You are on page 1of 6

ASPEK HUKUM DALAM EKONOMI

Makalah Mengenai Kasus Hukum dalam Bidang Ekonomi


“Kasus Korupsi yang Melibatkan Pegawai Dirjen Pajak Gayus Tambunan”

Penyusun :
Nova Pungki Nisako
25212381
2EB19

PROGRAM SARJANA EKONOMI AKUNTANSI


UNIVERSITAS GUNADARMA
2014
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
Rahmat taufik dan hidayah-Nya sehingga Penulisan Makalah ini dapat terselesaikan tepat
pada waktunya.

Makalah saya ini berjudul “Kasus Korupsi yang Melibatkan Pegawai Dirjen Pajak Gayus
Tambunan“, didalam Makalah ini saya mencoba menguraikan mengenai masalah korupsi
yang dilakukan oleh Pegawai Golongan III A Kementrian Keuangan Direktorat Jenderal
Pajak.
Penulis menyadari banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini, itu dikarenakan
kemampuan penulis yang terbatas. Namun berkat bantuan dan dorongan serta bimbingan dari
Dosen Pembimbing serta berbagai bantuan dari berbagai pihak, akhirnya pembuatan
makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

Penulis berharap dengan penulisan makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis
sendiri dan bagi para pembaca pada umumnya serta semoga dapat menjadi bahan
pertimbangan dan meningkatkan prestasi dimasa yang akan datang.

Bekasi, 13 Juni 2014

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Begitu banyaknya kasus pelanggaran atau kecurangan seperti korupsi terjadi di Indonesia.
Bukan hanya melibatkan pegawai biasa, bahkan saat ini pelaku korupsi merupakan orang –
orang yang memiliki jabatan tinggi atau kekuasaan tertentu bahkan dibagian departemen
milik pemerintah.
Suatu bentuk tanggung jawab yang diberikan oleh masyarakat kepada seseorang pemegang
jabatan baik pada instansi milik negara maupun swasta hendaknya dikerjakan dengan baik
dan penuh amanah, bukan dijadikan sebagai sebuah kesempatan untuk mencari keuntungan
bagi pihak yang tidak bertanggung jawab.
Seperti halnya kasus yang melibatkan Pegawai Negri Sipil (PNS) yang bertugas di
Kementrian Keuangan Direktorat Jenderal Pajak Golongan III A yang diketahui memiliki
simpanan hingga miliaran rupiah di rekening miliknya. Gayus pada awalnya diduga
melakukan penggelapan pajak yang melibatkan 149 perusahaan dan ditaksirkan dapat
menyebabkan kerugian Negara hingga miliaran rupiah.
1.2 Perumusan Masalah
Permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah mengenai :
1. Apakah yang dimaksud dengan korupsi?
2. Dugaan apa saja yang didakwakan kepada Gayus Tambunan?
3. Berapa banyak kerugian yang diperkirakan harus ditanggung oleh Indonesia?
4. Pasal apa saja yang menjerat kasus Gayus Tambunan?
5. Bagaimana kronologi kasus Gayus Tambunan?
6. Sejauh mana sidang akhir gayus saat ini?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan perumusan masalah tersebut, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan
makalah ini, antara lain :
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Aspek Hukum dalam Ekonomi
2. Untuk memberikan pengetahuan mengenai korupsi
3. Untuk mengetahui perkembangan kasus yang melibatkan Gayus Tambunan
1.4 Metode Penelitian
Dalam penyusunan makalah ini, saya sebagai penulis menggunakan metode studi pustaka
sebagai sumber utama pengumpulan data. Metode pustaka yang saya lakukan adalah dengan
cara mendengarkan perkembangan berita, membaca berita pada situs online, serta beberapa
sumber lainnya.
1.5 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan merupakan garis besar penyusunan yang mempermudah dalam hal
penulisan bagi saya selaku penulis dan dalam hal memahami secara keseluruhan dari isi
makalah bagi pembacanya. Sistematika penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
Bab I Pendahuluan : Berisi latar belakang penulisan, perumusan masalah, tujuan
penulisan, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab II Landasan Teori : Menguraikan tentang pengertian korupsi, istilah – istilah
umum menganai korupsi, jenis – jenis korupsi, hukuman yang diberikan kepada pelaku
kejahatan korupsi, dan contoh kasus kejahatan korupsi di Indonesia
Bab III Pembahasan : Menguraikan tentang contoh kasus korupsi, dalam makalah
ini dibahas mengenai kasus korupsi yang melibatkan pegawai golongan III A Kementrian
Keuangan Direktorat Jenderal Pajak Gayus Tambunan serta analisa mengenai contoh kasus
tersebut.
Bab IV Penutup : Bab ini berisi kesimpulan dan saran.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Korupsi


