You are on page 1of 154

NEUROLOGI

BIMBEL UKDI MANTAP
dr. Gandhi A Febryanto
dr. Anindya K Zahra

1
GCS
E
Spontaneous ........................................... 4
To Speech ................................................ 3
To pain..................................................... 2
Nil ........................................................... 1

M
Obeys ..................................................... 6
Localized ................................................. 5
Withdraws ............................................. 4
Flexion response (decorticate) .............. 3
Extension response (decerebrate) ......... 2
Nil ........................................................... 1

V
Oriented ................................................. 5
Confused conversation ........................... 4
Inappropriate words .............................. 3
Incomprehensible sounds ....................... 2
Nil ........................................................... 1

Total Score: 3-15.

Eye opening Verbal Response Motor Response
Spontaneously Oriented when speaking to person, Obeys Commands
=4 Points place and time) =6 Points
=5 Points
To speech and commands Confused (Disoriented to person, Unconscious but can localize pain
=3 Points place and time) =5 Points
=4 Points
To pain Words only unconscious but Withdrawal Response to pain
=2 Points responds to painful stimuli by = 4 Points
words)
=3 Points
No Response Sounds Only Decorticate (spastic flexion of the
= 1 Point upper limbs and extension of the lower
=2 Points limbs) + Rigidity
= 3 Points
No Response Decerebration (extension and
=1 Point outwards turning of the arms and
legs) + Rigidity
= 2 Points
No Response
=1 Point

Generally, comas are classified as:
1.Severe, with GCS ≤ 8
2.Moderate, GCS 9 - 12
3.Minor, GCS ≥ 13.

PCS .

.

Skor Shiriraj .

Stroke Iskemik (~80%) Infark Akut Infark Subakut (4 jam) (4 hari) R L R L Gambaran gray-white junction Perubahan zona gelap hampir tak kelihatan & sulcus tampak jelas & “mass effect” tidak tampak (kompresi ventrikel) .

StrokeHemorrhagik Stroke Hemoragik ICH SAH .

kec lesi di batang otak Hipertensi Hampir selalu Biasanya tidak Sering kali Penurunan kesadaran Ada Ada Tidak ada Kaku kuduk Jarang Ada Tidak ada Hemiparesis Sering dari awal Permulaan tidak ada Sering dari awal Gangguan bicara Bisa ada Jarang Sering Likuor Berdarah Berdarah Jernih Paresis/gangguan N III Tidak ada Bisa ada Tidak ada . Perbedaan SH & SNH Gejala Stroke Hemoragik (SH) Stroke Non ICH Subarrachnoid Hemoragik (SNH) Defisit fokal Berat Ringan Berat ringan Onset Menit/jam 1-2 menit Pelan (jam/hari) Nyeri kepala Hebat Sangat hebat Ringan Muntah pada awalnya Sering Sering Tidak.

Intracerebral hemorrhage CLUE: • Trauma • Spontan (SH)–hipertensi .

Subarachnoid Hemorrhage CLUE: • Aneurisma. AVM • Thunderclap headache • Muntah. kaku kuduk • Meningeal irritation .

Management Stroke Hemorrhagic Target: TD 160/90 atau MAP 110 .

Management Stroke Ischemic Antikoagulan? • Menghambat pembentukan clotting factor  cegah clotting formation • TIDAK DIANJURKAN PADA STROKE AKUT SEDANG-BERAT (karena meningkatkan risiko perdarahan intracerabral) Antiplatelet • Menghambat agregasi platelet • ASPIRIN INITIAL DOSE (150-300mg) diberikan segera. kecuali pasien mendapat terapi Trombolitik Trombolitik • Melisiskan clot • Optimal bila diberikan pada onset < 3 jam .

Trombolitik  Onset < 3 jam – jika diberikan segera outcome lebih baik  Stroke onset = dari saat terakhir tampak normal  Jangan diberikan jika glukosa darah <50 mg%  Jangan diberikan jika tekanan darah >185/110  Risiko kecacatan  30% walaupun ~5% risiko ICH simtomatik < 3 jam 3 .7 .5 jam  Merupakan batas mutlak  Jangan diberikan jika: • Usia > 80 tahun  Tidak ada batasan luas lesi • NIHSS > 25  Dapat diberikan pada pasien • DM. riwayat stroke yg sebelumnya riwayat sebelumnya penggunaan warfarin dan INR • Riwayat pemakaian warfarin < 1.4.

