You are on page 1of 14

RENCANA KESELAMATAN DAN KEAMANAN

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SIWA

A. TUJUAN
Untuk memastikan bahwa bangunan, tanah, peralatan, sistem
keselamatan dan keamanan tidak berbahaya bagi penghuni.
B. TARGET
a. Membangun sistem keselamatan dan keamanan lingkungan
rumah sakit
b. Membangun sistem keamanan lingkungan, fasilitas dan
orang-orang di rumah sakit.
C. TANGGUNG JAWAB DAN WEWENANG
1. Direksi
Bertanggung jawab untuk memastikan terimplementasinya
kebijakan dan prosedur keamanan dan praktek kerja yang aman.
2. Tim K3
a. Mengkoordinasikan program manajemen
keselamatan sesuai dengan SPO dan kebijakan Rumah Sakit
yang terkait dengan peraturan keselamatan.
b. Membuat dan menyampaikan laporan kepada Sub
Komite Fasilitas dan K3 setiap bulan sekali.
c. Membuat Laporan evaluasi Setiap 3 bulan terkait
keselamatan.
3. Sub Komite Fasilitas dan Keselamatan
Melakukan pertemuan bulanan untuk monitoring dan evaluasi
tentang program yang telah terealisasi sudah sesuai dengan
rencana manajamen dan keselamatan.
4. Staf dan karyawan rumah sakit.
Semua karyawan Rumah Sakit bertanggung jawab untuk
mematuhi kebijakan dan prosedur keselamatan dan keamanan.

5. Ketertiban dan Keamanan
Koordinator ketertiban dan keamanan.
a. Mendukung kebijakan rumah sakit dengan
pengawasan, memelihara dan meningkatkan kualitas
manajemen keamanan dan bertanggung jawab untuk
pelaksanaan sistem keamanan dengan mengontrol, menjaga

1
dan mengamankan kebijakan rumah sakit yang berkaitan
dengan sistem keamanan.
b. Melakukan koordinasi rutin dengan manajemen
rumah sakit, Kepala Instalasi / Ruangan / Unit setiap bulan
dan setiap terjadi gangguan keamanan.
Administrasi Security
a. Membantu pelaksanaan tugas sehari-hari
Koordinator.
b. Melakukan pertemuan bulanan dengan Danru, Tim
Patroli/PKD dan anggotanya terkait dengan evaluasi
pekerjaan.
c. Untuk mengevaluasi seluruh tim bekerja secara
berkala.
d. Melakukan koordinasi bulanan dengan manajemen
rumah sakit.
Security
a. Bertanggung jawab atas aplikasi pelaksanaan system
keamanan rumah sakit yang baik.
b. Bertanggung jawab atas ketersediaan dan kesiapan
peralatan dan personil dalam keadaan darurat.
c. Merespon dengan cepat terhadap peristiwa atau
ketidaksesuaian yang terjadi di lingkungan rumah sakit di area
kerja.
d. Bertanggung jawab atas pemantauan dan
pengawasan seluruh rumah sakit area fisik.
e. Melakukan upaya preventif serta melakukan
investigasi atas kejadian di rumah sakit area kerja.
Tim PKD/Patroli Security
a. Membantu Komandan untuk mengimplementasi
Manajer tugas sehari-hari Keamanan dalam mengamankan
lingkungan rumah sakit di area kerja.
b. Untuk pengawasan, keamanan dan layanan di semua
wilayah rumah sakit.
c. Pastikan tugas dan tanggung jawab petugas
keamanan berjalan sesuai SPO
d. Dan tindakan langsung terhadap anggota keamanan
gagal.

