fasilitas penjaminan untuk produktif. KUR adalah

program yang dicadangkan oleh pemerintah namun sumber dananya berasal

sepenuhnya dari dana bank. Pemerintah memberikan penjaminan terhadap

resiko KUR sebesar 70% sementara sisanya 30%ditanggung oleh bank

pelaksana. Penjaminan KUR diberikan dalam rangka meningkatkan akses


9

UMKM-K pada sumber pembiayaan dalam rangka mendorong

pertumbuhan ekonomi nasional. KUR disalurkan oleh 6 bank pelaksana

yaitu Mandiri, BRI, BNI, Bukopoin, BTN, Dan Bank Syariah Mandiri

(BSM)

3. Efektivitas Penyaluran Kredit Usaha Rakyat

Untuk mengukur efektivitas suatu program dapat dilakukan dengan

menggunakan aspek-aspek sebagai berikut: 1. Aspek Ketepatan Sasaran.

Yaitu menilai nasabah dari segi kepribadiannya atau tingkah lakunya sehari-

hari maupun kepribadiannya masa lalu. Penilaian personality juga

mencakup sikap emosi, tingkah laku, dan tindakan nasabah dalam

menghadapi suatu masalah dan menyelesaikannya (Kasmir, 2012). sejauh

mana pelanggan dari program tersebut tepat dengan sasaran yang sudah

ditentukan sebelumnya. Sasaran dari program Kredit Usaha Rakyat (KUR)

adalah para pelaku usaha mikro di Jatimulyo yang kekurangan modal dan

nasabah pelaku usaha mikro dalam mengembangkan usahanya. 2. Aspek

Ketepatan Waktu. Adanya batasan waktu sesuai dengan jadwal yang telah

ditentukan. Dalam pemberian kredit pemohon menentukan besarnya jumlah

kredit yang ingin diperoleh dan jangka waktu kreditnya. Penilaian besarnya

kredit dan jangka waktunya dapat kita lihat dari cash flow serta laporan

keuangan (neraca dan laporan rugi laba). (Kasmir, 2012). 3. Aspek

Ketepatan Jumlah Yaitu ketepatan jumlah yang akan di terima oleh nasabah

peminjam kredit dari dana yang di ajukan sebelumnya oleh para nasabah.

Dalam pemberian kredit pemohon menentukan besarnya jumlah kredit yang


10

ingin diperoleh dan jangka waktu kreditnya. Penilaian besarnya kredit dan

jangka waktunya dapat kita lihat dari cash flow serta laporan keuangan

(neraca dan laporan rugi laba) jika dari hasil analisis tidak sesuai dengan

permohonan, maka pihak bank tetap berpedoman terhadap hasil analisis

mereka dalam memutuskan jumlah kredit yang layak diberikan kepada si

pemohon (Kasmir, 2012). 4. Aspek Ketepatan Beban Kredit Yaitu

ketentuan yang disepakati oleh debitur terhadap kreditur tentang segala

sesuatu yang berhubungan dengan pembebanan (bunga) kredit. Bunga

pinjaman merupakan bunga yang dibebankan kepada para peminjam

(debitur) atau harga jual yang harus dibayar oleh nasabah peminjam kepada

bank (Kasmir, 2012). 5. Aspek Ketepatan Prosedur Adalah langkah-langkah

yang telah ditetapkan oleh pihak Bank dan disepakati oleh nasabah agar

proses peminjaman dapat dilaksanakan. Prosedur pemberian kredit

maksudnya adalah tahap-tahap yang harus dilalui sebelum sesuatu kredit

diputuskan untuk di berikan kepada nasabah. Tujuannya adalah untuk

mempermudah bank dalam menilai kelayakan suatu permohonan kredit.

Secara umum prosedur pemberian kredit oleh badan hokum sebagai berikut.

a. Pengajuan berkas-berkas. b. Penyelidikan berkas pinjaman. c.

Wawancara awal. d. On the spot, e. Wawancara II. f. Keputusan kredit. g.

Penandatanganan akad kredit/perjanjian lainnya.