.

EVIDENCE Antitrombotik .

TDD <110 • Pantau tekanan darah • 24 jam post trombolitik  Target TDS <180. TDD <105 .Antihipertensi pada Stroke Iskemik Akut Diberikan apabila TDS >220 atau TDD >120 • target penurunan sekitar 15% Pada yang akan diberi terapi trombolitik: • Target TDS <185.

.

.

.

Secondary Prevention Lifestyle Modification Blood Pressure Lowering • Semua pasien stroke/TIA mendapat obat antihipertensi kecuali terdapat symptomatic hypotension Antiplatelet Therapy • Long-term antiplatelet therapy diberikan pada semuapenderita stroke iskemik/TIA yang tidak mendapat terapi antikoagulan • Dapat diberikan Aspirin+dipyridamole (atau aspirin saja pada pasien yang alergi dipyridamole) ATAU Clopidogrel Anticoagulation Therapy • Diberikan pada penderita stroke iskemik/TIA yang memiliki atrial fibrilation/cardioembolic stroke Cholesterol lowering .

EVIDENCE .

4 Seizure .

.

Grand Mal

.

8 Antiepileptic Drugs .

(PERDOSSI) OAE Lini Pertama Tipe Kejang OAE Lini Pertama Dewasa OAE Lini Pertama Anak Lena VPA VPA LTG LTG Mioklonik VPA VPA Tonik Klonik VPA VPA CBZ CBZ PHT PB PB Atonik VPA Parsial CBZ CBZ PHT PHT PB PB OXC OXC LTG LTG TPM TPM GBP GBP Tidak Terklasifikasi VPA VPA .

4 .

.

2012. a minimum of 2 seizure-free years is an adequate and safe period of treatment for a patient with no risk factors” “When the decision is made to discontinue the drug. . The diagnosis and management of the epilepsies in adults and children in primary and secondary care. Treatment Recommendation “If complete seizure control is accomplished by an anticonvulsant. the weaning process should occur for 3–6 mo. because abrupt withdrawal may cause status epilepticus” National Institute of Health and Clinical Excellence.

.

.

diazepam 0. dapat diulang jika masih kejang stlh 5 menit. Status Epilepticus Suatu keadaan kejang atau serangan epilepsi yang terus-menerus disertai kesadaran menurun selama >30 menit. atau kejang beruntun tanpa disertai pemulihan kesadaran yang sempurna Tatalaksana : Perbaiki jalan nafas. bila kejang teratasi lanjutkan dengan fenitoin IV 18mg/kgBB . pasang jalur IV.3mg/kgBB IV sampai maksimum 20 mg.

Valproat Iritasi sal. sakit kepala. gangguan fungsi hati. Efek Samping Obat Antiepilepsi Obat Efek Samping Fenitoin Mual. bengkak. sedatif AS. NYSTAGMUS. kebingungan. trombositopenia. nafsu makan & BB meningkat. insomnia. vertigo. pingsan. mual. dysarthria. bicara cadel. mengantuk. ruam. . rambut rontok. tremor. Cerna. PENYAKIT GUSI Fenobarbital Adiktif. penyimpangan memori Ethosuximide Autoimmune/lupus Carbamazepine ATAXIA.

11 .

.

CLUE: 12 Atas bawah Ipsilateral .

Perifer atau Sentral? PERIFER Atas bawah Ipsilateral CENTRAL Bawah Contralateral CLUE: Lihat kerutan dahi! .

Dimanakah letak lesi? .

Infeksi CNS Meningitis Encephalitis Demam Demam Nyeri kepala Penkes Penkes Kaku kuduk Kejang .

Meningeal Sign .

Cerebrospinal Fluid Appearance Opening Leukosit Dominansi Protein Glucose Pressure leukosit NORMAL Clear <18 cmH2O 0-3 (-) 15-45 45-80 sel/mm3 Pyogenic Yellowish.   PMN   bacterial turbid Meningitis Viral Clear N  Limfosit N/ N/ Meningitis Tuberculous Yellowish N  Limfosit   Menigitis and viscous (N/slightly cloudy) Fungal Yellowish   Limfosit  N/  Meningitis and viscous (fibrin web) .