Korupsi atau rasuah (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna
busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok) adalah tindakan pejabat publik,
baik politisi maupun pegawai negeri, serta pihak lain yang terlibat dalam tindakan itu yang
secara tidak wajar dan tidak legalmenyalahgunakan kepercayaan publik yang dikuasakan
kepada mereka untuk mendapatkan keuntungan sepihak.
Dari segi semantik, "korupsi" berasal dari bahasa Inggris, yaitu corrupt, yang berasal dari
perpaduan dua kata dalam bahasa latin yaitu com yang berarti bersama-sama
dan rumpere yang berarti pecah atau jebol. Istilah "korupsi" juga bisa dinyatakan sebagai
suatu perbuatan tidak jujur atau penyelewengan yang dilakukan karena adanya suatu
pemberian. Dalam prakteknya, korupsi lebih dikenal sebagai menerima uang yang ada
hubungannya dengan jabatan tanpa ada catatan administrasinya.
Secara hukum pengertian "korupsi" adalah tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam
ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tindak pidana korupsi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pengertian "korupsi" lebih ditekankan kepada perbuatan yang
merugikan kepentingan publik atau masyarakat luas untuk keuntungan pribadi atau golongan.
Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar memenuhi unsur-unsur
sebagai berikut:
- perbuatan melawan hukum,
- penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana,
- memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi, dan
- merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

2.2 Istilah – istilah dalam Korupsi


1. Tolong
Kata ini sering kita dengar dalam kehidupan sehari – hari. Kata “tolong” mengingatkan kita
selaku masyarakat bahwa korupsi tidak begitu saja dilakukan oleh pejabat atau petinggi
perusahaan tetapi pemicunya adalah masyarakat umum sendiri yang menawarkan diri.
Contoh yang sangat mudah adalah ketika seseorang sedang melintasi sebuah jalan
diperkotaan lalu tiba – tiba dihentikan oleh polisi yang sedang melakukan razia atau karena
diketahui telah melakukan suatu pelanggaran maka secara spontan pengendara tersebut akan
mengatakan “Tolong saya pak, saya tahu saya melanggar, saya tidak menyalakan lampu dan
tidak memiliki surat yang lengkap” sambil menggenggam tangan aparat tersebut dimana
sebenarnya pengendara tersebut memberikan sejumlah uang agar terbebas dari tuntutan yang
diberikan oleh polisi lalu lintas.
2. Terima kasih
Kata korupsi mengacu pada sesuatu yang ilegal atau tindakan yang tidak bermoral. Namun di
sejumlah tempat, tindakan yang secara teknis ilegal ini dianggap sebagai sesuatu yang
bermoral. Di Indonesia, kita akan sering menemukan pejabat daerah baik dari tingkat RT
maupun tingkat kecamatan yang mengharapkan “ucapan terimakasih” dalam bentuk uang
baik diberikan secara langsung maupun dengan dimasukkan ke dalam amplop.
3. Sesuatu yang kecil
Sesuatu yang kecil ini dapat dicontohkan berupa uang rokok, kopi, dan bentuk hadiah lainnya
yang biasanya berbentuk parcel, hingga kado berisi perhiasan, kendaraan, ataupun alat
komunikasi.