11

B. Kerangka Pikir

Berdasarkan Gambar di bawah. Yang merupakan alur berpikir,

Pemerintah mulai mencanangkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada

tahun 2007 sebagai respon atas Instruksi Presiden No. 6 Tahun 2007 Tentang

Kebijakan Percepatan Pengembangan Sektor Riil dan Pemberdayaan Usaha

Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Inpres tersebut ditindak lanjuti dengan

ditanda tanganinya Nota Kesepahaman Bersama (Memorandum of

Understanding/MoU) antara Pemerintah, Lembaga Penjaminan, dan Perbankan

tentang Penjaminan Kredit/Pembiayaan kepada UMKM dan Koperasi atau

yang lebih populer dengan istilah Program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Bank

Rakyat Indonesia (BRI) Unit Tanah Lemo mengeluarkan program kredit usaha

rakyat (KUR), kemudian program ini disalurkan kepada pengusaha mikro kecil

(UMK) yang membutuhkan dana tambahan/ pinjaman untuk usaha mereka.

Setelah program berjalan pihak bank memastikan program telah berjalan secara

produktif dan efektif sehingga tercapai nya target penyaluran program kredit

usaha rakyat.

Mengenai perkembangan kredit usaha rakyat sebesar 100 triliun, sektor

produktif lebih banyak menerima program kredit usaha rakyat karena tahun lalu

lebih banyak ke sektor perdagangan. (Otoritas Jasa Keuangan:2017). Untuk

mengukur tingkat efektivitas dalam penyaluran kredit usaha rakyat dapat di

ukur menggunakan lima aspek, yaitu aspek ketepatan sasaran, aspek ketepatan

waktu, aspek ketepatan jumlah uang yang diterima oleh nasabah, aspek

ketepatan beban kredit dan aspek ketepatan prosedur.


12

Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Unit Tanah

Lemo Kecamatan Bontobahari Kabupaten

Kredit Usaha Rakyat (KUR)

Realisasi KUR JUKLAK dan Mou

a. Ketetapan Sasaran Program

b. Ketetapan Waktu

c. Ketetapan Jumlah Kredit Penghambat

d. Ketetapan Beban Kredit

e. Ketetapan Prosedur

Efektivitas Penyaluran Kredit Usaha

Rakyat

Gambar 1. Kerangka Pemikiran


13

C. Fokus Penelitian

Fokus penelitian ini adalah Efektivitas Penyaluran Kredit Usaha Rakyat

(KUR) Pada Pt. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Unit Tanah Lemo

Kecamatan Bonto Bahari Kabupaten Bulukumba. Adapun Indikator penyaluran

kredit usaha rakyat terdiri dari Efektivitas, kredit usaha Rakyat, Efektivitas

Penyaluran Kredit, Aspek Ketepatan Sasaran Program, Aspek Ketepatan

Waktu, Aspek Ketepatan Jumlah Kredit, Aspek Ketepatan Beban Kredit, Aspek

Ketepatan Prosedur. Dimana dalam penyaluran kredit usaha rakyat terdapat

factor penghambat dan pendukungnya.

D. Deskripsi Fokus Penelitian

1. Ketepatan Sasaran

Yaitu menilai nasabah dari segi kepribadiannya atau tingkah

lakunya sehari-hari maupun kepribadiannya masa lalu. Penilaian

personality juga mencakup sikap emosi, tingkah laku, dan tindakan nasabah

dalam menghadapi suatu masalah dan menyelesaikannya (Kasmir, 2012).

sejauh mana pelanggan dari program tersebut tepat dengan sasaran yang

sudah ditentukan sebelumnya. Sasaran dari program Kredit Usaha Rakyat

(KUR) adalah para pelaku usaha mikro di Jatimulyo yang kekurangan

modal dan nasabah pelaku usaha mikro dalam mengembangkan usahanya.

2. Ketepatan Waktu

Adanya batasan waktu sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

Dalam pemberian kredit pemohon menentukan besarnya jumlah kredit yang

ingin diperoleh dan jangka waktu kreditnya. Penilaian besarnya kredit dan
14

jangka waktunya dapat kita lihat dari cash flow serta laporan keuangan

(neraca dan laporan rugi laba) (Kasmir, 2012).