14 Tremor Parkinson Disease Stooped posture Mask face Rigidity Arm flexed at elbows&wrists Hips & knees slightly Tremor flexed Short snuffling steps .

Characteristic of PD but not pathognomonic . Lewy Body Lewy bodies are concentric. Present within pigmented neurons of substantia nigra. eosinophilic cytoplasmic inclusions (SCI) with peripheral halos and dense cores.

Inbalance between Dopamine vs Acetylcholine .

.

.

selegiline Stimulating the release of dopamine - amphetamine Stimulating the dopamine receptor sites directly (Dopamin agonist) .l-Dopa Inhibiting the catabolism of dopamine (MAO-B Inhibitor). Agents that Increase Dopamine functions Increasing the synthesis of dopamine .amantadine .bromocriptine & pramipexole Blocking the uptake and enhancing the release of dopamine .

Athetosis • Lesi pada PUTAMEN • Dyskinesia. Ganglia Basalis Disorders (ABC) Chorea Athetosis Striatum A. Ballismus • Lesi pada nucleus subthalamicus • Biasanya unilateral=Hemiballismus. Chorea • Lesi pada Striatum Ballismus Parkinson Disease . gerakan-gerakan menggeliat lambat B. • Gerakan involunter memukul / mencambuk dan keras C.

• Manifes umur 30-an (makin tua makin parah) Chorea Sydenham : • Cross reaction (autoimmune) post infeksi streptococcus Vascular Chorea Metabolic Chorea Drug Induced Chorea 15 . Chorea Lesi Striatum Chorea Huntington (=Huntington’s disease): • Atrofi pada striatum • Herediter autosomal dominan • Chorea progresif kronik dan kerusakan mental hingga dementia. C.

Athetosis Chorea .

Movement Disorder Insufficient Movement • Akinetic/Bradykinesia • Hypokinetic • Rigiditas Too much movement (hyperkinesia/Dyskinesia) • Jerky Movement • Myoclonus • Chorea • Tic Disorder • Non-Jerky Movement • Dystonia • Tremor .

Movement Disorders Hipomotilitas: 1) Bradykinesia: perlambatan gerakan volunter 2) Hypokinesia: berkurangnya gerakan yang normalnya terjadi 3) Rigiditas: peningkatan tonus otot. sustained muscle contraction . involunter.

cepat. dan stereotipik. dapat di tekan untuk beberapa waktu dengan gerakan (‘itch and scratch’ analogy). Jerky Movement Myoclonus • Kontraksi otot yang cepat dan tanpa disadari Chorea Tics Disorder • gerakan involunter. . Diawali rasa tidak nyaman (‘sensory tic’). berulang. mendadak.

Non-Jerky Movement Dystonia • kontraksi otot yang terus menerus menyebabkan gerakan berputar dan berulang atau menyebabkan sikap tubuh yang abnormal Tremor • Physiological Tremor • Pathological Tremor .

.

.

.

.

. Biasanya merupakan efek samping antipsikotik Cervical dystonia (Spasmodic Torticollis) • suatu kondisi dimana otot leher berkontraksi secara involunter. mengambil benda dan gerakan volunter lain. Akathisia • sindrom yang dikarakteristikan dengan sensasi tidak nyaman atau inner restlessness yang bermanifestasi menjadi ketidakmampuan untuk duduk tenang atau keinginan untuk terus bergerak. Movement Disorder Ataxia • kondisi tidak adanya koordinasi otot yang berpengaruh pada kemampuan berbicara. menyebabkan kepala menengok pada salah satu sisi. menelan. gerakan mata. atau ke secara tidak terkontrol mengangguk keatas dan kebawah. berjalan.

Akathisia .

Tardive Diskinesia .

VISUAL DEFECT A : anopsia ipsilateral B : hemianopsia heteronim (bitemporal) C : hemianopsia homonim D : quadrantic hemianopsia E : macular sparing .

22 .