2
e. Buat jurnal harian peristiwa yang dianggap penting,
merekam dan melaporkan langsung kepada Komandan
Security
f. Memantau dan memastikan peraturan dan kebijakan rumah
sakit berjalan dengan baik
g. Merespon dengan cepat untuk insiden dan keadaan
darurat di area kerja.
Anggota Security
a. Pemeliharaan, pengawasan, deteksi dini situasi
keamanan di area kerja
b. Menjaga keamanan dan kenyamanan bagi pasien,
pengunjung, tamu, dan karyawan serta miliknya, fasilitas
c. Melakukan tugas yang diberikan Komandan Security.
d. Melakukan pemeriksaan dan kontrol sebelum dan
setelah jam pulang untuk memeriksa keamanan dan
ketertiban area kerja.
e. Melakukan pelayanan yang dibutuhkan oleh pasien,
pengunjung, tamu dan Direksi
f. Merespon dengan baik dan setiap laporan atau masukan
dari pasien, pengunjung, tamu dan karyawan.
g. Berkewajiban untuk mengetahui denah dari seluruh
wilayah yang diamankan.
h. Wajib mengetahui seluruh lay out peralatan
pemadam kebakaran.
D. Fasilitas Penunjang Keselamatan dan Keamanan
Fasilitas rumah sakit umumnya dibuat untuk mendukung
pelayanan yang optimal bagi pasien dan pengunjung rumah sakit.
Tidak terlepas bagiamana upaya untuk memberikan keselamatan
terhadap seluruh orang yang ada dalam rumah sakit. Kecelakaan
kerja di rumah sakit tidak dapat dihindari, sehingga perlu dilakukan
upaya untuk meminimalisir agar kecelakaan kerja kurang bahkan tidak
terjadi dirumah sakit ini.
Untuk dapat mengetahui resiko setiap fasilitas keselamatan dan
keamanan secara rutin perlu dilakukan. Lokasi / Fasilitas untuk
diperiksa, antara lain;

3
1. Pintu Utama Rumah Sakit.
Pintu masuk dan keluar gerbang rumah sakit Memiliki Akses
masuk kedalam RS ada 1 buah yaitu jalan A.Djaja No.1 ( di depan
UGD).
Setiap hari pemantauan kondisi keamanan dan ketertiban
dilakukan oleh personil keamanan di sekitar area pintu gerbang
Masuk rumah sakit dengan melakukan pengawasan terhadap
kendaraan yang akan parkir di pinggir badan jalan umum.
2. Fasilitas rumah sakit pintu masuk dan keluar ruangan
Melakukan identifikasi di setiap pintu masuk yang ada dirumah
sakit, baik jumlah, jenis pintu masuk serta tingkat risikonya. Pintu
Masuk dan Keluar ruangan di Rumah Sakit Umum Daerah Siwa,
sebagai Berikut:
a. Pintu Masuk dan Keluar di rumah sakit ini, bisa
sebagai akses jalur umum dan bisa sebagai akses jalur
darurat, Sebagian bangunan di rumah sakit ini adalah
Konstruksi bangunan lama yang pintu masuk dan keluarnya
juga digunakan sebagai pintu darurat
b. Setiap arah keluar jelas terlihat dengan Rambu EXIT
untuk memfasilitasi evakuasi / exit point dari semua ruang
yang ada.
c. setiap akses pintu masuk dan keluar ditandai dengan
penerangan yang cukup sesuai dengan Kepmenkes. 1204 /
tahun 2004
d. Pintu tidak terkunci dan tidak meletakkan barang-
barang pada akses pintu keluar.
e. Ada Beberapa Pintu masuk dan keluar untuk daerah
rawan dan beresiko dipasangi kamera CCTV
f. Setiap sistem kunci pintu yang mengalami kerusakan
dilakukan perbaikan
g. Personil keamanan memeriksa kunci pintu setiap hari

3. Area Parkir

4
Di area parkir harus diupayakan langkah-langkah untuk
menghindari dari hal-hal yang dapat menyebabkan kecelakaan,
antara lain:
a. Area parkir harus bebas dari barang berbahaya
pengunjung seperti, rumput peralatan mesin pemotong,
peralatan kerja lapangan, peralatan listrik, puing-puing, pasir,
kerikil dan lain-lain.
b. Alur pejalan kaki dibuat dengan baik dan aman, tidak
licin dan tidak bertentangan dengan arus kendaraan dan
ditandai dengan jelas
c. Area parkir diberi pencahayaan yang cukup di seluruh
area parkir, dan melakukan pengawasan melalui patroli
lapangan oleh aparat keamanan Parkir setiap 2 jam.
d. Petugas parkir melakukan pencatatan dilapangan dan
melaporkan kejadian apapun di tempat parkir.
4. Tangga, Tangga Darurat, Ram, dan Koridor
a. Tangga dan koridor di Rumah Sakit ini diupayakan
untuk selalu bersih.
b. Setiap diruangan perawatan diberi rambu EXIT.
c. Tangga dan koridor dipertahankan dalam kondisi baik
dan tidak licin.
d. Setiap Pembersihan Tangga dan koridor dilakukan
secara bertahap hanya dengan satu sisi terlebih dahulu Dan
ditandai "hati-hati lantai basah" dan diblokir.
e. Di setiap koridor tidak diletakkan barang-barang yang
dapat menghalangi akses jalan keluar.
f. Petugas Sub Komite Fasilitas secara rutin memeriksa
kondisi dan situasi koridor serta memeriksa fungsi kamera
CCTV jikalau diruangan ini memiliki kamera CCTV.
g. Setiap tangga maupun lantai yang memiliki elavasi
berbeda diberikan tanda “MERAH” sebagai penandaan.
5. Ruang Rawat Inap dan Poliklinik
Dalam Ruang Rawat Inap diupayakan bahwa setiap orang
yang ada terhindari dari Kecelakaan baik itu untuk pasien,
pengunjung, dan orang orang yang berada diruangan tersebut,
untuk mendiskripsikan hal tersebut sebagai berikut:

