You are on page 1of 5

2.

1 Diagram Alir Proses

2.2 Bahan Baku, Proses Produksi dan Produk Akhir

1. PT. Krakatau Posco


a Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan untuk proses produksi di PT. Krakatau Posco pada
proses produksi dibagian Plate Mill yaitu bahan setengah jadi, bahan baku yaitu adalah
:
i. Slab.

b Proses Produksi
Pada proses produksi pada Plate Mill merupakan pabrik yang menghasilkan baja
lembaran tipis berupa coil, plat, dan sheet dengan proses pemanasan sampai suhu ± 1250
0
C, yang merupakan pemrosesan lanjutan dari baja lembaran yang dihasilkan oleh
pabrik slab baja dan kemudian dilakukan pengerolan panas (milling).
Pabrik Pengerolan Baja mempunyai kapasitas produksi 2 juta ton/tahun. Dengan
menghasilkan produk dengan ukuran-ukuran tebal 18-25mm, lebar 650-2080mm.
Ukuran biasanya tergantung sesuai dengan permintaan konsumen.
Pengendalian proses dilakukan secara otomatis dengan control set up computer,
sehingga dapat menjamin kualitas produk yang dihasilkan dalam hal kekuatan mekanik,
toleransi ukuran, maupaun kualitas bentuk (shape). Perlengkapan utama Pabrik
Pengerolan Baja Lembaran Panas adalah :
i. Dua buah dapur pemanas dengan kapasitas 300 ton/jam dengan bahan bakar gas
alam, yang berfungsi untuk memanaskan slab.
ii. Sebuah sizing press yang digunakan untuk mengatur lebar
iii. Sebuah roughfing yang dilengkapi flange edgerroll dan water descaler dengan
tekanan air 180 bar
iv. Sebuah pemotong kepala dan ekor slab crospshar
v. Enam buah finishing stand yang dilengkapi dengan alat ukur pengontrol lebar,
panjang, tebal, dan temperatur strip secara otomatis
vi. Dua buah measuring house.

c Produk Akhir
Produk akhir yang dihasilkan dari proses produksi di PT. Krakatau Posco pada
bagian Plate Mill yaitu :
i. Coil.
ii. Plate.
iii. Sheet.

2.3 Kondisi Operasi Proses


Kondisi operasi proses dari masing-masing proses produksi yaitu pada temperatur tinggi.

3.1 Prinsip Dasar Proses


1. Rolling
Rolling atau pengerolan adalah proses pengurangan ketebalan atau proses
pembentukan pada benda kerja yang panjang. Proses rolling dilakukan dengan satu set rol
yang berputar dan menekan benda kerja supaya terjadi perubahan bentuk. Rolling pertama
kali dikembangkan pada tahun 1500an.
Rolling dilakukan dalam dua tahap. Pertama dilakukan pada suhu yang tinggi atau
disebut hot rolling. Hot rollingdilakukan untuk mengurangi dimensi bahan baku (ingot)
secara besar-besaran. Setelah hot rolling selanjutnya dilakukan cold rolling, yaitu
pengerolan pada suhu ruang. Pada cold rolling pengurangan dimensi tidak dilakukan
secara besar-besaran karena proses ini memerlukan tenaga yang sangat besar. Cold
rolling dilaksanakan sebagaifinishing untuk mencapai dimensi yang sesuai, memperhalus
permukaan benda kerja, dan meningkatkan sifat mekanis benda kerja.
Pada proses manufaktur modern, rolling biasanya diawali dengan proses pengecoran
kontinu. Kombinasi antara pengecoran kontinu dan rolling bisa meningkatkan
produktivitas. Di samping itu, kombinasi ini juga dapat mengurangi ongkos produksi.
Gambar 1. Rolling
2. Hot Rolling
Hot rolling merupakan tahap awal dari proses pengerolan material. Hot
rolling dilakukan di atas suhu rekristalisasi. Material yang akan dirol biasanya
berupa ingot atau logam hasil penuangan (pengecoran). Material tuang memiliki struktur
yang kasar dan butir-butirnya tidak seragam. Karena struktur di dalamnya kasar dan tidak
seragam, material tuang memiliki sifat yang getas dan ada kemungkinan memiliki lubang
kecil (pori-pori). Dengan dilakukannya proses hot rolling, struktur material tuang dapat
dikonversi menjadi struktur material tempa (wrought structure). Wrought
structure memiliki butir-butir yang lebih halus dan rapi. Kondisi butir tersebut menjadikan
material bersifat lebih ductile. Di samping itu proses hot rolling juga dapat menutup
lubang-lubang kecil di dalam material.

Setiap material memiliki suhu pengerolan panas yang berbeda-beda. Pada aluminium
paduan suhu yang digunakan sekitar 450 °C. Baja paduan menggunakan suhu pengerolan
sekitar 1250 °C. Sedangkan material tahan panas menggunakan suhu pengerolan hingga
1650 °C.
Pengerolan panas atau hot rolling awal menghasilkan beberapa produk yang disebut
sebagai bloom, slab, danbillet. Bloom biasanya memiliki penampang persegi dengan sisi
paling tidak sebesar 150 mm. Slab biasanya memiliki penampang persegi panjang.
Sedangkan billet memiliki penampang persegi namun berukuran lebih kecil dibanding
dengan bloom. Bloom dapat diproses lebih lanjut dengan proses pengerolan bentuk,
sehingga menghasilkan bentuk-bentuk struktur seperti I-beam dan rel kereta. Slab dapat
dirol menjadi plat dan lembaran material. Billet dirol dengan proses pengerolan bentuk
menjadi batang persegi dan batang lingkaran.

3.2 Parameter Proses


3.3 Karakteristik Produk
Berikut ini karakteristik dari produk yang dihasilkan dari perusahaan-perusahaan yang
dikunjungi.
1. PT. Krakatau Posco
Karakteristik produk yang dihasilkan oleh PT. Krakatau Posco pada bagian Plate
Mill berupa pelat baja dengan standard :