21 Kekuatan Otot Nilai Kekuatan CLUE Keterangan Otot Paralisis. Tidak ada kontraksi otot sama 0 Tonus (-) sekali Terlihat atau teraba getaran kontraksi 1 Tonus (+) otot tetapi tidak ada gerak sama sekali Dapat menggerakkan anggota gerak 2 “Geser” tanpa gravitasi Dapat menggerakkan anggota gerak 3 Lawan gravitasi (+) untuk melawan gravitasi Dapat menggerakkan sendi aktif dan 4 Tahanan ringan (+) melawan tahanan 5 Tahanan kuat (+) Kekuatan normal .

23 .

progression of cryptococcal meningitis occurs slowly (few days-weeks) . HIV Opportunistic Infection (CNS) Clue: unlike bacterial.

korteks cerebri dibagi menjadi 47 area oleh Broadmann... 24 CEREBRUM Berdasarkan HISTOLOGInya. .

tinggi (39) .45) Pusat bahasa motoris Area premotoris (6) Gerakan manipulatif Frontal eye field (8) Scanning bola mata Prefrontal (9-12) Kepribadian.7) Stereognosis Area Wernicke (22) Pusat bahasa sensoris TEMPORAL Korteks auditori Pusat pendengaran primer/Heschl (41.Lobus dan Area (Broadmann) Fungsi FRONTAL Gyrus precentralis (4) Pusat motoris primer Area Broca (44. inisiatif PARIETAL Gyrus postcentralis (1-3) Pusat sensoris primer Area asosiasi somatik (5.19).42) Gyrus temporalis media dan Memori dan inferior pembelajaran OKSIPITAL Korteks visual primer (17) Pusat penglihatan Korteks asosiasi visual Asosiasi visual (18.

Fisiologi Bahasa & Bicara .

Aphasia Type Spontaneous speech Repetition of Language Finding words comprehension words Broca’s Abnormal Abnormal Normal Impaired aphasia Wernicke’s Fluent (at times Abnormal Impaired Impaired aphasia logorrhea. paraphasia. neologism) Conduction Fluent. but paraphasic Markedly normal Abnormal. aphasia impaired paraphasi c .

25 Sensitibilitas Perasaan Exteroseptif (superfisial) • Raba : Kapas • Suhu : Tabung berisi air dingin(5-10’C) / panas(40-45’C) • Nyeri : Jarum Perasaan Propioseptif (Dalam) • Gerak • Sikap (statognesia) • Getar • Rasa Tekan Dalam • Rasa Nyeri Dalam .

Kelainan Sensibilitas Disestesia Parestesia Thigmanestesia (tidak bisa membedakan suhu) Hipestesia Hyperestesia Pallanesthesia (tidak bisa merasakan getaran) .

Sensasi Luhur
Rasa diskriminasi (dua titik)

Barognosia (Berat benda)

Stereognosia (mengenali betuk)

Topestesia/Topognosia (lokasi sensasi)

Grafestesia (mengenali hurufu yang
“ditulis” di badan)

26
UMN vs LMN Weakness

“ASCENDERENS” .

Myastenia Gravis Semakin sore semakin memburuk Autoantibodi memblok ACh receptor. Terapi  ACh esterase inhibitor .

Calcium and Magnesium Reabsorption TAL: Thick ascending limb @ Loop of Henle .

.

27 Hypocalcemia .

Brain Death .

Contrasting Features of Dementia and Delirium Feature Delirium Dementia Onset Acute or sub acute Insidious Course Fluctuating Persistent Duration Limited Chronic Attention Impaired Intact until advanced stages Language Incoherent More coherent Speech Slurred dysarthria Dysarthria uncommon Visual Hallucinations Common Uncommon Tremor Common Uncommon Myoclonus Common Occurs in only a few types of dementia Electroencephalogram Prominent abnormalities Mild changes .

Distinguishing Characteristics of Cortical and Subcortical Dementias Function Cortical Dementia Subcortical Dementia Psychomotor speed Normal Slowed Language Involved Spared Memory: -Recall -impaired -impaired -Recognition -impaired -spared -Remote -temporal gradient present -temporal gradient absent Executive function Less involved More involved Depression Less common More common Apathy Less common More common Motor system Spared until late Involved early Anatomy Cerebral cortex Subcortical structures and dorsolateral prefrontal cortex projecting to head of caudate nucleus Examples Alzheimer’s disease Huntington’s disease. HIV encephalopathy. lacunar state .