5
a. Mencegah Kecelakaan dan menjaga kondisi aman
bagi seluruh orang yang ada di rumah sakit.
1) Menjaga keselamatan pasien gelisah selama berada
di tempat tidur.
2) Menjaga pasien untuk tidak mengalami infeksi
dengan mempertahankan teknik aseptik, dan penggunaan
peralatan medis.
3) Untuk pasien dengan kursi roda yang akan diambil
oleh petugas rumah sakit.
4) Mencegah kecelakaan pada orang-orang yang
menggunakan bahan peledak seperti tabung oksigen
dengan memberikan rantai pada setiap ruangan yang
menggunakan tabung oksigen kecuali tabung oksigen
transfer.
5) klien dilindung dari infeksi nosokomial dengan
penempatan pasien terpisah antara yang infeksi dan non-
infeksi.
6) Menjaga ventilasi dan cahaya yang memadai.
7) Mencegah kebakaran yang disebabkan oleh instalasi
listrik maupun bahan-bahan yang mudah terbakar.
8) Menjaga kebersihan lantai kamar dan kamar mandi.
9) Melakukan perawatan gedung, fasilitas, tempat parkir,
peralatan dan orang-orang.
10) Patroli untuk memastikan situasi keamanan di bawah
kendali.
11) Menyediakan layanan dukungan untuk menanggapi
insiden/Kecelakaan kerja yang terjadi di rumah sakit.
12) Investigasi terhadap tindakan insiden yang berkaitan
dengan keamanan.
b. Mengurangi dan Menghilangkan Bahaya dan Risiko.
1) Menilai tingkat kemampuan pasien untuk melindungi
diri dari kecelakaan.
2) Menghindari kecelakaan dengan:
a) mengunci kereta dorong saat berhenti
b) pemasangan sisi penghalang untuk pasien
yang gelisah

6
c) Labeling pada botol obat, dan obat-obatan
yang mudah terbakar
d) Menyiapkan alat pemadam kebakaran dalam
keadaan siap pakai dan dapat digunakan
e) Menjaga kesalahan prosedur: identitas klien
harus jelas
f) Menciptakan sistem monitoring sarana dan
prasarana Rumah sakit, pasien, pengunjung,
karyawan dan sistem keamanan
g) Menciptakan sistem patroli yang berfungsi
sebagai bahan informasi terkait keamanan dan
keselamatan dari Manajemen Keamanan rumah sakit
h) Melakukan koordinasi dengan instansi dan
pihak yang berwenang dalam hal keamanan
i) Melakukan pengembangan dan kemampuan
anggota Security keamanan rumah sakit.
j) Melakukan risk assessment untuk daerah-
daerah beresiko
k) Untuk kenyamanan dan kemudahan para
karyawan saat bekerja maka kamar kerja disusun
berdasarkan konsep "5RS" (Rapi, Compact, Clean,
Rajin, dan Perawatan). Lighting dan suhu ruangan
disesuaikan dengan jenis dan sifat pekerjaan didalam
ruang Rekam Medis.
l) Dalam Ruang Dapur/gizi, Petugas dapur rumah
sakit memiliki risiko tertinggi untuk mengalami
kecelakaan kerja dan resiko cedera. Sehingga perlu
dilakukan pegawasan lanjut dengan adanya tim Sub
Komite FMS dan penanggung jawab gedung lebih
dapat meminimalisir kecelakaan kerja dan kondisi
fasilitas lebih dapat diketahui., adapun kondisi resiko
kecelakaan kerja yang dapat terjadi:
 Terpeleset dan jatuh karena lantai basah
dengan air tumpah atau bahan cair lainnya, untuk