BAB III
PEMBAHASAN

Begitu banyak kasus penyalah gunaan jabatan serta kasus pencucian uang, yang secara umum
disebut dengan korupsi terjadi di Indonesia. Korupsi tidak mengenal jabatan, baik karyawan
biasa hingga pejabat tinggi negara bisa saja melakukan tindak kejahatan korupsi, korupsi juga
tidak mengenal instansi, korupsi dapat terjadi di instansi manapun baik instansi negeri atau
pemerintah maupun swasta.
Untuk memenuhi tugas Aspek Hukum dalam Ekonomi, saya akan membahas mengenai
pelanggaran hukum dalam bidang ekonomi yaitu kasus korupsi yang diketahui dilakukan
oleh Pegawai Golongan III-A Kementrian Keuangan Direktorat Jenderal Pajak Gayus
Tambunan.
3.1 Dugaan yang dituduhkan kepada Gayus
1) Mengenai perbuatan mengurangi keberatan pajak PT. Surya Alam Tunggal dengan total Rp
570.952.000 ,-
2) Gayus terbukti menerima suap sebesar Rp 925.000.000 ,- dari Roberto Santonius, konsultan
pajak terkait dengan kepengurusan gugatan keberatan pajak PT. Metropolitan Retailmart.
3) Pencucian uang terkait dengan penyimpanan uang yang disimpan di safe deposit box Bank
Mandiri cabang Kelapa Gading serta beberapa rekening lainnya.
4) Gayus menyuap sejumlah petugas Rumah Tahanan Brimob Kelapa Dua, Depok, serta kepala
Rutan Iwan Susanto yang jumlahnya sebesar Rp 1.500.000 ,- hingga Rp 4.000.000 ,-.
5) Gayus memberikan keterangan palsu kepada Penyidik perihal uang sebesar Rp
24.600.000.000 didalam rekening tabungannya.
3.2 Potensi kerugian yang ditanggung oleh Negara
Korupsi yang dilakukan oleh Gayus Tambunan mengakibatkan negara harus menanggung
kerugian sebesar Rp 645,99 Milyar dan US $ 21,1 juta dan dua wajib pahak yang terkait
dengan sunset policy dengan potensi kerugian sebesar Rp 339 Milyar.
3.3 Pasal serta jeratan hukum yang menjerat kasus Gayus Tambunan
1) Pasal 18 UU No.31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi (TIPIKOR),
dimana Gayus Tambunan diduga memperkaya diri sendiri dan merugikan keuangan negara
sebesar RP 570.952.000 ,-, terkait penanganan keberatan pajak PT. Surya Alam Tunggal
Sidoarjo.
2) Pasal 5 ayat 1a No.31 Tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi, dimana Gayus Tambunan
dituding melakukan penyuapan sebesar $ 760.000 terhadap penyidik Mabes Polri M Arafat
Enanie, Sri Sumartini, dan Mardiyani.
3) Pasal 6 ayat 1a No.31 Tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi karena Gayus diketahui
memberikan uang sebesar US $ 40.000 kepada Hakim Muhtadi Asnus, Ketua Majelis Hakim
yang menangani perkara Gayus di Pengadilan Negeri Tangerang.
4) Pasal 22 No.31 Tahun 1999 mengenai Undang – undang tidak pidana korupsi, dimana gayus
didakwa telah dengan sengaja memberi keterangan yang tidak benar untuk kepentingan
penyidikan.
3.4 Kronologi kasus gayus
Pada tanggal 7 Oktober 2009 penyidik Bareskim Mabes Polri menetapkan Gayus sebagai
tersangka dengan mengirimkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SDPD). Dalam
surat tersebut tersangka Gayus diduga melakukan tindak pidana korupsi, pencucian uang dan
penggelapan dengan diketahuinya rekening sejumlah Rp 25 Milyar pada Bank Panin cabang
Jakarta milik Andi Kosasih pengusaha asal Batam yang menggunakan jasa pihak kedua untuk
melakukan penggandaan tanah, yang setelah ditelusuri ternyata berkas tersebut belum