Etiologies of Dementia Dementia Frequency (%) Alzheimer’s disease 50-60 Vascular dementia 10-30 Depression 5-15 Alcohol-related dementia 1-10 Metabolic disturbances 1-10 Toxic disturbances 1-10 Hydrocephalus 1-5 Anoxia brain injury 1-2 Central nervous system infections 1-2 Brain tumors 1-2 Brain trauma 1-2 Subdural hematoma 1-2 Other 10-20 .

33
Alzheimer Disease

Hipotesis mengatakan pada Alzheimer terjadi defisiensi Asetilkolin.
Berkurangnya Asetilkolin ini dikaitkan pada pembentukan B Amyloid yang mengganggu
pembentukan dan pelepasan asetilkolin

Tangles destroy a vital cell
transport system made of proteins
In healthy areas:
The transport system is
organized in orderly parallel
strands
A protein called tau helps the
tracks stay straight.
In areas where tangles are
forming:
Tau collapses into twisted
strands called tangles.
The tracks can no longer stay
straight. They fall apart and
disintegrate.
Nutrients and other essential
supplies can no longer move
through the cells, which
eventually die.

36
Intracranial Hemorrhage

meningea media • Temporoparietal • Biconvex (=lenticular) • Lucid Interval Pterion A. Meningea media . 36 CLUE: • a.

CLUE: • Bridging vein • Semilunar (konkaf) • Bisa terjadi kronis .

Subarachnoid Hemorrhage CLUE: • Aneurisma. kaku kuduk • Meningeal irritation . AVM • Thunderclap headache • Muntah.

mata terbuka Normal Abnormal . VERTIGO: Perifer vs Sentral PERIFER SENTRAL Serangan +++ (berat) + Hilang timbul Kontinyu Mual muntah ++ -/+ NYSTAGMUS Arah Horizontal Vertikal (patognomonik) Rotatoar Rotatoar Lama <2 min >2 min Periode laten 2-20” (+) (-) Fatigue (+) (-) TES KESEIMBANGAN Romberg test .mata tertutup Abnormal Abnormal Finger to finger test Normal Abnormal .

DIX-HALLPIKE MANEUVER 96 .

EPLEY 97 .

 Reclined head hanging 45 degree turn 98 .

 Rotate 45 degrees contralateral 99 .

 Head and body rotated to 135 degrees from supine 100 .

 Keep head turn and to sitting  Turn forward chin down 20 degrees 101 .

102 .

SEMONT 103 .

BRANDT & DAROFF EXCERCISES 104 .

Antihistamin • Efek antikolinergik dan merangsan inhibitory-monoaminergik. dan bekerja langsung sebagai depressor labirin. Bisa untuk vertigo perifer dan sentral. Vestibularis Histaminik • Inhibisi neuron polisinaptik pada n. Medikamentosa Calcium Channel Blocker • Mengurangi aktivitas ekstatori SSP dengan menekan pelepasan glutamat. meningkatkan aktivitas NMDA sepcific channel.vestibularis lateralis . dengan akibat inhibisi n.

4 mg (3x1) + . + - Histaminik Betahistin 8mg (3x1) + + .6 mg (3x1) + + +++ - Monoaminergik Afetamin 5-10mg(3x1) + . . - . + . - Antiepileptik Karbamazepin 200mg . . + dan perifer) Antihistamin Difenhifrinat 50 mg (3x1) + + + - Antikolinergik Atropin 0.Golongan Dosis Oral Antiemetik Sedasi Mukosa Gejala Kering Ekstrapiramidal Ca Channel Blocker Flunarizin (untuk vertigo sentral 5-10 mg (1x1) + + . +++ - Skopolamin 0. + Benzodiazepin Diazepam 2-5mg (3x1) + +++ . - Fenitoin 100mg . + + Efedrin 25mg (3x1) + .

Barany Chair Test Romberg Test .

Hernia Nucleus Pulposus : 95 % HNP terjadi pada level L4/L5 atau L5/S1. .

.

.

LBP Examination Lasegue Bragard Patrick Contrapatrick .