7
itu harus segera dibersihkan bila lantai basah atau
licin.
 Cedera pinggang / kembali untuk mengangkat
belanjaan berat. Untuk menghindari hal ini dengan
menggunakan alat angkut atau dengan cara
mengangkat yang benar.
 Setiap petugas harus menggunakan alat
Pelindung Diri kaki di dapur untuk kesehatan dan
keselamatan, untuk menghindari kaki dari paparan
bahan berbahaya atau dari selalu hadir bahwa air
terus menerus, zat berbahaya atau stadium kuncup
jatuhnya alat dapur.
 Prosedur Dibuat untuk menangani suhu panas
dan dingin, gunakan pisau tajam, alat pemotong,
silinder, dan bahan kimia.
 Melakukan pelatihan keselamatan dan
keamanan bagi petugas dapur yang bekerja di
lingkungan dapur untuk mengidentifikasi bahaya
dan risiko cedera dan bagaimana melaporkan
bahaya.
 Jika ada tugas bergulir, kemudian melakukan
pelatihan di tempat baru untuk mengenali bahaya.
 Untuk menjamin keamanan melakukan analisis
risiko untuk setiap karyawan. Dan bertanggung
jawab atas dapur harus membuat penyesuaian
yang diperlukan untuk memastikan lingkungan yang
aman bagi staf dapur.

E. PENILAIAN RESIKO KEAMANAN DAN KESELAMATAN.
Dalam mencanangkan penilaian resiko keamanan dan
keselamatan dibuatlah HVA Khusus terkait keamanan dan
keselamatan.
F. PROGRAM STRATEGI RESIKO KEAMANAN KERUSUHAN DAN
PENCURIAN

8
Dalam HVA yang ada, resiko yang sangat tinggi terkait
keamanan Kerusuhan meliputi beberapa bagian:
1. Ruang IGD
2. OK
3. ICU
4. Dan seluruh pengunjung dan penjaga pasien
Adapun Program yang dilakukan dalam pencegahan keamanan
kerusuhan.
1. Setiap bagian yang dianggap paling beresiko terjadi
kerusuhan diberikan system keamanan khusus dengan
memberikan seorang Security shift jaga di depan ruangan yang
dimaksud.
2. Pemasangan CCTV dipintu masuk ruangan yang dianggap
rawan dan pengunjung untuk melakukan pengwasasan.
3. Security melakukan pemantauan di seluruh Rumah Sakit
dengan melakukan Rolling area untuk memastikan kondisi rumah
sakit dalam keadaan aman.

G. PROGRAM STRATEGI RESIKO PENCULIKAN BAYI
Dalam HVA Rumah Sakit Umum Derah Siwa penculikan bayi
merupakan prioritas utama, disamping karena mudahnya terjadi kasus
tersebut dikarenakan terlalu banyaknya akses pintu masuk ke ruang
perawatan bayi dan jumlah pengunjung pasien yang sangat banyak
maka perlu dilakukan beberapa strategi sistem keamanan khusus
untuk mencegah aksi penculikan bayi seperti:
1. Penjagaan pada unit perawatan bayi (perinatologi) dilakukan
pada setiap Pintu masuk dan pintu keluar agar lebih mudah untuk
melakukan pengawasan terhadap karyawan, perawat, dokter,
pasien, keluarga pasien dan bayi yang ingin keluar masuk
ruangan tersebut.
2. Melakukan patroli di bidang perawatan bayi Untuk
memastikan semua orang peduli dengan hal tersebut
3. Setiap pasien dan keluarganya yang datang untuk
berkunjung dilakukan identifikasi diri dengan menyerahkan kartu
identitas diri dan diberikan name tag (id Card) khusus pengunjung

9
4. Keluarga bayi diberi identifikasi khusus diidentifikasi dengan
bayinya dan diminta untuk memberikan identitas diri (lisensi / ID
card pengemudi)
5. Untuk memudahkan komunikasi antara petugas keamanan
dalam dan di luar bangunan yang menggunakan Handy talky (HT).
6. Staf, perawat dan dokter harus menggunakan ID lencana
resmi Rumah Sakit Umum Dareah Siwa.
7. Akses Pintu masuk diberikan CCTV dan Diawasi melalui
pusat Monitor CCTV di Posko Ketertiban dan keamanaan Rumah
Sakit Umum Dareah Siwa.