3. Aspek Ketepatan Jumlah

Yaitu ketepatan jumlah yang akan di terima oleh nasabah peminjam

kredit dari dana yang di ajukan sebelumnya oleh para nasabah. Dalam

pemberian kredit pemohon menentukan besarnya jumlah kredit yang ingin

diperoleh dan jangka waktu kreditnya. Penilaian besarnya kredit dan jangka

waktunya dapat kita lihat dari cash flow serta laporan keuangan (neraca dan

laporan rugi laba) jika dari hasil analisis tidak sesuai dengan permohonan,

maka pihak bank tetap berpedoman terhadap hasil analisis mereka dalam

memutuskan jumlah kredit yang layak diberikan kepada si pemohon

(Kasmir, 2012).

4. Aspek Ketepatan Beban Kredit

Yaitu ketentuan yang disepakati oleh debitur terhadap kreditur

tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan pembebanan (bunga)

kredit. Bunga pinjaman merupakan bunga yang dibebankan kepada para

peminjam (debitur) atau harga jual yang harus dibayar oleh nasabah

peminjam kepada bank (Kasmir, 2012).

5. Aspek Ketepatan Prosedur

Yaitu langkah-langkah yang telah ditetapkan oleh pihak Bank dan

disepakati oleh nasabah agar proses peminjaman dapat dilaksanakan.

Prosedur pemberian kredit maksudnya adalah tahap-tahap yang harus

dilalui sebelum sesuatu kredit diputuskan untuk di berikan kepada nasabah.


15

Tujuannya adalah untuk mempermudah bank dalam menilai kelayakan

suatu permohonan kredit.

6. Faktor Pendukung adalah factor-faktor yang telah mendukung dalam

peningkatan Efektivitas Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Pada PT.

Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Unit Tanah Lemo Kecamatan Bonto

Bahari Kabupaten Bulukumba.

7. Faktor Penghambat adalah segala factor yang menghambat dalam

peningkatan Efektivitas Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Pada PT.

Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Unit Tanah Lemo Kecamatan Bonto

Bahari Kabupaten Bulukumba.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Waktu penelitian dilakukan selama dua bulan yaitu di mulai bulan Juli

sampai Agustus 2018 dan penelitian ini dilaksanakan di kantor PT. Bank Rakyat

Indonesia (Persero), Tbk. Unit Tanah Lemo, karena lokasi ini mudah dijangkau

oleh peneliti dan mudah untuk mendapatkan data dan belum pernah

dilakukannya penelitian tentang efektivitas penyaluran kredit usaha rakyat

(KUR). Sebagai pelaksana kebijakan daerah yang memberikan pelayanan

langsung kepada pelanggan yang hendak mengajukan Kredit Usaha Rakyat

(KUR).

B. Jenis dan Tipe Penelitian

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode kualitatif. Hal ini di

lakukan penelitian ini berupa untuk mengangkat strategi efektivitas penyaluran

KUR di PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk. Unit Tanah Lemo.

Penggunaan lebih dari satu pendekatan pengumpulan data memerlukan

evaluator menggabungkan kekuatan dan kebenaran dari suatu sumber data. Hal

ini berangkat dari pemaknaan pendekatan penelitian kualitatif itu sendiri

dimana metode kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data

deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang yang diamati.

Tipe penelitian ini adalah tipe penelitian fenomenologi dimaksud

Fenomenologi akan menggali data untuk menemukan makna dari hal-hal

16
17

mendasar dan esensial dari fenomena, realitas, atau pengalaman yang dialami

oleh objek penelitian, Penelitian fenomenologi dapat dimulai dengan

memperhatikan dan menelaah fokus fenomena yang hendak diteliti, yang

melihat berbagai aspek subjektif dari perilaku objek. Kemudian, peneliti

melakukan penggalian data berupa bagaimana pemaknaan objek dalam

memberikan arti terhadap fenomena terkait. Penggalian data ini dilakukan

dengan melakukan wawancara mendalam kepada objek atau informan dalam

penelitian, juga dengan melakukan observasi langsung mengenai bagaimana

objek penelitian menginterpretasikan pengalamannya kepada orang lain.