.

tanda kemungkinan fraktur kranium. kejang Berat 3-8 Penurunan kesadaran progresif. laserasi. muntah. tanda perdarahan intrakranial . cedera kepala penetrasi atau fraktur depresi kranium. 44 Cedera Kepala Cedera GCS Klinis Kepala Ringan 14-15 Dapat mengalami amnesia berkaitan dengan cedera yang dialami. amnesia pasca trauma. riwayat pingsan yang singkat. dan hematom kulit kepala Sedang 9-13 Tampak bingung dan mengantuk namun dapat mengikuti perintah. dapat mengeluh nyeri kepala atau abrasi. tanda defisit neurologis fokal.

45 .

.

E A : contralateral hemiplegia B : ipsilateral hemiplegia C : hemiplegia cruciata D : quadriplegia E : paraplegia .

Hernia Nucleus Pulposus : 95 % HNP terjadi pada level L4/L5 atau L5/S1. .

.

radialis . axillaris n. medianus n. ulnaris n. Inervasi n.

Lesi N. 46
Ulnaris

1. Cubital Tunnel Syndrome

2. GuyonTunnel
Syndrome
Elbow flexion test (3 min @ 120° flexion
reproduces symptoms)

Wartenberg’s Sign
• Ulnar abduction of 5th digit due to intrinsic
weakness and unopposed abduction by
extensor digiti minimi (because of it’s slightly
ulnar insertion)

FROMMENT
SIGN
• Can’t adduct thumb
(ulnar nerve) –
intrinsic muscles
• Flexes thumb IP joint
instead (median
nerve)

CARPAL TUNNEL SYNDROME  The most common focal peripheral neuropathy. . patients often “flick” their wrist as if shaking down a thermometer (flick sign). results from compression of the median nerve at the wrist.  Clinical Features:  Pain  Numbness  Tingling  Symptoms are usually worse at night and can awaken patients from sleep.  To relieve the symptoms.

.• A nerve conduction study (NCS) is a medical diagnostic test commonly used to evaluate the function. especially the ability of electrical conduction. of the motor and sensory nerves of the human body.

Carpal Tunnel Syndrome  Phalen’s maneuver (fleksi tangan secara maksimal  dalam 60 detik timbul gejala → CTS +)  Tinel’s sign (posisi tangan sedikit dorsofleksi  perkusi carpal tunnel  parestesia atau nyeri pada daerah distribusi nervus medianus +) Tinel’s sign Phalen’s maneuver .

sharp. tooth-brushing. Trigeminal Neuralgia • paroxysmal attacks of severe. speaking. cold winds. short. Upper lip or gum) • Etiology :  Many remains unexplained  Compression of the nerve root by tumors of the cerebellopontine angle  Demyelination . washing the face. or touching a specific “trigger spot” (e. stabbing pain → affecting one or more divisions of the trigeminal nerve • Precipitated by : chewing.g.

Trigeminal Neuralgia Investigation : • CT/MRI to exclude a cerebello-pontine angle lesion Management : • Carbamazepine (600-1600mg/day) • Nerve block • Trigeminal ganglion/root injection with alcohol/phenol • Microvascular decompression • Radiofrequency thermocoagulation .

.

Migrain .

Migrain .

Cluster Headache .

Tetanus  Di Sesi Interna Tropmed .) .

CP .

Toxoplasmosis Ensefalitis .

CNS Toxoplasma Infection Congenital Toxoplasmosis Toxoplasmosis—HIV • Diffuse hydrocephalus • Nodular lesion >1 • Multiple calcification at • Ring enhancement periventricular area & choroid plexus • Cerebral edema • 75% at basal ganglia .

.

.

.

.

.

Plexus Brachialis .

biceps. rotasi medial lengan. → Adduksi bahu. Parestesia lateral upper limb . dan brachioradialis. brachialis.Superior Trunk (C5-C6) Injury: Antara leher dgn bahu teregang → Erb-Duchenne Palsy (Waiter’s Tip) → Paralisis m. . deltoid. dan ekstensi siku.

Inferior Trunk (C8-T1) Injury: Tarikan mendadak dan keras upper limb → Klumpke Palsy → Claw hand .

TERIMA KASIH .