Kode Pink
Kode Pink adalah kode untuk penculikan yang perlu
diinformasikan segera kepada seluruh orang dirumah sakit agar
seluruh pegawai tahu dan melakukan reaksi cepat dan tanggap dan
segera berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait.
Dalam kasus penculikan bayi prosedur yang harus dilakukan adalah:
1. Dokter / perawat / staf yang pertama tahu, segera
memperingatkandan mengiformasikan kode pink kepada pusat
Sistem informasi (PABX) petugas keamanan yang bertugas di
dalam / luar ruangan perawatan.
2. Petugas keamanan yang bertanggung jawab dalam / luar
ruangan menyampaikan kode pink tersebut kepada Koordinator
Keamanan dan Ketertiban Rumah Sakit
3. Petugas keamanan Rumah Sakit (Tim Reaksi Cepat)
melokalisasi pintu masuk rumah sakit segera dan menyapu
seluruh daerah untuk kemungkinan penculik melewati daerah
tersebut.
4. Setiap orang yang membawa bayi, tas besar atau paket
terlokalisir di satu tempat untuk konfirmasi identifikasi bayi.
5. Jika Penculik tersebut ditemukan, segera diamankan dan
diproses untuk kemudian dilaporkan ke polisi sektor setempat.
6. Jika penculik tidak ditemukan mengirimkan laporan ke polisi
sektor setempat untuk melakukan razia di jalan raya sekitar rumah
sakit.

10
7. Pastikan dokumen kebijakan dan SOP yang berkaitan
dengan penculikan bayi diimplementasikan sebagai diperlukan.

H. LOKASI DARI RENCANA BANGUNAN TERBARU
Sesuai dengan rencana strategis pembangunan fisik rumah sakit
akan dibangun POLI KLINIK yang terletak di bagian depan gedung
PERAWATAN KELAS yang terletak di samping gedung PONEK.
Adanya kegiatan ini konstruksi dipastikan tidak ada gangguan
kebisingan getaran di sekitar area rumah sakit, untuk menghindari
masalah kesehatan pasien, gangguan peralatan medis dan gangguan
karyawan rumah sakit. Maka Pihak terkait Pembangunan tersebut
Harus memperhatikan dan mengantisipasi risiko cedera bagi pekerja
atau orang-orang dalam pembangunan daerah sekitarnya, antara lain,
membuat kawasan pagar konstruksi dan tanda-tanda peringatan atau
papan informasi. Risiko yang diantisipasi adalah:
1. Kemungkinan pekerja jatuh dari ketinggian karena pekerja
pada pekerjaan tanpa mengenakan peralatan pelindung atau
pakaian pelindung, sabuk pengaman.
2. Jatuhnya benda dari atas karena kecerobohan pekerja
sehingga perlu dilakukan dan pasangkan Pembatas dan seluruh
petugas harus menggunakan alat pelindung diri yang lengkap
serta untuk memindahkan barang-barang berat harus
menggunakan kekuatan mesin sebagai pengganti tenaga
manusia, untuk menghindari kecelakaan pada saat transfer.
3. Menempatkan Petugas keamanan di gedung dan wilayah
sekitarnya untuk menjaga terhadap gangguan ketertiban umum
dan keamanan.
4. Setiap orang dan barang yang masuk atau keluar Dicatat
dan dilaporkan
5. Menegakkan aturan dan peraturan di bidang konstruksi
dengan Membuat ICRA dan JSA dalm Setiap Pembangunan Di
rumah Sakit.
I. PROGRAM STRATEGI KESELAMATAN RUMAH SAKIT