C. Sumber Data

Sumber data yang di butuhkan dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1. Data primer yaitu data hasil yang diperoleh melalui wawancara, telaah

dokumen dan pengamatan langsung terhadap objek penelitian.

2. Data sekunder yaitu data diperoleh melalui studi kepustakaan, referensi-

referensi, peraturan perundang-undangan, dokumen, observasi, yang

diperoleh dari lokasi penelitian.

D. Informan Penelitian

Dalam penelitian kualitatif, tidak menggunakan istilah populasi ataupun

sampel seperti dalam penelitian kuantitatif. Dalam penelitian kualitatif,

populasi diartikan sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas : obyek/subyek

yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh


18

peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sedangkan

sampel adalah sebagian dari populasi itu. (Sugiyono, 2008 : 297).

Oleh karena itu, peneliti akan menggunakan informan untuk

memperoleh berbagai informasi yang diperlukan selama proses penelitian.

Informan penelitian dipilih berdasarkan teknik purposive yaitu sengaja memilih

orang-orang yang dianggap paling mengetahui dan dapat memberikan

informasi sesuai dengan tujuan penelitian. Berikut merupakan jumlah informasi

dalam penelitian.

Tabel 1. Data informan penelitian

No. Nama Inisial Informan Jumlah


1. Kepala Unit PT. Bank
1
Rakyat Indonesia
2. Bagian Perkreditan (Mantri)
1
PT. Bank Rakyat Indonesia
3. Masyarakat Penerima dana
10
Kredit Usaha Rakyat

E. Teknik Pengumpulan Data

Untuk pengumpulan data dan informasi di lapangan ditempuh beberapa

teknik pengumpulan data sebagai berikut:

1. Wawancara

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan mengadakan tanya jawab

baik secara langsung maupun tidak langsung dengan para nasabah (sampel)

maupun dengan pihak PT. Bank BRI yang mempunyai wewenang.


19

2. Observasi

Teknik pengumpulan data dengan cara peneliti melakukan pengamatan

secara langsung dilapangan dan mencatat gejala-gejala yang di temukan

dilapangan serta menjaring data yang tidak terjangkau

3. Dokumentasi

Dalam penelitian ini metode dokumentasi dilakukan mengumpulkan data

dari dokumen yang ada di PT. Bank BRI berupa proposal pengajuan dan

data lengkap nasabah (sampel) serta dokumen lain yang di perlukan.

F. Teknik Analisa Data

Menurut Miles dan Hubermen (1984) bahwa aktivitas dalam analisis

data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus

sampai tuntas, sehingga datanya jenuh. Ukuran kejenuhan data ditandai dengan

tidak diperolehnya lagi data atau informasi baru. Aktivitas dalam analisis

meliputi reduksi data (data reduction), penyajian data (data display) serta

Penarikan kesimpulan dan verifikasi (conclusion drawing/ verification).

Sejumlah peneliti kualitatif berupaya mengumpulkan data selama

mungkin dan bermaksud akan menganalisis setelah meninggalkan lapangan.

Cara tersebut untuk peneliti kualitatif salah, karena banyak situasi atau konteks

yang tak terekam dan peneliti lupa penghayatan situasinya, sehingga berbagai

hal yang terkait dapat berubah menjadi fragmen-fragmen tak berarti. Sehingga

pekerjaan pengumpulan data bagi peneliti kualitatif harus langsung diikuti

dengan pekerjaan menuliskan, mengedit, mengklasifikasikan, mereduksi, dan

menyajikan.
20

Analisis data kualitatif model miles dan huberman terdapat 3 (tiga)

tahap:

1. Tahap Reduksi Data

Sejumlah langkah analisis selama pengumpulan data menurut

Miles dan Hubernan adalah:

Pertama, menigkatkann data kontak langsung dengan orang,

kejadian dan situasi di lokasi penelitian. Pada alngkah pertama ini

termasuk pula memilih dan meringkas dokumen yang relavan.