The radial artery therefore cannot be safely pricked/cannulated. It should appear blanched (pallor can be observed at the finger nails). . Bila kulit tangan penderita tidak dapat menyentuh dindingnya dengan rapat → CTS +)  Pemeriksaan sensibilitas/two-point discrimination (Bila penderita tidak dapat membedakan dua titik pada jarak lebih dari 6 mm di daerah nervus medianus  CTS +) • Modified Allen's test – 1) The hand is elevated and the patient/person is asked to make a fist for about 30 seconds. the test is considered "positive" and the ulnar artery supply to the hand is not sufficient. the Allen's test is considered to be "negative. – 2) Pressure is applied over the ulnar and the radial arteries so as to occlude both of them.Keterangan  Luthy's sign/bottle's sign (Penderita diminta melingkarkan ibu jari dan jari telunjuknya pada botol atau gelas. – 3) Still elevated. If color returns as described above." If color fails to return. – 4) Ulnar pressure is released and the colour should return in 7 seconds. the hand is then opened.

Perdarahan Perdarahan didalam ruang subarakhnoid akibat perdarahan non- subarakhnoid traumatik. kernig sign + . biasanya epidural sumber pendarahannya adalah robeknya Arteri meningia media (paling sering). Adanya pergeseran garis tengah. biasanya berasal dari ruptur aneurisme berry atau arteriovenous malformation (AVM). kaku kuduk.jam setelah trauma sampai dengan hari ke tiga. Gejala yang timbul segera hingga berjam . Perdarahan Perdarahan yang terjadi pada jaringan otak biasanya akibat robekan intraserebral pembuluh darah yang ada dalam jaringan otak. diameter lebih dari 3 CM. Secara klinis ditandai dengan adanya penurunan kesadaran yang kadang-kadang disertai lateralisasi pada pemeriksaan CT Scan didapatkan adanya daerah hiperdens yang indikasi dilakukan operasi jika Single. Perdarahan Intrakranial Perdarahan Perdarahan yang terletak antara durameter dan tulang. Gejala klinis yang khas adalah : Lucid Interval (adanya fase sadar diantara 2 fase tidak sadar karena bertambahnya volume darah) Perdarahan Perdarahan yang terletak diantara lapisan duramater dan arhacnoid subdural dengan sumber perdarahan dapat berasal dari bridging vein (paling sering). Perifer. Gejala : sering didahului nyeri kepala hebat.

DCML Nuc. Cuneatus VT 6 Pain & temperature Tactile . Gracilis ALS Decussatio Leminiscorum Nuc.

Soedjono Aswin . Spinal Cord – Jaras Somatosensoris SG: Substantia gellatinosa ALS DCML SG Temperature Pain Proprioception SMALL FIBERS Tactile LARGE FIBERS Sumber: Slide kuliah Somatosensory Prof.

Naik ke Nuc.Somatosensoric System ALS Fungsi sensoris: Nyeri. terus ke cortex ALS (Anterolateral system) . suhu Langsung menyilang di medulla spinalis. VPL thalamus.

VT6 ke bawah: Fasciculus & Nuc.Somatosensoric System DCML Fungsi sensoris: Propriosepsi. Gracilis (medial) VT6 ke atas: Fasciculus & Nuc. terus ke cortex DCML (Dorsal Column Medial Lemniscus) . tekanan. VPL thalamus. Lanjut naik ke Nuc. taktil.. vibrasi Dari medulla spinalis naik dulu. Cuneatus (lateral) Kemudian baru menyilang di decussatio lemnisculorum. posisi.

Jaras sensorik dari kepala Nyeri dan suhu dari wajah BUKAN ke VPL kayak sensoris lain. tapi ke Nuc. VPM thalamus .

INDIRECT PATHWAY / PALEOSPINOTHALAMIC PATHWAY / MEDIAL SYSTEM → Dull/diffuse nociception (dull/diffuse pain) → info disalurkan melewati RETICULAR FORMATION pada batang otak dan Direct /neospinothalamic Undirect/paleospinothalamic LIMBIC SYSTEM pathway pathway (Emotional sensation) . Pain Stimulus nyeri dihantarkan ke otak lewat 2 jalur : 1. DIRECT SPINOTHALAMIC PATHWAY / NEOSPINOTHALAMIC PATHWAY / LATERAL SYSTEM → Sharp nociception (sharp pain) 2.