11
1. Mengidentifikasi daerah sensitif dan beresiko gangguan
Keamanan:
a. Bidang terkait keuangan: unit treasury, kasir dan ATM
b. Bidang terkait Utility: Power Plant, menara listrik, pusat
komunikasi, pusat air, gas medis pusat dan boiler pusat.
2. Pintu masuk dan keluar rumah sakit diawasi oleh keamanan
dan adanya Penempatan CCTV.
3. Disetiap pintu masuk utama menuju ruang perawatan
dipasangkan seorang petugas kemanan agar menjamin
keamanan daerah tersebut
4. Re-checking dilakukan setelah jam kerja untuk memastikan
tidak ada orang lain dan dianggap mencurigakan di sekitar area
rumah sakit
5. Setelah jam kerja/jam bsuk perawatan petugas Keamanan
berpatroli untuk mengawasi seluruh koridor, tangga dan ruang
tunggu perawatan untuk mengingatkan orang-orang yang tidak
memiliki kepentingan lagi dan tidak menggunakan ID Penjaga
pasien untuk meninggalkan rumah sakit.
6. Memastikan seluruh jalan keluar dan pintu darurat tidak
terkunci
7. Pastikan kebijakan dan dokumen SOP yang diterapkan
sesuai kebutuhan.
Koordinator Keamanan melalui komandan lapangan (Danru) dan
Administrasi Security mengevaluasi kebijakan, aturan dan
persyaratan yang terkait dengan masalah keamanan setiap
bulannya untuk ditingkatkan.
J. ID CARD BADGE (SISTEM IDENTIFIKASI DIRI)
Penggunaan ID CARD dilakukan untuk memastikan orang-orang yang
berada di dan keluar dari rumah sakit diawasi dengan baik.
1. Dokter, Perawat dan staf
Kartu identitas bagi dokter, perawat dan karyawan dibuat dengan
warna yang berbeda dan gambar (berdasarkan foto mereka) dan
digunakan ketika berada dirumah sakit.
2. Keluarga, Penjaga Pasien dan pengunjung
ID Vendor secara terpisah dibuat dan dikeluarkan oleh Humas.
Petugas Security menyaring keluarga, pengunjung pasien dan

12
vendor setelah jam kerjadan jam berkunjung tentang penggunaan
ID untuk memastikan semua pengunjung, keluarga pasien dan
vendor yang telah mematuhi aturan yang dibuat. Koordinator
Keamanan memantau dan menganalisis pelaksanaan kebijakan
dan SOP yang berhubungan dengan kartu identitas yang ada.

K. MONITOR DAN SISTEM PENGAWASAN DI SEKITAR RUMAH
SAKIT
Rumah Sakit lingkungan Rumah Sakit Umum Daerah Siwa
Untuk memantau kedua daerah menggunakan CCTV terpadu yang
ditempatkan di daerah pemantauan khusus. Sedangkan untuk
mengamankan keselamatan ruang khusus dilakukan dengan
menempatkan petugas keamanan dan back-up kamera.

L. STRATEGI PROGRAM PENCEGAHAN
Hukum dan peraturan dijadikan Sebagai langkah awal tindakan
pencegahan risiko, Dimana tuntutan hukum terkait keselamatan dan
keamanan di tempat kerja Baik itu berupa kebijakan, peraturan dan
SOP bahkan dengan hukum dan peraturan yang berlaku dari
pemerintah pusat dan daerah. Terkait keselamatan dan keamanan
rumah sakit ini dilakukan secara berkala untuk melihat apakah ada
kejadian keselamatan dan gangguan keamanan yang belum
dilaporkan untuk diikuti dan hasilnya diinformasikan kembali ke unit
terkait yang menyelenggarakan pengelolaan manajemen keselamatan
dan keamanan yang lebih baik dan dikendalikan. Pelaporan tersebut
di olah dan diproses untuk dilakukan analisa dan tindak lanjut, setelah
itu laporan dikumpulkan dan dibuat sebuah laporan oleh Satuan
keamanan rumah sakit.

M. REVIEW EKSTERNAL
Pelaksanaan manajemen keselamatan dan keamanan perlu diaudit
oleh lembaga yang berwenang untuk mengetahui dan
mengidentifikasi risiko yang mungkin terjadi di rumah sakit untuk
tindakan pencegahan dan perbaikan segera dilakukan.

13
N. RENCANA MONITORING DAN EVALUASI
Data inspeksi fasilitas dan evaluasi rutin yang digunakan untuk
membuat sistem pulih rencana untuk fasilitas dan untuk memutuskan
kebutuhan pelatihan staf. Evaluasi dilakukan untuk meninjau program
keselamatan manajemen keselamatan dan ketika target tidak
tercapai rekomendasi untuk perubahan program pelatihan akan
dibutuhkan.

SIWA ,

DITETAPKAN OLEH:
DIREKTUR UTAMA,

drg. Hj. ARMIN AR, M.Kes.

NIP. 19700916 20012 2 002

14