Kedua, pengkodean. Pengkodean hendaknya memperhatikan

setidaknya empat hal:

a. Digunakan simbul atau ringkasan.

b. Kode dibangun dalam suatu struktur tertentu

c. Kode dibangun dengan tingkat rinci tertentu

d. Keseluruhannya dibangun dalam suatu sistem yang integratif

Ketiga, dalam anailisis selama pengempulan suatu data adalah

pembuatan catatan obyektif. Peneliti perlu mencatat sekaligus

mengklasifikasikan dan mengedit jawaban atau situasi sebagaimana

adanya, faktual atau obyektif , deskriptif.

Keempat, membuat catatan reflektif. Menuliskan apa yang

terangan dan terfikir oleh peneliti dalam sangkut paut dengan catatan

obyektif tersebut diatas. Harus dipisahkan antara catatan obyektif dan

catatan reflektif.

Kelima, membuat catatan marginal. Miles dan Huberman


21

memisahkan komentat peneliti mengenai subtansi dan metodologinya.

Komentar subtansi merupakan catatan marginal.

Keenam, penyimapanan. Untuk menyimpan data setidak-

tidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan:

a. Pemberian label

b. Mempunyai format yang uniform dan normalisasi tertentu

c. Menggunakan angka indeks dengan sistem terorganisasi baik.

Ketujuh, analisis data selama pengumpulan data merupakan

pembuatan memo. Memo yang dimaksud Miles dan Huberman adalah

teoritisasi ide atau konseptualisasi ide, dimulai dengan pengemabangan

pendapat atau porposisi.

Kedelapan, analisis antarlokasi. Ada kemungkinan bahwa studi

dilakukan pada lebih dari satu lokasi atau dilakukan oleh lebih satu staf

peneliti pertemuan antar peneliti untuk menuliskan kembali catatan

deskriptif, catatan reflektif, catatan marginal dan memo masing-masing

lokasi atau masing-masing peneliti menjadi yang konfrom satu dengan

lainnya, perlu dilakukan.

Kesembilan, pembuatan ringkasan sementara antar lokasi.

Isinya lebih bersifat matriks tentang ada tidaknya data yang dicari pada

setiap lokasi.

Mencari penjelasan di atas, seorang peneliti dituntuk memiliki

kemampuan berfikir sensitive dengan kecerdasan, keluasan serta

kedalaman wawasan yang tertinggi. Berdasarkan kemampuan tersebut


22

peneliti dapat melakukan aktivitas reduksi data secara mandiri untuk

mendapatkan data yang mampu menjawab pertanyaa penelitian . bagi

peneliti pemula, proses reduksi dapat dilakukan dengan mendiskusikan

pada teman atau orang lain yang di pandang ahli. Melalui diskusi

tersebut diharapkan wawancara peneliti akan berkembang, data hasil

reduksi lebih bermakna dalam menjawab pertanyaan.

2. Tahap Penyajian Data/ Analisis Data Setelah Pengumpulan Data

Pada tahap ini peneliti banyak terlibat dalam kegiatan penyajian

atau penampilan (display) dari data yang dikumpulkan dan dianalisis

sebelumnya, mengingat bahwa peneliti kualitatif banyak menyusun teks

naratif. Display adalah format yang menyajikan informasi secara

tematik kepada pembaca. Miles dan Huberman (1984) memperkenalkan

dua macam format, yaitu : diagram konteks (context chart) dan matriks.

3. Tahap Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi

Langkah selanjutnya adalah tahap penarikan kesimpulan

berdasarkan temuan dan melakukan verifikasi data. Seperti yang

dijelaskan di atas bahwa kesimpulan awal yang dikemukakan masih

bersifat sementara dan akan berubah bila ditemukan bukti-bukti buat

yang mendukung tahap pengumpulan data berikutnya. Proses untuk

mendapatkan bukti-bukti inilah yang disebut sebagai verifikasi data.

Apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh

bukti-bukti yang kuat dalam arti konsisten dengan kondisi yang

ditemukan saat peneliti kembali ke lapangan maka kesimpulan yang


23

diperoleh merupakan kesimpulan yang kredibel.