lengkap.
Dalam sidang di Pengadilan Negeri Tangerang pada tanggal 12 Maret, Gayus hanya dituntut
satu tahun percobaan dan divonis bebas. Pada tanggal 24 Maret 2010, Gayus bersama 10
rekannya meninggalkan Indonesia menuju Singapura. Tanggal 30 Maret 2010, polisi berhasil
mengetahui keberadaan Gayus di Singapura.
Pada tanggal 31 Maret 2010, tim penyedik memeriksa tiga orang lainnya selain Gayus
Tambunan termasuk Bridgen Edmond Ilyas. Pada tanggal 7 April 2010, anggota III DPR
mengetahui keterlibatan seorang Jenderal Bintang Tiga yang ikut terlibat dalam kasus
penggelapan pajak dengan aliran dana sebesar Rp 24 Milyar.
3.5Keputusan sidang akhir kasus Gayus Tambunan
Keputusan sidang akhir terdakwa kasus penggelapan pajak Gayus Tambunan oleh Hakim
Pengadilan Negeri Jakarta adalah hukuman sebesar 8 tahun penjara dan denda sebesar Rp
300.000.000 ,- dengan ketentuan apabila denda tidak dapat dibayarkan maka akan ada
penggantian berupa pidana kurungan selama 3 bulan.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Korupsi yang dilakukan oleh Gayus Tambunan bukan hanya melibatkan dirinya tetapi juga
melibatkan banyak orang dari pemerintahan dan para pengusaha yang enggan membayar
pajak dan mecoba mengakali peraturan agar pajak yang telah dibayarkan oleh perusahaan
tersebut dapat ditarik kembali. Sehingga menyebabkan negara mengalami kerugian dengan
jumlah fantastis yang diperkirakan berada disekitar angka Rp 339 Milyar.
Tindakan yang dilakukan oleh tersangka Gayus Tambunan meresahkan banyak
pihak. Korupsi merupakan tindakan yang tidak lepas dari pengaruh kekuasaan dan
kewenangan yang dimiliki oleh individu maupun kelompok, dan dilaksanakan baik sebagai
kejahatan individu (professional) maupun sebagai bentuk dari kejahatan korporasi (dilakukan
denga kerjasama antara berbagai pihak yang ingin mendapatkan keuntungan sehingga
membentuk suatu struktur organisasi yang saling melindungi dan menutupi keburukan
masing-masing). Korupsi merupakan cerminan dari krisis kebijakan dan representasi dari
rendahnya akuntabilitas birokrasi publik.
4.2 Saran
Adapun saran yang dapat kami sampaikan mengenai kasus korupsi di Indonesia yaitu sebagai
berikut :
- Pemerintah harus tegas dalam menghukum pelaku korupsi dan dalam memberantas korupsi
yang tidak hanya berfokus pada intansi atau jabatan tinggi, tetapi juga harus fokus
memberantas korupsi yang mungkin dapat dilakukan oleh pegawai biasa.
- Hendaknya setiap masyarakat yang memiliki kepentingan dengan pegawai atau seseorang
dengan jabatan tertentu tidak memberikan hadiah atau apapun yang bersifat suapan.
- Hendaknya setiap masyarakat dan pemerintah yang melihat adanya tindakan korupsi
melapor kepada aprat berwajib agar kasus tersebut segera dapat ditangani.

Daftar Pustaka :

http://id.wikipedia.org/wiki/Korupsi
http://www.kpk.go.id/id/faq
http://www.ut.ac.id/html/suplemen/mapu5102/menukorupsi.htm
http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2013/07/130711_majalahlain_istilahkorupsi.shtml
http://www.slideshare.net/mhelee/kasus-korupsi-gayus-tambunan
http://ampundeh.wordpress.com/2013/06/24/analisis-kasus-gayus-tambunan/

Categories Aspek Hukum dalam Ekonomi , Korupsi, Makalah, Universitas Gunadarma