Langkah verifikasi yang dilakukan peneliti sebaiknya masih

tetap terbuka untuk menerima masukan data, walaupun data tersebut

adalah data yang tergolong tidak bermakna. Namun demikian peneliti

pada tahap ini sebaiknya telah memutuskan anara data yang mempunyai

makna dengan data yang tidak diperlukan atau tidak bermakna. Data

yang dapat diproses dalam analisis lebih lanjut seperti absah, berbobot,

dan kuat sedang data lain yang tidak menunjang, lemah, dan

menyimpang jauh dari kebiasaan harus dipisahkan.

Kualitas suatu data dapat dinilai melalui beberapa metode, yaitu:

a. mengecek representativeness atau keterwakilan data

b. mengecek data dari pengaruh peneliti

c. mengecek melalui triangulasi

d. melakukan pembobotan bukti dari sumber data-data yang dapat

dipercaya

e. membuat perbandingan atau mengkontraskan data

f. menggunakan kasus ekstrim yang direalisasi dengan memaknai data

negatif

Dengan mengkonfirmasi makna setiap data yang diperoleh

dengan menggunakan satu cara atau lebih, diharapkan peneliti

memperoleh informasi yang dapat digunakan untuk mendukung

tercapainya tujuan penelitian. Penarikan kesimpulan penelitian

kualitatif diharapkan merupakan temuan baru yang belum pernah ada.


24

Temuan tersebut dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang

sebelumnya remang-remang atau gelap menjadi jelas setelah diteliti.

Temuan tersebut berupa hubungan kausal atau interaktif, bisa juga

berupa hipotesis atau teori.

G. Keabsahan Data

Dalam teknik pengumpulan data, triangulasi diartikan sebagai teknik

pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik

pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Teknik seperti ini juga

menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan

data dari sumber yang sama.

1. Triangulasi sumber

Triangulasi sumber dilakukan cara mengecek pada sumber lain

keabsahan data yang telah diperoleh.

2. Triangulasi metode

Triangulasi metode bermakna data yang diperoleh dari satu sumber

dengan menggunakan metode atau teknik tertentu, diuji keakuratan atau

ketidakakuratannya.

3. Triangulasi waktu

Triangulasi waktu berkenaan dengan waktu pengambilan data

penelitian dalam penelitian, setiap informal yang telah di wawancarai dalam

waktu pagi hari memiliki keramahan bahkan sampai setelah dilakukan

wawancara ulang di sore hari, seluruh informal masih tetap ramah dan mau

menjawab setiap pertanyaan yang diberikan.


25

DAFTAR PUSTAKA

Barnard, I, Chester. 1992. Organisasi dan manajemen, Struktur, Perilaku dan


proses. Jakarta: Gramedia

Etty Mulyati, S.H., M.H. 2016. Kredit Perbankan. Bandung: reflika ADITAMA

Kasmir. 2012. Analisis Laporan Keuangan lainnya. PT. Raja Grafindo Persada.
Jakarta.

Kasmir.2012. Dasar-dasar Perbankan Edisi Revisi, Raja Grafindo Persada,


Jakarta.

Liang Gie, 1967. Ensiklopedia administrasi,

Milles, M.B. and Huberman, M.A. 1984. Qualitative Data Analysis. London: Sage
Publication

Otoritas Jasa Keuangan, 2017. Seri Literasi Keuangan Tingkat Perguruan Tinggi

Sofwan (2012). Peranan Kredit Usaha Rakyat Terhadap UMKM

Sugiyono, 2008. Metode Penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D. Bandung


Alfabeeeta

Steers, Richard M., 1975, “Problems In The Measurement Of Organiztional


Fffectivness”,Administrative Science Quarterly, December , Volume 20,
546-558

Perundang-undangan :

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Undang-Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Pengertian Kredit.

Instruksi Presiden Republic Indonesia No. 6 Tahun 2007 Tentang Kebijakan


Percepatan Pengembangan Sector Riil Dan Pemberdayaan Usaha Mikro,
Kecil Dan Menengah

Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republic Indonesia Tahun 1945 Pasal 33


26

Sumber Internet :

www.bri.co.id

http://www.ekonomirakyat.org/edisi_1/artikel_2.htm

http://www.bi.go.id/web/id/UMKMBI/Kredit+Perbankan/Skim+Kredit

http://www.sangit26.blogspot.co.id/20111/07/analisis-data-penelitian-kualitatif
.html